0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
231 tayangan29 halaman

Pelatihan Team Building untuk UKM Depak

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: Divisi marketing Bank X bertugas memasarkan dan mempertahankan nasabah. Tim marketing mengalami permasalahan seperti komunikasi yang kurang lancar dan kerja sama yang kurang. Team building training diharapkan dapat meningkatkan kerja sama tim dan kinerja organisasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
231 tayangan29 halaman

Pelatihan Team Building untuk UKM Depak

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: Divisi marketing Bank X bertugas memasarkan dan mempertahankan nasabah. Tim marketing mengalami permasalahan seperti komunikasi yang kurang lancar dan kerja sama yang kurang. Team building training diharapkan dapat meningkatkan kerja sama tim dan kinerja organisasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Pengantar

Divisi Marketing merupakan salah satu tim ada di Bank X Cabang Bantul. Divisi marketing
bertugas dan bertanggung jawab untuk memasarkan produk perbankan kepada calon nasaba atau
nasabah yang sudah ada. Kemudian divisi marketing juga berkewajiban untuk memaintain dan
mempertahankan nasabah existing. Disamping itu juga melaksanakan pemasaran dan penjualan
produk dana dan jasa sesuai target yang ditetapkan dan melakukan cross selling untuk peningkatan
portofolio dana dan jasa lainnya. Merencanakan kunjungan-kunjungan dan pertemuan-pertemuan
dengan calon nasabah ataupun nasabah dalam rangka mendapatkan dana pihak ketiga (customer
call).
Berdasarkan asesmen yang dilakukan di tim marketing, diketahui terdapat beberapa
permasalahan yang menjadi penghambat kinerja organisasi. Dari aspek personal menunjukkan
kurangnya kedekatan, rasa kepemilikian/kepedulian anggota terhadap organisasi, anggota kurang
responsible, komunikasi yang kurang lancar, dan kurangnya kerja sama anggota merupakan
penyebab timbulnya berbagai hambatan serta permasalahan di organsiasi seperti terhambatnya
beberapa program kerja yang semestinya sudah harus berjalan. Kondisi kualitas teamwork di UKM
Depak saat ini masih sebatas paham arti kata saja, belum benar-benar diterapkan dalam
penyelesaian tugas organisasi. Mereka menganggap teamwork yang ada adalah bekerja bersama
belum sampai kepada tahap saling bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Hoegl dan Geumenden (2005) mendefinisikan tim sebagai sebuah sistem sosial yang terdiri
dari tiga orang atau lebih yang terdapat dalam sebuah organisasi yang memiliki keterkaitan satu
sama lain untuk mencapai tujuan yang sama. Tim berbeda dengan kelompok karena dalam sebuah
tim terdapat struktur, tujuan, dan ketergantungan antar anggota (Forsyth, 2010). Interaksi antar
anggota yang dibangun dalam tim dilakukan melalui hubungan komunikasi dan koordinasi (Hu,
Horng, & Sun, 2009). Adanya teamwork dalam organisasi dapat memberikan pencapaian yang luar
biasa bagi setiap anggota organisasi (Parker, 2007). Teamwork yang berkualitas, akan membentuk
keseimbangan pada anggota tim dengan memunculkan atau menciptakan rasa ketertarikan untuk
memberikan kontribusi dan partisipasi dalam rangka mengembangkan lingkungan kerja yang positif
dan efektif. DeGrosky (2006) mengatakan bahwa kualitas teamwork yang baik dalam organisasi
dapat meningkatkan partisipasi dan inovasi, pengurangan kesalahan, peningkatan kualitas,
peningkatan kemampuan reaksi, efisiensi biaya, pelayanan konsumen yang lebih baik, serta
meningkatkan kepuasan anggota.
Team building training merupakan sebuah proses pembelajaran yang bertujuan untuk
meningkatkan fungsi internal kelompok seperti kerja sama diantara sesama anggota tim
meningkatkan kualitas komunikasi dan mengurangi konflik (Kreitner & Kinicki, 2008). Pelatihan ini
dilakukan agar dapat memeriksa tentang bagaimana anggota bekerja sama selama ini, menemukan
kesenjangan dan kelemahan tim, dengan membandingkan cara bekerja yang ideal dalam
menjalankan organisasi secara efektif. Teknik ini cocok diterapkan karena bertujuan untuk
meningkatkan perilaku dan afeksi pada individu. Menurut Silberman (2006) keuntungan dari
metode ini adalah peserta didorong untuk berhadapan langsung dengan sikap dan nilai yang dianut
oleh pribadi masing-masing anggota.
Pemberian Team building Training pada UKM Depak merupakan bentuk khusus dari
membantu para anggota meningkatkan hubungan dalam tim, meningkatkan keterampilan
interpersonal, keterampilan dalam mengatasi masalah, membantu kelompok memperbaiki cara
mereka menyelesaikan permasalahan dan meningkatkan kerja sama tim. Team building dapat
membantu kelompok untuk menyelesaikan masalah tertentu di dalam kelompok, seperti kurangnya
komitmen anggota secara umum, hilangnya produktivitas, semakin banyak keluhan di dalam
kelompok, kebingungan tentang tugas, rendahnya partisipasi dalam pertemuan, kurang adanya
inovasi dan inisiasi, dan lain-lain. Team Building akan terasa apabila terdapat kerjasama yang sinergi
dan saling menyadari kekurangan maupun kelebihan setiap anggota kelompok sebagai sumber
kekuatan tim. Cara yang dapat dilakukan oleh anggota adalah saling mengisi, menjalin kekompakan
diatas perbedaan, tenggang rasa, dan pengertian untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini kepekaan
untuk bertoleransi, mengetahui potensi, mengetahui kelemahan dan kekuatan diri maupun anggota
tim lainnya. Saling mengisi dan bersinergi diperlukan dalam menjalin kekompakan tim.
B. Landasan Teori

