0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan136 halaman

Panduan Dasar Penyusunan AMDAL

Dokumen tersebut membahas pengertian, proses, dan manfaat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan suatu proyek yang bertujuan untuk mencegah dampak lingkungan merugikan dan mendukung pengambilan keputusan. Proses AMDAL meliputi penyusunan dokumen seperti Kerangka Acuan, ANDAL, RKL dan RPL oleh pemrakarsa proyek dan penilaian oleh Komisi Penilai AMD

Diunggah oleh

margonoirio8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan136 halaman

Panduan Dasar Penyusunan AMDAL

Dokumen tersebut membahas pengertian, proses, dan manfaat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan suatu proyek yang bertujuan untuk mencegah dampak lingkungan merugikan dan mendukung pengambilan keputusan. Proses AMDAL meliputi penyusunan dokumen seperti Kerangka Acuan, ANDAL, RKL dan RPL oleh pemrakarsa proyek dan penilaian oleh Komisi Penilai AMD

Diunggah oleh

margonoirio8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGETAHUAN DASAR AMDAL

PENGERTIAN,
PROSES DAN MANFAAT
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL)

• Instrumen pengendalian dampak lingkungan (1982),


selama 15 tahun sejak ditetapkannya PP Nomor 1986,
AMDALmasih dirasakan belum efektif untuk
pengendalian dampak lingkungan
• Sosialisasi (Kursus Amdal A, B dan C)
• Penilai Amdal : Komisi Pusat dan Daerah
• AMDAL masih dianggap Cost Center ketimbang Cost
Saving, salah satu penyebabnya rendahnya mutu
penilaian dokumen AMDAL.
– 4 (empat) Faktor penyebab :
1. Kompetensi teknis anggota komisi penilai AMDAL
2. Integritas anggota komisi AMDAL
3. Tersedianya Panduan penilaian dokumen AMDAL
4. Akuntabilitas dalam proses penilaian AMDAL
APAKAH SEMUA JENIS & SKALA PROYEK WAJIB AMDAL

Proyek

Kegiatan/Usaha Menimbulkan Kegiatan/Usaha


Tergolong Wajib dampak besar & Tergolong Wajib
AMDAL penting UKL/UPL

AMDAL : Analisis •Pasal 15 UU No. 23 Th 1997 •UKL: Upaya Pengelolaan


Mengenai Dampak •Kepmen LH No. 17 Th 2001: Lingkungan
Lingkungan Jenis Rencana Usaha/Kegiatan •UPL : Upaya Pemantauan
Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Lingkungan
PENGERTIAN (1)
Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL) adalah
kajian mengenai dampak besar dan
penting suatu usaha atau kegiatan
yang direncanakan, pada
lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan
keputusan.
Dampak besar dan penting adalah
perubahan lingkungan hidup yang
sangat mendasar yang diakibatkan
oleh suatu usaha
atau kegiatan.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan


Hidup merupakan bagian kegiatan
studi kelayakan rencana usaha
atau kegiatan.
Penyusunan AMDAL dapat
dilakukan melalui
pendekatan studi terhadap
usaha atau kegiatan
tunggal, terpadu atau
kegiatan dalam kawasan.
PENGERTIAN (2)
Sisi 2 :
Merupakan syarat
Untuk perolehan izin

Sisi Mata Uang

Sisi 1:
Merupakan Studi
Kelayakan

Penjelasan Pasal 15 UU No. 23/1997


DAMPAK
Pengertian Dampak LINGKUNGAN

EKOLOGI KUALITAS KEPENTINGAN


LINGKUNGAN
ESTETIKA
MANUSIA

SPESIES DAN AIR LAHAN PENDIDIKAN/


POPULASI
PAKETILMIAH

UDARA UDARA
HABITAT DAN PAKET SEJARAH
KOMUNITAS
LAHAN
AIR
KEBUDAYAAN
EKOSISTEM
KEBISINGAN
BIOTA PERASAAN
KENYAMANAN
OBJEK
BUATAN
POLA HIDUP

KOMPOSISI

Hasmawaty. AR, 2010


Fleksibilitas ruang keputusan
untuk menolak proyek dari segi
lingkungan Makna AMDAL
sebagai bagian dari
Ren Studi Kelayakan
cana

Keputusan Mnolak Proyek


Umum
Realisasi Fisik

Studi Kela
• Studi Kelayakan : Kajian
yakan kelayakan teknis alternatif
Desain Rinci lokasi, teknologi atau
sumberdaya yang digunakan
Konstruksi •Keputusan atas kelayakan teknis
dan ekonomi dilakukan setelah
Operasi studi kelayakan

•Pencegahan efektif dilakukan


Data Rona Lingkungan saat studi kelayakan
TUJUAN

• Menunjang pembangunan berwawasan lingkungan

• Sebagai dasar pengambilan keputusan

• Sebagai acuan pengelolaan lingkungan

• Bagian dari proses perizinan.


FUNGSI AMDAL

• Mencegah timbulnya perubahan (negatif) yang mendasar


terhadap lingkungan sedini mungkin.
• Bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan
lingkungan dari rencana kegiatan/usaha.
• Mengarahkan kegiatan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup agar berlangsung tepat sasaran, efektif dan
efisien.
• Proses dan kegiatan yang dapat mempengaruhi konservasi
SDA atau perlindungan Cagar Alam/Budaya.
• Introduksi jenis tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik .
• Pembuatan dan penguraian bahan hayati dan non hayati.
• Penerapan teknoogi yang diperkirakan mepunyai potensi besar
untuk mempengaruhi lingkungan hidup.
• Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan atau
mempengaruhi pertahanan negara.
Manfaat AMDAL

• Sejak dini operasi kegiatan/usaha


dapat dijalankan dengan ramah
lingkungan.
• Memenuhi persyaratan ijin usaha &
operasi.
• Meningkatkan mutu kehidupan di
sekitar kegiatan/usaha.
• Meningkatkan hubungan sosial yang
positif dengan masyarakat sekitar.
KRITERIA DAMPAK
• Jumlah manusia yang akan terkena
dampak.
• Luas wilayah persebaran dampak.
• Intensitas
• Lamanya dampak berlangsung.
• Sifat komulatif dampak.
• Berbalik (Reversible) atau
tidak berbalik (Irreversible) dampak.
KAITAN AMDAL
DENGAN PERIZINAN
• AMDAL merupakan syarat yang harus
dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan
usaha, atau kegiatan.
• Dalam perolehan izin wajib melampirkan
keputusan kelayakn lingkungan.
• Dalam pelaksanaan kegiatan wajib
melaksanakan Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL).
KEGIATAN DAPAT MENIMBULKAN
DAMPAK PENTING
Usaha atau kegiatan yang kemungkinan dapat
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan hidup meliputi :
• Perubahan bentang alam.
• Eksploitasi SDA yang dapat diperbaharui dan tidak
dapat diperbaharui.
• Proses kegiatan yang secara potensial dapat
menimbulkan pemborosan, pencemaran, kerusakan
lingkungan serta kemerosotan SDA.
• Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat
mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan.
KOMISI PENILAI
• Kedudukan
1. Di Tingkat Pusat : Komisi Penilai AMDAL
Pusat
2. Di Tingkat Daerah: Bapedalda Propinsi/
Bapedalda Kabupaten
• Fungsi :
1. Menilai Ka. ANDAL, ANDAL, RKL/RPL serta
UKL dan UPL.
2. Dalam penilaian dibantu oleh Tim Teknis
Komisi AMDAL.
KUALIFIKASI
ANGGOTA
• AMDAL A, B, C.
• 3 tahun bekerja di lingkungan hidup.
• Wakil-wakil masyarakat.
• Instansi yang ditugasi pengendalian
dampak lingkungan
• Instansi terkait lainnya.
PROSEDUR PENGKAJIAN ANDAL

• Kerangka Acuan (KA) ANDAL disampaikan


ke komisi AMDAL untuk persetujuan (dari
diterimanya Ka. Acuan sampai keputusan
75 hari).
• KA ANDAL yang sudah disetujui, sebagai
dasar pelaksanaan studi ANDAL,
RKL/RPL.
• ANDAL/RKL dan RPL disusun oleh
pemrakarsa (bisa bantuan konsultan).
• ANDAL, RKL/RPL yang sudah dusun diajukan oleh
pemrakarsa ke komisi AMDAL untuk di periksa
kelengkapan administrasi dan selanjutnya untuk di
nilai (dari diterima oleh komisi sampai keputusan
waktunya 75 hari).
• Keputusan kelayakan lingkungan kadaluarsa bila
rencana ushaa/kegiatan tidak dilaksanakan dalam
jangka 3 (tiga) tahun sejak diterbitkan keputusan
AMDAL.
• Keputusan kelayakan lingkungan hidup batal apabila
pemrakarsa memindahkan lokasi, mengubah
desain/proses atau kapasitas, bahan baku/bahan
penolong.
PENGAWASAN

• Pemrakarsa wajib menyampaikan


laporan pelaksanaan RKL dan
RPL.

• Instansi yang ditugasi dalam


pengendalian dampak lingkungan
melaksanakan pengawasan dan
evaluasi.
JENIS DOKUMEN AMDAL

KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK RENCANA PENGELOLAAN RENCANA PEMANTAUAN


(KA) LINGKUNGAN (ANDAL) LINGKUNGAN (RKL) LINGKUNGAN (RPL)

Memuat
• Potensi dampak penting Memuat
• Arahan utk pemantauan
• Wilayah studi Arahan untuk pengelolaan
Memuat dampak lingkungan
• Arahan kedalaman studi dampak lingkungan
• Rona LH • Arahan utk pemantauan
ANDAL, RKL dan RPL
• Prakiraan dampak pengelolaan lingkungan
• Bahan masukan utk
keputusan
Kelayakan lingkungan
KEDUDUKAN RKL DAN RPL, DALAM AMDAL DAN KAITANNYA DENGAN
AKTIVITAS PENGELOLAAN LINGUNGAN SETELAH PROYEK DIBANGUN

HASIL
PENDUGAAN
ANDAL
RPL
RKL
ANDAL
ANDAL

PROYEK
USULAN DIBANGUN AKTIVITAS AKTIVITAS
PROYEK & PENGELOLAAN PENGELOLAAN
BERJALAN LINGKUNGAN LINGKUNGAN

DAMPAK
LINGKUNGAN
HASIL PEMANTAUAN
KEADAAN
KUALITAS
KUALITAS
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
PENGUJIAN DAN KRITERIA
AMDAL
PRINSIP PENGUJIAN KRITERIA UJI
AMDAL PENILAIAN
• UJI ADMINISTRASI
• UJI FASE KEGIATAN
PROYEK
• Prinsip Praktis
• UJI MUTU
– UJI MUTU KONSISTENSI
• Prinsip Logis dan Sistematis
– UJI MUTU ASPEK
KEHARUSAN
• Prinsip Akuntabel – UJI MUTU ASPEK
RELEVANSI
– UJI MUTU ASPEK
KEDALAMAN
LANDASAN HUKUM PENILAIAN DOKUMEN
AMDAL
ASPEK PENILAIAN SUBSTANSI
ASPEK KOMISIS PENILAI AMDAL

• KepMenLH No. 2 tg thn 2000 Panduan


Penilaian Dokumen AMDAL
• PP 27 tahun 1999 ttg AMDAL ps 8 – • Kep Ka. Bapedal No. 056 thn 1994 tg
13 ttg Komisi AMDAL dan Ps. 140-23 Pedoman Mengenai Ukuran Dampak
ttg Tata Laksana Penting
• PP No. 27 thn 1999 tg AMDAL
• KepMen LH No. 40 thn 2000 tg • Kep. Kepala BAPEDAL No.09 thn 2000
Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Pedoman Penyusunan AMDAL
AMDAL • Kep Kepala Bapedal no. 08 thn 2000 tg
Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan
Informasi Dalam Proses AMDAL
• KepMen LH No. 41 thn 2000 tg • Kep. Men LH No. 4 thn 2000 ttg Panduan
Pedoman Pembentukan Komisi Penyusunan AMDAL kegiatan
Penilaian AMDAL Kabupaten/Kota Pembangunan di Daerah Lahan Basah
• Kep. Kepala Bapedal no. 299/Bapedal/11/96
ttg Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial
• KepMen LH No. 42 thn 2000 tg dalam AMDAL
Susunan Keanggotaan Komisi Penilai • Kep. Kepala Bapedal No. 124/12/1997 ttg
dan Tim Teknis AMDAL Pusat Panduan Kajian Aspek Kesehatan
Masyarakat dalam AMDAL
Lanjut
PROSEDUR PENYUSUNAN
ANDAL
1. Pembentukan Tim Penyusunan AMDAL
meliputi bidang Fisik Kimia (Ruang Tanah dan Lahan,
Hidrologi, Kualitas Air dan Udara), Biologi (Flora dan
Fauna & Biota Perairan), dan Sosekbud serta Kesmas.
2. Pengurusan Izin Survei dari Pemerintah setempat.
3. Pengumpulan data sekunder seperti iklim 10 tahunan,
Kabupaten dalam Angka, Monografi Kecamatan,
Monografi Desa, Peta (1:50.000) untuk lokasi
kegiatan, dan peta topografi.
4. Pengumpulan data Teknis rencana kegiatan proyek
yang meliputi tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi,
dan pasca operasi.
5. Pelingkupan untuk menentukan batas wilayah studi sebagai resultante
dari tapak proyek, wilayah ekologis, administrasi pemerintahan, dan
batas sosial; menentukan lokasi pengambilan sampel, dan penentuan
dampak penting yang diperkirakan terjadi.
6. Pelaksanaan sosialisasi AMDAL mengacu pada Kep. Kepala BAPEDAL
No. 08 Tahun 2000 tentang keterlibatan masyarakat dan keterbukaan
informasi dalam proses AMDAL.
7. Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL mengacu kepada Kep. BAPEDAL
No. 09 Tahun 2000.
8. Penyampaian Draft KA-ANDAL kepada Komisi AMDAL Kabupaten atau
Propinsi.
9. Paparan Kerangka Acuan dihadapan Komisi AMDAL.
10. Perbaikan Kerangka Acuan dan Pengesahan KA- ANDAL
11. Persiapan survei lapangan seperti penyediaan peta, pembuatan format
sampel, pembuatan kuesioner (sosekbud dan kesmas), persiapan
peralatan (udara, tanah, air, dan biota perairan)
12. Pelaksanaan survei lapangan meliputi pengambilan sampel untuk aspek
fisik kimia, biologi, sosekbud dan kesmas.
13. Analisis Laboratorium untuk contoh kualitas tanah, udara, air dan biota
perairan serta analisis data
14. Penyusunan ANDAL
Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui oleh Komisi AMDAL.
15. Format penyusunan ANDAL mengacu pada Kep. Bapedal No. 09
Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL atau acuan
lain yang ditetapkan oleh Departemen.
Contoh Format Penyusunan ANDAL :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Dasar Hukum Penyusunan
Dokumen AMDAL
1.3. Kebijaksanaan Regional, Lokal dan Perusahaan
terhadap pengelolaan Lingkungan Hidup
1.4. Dampak Besar dan Penting Rencana Kegiatan
1.5. Tujuan dan Kegunaan Studi
BAB II. RUANG LINGKUP STUDI
2.1. Dampak Besar& Penting yang ditelaah
2.1.1. Uraian Singkat Rencana Kegiatan yang ditelaah
2.1.2. Rona Lingkungan yang terkena dampak
2.1.3. Kegiatan yang ada disekitar lokasi
2.1.4. Komponen yang diteliti
2.1.5. Batas Wilayah Studi

BAB III. METODA STUDI


3.1. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data
3.1.1. Metoda Pengumpulan Data Rencana Kegiatan
3.1.2. Metoda Pengumpulan Data Komponen Lingkungan
3.1.3. Metoda Analisis Data
3.2. Metoda Prakiraan Dampak dan Penentuan Dampak Besar
dan Penting
3.2.1. Metoda Matematik
3.2.2. Metoda Analogi
3.2.3. Metoda Matrik
3.2.4. Metoda Bagan Alir (Flowchart)
3.2.5. Metoda Penilaian Para Ahli (Professional Judgment)
3.3. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting

BAB IV. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN


4.1. Identitas Pemrakarsa & Penyusun
4.2. Tujuan Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
4.3. Keterkaitan Proyek dengan Kegiatan lain disekitarnya
4.4. Tata Ruang dan Peruntukan Lahan
4.5. Tata Letak Usaha dan Layout
4.6. Pelaksanaan Kegiatan
4.7. Biaya dan Waktu Studi
4.8. Struktur Organisasi
BAB V. RONA LINGKUNGAN HIDUP
5.1. Aspek Fisik - Kimia
5.2. Biologi
5.3. Sosial Ekonomi dan Budaya

BAB VI. PRAKIRAAN DAMPAK


6.1. Tahap Pra-Konstruksi
6.2. Tahap Konstruksi
6.3. Tahap Operasi
6.4. Tahap Pasca Operasi

BAB VII. EVALUASI DAMPAK


7.1. Tahap Pra-Konstruksi
7.2. Tahap Konstruksi
7.3. Tahap Operasi
7.4. Tahap Pasca Operasi

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
16. Penyusunan RKL
Berdasarkan arahan ANDAL mengenai dampak
penting yang
dikelola pada tahapan kegiatan proyek.
17. Penyusunan RPL
Berdasarkan arahan ANDAL mengenai dampak
penting yang
akan dipantau
18. Penyampaian draft ANDAL, RKL, dan RPL untuk
dipresentasikan dihadapan Komisi AMDAL
19. Perbaikan dokumen berdasarkan koreksi oleh tim
Komisi AMDAL
20. Persetujuan ANDAL, RKL, dan RPL.
KASUS AMDAL RS. HERMINA BASUKI RAHMAD
PALEMBANG

Disusun Oleh :

Dewi Puspita Sari (182510083)

Dosen Pengampuh : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR, M.M, M.T

Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis

Angkatan : 33 / A R1

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN

UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat dan Karunia-Nyalah kami dapat
menyusun karya tulis ini yang berjudul “Kasus AMDAL Rs. Hermina Basuki Rahmad
Palembang”

Penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak “Dr. Ir. Hj. Hasmawaty,
AR, M.M, M.T” sebagai dosen pembimbing yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
karya tulis ini.

Penyusun juga menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
karya tulis ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami sangat senang jika pembaca
dapat memberikan saran dan kritik guna memperbaiki karya tulis ini. Penyusun juga berharap
karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Palembang, Januari 2020

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan hidup merupakan suatu kesatuan di mana di dalamnya terdapat


berbagai macam kehidupan yang saling ketergantungan. Lingkungan hidup juga
merupakan penunjang yang sangat penting bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup
yang ada. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya
dalam kondisi yang baik.

Di indonesia pembangunan nasional disusun atas dasar pembangunan jangka


pendek dan jangka panjang. Keduanya dilaksanakan secara sambung menyambung untuk
dapat menciptakan kondisi sosial ekonomi yang lebih baik. Pembangunan sumberdaya
alam dan lingkungan hidup seyogyanya menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor
pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan
lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin. Pola pemanfaatan
sumberdaya alam seharusnya dapat memberikan akses kepada segenap masyarakat, bukan
terpusat pada beberapa kelompok masyarakat dan golongan tertentu, dengan demikian
pola pemanfaatan sumberdaya alam harus memberi kesempatan dan peran serta aktif
masyarakat, serta memikirkan dampak–dampak yang timbul akibat pemanfaatan sumber
daya alam tersebut.

Seringkali pembangunan suatu usaha dibuat dalam porsi ruang lingkup yang sangat
luas tetapi disusun kurang cermat. Seluruh program mungkin saja dapat diananlisis sebagai
suatu proyek, tetapi pada umumnya akan lebih baik bila proyek dibuat dalam ruang
lingkup yang lebih kecil yang layak ditinjau dari segi sosial, administrasi, teknis,
ekonomis, dan lingkungan.

Oleh karena itu lingkungan hidup di Indonesia perlu ditangani di karenakan adanya
beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya yaitu adanya masalah mengenai
keadaan lingkungan hidup seperti kemerosotan atau degradasi yang terjadi di berbagai
daerah.

Untuk itu di perlukan suatu pemahaman yang cukup dalam menganalisis mengenai
dampak tehadap lingkungan. Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri
perlu dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak daerah antara
lain pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi persyaratan teknis
dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan
pertanian, penangkapan ikan dan pengelolaan hutan yang mengabaikan daya dukung dan
daya tampung lingkungan.

Agar pembangunan tidak menyebabkan menurunya kemampuan lingkungan yang


disebabkan karena sumber daya yang terkuras habis dan terjadinya dampak negatif, maka
sejak tahun 1982 telah diciptakan suatu perencanaan dengan mempertimbangkan
lingkungan. Hal ini kemudian digariskan dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986
tentang Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Peraturan Pemerintah
ini kemudian diganti dan disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993
dan terakhir Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL).

RS. Hermina Basuki Rahmad Palembang dalam membangun gedung barunya


mempunyai maslah di AMDAL. Masalah AMDAL ini di takkutkan akan mengakibatkan
dampak pada lingkungan sekitar RS, apalagi disekitar RS merupakan pemukiman warga.
Hermina diharapkan oleh pemerintah kota Palembang dapat menyelesaikan masalah
AMDAL tersebut, jika tidak diselesaikan pemerintah akan menstop pembangunan gedung
baru tersebut.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah apa maslah AMDAL yang
terjadi di RS. Hermina Basuki Rahmad Palembang.

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui masalah AMDAL yang
terjadi di [Link] Basuki Rahmad Palembang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian AMDAL

Kepanjangan AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau


Analisis Dampak Lingkungan. Secara umum, pengertian AMDAL adalah suatu kajian
untuk mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya sebuah kegiatan yang
direncanakan, misalnya proyek baru.

Pendapat lain mengatakan definisi AMDAL adalah suatu proses dalam studi
formal untuk memperkirakan masalah dampak lingkungan yang mungkin terjadi sebagai
akibat dari kegiatan proyek. Masalah dampak lingkungan tersebut dianalisis pada tahap
perencanaan sebagai acuan dasar yang wajib digunakan sebelum mengerjakan sebuah
proyek.

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL adalah suatu kajian dari suatu
dampak besar serta penting untuk melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau
juga kegiatan yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

Analisis ini biasanya dilakukan ketika akan dilakukan suatu proyek baru. AMDAL
bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia maupun
budaya. Jadi, AMDAL ini tidak hanya berfokus pada lingkungan hidup saja tetapi juga
komponen lainnya yang terlibat.

B. Fungsi dan Tujuan AMDAL

Pada dasarnya AMDAL bertujuan untuk mengetahui kemungkinan dampak yang


akan ditimbulkan oleh adanya sebuah rencana usaha atau kegiatan tertentu. Dengan
mengetahui dampaknya, maka pelaksana usaha/ kegiatan dapat membuat perencanaan
lebih matang agar nantinya kegiatan tidak berdampak buruk pada lingkungan atau
merugikan banyak pihak.
Mengacu pada pengertian AMDAL, adapun beberapa fungsi AMDAL adalah sebagai
berikut:

a. Sebagai acuan untuk mengambil keputusan mengenai kelayakan suatu rencana usaha
atau kegiatan terhadap lingkungan hidup.
b. Sebagai masukan dalam menyusun desain teknis dari suatu rencana dan kegiatan.
c. Sebagai masukan dalam menyusun rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup.
d. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang dampak yang mungkin terjadi dari rencana
usaha atau kegiatan.
e. Sebagai acuan atau rekomendasi ijin usaha/ kegiatan.
f. Sebagai dokumen ilmiah dan dokumen legal.
g. Sebagai bahan dalam proses perencanaan pembangunan suatu wilayah.

