BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan konstruksi telah dikenal sejak lama dan terus berkembang.
Bangunan dianggap sebagai salah satu aset yang paling berharga bagi kehidupan
bangsa yang berfungsi sebagai fasilitas bagi semua orang dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari. Seiring waktu berjalan, pemeliharaan bangunan merupakan
suatu proses yang paling berperan penting dalam mempertahankan nilai dan
kualitas bangunan itu sendiri. Adanya peningkatan pembangunan konstruksi di
Kupang, disertai dengan bertambahnya jumlah penduduk yang semakin banyak,
maka dibutuhkan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Peningkatan
pelayanan kesehatan di Kupang harus dikembangkan, baik dari segi penyediaan
alat-alat kesehatan, tenaga medis sampai dengan fasilitas kesehatan, seperti
Rumah Sakit Umum dan Puskesmas.
Menurut peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 24/PRT/M/2008
tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, bangunan
gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan
tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan atau di dalam
tanah dan atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan
kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan
usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Bangunan gedung
selesai dibangun diharapkan dapat berfungsi dengan baik sampai umur
1
2
rencananya. Oleh karena itu, pengelolaan bangunan setelah selesai dibangun
sampai umur rencananya sangat diperlukan. Namun, pemeliharaan gedung masih
sering dianggap kurang penting dalam dunia konstruksi (Chanter dan Swallow,
2007).
Bangunan rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan, memerlukan
pemeliharaan sama seperti bangunan-bangunan lainnya. Pemeliharaan bangunan
memainkan peran integral dalam seluruh desain dan proses konstruksi bangunan
(Shabha, 2003).
Berdasarkan pemaparan tersebut, pemeliharaan bangunan gedung
sepatutnya diperhatikan dan dilaksanakan oleh pihak yang mengelola sarana dan
prasarana Rumah Sakit Umum di Kupang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas,
permasalahan yang perlu diteliti adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan pemeliharaan bangunan Gedung Rumah Sakit
Umum Prof. Dr. WZ. Johannes di Kupang?
2. Bagaimana penilaian pengguna langsung dan pengguna tidak langsung
terhadap pemeliharaan bangunan Gedung Rumah Sakit Umum Prof. Dr.
WZ. Johannes di Kupang?
3. Apakah ada korelasi antara pelaksanaan pemeliharaan Gedung Rumah Sakit
Umum Prof. Dr. WZ. Johannes di Kupang dengan penilaian pengguna
langsung dan pengguna tidak langsung terhadap pemeliharaan tersebut?
3
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini diberikan beberapa batasan agar penelitian terfokus
sehingga hasil penelitian bisa lebih maksimal. Batasan tersebut meliputi :
1. Lokasi penelitian adalah gedung Rumah Sakit Umum Prof. Dr. WZ.
Johannes di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
2. Subyek penelitian adalah Bagian Pemeliharaan Bangunan Gedung dan
pengguna Gedung, serta mengacu pada Peraturan Menteri pekerjaan Umum
Nomor: 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan
Bangunan Gedung.
3. Penelitian ini berfokus pada jadwal-jadwal pemeliharaan komponen gedung
Rumah Sakit Umum Prof. Dr. WZ. Johannes yang dilakukan.
4. Karena terbatasnya waktu penelitian, tidak semua komponen gedung
diamati pemeliharaannya.
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pelaksanaan pemeliharaan bangunan Gedung Rumah Sakit
Umum Prof. Dr. WZ. Johannes di Kupang.
2. Mengukur penilaian pengguna langsung dan pengguna tidak langsung
terhadap pemeliharaan bangunan Gedung Rumah Sakit Umum Prof. Dr.
WZ. Johannes di Kupang.
4
3. Mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara pelaksanaan pemeliharaan
Gedung Rumah Sakit Umum Prof. Dr. WZ. Johannes di Kupang dengan
penilaian pengguna langsung dan pengguna tidak langsung terhadap
pemeliharaan bangunan tersebut.
1.5 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat
sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan
pemeliharaan bangunan Gedung Rumah Sakit Umum Prof. Dr. WZ. Johannes.
Bagian pemeliharaan juga dapat memahami pedoman pemeliharaan yang bisa
digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pemeliharaan bangunan gedung.
Dengan mengetahui penilaian pengguna, dapat dijadikan bahan evaluasi bagi
Bagian Pemeliharaan agar terus meningkatkan pemeliharaan rumah sakit ke arah
yang lebih baik demi kenyamanan pengguna gedung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat
yang diharapkan mampu memberikan pelayanan yang bermutu dan terjangkau
oleh masyarakat agar terwujud kesehatan yang setinggi-tingginya.
