0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan15 halaman

Analisis ILC dan Kepercayaan Publik

Makalah ini membahas program televisi Indonesia Lawyers Club dalam memperoleh kepercayaan publik. Program ini mampu mengundang narasumber dari berbagai latar belakang untuk membahas berita dan isu terkini secara objektif. ILC juga mengundang para pengamat politik untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Hal ini membuat program ini dianggap reliable dan mampu memperoleh dukungan serta kepercayaan dari publik.

Diunggah oleh

sxw655jgc5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan15 halaman

Analisis ILC dan Kepercayaan Publik

Makalah ini membahas program televisi Indonesia Lawyers Club dalam memperoleh kepercayaan publik. Program ini mampu mengundang narasumber dari berbagai latar belakang untuk membahas berita dan isu terkini secara objektif. ILC juga mengundang para pengamat politik untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Hal ini membuat program ini dianggap reliable dan mampu memperoleh dukungan serta kepercayaan dari publik.

Diunggah oleh

sxw655jgc5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

ANALISIS PROGRAM TELEVISI INDONESIA LAWYERS


CLUB DALAM PEMPEROLEH KEPERCAYAAN PUBLIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Pengantar Ilmu Sosial

Disusun Oleh:

Dewi Novita (2240202166)

DOSEN PENGAMPU :

Rizza Arge Winanta, S.A.P., [Link]

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS TIDAR

TAHUN 2022
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan banyak nikmat kepada penulis sehingga penulis bisa menyusun proposal
penelitian ini walaupun tidak terlalu sempurna. Selanjutnya, saya ucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Rizza Arge Winanta, S.A.P., [Link] yang telah membimbing,
sehingga tulisan ini dapat diselesaikan. Tak lupa pula kepada seluruh kelurga yang senantiasa
mendukung penulis.

Magelang, 09 Desember 2022

Dewi Novita
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...............................................................................................................................i

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang.................................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................. 2

1.3 Tujuan Penelitian............................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................3

2.1 Komunikasi Massa............................................................................................................ 3

2.2 Program Televisi............................................................................................................... 4

2.3 Kepercayaan......................................................................................................................5

BAB III PEMBAHASAN.......................................................................................................... 8

3.1 Strategi Program Indonesia Lawyers Club dalam Memperoleh Kepercayaan Publik.....8

BAB IV PENUTUP..................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................11

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

“Media massa mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak abad ke-19. Dimana
media massa dianggap memiliki dampak yang sangat signifikan dan mampu mengontrol
opini publik. Studi mengenai dampak media massa sudah dilakukan sejak tahun 1927 oleh
laswell tentang propaganda menjelang perang dunia pertama ( Eka, 2012). Selain dampaknya
yang sangat signifikan, media massa juga memiliki fungsi dan peran yang sangat penting
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Media massa menjadi pilar ke-empat demokrasi
untuk mengawasi jalannya sistem demokrasi yang baik. Menjadi mediasi antara pemerintah
dan masyarakat.”

“Media massa menjadi trend yang sampai saat ini masih dibutuhkan oleh masyarakat
untuk mengetahui perkembangan berita baik dalam taraf nasional maupun internasional.
Informasi faktual tentang kehidupan sosial, keadaan sosial, berita kontemporer, dan tentang
kebijakan pemerintah bisa didapatkan dari media massa (Nyarwi, 2008). Media massa masih
menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat untuk memperoleh informasi yang diinginkan.”

Konteks media massa menjadi pilar ke-empat dalam mengawasi berjalannya sistem
demokrasi, maka pada saat mempublikasikan berita, media massa harus bisa mengcover
kedua belah pihak. Tidak berpihak kepada salah satu pihak. Contoh pada masa pemerintahan
soekarno sistem demokrasi terpimpin yang dimana pers diminta untuk menyetujui dan terus
mempublikasikan manifesto politik Soekarno. Tentu hal ini akan merugikan masyarakat
karena berita yang akan disampaikan oleh media massa hanya berpihak kepada pemerintah.

Salah satu media massa yang memiliki dampak masif yaitu televisi. Televisi mampu
menjangkau semua khalayak. Dengan jangkauan yang luas ini, televisi mampu
mempengaruhi perilaku, pola pikir, dan opini ( Anisah & Prayento, 2018). Menurut budiman
(2002) dalam (Anisah & Prayento, 2018), keseharian manusia pada era sekarang ini tidak bisa
lepas dari media massa, seperti televisi, radio dan internet. Televisi memiliki banyak saluran
untuk ditonton. Publik bebas memilih saluran siaran manapun yang ingin ditonton. Tentu
dalam hal ini teori uses and gratifiication terbukti benar. Bahwa publik bisa memilih jenis
saluran dan siaran yang ingin ditonton, tergantung dari kebutuhannya (Nurudin, 2007). Salah
satu siaran yang banyak ditonton publik yaitu Indonesia Lawyers Club dari saluran TV One.

