Jalur Penanganan Asma Bronchial
Jalur Penanganan Asma Bronchial
TENTANG ASMA
Oleh :
Irdawati Mury
1490123110
1. Pendahuluan
Asma bronchial merupakan penyakit pada saluran pernafasan yang bersifat kronis.
Kondisi ini disebabkan oleh peradangan saluran pernafasan yang menyebabkan
hipersensitivitas bronkus terhadap rangsang dan obstruksi pada jalan nafas. Gejala klinis
dari penyakit asma yang biasanya muncul berupa mengi (wheezing), sesak nafas, nyeri dada
dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi.
Gejala-gejala teersebut biasanya akan memburuk pada malam hari, terpapar alergen (seperti
debu, asap rokok) atau saat sedang mengalami sakit seperti demam (Global Initiative of
Asthma, 2018).
2. Pengertian
Asma bronchial adalah suatu keadaan kondisi paru-paru kronis yang ditandai dengan
kesulitan bernafas, dan menimbukan gejala sesak nafas, dada terasa berat dan batuk,
terutama pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran pernafasan mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
penyempitan atau peradangan yang bersifat sementara (Masriadi, 2016).
3. Anatomi Fisiologi
a. Saluran Pernafasan Bagian Atas
1) Rongga Hidung
Hidung terbagi atas dua nostril yang merupakan pintu masuk menuju rongga hidung.
Rongga hidung adalah dua kanal sempit yang satu sama lainnya dipisahkan oleh
septum.
2) Sinus Paranasal
Sinusa paranasal berperan dalam menyekresi mukus, membantu mengalirkan air mata
melalui saluran nasolakrimalis, dan membantu dalam menjaga permukaan rongga
hidung tetap bersih dan lembab.
3) Faring Faring (tekak)
adalah pipa berotot yang bermula dari dasar tengkorak dan berakhir sampai
persambungannya dengan eosophagus dan batas tulang rawan krikoid. Faring terdiri
atas tiga bagian yang dinamai berdasarkan letaknya, yakni nasofaring (dibelakang
hidung), orofaring (dibelakang mulut) dan laringofaring (dibelakang faring
b. Saluran Pernafasan Bagian Bawah
1) Laring
Laring terletak diantara faring dan trachea. Berdasarkan letak vertebra servikalis,
laring berada di ruas ke 4 atau ke 5 dan berakhir di vertebra servikalis ruang ke 6.
Laring disusun oleh 9 kartilago yang disatukan oleh ligament dan otot rangka pada
tulang hioid dibagian atas dan trachea dibawahnya. Fungsi Laring adalah Vokalisasi
yang mana berbicara melibatkan sistem respirasi yang meliputi pusat khusus 9
pengaturan bicara dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak, dan
artikulasi serta struktur resonasi dari mulut dan rongga hidung.
2) Trakhea
Trakhea adalah sebuah tabung yang berdiameter 2,5 cm dengan panjang 11 cm.
Trakhea terletak setelah laring dan memanjang ke bawah setara dengan vertebra
torakalis ke-5. Ujung trakhea bagian bawah bercabang menjadi dua bronkhus (bronchi)
kanan dan kiri. Percabangan bronchus kanan dan kiri dikenal sebagai karina (carina).
Trakhea tersusun atas 16-20 kartilago hialin berbentuk huruf C yang melekat pada
dinding trachea dan berfungsi untuk melindungi jalan udara.
3) Bronkus
Bronkus mempunyai struktur serupa dengan trakhea. Bronkus kiri dan kanan tidak
simetris. Bronkus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan arahnya hampir vertical dengan
trakhea. Sebaliknya bronchus kiri lebih panjang, lebih sempit, dan sudutnya pun lebih
runcing. Bronkus prinsipalis terdiri dari dua bagian: a) Bronkus prinsipalis dekstra:
Pangjangnya sekitar 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru kanan, mempercabangkan
bronkus lubaris superior. Pada waktu masuk ke hilus bercabang tiga menjadi bronkus
lobaris medius, bronkus lobaris inferior, dan bronkus lobaris superior, di atasnya
terdapat V. Azigos, di bawahnya A. Pulmonal dekstra. 10 b) Bronkus prinsipalis
sinistra: Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal di bandingkan bronkus
dekstra, panjangnya sekitar 5 cm, berjalan ke bawah aorta dan di depan esofagus,
masuk ke hilus pulmonalis kiri, bercabang menjadi dua (bronkus lobaris superior dan
inferior). Bronkus lobaris atau bronkioli (cabang bronkus) merupakan cabang yang
lebih kecil dari bronkus. Pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru atau alveoli.
Percabangan bronkus lobaris meliputi bronkus lobaris superior dekstra, dan superior
sinistra, dan bronkus lobaris inferior sinistra (EGC anatomi fisiologi, 2011).
4) Paru-paru
Paru merupakan organ elastis, berbentuk kerucut, dan terletak dalam rongga thoraks.
Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh darah besar. Paru kanan lebih besar dari paru-paru kiri. Selain itu, paru juga
dibagi menjadi lima bolus, tiga lobus pada paru kanan dan dua lobus pada paru kiri.
