0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan120 halaman

Strategi Coping Mahasiswa Skripsi

Strategi coping mahasiswa rantau dan lokal dalam mengerjakan skripsi di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro meliputi 3 hal: 1. Mahasiswa menghadapi tantangan seperti kesibukan skripsi, jarak jauh dari keluarga, dan keterbatasan sumber daya. 2. Mereka menggunakan strategi seperti berbagi masalah dengan teman, mengurangi waktu sosial media, dan berdoa. 3. Budaya lokal dan rant

Diunggah oleh

anggaanggaa567
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan120 halaman

Strategi Coping Mahasiswa Skripsi

Strategi coping mahasiswa rantau dan lokal dalam mengerjakan skripsi di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro meliputi 3 hal: 1. Mahasiswa menghadapi tantangan seperti kesibukan skripsi, jarak jauh dari keluarga, dan keterbatasan sumber daya. 2. Mereka menggunakan strategi seperti berbagi masalah dengan teman, mengurangi waktu sosial media, dan berdoa. 3. Budaya lokal dan rant

Diunggah oleh

anggaanggaa567
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRATEGI COPING MAHASISWA RANTAU DAN LOKAL DALAM

MENGERJAKAN SKRIPSI (STUDI KASUS: MAHASISWA FAKULTAS


TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO)

Skripsi

Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan

Mencapai Gelar Sarjana Antropologi Sosial

Oleh :

Nathania Ekarani M

13040219140111

PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI SOSIAL

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2024
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Don’t worry about anything; instead, pray about everything. Tell God what you
need, and thank Him for all He has done.

Philippians 4 : 6

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai
kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan
rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh
harapan.

Yeremia 29 :11

PERSEMBAHAN

1. Bapak Surana dan Ibu Erina,


orang tua saya yang selalu
mendukung saya
2. Sahabat-sahabat saya yang
selalu ada dalam suka maupun
duka
3. Teman-teman Antropologi
Sosial 2019
4. Orang-orang yang membaca
skripsi saya

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

iii
PRAKATA

Segala puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat,
penyertaan, kekuatan, kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul “Strategi Coping Mahasiswa dan Lokal dalam Mengerjakan
Skripsi” dengan baik. Dengan rasa syukur, penulis berterimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Alamsyah, M. Hum. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Diponegoro.

2. Dr. Suyanto, [Link] selaku Ketua Program Studi Antropologi Sosial Fakultas
Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

3. Prof. Dra. Ani Margawati M. Kes., Ph. D dan Mbak Tari Purwanti S. Ant,
M.A. selaku dosen pembimbing 1 dan 2 yang telah memberikan banyak
bimbingan dan arahan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Dosen Wali, Pak Eko, yang telah banyak membantu dan mendampingi dari
semester awal hingga saat ini agar anak wali dapat memberikan yang terbaik.

5. Bapak dan Ibu pengampu mata kuliah di Program Studi Antropologi Sosial
Universitas Diponegoro yang telah banyak memberikan ilmu bermanfaat serta
waktu dan tenaga yang diberikan untuk mengajar para mahasiswa Antropologi
Sosial UNDIP.

6. Kampus Universitas Diponegoro, terimakasih telah memberi banyak kenangan


yang indah dan tak terlupakan dari awal masuk hingga tamat kuliah. Penulis
sangat bangga dapat berkuliah disini, terlebih mengingat bagaimana dahulu
berjuang agar dapat diterima di PTN ini.

7. Bapak Surana dan Ibu Erina, orang tua penulis yang selalu mendukung dan
menyemangati penulis terutama dalam setiap proses yang harus dilalui agar
mampu bertahan hingga menyelesaikan skripsi. Terimakasih atas segala nasihat,
dukungan dan doa yang tak pernah putus.

8. Damarisa Febrina Y, adik penulis yang selalu berada di dekat penulis untuk
mendengarkan segala keluh kesah dan menghibur penulis dengan cara-cara yang
sederhana namun membahagiakan. Terimakasih telah terlahir menjadi adik
penulis.

9. Azevedo J, kekasih penulis yang selalu meluangkan waktu untuk


mendengarkan segala lelah yang dialami penulis tanpa kenal waktu. Terimakasih
atas dukungan, kehadiran, waktu yang diluangkan dengan senang hati dan
membuat penulis mampu bertahan untuk menyelesaikan skripsi.

iv
10. Sahabat-sahabat saya di bangku perkuliahan Wika, Ima, Galuh. Terimakasih
atas segala dukungan, bantuan, canda tawa untuk melepas beban pikiran
bersama, waktu yang diluangkan untuk saling bercerita dan mendengarkan.

11. Elisabeth Yuniar M, sahabat penulis sejak SMA. Terimakasih telah selalu
menemani, menyemangati, dan menghibur bahkan selalu meluangkan satu hari
dalam seminggu untuk bermain atau sekedar membeli Mixue. Segala kebaikan
dan ketulusan Elisabeth akan selalu penulis ingat.

12. Teman-teman penulis sejak SMP dan SMA yang tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu. Terimakasih banyak telah mewarnai keseharian penulis dengan
segala canda tawa dan rasa peduli satu sama lain.

13. Raihan Dhia F, teman penulis dari kelompok KKN Tim 1 2022/2023 Desa
Pidekso, Wonogiri. Terimakasih telah menyemangati, menghibur dan saling
perhatian satu sama lain.

14. Diri saya sendiri, terima kasih telah menyelesaikan skripsi ini dengan baik
dan selelah apapun keadaannya tidak pernah memilih untuk menyerah.

Semarang, 20 Januari 2024

Penulis (Nathania Ekarani M)

DAFTAR ISI

v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI................................................................i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN.............................................................................iii
PRAKATA.............................................................................................................iv
DAFTAR ISI..........................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................viii
ABSTRAK.............................................................................................................ix
ABSTRACT............................................................................................................x
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................5
1.3 Tujuan Penelitian.........................................................................................6
1.4 Manfaat Penelitian.......................................................................................6
1.4.1 Manfaat Teoritis.......................................................................................6
1.4.2 Manfaat Praktis........................................................................................6
1.5 Landasan Teori.............................................................................................7
1.5.1 Penelitian Terdahulu................................................................................7
1.5.2 Strategi Coping......................................................................................10
1.5.3 Budaya Mempengaruhi Perilaku...........................................................13
1.5.4 Kerangka Berpikir...............................................................................15
1.6 Metode Penelitian.......................................................................................15
1.6.1 Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................................15
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data....................................................................16
1.6.4 Informan................................................................................................17
1.6.5 Analisis Data..........................................................................................19
BAB II...................................................................................................................20
GAMBARAN UMUM.........................................................................................20
2.1 Skripsi Bagi Mahasiswa.............................................................................20
2.2 Mahasiswa Rantau.....................................................................................22
2.3 Profil Informan...........................................................................................24

vi
2.4 Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.................................................24
BAB III..................................................................................................................27
HASIL PENELITIAN.........................................................................................27
3.1 Strategi Coping...........................................................................................27
3.1.1 Tantangan yang Dihadapi.....................................................................27
3.1.2 Strategi Mengatasi Kesulitan atau Mengurangi Beban Pikiran.............37
3.2 Peran Sosial Budaya dalam Pemilihan Strategi Coping.........................55
BAB IV..................................................................................................................71
PEMBAHASAN...................................................................................................71
4.1 Strategi Coping...........................................................................................71
4.1.1 Faktor Penyebab Stres Mahasiswa........................................................75
4.1.2 Coping yang Dilakukan Mahasiswa......................................................77
4.2 Peran Sosial Budaya dalam Pemilihan Strategi Coping.........................81
BAB V....................................................................................................................87
KESIMPULAN.....................................................................................................87
DAFTAR PUTAKA.............................................................................................89
LAMPIRAN..........................................................................................................91
BIODATA PENULIS.........................................................................................103

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Mahasiswa melakukan survey …………………......................... 21


Gambar 2.2 Mahasiswa mulai mengerjakan skripsi ………………..…….... 21
Gambar 2.3 Tugas akhir salah satu mahasiswa fakultas teknik ……...…… 22
Gambar 3. 1 RMS saat bergabung dlm Pasukan Pengibar Kota Semarang. 28
Gambar 3. 2 RMS bersama teman-teman dekatnya........................................39
Gambar 3. 3 Kedekatan CDW bersama teman-temannya..............................41
Gambar 3. 4 VA bersama teman-temannya......................................................46
Gambar 3. 5 RDR saat menikmati suasana malam Kota Semarang..............48
Gambar 3. 6 SH berhasil melawan rasa cemasnya dalam menjalani sidang. 50

viii
ABSTRAK

Mahasiswa tingkat akhir memiliki kewajiban untuk mampu menyelesaikan


tugas akhir sebagai syarat memperoleh gelar sarjana. Dalam proses
pengerjaannya, mahasiswa tak terhindarkan dari satu atau lebih kendala yang
mengganggu pikirannya. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan serta
mendeskripsikan kendala apa saja yang dialami mahasiswa, bagaimana mereka
meringankan atau mengatasinya dengan strategi coping hingga bagaimana faktor
lingkungan mempengaruhinya untuk melakukan strategi masing-masing. Kendala
yang dialami mahasiswa berasal dari internal maupun eksternal yang dapat
menjadi stressor apabila mereka tidak dapat menanganinya, oleh karena itu
strategi coping penting untuk dilakukan agar mahasiswa mampu bertahan dan
menyelesaikan kewajibannya. Dengan menggunakan strategi tersebut, individu
dapat menangani situasi sulit dengan lebih baik, mengatur emosi, dan beradaptasi
terhadap perubahan. Strategi coping dapat mencakup mencari dukungan sosial,
pemecahan masalah, perhatian, perawatan diri, yang dapat bermanfaat untuk
mengelola naik turunnya emosi yang dialami. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif yang datanya diperoleh melalui wawancara dan observasi. Teori yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu teori budaya mempengaruhi perilaku
menurut Ruth Benedict dan teori strategi coping menurut Lazarus & Folkman.
Berdasarkan hasil penelitian, latar belakang, pengalaman menangani masalah dan
kehidupan sosial budaya sangat mempengaruhi seseorang dalam menerapkan
strategi copingnya masing-masing. Strategi coping tidak selalu berjalan sama,
bahkan mahasiswa dapat mengalami perubahan pilihan strategi dikarenakan
lingkungan terdekatnya saat ini. Bentuk-bentuk strategi coping yang dilakukan
mahasiswa meliputi problem focused coping dan juga emotion focused coping.
Dari strategi yang diterapkan mahasiswa dan cara mereka berperilaku
menunjukkan ciri kebudayaan Appolonisia yang dikemukakan oleh Ruth
Benedict, ditandai dengan sosialisasi yang tinggi, adanya keteraturan,
menghindari perselisihan dan menyukai perdamaian.

Kata Kunci: Mahasiswa, Skripsi, Strategi Coping

ix
ABSTRACT

The final-year students have the obligation to be able to complete their final
assignments as a requirement to obtain a bachelor's degree. In the process of
working on it, students are inevitably faced with one or more obstacles that
disturb their minds. This paper aims to depict and describe the various constraints
experienced by students, how they alleviate or overcome them with coping
strategies, and how environmental factors influence them to employ their
respective strategies. The constraints experienced by students originate from both
internal and external factors that can become stressors if not managed properly.
Therefore, coping strategies are crucial for students to endure and fulfill their
obligations. By using these strategies, individuals can handle difficult situations
more effectively, regulate emotions, and adapt to changes. Coping strategies may
include seeking social support, problem-solving, attention, and self-care, which
can be beneficial in managing the ups and downs of emotions. This research is
qualitative, and data is obtained through interviews and observations. The theories
used in this study are the theory of cultural influences on behavior by Ruth
Benedict and the coping strategy theory by Lazarus & Folkman. Based on the
research findings, background, problem-solving experiences, and socio-cultural
life significantly influence individuals in applying their respective coping
strategies. Coping strategies do not always unfold similarly; in fact, students may
change their strategy choices due to their current immediate environment. The
forms of coping strategies adopted by students include problem-focused coping
and emotion-focused coping. From the strategies implemented by students and
their behavioral patterns, it reflects the characteristics of the Appolonisia culture
proposed by Ruth Benedict, marked by high socialization, the presence of
regularity, avoidance of conflicts, and a preference for peace.

Keywords: Students, Thesis, Coping Strategies

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Universitas adalah tahap paling akhir dalam dunia pendidikan yang ditempuh
untuk meraih gelar sarjana atau pascasarjana. Kata Universitas berasal dari kata
latin univesitas magistrorum et scholarium, yang artinya “komunitas guru dan
akademis”. Di dalam tingkatan pendidikan, mahasiswa berada di jenjang
pendidikan tertinggi diantara yang lain. Mahasiswa berbeda dengan siswa, dimana
mahasiswa menanggung tanggung jawab yang lebih besar dimana mereka bukan
hanya berjuang untuk diri sendiri tetapi juga untuk membanggakan orang-orang
terdekat. Dunia perkuliahan diawali dengan mahasiswa baru atau maba yang
kemudian dihadapkan pada beberapa mata kuliah sesuai jurusannya. Dalam
menjalani dunia perkuliahan, mahasiswa berjalan sesuai kurikulum yang
ditentukan dengan tujuan dari dibuatnya kurikulum tersebut secara umum adalah
untuk melancarkan proses pendidikan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat ditemukan arti


kurikulum, yaitu perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga
pendidikan atau perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus. Dalam
kurikulum ini, selalu ada pengembangan yang diharapkan dapat membantu
mencapai beberapa tujuan, hal ini dilakukan dengan cara diadakannya
rekonstruksi kurikulum sebelumnya dan mengadakan inovasi. Selama beberapa
semester diwajibkan untuk mengambil mata kuliah, mahasiswa tentunya akan
dihadapkan pada beberapa tugas perkuliahan yang harus diselesaikan dengan baik,
namun tak selalu berjalan sesuai yang diharapkan dan mahasiswa harus berusaha
agar yang mereka lakukan dapat membuahkan hasil agar membuat dirinya bangga
atas pencapaiannya, hal inilah yang seringkali memunculkan beban pikiran. Setiap
orang pasti mengalami stres, yang dapat muncul dari berbagai faktor baik secara
eksternal maupun internal. Seseorang mengalami stres biasanya karena terlalu
berat beban yang dihadapi. Mahasiswa juga tidak bisa terhindar dari stres yang

1
disebabkan oleh banyaknya tanggung jawab seperti tugas-tugas kuliah yang harus
segera diselesaikan (Ambarwati et al., 2019).

Menurut survey Kompas pada tahun 2019, ditemukan hasil bahwa tugas kuliah
adalah salah satu pemicu stres mahasiswa. Sebanyak 86,8 persen dari 646
mahasiswa yang pernah mengalami stres. Bahkan, 37 persen di antaranya sering
mengalami situasi yang membuatnya depresi. Stres pada mahasiswa biasanya tak
jauh-jauh dari urusan yang berkaitan dengan tuntutan akademis dan ketidakpastian
tentang masa depan. Dua dari lima informan mengatakan, banyaknya tugas kuliah,
gelisah memikirkan hasil ujian, dan masalah yang berhubungan dengan dosen
merupakan hal yang paling sering membuat stres (Setyorini, Ida. 2019.
[Link], 27 Juli 2023). Setelah menghadapi beberapa kewajiban yang harus
diselesaikan dalam beberapa semester, tiba saatnya mahasiswa menghadapi
skripsi dengan syarat SKS yang telah mencukupi sesuai yang ditentukan
perguruan tinggi. Pada tingkatan akhir, mahasiswa menghadapi skripsi sebagai
sebuah karya ilmiah sebagai bentuk nyata dari persyaratan pendidikan akademis
perguruan tinggi. Atau dalam arti lain, skripsi dapat dipahami sebagai sebuah
syarat yang harus diselesaikan tiap mahasiswa di perguruan tinggi untuk meraih
gelar sarjana sesuai dengan bidang masing-masing (Ismiati, 2015).

Proses pengerjaan skripsi tidak selalu dianggap mudah bagi semua mahasiswa,
karena skripsi bukan sekedar menyelesaikan sebuah tugas salah satu mata kuliah
tertentu. Dalam pengerjaannya, mahasiswa harus menumbuhkan niat, motivasi,
semangat, kerja keras, serta memerlukan dukungan berupa nasihat, informasi,
hiburan dari orang-orang didekatnya seperti keluarga inti, pacar dan teman-teman
dekat. Dalam penyusunannya, tak jarang dijumpai beberapa mahasiswa yang
merasa stres. Hal ini dapat diketahui, saat mereka merasa tidak mampu untuk
menghadapi atau menuntaskan kendala yang dialami yang ada sehingga dirinya
merasa tertekan. Saat mengalami stres, mahasiswa akan mengalami perasaan
bingung, sulit tidur, dan seringkali merasa cemas atau khawatir (Aditama, 2017).
Penulisan skripsi akan menuntut sikap mandiri dari para mahasiswa untuk
mencari solusi terhadap satu atau lebih masalah yang dihadapi seperti aturan

2
kampus dan karakteristik mahasiswa itu sendiri maupun pembimbingnya. Dengan
adanya skripsi, kemampuan akademik mahasiswa akan terbukti yang dalam
proses penelitian yang berhubungan dengan masalah pendidikan sesuai dengan
bidang studinya (Ningrum, 2011).

Dalam mewujudkan impiannya dalam meraih gelar sarjana, tak jarang kita
jumpai individu yang berusaha dan menjalani perkuliahan di perantauan.
Merantau mengharuskan mereka untuk meninggalkan daerah asalnya dan
menjalani kehidupan baru di kota lain tanpa ada keluarga di sampingnya. Di
perantauan, mereka mungkin menemukan hal-hal baru yang tidak pernah mereka
alami di kota atau tempat asal mereka. Mahasiswa yang memilih untuk
merantau dari daerah asalnya ke daerah baru harus bisa menjadi individu yang
lebih mandiri. Hal ini dikarenakan mereka tidak lagi tinggal bersama orang tua,
sehingga orang tua sudah tidak lagi bisa mengontrol dan menangani keperluan
seperti saat mereka masih tinggal dalam satu rumah. Perpisahan dengan orang-
orang terdekat seperti keluarga inti ini dapat memicu beberapa perasaan yaitu
kesedihan, kecemasan, putus asa (Prasetio et al., 2020). Ketika berada di tempat
perantauan, dan dihadapkan pada berbagai situasi, seorang mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk menanganinya. Hal itu karena di kota perantauan
keadaannya berbeda, meskipun mahasiswa rantau pada umumnya masih
menerima uang bulanan dari orang tua namun peluang untuk bergantung pada
orang lain sangatlah minim dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus
diatur sendiri.

Meskipun tak selalu mudah, adapun faktor yang membuat mahasiswa


memutuskan untuk merantau yatiu keinginan yang besar untuk melanjutkan
pendidikan, menambah ilmunya, menjalani pengalaman atau keterampilan baru,
hingga daerah asal yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai.
Mahasiswa juga diharapkan mampu memanajemen hidup selama merantau dan
menentukan prioritas hidupnya, dalam hal jangka panjang maupun jangka pendek.
Beberapa contohnya yaitu menargetkan kelulusan, berusaha meraih nilai maupun
prestasi yang diinginkan seperti mendapatkan Indeks Prestasi (IP) yang tinggi,

3
aktif dalam organisasi dan sebagainya. Tak hanya itu, mahasiswa yang
memutuskan merantau akan hidup berdampingan dengan berbagai perubahan dan
perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan, berupa pola hidup, interaksi sosial
hingga perlu berhati-hati dalam berucap berperilaku sehingga mereka harus
menyesuaikan diri agar dapat menetap di kota perantauan dengan nyaman.
Mahasiswa perantau dan mahasiswa lokal tentunya mengalami proses yang
berbeda, hal ini dikarenakan mahasiswa yang merantau dihadapkan pada
kehidupan sosial budaya yang berbeda dari asalnya dan diharuskan hidup mandiri
di kota orang. Dalam berada di tempat yang berbeda, diperlukan sikap-sikap
positif seperti mengikuti gaya, menikmati, mengalah, mengambil sisi positif dan
menghormati adat istiadat (Kanita, 2012).

Hal ini mengakibatkan dalam menghadapi skripsi mahasiswa rantau dan lokal
mengalami kesulitan atau tantangan yang berbeda, salah satu contohnya beberapa
mahasiswa rantau sesekali merasakan homesick yang mungkin tidak dirasakan
mahasiswa lokal. Mahasiswa lokal maupun rantau perlu saling beradaptasi untuk
saling hidup berdampingan dengan banyak individu yang berasal berbagai daerah.
Disaat proses adaptasi berhasil, akan ditunjukkan dengan harmonisnya hubungan
antar etnis, kehidupan sosial yang solid, maka dengan ini masyarakat akan saling
menerima dan hidup berdampingan secara rukun (Yuningsih & Nurjannah,
2019). Dalam menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut, individu dapat
mengatasinya dengan strategi coping sesuai dengan pilihannya masing-masing.
Mahasiswa rantau terkadang juga mengalami beberapa kendala dalam proses
penyesuaian diri ketika sedang menjalani kuliah. Penyebab kendala itu adalah
perbedaan dalam bahasa ataupun kebiasaan budaya. Jika hal ini tak diatasi, akan
muncul pula kecenderungan untuk bergaul hanya dengan mahasiswa yang berasal
dari daerah yang sama serta muncul rasa enggan untuk berteman dengan
mahasiswa dari daerah lain ataupun mahasiswa lokal (Akhmad Zhauqi &
Suryanto, 2022). Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan bahwa rasa kesulitan
yang dialami individu akan memunculkan efek yang kurang baik secara fisiologis

4
dan psikologis. Individu tidak akan membiarkan dampak buruk ini terus menerus
terjadi, maka ia akan berbuat suatu tindakan untuk menanganinya.

Tindakan yang diambil individu ini disebut strategi coping. Strategi ini
dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman dalam mengatasi masalah,
faktor lingkungan, kepribadian, konsep diri, hingga faktor sosial budaya yang
berada di sekelilingnya sangat berperan pada perilaku individu untuk mengatasi
atau meringankan masalah yang dihadapi. Fenomena mahasiswa rantau dan lokal
yang menjalani skripsi memiliki kesulitan atau tantangan yang berbeda dan
melakukan strategi coping masing-masing yang dipengaruhi kehidupan sosial
budaya. Dalam melakukan strategi ini, dapat ditemukan hasil bahwa setiap
individu memiliki cara tersendiri untuk meringankan beban pikirannya baik itu
melalui problem focused coping ataupun emotional focused coping. Hal inilah
yang mendorong peneliti untuk mengkaji bagaimana mereka dapat mengatasi
segala tantangan, kesulitan maupun stres yang dialami dalam perspektif
antropologi. Peneliti ingin meneliti peran sosial-budaya mempengaruhi
mahasiswa untuk menggunakan strategi koping masing-masing yang ditelaah
menggunakan teori Ruth Benedict yang dituliskan dalam buku Patterns of
Culture untuk mengetahui tipe kebudayaan apa yang dijalani mahasiswa . Telah
banyak penelitian yang meneliti bagaimana strategi coping diterapkan oleh
mahasiswa, namun belum ada yang meneliti menurut pandangan antropologi yang
tentunya melibatkan budaya didalamnya, oleh karena itu penelitian ini perlu untuk
dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dituliskan dalam penelitian ini ditujukan untuk


memberi gambaran serta batasan yang jelas mengenai permasalahan yang diteliti
dan batasan pembahasan dipenulisan ini. Berdasarkan latar belakang yang sudah
dipaparkan, dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana mahasiswa berstrategi untuk meringankan stres dari


pengerjaan skripsi?