Beberapa contoh kegiatan yang memerlukan adanya AMDAL yaitu pembuatan


TPA baru, reklamasi pantai, pembangunan pelabuhan hingga pembangunan pabrik.
Semua bentuk pembangunan tersebut pasti akan berdampak pada lingkungan sekitarnya
baik pada manusia ataupun alam.

Melalui AMDAL, diharapkan pelaksana usaha atau pengelola dapat menekan dan
meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan. Selain itu, pelaksana usaha atau
pengelola akan dapat memberikan alternatif lainnya untuk lingkungan yang akan
terdampak.

C. Manfaat AMDAL

AMDAL akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, termasuk pemerintah,


pelaku usaha, dan juga masyarakat. Sesuai dengan pengertian AMDAL, berikut ini adalah
beberapa manfaat AMDAL tersebut:

1. Manfaat AMDAL Bagi Pemerintah


a. Dengan adanya AMDAL pemerintah dapat menjalankan pembangunan
berkelanjutan sesuai dengan prinsipnya.

b. Membantu pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan.


c. Memastikan pembangunan sesuai dengan ketentuan dan prinsip pembangunan
berkelanjutan.

d. Sebagai wujud tanggung jawab pemerintah dalam upaya mengelola lingkungan


hidup.

e. Melalui analisis ini masyarakat juga akan terhindar dari konflik lingkungan.

2. Manfaat AMDAL Bagi Pelaku Usaha


a. Kegiatan usahanya lebih aman dan terjamin.

b. Lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat karena tidak memberikan dampak


buruk.

c. Bentuk usahanya saat ini juga bisa dijadikan referensi jika ingin membuat usaha
baru agar lebih dipercaya pemerintah investor maupun masyarakat.

3. Manfaat AMDAL Bagi Masyarakat


a. Masyarakat mengetahui sejak dini mengenai dampak suatu rencana usaha atau
kegiatan.

b. AMDAL akan memberikan ketenangan karena ada upaya menjaga lingkungan


tetap aman dan bersih.

c. Masyarakat bisa turut berpartisipasi dalam melakukan perawatan dan mengontrol


kegiatan tersebut.

D. Komponen AMDAL

Dalam proses AMDAL terdapat beberapa komponen penting di dalamnya. Sesuai


dengan penjelasan mengenai pengertian AMDAL, adapun beberapa komponen AMDAL
adalah sebagai berikut:

1. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL)

Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) ini merupakan bentuk studi pra proyek
dimana nantinya pihak perencana akan melakukan kajian terkait lingkungan di sekitar
lokasi akan berjalannya suatu kegiatan. Studi pra lingkungan ini mencakup semua
aspek baik fisika, kimia, biologi, sosial, ekonomi serta budaya di sekitarnya.
2. Kerangka Acuan (KA)

Setelah melakukan studi informasi lingkungan, pihak pengelola akan membuat


kerangka acuan yang dijadikan dasar dalam pelaksanaan proyek tersebut. Kerangka
acuan ini berupa hasil laporan dari studi pra lingkungan.

3. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)

Komponen AMDAL berikutnya merupakan bagian utama yaitu melakukan


analisis dampak lingkungan. Dalam melakukan analisis ini, pihak pengelola harus
mengutamakan keamanan dan kesehatan lingkungan serta mengurangi dampak buruk
yang akan terjadi. Pada tahapan ini juga nantinya keputusan terkait proyek akan
dilakukan.

4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Komponen AMDAL ini mencakup segala bentuk pemantauan terhadap


berjalannya proyek, mulai dari saat pembangunan hingga selesai. Pemantauan ini harus
dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat berjalan sesuai dengan aturan
sebenarnya.

5. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

Selain melakukan pemantauan, semua pihak yang terlibat juga harus turut serta
dalam melakukan pengelolaan terhadap proyek. Pengelolaan ini bertujuan untuk
mempertahankan fungsi lingkungan dan menghindari penyimpangan.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Berdasarkan Keterangan
[Link]
gedung-rumah-sakit-hermina-palembang-belum-punya-amdal

Lakukan Kesalahan, Pembangunan Gedung Rumah Sakit Hermina Palembang Belum


Punya AMDAL

Rabu, 10 Juli 2019 16:41

Komisi III DPRD bersama Dinas PUPR dan DLHK melakukan inspeksi mendadak
(sidak) ke Rumah Sakit Hermina di Jalan Basuki Rahmat Palembang, Rabu (10/7/2019).
Pembangunan gedung parkir dan rawat jalan Rumah Sakit Hermina mendapatkan sorotan
dari Pemerintah dan DPRD Kota Palembang. Hasil temuan ternyata bangunan enam lantai
tersebut tidak memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Namun
pengelola rumah sakit mengaku sudah mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
Padahal secara aturan harus menyelesaikan proses Amdal terlebih dahulu baru kemudian
IMB keluar.

Keluarnya IMB inilah yang memunculkan kecurigaan legislatif terhadap tidak


beresnya prosedur perizinan. Wakil Direktur Umum RS Hermina, Adi Septiyadi
mengatakan, pembangunan dimulai pada Februari 2019. Rencananya pihaknya akan
membangun enam lantai, dua lantai diperuntukkan untuk parkir dan sisanya untuk rawat
jalan. Menurut dia, pihaknya sudah mengantongi IMB yang dikeluarkan oleh DPMPTSP.
Sehingga pihaknya melakukan pembangunan. "Kalau IMB sudah ada tapi untuk AMDAL
masih berproses," kata Adi.

Adi mengatakan, pengajuan proses Amdal sudah dilakukan sejak 2018 lalu.
Namun sampai sekarang diakuinya izin tersebut belum keluar. "Sudah kita ajukan izin
amdalnyasejak 2018," kata dia. Kasi Pengendalian Pencemaran, Hardian mengatakan,
alasan pihaknya belum mengeluarkan AMDAL karena berkas yang disampaikan ke
pihaknya belum lengkap. Dalam dokumen lingkungan masih terdapat kekurangan
sehingga tim penilai AMDAL merokemendasikan untuk dilengkapi.

Namun pembahasan AMDAL yang sudah dilakukan sejak Januari 2019 tersebut
berkasnya belum dikembalikan oleh pihak rumah sakit. "Sampai saat ini berkas
kelengkapan AMDAL belum dikembalikan kepada kami sampai saat ini," kata dia.
Sekretaris Ketua DPRD Kota Palembang, Ade Victoria mengungkapkan pihaknya akan
memanggil seluruh stakeholder termasuk pihak rumah sakit untuk memeriksa berkas yang
ada. Jika nantinya berkas berkas tersebut salah dan menyalahi aturan maka pihaknya akan
menstop pengerjaan. "IMB keluar seharusnya ketika proses perijinan lingkungan sudah
keluarin. Ini sebaliknya AMDAL belum keluar tapi IMB sudah keluar," kata dia.

Menurut dia, kesalahan lainnya yang dilakukan oleh pihak rumah sakit yakni luas
bangunan baru tidak sesuai dengan luas bangunan utamanya. Padahal kata dia sesuai
Permenkes 147 seharusnya luas bangunan baru separuh luasnya dari bangunan lama.
"Dugaan lain kesalahan pada Permenkes 147. Apalagi ini bangunan bertingkat," kata dia.

B. Berdasarkan Keterangan

[Link]
hermina/

Wawako Geram Soal Izin Amdal Pembangunan RS Hermina

Penulis admin - Juli 23, 2019

RADAR PALEMBANG – Tidak adanya izin amdal dalam persoalan perizinan


pada pembangunan Rumah sakit Hermina basuki rahmad palembang membuat Wakil
Walikota Palembang geram, bahkan dalam waktu dekat dirinya akan segera
memanggil pihak dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-
PTSP) Kota Palembang.

Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda mengatakan dalam waktu dekat


dirinya akan segera memanggil pihak dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (DPM-PTSP).”Dalam waktu deket saya akan memanggil Dinas penanaman
modal pelayanan terpadu satu pintu untuk mengkonfirmasi adanya persoalan perizinan
IMB RS Hermina yang diduga menyalahi aturan,” ujarnya kemarin.

Dia mengatakan, jika adanya temuan dugaan pelanggaran perizinan IMB yang
dimiliki RS Hermina oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Palembang belum
sampai kepada dirinya.”Untuk itu diperlukan penjelasan dari dinas terkait perihal temuan
komisi III DPRD kota Palembang, dengan meminta keterangan dari DPM-PSTP,”
jelasnya.

Ketua Komisi III DPRD kota Palembang, Ali Syahkban menilai RS Hermina
terbukti menyalahi aturan dalam pembangunan lahan parkir seluas 9000 meter persegi.
bahkan setelah dua kali melakukan rapat bersama dengan mitra kerja serta Pihak
manajemen RS Hermina pihaknya memastikan bahwa IMB dimiliki RS Hermina jelas
melanggar aturan. “Setelah bersama anggota dewan lainnya memeriksa satu persatu berkas
yang dimiliki RS Hermina kami meragukan Izin Mendirikan Bangunan yang dimiliki,
karena tidak sesuai SOP pengurusan IMB,”ungkapnya.

Menurut dia, adanya IMB terlebih dahulu ada kajian Analisis Dampak Lingkungan
(Amdal) dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan ini malah tidak ada cenderung
menyalahi aturan.”Secara aturan harus ada Amdal, jelas perizinan diragukan kami akan
memberikan rekomendasi untuk penyetopan pembangunan lahan parkir milik RS Hermina
tersebut,”pungkasnya.(spt)
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kepanjangan AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau


Analisis Dampak Lingkungan. Secara umum, pengertian AMDAL adalah suatu kajian
untuk mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya sebuah kegiatan yang
direncanakan, misalnya proyek baru.

Pendapat lain mengatakan definisi AMDAL adalah suatu proses dalam studi
formal untuk memperkirakan masalah dampak lingkungan yang mungkin terjadi sebagai
akibat dari kegiatan proyek. Masalah dampak lingkungan tersebut dianalisis pada tahap
perencanaan sebagai acuan dasar yang wajib digunakan sebelum mengerjakan sebuah
proyek.

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL adalah suatu kajian dari suatu
dampak besar serta penting untuk melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau
juga kegiatan yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

Analisis ini biasanya dilakukan ketika akan dilakukan suatu proyek baru. AMDAL
bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia maupun
budaya. Jadi, AMDAL ini tidak hanya berfokus pada lingkungan hidup saja tetapi juga
komponen lainnya yang terlibat.

B. Saran

Baiknya setiap instansi atau perusahaan dalam pembangunan ataupun dalam


pembuangan limbah dan lain – lain yang menyangkut untuk kesehatan lingkungan harus
memiliki AMDAL yang resmi izin dari pemerintah dan dilakukan sesuai dengan peraturan
AMDAL yang berlaku agar kesehtan lingkungan sekitar instansi atau perusahaan kita
dapat terjaga dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
rumah-sakit-hermina-palembang-belum-punya-amdal
[Link]
[Link]
[Link]
amdal/
[Link]
TULISAN TENTANG KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN ATAU
INSTANSI

Disusun Oleh :

EKA JUHITA (182510086)

Dosen Pengampuh : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR, M.M, M.T

Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis

Angkatan : 33 / A R1

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN

UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

2020
Studi Kasus AMDAL
Salah satu alasan yang menyebabkan penolakan atas pembangunan adalah tidak adanya
persetujuan AMDAL. AMDAL mempunyai peran signifikan dalam menentukan proses
pembangunan perusahaan atau korporasi. Pasalnya, AMDAL berisi analasis mengenai dampak
lingkungan yang diakibatkan setelah didirikannya perusahaan tersebut.
Seperti halnya yang terjadi atas penolakan yang dilakukan warga Kendeng Rembang dan Pati
yang tergabung dalam sedulur sikep. Petani yang tergabung dalam aliansi tersebut melakukan
penolakan pembangunan pabrik semen miliki pemerintah. Penolakan tersebut dikarenakan
akan merusak lingkungan masyarakat sekitar dan akan mematikan sumber air yang tersimpan
dalam Pegunungan Kendeng tersebut.
Bentuk penolakan yang dilakukan masyarakat melalui beberapa cara, demontrasi hingga
gugatan ke Mahkamah Agung. Pasalnya, izin AMDAL yang pabrik semen tersebut tidak
keluar, akan tetapi pembangunan masih tetap dilanjutkan.
Dalam penolakan tersebut, terjadi tragedi mininggalnya salah seorang masa aksi dalam
melakukan aksi di Jakarta. Masa aksi tersebut bernama Patmi yang meninggal setelah
mengikuti, aksi teretikal pengecoran kaki.
Hal serupa terjadi di Jakarta Utara, berdasarakan sumber yang dilansir penulis dalam
[Link] yang berjudul Diserbu Polusi Batu Bara, Warga Serbu KCN. Dalam
pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa koalisi masyarakat Jakarta Utara dan Forum
Masyarakat Peduli Lingkungan (Formalin) melakukan aksi demontrasi di depan PT. Karya
Citra Nusantara, Marunda, Jakarta Utara.
Demontrasi tersebut dikarenakan adanya penolakan dari masyarakat mengenai aktifitas
bongkar muat batu bara dari kapal tongkang ke pelabuhan dan menghentikan aktifitas tersebut.
Menurut warga kegiatan yang dilakukan oleh PT. KCN tersebut dapat menyebarkan polusi
yang menganggu kesehatan dan keselamatan warga.
Selain itu, kegiatan yang dilakukan PT. KCN tersebut dinilai illegal karena tidak memiliki izin
analisis mengenai lingkungan hidup atau AMDAL atas operasi batu baru tersebut. PT. KCN
juga melanggar PERDA Nomer 1 Tahun 2004 mengenai Rencana Detail Tata Ruang dan
Zonasi. Bahkan, PT. KCN tidak mengindahkan beberapa surat peringatan yang dikeluarkan
oleh Pemprov DKI Jakarta mengenai pemberhentian pengoperasian perusahaan tersebut.
Berdasarkan PP Nomer 27 Tahun 2012 dalam pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa setiap usaha
dan/ atau kegiatan wajib memiliki AMDAL atau UKL – UPL wajib memiliki izin lingkungan.
Sedangkan dalam ayat 2 dijelaskan bahwa Izin Lingkungan yang dimaksud sebagaimana ayat
(1) diperoleh melalui tahapan kegiatan yang meliputi, a. Penyusunan AMDAL dan UKL – UPL
;, b. Penilaian AMDAL dan Pemeriksaan UKL – UPL ;, c. permohonan dan penerbitan Izin
Lingkungan.
Maka, dari itu wajar jika AMDAL inilah yang biasanya menjadi senjata pamungkas masyarakat
dalam melawan korporasi. Menganai dampak lingkungan yang disebabkan setelah adanya
perusahaan dan sebagai alasan utama dalam mempertahankan sumber daya alalm dan
kelestarian lingkungan masyarakat setempat.
Peraturan mengenai diwajibkannya izin AMDAL dalam sebuah perusahaan atau korporasi
diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 mengenai Analisis Dampak
Lingkungan (AMDAL). Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan bahwa AMDAL
merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu
usaha atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelengaraan usaha atau kegiatan. AMDAL mengunakan
analisis yang bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia,
maupun budaya.
AMDAL biasanya disusun oleh para ahli di bidang tersebut yang dalam proses penyusunannya
sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Peratuan Menteri (PERMEN) Negara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia (RI) Nomer 16 Tahun 2012 tentang Pedoman
Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup. Jika ditinjau dari Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup RI Nomer 17 Tahun 2012, dalam proses perumusan AMDAL harus melibatkan
masyarakat dalam proses analisis dampak lingkungan hidup.
Pentingnya Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
Izin AMDAL merupakan sesuatu yang sangat penting. Pasalnya, AMDAL dapat digunakan
sebagai berikut, di anataranya ;
1. Bahan bagi perencanaan wilayah.
2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari
rencana usaha dan/ atau kegiatan.
3. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari rencana usaha dan/ atau
kegiatan.
4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup.
5. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana
usaha dan atau kegiatan.
Dalam proses penyusunannya, AMDAL disusun oleh
1. Komisi Penilai AMDAL, atau komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL
2. Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha
dan/ atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
3. Masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk
keputasan AMDAL
Dalam pelaksanaanya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi
1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, untuk menentukan kriteria ini dibahas dalam
Peratuan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomer 11 Tahun 2006.
2. Apabila usaha dana tau kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut maka wajib
menyusun UKL – UPL sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomer 27 Tahun 2012.
3. Penyusunan AMDAL mengunakan pedoman penyusunan yang terdapat dalam
Peraturan Pemerintah Nomer 27 Tahun 2012.
4. Kewenangan penilaian didasarkan oleh Permen LH Nomer 5 Tahun 2008.

Jenis – Jenis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)


Analisis mengenai dampak lingkungan memiliki beberapa jenis, di antaranya adalah
1. AMDAL Tunggal
AMDAL Tunggal adalah Analisis mengenai dampak lingkungan yang dikeluarkan hanya
untuk satu jenis usaha dan/ atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu
instansi yang membidangi usaha/ atau kegiatan tersebut.
2. AMDAL Terpadu atau Multisektor
AMDAL terpadu atau multisektor adalah hasil kajian mengenai analisis mengenai dampak
lingkungan atas usaha dan/ atau kegiatan terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan
hidup (LH) dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan
tersebut.
Adapun yang dimaksud dalam kriteria terpadu adalah pelbagai macam usaha dan/ atau tersebut
mempunyai keterkaitan dalam perencanaan dan proses produksinya, serta usaha dan/ atau
kegiatan tersebut berada dalam satu kesatuan hamparan ekosistem.
3. AMDAL KAWASAN
AMDAL Kawasan merupakan hasil kajian mengenai dampak besar penting usaha dan/ atau
kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup (LH) dan melibatkan lebih sari satu
instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan tersebut.
Adapun yang dimaksud kriteria AMDAL Kawasan memiliki kriteria berbagai usaha dan/ atau
kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lain, berbagai usaha dan/
atau kegiatan tersebut terletak dalam/ merupakan satu kesatuan zona pengembangan wilayah
atau kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau rencana tata ruang kawasan usaha
dan/ atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem.
Selain itu dampak lingkungan dapat ditentukan berdasarkan pengalaman empiris profesional
(expert judgement), perubahan dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, dan perubahan
dibandingkan dengan sistem nilai, fasilitas, pelayanan sosial, dan sumber daya yang
diperlukan.
Prosedur Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
Adapun prosedur penentuan AMDAL meliputi, proses penapisan (screening) wajib AMDAL,
proses pengumuman dan konsultsi masyarakat, penyusunan dan penilaian KA-ANDAL atau
scoping, penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL proses penapisan atau kerap juga
disebut proses seleksi kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan apakah suatu rencana
kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa AMDAL mempunyai peranan yang sangat
penting dalam proses keberlangsungan suatu perusahaan. Maka sangat wajib hukumnya jika
memperhatikan hukum dan prosedur dalam penentuan AMDAL tersebut. Supaya, dalam tahap
implementasinya tidak terjadi sesuatu yang menyimpang atau sesuatu yang tidak diinginkan.
Prosedur hukum tersebut sangat penting untuk menjaga agar stabilitas masyarakat dan
lingkungan dapat terjaga dengan baik.

Contoh Kasus AMDAL yang copy paste menyebabkan Kerusakan Lingkungan


Diambil dari website : [Link]
amdal-dan-menghancurkan-lingkungan-malinau-selatan/

[Jakarta, 25 April 2017] – PT Mitrabara Adiperdana (PT MA) adalah


perusahaan tambang batu bara di Malinau Selatan, Kalimantan Utara yang
berada di bawah Baramulti Grup. Perusahaan ini melakukan peningkatan
produksi dari 500.000 ton per tahun menjadi 4.000.000 ton per tahun di
area seluas 1.930 Ha. Mitra dari PT MA adalah Idemitsu Kosan, perusahaan
Jepang yang bergerak di bidang energi dan tambang. Dari keseluruhan
ekspor PT MA, sebesar 37,76% dialokasikan untuk Idemitsu Kosan. Idemitsu
Kosan mengakuisisi saham PT MA sebesar 30% di tahun 2014 serta masuk
dalam struktur kepengurusan perusahaan. Pengakuisisian saham PT MA
oleh Idemitsu Kosan dilakukan melalui pinjaman dari The Japan Bank for
International Cooperation (JBIC) sebesar 24 juta USD, dan sisanya didanai
oleh The Mie Bank, Ltd., The Chiba Kogyo Bank, Ltd., dan North Pacific
Bank, Ltd., menjadi total 40 juta USD.
Dalam mengkaji kasus PT MA, ditemukan beberapa kejanggalan dalam studi
dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup)
perusahaan dan wawancara dengan beberapa warga lokal. Temuan-temuan
JATAM antara lain adalah:

a. Dalam dokumen Amdal PT MA muncul nama perusahaan lain yaitu PT.


Mestika Persada Raya pada lembar abstrak di halaman xii. Penemuan ini
mengindikasikan adanya tindakan salin-tempel (copy-paste) Amdal PT
Mestika Persada Raya dalam pembuatan Amdal PT MA. PT Mestika Persada
Raya adalah perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di Kabupaten
Malinau Selatan, Kalimantan Utara.

b. Air Sungai Malinau warnanya berubah menjadi coklat dalam kurang lebih
sepuluh tahun terakhir. Hal ini menyebabkan air tidak layak pakai untuk
kebutuhan sehari-hari – seperti minum dan mandi – tadinya Sungai Malinau
bisa digunakan warga. Oleh karena itu, banyak warga yang memutuskan
untuk membuat sumur di rumah masing-masing, sedangkan sebagian lagi
membeli air jika tidak mampu membuat sumur. Ironisnya, ada juga warga
yang tidak mampu membuat sumur maupun membeli air. Sehingga terpaksa
menggunakan air sungai yang tidak layak tersebut.

c. Debu yang dihasilkan sepanjang aktivitas penambangan perusahaan


menjadi salah satu keluhan utama yang dirasakan oleh warga. Akibatnya,
banyak anak-anak kecil terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Salah
satu warga setempat mengatakan debu terlihat jelas baik dari kaca-kaca di
rumah warga maupun di sepanjang jalan.

d. Air yang dipakai warga untuk berkebun pun berubah menjadi kecil dan
airnya seringkali naik akibat tekena limbah perusahaan. Namun, perusahaan
kerap mengelak untuk hal ini, mereka mengatakan bahwa naiknya air hingga
ke ladang-ladang warga merupakan banjir yang disebabkan oleh air hujan.
Padahal, sebelumnya hal ini tidak terjadi.
e. Aktivitas penambangan berdampak besar terhadap hewan-hewan yang
ada di hutan-hutan yang berada dalam konsesi perusahaan. Burung
enggang sudah jarang terlihat, tidak seperti 10 tahun yang lalu masih
berkeliaran hingga ke desa-desa. Budaya masyarakat setempat untuk
mendapatkan makan, yaitu melalui berburu, akan tetapi buruan-buruan
mereka yaitu rusa dan babi hutan menurun drastis.

f. Elite-elite desa, termasuk beberapa kepala desa dan kepala adat, yang
tidak idealis dengan mudah beralih menjadi pro perusahaan. Hal ini
membuat protes yang dilakukan warga menjadi tidak pernah berhasil
karena tidak menemenukan solusi konkrit, sehingga semangat warga untuk
memperkarakan dampak-dampak yang mereka rasakan kian menurun.