2
Indonesia Lawyers Club adalah salah satu siaran talkshow yang mampu memenuhi
kebutuhan khalayak mengenai isu dan trend yang berkembang di Indonesia. Tidak hanya itu,
Indonesia Lawyers Club atau biasa disingkat ILC mampu meng-cover dua belah pihak, yaitu
oposisi dan posisi. ILC selalu mendatangkan pihak oposisi, posisi dan netral. Jadi, semua
pihak bisa berpendapat dengan bebas. Menurut Effendy (2004) dalam (Anisah &
Prayento,2018) Indonesia Lawyers Club memiliki fungsi komunikasi Massa. Fungsi
komunikasi massa seperti to inform, to educate, dan to entertain.

Program ILC selalu hadir dengan berita dan isu terbaru. ILC selalu mengundang
narasumber yang berkompeten di bidangnya. Mengundang para politisi baik oposisi maupun
posisi dan mengundang para pengamat politik. Program ILC ini memiliki banyak manfaat
untuk memberi pemahaman dan pengetahuan kepada publik mengenai keadaan negara ini.
Menurut Anisah dan Prayetno (2018) ILC merupakan talkshow yang dikemas interaktif dan
menarik demi memberi pembelajaran tentang politik kepada masyarakat.

Dalam hal ini, penulis akan menganalisis lebih jauh mengenai program ILC yang
rutin tayang setiap malam rabu di stasiun televisi TVone, sebelum program tersebut
diberhentikan penayangannya di akhir tahun 2020. Program yang mampu memperoleh
simpati dan kepercayaan publik dan dianggap program reliable dibandingkan program yang
lain. Tentunya analisis ini dilakukan penulis setelah melihat dampak yang begitu masif yang
ditimbulkan oleh ILC.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Program Televisi Indonesia Lawyers Club Dalam Memperoleh


Kepercayaan Publik?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui Bagaimana Program Televisi Indonesia Lawyers Club Dalam


Memperoleh Kepercayaan Publik?

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi Massa

“Komunikasi massa merupakan jenis komunikasi yang menggunakan media massa


yaitu media cetak dan elektronik (Nurudin, 2007:4). Pada dasarnya komunikasi massa
memanfaatkan media cetak seperti, koran, majalah, tabloid, dan sebagainya. Selain
menggunakan media cetak, komunikasi massa memanfaatkan media elektronik seperti,
televisi dan radio. Kedua bentuk media tersebut dikatakan media massa karena mampu
menjangkau khalayak dengan cakupan yang begitu luas. Lebih lanjut Nurudin (2007:5)
menjelaskan bahwa ada media baru yang muncul yaitu internet, jika ditelaah dari ciri, fungsi,
dan elemennya, maka internet dapat dikategorikan dalam komunikasi massa.”

Lebih lanjutnya, Michael W. Gambel dan Teri Kwal Gambel (1986) dalam (Nurudin,
2007:8) mendefinisikan komunikasi massa sebagai berikut:

“1. Komunikator dalam komunikasi massa memanfaatkan peralatan modern untuk


menyebarkan atau memancarkan pesan secara cepat kepada khalayak yang
luas. Pesan tersebut disebarkan melalui media modern seperti, majalah, surat
kabar, film, televisi, atau gabungan dari media tersebut.”

“2. Komunikator dalam komunikasi massa pada saat menyebarkan pesan-


pesannya bermaksud untuk membagi pengertian dengan jutaan orang yang tidak
saling kenal dan mengetahui satu sama lain.”

“3. Pesan bisa diterima dan didapatkan oleh khalayak ramai. Tidak terbatas, pesan
tersebut milik publik.”

“4. Komunikator massa biasanya organisasi formal seperti ikatan, jaringan, atau
perkumpulan.”

“5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (penapis informasi).jadi,


sebelum siaran tersebut dapat dikonsumsi oleh khalayak, ada sejumlah individu
yang melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut.”

“6. Umpan balik dalam komunikasi sifatnya tertunda.”

4
Masih dalam Nurudin (2007:19) komunikasi massa memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:

“1. Komunikator dalam komunikasi melembaga. Artinya bahwa


komunikator dalam komunikasi massa bukan satu orang, akan tetapi
kumpulan orang. Ada berbagai macam unsur dan elemen yang tergabung,
sehingga membentuk sistem yang didalamnya ada interpedensi.”