5
2. Bagaimana peran sosial budaya dalam strategi coping pada diri
mahasiswa?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan sebelumnya di dalam rumusan


masalah, tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut.

1. Mengetahui strategi coping pada mahasiswa dalam pengerjaan skripsi


2. Mengetahui bagaimana peran sosial budaya dapat mempengaruhi strategi
coping yang digunakan

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan literasi bagi


akademisi serta mampu dijadikan sebagai pijakan dan referensi pada penelitian
selanjutnya yang berhubungan dengan strategi coping yang dilakukan
mahasiswa

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Akademisi

Penelitian ini dapat ditambah menjadi bahan literasi bagi akademisi mengenai
strategi coping yang dilakukan mahasiswa yang dilakukan selama proses
pengerjaan skripsi.

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan referensi tambahan bagi para
peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan strategi coping.

c. Bagi Pihak Lain

6
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengetahuan yang baru. Selain
itu, dapat dijadikan sebagai tambahan koleksi penelitian mengenai coping
yang dilakukan mahasiswa.

1.5 Landasan Teori

1.5.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian


terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian.

Ismiati (2015) dalam jurnal yang berjudul ”Problematika Dan Coping Stress
Mahasiswa Dalam Menyusun Skripsi”. Dalam penelitian ini Ismiati
menjabarkan mengenai problematika dan strategi coping yang diterapkan
mahasiswa saat menyelesaikan skripsinya. Dalam penelitian ini, terdapat 25
informan yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data jurnal ini
diperoleh menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data
melalui observasi, wawancara, dan FGD (focus group discussion). Setelah
penelitian dilakukan kepada para informan, dan ditemukan hasil bahwa dalam
proses pengerjaan skripsi mahasiswa mengalami perasaan bahagia dan stres.
Mereka mengalami perasaan bahagia dikarenakan telah berada di puncak akhir
dunia pendidikan, akan segera diwisuda dan dapat mencari pekerjaan setelah
memperoleh gelar sarjananya.

Namun mereka juga mengalami perasaan tidak nyaman seperti beban


pikiran yang mengganggu, gelisah, khawatir, takut, menurunnya rasa percaya
diri, pesimis. Perasaan-perasaan yang muncul itu dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal. Dalam mengatasi berbagai tantangan dan hambatan
tersebut, dalam penelitian ini ditemukan hasil bahwa mahasiswa menerapkan
strategi coping yang fokusnya pada emosi dalam menekan situasi stres, dan
terdapat juga mahasiswa yang menerapkan strategi coping yang fokusnya pada
masalah untuk menuntaskan permasalahan yang mengganggu pikirannya.
Persamaan jurnal ini dengan penelitian saya adalah keduanya meneliti mengenai

7
strategi coping stress yang dilakukan mahasiswa dalam pengerjaan skripsi,
sedangkan untuk perbedaannya terletak pada lokasi penelitian dan subjek
penelitian, pada penelitian ini peneliti menambahkan kriteria mahasiswa yaitu
yang mahasiswa rantau dan bukan rantau.

Vitria Larseman Dela, dkk (2019) dalam jurnal yang berjudul “Strategi
Coping Stress Pada Mahasiswa Bimbingan Konseling Yang Menyusun Skripsi
Di Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan”. Dalam penelitian yang
dilakukan Vitria dkk bertujuan untuk mengetahui gambaran stres dan strategi
coping stress mahasiswa bimbingan konseling yang menyusun skripsi di
Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, dimana masih cukup banyak
mahasiswa yang belum bisa menangani stresnya dalam proses pengerjaan
skripsi. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menjabarkan
gambaran stress mahasiswa bimbingan konseling yang sedang mengerjakan
serta mengetahui strategi coping stress yang diterapkan mahasiswa untuk
meringankan beban pikirannya atau mengatasi sumber stresnya. Penelitian ini
dilakukan dengan kualitatif yang mana teknik pengumpulan datanya dilakukan
melalui observasi dan wawancara. Dari penelitian ini ditemukan hasil bahwa
para mahasiswa bimbingan konseling yang menjalankan kewajibannya dalam
mengerjakan skripsi mengalami stres dan stres ini berasal dari perasaan tekanan,
takut, khawatir dan berbagai perasaan tak nyaman yang muncul dalam
benaknya. Strategi coping stress yang digunakan yaitu strategi emotional focus
coping dengan cara distancing dan strategi problem focused coping dengan cara
seeking social support. Persamaan jurnal dengan penelitian ini yaitu keduanya
sama-sama meneliti mengenai strategi coping stress, sedangkan untuk
perbedaannya terletak pada lokasi penelitian.

Amallia Putri Yuline (2021) dalam jurnal yang berjudul “Stress Akademik
Dan Coping Mahasiswa Menghadapi Pembelajaran Online Di Masa Pandemi
Covid-19”. Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya pandemi yang
mengakibatkan banyaknya perubahan pada proses pembelajaran yang memicu
meningkatnya stress akademik. Upaya untuk mengatasi stres tersebut ialah

8
mahasiswa perlu melakukan strategi coping dengan tujuan mengurangi perasaan
tidak nyaman yang dialami. Penelitian ini menggunakan metode literature
review, yaitu penelitian yang sumber dan pengumpulan datanya dengan cara
mengambil data kepustakaan, membaca, mencatat, dan mengolah bahan
penelitian serta melihat dan menganalisis hasil riset tertentu. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa wabah covid-19 sangat
memberi dampak besar salah satunya pada bidang pendidikan yang mengubah
proses belajar mengajar dengan diterapkannya pembelajaran online dan
membuat mahasiswa mengalami stress akademik. Fenomena ini sebelumnya
belum pernah dialami, dan hal itulah yang membuat banyak mahasiswa tidak
terbiasa sehingga merasa terbebani. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan
coping stress agar mereka dapat meminimalisir dampak negatif yang timbul
akibat stress akademik. Dengan dilakukannya pengelolaan stress harapannya
dapat mengurangi tekanan psikologis. Persamaan jurnal diatas dengan penelitian
ini adalah keduanya membahas coping stres yang dialami mahasiswa sedangkan
untuk perbedaannya terletak pada metode penelitiannya dan waktu penelitian
dimana penelitian tersebut dilakukan pada saat covid-19.

Made Saihu (2021) dalam jurnal yang berjudul “Strategi Coping stress
Mahasiswa dalam Penulisan Skripsi”. Jurnal yang ditulis oleh Made ini
bertujuan untuk mengetahui berbagai problematika dan coping stres yang
dilakukan mahasiswa dalam menyusun skripsi pada mahasiswa STIT Al-
Amin Kreo Tangerang. Terdapat lima informan yang berpartisipasi dalam
penelitian ini dengan pendekatan penelitian kualitatif yang datanya diperoleh
melalui observasi, wawancara, dan FGD (focus group discussion). Dari
penelitian yang dilakukan Made ini ditemukan hasil bahwa mahasiswa berada
di antara perasaan senang dan lelah. Perasaan senang ini muncul karena
mereka merasa lega telah mampu melewati perkuliahan dengan segala
usahanya dan kini memerlukan satu langkah lagi untuk meraih gelarnya.
Namun ada pula rasa lelah dalam prosesnya, dimana mereka mengalami
tahapan yang tak selalu terasa mudah dan mengakibatkan munculnya

9
perasaan-perasaan tidak nyaman, seperti merasa terbebani, bingung, cemas,
takut, kepercayaan diri yang menurun, pesimis, panik, gelisah, dan perasaan
takut. Perasaan-perasaan tersebut disebabkan oleh faktor internal dan
eksternal. Mereka melakukan strategi yang berfokus pada emosi dan tidak
banyak menggunakan coping yang fokus pada masalah. Sebuah strategi
inilah yang mereka rasa sangat membantu untuk dapat terus bertahan dan
menyelesaikan tanggung jawabnya. Persamaan jurnal diatas dengan penelitian
ini yaitu metode yang digunakan (kualitatif), sedangkan untuk perbedaannya
terletak pada lokasi penelitiannya.

1.5.2 Strategi Coping

Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan bahwa keadaan stres yang dialami
seseorang akan memunculkan efek yang kurang menguntungkan baik secara
fisiologis maupun psikologis. Individu tidak akan membiarkan efek negatif ini
terus terjadi, ia akan melakukan suatu tindakan untuk mengatasinya. Tindakan
yang diambil individu dinamakan strategi coping. Strategi coping sering
dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman dalam menghadapi
masalah, faktor lingkungan, kepribadian, konsep diri, faktor sosial dan lain-lain
sangat berpengaruh pada kemampuan individu dalam menyelesaikan
masalahnya. Strategi coping terdiri dari upaya perilaku untuk mengelola secara
spesifik tuntutan situasional yang dinilai membebani atau melampaui
kemampuan seseorang untuk beradaptasi. Upaya penanggulangan dapat
diarahkan pada tuntutan itu sendiri (strategi yang berfokus pada masalah) atau
pada reaksi emosional yang sering kali menyertai tuntutan tersebut (strategi yang
berfokus pada emosi).

Kebanyakan peneliti berasumsi bahwa orang yang memiliki harga diri atau
kendali yang tinggi lebih cenderung menggunakan tanggapan penanggulangan
yang aktif dan berfokus pada masalah; harga diri yang rendah atau kendali yang
dirasakan harus memprediksi penanganan yang lebih pasif atau berfokus pada
emosi. Konsep yang terkait adalah gaya coping, yang merupakan preferensi

10
kebiasaan dalam menghadapi masalah, ini adalah perilaku coping yang lebih
umum yang dilakukan individu ketika menghadapi pemicu stres dalam berbagai
situasi (misalnya menarik diri atau mendekat, menyangkal atau menghadapi,
menjadi aktif atau tetap pasif) (Lazarus dan Folkman dalam Thoits, 1995).
Folkman dan Lazarus (1980) menemukan hasil bahwa dalam 98% dari 1.300
subjek menggunakan strategi penanggulangan yang berfokus pada masalah dan
berfokus pada emosi. Temuan ini mendukung anggapan mereka bahwa biasanya
ada dua sumber stres yang harus ditangani, yaitu tuntutan situasional dan respons
emosional seseorang terhadap tuntutan tersebut. Lazarus dan Folkman juga
secara umum membagi strategi coping menjadi dua macam yakni:

a. Strategi coping yang fokus pada masalah

Strategi coping berfokus pada masalah adalah suatu tindakan yang diarahkan
kepada pemecahan masalah. Untuk coping yang berfokus pada masalah, ini
melibatkan pengambilan langkah-langkah untuk mengubah sumber stres,
problem-focused coping adalah pendekatan rasional yang berupaya mengubah
situasi dengan mengubah sesuatu di lingkungan atau cara seseorang berinteraksi
dengan lingkungan (Lazarus dan Folkman dalam Baqutayan, 2015). Yang
termasuk strategi coping berfokus pada masalah adalah:

(a) Planful problem solving yaitu mengatasi masalah dengan melakukan usaha
tertentu yang memiliki tujuan untuk mengubah suatu keadaan, diikuti pendekatan
analitis dalam menyelesaikan masalah. Contohnya, seseorang yang melakukan
strategi coping ini akan bekerja dengan penuh konsentrasi dan perencanaan yang
cukup baik serta mau merubah gaya hidupnya agar masalah yang dihadapi secara
perlahan-lahan dapat terselesaikan.

(b) Confrontative coping yaitu coping yang bertujuan untuk mengubah keadaan
yang dapat menggambarkan tingkat risiko yang harus diambil (usaha agresif).
Contohnya, seseorang yang melakukan coping ini yaitu ia menyelesaikan suatu
masalah dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang
semestinya walaupun akan mengalami risiko yang tidak sepele.

11
(c) Seeking social support yaitu bentuk coping dengan mencari dukungan dari
pihak luar, hal ini dapat berupa bantuan, dukungan emosional, maupun informasi
yang membangun. Contohnya, seseorang yang mengatasi masalah dengan coping
ini akan terus berusaha menyelesaikan masalah dengan cara mencari bantuan dari
orang lain seperti teman, tetangga, pengambil kebijakan dan profesional, bantuan
tersebut bisa berbentuk fisik dan non fisik.

b. Strategi coping yang fokus pada emosi

Strategi ini bekerja dengan cara melakukan usaha-usaha yang memiliki tujuan
untuk memodifikasi fungsi emosi tanpa melakukan usaha mengubah stressor
secara langsung. Perilaku coping yang berpusat pada emosi cenderung dilakukan
bila individu merasa tidak dapat mengubah situasi yang menekan dan hanya dapat
menerima situasi tersebut karena sumberdaya yang dimiliki tidak mampu
mengatasi situasi tersebut. Coping yang berfokus pada emosi digunakan untuk
mengelola segala bentuk tekanan emosional termasuk perasaan depresi,
kecemasan, frustrasi, dan kemarahan (Baqutayan, 2015). Yang termasuk strategi
coping berfokus pada emosi adalah:

(a) Positive reappraisal (memberi penilaian positif) adalah strategi yang


dilakukan individu untuk untuk menemukan keyakinan baru yang dipusatkan
sebagai hal untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Contohnya, seseorang
yang mengatasi masalah dengan strategi ini akan selalu berfikir positif atau
melihat sisi positifnya dan mengambil pelajaran hidup atas segala sesuatu yang
terjadi dan tidak mencoba untuk menyalahkan orang lain serta bersyukur dengan
apa yang masih dimilikinya.

(b) Accepting responsibility (penekanan pada tanggung jawab) yaitu strategi


yang dilakukan dengan mengembangkan kesadaran mengenai peran diri dalam
suatu masalah yang dihadapi, serta berusaha memandang segala sesuatu
sebagaimana mestinya. Contohnya, seseorang yang melakukan strategi ini ia akan
menerima segala sesuatu yang terjadi saat ini sebagai mana mestinya dan mampu
beradaptasi dengan kondisi yang sedang dialaminya.

12
(c) Self controlling (pengendalian diri) yaitu strategi yang dilakukan dengan
melakukan regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan. Contoh dari strategi
ini ialah seseorang yang menghadapi masalah akan selalu berfikir sebelum
bertindak melakukan sesuatu serta sangat menghindari untuk melakukan sesuatu
tindakan secara terburu-buru.

(d) Distancing (menjaga jarak) adalah strategi dimana individu berusaha agar
tidak terbelenggu oleh permasalahan. Contohnya, seseorang yang melakukan
strategi ini dalam penyelesaian masalah dapat terlihat dari sikapnya yang kurang
peduli terhadap persoalan yang sedang dihadapi bahkan mencoba melupakannya
seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

(e) Escape avoidance (menghindarkan diri) yaitu menghindar dari masalah


yang seharusnya dihadapi. Contohnya, seseorang yang melakukan coping ini
untuk penyelesaian masalah dapat terlihat dari sikapnya yang selalu menghindar
dan bahkan sering kali justru menjerumuskan diri kedalam perbuatan yang negatif
seperti minum obat-obatan terlarang dan tidak mau bersosialisasi dengan orang
lain.

1.5.3 Budaya Mempengaruhi Perilaku

Manusia dan kebudayaan adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan, hal
ini dikarenakan manusialah yang menggerakkan keberadaan suatu budaya. Sama
halnya dengan teori yang dicetuskan seorang antropolog, Ruth Benedict. Dalam
buku yang ditulisnya berjudul Patterns of Culture (1934), ia menuliskan hasil
penelitiannya secara rinci mengenai budaya yang mempengaruhi individu untuk
berperilaku. Benedict dikenal karena karyanya tentang pola budaya dan hubungan
antara budaya dan kepribadian. Ide-idenya mempunyai dampak jangka panjang
pada disiplin ilmu ini, membentuk cara berpikir para antropolog tentang budaya
dan perannya dalam membentuk perilaku manusia. Ia menerapkan teorinya
berdasarkan penelitiannya mengenai tiga kebudayaan yaitu orang Zuni, Dobu, dan
Kwakiutl dengan data yang telah ia kumpulkan. Dari penelitian yang
dilakukannya itu, ia dapat mengetahui bahwa terdapat adanya pengaruh

13
kebudayaan terhadap diri seseorang dalam berperilaku. Berdasarkan hasil
penelitiannya, masyarakat yang tinggal di daerah Zuni cenderung bermata
pencaharian sebagai petani, masyarakatnya masih kental dengan ritual
keagamaan, menghubungkan hidupnya dengan fenomena alam atau sekelilingnya
dan masyarakat Zuni tidak menunjukkan adanya tanda-tanda adanya kegugupan
dalam budaya yang mereka miliki. Sedangkan pada masyarakat yang tinggal di
daerah Dobu, mereka memiliki skizofrenia paranoid, dimana pengidapnya
mengalami ilusi/khayalan seakan-akan orang lain ingin melawan mereka atau
anggota kelompok mereka. Dalam kehidupan bermasyarakat di Dobu, mereka
saling menaruh rasa curiga satu sama lain, paranoid atau ketakutan berlebih akan
terkena sihir namun mereka juga menyukai sihir, serta orang-orangnya suka
berkhianat. Untuk kehidupan bermasyarakat di Kwakiutl, mereka bermata
pencaharian sebagai nelayan yang memiliki budaya yang terbuka, terkadang suka
melakukan hal-hal ekstrim, memiliki kepribadian yang sombong, dan seringkali
masyarakatnya melakukan hal menyimpang salah satunya yaitu mengkonsumsi
narkoba. Menurut Benedict, pola-pola tersebut mencerminkan cara pendekatan
hidup yang berbeda dan dapat membentuk kepribadian dan perilaku seseorang.

Dalam buku Patterns of Culture tertulis bahwa tiap kelompok individu


mana pun, kita dapat mengenali orang-orang yang memiliki reaksi yang berbeda-
beda terhadap frustasi dan kesedihan yaitu mengabaikannya, menurutinya dengan
ekspresi tanpa hambatan, membalas dendam, menghukum korban, dan mencari
ganti rugi atas situasi aslinya. Adanya perbedaan-perbedaan perilaku seseorang
yang disebabkan oleh faktor kebudayaan dapat melahirkan perbedaan-perbedaan
pula antar individu dari daerah satu dengan daerah lainnya. Dalam teori
kebudayaan yang diungkapkan oleh Ruth Benedict dijelaskan mengapa fenomena
sosial tersebut dapat terjadi. Oleh karena itu, dengan memahami teori ini maka
dapat ditemukan bagaimana budaya sangat berpengaruh dalam kehidupan
manusia. Dalam penelitian ini peneliti ingin menggunakan teori dari Ruth
Benedict untuk menjabarkan perilaku mahasiswa dalam pemilihan strategi coping.

14
1.5.4 Kerangka Berpikir

Berdasarkan pemaparan landasan teori diatas, maka peneliti akan


memetakan kerangka berpikir dengan bentuk bagan agar lebih spesifik dan
diharapkan pembaca dapat memahami alur pemikiran penelitian dengan judul:
“Strategi Coping Mahasiswa Rantau dan Lokal dalam Mengerjakan Skripsi”.

Stressor

Pengerjaan Skripsi

Peran Sosial Budaya

Evaluasi mengenai pilihan


dan kemampuan coping

Melakukan strategi coping


untuk meringankan atau
memecahkan masalah:
1. Menemukan solusi atas Melanjutkan progres
kendala yang dihadapi untuk menyelesaikan
2. Memelihara skripsi
keseimbangan emosi
3. Menjaga hubungan
positif dengan orang
lain

15
1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian: Lingkup Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas


Diponegoro, Tembalang. Alasan pemilihan lokasi ini dikarenakan
peneliti ingin mewawancarai mahasiswa secara langsung dan
mendapat data yang lebih akurat.

2. Waktu Penelitian: Agustus 2023 - September 2023

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan


tujuan dan kegunaannya. Penelitian ini akan dilakukan secara kualitatif. Penelitian
kualitatif dilakukan karena ada suatu permasalahan atau isi yang perlu
dieksplorasi. Selain itu, penggunaan metode penelitian kualitatif dikarenakan
perlunya suatu pemahaman yang detail dan lengkap tentang permasalahan yang
hendak diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi kasus adalah mahasiswa tingkat
akhir rantau dan lokal yang menjalani skripsi. Peneliti berusaha meneliti
bagaimana strategi stress coping yang dilakukan mahasiswa sesuai kriteria
tersebut.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan beberapa tahap untuk


menentukan informan yang sesuai dengan kriteria peneliti. Pada awal bulan
Agustus 2023, peneliti menyebar link google form kepada beberapa mahasiswa
Fakultas Teknik yang berasal serta tinggal di Semarang bersama keluarga inti
dan mahasiswa rantau yang berasal dari luar Jawa Tengah, tinggal sendirian
selama di Semarang serta tidak aktif dalam Organisasi Daerah. Penyebaran
google form ini dibantu oleh teman peneliti yang berasal dari fakultas tersebut
agar dapat menemukan informan yang tepat dan sesuai. Pada tanggal 1
September 2023, peneliti memutuskan untuk menentukan informan dengan cara
snowball sampling yang mana diawali dengan pendekatan kepada sekelompok
individu dan dicari informan yang benar-benar sesuai kriteria. Dengan pemilihan

16
informan ini peneliti dapat mencari informan-informan kunci yang berasal dari
lingkungan sampel, sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih banyak
dan beragam. Selain itu, snowball sampling memberi kemudahan pada peneliti
dalam proses mengumpulkan data-data yang bersifat kualitatif. Setelah
menemukan beberapa informan yang sesuai melalui data sementara dari google
form, peneliti menghubungi mereka yang berkenan dihubungi lebih lanjut untuk
diwawancara mendalam. Proses wawancara ini berjalan sepanjang bulan
September dan data yang diperoleh diolah selama bulan Oktober hingga
November 2023. Data ini diolah berdasarkan teori yang telah ditentukan penulis
yaitu teori strategi coping dari Lazarus & Folkman dan teori Ruth Benedict yang
menyatakan bahwa budaya mempengaruhi perilaku manusia dalam bukunya The
Patterns of Culture.

1. Observasi (Pengamatan serta terjun langsung ke lapangan)

Jenis observasi yang dilakukan oleh peneliti ialah jenis observasi terus terang.
Disini peneliti melakukan pengamatan secara langsung dan berterus terang
kepada informan bahwa peneliti akan melakukan penelitian guna untuk
mendapatkan data yang lengkap dan akurat. Observasi ini meliputi kesan umum
yang dilihat melalui penampilan informan, keadaan emosi dan bentuk strategi
coping yang diterapkan.