Rumah sakit adalah bangunan gedung yang memerlukan perhatian
khusus baik dari segi keselamatan, keamanan, kesehatan, kenyamanan dan
kemudahan bagi masyarakat. Berdasarkan UU RI No. 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit Pasal 3 menyebutkan bahwa pengaturan penyelenggaraan rumah
sakit bertujuan :
a. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
b. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat,
lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
c. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.
Selain itu, menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 147/Menkes/Per/I/2010 Pasal 1, tentang Perizinan Rumah Sakit, dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis menurut penyelenggaraan pelayanan yang
terdiri dari :
1. Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
5
6
2. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama
pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu,
golongan umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainnya.
3. Rumah Sakit Publik adalah rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah dan badan hukum yang bersifat nirlaba.
4. Rumah Sakit Privat adalah Rumah Sakit yang dikelola oleh badan hukum
dengan tujuan profit yang berbentuk perseroan terbatas atau persero.
2.2 Pemeliharaan Bangunan Gedung
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 24/PRT/M/2008
tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, pemeliharaan
bangunan gedung adalah kegiatan menjaga keandalan bangunan gedung beserta
prasarana dan sarananya agar bangunan gedung selalu laik fungsi (preventive
maintenance).
Beberapa jenis pemeliharaan berdasarkan British Standard Institute (1984)
BS 3811 : 1984 Glossary of Maintenance Management Terms in Terotechnology :
1. Pemeliharaan terencana (planned maintenance): pemeliharaan yang
terorganisir dan terencana. Adanya pengendalian dan pencatatan rencana
pemeliharaan.
2. Pemeliharaan preventif (preventive maintenance): pemeliharaan dengan
interval yang telah ditetapkan sebelumnya, atau berdasarkan kriteria
tertentu. Bertujuan untuk mengurangi kemungkinan kegagalan atau
degradasi performa suatu benda.
7
3. Pemeliharaan korektif (corrective maintenance): pemeliharaan yang
dilakukan setelah kerusakan atau kegagalan terjadi, lalu mengembalikan
atau mengganti benda tersebut ke kondisi yang diisyaratkan sesuai
fungsinya.
4. Pemeliharaan darurat (emergency maintenance): pemeliharaan yang
dilakukan dengan segera untuk menghindari risiko yang serius.
Pemeliharaan bangunan gedung harus sering dilakukan selama masa
penggunaan bangunan tersebut sehingga biaya perbaikan yang digunakan dapat
ditekan sekecil-kecilnya.
2.3 Lingkup Pemeliharaan Bangunan Gedung
Pekerjaan pemeliharaan meliputi jenis pembersihan, perapihan,
pemeriksaan, pengujian, perbaikan dan/atau penggantian bahan atau perlengkapan
bangunan gedung, dan kegiatan sejenis lainnya berdasarkan pedoman
pengoperasian dan pemeliharaan bangunan gedung. (Menurut Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor: 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan
Perawatan Bangunan Gedung).
Pemeliharaan bangunan gedung meliputi pemeliharaan dan perbaikan
kecil untuk seluruh bangunan gedung meliputi :
a. Arsitektur bangunan
Arsitektur bangunan, meliputi lantai dan tangga, dinding, pintu, jendela,
plafon dan atap.
8
b. Utilitas
Utilitas bangunan meliputi listrik, tata udara (AC), plumbing, lift, pemadam
kebakaran, dan instalasi pengolahan air.
c. Halaman
Halaman gedung meliputi lapangan parkir, pagar, tempat sampah, dan
saluran air.
2.4 Tujuan Pemeliharaan Bangunan Gedung
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Supriyatna (2011) menjelaskan
bahwa tujuan utama dari proses pemeliharaan adalah :
1. Untuk memperpanjang usia bangunan.
2. Untuk menjamin ketersediaan perlengkapan yang ada dan juga mendapatkan
keuntungan dari investasi yang maksimal.
3. Untuk menjamin keselamatan manusia yang menggunakan bangunan
tersebut.
4. Operasional dari setiap peralatan atau perlengkapan dalam menghadapi
situasi darurat seperti kebakaran.
9
2.5 Kegiatan Pemeliharaan Bangunan Gedung
Dalam penelitian Supriyatna (2011), Kegiatan pemeliharaan juga
dibedakan dalam 3 tipe, yaitu:
1. Pemeliharaan terencana, yaitu pemeliharaan yang diorganisasi dan
direncanakan sebelumnya dikontrol dan menggunakan record untuk
menetapkan rencana selanjutnya.
2. Pemeliharaan pencegahan yaitu pemeliharaan ini dilaksanakan pada interval
atau yang telah direncanakan sebelumnya dan bertujuan untuk mengurangi
kemungkinan adanya elemen yang rusak.
3. Pemeliharaan langsung, yaitu pemeliharaan yang dilaksanakan ketika suatu
elemen atau komponen pembangunan dalam keadaan rusak dan memerlukan
perbaikan.
