0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan10 halaman

Sejarah D'Castello dan Museum Geologi

Makalah ini membahas tentang kunjungan ke Museum Geologi Bandung dan Florawisata D'Castello Ciater. Museum Geologi Bandung didirikan pada 1928 sebagai tempat penyimpanan contoh batuan dan fosil, sedangkan D'Castello merupakan taman bunga baru yang dibuka 2021 dengan konsep kastil dan kebun teh. Kedua tempat wisata ini menjadi pilihan untuk menambah pengetahuan sejarah serta hiburan keluarga.

Diunggah oleh

Muhammad Toat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan10 halaman

Sejarah D'Castello dan Museum Geologi

Makalah ini membahas tentang kunjungan ke Museum Geologi Bandung dan Florawisata D'Castello Ciater. Museum Geologi Bandung didirikan pada 1928 sebagai tempat penyimpanan contoh batuan dan fosil, sedangkan D'Castello merupakan taman bunga baru yang dibuka 2021 dengan konsep kastil dan kebun teh. Kedua tempat wisata ini menjadi pilihan untuk menambah pengetahuan sejarah serta hiburan keluarga.

Diunggah oleh

Muhammad Toat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas Kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
komponen elektronika

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah
ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang perjalan wisata ini dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca

Februari 2024

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG KUNJUNGAN

Gedung Museum Geologi dibangun pada 1928 dan diresmikan dengan nama
“Geologische
Museum” pada 16 Mei 1929 bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan
Pasifik yang ke IV. Pembangunan dikerjakan selama 11 bulan dengan 300 pekerja dan
menghabiskan dana 400.000 Gulden dibangun dengan arsitektur bergaya Art Deco
berdasarkan rancangan arsitektur karya seorang arsitek Belanda, Ir. H. Menalda van
[Link] 1850 kegiatan survei dan penelitian geologi di Indonesia dilaksanakan
oleh “Dienst van het
Mijnwezen” lembaga Pemerintah Belanda. Kemudian pada 1922 berganti nama menjadi
“Dienst van den Mijnbouw”. Penelitian geologi semakin meningkat sehingga contoh batuan,
mineral, fosil semakin banyak, maka pada 1928 dibangun gedung yang diperuntukkan bagi
Laboratorium dan Museum Geologi yang bertempat di Rembrandt Straat Bandung, atau saat
ini Jl. Diponegoro, [Link] masa Pendudukan Jepang (1942-1945). Lembaga “Dienst
van den Mijnbouw diganti namanya menjadi “Kogyoo Zimusho yang kemudian berganti lagi
namanya menjadi “Chishitsu Chosasho”. Museum Geologi pada masa itu merupakan bagian
dari Laboratorium Paleontologi dan Kimia dari Lembaga tersebut.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945. Terjadi pengambilalihan kantor “Chishits


Chosasho” dari penguasa Jepang, pengelolaan Museum Geologi beralih menjadi Pusat
Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG, 1945-1950), Djawatan Pertambangan Republik
Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-
1957).

2
D’Castello, Kastil Megah di Tengah Hamparan Kebun Teh SubangSubang – Subang
Bagian Selatan tepatnya di Wilayah Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang ditetapkan
menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, bahkan sejumlah destinasi wisata baru
sudah mulai beroperasi. Salah satunya Florawisata D’Castello yang dibuka pada bulan
Desember 2021 lalu, destinasi wisata yang mengusung tema bunga ini di padu-padankan
dengan bangunan megah ala benteng Kremlin Moskwa, Rusia dan Arsitektur Turki. “Ini kita
tema utamanya adalah bunga, yang kedua Castillo, Castillo adalah perpaduan antara
arsitektur Turki dan Kramlin, Rusia,” ujar Irvan Surono, Owner wisata ini, Sabtu
(12/03/2022). Irvan mengatakan, karena wilayah ini menjadi KEK Pariwisata dan berada di
dataran tinggi, ia memanfaatkan alam yang indah dengan udara yang sejuk menjadi nilai
lebih yang di dapat di wisata ini. “Dalam rangka mendukung program pemerintah
mengembangkan pariwisata, kita membuat program dan konsep berhubungan dengan alam,
ya jadi wisata alam terbuka,” katanyaSaat ini luas areal wisata yang sudah digunakan seluas 6
Hektare, rencananya pembangunan wisata ini akan diperluas menjadi 130 Hektare.