2. Wawancara

Teknik wawancara yang dilakukan oleh peneliti diharap mampu membantu dan
melengkapi pengumpulan data yang tidak data di ungkap dengan teknik
observasi. Wawancara ini juga akan dilakukan beberapa kali sesuai dengan
kebutuhan peneliti untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan
penelitian secara jelas dan akurat. Dalam proses wawancara ini, peneliti
menentukan informan berdasarkan identitas daerah, kendala hambatan yang
dialami baik itu dalam hal akademik maupun luar akademik, serta bagaimana
para informan mengelola emosinya, meringankan beban pikirannya dan
mengatasi hal-hal tersebut.

17
1.6.4 Informan

Informan penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang merantau dan
lokal di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Peneliti memilih informan ini
karena mahasiswa di fakultas teknik sering dinilai fakultas yang memiliki banyak
kesibukan dan jam yang padat dalam perkuliahannya seperti jam deadline yang
berdekatan satu antara satu tugas dengan tugas yang lain, proyek kelompok yang
mengharuskan mereka sering begadang, presentasi produk yang harus
dipersiapkan secara matang, jam tidur yang berantakan dan sebagainya.
Mahasiswa Fakultas Teknik dituntut untuk memiliki kemampuan untuk
menguasai perangkat lunak khusus, memahami konsep mendalam tentang
matematika dan fisika serta proyek-proyek praktis. Selain itu dalam penulisan
skripsi mahasiwa akan menghadapi tuntutan teknis yang tinggi, adanya beberapa
eksperimen laboratorium hingga pengaplikasian yang kompleks. Dari penelitian
ini, peneliti ingin membuktikan dan mengetahui apa saja tantangan yang
dianggap tidak mudah oleh para mahasiswa fakultas teknik dan bagaimana cara
mereka mengatasi atau meringankannya.

Peneliti menentukan 6 informan dalam penelitian ini, yang terdiri dari 3


mahasiswa lokal dan 3 mahasiswa rantau. Pada mulanya peneliti menemui 10
informan, namun dikarenakan beberapa tidak sesuai kriteria maka ditentukan 6
informan dalam penelitian ini dan data yang diperoleh telah mencapai data jenuh.
Jumlah informan ini sesuai dengan kriteria dan para informan berkenan untuk
diwawancara lebih mendalam mengenai hal-hal yang dialaminya terkait kendala
atau tantangan dalam pengerjaan tugas akhir.

Informan yang memenuhi kriteria adalah sebagai berikut:

1. Bersedia melakukan wawancara mendalam untuk memberikan


informasi terkait penelitian.
2. Mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2019.
3. Mengalami kendala dalam penulisan skripsi baik itu dalam hal
akademik maupun luar akademik.

18
4. Semenjak pengerjaan tugas akhir menjadi mudah gelisah atau
cemas.

Tambahan kriteria bagi mahasiswa rantau:

1. Sempat mengalami homesick atau culture shock.


2. Sedang berada di wilayah Tembalang
3. Tidak aktif dalam Organisasi Daerah (ORDA).
4. Tidak ada saudara di Semarang.
5. Mengalami hal-hal yang berubah dalam dirinya semenjak merantau.

1.6.5 Analisis Data

Analisis data dapat dilakukan setelah semua data yang dibutuhkan telah
terkumpul dan siap untuk dianalisa. Data yang didapatkan peneliti sampai
dengan bulan September 2023. Dalam penelitian ini peneliti membutuhkan data
observasi, wawancara, dokumentasi dan bahan pustaka lainnya.

1. Reduksi Data: Tahap pertama ini bertujuan untuk merangkum,


memilah hal-hal penting dan memenuhi data yang diperlukan. Data
yang direduksi di dalam proses reduksi data ini akan memberikan
gambaran yang lebih spesifik dan juga akan lebih dalam
mempermudah penelitian yang dilakukan seorang peneliti saat
melakukan pengumpulan data.

2. Penyajian Data: Menyusun secara sistematis data yang diperoleh


dari hasil wawancara, catatan lapangan dan sumber-sumber lainnya
sehingga mudah dipahami dan dapat dituliskan dengan baik dan
menjawab rumusan masalah secara mendalam dan menyeluruh.

3. Interpretasi: Interpretasi data dalam penelitian kualitatif melibatkan


analisis mendalam terhadap data-data yang dikumpulkan, seperti
wawancara, observasi, atau dokumen.

4. Penarikan Kesimpulan: Pada tahap terakhir ini, peneliti akan


menarik kesimpulan dari hasil wawancara, observasi dan
dokumentasi yang telah diperoleh. Pada penarikan kesimpulan ini

19
memiliki tujuan agar dalam penelitian ini dapat diketahui pola,
makna, dan sebab akibat dari sebuah kasus

20
BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1 Skripsi Bagi Mahasiswa

Perguruan tinggi dapat dikatakan pula sebagai titik tertinggi dari tingkat
pendidikan formal dimana pada fase ini mahasiswa akan mempersiapkan serta
mematangkan kemampuannya sebelum masuk dalam kehidupan nyata. Secara
prosedural, kemampuan dan kesiapan mahasiswa ini akan diuji dengan skripsi
berupa skripsi yang dijadikan syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Skripsi
adalah bukti integritas mahasiswa sebagai wujud implementasi ilmu yang telah
diperoleh di perguruan tinggi. Tak hanya itu, skripsi juga merupakan karya
tertinggi mahasiswa Strata satu (S-1) yang melibatkan kemampuan akademis dan
emosional. Hal ini dikarenakan mahasiswa dituntut untuk tak hanya memahami
beberapa teori dan memilih metode penelitian yang tepat, tetapi juga diharapkan
untuk memiliki kemampuan menulis secara ilmiah. Skripsi ini berupaya untuk
mendedikasikan seluruh ilmu yang diperoleh mahasiswa selama menempuh
pendidikan di bangku kuliah kepada masyarakat. Karya ilmiah ditulis oleh
seorang mahasiswa yang mencakup subjek atau bidang tertentu berdasarkan
temuan dari tinjauan literatur ahli, studi lapangan, atau pengembangan. Menulis
skripsi merupakan tugas ilmiah yang memungkinkan mahasiswa mengevaluasi
secara kritis fenomena dunia nyata dengan menggunakan pengetahuan yang telah
dipelajari di bidang keilmuan masing-masing.

Dalam proses penyusunan skripsi, mahasiswa akan menentukan judul apa


yang akan mereka gunakan dan lanjutkan untuk penelitian. Ditahap awal ini,
mahasiswa memerlukan survey terlebih dahulu untuk mengetahui kelayakan suatu
fenomena atau kasus untuk ditulis dalam skripsi.

21
Gambar 2.1 Mahasiswa melakukan survey

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Setelah survey tersebut, mahasiswa akan memutuskan apakah topik tersebut


layak untuk diajukan kepada dosen pembimbing dan dilanjutkan dalam penulisan
skripsi. Mahasiswa akan mulai mengolah data serta melakukan proses bimbingan
skripsi kepada dosen pembimbing untuk mengkonsultasikan apa yang sudah
diketik dan sejenisnya. Dengan adanya proses bimbingan ini, diharapkan
mahasiswa mampu menemukan jalan keluar atas kebimbangan yang dialaminya.

Gambar 2.2 Mahasiswa mulai mengerjakan skripsi

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Adapun masalah yang sering muncul dalam proses pengerjaan skripsi antara
lain mahasiswa yang tidak fokus pada judul penelitiannya dan masih kesulitan
dalam menyusun latar belakang permasalahan. Tak hanya itu, rendahnya

22
pengetahuan terhadap teori-teori, metode penelitian, pengolahan data juga sebagai
kendala utama mahasiswa tingkat akhir dalam menyusun skripsi yang sistematis
dan terstruktur. Permasalahan-permasalahan itu tak hanya menguji kecerdasan
intelektual mahasiswa, namun juga sekaligus menguji kecerdasan emosional
mahasiswa.

Gambar 2.3 Tugas akhir salah satu mahasiswa Fakultas Teknik

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Dalam pengerjaan skripsi yang tak terhindar dari berbagai kendala baik itu
secara internal maupun eksternal, mahasiswa diharapkan mampu mengatasinya
agar dapat terus berprogres menyelesaikan kewajibannya ini. Adapun salah satu
faktor penghambat yang sering dialami mahasiswa dalam menyusun skripsi ialah
kecemasan. Setiap mahasiswa yang memiliki kecemasan akan menurunkan
kemampuan akademisnya karena akan berdampak pada kinerja ketika kecemasan
itu muncul. Kecemasan yang semakin meningkat dapat menghambat komunikasi
antara dosen pembimbing dan mahasiswa dalam bimbingan skripsi. Hal ini dapat
terjadi dikarenakan mahasiswa yang sudah merasa takut terlebih dahulu dan
merasa tidak percaya diri. Walaupun ada banyak hal yang menjadi kendala
mahasiswa, namun mereka dapat berjuang untuk mengatasi dan menghadapinya
serta memunculkan perasaan bahagia sekaligus bangga atas pencapaiannya.

23
2.2 Mahasiswa Rantau
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang
dijadikan belajar bagi manusia (1990). Kebudayaan dapat diartikan pula sebagai
hasil karya manusia yang tercipta dari lingkungan masyarakat dalam bentuk cipta
rasa, dan karsa. Budaya sendiri dapat diwariskan sehingga hal tersebut yang
menyebabkan budaya dapat tetap dikenal dan mampu untuk bertahan. Pewarisan
budaya merupakan proses pewarisan yang dilakukan dari generasi ke generasi
atau dari masyarakat ke masyarakat berikutnya dengan proses belajar budaya.
Proses pewarisan budaya tersebut dapat dilakukan dengan enkulturasi atau
pembudayaan dan proses sosialisasi. Pewarisan budaya sendiri dapat terjadi jika
budaya tersebut masih ada dan masih diterima dalam masyarakat. Terdapat
banyak saluran yang digunakan dalam pewarisan budaya yaitu melalui keluarga,
teman, lingkungan masyarakat, sekolah, media sosial dan lain-lainnya. Saluran
pewarisan budaya yang paling dekat dengan kita yaitu lingkungan keluarga.
Keluarga menjadi salah satu media budaya dapat berkembang dengan pesat dan
mampu diturunkan ke generasi berikutnya. Dengan keluarga, budaya dapat
terbentuk dan tetap ada.
Mahasiswa rantau membawa berbagai kebudayaannya masing-masing ke
daerah baru dan harus beradaptasi dengan budaya di lingkungan yang baru pula.
Dalam hal ini, mahasiswa rantau tak terhindar dari satu atau bahkan lebih
hambatan dalam menyesuaikan diri. Penyebab hambatan itu umumnya
dikarenakan perbedaan dalam berbahasa dan kebiasaan sosial budaya. Dalam
proses penyesuaian dirinya, mahasiswa rantau juga harus hidup mandiri di kota
baru. Hal ini dikarenakan individu sudah tidak lagi tinggal bersama orang tua,
atau orang-orang yang berperan besar dalam kehidupannya selama di daerah asal.
Dalam prosesnya mahasiswa yang berbeda daerah harus bisa beradaptasi dengan
lingkungan barunya, dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial, yang mana
tidak dapat hanya mengandalkan diri sendiri dalam segala aktivitas atau
kegiatannya dalam hal perkuliahan maupun diluar itu, mereka butuh bantuan
orang lain maka mahasiswa rantau harus dapat menyesuaikan diri dengan

24
lingkungan barunya. Dapat dipahami bahwa, sangat diperlukan adaptasi dan
komunikasi yang baik bagi mahasiswa rantau yang berasal dari luar daerah,
terlebih lagi bagi mahasiswa yang berasal dari pulau yang berbeda agar dapat
merasa nyaman di kota tempat berkuliah. Indonesia merupakan negara maritim
yang mempunyai banyak pulau yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali,
Nusa Tenggara, dan Papua. Dalam pulau-pulau ini terdapat banyak provinsi yang
memiliki budaya dan pola perilakunya masing-masing.

2.3 Profil Informan


Setelah proses pencarian data yang dilakukan dengan metode snowball
sampling, peneliti menemukan 6 orang mahasiswa yang sesuai dengan kriteria
informan dalam penelitian ini. Ditentukannya 6 informan dikarenakan data yang
diperoleh telah mencapai data jenuh. Berikut data mahasiswa yang menjadi
informan:
Nama (Inisial) Jurusan Asal
RMS Teknik Sipil Semarang
CDW Teknik Geodesi Semarang
YAS Teknik Industri Semarang
VA Perencanaan Wilayah dan Painan
Kota
RDR Teknik Mesin Cimahi
SH Arsitektur Serang
Tabel 1: Data Informan

2.4 Fakultas Teknik Universitas Diponegoro


Berdasarkan website Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, fakultas ini
diawali dari kristalisasi ide yang menjadi sebuah gagasan besar dari beberapa
insinyur seperti Ir. Jacob Rais (Kepala Kantor Pendaftaran Tanah Semarang), dan
Ir. Gunawan, Prof. Ir Soemarman (alm), Ir. Subarkah, Ir. R. Oei Djwee Hwie, Ir.
R. Soenardi (alm), Ir. Lie Kok Gwan, Ir. Moeljadi, dan Ir. Tjoa Tjeng Kie, untuk
mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi teknik di kota Semarang.

25
Pada 1958 tepatnya pada 20 Oktober, didukung sepenuhnya oleh
pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat, rencana tersebut diwujudkan
dengan dibukanya Akademi Teknik di Universitas Semarang yang sudah berdiri
sejak tanggal 9 Januari 1957. Pada saat perayaan Dies Natalis ketiga tanggal 09
Januari 1960. Presiden Republik Indonesia pertama. Ir. Soekarno mengganti nama
Universitas Semarang menjadi Universitas Diponegoro, kemudian tanggal 15
Oktober 1960 Akademi Teknik diganti menjadi Fakultas Teknik dengan Dekan
pertama Prof. Ir. Soemarman. Jurusan Teknik Sipil adalah jurusan yang pertama
di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro sebelum jurusan lainnya dibuka.
Kegiatan perkuliahan dilaksanakan pada sore hari dengan meminjam sebuah
gedung disekitar Tugu Muda (saat ini menjadi gedung Wisma Perdamaian),
kemudian pindah dijalan MT. Haryono No. 427 milik Pepekuper Teritorium IV,
sebagai kampusnya. Pada periode yang lebih mapan Fakultas Teknik pindah ke
“Gedung Putih“ di Kampus Pleburan atau tepatnya berlokasi di Jl. Hayam Wuruk.
Kemudian pada tahun 1996 sampai dengan sekarang Kampus Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro pindah ke Tembalang, yang awali dibangun melalui Six
Universities Development and Rehabilitation Sub Sector Project (SUDR). Sejak
Universitas Diponegoro diresmikan sebagai perguruan tinggi negeri pada tanggal
15 Oktober 1960, Fakultas Teknik sebagai pencetak sumber daya manusia yang
berkualitas, terus mengembangkan diri dengan mendirikan Jurusan atau Program
Studi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Teknik sejak awal masuk telah
dibiasakan untuk terjun lapangan guna mendapatkan data ataupun meneliti hal-hal
secara rinci. Dalam perkuliahan, mereka dihadapkan pada beberapa tugas yang tak
mudah. Tugas-tugas itu kebanyakan adalah tugas kelompok yang mengharuskan
mereka memiliki rasa bertanggung jawab dan mampu bekerja sama dengan orang-
orang yang bahkan berasal dari luar daerahnya. Namun, dalam proses
pengerjaannya tak selalu berjalan lancar dikarenakan ada satu atau lebih tantangan
seperti teman sekelompok yang tak bertanggung jawab atas pekerjaannya dalam
kelompok, perbedaan pendapat, dikejar waktu karena deadline antar satu tugas
dengan tugas lain berdekatan, harus memiliki kematangan untuk

26
mempresentasikan hingga berdebat dengan dosen mengenai hasil tugasnya, sering
tidak tidur dalam satu dua hari (jam tidur berantakan) dan lain sebagainya.
Dalam menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa Fakultas Teknik, mereka
harus menjalani beberapa hal yang diwajibkan untuk mencapai gelar sarjana. Hal-
hal itu antara lain SKS yang telah mencukupi, telah mengambil mata kuliah wajib,
menjalani seminar proposal, dilanjutkan dengan seminar hasil, dan diakhiri
dengan sidang akhir. Dalam prosesnya, para mahasiswa diharapkan mampu untuk
melewati kewajiban tersebut dan kelak akan dinyatakan lulus sebagai sarjana
teknik.
Jumlah mahasiswa terdaftar Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
2020/2021 adalah sebagai berikut:

Tabel 2: Data Mahasiswa Fakultas Teknik

Dari data tabel yang tertera, tercatat mahasiswa Fakultas Teknik pada tahun
2020/2021 sebanyak 55.497 mahasiswa.

27
BAB III

HASIL PENELITIAN

3.1 Strategi Coping

3.1.1 Tantangan yang Dihadapi


Untuk meraih gelar sarjana, mahasiswa harus mengerjakan skripsi dimana
hal itu diawali dengan penentuan judul, penentuan latar belakang, melakukan
penelitian dan menuliskannya pada tiap halaman-halaman skripsi. Dalam proses
pengerjaannya, dibutuhkan ketekunan dan niat dalam diri masing-masing
mahasiswa agar dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Mahasiswa tingkat
akhir dianggap sudah mahir dalam hal penelitian karena tentunya sudah menerima
mata kuliah yang berkaitan di semester sebelumnya, salah satunya adalah
metodologi penelitian. Mahasiswa harus mampu melewati tiap tantangan dan
mengatasinya agar tetap fokus dan giat dalam pengerjaan skripsi. Namun tentunya
mengerjakan skripsi tidak selalu berjalan lancar, ada satu atau lebih hal yang
dianggap sebagai kesulitan atau tantangan tersendiri yang muncul dalam diri
mahasiswa atau eksternal dalam setiap prosesnya.
Informan pertama, seorang mahasiswa jurusan Teknik Sipil berasal dari
Semarang berinisial RMS yang mengerjakan skripsi dengan judul Identifikasi
Karakteristik Tanah dan Analisis Konsolidasi pada Jalan Tol Semarang-Demak
STA 23+000 sampai STA 24+000. Dalam proses pengerjaan skripsi yang ia
kerjakan, ia menyampaikan bahwa seringkali merasa over thinking dan merasa
cemas hal ini dikarenakan adanya hal-hal yang ia anggap membebani pikirannya.
“Aku bukan tipe orang yang gampang khawatir/cemas
sebenernya, tapi selama ngerjain skripsi aku jadi ngrasain gimana

28
rasanya panik, over thinking, ya cemas gitu.” (Wawancara dengan
RMS, 11 September 2023).
RMS juga menyampaikan bahwa ia merasa dirinya termasuk pribadi yang supel
dan mudah beradaptasi, hal ini dibuktikan sejak ia di bangku SMA tepatnya di
SMAN 3 Semarang sudah banyak mengikuti kegiatan diluar akademik salah
satunya yaitu bergabung dengan Pasukan Pengibar Bendera Kota Semarang.
“Aku santai-santai aja sih, ngga yang kaget atau gimana gitu
sama skripsi. Masalah atur waktu gitu aku juga udah kebiasa
soalnya waktu SMA sempet ikut beberapa kegiatan yang ngebuat
aku jadi murid yang bisa dibilang sibuk. Jadi ya udah bisa atur
waktu dari dulu-dulu.”

Gambar 3. 1 RMS saat bergabung dlm Pasukan


Pengibar Kota Semarang
(Sumber: Dokumen Pribadi)

Terkadang dalam pengerjaan skripsi, mahasiswa sering merasa kurang mampu


mengatur waktu, seperti membagi waktu main dengan pengerjaan skripsi dan
sebagainya. Namun hal itu tidak dianggap suatu kesulitan bagi RMS karena ia
dapat mengatur waktunya sebaik mungkin antara penelitian, pengerjaan revisi,
meminta bimbingan kepada dosen pembimbing dan waktu bermainnya untuk
melepas penat.

29
“Kesulitan skripsi tu buat nemuin sumber referensi yang gampang
diakses sama pengolahan atau analisis data.”
Meski RMS dapat mengatur waktu untuk proses pengerjaan skripsi, hal ini tentu
tidak menghindarkan dari semua kesulitan yang ada. Seperti yang disampaikan
RMS diatas bahwa ia merasa menemukan sumber referensi yang mudah diakses
tidak semudah itu serta ia pun merasa sesekali menemukan kesulitan dalam
mengolah data atau analisis data untuk skripsi yang ia kerjakan saat ini.
“Ngerjain skripsi tu pasti ada kekhawatiran ya, kalo yang tak
alami aku tu khawatir takut kalo hasilku gak sesuai sama hipotesis.
Bikin kepikiran banget.”
Dari penyampaian RMS dari jurusan Teknik Sipil diatas, dapat dilihat bahwa
kesulitan yang ia rasakan adalah dalam pencarian referensi yang yang mudah
diakses, pengolahan dan analisis data serta kekhawatiran yang menjadi beban
pikiran adalah jika terjadi ketidaksesuaian hasil dengan hipotesis.
Informan kedua ialah CDW mahasiswa Teknik Geodesi asal Kota Semarang
yang mengerjakan skripsi berjudul Analisis Kerentanan Fisik Kawasan Pesisir
dengan Metode Coastal Vulnerability Index (CVI) di Kota Pekalongan. CDW
adalah mahasiswa yang cukup aktif dalam perkuliahannya, ia menjadi pengurus
IMGI (Ikatan Mahasiswa Geodesi Indonesia) sebagai seorang Sekretaris Jenderal
periode 2022/2023. Dalam kesehariannya, ia adalah individu yang tangguh dan
mampu berjuang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Namun, hal ini tidak
menghindarkan CDW dari beberapa kesulitan maupun hambatan yang dialami
selama proses pengerjaan skripsi.
“Ngerjain skripsi gampang-gampang susah ya, susahnya ya ada
aja. Kalo pengalamanku selama ngerjain skripsi ini kadang data
yang ku cari nggak ada, kadang juga kesusahan juga ngolah data
soalnya di perkuliahan nggak diajarin beberapa pengolahan.”
(Wawancara dengan CDW, 10 September 2023).
Dari penyampaian informan kedua ini, ia memang mengalami beberapa kesulitan
atau kendala dalam mengerjakan skripsi. Kesulitan dalam memperoleh data dan

30
pengolahan data adalah kendala eksternal yang tidak menghalangi semangatnya
untuk mencari penyelesaiannya agar tidak terpuruk dan mampu berprogres.
“Kendala internal ada sih, diri sendiri. Males gitu rasanya, soalnya
capek ngerjain skripsi apalagi ngolah data.”
“Sama aku juga takute kalo hasilnya nggak sesuai harapan
biasanya karena miss apa nggak ada masalah gitu.”
Tak hanya kendala eksternal, CDW pun juga menyampaikan salah satu
kendala internalnya yaitu rasa malas yang muncul akibat merasa lelah mengolah
data. Selain itu kekhawatiran atau kecemasan yang dialami CDW adalah
mengenai hasil dari pengolahan yang tidak sesuai harapan. Hal ini dikarenakan
adanya masalah saat melakukan pengolahan atau miss yang mengakibatkan
hasilnya kurang maksimal.
Informan ketiga mahasiswa Teknik Industri asal Semarang yaitu YAS. YAS
adalah individu yang pantang menyerah dan mandiri, dalam wawancara
dengannya ia banyak menyampaikan kendala yang dialami yang nyatanya bisa ia
atasi.
“Aku ngerasa aku tu selalu liat temen-temenku, kok mereka bisa
cepet ya selesainya. Jadi takut tertinggal juga.”

