0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Jalur Penanganan Asma Bronchial

Laporan pendahuluan ini membahas tentang asma bronchial yang merupakan penyakit kronis pada saluran pernafasan yang ditandai dengan hipersensitivitas bronkus dan obstruksi jalan nafas. Dokumen ini menjelaskan pengertian, anatomi, etiologi, patofisiologi, gejala, dan diagnosis asma.

Diunggah oleh

Irda Wati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Jalur Penanganan Asma Bronchial

Laporan pendahuluan ini membahas tentang asma bronchial yang merupakan penyakit kronis pada saluran pernafasan yang ditandai dengan hipersensitivitas bronkus dan obstruksi jalan nafas. Dokumen ini menjelaskan pengertian, anatomi, etiologi, patofisiologi, gejala, dan diagnosis asma.

Diunggah oleh

Irda Wati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

TENTANG ASMA

Oleh :
Irdawati Mury
1490123110

PROGRAM PROFESI NERS XXXI


INSTITUT KESEHATAN
IMMANUEL BANDUNG
2023
LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pendahuluan
Asma bronchial merupakan penyakit pada saluran pernafasan yang bersifat kronis.
Kondisi ini disebabkan oleh peradangan saluran pernafasan yang menyebabkan
hipersensitivitas bronkus terhadap rangsang dan obstruksi pada jalan nafas. Gejala klinis
dari penyakit asma yang biasanya muncul berupa mengi (wheezing), sesak nafas, nyeri dada
dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi.
Gejala-gejala teersebut biasanya akan memburuk pada malam hari, terpapar alergen (seperti
debu, asap rokok) atau saat sedang mengalami sakit seperti demam (Global Initiative of
Asthma, 2018).

2. Pengertian
Asma bronchial adalah suatu keadaan kondisi paru-paru kronis yang ditandai dengan
kesulitan bernafas, dan menimbukan gejala sesak nafas, dada terasa berat dan batuk,
terutama pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran pernafasan mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
penyempitan atau peradangan yang bersifat sementara (Masriadi, 2016).