Di pintu masuk yang sekaligus tempat pembelian tiket masuk, berdiri megah bangunan
kastel, selanjutnya disambut dengan deretan tanaman dan ada patung Mickey Mouse ukuran
besar. Kemudian pengunjung disuguhkan dengan food court dengan beragam menu
makanan/minuman, areal food court dibuat konsep penuh dengan tanaman, terdapat
bangunan mushola yang tak kalah cantik. Setelah food court, pengunjung disediakan tempat
duduk yang terdapat rangkai besi menyerupai sangkar, selanjutnya ada jembatan dan terakhir
ada bangunan kastil dengan posisi yang strategis menghadap ke jalan [Link] sudut
wisata ini memilik beberapa spot foto Instagramable, selain bangun yang megah dan indah
juga dihiasi gunung Tangkuban Parahu dan hamparan teh yang menghijau.

1.2 TUJUAN DAN MANFAAT KUNJUNGAN

1. Mengenal dan menambah pengetahuan tentang tempat-tempat bersejarah di Bandung


khususnya Museum Geologi Bandung
2. Memotivasi generasi muda untuk mencintai seni budaya bangsa Indonesia

3
3. Mengetahui sejarah tentang asal mula dibangunnya Museum Geologi Bandung
4. Mencari hiburan di D’Castello dan melepas lelah
5. Menikmati wahana yang ada di D’Castello
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 LOKASI KUNJUNGAN
Museum Geologi merupakan salah satu destinasi wisata edukasi di Bandung, Jawa
barat. Lokasi Museum Geologi ini berada di Jalan Diponegoro Nomor 57, Cihaur
Geulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung.

Taman Flora Wisata D’Castello Ciater berlokasi di Jl. Palasari Dua-Babakan Gn.
No.16, Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Letaknya berada
tak jauh dari kawasan Tangkuban Perahu.

2.2 SEJARAH PROFIL MUSEUM GEOLOGI BANDUNG DAN D’CASTELLO


Gedung Museum Geologi dibangun pada 1928 dan diresmikan dengan nama
“Geologische Museum” pada 16 Mei 1929 bertepatan dengan penyelenggaraan
Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik yang ke IV. Pembangunan dikerjakan selama 11
bulan dengan 300 pekerja dan menghabiskan dana 400.000 Gulden dibangun dengan
arsitektur bergaya Art Deco berdasarkan rancangan arsitektur karya seorang arsitek
Belanda, Ir. H. Menalda van [Link] 1850 kegiatan survei dan penelitian
geologi di Indonesia dilaksanakan oleh “Dienst van het Mijnwezen” lembaga
Pemerintah Belanda. Kemudian pada 1922 berganti nama menjadi “Dienst van den
Mijnbouw”. Penelitian geologi semakin meningkat sehingga contoh batuan, mineral,
fosil semakin banyak, maka pada 1928 dibangun gedung yang diperuntukkan bagi
Laboratorium dan Museum Geologi yang bertempat di Rembrandt Straat Bandung,
atau saat ini Jl. Diponegoro, [Link] masa Pendudukan Jepang (1942-1945).
Lembaga “Dienst van den Mijnbouw diganti namanya menjadi “Kogyoo Zimusho
yang kemudian berganti lagi namanya menjadi “Chishitsu Chosasho”. Museum
Geologi pada masa itu merupakan bagian dari Laboratorium Paleontologi dan Kimia
dari
Lembaga tersebut.

