0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan9 halaman

Gangguan Reproduksi dan DBD di Puskesmas

Dokumen ini membahas tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan, dan pemeriksaan penunjang demam berdarah atau DBD. Dokumen ini juga membahas tentang aspek identitas pasien, anamnesa, dan pemeriksaan fisik pasien DBD berdasarkan gradasinya.

Diunggah oleh

naurakhalida2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan9 halaman

Gangguan Reproduksi dan DBD di Puskesmas

Dokumen ini membahas tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan, dan pemeriksaan penunjang demam berdarah atau DBD. Dokumen ini juga membahas tentang aspek identitas pasien, anamnesa, dan pemeriksaan fisik pasien DBD berdasarkan gradasinya.

Diunggah oleh

naurakhalida2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

DI PUSKESMAS PAAL 5

Dosen pembimbing

Ns. Halimah,[Link]

Disusun oleh:
Suci Fitriyani
(P071200220071)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI
TAHUN AJARAN 2024/2025

A. DEFINISI
Demam berdarah atau DBD adalah penyakit yang menular melalui nyamuk yang terjadi di
daerah tropis dan subtropis di dunia. Gejala DBD yang umum adalah demam tinggi dan gejala
seperti flu.

B. ETIOLOGI
Demam berdarah atau DBD disebabkan oleh virus Dengue. Seseorang bisa terjangkit demam
berdarah jika digigit oleh nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang telah terinfeksi
virus Dengue terlebbih dahulu.
Nyamuk penyebab demam berdarah biasanya aktif dan mengigigit pada pagi dan sore hari.
Nyamuk ini biasanya hidup di genangan air yang tenang dan dasarnya bersih seperti genangan
air ban mobil,sampah plastik,atau tempat minum hewan.
Demam berdarah tidak menular antar manuisa secara langsung. Namun,ibu hamil dapat
menularkan demam berdarah kepada janin yang dikandungnya selama masa kehamilan atau
ketika proses persalinan.
C. Manifestasi Klinis

Infeksi virus dengue tergantung dari faktor yang mempengaruhi daya tahan tubuh
dengan faktor-faktor yang mempengaruhi virulensi virus. Manifestasi klinis infeksi virus dengue
dapat menyebabkan keadaan yang bermacam-macam,mulai dari tanpa gejala
(asimtomatik),demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile illness i),Demam
Dengue (DD),atau bentuk yang lebih berat yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom
Syok Dengue (SSD)

D. Patosfisiologi
Patosfisiologi primer DBD dan dengue syock syndrome (DSS) adalah peningkatan akut
permeabilitas vaskuler yang mengarah kebocoran plasma ke dalam ruang
ekstravaskuler,sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah.
Pada kasus berat,volume plasma menurun lebih dari 20%,hal ini didukung penemuan
post mortem meliputi efusi pleura,hemokonsentrasi dan hipoproteinemi.

E. Komplikasi

Menurut Soedarto (2012),komplikasi DBD ada tujuh,yaitu komplikasi susunan sistem


saraf pusat (SSP) yang dapat berbentuk konvulsi,kaku kuduk,perubahan kesadaran dan
varises,ensafalopati yaitu komplikasi neurologik yang terjadi akibat pemberian cairan
hipotonik yang berlebihan,infeksi kerusakan hati,kerusakan otak,resiko syok,kematian.

F. Penatalaksanaan
Tidak ada terapi spesifik untuk infeksi dengue. Hal utama dari penatalaksanaan adalah
mempertahankan terapi suportif,dengan perhatian khusus dan hati-hati pada
manajemen cairan. Rehidrasi oral biasanya cukup untuk pasien dengan sedikit atau
tanpa permeabilitas kaliper. Acetaminophen (parasetamol) bisa digunakan untuk
menurunkan demam;aspirin dan obat anti-inflamasi non steroid merupakan
kontraindikasi.

