Persiapan Pendakian Gunung Lawu
Persiapan Pendakian Gunung Lawu
Sore hari selepas waktu ashar. Rio terlihat tengah berdiskusi dengan Dika, Arif dan Fani.
Mereka tengah duduk di ruang tengah kediaman Rio.
“Pokonya gini aja, Bro. Lu semua harus siapin tenaga selama perjalanan dan pendakian,” ucap
Rio menyarankan.
“Sudah... Urusan badan sehat sih, elu juga kan lihat, Rio. Nih lu liat kan gua, Arif sama Fani
juga sehat,” sahut Dika sambil menunjuk.
“Iya gua juga tahu elu semua sehat, Dika. Tapi untuk pendakian kali ini, adek gua sama
temenya mau ikut, Bro. Jadi ya kita harus bawa dua mobil,” ucap Rio memberitahu.
“Tenang, Rio. Urusan mobil sih, mobil gua juga ngangur. Gua udah enggak sabar pengen lihat
puncaknya gunung Lawu, hehe,” sahut Dika tertawa.
“Apa elu udah tau tentang gunung itu, Rio?” tanya Arif mengerutkan alisnya.
“Iya gua tahu, rif. Dan untuk pendakian nanti, kita jangan berkata atau berbuat yang tidak-tidak.
Karena yang gua tahu, katanya gunung lawu itu aura mistisnya kental banget, maka dari itu
gua saranin, agar pendakian kita nanti lancar. Kita harus mematuhi apa yang di larang di sana,”
jawab Rio menjelaskan.
“Haha ... Elu semua masih percaya hal yang begituan, Bro? Halah... Udah lah jangan mikir hal
begitu, yang penting kita mendaki terus senang-senang di sana, haha,” sahut Dika meledek.
“Elu enggak boleh gitu, Dika. Apa yang di bilang Dimas itu benar,” ucap Fani memperingatkan.
“Benar apanya? Elu Cuma baru tahu dari orang yang bilang. Katanya, katanya saja. Udah lah,
gua enggak percaya dengan setan atau apa lah,” timpal Dika seakan kesal.
“Iya walaupun elu enggak percaya sama hal begitu juga, elu jangan begitu, Dika... Enggak
baik,” ucap Arifi mengingatkan.
“Sudah, rif. Pokonya sesuai niat kita saja, kita kan niatnya juga mau mendaki gunung itu. Jadi
susah lah fokus saja mendaki, jangan mikir ini dan itu,” timpal Dika dengan raut wajah kesal.
“Sudah ... Sudah, jangan di ributin. Karena ini udah sore, jadi sekarang elu semua pulang terus
nyiapin semua perlengkapan. Nanti malam jam delapan kita berangkat,” ucap Rio
memperingatkan.
“Iya, Bro. Ya udah yah kita pulang dulu, mau kemas-kemas, haha,” jawab Dika tertawa.
Setelah diskusi selesai. Kemudian Dika, Arif dan Fani pulang kerumahnya masing-masing.
Sementara Rio masih terlihat duduk-duduk di kursi itu. Ketika Rio tengah duduk santai, terlihat
Yeni dan Siska memasuki rumah itu. Yeni tersenyum melihat kakaknya dan terus
menghampirinya.
“Ini, Kak. Temen aku, namanya Siska,” ucap Yeni kemudian tersenyum.
Rio kemudian menyalami Siska dan mempersilahkan Yeni dan Siska untuk duduk bersamanya.
“Sudah sih, Kak. Satu kali, waktu itu aku ikut sodara mendaki di gunung Ciremai,” jawab Siska
menceritakan.
“Owh, iya sukurlah. Kalau si Yeni ini kan belum pernah sama sekali, Sis. Udah di bilang jangan
ikut, tapi nih anak ngeyel,” ucap Rio sedikit tertawa.
“Iya biarin lah, Kak. Aku juga kan pengen tahu, pengen ngerasain berdiri di puncak gunung itu
seperti apa,” sahut Yeni sedikit kesel.
2
“Tapi kamu udah bawa persiapan kan?” tanya Rio.
“Sudah kak, semua barang-barang sudah aku masukan ke ransel,” jawab Siska menjelaskan.
“Bagus lah, nanti kita berangkatnya malem, jam delapan. Jadi kamu bisa istirahat dulu lah,”
ucap Rio tersenyum.
Tidak lama setelah itu. Yeni kemudian mengajak Siska untuk masuk kedalam kamarnya untuk
istirahat sambil menunggu keberangkatan. Bu Ratna menghampiri dan membiarkan nasihat
untuk putrinya dan Siska. Berharap bisa sampai kepuncak dan bisa kembali dengan selamat.
“Ibu mau bilang sama kalian, nanti di sana jangan bertingkah yang tidak sopan, dan berbicara
yang kurang baik. Jaga perilaku kalian, patuhi peraturan yang ada di sana,” ucap Bu Ratna.
“Ya sudah, kalian istrhat saja dulu, nanti ibu bangunkan kalau mau maghrib,” ucap Bu Ratna.
Setelah memberikan nasihat. Bu Ratna kemudian keluar dari kamarnya putrinya. Sementara
Yeni dan Siska terlihat mulai merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
***
Pukul 19:30 Rio dan semua teman-temannya sudah nampak berkumpul di teras depan rumah.
Setelah lebih dahulu menata barang-barang bawanya dan memasukannya kedalam mobil. Rio
kembali memberikan instruksi kepada rombonganya yang akan ikut berangkat menuju daerah
Karanganyar, Jawa tengah. Untuk mendaki di gunung Lawu.
Rio nampak memberikan pesan-pesan kepada semuanya untuk selalu berhati-hati dan jangan
lupa beribadah. Rio juga memberikan peringatan supaya semua yang ikut mematuhi peraturan
yang ada di sana. Semuanya nampak memanggut-mangutkan kepalanya seolah mengerti apa
yang di ucapkan oleh Dimas. Terkecuali Dika yang terlihat malas mendengarkan peringatan itu.
Setelah Rio memberikan arahan kepada rombonganya. Tepat pukul delapan malam mereka
akhirnya berangkat menggunakan dua mobil. Rio membiarkan teman-temannya untuk menaiki
mobil milik Dika.
Sementara Rio membawa adiknya dan Siska. Perlahan mobil itu meninggalkan halaman
rumahnya. Selang beberapa lama, kedua mobil itu masuk di jalan raya dan terus memacu
kecepatan laju mobilnya.
Dika yang menyetir membuntuti mobil yang di Kendarai Rio, nampak mengikuti kecepatan laju
mobil di depanya. Wajahnya nampak kesal setelah mendengar peringatan yang di ucapkan
oleh Rio.
3
“Bro. Gua paling malas kalo udah dengerin si Rio ngasih peringatan-peringatan, yang di
omongin itu-itu terus,” gerutu Dika dengan raut wajah kesal.
“Iya kan dia bilang begitu juga buat keselamatan kita juga, Dika,” sahut Arif dari belakang.
“Gua tahu, Rif. Cuma ya enggak usah di omongi terus-terusan lah. Bosen dengarnya. Lagian
juga percaya banget sih sama hal-hal yang begitu,” timpal Dika kesal.
“Tapi semua yang di katakanya itu benar, Dika. Gunung lawu itu sangat kental aura mistisnya,”
ucap Fani.
“Eh, Bro. Elu kalau belum pernah kesana, udah enggak usah percaya sama hal-hal yang kayak
gitu. Gua juga tahu elu itu Cuma baru denger dari orang lain, yang selalu bilang katanya,
katanya mulu. Menurut gua sih kalau mendaki ya udah mendaki aja, ngecamp di sana, senang-
senang,” sahut Dika dengan mata fokus kedepan.
Arif dan Fani yang duduk di belakang Cuma menggelengkan kepalanya mendengar ucapan
Dika yang benar-benar susah di ajak bicara baik dan susah untuk di kasih nasihat.
Kedua mobil itu terus melaju di jalanan daerah Karawang. Dika nampak fokus menyetir
mobilnya dengan terus memacu kecepatan laju mobilnya mengikuti mobil yang di Kendari oleh
Rio.
Ketika tengah melintasi jalur yang di kelilingi pesawahan. Mobil yang di kendarai Dika
menabrak dan melindas seekor kucing yang hendak menyebrang jalan. Dika nampak kaget,
begitu juga dengan Arif dan Fani. Mobil itu dia rem mendadak.
“Dasar, kucing sialan. Sudah ... Cuma kucing doang kok,” sahut Dika yang bergegas kembali
melajukan mobilnya.
“Wah, elu parah, Dika. Harusnya tadi elu turun dulu, kuburin itu kucing,” ucap Fani merasa
heran.
“Haha... Ngapain, Bro. Gua di suruh nguburuin kucing, emangnya itu kucing sodara gua, haha,”
sahut Dika tertawa.
“Bukan begitu, Bro. Orang itu kalau nabrak kucing atau melindasnya hingga mati. Maka harus
menguburkannya, dan kaos yang elu pake itu di jadiin buat ngebungkus kucing itu. Katanya sih
biar enggak nemu sial nantinya,” ucap Arif menjelaskan.
“Haduh... Elu berdua ini, Bro. Bilang lagi katanya. Udah deh kan Cuma kucing,” timpal Dika
dengan nada kesal.
4
Sementara Rio yang mengendarai mobil di depan. Terlihat lebih santai dan membiarkan Yeni
dan Siska untuk tidur. Tiba-tiba Rio menghentikan laju mobilnya karena melihat mobil Dika
yang berada di belakangnya berhenti. Rio nampak keluar mobil dan terus berjalan menghampiri
mereka.
“Kenapa, Dika? Malah berhenti disini, ini hutan,” tanya Rio heran.
“Enggak tau gua, Rio. Tiba-tiba mesin mobil mati,” jawab Dika nampak heran.
“Mesin mati mendadak? Kok bisa gitu, Dika?” Rio nampak bingung.
“Dasar bener-bener nih mobil, mentang-mentang jarang gua pake, di bawa jalan berapa jam
aja udah mati,” ucap Dika nampak kesal.
Arif dan Fani nampak heran dan langsung berprasangka mengenai kucing yang diindasnya itu.
“Apa ini gara-gara elu tadi nabrak kucing, Dika?” Arif berprasangka.
“Hah. Kalian ini, mesin mobil gua mati karena jarang di servis, Bro. Elu jangan mikirnya
kesana,” sahut Dika kesal.
“Iya gua nabrak terus kelindas tuh kucing, mati.” Dika masih nampak kesal.
“Haduh, kenapa elu tadi enggak berhenti dulu, di kuburin dulu, Dika” ucap Rio heran.
“Haahh, udan deh. Ini semua bukan karena kucing atau apa, ini karena mesin mobil gua yang
suka mati karena jarang servis,” timpal Dika yang terus memasuki mobilnya
Dika nampak mencoba menghidupkan mesin mobil berkali-kali. Namun masih tetap tidak mau
hidup. Wajahnya sudah nampak sangat kesal.
Rio, Arif dan Fani hanya menatapnya dari luar. Terlihat Dika berkali-kali mencoba menyalakan
mesin mobilnya. Namun mesin mobil itu nampak tidak mau menyala. Dika kemudian turun dari
mobilnya.
“Coba kita dorong dulu, Dika. Siapa tahu nanti bisa hidup mesinya,” ucap Rio menyarankan.
“Iya bener, Rio. Ya sudah elu semua dorong yah,” sahut Dika kembali masuk kedalam
mobilnya.
5
Kemudian Rio, Arif dan Fani pun mendorong mobil itu dan Dika mencoba menghidupkan
kembali mesin mobilnya. Tidak lama kemudian mesin mobil itu pun menyala. Arif dan Fani
bergegas untuk masuk kedalam mobil. Rio pun nampak lari kearah mobilnya. Setelah itu,
kedua mobil pun kembali melaju di jalanan yang membelah hutan. Pohon-pohon besar nampak
berdiri kokoh di pinggir jalan itu. Jalanan itu nampak sepi, dan hanya sesekali terlihat
kendaraan yang melintas berpapasan dengan mereka.
Rio membiarkan mobil yang di kendarai Dika ada di depanya. Yeni dan Siska yang semua
tertidur pun kini telah bangun dari tidurnya.
“Itu, mesin mobilnya tiba-tiba mati,” jawab Rio dengan pandangan fokus kedepan.
“Kok bisa gitu? Udah berhetinya di hutan lagi, aneh-aneh aja,” timpal Yeni yang kemudian
meminum air mineral.
“Iya, katanya sih, tadi si Dika enggak sengaja nabrak seekor kucing terus kelindas tuh
kucingnya sampe mati, hancur,” ucap Rio.
“Katanya sih enggak, susah memang si Dika itu orangnya, padahal udah di kasih tahu sama si
Arif. Tapi ya gitu,” jawab Rio menjelaskan.
“Ya ampun ... Padahal yah, Kak. Menurut berita yang saya dengar, kalau kita nabrak kucing
sampe mati itu, kita harus menguburkannya. Karena banyak yang bilang. Jika tidak begitu
nantinya akan nemu sial atau orang bilangnya sih, Apes,” sahut Siska.
“Ihh, kamu ini, Sis. Jangan nakut-nakutin. Sudah mudah-mudah saja tidak ada apa-apa lah,”
ucap Yeni seakan ketakutan.
“Ya sudah... Semoga saja kita selamat sampai tujuan. Berdoa saja yang baik-baik,” sahut Rio
dari depan.
“Iya, Kak. Eh itu. Kok berhenti lagi sih,” ucap Yeni sambil menunjuk.
Mobil yang di kendarai Dika tiba-tiba berhenti kembali dengan mesin yang lagi-lagi mati
mendadak. Rio menghentikan mobilnya di dekat mobil Dika. Kemudian turun menghampiri
mereka.
“Tau nih mobil, ngajak berantem kali. Mati-mati terus,” jawab Dika kesal.
6
“Ya sudah, kita dorong lagi aja,” ucap Rio menyarankan.
Kemudian Rio, Arif dan Fani kembali mendorong mobil itu. Yeni dan Siska yang berada di
dalam mobil. Ketika tengah memperhatikan Rio dan kedua temannya mendorong mobil itu.
Secara tidak sengaja melihat di atas mobil itu nampak sosok putih dengan rambut panjang
duduk di atas mobil itu. Sontak saja Yeni dan Siska teriak ketakutan.
“Jangan teriak, Yen. Diam saja diam ,” pinta Siska dengan nada pelan.
Hal itu tidak di lihat oleh Rio dan kedua temannya yang tengah mendorong mobil itu, dan
teriakan Yeni yang kencang pun tidak di dengar oleh mereka. Selang beberapa saat mesin
mobil itu kembali nyala. Rio pun bergegas kembali masuk kedalam mobilnya dan terus
menginjak pedal gas. Namun Rio heran dengan Yeni dan Siska yang terlihat ketakutan.
“Kak, tadi di atas mobil itu ada yang duduk,” jawab Yeni dengan nada ketakutan.