3. Anatomi Fisiologi
a. Saluran Pernafasan Bagian Atas
1) Rongga Hidung
Hidung terbagi atas dua nostril yang merupakan pintu masuk menuju rongga hidung.
Rongga hidung adalah dua kanal sempit yang satu sama lainnya dipisahkan oleh
septum.
2) Sinus Paranasal
Sinusa paranasal berperan dalam menyekresi mukus, membantu mengalirkan air mata
melalui saluran nasolakrimalis, dan membantu dalam menjaga permukaan rongga
hidung tetap bersih dan lembab.
3) Faring Faring (tekak)
adalah pipa berotot yang bermula dari dasar tengkorak dan berakhir sampai
persambungannya dengan eosophagus dan batas tulang rawan krikoid. Faring terdiri
atas tiga bagian yang dinamai berdasarkan letaknya, yakni nasofaring (dibelakang
hidung), orofaring (dibelakang mulut) dan laringofaring (dibelakang faring
b. Saluran Pernafasan Bagian Bawah
1) Laring
Laring terletak diantara faring dan trachea. Berdasarkan letak vertebra servikalis,
laring berada di ruas ke 4 atau ke 5 dan berakhir di vertebra servikalis ruang ke 6.
Laring disusun oleh 9 kartilago yang disatukan oleh ligament dan otot rangka pada
tulang hioid dibagian atas dan trachea dibawahnya. Fungsi Laring adalah Vokalisasi
yang mana berbicara melibatkan sistem respirasi yang meliputi pusat khusus 9
pengaturan bicara dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak, dan
artikulasi serta struktur resonasi dari mulut dan rongga hidung.
2) Trakhea
Trakhea adalah sebuah tabung yang berdiameter 2,5 cm dengan panjang 11 cm.
Trakhea terletak setelah laring dan memanjang ke bawah setara dengan vertebra
torakalis ke-5. Ujung trakhea bagian bawah bercabang menjadi dua bronkhus (bronchi)
kanan dan kiri. Percabangan bronchus kanan dan kiri dikenal sebagai karina (carina).
Trakhea tersusun atas 16-20 kartilago hialin berbentuk huruf C yang melekat pada
dinding trachea dan berfungsi untuk melindungi jalan udara.
3) Bronkus
Bronkus mempunyai struktur serupa dengan trakhea. Bronkus kiri dan kanan tidak
simetris. Bronkus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan arahnya hampir vertical dengan
trakhea. Sebaliknya bronchus kiri lebih panjang, lebih sempit, dan sudutnya pun lebih
runcing. Bronkus prinsipalis terdiri dari dua bagian: a) Bronkus prinsipalis dekstra:
Pangjangnya sekitar 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru kanan, mempercabangkan
bronkus lubaris superior. Pada waktu masuk ke hilus bercabang tiga menjadi bronkus
lobaris medius, bronkus lobaris inferior, dan bronkus lobaris superior, di atasnya
terdapat V. Azigos, di bawahnya A. Pulmonal dekstra. 10 b) Bronkus prinsipalis
sinistra: Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal di bandingkan bronkus
dekstra, panjangnya sekitar 5 cm, berjalan ke bawah aorta dan di depan esofagus,
masuk ke hilus pulmonalis kiri, bercabang menjadi dua (bronkus lobaris superior dan
inferior). Bronkus lobaris atau bronkioli (cabang bronkus) merupakan cabang yang
lebih kecil dari bronkus. Pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru atau alveoli.
Percabangan bronkus lobaris meliputi bronkus lobaris superior dekstra, dan superior
sinistra, dan bronkus lobaris inferior sinistra (EGC anatomi fisiologi, 2011).
4) Paru-paru
Paru merupakan organ elastis, berbentuk kerucut, dan terletak dalam rongga thoraks.
Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh darah besar. Paru kanan lebih besar dari paru-paru kiri. Selain itu, paru juga
dibagi menjadi lima bolus, tiga lobus pada paru kanan dan dua lobus pada paru kiri.
5) Pleura
Pleura merupakan kantung tertutup yang terbuat dari membran serosa (masing-masing
untuk setiap paru) yang didalamnya mengandung cairan serosa. Bagian pleura yang
melekat kuat pada paru disebut pleura viseralis dan lapisan paru yang membatasi
rongga thoraks disebut pleura parietals.
6) Otot-otot pernafasan
11 Otot pernafasan merupakan sumber kekuatan untuk menghembuskan udara.
Diafragma (dibantu oleh otot-otot yang dapat mengangkat tulang rusuk dan tulang
dada) merupakan otot utama yang ikut berperan meningkatkan volume paru. Saat
inspirasi, otot sternokleidomastoideus, otot skalenes, otot pektoralis minor, otot
serratus interior, dan otot interkostalis sebelah luar mengalami kontraksi sehingga
menekan diafragma ke bawah dan mengangkat rongga dada untuk membantu udara
masuk ke dalam paru. Pada fase ekspirasi, otot-otot transversal dada, otot interkostalis
sebelah dalam, dan otot abdominal mengalami kontraksi, sehingga mengangkat
diafragma dan menarik rongga dada untuk mengeluarkan udara dari paru.
4. Etiologi
Menurut Global Initiative for Asthma tahun 2016, faktor resiko penyebab asma
bronchial di bagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1) Faktor genetik
a) Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
cara penurunannya.
b) Hipereaktivita bronkus
Saluran nafas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan.
c) Jenis kelamin
Anak laki-laki sangat beresiko terkena asma bronchial sebelum usia 14 tahun,
prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak perempuan
d) Ras/etnik
e) Obesitas
Obesitas atau peningkatan/body mass index (BMI), merupakan faktor resiko asma.
2) Faktor lingkungan
a) Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan kulit
binatang seperti anjing, kucing, dan lain sebagainya).
b) Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
c) Faktor lain
(1) Alergen dari makanan.
(2) Alergen obat-obatan tertentu
(3) Exercise-induced asthma

5. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersesitivitas bronkhiolus
terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga
terjadi dengan cara, seorng yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk
sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi
alergi bila reaksi dengan antigen spefisikasinya(Prasetya, 2014).
Antibody ini terutama melekat pada sel yang terdapat pada interstisial paru yang
berhubungan erat dengan bronkhiolus dan bronkhus keil. Seseorang yang menghirup
alergen bereaksi dengan antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan
antibody yang telah terlekat pada sel dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai
macam zat, diantaranya histamin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan
menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mucus yang
kental dalam lumen bronkhiolus dan spasma otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat (Prasetya, 2014)
6. Tanda dan gejala
Gejala-gejala yang lazim muncul pada asma bronchial adalah batuk dispnea dan mengi.
Selain gejala di atas ada beberapa gejala yang menyertai di antaranya sebagai berikut
(Mubarak 2016:198) :
1) Takipnea dan Orthopnea
2) Gelisah
3) Nyeri abdomen karena terlibat otot abdomen dalam pernafasan
4) Kelelahan
5) Tidak toleran terhadap aktivitas seperti makan berjalan bahkan berbicara
6) Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam dada disertai
pernafasan lambat
7) Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang di banding inspirasi
8) Gerakan-gerakan retensi karbondioksida, seperti berkeringat,takikardi dan pelebaran
tekanan nadi
9) Serangan dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang
secara spontan
7. Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada penderita asma bronchial
diantaranya (Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma, 2015) :
1) Spirometer Dilakukan sebelum dan sesudah bronkodilator hirup (nebulizer/inhaler),
positif jika peningkatan VEP / KVP > 20%
2) Sputum Eosinofil meningkat.
3) RO dada Yaitu patologis paru/komplikasi asma. 4) AGD Terjadi pada asma berat, pada
fase awal terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PCO2 turun) kemudian pada fase lanjut
normokapnia dan hiperkapnia (PCO2 naik). 5) Uji alergi kulit, IgE
8. Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi terapi asma
a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
b. Mencegah kekambuhan
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
d. Menghindari efek obat asma
e. Mencegah obstruksi jalan nafas ireversibel
2. Farmakologi Obat anti asma
a. Bronchodilator
b. Adrenalin, Epedrin, fenotirol
c. Antikolinergin
d. Iptropiem bromid (atrovont)
e. Kortokosteroid
f. Predison, Hidrokortison, Orodexon
g. Mukolitin
h. BPH, OBH, Bisolvon
9. Pathway

Infeksi Merokok Polusi Alergen Genetik

Masuk saluran pernapasan

Iritasi mukosa saluran pernapasan

Reaksi inflamasi

Hipertropi dan hyperplasia


Mukosa bronkus

Metaplasia sel globet Produksi Sputum meningkat

Penyempitan saluran Batuk


Pernapasan
MK : Bersihan
Penurunan Ventilasi Obstruksi jalan nafas tidak
Supply O2 menurun Penyebaran udara ke
Alveoli

Kelemahan Vasokontriksi pembuluh MK : Gangguan


darah paru-paru Pertukaran gas
MK : Intoleransi
aktivitas Supply oksigen berkurang

Sesak nafas Asma Rangsangan batuk


ada nyeri insisi dada

Kebutuhan tidur tidak efektif Nafsu makan berkurang

MK : Gangguan MK : Defisit
Pola Tidur Nutrisi
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA
MASALAH ASMA

A. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Meliputi : nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis, nomor registrasi.
[Link] Kesehatan Klien
1) Keluhan utama
Keluhan utama biasanya timbul pada pasien yang mengalami asma bronchial adalah
batuk, peningkatan sputum, dyspnea, dan nyeri dada
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada Pasien dengan asma bronchial riwayat yang biasanya muncul adalah mengalami
sesak nafas, batuk berdahak, biasanya pasien sudah lama menderita penyakit asma, dan
ada keluarga dengan penyakit yang sama (Asma Bronkhial)
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya tenaga kesehatan menanyakan mengenai penyakit pernafasan pasien secara
umum, perawat biasanya bertanya tentang Riwayat Merokok Pengobatan saat ini, Alergi,
dan Keadaan tempat tinggal Anamnesis (Usia mulai merokok, Rata-rata jumlah rokok
yang dihisap per hari, Usaha untuk menghentikan kebiasaan merokok)
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien dengan asma bronkial sering kali ditemukan adanya riwayat penyakit keturunan,
tetapi pada beberapa klien lainya tidak ditemukan adanya penyakit yang sama pada anggota
keluarganya
[Link] Psikososial
1) Presepsi Klien terhadap masalahnya
Mengkaji bagaimana presepsi kalien terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
Presepsi yang salah dapat menghambat respon kooperatif dalam diri pasien
2) Pola Nilai kepercayaan dan spiritual
Mengkaji bagaimana kedekatan klien dengan tuhan ataupun dengan apa yang pasien
yakini di dunia ini yang dapat meningkatkan jiwa pasien.
3) Pola Komunikasi
Gejala pada penyakit asma sangat membatasi pasien untuk melakukan kehidupan sehari
harinya secara normal, pasien asma harus menyesuaikan kondisinya dengan oranglain
4) Pola Interaksi
Mengkaji bagaimana pasien asma biasanya berinteraksi dengan oranglain
e. Pola Kesehatan Sehar-hari
1) Pola Nutrisi
Mengkaji bagaimana status nutrsi pasien, meliputu jumlah frekuensi dan kebutuhannya
pada saat pasien sesak
2) Pola Eliminasi
Mengkaji bagaimana kebiasaan BAB, BAK dan mencakup warna, bentuk, konsistensi,
frekuensi, jumlah serta apakah ada kesulitan dalam pola eliminasi
3) Pola Istirahat
Mengkaji bagaimana kualitas tidur dan istirahat pasien, berapa lama pasien tidur, apakah
ada Wheezing dan sesak dapat mempengaruhi pola tidur pasien
4) Personal Hygene
Mengkaji personal hygene pasien yang mengalami asma. Terkadang jika sesaknya
sedang kambuh pasien mengalami gangguan personal hygene
f. Pola Aktivitas
Mengkaji aktivitas keseharian Pasien, seperti berolahraga, bekerja. Aktifitas fisik dapat
menjadi faktor pencetus terjadinya asma.
[Link] fisik
1) Gambaran umum
Biasanya kesadaran pasien composmmentis
2) TTV
Tekanan darah menurun, nafas sesak, nadi lemah dan cepat, suhu meningkat, distress
pernafasan sianosis.
3) Secara sistemik dari kepala sampai ujung kaki
a) Kepala
Biasanya rambut tidak bersih karena pasien dengan asma mengalami penurunan
toleransi terhadap aktifitas termasuk perawatan diri.
b) Mata
Biasanya mata simetris, sklera tidak ikterik
c) Telinga
Biasanya telinga cukup bersih,bentuk simetris dan fungsi pendengaran normal
d) Hidung
Biasanya hidung simetris, hidung bersih
e) Leher
Biasanya tidak ditemukan benjolan.
f) Paru
(1) Inspeksi
biasanya terlihat klien mempunyai bentuk dada barrel chest penggunaan otot
bantu pernafasan
(2) Palpasi
biasanya premitus kanan dan kiri melemah
(3) Perkusi
bisanya hipersonor
(4) Auskultasi
biasanya terdapat ronkhi dan wheezing sesuai tingkat keparahan obstruktif
g) Jantung
(1) Inspeksi
bisanya ictus cordis tidak terlihat
(2) Palpasi
biasanya ictus cordis teraba
(3) Auskultasi
biasanya irama jantung teratur
h) abdomen
(1) Inspeksi
biasanya tidak ada asites
(2) palpasi
biasanya hepar tidak teraba
(3) Perkusi
biasanya timphany
(4) Auskultasi
biasanya bising usus normal
(5) Ekstremitas
biasanya didapatkan adanya jari tabuh (clubbing finger) sebagai dampak dari
hipoksemia yang berkepanjangan (Muttaqin, 2012).

