HEADWORK
A. Headwork
Headwork atau bangunan utama adalah bangunan dari mana sumber air irigasi itu
pertama kali diambil untuk untuk disaluran kedaerah pertanian dengan menggunakan
saluran dan bangunan bagi. Secara umum bangunan utama dibedakan menjadi
beberapa jenis yang tergantung dari mana sumber air itu diambil dan kondisi
geografisnya, yaitu :
Bendungan
Bendungan adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk menaikkan
muka air dan dapat menyinpan air dalam jumlah besar pada waktu musim hujan
dan menyalurkan air pada musim kering. Jadi disini bendungan mempunyai fungsi
sebagai penyetabil aliran.
Bendung
Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk menaikkan
muka air agar dapat dialirkan secara gravitasi pada daerah yang akan diairi.
Bendung juga mempunyai tampungan tetapi dalam jumlah yang kecil karena
ketinggian bangunan hanya sekitar 1,5 s/d 7 meter saja
Pengambilan Bebas
Apabila debit yang tersedia pada sungai mencukupi serta muka air sungai
mempunyai elevasi yang lebih tinggi dari lahan yang akan diairi maka tidak perlu
membangun bangunan melintang sungai, cukup dibangun pintu air pada sisi sungai
(tanggul) untuk pengambilan airnya.
Pompa
Oleh karena sesuatu hal tidak memungkinkan untuk dibangun bangunan air
(elevasi, lebar sungai, kebutuhan dll) maka dapat dibangun pompa air untuk
menaikkan muka air agar dapat dialirkan pada daerah yang memerlukan. Sedapat
mungkin cara pompa ini dihindarkan, karena dalam pengoperasian dan
pemeliharaannya memerlukan biaya yang besar serta teknologi yang cukup tinggi.
B. Bendung.
Berdasarkan konstruksinya bendung dapat digolongkan menjadi 3 yaitu :
Bendung Tetap
Bendung Gerak
Kombinasi Bendung Tetap dan Gerak
Pengertian yang terbuat dari beton dengan elevasi mercu yang tetap, sehingga muka
air di hulu tidak dapat dikendalikan dan mengikuti pola aliran yang ada. Bendung
tetap ini banyak digunakan pada daerah hulu sungai yang mempunyai kemiringan
yang terjal karena tidak banyak berpengaruh terhadap luas genangan akibat backwater.
Bendung gerak adalah bendung yang terdiri pintu-pintu air yang dapat digerakkan
untuk mengatur ketinggian air pada daerah hulunya. Bendung gerak cocok dibangun
pada daerah yang landai biasanya dekat pantai untuk dapat mengontrol elevasi air
pada daerah hulunya, karena pada daerah dengan kemiringan landari penambahan
elevasi akan sangat besar terhadap penambahan luas genangan.
Bendungan kombinasi merupakan gabungan antara bendung tetap dan bendung gerak
yang dibangun sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pada lokasi bendung tersebut
dibangun.
B.1. Tinggi Bendung
Yang dimaksud dengan tinggi bendung disini adalah jarak antara lantai muka bendung
sampai puncak bendung (P). Dalam hal ini belum ada ketentuan yang tegas mengenai
harga P. Tetapi dilihat dari segi stabilitas bendung maka dapatlah dianjurkan agar : P
4 m dengan munimum P = 0,5 H. Mengenai peil lantai muka bendung, jika bendung
tersebut dibangun dipalung sungai maka peilnya adalah peil dasar sungai ditempat
rencana bendung, agar tidak berubah terlalu banyak sifat pengalirannya
Penentuan tinggi bendung untuk sumber air baku dengan mempertimbangankan
topografi dilapangan dan tampungan yang dapat ditahan dengan adanya bangunan
bendung ini. Semakin tinggi bendung semakin besar volume tampungan dan semakin
besar pula luas permukaan tanah yang tergenang. Dengan demikian semakin luas juga
tanah yang akan dibebaskan untuk pembangunan bendung ini. Hal ini juga
diperhitungkan dari segi ekonomis dan sosial dan lingkungan tersebut.
Penentuan tinggi mercu bendung untuk suplesi air bagi daerah pertanian di Kecamatan
Bunga Raya dengan mempertimbangkan tinggi muka air pada saluran dan kehilangan
energi didapatkan elevasi muka air pada Headwork 1 pada El. +8.500.
Elevasi dasar sungai adalah EL. + 7.00 dan dijadikan sebagai elevasi dasar bendung,
sehingga tinggi bendung (P) adalah El. 8.500 – El. +7.000 = 1,50 m.