4
Taman bunga ini hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer (km) dengan waktu tempuh
delapan menit dari Pemandian Air Panas Ciater. Lokasinya masih berada di bawah
kaki Gunung Tangkuban Perahu.
Nama D’Castello mengambil dari bahasa Latin yang berarti kastel. Jadi, florawisata
ada banyak tanaman di sana, ditambah dengan kastel yang menjadi ikon,” kata dia
kepada [Link], Sabtu (05/02/2022). Bangunan kastel di Florawisata D’Castello
memiliki sejumlah menara dengan kombinasi warna merah, biru, dan kuning. Di
depannya, terdapat kolam air mancur yang dikelilingi beragam bunga aneka warna.

Bangunan kastel, lanjut Guntara, merupakan salah satu spot favorit untuk berfoto para
pengunjung. Florawisata D’Castello dibangun di atas lahan seluas 10 hektar yang
dikelilingi dengan perkebunan teh. Pengunjung bisa menikmati kesegaran
pemandangan hijau kebun teh, yang berpadu dengan udara segar kaki Gunung
Tangkuban Perahu di Florawisata D’Castello. Keindahan tersebut melebur dengan
warna-warni bunga dan tanaman di setiap sudut Florawisata D’Castello. Tanaman dan
bunga tersebut disusun rapi sehingga memanjakan mata.

Meski baru dibuka pada Desember 2021, Guntara mengatakan bahwa animo
masyarakat sangat baik. Jumlah kunjungan pada hari kerja mencapai 300-400 orang.
Saat akhir pekan, jumlah pengunjung bisa tembus 2.000-4.000 orang. Wisatawan yang
datang tak warga Subang, tetapi juga masyarakat sekitar Indramayu, Cirebon, Bekasi,
Jakarta, Kawarang, bahkan Lampung.

5
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil observasi salah satu museum di Indonesia yang cukup ramai
dikunjungi para pelajar, mahasiswa maupun keluarga yaitu Museum Geologi Bandung
Museum Geologi Bandung adalah museum yang memiliki potensi wisata edukasi dan
sejarah bagi para pelajar maupun [Link] Geologi Bandung memiliki
banyak potensi yang dapat dikembangkan dan memiliki potensi yang sangat baik bagi
perkembangannya sebagai salah satu museum geologi di Indonesia. Museum Geologi
Bandung, adalah salah satu museum geologi di Indonesia yang sudah berdiri cukup
lama serta memiliki fasilitas yang cukup lengkap walaupun ada beberapa kekurangan
namum mampu di atasi oleh pihak pengelola museum sendiri.

Bandung sendiri merupakan salah satu ibu kota di Pulau Jawa dan merupakan kota
metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Selain menjadi ibu kota Jawa Barat serta
kota metropolitan terbesar di Jawa Barat, Bandung juga sebagai kota yang memiliki
banyak kampus kampus ternama seperti NHL, UPL, ITB, UNPAD, UNPAR, dan
lainlain. Kota Bandung sendiri menjadi salah satu destinasi yang cukup kondang bagi
para wisatawan asal JABODETABEK.

Florawisata D’Castello merupakan destinasi wisata baru dan kekinian yang


berlokasi di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Tempat wisata milik penyanyi
dangdut Dewi Persik ini mengusung tema taman bunga yang dipadukan dengan kastil
megah dan beberapa wahana lainnya. Lokasinya sangat strategis karena berada di
antara jalan penghubung Bandung-Subang. Pemandangan di sekitar lokasi D’Castello
sangat indah memanjakan mata karena tempat rekreasi ini berada di dataran tinggi
atau lebih tepatnya berada di kaki gunung Tangkuban Parahu.

6
Jadi, nggak heran juga kalau udara di sekitar Flora Wisata D’Castello Ciater terasa
sejuk bin adem. Uniknya lagi, tempat wisata ini dibangun di tengah perkebunan teh,
sehingga menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang hendak berkunjung.

3.2 SARAN

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian diatas, penulis memberikan saran, yaitu :

1. Museum Geologi Bandung meningkatkan fasilitas yang ada di sana dan mencoba.
Melakukan pergantian pajangan, guna menghindari wisatawan yang sudah pernah
mengunjungi Museum Geologi Bandung.