McShane dan Von Glinow (2018) mendefinisikan team building sebagai sebuah proses yang
terdiri dari kegiatan formal yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengembangan dan fungsi tim
kerja. Definisi lain menyebutkan bahwa team building adalah sebuah proses pembelajaran dengan
pendekatan experimental yang bertujuan meningkatkan fungsi internal kelompok seperti
kerjasama, komunikasi yang lebih baik, serta mengurangi konflik disfungsional antar sesama
anggota organisasi (Kreitner & Kinicki, 2008). Lebih lanjut, Glover (2005) dalam bukunya The
Essentials of Team Building mengungkapkan bahwa team building adalah proses dimana
sekumpulan individu berusaha untuk memecahkan masalah atau tantangan baik fisik maupun
mental. Selagi menggunakan proses tersebut untuk memecahkan suatu masalah, tim tersebut juga
belajar bagaimana berbagi ide dan mendorong satu sama lain baik secara fisik maupun emosional.
Melalui team building anggota tim diajak untuk melihat, merasakan dan memperbaiki apa yang
kurang dan
meningkatkan apa yang sudah baik. Para partisipan didorong untuk melihat dan memperbaiki
bagaimana mereka bekerja sama selama ini di organisasi, menemukan kesenjangan dan kelemahan
dalam pekerjaan baik secara individu maupun bersama-sama, memberikan gambaran cara bekerja
sama yang ideal serta membangun action plans untuk mengimplementasi cara bekerja sama yang
efektif di organisasi (Nurina 2012).
Adapun prinsip team building antara lain pertama, mendefinisikan dan mengkomunikasikan
tujuan tim. Tujuan tim seharusnya mudah dimengerti dan membolehkan seluruh anggota tim untuk
berkontribusi, berdasarkan kemampuan dan pengalaman mereka. Kedua, yaitu lead by example.
Leading by example berarti memperlihatkan perilaku profesional kepada semua orang, baik di
dalam maupun di luar tim. Dengan memperlihatkan bagaimana bersikap baik dalam tim, anggota
lain bersikap seperti halnya demikian. Ketiga, yaitu value all contribution. Tim yang memiliki
anggota lebih dari enam orang akan sulit menyadari kontribusi setiap anggotanya. Sehingga
seorang ketua tim harus bisa memperlihatkan bahwa dirinya menilai kontribusi anggotanya dan
melihat peran mereka dalam tim. Dengan melakukan hal yang demikian, setiap orang dalam tim
akan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang membuat timnya menjadi lebih baik dan mampu
mencapai tugas kelompok. Keempat, yaitu reward success. Menghargai kontribusi setiap anggota
serta menyadari keberadaan anggota tim dengan karakter serta tujuannya adalah suatu hal
penting. Dalam penelitian yang dilakukan Astuti (2018) diketahui bahwa semakin mampu
organisasi memberikan reward/apresiasi kepada anggotanya maka mereka akan dapat bekerja
dengan baik sehingga hal ini dapat meningkatkan kinerjanya di dalam organisasi. Lebih lanjut,
penelitian yang dilakukan oleh Darokah (2015) menunjukkan bahwa penerapan intervensi team
building dalam kelompok dapat meningkatkan kohesivitas tim kerja yang dapat dilihat dari
timbulnya sikap saling percaya serta mampu menemukan solusi permasalahan yang sedang
dihadapi dalam kelompok.
C. Sasaran

Seluruh anggota UKM Depak Politeknik LPP

D. Tujuan

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan sebagai upaya peningkatan serta pengembangan guna
tercapainya kemajuan serta efektivitas kelompok pada UKM Depak Politeknik LPP sehingga melalui
kegiatan ini diharapkan akan membantu proses membangun sinergi diantara para anggota,
meningkatkan keterampilan interpersonal, dan komitmen dalam berorganisasi.
E. Manfaat

1. Membantu anggota tim agar dapat berkomunikasi dengan baik dan efektif antara satu
dengan yang lain.
2. Meningkatkan bonding antar anggota dan kedekatan individu satu dengan yang lain di dalam
organisasi.
3. Menambah pengetahuan mengenai keterampilan komunikasi dan sikap kerjasama yang baik di
dalam organisasi.
4. Meningkatkan hubungan serta komitmen organisasi dari dalam diri anggota agar dapat
mencapai tujuan UKM Depak.
F. Rancangan Pelaksanaan

Waktu Durasi Activities Objectives Method

09.00-09.15 15 Pembukaan Membuka Kegiatan

09.15-09.30 15 Perkenalan Peserta mengenal fasilitator &


saling mengenal antar peserta

09.30-10.15 45 Learning Contract: Mengetahui harapan peserta Diskusi


Bintang Harapan yang bisa difasilitasi dalam
pelatihan ini, dan menyepakati
aturan selama pelatihan.