B.2. Lebar Bendung
Yang dimaksud dengan lebar bendung adalah jarak antara tembok pangkal di satu sisi
dan tembok pangkal disisi yang lain.
t Bn
B
Untuk tidak terlalu banyak mengganggu aliran sungai setelah ada bendung maka yang
paling ideal, leber bendung adalah sama dengan lebar normal sungai. Jadi B = Bn.
Akan tetapi oleh karena satu dan lain hal, bila ternyata dengan lebar yang sama dengan
lebar normal sungai akan mengakibatkan tingginya air diatas mercu tinggi sekali,
maka lebar bendung masih dapat dibesarkan sampai 6/5 Bn. Jadi : B 6/5 Bn
Jika B terlalu kecil maka tinggi air diatas mercu akan membesar dan ini menuntut
tanggul di udik bendung yang tinggi, atau luas genangan di udik bendung berubah.
Sementara itu pasangan untuk tubuh bendung menjadi sedikit. Jika B terlalu besa
maka pasangan untuk tubuh bendung menjadi besar dan karena adanya pelebaran
profil sungai dari profil normalnya, akan terjadi pengendapan di depan bendung. Ini
akan berakibat terjadinya aliran melintang yang tidak dikehendaki. Sebaliknya tanggul
tidak usah terlalu tinggi.
Dengan mempertimbangkan lebar sungai yang ada sebesar rata-rata 8 meter, maka
lebar bendung direncanakan dengan lebar 10,0 M.
B.3. Lebar Efektif Bendung
Tidak seluruh lebar bendung ini akan bermanfaat untuk melewatkan debit, oleh karena
kemungkinan adanya pyler-pyler dan pintu-pintu penguras. Lebar bendung yang
bermanfaat untuk melewatkan debit disebut Lebar efektif.
Pada saat air banjir datang maka pintu bilas dan pintu-pintu lain harus tertutup. Hal ini
untuk mencegah masuknya benda-benda hanyut yang akan menyumbat pintu bilas
(bila pintu terbuka), dan masuknya air banjir ke saluran. Selain itu bila pintu bilas
tertutup, ujung atas pintu tidak boleh lebih tinggi dari bercu bendung, sehingga air bisa
lewat diatas pintu. Karena pengaliran air diatas pintu lebih sukar daripada pengaliran
diatas mercu bendung, maka kemampuan pintu bilas untuk mengalirkan air dianggap
hanya 80 % saja.
Asal penjelasan-penjelasan diatas maka dapat disimpulkan sbb. :
Leff = L - b - t + 0,80 b
L eff = L - t - 0,20 b
Dimana :
Leff = lebar efektif bendung
L = lebar seluruh bendung
t = jumlah tebal pyler-pyler
b = jumlah lebar pintu-pintu bilas
B.4. Mercu Bendung
Mercu bendung digunakan profil NAPPE-SHAPE CREST dengan kolam olakan type
USBR . Debit banjir rencana dari analisa hidrologi yang telah dilakukan dengan
periode ulang 50 tahun didapat sebesar 82,280 m3/dt. Lebar sungai alam rata-rata 8 m
dan dibuat lebar bendung menjadi 10 meter. Bendung ditempatkan pada copure
dengan rencana sudetan lebar dasar 10 m.