“Ada yang duduk? Enggak ada, itu kamu lihat coba, enggak ada siapa-siapa. Mungkin itu
Cuma halusinasi kamu aja, Dek,” ucap Rio mencoba menenangkan.
“Serius, Kak. Tadi aku sama Siska lihat ada sosok putih, rambutnya panjang lagi duduk di atas
mobil itu, tapi enggak kelihatan mukanya ... Aku takut, Kak....” Yeni nampak benar-benar
ketakutan.
“Sudah, sudah, Yen. Minum dulu, minum nih,” ucap Siska mencoba menenangkan.
Rio mulai merasa ada yang janggal dengan apa yang terjadi selama melintasi jalur itu.
“Ya sudah kamu tenangin diri dulu, Dek. Jangan mikir yang tidak-tidak. Dan terus saja berdoa
yang baik-baik,” pinta Rio yang sebenarnya sudah mulai mengerti.
Sementara Arif dan Fani sudah berfikiran yang terjadi saat ini, bukan semata-mata karena
mesin mobil. Akan tetapi memang di ganggu oleh makhluk halus setempat.
“Hahh ... Dasar mobil tua. Ini lagi hutan kok panjang bener. Dari tadi perasaan enggak nyampe-
nyampe pemukiman warga,” cetus Dika nampak kesal.
7
“Iya, yah, Dika. Gua juga ngerasain gitu, kita berasa jalan itu di sini-sini aja padahal udah
hampir dua jam lo ini,” sahut Arif merasa janggal.
“Apa kita salah jalan atau kita lagi di Jailin sama penghuni hutan ini,” sahut Fani berprasangka.
“Eh, Bro. Elu berdua jangan selalu nyangkutin kejadian ini sama hal-hal begitu, ini jalanya aja
yang panjang.
Orang gua juga baru kali ini melintas di jalan ini kok,” ucap Dika dari depan.
Arif dan Fani sontak kaget mendengar itu. Namun hal itu tidak di dengar oleh Dika yang tengah
fokus menyetir mobilnya.
“Dika. Ini gila. Elu denger enggak suara apaan tadi?” tanya Arif ketakutan.
“Suara apaan? Wah... Elu berdua udah mulai parno. Jelas-jelas enggak ada suara apa-apa,
malah nanya begitu. Aneh lu,” jawab Dika dengan nada kesal.
“Sumpah, Dika. Gua tadi dengar ada suara perempuan tertawa,” ucap Arif menjelaskan.
“Iya, Dika. Gua juga denger dan suaranya itu jelas banget,” sahut Fani.
“Haha... Itu karena elu berdua mikirinya gitu-gitu terus. Makanya sudah lah jangan berfikran
yang aneh-aneh,” timpal Dika yang tidak percaya.
Sementara itu Rio yang mengendarai mobilnya di belakang mobil Dika tidak melihat ada apa-
apa dan tidak mendengar kejadian aneh. Namun Yeni dan Siska masih terlihat ketakutan.
Karena mereka berdua mendengar suara perempuan yang tertawa.
“Ih, aku takut, Kak ... Tadi suara apa sih?” Yeni benar-benar ketakutan.
“Suara? Enggak ada suara apa-apa, Dek... Kamu jangan berhalusinasi terus. Lebih baik kamu
istirahat deh, di bawa tidur,” ucap Rio menyarankan.
“Dengar apa? Enggak ada suara apa-apa kok, Sis... Lebih baik kalian berdua istirahat saja.
Biar tidak berfikiran yang aneh-aneh,” jawab Rio menenangkan.
“Iya, Kak. Ya sudah, Yen ... Kita bawa tidur aja yuk,” ucap Siska kemudian mengajak Yeni
untuk tidur.
8
Tidak lama kemudian, Yeni dan Siska pun terlelap. Perjalanan terlihat normal, namun jalanan
yang mereka lalui terlihat sepi tanpa ada kendaraan yang melintas. Hal itu pun di rasakan oleh
Rio.
“Perasaan ini jalan sepi banget... Terus juga ini mobil jalan di sini-sini aja,” ucapnya dalam hati
yang merasakan hal aneh.
Sontak Rio kaget mendengar hal itu. Jantungnya berdetak kencang. Rio nampak mulai percaya
ternyata apa yang ucapkan Yeni dan Siska itu benar. Dengan begitu Rio terus berdo’a
berharap tidak di ganggu dan bisa selamat sampai tujuan.
Hal itu pun kembali di dengar oleh Arif dan Fani. Namun tidak dengan Dika yang tengah
mendengarkan musik melalui headset. Arif dan Fani benar-benar sudah ketakutan karena
suara itu terdengar berkali-kali.
“Iya gua juga denger kok. Menurut gua ini ada hubungannya dengan kucing yang di tabrak
tadi,” jawab Fani berbisik.
“Bisa jadi, Dan. Jujur gua baru kali ini ngalamin perjalan yang aneh, Bro. Ini parah banget, dan
elu ngerasa enggak kita itu seakan di sini-sini terus,” ucap Arif.
“Iya, Rif. Masa iya sih jalan juga sepi ... Enggak ada satu ke atau dua kendaraan yang lewat,”
timpal Fani nampak bingung.
Ketika mereka berdua tengah membicarakan hal itu. Suara tertawa itu terdengar kembali dan
bahkan semakin jelas terdengar di telinga mereka begitu juga dengan Rio yang merasakan hal
yang sama. Rio nampak mencoba menenangkan diri. Dan tidak sengaja melihat keatas mobil
yang di naiki teman-temannya di depan. Dilihatnya di atas mobil itu terlihat sosok kuntilanak
yang tengah berdiri menghadap kedepan. Rambutnya nampak panjang. Rio mencoba
mengucek matanya untuk memastikan apa yang di lihatnya. Ternyata itu benar-benar
kuntilanak yang kemudian tertawa berkali-kali, sehingga Rio mulai diselimuti rasa takut, begitu
juga dengan Arif dan Fani yang berada didalam mobil itu.
Kejadian itu terus berulang-ulang hingga Rio sadar, bahwa mobil yang di kendarainya hanya di
situ-situ saja. Rio kemudian berdo’a terus menerus, meminta supaya tidak di ganggu oleh hal-
hal yang di luar nalar.
Tiba-tiba. Mobil yang di kendarai oleh Dika mengalami pecah ban. Dan sontak mobil itu
berhenti.
9
Duuaarr!
Suara itu terdengar sangat keras. Rio sontak kaget dan menghentikan laju mobilnya. Semua
temannya turun dan Rio pun menghampiri mereka.
“Haduh... Ada-ada aja nih mobil,” cetus Dika sangat kesal sambil menendang ban mobilnya.
“Bisa-bisanya ini pecah ban tengah malem, mana lagi di hutan lagi,” ucap Rio heran.
“Hah, ya sudah. Kita dongkrak dulu, Bro. Kebetulan gua bawa ban serep,” ujar Dika yang
bergegas mengambil peralatan.
“Ini benar-benar aneh. Dari tadi kita mengalami gangguan terus perjalanan ini ,” ucap Arif.
“Sudah, Rif. Jangan nyerah. Kita bantu bareng-bareng biar mobil ini cepat beres dan perjalan
kita bisa cepat sampai ,” jawab Rio menyarankan.
Akhirnya mereka semuanya bekerjasama untuk mendongkrak dan memasang ban serep mobil
Dika. Hal janggal pun kembali menghampiri mereka. Ketika mereka tengah sibuk memasang
ban mobil. Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba ada tukang bakso yang melintas di jalanan
itu. Rio, Arif dan Fani pun merasa aneh dengan apa yang dilihatnya. Mengingat waktu sudah
memasuki tengah malam. Namun tidak bagi Dika, yang terlihat senang ketika melihat ada
tukang bakso yang lewat.
“Wih, ada tukang bakso, Bro. Kita makan bakso dulu aja yuk,” ucap Dika terlihat senang.
“Enggak, Dika. Gua masih kenyang,” jawab Rio yang sebenarnya melihat keanehan.
“Eh, elu semua laper enggak sih? Berhubung kita sudah selesai pasang ban.
Terus perut gua juga laper, kita beli bakso saja dulu,” ucap Dika mengajak.
“Gua udah kenyang, Dika. Tadi di dalem makan roti terus,” jawab Arif dengan cepat.
“Hah... Kalian ini, di ajak makan bakso enggak mau. Ya sudah kalian tunggu saja disini, gua
mau beli bakso dulu,” cetus Dika sedikit kesal dan terus menghampiri tukang bakso.
Sementara Rio, Arif dan Fani hanya menatapnya saja karena mereka merasakan ada hal yang
aneh.
10
“Rio. Apa iya itu tukang bakso beneran?” bisik Fani bertanya.
“Logika saja, Fan. Ini tengah malam, terus juga masa iya orang jualan bakso lewat sini.
Sedangkan ini jalur pemukiman dari sana menuju pemukiman lagi itu jaraknya jauh,” jawab Rio
dengan wajah heran.
Kemudian Semuanya hanya memperhatikan Dika yang tengah berdiri menunggu bakso yang
sedang di bikin oleh tukang baksonya. Rio, Arif dan Fani kaget ketika memperhatikan kaki
tukang bakso itu, ternyata tidak menapak ke tanah. Sontak mereka bertiga saling tatap namun
tidak bicara sepatah kata pun.
Setelah mendapatkan bakso itu. Dika pun kembali menghampiri mereka bertiga untuk makan di
situ.
“Ini, Bro. Gua makan bakso dulu, haha,” ucap Dika yang terus jongkok untuk makan bakso.
Keadaan di situ tidak begitu terang, hanya cahaya lampu dari mobil Rio yang sengaja di
nyalakan. Dika nampak menikmati bakso itu. Rio, Arif dan Fani hanya memperhatikanya dan
sesekali melirik kearah tukang bakso. Rio samar-samar melihat wajah tukang bakso itu yang
menatap kearahnya. Mukanya sangat hancur. Dengan begitu Rio langsung mengalihkan
pandangan, jantungnya berdetak kencang.
“Elu semua kenapa sih? Di ajak makan bakso bareng enggak mau,” tanya Dika sambil makan.
“Kita enggak pengen, Dika. Masih kenyang... Terus juga, itu tukang baksonya kamu lihat,”
jawab Arif dengan nada pelan.
“Halahhh, itu ya tukang bakso. Elu ini selalu mikir yang aneh-aneh. Ini lihat ini, tuh ini bakso
beneran tau,” cetus Dika kesal.
Ketika Rio, Arif dan Fani memperhatikan bakso yang di sedang di makan oleh Dika. Ternya itu
bukan Bakso dan mie. Melainkan cacing hitam, potongan daging dan darah. Sontak Rio
menyuruh untuk membuangnya.
“Dika. Buang Dika. Jangan di makan,” pinta Rio dengan ekspresi ketakutan.
“Ngapain elu nyuruh buang? Gua lagi enak-enak makan.” Dika nampak heran dan kesal.
“Elu lihat baik-baik apa yang elu makan itu,” ucap Fani merasa mual.
“Ini ya Bakso, Bro. Kalian ini gimana sih?” jawab Dika kesal.
11
“Iya elu lihat baik-baik dulu. Itu bukan Bakso, Dika,” timpal Rio merasa mulai mual.
Tiba-tiba seketika tukang bakso itu hilang dari pandangan mereka, dan bakso yang tengah di
makan oleh Dika itu masih ada dan terlihat jelas kalau itu bukan Bakso.
“Udah buruan buang, Dika. Kita lanjut jalan aja,” pinta Arif.
“Ini belum habis. Maen buang-buang aja,” cetus Dika nampak kesal.
“Itu elu liat, tukang baksonya juga enggak ada, ayo buruan masuk mobil, Bro,” ucap Fani
bergegas masuk kedalam mobil.
Begitu juga dengan Rio menyuruh hal yang sama. Dika nampak kebingungan ketika melihat
orang yang jualan bakso itu hilang. Dengan begitu dia pun melempar mangkoknya dan
bergegas masuk kedalam mobilnya dan terus tancap gas. Rio pun bergegas melajukan
mobilnya. Rio sudah merasakan ketakutan. Namun beruntungnya tidak di ketahui oleh adiknya
dan Siska.
Kedua mobil itu terus melaju membelah hutan yang mereka lalui. Rio melihat jam di tanganya
sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan begitu Rio mempercepat laju mobilnya.
Mengingat Dika juga yang berada di depanya terlihat sangat cepat melajukan mobilnya. Dika
mulai merasakan kejanggalan dengan apa yang baru saja di lihatnya.
“Eh, Bro. Elu tadi lihat enggak tukang bakso itu jalanya kemana?” tanya Dika penasaran.
“Dika. Itu bukan tukang bakso, itu setan,” jawab Arif menjelaskan.
“Setan? Elu ini, jelas-jelas itu tukang bakso, gua sendiri yang liat dari dekat kok,” timpal Dika
tidak percaya.
“Sumpah, Dika. Tadi itu, gua sama yang lain juga lihat kalau kaki tukang bakso itu tidak napak
ke tanah,” ucap Fani menceritakan.
“Haha... Iya lah enggak langsung napak, orang di pake sendal, haha,” jawab Dika tertawa.
“Bukan soal itu Dika. Tapi tadi memang benar-benar hantu. Terus bakso yang elu makan juga
itu bukan bakso. Makanya kita suruh buang,” terang Arif menjelaskan.
“Hahh... Itu bukan bakso gimana? Orang itu rasanya juga bakso kok, kalian aja ini yang selalu
berfikiran aneh-aneh,” timpal Dika kesal.
Arif dan Fani yang tidak mauBerdebat, mereka berdua memilih untuk diam. Karena merasa
sangat susah untuk meyakinkan temannya itu. Mobil itu terus melaju dengan sangat cepat.
Tidak lama kemudian, mereka memasuki jalanan yang melintasi pemukiman warga. Dengan
12
begitu Arif dan Fani merasa sangat senang bisa keluar dari jalan yang melintas hutan tadi.
Begitu juga dengan Rio yang merasakan hal yang sama ketika masuk jalur pemukiman warga.
Namun tidak lama kemudian. Kedua mobil itu kembali memasuki jalan yang membelah hutan
yang terlihat sangat gelap. Kedua mobil menurunkan kecepatanya, karena melihat jalur yang
berbelok-belok tajam. Tiba-tiba Dika, Arif dan Fani kaget ketika kaca mobil yang di naikinya
seperti ada yang melempar.
Brakkk!
“Bentar dulu, gua mau tau siapa yang melepar kaca mobil gua,” sahut Dika yang terus turun.
Rio pun yang berada di belakangnya kemudian menghentikan mobilnya. Rio melihat kearah
Dika yang tiba-tiba berhenti dan terus keluar dari mobilnya. Wajahnya nampak terlihat kesal
dan teriak-teriak seakan memarahi orang yang melempari mobilnya.
“Siapa lu. Kalo berani sini... Jangan maen lempar-lempar batu ke mobil gua,” teriak Dika sangat
kesal.