5) Pleura
Pleura merupakan kantung tertutup yang terbuat dari membran serosa (masing-masing
untuk setiap paru) yang didalamnya mengandung cairan serosa. Bagian pleura yang
melekat kuat pada paru disebut pleura viseralis dan lapisan paru yang membatasi
rongga thoraks disebut pleura parietals.
6) Otot-otot pernafasan
11 Otot pernafasan merupakan sumber kekuatan untuk menghembuskan udara.
Diafragma (dibantu oleh otot-otot yang dapat mengangkat tulang rusuk dan tulang
dada) merupakan otot utama yang ikut berperan meningkatkan volume paru. Saat
inspirasi, otot sternokleidomastoideus, otot skalenes, otot pektoralis minor, otot
serratus interior, dan otot interkostalis sebelah luar mengalami kontraksi sehingga
menekan diafragma ke bawah dan mengangkat rongga dada untuk membantu udara
masuk ke dalam paru. Pada fase ekspirasi, otot-otot transversal dada, otot interkostalis
sebelah dalam, dan otot abdominal mengalami kontraksi, sehingga mengangkat
diafragma dan menarik rongga dada untuk mengeluarkan udara dari paru.
4. Etiologi
Menurut Global Initiative for Asthma tahun 2016, faktor resiko penyebab asma
bronchial di bagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1) Faktor genetik
a) Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
cara penurunannya.
b) Hipereaktivita bronkus
Saluran nafas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan.
c) Jenis kelamin
Anak laki-laki sangat beresiko terkena asma bronchial sebelum usia 14 tahun,
prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak perempuan
d) Ras/etnik
e) Obesitas
Obesitas atau peningkatan/body mass index (BMI), merupakan faktor resiko asma.
2) Faktor lingkungan
a) Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan kulit
binatang seperti anjing, kucing, dan lain sebagainya).
b) Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
c) Faktor lain
(1) Alergen dari makanan.
(2) Alergen obat-obatan tertentu
(3) Exercise-induced asthma
5. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersesitivitas bronkhiolus
terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga
terjadi dengan cara, seorng yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk
sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi
alergi bila reaksi dengan antigen spefisikasinya(Prasetya, 2014).
Antibody ini terutama melekat pada sel yang terdapat pada interstisial paru yang
berhubungan erat dengan bronkhiolus dan bronkhus keil. Seseorang yang menghirup
alergen bereaksi dengan antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan
antibody yang telah terlekat pada sel dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai
macam zat, diantaranya histamin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan
menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mucus yang
kental dalam lumen bronkhiolus dan spasma otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat (Prasetya, 2014)
6. Tanda dan gejala
Gejala-gejala yang lazim muncul pada asma bronchial adalah batuk dispnea dan mengi.
Selain gejala di atas ada beberapa gejala yang menyertai di antaranya sebagai berikut
(Mubarak 2016:198) :
1) Takipnea dan Orthopnea
2) Gelisah
3) Nyeri abdomen karena terlibat otot abdomen dalam pernafasan
4) Kelelahan
5) Tidak toleran terhadap aktivitas seperti makan berjalan bahkan berbicara
6) Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam dada disertai
pernafasan lambat
7) Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang di banding inspirasi
8) Gerakan-gerakan retensi karbondioksida, seperti berkeringat,takikardi dan pelebaran
tekanan nadi
9) Serangan dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang
secara spontan
7. Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada penderita asma bronchial
diantaranya (Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma, 2015) :
1) Spirometer Dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup (nebulizer/inhaler),
positif jika peningkatan VEP / KVP > 20%
2) Sputum Eosinofil meningkat.
3) RO dada Yaitu patologis paru/komplikasi asma. 4) AGD Terjadi pada asma berat, pada
fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PCO2 turun) kemudian pada fase lanjut
normokapnia dan hiperkapnia (PCO2 naik). 5) Uji alergi kulit, IgE
8. Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi terapi asma
a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
b. Mencegah kekambuhan
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
d. Menghindari efek obat asma
e. Mencegah obstruksi jalan nafas ireversibel
2. Farmakologi Obat anti asma
a. Bronchodilator
b. Adrenalin, Epedrin, fenotirol
c. Antikolinergin
d. Iptropiem bromid (atrovont)
e. Kortokosteroid
f. Predison, Hidrokortison, Orodexon
g. Mukolitin
h. BPH, OBH, Bisolvon
9. Pathway
Reaksi inflamasi
MK : Gangguan MK : Defisit
Pola Tidur Nutrisi
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA
MASALAH ASMA
A. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Meliputi : nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis, nomor registrasi.