10.15-10.30 15 Pretest Mengetahui sejauh mana Kuis: Kahoot


kemampuan peserta sebelum
pelatihan

10.30-11.15 45 Energizer Peserta dapat memahami secara Permainan


Sesi 1 mendalam mengenai dirinya dan diskusi
Tak Kenal Maka sendiri beserta peserta yang lain
tak Sayang dan mendapatkan pembelajaran
mengenai
pentingnya memahami orang
lain.

11.15-12.00 45 Sesi 2 Membangun hubungan antar


Gather: Build Your individu dan atau kelompok yang Pemamparan
Sense didasarkan pada rasa saling materi dan
percaya, kesamaan tujuan dan diskusi
of cita-cita, saling menghargai,
belonging keterikatan
bersama dalam kehidupan yang
diperkuat oleh pengalaman
emosional
bersama sehingga setiap
individu/anggota dapat
memiliki rasa tanggung jawab
dalam melakukan perannya dan
terlibat dengan organisasi.

12.00-13.00 60 ISHOMA

13.00-13.45 45 Sesi 3 Peserta memahami apa itu Pemamparan


Komunikasi komunikasi efektif, memahami materi dan
Efektif faktor-faktor agar komunikasi permainan
dapat berjalan dengan lancar,
memahami kebiasaan negatif
dalam berkomunikasi,
memahami hal-hal yang harus
diperhatikan dalam
berkomunikasi, serta paham.
Langkah-langkah melakukan
komunikasi efektif.

13.45-14.30 45 Sesi 4 Exploration: Mendorong peserta untuk


What being in a memeriksa bagaimana mereka Pemamparan
team makes bekerja sama selama ini, materi,
menemukan kesenjangan dan permainan
kelemahan dalam tim kerja,
memberikan gambaran
mengenai cara bekerja sama
yang ideal dan membangun
rencana tindakan untuk
mengimplementasikan cara
bekerja yang efektif.

14.30-14.45 15 Post Test Mengetahui sejauh mana Kuis: Kahoot


kemampuan peserta setelah
pelatihan dilaksanakan

14.45-15.00 15 Penutup Menutup Kegiatan


Sesi I

Materi 1: Memahami diri dan orang lain (Tak Kenal Maka Tak Sayang)

A. Tujuan

Peserta dapat memahami dan mengenali diri sendiri beserta peserta lain dan
mendapatkan pembelajaran mengenai pentingnya memahami orang lain.
B. Prosedur

1. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok.

2. Setiap anggota diminta menuliskan nama masing-masing di selembar kertas HVS dengan huruf
kapital dan berukuran besar sehingga mudah dilihat orang lain.
3. Kertas tersebut dipegang di depan dada agar dapat terlihat oleh peserta yang lain.

4. Peserta diminta untuk mengurutkan panjang dan pendeknya nama dilihat dari jumlah
hurufnya. Jadi mereka harus saling melihat nama-nama anggota lainnya untuk dapat
menentukan urutan yang tepat. Jika jumlah sama maka diurutkan berdasarkan abjad.
5. Setelah semua urutan terbentuk masing-masing kemudian menunjukkan nama ke semua
peserta.
6. Setelah semua kelompok menunjukkan urutan yang benar, peserta diminta menggeser tulisan
nama tersebut ke peserta satu kelompoknya.
7. Peserta lain yang menerima kertas bertuliskan nama rekan kelompoknya menuliskan saran,
kelebihan, ataupun kekurangan yang dimiliki peserta yang namanya tertulis pada lembar
kertas yang mereka terima.
8. Setelah pengisian lembar selesai, dilakukan debriefing dan fasilitator memberikan ceramah
mengenai materi Johari Window.
C. Metode: Permainan, ceramah, diskusi, dan presentasi peserta

D. Waktu: 45 menit

E. Bahan

1. LCD + materi

2. Kertas HVS

3. Alat tulis
Sesi II

Materi 2: Gather: Build Your Sense of Belonging (Menumbuhkan Rasa Saling Memiliki)

A. Tujuan

Membangun hubungan antar individu dan atau kelompok yang didasarkan pada rasa saling
percaya, kesamaan tujuan dan cita-cita, saling menghargai, keterikatan bersama dalam kehidupan
yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama sehingga setiap individu/anggota dapat
memiliki rasa tanggung jawab dalam melakukan perannya dan terlibat dengan organisasi.
B. Prosedur

1. Peserta diminta untuk menuliskan dan menceritakan “Lingkungan seperti apa yang diharapkan
di dalam tim/organisasinya”
2. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil

3. Fasilitator memberikan analisis kasus dan setiap kelompok kemudian bersama-sama


mendiskusikannya
4. Fasilitator menyampaikan materi mengenai sense of belonging

C. Metode: Diskusi dan materi

D. Waktu: 45 menit

E. Bahan

1. LCD + Materi

2. Lembar Kerja

3. Alat Tulis
Sesi III Komunikasi
Efektif
A. Tujuan

Mendorong peserta untuk dapat memahami teknik berkomunikasi yang efektif dengan teman satu
tim, serta mampu mengidentifikasi berbagai strategi komunikasi yang efektif.
B. Prosedur