B. Analisa Data
No DATA ETIOLOGI PROBLEM

1. DS : Infeksi,Merokok,Polusi,Alergen Bersihan jalan napas


Genetik tidak efektif
 Klien mengatakan sesak
nafas, sulit mengeluarkan
Masuk saluran pernapasan
sekret dan sering sesak
jika udara dingin
Iritasi mukosa saluran
DO : pernapasan

 Klien tampak lemas,


mukosa bibir kering, Reaksi inflamasi

terdengar bunyi wezing


Hipertropi dan hiperplasia
mukosa bronkus
Metaplasia sel globet

Produksi sputum meningkat


Batuk

Bersihan jalan nafas tidak efektif


2 DS : Infeksi,Merokok,Polusi,Alergen Defisit Nutrisi
Genetik
 Mengeluh batuk nyeri
dada
 Tidak nafsu makan
Masuk saluran pernapasan

DO :
Iritasi mukosa saluran
 Klien tampak lemas pernapasan
 Klien tampak pucat
 BB menurun
Reaksi inflamasi

Hipertropi dan hiperplasia


mukosa bronkus

Metaplasia sel globet

Penyempitan saluran pernapasan

Obstruksi

Penyebaran udara ke alveoli

Vasokontriksi pembuluh darah


paru-paru

Supply oksigen berkurang

Sesak nafas
Asma

Rangsangan batuk ada nyeri


insisi data

Nafsu makan berkurang

Defisit Nutrisi

3 DS : Infeksi,Merokok,Polusi,Alergen Gangguan pertukaran


Genetik gas
 Sakit kepala ketika
bangun
Masuk saluran pernapasan
 Gangguan penglihatan
 Nafas pendek s
Iritasi mukosa saluran
DO : pernapasan

 Penurunan CO2
 Takikardia Reaksi inflamasi
 Kelelahan
 Hipoksia
Hipertropi dan hiperplasia
 Kebingungan mukosa bronkus
 Sianosis
 Frekuensi dan kedalaman
Metaplasia sel globet
nafas abnormal

Penyempitan saluran pernapasan

Obstruksi
Penyebaran udara ke alveoli

Vasokontriksi pembuluh darah


paru-paru

Gangguan pertukaran gas

4 DS : Infeksi,Merokok,Polusi,Alergen Gangguan Pola tidur


Genetik
 Klien mengatakan sering
terbangun dan tidak bisa
Masuk saluran pernapasan
tidur lagi.

DO :
Iritasi mukosa saluran

 Pasien tampak lemah di pernapasan


pagi hari
 Mata pasien sembab Reaksi inflamasi

Hipertropi dan hiperplasia


mukosa bronkus

Metaplasia sel globet

Penyempitan saluran pernapasan

Obstruksi

Penyebaran udara ke alveoli


Vasokontriksi pembuluh darah
paru-paru

Supply oksigen berkurang

Sesak nafas

Kebutuhan tidur tidak efetif

Gangguan pola tidur

5 DS : Infeksi,Merokok,Polusi,Alergen Intoleransi Aktivitas


Genetik
 Klien mengatakan tidak
dapat beraktivitas seperti
Masuk saluran pernapasan
biasanya

DO :
Iritasi mukosa saluran
pernapasan
 Klien tampak sesak
 Aktivitas di bantu
keluarga Reaksi inflamasi