“Aku sebenernya juga freelance, aku mau bantu orang tuaku soalnya
adek juga ini barusan masuk kuliah.”

“Software yang dibutuhin dilaptop lumayan banyak, tapi laptopku


ngepasi banget pas skripsian gini malah lelet bermasalah. Sering ke-
close sendiri.” (Wawancara dengan YAS, 14 September 2023).

Dalam pengerjaan skripsi tentunya semua tak berjalan semudah yang diinginkan,
dibutuhkan pengorbanan, semangat, dan tindakan nyata. Namun semua kesulitan
atau kendala itu dapat diatasi dengan cara yang tepat dan sesuai agar proses
pengerjaan skripsi dapat terus berjalan. Seperti yang disampaikan YAS bahwa ia
mengalami kendala internal yaitu rasa mindernya terhadap teman-teman
seangkatannya yang sudah sidang akhir lebih dulu dan telah dapat melalui fase
skripsi, hal ini membuat YAS merasa minder akan pencapaian teman-temannya.

31
“Orangtua kan udah percaya banget ke aku, ga pernah nuntut harus
gimana-gimana yang penting aku tanggung jawab sama yang udah
tak ambil. Tapi justru ngerasa khawatir sih kalo ujung-ujungnya
malah ngecewain. Soalnya lebih seneng jalanin kerja daripada
lanjutin skripsi.”

Adapun kendala yang lain yaitu berupa atur waktu, hal ini dikarenakan ia
juga mengambil freelance untuk menambah uang sakunya dan mengurangi untuk
merepotkan orang tua selain itu ia juga harus melawan rasa malasnya untuk
melanjutkan skripsi karena merasa lebih senang dalam melakukan pekerjaan
freelance-nya. Untuk kendala eskternal, berupa laptop yang bermasalah sehingga
menghambat proses pengerjaan dan membuat YAS seringkali putus asa karena
laptop yang rusak di waktu yang sangat penting ini.

Dalam mengerjakan skripsi untuk meraih gelar sarjana tidaklah berjalan


semudah yang diharapkan, satu atau lebih kesulitan yang terjadi membuat
mahasiswa harus tetap mampu untuk memikirkan jalan keluar yang disertai
dengan penanganan kendala tersebut. Mahasiswa diharapkan mampu untuk
menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang terjadi dalam proses pengerjaan
skripsi, misalnya harus berusaha sendiri dalam mencari data, mengolah data
dengan ilmu yang telah diterima, mengurangi beban pikiran skripsi agar tidak
terpuruk sekaligus dapat menikmati tiap perjalanan prosesnya. Dalam dunia
perkuliahan, mahasiswa dituntut untuk mandiri dan mempertanggungjawabkan
pilihannya, hal ini dapat dilihat dari tugas-tugas mahasiswa yang menjadi
keharusannya untuk dikerjakan tanpa ada peran serta orang tua atau guru pengajar
yang memaksa untuk mengerjakannya, semua berdasarkan kesadaran serta
kepedulian mahasiswa itu sendiri dan akan berdampak pada nilai yang diraih.
Terlebih lagi untuk mahasiswa rantau, mereka harus mempertimbangkan segala
sesuatunya baik itu dalam dunia perkuliahan maupun diluar itu. Mahasiswa yang
memutuskan untuk merantau dari daerah asalnya harus bisa menjadi individu yang
mandiri. Hal ini dikarenakan individu sudah tidak lagi tinggal bersama orang tua,
sehingga orang tua sudah tidak lagi bisa terus menerus mengontrol dan mengurus

32
segala keperluan individu seperti saat masih tinggal serumah. Oleh karena itu,
individu yang merantau diharapkan mampu memanajemen hidup selama
merantau. Mahasiswa rantau juga harus dapat menentukan prioritas hidupnya, baik
itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Jangka pendek misalnya, lulus
studi sesuai target, mencapai nilai atau prestasi yang diinginkan. Ini menunjukkan
bahwa efikasi diri akademik berhubungan dengan keyakinan siswa akan
kemampuannya melakukan tugas-tugas, mengatur kegiatan belajar mereka sendiri,
dan hidup dengan harapan akademis mereka sendiri dan orang lain.

Salah satu mahasiswa rantau dari Painan, Sumatera Barat berinisial VA


jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota yang mengerjakan tugas akhir dengan
judul Efektivitas Program Rehabilitasi Sosial Layak Huni Tahun 2017-2021 di
Kabupaten Pesisir Selatan mengalami lika-liku yang terbilang cukup sulit baginya
dalam menjalani perkuliahan yang jauh dari kota asalnya. Menetap untuk beberapa
tahun di Kota Semarang dengan lingkungan yang baru sekaligus jauh dari keluarga
memang bukan hal yang mudah bagi semua orang, termasuk bagi VA sendiri. VA
yang tadinya adalah seorang siswi yang lebih nyaman mengerjakan tugas seorang
diri, kini dalam perkuliahan yang dijalaninya membuat VA mau tidak mau harus
selalu berdiskusi dengan mahasiswa lain (dalam bentuk kelompok). Seorang
mahasiswa rantau yang butuh penyesuaian terhadap kehidupan sosial budaya di
Semarang sekaligus harus memahami karakter atau sifat dari teman-teman yang
berasal dari beda daerah (terutama mereka yang sekelompok) untuk kelancaran
diskusi dalam suatu proyek.

“Jadi sistem perkuliahannya tu dibentuk kelompok gitu, nah sebelum


dibagi ke beberapa kelompok itu kita ada beberapa tes dulu, jadi
supaya tiap kelompok tu adil. Ada yang laptopnya bagus, ada yang
jago di bidang ini, ini, ini gitu.”

“Aku dari SD udah kebiasa kalo ada tugas langsung kerjain, tapi
kalo smenjak kuliah tu kan dibentuk kelompok-kelompok gitu dan
aku sempat jadi ketuanya. Itu susah banget, ada yang ngilang, ada
yang ngga tanggung jawab sama job desk nya, ada juga yang ngga

33
peduli nilainya. Jadi ya mau ngga mau harus aku yang atasi, karena
dosen ngga mau tau pokoknya harus beres.”

“Sempet beberapa kali ngerasa capek sih apalagi jam tidur jadi ga
karuan, tapi selalu keinget keluarga disana. Berharap banget aku
berhasil disini, banyak impian-impian keluarga juga yang harus aku
wujudin.” (Wawancara dengan VA, 15 September 2023).

Dari penyampaian VA, dapat dilihat bahwa ia harus mampu untuk


beradaptasi di daerah yang baru beserta dengan kebiasaan baru. Ia adalah individu
yang rajin, yang mau berusaha dan tak pantang menyerah. Hal ini terlihat dari
cerita yang disampaikan bahwa sejak dibangku SD, ia sudah terbiasa untuk tidak
menunda-nunda mengerjakan tugasnya, belajar mengatur waktu, dan berusaha
mengerjakan tugas itu sendiri. Namun di perkuliahan ia dihadapkan pada situasi
yang tidak selalu sesuai dengan harapannya, terutama beberapa sifat teman-
temannya yang sangat tidak sesuai dengan kebiasaan VA. Hal ini membuatnya
harus pintar beradaptasi dan mengatasi segala kesulitan dihadapannya. Walaupun
di awal ia sempat merasa sulit bergaul dengan beberapa teman-teman yang berasal
dari beda daerah dengannya, namun hal itu tidak menghalangi VA untuk berteman
dengan mereka. VA justru berusaha untuk mengenal dan menyesuaikan diri
dengan beberapa temannya itu agar terjalin hubungan yang baik dan bisa tercipta
lingkungan pertemanan yang nyaman. Menurut VA, jika ia memiliki teman-teman
yang baik dan cocok hal itu akan membuatnya mampu bertahan dalam dunia
perkuliahan terlebih lagi dalam hal saling bantu, saling curhat satu sama lain,
bermain, dan sebagainya

“Aku kebetulan dapet dosbing yang ngga sesuai sama judulku, kan
judulku tentang perumahan gitu. Tapi ya gimana lagi kan ngga bisa
ganti dosbing ya, jadi yaudah jalanin aja. Tapi ya memang baik sih
gampang nge-acc.”

“Tapi ya gimana lagi, mau ganti dosbing juga ngga bisa dan aku
belum pernah tau kalo bisa ganti dosbing gitu jadi mau ngga mau

34
yaudah deh jalanin aja dulu, kalo kedepannya ada revisi dari
penguji ya revisi aja.”

VA menyampaikan culture shock-nya selama di perkuliahan baik itu dalam proses


pembelajarannya, lingkup pertemanannya hingga hal-hal dari dalam dirinya yang
perlu ditingkatkan.

Kesulitan yang dialami VA terkait dengan dosen pembimbing dialami juga


oleh RDR mahasiswa rantau jurusan Teknik Mesin dari Cimahi yang sedang
mengerjakan skripsi berjudul Analisis Pengaruh Kekasaran Permukaan Terhadap
Performa Journal Bearing dengan Fluida Newtonian dan Non-Newtonian
menggunakan Metode Computational Fluid Dynamics (CFD). Jika VA mendapat
dosen pembimbing yang tak sesuai dengan topiknya, dosen pembimbing RDR
justru sulit ditemui.

“Dosbingku susah buat diajak ketemu, rasanya jadi ketunda


progresnya.”

“Jadi sering kepikiran takut ngga selesai tepat waktu, takut jadi
beban orang tua kalo lebih dari 4 tahun, takut ditinggal temen
seangkatan, sama yang paling penting takut kalo ngga nemu solusi
buat kendala skripsi.” (Wawancara dengan RDR, 17 September
2023).

Kendala yang dialami tiap mahasiswa dalam mengerjakan skripsi dapat


menghambat progresnya, oleh karena itu mahasiswa diharapkan mampu
menemukan penyelesaian terhadap kendala tersebut serta meringankan beban
pikiran yang diakibatkan oleh skripsi atau skripsi. Sama halnya dengan yang
dialami RDR, ia dihadapkan pada kendala eksternal berupa dosen pembimbing
yang cukup sulit ditemui serta kekhawatiran atau kecemasan yang muncul dari
dalam dirinya.

“Asistensi stagnan di masalah yang sama, terus juga ada matkul


yang jadi syarat buat tema skripsi yang belum selesai.”

35
RDR kembali menyampaikan kendalanya dalam pengerjaan skripsi yang
dijalaninya, ia pun merasa asistensi yang belum terlalu berprogres serta ia belum
menyelesaikan mata kuliah yang menjadi syarat untuk pengerjaan skripsi jadi hal
itu membuatnya untuk masih mengambil mata kuliah tersebut sebelum lanjut ke
progres pengerjaan. Mata kuliah wajib terbagi menjadi empat yaitu perancangan,
material, produksi dan konversi energi. Karena RDR mengerjakan tugas akhir
dengan tema perancangan, maka ia wajib untuk telah mengikuti mata kuliah
perancangan sistem mekanik.

“Belum lagi kalo tugas akhir tu harus adu skor.”

Berdasarkan penyampaian dari informan asal Cimahi ini, ia mengeluhkan


mengenai sistem yang ia alami yaitu mengenai berlomba-lomba meraih skor tinggi
yang mengharuskan ia bersaing dengan mahasiswa lainnya. Bersaing skor
diperoleh dari IPK saat mengambil TA (tugas akhir) dikali dengan jumlah SKS,
dan skor yang paling tinggi dapat dengan bebas memilih dosen pembimbingnya.
Dosen pembimbing juga telah menentukan kuotanya masing-masing, jika hanya
membuka kuota untuk tiga orang mahasiswa maka dipilih berdasarkan skor yang
berada dari peringkat satu sampai tiga. Dan yang berada di peringkat keempat
keatas, akan dialihkan ke pembimbing pilihan kedua dan seterusnya.

“Aku juga sebenernya tertekan dan ngerasa berat banget kalo


keluargaku mulai banding-bandingin aku sama kakakku. Ya soalnya
aku disini kan juga harus nghadapi kendala-kendala ngerjain
skripsi, ditambah keluarga banding-bandingin. Rasanya makin
capek.”

RDR mahasiswa asal Cimahi ini menceritakan bagaimana keluarga terus


mendorongnya untuk segera menyelesaikan skripsi sekaligus dibanding-
bandingkan dengan saudara laki-lakinya. Di perantauan ini, ia menghadapi
beberapa hambatan serta harus berusaha sendiri untuk mengatasi ataupun
meringankannya tanpa kehadiran keluarga atau saudara kandung. RDR
menyampaikan ia sebetulnya pun tidak terlalu dekat dengan keluarga dikarenakan

36
keluarga selalu banyak ekspetasi lebih padanya, di lain sisi RDR merasa tertekan
akan harapan-harapan itu. Oleh karena itu, ia tidak pernah bercerita kepada
keluarganya mengenai kesulitan yang ia alami karena keluarga selalu
mengharapkan RDR baik-baik saja dan mampu berjuang serta bertahan dalam
dunia perkuliahan ini.

Informan selanjutnya, SH mahasiswa arsitektur berasal dari Kota Serang


yang mengerjakan skripsi dengan judul Pusat Kebudayaan dan Komunitas Kota
Semarang Berbasis TOD mengalami beberapa hal yang membuatnya harus
beradaptasi di lingkungan kota Semarang. Dimana di kota asalnya, suasana kota
masih ramai hingga tengah malam bahkan dini hari, selain itu tempat makan dan
lalu lintas pun masih cukup ramai. Namun di lingkungannya sekarang tinggal
selama di Semarang, warung-warung makan biasa tutup pada jam 20.00 atau
21.00. Selain itu jalanan selalu sepi dan gelap di malam hari, yang membuat SH
merasa tidak nyaman saat ingin keluar di malam hari. Ia juga menyampaikan
bahwa cara orang Semarang berkendara sangat jauh lebih ngebut dari orang-orang
di kota asalnya dan cukup banyak juga yang tidak memakai helm.

Selain itu, ia juga merasa sulit beradaptasi dengan teman-temannya yang


berasal dari Jawa karena ia tidak bisa berbahasa Jawa. Ia merasa kurang nyaman
jika bercakap-cakap dengan orang yang beda daerah darinya terutama orang Jawa.
Jauh dari kota asal memanglah bukan hal yang mudah bagi semua orang, harus
memulai hidup mandiri, belajar memahami hal-hal baru di kota rantau,
menyesuaikan orang-orang yang berada di lingkungan baru tersebut dan lain
sebagainya. Kekhawatiran yang dialami SH sebagai mahasiswa arsitektur adalah
dalam deadline produk dan sering merasa grogi dalam mempresentasikan
produknya.

“Kalo di arsi kan ada produk gitu, itu takut banget kalo selesainya
melebihi deadline, emang harus dikebut sih. Produk itu juga
nantinya dipresentasiin, aku termasuk orang yang gampang nervous
malah aku juga pernah sampe rasanya mual mau muntah gitu kalo
mau presentasi produk.”

37
“Apalagi aku sidangnya ada 4, sidang proposal, LP3A, eksplorasi
desain sama presentasi akhir. Itu susah banget buat aku apalagi aku
gampang nervous takut ngeblank takut salah.”

“Dosbingku orangnya sibuk, contohnya pas itu pernah tiba-tiba ke


UK. Saking sibuknya juga pas itu pernah aku disuruh asistensi
online tengah malem.” (Wawancara dengan SH, 20 September
2023).

SH termasuk individu yang mudah grogi dan cukup sulit untuk mengendalikannya,
hal ini dibuktikan dari beberapa pengalamannya yang seringkali merasa mual jika
menghadapi hal yang membuatnya grogi atau ia merasa kurang percaya diri
terhadap hal yang ingin disampaikannya. Individu yang mudah panik serta merasa
sulit bergaul adalah mereka yang harus berjuang lebih dalam perkuliahan untuk
melawan segala ketakutannya dan mengatasinya. Selain itu, kendala eksternal juga
dialaminya yaitu dosen pembimbing yang sangat sibuk dan mengharuskannya
untuk dapat menyesuaikan waktu dosen pembimbingnya tanpa mengenal waktu.

3.1.2 Strategi Mengatasi Kesulitan atau Mengurangi Beban Pikiran


Skripsi yang diwajibkan untuk seluruh mahasiswa biasanya tidak selalu
berjalan lancar. Dalam proses penyusunannya mahasiswa menemui berbagai
macam kesulitan, dan kesulitan tersebut dapat menjadi suatu tekanan pada diri
mahasiswa, jika mahasiswa tidak mampu mengatasinya tekanan tersebut maka
menimbulkan beban pikiran atau stres pada diri mahasiswa. Inilah yang
mengharuskan mahasiswa dapat mengatur waktu, tenaga, dan pikiran dengan baik.

Seperti yang telah tertera di subbab sebelumnya, bahwa semua informan


memiliki tantangan atau kesulitannya masing-masing dan harus dihadapi dengan
cara mereka sendiri agar mereka mampu bertahan dan menyelesaikan skripsi
dengan baik. Cara mengatasi atau menghadapi beberapa kesulitan ini tidak dapat
disamaratakan karena tiap individu memiliki cara tersendiri atau berbeda dengan
individu lain.

38
Informan pertama, RMS yang berasal dari jurusan Teknik Sipil mengalami
kesulitan dalam mengolah data atau menganalisis data serta memperoleh referensi
yang mudah diakses hal ini tentu membuatnya merasa ada hambatan dalam proses
pengerjaan skripsinya. Namun dalam mengatasi kesulitan yang membebani
pikirannya itu, RMS memiliki cara tersendiri untuk meringankannya agar tidak
terpuruk disetiap kesulitan yang ada dihadapannya.

“Aku biasanya sambat atau curhat aja ke temen, jadi nggak tak
pendem sendiri. Terus juga temen sesekali bisa nyaran-nyaranin gitu
ya jadi ga buntu.”

Dalam penyampaiannya, terlihat bahwa informan pertama membutuhkan


dukungan atau peran dari orang lain terutama orang terdekatnya. Hal ini
membuatnya merasa tidak sendirian dalam berjuang menyelesaikan skripsi. Ia
merasa nyaman dan jauh lebih tenang jika sudah berkumpul dengan teman-
temannya untuk bermain menyegarkan pikiran atau saling berkeluh kesah satu
sama lain mengenai kendala atau hambatan yang mereka alami.

“Biasanya kalo dah stres pikiran capek tu aku larinya ke temen atau
pacarku. Ya main bareng temen atau main sama pacar gitu
refreshing. Kalo dah gitu lebih enak lanjutin skripsi, yang penting
udah refreshing bentar.”

“Soalnya ya gimana ya, skripsi kalo dihindari terus malah makin


kepikiran. Takut ketinggalan, bikin pikiran pokoknya.”

Meringankan beban pikiran yang diakibatkan dari pengerjaan skripsi memang


harus dilakukan tiap individu agar terus mampu bertahan dan memiliki semangat
untuk terus menghadapi segala kesulitan atau hambatannya masing-masing. Sama
seperti yang dilakukan mahasiswa Teknik Sipil ini, ia memiliki cara yang
dianggapnya paling berdampak besar dalam meringankan beban pikirannya yaitu
dengan curhat ke orang terdekat serta meluangkan waktu untuk main bersama
teman atau pacar. RMS yang berasal dari Kota Semarang yang tinggal bersama
keluarga ini justru tidak pernah menyampaikan kesulitannya atau sekedar bercerita

39
proses pengerjaan skripsinya kepada keluarga. Bahkan ia juga menyampaikan
bahwa keluarga tidak berperan besar dalam memberi semangat disetiap proses
penyelesaian skripsi.

Dari pengalaman yang diceritakan RMS, ia menunjukkan tanggung


jawabnya untuk tetap melanjutkan skripsi. Ia tidak ingin skripsi terus mengganggu
pikirannya, oleh karena itu RMS berusaha untuk tetap melanjutkan skripsi dan
mengatasi segala kesulitan atau kendala yang ada agar hal tersebut tidak
menghambat progres pengerjaannya. Sebagai mahasiswa semester akhir yang
harus menyelesaikan skripsi untuk mendapatkan gelar, tertinggal dengan teman
seangkatan adalah salah satu ketakutan terbesar dan hal inilah juga yang dirasakan
RMS. Oleh karena itu ia tidak ingin melepas tanggung jawab terhadap
kewajibannya agar dapat segera lulus dan progres tidak berhenti ditempat.

Gambar 3. 2 RMS bersama teman-teman


dekatnya

(Sumber: Dokumen
Pribadi)

“Aku malah ga terlalu deket sama keluarga, keluargaku tertutup gitu


tapi ya sebenernya tetep ada buat satu sama lain. Nggak banyak

40
bicara, cuma seperlunya. Tapi kalo pas membutuhkan, bakal saling
bantu tetep peduli gitu, membantu dengan baik.”

RMS besar di lingkungan keluarga yang tertutup dan mereka hanya berbicara
seperlunya, hal ini tidak menghalanginya untuk menjadi pribadi yang aktif diluar
lingkungan keluarga. Hal ini sudah ia lakukan sejak dibangku sekolah yang mana
ia mengikuti organisasi seperti salah satunya Pasukan Pengibar Bendera Kota
Semarang. Ia juga memiliki pacar serta banyak teman yang dijadikannya sebagai
tempat nyaman untuk berkeluh kesah serta melakukan hal-hal menyenangkan
untuk melepas pikiran yang lelah. Kehadiran orang-orang terdekat inilah yang
mengembalikan semangat RMS dalam pengerjaan skripsi.

Informan kedua, CDW telah menyampaikan beberapa kesulitan yang


dialaminya selama proses pengerjaan skripsi yaitu kurangnya ketersediaan data
yang hendak dicari dan kesusahan mengolah data dikarenakan beberapa
pengolahan yang tidak diajarkan dalam perkuliahan. Dalam menangani
kendalanya ini, ia menyampaikan cara yang digunakan yaitu dengan segera
mencari penyelesaiannya agar dapat terus berprogres menyelesaikan skripsi.

“Nek tentang ketersediaan data yang nggak ada ya aku cari data
lain aja pokoknya yang pasti dan jelas, terus kalo pengolahan data
yang nggak diajarin gitu aku biasane buka YouTube cari caranya.
Alhamdulillah bisa teratasi.”

Dalam mengatasi kesulitannya itu, CDW telah menemukan bagaimana


caranya untuk tidak terpuruk dititik itu terus menerus. Ia berusaha untuk keluar
dari kendala itu dengan mencari data lain dan mencari materi pengolahan data
melalui YouTube. Tak hanya itu, CDW juga menyampaikan bahwa ada juga
kendala internal yang ia alami berupa rasa malas dari dalam dirinya yang sesekali
muncul karena merasa lelah dalam pengolahan data.