1. Fasilitator mengajak peserta bermain game terkait pentingnya komunikasi dalam tim

2. Fasilitator memberikan materi cara melakukan komunikasi yang efektif dalam kelompok

1. Fasilitator memberikan materi membangun komunikasi tim yang baik dan efektif

C. Metode: Permainan dan Diskusi

D. Waktu: 30 menit

E. Bahan

1. LCD + materi

2. Lembar kerja

3. Alat tulis
Sesi IV

Strategi team building dan proses membangun komitmen

A. Tujuan

Tujuan dari program pelatihan membangun kerja sama tim di lingkungan organisasi yaitu
membangun tim yang solid dengan meningkatkan rasa memiliki serta kepercayaan terhadap nilai-
nilai organisasi, membangun komunikasi yang efektif dan kekompakan antar anggota tim,
membangun pribadi yang proaktif, positif, percaya diri, tangguh, dan kreatif dan meningkatkan
performance sebagai satu tim.
B. Prosedur

3. Fasilitator memberikan pemaparan materi

4. Fasilitator mengajak diskusi terkait keadaan organisasi.

5. Fasilitator mengajak bermain game untuk meningkatkan kekompakan antar anggota.

C. Metode: Pemaparan materi dan game

D. Waktu: 30 menit

E. Bahan

1. LCD + Materi

2. Kertas HVS

3. Alat tulis
MATERI TRAINING

1. Tak Kenal Maka Tak Sayang

Johari Windows atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari
self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan
oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita
memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi. Selain itu, juga merupakan
model untuk mendapatkan dan memberi umpan balik (Biech, 2008). Johari Awareness Model terdiri
dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu:

LEMBAR TUGAS JOHARI WINDOWS


Known to Self Not Known to Self

Known to Others Open Blind

Not Known to
Others Hidden Unknown

a. Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri
kita sendiri dan orang lain.
b. Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang
lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.
c. Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh
diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.
d. Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak
diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.
Untuk dapat saling bekerja sama dengan baik, maka setiap anggota tim harus mengenal satu
sama lain. Jika masing-masing anggota tim saling mengenal, maka akan lebih mudah untuk saling
berkomunikasi. Jika terjalin komunikasi yang baik di antara anggota tim, maka kinerja juga
diharapkan akan semakin baik. Dengan komunikasi yang baik, maka dapat dibuat rencana kerja
yang efektif. Jika terdapat masalah atau hambatan, maka akan bisa segera dicari jalan keluarnya,
agar masalah tidak berkembang menjadi konflik yang berkepanjangan.
2. Gather: Build Your Sense of belonging

Kunci keberhasilan: Rasa saling memiliki/saling percaya (sense of belonging)

Suatu organisasi akan maju jika semua pihak mampu terlibat dan saling bersinergi untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Dimana dalam hal ini salah satu kunci keberhasilan membangun
kerjasama tim yaitu adanya sense of belonging. Sense of belonging merupakan perasaan seseorang
ketika mereka telah merasa dilibatkan, dianggap, dan didukung sebagai bagian dari suatu
kelompok. Hagerty & Patusky (1995) mendefinisikan sense of belonging sebagai pengalaman
keterlibatan pribadi dalam sistem atau lingkungan sehingga individu merasa dirinya menjadi bagian
integral dari lingkungan tersebut. Adapun faktor yang mempengaruhi sence of belonging
diantaranya familieritas, kepercayaan dan kemiripan yang dimiliki di antara anggota (Zhou dkk,
2012). Sense of belonging menjadi sebuah kunci untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi,
dimana rasa memiliki tersebut menjadi penggerak bagi para anggotanya untuk memiliki etos kerja
yang tinggi, bekerja secara kreatif, profesional dan maksimal. Membangun sense of belonging:
a. Membangun Kepercayaan

Kepercayaan berpusat pada dua kategori yaitu:

1) Kepercayaan kognitif, merupakan tahap awal membangun hubungan yang kuat.


Kepercayaan kognitif bisa terbentuk dengan menanamkan dan mengajarkan kepada
orang lain bahwa organisasi tempat mereka bernaung adalah wadah yang tepat bagi
mereka. (ex: menyambut anggota baru dengan mengenalkan pada forum, mengajarkan
etika, norma/budaya)
2) Kepercayaan afektif, merupakan unsur membangun hubungan dengan orang lain yang
dilandasi rasa pengertian satu sama lain. Kepercayaan afektif daapt tercapai dengan
meluangkan waktu untuk mengenal orang lain yang menjadi rekan kerja kita, memahami
latar belakangnya, keterampilan, minat, menunjukkan rasa hormat, perhatian dan juga
kehangatan.
b. Melakukan diskusi terbuka (sharing)