B.5. Tinggi Air Diatas Mercu
Perencanaan tinggi muka air di atas mercu akan sangat berarti untuk keperluan
besarnya tampungan air yang dapat ditahan pada sungai sebagai tampungan sungai
(long storage). Untuk menentukan besarnya debit yang melalui Mercu Bendung
digunakan dengan rumus sebagai berikut :
Q = C . L H 3/2
Dimana :
Q = Debit yang melewati Mercu Bendung ( m3/dt )
C = Koefisien Limpasan
L = Lebar Efektif Mercu Bendung ( m )
H = Tinggi tekanan air diatas Mercu ( m )
Koefisien debit dari standar suatu Mercu / Pelimpah di peroleh dengan rumus Iwasaki
:
Cd = 2,2 – 0,0416 ( Hd / W )0,99
0,6 0,0416( Hd / P)0,96
a =
1,0 0,0416 ( Hd / P )0,99
1 2 a ( h / Hd )
c = 1,60
1 a ( h / Hd )
Dimana :
c = Koefisien Debit
cd = Koefisien debit pada saat h = Hd
Hd = Tinggi tekanan rencana diatas mercu pelimpah ( m )
W = Tinggi mercu ( m )
a = Konstanata ( diperoleh pada saat h / Hd yang berarti c = cd )
Untuk data –data teknis perencanaan Mercu adalah sebagai berikut :
Data -data teknis perencanaan mercu
Elevasi mercu = 8.500 m
Elevasi dasar sungai = 7.000 m
Lebar ambang = 10 m
Q 50 = 82.280 M^3/dt
Harga Cd diasumsikan = 2,182 * m ^0,5 * dt^-1 , untuk C = Cd maka H = Hd
C Hd a C
m^0,[Link]^-1 m m m^0,[Link]^-1
2.182 2.765 0.487 2.124
2.124 2.816 0.485 2.122
2.122 2.817 0.485 2.122
Lebar Mercu = 10 m
Jumlah pilar = 2 Bh
Tebal Pilar = 0.8 m
Jumlah Pintu = 1 Bh
Lebar Pintu = 1 m
Lebar efektif mercu ( L ) 8.2 m
Hubungan H dan Q lewat Mercu
Elevasi H C L Q
m m M^0,5/dt^-1 m m^3/dt
8.500 0.000 1.60000 8.20 0.000
9.000 0.500 1.72676 8.20 5.006
9.500 1.000 1.83491 8.20 15.046
10.000 1.500 1.92827 8.20 29.048
10.500 2.000 2.00967 8.20 46.611
11.000 2.500 2.08128 8.20 67.461
11.200 2.700 2.10757 8.20 76.673
11.300 2.800 2.12026 8.20 81.459
11.320 2.820 2.12276 8.20 82.431
Kontrol tinggi air diatas mercu
parameter Coba-coba hvo
0.1 0.2 0.193
H 2.717 2.617 2.624
do 4.317 4.217 4.224
A 43.169 42.169 42.239
Vo 1.906 1.951 1.948
hvo 0.1852 0.1940 0.1934
Tinggi air maksimum di atas mercu bendung
= 2.624 m
Jadi tinggi air total di atas mercu di ambil
= 2.817 m
B.6. Penampang Mercu Bendung
Bentuk penampang mercu bendung akan sangat mempengaruhi kesempur-naan aliran
yang akan melimpasi mercu bendung. Banyak rumus yangdapat digunakan sebagai
refernsi untuk merencanakan bentuk mercu bendung ini antara lain adalah Type Ogge,
Type Vlughter, Type Nappe - Shape Crest. Pada perencanaan bentuk mercu bendung
ini akan direncanakan berdasarkan Type Nappe-Shape Crest dengan kemiringan
bagian hulu bendung tegak lurus
Dari hasil perhitungan tinggi muka air diatas mercu didapat data :
Hv = 0,500 m
H = 4,588 m
hvo/H =0,109
Dari gambar 5 – 1 : Grafik untuk menentukan bentuk mercu bendung didapat :
K = 0,502
N = 1,83
B.7. Penampang Belakang Mercu Bendung.
Untuk harga hvo/H =0,109
yang didapat dari grafik 4-2 maka dapat dicari bentuk mercu bendung bagian belakang
Xc / H = 0,211 Xc = 0,039
Yc / H = 0,07 Yc = 0,129
R1 / H = 0,47 R1 = 0,086
R2 / H = 0,197 R2 = 0,036
Sehingga persamaan diatas menjadi :
Y = -kH(X/H)n
= - k H 1-n Xn
= - 0,123 X 1,83
Dengan menggunakan persamaan diatas maka koordinat lengkung bendung bagian
belakang adalah sebagai berikut :
Tabel 4 – 1 : Koordinat lengkung bendung
Titik X (m) Y(m)
1 0,1 -0,002
2 0,2 -0,006
3 0,3 -0,014
4 0,4 -0,023
5 0,5 -0,035
6 0,6 -0,048
7 0,7 -0,064
8 0,8 -0,082
9 0,9 -0,101
10 1 -0,123
Xc
X
Yc
R1 Y
n
R Y x
k
Ho Ho
Vertikal
1 :1
Gambar 4 – 1 : Faktor K dan n untuk menentukan bentuk Nappe-Shape Crest
Gambar 4 – 2 : Faktor R1, R2, Xc dan Yc untuk menentukan bentuk
Nappe-Shape Crest
Gambar 4 – 3 : Karakteristik Stilling Basin untuk bilangan Froude antara 2,5
Sampai dengan 4,5
B.8. Tinggi Muka Air Dibelakang Bendung
Debit banjir yang melimpah direncanakan dari untuk Q50 = 238,713 M3/dt akan
mengalir ke hilir bendung melalui sungai. Data sungai bagian hilir bendung adalah
lebar = 9 m, bentuk sungai dianggap segi empat, kemiringan dasar sungai (S) = 0,004
dan koefisien kekasaran saluran (saluran alam dengan tanaman pengganggu) = 0,030.