2.6 Pedoman Pemeliharaan Bangunan Gedung
Penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan
Gedung. Lingkup pemeliharaan yang diamati yaitu lingkup arsitektural,
mekanikal, dan tata ruang luar. Namun, tidak semua komponen gedung diamati
pemeliharaannya karena waktu penelitian yang terbatas.
Standar pelaksanaan pemeliharaan komponen-komponen gedung
mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 24/PRT/M/2008
tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung disajikan dalam
Tabel 2.1.
10
Tabel 2.1 Standar Pemeliharaan Bangunan Gedung
No. Kegiatan Pemeliharan Standar
1. Pembersihan dinding keramik kamar mandi/WC 2 kali
2. Pembersihan plafon tripleks 3 bulan
3. Pelumasan kunci, engsel, grendel 2 bulan
4. Pelumasan pintu lipat 2 bulan
5. Pembersihan kusen Setiap hari
6. Pengecetan kembali kusen besi 1 tahun
7. Perawatan dinding kaca 1 tahun
Pembersihan kaca jendela serta pembatas (partisi
8. 1 minggu
ruangan)
9. Pembersihan saluran terbuka air kotor 1 bulan
Pembersihan sanitary fixtures (wastafel, toilet duduk,
10. Setiap hari
toilet jongkok, urinoir).
11. Talang air datar pada atap bangunan 1 tahun
12. Pengecetan kembali talang tegak dari pipa besi atau PVC 4 tahun
13. Pengecetan luar bangunan 3 tahun
14. Pemeliharaan atap bangunan 1 bulan
15. Pemeliharaan listplank kayu 6 bulan
16. Pemeriksaan dan pembersihan floor drain Setiap hari
Penggunaan disinfektan untuk membersihkan lantai dan
17. 2 bulan
dinding kamar mandi
18. Pembersihan lantai keramik Setiap hari
19. Pembersihan lantai keramik dengan penghisap debu Setiap hari
20. Pembersihan tirai/gordyn 2 bulan
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 24/PRT/M/2008
tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung Departemen
Pekerjaan Umum
11
2.7 Perencanaan Manajemen Pemeliharaan Bangunan Gedung
Dalam penelitian Ervianto (2007) dan Lateef (2009), masing-masing
mengusulkan konsep manajemen pemeliharaan gedung. Menurut Ervianto (2007),
proses perencanaan manajemen pemeliharaan harus berasal dari keinginan
pemilik bangunan untuk memelihara bangunannya agar tercipta rasa nyaman dan
aman bagi pengguna gedung. Pemilik gedung harus berkomitmen tinggi dalam
merencanakan dan melaksanakan pemeliharaan gedung. Tahap selanjutnya adalah
menyusun kerangka pikir tentang program pemeliharaan, rancangan program
pemeliharaan dan rancangan program pemeliharaan. Pada tahap ini terjadi
pemilihan konsentrasi pemeliharaan yang akan dilaksanakan, tentunya
disesuaikan dengan fokus peruntukan bangunan. Selanjutnya adalah menerapkan
program yang telah disepakati. Melakukan evaluasi dan monitoring terhadap
program pemeliharaan dilakukan guna mendapatkan tingkat efektifitas dan
efisiensi, dilanjutkan dengan pembuatan laporan mengenai performa bangunan
dan fasilitasnya setiap periode waktu tertentu. Data mengenai fasilitas yang berada
pada bangunan juga harus ada catatannya, sehingga umur komponen dapat
diprediksi dengan baik. Data ini dapat digunakan untuk prediksi biaya yang
dibutuhkan di tahun-tahun yang akan datang.
Menurut Lateef (2009), manajemen pemeliharaan bangunan gedung
seharusnya menempatkan pengguna gedung sebagai dasar dan pusat pemikiran
perencanaan pemeliharaan. Pemeliharaan harus berfokus pada pengguna, tidak
sekedar memelihara aset/ fasilitas. Jika keinginan pengguna gedung bisa terpenuhi
dengan biaya yang minimal, hal tersebut tentu menambah nilai bangunan bagi
12
pengguna. Untuk tetap menjaga kepuasan pengguna perlu ada perencanaan untuk
pemeliharaan jangka panjang beserta dana yang dikhususkan untuk pemeliharaan.
Rencana jadwal pemeliharaan juga harus dibuat, lalu pengelola bangunan juga
harus mempunyai data catatan pemeliharaan dan informasi mengenai kondisi dan
performa bangunan. Rencana jadwal pemeliharaan juga harus disesuaikan dengan
aktivitas pengguna bangunan. Pelaksanaan pemeliharaan sebaiknya dilakukan saat
gedung sepi dari aktivitas, misalnya di akhir pekan.