Ketidaktahuan merupakan salah satu masalah yang menghambat setiap individu yang
menjadi anggota organisasi. Dalam hal ini, individu yang mnejadi anggota organisasi pada
umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengenai orang lain yang bekerja
dengan dirinya. Untuk itu, diskusi terbuka yang rutin dilakukan akan membuat anggota merasa
bahwa dirinya merupakan bagian dari organisasi.
c. Membangun budaya inklusivitas

Inkluisivitas merupakan konsep yang mengajarkan empati, sikap positif, dan inklusif
terhadap orang lain tanpa memandang latar belakag, perbedaan geografis, dan lainnya.
Membangun budaya yang mengedepankan inklusivitas dengan proaktif akan membuat
individu merasa bahwa organisasi bersikap adil dan tidak ada anggota yang dianggap spesial
atau istimewa dalam organisasi.
d. Menjaga fokus anggota organisasi

Salah satu hal penting yang dilakukan organisasi adalah melibatkan anggota dalam segala
aspek kegiatan organisasi sehingga para anggota merasa seperti mereka memiliki andil dalam
setiap kegiatan yang dilakukan dan kehadiran mereka juga berhasil membawa perubahan
dalam organisasi.
e. Memberikan apresiasi kepada anggota

Apresiasi merupakan unsur yang dapat membangun sense of belonging. Adanya apresiasi
yang diberi membuat anggota merasa dihargai dan merasa bahwa kontribusi mereka berperan
penting dalam pengembangan organisasi. Apresiasi dapat berupa ucapan sederhana yang
menyentuh dan membakar semangat anggota.
f. Meningkatkan ikatan sosial

Ketika individu memiliki hubungan akrab dengan orang yang bekerja bersama dirinya,
maka ia akan merasa memiliki hubungan yang lebih juga dengan organisasi secara
keseluruhan. Agar antar anggota merasa dekat dan memiliki keterhubungan satu sama lain hal
ini dapat dilakukan misalnya dengan mengadakan acara makan bersama dan lain-lain.
g. Menyamakan visi dan misi

Setiap anggota pasti memiliki opini dan prinsip yang berbeda-beda. Meskipun demikian
jika setiap individu memiliki visi dan misi yang sama maka perbedaan tersebut dapat diatasi
dengan mudah. Untuk itu, dalam menentukan visi dan misi hendaknya dilakukan bersama-
sama dengan anggota organisasi. Dengan terciptanya visi missi yang sama, serta bersatuna
pemikiran seluruh anggtoa maka setiap anggota dapat
memiliki sense of belonging terhadap organisasi. Anggota akan merasa bahwa organisasi
sejalan dengan dirinya dan pada akhirnya merasa memiliki dan terikat.
Kebutuhan akan rasa memiliki atau sense of belonging sejak lama telah dianggap sebagai
motivasi dasar manusia dan merupakan kontrak yang penting untuk semua aspek psikologi.
Kebutuhan tersebut berupa keinginan individu untuk membentuk hubungan sosial dan menghindari
gangguan di dalam hubungan serta individu memiliki kebutuhan untuk menjalin interaksi positif
dengan orang lain (Baumeister & Leary, 1995). Pentingnya sense of belonging dibutuhkan oleh
setiap anggota di organisasi sehingga tercipta rasa bertanggung jawab dan upaya yang tulus dalam
setiap kinerja anggota. Setiap orang perlu merasa diterima, dilibatkan, didengar, dan menjadi
bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.

3. Komunikasi Efektif

Komunikasi adalah proses mengemukakan pesan, informasi, gagasan, dan pendapat oleh
komunikator kepada komunikan dengan mengharapkan feedback (Susanto, 1980). Komunikasi
efektif adalah komunikasi yang dilakukan oleh seseorangkepada orang lain di mana respons atau
efek yang terjadi pada komunikan (baik kognisi, afeksi, psikomotorik) sesuai dengan tujuan
komunikator. Komunikasi dikatakan efektif dalam pembelajaran apabila ada aliran informasi dua
arah antara pendidik dengan peserta didik dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai
dengan harapan kedua pelaku komunikasi (Majid, 2013). Proses komunikasi efektif: persepsi →
interpretasi → memahamkan → aksi.
Fungsi Komunikasi antara lain:

1. Membangun konsep diri

2. Menghubungkan antara satu orang dengan yang lainnya

3. Sebagai sarana kelangsungan hidup

4. Sebagai sarana untuk eksistensi diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi berjalan lancar

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sebagai makhluk sosial kita tidak lepas dari interaksi
dengan orang lain. Komunikasi efektif membantu kita dalam berinteraksi dengan orang lain.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi berjalannya komunikasi antara lain:
1. Faktor media

Faktor media meliputi: isi pesan yang disampaikan, bahasa, media yang digunakan untuk
berkomunikasi apakah komunikasi secara langsung dengan tatap muka, atau komunikasi
dengan media sosial.
2. Faktor psikologis

Faktor psikologis meliputi bagaimana sikap kita ketika menyampaikan pesan atau melakukan
komunikasi dengan orang lain, pengalaman hidup, motivasi, kepribadian, dan konsep diri.
3. Faktor sosial

Faktor sosial meliputi: usia, jenis kelamin, bahasa, dan peran sosial.