Berkaitan dengan beberapa hal di atas, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM)


telah melapor kepada Direktorat Jendral Penegakan Hukum Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (GAKKUM KLHK) pada Selasa, 25 April 2017, Pkl 14.00
– 15.00 Wib, tadi.

Berikut adalah lima (5) tuntutan yang telah disampaikan kepada Dirjen
GAKKUM KLHK:

1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera melakukan


penyelidikan dan pengusutan dugaan pelanggaran dokumen amdal
terhadap PP No 27 tahun 2012 tentang AMDAL dan dugaan pidana
lingkungan hidup sesuai UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 109, pasal 110, pasal 111 (ayat 2) dan
pasal 113. Pasal-pasal tersebut berisi tentang perizinan (Amdal) yang tidak
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dan untuk orang-
orang yang memberikan informasi atau keterangan palsu terkait Amdal.

2. Memulihkan ruang hidup masyarakat yang terkena dampak akibat


aktivitas PT. MA.

3. KLHK harus mencabut Izin Lingkungan PT. MA terkait dengan temuan-


temuan di atas.
4. JBIC dan Pemerintah Jepang harus bertanggungjawab atas persoalan ini,
mengingat peristiwa ini menambah deretan panjang buruknya reputasi
investasi dan pembiyaan dari JBIC dan Pemerintah Jepang karena, selain
membiayai sektor industri fosil seperti Batubara yang kotor juga melanggar
hukum dan memanipulasi dokumen Amdal

5. JBIC dan Pemerintah Jepang segera menghentikan pembiayaan energi


kotor batubara di Malinau dan di Indonesia pada umumnya.
Nama : Erwin
NIM : 182510088
Prodi : Magister Manajemen
Tugas Manajemen Lingkungan Bisnis

TULISAN TENTANG KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN ATAU INSTANSI

Pada tanggal 29 Mei 2006, 2 hari setelah gempa besar mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya, lumpur
panas menyembur dari sumur Banjar Panji-1 milik PT. Lapindo Brantas di desa Renokenongo, Kecamatan
Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur mencapai 150.000 meter kubik setiap hari.
Hingga bulan Mei 2007 semburan lumpur ini belum berhasil dihentikan. Semburan lumpur panas ini tidak
dapat dihentikan hinga menyebabkan tertutupnya tak kurang dari 10 pabrik dan 90 hektar sawah serta
pemukiman penduduk. Selain itu, luapan lumpur panas yang semakin tak terkendali ini mengganggu arus
transportasi kerta api dari dan ke Surabaya serta menyebabkan jalan tol Surabaya-Gempol
ditutup. Peristiwa ini sungguh mengejutkan masyarakat Indonesia. PT. Lapindo Brantas yang merupakan
kontraktor pertambangan minyak multinasional dan pemilik sumur Banjar Panji-1 dituding melakukan
kesalahan dalam melakukan prosedur pengeboran yang menyebabkan terjadinya bencana lingkungan
tersebut. Mulai saat itu, tuntutan dari berbagai pihak akan tanggungjawab PT. Lapindo Brantas
bermunculan dan keberadaan PT. Lapindo Brantas sebagai perusahaan pertambangan minyak berskala
multinasional pun mulai dipertanyakan.

Peristiwa semburan lumpur panas di desa Renokenongo ini telah menyebabkan kerugian yang amat besar
bagi warga masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Selain itu, peristiwa ini juga memiliki dampak
lingkungan yang amat serius berkaitan dengan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sementara itu,
pihak PT. Lapindo Brantas terkesan lamban dalam menanggapi kasus ini. Bahkan dalam beberapa
kesempatan, pihak PT. Lapindo berusaha untuk menghindar dari tanggungjawab sosial yang harus
diberikan sehubungan dengan ganti rugi atas peristiwa itu. Kasus ini sempat membuat warga setempat
mengajukan protes ke pemerintah sehubungan dengan proses ganti rugi yang seolah-olah dilalaikan oleh
pihak PT. Lapindo.
Hasnul Amri

182510098

Magister Manajemen

Universitas Bina Darma Palembang

COPY - PASTE AMDAL DAN KEJAHATAN LINGKUNGAN


OLEH PERUSAHAAN PERTAMBANGAN

(STUDI KASUS PT. MITRABARA ADIPERDANA)

Perkembangan dunia industri saat ini semakin pesat seiring dengan laju arus
globalisasi yang terus berjalan tak terkecuali industri pertambangan. Perkembangan
ini berdampak pada kebutuhan akan energi yang terus meningkat. Batu bara
merupakan salah satu sumber energi yang banyak dipakai untuk pembangkit energi
listrik dan industri besar lainnya. Konsumsi batu bara yang meningkat menyebabkan
semakin meningkatnya industri yang bergerak pada bidang pertambangan dan
perusahaan - perusahaan tambang batu bara lain yang sudah berdiri harus terus
meningkatkan kinerjanya untuk meningkatkan produktivitas di dalam memenuhi
permintaan batu bara di dunia. Produktivitas merupakan hal yang sangat penting bagi
perusahaan sebagai alat untuk mengukur kinerja produksi dan dapat dijadikan sebagai
pedoman untuk melakukan perbaikan secara terus – menerus (continuous
improvement). Hal ini terkait dengan daya saing perusahaan untuk terus berkompetisi
yang mengakibatkan analisis performansi menjadi salah satu perhatian bagi pihak
management. Top management ingin mengidentifikasi dan mengurangi inefisiensi
yang terjadi di perusahaan untuk mendapatkan competitive advantage (Utoro, 2010).
Batu Bara adalah salah satu sumber energi yang penting bagi dunia, yang
digunakan pembangkit listrik untuk menghasilkan listrik hampir 40% di seluruh
dunia. Di banyak negara angka-angka ini jauh lebih tinggi: Polandia menggunakan
batu bara lebih dari 94% untuk pembangkit listrik; Afrika Selatan 92%; Cina 77%;
dan Australia 76%. Batu bara merupakan sumber energi yang mengalami
pertumbuhan yang paling cepat di dunia di tahun-tahun belakangan ini lebih cepat
daripada gas, minyak, nuklir, air dan sumber daya pengganti. Batu bara telah
memainkan peran yang sangat penting ini selama berabad-abad – tidak hanya
membangkitkan listrik , namun juga merupakan bahan bakar utama bagi produksi baja
dan semen, serta kegiatan-kegiatan industri lainnya.
Bersamaan dengan itu, eksploitasi besar-besaran terhadap batubara secara
ekologis sangat memprihatinkan karena menimbulkan dampak yang mengancam
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan menghambat terselenggaranya sustainable
eco-development. Untuk memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi
lingkungan hidup, maka kebijakan hukum pidana sebagai penunjang ditaatinya
norma-norma hukum administrasi (administrative penal law) merupakan salah satu
kebijakan yang perlu mendapat perhatian, karena pada tataran implementasinya
sangat tergantung pada hukum administrasi. Diskresi luas yang dimiliki pejabat
administratif serta pemahaman sempit terhadap fungsi hukum pidana sebagai ultimum
remedium dalam penanggulangan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup,
seringkali menjadi kendala dalam penegakan norma-norma hukum lingkungan.
Akibatnya, ketidaksinkronan berbagai peraturan perundang-undangan yang
disebabkan tumpang tindih kepentingan antar sektor mewarnai berbagai kebijakan di
bidang pengelolaan lingkungan hidup. Bertitik tolak dari kondisi di atas, maka selain
urgennya sinkronisasi kebijakan hukum pidana, diperlukan pula pemberdayaan
upaya-upaya lain untuk mengatasi kelemahan penggunaan sarana hukum pidana,
dalam rangka memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup
dan korban yang timbul akibat degradasi fungsi lingkungan hidup .
Proses pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia harus
diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan sesuai dengan amanah Pasal 33 ayat (4) Undang- Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Pemanfaatan sumber daya alam masih menjadi
modal dasar pembangunan di Indonesia saat ini dan masih diandalkan di masa yang
akan datang. Oleh karena itu, pengunaan sumber daya alam tersebut harus dilakukan
secara bijak. Pemanfaatan sumber daya alam tersebut hendaknya dilandasi oleh tiga
pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu menguntungkan secara ekonomi
(economically viable), diterima secara sosial (socially acceptable), dan ramah
lingkungan (environmentally sound). Proses pembangunan yang diselenggarakan
dengan cara tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas
kehidupan generasi masa kini dan yang akan datang.
Kegiatan pertambangan untuk mengambil bahan galian berharga dari lapisan
bumi telah berlangsung sejak lama. Mekanisasai peralatan pertambangan telah banyak
menyebabkan skala pertambangan semakin membesar, sehingga menyebabkan
kegiatan pertambangan menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan
bersifat penting. US-EPA (1995) telah lebih dulu melakukan penlitian terkait
pengaruh kegiatan pertambangan terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan
manusia pada 66 kegiatan pertambangan. Dari hasil penelitian tersebut, dampak
lingkungan yang mungkin timbul kaibat kegiatan pertambangan adalah pencemaran
air permukaan, pencemaran air tanah, kesehatan manusia, kerusakan flora dan fauna
dan pencemaran udara. Karena hal ini, suatu kegiatan pertambangan haruslah
memiliki AMDAL yang memastikan bahwa biaya lingkungan, sosial dan kesehatan
dipertimbangkan dalam menentukan kalayakan ekonomi dan penentuan alternative
kegiatan yang akan dipilih serta memastikan pengendalian, pengelolaa, pemantauan
serta langkah – langkah perlindungan telah terintegrasi di dalam desain dan
implementasi proyek serta rencana penutupan tambang (BAPEDAL, 2001).
PT Mitrabara Adiperdana (PT MA) adalah perusahaan tambang di Malinau
Selatan, Kalimantan Utara yang berada di bawah Baramulti Group. Perusahaan ini
melakukan peningkatan produksi dari 500.000 ton per tahun menjadi 4.000.000 ton
per tahun di area seluas 1.930 Ha. Mitra dari PT MA adalah Idemitsu Kosan,
perusahaan Jepang yang bergerak di bidang energi dan tambang. PT MA juga
memiliki anak perusahaan tambang batubara bernama PT Baradinamika Muda Sukses
(PT BM), yang juga beroperasi di Malinau Selatan. Dalam kajian yang dilakukan oleh
JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) ditemukan beberapa kejanggalan dalam studi
AMDAL perusahaan dan wawancara dengan beberapa warga lokal diantaranya yaitu
adanya indikasi tindakan salin-tempel (copy-paste) dalam dokumen AMDAL PT.
MA. Padahal untuk kelas perusahaan pertambangan yang cukup menimbulkan
dampak besar dan penting harus menyusun AMDAL sesuai dengan kegiatam yang
dilakukan. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas
penulis tertarik untuk menganalisis kasus copy-paste AMDAL yang dilakukan oleh
PT. Mitrabara Adiperdana.
Dalam mengkaji kasus PT MA, ditemukan beberapa kejanggalan dalam studi
dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) perusahaan dan
wawancara dengan beberapa warga lokal. Temuan-temuan JATAM antara lain
adalah:
a. Dalam dokumen Amdal PT MA muncul nama perusahaan lain yaitu PT.
Mestika Persada Raya pada lembar abstrak di halaman xii. Penemuan ini
mengindikasikan adanya tindakan salin-tempel (copy-paste) Amdal PT
Mestika Persada Raya dalam pembuatan Amdal PT MA. PT Mestika
Persada Raya adalah perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di
Kabupaten Malinau Selatan, Kalimantan Utara.

b. Air Sungai Malinau warnanya berubah menjadi coklat dalam kurang lebih
sepuluh tahun terakhir. Hal ini menyebabkan air tidak layak pakai untuk
kebutuhan sehari-hari – seperti minum dan mandi – tadinya Sungai
Malinau bisa digunakan warga. Oleh karena itu, banyak warga yang
memutuskan untuk membuat sumur di rumah masing-masing, sedangkan
sebagian lagi membeli air jika tidak mampu membuat sumur. Ironisnya,
ada juga warga yang tidak mampu membuat sumur maupun membeli air.
Sehingga terpaksa menggunakan air sungai yang tidak layak tersebut.

c. Debu yang dihasilkan sepanjang aktivitas penambangan perusahaan menjadi


salah satu keluhan utama yang dirasakan oleh warga. Akibatnya, banyak
anak-anak kecil terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Salah satu
warga setempat mengatakan debu terlihat jelas baik dari kaca-kaca di
rumah warga maupun di sepanjang jalan.

d. Air yang dipakai warga untuk berkebun pun berubah menjadi kecil dan
airnya seringkali naik akibat tekena limbah perusahaan. Namun,
perusahaan kerap mengelak untuk hal ini, mereka mengatakan bahwa
naiknya air hingga ke ladang-ladang warga merupakan banjir yang
disebabkan oleh air hujan. Padahal, sebelumnya hal ini tidak terjadi.

e. Aktivitas penambangan berdampak besar terhadap hewan-hewan yang ada di


hutan-hutan yang berada dalam konsesi perusahaan. Burung enggang sudah
jarang terlihat, tidak seperti 10 tahun yang lalu masih berkeliaran hingga ke
desa-desa. Budaya masyarakat setempat untuk mendapatkan makan, yaitu
melalui berburu, akan tetapi buruan-buruan mereka yaitu rusa dan babi
hutan menurun drastis.

f. Elite-elite desa, termasuk beberapa kepala desa dan kepala adat, yang tidak
idealis dengan mudah beralih menjadi pro perusahaan. Hal ini membuat
protes yang dilakukan warga menjadi tidak pernah berhasil karena tidak
menemenukan solusi konkrit, sehingga semangat warga untuk
memperkarakan dampak-dampak yang mereka rasakan kian menurun.

Berkaitan dengan beberapa hal di atas, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM)


telah melapor kepada Direktorat Jendral Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (GAKKUM KLHK) pada Selasa, 25 April 2017, Pkl 14.00 – 15.00 Wib,
tadi. Berikut adalah lima (5) tuntutan yang telah disampaikan kepada Dirjen
GAKKUM KLHK:
1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera melakukan
penyelidikan dan pengusutan dugaan pelanggaran dokumen amdal terhadap
PP No 27 tahun 2012 tentang AMDAL dan dugaan pidana lingkungan
hidup sesuai UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 109, pasal 110, pasal 111 (ayat 2)
dan pasal 113. Pasal-pasal tersebut berisi tentang perizinan (Amdal) yang
tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dan untuk orang-
orang yang memberikan informasi atau keterangan palsu terkait Amdal.
2. Memulihkan ruang hidup masyarakat yang terkena dampak akibat aktivitas
PT. MA.
3. KLHK harus mencabut Izin Lingkungan PT. MA terkait dengan temuan-
temuan di atas.
4. JBIC dan Pemerintah Jepang harus bertanggungjawab atas persoalan ini,
mengingat peristiwa ini menambah deretan panjang buruknya reputasi
investasi dan pembiyaan dari JBIC dan Pemerintah Jepang karena, selain
membiayai sektor industri fosil seperti Batubara yang kotor juga melanggar
hukum dan memanipulasi dokumen Amdal. JBIC dan Pemerintah Jepang
segera menghentikan pembiayaan energi kotor batu bara di Malinau dan di
Indonesia pada umumnya.

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) melaporkan dugaan salin rekat Analisa


Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) oleh PT Mitrabara Adiperdana yaitu
perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan batu bara di Malinau Selatan,
Kalimantan Utara kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Dugaan ini berawal dari pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang peneliti JATAM
yaitu Awliya Syahbanu yang menemukan nama perusahaan lain dalam dokumen
AMDAL PT. Mitrabara Adiperdana yaitu perusahaan PT. Mestika Persada Raya.
Menurut Awliya, jika dokumen AMDAL hanya salinan maka sangat berpotensi
melanggar UU Lingkungan Hidup, sehingga KLHK harus cepat bertindak untuk
memeriksa, mengusut dokumen AMDAL PT. Mitrabara Adiperdana serta mencabut
izin lingkungan PT. Mitrabara Adiperdana jika terbukti melanggar.

Pada 4 Juli 2017 tanggul kolam pengendapan (settling pond/sediment pond) di


pit Betung milik PT Baradinamika Mudasukses (salah satu anak perusahaan PT
Mitrabara Adiperdana) jebol dan mengakibatkan pencemaran parah di dua sungai
utama di Malinau, yakni Sungai Sesayap dan Sungai Malinau. Pencemaran ini
merusak sumber air minum masyarakat setempat. PDAM Kabupaten Malinau
menyatakan bahwa tingkat kekeruhan air baku pada kedua sungai meningkat tajam.
Tingkat kekeruhan air baku meningkat hampir 80 kali lipat, dari 25 NTU
(Nephelometric Turbidity Unit) menjadi 1.993 NTU. Mengacu pada Kepmen
Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat- Syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum, bahwa batas standar tingkat kekeruhan untuk air minum
seharusnya hanya 5 NTU. Menurut PDAM Malinau, limbah batubara yang
mencemari sungai tersebut mengandung Silika (SiO2), Alumina (Al203), Fero Oksida
(Fe203), Kalsium Oksida (CaO), Magnesium Oksida (MgO), Titanium Oksida
(TiO2), Alkalin (Na2O) dan Kalium Oksida (K2O), Sulfur Trioksida (SO3), Pospor
Oksida (P205) dan Karbon. Kolam pengendapan di pit Betung ini tidak hanya
digunakan oleh PT BM saja, namun juga dimanfaatkan oleh PT MA untuk
menampung limbah pertambangan batubara mereka.
Proses pinjam meminjam kolam pengendapan ini tentu saja melanggar
ketentuan yang berlaku serta tidak tercantum dalam AMDAL kedua perusahaan
tersebut. Sejak adanya aktivitas pertambangan batubara di Kabupaten Malinau, warga
setempat telah menerima berbagai daya rusak akibat hancurnya ruang hidup mereka.
Aktivitas pertambangan begitu dekat dengan pemukiman warga serta dua sungai
utama yang menjadi sumber air utama warga di Kabupaten Malinau, yakni Sungai
Sesayap dan Sungai Malinau. Akibat dari tercemarnya dua sungai tersebut, PDAM
Malinau harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk melakukan pengolahan air baku
demi memenuhi kebutuhan air bersih warga Malinau. Tidak hanya itu saja, warga
Malinau kehilangan haknya atas air setelah aliran air PDAM mati total selama tiga
hari, kemudian berlanjut dengan keruhnya air PDAM pada 8-9 Juli 2017.
Pada 12 juli 2017 Dinas ESDM Kalimantan Utara mengeluarkan teguran keras
dan penghentian sementara untuk empat perusahaan tambang batubara di Malinau
Selatan dikarenakan pencemaran sungai di Malinau dan jebolnya pit Betung. Keempat
perusahaan tersebut adalah PT MA (No. surat 540/558/[Link]/VI/2017), PT BM
(No. surat 540/557/[Link]/VI/2017), PT Kayan Prima Utama Coal (No. surat
540/555/[Link]/VI/2017) dan PT Atha Marth Naha Kramo (No. surat
540/556/[Link]/VI/2017). Menanggapi sanksi yang diberikan oleh Dinas ESDM
tersebut, PT MA dalam pernyataan media tertanggal 8 September 2017 menyebutkan
bahwa sanksi dan rekomendasi dari Dinas ESDM Kaltara hanya bersifat administratif
dan sudah ditindaklanjuti dengan baik oleh PT MA. Padahal dalam UU PPLH,
pencemaran sungai dan hilangnya baku mutu lingkungan merupakan salah satu tindak
pidana lingkungan hidup.
2.2 Bentuk Pelanggaran
Copy-Paste yang dilakukan oleh PT. Mitrabara Adiperdana telah melanggar
karena dokumen AMDAL tersebut mengandung kekeliruan, ketidakbenarah bahkan
pemalsuan data dan informasi, karena dokumen AMDAL yang dibuat hanya meniru
milik PT. Mestika Persada Raya sehingga berdasarkan Peraturan Pemerintah No 27
tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, PT Mitrabara Adiperdana dapat dikenai sanksi
administrative sesuai dengan pasal 74 yaitu berupa teguran tertulis, paksaan
pemerintah, pemebekuan izin lingkungan dan paling berat pencabutan izin
lingkungan. Selain itu, dalam rangka penegakan hukum lingkungan dilihat dari
hukum pidana, maka perlu PT Mitrabara Adipersada dikenakan denda atau kurungan
bilamana melakukan pemalsuan AMDAL. Konsultan AMDAL dapat juga dikenakan
sanksi pidana apabila studi AMDAL (data dan informasi) yang dicantumkan dalam
dokumen tidak disampaikan berdasarkan studi yang benar/palsu (Deviani, 2012).

Sedangkan kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan tambang


batubara ini dinyatakan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
yakni:

1. UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.


a. Pasal 96 ayat e yang berbunyi “Pengelolaan sisa tambang dari kegiatan
usaha pertambangan dalam bentuk padat, cair atau gas sampai memenuhi
standar baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke media lingkungan”
b. Pasal 97 berbunyi “Pemegang IUP dan IUPK wajib menjamin penerapan
standard an baku mutu lingkungan sesuai dengan karakteristik suatu
daerah”
c. Pasal 98 berbunyi “Pemegang IUP dan IUPK wajib menjaga kelestarian
fungsi dan daya dukung sumberdaya air yang bersangkutan sesuai dengan
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”
2. UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (UU PPLH).
3. PP No. 55 tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pengelolaan Usaha Pertambangan Minerba, pasal 16 huruf h “Pengelolaan
lingkungan hidup, reklamasi dan pasca tambang”
4. Permen ESDM No. 34 tahun 2017 tentang perijinan di Bidang Minerba, Bab
VII tentang Hak, Kewajiban dan Larangan, pasal 26 ayat 1 dan 2.
5. Permen ESDM No. 34 tahun 2017 tentang perijinan di Bidang Minerba, bab
IX tentang sanksi administratif.
6. Kepmen Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/[Link]/1995 tantang
Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan
pada Kegiatan Usaha Pertambangan Umum pasal 10 yang berbunyi “Air yang
berassal dari kegiatan pertambangan sebelum dialirkan ke perairan harus
diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu lingkungan sesuai
dengan peraturan perundang - undangan yang berlaku”
7. Kepmen Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/[Link]/1995 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum.
2.3 Dampak Kegiatan Pertambangan PT Mitrabara Adiperdana
Kegiatan pembangunan yang berlangsung memberikan rangsangan melalui faktor
– faktor risiko atas kesehatan manusia. Besar kecilnya rangsangan dari kegiatan
pembangunan tidaklah sama. Dampak kegiatan pembangunan terhadap lingkungan
hidup dan aspek kesehatan secara langsung akan mengenai faktor – faktor
kependudukan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan (Sucipto, 2011).
Kegiatan pertambangan setidaknya memliki beberapa dampak yang signifikan
terhadap kelangsungan lingkungan hidup dan kesehatan manusia (BAPEDAL, 2001)
diantaranya yaitu :
1. Pencemaran air
Permukaan batubara yang mengandung pirit (besi sulfide) berinteraksi
dengan air menghasilkan Asam sulfat yang tinggi sehingga terbunuhnya ikan-ikan
di sungai, tumbuhan, dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang
drastis. Batubara yang mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium,
dan isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan
mengakibatkan kontaminasi radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini
terkandung dalam konsentrasi rendah, namun akan memberi dampak signifikan
jika dibung ke lingkungan dalam jumlah yang besar. Emisi merkuri ke lingkungan
terkonsentrasi karena terus menerus berpindah melalui rantai makan dan
dikonversi menjadi metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan
membahayakan manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang
terkontaminasi merkuri.
2. Pencemaran udara
Polusi/pencemaran udara yang kronis sangat berbahaya bagi kesehatan.
Menurut logika udara kotor pasti mempengaruhi kerja paru - paru. Peranan
polutan ikut andil dalam merangsang penyakit pernafasan seperti
influensa,bronchitis dan pneumonia serta penyakit kronis seperti asma dan
bronchitis kronis.
3. Pencemaran Tanah
Penambangan batubara dapat merusak vegetasi yang ada, menghancurkan
profil tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic, menghancurkan satwa liar
dan habitatnya, degradasi kualitas udara, mengubah pemanfaatan lahan dan
hingga pada batas tertentu dapat megubah topografi umum daerah penambangan
secara permanen. Disamping itu, penambangan batubara juga menghasilkan gas
metana, gas ini mempunyai potensi sebagi gas rumah kaca. Kontribusi gas metana
yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, memberikan kontribusi sebesar 10,5%
pada emisi gas rumah kaca.
4. Limbah pencucian batubara zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia jika airnya dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia
seperti kanker kulit. Karena Limbah tersebut mengandung belerang (b), Merkuri
(Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4), di samping itu
debu batubara menyebabkan polusi udara di sepanjang jalan yang dijadikan
aktivitas pengangkutan batubara. Hal ini menimbulkan merebaknya penyakit
infeksi saluran pernafasan, yang dapat memberi efek jangka panjang berupa
kanker paru-paru, darah atau lambung. Bahkan disinyalir dapat menyebabkan
kelahiran bayi cacat.
5. Kerusakan lingkungan dan masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh proses
penambangan dan penggunaannya.
Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak
sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti arsenik, timbal,
merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga,
molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di
lingkungan.