Hipertropi dan hiperplasia


mukosa bronkus

Metaplasia sel globet

Penyempitan saluran pernapasan


Obstruksi

Penurunan Ventilasi

Supply O2 menurun

Kelemahan

Intoleransi aktivitas
D. Perencanaan dan Intervensi keperawatan

N Dx. Tujuan Intervensi Rasional


o Keperawatan
1. Bersihan jalan Tupan : Bersihan jalan Latihan Batuk Efektif Latihan Batuk Efektif
napas tidak
napas membaik Observasi Observasi
efektif
Tupen : 1. Identifikasi kemampuan batuk 1. Mengetahui kemampuan klien
Setelah dilakukan 2. Monitor adanya retensi sputum batuk efektif
tindakan keperawatan Terapeutik 2. Mengidentifikasi adanya sputum
3x24 jam menunjukkan 3. Atur posisi semi fowler atau berlebih
keefektifan jalan napas fowler Terapeutik
dengan 4. Pasang perlak dan bengkok 3. Membantu klien bernapas lebih
Kriteria Hasil: dipangkuan klien baik/mengurangi sesak
1. Batuk efektif 5. Buang sekret pada tempat sputum 4. Menjaga kebersihan tubuh klien
meningkat Edukasi 5. Memudahkan untuk
2. Produksi sputum 6. Jelaskan tujuan dan prosedur mengobservasi sekret
menurun tindakan batuk efektif Edukasi
3. Sianosis menurun 7. Anjurkan tarik napas dalam 6. Agar klien mengerti, sehingga
4. Gelisah menurun selama 4 detik, ditahan selama 2 pada saat melakukan tindakan
5. Frekuensi napas detik kemudian keluarkan dari berjalan dengan lancar
membaik mulut selama 8 detik 7. Mempermudah pengeluaran
6. Pola napas 8. Anjurkan batuk dengan kuat secret atau sputum
membaik langsung setelah tarik napas
dalam yang ke-3 kalinya 8. Mengeluarkan sputum
Kolaborasi Kolaborasi
9. Kolaborasi pemberian melkolitik 9. Untuk melancarkan atau
atau ekspektoran
mengencerkan dahak dan
melancarkan jalan napas
2. Defisit Nutrisi Tupan:Nutrisi Manajemen Nutrisi Manajemen Nutrisi
terpenuhi Observasi Observasi
Tupen: 1. Identifikasi status nutrisi 1. Mengetahui status asupan
Setelah dilakukan 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan yang diberikan
tindakan keperawatan makanan 2. Mengetahui adanya alergi dan
3x24 jam diharapkan 3. Identifikasi makanan yang intoleransi makanan
nutrisi membaik disukai 3. Untuk meningkatkan nafsu
dengan 4. Identifikasi kalori dan jenis makan dan memberi asupan
Kriteria Hasil: nutrisi makanan sesuai kesukaan
1. Nafsu makan 5. Monitor asupan makanan 4. Mengetahui kebutuhan kalori
membaik 6. Monitor hasil pemeriksaan dan jenis asupan
2. Frekuensi makan laboratorium 5. Mengetahui asupan makanan
membaik Terapeutik yang diperlukan