“2. Komunikan bersifat heterogen. Jadi, khalayak yang mendapatkan


pesan dari komunikator massa sifatnya heterogen. Dengan berbagai
rentang usia, asal, dan sebagainya.”

“3. Pesan bersifat umum. Setiap informasi yang disampaikan melalui


media massa, maka pesan tersebut sifatnya umum, dalam artian bahwa
pesan tersebut dapat diterima oleh siapa saja.”

“4. Komunikasi bersifat satu arah. Sebagai contoh, ketika membaca koran,
maka kita hanya bisa menikmati informasi dari media massa dan tidak
sebaliknya.”

“5. Komunikasi massa sifatnya menimbulkan keserempakan. Jadi, ketika


acara televisi sedang menyiarkan programnya, maka secara serempak
banyak daerah yang dapat menikmati program tersebut.”

“6. Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis seperti, pemancar,


pengeras suara, dan sebagainya.”

“7. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper”

2.2 Program Televisi

“Kata program secara terminologi berasal dari bahasa inggris “programme” yang
berarti acara atau rencana. Robin (2014) mengartikan program sebagai hal atau acara yang
ditampilkan yang meliputi berbagai macam siaran dan ditujukan kepada audiens demi

5
memenuhi kebutuhan batin mereka. Lebih lanjut, Kuswita (2014) menerangkan bahwa
program acara televisi merupakan hasil liputan suara dan gambar yang kemudian disusun
menjadi sebuah program audio visual dan disebarkan secara luas kepada khalayak melalui
media dengan bentuk format acara televisi.”

“Menurut P.C.S Sutisno dalam Isnaien (2011:15-16) menerangkan bahwa program


televisi merupakan bahan yang telah disusun dalam satu format dan disajikan dengan unsur
video dan audio yang secara teknis memenuhi persyaratan layak disiarkan setelah memenuhi
standar estetik dan artistik yang berlaku. Lebih lanjutnya, dalam pembuatan program televisi,
didukung oleh para artis dan para kerabat kerja. Ide merupakan inti pesan yang kemudian
dituangkan dalam bentuk naskah, kemudian diproduksi menjadi suatu paket program.”

“Televisi merupakan bagian dari media massa yang sampai saat ini masih digunakan
sebagai sarana untuk menyebarkan informasi dan berita. Setiap program yang ada di televisi
ditujukan untuk publik, agar publik mendapatkan informasi, hiburan, dan juga pembelajaran.
Lebih lanjutnya, dalam suatu program televisi, naskah memiliki peran yang begitu penting
demi menunjang keberhasilan program acara. Jika naskahnya kurang bermutu, maka akan
menghasilkan program yang kurang bermutu pula. Pembuatan naskah tentunya memiliki
urutan yang sistematis, seperti ide yang diusung, sasaran program, tujuan program, garis-
garis besar isi program, dan Treatment.”

2.3 Kepercayaan

“Dalam produk media seperti program acara yang dibuat, kepercayaan publik
terhadap program tersebut menjadi indikator nomor satu yang diupayakan setiap stasiun
televisi. Menurut Barnes (Kusmayadi, 2007) dalam Maharani (2010) menerangkan bahwa
kepercayaan adalah keyakinan bahwa seseorang akan menemukan apa yang diinginkan pada
mitra pertukaran. Kepercayaan melibatkan kesediaan seseorang untuk bertingkah laku
tertentu karena keyakinan bahwa mitranya akan memberikan apa yang diharapkan dan suatu
harapan yang umumnya dimiliki seseorang bahwa kata, janji atau penyataan orang lain dapat
dipercaya.”

“Menurut Peppers dan Rogers (Kusmayadi, 2007) dalam Maharani (2010) kepercayaan
merupakan keyakinan satu pihak pada reliabilitas, durabilitas, dan integritas pihak lain dalam

6
hubungan dan keyakinan, bahwa tindakannya merupakan hal yang baik dan akan
menghasilkan hal yang positif. Kepercayaan konsumen dapat tercipta karena kualitas produk
atau jasa dari suatu perusahaan mampu memberikan pelayanan terbaiknya. Ketika konsumen
merasa mendapat apa yang diinginkan, maka kepercayaan akan muncul. Dengan begitu
konsumen akan loyal terhadap produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.”