“Udah capek males gitu biasane aku main sek sama temen-temen
ben nggak stres, sama aku biasane memotivasi diri sendiri gitu lo,
aku yakin aku pasti bisa pokoke.”

41
“Nek nggak diselingi main bisa pusing banget aku, kadang soale
saking capek’e ngerjain skripsi aku sampe susah tidur, kepikiran.”

Kendala internal yang dialami CDW telah mampu ia atasi dengan bantuan
peran serta dari teman-temannya. Ia meluangkan waktu untuk bermain atau
sekedar nongkrong di burjo untuk saling bertukar cerita, bercanda dan sebagainya.
Ia juga kembali menanamkan rasa semangat dalam dirinya supaya ia kembali
memiliki daya juang untuk melawan rasa malas dan segera menyelesaikan
skripsinya.

Gambar 3. 3 Kedekatan CDW bersama teman-


temannya
(Sumber: Dokumen Pribadi)

Untuk informan mahasiswa lokal ketiga yaitu YAS dari jurusan Teknik
Industri yang telah menyampaikan beberapa kendala dalam pengerjaan skripsi,
yaitu kendala internal yang merasa minder dengan teman-teman yang sudah
sidang akhir serta kendala eksternal yaitu keadaan laptopnya yang sedang tidak
dalam keadaan baik sehingga hal itu menghambat proses pengerjaan skripsinya.

42
“Kadang aku ngrasa down ngrasa tertinggal, tapi aku sadar aku
harus bangkit dari situ karena aku nggak bisa stuck aja kan disini.
Jadi ya aku jadiin motivasi aja.”

“Aku juga menjalin hubungan yang baik aja sama temen-temenku


karena mereka bantu. Saling bantu gitu, malah mereka juga pernah
pinjemin laptopnya.”

Dalam menghadapi setiap permasalahan atau kendala, pasti ada satu atau
lebih strategi yang dilakukan untuk meringankan beban pikiran yang muncul
akibat permasalahan tersebut atau bahkan ada cara untuk mengatasi kendala
tersebut. Hal inilah yang dilakukan YAS dalam menghadapi kendala internal
maupun eksternal yang dialaminya. Ia menyampaikan bahwa motivasi dari dalam
dirinya sangat berpengaruh dalam mengatasi rasa mindernya, ia mencoba
meyakinkan dirinya bahwa ia pasti juga mampu untuk menyelesaikan skripsinya
serta membuat bangga dirinya sendiri serta orang-orang terdekatnya. Untuk
permasalah eskternal, YAS memiliki teman-teman yang peduli akan keadaannya,
hal ini ditunjukkan pada saat teman-temannya dengan tulus dan senang hati
sesekali meminjamkan laptopnya kepada informan. Selain itu YAS juga
menyampaikan bahwa lingkungan pertemanannya adalah orang-orang yang mau
saling bantu serta menjadi tempat curhat satu sama lain untuk mengeluarkan unek-
unek yang terpendam.

“Aku kan juga kadang tu capek gtiu freelance dibarengi kerja, jadi
buat lepas capek aku biasanya main aja sama temen-temen biar bisa
mbalik semangat lagi, ya healing gitu tipis-tipis. Soalnya ya gimana
lagi, kan aku juga harus tetep bertahan selesaiin skripsi, aku juga
harus bertahann tetep kerja soalnya ya butuh uang buat tambahan.”

“Aku kan Katolik, jadi kalo pikiran lagi sumpek banget biasanya aku
Doa Novena biar lebih tenang.”

YAS yang mengerjakan skripsi sekaligus mengambil pekerjaan freelance memang


terasa tidak mudah, ia harus menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa yang

43
wajib penelitian, mengolah data dan menyelesaikan skripsi sekaligus harus tetap
profesional dalam bekerja. Hal yang membuatnya lelah ini dapat ia atasi dengan
cara healing dengan teman-teman dekatnya untuk melepas lelah dan meringankan
beban pikiran dan berdoa untuk menenangkan perasaannya.

RMS mahasiswa Teknik Sipil, CDW mahasiswa Teknik Geodesi dan YAS
mahasiswa Teknik Industri yang telah diwawancarai oleh peneliti memperoleh
hasil bahwa mereka semua mampu mengatasi segala kendala ataupun beban
pikiran yang diakibatkan dari skripsi. Dalam proses pengerjaan skripsi tersebut,
mereka tentu menghadapi beberapa kesulitan atau kendala yang muncul secara
internal maupun eksternal. Kemudian dari hasil wawancara, dapat diketahui
bahwa strategi coping yang mereka lakukan adalah berupa seeking social support,
planful problem solving, accepting responsibility dan self controlling.

Dari penyampaian RMS dari jurusan Teknik Sipil diatas, dapat dilihat
bahwa kesulitan yang ia rasakan adalah dalam pencarian referensi yang yang
mudah diakses, pengolahan dan analisis data serta kekhawatiran yang menjadi
beban pikiran adalah jika terjadi ketidaksesuaian hasil dengan hipotesis. Dari
kendala yang dialaminya ini, RMS selalu memilih mengatasi atau meringankan
beban pikirannya dengan bermain dengan teman-temannya dikarenakan ia merasa
tidak terlalu dekat dengan keluarga dan merasa lebih tenang bila berkumpul
bersama teman-teman ataupun pacarnya, oleh karena itu ia memilih untuk
meringankan beban pikirannya bersama orang-orang pilihan RMS untuk
menyegarkan pikirannya sebelum akhirnya harus kembali melanjutkan tugas
akhirnya.

Informan kedua, CDW mengalami beberapa kesulitan atau kendala dalam


memperoleh data dan pengolahan data adalah kendala eksternal yang tidak
menghalangi semangatnya untuk mencari penyelesaiannya agar tidak terpuruk dan
mampu berprogres. Tak hanya kendala eksternal, CDW pun juga menyampaikan
salah satu kendala internalnya yaitu rasa malas yang muncul akibat merasa lelah
mengolah data. Selain itu kekhawatiran atau kecemasan yang dialami CDW

44
adalah mengenai hasil dari pengolahan yang tidak sesuai harapan. Hal ini
dikarenakan adanya masalah saat melakukan pengolahan atau miss yang
mengakibatkan hasilnya kurang maksimal. CDW termasuk individu yang dekat
dengan keluarga, hal ini ia sampaikan melalui pengalamannya selama ini yang
sering bercerita mengenai apa yang dilaluinya kepada orang tuanya dan diberi
nasihat atau wejangan yang menguatkan serta menumbuhkan semangat kembali.
Namun tak semua hal sulit ia ceritakan kepada orang tuanya karena khawatir akan
membuat mereka terbawa pikiran, maka CDW juga memutuskan untuk bercerita
kepada teman-teman seperjuangannya agar tidak merasa terpuruk dan tidak larut
dalam rasa cemasnya terhadap tugas akhir.

Sedangkan untuk informan ketiga yaitu YAS, ia menjalani pekerjaan


freelance disela-sela pengerjaan tugas akhirnya. Berdasarkan hasil wawancara
dengan YAS, ia merasa minder dengan teman-teman seangkatannya yang sudah
sidang akhir lebih dulu dan telah dapat melalui fase tugas akhir, hal ini membuat
YAS merasa minder akan pencapaian teman-temannya. Adapun kendala yang lain
yaitu berupa atur waktu, hal ini dikarenakan ia juga mengambil freelance untuk
menambah uang sakunya dan mengurangi untuk merepotkan orang tua selain itu
ia juga harus melawan rasa malasnya untuk melanjutkan skripsi karena merasa
lebih senang dalam melakukan pekerjaan freelance-nya. Untuk kendala eskternal,
berupa laptop yang bermasalah sehingga menghambat proses pengerjaan dan
membuat YAS seringkali putus asa karena laptop yang rusak di waktu yang
sangat penting ini. Oleh karena itu ia juga perlu cara yang tepat untuk mengatasi
atau sekedar meringankan beban pikirannya. YAS menyampaikan bahwa motivasi
dari dalam dirinya sangat berpengaruh dalam mengatasi rasa mindernya, ia
mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia pasti juga mampu untuk menyelesaikan
skripsinya serta membuat bangga dirinya sendiri serta orang-orang terdekatnya.
Hal ini dikarenakan orang tuanya telah mempercayakan segala keputusan yang
diambil YAS, maka ia berusaha untuk dapat bertahan dan menyelesaikan segala
tanggung jawabnya termasuk tugas akhir ini. Untuk permasalah eskternal, YAS
memiliki teman-teman yang peduli akan keadaannya, hal ini ditunjukkan pada

45
saat teman-temannya dengan tulus dan senang hati sesekali meminjamkan
laptopnya kepada informan. Selain itu YAS juga menyampaikan bahwa
lingkungan pertemanannya adalah orang-orang yang mau saling bantu serta
menjadi tempat curhat satu sama lain untuk mengeluarkan unek-unek yang
terpendam.

Para informan mahasiswa lokal juga melakukan strategi coping yang


berdasar pada emosi yaitu self controlling dan accepting responsibility. Strategi
yang dikemukakan oleh Lazarus Folkman ini dilakukan dengan cara melakukan
regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan. Contoh dari strategi ini ialah
seseorang yang menghadapi masalah akan selalu berfikir sebelum bertindak
melakukan sesuatu serta sangat menghindari untuk melakukan sesuatu tindakan
secara terburu-buru. Dalam proses wawancara, para informan menyampaikan
bahwa mereka telah melakukan strategi ini agar tetap mampu bertahan
menyelesaikan skripsi dengan baik. Mereka menyampaikan bahwa skripsi tak
selalu berjalan mudah, pasti ada satu atau lebih hal yang akhirnya membebani
pikiran mereka. Oleh karena itu, mereka perlu melakukan regulasi emosi agar
tidak terus berada dalam titik itu dan mampu kembali melanjutkan proses
pengerjaan skripsi. Dalam hal ini, para informan meringankan beban pikiran
mereka dengan bermain bersama teman-teman karena mereka merasa jika tidak
sesekali bermain akan merasa terpuruk dan malas. Meskipun demikian, informan
juga telah mengatur waktunya untuk bermain dan mengerjakan kewajibannya agar
semua dapat tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jadi semuanya telah
diperhitungkan.

Salah satu mahasiswa rantau jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota dari
Painan, Sumatera Barat berinisial VA sempat mengalami beberapa culture shock
dalam perkuliahan dan dikarenakan hal itu ia harus cukup cakap untuk
menyesuaikan diri, mencari penyelesaian, dan mengatasi kendala-kendala yang tak
terduga.

46
“Aku dari kecil kan udah biasa tertib disiplin ya, nah terus disini aku
juga sempet jadi ketua kelas yang sekaligus ketua kelompok. Waktu
aku megang kelompok, itu rasanya cukup bikin capek sih sering
ngga tidur juga. Apalagi ada anggotaku yang ngga tanggung jawab
tiba-tiba ngilang, ada aja alesannya. Jadi ya mau ngga mau aku
harus kerjain tugas dia. Kan dosen ngga mau tau, maunya tugas
yang dikasih beres.”

Semenjak berkuliah, VA mulai dibiasakan oleh keadaan untuk dapat mengatasi


segala sesuatunya. Ia pun juga menyampaikan pengalamannya dalam menghadapi
sifat teman-teman yang beragam, mengejar untuk menyelesaikan deadline yang
saling berdekatan dari tugas satu ke tugas yang lain, makin mengenal dosen dan
lain sebagainya. Dikarenakan segala sesuatu yang telah dilaluinya itu, VA mampu
untuk bersikap tenang dalam menjalani tiap kendala atau beban pikiran.

“Banyak loh temen-temen aku yang pas njalanin skripsi tu sampe


nangis-nangis banget, sampe gerd nya kambuh gitu-gitu. Kalo
menurut aku, mending nangisnya setelah dibantai pas sidang aja
ngga sih. Sebelum dibantai mending beresin dulu skripsinya, siapin
yang perlu disiapin. Ngapain nangis-nangis kan belum tentu yang
ditakutin bakal kejadian.”

“Bahkan h-1 sidang aja aku malah main sama temen-temen,


pokonya apa apa dibawa enjoy aja jangan ambil pusing. Tapi
jangan sampe terlalu santai sih nanti malah kurang persiapannya.”

Informan dari Painan ini beradaptasi dengan segala sesuatunya, baik itu
dalam perkuliahan, lingkup pertemanan, rasa kekhawatiran dan sebagainya.
Kondisi seperti ini telah membuat VA menjadi individu yang pantang menyerah,
memiliki semangat dari dalam dirinya serta mampu mencari penyelesaian atas
kendala yang dialami.

“Sibuk sih emang iya. kalo dulu di asalku aku biasanya me time kalo
stres kalo banyak beban pikiran. Tapi sejak disini aku ada temen

47
yang sefrekuensi, yang receh jadi aku sekarang kalo stres main aja
sama mereka deket-deket aja kok. Aku suka ke ADA, McD,
Superindo, Taman Tirto Agung atau yang seru-seru aja sekitaran
sini aja. Mereka juga lucu banget apa aja dijadiin bahan candaan,
seru sih.”

Gambar 3. 4 VA bersama teman-temannya

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Untuk meringankan beban pikiran dalam proses pengerjaan skripsi VA memiliki


cara tersendiri untuk mengatasinya agar ia dapat terus memiliki semangat dari
dalam dirinya, yaitu dengan main bersama teman-temannya untuk melepas penat.
Ia menyampaikan bahwa teman-temannya adalah orang yang dapat menghibur VA
dengan segala topik candaannya serta saling mendengarkan keluh kesah agar dapat
saling menyemangati dan seringkali memberi solusi. VA sudah merasa cukup
berkeliling, menikmati kuliner, melihat-lihat barang baru di swalayan di sekitar
Tembalang. Ia menyampaikan bahwa Semarang banyak destinasi menarik dan
menyenangkan untuknya yang bisa dijadikan tempat untuk melepas beban pikiran
skripsi.

“Sahabat-sahabatku ini sefrekuensi banget sama aku, sama-sama


receh. Kalo kita lagi jajan, lagi ngeprint sering loh kita bercanda
sama abang-abangnya hahaha. Untung abangnya juga receh, jadi
dapet candaannya.”

48
Dari cerita yang disampaikan VA, ia adalah pribadi yang supel dan mudah
bergaul. Sikap perilaku seperti inilah yang membuatnya dapat tetap menikmati
setiap lika-liku pengerjaan skripsi. Bercanda bersama sahabat-sahabatnya yang
membuatnya dapat tertawa lepas dan tidak merasa terpuruk.

“Kalo ngerjain sesuatu biar makin semangat aku dari dulu suka
sambil dengerin lagu galau.”

VA juga mampu menumbuhkan semangat pengerjaan skripsi sendiri yaitu dengan


mendengarkan lagu galau saat mengetik. Menurutnya lagu galau sangat tenang dan
nyaman untuk didengarkan. Terlebih lagi ia merasa hiruk pikuk Semarang
sesekali membuatnya lelah dan ingin tenang dengan mendengarkan lagu galau
yang melodinya menenangkan dapat membuat perasaannya nyaman dan tenang.
Oleh karena itu, jika ia merasa lelah mengerjakan tanggung jawabnya ini dan
malas untuk keluar kos untuk menyegarkan pikirannya, ia biasanya mendengarkan
lagu-lagu pilihannya agar dapat mengerjakannya dengan perasaan yang tenang dan
fokus.

Kecemasan atau kekhawatiran juga dirasakan informan kelima yaitu RDR.


Diatas telah disampaikan mengenai apa saja yang menjadi kekhawatiran ataupun
kendala RDR dalam proses pengerjaan skripsi. Hal ini tentu membuatnya harus
memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya serta meringankan beban pikiran agar
tidak terpuruk.

“Aku ngga mungkin cerita kesusahanku selama kuliah ke keluarga,


soalnya keluarga pengennya aku bisa survive disini jadi ya aku kalo
sama keluarga ceritain yang baik-baiknya aja.”

“Aku sering ngerasa capek sih apalagi kan aku sering dibanding-
bandingin juga sama kakakku. Jadi cara paling tepat buatku ya
dapetin temen-temen sefrekuensi disini terus bisa diajak bercanda,
curhat, saling bantu juga sesekali.”

“Aku juga biasanya motoran buat liat citylight atau ngga dateng ke
tempat-tempat baru. Tapi kalo di Semarang aku lebih seneng dan

49
nyamannya motoran malem-malem soalnya udara disini kalo siang
kan panas banget ya, jam 11 siang aja udah panas banget
menurutku.”

Ia biasanya bermain sekaligus berkeluh kesah dengan teman-teman


dekatnya untuk meringankan beban pikiran, serta sesekali me time dengan
berbagai cara salah satunya dengan berkeliling kota Semarang di malam hari
sendiri. Cara yang ia lakukan untuk meringankan beban pikiran ini telah ia
lakukan sejak sebelum merantau, ia biasanya melibatkan teman sebagai tempat
ternyamannya untuk mengeluarkan unek-unek dalam dirinya, sekaligus ia juga
menumbuhkan motivasi dalam diri sendiri agar makin memiliki rasa semangat dan
tidak terpuruk.

Gambar 3. 5 RDR saat menikmati suasana malam Kota Semarang


(Sumber: Akun Instagram RDR)
Jauh dari kota asal memanglah
bukan hal yang mudah bagi semua orang, harus memulai hidup mandiri, belajar
memahami hal-hal baru di kota rantau, menyesuaikan orang-orang yang berada di
lingkungan baru tersebut dan lain sebagainya. Menyesuaikan diri di lingkungan
yang baru dialami oleh SH mahasiswa arsitektur dari Kota Serang. Selama
merantau, ia seringkali rindu akan rumah, keluarga, lingkungan kota asalnya
namun hal itu dapat teratasi dengan cara tersendiri dari SH yaitu dengan tidur.
Selain itu, dulu saat ia masih berada di kota asalnya, ia senang bermain gitar untuk

50
menenangkan pikiran. Namun semenjak merantau hal tersebut tidak bisa
dilakukan di kost karena akan mengganggu tetangga kost.

“Dulu kalo dirumah aku suka main gitar sambil nyanyi buat lepasin
capek pikiranku, tapi semenjak kuliah udah ga pernah soalnya takut
ganggu anak-anak kos.”

“Aku paling penting ngga pernah lupain sholat, buat nenangin diri
sama serahin semua ke Allah.”

Karena hal itu, kini tiap kali ia merasa lelah akan skripsi ia selalu tidur sejenak
untuk menenangkan pikirannya dan setelah itu baru ia merasa memiliki tenaga
kembali untuk melanjutkan mengerjakannya. Dan salah satu kebiasaan wajib yang
dapat menenangkan suasana hatinya adalah sholat, dengan menyerahkan segala
usahanya kepada Allah.

“Buat nenangin pikiran yang lagi capek, lebih suka tidur sih aku.
Apalagi aku sidangnya 4 kali jadi mau nggak mau aku harus bener-
bener bisa atasin rasa khawatir, panik, capekku pas lagi nyiapin itu
semua. Ya dengan tidur menurutku itu cara itu paling efektif di aku.”

“Kalo kemarin pas aku mau sidang, itu deg-degan banget antrinya.
Aku kalo udah deg-degan gitu gamau ada orang banyak buat
nenangin aku. Kalo nglibatin orang malah aku jadi tambah nervous,
aku biasanya menyendiri tenangin diri dulu. Jadi aku tenangin diri
sendiri, tarik nafas dalem, yakinin diri pasti bisa.”

Sejauh ini, SH lebih nyaman untuk menyendiri dan menenangkan pikirannya


dengan istirahat sejenak. Ia mengatakan bahwa dengan tidur ia dapat melupakan
masalahnya sejenak dan setelah bangun dari tidurnya ia menjadi lebih fresh dan
memiliki tenaga kembali untuk melanjutkan skripsinya.

51
Gambar 3. 6 SH berhasil melawan rasa
cemasnya dalam menjalani sidang
(Sumber: Dokumen Pribadi)

“Mau keliling Semarang naik motor juga takut, orang-orang sini


menurutku kalo dijalan ugal-ugalan, pada ngga sabaran juga. Jadi
cari aman aja deh di kos. Padahal aku suka motoran kalo di Serang,
seru aja gitu keliling-keliling.”

Wawancara ini telah dilakukan kepada tiga mahasiswa rantau yaitu VA


mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota dari Painan, RDR mahasiswa Teknik
Mesin dari Cimahi dan SH mahasiswa Arsitektur dari Serang. Dalam
penyampaiannya, mereka memiliki kendala masing-masing baik itu dalam
penyesuaian diri di kota perantauan maupun dalam proses pengerjaan skripsi.
Untuk mengatasi hal-hal tersebut mereka melakukan beberapa strategi coping
yang tak jauh berbeda dari mahasiswa lokal diatas yaitu seeking social support,
planful problem solving, accepting responsibility dan self controlling.

Seeking social support adalah strategi coping yang berfokus pada masalah
yang dilakukan dengan cara melibatkan lingkungan sekitarnya untuk memberi
dukungan emosional, bantuan ataupun berupa informasi yang membantu.
Merantau memang bukanlah hal yang mudah bagi semua orang, berada jauh dari
keluarga dan harus hidup mandiri di kota orang mengharuskan mereka untuk
dapat mengatasi segala sesuatunya sendiri ataupun melibatkan orang-orang baru
di sekitarnya. Ketiga informan mahasiswa rantau yang telah diwawancarai ini
menyatakan bahwa memang peran orang lain efektif dalam meringankan beban

52
pikiran. Ada seseorang atau lebih yang perhatian terhadap mereka membuat
mereka tidak berjuang sendiri dan tidak kesepian. Selain itu mereka memiliki
teman-teman yang dianggap sudah cocok untuk saling berkeluh kesah atau curhat
serta melepas penat dengan bermain. Untuk informan asal Painan, VA yang
mengalami beberapa kendala dalam pengerjaan tugas akhir selalu ia ceritakan
kepada teman-teman sejurusannya. Sebelum merantau, ia biasanya meringankan
beban pikiran serta mengatasi kesulitan tanpa bantuan orang lain. Namun saat
berkuliah di Semarang, VA menemukan banyak teman yang dirasa cocok
dengannya dan semenjak itulah ia melibatkan teman-temannya dalam
meringankan masalah yang sedang dihadapi. Bersama teman-temannya, VA
biasanya berkeliling daerah Tembalang yang mama tidak perlu jauh-jauh dari kos
yang terpenting bisa berkumpul bersama teman-temannya untuk bercanda gurau,
saling menceritakan keluh kesah, dan bertukar informasi mengenai hal-hal yang
bersangkutan dengan tugas akhir.