Rio yang melihat itu kemudian mendekatinya dan meminta Dika untuk segera melanjutkan
perjalanan. Selang beberapa lama Dika kemudian menuruti apa yang di ucapkan oleh Rio,
namun dengan raut wajah yang masih nampak kesal. Kemudian Dika kembali melanjutkan
perjalannya. Di dalam mobil Dika masih nampak menggerutu, melampiaskan kekesalannya.
Arif dan Fani hanya diam saja melihat dan mendengarkan Dika yang tengah ngomel-ngomel
sendiri. Wajahnya nampak kesal setelah kaca mobilnya ada yang melempar.
“Gila. Udah gua teriak-teriak, orangnya enggak mau nongol juga. Kalau nongol mau gua
patahin tuh tanganya, seenaknya aja nimpukin mobil orang,” gerutu Dika dengan penuh emosi.
“Sudah, Dika. Itu ada yang jail aja mungkin,” ucap Arif mencoba menenangkan.
“Bro. Jail gimana? Biasanya kalau yang suka nimpukin mobil di jalanan begini itu komplotan
begal. Cuma ya itu, begal pada takut kali lihat gua,” sahut Dika sedikit tertawa.
Arif dan Fani hanya menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Dika itu. Ketika Dika
nampak fokus menyetir mobilnya. Samar-samar melihat sekelebat bayangan putih menyebrang
jalan dan tepat berada di depan mobil. Dengan begitu Dika menginjak rem mendadak.
13
“Kenapa, kenapa! Tadi gua lihat ada yang melintas sekelebatan, ya gua rem lah,” jawab Dika
kesal.
“Elu lagi, setan-setan terus dari tadi, tau burung tau apa. Ah, sudah lah,” sahut Dika yang
kembali melajukan mobilnya.
Sementara itu, Arif yang berada di belakangnya hanya menggelengkan kepala melihat mobil
yang di kendarai Dika berhenti mendadak. Rio memperhatikan adiknya dan Siska, mereka
berdua nampak tertidur pulas. Rio mencoba menyalakan musik untuk menemani sepinya dan
menghilangkan rasa kantuk yang mulaiTerasa.
Rio mulai terlihat tenang dan fokus menyetir mobilnya. Tiba-tiba bayang putih sekelebat
melintas di depanya. Rio pun sontak menghentikan mobilnya, sehingga Yeni dan Siska yang
sedang terlelap pun terbangun.
“Aduh, kenapa, kak? Ngerem mendadak gitu, kepala aku sampe kebentur ini,” ucap Yeni yang
terus membenarkan posisi duduknya.
“Enggak, Dek. Tadi kakak salah injak pedal saja, sedikit ngantuk soalnya,” jawab Rio mencoba
menenangkan.
“Owh, iya kalau ngantuk nanti di depan istirahat aja dulu, Kak. Nyari rumah makan atau apa lah
gitu,” ucap Yeni menyarankan.
“Tadi selama kita tidur, enggak ada kejadian aneh-aneh lagi kan, Kak?” tanya Siska penasaran.
“Enggak ada, Sis. Lancar-lancar aja kok,” jawab Rio mencoba meyakinkan.
“Syukurlah kalau gitu sih. Ini masih jauh yah, Kak?” tanya Siska kemudian memakan cemilan.
“Ya masih, Sis. Pagi mungkin kita baru nyampe sana,” jawab Rio fokus menatap kedepan.
Rio terus mengobrol dengan Yeni dan Siska selama melintasi jalur itu. Semua kejadian-
kejadian yang ganji tidak Rio ceritakan kepada mereka. Berharap supaya adiknya dan Siska
tidak di selimuti rasa ketakutan.
***
Pukul 03:20 Mereka kini memasuki wilayah pemukiman warga. Rio kemudian memberitahu
kepada temannya untuk berhenti di sebuah rumah makan. Karena sudah merasakan lelah juga
lapar. Terlebih lagi Yeni dan Siska yang sejak tadi merengek minta untuk berhenti karena tidak
kuat menahan ingin ke toilet.
14
Dika yang mengendarai mobilnya di depan Rio. Kemudian membelokan Mobilnya memasuki
halaman rumah makan. Mobil itu di parkirkan berdekatan, kemudian semua keluar.
“Hahh... Akhirnya kita bisa istirahat dulu, Bro. Gila gua sebenarnya udah pegel banget dari
tadi,” ucap Dika meregangkan tubuhnya.
Tidak menunggu lama, mereka pun berjalan untuk masuk kedalam rumah makan itu.
Semuanya nampak Berjalan dahulu ke arah toilet. Rumah makan itu nampak terlihat cukup
ramai akan orang-orang yang tengah makan dan beristirahat di area itu.
Rio dan semuanya, setelah selesai dari toilet. Mereka kemudian mencari tempat duduk.
Sementara Rio bergegas untuk memesankan makanan untuk semuanya. Setelah menunggu
dua puluh menitan, akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang. Dengan begitu
semuanya pun menikmati makanan itu.
“Gua ngerasain ada yang aneh perjalanan kita sekarang,” ucap Arif kemudian menyuapkan
makanan.
“Sudah, sudah ... Aneh gimana? Elu bilang aja lama iya kan? Karena mobil gua sering mati
mesin di tambah lagi ban bocor,” celetuk Dika nampak kesal.
“Bukan gitu, Dika. Tapi selama ngelewatin jalanan tadi, itu gua ngerasain kok lama banget
gitu,” ucap Rio kembali fokus makan.
“Iya kan gua juga bilang tadi. Lama itu karena kita sering berhenti. Kan elu semua juga tahu
mesin mobil gua yang sering mati. Udah jangan di sangkut pautkan dengan yang ada di fikiran
elu semua. Gua juga tahu kok, pasti elu mau bilang kalau semua ini karena ulah setan,” cetus
Dika kesal.
“Sudah, Kak. Makan aja dulu, jangan ngobrolin itu,” ucap Siska mencoba menenangkan.
Setelah selesai makan dan beristirahat. Satu jam kemudian mereka pun kembali melanjutkan
perjalanan. Perlahan kedua mobil itu meninggalkan halaman rumah makan dan kembali masuk
di jalan raya. Kali ini keadaan jalan terlihat cukup ramai akan kendaraan yang melintas.
Rio kembali membiarkan Dika yang berada di depan mobilnya. Hawa dingin begitu sangat
terasa. Rio kemudian mematikan AC mobilnya.
“Kak, sepertinya kak Dika itu orangnya enggak percayaan akan adanya hal ghaib yah? Setiap
ngomongin itu, pasti kak Dika enggak suka,” ucap Siska merasa heran.
15
“Iya begitu lah. Ya sudah biarkan saja, yang penting kita semua bisa selamat sampai tujuan,
bisa mendaki sampai puncak dan tidak ada halangan apapun di sana,” jawab Rio fokus
menyetir.
“Masih jauh apa sudah dekat sih, Ka?” tanya Yeni gelisah.
“Ya lumayan masih jauh, Dek. Lebih baik kalian tidur saja, masih lama soalnya,” jawab Rio
menyarankan.
Perjalanan mereka cukup lancar. Kedua mobil itu pun nampak tidak ada kendala. Dika yang
mengendarai mobilnya di depan mulai terlihat senang karena merasa lancar.
“Hahaha, kalau kayak gini kan enak. Enggak berhenti-henti terus,” ucap Dika tertawa.
“Iya, Dika. Mudah-mudahan kita cepat sampai,” sahut Fani dari belakang.
“Eh, Bro. Nih kita berapa lama sih mau camp di sana?” tanya Dika penasaran.
“Dua malam? Dikit bener Seminggu ke masa dua malem sih? Sayang dong kita sudah jauh-
jauh dari Jakarta kalau Cuma ngecamp dua malem doang,” ucap Dika heran.
“Iya gimana nanti aja, Dika. Orang kita juga kan belum tahu peraturan dari sana. Di
perbolehkan tidaknya,” sahut Fani.
“Iya sih... Cuma ya jangan dua malem lah, kalau enggak bisa seminggu ya, tiga atau empat
malem lah di sana,” timpal Dika fokus menatap kedepan.
“Iya dia memang cantik, Dika. Kenapa emangnya?” sahut Arif heran.
“Nanti di sana, gua mau deketin dia, Bro. Gua suka soalnya, haha,” jawab Dika tertawa.
“Wah, gila lu, Dika. Masih sekolah SMA dia itu, masih di bawah umur,” sahut Arif heran.
“Justru itu, Bro. Gua suka yang begitu, mau masih SMA ke masih SMP, kalau gua suka ya
suka, Bro. Lagian juga elu lihat bodynya juga mantap, Bro. Haha,” timpal Dika tertawa.
16
“Hahaha, terserah gua dong, Bro. Mau mikir kemana juga, otak-otak gua. Udah elu diem aja,
pokonya gua akan deketin dia nanti, hehe,” sahut Dika terlihat begitu senang.
Arif dan Fani nampak heran dengan Dika, yang susah untuk di ajak bicara baik-baik.
Mereka terus mengobrol sepanjang perjalanan, berupaya untuk menghilangkan rasa kantuk.
Kedua mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka berharap agar bisa cepat sampai di
lokasi bescamp pendakian gunung Lawu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Pukul 06:00 Mereka kini telah sampai di
daerah Karanganyar, Jawa tengah. Rio dan semuanya pun keluar dari mobil dan beristirahat
dahulu. Mereka duduk di sekitaran area itu.
“Iya, Bro. Gila ini dingin banget ini,” sahut Dika memasukan tanganya di saku jaket.
“Kita istirahat aja dulu yuk. Lagian juga masih pagi,” ucap Arif yang terus duduk.
“Iya, Rif. Kita nyari makanan dulu aja yuk, kopi ke apa, sekalian sarapan,” ucap Fani mengajak.
“Ya sudah yuk kita nyari. Itu tuh, di sebelah sana ada yang jualan,” ucap Rio menunjuk.
Kemudian Rio menyarankan Yeni dan Siska untuk tetap duduk menunggu. Sementara Rio dan
teman-temannya bergegas menghampiri orang yang berjualan di sekitar tempat itu.
“Kamu ngerasa dingin enggak sih, Yen?” tanya Siska nampak menggigil.
“Ya sama lah, Sis. Makanya aku dari tadi diem itu ya karena ngerasain dingin banget,” jawab
Yeni sedikit menggigil.
“Kamu baru kali ini yah, Yen. Ikut mendaki?” tanya Siska.
“Iya kan aku udah bilang, Sis. Aku itu belum pernah sama sekali. Waktu itu pernah mau ikut sih,
tapi enggak di bolehin sama ortu,” jawab Yeni menjelaskan.
“Owh, kalau aku udah pernah, ya walaupun Cuma satu kali. Tapi itu seru banget tau, Yen. Kita
melihat pemandangan dari atas itu keren banget,” ucap Siska tersenyum.
“Iya makanya itu, Sis. Aku juga pengen ngerasain gimana gitu berada di puncak gunung, terus
bisa lihat pemandangan,” sahut Yeni mulai tersenyum.
17
“Tapi menurut aku, perjalanan kita itu dari semalem horor banget. Enggak biasanya loh aku
ngalamin seperti itu,” ucap Siska.
“Iya, Sis. Mana aku masih ke bayang lagi sosok itu. Menurut kamu itu beneran apa kita yang
salah lihat sih?” Yeni nampak bingung.
“Itu bener, Yen. Kalau salah lihat enggak mungkin lah, kamu sama aku bisa yakin gitu, terus
juga kan kita dengar juga tuh suara ketawanya, serem banget,” jawab Siska dengan raut wajah
ketakutan.
“Ihh... Udah ah, jangan cerita itu, aku jadi takut,” timpal Yeni mengerutkan keningnya.
“Apa karena semalem itu gara-gara kak Dika yang nabrak kucing, terus di biarin aja yah,” ucap
Siska menebak-nebak.
“Emang kenapa, Sis? Apa ada hubungannya?” tanya Yeni nampak masih polos.
“Katanya sih ada, Yen. Seperti yang aku bilang semalam itu lo. Jadi ini tuh mau di bilang mitos,
tapi memang kenyataannya gitu kan, kita semalem aja banyak ngalamin hal-hal aneh. Terus
juga mobil kak Dika juga beberapa kali mati mesinnya, di tambah lagi bocor,” jawab Siska
menjelaskan.
“Bener juga sih yah. Aku takut Sis, kejadian itu datang lagi,” ucap Yeni nampak ketakutan.
“Sssuttt! Kamu enggak boleh ngomong gitu, Yen. Berdo’a aja yang baik-baik, biar kita bisa
sampai kepuncak terus balik lagi dengan selamat,” sahut Siska dengan cepat.
“Iya, iya. Ih amit-amit kalau sampe ngalamin kejadian yang aneh-aneh lagi,” ucap Yeni bergidik.
Tidak lama kemudian Rio dan teman-temannya berjalan kembali menghampiri Yeni dan Siska
yang tengah duduk. Mereka nampak membawa beberapa kantong makanan.
“Nih, minum teh panas dulu Sama makan ini dulu nih, nasi uduk,” ucap Rio sambil meletakanya
makanan itu di dekat mereka.
“Sudah kita santai saja dulu, sarapan dulu aja yang tenang,” ucap Dika yang terus membuka
bungkus nasi.
Dengan begitu Rio dan semuanya pun sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan
aktivitasnya. Di lokasi pendakian via candi cheto, terlihat cukup banyak orang-orang yang
datang untuk mendaki di gunung Lawu. Orang-orang itu pun nampak terlihat beristirahat dan
menyantap sarapan di pagi itu.
18
Rio dan semuanya terlihat senang ketika melihat banyaknya orang yang akan mendaki juga.
Dengan begitu, semua fikiran tentang hal-hal yang negatif pun mereka buang jauh-jauh. Rio
nampak optimis akan bisa mencapai puncak dan menikmati pemandangan dari atas gunung
lawu, berbaur dengan rombongan yang lain yang datang dari berbagai daerah.
Tiga puluh menit kemudian. Rio dan semuanya nampak telah selesai menyantap makanan.
Mereka masih nampak duduk-duduk santai sambil melihat keramaian di Lokasi itu.
“Kayaknya kita nanti bisa ngecamp tuh bareng sama rombongan lain,” ucap Rio tersenyum.
“Iya, Rio. Bagus lah kalau rame, malah lebih seru,” sahut Arif kemudian menyeruput kopi.
“Eh, Bro. Kita nanti mau ngecamp berapa lama?” tanya Dika yang masih penasaran.
“Ya dua malem mungkin, ya gimana nanti aja kita tanya sama petugasnya gimana,” jawab Rio
menjelaskan.
“Jangan dua malem lah, Bro. Kita jauh dari Jakarta kesini mau nikmatin keindahan alamnya. Di
lebihin ke,” timpal Dika.