2. Museum Geologi Bandung mencoba melakukan kerja sama dengan pemerintah


terkait yaitu Kementrian ESDM dalam hal promosi, dan mencoba melakukan
lomba dan menambah event guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

3. Selalu menjaga dan melestarikan teempat tempat yang menjadi peninggalan


sejarah dan wisata.

7
2.3 CERITA PERJALANAN

Pada Hari Rabu 28-02-2024 saya study tour ke Bandung, saya berangkat pukul
4.00 WIB, ketika mau berangkat saya berdoa dulu agar di perjalanan selamat sampai
tujuan. Perasaan saya senang sekali karena di perjalanan saya dan teman-teman bisa
bercanda canda dan bernyanyi-nyanyi di dalam bus, tidak terasa kami sudah sampai
di Bandung. Kami langsung menuju ke Museum Geologi, kami melihat -lihat dan
mencatat fosilfosil, bebatuan, setelah tugas selesai saya dan teman-teman berfoto-foto
untuk kenangkenangan. Selesai mencatat, kami berkumpul di Auditorium untuk
mengamati video.
Setelah itu kami berfoto-foto satu kelas.

Setelah dari Museum Geologi Bandung kami menuju ke D’Castello Subang.


Sesampainya di D’Castello Subang, kami berfoto-foto bersama teman-teman satu
angkatan untuk kenang-kenangan. Setelah selesai berfoto-foto kami masuk ke
D'Castello Subang, setelah masuk di D’Castello Subang saya dan teman teman saya
menaiki salah satu wahana yang ada di D’Castello Subang yaitu kora-kora. Permainan
tersebut sangat menantang sekali membuat kita ketakutan tapi mengasyikkan, kita
bisa berteriak- teriak lepas menghilangkan penat dalam otak. Ketika sudah naik satu
wahana kami sempat berpencar-pencar .dan tak lama kemudian kami ingin ke toilet
tetapi kita bingung dimana [Link] akhirnya teman saya bisa menemukan
toiletnya.

Setelah selesai naik wahana kami semua berinisiatif untuk membeli oleh-oleh di pusat
oleh-oleh yang terletak di dalam D’Castello Subang, saya dan teman-teman saya
membeli bolu susu asli Lembang, setelah itu kami langsung menuju bus untuk pergi
makan siang, selesai makan siang saya dan teman-teman saya pergi ke mushola
terdekat untuk shalat dzuhur yang digabungkan dengan shalat ashar. Sehabis dari
shalat kami kembali lagi ke bus untuk melanjutkan pulang ke Tangerang. Di
perjalanan kami semua tidur tidak ada yang bercanda karena sudah [Link] di

8
Tangerang pukul 20.20 WIB langsung pulang ke rumah masing-masing. Demikianlah
pengalaman perjalanan study tour ke Bandung.

BAB IV LAMPIRAN

9
10

Common questions

Didukung oleh AI

D'Castello as a central attraction can generate significant socio-economic benefits by boosting local employment through tourism-related jobs and businesses such as lodgings, restaurants, and transport services . It attracts visitors who contribute to the local economy by spending on these services, potentially raising the regional income level . However, challenges include managing environmental wear from high tourist numbers and ensuring infrastructure support without overwhelming local resources . Balancing tourism growth with cultural and environmental preservation is essential for sustainable development, requiring strategic planning and regulation by local authorities .

The goals of visiting Museum Geologi include acquiring knowledge about geological history, motivating young people to appreciate Indonesia's cultural heritage, and understanding the historical development of Indonesian science . Meanwhile, visits to D'Castello aim to provide entertainment, leisure, and the appreciation of architectural beauty and natural landscapes . These goals reflect societal values such as the importance of education, cultural preservation, leisure, and the promotion of tourism as a means of economic and cultural development .