Penatalaksanaa n pasien DD atau DBD tanpa penyulit:

1) Tirah baring
2) Makanan lunak dan bila belum nafsu makan diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 jam
(susu,air dengan gula,atau sirop) atau air tawar ditambah garam.
3) Medikamentosa yang bersifat simtomatis
4) Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi sekunder pada

Pasien dengan tanda renjatan dilakukan:


1) Pemasangan infus dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah renjatan diatasi.
2) Observasi keadaan umum,nadi,tekanan darah,suhu,dan pernafasan tiap jam,serta
Hb dan Ht tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya 24 jam.

G. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium bersama pemeriksaan klinis merupakan suatu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan untuk menegakan diagnosis infeksi dengue :
A. Hematologi
a. Jumlah leukosit
Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis relatif
(>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (>15% dari
jumlah total leukosit ) yang pada fase syok meningkat. Hitung leukosit ini cukup
penting untuk diperhitungkan dalam menentukan prognosis pada fase-fase
awal infeksi. Leukopenia (<5000 sel/ul) merupakan pertanda bahwa dalam 24
jam kedepan demam akan turun dan penderita akan memasuki fase kritis.
b. Jumlah trombosit

Pada umumnya trombositopenia terjadi sebelum ada peningkatan hematokrit


dan terjadi sebelum suhu turun. Trombositopenia (jumlah trombosit <
100.000/ul) biasanya ditemukan pada hari ke 3-8.

c. Nilai hematokrit
Peningkatan hematokrit menggambarkan hemokonsentrasi dan merupakan
indikator yang peka akan terjadinya perembesan plasma. Hal ini dibuktikan
dengan ditemukannya peningkatan hematokrit kurang lebih 20%,dari
hematokrit awal,umumnya dimulai pada hari ke-3 demam. Perlu diketahui
bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau pendarahan
B. Pemeriksaan Radiologis
Pada foto dada didapatkan efusi pleura,terutama pada hemitoraks kanan. Tetapi apabila terjadi
perembesan plasma hebat,efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan
foto toraks sebaiknya dilakukan dalam posisi lateral dekubitas kanan (pasien tidur di sisi kanan).
Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.
C. Diagnosis serologis

Dikenal 5 uji serologi yang dipakai untuk menentukan adanya infeksi virus dengue,misalnya:
1) Uji hemaglutinasi inhibisi (Haemaggluination Inhibition test = HI test).
2) Uji komplemen fiksasi (complement Fixation test =CF test)
3) Uji netralisasi ( Neutralization test =NT test)2
4) IgM Elisa ( [Link])
5) IgG Elisa

ASKEP TEORITIS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama ,umur,jenis kelamin,alamat,pendidikan,nama orang tua,pendidikan orang tua,dan