“Tapi gini yah semuanya. Tolong kita patuhi semua peraturan yang ada di wilayah ini. Jadi tidak
boleh bertidak atau berbuat sesuka hati kita. Terus jika nanti begitu mendaki ada yang merasa
lelah, cepat-cepat bilang meminta istirahat, jangan di paksakan. Mengerti yah?” sambungnya.
“Tenang aja, Rio. Kita pasti mematuhi peraturan yang ada di sini,” ucap Arif.
“Kalian ini, peraturan-peraturan mulu. Kan setiap kita mendaki juga kita patuhi tuh peraturan.
Jadi menurut gua enggak usah terus-terusan ngingetin, orang gua juga udah paham kok,”
celetuk Dika kesal.
“Ya sudah. Kita sekarang ke basecamp, urus-urus dulu yuk,” ucap Rio mengajak semuanya.
Mereka pun bergegas mengikuti Rio dan membawa semua barang bawaan. Terlihat banyak
rombongan yang sudah lebih dulu mengantri di basecamp untuk mendaftar dan mengurus
semuanya. Rio dan rombongannya pun nampak berhenti sejenak, menunggu rombongan yang
di depan untuk menyelesaikan pendaftaranya.
19
Tidak lama kemudian. Rio dan teman-temannya pun menyelesaikan pendaftaran. Setelah itu
Rio menyuruh semuanya untuk istirahat dahulu, berniat untuk memulihkan tenaga agar bugar
saat mendaki. Mereka semua pun menuruti perintah Rio.
“Bener, Bro. Mata gua juga ini udah sepet banget, semaleman enggak tidur,” ucap Dika.
“Iya makanya itu. Kita istirahat dulu, nanti jam sepuluhan lah kita mulai naik,” jawab Rio
tersenyum.
Mereka pun bergegas menuju tempat yang di tunjuk oleh Rio. Sesampainya di tempat itu,
mereka pun mulai merebahkan tubuhnya. Dika nampak memperhatikan Siska terus-menerus.
Entah apa yang ada di fikiranya. Dia menatap Siska dengan sangat tajam serta bibirnya terus
terseyum. Hal itu tidak di ketahui oleh Siska dan yang lainnya. Semuanya nampak mencoba
beristirahat dengan tenang untuk menghilangkan rasa lelah, setelah menempuh perjalanan
yang cukup jauh.
Dika nampak tidak mau melepaskan pandangannya. Dia nampak memperhatikan Siska dari
wajah hingga tubuhnya. Siska nampak terlihat sangat cantik walaupun tengah terpejam.
Ucapnya dalam hati dengan mata yang terus memandanginya dengan tajam.
Dika yang sejak tadi memperhatikan Siska. Dia kemudian mencoba merebahkan tubuhnya dan
mencoba memejamkan matanya. Namun fikiranya masih terus tertuju kepada Siska yang
nampak sudah terlelap.
Dengan begitu. Dika kembali membuka matanya lebar-lebar. Lalu menatap kembali ke arah
Siska. Wajah itu memang terlihat cantik. Dika terlihat sangat berambisi untuk mendapatkan
Siska.
“Ini kesempatan buat gua... Lihat aja nanti. Aku pasti mendapatkan tubuhmu Siska,” ucapnya
dalam hati, serta bibir yang tersenyum [Link] Dika tengah serius memperhatikan Siska.
Arif nampak terbangun dari tidurnya. Matanya nampak sangat terlihat mengantuk berat, namun
terbelalak seketika melihat Dika yang terlihat fokus menatap ke arah Siska yang tengah
terlelap. Arif mengerutkan keningnya, sekan merasa heran dengan Dika.
Lantas Dika terlihat kaget dan langsung mengalihkan pandangan ke arah Arif yang mulai
duduk.
20
“Hah. Gua enggak bisa tidur, Bro. Enggak tau kenapa, gara-gara minum kopi mungkin,” jawab
Dika mencari alasan.
“Owh. Harusnya Elu tidur dulu, Dika. Nanti kan mau ngetrak, butuh tenaga,” ucap Arif yang
kemudian meminum air mineral.
“Eh, Bro. Gua juga tahu... Udah tenang aja, gua kuat kok. Emangnya gua baru pertama
mendaki apa,” jawab Dika nampak kesal.
“Iya udah iya, terus elu tadi ngapain lihatin dia terus?” tanya Arif yang merasa heran.
“Tadi gua lihat elu itu, ngeliatin si Siska terus,” jawab Arif.
“Hehe. Bro! Terserah gua dong mau lihat siapa ke, mata, mata gua. Bukan mata elu. Enggak
salah juga kan, namanya juga orang punya mata itu untuk melihat,” timpal Dika nampak kesal.
“Iya gua juga tahu. Tapi elu lihatnya beda banget,” sahut Arif heran.
“Bro. Kan gua udah bilang, gua suka sama dia. Jadi ya wajar dong kalau cara aku ngeliat dia
itu beda,” jawab Dika pelan.
“Tapi elu enggak mikir yang aneh-aneh kan?” Arif merasa heran dengan tingkah Dika.
“Hehe. Udah, Bro. Elu mending diem aja. Ini urusan gua, urusan perasaan gua sama dia, Bro.
Jadi elu diem aja udah ,” timpal Dika tertawa sinis.
“Elu lihat deh dia. Gila, Bro Cantik banget, bodynya juga. Beuhhh ... Gitar spanyol, Bro. Hehe,”
sambungnya tertawa.
“Wah. Otak elu ngeres tuh. Enggak boleh gitu, Dika. Kualat luh nanti,” ucap Arif sedikit kesel.
“Haha. Kualat apaan? Udah pokoknya ini urusan gua, dan awas lu. Kalau elu juga suka sama
dia!” jawab Dika pelan tapi tajam.
Arif hanya diam seakan merasa capek ngobrol dengan Dika yang keras kepala. Sementara
Dika hanya ketawa-ketawa melihat Arif yang nampak kesal.
Tidak lama kemudian, Arif yang melihat jam di tanganya menunjukan pukul 09:30 Dia pun
bergegas membangunkan Rio dan yang lainya. Arif nampak sibuk membangunkan semua
temannya, sedangkan Dika hanya terdiam saja memperhatikannya.
21
Beberapa saat kemudian. Rio dan semuanya pun terbangun. Mereka semua nampak masih
terlihat ngantuk berat.
“Udah jam setengah sepuluh, Rio. Katanya kita mau trak jam sepuluh,” jawab Arif memberitahu.
“Owh iya. Ya sudah yuk. Semuanya cuci muka dulu, terus siap-siap,” ucap Rio yang terus
mengambil botol air.
Mereka pun menuruti apa yang di katakan Rio. Dika hanya duduk santai memperhatikan
teman-temannya yang tengah mencuci muka. Mata Dika masih tertuju kepada Siska. Selang
beberapa saat, semuanya pun berkumpul kembali. Rio kemudian menyuruh semua untuk
menyiapkan tenaga untuk memulai mendaki.
Setelah itu. Rio beserta rombongannya, berjalan ke arah basecamp untuk meminta izin
mendaki. Peta jalur pendakian Kemudian di berikan kepada Rio yang menjadi ketua
rombongan. Rio nampak ngobrol-ngobrol sesaat dengan petugas di sana. Setelah
mendapatkan peta itu. Mereka pun memulai perjalanan, Rio berjalan paling depan sebagai
ketua rombongan.
“Bro. Gimana? Di bolehin enggak kita ngecamp seminggu?” tanya Dika penasaran.
“Enggak, Dika. Kita hanya di perbolehkan dua malam saja,” jawab Rio yang berjalan di depan.
“Yahhh... Kenapa sih enggak boleh? Aneh banget,” cetus Dika kesal.”Ya sudah lah, Dika.
Enggak apa-apa. Yang penting kita bisa sampai ke puncak dan kembali dengan selamat,” ucap
Rio mencoba menenangkan.
“Nah iya, kalian sini di tengah, dekat gua, hehe,” sahut Dika tertawa.
Yeni dan Siska pun bergegas menuruti perintah Rio dan mengambil posisi di tengah. Saat itu
Siska tepat berada di depan Dika. Dengan begitu Dika berfokus pada tubuh Siska yang ada di
depannya.
Keadaan pagi itu langit nampak cerah, namun di sebagian terlihat berawan tebal. Dengan
begitu perjalanan mereka terlihat cukup lancar untuk menuju pos satu.
“Hati-hati yah Semuanya, tetap fokus. Lihat jalur,” ujar Rio memberikan peringatan.
22
Dika nampak tidak mendengarkan Rio. Melainkan fokus dengan Siska yang ada di depanya.
“Sis. Sebelumnya Elu udah pernah mendaki atau baru kali ini?” tanya Dika dengan mata fokus
memperhatikan tubuh Siska.
“Aku sudah pernah, Kak. Cuma sekali doang sih,” jawab Siska dari depan.
“Owh, elu harus sering-sering ikut kita, Sis. Biar elu tahu keindah alam di setiap daerah dari
puncak gunung,” sahut Dika.
“Iya, Kak. Pengennya sih gitu. Cuma kan saya masih sekolah, Kak. Terkecuali lagi liburan,
kayak gini ya aku ikut,” jawab Siska menjelaskan.
Arif dan Fani yang berada di belakang Dika, nampak memperlihatkan Dika yang sedari tadi
tidak terlihat menoleh ke kanan kiri. Arif yang sudah paham dengan Dika, dia nampak diam
saja. Namun Fani merasa heran ketika melihat Dika yang terus-menerus memepet Siska.
“Rif. Elu lihat deh itu si Dika. Tuh anak bener enggak sih?” bisik Fani heran.
Fani nampak mengelengkan kepalanya melihat ke arah Dika. Mereka terus merangsak naik
melewati jalur yang sesuai di peta.
Ketika Dika tengah fokus menatap tubuh Siska. Secara tidak sengaja dia melihat, di pinggir
jalur yang akan di laluinya nampak uang satu gepok dengan pecahan seratus ribuan. Dika yang
melihat itu, matanya langsung terbelalak. Dia nampak bergegas melangkah untuk
mengambilnya.
“Wih. Duit, Bro... Duit,” ucap Dika sambil memperlihatkan uang itu kepada semuanya.
Rio dan semuanya pun berhenti sejenak melihat ke arah uang yang tengah di pegang Dika.
“Iya, Dika. Itu uang enggak jelas,” sahut Arif mengerutkan keningnya.
“Eh. Enggak jelas gimana? Mata elu melek coba, lihat baik-baik. Ini itu uang, tuh. Elu liat, ini
uang asli,” jawab Dika nampak kesal.
“Dika. Gua minta elu nurut omongan gua, elu taruh lagi uang itu,” ucap Rio.
23
“Eh, Rio. Ini itu rezeki gua. Karena gua yang lihat, berarti ini rezeki buat gua. Hahhh... Elu ini
gimana. Udah tenang aja, nanti gua traktir elu semua makan,” jawab Dika yang langsung
memasukan uang itu kedalam ranselnya.
Yeni dan Siska hanya melihatnya saja. Mereka berdua merasa heran dan kesal melihat tingkah
Dika yang seakan mau menang sendiri.
“Dika. Harusnya Elu jangan ambil uang itu, elu taruh lagi di sana,” ucap Arif yang ada di
belakangnya.
“Hehe ... Gua juga tahu, elu nyuruh gua taruh uang ini di sana, biar nanti elu yang ngambil iya
kan? Haha... Udah lah, Bro. Nanti gua kasih, tenang aja,” jawab Dika dengan congkaknya.
“Hemmm. Ini anak susah banget di omongin.” Gumam Arif dalam hatinya.
Rio yang tidak mau ribut, kemudian melanjutkan langkahnya. Di satu sisi dia merasa takut akan
ada kejadian atau hal yang akan menimpa rombonganya.
“Ayok semuanya. Itu sebentar lagi kita sampai di pos satu, kita istirahat dulu di sana,” ucap Rio
dengan nafas yang mulai terengah-engah.
“Iya lah, Kak. Kita istirahat dulu. Kaki aku pegel banget,” jawab Yeni yang ada di belakangnya.
Rio beserta rombongannya nampak mempercepat langkahnya agar cepat sampai di pos satu
untuk beristirahat.
Hal aneh di alami Dika. Dia merasakan ransel yang di gendongnya terasa begitu berat. Hingga
dia nampak berkeringat dan merasakan pudaknya dan punggungnya terasa begitu sakit.
“Aduh, Bro. Punggung gua pegel banget, kita berhenti dulu, Bro,” pinta Dika dengan keringat
yang nampak bercucuran.
“Iya itu, Dika. Dikit lagi. Kita istirahat di sana aja, biar nyaman,” jawab Rio menunjuk.
Dika nampak meringis. Ransel yang di gendonganya benar-benar terasa sangat berat. Arif dan
Fani yang berada di belakang, nampak sudah berprasangka kalau itu di sebabkan oleh uang
yang ada di ranselnya. Arif dan Fani nampak mulai merasakan hal-hal aneh, tercium wangi
bunga Kamboja dari ransel yang di gendong oleh Dika.
Arif dan Fani saling bertatapan, seolah sudah saling mengerti. Namun mereka berdua hanya
diam dan terus melanjutkan langkahnya menuruti Rio yang berada di depan.
24
Rio beserta rombongannya terus merangsak naik menuju POS satu, yang sudah terlihat tidak
jauh dari posisi mereka. Bau bunga Kamboja Semain terasa oleh Arif dan Fani yang berada
paling belakang.
Begitu juga dengan Dika. Ransel yang di gendongnya semakin bertambah berat, sehingga dia
merasakan susah untuk melangkahkan kakinya. Wajahnya nampak meringis menahan sakit di
punggungnya.
Sontak semuanya menghadap ke arah Dika yang tiba-tiba berteriak meminta untuk berhenti.
“Kita berhenti dulu. Pegel banget gua,” jawab Dika bergeges melepaskan ranselnya.
Rio dan semuanya merasa heran dengan Dika yang terlihat begitu kesakitan.
“Lu, kenapa, Dika? Itu kan pos satu tinggal sedikit lagi nyampe,” tanya Arif menatap penuh
heran.
“Mau dikit lagi ke mau jauh. Gua pegel banget ya minta berhenti lah,” jawab Dika kesal.
Keringatnya nampak bercucuran.
“Ya sudah, kita berhenti dulu. Elu minum dulu Dika,” ucap Rio menyarankan.
Kemudian semua berkumpul dan duduk-duduk di dekat Dika yang terlihat begitu kelelahan.
“Enggak biasanya elu begini Dika. Biasanya juga elu kalau naik gunung paling semangat. Ini
kok elu belum nyampe pos satu aja sudh minta berhenti ,” ucap Fani merasa heran.
“Eh, Bro. Gua juga heran. Cuma ini beneran gua ngerasain punggung sama pundak pegel, ini
ransel tuh berasa berat banget asli,” jawab Dika dengan nafas terengah-engah.
“Dika. Lebih baik elu kembaliin lagi itu duitnya, taruh lagi aja di sana. Mungkin ransel berasa
berat itu karena ada hubungannya dengan uang yang elu ambil tadi,” ucap Rio menyarankan.