[Link] Kesehatan Klien
1) Keluhan utama
Keluhan utama biasanya timbul pada pasien yang mengalami asma bronchial adalah
batuk, peningkatan sputum, dyspnea, dan nyeri dada
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada Pasien dengan asma bronchial riwayat yang biasanya muncul adalah mengalami
sesak nafas, batuk berdahak, biasanya pasien sudah lama menderita penyakit asma, dan
ada keluarga dengan penyakit yang sama (Asma Bronkhial)
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya tenaga kesehatan menanyakan mengenai penyakit pernafasan pasien secara
umum, perawat biasanya bertanya tentang Riwayat Merokok Pengobatan saat ini, Alergi,
dan Keadaan tempat tinggal Anamnesis (Usia mulai merokok, Rata-rata jumlah rokok
yang dihisap per hari, Usaha untuk menghentikan kebiasaan merokok)
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien dengan asma bronkial sering kali ditemukan adanya riwayat penyakit keturunan,
tetapi pada beberapa klien lainya tidak ditemukan adanya penyakit yang sama pada anggota
keluarganya
[Link] Psikososial
1) Presepsi Klien terhadap masalahnya
Mengkaji bagaimana presepsi kalien terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
Presepsi yang salah dapat menghambat respon kooperatif dalam diri pasien
2) Pola Nilai kepercayaan dan spiritual
Mengkaji bagaimana kedekatan klien dengan tuhan ataupun dengan apa yang pasien
yakini di dunia ini yang dapat meningkatkan jiwa pasien.
3) Pola Komunikasi
Gejala pada penyakit asma sangat membatasi pasien untuk melakukan kehidupan sehari
harinya secara normal, pasien asma harus menyesuaikan kondisinya dengan oranglain
4) Pola Interaksi
Mengkaji bagaimana pasien asma biasanya berinteraksi dengan oranglain
e. Pola Kesehatan Sehar-hari
1) Pola Nutrisi
Mengkaji bagaimana status nutrsi pasien, meliputu jumlah frekuensi dan kebutuhannya
pada saat pasien sesak
2) Pola Eliminasi
Mengkaji bagaimana kebiasaan BAB, BAK dan mencakup warna, bentuk, konsistensi,
frekuensi, jumlah serta apakah ada kesulitan dalam pola eliminasi
3) Pola Istirahat
Mengkaji bagaimana kualitas tidur dan istirahat pasien, berapa lama pasien tidur, apakah
ada Wheezing dan sesak dapat mempengaruhi pola tidur pasien
4) Personal Hygene
Mengkaji personal hygene pasien yang mengalami asma. Terkadang jika sesaknya
sedang kambuh pasien mengalami gangguan personal hygene
f. Pola Aktivitas
Mengkaji aktivitas keseharian Pasien, seperti berolahraga, bekerja. Aktifitas fisik dapat
menjadi faktor pencetus terjadinya asma.
[Link] fisik
1) Gambaran umum
Biasanya kesadaran pasien composmmentis
2) TTV
Tekanan darah menurun, nafas sesak, nadi lemah dan cepat, suhu meningkat, distress
pernafasan sianosis.
3) Secara sistemik dari kepala sampai ujung kaki
a) Kepala
Biasanya rambut tidak bersih karena pasien dengan asma mengalami penurunan
toleransi terhadap aktifitas termasuk perawatan diri.
b) Mata
Biasanya mata simetris, sklera tidak ikterik
c) Telinga
Biasanya telinga cukup bersih,bentuk simetris dan fungsi pendengaran normal
d) Hidung
Biasanya hidung simetris, hidung bersih
e) Leher
Biasanya tidak ditemukan benjolan.
f) Paru
(1) Inspeksi
biasanya terlihat klien mempunyai bentuk dada barrel chest penggunaan otot
bantu pernafasan
(2) Palpasi
biasanya premitus kanan dan kiri melemah
(3) Perkusi
bisanya hipersonor
(4) Auskultasi
biasanya terdapat ronkhi dan wheezing sesuai tingkat keparahan obstruktif
g) Jantung
(1) Inspeksi
bisanya ictus cordis tidak terlihat
(2) Palpasi
biasanya ictus cordis teraba
(3) Auskultasi
biasanya irama jantung teratur
h) abdomen
(1) Inspeksi
biasanya tidak ada asites
(2) palpasi
biasanya hepar tidak teraba
(3) Perkusi
biasanya timphany
(4) Auskultasi
biasanya bising usus normal
(5) Ekstremitas
biasanya didapatkan adanya jari tabuh (clubbing finger) sebagai dampak dari
hipoksemia yang berkepanjangan (Muttaqin, 2012).
B. Analisa Data
No DATA ETIOLOGI PROBLEM
DO :
Iritasi mukosa saluran
Klien tampak lemas pernapasan
Klien tampak pucat
BB menurun
Reaksi inflamasi
Obstruksi
Sesak nafas
Asma
Defisit Nutrisi
Penurunan CO2
Takikardia Reaksi inflamasi
Kelelahan
Hipoksia
Hipertropi dan hiperplasia
Kebingungan mukosa bronkus
Sianosis
Frekuensi dan kedalaman
Metaplasia sel globet
nafas abnormal
Obstruksi
Penyebaran udara ke alveoli
DO :
Iritasi mukosa saluran
Obstruksi
Sesak nafas
DO :
Iritasi mukosa saluran
pernapasan
Klien tampak sesak
Aktivitas di bantu
keluarga Reaksi inflamasi
Penurunan Ventilasi
Supply O2 menurun
Kelemahan
Intoleransi aktivitas
D. Perencanaan dan Intervensi keperawatan