pekerjaan orang tua

B. Anamnesi
a. Keluhan utama
Alasan/keluhan utama yang menonjol pada pasien dengan DBD untuk datang ke
rumah sakit adalah panas tinggi dan anak lemah
b. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai mengigil dan saat demam
kesadaran komposmentis. Turunnya panas terjadi pada hari ke 3 dan ke 7,dan anak
semakin melemah. Kadang -kadang disertai dengan keluhan [Link],nyeri
telan,mual,muntah,anoreksia,diare/konstipasi,sakit kepala,nyeri otot,dan
persendian,nyeri ulu hati dan pergerrakan bola mata terasa pegal,serta adanya
manifestasi pendarahan pada kulit.
c. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Pada DBD,anak bisa mendapat serangan ulang dengan tipe yang berbeda.
d. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai status imunisasi lengak maka akan timbul penyakit
terhadap anaknya.
e. Riwayat gizi
Status anak yang menderita DBD dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi
baik maupun buruk dapat beresiko,apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak
yang menderita DBD sering mengalami keluhan mual,muntah,nafsu makan menurun.
Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang
mencukupi,maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status
gizinya menjadi kurang.
f. Kondisi lingkungan
Sering terjadi di daerah yang penduduk dan lingkungan nya yang kurang
bersih(seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar)
g. Pola kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolism,frekuensi,jenis,pantangan,nafsu makan
berkurang,dan nafsu makan menurun.
2) Eliminasi alvi ( buang air besar). Kadang- kadang anak mengalami
diare/konstiapsi. Sementara DBD pada grade III-IV bisa terjadi melena
3) Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering
kencing,sedikit/banyak,sakit/tidak, pada DBD Grade IV sering terjadi
hematuria
4) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami susah tidur karena
mengalami nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas
tidur maupun istirahatnya kurang
5) Kebersihan upaya keluarga untuk kebersihan diri dan lingkungan
cenderung kurang, terutama untuk membersihan 4 sarang nyamuk
aedes.
6) Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk
menjaga kesehatan.
C. Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi,palpaksi,auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Berdasarkan tingkat (grade) DBD,keadaan fisik anak adalah sebagai berikut:
1. Grade I : kesadaran composmentis,keadaan umum lemah,tanda-tanda vital dan nadi lemah.
2. Grade II : kesadaran komposmentis,keadaan umum lemah,ada pendarahan
spontan,ptekie,perdarahan gusi dan telinga,serta nadi lemah,kecil dan tidak teratur.
3. Grade III : kesadarn apatis,somnolen,keadaan umum lemah,nadi lemah,kecil dan tidak
teratur,tekanan darah menurun
4. Grade IV : kesadaran koma,tanda tanda vital;nadi tidak teraba,tekanan darah tidak
terukur,pernapasan tidak teratur,ekstremitas dingin,berkeringat,dan kulit tampak biru.
a. Kepala dan leher
Muka tampak kemerahan karena demam,mata anemis,konjungtva
anemis,hidung kadang mengalami pendarahan ( epistakis) pada grade
II,III,dan IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering ,terjadi
pendarahan gusi,nyeri telan,dan pembesaran kelenjar tiroid. Sementara
tenggorokan mengalami hyperemia pharing,dan terjadi perdarahan telinga
(pada grade II,III dan IV
b. Dada
Bentuk simetri dan kadang terasa sesak, pada hasil photo thorax terdapat
adanya aliran yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi
pleura),rales,ronchi,yang biasanya terdapat pada grade III dan IV
c. Abdomen
Mengalami nyeri tekan epigastrium,pembesaran hati (hepatomegali),dan
pembesaran limfa (splenomegali) mual/muntah dan asites
d. Genetali dan anal
Ada atau tidaknya pendarahan
e. Sistem integument
Adanya ptekie pada kulit,turgor kulir menurun dan muncul keringat dingin
dan lembab,kuku sianosis/tidak,nadi 60- 100 x/m kuat reguler tetapi dalam
kondisi syok nadi menjadi pelan,tidak kuat bahkan bila pada derajat IV
kadang nadi sampai tidak teraba,tensi cenderung rendah 90/60 mmHg
bahkan sampai dengan tidak terukut.

D. Diagnosa keperawatan
1. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infeksi) dibuktikan dengan suhu tubuh
diatas nilai normal (D. 0103)
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ( D. 0077)
3. Resiko syok dibuktikan dengan kekurangan volume cairan (D. 0039)
E. Internal keperawatan