“Rio. Ini bukan masalah duit. Emang gua aja yang dari semalem enggak tidur. Jadi ini itu efek
kecapekan. Elu semua jangan mikir yang aneh-aneh,” jawab Dika sedikit kesel.
25
“Iya, Kak. Seharusnya kakak jangan ambil duit itu,” sahut Siska dengan mengerutkan
keningnya.
“Siska. Gua kan udah bilang tadi. Ini bukan gara-gara uang, tapi ini karena gua yang
kelelahan,” jawab Dika menatap Siska.
“Jadi Elu semua jangan selalu mikir yang aneh-aneh. Setiap ada apa-apa, kalian ini selalu di
sangkut pautkan dengan setan lah, ini lah. Udah ... Gua enggak percaya sama hal begituan,”
sambungnya dengan penuh kesal.
“Huuussttt! Dika. Elu enggak boleh ngomong sembarangan. Elu tadi sudah baca kan sudah di
kasih tahu juga. Kalau kita di larang melakukan hal dan berbicara yang tidak baik di gunung
ini,” ujar Fani.
“Hehe. Kalian ini. Bro, elu sama gua udah naik gunung berkali-kali. Dan semua pendakian kita
berjalan baik kok. Sudah lah mending elu semua buang tuh fikiran tentang hal-hal begitu,”
timpal Dika tertawa sinis.
Rio seakan merasa kesal melihat kelakuan temannya yang susah untuk di ajak ngobrol dengan
baik. Sifat keras kepalanya selalu di kedepankan.
“Ini pendaki yang di belakang kita belum pada naik apa yah? Gua perhatiin dari tadi enggak
ketemu mereka, terus yang duluan naik juga engga kelihatan,” ucap Arif terlihat bingung.
“Mungkin mereka belum naik, Rif. Terus juga yang di depan ya bisa saja mereka istirahat di pos
berapa gitu,” jawab Rio menebak.
“Rif. Ngapain juga elu nanyain rombongan lain? Sudah mikirinnya rombongan kita aja,” sahut
Dika nampak kesal.
“Bukan begitu, Dika. Maksud gua, kalau bareng rombongan lain kan rame, apalagi kalau dia
yang sudah paham jalaur pendakian disini. Kalau kita kan baru pertama ke sini,” jawab Arif
menjelaskan.
Ketika mereka tengah ngobrol-ngobrol. Bau bunga kamboja kembali tercium dan kali ini
semuanya mencium wangi itu. Arif dan yang lainnya nampak saling tatap, seakan merasakan
keanehan. “Ini siapa yang pake parfum wangi begini?” tanya Dika heran.
“Iya, enggak ada ihh. Orang wangi parfum aku itu enggak kayak gini baunya ,” sahut Siska
heran.
26
“Baunya kerasa banget. Kayaknya ini wangi dari ransel elu Dika,” ucap Arif mendekatkan
hidungnya di ransel milik Dika.
“Dari ransel gua? Mana mungkin gua pake parfum begitu, wanginya norak banget,” cetus Dika
kesal.
“Iya, tapi coba elu cium tuh ransel elu,” jawab Arif menunjuk.
Dika nampak kesal menatap Arif, Kemudian dia memastikan dan mendekatkan hidungnya.
Wangi itu memang benar-benar berasal dari ransel milik Dika.
“Iya kan? Gua bilang juga apa. Itu di ransel elu, Dika. Apa elu bawa parfum begitu?” sahut Arif
menatap Dika.
“Bawa apaan? Bentar gua buka dulu, masa gua bawa parfum wanginya norak. Beli juga
enggak,” celetuknya sambil membuka ransel itu.
Rio dan semuanya memperhatikan ke arah ransel yang sedang di buka oleh Dika. Dan Dika
nampak memeriksa isi dalam ranselnya.
“Ada enggak, Dika?” tanya Rio penasaran. “Bentar dulu,” jawab Dika yang sibuk mencari.
Ketika Dika mencari-cari di antara lipatan baju dan celana yang ada di ranselnya. Dia
menemukan sebuah botol kecil yang berisi minyak berwarna kuning, dengan tutup botol yang di
tutupi kain putih nampak seperti kain kafan. Mata Joe terbelalak, sekan merasakan keanehan.
“Loh, ini apaan? Siapa sih yang naruh minyak begini di dalam ransel gua ?” Dika nampak
kebingungan.
“Dika. Elu bawa sendiri dari rumah apa gimana?” tanya Rio heran.
“Bawa apa? Gua enggak pernah beli minyak ginian, lagian juga buat apa gua bawa,” jawab
Dika lantang.
“Tapi itu kok bisa ada di dalem ransel elu?” Rio mulai terlihat bingung.
“Mana gua tahu. Bapak gua kali yang naruh atau siapa, ini elu ambil nih,” jawab Dika sambil
mengasongkan botol minyak itu.
27
Rio kemudian memegangnya. Di perhatikannya botol kecil itu baik-baik. Wanginya benar-benar
sangat tajam.
“Rio. Lebih baik jangan di bawa lah, taruh aja di sini atau dimana ke, gua takunya ada apa-apa
nanti,” ucap Fani menyarankan.
“Ihh, ini kok begini sih ... Aku jadi takut,” ucap Yeni mulai ketakutan.
“Sudah enggak apa-apa, berdo’a aja yang baik-baik,” jawab Rio yang kemudian berjalan.
Rio menuju ke arah semak-semak yang berada tidak jauh dari lokasi mereka berkumpul dan
kemudian di taruhnya botol minyak itu. Dengan begitu, Rio pun bergegas untuk kembali
menghampiri rombonganya.
“Gimana, Bro? Sudah di taruh?” tanya Arif dengan raut wajah cemas.
“Sudah, ya sudah yuk. Kita lanjut jalan lagi aja, sebentar lagi kan mau dzuhur, jadi kita istirahat
dulu nanti di POS satu,” jawab Rio yang kemudian mengajak semuanya untuk melanjutkan
pendakian.
Mereka semuanya pun kembali berjalan. Dika kini terlihat biasa saja. Ransel yang semula
terasa berat kini terasa seperti biasa saja. Dika nampak sedikit heran, namun dia diam saja.
Baru saja berjalan lima menit. Dika merasakan berat untuk melangkah. Kakinya seakan susah
untuk di gerakan.
“Kita berhenti lagi yuk. Kaki gua pegel banget,” jawab Dika meringis kesakitan dan terus duduk.
Dengan begitu, semuanya nampak merasa heran dengan Dika yang selalu minta berhenti.
“Jangan di sini lah, Bro. Kita istirahat di pos satu aja yuk,” ajak Arif menyarankan.
“Elu udah gila apa? Lihat temen minta istirahat, malah ngajak jalan terus!” cetus Dika kesal.
28
“Dika. Sebenarnya apa sih yang elu rasain? Baru aja jalan sudah minta istirahat lagi,” tanya Rio
merasa penasaran.
“Gua minta berhenti itu ya karena ada yang gua rasain. Ini kaki gua pegel banget,” jawab Dika
nampak kesakitan.
“Ya sudah elu olesin balsem atau apa lah, biar cepat hilang tuh sakitnya,” jawab Rio
menyarankan.
Dika pun bergegas mengambil obat untuk mengoles kakinya yang terasa sangat kram.
Kemudian langsung mengoleskan balsem itu di kakinya. Semuanya pun kembali duduk
berkumpul.
Rio dan semuanya merasakan hal aneh dengan pendakian kali ini. Karena tidak biasa
mengalami hal-hal seperti yang sekarang terjadi. Arif dan dan Fani begitu juga dengan Rio,
Mereka menduga, kalau ini di karenakan Dika yang mengambil uang yang ia temukan dan
memasukannya kedalam ranselnya.
“Ya sudah. Ayok kita lanjut lagi,” ucap Dika yang terus berdiri.
“Iya gua yakin lah. Sudah ayok jalan ,” jawab Dika kembali menggendong ranselnya. “Ya
sudah, kita lanjutin perjalanan, biar bisa istirahat di pos satu. Kita Dzuhur dulu di sana,” ucap
Rio mengajak.
Semuanya pun berjalan kembali mengikuti Rio yang ada di depan. Langit yang semula cerah.
Kini nampak mulai mendung dengan awan hitam yang menggumpal. Rio meminta kepada
semuanya untuk mempercepat langkahnya supaya bisa cepat sampai di POS satu dan
beristirahat di sana.
Langit semakin nampak gelap. Terlihat Semuanya mempercepat langkahnya, berupaya agar
cepat sampai di POS satu. Dika kembali memfokuskan pandangan kepada Siska yang berjalan
di depanya. Entah apa yang tengah dia fikirkan. Matanya hanya menatap tajam memperhatikan
lekuk tubuh Siska dari belakang.
"Ayok semangat semuanya. Dikit lagi sampai," teriak Rio dari depan.
"Iya, Rio. Udah mendung juga, buruan yuk," sahut Fani dari belakang.
Dika seakan tidak memperdulikan teman-temannya. Dia nampan fokus terhadap Siska.
Sehingga membuat Arif yang ada di belakangnya sering menggelengkan kepalanya melihat
Dika yang nampak fokus menatap kedepan dan tidak mengajak dirinya berbicara.
29
"Dika. Sudah enggak kerasa berat lagi kan ranselnya?" tanya Arif yang bermaksud agar Dika
tidak fokus ke arah Siska terus.
"Sudah enggak, Bro. Ayok lah buruan, biar kita bisa istirahat di sana," jawab dika yang kembali
membalikan pandanganya.
Namun ucapan itu tidak di dengar oleh Dika. Dia lebih fokus kepada Siska. Fani pun yang
berjalan paling belakang merasa heran dengan Dika yang tidak mau ngobrol seperti biasanya
saat mendaki. Dia lebih fokus kepada wanita yang di sukainya itu.
Tidak lama kemudian. Mereka pun sampai di POS satu. Rio kemudian menyuruh semua untuk
beristirahat di situ. Semuanya terlihat kelelahan dengan nafas yang tersengal-sengal setelah
berjalan dengan cepat. Rio beserta rombongannya kemudian duduk-duduk.
Di pos itu tidak terlihat ada pendaki lain yang beristirahat. Melainkan hanya Rio dan
rombongannya.
"Iya, Yen. Minum dulu nih," jawab Siska sambil mengasongkan air mineral.
"Sudah ... Mumpung istirahat, kita bikin kopi dulu di sini," ucap Dika meletakan ranselnya.
"Iya, Dika. Bener lu. Ngopi dulu aja lah," sahut Fani menyetujui.
Kemudian Dika mengeluarkan peralatan masaknya. Dan terus memasak air untuk membuat
kopi. Dengan begitu mereka pun Ngobrol-ngobrol sambil menikmati cemilan yang mereka bawa
sekaligus menunggu air yang sedang di masak itu matang.
"Aduh ini kita repot nanti kalau sampai hujan turun," ucap Rio menatap langit.
"Bener, Rio. Apa kita bikin tenda aja di sini sekarang?" sahut Arif.
"Masa di sini, Bro. Nanti susah kalau ada rombongan lain yang mau istirahat di sini," jawab Rio
nampak bingung. "Iya kan pasti mereka juga istirahat dulu lah, Bro. Kalau hujan turun sih.
Enggak mungkin kan kalau ngetrak terus ," ucap Arif menanggapi.
"Sudah gini aja. Kita lihat dulu cuaca nanti gimana, kalau semakin gelap ya terpaksa kita harus
bikin tenda di sini sebelum melanjutkan pendakian," jawab Rio menyarankan.
30
Ketika mereka sedang duduk dan ngobrol-ngobrol. Samar-samar terdengar suara yang belum
pernah mereka dengar sebelumnya.
"Hhhhhhhhhmmmmmmm"
Suara itu terdengar begitu menggema di telinga mereka. Rio dan semuanya pun merasa heran.
Yeni dan Siska nampak ketakutan mendengar suara itu.
"Ihhh, Kak. Suara apaan sih itu?" ucap Yeni nampak ketakutan.
"Sudah, itu sudah biasa terjadi kalau di daerah pegunungan. Biasanya itu efek dari angin yang
menerpa pohon-pohon yang saling bergesekan, makanya menimbulkan bunyi seperti itu,"
jawab Rio mencoba menenangkan.
"Hahaha ... Iya. Elu ini kayak baru pertama naik gunung aja, haha," sahut Dika tertawa melihat
Arif.
"Tapi itu suara baru kali ini loh gua denger. Gua selama ikut mendaki ya palingan denger juga
suara-suara biasa angin, dan gua paham betul suara di hutan pegunungan," jawab Arif
menjelaskan. "Hehe. Terus elu mau bilang lagi, kalau itu suara setan iya? Haha... Udah lah, elu
Jangan percaya sama hal yang begitu," timpal Dika dengan tertawa.
Yeni dan Siska susah nampak sangat ketakutan. Rio yang menjadi ketua rombongan.
Walaupun sebenarnya tahu itu bukan suara yang di hasilkan dari alam. Namun demi menjaga
agar rombongannya tidak merasa ketakutan, Rio terus memberikan peringatan untuk
menenangkan semuanya. Terlebih lagi Siska dan adiknya yang terlihat sangat ketakutan.
"Enggak apa-apa kok. Jadi kalian enggak usah mikir yang aneh-aneh. Ini semua sering terjadi
dan semua pendaki juga pasti pernah mendengar suara macam begini. Jadi sudah jangan
panik," ucap Rio menenangkan. "Tapi kok suaranya gitu banget yah, Kak. Kayak suara macam
yang lagi marah," sahut Siska dengan raut wajah tegang.
"Iya gitu lah. Itu terjadi karena murni dari angin yang menyapu pepohonan, sehingga
menimbulkan gelombang suara yang macam-macam terdengar," jawab Rio terus mencoba
menenangkan.
"Sudah tenang aja, Sis. Kan ada kak Dika, hehe," ucap Dika sedikit tertawa menatap Siska.
Tidak lama kemudian. Rio dan semuanya meminum kopi bersama dan menikmati makanan
yang mereka bawa. Angin berhembus terasa sangat kencang. Sehingga menimbulkan suara-
suara gemuruh di lokasi mereka berkumpul. Rio yang melihat jam di tanganya menunjukan
pukul 12:20 Karena sudah memasuki waktu Dzuhur. Rio pun mengajak semuanya untuk
31
terlebih dahulu melaksanakan ibadah sholat Dzuhur di POS satu, sebelum melanjutkan
perjalanan.
"Sudah dzuhur nih, kita dzuhur dulu aja yuk," ucap Rio mengajak semuanya.
"Yah, aku enggak bisa, Kak. Aku lagi halangan," ucap Siska pelan.
"Iya, Yen. Aku lagi dapet soalnya. Ya sudah kamu ikut kakak-kakak aja sholat," jawab Siska
menjelaskan. Rio, Arif dan Fani kemudian menggelarkan terpal untuk mereka ibadah.