Strategi ini juga dilakukan RDR, mahasiswa asal Cimahi dengan cara
bermain bersama teman-temannya agar tidak merasa putus asa dan tidak kesepian.
Ia mengalami kesulitan hambatan dalam hal keluarga yang selalu mendesaknya
untuk mewujudkan ekspetasi keluarga, selain itu adapula hal lain yaitu RDR
merasa asistensi yang belum terlalu berprogres serta ia belum menyelesaikan mata
kuliah yang menjadi syarat untuk pengerjaan skripsi jadi hal itu membuatnya
untuk masih mengambil mata kuliah tersebut sebelum lanjut ke progres
pengerjaan. Mata kuliah wajib terbagi menjadi empat yaitu perancangan, material,
produksi dan konversi energi. Untuk mengatasi beban pikiran yang diakibatkan
karena pengerjaan tugas akhir, RDR biasanya bermain sekaligus berkeluh kesah
dengan teman-teman dekatnya untuk meringankan beban pikiran, serta sesekali
dengan berkeliling kota Semarang di malam hari. Cara yang ia lakukan untuk
meringankan beban pikiran ini telah ia lakukan sejak sebelum merantau, ia
biasanya melibatkan teman sebagai tempat ternyamannya untuk mengeluarkan
unek-unek dalam dirinya, sekaligus ia juga menumbuhkan motivasi dalam diri
sendiri agar makin memiliki rasa semangat dan tidak terpuruk.

53
Untuk SH, mahasiswa asal Serang ia sempat mengalami homesick dan
beberapa kali menangis seorang diri di dalam kamar kos. Ia menyampaikan bahwa
pada awalnya cukup sulit untuk menyesuaikan diri di perantauan, SH rindu
suasana rumah, suasana lingkungan Serang dan rasa aman nyaman saat bersama
keluarga maupun kerabat dekatnya. Meskipun merindukan hal-hal yang ada di
kota asalnya, SH tidak selalu menghubungi keluarganya. Ia mencoba
membiasakan diri untuk hidup sendiri di kota yang jauh dari keluarga, ia pun tidak
pernah berusaha mengatasi atau menahan tangis yang dialami karena dengan
menangis itulah ia dapat kembali tenang tanpa menahan perasaan yang dirasakan.
Untuk mengatasi atau meringankan beban pikiran akibat tugas akhir, SH
membutuhkan kehadiran pacar, teman hingga keluarga. Dukungan itu dapat
berupa telepon, chat, hingga video call. Sesekali ia juga membutuhkan kehadiran
teman-teman di Semarang yang sejurusan dengannya untuk bermain serta saling
menyampaikan dan mendengarkan kendala atau hambatan satu sama lain.

Planful problem solving yaitu mengatasi masalah dengan melakukan usaha


tertentu yang memiliki tujuan untuk mengubah suatu keadaan dalam
menyelesaikan masalah. Strategi ini dilakukan oleh para informan dengan caranya
masing-masing. Para informan menghadapi beberapa kendala atau kesulitan yang
pada akhirnya membebani pikiran mereka dan membuat mereka merasa lelah
sehingga malas untuk terus melanjutkan kewajibannya. VA dan RDR
melakukannya dengan cara bermain sebentar agar meringankan beban pikirannya
sebelum akhirnya kembali melanjutkan mengerjakan skripsi, sementara SH lebih
memilih tidur guna istirahat sejenak agar rasa lelahnya teratasi dan dapat kembali
memperoleh rasa semangatnya setelah terbangun.

Dalam mengerjakan tugas akhir, mahasiswa akan mengalami satu atau


lebih kendala yang terjadi secara internal maupun eksternal. Begitupun yang
dialami VA, ia menyampaikan bahwa selama pengerjaan tugas akhir ia diserahkan
pada dosen pembimbing yang tak sesuai dengan judulnya hal ini mengakibatkan
saat sidang ia mendapat banyak revisi dari dosen penguji. Dalam menyikapi hal
ini, VA hanya bisa pasrah dan tetap mencoba menikmati tiap progresnya. Ia

54
menyampaikan bahwa tidak dapat mengajukan penggantian dosen pembimbing,
maka yang dapat ia lakukan adalah tetap mengikuti tiap arahan dari dosen
pembimbing dan menerima revisi dari penguji. Walaupun sempat putus asa, tetapi
informan menyampaikan bahwa dosen pembimbingnya banyak membuat
perasaannya lega karena mudah ditemui dan tidak ketus. Selain itu dikarenakan
selama di Semarang ini ia memiliki banyak teman yang cocok dengannya, maka ia
memilih untuk menenangkan dirinya dengan bermain serta saling curhat satu
sama lain. Tak hanya dengan peran serta orang lain, VA juga mampu untuk
meringankan beban pikirannya dengan dirinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan
mendengarkan musik galau yang melodinya menenangkan dibarengi dengan
mengerjakan tugas akhir.

RDR, mahasiswa asal Cimahi mengalami kesulitan hambatan dalam hal


keluarga yang selalu mendesaknya untuk mewujudkan ekspektasi keluarga, selain
itu adapula hal lain yaitu RDR merasa asistensi yang belum terlalu berprogres
serta ia belum menyelesaikan mata kuliah yang menjadi syarat untuk pengerjaan
skripsi jadi hal itu membuatnya untuk masih mengambil mata kuliah tersebut
sebelum lanjut ke progres pengerjaan. Mata kuliah wajib terbagi menjadi empat
yaitu perancangan, material, produksi dan konversi energi. Karena RDR
mengerjakan tugas akhir dengan tema perancangan, maka ia wajib untuk telah
mengikuti mata kuliah perancangan sistem mekanik. ia mengeluhkan mengenai
sistem yang ia alami yaitu mengenai berlomba-lomba meraih skor tinggi yang
mengharuskan ia bersaing dengan mahasiswa lainnya. Bersaing skor diperoleh
dari IPK saat mengambil TA (tugas akhir) dikali dengan jumlah SKS, dan skor
yang paling tinggi dapat dengan bebas memilih dosen pembimbingnya. Dosen
pembimbing juga telah menentukan kuotanya masing-masing, jika hanya
membuka kuota untuk tiga orang mahasiswa maka dipilih berdasarkan skor yang
berada dari peringkat satu sampai tiga. Dan yang berada di peringkat keempat
keatas, akan dialihkan ke pembimbing pilihan kedua dan seterusnya. Untuk
mengatasi beban pikiran yang diakibatkan karena pengerjaan tugas akhir, RDR
biasanya bermain sekaligus berkeluh kesah dengan teman-teman dekatnya untuk

55
meringankan beban pikiran, serta sesekali dengan berkeliling kota Semarang di
malam hari karena udara siang hari di Semarang sangat panas terik berbeda
dengan di Cimahi. Cara yang ia lakukan untuk meringankan beban pikiran ini
telah ia lakukan sejak sebelum merantau, ia biasanya melibatkan teman sebagai
tempat ternyamannya untuk mengeluarkan unek-unek dalam dirinya, sekaligus ia
juga menumbuhkan motivasi dalam diri sendiri agar makin memiliki rasa
semangat dan tidak terpuruk.

Informan selanjutnya, SH yang berasal dari Serang menyampaikan


beberapa kesulitan atau kendalanya salah satunya terletak pada dirinya yang
sangat mudah gelisah. Dalam berjuang meraih gelar sarjana arsitekturnya, ia harus
melewati empat sidang yaitu sidang proposal, LP3A, eksplorasi desain dan
presentasi akhir. SH menyampaikan bahwa hal ini termasuk sulit baginya, yang
mana ia sangat sering mual dan lemas jika mendekati sidang ataupun presentasi
produk. Untuk mengatasi hal ini, SH harus menenangkan dirinya sendiri tanpa
melibatkan orang lain. Hal ini dikarenakan jika melibatkan terlalu banyak orang
lain untuk menenangkan disaat detik-detik sidang, ia merasa akan lebih gelisah
atau nervous dan merasa tidak enak karena merepotkan orang lain. Saat
pengerjaan tugas akhir, ia seringkali merasa tidak bersemangat mengerjakan
karena merasa lelah untuk berpikir. Untuk hal ini, ia atasi dengan tidur di kos
untuk mengembalikan semangatnya selain itu ia juga sesekali menelepon
pacarnya, ataupun bermain dengan teman-teman sejurusannya agar sekaligus
dapat membahas topik mengenai tugas akhir.

3.2 Peran Sosial Budaya dalam Pemilihan Strategi Coping


Budaya ialah ciri atau identitas dari sekumpulan orang yang mendiami
wilayah tertentu. Budaya timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat
secara berulang sehingga membentuk suatu kebiasaan yang pada akhirnya menjadi
sebuah budaya dari masyarakat itu sendiri. Budaya yang telah terbentuk itu akan
masuk dan mengakar di dalam kehidupan manusia, sehingga tanpa kita sadari
budaya ini telah mempengaruhi kehidupan manusia. Kehidupan sosial budaya

56
sangat mempengaruhi manusia dalam berperilaku. Banyak perilaku-perilaku
manusia yang dipengaruhi oleh budaya, salah satunya adalah strategi coping.
Strategi ini sering dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman dalam
menghadapi masalah, faktor lingkungan, kepribadian, konsep diri, faktor sosial
dan sejenisnya sangat berpengaruh pada kemampuan individu dalam
menyelesaikan masalahnya.

Informan pertama, RMS yang mengalami beberapa kesulitan dan


kekhawatiran dalam pengerjaan skripsi merasa lebih nyaman dan lega jika sudah
berkeluh kesah dengan teman-teman terdekat serta pacar, tak hanya itu ia juga
menyampaikan bahwa teman dan pacarnya lah yang berperan besar dalam
memberi semangat selama proses pengerjaan skripsi beserta kekhawatiran
kesulitan yang dialami.

“Aku memang jarang ngobrol sama keluarga apalagi sampe


sambat gitu soalnya keluargaku tertutup, aku lebih nyaman sama
temen-temen, sama pacar juga. Bisa lebih los kalo sama mereka.”

RMS sebagai mahasiswa lokal yang biasanya dipandang orang sekitar memiliki
segala kenyamanan karena tinggal bersama keluarga nyatanya tak seperti
kelihatannya. Ia bahkan menyampaikan bahwa keluarga tak tahu sama sekali apa
saja yang ia alami selama proses pengerjaan skripsi. Namun ia memiliki beberapa
teman sebaya yang mengerti kesulitan dan kekhawatirannya, dan melalui teman-
temannya itulah ia dapat menjadi pribadi yang mampu meringankan beban
pikirannya dan tidak terpuruk. Walaupun RMS tumbuh dan besar di lingkungan
keluarga yang tertutup, ia memiliki lingkungan pertemanan yang membangun
semangat serta berpengaruh positif yang telah membuat RMS menjadi individu
yang mampu terbuka dan merasa nyaman untuk melepas beban pikirannya.

CDW informan kedua, mahasiswa lokal asal Kota Semarang dari jurusan
Teknik Geodesi adalah individu yang berasal dari keluarga yang terbuka dan
tegas. Keluarga sebagai lingkungan terdekat memang memberi pengaruh besar
kepada seseorang, terlebih lagi keluarga adalah tempat kita menerima suatu

57
kebudayaan dan dapat membentuk tingkah laku seseorang dalam kehidupan
bermasyarakat. Keluarga CDW ialah keluarga yang dengan tegas mengajarkan
Candra bagaimana ia harus tetap harus semangat berjuang tanpa mengenal putus
asa.

“Aku kadang emang cerita kesulitanku selama njalani skripsi, tapi


ngga sepenuhnya tak ceritain.”

“Sejak kecil aku emang diajarin buat mandiri tapi tetep inget kalo
ada orang-orang terdekat yang peduli sama aku dan ngebuat aku
ngga ngrasa sendirian.”

Lingkungan terdekat CDW, yaitu keluarga telah memberi pemahaman


bahwa hidup mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain itu perlu. Hal
ini juga yang membuat CDW merasa pemberi semangat terbesar dalam pengerjaan
skripsi ialah motivasi dari dalam dirinya sendiri.

“Orang tua biasanya ngomong ke aku alon-alon sing penting


kelakon, omongan kayak gitu yang ngebuat aku bisa terus jalan
kerjain skripsi. Kalo ngrasa stres apa capek ya istirahat dulu, main
gitu.”

“Aku pokonya selalu nanemin dipikiranku kalo aku pasti bisa, sak
susah-susahe skripsi kalo dikerjain ya pasti selesai og. Pokonya
terus semangat jangan putus asa, cuma diri sendiri yang bisa lawan
rasa males.”

YAS, informan ketiga dari Teknik Industri yang memiliki sifat mandiri dan
pantang menyerah. Hal ini terlihat dari penyampaiannya yang menyatakan bahwa
ia rela mengambil freelance disela-sela pengerjaan skripsi untuk menambah uang
sakunya dan dapat mengurangi beban orang tuanya. Dalam pengerjaan skripsinya,
YAS tetap berusaha untuk dapat mengatur waktu dalam pengambilan job
freelance sekaligus proses penyelesaian skripsinya. Ia pun dapat kembali
menumbuhkan semangat dari dalam dirinya sendiri untuk melanjutkan pengerjaan
skripsinya disaat sempat terhambat rasa minder melihat teman-temannya yang

58
telah sidang. Namun dibalik kemandirian yang ia miliki, ia juga menyampaikan
bahwa peran keluarga dan teman-temannya sangat berpengaruh untuknya, karena
ia merasa banyak dukungan dari lingkungan terdekatnya serta tidak merasa
berjuang sendirian.

“Orang tua ku sih ngasih rasa percaya banget ya ke aku, jadi


freelance sambil skripsian tetep aman. Dan kalo udah dipercaya gitu
aku malah makin semangat buat ngasih hasil yang terbaik. Tapi kalo
emang lagi ada kesulitan ngolah data atau cari data gitu aku sempet
beberapa kali sambat ke ayahku, ya ayahku nyemangatin aku gitu,
keluarga perhatian gitu ke aku.”

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti kepada tiga informan,


ketiganya memiliki keadaan keluarga yang berbeda. Lingkungan keluarga yang
sangat dekat dan bahkan tinggal bersama dengan mereka tentunya akan
mempengaruhi bagaimana mereka bertindak atau berperilaku serta mengambil
keputusan. Dalam keluarga Jawa, mereka sangat mengutamakan ajaran sopan
santun dalam mendidik anaknya. Orang tua di keluarga Jawa menurunkan budaya
sopan santun agar anaknya dapat tumbuh menjadi pribadi yang dapat
bersosialisasi dan diterima dengan baik di masyarakat. Para orang tua Jawa sering
memberi wejangan dan tindakan nyata bagaimana sesuatu seharusnya dilakukan.
Tak heran, jika kebanyakan orang Jawa mampu membangun relasi yang baik
karena kebanyakan dari mereka menjaga perasaan orang lain, berusaha tidak
menyinggung lawan bicara, dan cenderung memiliki rasa tidak enakan.
Diawali dengan informan pertama yaitu RMS yang mengalami kesulitan
skripsi dalam mencari referensi yang mudah diakses, proses pengolahan dan
analisis data serta kekhawatiran yang menjadi beban pikiran adalah jika terjadi
ketidaksesuaian hasil dengan hipotesis. Untuk menghadapi kendala atau beban
pikirannya dalam mengerjakan skripsi, RMS menggunakan strategi coping
seeking social support yangmana ia memerlukan dukungan dari teman-temannya,
ia merasa lebih nyaman dan lega saat telah berkumpul dengan teman-teman atau
pacarnya karena RMS tidak dekat dengan keluarga dan bahkan saling menutup

59
diri. Hal ini yang membuatnya merasa tidak nyaman untuk melepas beban
pikirannya dengan keluarga, tetapi walaupun demikian ia tidak merasa terpuruk
karena dapat bergaul dengan teman-teman disekitarnya. Ia mampu beradaptasi
dan membangun hubungan baik dengan sekitarnya dengan baik karena sejak kecil
ia sudah diajarkan untuk memiliki perilaku kebiasaan yang baik seperti
menghargai lawan bicara, memikirkan perasaan orang lain, berhati-hati dalam
berbicara, dan hal itulah yang membuat RMS memiliki banyak teman di
kesehariannya. RMS tumbuh besar di lingkungan keluarga yang tertutup, dan hal
itu membuatnya ingin mendapat kenyamanan di luar rumah yang kini telah ia
dapatkan. Tak hanya itu, RMS juga menerapkan strategi accepting responsibility
dan planful problem solving yang ia tunjukkan melalui tindakannya yang dengan
tekun dan giat berusaha untuk menyelesaikan skripsi. Hal ini telah ditanamkan
oleh keluarga dalam diri RMS sejak ia masih kecil untuk selalu bertanggung
jawab akan segala hal yang memang harus dilalui dan memiliki keyakinan bahwa
ia mampu untuk menyelesaikan hal tersebut dan mengingat nasihat-nasihat orang
tuanya.
Beda halnya dengan CDW yang cukup dekat dengan keluarganya dan dapat
meluapkan rasa lelahnya dengan bercerita tentang apa yang dihadapinya kepada
orang tua. CDW yang memiliki kendala dalam hal memperoleh data dan
pengolahan data karena ada cara yang tidak diajarkan selama perkuliahan, selain
itu adapun kendala internal dimana CDW merasa malas untuk mengerjakan
skripsinya. Kendala-kendala ini nyatanya dapat ia atasi dengan dukungan dari
orang-orang sekitarnya, bermain dengan teman-teman, memotivasi diri sendiri
dan bercerita kepada orang tua yang akhirnya ia memperoleh nasihat untuk
kembali semangat. Didalam keluarga yang merupakan keluarga Jawa, ia dididik
untuk tak pernah putus asa sesusah apapun cobaannya dan orang tuanya selalu
mengatakan bahwa mereka selalu ada untuknya jadi jangan pernah merasa
berjuang sendiri. Orang tua CDW adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang
lemah lembut dalam bertutur ataupun dalam memberi nasihat kepada anaknya.
Bagi orang Jawa bagaimana mereka mendidik karakter anak tentunya akan
disesuaikan dengan budaya yang mereka yakini, yaitu budaya Jawa.

60
Bagi para orang tua Jawa, mereka tidak hanya memberikan nasihat pada
anak-anaknya tentang karakter apa dan mana yang dianggap sesuai oleh
masyarakat, tetapi juga berusaha untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-
hari. Bagi mereka, pituduh (wejangan) tidak akan berhasil jika hanya diucapkan
saja, tanpa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. CDW sebagai anak tunggal
dan cukup dekat dengan orang tuanya membuat ia sangat memahami bahwa ialah
satu-satunya harapan orang tuanya. Ia sadar akan harapan orang tua terhadap
dirinya serta dorongan dari dalam diri sendiri untuk ingin terus berprogres dan
membuat dirinya dan orang tua bangga akan pencapaiannya. Orang tuanya sering
memberi wejangan atau nasihat dengan tujuan untuk menguatkan dan memberi
semangat CDW, hal inilah yang membuat ia nyaman untuk bercerita mengenai
rasa lelahnya kepada orang tua. Untuk dapat terus bertahan, ia telah menemukan
strategi-strategi coping yang tepat, yaitu memotivasi diri sendiri karena telah
diajarkan sejak kecil untuk bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
menjadi kewajibannya, bercerita atau berkeluh kesah dengan orang-orang terdekat
karena orang Jawa biasanya dikenal cakap dalam bercerita dan CDW pun
mengingat nasihat orang tuanya yaitu bahwa orang tua selalu mau mendengarkan
dan memberi nasihat ataupun motivasi agar semangatnya kembali, dan bermain
bersama teman-teman yangmana CDW memiliki banyak teman karena
perilakunya yang sopan atau mampu menempatkan diri dan menghargai orang
lain.
Informan mahasiswa lokal yang ketiga yaitu YAS, sangat diberi kebebasan
dan kepercayaan dari kedua orang tuanya. Dalam wawancara yang telah
dilakukan, ia menyampaikan bahwa selama menjalani skripsi ia tidak merasa
terbebani oleh tekanan-tekanan dari orang-orang terdekatnya. YAS menjalani
skripsi dibarengi dengan pekerjaan freelance yang ia ambil, dan hal itu ia lakukan
untuk meringankan beban orang tuanya dikarenakan adiknya juga berkuliah.
Selain itu, orang tua juga membebaskan YAS untuk bekerja dimasa-masa
kuliahnya, orangtuanya percaya bahwa YAS telah memiliki persiapan untuk
kedepannya dan telah memikirkan matang-matang sebelum mengambil
keputusan. Kepercayaan yang diberikan padanya ini justru membuat YAS makin

61
hati-hati dalam membuat setiap keputusan dalam hidupnya karena ia tidak mau
mengecewakan orang tuanya, sekalipun ada satu atau lebih hal yang
mengecewakan ia akan berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahan
tersebut. Dalam ajaran keluarganya yang merupakan keluarga Jawa, ia dididik
untuk menjadi anak yang sopan, terbuka dengan orang tua, mandiri, bertanggung
jawab. Ajaran-ajaran yang ditanamkan keluarga kepadanya yaitu mengenai
tanggung jawab terhadap pilihannya, merencanakan rencana yang matang
sebelum bertindak, dan bersikap sopan terhadap orang lain untuk membangun
relasi yang baik. Hal itu membuat YAS untuk memilih beberapa strategi coping
yang tepat selama pengerjaan skripsi yaitu planful problem solving, accepting
responsibility, self controlling dan membutuhkan dukungan atau peran serta orang
orang terdekat untuk meluapkan isi hatinya atau disebut juga seeking social
support.
Berdasarkan ketiga informan lokal yang berasal dari keluarga Jawa, mereka
telah diajarkan hal-hal baik sesuai dengan budaya yang berlaku di masyarakat
oleh keluarganya. Mulai dari bertutur kata yang baik, menghargai orang lain,
berhati-hati dalam berucap agar tidak menyinggung, menjaga hubungan baik
dengan sesama karena sadar akan perlunya kehadiran orang lain, dan bertanggung
jawab atas pilihan yang telah diambil, tidak bersikap ceroboh. Ajaran-ajaran
dalam keluarga Jawa itu membuat para informan melakukan strategi coping
planful problem solving, accepting responsibility, self controlling, dan seeking
social support. Strategi-strategi itu dilakukan atas dasar kebiasaan perilaku
mereka yang telah ditanamkan oleh orang tua.
Informan RMS, CDW dn YAS menyampaikan bahwa mereka seringkali
bermain bersama teman-teman ataupun menikmati suasana kota Semarang. Hal
yang mereka lakukan ini termasuk tren yang sedang marak di kalangan anak
muda saat ini yaitu nongkrong dan mengunjungi tempat-tempat menarik karena
ada rekomendasi dari sosial media seperti TikTok dan Instagram. Hal ini tentu
melibatkan budaya anak jaman sekarang yang sering dilakukan untuk melepas
penat, bertemu dengan teman-teman ataupun menikmati hingga berfoto di tempat-

62
tempat yang menarik di Semarang. Peran sosial media juga mempengaruhi para
informan dalam pemilihan strategi coping.