Kebiasaan negatif dalam berkomunikasi

Ketika melakukan komunikasi dengan orang lain sebaiknya dalam kondisi yang cermat baik pikiran,
perasaan, dan sikap. Adapun kebiasaan negatif yang harus dihindari ketika sedang melakukan
komunikasi atau interaksi dengan orang lain:
1. Sibuk dengan ponsel

2. Membicarakan keburukan orang lain

3. Memotong pembicaraan orang lain

4. Tidak memperhatikan lawan bicara dan membuang muka

5. Menggunakan istilah atau bahasa yang sulit dipahami oleh orang lain

6. Tidak menghargai lawan bicara

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi

1. Kontak mata. Kontak mata perlu diperhatikan, jangan sampai kita terlalu sering mengalihkan
kontak mata atau secara terus-menerus menatap lawan bicara yang menimbulkan kesan
seperti sedang diinvestigasi.
2. Ekspresi wajah. Ekspresi wajah mencerminkan kepribadian seseorang. Ekspresi wajah
mengungkapkan pikiran yang sedang melintas pada diri sendiri.
3. Postur tubuh. Gerak-gerik saat berbicara dengan orang lain perlu diperhatikan agar tetap
proporsional dan mampu menunjukkan kredibilitas kita sebagai penyampai pesan.
4. Sikap. Sikap merupakan cerminan kepribadian kita dalam menghargai lawan bicara.
Bersikaplan yang wajar dan tidak berlebihan. Dalam berkomunikasi kita perlu menghargai,
memuji, dan beramah tamah dengan lawan bicara.
Langkah-langkah melakukan komunikasi efektif

1. Kenali konsep diri anda

2. Kenali kelebihan dan kekurangan anda

3. Tetapkan tujuan komunikasi

4. Persiapkan poin-poin pembicaraan

5. Kuasai tema pembicaraan

6. Hargailah perbedaan pendapat

7. Empati terhadap lawan bicara

8. Ketika berbicara sebaiknya menggunakan kalimat yang efektif

9. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami

10. Perhatikan tempo dan tinggi rendahnya nada bicara

11. Hindari menggumam

12. Hindari humor yang berlebihan

4. Exploration: What Being in a Team Makes

Organisasi atau lembaga merupakan gambaran sebuat tim, dimana keberlangsungan sebuah
organisasi sangat bergantung pada individu yang ada di dalamnya. Tujuan yang dibentuk dan ingin
dicapai oleh organisasi tidak akan terwujud jika tiap individu di dalamnya bekerja sendiri-sendiri.
Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika mereka bergerak dengan ego masing-masing,
mementingkan kepentingan sendiri, dan tidak mau mendengan pendapat orang lain, apalagi tidak
selaras dengan arah organisasi. Untuk itu, agar suatu organisasi dapat maju dibutuhkan kerjasama
dari semua pihak/anggota agar terlibat dan saling bersinergi dalam mencapai tujuan yang
diinginkan.
Mengapa Team Work Penting?

Teamwork merupakan sarana yang sangat baik dalam menggabungkan berbagai talenta dan
dapat memberikan solusi inovatif suatu pendekatan yang mapan. Selain itu, ketrampilan dan
pengetahuan yang beranekaragam yang dimiliki oleh anggota kelompok juga merupakan nilai
tambah yang membuat teamwork lebih menguntungkan jika dibandingkan seorang individu yang
brilian sekalipun.
Keuntungan Pengambilan Keputusan dalam Tim

a. Keputusan yang dibuat secara bersama-sama akan meningkatkan motivasi tim dalam
pelaksanaannya.
b. Keputusan bersama akan lebih mudah dipahami oleh team dibandingkan jika hanya
mengandalkan keputusan dari satu orang saja.
Membangun Kerjasama Tim yang Efektif:

a. Punya visi misi yang sama

Sebuah tim tidak akan bisa bekerja dengan baik dan efektif jika setiap anggotanya memiliki visi
dan tujuan yang berbeda. Karena itu, dari mulai pimpinan hingga anggota tim harus memiliki
visi dan misi yang sama sehingga dalam setiap tindakan yang diambil berdasarkan dari visi dan
misi tim, bukan visi dan misi individu.
b. Bangun rasa saling percaya

Tidak akan ada kerja tim yang sukses jika anggotanya tidak saling percaya. Rasa percaya ini akan
menegaskan bahwa tugas yang diemban setiap orang pasti berbeda kadarnya. Setiap anggota
tim akan yakin bahwa tugas yang dibebankan kepada rekan satu tim akan terlaksana dengan
baik dan sesuai kemampuan masing-masing.
c. Komunikasi yang intens

Lakukan komunikasi secara intensif, baik melalui rapat atau pertemuan lain yang dilakukan oleh
seluruh anggota organisasi. Sehingga setiap orang akan mengerti tugas dan target yang harus
dilaksanakan. Komunikasi antar anggota tidak perlu harus selalu bertatap muka. Saat ini sudah
banyak aplikasi komunikasi yang bisa digunakan seperti WhatsApp, Line, atau yang lainnya.
Manfaatkan fasilitas tersebut untuk menjalin komunikasi yang intensif.
d. Adakan kegiatan rutin bersama