Kemudian mereka berwudhu menggunakan air yang mereka bawa. Namun Dika nampak
santai-santai saja dan membiarkan yang lain untuk ibadah.
"Iya, Bro. Gua ngerasa pegel banget punggung gua," jawab Dika singkat.
"Owh, iya sudah kita sholat dulu yah? Elu jagain Siska tuh," ucap Rio menunjuk.
"Iya, Bro. Ya sudah kalian ibadah yang khusuk aja, jangan lupa berdo'a," jawab Dika
tersenyum.
"Iya, Dika," ucap Rio yang kemudian mengajak yang lainya untuk segera sholat bareng.
Dengan begitu. Dika bergegas mendekati Siska yang tengah duduk sendiri jauh dari mereka
yang tengah melaksanakan sholat di situ. Dika menghampiri Siska yang duduk sendiri itu.
"Iya, Sis. Kakak lagi pegel banget nih punggungnya," jawab Dika yang terus duduk di sebelah
Siska.
"Iya kan kalau aku lagi dapet, Kak. Perempuan kalau lagi dapat kan enggak boleh sholat,"
jawab Siska menjelaskan.
32
"Hehe, iya lupa. Kamu umuran berapa, Sis? Sekolahnya bareng sama si Yeni?" tanya Dika
menatap penuh rasa.
"Aku umuran tujuh belas tahun, Kak. Iya kalau sekolah sudah pasti bareng Yeni, Kak," jawab
Siska memberitahu.
"Owh, tujuh belas? Kakak kira kamu umuran dua puluhan, soalnya badan kamu besar lo,
hehe," ucap Dika sedikit tertawa.
"Hehe, iya banyak yang bilang gitu sih, Kak. Bongsor aku itu," jawab Siska tersenyum.
Di situ Dika nampak lebih ingin mendapatkan Siska. Terlebih lagi teman-temannya yang tengah
khusuk beribadah. Sehingga dirinya mendapatkan kesempatan untuk bisa berdua dengan
Siska.
Ketika Siska dan Dika tengah ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba Siska merasa ingin buang hajat. Siska
yang merasa takut akan ada hal yang tidak di inginkan. Kemudian memberanikan diri untuk
minta di antar.
"Aduh, Kak. Aku pengen pipis ... Boleh minta tolong enggak, Kak? Anterin ," jawab Siska
meringis.
Mendengar itu Dika terlihat senang. Merasa itu adalah kesempatan untuknya.
"Iya boleh, Sis. Kamu jangan pipis sembarangan kalau di gunung. Kita ke sana aja yuk," ucap
Dika menunjuk.
"Iya dari pada di sini, ini kan kawasan pos. jadi kamu enggak boleh sembarangan pipis," jawab
Dika tersenyum sinis.
"Ya sudah yuk, Kak. Kita ke sana," ucap Siska yang kemudian berjalan.
"Hehe... Ini kesempatan gua. Kapan lagi gua bisa lihat mahkota elu, Sis," ucapnya dalam hati.
Matanya menatap tajam.
33
menuruni tebing menuju semak-semak yang berada cukup jauh dari pos satu. Rio dan teman-
temannya yang lain nampak khusuk menjalankan ibadah sholat dzuhur di pos itu. Sementara
Dika mengantar Siska untuk buang air kecil.
Dika nampak tersenyum menatap tajam ke arah Siska yang berjalan di depanya, seakan tidak
mau melepaskan pandangan.
"Jangan di sini, Sis. Ini masih dekat dengan pos. Nanti kalau kamu pipis disini, bisa-bisa
baunya nyampe sana. Jadi enggak boleh," jawab Dika dengan senyum menatapnya.
"Tapi aku udah enggak kuat, Ka. Gimana dong?" Siska nampak meringis.
"Iya sudah tuh. Di situ aja tuh, ada semak-semak," jawab Dika sambil menunjuk.
Siska menoleh ke arah semak-semak itu. Kemudian terus berjalan untuk buang air kecil. Siska
nampak tidak memperdulikan Dika, yang dia inginkan hanya buang air kecil yang sudah tidak
tertahan. Dengan begitu dia melepaskan celananya dan terus buang air kecil di antara semak-
semak itu.
Dika yang berdiri tidak begitu jauh dengan Siska. Dengan mata yang menatap tajam dan
tersenyum senang bisa melihat daerah terlarang Siska. Di situ Siska tidak menyadari kalau
Dika memperhatikanya terus.
Setelah selesai bersih-bersih, Siska pun keluar dari semak-semak berjalan ke arah Dika. Siska
merasa heran melihat Dika yang senyum-senyum menatapnya.
"Sudah, Kak. Ayo kak kita ke sana lagi," ucap Siska menunjuk ke arah pos.
"Iya udah yuk," jawab Dika singkat dan terus mengikuti langkah Siska.
Ketika mereka berdua tengah berjalan. Tiba-tiba terdengar suara auman yang menggema di
atas mereka. "HHHHMMMMMM"
Suara itu terdengar sangat kencang oleh Siska dan Dika. Siska sudah nampak ketakutan, dia
menoleh wajahnya ke arah Dika yang ada di belakangnya.
34
"Ahhhh. Itu cuma suara angin, kalau di gunung sudah biasa suara begitu sih," jawab Dika
dengan mata menatap fokus.
"Kayaknya itu suara bukan suara angin, Kak. Aku takut, Kak," ucap Siska dengan raut wajah
yang sangat ketakutan.
"Sudah enggak usah takut, sini makanya dekat sama kakak aja, jangan jauh-jauh," pinta Dika
tersenyum jahat.
"HHHAAAUUUMMMMM" suara itu terdengar kembali bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
Sehingga membuat Siska langsung reflek memeluk Dika dan menyembunyikan wajahnya di
Badan Dika. Siska nampak sudah sangat ketakutan.
Namun tidak bagi Dika. Mendapatkan kesempatan itu. Dia terlihat bahagia, seorang cewek
yang di sukainya kini memeluknya. Dengan berpura-pura menenangkan Siska, Dika pun
memeluk tubuh Siska namun dengan perasaan jahatnya.
"Sudah itu suara biasa aja kok. Enggak usah takut," ucap Dika sambil memeluk erat.
Dika semakin erat memeluk tubuh Siska. Dia nampak mencoba menenangkan dengan kata-
katanya sendiri. Dengan begitu Dika merasakan pikirannya sudah tidak karuan antara cinta dan
nafsu. Siska lama-kelamaan merasakan kalau tubuhnya terasa sakit di peluk erat oleh Dika.
Dengan begitu dia mencoba untuk mengajak segera kembali ke pos menghampiri
rombonganya.
"Ya udah yuk, Kak. Kita buruan ke sana aja," ucap Siska pelan.
Bibirnya tersenyum menatap Siska. Mereka berdua pun kembali melangkah menanjak untuk
menuju pos satu tempat rombongannya beristirahat.
Sementara Rio dan yang lainnya, yang telah selesai melaksanakan ibadah sholat Dzuhur.
Mereka semua nampak kebingungan setelah melihat Dika dan Siska yang tidak ada di lokasi.
"Mereka berdua kemana sih? Di suruh nungguin malah ngilang," celetuk Arif merasa sedikit
kesal.
"Iya, Rif. Perasaan tadi mereka duduk di situ deh sebelum kita sholat, karena gua juga bilang
sama Dika buat jagain Siska," sahut Rio kebingungan.
35
"Siska... Kak Dika ... Kalian berdua di mana." teriak Yeni mecoba memanggil.
Tidak lama kemudian. Dari kejauhan terlihat Siska dan Dika berjalan keluar dari semak-semak.
“Lah, itu mereka. Abis pada ngapain sih?” ucap Arif heran.
“Ya sudah nanti kita tanyain. Tunggu aja mereka naik kesini,” sahut Rio dan terus duduk.
Sedangkan Arif, Fani da Yeni mereka bertiga berdiri di sana menatap ke arah Siska dan Dika
yang tengah berjalan menanjak ke arahnya.
“Kalian berdua ngapain sih pake kebawah segala?” tanya Fani heran.
“Ngapain, ngapain! Gua nganter dia pipis. Masa mau pipis di sini, ini kan pos, aneh luh!” cetus
Dika menjawab dengan kesal.
“Aku abis pipis, Kak. Aku kan takut kalau sendirian, jadi aku minta anter sama kak Dika” ucap
Siska menjelaskan.
“Ya sudah kita makan dulu aja yuk, mumpung istirahat, soalnya masih jauh nih,” ujar Rio
mengajak semuanya.
Tidak menunggu lama. Rio dan rombonganya pun bergegas untuk membuat mie instan
sebagai pengganjal perut. Mereka menggunakan tiga kompor portabel agar cepat dalam
memasak.
“Ini udah hampir jam satu. Kita kok enggak lihat pendaki lain yah?” ucap Rio merasa heran.
“Nah itu dia, Rio. Gua juga mikirin itu. Perasaan tadi di belakang kita banyak tuh rombongan
yang mau naik, tapi sampe sekarang enggak keliatan,” jawab Fani yang juga merasa heran.
“Sudah lah, Bro. Biarin aja lah. Mungkin mereka itu mau naiknya nanti malem kali,” sahut Dika
sambil memasukan mie instan kedalam panci kecil.
“Bisa jadi, Dika. Mungkin mereka itu nunggu sore dulu baru naik,” ucap Rio.
Tidak lama kemudian mereka pun memakan mie instan bersama di pos satu. Suara-suara aneh
itu terdengar kembali oleh mereka semua. Kali ini terdengar suara gamelan. Rio dan yang
lainnya ketika mendengar itu, mereka saling tatap dengan raut wajah bingung.
36
“Elu denger enggak, Rio?” tanya Arif mengerutkan keningnya.
“Sudah. Makan aja dulu abisin. Mikirin kok suara-suara terus dari tadi. Perut pikirin,” celetuk
Dika nampak kesal.
“Iya kan aneh aja, Dika. Masa di gunung ada suara gamelan,” sahut Arif menjelaskan.
“Lah, iya bisa aja itu suara dari bawah, Dari pemukiman warga terus kesapu angin ya bisa
nyampe sini, Bro. Elu ini mikinya aneh-aneh,” timpal Dika kesal.
Sementara suara itu terus terdengar dan bahkan semakin keras terdengar oleh mereka semua.
Bukan hanya suara gamelan saja yang terdengar oleh mereka. Akan tetapi banyak suara
gemuruh orang seperti sedang berada di dalam pasar.
“Ihhh, kak. Aku takut ... Suara apa sih ini?” Yeni nampak sangat ketakutan dia lalu mendekati
Rio.
“Bukan suara apa-apa kok. Ini berasal dari bawah yang kebawa angin jadi nyampe kesini,”
jawab Rio mencoba menenangkan adiknya.
Suara itu semakin lama, semakin kencang terdengar. Suasana langit sudah terlihat mendung
gelap serta kabut yang mulai menerpa mereka. Hawa dingin mulai sangat terasa.
“Ini gimana, Kak? Kita di sini aja apa gimana?” tanya Siska dengan wajah ketakutan.
“Iya, Rio. Apa kita langsung bikin tenda aja di sini? Kayaknya ini mau hujan juga,” sahut Arif
nampak panik.
Rio nampak terlihat bingung. Karena baru pertama juga dia mendengar suara-suara seperti itu
di gunung. Di tambah melihat teman-temannya yang lain nampak ketakutan, terlebih lagi
adiknya dan Siska. Rio melihat ke atas, langit nampak sangat gelap menandakan akan turun
hujan.
“Ya sudah gini aja. Kita bangun tenda di sini. Dan ingat tenda kita jangan berjauhan. Terus
nanti kalau hujan reda kita lanjut jalan lagi,” ucap Rio memberikan arahan.
Tanpa berlama-lama. Mereka semua akhirnya menuruti apa yang di ucapkan oleh Rio. Mereka
pun membangun dua tenda. Satu tenda yang akan di tempati oleh Yeni dan Siska sudah berdiri
kokoh.
Rio dan teman-temannya bergegas untuk membuat satu tenda lagi. Hujan sudah mulai turun
mengguyur lokasi mereka beristirahat.
37
“Kalian berdua masuk aja, cepat masuk ke tenda,” ucap Rio menyuruh. “Iya, Kak,” jawab Yeni
dan Siska bergegas masuk kedalam tenda.
Rio dan teman-temannya mencoba mempercepat membangun tenda agar cepat selesai.
Semuanya nampak basah kuyup namun mereka tidak menghiraukan itu.
“Ayo, Bro. Buruan hujanya makin deres,” teriak Dika sambil menancapkan patok tenda.
Tidak lama kemudian tenda itu selesai di bangun. Rio dan temanya pun bergegas masuk
kedalam tenda. Mereka semua segera mengganti pakaiannya yang basah oleh air hujan.
Setelah selesai mengganti pakaian. Rio dan semuanya pun duduk melingkar di dalam tenda.
Mereka hanya menatap hujan melalui pintu tenda yang berbahan sedikit transpan, sehingga
samar-samar bisa terlihat deras ya air hujan yang turun.
Di samping tenda mereka. Yeni dan Siska nampak kedinginan dan ketakutan karena terlalu
sering mendengar suara-suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Di sela-sela
deru suara hujan dan guntur, terdengar suara tertawa yang sangat menggema di lokasi
mereka.
“HHAAHHAAHHAAH”
Suara itu terdengar sangat jelas oleh mereka semua yang ada di dalam tenda.
“Ihhh... Suara apa lagi sih, Sis? Aku takut banget,” ucap Yeni menutup telinganya
menggunakan selimut.
“Ada yang tertawa, Yen. Aku juga takut,” jawab Siska memeluk Yeni.
Mereka berdua sangat ketakutan, di tambah lagi hawa yang terasa sangat dingin di kawasan
itu. Begitu juga dengan Rio dan temannya yang berada di dalam tenda satunya.
“Sudah jangan pada bengong aja. Mikirin apaan sih aneh banget? Lebih baik kita ngopi lagi,
haha,” ucap Dika yang kemudian mengeluarkan kompor portabel.
“Dika. Apa elu enggak dengar tadi ada suara ketawa gitu?” tanya Arif seakan heran.
38
“Lah, ini gua ketawa. Hahaha. Halahhh, elu ini gitu aja di pikirin, enjoy aja enjoy... Kita ngopi aja
biar anget, hehe,” jawab Dika tertawa dan terus memasak air.
Rio hanya terdiam, terlihat memikirkan sesuatu. Begitu juga dengan Fani yang sudah
berprasangka kalau pendakian kali ini sangat aneh.
“Kayaknya ini pendakian ada yang enggak beres,” ucap Rio dalam hatinya.
Semuanya terperanjat. Nampak kaget karena suara itu terdengar dengan jelas di telinga
semua. “Wah, ini gimana, Rio. Kita lanjut apa balik lagi? Kayaknya pendakian kita kali ini ada
yang enggak beres, Rio,” ucap Arif yang sudah ketakutan.