2.4 Alternatif Pemecahan Kasus


Berdasarkan analisis tersebut diatas ada beberapa rekomendasi yang perlu disarankan
diantaranya :
1. Pemerintah terutama KLHK harus melakukan pengawasan dan pemantauan
terhadap izin lingkungan yang telah dikeluarkan untuk kegiatan pertambagan.
2. Pemerintah aktif dan bijaksana dalam mengawasi dan mengevaluasi
perusahaan pertambangan batubara yang telah beroperasi dalam melakukan
kegiatan penambangan pada setiap tahapan mulai tahapan pra konstruksi,
kontruksi, operasi dan pasca operasi agar dampak positif maupun negative dari
kegiatan pertambangan dapat dideteksi awal dan dapat meminimalisir dampak
tersebut.
3. Perusahaan Penambangan melakukan pengontrolan dan pemeriksaan kualitas
air dan kualitas udara secara berkala sesuai peraturan yang ada di sekitar
permukiman masyarakat dan lokasi penambangan.
4. Melakukan reklamasi dan revegetasi lanjutan pada lahan bekas penambangan
yang belum ditutup.
5. Melaksanakan peraturan atau perundang-undangan yang ada. Sebelum
pembuatan dokumen AMDAL , PT. Mitrabara Adiperdana harus
melaksanakan Kepka Bapedal No. 8/2000 tentang Keterlibatan Masyarakat
dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL , yaitu dengan
melaksanakan konsultasi masyarakat sebelum pembuatan KA. Apabila
konsultasi masyarakat berjalan dengan baik dan lancar, maka pelaksanaan
AMDAL serta implementasi RKL dan RPL akan berjalan dengan baik dan
lancar pula. Hal tersebut akan berimbas pada kondisi lingkungan baik
lingkungan fisik atau kimia, sosial-ekonomi-budaya yang kondusif sehingga
masyarakat terbebas dari dampak negatip dari kegiatan dan masyarakat akan
sehat serta perekonomian akan bangkit (Mukono, 2015).
TUGAS 4
TULISAN TENTANG KASUS AMDAL PADA
PERUSAHAAN ATAU INSTANSI

Disusun Oleh :

NAMA : IMA MARDIANA


NIM : 182510104

Dosen Pengampuh : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR, M.M, M.T


Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis
Angkatan : 33 / ARI

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG
TAHUN 2020
KASUS AMDAL DI INDONESIA
(TPA, bantargebang, Bekasi)

I. Pendahuluan

Globalisasi ekonomi, politik dan sosial membawa hubungan antar negara


semakin dekat dan erat serta membawa dampak yang positif maupun negatif
bagi suatu negara. Salah satu akibat yang paling nyata dari globalisasi adalah
berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional didunia. Indonesia
mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar tidak lepas dari sasaran
investasi perusahaan-perusahaan tersebut. Tetapi dengan masuknya
perusahaan-perusahaan tersebut membawa akibat yang positif maupun negatif
di indonesia. Salah satu akibat yang negatif hasil produksi dari perusahaan
tersebut adalah banyaknya hasil produksi yang diproduksi tanpa memikirkan
kendala yang akan dihadapi dikemudian hari.

Pada dasarnya semua usaha dan pembangunan menimbulkan dampak


dikemudian hari. Perencananaan awal suatu usaha atau kegiatan
pembangunan sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting
dikemudian hari, guna dijadikan pertimbangan apakah rencana tersebut perlu
dibuat penanggulangan dikemudian hari atau tidak. Pembangunan merupakan
upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan
sumber daya alam, guna mencapai tujuan pembangunan yaitu meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa indonesia. Pembangunan tersebut
dari masa kemasa terus berlanjut guna memenuhi kebutuhan penduduk yang
semakin meningkat.

Alam mempunyai hukumnya sendiri, segala sesuatu akan kembali kepada


siklus alam walaupun bahan sintesis hasil rekayasa manusia seperti plastik,
tetapi akan menimbulkan masalah yang sangat besar terhadap bahan tersebut
dikemudian hari jika sudah tidak dimanfaatkan lagi. Pertambahan jumlah
penduduk, perubahan pola hidup masyarakat, kecepatan teknologi dalam
menyediakan barang secara melimpah ternyata telah menimbulkan masalah-
masalah baru yang sangat serius yaitu adanya barang yang sudah terpakai dan
sudah tidak digunakan dan mengakibatkan timbulnya sampah.

II. Pokok Permasalahan


1. Bagaimana Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat?
2. Bagaimana sistem pengelolaan dan kebijakan pemerintah terhadap sampah
di daerah bekasi dan sekitarnya?

III. Data dan Fakta


Bahwa, di kawasan Bantar Gebang Bekasi menyebutkan, akibat
dijadikan kawasan tersebut sebagai TPA, warga di sekitar menderita yang
tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia,
Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain
merupakan hasil penelitian selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.
Hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk,jumlah limbah domestik
dari rumah tangga adalah sebesar [Link] ton/tahun atau 5900 – 6000
ton/hari; lumpur dari septic tank sebesar 60.363,41 ton/tahun dan yang
bersumber dari industri pengolahan sebesar 8.206.824,03 ton/tahun.
Penanganan kebersihan di wilayah DKI Jakarta dilaksanakan oleh Dinas
Kebersihan DKI Jakarta, dengan jumlah sarana dan prasarana yang terdiri
dari tonk sebanyak 737 buah (efektif : 701 buah); alat-alat besar : 128 buah
(efektif : 121 buah); kendaraan penunjang : 107 buah (efektif : 94 buah),
sarana pengumpul/pengangkutan sampah dari rumah tangga : gerobak
sampah : 5829 buah; gerobak celeng : 1930 buah, galvanis : 201 buah.

Sampah yang diangkut dari Lokasi Penampungan Sementara (LPS) akan


diolah di Tempat Pemusnahan Akhir (TPA). TPA yang sekarang adalah TPA
Bantar Gebang, Bekasi dengan luas yang direncanakan 108 Ha. Status tanah
adalah milik Pemda DKI Jakarta dan sistim pemusnahan yang dilaksanakan
adalah “sanitary landfill”. Luas tanah yang sudah dipergunakan sebesar 85
persen, sisanya ± 15 persen diperkirakan dapat menampung sampah sampai
tahun 2004, sehingga Pemda DKI Jakarta saat ini sudah mencari alternatif-
alternatif lain sistim penanganan sampah melalui kerjasama dengan pihak
swasta.

Akibat operasional yang tidak sempurna, maka timbul pencemaran


terhadap badan air di sekitar LPA dan air tanah akibat limbah serta timbulnya
kebakaran karena terbakarnya gas methan. Untuk mengatasi hal ini Dinas
Kebersihan telah melakukan kegiatan-kegiatan antara lain :

1. Menambah fasilitas Unit Pengolahan Limbah dan meningkatkan efisiensi


pengolahan sehingga kualitas limbah memenuhi persyaratan untuk
dibuang.
2. Meningkatkan/memperbaiki penanganan sampah sesuai dengan prosedur
“sanitary landfill”.
3. Membantu masyarakat sekitar LPA dengan menyediakan air bersih,
Puskesmas dan ambulance.
4. Mengatur para pemulung agar tidak mengganggu operasional LPA.

Besarnya beban sampah tidak terlepas dari minimnya pengelolaan


sampah dari sumber penghasil dan di tempat pembuangan sementara (TPS)
sampah. Baru sekitar 75 m3 yang didaur ulang atau dibuat kompos.
Sementara itu, sisanya sekitar 60% dibuang begitu saja tanpa pengolahan ke
tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dan, 30% dibiarkan di TPS. Tak
heran bila sampah akan menumpuk di TPA. Akibatnya, daya tampung TPA
akan menjadi cepat terpenuhi.

IV. Analisa
1. Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat

Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang


baik dan [Link] dengan ketentuan tersebut bahwa setiap orang
berhak menolak dengan adanya hal-hal yang dapat merugikan kesehatan
baginya. Dalam hal ini, Tidak ada teknologi yang dapat mengolah
sampah tanpa meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengelolaan sampah
selalu membutuhkan lahan sebagai tempat pembuangan ahir.

Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah,


biasanya akan mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga
sekitarnya. Seperti contoh yang terjadi di TPA bantar gebang, dengan
adanya TPA maka warga sekitarnya TPA menuai derita yang tiada
berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia,
Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain
merupakan hasil penelitian di Bantar Gebang selama kawasaan tersebut
dijadikan TPA.

Dengan adanya TPA tersebut juga dapat merusak lingkungan dan


ekologi disekitarnya. beberapa kerusakan lingkungan yang hingga kini
tidak bisa ditanggulangi akibat sebuah kawasan ekologi dijadikan TPA
antara lain: pencemaran tanah dimana Kegiatan penimbunan sampah
akan berdampak terhadap kualitas tanah (fisik dan kimia) yang berada di
lokasi TPST dan sekitarnya. Tanah yang semula bersih dari sampah akan
menjadi tanah yang bercampur dengan limbah/sampah, baik organik
maupun anorganik baik sampah rumah tangga maupun limbah industri
dan rumah sakit. Tidak ada solusi yang konkrit dalam pengelolaannya,
maka potensi pencemaran tanah secara fisik akan berlangsung dalam
kurun waktu sangat lama.

2. Sistem Pengelolaan Sampah Dan Kebijakan Pemerintah.

Alam secara fisik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia


dalam mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan sehat menjadi tidak
baik dan tidak sehat dan dapat pula sebaliknya, apabila pemanfaatanya
tidak sesuai dengan kemampuan serta melihat [Link] pula
dengan sampah, dapat membuat hidup jadi tidak sehat. Karena itu
sampah harus dapat diolah dengan baik agar tidak menimbulkan berbagai
penyakit.
1. Faktor internal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah minimnya
kualitas SDM yang berakibat fatal pada buruknya teknologi
pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah tidak lagi mampu
menampung kuantitas sampah yang semakin besar. Penyebab
utamanya adalah selama ini pengelolaan sampah cenderung
menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada
pendekatan sumber.
2. Faktor penyebab secara EKSTERNAL. Faktor penyebab eksternal
yang paling klasik terdengar adalah minimnya lahan TPA yang hingga
saat ini memang menjadi kendala umum bagi kota-kota besar.
Akibatnya, sampah dari kota-kota besar ini sering dialokasikan ke
daerah-daerah satelitnya seperti TPA Jakarta yang berada di daerah
Bekasi, Depok, dan Tangerang serta TPA Bandung yang berada di
Cimahi atau di Kabupaten Bandung. Alasan eksternal lainnya yang
kini santer terdengar di media massa adalah aksi penolakan keras dari
warga sekitar TPA yang merasa sangat dirugikan dengan keberadaan
TPA di [Link] satu kelemahan pengelolaan sampah di TPA
adalah masalah minimnya kualitas SDM yang berakibat fatal pada
buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah
tidak lagi mampu menampung kuantitas sampah yang semakin besar.
Penyebab utamanya adalah selama ini pengelolaan sampah cenderung
menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada
pendekatan sumber.

Secara umum, pemerintah daerah dalam menanggulangi masalah


sampah seharusnya mempunyai rencana pengelolaan lingkungan hidup
yang baik bagi warga sekitar. Dimana dalam menyusun pengelolaan
lingkungan ada 3 faktor yang perlu diperhatikan dan tidak dapat
dipisahkam yaitu:

a. Siapa yang akan melakukan pengelolaan lingkungan dan pengelolaan


lingkungan apa yang harus dilakukan.
b. Sesuai dengan dampak yang diduga akan terjadi, maka akan
ditetapkan cara pengelolaan yang bagaimana yang akan dilakukan
atau teknologi apa yang akan digunakan agar hasilnya sesuai dengan
baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah.
c. Karena berbagai institusi termasuk pemilik proyek yang akan
melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara terpadu, maka
teknologi yang akan digunakan tergantung pada kemampuan biaya
yang akan dikeluarkan, terutama kemampuan dari pemilik proyek
sebagai sumber pencemar.

Permasalahan umum yang terjadi pada pengelolaan sampah kota di


TPA , khususnya kota-kota besar adalah adanya keterbatasan lahan,
polusi, masalah sosial dan lain-lain. Karena itu pengelolaan sampah di
TPA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Memanfaatkan lahan yang terbatas dengan efektif
• Memilih teknologi yang mudah, dan aman terhadap lingkungan
• Memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa dijual dan
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat
• Produk harus dapat terjual habis.
Karena itu, untuk memenuhi kriteria tersebut diatas, teknologi yang
layak dalam pengelolaan sampah di TPA bantar gebang dan untuk
diterapkan adalah kombinasi dari berbagai teknologi serta penunjang
lainya yaitu :
• Teknologi landfill untuk produksi kompos dan gas metan
• Teknologi anaerobik komposting dranco untuk produksi gas metan
dan kompos
• Incinerator untuk membakar bahan anorganik yang tidak bermanfaat
serta pengeringan kompos
• Unit produksi tenaga listrik dari gas metan
• Unit drainase dan pengolah air limbah
Dalam menangani masalah sampah dikota jakarta, pemerintah dalam
hal ini membuat kebijakan-kebijakan, dimana masalah sampah tersebut
juga merupakan masalah lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan
hidup merupakan masalah pemerintah dan juga masyarakat, namun perlu
disadari untuk semua hal yang berkaitan dengan jenis pencemaran
(sampah) atau perusakan lingkungan telah dijadikan permasalahan,
dimana faktor penyebabnya antara lain:
• Kurangnya kesadaran masyarakat.
• Kurangnya masyarakat dalam melakukan tindakan.
• Kurangnya pengetahuan masyarakat untuk menangani masalah
lingkungan.
• Keterbatasan sarana dan prasarana dari pemerintah.
Dengan mencermati permasalahan yang terjadi maka pemerintah
mencoba berbagai terobosan yang efektif dan efisien (tepat guna dan
tepat sasaran). Sejauh ini, berbagai solusi terus-menerus diupayakan
meskipun dalam perkembangannya berbagai kendala kerapkali dijumpai.
Solusi-solusi yang sejauh ini telah diupayakan melalui sejumlah program
kerja antara lain dalah pelaksanaan regionalisasi pengelolaan sampah
melalui program GBWMC (Great Bandung Waste Management).
Terdapat 4 poin dalam nota kesepahaman itu, yaitu :
• pengelolaan sampah bersama secara terpadu di kawasan Bandung
metropolitan
• membentuk wadah yang mandiri dalam pengelolaan sampah terpadu
• percepatan pembentukan wadah mandiri dengan membentuk tim
perumus yang terdiri dari 5 wilayah tersebut
• nota kesepahaman ini berlaku hingga terbentuknya wadah yang
mandiri tersebut.

V. KESIMPULAN
Dalam tulisan ini dari uraian yang disampaikan diatas, maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya
akan mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya,
disamping itu juga mempengaruhi atau merusak ekologi disekitarnya
yang diantaranya adalah terjadinya pencemaran air, udara, tanah. Dan
akibat dari pencemaran tersebut warga sekitar mudah terserang penyakit.
2. Sistem pengelolaan sampah yang digunakan ini sudah ketinggalan zaman
yang salah satunya menggunakan landfill system dimana dalam sistem
tersebut membutuhkan lahan yang luas untuk sampah. Disamping itu
pemerintah harus dapat membuat kebijakan baik internal maupun
eksternal. Faktor Internal dimana minimnya kesadaran warga untuk
bertanggung jawab terhadap permasalahan sampah di lingkungan rumah
tangganya sendiri, rendahnya SDM. Sedangkan yang mempengaruhi
faktor eksternal adalah minimnya lahan pembuangan sampah serta tidak
ketatnya pemerintah baik pusat maupun daerah membuat aturan masalah
sampah.
TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN LINGKUNGAN

Nama : Jaya Sempurna


NIM :182510102
Kelas : R1
Angkatan : 33

KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN ATAU INDUSTRI

Koordinator Tim Pakar Komisi Penilaian Amdal Jawa Tengah menyatakan


penyebab pendirian pabrik semen di Kawasan Karst Gombong Selatan oleh
PT Semen Gombong (Medco Group) karena kawasan IUP (izin Usaha
Penambangan) eksplorasi PT Semen Gombang dinyatakan bagian dari
ekosistem kawasan karst, sehingga tidak boleh ditambang.
Ekosistem kawasan karst ini, masuk Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK)
Gombong yang telah ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya
Alam masuk kategori kawasan lindung karst atau kategori karst kelas satu,
sehingga tidak bisa ditambang.
Penambangan batu gamping di kawasan karst akan menggangu sistem air
bawah tanah di kawasan karst tersebut
Tambang Timah di Laut Bangka Belitung

(Berakibatkan bencana alam longsor, pencermaraan lingkungan, dan abrasi)


Kondisi lingkungan pesisir di Indonesia saat ini cenderung mengalami penurunan kualitas
sehingga lingkungan pesisir dapat berkurang fungsinya atau bahkan sudah tidak mampu berfungsi
lagi untuk menunjang pembangunan dan kesejahteraan penduduk secara berkelanjutan di masa
depan. Pasal pengelolaan lingkungan hidup telah dibuat guna menunjang keberlangsungan sumber
daya alam di Indonesia, diantaranya yakni Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 (Sumberdaya
Air), Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil),
UU No. 4 tahun 2009 (pertambangan mineral dan batubara), hingga Undang-Undang No. 32
Tahun 2009 (UUPLH).
Pemanfaatan sumber daya alam adalah untuk memajukan kesejahteraan bersama, seperti
yang termuat dalam filosofi dasar negara yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan
cita-cita tersebut, perlu adanya pengelolaan sumber daya alam yang serasi dan seimbang untuk
menunjang pembangunan yang berkesinambungan, yang memperhitungkan kebutuhan generasi
sekarang dan mendatang.
Dalam konteks wilayah pesisir disebutkan bahwa pada dasarnya UU Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil terbentuk atas pertimbangan jika wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki
keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi, dan sangat penting bagi pengembangan sosial,
ekonomi, budaya, lingkungan, dan kedaulatan bangsa, sehingga perlu dikelola secara
berkelanjutan dan berwawasaan global, dengan memperhatikan aspirasi dan partisipasi masyarakat.
Degradasi dan kondisi pesisir di Kepulauan Bangka Belitung terancam kerusakan karena
semakin maraknya kegiatan penambangan timah diperairan pesisir seperti aktivitas perusahaan-
perusahaan tambang timah, TI (Tambang Inkovensional) apung, kapal hisap dan kapal keruk
setelah lokasi penambangan timah didarat semakin sulit. Hal itu menyebabkan pesisir Kepulauan
Bangka Belitung telah terjadi penurunan kualitas lingkungan pesisir terutama yang merupakan
akibat dari pencemaran dan kerusakan lingkungan dari penambangan timah. Akibatnya, terjadi
degradasi lingkungan, dan perubahan bentang alam di pesisir Kepulauan Bangka Belitung.
Aktivitas penambangan ini telah lama ada di Bangka Belitung, dilakukan baik secara legal
maupun ilegal oleh masyarakat. Penambangan timah awalnya hanya dilakukan di daratan saja
namun sekarang telah merambah pesisir pantai. Akibatnya, ekosistem-ekosistem penunjang
wilayah pesisir seperti terumbu karang, rumput laut, lamun, biota-biota laut bahkan hutan
mangrove tidak dapat berkembang dengan baik akibat terjadi degradasi. Namun tidak hanya itu
saja, penambangan timah apung ini selain mengakibatkan abrasi pesisir, dapat merusak laut yang
ada di dalamnya. Agar fungsi lingkungan pesisir dapat dilestarikan, maka perlu dilakukan tindak
kerja pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan tersebut.
Salah satu isu yang ada dalam penambangan timah laut adalah Kapal Isap Produksi (KIP)
yang digunakan untuk menggali lapisan tanah bawah laut yang memiliki banyak dampak negatif.
Menurut Geologis lokal Lulusan The Camborne School of Mines, University of Exeter, United
Kingdom, Veri Yadi tidak sedikit dampak yang terjadi jika alat tambang timah raksasa tersebut
terjadi yaitu Ekosistem Laut rusak, Beroperasinya KIP akan diikuti dengan munculnya TI apung,
Banyak pendatang dari luar pulau untuk bekerja di TI apung, alih profesi dari nelayan ikan menjadi
nelayan timah karena godaan pertambangan membuat banyak petani ingin beralih profesi, bahkan
kebun karet, kelekak, dan lahan basah yang subur di darat disulap menjadi lahan tambang.
Penanganan terhadap isu dan permasalahan pertambangan di laut dalam pengelolaan
wilayah laut merupakan aspek penting dalam kaitan dengan pengaturan terhadap batas-batas
wilayah pengelolaan dan pemanfaatan ruang pada wilayah laut yang sampai saat ini belum secara
keseluruahan memiliki kepastian hukum.
Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab adalah proses perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan sumber daya laut dan pesisir yang selama ini dijalankan masih bersifat sektoral dan
cenderung berorientasi pada daratan sehingga berdampak pada aspek penataan ruang itu sendiri.
Padahal karakteristik dan alamiah ekosistem pesisir dan lautan yang secara ekologis saling terkait
satu sama lain mensyaratkan bahwa pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara
optimal dan berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui pendekatan terpadu dan holostik.
Apabila perencanaan dan pengelolaan sumberdaya laut tidak dilakukan secara terpadu,
maka dikhawatirkan sumberdaya tersebut akan rusak bahkan punah seperti yang terjadi pada kasus
pertambangan timah di bangka belitung, sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk menopang
kesinambungan pembangunan nasional dalam mewujudkan bangsa yang maju, adil dan makmur.
Dengan demikian, tuntutan terhadap upaya penataan wilayah laut haruslah dilakukan
secara terintegrasi, dan saling terkait sebagai satu kesatuan dengan kata kunci yaitu keterpaduan
antar sektor. Penataan ruang haruslah diarahkan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah
(baik nasional maupun daerah) yang nyaman, produktif dan berkelanjutan serta untuk mewujudkan
keseimbangan dan keserasian dan strategis perkembangan antar wilayah, yang dilakukan melalui
kebijakan dan strategi pengembangan struktur dan pola ruang wilayah yang pada akhirnya akan
menciptakan keterpaduan lintas sektoral dan lintas wilayah sehingga dapat meminimalisir
terjadinyakonflik di dalamnya
Penataan ruang tidak hanya diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan sektoral yang
bersifat parsial, namun lebih dari itu, penataan ruang diselenggarakan untuk memenuhi tujuan
tujuan bagi pengembangan wilayah nasional yang bersifat komprehensif dan holistik dengan
mempertimbangkan keserasian antara berbagai sumber daya sebagai unsur utama pembentuk
ruang (sumberdaya alam, buatan, manusia dan sistem aktivitas), yang didukung oleh sistem hukum
dan sistem kelembagaan yang melingkupinya, sehingga diharapkan setidaknya a). dapat
mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu mendukung
pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan; b). tidak terjadi pemborosan pemanfaatan
ruang; dan c). tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
Dengan perda zonasi ini maka akan ada kepastian hukum tentang wilayah wilayah mana
yang diperbolehkan diadakan kegiatan pertambangan dan wilayah yang tidak boleh dilakukan
tambang timah. Dalam proses pembuatan perda zonasi ini maka moratorium penerbitan izin usaha
pertambangan (IUP) harus dilakukan dan pemindahan wewenang pemberi izin sesuai dengan
Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kuasa kabupaten untuk
menerbitkan IUP telah diambil alih oleh provinsi (modal dalam negeri) dan pemerintah pusat
(modal asing).
Selain dari aspek hukum juga harus diupayakan banyak hal untuk mengembalikan lahan
kritis di pesisir akibat pertambangan yaitu dengan reklamasi, rehabilitasi dan reboisasi untuk
memperbaiki kawasan bekas tambang karena semestinya untuk reklamasi, perusahaan tambang
tidak perlu menunggu berakhirnya izin tambang baru melakukan reklamasi.
Nama : Michael Jackson

Nim : 182510075

Prodi : Manajemen S2

MK : Manajemen Lingkungan Bisnis

Dosen : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR., M.M., M.T.

KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN

Pembuangan Air Limbah PT TEL


Lemahnya proses pemberian izin Instalasi Pembuangan Air Limbah
(IPAL) yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim kepada
PT. Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper (TEL). Ada sedikit kerancuan
perizinan, seperti IPAL yang dikeluarkan Pemkab, sementara izin limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.
Hal ini menengarai Pemkab Muara Enim dalam mengeluarkan izin tidak
melalui suatu proses yang teliti dan akurat. Dimana proses izin yang dikeluarkan
pemkab ini hanya melalui tes laboratorium yang diberikan oleh perusahaan
[Link] secara sepihak. Seharusnya sebelum dikeluarkan izin pembuangan air
limbah oleh pemkab, ada suatu lembaga yang independen dan kredibel menjamin
bahwa limbah cair yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut dinyatakan clear
and clean. Ini akan menjadi acuan bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah
pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk
mengeluarkan izin-izin berikutnya.
Dari hasil tinjauan lapangan, bukan hanya pembuangan limbah cair yang
bermasalah tapi limbah padat pun demikian. kondisi landfill (penimbunan
sampah/limbah padat) yang menurut mereka sudah memenuhi standar baku mutu,
lembaga mana yang menyatakan bahwa landfill ini sudah memenuhi syarat baku
mutu mereka, [Link] tidak bisa memberikan argumentasi. Dengan alasan sudah
melalui kajian, tapi kita tanya kajian yang mana? Mereka juga tidak bisa
menunjukkan hasil kajiannya.
Apalagi setelah mengecek kondisi di lapangan terdapat resapan air limbah
dari landfill itu yang bocor ke gorong-gorong dan berpotensi mencemari rumah
penduduk, kurangnya pengawasan dari kementerian terkait sangat disayangkan.
Mereka seharusnya bekerja sesuai peraturan perundang-undangan seperti apa
yang diharapkan.
Masyarakat sering mengeluhkan terkait pencemaran air limbah di sungai-
sungai dari hulu hingga hilir akibat pembuangan air limbah PT. TEL berupa
warna dan bau yang cukup menyengat. Sementara pemerintah provinsi maupun
kabupaten tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mereka mengatakan, jangankan
menindak, masuk ke wilayah pabrik saja sangat sulit untuk berkoordinasi dengan
pihak perusahaan.
Oleh karena itu, semua pihak para wakil rakyat terutama daerah pemilihan
Sumatera Selatan II untuk melakukan sidak terkait pengelolaan limbah di PT.
TEL ini. Agar tidak terjadi pencemaran lingkungan yang mengganggu aktifitas
warga sekitar PT TEL yang menggunakan air tersebut.
Nama : MOHD. AMRAH RIDHO
NIM : 182510080
KELAS : R1 33
M. KULIAH : MANAJEMEN LINGKUNGAN BISNIS
PRODI : S2 MANAJEMEN
DOSEN : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR., M.M., M.T

KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN


PT SUMATERA PRIMA FIBERBOARD (SPF)

Lemahnya proses pemberian izin Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang
dikeluarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Ilir kepada PT. Sumatera Prima
Fiberboard. Mengakibatkan sedikit kerancuan perizinan, seperti IPAL yang dikeluarkan
Pemkab, sementara izin limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dikeluarkan
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dari hasil tinjauan lapangan, akhir-akhir ini limbah PT SPF berupa debu dan bau
yang menyengat diduga kembali menganggu lingkuangan yang diduga limbah SPF.
Selain itu, bau yang tidak sedap dari pabrik itu semakin menyesakkan dada.

Dibeberkannya, warga dengan SPF beberapa bulan yang lalu sempat terlibat
masalah terkait limbah, bahkan warga memasang spanduk besar dipintu gerbang
perumahan Taman Gading I.

Bahkan katanya, hasil keputusan urun rembuk dengan pihak SPF menghasilkan
sebuah kesepakatan bahwa warga memiliki hak untuk kembali memprotes jika limbah
SPF kembali mencemaran lingkungan warga.

Hal senada juga dilontarkan Kitum, warga yang sama. Menurutnya, akhir-akhir
ini memang limbah SPF berupa debu dan bau menyengat diduga terus mencemari
lingkungan warga.
DPR RI Soroti Limbah Pabrik PT Pupuk
Sriwidjaja
PALEMBANG - Komisi VII DPR-RI melaksanakan Kunjungan Kerja (Kunker) ke PT
Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang. Dalam kunker kali ini anggota DPR RI menyoroti
sistem pengelolaan limbah di pabrik pupuk tersebut.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Muhammad Nasir mengatakan, pihaknya ingin mengetahui
bagaimana PT Pusri Palembang mengelola limbahnya, apakah sudah sesuai dengan regulasi
atau tidak.

"Kami akan melihat dulu bagaimana regulasi lingkungan di perusahaan ini dan pengelolaan
limbahnya. Jika ada temuan maupun penyimpangan dari Undang-Undang nomor 32 tahun
2009, maka kami minta Direktorat Jenderal Penegakan Hukum memproses sesuai hukum
yang berlaku," ujar Nasir saat diwawancarai SINDOnews di Balai Diklat Pusri Palembang,
Senin (29/07/2019).

Selain masalah limbah, kata Nasir, pihaknya juga akan memeriksa izin yang diperoleh
termasuk Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang dimiliki pabrik pupuk itu.

"Kami akan lihat izin yang diperoleh PT Pusri, setelah itu nanti kami minta kepada
Kementerian Lingkungan Hidup melakukan pengawasan," tambahnya.

Dikatakan juga, adanya kejadian pada bulan November tahun 2018 lalu terkait zat amoniak
yang mengakibatkan warga sekitar mengalami sesak nafas juga menjadi catatan pihaknya.

"Kami igin memastikan proses amoniak dan gas alam itu seperti apa. Kami inginkan regulasi
ini nyaman buat lingkungan masyarakat yang ada disekitar Pusri. Kita akan pastikan dulu dan
jika terdapat pelanggaran akan kita proses sesuai undang-undang," kata Nasir.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Pusri Palembang, RA Rahim mengakui, memang


yang paling banyak disoroti anggota DPR RI adalah masalah lingkungan.

"Untuk masalah lingkungan kami sudah 8 kali mendapat penghargaan terkait lingkungan. Ini
menunjukkan bahwa kami sangat perhatian terhadap apa yang ada di pabrik ke masyarakat
sekitar," ungkapnya.

Selain menjaga kondisi lingkungan di sekitar pabrik, kata Rahim, pihaknya juga selalu
memerhatikan kondisi lingkungan masyarakat di sekitar. "Sejauh ini pengelolaan limbah
sudah memenuhi baku mutu yang ada," tandasnya.
Nama : PENI OKTA SARI

Nim : 182510078

Prodi : Manajemen S2

MK : Manajemen Lingkungan Bisnis

Dosen : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR., M.M., M.T.

KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN

Pembuangan Air Limbah PT TEL


Lemahnya proses pemberian izin Instalasi Pembuangan Air Limbah
(IPAL) yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim kepada
PT. Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper (TEL). Ada sedikit kerancuan
perizinan, seperti IPAL yang dikeluarkan Pemkab, sementara izin limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.
Hal ini menengarai Pemkab Muara Enim dalam mengeluarkan izin tidak
melalui suatu proses yang teliti dan akurat. Dimana proses izin yang dikeluarkan
pemkab ini hanya melalui tes laboratorium yang diberikan oleh perusahaan
[Link] secara sepihak. Seharusnya sebelum dikeluarkan izin pembuangan air
limbah oleh pemkab, ada suatu lembaga yang independen dan kredibel menjamin
bahwa limbah cair yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut dinyatakan clear
and clean. Ini akan menjadi acuan bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah
pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk
mengeluarkan izin-izin berikutnya.
Dari hasil tinjauan lapangan, bukan hanya pembuangan limbah cair yang
bermasalah tapi limbah padat pun demikian. kondisi landfill (penimbunan
sampah/limbah padat) yang menurut mereka sudah memenuhi standar baku mutu,
lembaga mana yang menyatakan bahwa landfill ini sudah memenuhi syarat baku
mutu mereka, [Link] tidak bisa memberikan argumentasi. Dengan alasan sudah
melalui kajian, tapi kita tanya kajian yang mana? Mereka juga tidak bisa
menunjukkan hasil kajiannya.
Apalagi setelah mengecek kondisi di lapangan terdapat resapan air limbah
dari landfill itu yang bocor ke gorong-gorong dan berpotensi mencemari rumah
penduduk, kurangnya pengawasan dari kementerian terkait sangat disayangkan.
Mereka seharusnya bekerja sesuai peraturan perundang-undangan seperti apa
yang diharapkan.
Masyarakat sering mengeluhkan terkait pencemaran air limbah di sungai-
sungai dari hulu hingga hilir akibat pembuangan air limbah PT. TEL berupa
warna dan bau yang cukup menyengat. Sementara pemerintah provinsi maupun
kabupaten tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mereka mengatakan, jangankan
menindak, masuk ke wilayah pabrik saja sangat sulit untuk berkoordinasi dengan
pihak perusahaan.
Oleh karena itu, semua pihak para wakil rakyat terutama daerah pemilihan
Sumatera Selatan II untuk melakukan sidak terkait pengelolaan limbah di PT.
TEL ini. Agar tidak terjadi pencemaran lingkungan yang mengganggu aktifitas
warga sekitar PT TEL yang menggunakan air tersebut.
Nama : REZA APRIADI
NIM : 182510106
Matkul : Manajemen Lingkungan

Soal :

BUAT TULISAN TENTANG KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN ATAU INSTANSI APA SAJA
YANG BP/IBU KETAHUI

Jawaban :

PT Mitrabara Adiperdana (PT MA) adalah perusahaan tambang batu bara di Malinau
Selatan, Kalimantan Utara yang berada di bawah Baramulti Grup. Perusahaan ini
melakukan peningkatan produksi dari 500.000 ton per tahun menjadi 4.000.000 ton per
tahun di area seluas 1.930 Ha. Mitra dari PT MA adalah Idemitsu Kosan, perusahaan
Jepang yang bergerak di bidang energi dan tambang. Dari keseluruhan ekspor PT MA,
sebesar 37,76% dialokasikan untuk Idemitsu Kosan. Idemitsu Kosan mengakuisisi saham
PT MA sebesar 30% di tahun 2014 serta masuk dalam struktur kepengurusan
perusahaan. Pengakuisisian saham PT MA oleh Idemitsu Kosan dilakukan melalui
pinjaman dari The Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar 24 juta USD,
dan sisanya didanai oleh The Mie Bank, Ltd., The Chiba Kogyo Bank, Ltd., dan North
Pacific Bank, Ltd., menjadi total 40 juta USD.

Dalam mengkaji kasus PT MA, ditemukan beberapa kejanggalan dalam studi dokumen
Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) perusahaan dan wawancara
dengan beberapa warga lokal. Temuan-temuan JATAM antara lain adalah:

a. Dalam dokumen Amdal PT MA muncul nama perusahaan lain yaitu PT. Mestika Persada
Raya pada lembar abstrak di halaman xii. Penemuan ini mengindikasikan adanya tindakan
salin-tempel (copy-paste) Amdal PT Mestika Persada Raya dalam pembuatan Amdal PT
MA. PT Mestika Persada Raya adalah perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di
Kabupaten Malinau Selatan, Kalimantan Utara.
b. Air Sungai Malinau warnanya berubah menjadi coklat dalam kurang lebih sepuluh
tahun terakhir. Hal ini menyebabkan air tidak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari –
seperti minum dan mandi – tadinya Sungai Malinau bisa digunakan warga. Oleh karena
itu, banyak warga yang memutuskan untuk membuat sumur di rumah masing-masing,
sedangkan sebagian lagi membeli air jika tidak mampu membuat sumur. Ironisnya, ada
juga warga yang tidak mampu membuat sumur maupun membeli air. Sehingga terpaksa
menggunakan air sungai yang tidak layak tersebut.

c. Debu yang dihasilkan sepanjang aktivitas penambangan perusahaan menjadi salah


satu keluhan utama yang dirasakan oleh warga. Akibatnya, banyak anak-anak kecil
terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Salah satu warga setempat mengatakan
debu terlihat jelas baik dari kaca-kaca di rumah warga maupun di sepanjang jalan.

d. Air yang dipakai warga untuk berkebun pun berubah menjadi kecil dan airnya seringkali
naik akibat tekena limbah perusahaan. Namun, perusahaan kerap mengelak untuk hal
ini, mereka mengatakan bahwa naiknya air hingga ke ladang-ladang warga merupakan
banjir yang disebabkan oleh air hujan. Padahal, sebelumnya hal ini tidak terjadi.

e. Aktivitas penambangan berdampak besar terhadap hewan-hewan yang ada di hutan-


hutan yang berada dalam konsesi perusahaan. Burung enggang sudah jarang terlihat,
tidak seperti 10 tahun yang lalu masih berkeliaran hingga ke desa-desa. Budaya
masyarakat setempat untuk mendapatkan makan, yaitu melalui berburu, akan tetapi
buruan-buruan mereka yaitu rusa dan babi hutan menurun drastis.

f. Elite-elite desa, termasuk beberapa kepala desa dan kepala adat, yang tidak idealis
dengan mudah beralih menjadi pro perusahaan. Hal ini membuat protes yang dilakukan
warga menjadi tidak pernah berhasil karena tidak menemenukan solusi konkrit, sehingga
semangat warga untuk memperkarakan dampak-dampak yang mereka rasakan kian
menurun.
Berkaitan dengan beberapa hal di atas, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) telah
melapor kepada Direktorat Jendral Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(GAKKUM KLHK) pada Selasa, 25 April 2017, Pkl 14.00 – 15.00 Wib, tadi.

Berikut adalah lima (5) tuntutan yang telah disampaikan kepada Dirjen GAKKUM KLHK:

1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera melakukan penyelidikan


dan pengusutan dugaan pelanggaran dokumen amdal terhadap PP No 27 tahun 2012
tentang AMDAL dan dugaan pidana lingkungan hidup sesuai UU No. 32 Tahun 2009
Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 109, pasal 110, pasal
111 (ayat 2) dan pasal 113. Pasal-pasal tersebut berisi tentang perizinan (Amdal) yang
tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dan untuk orang-orang yang
memberikan informasi atau keterangan palsu terkait Amdal.

2. Memulihkan ruang hidup masyarakat yang terkena dampak akibat aktivitas PT. MA.

3. KLHK harus mencabut Izin Lingkungan PT. MA terkait dengan temuan-temuan di atas.

4. JBIC dan Pemerintah Jepang harus bertanggungjawab atas persoalan ini, mengingat
peristiwa ini menambah deretan panjang buruknya reputasi investasi dan pembiyaan dari
JBIC dan Pemerintah Jepang karena, selain membiayai sektor industri fosil seperti
Batubara yang kotor juga melanggar hukum dan memanipulasi dokumen Amdal

5. JBIC dan Pemerintah Jepang segera menghentikan pembiayaan energi kotor batubara
di Malinau dan di Indonesia pada umumnya
KASUS AMDAL PABRIK SEMEN [Link]

Disusun Oleh :

Titin Andriani (182510084)

Dosen Pengampuh : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR, M.M, M.T

Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis

Angkatan : 33 / A R1

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN

UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat dan Karunia-Nyalah kami dapat
menyusun karya tulis ini yang berjudul “Kasus AMDAL Pabrik Semen [Link]”

Penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak “Dr. Ir. Hj. Hasmawaty,
AR, M.M, M.T” sebagai dosen pembimbing yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
karya tulis ini.

Penyusun juga menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
karya tulis ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami sangat senang jika pembaca
dapat memberikan saran dan kritik guna memperbaiki karya tulis ini. Penyusun juga berharap
karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Palembang, Januari 2020

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan hidup merupakan suatu kesatuan di mana di dalamnya terdapat


berbagai macam kehidupan yang saling ketergantungan. Lingkungan hidup juga
merupakan penunjang yang sangat penting bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup
yang ada. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya
dalam kondisi yang baik.

Di indonesia pembangunan nasional disusun atas dasar pembangunan jangka


pendek dan jangka panjang. Keduanya dilaksanakan secara sambung menyambung untuk
dapat menciptakan kondisi sosial ekonomi yang lebih baik. Pembangunan sumberdaya
alam dan lingkungan hidup seyogyanya menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor
pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan
lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin. Pola pemanfaatan
sumberdaya alam seharusnya dapat memberikan akses kepada segenap masyarakat, bukan
terpusat pada beberapa kelompok masyarakat dan golongan tertentu, dengan demikian
pola pemanfaatan sumberdaya alam harus memberi kesempatan dan peran serta aktif
masyarakat, serta memikirkan dampak–dampak yang timbul akibat pemanfaatan sumber
daya alam tersebut.

Seringkali pembangunan suatu usaha dibuat dalam porsi ruang lingkup yang sangat
luas tetapi disusun kurang cermat. Seluruh program mungkin saja dapat diananlisis sebagai
suatu proyek, tetapi pada umumnya akan lebih baik bila proyek dibuat dalam ruang
lingkup yang lebih kecil yang layak ditinjau dari segi sosial, administrasi, teknis,
ekonomis, dan lingkungan.

Oleh karena itu lingkungan hidup di Indonesia perlu ditangani di karenakan adanya
beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya yaitu adanya masalah mengenai
keadaan lingkungan hidup seperti kemerosotan atau degradasi yang terjadi di berbagai
daerah.

Untuk itu di perlukan suatu pemahaman yang cukup dalam menganalisis mengenai
dampak tehadap lingkungan. Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri
perlu dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak daerah antara
lain pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi persyaratan teknis
dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan
pertanian, penangkapan ikan dan pengelolaan hutan yang mengabaikan daya dukung dan
daya tampung lingkungan.

Agar pembangunan tidak menyebabkan menurunya kemampuan lingkungan yang


disebabkan karena sumber daya yang terkuras habis dan terjadinya dampak negatif, maka
sejak tahun 1982 telah diciptakan suatu perencanaan dengan mempertimbangkan
lingkungan. Hal ini kemudian digariskan dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986
tentang Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Peraturan Pemerintah
ini kemudian diganti dan disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993
dan terakhir Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL).

[Link] dalam menjalankan uasahanya di tuding tidak resmi memiliki izin


AMDAL, dan dampak dari usaha yang djalankannya banyak pencemaran sehingga
merusak lingkungan sekitar dan merugikan warga sekitar.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah apa maslah AMDAL yang
terjadi dalam [Link] Adiperdana.

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui masalah AMDAL yang
terjadi di [Link] Adiperdana.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian AMDAL

Kepanjangan AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau


Analisis Dampak Lingkungan. Secara umum, pengertian AMDAL adalah suatu kajian
untuk mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya sebuah kegiatan yang
direncanakan, misalnya proyek baru.

Pendapat lain mengatakan definisi AMDAL adalah suatu proses dalam studi
formal untuk memperkirakan masalah dampak lingkungan yang mungkin terjadi sebagai
akibat dari kegiatan proyek. Masalah dampak lingkungan tersebut dianalisis pada tahap
perencanaan sebagai acuan dasar yang wajib digunakan sebelum mengerjakan sebuah
proyek.

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL adalah suatu kajian dari suatu
dampak besar serta penting untuk melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau
juga kegiatan yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

Analisis ini biasanya dilakukan ketika akan dilakukan suatu proyek baru. AMDAL
bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia maupun
budaya. Jadi, AMDAL ini tidak hanya berfokus pada lingkungan hidup saja tetapi juga
komponen lainnya yang terlibat.

B. Fungsi dan Tujuan AMDAL

Pada dasarnya AMDAL bertujuan untuk mengetahui kemungkinan dampak yang


akan ditimbulkan oleh adanya sebuah rencana usaha atau kegiatan tertentu. Dengan
mengetahui dampaknya, maka pelaksana usaha/ kegiatan dapat membuat perencanaan
lebih matang agar nantinya kegiatan tidak berdampak buruk pada lingkungan atau
merugikan banyak pihak.
Mengacu pada pengertian AMDAL, adapun beberapa fungsi AMDAL adalah sebagai
berikut:

a. Sebagai acuan untuk mengambil keputusan mengenai kelayakan suatu rencana usaha
atau kegiatan terhadap lingkungan hidup.
b. Sebagai masukan dalam menyusun desain teknis dari suatu rencana dan kegiatan.
c. Sebagai masukan dalam menyusun rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup.
d. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang dampak yang mungkin terjadi dari rencana
usaha atau kegiatan.
e. Sebagai acuan atau rekomendasi ijin usaha/ kegiatan.
f. Sebagai dokumen ilmiah dan dokumen legal.
g. Sebagai bahan dalam proses perencanaan pembangunan suatu wilayah.