[Link] Keperawatan
NO SDKI Tujuan Intervensi

1. Hipertermi Manajemen hipertermia (1.15506)


Termoregulasi( L.
Observasi:
berhubungan 14134)
1. Identifikasi penyebab hipertermia(mis.
dengan Setelah dilakukan Dehidrasi,terpapar lingkungan panas penggunaan
intervensi keperawatan inkubator)
proses
selama 3x4 24 jam 2. Mengukur suhu tubuh
penyakit maka termoregulasi Terapeutik:
membaik dengan 3. Sediakan lingkungan yang dingin
dibuktikan
kriteria hasil: 4. Longgarkan atau lepaskan pakaian
dengan ( mis 5. Basahi atau kipasi permukaan tubuh
1. Mengigil
6. Lakukan pendinginan eksternal(mis. Selimut
infeksi) suhu menurun
hipotermia atau kompres dingin pada
tubuh diatas 2. Kulit merah dahi,leher,dada,abdomen,aksila)
menurun Edukasi:
nilai normal
7. Anjurkan tirah baring
3. Suhu tubuh Kolaborasi:
membaik,suhu 8. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
kulit membaik intravena ,jika perlu
2. Nyeri akut Manajemen nyeri (1.08238)
Tingkat nyeri (L.08066)
berhubungan Observasi:
Setelah dilakukan
dengan agen intervensi keperawatan 1. Identifikasi
3x24 jam diharapkan
pencedera lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,int
tingkat nyeri menurun
fisiologis ensitas nyeri
Kriteria hasil:
2. Identifikasi skala nyeri
1. frekuensi nadi
membaik 3. Identifikasi respon nyeri non verbal
2. Pola nafas membaik Edukasi :
3. Keluhan nyeri 4. Menganjurkan keluarga untuk memberikan
membaik
tontonan vidio kartun untuk mengalihkan nyeri
4. Meringis Membaik
yang dirasakan
5. Kolaborasi pemberian analgetik
3. Risiko dibuktikan Tingkat syok (L.03032) Pencegahan syok (1. 02068)
Setelah dilakukan
dengan Observasi:
intervensi keperawatan
kekurangan selama 3x24 jam maka 1. Monitor status kardiopulmonal(frekuensi dan
tingkat syok menurun
volume cairan kekuatan nadi,frekuensi [Link],MAP)
dengan kriteria hasil:
1. Kekuatan nadi 2. Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi,AGD)
meningkat
3. Monitor status cairan(masukan dan
2. Output urine
meningkat haluaran,turgor kulit CRT)
3. Tingkat kesadaran
4. Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
meningkat
4. Akral dingin Terapeutik:
menurun
5. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi
5. Pucat menurun
6. Tekanan darah oksigen.94%
sistolik membaik
6. Pasang jalur IV
7. Tekanan daraah
distolik membaik 7. Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine
8. Tekanan darah
8. Jelaskan penyebab/faktor syok
membaik
9. Jelaskan tanda dan gejala awal syok
10. Anjurka melapor jika menemukan/merasakan
tanda dan gejala awal syok
11. Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
12. Kolaborasi pemberian IV,jika perlu
13. Kolaborasi pemberian transfusi darah,jika perlu
14. Kolaborasi pemberian antiinflamasi jika perlu

F. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah melaksanakan perencanaan perawagan yang sudah
dirancang untuk mencegah masalah mental dan fisik serta
mempromosikan,memelihara dan memulihkan kesehatan mental dan fisik tahap
pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditunjukan pada nursing
oders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari
pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
yang mencakup peningkatan kesehatan,pencegahan penyakit,pemulihan kesehatan
dan memfasilitasi koping (Olifah,2016)

G. Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah suatu langkah untuk menentukan kemajuan seseorang. Evaluasi adalah
tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan,rencana dan tindakan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan,sehingga
perawat dapat mengambil keputusan (Olifah,2016)

DAFTAR PUSTAKA

aryu candra. 2010. “Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan”
vol.2 No.2, 110-119. [Link]
hl=id&as_sdt=0%2C5&q=patofisiologi+dbd&btnG=#d=gs_qabs&t=1709804112615&u=%23p
%3DgXjrRsrxG9sJ

dian haerani, siti nurhayati. 2020. “Asuhan keperawatan Pada Anak Demam Berdarah Dengue”. Buletin
Kesehatan, vol. 4, No. 2

Hasri nopianto. 2012.” FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP LAMA RAWAT INAP PADA
PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RSUP DR KARIADI SEMARANG”.
[Link]

Richi Ronaldo Tafui. 2022. “ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM BERDARAH DENGUE MENGGUNAKAN
PENDEKATAN TEORI COMFORT”. [Link]

dr. Rizal fadli. 2024. “Demam Berdarah”. Jakarta. [Link]


berdarah

Anda mungkin juga menyukai