“Heh, Bro. Enak aja elu ngomong gitu. Kita ini sudah jauh-jauh dari Jakarta. Sudah bayar juga,
terus kesini baru naik nyampe pos satu, masa mau turun lagi,” cetus Dika terlihat kesal.
“Tapi kita dari tadi dengerin yang gitu terus, Dika,” sahut Arif nampak kedinginan di tambah
rasa takut yang menyelimuti.
“Suara apaan lagi Bro? Bukanya gua sama elu itu sering naik gunung? Bukan kah sudah biasa
kita dengar suara-suara begitu? Jadi udah sih, yang jelas itu bukan suara setan, Bro. Hahaha,”
timpal Dika tertawa. Sementara Yeni dan Siska sudah sangat-sangat ketakutan. Mereka
menutup pintu tendanya rapat-rapat dan menyelimuti tubuhnya sambil menutup telinga
menggunakan headset. Berupaya agar tidak mendengar suara-suara yang menyeramkan itu.
Ketika Rio dan teman-temannya tangah meminum kopi bersama. Tiba-tiba tenda yang mereka
tempati seakan ada yang memukul dari atas.
Suara itu terdengar tiga kali. Membuat yang di dalam tenda merasa kaget. Semuanya mata
terbelalak mendengar itu.
Mendengar suara seperti itu Rio dan temannya pun sontak terkejut. Dika yang merasa
penasaran, Dia bergegas membuka pintu tenda untuk memastikan siapa yang menimpuk
tendanya.
“Woy ... Siapa yang nimpukin tenda gua!” teriak Dika dengan lantang.
“Emang kenapa enggak boleh gua teriak? Gua enggak suka aja kali ada yang usil sama
rombongan kita,” jawab Dika yang kemudian kembali duduk.
39
“Kayaknya itu bukan kelakuan rombongan lain atau orang deh,” celetuk Arif nampak ketakutan.
“Halahhh, Elu lagi. Kalau bukan orang terus siapa? Mau bilang setan iya?” cetus Dika kesal
menatap Arif.
“Sudah, sudah jangan di ributin. Kita berdoa aja yang terbaik, biar ini hujan cepat reda terus
kita bisa cepat naik sampai ke puncak,” ucap Rio kembali menyarankan.
Suara itu terdengar kembali, dan kali ini terasa lebih kencang. Sehingga membuat tenda
mereka begoyang seperti ada orang yang mempermainkan dari di luar. Rio dan yang lainya
kembali terdiam.
“Aduh... Ini siapa sih? Penasaran gua,” teriak Dika di dalam tenda.
“Ini ada yang enggak beres, Bro,” ucap Rio menatap semuanya.
Hal itu pun di rasakan oleh Yeni dan Siska yang ada di tenda sebelah. Mereka mengalami
kejadian serupa. Tenda yang mereka tempati seperti ada yang menimpuk dan menggoyangkan
dari luar, sehingga membuat Yeni dan Siska teriak ketakutan.
Rio dan yang lainya yang mendengar teriakan mereka sontak bergegas keluar untuk
menghampiri, walaupun hujan masih nampak deras namun Rio dan teman-temannya tidak
memperdulikan hal itu.
“Yen, Siska. Kalian kenapa? Buka,” teriak Rio dari depan tenda.
Siska yang berada di dalam ketika mendengar itu suara Rio, bergegas membuka pintu
tendanya. Rio kaget melihat mereka yang nampak sangat ketakutan. Rio pun masuk
sementara yang lainya masih di luar. Rio mencoba menenangkan mereka.
“Tadi ada yang mukulin tenda kita, Kak. Terus di goyang-goyang gitu. Kita kan takut,” jawab
Siska dengan raut wajah sangat ketakutan.
“Itu angin aja kali. Orang tenda kakak juga goyang-goyang kok,” ucap Rio menenangkan.
“Terus apaan yang mukulin tenda dari atas?” tanya Siska dengan pelan.
40
“Bukan apa-apa. Itu Cuma ranting yang jatuh aja, sudah kalian berdua jangan panik yah. Terus
kalau ada apa-apa Jangan teriak,” jawab Rio dengan memberi peringatan.
Tidak lama setelah semuanya tenang. Rio dan teman-temannya kembali masuk kedalam
tendanya dan membiarkan Siska dan Yeni untuk beristirahat.
Namun Siska dan Yeni nampak tidak bisa istirahat dengan tenang. Gemuruh suara hujan dan
guntur yang terus terdengar membuat mereka berdua hanya duduk berdua dengan berbalut
selimut tebal.
Begitu juga dengan Rio dan ketiga temanya. Mereka kembali duduk berkumpul di dalam tenda
sambil menikmati kopi yang baru saja di bikinya.
“Elu kok ngomongnya gitu. Jangan lah, perjalanan kita masih jauh,” sahut Fani menyangkal.
“Gua rasa juga gitu sih. Tapi ya mudah-mudahan aja bentar lagi reda, Rif “ ucap Rio.
Tiba-tiba di antara gemuruh suara hujan yang di sertai angin. Terdengar suara auman yang
sangat keras.
“HHHEEEEMMMMM”
Suara itu terdengar dengan sangat jelas di atas lokasi mereka. Sehingga membuat Rio dan
yang lainnya sontak terdiam dari obrolan. Mereka saling tatap satu sama lain.
“Suara apa lagi, Bro?” ucap Arif pelan dengan wajah ketakutan.
“Hah. Elu ini dari tadi suara-suara terus. Itu ya suara hujan sama angin. Gimana sih,” celetuk
Dika nampak heran.
“Masa elu enggak dengar, Dika? Ada suara mengaum.” Fani nampak merasa heran.
“Bro. Gini yah, lebih baik elu jangan terus mikirin suara ini lah, suara itu lah. Udah jelas-jelas itu
suara hujan. Jadi sudah lah, mikirnya jangan yang aneh-aneh,” jawab Dika nampak kesal.
Sementara Yeni dan Siska sudah sangat-sangat ketakutan. Akan tetapi mereka berdua ingat
dengan ucapan Rio untuk tidak berteriak jika terjadi sesuatu. Dengan begitu mereka berdua
hanya duduk dan saling memeluk dengan rasa ketakutan yang luar biasa.
41
“HAHAHAHАНАНА ....” Suara tertawa dengan jelas kembali terdengar. Kali ini Dika benar-
benar mendengarnya. Namun rasa kesal dan penasaranya tinggi sehingga membuat dia
bergegas membuka pintu tenda dan keluar.
“Woy. Siapa lu! Ketawa-ketawa mulu. Kalau berani sini Luh!” teriak Dika dengan congkaknya.
“Dika sudah elu jangan teriak-teriak terus. Sini lu masuk, sini masuk,” pinta Rio dengan nada
sedikit kesal.
“Gua kesel dari tadi tuh orang beraninya gitu. Nimpukin tenda lah, terus ketawa lah. Kalau saja
ketemu gua hajar juga nanti,” cetus Dika sangat kesal.
“Dika. Elu enggak boleh gitu. Ingat Dika kita lagi di gunung, jaga tata krama, kelakuan sama
ucapan harus di jaga. Jangan sembarangan,” ucap Rio mengingatkan.
“Eh, Bro. Jelas lah gua kesel. Orang mereka beraninya gitu, enggak berani kesini,” timpal Dika
kemudian menyalakan rokoknya.
“Itu bukan orang, Dika. Gua yakin itu bukan orang,” ucap Arif pelan.
“Elu lagi. Sudah jelas itu suara orang ketawa. Coba lu pikir. Masa iya ada pohon bisa ketawa?
Mikir dong, aneh-aneh aja,” cetus Dika kesal.
“Iya maksud gua itu bukan orang. Tapi itu penghuni di sini, Dika,” jawab Arif menjelaskan.
“Sudah, Bro. Jangan selalu di ributin terus. Sudah lebih baik diam dan berdo’a agar kita bisa
selamat sampai tujuan,” ucap Rio menenangkan.
***
Pukul 14:30 Hujan yang semula deras, perlahan-lahan mereda dan hanya menyisakan rintik-
rintik. Dengan begitu Rio berinisiatif untuk melanjutkan perjalan.
Rio dan teman-temannya kemudian keluar tenda untuk segera membongkar tenda mereka.
“Kalian pake jas hujanya. Kita lanjut jalan lagi yah,” ucap Rio menyarankan.
42
Sementara Rio dan yang lainnya langsung membongkar tenda sekalian packing. Tidak lama
setelah itu. Kedua tenda telah selesai di bongkar dan sudah mereka masukan kembali kedalam
ransel. Hawa terasa sangat dingin serta kabut tebal menyelimuti Mereka. Sehingga membuat
jarak pandang mereka terbatas.
“Oke semuamya. Kita lanjut jalan lagi, dan ingat yah jangan berjauhan. Terus juga usahakan
tetap fokus, jadi pikiran kalian semua jangan sampai kosong,” ucap Rio memberikan
peringatan.
Semuanya nampak menganggukan kepalanya. Tidak menunggu lama Rio berjalan di depan, di
ikuti oleh rombongannya. Tanah yang mereka pijak cukup basah licin dan sedikit berlumpur.
Mereka semua terus berjalan menanjak menuju POS dua. Namun karena keadaan jalur yang
tertutup kabut tebal, sehingga membuat mereka kesulitan.
Brugkk!
“Haduh. Kamu enggak apa-apa, Sis ?” tanya Dika dengan membangunkan tubuh Siska.
“Awwhh, enggak apa-apa, kak,” jawab Siska sedikit meringis.
“Hati-hati, Sis. Tetap fokus yah. Jangan ngelamun,” ucap Rio dari depan.
Siska mengangguk kearah Rio. Mereka pun kembali jalan. Ketika mereka tengah berjalan.
Tiba-tiba pundak Dika seperti ada yang memukul.
Buuggg!
“Awwhh.” Dika meringis kemudian mengarahkan wajahnya ke arah Arif yang berjalan di
belakangnya.
“Maksud Elu apaan mukul gua?” tanya Dika dengan mata melotot.
43
“Siapa yang mukul elu? Gua dari tadi fokus jalan aja,” jawab Arif heran. “Jalan aja gimana?
Yang ada di belakang gua itu elu. Elu enggak suka gua di depan? Maknya elu mukul pundak
gua iya?” Dika nampak sangat marah.
“Iya gua juga tahu. Si Arif enggak ngapain-ngapain.” Fani dari belakang menyaut membela Arif.
“Ada apa lagi sih? Kenapa kalian ini?” tanya Rio seakan heran dengan teman-temannya.
“Ini, Bro. Si Arif mukul pundak gua ,” jawab Dika dengan raut wajah kesal.
“Demi Allah, Rio. Gua enggak ngerasa mukul atau apa. Gua fokus aja jalan, nih si Fani juga
lihat kok,” ucap Arif menjelaskan.
“Sudah kalian jangan ribut terus sih. Enggak biasanya elu begini, heran gua,” ucap Rio nampak
sedikit kesal.
Mereka semuanya pun kembali mengikuti langkah Rio. Kabut hitam menyapa mereka,
sehingga membuat jarak pandang semua semakin sedikit.
Ketika mereka berjalan dengan pelan. Terdengar suara gamelan kembali. Suara itu terdengar
dengan sangat jelas oleh semuanya. Rio yang berada di depan kaget sekaligus mulai merasa
takut, namun demi keselamatan semuanya dia mencoba untuk tidak panik.
“Tenang, Yen. Itu Cuma suara gamelan kok,” ucap Siska mencoba menenangkan, meskipun
dirinya juga merasakan takut.
44
“Jangan panik, Dek. Tenang aja, berdoa aja yang baik-baik. Ini suara biasa yang datang dari
bawah, jadi jangan berfikir yang aneh-aneh yah,” ucap Rio menenangkan.
Yeni hanya mengangguk namun dengan wajah yang masih ketakutan. Dengan begitu
semuanya kembali melanjutkan langkahnya. Rio sudh mengerti dengan keadaan. Akan tetapi
mencoba untuk tetap tenang.
Semakin lama suara gamelan itu semakin terdengar dengan sangat kencang dan jelas.
Perasaan semuanya sudah tidak karuan lagi. Rio terus-menerus memberikan instruksi kepada
rombonganya untuk tetap fokus.
Ketika mereka melanjutkan perjalan dengan kondisi kabut yang tebal serta suara gamelan yang
terus terdengar di telinga mereka. Tiba-tiba semuanya mencium wangi bunga Kamboja yang
sangat menyengat.
Baik Rio dan yang lainya pun merasa heran dengan bau yang sangat menyengat itu. Rio
menghentikan langkahnya, kemudian menatap kearah rombonganya yang berjalan di
belakangnya itu.
“Ihh, bau apaan sih ini? Gini banget baunya,” ucap Yeni yang kemudian menutup hidungnya.
“Ingat yah, jangan panik. Tepat fokus dan jangan sampai pikiran kalian itu kosong, Berdo’a
saja,” ucap Rio dari depan mengingatkan.
“Kok kayak bau yang tadi di ransel elu yah, Dika?” Arif menutup hidungnya.
“Eh, Bro. Kan elu lihat sendiri, minyak itu sudah di buang sama Rio, gimana sih!” cetus Dika
dengan nada kesal.
“Terus kalau ini bau bunga Kamboja gimana? Elu mau bilang lagi ini karena ulah setan Iya?
Apa-apa selalu mikirnya setan, aneh,” cetus Dika kesal.
“Sudah jangan ribut terus. Jalan saja yang fokus,” ucap Rio dari depan. Mereka pun mengikuti
Rio yang berjalan di depan. Tiba-tiba Siska merasakan kakinya sulit untuk di gerakan, sehingga
membuatnya terjatuh lemas.
BRUGGKK!
“Kamu kenapa lagi, Sis?” Dika bergegas membangunkan Siska yang tiba-tiba terjatuh.
45
“Enggak tahu, Kak. Aku lemes banget, kaki aku susah untuk di gerakin,” jawab Siska pelan dan
terlihat sangat lemas.
Rio yang ada di depan pun bergegas menghampiri Siska yang duduk lemas di topang oleh
Dika.
“Kamu enggak apa-apa kan, Sis? Kalau capek bilang yah, biar kita istirahat dulu,” ucap Rio
nampak sangat khawatir.
“Sis ... Kamu kenapa sih, kok malah nangis?” tanya Yeni dengan lirih dan nampak sedih.
“Ya sudah kita istirahat aja dulu yah di sini, “ ucap Rio menurunkan ranselnya.
Kemudian kedua kaki Siska di olesi balsem oleh Yeni sambil di pijat. Siska nampak benar-
benar merasa kesakitan dan kelelahan, sehingga membuat Rio dan yang lainya terlihat
bingung. Rio kemudian menggelarkan terpal untuk alas, bermaksud agar Siska biar bisa tiduran
sejenak.
Kemudian tubuh Siska di angkat oleh Rio dan Dika di letakan di atas terpal. Yeni dengan rasa
sedihnya terus menemani Siska dan memijat-mijat kakinya yang terlihat lemas.