Menurut Barnes (Kusmayadi, 2007) dalam Maharani (2010) ada beberapa elemen
penting dari kepercayaan, yaitu:

a. Kepercayaan merupakan perkembangan dari perkembangan dan tindakan


masa lalu watak yang diharapkan dari mitra seperti dapat dipercaya dan
diandalkan
b. Kepercayaan melibatkan kesediaan untuk menempatkan diri dalam risiko
c. Kepercayaan melibatkan perasaan aman dan yakin pada mitra.

Dengan munculnya kepercayaan pada konsumen, dalam konteks penelitian ini berarti
penonton acara ILC, maka konsumen akan selalu loyal dan menantikan program yang
disiarkan oleh pihak perusahaan. Lebih lanjutnya, menurut Peppers dan Rogers (Kusmayadi,
2007) dalam Maharani (2010) ada beberapa faktor yang berpengaruh demi terciptanya
kepercayaan, yaitu:

a. Share valued. Yaitu nilai-nilai yang dibagikan merupakan hal mendasar untuk
membangun kepercayaan.
b. Interdependence. Ketergantungan pada pihak lain akan mendatangkan
kerentanan. Sehingga pihak yang tidak percaya akan membina hubungan
dengan yang dipercaya
c. Quality communication. Dengan komunikasi yang teratur dan baik akan
memecahkan banyak masalah.
d. Nonopportunistic Behaviour. Jadi untuk membangun kepercayaan berperilaku
non-oportunis.

Lebih lanjut, ada beberapa indikator menurut Doney dan Cannon (Kusmayadi, 2007)
dalam (Maharani, 2010) yaitu:

a. Kehandalan
b. Kejujuran

7
c. Kepedulian
d. Dan, Kredibilitas

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Strategi Program Indonesia Lawyers Club dalam Memperoleh Kepercayaan Publik

Kepercayaan merupakan hal yang sangat penting untuk didapatkan. Untuk menjaga
komitmen dan loyalitas diperlukan kepercayaan. Menurut Karsono (2006) dalam (Wulandari,

8
2014) kepercayaan dapat diperoleh jika penyedia layanan tersebut dapat dipercaya dan
memiliki integritas yang tinggi. Stasiun televisi jika ingin dipercaya oleh masyarakat maka
harus memiliki inegritas yang tinggi. Integritas menurut KBBI V “ mutu, sifat, atau keadaan
yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehinga memiliki potensi dan kemampuan yang
memancarkan kewibawaan; kejujuran”.

Integritas dapat diartikan sebagai kejujuran. Kejujuran suatu stasiun televisi atau
tayangan merupakan kunci dari memperoleh kepercayaan publik. Melihat konstelasi politik
dan keadaan sosial saat ini, tentu publik ingin mengetahui kebenaran dari keadaan tersebut.
Media memiliki kewajiban untuk menguak dan menginformasikan semua itu kepada publik.

Salah satu tayangan yang dianggap terpercaya yaitu Indonesia Lawyers club. Tentu
hipotesis ini didukung dengan beberapa bukti seperti, ILC mejadi nominasi program talkshow
berita ter favorit Panasonic global award sejak 2014 sampai 2019 dan memenangkan award
sebanyak empat kali. Hal ini membuktikan bahwa publik percaya terhadap siaran ini.

Berdasarkan analisis yang dilakukan penulis, ILC bisa memperoleh kepercayaan


publik karena beberapa hal antara lain :

1. Selalu hadir dengan tema yang menarik

Tema yang diangkat salah satu penentu kualitas dari berita. Berita yang diangkat
oelh ILC selalu berbda dan hangat untuk dibicarakan. Selasa malam 03 desember
2019 ILC mengangkat isu tentang PFI yang berjudul “ maju-mundur izin FPI”.
Dan dihadirkan tiga kubu. Dua kubu yang setuju dan tidak setuju, kubu ketiga
merupakan pengamat yang netral. Di era hoax dengan mudah tersebar, ILC dating
agar masyarakat tidak mudah termakan hoax. Menjelaskan permasalah dari
akarnya.

2. Menghadirkan narasumber yang sesuai keahliannya

Dari hasil pengamatan terhadap tayangan ILC, narasumber yang diundang


merupakan narasumber yang sesuai dengan bidang dan kepentingannya. Karena
ILC selalu menghadirkan kubu yang agree maupun disagree maka sudah pasti ada
kepentingan yang mereka perjuangkan untuk dipercayai oleh publik. Seperti
halnya waktu episode ILC yang berjudul “maju-mundur izin FPI”, ILC
menghadirkan kubu yang setuju dengan diberikan izin terhadap FPI seperti Haikal
hasan dan ada kubu yang tidak setuju. Ada juga kubu yang bersifat netral seperti

9
Irmanputra Sidin. Bahkan ILC mengundang Menopolhukam yaitu pak Mahfud
Md.

3. ILC bersikap netral

Netral berarti mampu mengcover kedua belah pihak. Tidak mendukung maupun
menolak. ILC memberikan setiap narasumber hak untuk berbicara dan
menyampaikan pendapat mereka. ILC tidak mengagung-agungkan salah satu
pihak, tidak juga mendeskreditkan salah satu pihak. Hal ini yang membuat ILC
disukai oleh publik.