Beberapa contoh kegiatan yang memerlukan adanya AMDAL yaitu pembuatan


TPA baru, reklamasi pantai, pembangunan pelabuhan hingga pembangunan pabrik.
Semua bentuk pembangunan tersebut pasti akan berdampak pada lingkungan sekitarnya
baik pada manusia ataupun alam.

Melalui AMDAL, diharapkan pelaksana usaha atau pengelola dapat menekan dan
meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan. Selain itu, pelaksana usaha atau
pengelola akan dapat memberikan alternatif lainnya untuk lingkungan yang akan
terdampak.

C. Manfaat AMDAL

AMDAL akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, termasuk pemerintah,


pelaku usaha, dan juga masyarakat. Sesuai dengan pengertian AMDAL, berikut ini adalah
beberapa manfaat AMDAL tersebut:

1. Manfaat AMDAL Bagi Pemerintah


a. Dengan adanya AMDAL pemerintah dapat menjalankan pembangunan
berkelanjutan sesuai dengan prinsipnya.

b. Membantu pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan.


c. Memastikan pembangunan sesuai dengan ketentuan dan prinsip pembangunan
berkelanjutan.

d. Sebagai wujud tanggung jawab pemerintah dalam upaya mengelola lingkungan


hidup.

e. Melalui analisis ini masyarakat juga akan terhindar dari konflik lingkungan.

2. Manfaat AMDAL Bagi Pelaku Usaha


a. Kegiatan usahanya lebih aman dan terjamin.

b. Lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat karena tidak memberikan dampak


buruk.

c. Bentuk usahanya saat ini juga bisa dijadikan referensi jika ingin membuat usaha
baru agar lebih dipercaya pemerintah investor maupun masyarakat.

3. Manfaat AMDAL Bagi Masyarakat


a. Masyarakat mengetahui sejak dini mengenai dampak suatu rencana usaha atau
kegiatan.

b. AMDAL akan memberikan ketenangan karena ada upaya menjaga lingkungan


tetap aman dan bersih.

c. Masyarakat bisa turut berpartisipasi dalam melakukan perawatan dan mengontrol


kegiatan tersebut.

D. Komponen AMDAL

Dalam proses AMDAL terdapat beberapa komponen penting di dalamnya. Sesuai


dengan penjelasan mengenai pengertian AMDAL, adapun beberapa komponen AMDAL
adalah sebagai berikut:

1. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL)

Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) ini merupakan bentuk studi pra proyek
dimana nantinya pihak perencana akan melakukan kajian terkait lingkungan di sekitar
lokasi akan berjalannya suatu kegiatan. Studi pra lingkungan ini mencakup semua
aspek baik fisika, kimia, biologi, sosial, ekonomi serta budaya di sekitarnya.
2. Kerangka Acuan (KA)

Setelah melakukan studi informasi lingkungan, pihak pengelola akan membuat


kerangka acuan yang dijadikan dasar dalam pelaksanaan proyek tersebut. Kerangka
acuan ini berupa hasil laporan dari studi pra lingkungan.

3. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)

Komponen AMDAL berikutnya merupakan bagian utama yaitu melakukan


analisis dampak lingkungan. Dalam melakukan analisis ini, pihak pengelola harus
mengutamakan keamanan dan kesehatan lingkungan serta mengurangi dampak buruk
yang akan terjadi. Pada tahapan ini juga nantinya keputusan terkait proyek akan
dilakukan.

4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Komponen AMDAL ini mencakup segala bentuk pemantauan terhadap


berjalannya proyek, mulai dari saat pembangunan hingga selesai. Pemantauan ini harus
dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat berjalan sesuai dengan aturan
sebenarnya.

5. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

Selain melakukan pemantauan, semua pihak yang terlibat juga harus turut serta
dalam melakukan pengelolaan terhadap proyek. Pengelolaan ini bertujuan untuk
mempertahankan fungsi lingkungan dan menghindari penyimpangan.
BAB III

PEMBAHASAN

Berdasarkan Keterangan

[Link]

Amdal Pabrik Semen PT Gombong Dinilai Tak Layak

Oleh:[Link]

Kamis, 9 Juni 2016 14:44 WIB

[Link], Semarang - Komisi Penilai Amdal Jawa Tengah, mengeluarkan


rekomendasi dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang diajukan PT
Semen Gombong, tidak memenuhi kelayakan. Keputusan itu diambil dalam sidang tim penilai
amdal pada Rabu 8 Juni 2016.

Koordinator Tim Pakar Komisi Penilai Amdal Jawa Tengah, Dwi Purwantoro
Sasongko, menyatakan ada beberapa alasan penyebab pendirian pabrik semen di Kawasan
Karst Gombong Selatan oleh PT Semen Gombong (Medco Group) itu tidak layak lingkungan.
“Kawasan IUP (izin usaha penambangan) eksplorasi PT Semen Gombong dinyatakan bagian
dari ekosistem kawasan karst, sehingga tidak boleh ditambang,” kata Dwi, kepada Tempo, di
Semarang, Kami 9 Juni 2016.

Ekosistem kawasan karst ini, masuk Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong
yang telah ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. KBAK masuk kategori
kawasan lindung karst atau kategori karst kelas satu, sehingga tidak bisa ditambang. Hal ini
sesuai Keputusan Menteri ESDM, Nomor 17, tahun 2012, tentang Penetapan Kawasan Bentang
Karst.

Dwi menyatakan, karena kawasan IUP ekplorasi PT Gombong merupakan ekosistem


karst, maka penambangan batu gamping di kawasan itu akan menyebabkan perubahan pola
karst, baik eksokarst mau pun endokarst-nya. “Akan menganggu sistem air bawah tanah di
kawasan karst tersebut,” kata Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas
Diponegoro itu.
PT Gombong mengajukan IUP batu gamping seluas 99,7 hektare dari area yang ada
seluas 147,5 hektare. Dia menambahkan karena penambangan merupakan kegiatan utama pada
bagian hulu untuk penyiapan bahan baku semen dan dinyatakan tidak layak, maka seluruh
rencana kegiatan tidak layak lingkungan. “Baik penambangan dan proses produksi pabrik
semennya,” kata Dwi.

Dalam sidang penilai amdal, pemrakarsa PT Semen Gombong juga hadir. Mereka
mempresentasikan dokumen amdal yang telah disusunnya. Dwi bercerita, saat tim penilai
mengumumkan hasil rekomendasi, PT Semen Gombong tak diberi sesi tanggapan. “Tim
penilai harus independen,” kata Dwi lagi.

Di sela-sela sidang, ratusan warga dari Gombong juga unjuk rasa. Mereka menolak
pendirian pabrik semen itu. Saat mengetahui amdal tidak layak, mereka pun meluapkan
kegembiraan dengan membakar dokumen amdal.

Tim penilai amdal Jawa Tengah akan segera mengirimkan hasil rekomendasinya ke
Bupati Kebumen. Sebab, kewenangan menerbitkan surat keputusan kelayakan dan penertiban
sebuah izin lingkungan ada di tangan bupati.

Selain dari tim pakar, tim penilai amdal juga ada dari unsur tim teknis. Anggota tim
teknis, Rahmad Bowo, menyatakan tim bertugas memeriksa dan menilai dokumen. “Kami
periksa keabsahannya. Dokumen yang ada juga dicocokan dengan kesesuaian teori dan
metodologi,” kata dosen Hukum Universitas Sultan Agung Semarang itu.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kepanjangan AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau


Analisis Dampak Lingkungan. Secara umum, pengertian AMDAL adalah suatu kajian
untuk mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya sebuah kegiatan yang
direncanakan, misalnya proyek baru.

Pendapat lain mengatakan definisi AMDAL adalah suatu proses dalam studi
formal untuk memperkirakan masalah dampak lingkungan yang mungkin terjadi sebagai
akibat dari kegiatan proyek. Masalah dampak lingkungan tersebut dianalisis pada tahap
perencanaan sebagai acuan dasar yang wajib digunakan sebelum mengerjakan sebuah
proyek.

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL adalah suatu kajian dari suatu
dampak besar serta penting untuk melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau
juga kegiatan yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

Analisis ini biasanya dilakukan ketika akan dilakukan suatu proyek baru. AMDAL
bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia maupun
budaya. Jadi, AMDAL ini tidak hanya berfokus pada lingkungan hidup saja tetapi juga
komponen lainnya yang terlibat.

B. Saran

Baiknya setiap instansi atau perusahaan dalam pembangunan ataupun dalam


pembuangan limbah dan lain – lain yang menyangkut untuk kesehatan lingkungan harus
memiliki AMDAL yang resmi izin dari pemerintah dan dilakukan sesuai dengan peraturan
AMDAL yang berlaku agar kesehtan lingkungan sekitar instansi atau perusahaan kita
dapat terjaga dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
rumah-sakit-hermina-palembang-belum-punya-amdal
[Link]
[Link]
[Link]
amdal/
[Link]
[Link]
KASUS AMDAL [Link] ADIPERDANA

Disusun Oleh :

Achmad murdiansyah (182510101)

Dosen Pengampuh : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR, M.M, M.T

Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis

Angkatan : 33 / A R1

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN

UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat dan Karunia-Nyalah kami dapat
menyusun karya tulis ini yang berjudul “Kasus AMDAL [Link] Adiperdana”

Penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak “Dr. Ir. Hj. Hasmawaty,
AR, M.M, M.T” sebagai dosen pembimbing yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
karya tulis ini.

Penyusun juga menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
karya tulis ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami sangat senang jika pembaca
dapat memberikan saran dan kritik guna memperbaiki karya tulis ini. Penyusun juga berharap
karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Palembang, Januari 2020

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan hidup merupakan suatu kesatuan di mana di dalamnya terdapat


berbagai macam kehidupan yang saling ketergantungan. Lingkungan hidup juga
merupakan penunjang yang sangat penting bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup
yang ada. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya
dalam kondisi yang baik.

Di indonesia pembangunan nasional disusun atas dasar pembangunan jangka


pendek dan jangka panjang. Keduanya dilaksanakan secara sambung menyambung untuk
dapat menciptakan kondisi sosial ekonomi yang lebih baik. Pembangunan sumberdaya
alam dan lingkungan hidup seyogyanya menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor
pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan
lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin. Pola pemanfaatan
sumberdaya alam seharusnya dapat memberikan akses kepada segenap masyarakat, bukan
terpusat pada beberapa kelompok masyarakat dan golongan tertentu, dengan demikian
pola pemanfaatan sumberdaya alam harus memberi kesempatan dan peran serta aktif
masyarakat, serta memikirkan dampak–dampak yang timbul akibat pemanfaatan sumber
daya alam tersebut.

Seringkali pembangunan suatu usaha dibuat dalam porsi ruang lingkup yang sangat
luas tetapi disusun kurang cermat. Seluruh program mungkin saja dapat diananlisis sebagai
suatu proyek, tetapi pada umumnya akan lebih baik bila proyek dibuat dalam ruang
lingkup yang lebih kecil yang layak ditinjau dari segi sosial, administrasi, teknis,
ekonomis, dan lingkungan.

Oleh karena itu lingkungan hidup di Indonesia perlu ditangani di karenakan adanya
beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya yaitu adanya masalah mengenai
keadaan lingkungan hidup seperti kemerosotan atau degradasi yang terjadi di berbagai
daerah.

Untuk itu di perlukan suatu pemahaman yang cukup dalam menganalisis mengenai
dampak tehadap lingkungan. Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri
perlu dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak daerah antara
lain pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi persyaratan teknis
dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan
pertanian, penangkapan ikan dan pengelolaan hutan yang mengabaikan daya dukung dan
daya tampung lingkungan.

Agar pembangunan tidak menyebabkan menurunya kemampuan lingkungan yang


disebabkan karena sumber daya yang terkuras habis dan terjadinya dampak negatif, maka
sejak tahun 1982 telah diciptakan suatu perencanaan dengan mempertimbangkan
lingkungan. Hal ini kemudian digariskan dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986
tentang Anlisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Peraturan Pemerintah
ini kemudian diganti dan disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993
dan terakhir Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL).

[Link] Adiperdana dalam menjalankan penambangannya di tuding tidak


resmi memiliki izin AMDAL, dan dampak dari penambangan yang djalankannya banyak
sungai yang tercemar sehingga merugikan warga. Warga sekitar tidak bisa lagi
memanfaatkan sungai tersebut seperti biasanya untuk kehidupan mereka.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah apa maslah AMDAL yang
terjadi dalam [Link] Adiperdana.

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui masalah AMDAL yang
terjadi di [Link] Adiperdana.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian AMDAL

Kepanjangan AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau


Analisis Dampak Lingkungan. Secara umum, pengertian AMDAL adalah suatu kajian
untuk mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya sebuah kegiatan yang
direncanakan, misalnya proyek baru.

Pendapat lain mengatakan definisi AMDAL adalah suatu proses dalam studi
formal untuk memperkirakan masalah dampak lingkungan yang mungkin terjadi sebagai
akibat dari kegiatan proyek. Masalah dampak lingkungan tersebut dianalisis pada tahap
perencanaan sebagai acuan dasar yang wajib digunakan sebelum mengerjakan sebuah
proyek.

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL adalah suatu kajian dari suatu
dampak besar serta penting untuk melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau
juga kegiatan yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

Analisis ini biasanya dilakukan ketika akan dilakukan suatu proyek baru. AMDAL
bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia maupun
budaya. Jadi, AMDAL ini tidak hanya berfokus pada lingkungan hidup saja tetapi juga
komponen lainnya yang terlibat.

B. Fungsi dan Tujuan AMDAL

Pada dasarnya AMDAL bertujuan untuk mengetahui kemungkinan dampak yang


akan ditimbulkan oleh adanya sebuah rencana usaha atau kegiatan tertentu. Dengan
mengetahui dampaknya, maka pelaksana usaha/ kegiatan dapat membuat perencanaan
lebih matang agar nantinya kegiatan tidak berdampak buruk pada lingkungan atau
merugikan banyak pihak.
Mengacu pada pengertian AMDAL, adapun beberapa fungsi AMDAL adalah sebagai
berikut:

a. Sebagai acuan untuk mengambil keputusan mengenai kelayakan suatu rencana usaha
atau kegiatan terhadap lingkungan hidup.
b. Sebagai masukan dalam menyusun desain teknis dari suatu rencana dan kegiatan.
c. Sebagai masukan dalam menyusun rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup.
d. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang dampak yang mungkin terjadi dari rencana
usaha atau kegiatan.
e. Sebagai acuan atau rekomendasi ijin usaha/ kegiatan.
f. Sebagai dokumen ilmiah dan dokumen legal.
g. Sebagai bahan dalam proses perencanaan pembangunan suatu wilayah.

Beberapa contoh kegiatan yang memerlukan adanya AMDAL yaitu pembuatan


TPA baru, reklamasi pantai, pembangunan pelabuhan hingga pembangunan pabrik.
Semua bentuk pembangunan tersebut pasti akan berdampak pada lingkungan sekitarnya
baik pada manusia ataupun alam.

Melalui AMDAL, diharapkan pelaksana usaha atau pengelola dapat menekan dan
meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan. Selain itu, pelaksana usaha atau
pengelola akan dapat memberikan alternatif lainnya untuk lingkungan yang akan
terdampak.

C. Manfaat AMDAL

AMDAL akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, termasuk pemerintah,


pelaku usaha, dan juga masyarakat. Sesuai dengan pengertian AMDAL, berikut ini adalah
beberapa manfaat AMDAL tersebut:

1. Manfaat AMDAL Bagi Pemerintah


a. Dengan adanya AMDAL pemerintah dapat menjalankan pembangunan
berkelanjutan sesuai dengan prinsipnya.

b. Membantu pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan.


c. Memastikan pembangunan sesuai dengan ketentuan dan prinsip pembangunan
berkelanjutan.

d. Sebagai wujud tanggung jawab pemerintah dalam upaya mengelola lingkungan


hidup.

e. Melalui analisis ini masyarakat juga akan terhindar dari konflik lingkungan.

2. Manfaat AMDAL Bagi Pelaku Usaha


a. Kegiatan usahanya lebih aman dan terjamin.

b. Lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat karena tidak memberikan dampak


buruk.

c. Bentuk usahanya saat ini juga bisa dijadikan referensi jika ingin membuat usaha
baru agar lebih dipercaya pemerintah investor maupun masyarakat.

3. Manfaat AMDAL Bagi Masyarakat


a. Masyarakat mengetahui sejak dini mengenai dampak suatu rencana usaha atau
kegiatan.

b. AMDAL akan memberikan ketenangan karena ada upaya menjaga lingkungan


tetap aman dan bersih.

c. Masyarakat bisa turut berpartisipasi dalam melakukan perawatan dan mengontrol


kegiatan tersebut.

D. Komponen AMDAL

Dalam proses AMDAL terdapat beberapa komponen penting di dalamnya. Sesuai


dengan penjelasan mengenai pengertian AMDAL, adapun beberapa komponen AMDAL
adalah sebagai berikut:

1. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL)

Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) ini merupakan bentuk studi pra proyek
dimana nantinya pihak perencana akan melakukan kajian terkait lingkungan di sekitar
lokasi akan berjalannya suatu kegiatan. Studi pra lingkungan ini mencakup semua
aspek baik fisika, kimia, biologi, sosial, ekonomi serta budaya di sekitarnya.
2. Kerangka Acuan (KA)

Setelah melakukan studi informasi lingkungan, pihak pengelola akan membuat


kerangka acuan yang dijadikan dasar dalam pelaksanaan proyek tersebut. Kerangka
acuan ini berupa hasil laporan dari studi pra lingkungan.

3. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)

Komponen AMDAL berikutnya merupakan bagian utama yaitu melakukan


analisis dampak lingkungan. Dalam melakukan analisis ini, pihak pengelola harus
mengutamakan keamanan dan kesehatan lingkungan serta mengurangi dampak buruk
yang akan terjadi. Pada tahapan ini juga nantinya keputusan terkait proyek akan
dilakukan.

4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Komponen AMDAL ini mencakup segala bentuk pemantauan terhadap


berjalannya proyek, mulai dari saat pembangunan hingga selesai. Pemantauan ini harus
dilakukan secara berkelanjutan sehingga dapat berjalan sesuai dengan aturan
sebenarnya.

5. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)

Selain melakukan pemantauan, semua pihak yang terlibat juga harus turut serta
dalam melakukan pengelolaan terhadap proyek. Pengelolaan ini bertujuan untuk
mempertahankan fungsi lingkungan dan menghindari penyimpangan.
BAB III

PEMBAHASAN

Berdasarkan Keterangan

[Link]
menghancurkan-lingkungan-malinau-selatan/

[Jakarta, 25 April 2017] – PT Mitrabara Adiperdana (PT MA) adalah perusahaan


tambang batu bara di Malinau Selatan, Kalimantan Utara yang berada di bawah Baramulti
Grup. Perusahaan ini melakukan peningkatan produksi dari 500.000 ton per tahun menjadi
4.000.000 ton per tahun di area seluas 1.930 Ha. Mitra dari PT MA adalah Idemitsu Kosan,
perusahaan Jepang yang bergerak di bidang energi dan tambang. Dari keseluruhan ekspor PT
MA, sebesar 37,76% dialokasikan untuk Idemitsu Kosan. Idemitsu Kosan mengakuisisi saham
PT MA sebesar 30% di tahun 2014 serta masuk dalam struktur kepengurusan perusahaan.
Pengakuisisian saham PT MA oleh Idemitsu Kosan dilakukan melalui pinjaman dari The Japan
Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar 24 juta USD, dan sisanya didanai oleh The
Mie Bank, Ltd., The Chiba Kogyo Bank, Ltd., dan North Pacific Bank, Ltd., menjadi total 40
juta USD.

Dalam mengkaji kasus PT MA, ditemukan beberapa kejanggalan dalam studi dokumen
Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) perusahaan dan wawancara dengan
beberapa warga lokal. Temuan-temuan JATAM antara lain adalah:

a. Dalam dokumen Amdal PT MA muncul nama perusahaan lain yaitu PT. Mestika Persada
Raya pada lembar abstrak di halaman xii. Penemuan ini mengindikasikan adanya tindakan
salin-tempel (copy-paste) Amdal PT Mestika Persada Raya dalam pembuatan Amdal PT
MA. PT Mestika Persada Raya adalah perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di
Kabupaten Malinau Selatan, Kalimantan Utara.

b. Air Sungai Malinau warnanya berubah menjadi coklat dalam kurang lebih sepuluh tahun
terakhir. Hal ini menyebabkan air tidak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari – seperti
minum dan mandi – tadinya Sungai Malinau bisa digunakan warga. Oleh karena itu, banyak
warga yang memutuskan untuk membuat sumur di rumah masing-masing, sedangkan
sebagian lagi membeli air jika tidak mampu membuat sumur. Ironisnya, ada juga warga
yang tidak mampu membuat sumur maupun membeli air. Sehingga terpaksa menggunakan
air sungai yang tidak layak tersebut.
c. Debu yang dihasilkan sepanjang aktivitas penambangan perusahaan menjadi salah satu
keluhan utama yang dirasakan oleh warga. Akibatnya, banyak anak-anak kecil terkena
infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Salah satu warga setempat mengatakan debu terlihat
jelas baik dari kaca-kaca di rumah warga maupun di sepanjang jalan.

d. Air yang dipakai warga untuk berkebun pun berubah menjadi kecil dan airnya seringkali
naik akibat tekena limbah perusahaan. Namun, perusahaan kerap mengelak untuk hal ini,
mereka mengatakan bahwa naiknya air hingga ke ladang-ladang warga merupakan banjir
yang disebabkan oleh air hujan. Padahal, sebelumnya hal ini tidak terjadi.

e. Aktivitas penambangan berdampak besar terhadap hewan-hewan yang ada di hutan-hutan


yang berada dalam konsesi perusahaan. Burung enggang sudah jarang terlihat, tidak seperti
10 tahun yang lalu masih berkeliaran hingga ke desa-desa. Budaya masyarakat setempat
untuk mendapatkan makan, yaitu melalui berburu, akan tetapi buruan-buruan mereka yaitu
rusa dan babi hutan menurun drastis.

f. Elite-elite desa, termasuk beberapa kepala desa dan kepala adat, yang tidak idealis dengan
mudah beralih menjadi pro perusahaan. Hal ini membuat protes yang dilakukan warga
menjadi tidak pernah berhasil karena tidak menemenukan solusi konkrit, sehingga semangat
warga untuk memperkarakan dampak-dampak yang mereka rasakan kian menurun.

Berkaitan dengan beberapa hal di atas, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) telah
melapor kepada Direktorat Jendral Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(GAKKUM KLHK) pada Selasa, 25 April 2017, Pkl 14.00 – 15.00 Wib, tadi.