3. BB membaik 7. Sajikan makanan secara menarik 6. Dapat menentukan intervensi
4. Bising usus dan suhu yang sesuai selanjutnya
membaik 8. Berikan makanan yang tinggi Terapeutik
5. Nyeri abdomen kalori dan tinggi protein 7. Untuk menarik keinginan makan
menurun 9. Berikan suplemen makanan, jika klien
perlu 8. Untuk mengganti elektrolit tubuh
Edukasi yang hilang
10. Ajarkan diet yang di programkan 9. Dapat meningkatkan nafsu
Kolaborasi makan
11. Kolaborasi dengan ahli gizi Edukasi
untuk menentukan jumlah kalori 10. Mengatur pola makan klien
dan jenis nutrisi yang Kolaborasi
dibutuhkan. 11. Diet sesuai kebutuhan nutrisi
3. Gangguan Tupan: Gangguan Pemantauan Respirasi Pemantauan Respirasi
Pertukaran pertukaran gas Observasi Observasi
Gas membaik 1. Monitor frekuensi, irama, 1. Untuk mengetahui frekuensi,
Tupen: kedalaman, dan upaya napas irama, kedalaman dan upaya
Setelah dilakukan 2. Monitor pola napas napas klien.
tindakan keperawatan 3. Monitor kemampuan batuk efektif 2. Mengetahui ada atau tidaknya
3x24 jam diharapkan kelainan pola napas.
gangguan pertukaran 4. Monitor adanya produksi sputum 3. Mengetahui kemampuan dan efek
gas dapat teratasi terapi batuk efektif.
5. Monitor nilai AGD 4. Sputum dapat menghambat jalan
napas
6. Monitor hasil rontgen thoraks
Kriteria Hasil: Terapeutik 5. Untuk memantau
1. Tingkat kesadaran 7. Atur interval pemantauan respirasi ketidakseimbangan asam basa
meningkat sesuai kondisi pasien. dalam tubuh klien karena AGD
2. Dispnea menurun 8. Dokumentasikan hasil merupakan parameter baku
3. Bunyi napas pemantauan kepada keluarga dan terjadinya gangguan pertukaran
tambahan menurun manfaat pemantauan yang gas.
4. Gelisah menurun dilakukan. 6. Untuk melihat adanya sumbatan
5. Napas cuping Edukasi jalan napas pada paru yang
hidung menurun 9. Jelaskan tujuan dan prosedur membuat pertukaran gas tidak
6. PCO2 membaik pemantauan adekuat.
7. Sianosis membaik 10. Informasikan hasil pemantauan. Terapeutik
8. Pola napas 7. Pemantauan oksigen harus
membaik dilakukan secara berkala agar
tidak menimbulkan komplikasi
yang membahayakan bagi klien.
8. Untuk membandingkan dengan
pemantauan sebelumnya dan
dijadikan acuan evaluasi rencana
asuhan keperawatan.
Edukasi
9. Agar klien mengerti, sehingga
pada saat melakukan tindakan
berjalan dengan lancar
10. Untuk memberikan informasi
tentang keadaan klien dan
mengurangi kecemasan terhadap
tindakan yang dilakukan.