“Ini ke pos dua masih jauh yah, Rio?” tanya Arif dengan raut wajah lelah.
“Lumayan jauh, Rif. Kita istirahat aja dulu yah. Biarkan Siska istirahat, kecapekan ini kayaknya,”
jawab Rio nampak khawatir.
“Iya sudah kita istirahat aja. Lagian juga ngapain sih buru-buru banget, kasihan kan ini Siska,”
sahut Dika dengan menatap wajah Siska yang tengah tertidur.
Perjalan mereka pun terhenti kembali. Rio melihat jam di tanganya sudah menunjukkan pukul
tiga sore. Rio dan semuanya nampak bingung sekaligus cemas dengan keadaan Siska.
“Elu lagi, Bro. Malah bilang begitu. Kita belum nyampe puncak. Lagian juga kita sudah jauh-
jauh datang kesini sudah bayar juga, rugi dong kalau enggak nayampe puncak,” sahut Dika
dengan wajah kesal.
46
“Sudah jangan ribut. Kita tunggu Siska biar cepat pulih dulu. Dan kalian tolong lah jangan ribut-
ribut terus,” ucap Rio mengingatkan.
Ketika mereka tengah mengobrol. Siska yang semula tertidur, tiba-tiba dia tertawa layaknya
orang yang sedang gembira.
Yeni yang tengah memijat-mijat kakinya pun kaget dan segera menjauh karena takut. Rio dan
yang lainnya terperanjat menatap Siska yang tiba-tiba tertawa, kemudian membuka matanya
dengan sorot tajam menatap ke arah semuanya.
“Sis. Kamu kenapa, sis?” tanya Rio dengan nada setengah takut.
“Ini kenapa sih? Sis elu jangan begitu, enggak lucu tahu,” celetuk dika heran.
“Hihi ... Hihihi ... Kalian jangan bertingkah seenaknya di sini. Aku tahu dalam fikiran kalian.
Hihi,” ucap Siska dengan mata tajam.
Rio sudah menebak kalau itu bukan Siska. Mendengar ucapan itu semuanya nampak bingung.
“Maaf yah. Kami ke sini Cuma mau mendaki saja, tidak ada niat yang lain Jika kami salah, kami
minta maaf yah, tolong jangan ganggu kami,” ucap Rio yang sudah nampak ketakutan.
“Sis elu jangan begitu lah. Pake pura-pura kesurupan segala. Jangan bercanda,” cetus Dika
kesal.
Tiba-tiba Siska terpejam dan tubuhnya kembali lemas. Rio dengan sigap menangkap tubuh
Siska yang hendak terjatuh kemudian membaringanya kembali.
Yeni sudah menangis ketakutan dengan kejadian seperti itu. Rio nampak memikir-mikir seakan
mencari tahu penyebabnya.
“Dika. Duit yang elu masukin ke ransel itu. Lebih baik di taruh aja lagi. Ini ada yang enggak
beres,” ucap Rio menatap Dika.
“Enggak beres apaan? Eh, Bro. Gua itu nemu, berarti itu rezeki gua, Lagian juga apa
hubungannya sama duit yang gua ambil, orang gua nemu kok,” timpal Dika dengan raut wajah
kesal.
47
“Bener, Dika. Ini mungkin dari duit yang elu ambil di sana, makanya kita banyak ngalamin
kejadian begini,” ucap Arif yang ada di dekatnya. Hendak terjatuh kemudian membaringanya
kembali.
Yeni sudah menangis ketakutan dengan kejadian seperti itu. Rio nampak memikir-mikir seakan
mencari tahu penyebabnya.
“Dika. Duit yang elu masukin ke ransel itu. Lebih baik di taruh aja lagi. Ini ada yang enggak
beres,” ucap Dimas menatap Dika.
“Enggak beres apaan? Eh, Bro. Gua itu nemu, berarti itu rezeki gua, Lagian juga apa
hubungannya sama duit yang gua ambil, orang gua nemu kok,” timpal Dika dengan raut wajah
kesal.
“Bener, Dika. Ini mungkin dari duit yang elu ambil di sana, makanya kita banyak ngalamin
kejadian begini,” ucap Heri yang ada di dekatnya. Yah?” tanya Siska dengan raut wajah
bingung.
“Iya, Sis. Kamu tadi pingsan, makanya kamu di baringkan di sini,” jawab Rio yang ada di
dekatnya.
“Kaki kamu sudah enggak sakit lagi kan, Sis?” tanya Yeni mendekat ke arah Siska.
“Enggak, sudah enakan kok. Kalau tadi sih iya sakit banget,” jawab Siska kemudian duduk.
“Sudah nih elu makan aja dulu, jangan di kosongin perutnya,” ucap Dika memberikan satu
kantong roti.
Rio pun mengajak semuanya untuk makan terlebih dahulu sebelum lanjut menuju pos dua yang
berjarak cukup jauh.
Mereka kemudian menyiapkan peralatan masak untuk membuat makanan di sore itu.
Semuanya nampak bekerjasama. Hawa semakin terasa dingin sehingga Rio dan yang lainnya
pun mengenakan jaket doble.
Rio yang sedang memasak mie di depan kompor tidak sengaja menatap ke arah atas. Terlihat
ada seorang kakek-kakek mengenakan baju dan celana berwarna hitam, serta memakai ikat
kepala, tengah berjalan menanjak.
Rio terdiam dengan mata yang terus menatap ke arah kakek itu. Dia nampak heran sekaligus
bingung.
“Itu mienya mateng, Rio. Malah bengong aja. Ngeliatin apaan sih?” Arif nampak penasaran.
48
Sontak Rio terperanjat dari lamunannya.
“Owh, enggak, Bro. Itu lagi lihat jalur aja buat nanti kita lewat,” jawab Rio tersenyum.
Arif dan yang lainya pun menatap ke arah yang di lihat Rio. Mereka tidak melihat ada hal aneh
ataupun kakek-kakek seperti yang di lihat oleh Rio. Dengan begitu Rio dan semuanya pun
makan bersama sore hari itu.
***
Pukul 16:00 Rio dan rombongannya yang telah selesai makan dan istirahat kemudian memulai
kembali melanjutkan pendakian menuju pos dua.
Keadaan hutan di situ sudah malam gelap karena banyaknya pohon-pohon besar yang tinggi,
di tambah lagi keadaan langit yang kembali mendung.
Jalur itu nampak licin sehingga membuat Rio dan rombongannya harus hati-hati dalam
memijakan kakinya dalam kondisi tanah yang lembek sedikit berlumpur.
Semuanya nampak terlihat kelelahan. Tidak jarang pula mereka berhenti untuk mengantur
nafas yang terasa sangat sesak.
“Woy. Brenti dulu lah, engap gua, huhh,” teriak Dika nampak ngos-ngosan.
“Iya, Rio. Kita berhenti dulu sebentar,” sahut Arif meringis kelelahan.
Dengan begitu maka. Rio pun menuruti semuanya yang sudah terlihat sangat kelelahan. Di
satu sisi langit sudah nampak sangat gelap. Yeni dan Siska terlihat duduk lemas serta nafas
yang tersengal-sengal. Rio Kemudian berjalan ke arah mereka.
“Minum dulu, Dek. Kita istirahat dulu sebentar aja yah. Soalnya ini udah gelap banget,
setidaknya kita harus sampai pos dua sebelum maghrib,” ucap Rio kemudian duduk dan minum
air mineral.
“Iya, Kak. Aku juga sudah capek banget ini,” jawab Yeni nampak kelelahan.
“Iya makanya minum aja dulu yang tenang. Itu pos dua dikit lagi nyampe kok ,” ucap Rio
menunjuk.
Tidak lama setelah mereka minum dan istirahat sebentar. Kemudian Rio dan rombonganya
kembali jalan menuju pos dua yang sudah berada tidak terlalu jauh. “HAHAHAHA....” suara
tertawa terdengar dengan sangat keras.
49
Rio menghentikan langkahnya. Yeni dan Siska sudah nampak panik dan ketakutan.
“Kak, takut ... Suara apa sih itu?” Yeni sudah menangis ketakutan.
“Tenang, dek. Itu bukan suara apa-apa kok. Jadi tenang yah, tetap fokus ,” jawab Rio mencoba
menenangkan adiknya.
Di belakang Arif dan Fani sudah terlihat ketakutan karena sering mengalami pundak mereka
seperti ada yang memukul. Namun mereka berdua hanya diam saja dan tidak memberitahukan
kepada Rio.
Arif dan Fani hanya saling tatap dan mencoba untuk tetap diam. Tiba-tiba Dika terjatuh karena
kakinya seperti ada yang menarik.
BRUGGGH!
Arif dan Fani yang berada di belakangnya bergeges membangunkan Dika yang jatuh
tersungkur kedepan.
“Hahhh. Enggak apa-apa gimana? Udah tau gua jatuh,” jawab Dika kesal.
“Dika. Jarak elu sama gua itu cukup jauh sekitar dua meteran. Mana mungkin sih kaki gua
nyampe,” jawab Arif heran.
“Kenapa lagi sih?” tanya Rio dari depan dengan raut wajah kesal.
“Hahhh... Ya sudah ayok lanjut jalan aja, Keburu malem,” ucap Dika setelah berdiri.
Dengan begitu, Rio pun melanjutkan langkahnya. Keadaan suasana terlihat gelap oleh kabut,
suara angin terus bergemuruh. Rio dan rombongannya terus merangsak naik menuju POS dua.
Namun di situ ada keanehan. Rio yang semula merasa sudah dekat dengan pos dua. Ketika di
dekati, jaraknya terasa sangat jauh dan tidak kunjung sampai. Sementara waktu sudah hampir
maghrib. Semuanya nampak sudah sangat kelelahan. Begitu juga dengan Rio yang sudah
merasakan hal janggal.”Bro. Ini masih jauh apa gimana sih? Kata elu tadi bilang sedikit lagi
nyampe pos dua. Ini sudah mau jam enam,” teriak Dika dengan lantang.
50
Rio hanya menoleh ke arah Dika dan memberikan kode untuk terus jalan. Semuanya hanya
menuruti langka Rio yang menjadi ketua rombongan.
Ketika mereka tengah berjalan dengan jalur yang tertutup kabut. Rio dan beberapa temannya
meliat sekelebat cahaya putih melintas di atas mereka. Sehingga membuat Yeni dan Siska
berteriak.
Sontak semua kaget dan berhenti melangkah. Rio sudah nampak cemas dan bingung
bercampur takut. Kemudian Rio kembali menenangkan adiknya dan Siska yang sangat
ketakutan.
“Iya gua juga lihat, Fan. Gua rasa pendakian kita kali ini enggak beres,” jawab Arif pelan.
“Kalian ini kenapa sih. Sebentar-sebentar teriak? Kalau mau istirahat jangan teriak, langsung
bilang aja,” celetuk Dika heran.
Yeni dan Siska sudah sangat ketakutan. Rio kemudian menenangkan mereka berdua.
Semuanya pun kembali berhenti dan duduk-duduk.
“Iya tadi ada cahaya putih lewat di atas kita,” ucap Arif menjelaskan.
“Hahh. Elu ini apaan lagi. Gua enggak lihat apa-apa,” jawab Dika kemudian duduk.
“Tadi ada yang lewat, Dika. Terbang di atas kita, dari belakang ke depan terus ngilang. Itu
makanya di Yeni sama Siska teriak,” ucap Arif.
“Bro. Gua tahu elu semua sudah capek. Makanya penglihatan juga enggak beres. Makanya
jangan mikir yang aneh-aneh,” timpal Dika kemudian menghisap rokoknya.
“Kok gua itu ngerasa aneh yah. Hhh sampe sekarang juga enggak ada sih pendaki lain yang
lewat ke apa. Masa mereka mau naik malem” Fani terlihat kebingungan.
“Gua juga mikirin itu, Fan. Perasaan kan pas kita daftar itu banyak banget rombongan yang ada
di belakang kita. Tapi kok sampai sekarang enggak ketemu mereka,” sahut Arif terlihat sangat
kelelahan.
51
Mereka terus mengobrol. Sedangkan Rio menenangkan Yeni dan Siska yang sedari tadi
menangis ketakutan. Suasana semakin gelap, namun mereka belum sampai di pos dua.
Dika terlihat santai sambil menghisap rokok dengan tubuh yang bersender di batang pohon
besar. Dika nampak bersiul seakan tidak perduli dengan keadaan temanya. “Dika. Enggak
boleh bersiul,” ucap Rio mengingatkan.
“Kenapa sih, Bro? Gua bersiul aja enggak boleh? Heran gua,” sahut Dika dengan raut wajah
kesal.
“Jadi kita gimana ini, Rio? Sudah mau masuk maghrib nih,” tanya Arif.
“Iya, Bro. Kalau kita istirahat dan bikin tenda di sini kayaknya enggak bisa, posisi tanahnya ini
miring,” jawab Rio nampak bingung.
“Lah. Terus gimana? Apa nanti aja di pos dua?” Arif nampak sudah merasa kelelahan.
“Lebih baik nyari tempat yang bisa buat di bangun tenda aja, Rio. Kasihan juga kan adik elu
sama si Yeni. Mereka pasti sangat kecapekan,” sahut Fani memberikan pendapat.
Rio nampak mikir-mikir sejenak. Matanya menatap ke arah Yeni dan Siska yang memang
terlihat sangat kecapekan dan juga ketakutan. Dengan begitu Rio pun mengajak semuanya
untuk berjalan kembali mencari tempat yang bisa untuk di bangun tenda.
Rio yang berada di depan nampak sudah menyalakan senter. Begitu juga dengan Arif dan Fani
yang ada di belakang. Mereka berdua menyorotkan cahaya senternya ke arah depan supaya
teman-temannya bisa melihat jalur dengan jelas.
Ketika mereka tengah berjalan. Tiba-tiba ada suara yang teriak meminta tolong. Tolong...!
Tolong...!
Rio dan semuanya berhenti melangkah. Mereka nampak saling tatap. Arif dan Fani yang di
belakang sudah merasa ketakutan. Mereka berdua merangsak jalan kedepan untuk lebih dekat
dengan yang lainya.
Rio dan yang lainya nampak mencari-cari sumber suara yang terdengar tidak jauh dari mereka.
“Ada yang minta tolong, Bro. Ayok kita bantuin,” ucap Dika mengajak.
52
“Sssuuuttt! Diam, Dika. Kita enggak usah urusin itu, ayok lanjut jalan aja,” sahut Rio pelan.
Semuanya pun bingung sekaligus merasa takut. Namun Dika nampak merasa heran kepada
teman-temannya.
“Elu semua gimana sih? Ada yang minta tolong di biarin aja,” celetuk Dika heran.
Rio merasa kaget begitu juga dengan yang lainya. Di sini Yeni dan Siska spontan menangis
Kembali karena merasa sangat ketakutan. Terdengarnya suara auman itu di ikuti angin yang
kencang menerpa.
53