Dalam usaha membangun kerja tim yang solid, tentu harus sering melakukan kegiatan bersama.
Mulailah dari yang ringan seperti makan siang bersama, kegiatan olahraga bersama yang
melibatkan seluruh anggota tim, mengikuti kajian-kajian, membuat acara- acara tertentu, dan
lainnya. Kegiatan ini akan membentuk chemistry dan kerjasama yang kuat diantara sesama
anggota tim.
e. Pahami peran dan tanggung jawab

Setiap anggota tim mempunyai peran dan tanggung jawab yang berbeda. Membangun kerja
tim yang kompak dan efektif butuh pemahaman tentang peran dan tanggung jawab sehingga
para anggota dapat fokus dalam menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya.
f. Saling menghormati dan menghargai

Perbedaan pendapat dan perselisihan adalah sebuah hal yang wajar terjadi dalam sebuah tim.
Justru dari perbedaan itu, tim akan semakin kaya dengan ide dan pemikiran yang bisa
memudahkan jalan menuju target yang diinginkan. Masing-masing anggota harus saling
menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan menghargai hak- hak orang lain dalam.
Make commitment easy to apply: mengatasi tantangan dalam membangun dan mempertahankan
komitmen dalam organisasi

1. Pemimpin harus mengkomunikasikan hasil yang sudah dilakukan, baik itu baik atau buruk; dan
semua orang pada halaman yang sama. Mengetahui fakta, dan semua orang pada halaman
yang sama akan membuat komitmen lebih mudah.
2. Membuat keputusan yang mungkin saja salah, anggota yang takut salah cenderung akan
mengerjakan sesuatu yang tidak inovatif atau menghasilkan pekerjaan yang baik.
Komunikasikan bahwa boleh untuk membuat kesalahan dan dorong anggota untuk
mengkomunikasikan jika ada sesuatu yang berpotensi untuk terjadi kesalahan.
3. Pastikan anggota merasa dihargai ketika anggota tim merasa bahwa pekerjaan mereka
memberikan kontribusi yang berharga untuk organisasi, mereka akan cenderung lebih
berkomitmen. Jadi, berikan apresiasi kepada timmu atas apa yang sudah mereka kerjakan.
4. Ketika anggota tim merasa dipaksa dalam melakukan suatu projek, mereka akan susah untuk
berkomitmen. Mereka akan berdebat tanpa henti dan kamu akan merasa dalam konflik.
Dengan mengizinkan anggota memiliki pekerjaan mereka dalam tim, mereka cenderung
memberikan yang terbaik dan berkomitmen dalam kegiatan.
5. Pastikan kejelasan antara peran dan tanggung jawab. Diskusikan antar sesama apa peran dan
tanggung jawab satu sama lain. Bicarakan juga talenta dan kekuatan serta apa yang mereka
sukai. Sebisa mungkin, susun tugas dan tanggung jawab berdasarkan kekuatan dan
keteratarikan anggota.
6. Tumbuhkan rasa kepercayaan sebagai pemimpin, ikuti apa yang kamu katakan kamu akan
lakukan dan bertanggung jawab atas hal tersebut.
7. Berikan pujian Dengan memberikan pujian dapat membuat anggota lebih percaya diri dan
dapat memperbaharui energi mereka, serta dapat memberi dorongan ketika mereka
menghadapi tugas yang sulit.
8. Pererat rasa saling memiliki dorong anggota untuk bersatu dan merasakan sense of belonging
dalam tim.
Daftar Pustaka

Baumeister., & Leary. (1995). The need to belong: desire for interpersonal attachment as a fundamental
human motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 487-529.

Dessler, G. (2008). Human resources management (11th ed). International ed. Upper Sadle River, NJ:
Pearson Education, Inc.

Forsyth, D.R. (2010). Group Dynamics (5th ed). USA: Woodsworth Learning.

Hagerty., & Patusky. (1995). Sense of belonging: a vital mental health concept. Archive of Psychiatric
Nursing, 6, 172-177.

Hoegl, M., & Geumenden, H.G. (2005). Teamwork quality and the success of innovative projects: A
theoretical concept and empirical evidence. Journal of Organization Science, 12(4), 435- 449.

Hu, M.M., Horng, J.S., Sun, Y.H.C. (2009). Hospitality Teams: Knowledge Sharing and Service Innovation
Performance. Tourism Management. [Link]

Kreitner, R., & Kinicki, A. (2008). Organizational Behavior (8th ed). New York: The McGraw-Hill
Companies.

Parker, G. M. (2007). Team Players & Teamwork: New Strategies for Deeveloping Succesful Colaboration
(2nd ed). USA: John Willey & Sons.

Rimata, E. P. (2014). Pengaruh Komitmen Organisasi dan Motivasi Kerja terhadap Kepuasan Kerja
Karyawan PT Pos Indonesia Yogyakarta. Skripsi Sarjana Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Jurusan
Manajemen FE UNY

Silberman, M. (2006). Active Training (3rd ed): A Handbook of Techniques, Designs, Case Example and
Tips. San Fransisco: Preiffer.
Lembar Evaluasi Pelatihan Reaksi (Level 1)

Reaction Sheet

Nyatakanlah pendapat Saudara secara terbuka, karena hal ini sangat membantu kami dalam
mengevaluasi kegiatan ini guna perbaikan pada kesempatan mendatang. Mohon agar membubuhkan
tanda silang (x) pada salah satu kemungkinan jawaban yang tersedia, sesuai dengan yang Saudara
rasakan.