Integrating cultural heritage with modern leisure activities in tourist destinations is crucial for holistic cultural appreciation and economic viability. D'Castello combines botanical and architectural themes with modern leisure amenities like food courts and themed photo spots . This integration attracts diverse visitor demographics, offering educational and recreational value and fostering cultural appreciation while ensuring economic sustainability through increased tourism revenue and visitor satisfaction . Such integration also encourages the preservation of cultural and natural heritage within a contemporary context .

The expansion of Florawisata D'Castello involves logistical considerations such as managing increased visitor traffic, ensuring efficient infrastructure development, and maintaining visitor satisfaction through quality services and amenities . Environmentally, preserving the natural landscape, such as the tea plantations and maintaining the ecological balance around Tangkuban Perahu is crucial . Strategies to address these challenges include careful urban planning to minimize environmental impact, investing in sustainable infrastructure, and engaging local communities in development plans to ensure harmonious growth with the surrounding environment .

D'Castello plays a crucial role in promoting both local and international tourism by serving as a unique attraction that leverages cultural and natural elements . Its location in a designated Kawasan Ekonomi Khusus (special economic zone) for tourism exemplifies its strategic importance in regional tourism development . By drawing visitors not only from local areas like Subang but also from major urban centers such as Jakarta and even international tourists, D'Castello enhances the region's profile . It stimulates local economies by increasing demand for local goods and services and creates opportunities for cultural exchange .

Florawisata D'Castello integrates architectural and natural elements by combining a castle-inspired structure with a theme of botanical beauty, drawing from both Russian Kremlin and Turkish architectural influences . This design strategy enhances its attractiveness as it leverages the area's natural beauty with the lush greenery of surrounding tea plantations and the fresh mountain air from the nearby Tangkuban Perahu . The juxtaposition of these elements makes the site visually appealing and photogenic, thus drawing significant tourist attention, with visitor numbers reaching up to 4,000 during weekends .

Museum Geologi Bandung can improve its appeal to repeat visitors by enhancing existing facilities, updating and rotating exhibits to avoid redundancy, and increasing visitor engagement through events and promotions . Cooperation with government bodies like Kementerian ESDM for promotions and organizing competitions can also attract a diverse audience, encouraging long-term interest and engagement .

The Museum Geologi in Bandung holds significant historical value as it was originally built in 1928 as the "Geologische Museum" and inaugurated in 1929 during the Fourth Pacific Science Congress . It was part of a broader effort by the Dutch colonial government to conduct geological surveys and research in Indonesia, a task initially undertaken by "Dienst van het Mijnwezen" from 1850, which later became "Dienst van den Mijnbouw" in 1922 . Under Japanese occupation during World War II, it was integrated into "Kogyoo Zimusho" and later "Chishitsu Chosasho" as part of paleontological and chemical laboratories . After Indonesia's independence in 1945, the museum's control shifted to various Indonesian government bodies, reflecting its ongoing adaptation to the country's changing political landscape .

The management of Museum Geologi Bandung transitioned through several phases, reflecting broader socio-political changes—from the Dutch colonial government under "Dienst van het Mijnwezen" and later "Dienst van den Mijnbouw" to Japanese occupation where it was part of "Kogyoo Zimusho"/"Chishitsu Chosasho," and finally to Indonesian control post-independence with different names under the Republic of Indonesia . These transitions mirror Indonesia's colonial history, occupation during World War II, and eventual liberation, demonstrating the museum's adaptability and continuity as a scientific and cultural establishment amid political upheaval .

To maintain environmental sustainability at Florawisata D'Castello, strategies could include implementing eco-friendly infrastructure, such as solar energy and rainwater harvesting systems, to reduce ecological footprints . Promoting awareness campaigns about local flora and fauna can engage visitors in conservation efforts. Moreover, limiting visitor numbers through timed entry can help mitigate environmental degradation. Engaging in regular ecological assessments and partnering with environmental organizations for audits and improvements would ensure continuous environmental health and sustainability .

Anda mungkin juga menyukai