4. konsep talkshow yang berbeda

Tentu ada banyak talkshow berita di beberapa stasiun televisi, namun mereka
cendrung memiliki kesamaan konsep. Biasanya moderator akan duduk ditengah-
tengah narasumber. Namun, ILC membebaskan moderator untuk berdiri dan bisa
langsung intouch dengan narasumber. Selain itu, pembukaa ILC diawali dengan
iringan band dam lampu kerlap kerlip.

Berdasarkan analisis diatas, penulis meyakini bahwa teori difusi inovasi masih
relevan dan masih digunakan oleh ILC. Difusi inovasi berarti media massa
memiliki pengaruh yang kuat untuk menyebarkan temuan yang baru (Nuruddin,
2007). ILC datang dengan tema-tema yang mampu menggugah para penonton
untuk memahami politi. Artinya ILC selalu hadir dengan temuan baru.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Media massa memiliki peran yang signifkan dalam kehidupan berbangasa dan
benegara. Memilik peran yang sangat krusial untuk mengedukasi masyarakat agar paham

10
dengan keadaan terkini. Salah satu tayangan yang mampu melakukan tugas komunikasi
massa yaitu ILC. ILC hadir dengan inovasi dan pemberitaan yang netral. Tidak berpihak pada
salah satu kubu. ILC mampu memperoleh kepercayaan publik dengan meyakini publik bahwa
ILC merupakan siaran yang memiliki integritas.

Dengan melihat cara ILC mengait perhatian masyarakat, dengan menyuguhkan


talkshow yang berbeda dari yang lain. Mengundang narasumber yang sesuai dengan
bidangnya. Selalu menghadirkan tema atau isu yang sedang panas-panasnya. Itu semua
merupakan implementasi dari teori difusi inovasi. Menyebarkan hal yang baru kepada
masyarakat sehingga mampu memperoleh perhatian dari masyarakat.

B. Saran
1. Sebaiknya ILC bisa memanfaatkan berbagai media lainnya untuk menyebarkan
informasi yang valid
2. Sebaiknya ILC tayang tidak terlalu malam, agar masyarakat bisa menontonnya
3. Program TV lain bisa mengambil pembelajaran dari konsep ILC

DAFTAR PUSTAKA

Bambang, A. (2014). Periode Perkembangan Media Massa. Jurnal Studi Komunikasi dan
Media. Vol.18 (No.1):119-132.

11
Isnaien, A. (2011). Analisis Program Acara Kick Andy di Metro Tv. Skripsi. Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Kuswita, H. (2014). Perencanaan dan Produksi Program Televisi Pendidikan di Televisi


Edukasi. Jurnal Komunikologi. Vol.11 (No.2):85-95

Maharani, D. A. (2010). Analisis pengaruh Kepercayaan dan Kepuasan Terhadap Loyalitas


Nasabah Tabungan Bank Mega Semarang. Skripsi. Universitas Diponogoro

Nugraha, P. E. (2012). Media Massa dan Peranannya Dalam Penanggulangan Kejahatan.


Skripsi. Universitas Indonesia

Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Pers.

Nyarawi. (2008). Paradoks Media Sebagai Pilar Keempat Demokrasi. Jurnal ilmu sosial dan
ilmu politik, Vol.12(No.2):121-256.

Prayetno, A. U. (2018). Analisis Tayangan Indonesia Lawyers Club di Tv One Bagi


Pemahaman Politik. Jurnal pendidikan ilmu-ilmu sosial. Vol.10 (No.2):189-197.

Robin, P. (2014). Analisis Produksi Program Fashion “ILook” di Net Tv. Jurnal Visi
Komunikasi. Vol.13 (No.1):121-136

Supriyadi. (2016). Community of Practitioners: Solusi Alternatif Berbagi Pengetahuan Antar


Pustakawan. Jurnal Kajian Ilmu Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan. Vol2
(No.2):83-93.

Wulandari, R. (2014). Analisis faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepercayaan Konsumen


dan Dampaknya Terhadap Minat Loyalitas. Skripsi. Universitas Diponogoro.

12

Anda mungkin juga menyukai