4. Gangguan Pola Dukungan Tidur Dukungan Tidur


Tupan : Pola tidur
Tidur Observasi 1. Pengkajian pola tidur dan
membaik
1. Identifikasi pola aktivitas dan aktivitas klien penting agar
Tupen : tidur perawat mengetahui kebiasaan
Setelah di lakukan 2. Identifikasi faktor pengganggu tidur klien. Mengetahui keadaan
intervensi keperawatan tidur (fisik dan/atau psikologis) umum pasien
selama 3x24 jam, di 3. Identifikasi makanan dan
harapkan pola tidur minuman yang mengganggu tidur 2. Memonitor waktu dan pola tidur
membaik, dengan (mis: kopi, teh, alcohol, makan klien dapat membantu perawat
kriteria hasil : mendekati waktu tidur, minum mengetahui apakah klien
banyak air sebelum tidur) mengalami gangguan tidur atau
1. Keluhan sulit tidur
4. Identifikasi obat tidur yang tidak..
menurun
dikonsumsi
2. Keluhan sering
Terapeutik 3. Beberapa jenis makanan dan
terjaga menurun
5. Modifikasi lingkungan (mis: minuman bisa membuat klein sulit
3. Keluhan tidak puas
pencahayaan, kebisingan, suhu, tidur sehingga harus dihindari
tidur menurun
matras, dan tempat tidur) dikonsumsi sebelum tidur
4. Keluhan pola tidur
berubah menurun 6. Batasi waktu tidur siang, jika
5. Keluhan istirahat perlu 4. Obat merupakan salah satu alat
tidak cukup menurun 7. Fasilitasi menghilangkan stress bantu yang efektif untuk
sebelum tidur membantu mempermudah tidur
8. Tetapkan jadwal tidur rutin
Edukasi 5. Lingkungan yang nyaman
9. Jelaskan pentingnya tidur cukup membantu tubuh menjadi lebih
selama sakit relaks sehingga dapat
10. Anjurkan menepati kebiasaan mempermudah tidur
waktu tidur
6. Pembatasan tidur siang agar tidur
malam lebih lama dan tidak ada
kesulitan tidur
7. Meningkatkan tidur.
8. Menggurangi gangguan tidur
9. Agar pasien mampu membangun
pola tidur yang sesuai
5. Intoleransi Tupan:Toleransi Manajemen Energi Manajemen Energi
Aktivitas aktivitas klien Observasi Observasi
meningkat 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh 1. Untuk mengetahui gangguan
Tupen: yang mengakibatkan kelelahan fungsi tubuh yang dialami klien
Setelah dilakukan 2. Monitor kelelahan fisik dan akibat kelelahan
tindakan keperawatan emosional 2. Untuk mengetahui tingkat
3x24 jam diharapkan 3. Monitor pola tidur kelelahan fisik dan emosional
intoleransi aktivitas 4. Monitor lokasi dan klien.
teratasi ketidaknyamanan selama 3. Untuk mengetahui pola tidur klien
Kriteria Hasil: melakukan aktivitas apakah teratur atau tidak.
1. Kemudahan Terapeutik 4. Untuk mengetahui lokasi dan
melakukan aktivitas 5. Sediakan lingkungan nyaman dan tingkat ketidaknyamanan klien
sehari-hari rendah stimulus (mis. Cahaya, selama melakukan aktivitas
meningkat suara, kunjungan) Terapeutik
2. Kekuatan tubuh 6. Lakukan latihan gerak rentang 5. Untuk memberikan rasa nyaman
bagian atas pasif dan aktif bagi klien
meningkat 7. Berikan aktivitas distraksi yang 6. Untuk meningkatkan dan melatih
3. Kekuatan tubuh menyenangkan massa otot dan gerak ekstremitas
bagian bawah 8. Fasilitasi duduk disisi tempat klien
meningkat tidur, jika tidak dapat berpindah 7. Untuk mengalihkan rasa
4. Keluhan lelah atau berjalan ketidaknyamanan yang dialami
menurun Edukasi klien.
5. Dispnea saat 9. Anjurkan tirah baring 8. Untuk melatih gerak mobilisasi
aktivitas menurun 10. Anjurkan melakukan aktivitas klien selama dirawat.
6. Sianosis menurun secara bertahap
7. Frekuensi napas
membaik
11. Ajarkan strategi koping untuk Edukasi
mengurangi kelelahan 9. Untuk memberikan kenyamanan
Kolaborasi klien saat beristirahat.
12. Kolaborasi dengan ahli gizi 10. Untuk menunjang proses
tentang cara meningkatkan asupan kesembuhan klien secara
makanan. bertahap.
11. Agar klien dapat mengatasi
kelelahannya secara mandiri
dengan mudah.
Kolaborasi
12. Untuk memaksimalkan proses
penyembuhan klien
E. Evaluasi
Evaluasi adalah mengkaji respon pasien terhadap tindakan keperawatan
yang telah dilakukan oleh perawat dengan mengacu pada standar atau kriteria hasil
yang telah ditetapkan pada rumusan tujuan. Terlihat pada status pasien yang telah
dikaji bahwa kriteria keberhasilan yang dapat digunakan sebagai dasar evaluasi ini
tidak selalu dicantumkan sehingga evaluasi yang dilakukan kurang mengacu pada
tujuan (Hartati, 2019).
DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, "Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Hipertensi." Idea


Nursing Journal 2.1 (2011): 60-69.
Jihan Afifah, A. J. (2022). Asuhan Keperawatan Anak Dengan Gangguan
Kebutuhanoksigenasi Pada Kasus Asma Bronkial Terhadap An. S Di Desa
Mulang Maya Kotabumi Lampung Utara Tanggal 07-09 Maret
2022 (Doctoral Dissertation, Poltekkes Tanjungkarang).
Price, Sylvia. (2006). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit.
Jakarta: EGC
PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

Anda mungkin juga menyukai