Dengan menggunakan rumus Manning didapat:
Q=A.V
Q = b . h 1/n . ( R ) 2/3 S ½
Q = b . h 1/n ( A/P) )2/3 S ½
2/3
Q.n b.h
h.
b 2h
1/ 2
b.S
2/3
238,713 x0,030 9.h
h
9.0,004 9 2h
1/ 2
2/3
9h
12,581 h
9 2h
Dengan cara coba-coba maka didapat harga h = 6,543 m
H=6,543m
B = 9m
B.9. Panjang Lantai Muka
Fungsi utama lantai muka adalah mengimbangi gaya guling akibat beban air secara
horizontal dan sebagai penghalang rembesan air.
Dalam perencanaan dipakai rumus :
1. L = CB . H Bligh
2. Lv + LH /3 = Cl . H Lane
H=R–a
Menurut Lane :
Cw
Lm 6
H
1
Lm Lv 3 Lh
Lm 6H
dimana:
H = Beda tinggi muka air dihulu dan hilir ( m )
L = Panjang total creep Line ( m )
Lv = Panjang total creep line arah vertikal ( m )
LH = Panjang total creep line arah horizontal ( m )
CB = Coefisien creep line dari Bligh
Cl = Coefisien creep line dari Lane
Lm = Panjang lantai muka ( m )
Panjang lantai muka bendung direncanakan dengan panjang 4,80 meter dengan tebal
0,40 m. Penentuan panjang lantai muka ini akan dikontrol dengan stabilitas bendung
terhadap gaya rembesan, bila dengan panjang yang ada masih belum aman maka
panjang lantai muka dapat diperpanjang lagi. Sedangkan tebal lantai muka secara
statika menahan gaya gaya vertikal dari air diatasnya yang disalurkan secara merata
dan gaya ini diimbangi oleh gaya uplift dari bawah. Jadi untuk gaya-gaya yang bekerja
pada lantai muka bendung dianggap seimbang (balance).
B.10. Tebal Lantai Ruang Olak
Untuk mengimbangi tekanan air terhadap lantai olakan tubuh bendung perlu
direncanakan tebal lantai ruang olakan. Untuk itu perlu dilakukan kontrol dari data
yang sudah diperoleh dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan diinginkan dengan
ketentuan 1,5 m faktor keamanan. Dalam merencanakan tebal lantai muka dan
belakang bendung perlu ditinjau dua kondisi yaitu kondisi saat air normal dan kondisi
saat air banjir. Kedua kondisi ini sangat mempengaruhi tebal lantai muka dan belakang
bendung yang direncanakan.
Rumus yang digunakan dalam merencanakan tebal lantai muka dan belakang :
L = Lv + 1/3 Lh
Px Hx
Tebal lantai muka =
bt
Px
Tebal lantai belakang =
bt
Tebal lantai belakang direncanakan dengan tebal 0,50 m.