“Ya emang nyaman nongkrong sih, di coffeeshop gitu, sambil


ngobrol sama temen-temen sesekali juga sambil bawa laptop kerjain
bareng. Apalagi kan sekaramg banyak ya coffeeshop yang buka 24
jam jadi lebih enak sih, ga takut diusir hahaha.” (RMS)

“Nongkrong sih udah pasti ya, aku biasanya di warmindo atau burjo
sama temen-temen. Nek udah sama temen-temen rasane lebih lega
terus juga sering ngga kerasa tiba-tiba udah malem. Kadang-kadang
aku sama temen-temen juga motoran bareng, kan di sosmed banyak
rekomen tempat bagus gitu. ya aku sama yang lain coba kesana.
Refreshing biar ga capek mikir skripsi.” (CDW)

“Kayak yang udah tak ceritain tadi, aku ngringanin beban


skripsianku tu caranya healing kemana gitu sama temen-temen.
Apalagi ya cewe tau sendiri deh, kalo ada tempat lucu rasanya
pengen kesana. Muncul biasanya di FYP TikTok atau ngga explore
IG (Instagram) atau ngga cari-cari aja tempat lucu di catatan cafe
(akun Instagram yang merekomendasikan tempat-tempat menarik di
Semarang) tu loh langsung ajak bestie-bestie buat kesana terus
rencanain harinya gitu biar pas sama-sama selo dan bisa semua.”
(YAS)

Mahasiswa rantau yang mengalami perubahan sosial budaya harus cukup


cakap dalam menyikapi segala sesuatunya agar ia dapat terus menikmati setiap
prosesnya dan menyelesaikan perkuliahannya, hal ini dialami oleh VA. Saat ia
masih berada di daerah asalnya yaitu Painan, ia terbiasa untuk mengerjakan segala
tugasnya sendiri dan ia tidak pernah menunda tugas-tugasnya tersebut. Selain itu
ia juga sudah terbiasa untuk disiplin waktu, segala sesuatu ia atasi sendiri termasuk
kebiasaannya dalam meringankan beban pikiran pun ia lakukan dengan cara me
time.

63
“Sejak kecil aku udah dibiasain tertib disiplin sih soal tugas atau PR sama
orang tuaku. Soalnya dulu tiap akhir pekan aku selalu diajak pergi gitu,
jadi supaya waktu pergi pikiranku tenang, harus kerjain tugas-tugas atau
PR dulu. Biasanya pulang sekolah aku langsung kerjain biar ngga lupa
juga.”

“Aku dulu waktu di sana (Painan), kalo lagi stres tu lebih suka me time
entah itu nonton YouTube, dengerin musik. Nah setelah di Semarang, aku
ada banyak temen, jadi ya sering juga ringanin beban pikiran sama
mereka dengan cara jalan-jalan, kulineran.”

“Tapi bukan berarti tiap ringanin beban pikiran aku harus sama temen-
temen, aku juga masih sering me time di kos. Dengerin lagu galau aja
sambil kerjain tugas akhir, enak gitu lho musiknya melow-melow bikin
perasaan tenang.”

Namun saat berkuliah di Semarang tepatnya di Universitas Diponegoro, ia


menemukan teman-teman yang cocok dengannya dan kini ia sering meluangkan
waktu untuk menikmati waktu bersama sekaligus melepas beban pikiran sejenak
sebelum nantinya melanjutkan mengerjakan skripsi. Ia merasa nyaman
mencurahkan keluh kesahnya serta bermain mengelilingi tempat menarik di
Tembalang, dan hal ini sangat meringankan beban pikirannya. VA juga saling
bantu dengan teman-temannya mengenai tugas akhir, mereka saling peduli.

“Waktu SD, aku kan termasuk siswa yang sering dapet ranking. Orang
tuaku selalu bilang ke aku jngan pelit ilmu sama temen-temennya.
Akhirnya ya aku sering ngajarin temen-temenku pake bahasaku sendiri,
alhamdulillah seneng sih bisa bantu orang lain. Jadi kebiasa sampe
sekarang”

“Temenku seangkatan ini ada yang dia tu bingung sampe buntu banget.
Judul aja belum nemu, tapi dia udah ngrencanain kebaya buat wisudaan
hahaha. Aku sama temen-temen yang lain sampe nawarin bantuan ke dia
buat bikin latbel tapi dia yang nggak mau.”

64
Selama proses pengerjaan tugas akhir, VA tetap peduli dengan teman-
teman disekitarnya. Ia mau dengan senang hati membantu, dan begitu pula dengan
teman-temannya yang membantu VA. Hal ini sudah melekat pada diri VA sejak ia
duduk dibangku Sekolah Dasar yang mana ia menjadi tutor seumuran bagi teman-
teman sekelasnya. Ia dan teman-teman saling bercerita mengenai kendala atau
kesulitan masing-masing dan mau saling bantu dapat terus berprogres. Saat ia
merasakan kesulitan dalam pengerjaan skripsi, tak melupakan kebiasaan lamanya
untuk me time, ia tetap menyempatkan untuk me time dengan cara mendengarkan
lagu galau yang musiknya dapat menenangkan pikiran dan perasaannya.

Proses penyesuaian diri juga dialami oleh RDR yang diawal merantau ia
merasa tidak terbiasa dengan cuaca yang lebih panas serta makanan yang tidak
sesuai selera. Selain itu, RDR juga tidak terbiasa jauh dari keluarga yang
menyebabkan ia sesekali merasa homesick. Untuk mengatasi hal itu, biasanya
dilakukan dengan menelepon keluarga dirumah ataupun mengalihkan pikirannya
dengan cara melakukan suatu kegiatan misalnya dengan main bersama teman.
RDR tumbuh besar di lingkungan keluarga yang terbuka dan itu membuatnya
merasa dekat dengan keluarga. Namun, keluarganya juga menaruh banyak
ekspetasi kepada RDR yang terkadang membuatnya merasa tidak nyaman dan
menjadi beban pikiran. Karena ia merasa cukup lelah pikiran dalam perkuliahan
serta dalam lingkungan keluarga, maka ia lebih nyaman untuk melampiaskannya
dengan main bersama teman ataupun menikmati waktu sendiri.

“Keluarga sering cerita ekspektasinya sama aku, kayak harus lulus


tepat waktu, skripsi yang harus secepatnya selesai yang kadang
tanpa nglihat masalah apa yang lagi aku alami, kadang juga aku
dibandingin sama kakak dalam bidang pelajaran.”

Keluarga memanglah salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan


strategi coping, karena didalam keluargalah seorang individu mendapat suatu
kebiasaan dalam berperilaku. SH yang tumbuh besar di Kota Serang dengan
lingkungan keluarga tertutup namun lembut telah membuat dirinya menjadi
pribadi yang selalu nyaman dengan menyendiri untuk menenangkan pikirannya.

65
“Aku sama keluarga emang tertutup, tapi tetep perhatian gitu. Salah
satu buktinya aku sampe sekarang kalo chat ayahku selalu diawali
salam terus bilang maaf mengganggu waktunya.”

“Aku kebiasa dan nyaman kalo sendiri, waktu aku kangen rumah
juga aku sering sedih nangis di kos tapi ngga aku atasi, ya aku
nangis aja biar lega sambil adaptasi pelan-pelan. Aku kadang telpon
keluarga, tapi itu jarang banget.”

SH yang berada di keluarga tertutup membuatnya lebih nyaman untuk menyendiri


saat ingin meringankan beban pikirannya. Sejak SH kecil, ia dibiasakan untuk
sangat menghormati orang tua terlebih ayahnya, dan hal ini yang membuat SH dan
kakaknya selalu mengawali chat dengan orang tuanya diawali salam dan mohon
maaf mengganggu waktunya. Karena kebiasaan seperti ini, SH merasa tidak
pernah nyaman untuk bercerita tentang kesulitan atau rasa lelahnya kepada
keluarga terlebih orang tua.

“Kalo dibilang perhatian sih iya, contohnya tu waktu KKN keluarga


jauh-jauh dari Serang ke Wonogiri buat jengukin dan bawain aku
makanan. Tapi aku sama keluarga kayak ngga bisa nyaman cerita
gitu soalnya canggung juga. Ngga bisa kayak anak-anak lain yang
bisa ngobrol santai sama orang tua.”

“Kan aku sama keluarga ngga bisa senyaman itu kalo diajak curhat,
jadi kalo ada masalah aku pilih atasin sendiri atau kalo ngga ya
cerita ke temen aja.”

“Di Semarang pengendaranya serem-serem ya, aku dulu di Serang


suka banget naik motor muter-muter kalo pikiran lagi penuh tapi
disini jadi penakut kalo dijalan hahaha.”

Seperti yang telah tercantum di subbab sebelumnya bahwa saat SH berada di kota
asal dan menetap dirumah bersama keluarga ia sering bermain gitar, namun saat di
perantauan ia memilih tidur untuk meringankan beban pikiran. Hal ini juga
dilakukan atas pertimbangan dari SH karena jika ia bermain gitar di kos akan

66
mengganggu tetangga kosnya, dan ia lebih nyaman keluar di malam hari saat
berada di Kota Serang namun kini karena ia merasa di Semarang suasana
malamnya cepat sepi dan gelap maka SH. tidak berani untuk keluar larut malam.
Selain itu SH. juga menyampaikan bahwa di Semarang pengendara di jalan
termasuk ugal-ugalan yang membuatnya was-was dan tidak nyaman. Ia
menyampaikan bahwa sejak kecil ia terbiasa untuk mengatasi segala sesuatunya
sendiri, walaupun keluarga menunjukkan rasa perhatiannya namun SH tidak
nyaman dan merasa canggung untuk bercerita kepada keluarganya. Dan hal inilah
yang membuat SH memilih me time atau meringankannya dengan teman-
temannya.

Mahasiswa rantau tidak lagi tinggal bersama orang tua, sehingga orang tua
sudah tidak lagi bisa terus menerus mengontrol dan mengurus segala kebutuhan
mereka seperti saat masih tinggal serumah. Karena itu, mereka harus bisa
memanajemen hidup selama merantau. Mahasiswa rantau juga diharapkan dapat
beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal yang baru serta lingkungan
pertemanan yang baru. Dalam menjalani hal ini, peran nilai budaya keluarga
sangat berdampak karena akan berpengaruh pada bagaimana mereka akan
bertindak berperilaku.
VA mahasiswa rantau dari Painan yang tumbuh besar di keluarga yang
mengajarkannya disiplin, mau berusaha, dan ringan tangan terhadap orang lain.
Salah satu contohnya, sejak kecil ia dibiasakan untuk langsung mengerjakan tugas
sepulang sekolah walaupun deadline tugas itu masih minggu depan hal ini
dikarenakan ia tidak mau menumpuk tugas yang diberikan gurunya selain itu
diakhir pekan ia biasanya akan keluar kota untuk mengunjungi rumahnya yang
lain dan ia ingin menghabiskan akhir pekan tanpa rasa gelisah karena tugas yang
belum dikerjakan. Saat masih di kota asalnya, Di Painan, merantau termasuk salah
satu budaya yang dilakukan para remaja untuk dapat meraih cita-cita dan
mengembangkan diri. Hal ini dikarenakan di Painan tepatnya pesisir pantai,
mereka tidak dapat memperoleh fasilitas pendidikan seperti di kota-kota besar.
Hal itu membuat kebanyakan para remaja disana memiliki kemauan untuk terus
rajin belajar agar mampu mengembangkan diri dan mempersiapkan diri masuk ke

67
perguruan tinggi yang diinginkan. VA termasuk individu yang memiliki ambisi
tinggi dan selalu mau membantu teman-temannya yang kesulitan dalam beberapa
pelajaran yang dikuasai VA. Kebiasaan seperti itupun terbawa sampai ia menjadi
mahasiswa di Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. Perilaku disiplin dan
tanggung jawabnya itu ia realisasikan saat menjadi ketua kelas dimana ia harus
bertanggung jawab atas tugas yang diberikan dosen kepada kelompoknya,
menangani kendala yang timbul dalam kelompok, berdiskusi dengan teman atau
dosen yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menemukan hasil yang valid.
Dalam kehidupan diluar perkuliahan selama merantau, VA dapat dengan
mudah berbaur dan menjaga hubungan baik dengan mahasiswa lain. Ia sering
meluangkan waktu dengan teman-temannya untuk meringankan beban pikirannya
seperti menikmati kuliner di Taman Tirto Agung, makan dan bersantai di McD,
berkeliling di ADA dan sebagainya. Ia dapat membagi waktu antara
menyelesaikan skripsinya serta istirahat sejenak dengan cara bermain bersama
teman-temannya. Nilai-nilai yang telah ditanamkan keluarga terhadap VA
membuat ia menjadi pribadi yang supel, rendah hati, ringan tangan, disiplin dan
mudah beradaptasi. VA bahkan menyampaikan bahwa selama ia menjalani tugas-
tugas perkuliahan seperti mempresentasikan hasil kerja kelompok, menjadi ketua
untuk kelompoknya, dan menjalani sidang ia sangat tenang dan optimis. Hal ini
dikarenakan ia menanamkan pikiran-pikiran positif didalam setiap prosesnya, ia
justru merasa sangat senang dan semangat dalam menjalani perkuliahannya
karena berhasil merantau untuk berkuliah di perguruan tinggi impiannya. Dari
penjelasan tersebut, budaya perilaku Painan yang melekat pada diri VA adalah
supel, sopan, mampu menempatkan diri, cenderung bersikap tenang dan rasa
semangat yang tinggi dalam meraih pendidikan yang telah ditanamkan oleh
keluarganya sejak kecil.
Informan mahasiswa rantau kedua yaitu RDR yang mengalami beberapa
kendala kesulitan dalam proses pengerjaan skripsi. Beberapa yang dialaminya
ialah dosen yang sulit ditemui, asistensi yang stagnan pada masalah yang sama,
serta adanya mata kuliah wajib yang belum selesai sebagai syarat melanjutkan
tema tugas akhir yang dikerjakan. Selain itu, ia juga sempat mengalami kesulitan

68
dalam beradaptasi dengan cuaca Semarang yang lebih panas serta makanan yang
kurang cocok baginya. Walaupun awalnya dirasa sulit, namun RDR berhasil
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya disini. Berdasarkan
wawancara yang telah dilakukan, RDR menyampaikan bahwa budaya kebiasaan
orang Cimahi adalah ramah, sopan, cenderung tenang, murah senyum,
menganggap saudara jika bertemu orang yang berasal dari daerah yang sama. Hal
itu membuat RDR mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan baik di
perantauan salah satu contohnya yaitu ia memiliki cukup banyak teman dan lebih
nyaman berkeluh kesah dengan teman-temannya dalam menghadapi kesulitan
atau kendala.
Adapun kekhawatiran yang informan alami dimulai dari kecemasan karena
takut lulus terlambat, tertinggal teman-teman seangkatan, dan menjadi beban
untuk orang tua. RDR memiliki kedua orang tua yang sangat berharap penuh
padanya serta seringkali ia dibandingkan oleh kakaknya dalam bidang akademik.
Hal ini tentu menjadi beban pikiran bagi RDR, yang mana ia mengalami kendala
dalam pengerjaan skripsi namun juga ditekan oleh keluarga agar segera
menyelesaikannya tanpa melihat bagaimana kendala atau kesulitan yang dihadapi
informan. Hal-hal yang dialaminya ini membuat ia harus memiliki strategi coping
yang tepat agar tetap mampu bertahan serta menyelesaikan tanggung jawabnya.
Karena RDR sejak awal telah menyadari bahwa ia tidak terlalu dekat dengan
keluarga, ia lebih nyaman untuk meringankan beban pikirannya itu dengan
bermain dengan teman-teman, berkeluh kesah atau mendiskusikan jalan keluar
dengan temannya, bermain untuk melepas penat dan sesekali menikmati waktu
sendiri seperti menikmati suasana malam Kota Semarang.
SH yang berasal dari Kota Serang mengalami beberapa kesulitan selama ia
merantau di Kota Semarang. Pada awalnya, SH merasa cukup sulit untuk
beradaptasi dengan lingkungan baru di kota yang jauh dari asalnya. Ia seringkali
menangis di kamar kos karena kekhawatiran dan kecemasannya memulai
pendidikan di tempat baru, dan untuk menenangkan perasaannya ia tidak pernah
melawan perasaan sedih itu agar merasa lebih lega. Saat ia masih berada di kota
asalnya, bermain gitar di kamar adalah cara paling efektif untuk melampiaskan

69
rasa sedihnya namun hal itu tak bisa SH lakukan selama merantau karena itu akan
mengganggu tetangga-tetangga kosnya. Selama ini SH tumbuh besar di
lingkungan keluarga yang lembut, perhatian namun juga tertutup, salah satu
contoh nyatanya adalah saat ia menjalani KKN di Wonogiri ayah, ibu dan
kakaknya datang dari Kota Serang menjenguknya dan membawakan banyak
cemilan.
Walaupun demikian, hubungan SH dengan orang tuanya tetap tertutup dan
canggung misalnya pada saat mengirimkan pesan pada ayahnya, diawali dengan
mengucapkan salam dan kalimat maaf jika mengganggu waktunya. Berdasarkan
wawancara yang telah dilakukan dengan informan SH, ia menyampaikan bahwa
karakteristik orang di Kota Serang adalah religius, memiliki kemauan untuk maju,
ramah, suasana lalu lintas jalan lebih nyaman daripada di Semarang karena orang-
orangnya dianggap lebih tenang dan sabar. Selama mengerjakan skripsi, untuk
meringankan beban pikirannya SH nyaman untuk berkeluh kesah dengan teman
dan pacar dan ia akhirnya dapat beradaptasi dengan baik walau awalnya sempat
terpuruk disaat awal merantau, dalam hal ini ia mendapat dukungan dalam bentuk
dukungan emosional, membuatnya tidak merasa sendiri dan sesekali bermain.
Walaupun demikian, SH adalah pribadi yang menyukai ketenangan jadi
seringkali memilih tidur saat ia lelah mengerjakan skripsi ataupun saat pikirannya
dipenuhi kekhawatiran, dengan tidur ia merasa dapat melupakan masalahnya
sejenak dan setelah terbangun ia kembali memiliki tenaga untuk melanjutkan
mengerjakan skripsi. Saat berada di kota asalnya, SH juga melakukan strategi
coping dengan cara mengendarai motor sendiri atau bersama temannya untuk
melepas lelah pikiran namun hal ini tak dapat ia lakukan di Semarang karena ia
merasa bahwa pengendara di Semarang ugal-ugalan dan cukup banyak yang tidak
taat aturan. Oleh karena itu, strategi coping yang digunakannya adalah self
controlling untuk meregulasi perasaannya, seeking social support melalui
dukungan dari teman dan pacar dan accepting responsibility yang mana ia selalu
mengingat tanggung jawabnya untuk menyelesaikan skripsi.
Peran sosial budaya sangat terlihat dalam pemilihan strategi coping
mahasiswa, terlebih mahasiswa rantau. Mereka yang berasal dari beda daerah

70
yang sekaligus mengalami banyak perubahan di perantauan harus menyesuaikan
diri serta membiasakan diri. Terlihat dari penyampaian para informan mahasiswa
rantau, mereka menceritakan pengalaman yang mereka alami selama berada di
perantauan. Apa yang selama ini orang tua mereka tanamkan, mereka terapkan
dalam kehidupan selama di perantauan. Mulai dari menghargai orang lain,
membantu orang lain, bersikap sopan dan tahu tempat, serta menjaga diri terlebih
selama berada di kota yang jauh dari keluarga, bahkan mereka yang awalnya tidak
terbiasa hidup sendiri justru perlahan menjadi pribadi yang mandiri. Namun,
berdasarkan pengalaman yang diceritakan informan mereka juga banyak
mengalami satu hingga lebih kebiasaan yang berubah semenjak berada di
perantauan karena menyesuaikan dengan situasi kondisi di Semarang.
Dampak sosial media yang sangat melekat di kehidupan masyarakat jaman
sekarang juga mempengaruhi VA, RDR dan SH pada pemilihan strategi coping.
Diatas telah tercantum bagaimana mereka meringankan beban pikirannya sejenak
dan kemudian melanjutkan kembali progres pengerjaan tugas akhirnya. Mulai dari
wisata kuliner, nongkromg, mengunjungi tempat-tempat yang menarik, sekedar
melihat-lihat barang di swalayan, hingga sleepcall.

“Aku kan semenjak di Semarang sering banget keluar-keluar sama temen-


temenku, nah ya gitu deh paling sering kita ke Tirto Agung, McDonalds,
Swalayan ADA, Superindo memang deket-deket aja sih. Aku tu kan liat di
IG (Instagram) McD sering kan ada promo-promo jadi pengen kesana.
Terus juga jajanan di deket Tirto Agung banyak loh, aku baru-baru ini
coba wonton yang pangsit pedes itu, liat dari konten TikTok. Terus tau
ngga sih konten yang lagi sering muncul tentang belanja bulanan apa
grocery shopping gitu? Karena itu aku jadi suka liat-liat barang di ADA,
Superindo hahaha seru aja rasanya.” (VA)

“Ohh iya aku sukanya emang keluar malem kalo di Semarang, vibesnya
enak banget adem. Liat citylight, liat suasana malem dikota sekalian buat
video apa foto tentang Semarang pas malem hahaha. Soalnya aku liat di
sosmed gitu banyak orang yang bahas vibes Semarang kalo malem gak

71
ada lawan. Kalo ngga ya nongkrong sama temen-temen udah cukup juga
buat istirahatin pikiran, jadi ya bisa night ride keliling Semarang bisa juga
nongkrong.” (RDR)

“Aku sekarang lebih sering tidur sama butuh banget peran temen-
temenku, pacar buat nyemangatin aku jadi ya gini-gini aja. Sesekali juga
sleepcall buat banyak curhat sama cerita rasa capekku.” (SH)

Kemajuan teknologi yang makin canggih saat ini tidak dapat dijauhkan
dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan
dunia dapat langsung diketahui karena peran kemajuan teknologi (globalisasi).
Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu besar pada
kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Saat ini
dapat kita lihat betapa kemajuan teknologi telah mempengaruhi gaya hidup dan
pola pikir masyarakat, terutama di kalangan remaja. Hal-hal seperti trend tempat-
tempat estetik dan menarik, munnculya istilah baru yaitu hidden gem yang
ditujukan untuk tempat-tempat nongkrong atau menarik tersembunyi seperti
memasuki gang-gang kecil, konten kuliner atau berbelanja, hingga perilaku yang
dipengaruhi seperti munculnya kegiatan sleepcall dengan orang terdekat yang
marak dikalangan remaja sebagai tempat curhat atau berkeluh kesah sebelum tidur.
Mahasiswa yang kehidupannya sangat akrab dengan sosial media tentunya akan
merasakan berbagai dampak dari hal itu.