Berikut adalah lima (5) tuntutan yang telah disampaikan kepada Dirjen GAKKUM KLHK:

1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera melakukan penyelidikan dan
pengusutan dugaan pelanggaran dokumen amdal terhadap PP No 27 tahun 2012 tentang
AMDAL dan dugaan pidana lingkungan hidup sesuai UU No. 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 109, pasal 110, pasal 111 (ayat 2)
dan pasal 113. Pasal-pasal tersebut berisi tentang perizinan (Amdal) yang tidak sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dan untuk orang-orang yang memberikan
informasi atau keterangan palsu terkait Amdal.

2. Memulihkan ruang hidup masyarakat yang terkena dampak akibat aktivitas PT. MA.

3. KLHK harus mencabut Izin Lingkungan PT. MA terkait dengan temuan-temuan di atas.
4. JBIC dan Pemerintah Jepang harus bertanggungjawab atas persoalan ini, mengingat
peristiwa ini menambah deretan panjang buruknya reputasi investasi dan pembiyaan dari
JBIC dan Pemerintah Jepang karena, selain membiayai sektor industri fosil seperti Batubara
yang kotor juga melanggar hukum dan memanipulasi dokumen Amdal

5. JBIC dan Pemerintah Jepang segera menghentikan pembiayaan energi kotor batubara di
Malinau dan di Indonesia pada umumnya
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kepanjangan AMDAL adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau


Analisis Dampak Lingkungan. Secara umum, pengertian AMDAL adalah suatu kajian
untuk mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya sebuah kegiatan yang
direncanakan, misalnya proyek baru.

Pendapat lain mengatakan definisi AMDAL adalah suatu proses dalam studi
formal untuk memperkirakan masalah dampak lingkungan yang mungkin terjadi sebagai
akibat dari kegiatan proyek. Masalah dampak lingkungan tersebut dianalisis pada tahap
perencanaan sebagai acuan dasar yang wajib digunakan sebelum mengerjakan sebuah
proyek.

Menurut PP no 27 tahun 1999, pengertian AMDAL adalah suatu kajian dari suatu
dampak besar serta penting untuk melakukan pengambilan keputusan suatu usaha atau
juga kegiatan yang direncanakan di dalam lingkungan hidup.

Analisis ini biasanya dilakukan ketika akan dilakukan suatu proyek baru. AMDAL
bersifat menyeluruh, meliputi dampak biologi, sosial, ekonomi, fisika, kimia maupun
budaya. Jadi, AMDAL ini tidak hanya berfokus pada lingkungan hidup saja tetapi juga
komponen lainnya yang terlibat.

B. Saran

Baiknya setiap instansi atau perusahaan dalam pembangunan ataupun dalam


pembuangan limbah dan lain – lain yang menyangkut untuk kesehatan lingkungan harus
memiliki AMDAL yang resmi izin dari pemerintah dan dilakukan sesuai dengan peraturan
AMDAL yang berlaku agar kesehtan lingkungan sekitar instansi atau perusahaan kita
dapat terjaga dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
rumah-sakit-hermina-palembang-belum-punya-amdal
[Link]
[Link]
[Link]
amdal/
[Link]
[Link]
menghancurkan-lingkungan-malinau-selatan/
Tugas MLB - 4

Mengulik Berbagai Kasus Amdal di Indonesia

Tugas Pemenuhan Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis

Dosen : Dr. Dina Mellita, S.E., [Link]

Program Pasca Sarjana

Program Studi : Magister Managemen

Oleh :

Agung Setyabudi

NIM : 182510090
Kelas : UBD-MM-Angkatan 33 / R2

Program Pasca Sarjana

Universitas Bina Darma – Palembang

2019

1
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim,

Puji dan syukur penulis panjatkan ke kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-

Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Kuliah Manajemen Lingkungan Bisnis dengan Judul

“Mengulik Berbagai Kasus Amdal di Indonesia “ dalam rangka mengikuti perkuliahan

di Program Pasca Sajana – Magister Manajeman, Universitas Bina Darma Palembang denga mata

kuliah Manajemen Perubahan dan Pengembangan Organisasi yang di berikan oleh beliau Ibu Dr.

Dina Mellita, S.E, [Link]. menuhi dan melengkapi tugas akhir dalam menyelesaikan Program

Magister Managemen - Pasca Sarjana, di Universitas Bina Darma Palembang.

Dalam tulisan ini saya menggunakan kata ‘mengulik” karena dalam tulisan ini hanya

melakukan kajian berdasarkan referensi / tulisan yang ada di website. Sementara untuk bisa

melakukan kajian lebih mendalam tentang kasus amdal sangatlah sulit karena saya tidak bisa

mendapatkan dokumen amdal apalagi melakukan analisa berdasarkan data-data yang mendukung

guna mengetahui penyimpangan / mempelajari kasus yang terjadi dalam ketaatan dan kepatuhan

menjalankan amdal tersebut.

Syukur Alhamdulillah, dengan segala aktifitas yang dihadapi sehari hari, namun dengan

semangat dan kerja keras yang tinggi akhirya Tugas ini dapat kami selesaikan dengan baik. Kami

menyadari bahwa tulisan yang sudah kami susun ini masih jauh dari sempurna. Kritik, saran dan

masukan yang membangun akan lebih menyempurnakan tulisan kami ini. Terima kasih, semoga

bermanfaat.

Palembang, 12 Januari 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

Pendahuluan ................................................................................................... 1

Contoh-contoh Kasus Amdal .......................................................................... 6

3
Mengulik Berbagai Kasus Amda; di Indonesia

Oleh : Agung Setyabudi (NIM : 182510090) ; 12 Januari 2020

Pendahuluan

AMDAL (Analisis mengenai Dampak Lingkungan) adalah suatu proses membentuk atau

menyusun studi formal dengan tujuan memperkirakan dampak yang bakal terjadi kepada khalayak

umum, tentang kegiatan / usaha / proyek pembangunan dengan dasar pengelolaan lingkungan

hidup. Analisis dampak lingkungan menjadi sangat perlu agar tidak terjadi dampak yang buruk

yang bakal terjadi dilingkungan suatu kegiatan / usaha / proyek tersebut dilaksanakan, yang dapat

merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Secara teknis dan regulasi, studi / kajian tentang AMDAL diatur dalam Peraturan Presiden

Nomor 27 tahun 1999 yang berbunyi “suatu kajian mengenai dampak yang telah ditimbulkan oleh

lingkungan, serta menjadi hal yang penting dalam pengambilan suatu keputusan atau dari kegiatan

yang telah direncanakan pada lingkungan hidup.

Dasar utama dalam penyusunan AMDAL adalah untuk menjaga kemungkinan yang terjadi

dalam dampak suatu usaha atau kegiatan agar tidak mengganggu keberlangsungan hidup

lingkungan. Kerusakan lingkungan harus tetap diwaspadai dalam Kerangka Acuan (KA) yang

menjadi awal komponen penyusunan AMDAL.

Pada dasarnya komponen AMDAL yang dipakai di Indonesia meliputi : (1) Kerangka

Acuan (KA), (2). Penyajian Informasi Lingkungan (PIL), (3). Analisis Dampak Lingkungan

(ANDAL), (4). Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), dan (5). Rencana Pengelolaan
4
Lingkungan (RKL). Keseluruhan komponen AMDAL tersebut menjadi dasar penyusunan dan

pengembangan AMDAL setelah melewati prosedur awal yaitu keterlibatan masyarakat.

Dalam prosedur penyusunan AMDAL diharuskan melewati proses yang mensyaratkan atas

keterlibatan masyarakat dan komponennya. Ketentuan pada prosedur AMDAL tertulis pada

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 17 tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha /

Kegiatan yang harus dilengkapi surat ijin AMDAL. Pertimbangan tersebut kemudian masuk pada

tahapan plotting, scanning, lalu baru dibentuk penyusunan AMDAL. Selanjutnya AMDAL

digunakan pada prosedur dasar ketentuan dampak dari kegiatan atau usaha.

Pelingkupan dapat mempunyai pengertian sebagai suatu proses pemusatan studi pada hal-

hal yang penting yang terkait dengan dampak penting (scoping is the process of focusing the

environmental study on the key aspects related to significant impacts). Dalam mempersiapkan

penyusunan dokumen amdal maka pelingkupan permasalahan dan mengindentifikasi dampak

penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha atau kegiatan. Pelingkupan merupakan

proses penting yang dituangkan dalam kerangka acuan (KA) Amdal karena dengan proses ini dapat

menghasilkan hal-hal sebagai berikut ;

a. Dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah

secara mendalam dalam studi amdal dengan meniadakan hal-hal atau komponen

lingkungan yang dipandang kurang penting ditelaah.

b. Lingkup wilayah studi amdal berdasarkan beberapa pertimbangan seperti batas

proyek, batas ekologis, batas social dan batas administratif.

5
c. Kedalaman studi amdal yang antara lain mencakup metode yang digunakan, jumlah

contoh yang diukur, tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang

tersedia (dana dan waktu).

Pelingkupan dalam penyusunan dokumen amdal menjadi sedemikian penting karena jika

hal ini tidak dilaksanakan, maka akibatnya amdal yang dihasilkan menjadi kabur batas-batasnya

dan tidak jelas dalam pemusatannya (fokusnya) atau dengan kata lain menyebabkan dokumen

amdal tersebut kurang tegas, kurang jelas yang akibatnya menjadi sulit bagi para pengambil

keputusan untuk memutuskan disetujuinya suatu rencana usaha atau kegiatan yang diajukan.

Contoh Kasus AMDAL di Indonesia

Berikut beberapa contoh AMDAL dalam berbagai bidang yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan pokok - pokok sebagai berikut

No Bidang Obyek Kasus Dampak


1 Penerbangan  Pembanguan  Analisis mengenai  Ketika Pemerintah akan
Bandara Dampak Lingkungan menetapkan lokasi
New (Amdal), dinilai tidak pembangunan bandar
Yogyakarta sesuai prosedur. udara salah satunya
International  PT. Angkasa Pura I harus
Airport (Persero) saat ini mempertimbangkan
(NYIA), ditengarai sedang kelayakan lingkungan.
Kulon melakukan studi  Kelayakan lingkungan
Progo, Amdal. Sementara di dinilai dari besarnya
Yogyakarta. satu sisi, dari aspek dampak yang akan
pelingkupan, muatan ditimbulkan serta
tentang kesesuaian kemampuan mengurangi
lokasi rencana usaha dampak (mitigasi), pada
kegiatan dengan masa kontruksi,
pengoperasian dan/atau

6
rencana tata ruang pada tahap
tidak terpenuhi. pengembangan
 Proses studi Amdal itu selanjutnya.
tidak dilakukan pada
tahapan yang
semestinya.
 Renovasi  AMDAL dalam hal ini
Bandara  Pada tahun 2007, berfungsi meminimalisir
Halu Oleo, Bandara Halu Oleo dampak buruk yang
Kendari yang terletak di Kota dapat terjadi bagi
Kendari, Provinsi masyarakat dan
Sulawesi Tenggara lingkungan hidup
tersebut diadakan
renovasi besar-besaran

 Renovasi  Bandara Kualanamu  AMDAL sangat


Bandara terletak di Kota diperlukan guna
Kualanamu, Medan, Sumatera meminimalisir dampak
Medan Utara. Bandata buruk yang dapat terjadi
tersebut sangat bagi masyarakat dan
menarik karena lingkungan hidup akibat
menjadi satu-satunya kegiatan renovasi
bandara di Indonesia bandara tersebut
yang langsung
terhubung dengan jalur
kereta api.

2 Pembangunan  Pembanunan  Ketinggian bangunan  Jika dilihat dari sudut


Kota Kota City of CITO mencapai 115 bangunan, CITO
Tomorrow meter. melanggar dan
(CITO), di mengganggu lalu lintas
Surabaya. udara. frontage road yang
dimiliki oleh pemerintah
malah dikuasai oleh Cito.

 Tidak dibuatnya  Seharusnya frontage road


frontage road (jalur sepanjang 400 meter itu
lambat). Frontage road pintu masuk dan
adalah jalan-jalan keluarnya tidak di Jalan
disamping jalan utama Ahmad Yani.
yang berfungsi sebagai
jalur lambat yang
menuju atau dari jalan
utama. Justru frontage
road yang dimiliki

7
oleh pemerintah malah
dikuasai oleh Cito.

3 Pertambangan  Pembanguan  Tidak dilakukannya  keluhan masyarakat


Proyek pemantauan dan tentang limbah
Baturara pengukuran perusahaan dan pabrik
oleh PT Bara pencemaran sepanjang jalur air
Anugrah lingkungan akibat Sungai Enim,
Sejahtera akibat kegiatan usaha mengganggu
(PT BAS) di oleh perusahaan, keseimbangan
Kecamatan karena limbah lingkungan dan
Tanjung kegiatan dibuang ke kesehatan warga sekitar
Agung, Sungai Enim. aliran Sungai Enim
Muara Enim

 Aktivitas  Genangan air pada pit  Kerusakan lingkungan


Tambang (lubang tambang) I serius, sampai konflik
Batu bara, Minemex dengan masyarakat
PT. menyebabkan Desa Talang Serdang
Minemex, di likuifaksi yang dan Desa Taman Dewa.
Sorolangun, mempengaruhi  Aliran air tanah
Jambi kestabilan tanah terpotong di pit II juga
sekitar. ikut mempengaruhi
 Aktifitas alat berat penurunan permukaan
mengakibatkan tanah.
kerusakan konstruksi  Terjadinya keretakan di
bangunan / rumah- banyak rumah-rumah
rumah penduduk penduduk
sekitar tambang

8
NAMA : AMELLYA
NIM : 182510085
MATA KULIAH : MANAJEMEN LINGKUNGAN BISNIS
DOSEN : Dr. Ir. Hj. HASMAWATY, AR., M.M., M.T
PROGRAM STUDI MANAJEMEN - S2
UNIVERSITAS BINA DARMA

TUGAS E-LEARNING4 : PENGETAHUAN AMDAL

Tugas :

Buat tulisan tentang kasus AMDAL pada perusahaan atau instansi apa saja
yang Bapak/Ibu ketahui!

TPA BANTAR GEBANG, BEKASI

I. PENDAHULUAN
Globalisasi ekonomi, politik dan sosial membawa hubungan antar negara
semakin dekat dan erat serta membawa dampak yang positif maupun negatif
bagi suatu negara. Salah satu akibat yang paling nyata dari globalisasi adalah
berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional [Link]
mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar tidak lepas dari sasaran
investasi perusahaan-perusahaan tersebut. Tetapi dengan masuknya
perusahaan-perusahaan tersebut membawa akibat yang positif maupun
negatif di [Link] satu akibat yang negatif hasil produksi dari
perusahaan tersebut adalah banyaknya hasil produksi yang diproduksi tanpa
memikirkan kendala yang akan dihadapi dikemudian hari.
Pada dasarnya semua usaha dan pembangunan menimbulkan dampak
dikemudian hari. Perencananaan awal suatu usaha atau kegiatan
pembangunan sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting
dikemudian hari, guna dijadikan pertimbangan apakah rencana tersebut perlu
dibuat penanggulangan dikemudian hari atau tidak. Pembangunan merupakan
upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan
sumber daya alam, guna mencapai tujuan pembangunan yaitu meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa indonesia. Pembangunan tersebut
dari masa kemasa terus berlanjut guna memenuhi kebutuhan penduduk yang
semakin meningkat.
Alam mempunyai hukumnya sendiri, segala sesuatu akan kembali kepada
siklus alam walaupun bahan sintesis hasil rekayasa manusia seperti plastik,
tetapi akan menimbulkan masalah yang sangat besar terhadap bahan tersebut
dikemudian hari jika sudah tidak dimanfaatkan lagi. Pertambahan jumlah
penduduk, perubahan pola hidup masyarakat, kecepatan teknologi dalam
menyediakan barang secara melimpah ternyata telah menimbulkan
masalah-masalah baru yang sangat serius yaitu adanya barang yang sudah
terpakai dan sudah tidak digunakan dan mengakibatkan timbulnya sampah.

II. POKOK PERMASALAHAN

1. Bagaimana Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat?


2. Bagaimana sistem pengelolaan dan kebijakan pemerintah terhadap
sampah di daerah bekasi dan sekitarnya?

III. DATA DAN FAKTA

Bahwa,di kawasan Bantar Gebang Bekasi menyebutkan, akibat dijadikan


kawasan tersebut sebagai TPA, warga di sekitar menderita yang tiada
berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi
kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil
penelitian selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.

Hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk, jumlah limbah domestik


dari rumah tangga adalah sebesar [Link] ton/tahun atau 5900 – 6000
ton/hari; lumpur dari septic tank sebesar 60.363,41 ton/tahun dan yang
bersumber dari industri pengolahan sebesar 8.206.824,03 ton/tahun.
Penanganan kebersihan di wilayah DKI Jakarta dilaksanakan oleh Dinas
Kebersihan DKI Jakarta, dengan jumlah sarana dan prasarana yang terdiri
dari tonk sebanyak 737 buah (efektif : 701 buah); alat-alat besar : 128 buah
(efektif : 121 buah); kendaraan penunjang : 107 buah (efektif : 94 buah),
sarana pengumpul/pengangkutan sampah dari rumah tangga : gerobak
sampah : 5829 buah; gerobak celeng : 1930 buah, galvanis : 201 buah.

Sampah yang diangkut dari Lokasi Penampungan Sementara (LPS) akan


diolah di Tempat Pemusnahan Akhir (TPA). TPA yang sekarang adalah TPA
Bantar Gebang, Bekasi dengan luas yang direncanakan 108 Ha. Status tanah
adalah milik Pemda DKI Jakarta dan sistim pemusnahan yang dilaksanakan
adalah “sanitary landfill”. Luas tanah yang sudah dipergunakan sebesar 85
persen, sisanya ± 15 persen diperkirakan dapat menampung sampah sampai
tahun 2004, sehingga Pemda DKI Jakarta saat ini sudah mencari
alternatif-alternatif lain sistim penanganan sampah melalui kerjasama dengan
pihak swasta.

Akibat operasional yang tidak sempurna, maka timbul pencemaran


terhadap badan air di sekitar LPA dan air tanah akibat limbah serta timbulnya
kebakaran karena terbakarnya gas methan. Untuk mengatasi hal ini Dinas
Kebersihan telah melakukan kegiatan-kegiatan antara lain :
1. Menambah fasilitas Unit Pengolahan Limbah dan meningkatkan efisiensi
pengolahan sehingga kualitas limbah memenuhi persyaratan untuk
dibuang.
2. Meningkatkan/memperbaiki penanganan sampah sesuai dengan
prosedur “sanitary landfill”.
3. Membantu masyarakat sekitar LPA dengan menyediakan air bersih,
Puskesmas dan ambulance.
4. Mengatur para pemulung agar tidak mengganggu operasional LPA.
5. Besarnya beban sampah tidak terlepas dari minimnya pengelolaan
sampah dari sumber penghasil dan di tempat pembuangan sementara
(TPS) sampah. Baru sekitar 75 m3 yang didaur ulang atau dibuat
kompos. Sementara itu, sisanya sekitar 60% dibuang begitu saja tanpa
pengolahan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dan, 30%
dibiarkan di TPS. Tak heran bila sampah akan menumpuk di TPA.
Akibatnya, daya tampung TPA akan menjadi cepat terpenuhi.

IV. ANALISA

1. Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat

Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik


dan sehat. Sesuai dengan ketentuan tersebut bahwa setiap orang berhak
menolak dengan adanya hal-hal yang dapat merugikan kesehatan baginya.
Dalam hal ini, Tidak ada teknologi yang dapat mengolah sampah tanpa
meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengelolaan sampah selalu membutuhkan
lahan sebagai tempat pembuangan akhir.

Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya


akan mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya. Seperti
contoh yang terjadi di TPA Bantar Gebang, dengan adanya TPA maka warga
sekitarnya TPA menuai derita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit
ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik,
Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil penelitian di Bantar Gebang selama
kawasaan tersebut dijadikan TPA.

Dengan adanya TPA tersebut juga dapat merusak lingkungan dan ekologi
di sekitarnya. beberapa kerusakan lingkungan yang hingga kini tidak bisa
ditanggulangi akibat sebuah kawasan ekologi dijadikan TPA antara lain:
pencemaran tanah dimana Kegiatan penimbunan sampah akan berdampak
terhadap kualitas tanah (fisik dan kimia) yang berada di lokasi TPST dan
sekitarnya. Tanah yang semula bersih dari sampah akan menjadi tanah yang
bercampur dengan limbah/sampah, baik organik maupun anorganik baik
sampah rumah tangga maupun limbah industri dan rumah sakit. Tidak ada
solusi yang konkrit dalam pengelolaannya, maka potensi pencemaran tanah
secara fisik akan berlangsung dalam kurun waktu sangat lama.

2. Sistem Pengelolaan Sampah Dan Kebijakan Pemerintah.

Alam secara fisik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam


mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan sehat menjadi tidak baik dan
tidak sehat dan dapat pula sebaliknya, apabila pemanfaatannya tidak sesuai
dengan kemampuan serta melihat situasinya. Begitu pula dengan sampah,
dapat membuat hidup jadi tidak sehat. Karena itu sampah harus dapat diolah
dengan baik agar tidak menimbulkan berbagai penyakit.

Faktor internal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah minimnya


kualitas SDM yang berakibat fatal pada buruknya teknologi pengelolaan
sampah yang saat ini terbukti sudah tidak lagi mampu menampung kuantitas
sampah yang semakin besar. Penyebab utamanya adalah selama ini
pengelolaan sampah cenderung menggunakan pendekatan end of pipe
solution, bukan mengacu pada pendekatan sumber.

Kedua, faktor penyebab secara EKSTERNAL. Faktor penyebab eksternal


yang paling klasik terdengar adalah minimnya lahan TPA yang hingga saat ini
memang menjadi kendala umum bagi kota-kota besar. Akibatnya, sampah dari
kota-kota besar ini sering dialokasikan ke daerah-daerah satelitnya seperti
TPA Jakarta yang berada di daerah Bekasi, Depok, dan Tangerang serta TPA
Bandung yang berada di Cimahi atau di Kabupaten Bandung. Alasan
eksternal lainnya yang kini santer terdengar di media massa adalah aksi
penolakan keras dari warga sekitar TPA yang merasa sangat dirugikan
dengan keberadaan TPA di [Link] satu kelemahan pengelolaan
sampah di TPA adalah masalah minimnya kualitas SDM yang berakibat fatal
pada buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah
tidak lagi mampu menampung kuantitas sampah yang semakin besar.
Penyebab utamanya adalah selama ini pengelolaan sampah cenderung
menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada
pendekatan sumber.

Secara umum, pemerintah daerah dalam menanggulangi masalah


sampah seharusnya mempunyai rencana pengelolaan lingkungan hidup yang
baik bagi warga sekitar. Dimana dalam menyusun pengelolaan lingkungan
ada 3 faktor yang perlu diperhatikan dan tidak dapat dipisahkam yaitu:

a. Siapa yang akan melakukan pengelolaan lingkungan dan pengelolaan


lingkungan apa yang harus dilakukan
b. Sesuai dengan dampak yang diduga akan terjadi, maka akan ditetapkan
cara pengelolaan yang bagaimana yang akan dilakukan atau teknologi apa
yang akan digunakan agar hasilnya sesuai dengan baku mutu yang telah
ditetapkan pemerintah
c. Karena berbagai institusi termasuk pemilik proyek yang akan melakukan
pengelolaan lingkungan hidup secara terpadu, maka teknologi yang akan
digunakan tergantung pada kemampuan biaya yang akan dikeluarkan,
terutama kemampuan dari pemilik proyek sebagai sumber pencemar.