Gambar 4 – 6 : Tubuh Bendung
Elevasi mercu = 46,000 m
Tinggi energi hulu = 51,164 m 51,441
Elevasi dihilir bendung = 51,043 m
51,043
5,441 0,03 0,03 1,5
6,543
1,0
A1 3
0,4 0,4 0,9 l
a d e 6.5 0,5
A4 0,5 0.6
0.4 b c 0.8 h I
A2 A3 f g 0.3
0.4
j k
0,5 2.0 0,5 0,5 0,3 0,5 0.8 0,5 6 0,5
Panjang lanatai muka :
Lv = 2,5 m Lv = 3,0 m
LH = 4 m LH = 8 m
Lm = 0,66 m CL = 2
Tabel 4 – 3 : Perhitungan Garis Rembesan
Panjang rembesan H =
Titik Garis Ver Hor 1/3 H Lw Lw/Cw H P = H - H
A1 0 0 0 0 0 1,6 1,6
A1 - A2 0,8
A2 0,8 0,123077 2,4 2,277
A2-A3 0,4 0,13333333
A3 0,9333333 0,14359 2,4 2,256
A3-A4 0,4
A4 1,3333333 0,205128 2 1,795
A4 - a 2,0 0,66666667
a 2 0,307692 2 1,692
a-b 0,5
b 2,5 0,384615 2,5 2,115
b-c 1 0,33333333
c 2,8333333 0,435897 2,5 2,064
c-d 0,5
d 3,3333333 0,512821 2 1,487
d-e 0,5 0,16666667
e 3,5 0,538462 2 1,462
e-f 0,8
f 4,3 0,661538 2,8 2,138
f-g 1,3 0,43333333
g 4,7333333 0,728205 2,8 2,072
g-h 0,3
h 5,0333333 0,774359 2,5 1,726
h-i 6 2
i 7,0333333 1,082051 2,5 1,418
i-j 0,4
j 7,4333333 1,14359 2,9 1,756
j-k 0,5 0,16666667
k 7,6 1,169231 2,9 1,731
k-l 1,5
9,1 1,4 1,4 0
Dasar pondasi terletak pada tanah Gambut. Berdasarkan tabel diperoleh koefisien
rembesan C = 2.00
H = 47.25 – 45.65 = 1.600 m ( Air normal )
H = 51.164 – 51.043 = 0.121 m ( Air banjir aliran mercu tenggelam )
Dalam analisa rembesan diperhitungkan dengan angka H terbesar yaitu saat air normal.
CL = 5,20 + (1/3 (11,70)) / 1,60
= 5,6875
Tabel 5.2. Harga minimum angka rembesan lane ( CL )
Jenis Tanah CL
- Pasir sangat halus atau lanau 8,5
- Pasir halus 7,0
- Pasir sedang 6,0
- Pasir kasar 5,0
- Kerikil halus 4,0
- Kerikil sedang 3,5
- Kerikil kasar termasuk brangkal 3,5
- Bongkah dengan sedikit brangkal dan kerikil 2,5
- Lempung lunak 3,0
- Lempung sedang 2,0
- Lempung kasar 1,8
- Lempung sangat keras . 1,6
Kondisi geologi lokasi bendung dengan jenis tanah berupa tanah pasir sedang dengan nilai CL
minimum adalah 2,0 (dari tabel 5.2). Maka dengan CL lapangan = 5,688 maka sudah lebih
besar dari CL minimum 2,0, sehingga dapat disimpulkan bangunan aman terhadap bahaya
akibat rembesan yang melalui pondasi tubuh bendung.
B.11. Pintu Air
Pintu air direncanakan sebanyak dua buah yaitu satu buah terletak di kanan untuk
penguras dan satu buah untuk intake pengambilan air baku. Dimensi pintu air
penguras dapat dilihat seperti pada gambar 4 – 6.
MAN 46.00
0,20
Gambar 4-6 : Perhitungan Pintu Air
Bentang pintu pebuang bo = 1.00 m
Bentang pintu sebenarnya b = 2.00 + 2 x 0,1 = 1,20 m
Tinggi pintu direncanakan 0,80 m
Elevasi normal = 46.00
Tinggi air dari dasar pintu = 0,80 m
(Dalam keadaan normal tekanan air lebih besar dari keadaan banjir, karena
dalam keadaan banjir pintu air dalam keadaan tenggelam sehingga tidak
menahan gaya tekanan air horisontal)
Perhitungan tebal plat pintu
Untuk menghitung tebal plat pintu dipergunakan BACH FORMULA
Rumus :
1 a2 b2
maks K p
2 a2 b2 t
Digunakan baja BJ.37 (Fe.360).
maks = tegangan baja (Fe.360) maks = 1.600 kg / cm2
K = koefisien diambil K = 0,80
a = lebar plat
b = panjang plat
t = tebal plat
P = tekanan air pada - P = h
Gaya yang bekerja pada satu titik
p =½hA
= ½ x 1.00 x 1 X 0,80
= 0,40 ton / m2
= 0,040 kg/cm2
1 802 100 2
1.600 0,8 0,04
2 80 2 100 2 t
2
80 1600 x 2
t 0,8 x0,3902 x0,04 25025
80
t 0,499cm 5mm
25025
Tebal plat yang dibutuhkan = 5,00 mm
Kemungkinan pengaruh korosi = 2,00 mm
Jumlah = 7,00 mm
Jadi tebal plat direncanakan sebesar (t) = 8,00 mm
Untuk memperkuat plat plat terhadap lendutan maka pada plat akan ditambah gelagar
horisontal dan diagonal dengan profil baja L 60.60.6.