SS: Sangat Setuju SE: Setuju AS: Agak Setuju

AK: Agak Kurang Setuju KS: Kurang Setuju TS: Tidak Setuju

NO PERNYATAAN SS SE AS AK KS TS
MATERI
1 Materi yang disajikan sesuai dengan

kebutuhan saya.
2 Materi yang disajikan sesuai dengan

kondisi pekerjaan saya.


3 Perbandingan antara
simulasi/games,diskusi dan materi
yang diberikan sesuai dengan
kebutuhan.
AKTIVITAS
4 Aktivitas-aktivitas dalam pelatihan
ini berguna untuk pengembangan
diri saya pribadi.
5 Jadwal pelaksanaan pelatihan tepat

waktu.
6 Suasana selama pelatihan
mendukung saya untuk belajar
mengenai materi yang diberikan.
7 Kesempatan beristrirahat yang

diberikan mencukupi.
FASILITATOR
8 Secara keseluruhan, cara penyajian
materi oleh fasilitator cukup dapat
saya mengerti.
9 Fasilitator (Dhandy) mampu
menyampaikan materi dengan jelas
dan dapat saya mengerti.
10 Fasilitator (Tata) mampu
menyampaikan materi dengan jelas
dan dapat saya mengerti.
11 Fasilitator (Ayu) mampu
menyampaikan materi dengan jelas
dan dapat saya mengerti.
ALAT BANTU
12 Penggunaan perangkat bantu
membantu saya dalam memahami
materi.
13 Alat bantu dalam pelatihan ini
membuat pelatihan menjadi lebih
menyenangkan.
14 Secara keseluruhan, kegiatan ini

saya nilai
15 Dari kegiatan ini, saya: a. Memperoleh Pengetahuan
baru
b. Memperoleh sikap baru

c. Memperoleh pengalaman
yang berguna untuk
pengembangan diri pribadi
d. Tidak memperoleh apa-apa
16 Saran Perbaikan:
LEMBAR EVALUASI BELAJAR
NAMA :
USIA :
JENIS KELAMIN :
JABATAN/DIVISI :
PERTANYAAN !

1. Berikut beberapa keuntungan bekerja secara tim, kecuali….


a. Pekerjaan sulit menjadi lebih mudah
b. Pekerjaan akan lebih cepat terselesaikan
c. Membuat anggota tim menjadi mudah bergantung pada anggota lain

2. Berikut ini alasan mengapa tim perlu di bentuk, kecuali...


a. Berbagi beban pekerjaan
b. Kelemahan dari setiap anggota bisa ditutupi
c. Dapat menghasilkan keuntungan untuk perorangan saja

3. Dari pernyataan di bawah ini mana yang menunjukkan cara membangun kerjasama tim
yang baik…
a. Saling percaya, saling mendukung, bekerja sendiri untuk keuntungan pribadi,
komunikasi terbuka
b. Tujuan bersama, curiga, saling membantu, komunikasi efektif
c. Punya tujuan yang sama, saling percaya, komunikasi yang intens, saling
menghormati.

4. Berikut cara membangun komunikasi yang efektif dalam tim, kecuali…


a. Mau menerima kritik dan saran
b. Menutupi kesalahan agar tidak mendapat sangsi
c. Mengapresiasi hasil kerja sesama anggota tim

5. Bagaimana cara mengatasi komunikasi yang kurang efektif?


a. Mencari penyebab atau hambatan dari komunikasi tersebut, lalu
mendiamkannya saja
b. Mencari penyebab atau hambatan dari komunikasi tersebut kemudian
memakluminya
c. Mencari penyebab atau hambatan dari komunikasi tersebut kemudian
memperbaikinya

6. Berikut manfaat membangun koordinasi tim yang baik, kecuali…


a. Agar terjadinya sinergi kerja dalam tim
b. Mampu mengatasi permasalahan yang ada
c. Beban kerja lebih besar bisa diberikan pada yang mempunyai jabatan

7. Manfaat apa yang diperoleh dari saling berkontribusi?


a. Beban kerja lebih tinggi
b. Kekompakan tim
c. Terciptanya kekacauan
8. Biasanya banyak kepala banyak juga konflik yang muncul, hal ini biasa terjadi dalam
tim, untuk itu yang dieprlukan dalam sebuah tim agar menjadi tim yang efektif
adalah….
a. Memahami keberagaman
b. Totalitas
c. Acuh tak acuh

9. Setiap keberhasilan tim harus disikapi dengan sukses bersama. Jika ada anggota tim
yang merasa lebih hebat dan lebih berjasa, maka apa yang akan terjadi pada tim
tersebut?
a. Tim akan menjadi lebih kuat
b. Kekompakan akan semakin erat
c. Tim akan menghadapi konflik

10. Mengapa dukungan perlu diberikan dalam sebuah tim?


a. Mampu menciptakan kohesivitas tim
b. Agar bisa mengandalkan anggota lain untuk mengerjakan segala tugas
c. Bisa mengkritik hasil kerja anggota tim

Anda mungkin juga menyukai