Permasalahan umum yang terjadi pada pengelolaan sampah kota di TPA ,


khususnya kota-kota besar adalah adanya keterbatasan lahan, polusi,
masalah sosial dan lain-lain. Karena itu pengelolaan sampah di TPA harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Memanfaatkan lahan yang terbatas dengan efektif
• Memilih teknologi yang mudah, dan aman terhadap lingkungan
• Memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa dijual dan
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat
• Produk harus dapat terjual habis.
Karena itu, untuk memenuhi kriteria tersebut diatas, teknologi yang layak
dalam pengelolaan sampah di TPA bantar gebang dan untuk diterapkan
adalah kombinasi dari berbagai teknologi serta penunjang lainya yaitu :
• Teknologi landfill untuk produksi kompos dan gas metan
• Teknologi anaerobik komposting dranco untuk produksi gas metan dan
kompos
• Incinerator untuk membakar bahan anorganik yang tidak bermanfaat
serta pengeringan kompos
• Unit produksi tenaga listrik dari gas metan
• Unit drainase dan pengolah air limbah
Dalam menangani masalah sampah dikota jakarta, pemerintah dalam hal ini
membuat kebijakan-kebijakan, dimana masalah sampah tersebut juga
merupakan masalah lingkungan hidup.

Permasalahan lingkungan hidup merupakan masalah pemerintah dan juga


masyarakat, namun perlu disadari untuk semua hal yang berkaitan dengan
jenis pencemaran (sampah) atau perusakan lingkungan telah dijadikan
permasalahan, dimana faktor penyebabnya antara lain:
• Kurangnya kesadaran masyarakat.
• Kurangnya masyarakat dalam melakukan tindakan.
• Kurangnya pengetahuan masyarakat untuk menangani masalah
lingkungan.
• Keterbatasan sarana dan prasarana dari pemerintah.
Dengan mencermati permasalahan yang terjadi maka pemerintah mencoba
berbagai terobosan yang efektif dan efisien (tepat guna dan tepat sasaran).
Sejauh ini, berbagai solusi terus-menerus diupayakan meskipun dalam
perkembangannya berbagai kendala kerapkali dijumpai. Solusi-solusi yang
sejauh ini telah diupayakan melalui sejumlah program kerja antara lain dalah
pelaksanaan regionalisasi pengelolaan sampah melalui program GBWMC
(Great Bandung Waste Management). Terdapat 4 poin dalam nota
kesepahaman itu, yaitu :
• pengelolaan sampah bersama secara terpadu di kawasan Bandung
metropolitan
• membentuk wadah yang mandiri dalam pengelolaan sampah terpadu
• percepatan pembentukan wadah mandiri dengan membentuk tim
perumus yang terdiri dari 5 wilayah tersebut
• nota kesepahaman ini berlaku hingga terbentuknya wadah yang
mandiri tersebut

V. KESIMPULAN

Dalam tulisan ini dari uraian yang disampaikan diatas, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah,
biasanya akan mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga
sekitarnya, disamping itu juga mempengaruhi atau merusak ekologi
disekitarnya yang diantaranya adalah terjadinya pencemaran air, udara, tanah.
Dan akibat dari pencemaran tersebut warga sekitar mudah terserang penyakit.
2. Sistem pengelolaan sampah yang digunakan ini sudah ketinggalan
zaman yang salah satunya menggunakan landfill system dimana dalam sistem
tersebut membutuhkan lahan yang luas untuk sampah. Disamping itu
pemerintah harus dapat membuat kebijakan baik internal maupun eksternal.
Faktor Internal dimana minimnya kesadaran warga untuk bertanggung jawab
terhadap permasalahan sampah di lingkungan rumah tangganya sendiri,
rendahnya SDM. Sedangkan yang mempengaruhi faktor eksternal adalah
minimnya lahan pembuangan sampah serta tidak ketatnya pemerintah baik
pusat maupun daerah membuat aturan masalah sampah.
KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN

Disusun Oleh :
Nama : Angga Saputra
NIM : 182510105
Mata Kuliah : Manajemen Lingkungan Bisnis

Program Studi Manajemen S2


Universitas Bina Darma
Palembang
2019
KASUS AMDAL PADA PERUSAHAAN
PT MitrabaraAdiperdana (PT MA) adalah perusahaan tambang batu bara di Malinau
Selatan, Kalimantan Utara yang berada di bawah Baramulti Grup. Perusahaan ini melakukan
peningkatan produksi dari 500.000 ton per tahun menjadi 4.000.000 ton per tahun di area
seluas 1.930 Ha. Mitra dari PT MA adalah IdemitsuKosan, perusahaan Jepang yang bergerak
di bidang energi dan tambang. Dari keseluruhan ekspor PT MA, sebesar 37,76% dialokasikan
untuk IdemitsuKosan. IdemitsuKosan mengakuisisi saham PT MA sebesar 30% di tahun
2014 serta masuk dalam struktur kepengurusan perusahaan. Pengakuisisian saham PT MA
oleh IdemitsuKosan dilakukan melalui pinjaman dari The Japan Bank for International
Cooperation (JBIC) sebesar 24 juta USD, dan sisanya didanai oleh The Mie Bank, Ltd., The
ChibaKogyo Bank, Ltd., dan North Pacific Bank, Ltd., menjadi total 40 juta USD.
Dalam mengkaji kasus PT MA, ditemukan beberapa kejanggalan dalam studi dokumen
Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) perusahaan dan wawancara dengan
beberapa warga lokal. Temuan-temuan JATAM antara lain adalah:

a. Dalam dokumen Amdal PT MA muncul nama perusahaan lain yaitu PT. Mestika Persada
Raya pada lembar abstrak di halaman xii. Penemuan ini mengindikasikan adanya tindakan
salin-tempel (copy-paste) Amdal PT Mestika Persada Raya dalam pembuatan Amdal PT MA.
PT Mestika Persada Raya adalah perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di
Kabupaten Malinau Selatan, Kalimantan Utara.

b. Air Sungai Malinau warnanya berubah menjadi coklat dalam kurang lebih sepuluh tahun
terakhir. Hal ini menyebabkan air tidak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari – seperti
minum dan mandi – tadinya Sungai Malinau bisa digunakan warga. Oleh karena itu, banyak
warga yang memutuskan untuk membuat sumur di rumah masing-masing, sedangkan
sebagian lagi membeli air jika tidak mampu membuat sumur. Ironisnya, ada juga warga yang
tidak mampu membuat sumur maupun membeli air. Sehingga terpaksa menggunakan air
sungai yang tidak layak tersebut.

c. Debu yang dihasilkan sepanjang aktivitas penambangan perusahaan menjadi salah satu
keluhan utama yang dirasakan oleh warga. Akibatnya, banyak anak-anak kecil terkena infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA). Salah satu warga setempat mengatakan debu terlihat jelas
baik dari kaca-kaca di rumah warga maupun di sepanjang jalan.
d. Air yang dipakai warga untuk berkebun pun berubah menjadi kecil dan airnya seringkali
naik akibat tekena limbah perusahaan. Namun, perusahaan kerap mengelak untuk hal ini,
mereka mengatakan bahwa naiknya air hingga ke ladang-ladang warga merupakan banjir
yang disebabkan oleh air hujan. Padahal, sebelumnya hal ini tidak terjadi.

e. Aktivitas penambangan berdampak besar terhadap hewan-hewan yang ada di hutan-hutan


yang berada dalam konsesi perusahaan. Burung enggang sudah jarang terlihat, tidak seperti
10 tahun yang lalu masih berkeliaran hingga ke desa-desa. Budaya masyarakat setempat
untuk mendapatkan makan, yaitu melalui berburu, akan tetapi buruan-buruan mereka yaitu
rusa dan babi hutan menurun drastis.

f. Elite-elite desa, termasuk beberapa kepala desa dan kepala adat, yang tidak idealis dengan
mudah beralih menjadi pro perusahaan. Hal ini membuat protes yang dilakukan warga
menjadi tidak pernah berhasil karena tidak menemenukan solusi konkrit, sehingga semangat
warga untuk memperkarakan dampak-dampak yang mereka rasakan kian menurun.

Berkaitan dengan beberapa hal di atas, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) telah melapor
kepada Direktorat Jendral Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (GAKKUM
KLHK) pada Selasa, 25 April 2017, Pkl 14.00 – 15.00 Wib, tadi.

Berikut adalah lima (5) tuntutan yang telah disampaikan kepada Dirjen GAKKUM KLHK:
1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera melakukan
penyelidikan dan pengusutan dugaan pelanggaran dokumen amdal terhadap PP No 27
tahun 2012 tentang AMDAL dan dugaan pidana lingkungan hidup sesuai UU No. 32
Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 109,
pasal 110, pasal 111 (ayat 2) dan pasal 113. Pasal-pasal tersebut berisi tentang
perizinan (Amdal) yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur
dan untuk orang-orang yang memberikan informasi atau keterangan palsu terkait
Amdal.
2. Memulihkan ruang hidup masyarakat yang terkena dampak akibat aktivitas PT. MA.
3. KLHK harus mencabut Izin Lingkungan PT. MA terkait dengan temuan-temuan di
atas.
4. JBIC dan Pemerintah Jepang harus bertanggungjawab atas persoalan ini, mengingat
peristiwa ini menambah deretan panjang buruknya reputasi investasi dan pembiyaan
dari JBIC dan Pemerintah Jepang karena, selain membiayai sektor industri fosil
seperti Batubara yang kotor juga melanggar hukum dan memanipulasi dokumen
Amdal
5. JBIC dan Pemerintah Jepang segera menghentikan pembiayaan energi kotor batubara
di Malinau dan di Indonesia pada umumnya
Nama : Derta Bela Sanjaya
Nim : 182510079
Prodi : Manajemen S2
MK : Manajemen Lingkungan Bisnis
Dosen : Dr. Ir. Hj. Hasmawaty, AR., M.M., M.T.
Tugas : Kasus Amdal

TPA,bantargebang,Bekasi

I. Pendahuluan

Globalisasi ekonomi, politik dan sosial membawa hubungan antar negara semakin
dekat dan erat serta membawa dampak yang positif maupun negatif bagi suatu negara.
Salah satu akibat yang paling nyata dari globalisasi adalah berkembangnya perusahaan-
perusahaan multinasional [Link] mempunyai jumlah penduduk yang sangat
besar tidak lepas dari sasaran investasi perusahaan-perusahaan tersebut. Tetapi dengan
masuknya perusahaan-perusahaan tersebut membawa akibat yang positif maupun negatif
di [Link] satu akibat yang negatif hasil produksi dari perusahaan tersebut adalah
banyaknya hasil produksi yang diproduksi tanpa memikirkan kendala yang akan dihadapi
dikemudian hari.

Pada dasarnya semua usaha dan pembangunan menimbulkan dampak dikemudian


hari. Perencananaan awal suatu usaha atau kegiatan pembangunan sudah harus memuat
perkiraan dampaknya yang penting dikemudian hari, guna dijadikan pertimbangan apakah
rencana tersebut perlu dibuat penanggulangan dikemudian hari atau [Link]
merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan
sumber daya alam, guna mencapai tujuan pembangunan yaitu meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat dan bangsa indonesia. Pembangunan tersebut dari masa kemasa
terus berlanjut guna memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat.

Alam mempunyai hukumnya sendiri, segala sesuatu akan kembali kepada siklus
alam walaupun bahan sintesis hasil rekayasa manusia seperti plastik, tetapi akan
menimbulkan masalah yang sangat besar terhadap bahan tersebut dikemudian hari jika
sudah tidak dimanfaatkan [Link] jumlah penduduk, perubahan pola hidup
masyarakat, kecepatan teknologi dalam menyediakan barang secara melimpah ternyata
telah menimbulkan masalah-masalah baru yang sangat serius yaitu adanya barang yang
sudah terpakai dan sudah tidak digunakan dan mengakibatkan timbulnya sampah.
II. Pokok Permasalahan

1. Bagaimana Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat?

2. Bagaimana sistem pengelolaan dan kebijakan pemerintah terhadap sampah


di daerah bekasi dan sekitarnya?

III. Data dan Fakta

Bahwa,di kawasan Bantar Gebang Bekasi menyebutkan, akibat dijadikan kawasan


tersebut sebagai TPA, warga di sekitar menderita yang tiada berujung. Dampak, seperti
Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik,
Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil penelitian selama kawasaan tersebut dijadikan
TPA.

Hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk,jumlah limbah domestik dari


rumah tangga adalah sebesar [Link] ton/tahun atau 5900 – 6000 ton/hari; lumpur
dari septic tank sebesar 60.363,41 ton/tahun dan yang bersumber dari industri pengolahan
sebesar 8.206.824,03 ton/tahun.

penanganan kebersihan di wilayah DKI Jakarta dilaksanakan oleh Dinas


Kebersihan DKI Jakarta, dengan jumlah sarana dan prasarana yang terdiri dari tonk
sebanyak 737 buah (efektif : 701 buah); alat-alat besar : 128 buah (efektif : 121 buah);
kendaraan penunjang : 107 buah (efektif : 94 buah), sarana pengumpul/pengangkutan
sampah dari rumah tangga : gerobak sampah : 5829 buah; gerobak celeng : 1930 buah,
galvanis : 201 buah.

Sampah yang diangkut dari Lokasi Penampungan Sementara (LPS) akan diolah di
Tempat Pemusnahan Akhir (TPA). TPA yang sekarang adalah TPA Bantar Gebang,
Bekasi dengan luas yang direncanakan 108 Ha. Status tanah adalah milik Pemda DKI
Jakarta dan sistim pemusnahan yang dilaksanakan adalah “sanitary landfill”. Luas tanah
yang sudah dipergunakan sebesar 85 persen, sisanya ± 15 persen diperkirakan dapat
menampung sampah sampai tahun 2004, sehingga Pemda DKI Jakarta saat ini sudah
mencari alternatif-alternatif lain sistim penanganan sampah melalui kerjasama dengan
pihak swasta.
Akibat operasional yang tidak sempurna, maka timbul pencemaran terhadap badan
air di sekitar LPA dan air tanah akibat limbah serta timbulnya kebakaran karena
terbakarnya gas methan. Untuk mengatasi hal ini Dinas Kebersihan telah melakukan
kegiatan-kegiatan antara lain :

1. Menambah fasilitas Unit Pengolahan Limbah dan meningkatkan efisiensi pengolahan


sehingga kualitas limbah memenuhi persyaratan untuk dibuang.

2. Meningkatkan/memperbaiki penanganan sampah sesuai dengan prosedur “sanitary


landfill”.

3. Membantu masyarakat sekitar LPA dengan menyediakan air bersih, Puskesmas dan
ambulance.

4. Mengatur para pemulung agar tidak mengganggu operasional LPA.

Besarnya beban sampah tidak terlepas dari minimnya pengelolaan sampah dari
sumber penghasil dan di tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Baru sekitar 75
m3 yang didaur ulang atau dibuat kompos. Sementara itu, sisanya sekitar 60% dibuang
begitu saja tanpa pengolahan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dan, 30%
dibiarkan di TPS. Tak heran bila sampah akan menumpuk di TPA. Akibatnya, daya
tampung TPA akan menjadi cepat terpenuhi.

IV. Analisa

1. Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat

Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan
[Link] dengan ketentuan tersebut bahwa setiap orang berhak menolak dengan
adanya hal-hal yang dapat merugikan kesehatan baginya. Dalam hal ini, Tidak ada
teknologi yang dapat mengolah sampah tanpa meninggalkan sisa. Oleh sebab itu,
pengelolaan sampah selalu membutuhkan lahan sebagai tempat pembuangan ahir.

Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya akan


mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya. Seperti contoh yang
terjadi di TPA bantar gebang, dengan adanya TPA maka warga sekitarnya TPA menuai
derita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia,
Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil
penelitian di Bantar Gebang selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.
Dengan adanya TPA tersebut juga dapat merusak lingkungan dan ekologi disekitarnya.
beberapa kerusakan lingkungan yang hingga kini tidak bisa ditanggulangi akibat sebuah
kawasan ekologi dijadikan TPA antara lain: pencemaran tanah dimana Kegiatan
penimbunan sampah akan berdampak terhadap kualitas tanah (fisik dan kimia) yang
berada di lokasi TPST dan sekitarnya. Tanah yang semula bersih dari sampah akan
menjadi tanah yang bercampur dengan limbah/sampah, baik organik maupun anorganik
baik sampah rumah tangga maupun limbah industri dan rumah sakit. Tidak ada solusi
yang konkrit dalam pengelolaannya, maka potensi pencemaran tanah secara fisik akan
berlangsung dalam kurun waktu sangat lama.
2. Sistem Pengelolaan Sampah Dan Kebijakan Pemerintah.
Alam secara fisik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam
mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan sehat menjadi tidak baik dan tidak sehat
dan dapat pula sebaliknya, apabila pemanfaatanya tidak sesuai dengan kemampuan serta
melihat [Link] pula dengan sampah, dapat membuat hidup jadi tidak sehat.
Karena itu sampah harus dapat diolah dengan baik agar tidak menimbulkan berbagai
penyakit.

Faktor internal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah minimnya kualitas
SDM yang berakibat fatal pada buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini
terbukti sudah tidak lagi mampu menampung kuantitas sampah yang semakin besar.
Penyebab utamanya adalah selama ini pengelolaan sampah cenderung menggunakan
pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada pendekatan sumber.

Kedua, faktor penyebab secara EKSTERNAL. Faktor penyebab eksternal yang


paling klasik terdengar adalah minimnya lahan TPA yang hingga saat ini memang
menjadi kendala umum bagi kota-kota besar. Akibatnya, sampah dari kota-kota besar ini
sering dialokasikan ke daerah-daerah satelitnya seperti TPA Jakarta yang berada di daerah
Bekasi, Depok, dan Tangerang serta TPA Bandung yang berada di Cimahi atau di
Kabupaten Bandung. Alasan eksternal lainnya yang kini santer terdengar di media massa
adalah aksi penolakan keras dari warga sekitar TPA yang merasa sangat dirugikan dengan
keberadaan TPA di [Link] satu kelemahan pengelolaan sampah di TPA adalah
masalah minimnya kualitas SDM yang berakibat fatal pada buruknya teknologi
pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah tidak lagi mampu menampung kuantitas
sampah yang semakin besar. Penyebab utamanya adalah selama ini pengelolaan sampah
cenderung menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan mengacu pada
pendekatan sumber.

Secara umum, pemerintah daerah dalam menanggulangi masalah sampah


seharusnya mempunyai rencana pengelolaan lingkungan hidup yang baik bagi warga
sekitar. Dimana dalam menyusun pengelolaan lingkungan ada 3 faktor yang perlu
diperhatikan dan tidak dapat dipisahkam yaitu:

a. Siapa yang akan melakukan pengelolaan lingkungan dan pengelolaan lingkungan apa
yang harus dilakukan
b. Sesuai dengan dampak yang diduga akan terjadi, maka akan ditetapkan cara
pengelolaan yang bagaimana yang akan dilakukan atau teknologi apa yang akan
digunakan agar hasilnya sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah

c. Karena berbagai institusi termasuk pemilik proyek yang akan melakukan pengelolaan
lingkungan hidup secara terpadu, maka teknologi yang akan digunakan tergantung
pada kemampuan biaya yang akan dikeluarkan, terutama kemampuan dari pemilik
proyek sebagai sumber pencemar.

Permasalahan umum yang terjadi pada pengelolaan sampah kota di TPA ,


khususnya kota-kota besar adalah adanya keterbatasan lahan, polusi, masalah sosial dan
lain-lain. Karena itu pengelolaan sampah di TPA harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:

 Memanfaatkan lahan yang terbatas dengan efektif


 Memilih teknologi yang mudah, dan aman terhadap lingkungan
 Memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa dijual dan memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat
 Produk harus dapat terjual habis.

Karena itu, untuk memenuhi kriteria tersebut diatas, teknologi yang layak dalam
pengelolaan sampah di TPA bantar gebang dan untuk diterapkan adalah kombinasi dari
berbagai teknologi serta penunjang lainya yaitu :

 Teknologi landfill untuk produksi kompos dan gas metan


 Teknologi anaerobik komposting dranco untuk produksi gas metan dan kompos
 Incinerator untuk membakar bahan anorganik yang tidak bermanfaat serta
pengeringan kompos
 Unit produksi tenaga listrik dari gas metan
 Unit drainase dan pengolah air limbah

Dalam menangani masalah sampah dikota jakarta, pemerintah dalam hal ini
membuat kebijakan-kebijakan, dimana masalah sampah tersebut juga merupakan masalah
lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup merupakan masalah pemerintah dan
juga masyarakat, namun perlu disadari untuk semua hal yang berkaitan dengan jenis
pencemaran (sampah) atau perusakan lingkungan telah dijadikan permasalahan, dimana
faktor penyebabnya antara lain:

 Kurangnya kesadaran masyarakat.


 Kurangnya masyarakat dalam melakukan tindakan.
 Kurangnya pengetahuan masyarakat untuk menangani masalah lingkungan.
 Keterbatasan sarana dan prasarana dari pemerintah.
Dengan mencermati permasalahan yang terjadi maka pemerintah mencoba
berbagai terobosan yang efektif dan efisien (tepat guna dan tepat sasaran). Sejauh ini,
berbagai solusi terus-menerus diupayakan meskipun dalam perkembangannya berbagai
kendala kerapkali dijumpai. Solusi-solusi yang sejauh ini telah diupayakan melalui
sejumlah program kerja antara lain dalah pelaksanaan regionalisasi pengelolaan sampah
melalui program GBWMC (Great Bandung Waste Management). Terdapat 4 poin dalam
nota kesepahaman itu, yaitu :

 pengelolaan sampah bersama secara terpadu di kawasan Bandung metropolitan


 membentuk wadah yang mandiri dalam pengelolaan sampah terpadu
 percepatan pembentukan wadah mandiri dengan membentuk tim perumus yang
terdiri dari 5 wilayah tersebut
 nota kesepahaman ini berlaku hingga terbentuknya wadah yang mandiri tersebut

V. KESIMPULAN

Dalam tulisan ini dari uraian yang disampaikan diatas, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:

1. Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya akan


mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya, disamping itu juga
mempengaruhi atau merusak ekologi disekitarnya yang diantaranya adalah terjadinya
pencemaran air, udara, tanah. Dan akibat dari pencemaran tersebut warga sekitar
mudah terserang penyakit.

2. Sistem pengelolaan sampah yang digunakan ini sudah ketinggalan zaman yang salah
satunya menggunakan landfill system dimana dalam sistem tersebut membutuhkan
lahan yang luas untuk sampah. Disamping itu pemerintah harus dapat membuat
kebijakan baik internal maupun eksternal. Faktor Internal dimana minimnya kesadaran
warga untuk bertanggung jawab terhadap permasalahan sampah di lingkungan rumah
tangganya sendiri, rendahnya SDM. Sedangkan yang mempengaruhi faktor eksternal
adalah minimnya lahan pembuangan sampah serta tidak ketatnya pemerintah baik
pusat maupun daerah membuat aturan masalah sampah.

Anda mungkin juga menyukai