72
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Strategi Coping

Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan bahwa keadaan stres yang dialami
seseorang akan memunculkan efek yang kurang menguntungkan baik secara
fisiologis maupun psikologis. Individu tidak akan membiarkan dampak buruk ini
tidak terselesaikan, maka ia akan melakukan suatu tindakan untuk menanganinya
atau meringankannya. Tindakan ini disebut strategi coping. Latar belakang
budaya, pengalaman dalam menangani masalah, faktor lingkungan, kepribadian,
hingga faktor sosial budaya sangat memberi pengaruh kepada pilihan individu
untuk melakukan strategi coping masing-masing.

a. Strategi coping yang fokus pada masalah

Strategi coping berfokus pada masalah adalah suatu tindakan yang diarahkan
kepada pemecahan masalah. Individu akan cenderung menggunakan perilaku ini
bila dirinya menilai masalah yang dihadapinya masih dapat dikontrol dan dapat
diselesaikan. Perilaku coping yang berpusat pada masalah cenderung dilakukan
saat ia yakin bahwa kemampuan yang ada dapat mengubah situasi. Yang termasuk
strategi coping berfokus pada masalah adalah:

(a) Planful problem solving yaitu mengatasi masalah dengan melakukan usaha
tertentu yang memiliki tujuan untuk mengubah suatu keadaan, diikuti pendekatan
analitis dalam menyelesaikan masalah. Contohnya, seseorang yang melakukan
strategi coping ini akan bekerja dengan penuh konsentrasi dan perencanaan yang

73
cukup baik serta mau merubah gaya hidupnya agar masalah yang dihadapi secara
perlahan-lahan dapat terselesaikan.

(b) Confrontative coping yaitu coping yang bertujuan untuk mengubah keadaan
yang dapat menggambarkan tingkat risiko yang harus diambil (usaha agresif).
Contohnya, seseorang yang melakukan coping ini yaitu ia menyelesaikan suatu
masalah dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang
semestinya walaupun akan mengalami risiko yang tidak sepele.

(c) Seeking social support yaitu bentuk coping dengan mencari dukungan dari
pihak luar, hal ini dapat berupa bantuan, dukungan emosional, maupun informasi
yang membangun. Contohnya, seseorang yang mengatasi masalah dengan coping
ini akan terus berusaha menyelesaikan masalah dengan cara mencari bantuan dari
orang lain seperti teman, tetangga, pengambil kebijakan dan profesional, bantuan
tersebut bisa berbentuk fisik dan non fisik.

b. Strategi coping yang fokus pada emosi

Strategi ini bekerja dengan cara melakukan usaha-usaha yang memiliki tujuan
untuk memodifikasi fungsi emosi tanpa melakukan usaha mengubah stressor
secara langsung. Perilaku coping yang berpusat pada emosi cenderung dilakukan
bila individu merasa tidak dapat mengubah situasi yang menekan dan hanya dapat
menerima situasi tersebut karena sumberdaya yang dimiliki tidak mampu
mengatasi situasi tersebut. Yang termasuk strategi coping berfokus pada emosi
adalah:

(a) Positive reappraisal (memberi penilaian positif) adalah strategi yang


dilakukan individu untuk untuk menemukan keyakinan baru yang dipusatkan
sebagai hal untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Contohnya, seseorang
yang mengatasi masalah dengan strategi ini akan selalu berfikir positif atau
melihat sisi positifnya dan mengambil pelajaran hidup atas segala sesuatu yang
terjadi dan tidak mencoba untuk menyalahkan orang lain serta bersyukur dengan
apa yang masih dimilikinya.

74
(b) Accepting responsibility (penekanan pada tanggung jawab) yaitu strategi
yang dilakukan dengan mengembangkan kesadaran mengenai peran diri dalam
suatu masalah yang dihadapi, serta berusaha memandang segala sesuatu
sebagaimana mestinya. Contohnya, seseorang yang melakukan strategi ini ia akan
menerima segala sesuatu yang terjadi saat ini sebagai mana mestinya dan mampu
beradaptasi dengan kondisi yang sedang dialaminya.

(c) Self controlling (pengendalian diri) yaitu strategi yang dilakukan dengan
melakukan regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan. Contoh dari strategi
ini ialah seseorang yang menghadapi masalah akan selalu berfikir sebelum
bertindak melakukan sesuatu serta sangat menghindari untuk melakukan sesuatu
tindakan secara terburu-buru.

(d) Distancing (menjaga jarak) adalah strategi dimana individu berusaha agar
tidak terbelenggu oleh permasalahan. Contohnya, seseorang yang melakukan
strategi ini dalam penyelesaian masalah dapat terlihat dari sikapnya yang kurang
peduli terhadap persoalan yang sedang dihadapi, mencoba melupakannya seolah-
olah tidak pernah terjadi apa-apa.

(e) Escape avoidance (menghindarkan diri) yaitu menghindar dari masalah


yang seharusnya dihadapi. Contohnya, seseorang yang melakukan coping ini
untuk penyelesaian masalah dapat terlihat dari sikapnya yang selalu menghindar
dan bahkan sering kali justru menjerumuskan diri kedalam perbuatan yang negatif
seperti minum obat-obatan terlarang dan tidak mau bersosialisasi dengan orang
lain.

Dalam jurnal ilmu perilaku program studi Psikologi yang berjudul Kajian
Stres pada Mahasiswa: Sumber Stress dan Kontribusi Strategi Coping yang ditulis
oleh Aria Saloka Immanuel, dkk dapat dipahami bahwa mahasiswa mengalami
satu hingga lebih perubahan dalam hidupnya seperti perbedaan lingkungan sosial,
perbedaan latar belakang budaya, hingga perbedaan akademik. Stressor tersebut
akan memberi dampak pada psikologis mahasiswa yang akhirnya memicu
munculnya stres. Mahasiswa yang merantau akan mengalami stres lebih berat

75
dibandingkan dengan mahasiswa bukan perantauan. Salah satunya dikarenakan
mahasiswa rantau mengalami kendala dalam berinteraksi, yang meliputi cara
berkomunikasi, logat, nada, hingga intonasi saat berbicara. Hal inilah yang
memunculkan kegelisahan dan kecemasan dalam diri saat berkomunikasi. Ketika
mahasiswa mengalami kegelisahan dan kecemasan maka akan membuat
rendahnya keinginan mahasiswa untuk berinteraksi dengan teman yang latar
belakangnya berbeda. Mahasiswa yang dapat menangani perasaan gelisahnya atau
menuntaskan kendala yang dialami dengan baik akan menurunkan tingkat stres
yang dialami, namun jika mahasiswa kurang baik dalam mengatasi atau
menangani kendala yang dialami maka akan meningkatkan stres yang dialami.
Penelitian yang dilakukan ini menemukan hasil bahwa mahasiswa mengalami
stres tingkat ringan, sedang dan berat. Sebagian besar mengalami stres tingkat
sedang, dan hal ini membuktikan bahwa stressor yang sama dalam beradaptasi
dengan hal baru dialami oleh seluruh mahasiswa perantauan dan mahasiswa lokal.
Maka dari itu, tiap mahasiswa diharuskan untuk mampu menemukan dan
menerapkan strategi coping pilihannya agar terhindar dari rasa terpuruk yang
berlarut-larut.

Mahasiswa lokal dan rantau mengalami kesulitannya masing-masing.


Mahasiswa lokal yang tinggal di kota asal bersama keluarga dan mengenal
kehidupan sosial budaya di kota Semarang juga tidak terhindarkan dari segala
hambatan yang ada di perkuliahan. Mereka pun juga diharapkan mampu untuk
beradaptasi dengan mahasiswa lain yang berada dari luar daerah atau luar pulau.
Maka diperlukan juga untuk dapat menempatkan diri agar membangun hubungan
yang baik. Mereka pun juga mengalami berbagai kendala baik itu internal maupun
eksternal selama pengerjaan tugas akhir, yang bahkan orang tuanya pun tidak
mengetahui kesulitan apa yang sedang dialami anaknya secara detail dan pada
akhirnya diri mereka sendirilah yang harus mengatasi segala kesusahan maupun
kendala yang harus dihadapi. Mahasiswa yang memutuskan untuk merantau dan
sudah tidak lagi tinggal bersama orang tua diharapkan mampu dapat hidup lebih
mandiri dikarenakan orang tua sudah tidak lagi mengontrol dan mengurus segala

76
keperluan individu seperti saat masih tinggal disatu rumah yang sama. Oleh
karena itu, mahasiswa rantau harus mampu mengatur hidupnya selama merantau
seperti menentukan prioritas hidupnya, baik itu dalam jangka panjang maupun
jangka pendek yang dilakukan dengan menargetkan kelulusan, berusaha meraih
nilai atau prestasi yang diinginkan untuk membanggakan dirinya ataupun orang-
orang terdekat. Selain itu, mahasiswa rantau juga harus menetap di daerah baru
dengan menyesuaikan kehidupan sosial budaya yang pastinya akan ada perbedaan
dengan kota asalnya. Proses adaptasi diharapkan dapat mereka jalani dengan baik
agar dapat menjalani kehidupan di kota perantauan dengan perasaan nyaman serta
diharapkan mampu menangani beberapa kesulitan atau kendala yang dihadapi
selama berkuliah khususnya pada saat mengerjakan skripsi.

Dalam berjuang menyelesaikan jenjang perkuliahan, pasti akan melalui


satu atau bahkan lebih tantangan, kendala atau hambatan. Sebagai mahasiswa
yang dianggap mampu mengatasi segala sesuatu dalam dirinya, mereka dituntut
untuk mampu bertahan dengan segala kendala yang ada. Tak jarang hal-hal
tersebutlah yang membebani pikiran para mahasiswa, seperti contohnya kendala
yang dialami pada saat pengerjaan tugas akhir yang dijadikan syarat untuk meraih
gelar sarjana. Maka dari itu, diperlukan strategi untuk mengelola emosi,
meringankan beban pikiran hingga mengatasi inti permasalahan itu sendiri
menggunakan strategi coping. Dalam pemilihan strategi coping pada masing-
masing individu, mereka berhak untuk bebas memilih bagaimana ia bisa melepas
penat pikirannya agar mendapat sedikit kelegaan atau akhirnya mendapat jalan
keluar atas apa yang dialami.

Dalam teori Lazarus & Folkman, terdapat dua jenis strategi coping yaitu
yang berfokus pada masalah dan berfokus pada emosi. Pada strategi coping yang
berfokus pada masalah atau problem focused coping, individu cenderung
menggunakan strategi ini ketika mereka percaya bahwa tuntutan dari situasi dapat
diubah. Strategi ini melibatkan usaha untuk melakukan sesuatu hal terhadap
kondisi stres yang mengancam individu. Sedangkan untuk emotion focused
coping adalah strategi untuk meredakan emosi individu yang ditimbulkan oleh

77
stressor (sumber stres), tanpa berusaha untuk mengubah suatu situasi yang
menjadi sumber stres secara langsung. Di kehidupan sehari-hari, kedua strategi ini
sangat sering digunakan sebagai bentuk mengatasi suatu masalah.

4.1.1 Faktor Penyebab Stres Mahasiswa

Sebelum melakukan strategi coping, mahasiswa pastinya mengalami


beberapa stressor yang mengganggu pikirannya. Stres mahasiswa dapat dibagi
menjadi dua yaitu:

a. Faktor internal

Pemicu stres yang berasal dari internal yaitu:

(1) Pesimis. Munculnya rasa pesimis ini tentu membuat mahasiswa


sering merasa kurang percaya diri atau minder. Perasaan ini
biasanya muncul terhadap pencapaian orang lain yang telah berada
didepannya, merasa kurang percaya diri menemui dosen
pembimbing. Mahasiswa seringkali menilai bahwa dirinya kurang
mampu untuk menghadapi segala lika-liku pengerjaan tugas akhir
(2) Kurangnya manajemen waktu yang baik. Mengatur waktu adalah
salah satu hal yang penting agar semua kegiatan dapat terlaksana
sebagaimana mestinya dan tidak menimbulkan hambatan baru. Hal
ini sering menjadi hambatan bagi mahasiswa ketika mereka tidak
dapat mengatur waktunya antara kegiatan lain dengan pengerjaan
tugas akhir yang harus melalui proses penelitian, pengolahan data
dan bimbingan. Jika hal ini terus diabaikan, maka akan mengulur
waktu selesainya tugas akhir.
(3) Pengalaman baru. Menulis skripsi bagi mahasiswa adalah sebuah
pengalaman baru, sehingga mereka merasa wajar dengan
munculnya perasaan bingung bagaimana menghadapi tiap kendala
dan kecemasan yang dialami. Kecemasan adalah salah satu bentuk
stres yang umum dirasakan oleh individu dalam menghadapi

78
situasi baru. Kecemasan ini masih bisa diatasi jika seseorang
mempunyai sebuah kemampuan untuk memecahkan masalah yang
baik dan mengetahui sumber yang memicu kecemasan, sehingga
mahasiswa tersebut dapat mempersiapkan diri dan melakukan
usaha-usaha lebih matang.
(4) Rasa malas. Malas yang dialami para mahasiswa muncul dari
perasaan lelahnya dalam menghadapi tugas akhir, dimana mereka
harus terjun ke lapangan yang mengkin tak cukuo sekali, mengolah
data dengan metode yang tepat, serta membuat janji temu dengan
dosen pembimbing yang tak selalu mudah. Hal-hal inilah yang
seringkali membuat mahasiswa malas untuk mengerjakan skripsi
dikarenakan banyaknya lika-liku yang harus mereka lewati.

b. Faktor Eksternal

Tak hanya internal, pemicu stres mahasiswa juga bisa diakibatkan oleh
hal-hal diluar dirinya, yaitu:

(1) Kurangnya referensi atau buku terkait tema penelitian. Hal ini
seringkali dialami para mahasiswa dan membuat semangatnya
patah karena tidak ditemukannya referensi yang bersangkutan
dengan tugas akhirnya.
(2) Lingkungan keluarga dan pertemanan. Lingkungan ini berpengaruh
terhadap stres dan niat seseorang. Jika ada masalah atau tekanan
dalam keluarga, mahasiswa merasa terpuruk dan tidak dapat fokus
dalam kewajibannya untuk menyelesaikan tugas akhir. Begitu pula
dengan lingkungan pertemanan jika tidak berjalan baik maka dapat
memunculkan stress, perasaan tidak nyaman atau hambatan pada
proses pengerjaan skripsi.
(3) Dosen pembimbing. Pengaruh dosen pembimbing tentu sangat
besar dalam tiap progres yang mahasiswa lakukan. Jika
pembimbing sulit ditemui dan menunda-nunda janji temu

79
mahasiswa biasanya akan merasa sedih dan minder dengan teman-
teman yang sudah mulai melangkah lebih jauh dalam tugas
akhirnya.

4.1.2 Coping yang Dilakukan Mahasiswa

Dalam menghadapi beberapa kendala maupun hambatan, mahasiswa telah


menemukan dan melakukan hal-hal yang mampu meringankan beban pikiran serta
mengatasi akar permasalahan itu sendiri. Tindakan-tindakan ini dinamakan
strategi coping, yang mana terbagi menjadi dua yaitu problem focused coping dan
emotion focused coping. Yang dilakukan mahasiswa adalah sebagai berikut:

1. Melakukan hobi
2. Menambah pengetahuan mengenai penulisan karya ilmiah
3. Berkumpul bersama teman untuk berkeluh kesah atau saling curhat
4. Tidur
5. Ada teman ngobrol
6. Menumbuhkan motivasi dari dalam diri sendiri
7. Mencari referensi mengenai tema penelitian
8. Menemui dosen pembimbing
9. Mencari waktu, tempat dan suasana yang nyaman untuk menyelesaikan
skripsi
10. Melawan rasa malas dalam diri
11. Menikmati waktu sendiri
12. Berusaha disiplin dalam mengatur waktu
13. Berdoa

Berdasarkan keterangan diatas, terlihat bahwa mahasiswa melakukan


berbagai bentuk strategi coping yang terkadang tidak hanya satu strategi saja
namun juga lebih, hal ini tergantung dari kemampuan dan kondisi mahasiswa.
Dapat dilihat bahwa terdapat problem focused coping sekaligus emotion focused
coping dalam strategi yang dilakukan. Coping yang berfokus pada masalah adalah
bentuk-bentuk tindakan yang mengarah pada upaya untuk mengurangi tuntutan

80
dari situasi yang penuh tekanan. Dapat diartikan coping yang terfokus pada
masalah ini adalah cara yang digunakan individu untuk bisa menyesuaikan diri
dalam menghadapi stres dalam menyelesaikan skripsi, contoh yang telah
dilakukan mahasiswa adalah menghadapi serta mencari jalan keluar atas segala
kendala tugas akhir, bukan lari dari masalah. Individu cenderung menggunakan
strategi ini ketika mereka percaya bahwa tuntutan dari situasi dapat diubah.
Seeking social support dan planful problem solving adalah bentuk problem
focused coping yang dilakukan mahasiswa. Dalam seeking social support
ditunjukkan dari tindakan individu yang memerlukan kehadiran orang lain untuk
menguatkan, memberi dukungan, menghibur serta memberi informasi terkait
tugas akhir. Hal ini juga dilakukan agar individu mampu bertahan karena tidak
merasa sendirian serta tidak terus-menerus merasa terpuruk. Seeking social
support yang merupakan strategi coping berfokus pada masalah ialah bentuk
coping dengan mencari dukungan dari pihak luar, hal ini dapat berupa bantuan,
dukungan emosional, maupun informasi yang membangun. Dari hasil wawancara
yang telah dilakukan, ketiga mahasiswa lokal ini menyatakan bahwa dukungan
atau kehadiran teman sangat membantu dalam meringankan beban pikiran atau
meringankan kesulitan yang dihadapi. Hal ini dikarenakan mereka merasa
nyaman, lebih tenang dan lega saat berkumpul bersama teman-teman untuk
bermain guna melepas penat atau untuk berkeluh kesah mengenai kesulitan yang
dialami. Dukungan lingkungan sekitar tak hanya berasal dari lingkungan
pertemanan, namun juga lingkungan keluarga.

Adapula planful problem solving yaitu salah satu bentuk strategi coping
yang berfokus pada masalah dilakukan dengan cara melakukan usaha tertentu
yang memiliki tujuan untuk mengubah suatu keadaan untuk menyelesaikan
masalah.. Hal ini terlihat dari langkah yang diambil untuk memikirkan serta
merealisasikan hal-hal yang dapat mendorong progres pengerjaan tugas akhirnya,
mulai dari membuat janji temu dengan pembimbing, mencari referensi terkait,
mengatur waktu, berkumpul dengan teman untuk mendapat informasi seputar
karya ilmiah dan sebagainya. Mahasiswa juga tetap berusaha untuk

81
menumbuhkan niat dan semangat dalam menyelesaikan skripsinya. Mereka
mencoba untuk mengatur waktu antara mengerjakan kewajibannya dan
berkegiatan lain seperti contohnya bermain. Selain itu mereka mengetahui
kesulitan apa saja yang mereka alami dan dengan tekun mereka berusaha untuk
mengatasi kesulitan tersebut untuk mencari jalan keluar. Mereka berusaha agar
tidak menunda-nunda proses pengerjaan skripsi walaupun mengetahui ada
beberapa kesulitan yang menjadi beban pikiran mereka. Mereka pun juga telah
menemukan cara tersendiri yang dapat meringankan beban pikiran tersebut agar
dapat terus berprogres dan tidak terpuruk.

Emotion focused coping yang dilakukan mahasiswa berupa accepting


responsibility, strategi ini dilakukan dengan mengembangkan kesadaran mengenai
peran diri dalam suatu masalah yang dihadapi, serta berusaha memandang segala
sesuatu sebagaimana mestinya. Dalam pengerjaan tugas akhir, mahasiswa
memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan
kewajiban tersebut demi tercapainya gelar sarjana dan membuat bangga diri
sendiri serta orang-orang terdekat. Rasa tanggung jawab ini menunjukkan
keseriusan mahasiswa dalam tugas akhirnya dan mengharapkan hasil yang
terbaik. Dalam pembahasan ini, mereka menyampaikan bahwa mereka lelah tapi
tidak patah semangat untuk terus melangkah berprogres. Mereka mengingat
segala sesuatu yang telah dikorbankan untuk berkuliah jauh dari rumah, harapan
orang tua, serta dorongan dari diri sendiri bahwa mereka harus segera lulus dan
mendapat gelar sarjana. Karena hal-hal seperti itu, maka mereka tidak mau lepas
tanggung jawab terhadap skripsinya ini.

Self controlling, strategi yang dilakukan mahasiswa dengan melakukan


regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan. Dengan cara ini, seseorang akan
mencona memahami apa yang diperlukan dirinya seperti contohnya lelah
mengolah data maka ia akan beristirahat sebentar untuk kembali mengumpulkan

82
tenaga. Self controlling menunjukkan bagaimana mahasiswa mampu tetap
bertahan sesulit apapun hambatannya dengan cara meregulasi perasaannya. Dan
melalui tindakan yang diambilnya, diharapkan mampu meringankan beban pikiran
dan tidak terus menerus berada di situasi yang tidak nyaman. Mahasiswa memiliki
kesadaran akan kendala yang dihadapi dan kemampuannya untuk mengatasi hal
tersebut. Saat merasa lelah atau penat dalam proses pengerjaan skripsi, mereka
bisa saja mengambil langkah salah contohnya dengan meninggalkan tanggung
jawabnya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Namun hal itu sama sekali tidak
dilakukan, mereka memahami betul apa yang diperlukan dirinya masing-masing
untuk meregulasi perasaan dan tindakannya. Salah satunya adalah dengan
tindakan mereka yang tetap mempertimbangkan segala sesuatunya dan tidak
terkesan terburu-buru dalam mengambil keputusan agar tidak mengambil langkah
yang keliru

4.2 Peran Sosial Budaya dalam Pemilihan Strategi Coping

Setiap individu hidup dalam suatu masyarakat, yang mana setiap masyarakat
memiliki kebudayaan. Dapat dikatakan kebudayaan dialami oleh setiap individu
dalam masyarakat. Hubungan manusia dan kebudayaan merupakan sebuah proses
dinamis yang berdimensi sosio-psikologis, yang artinya tiap individu akan
mengikuti perkembangan budaya yang terus menerus berlangsung dalam sebuah
peradaban masyarakat. Kebudayaan yang ada dalam masyarakat memiliki
kekhasannya masing-masing, sehingga tidak bisa disamaratakan. Begitu pun
dengan Ruth Benedict yang melakukan penelitian kepada tiga masyarakat berbeda
yaitu orang Zuni, Dobu, dan Kwakiutl untuk mengetahui lingkungan sosial
budaya masyarakat tersebut serta menyimpulkan jenis kebudayaan yang mereka
jalani. Dari penelitian yang dilakukannya itu, ia dapat mengetahui bahwa terdapat
adanya pengaruh kebudayaan terhadap diri seseorang dalam berperilaku.

Mahasiswa lokal yang berasal dari Semarang dan sangat erat hubungannya
dengan budaya Jawa akan menunjukkan jati dirinya baik itu dalam berperilaku,
berucap, berinteraksi. Orang di Jawa memiliki beberapa ciri khas yang tentunya

83
juga dilakukan oleh para mahasiswa lokal saat menjalani dunia perkuliahannya
khususnya dalam pengerjaan skripsi. Orang Jawa memiliki sikap yang cenderung
tekun dan teliti, hal ini juga memberi pengaruh dalam diri mahasiswa yang berasal
dari Jawa untuk lebih teliti, menghindari kecerobohan, memikirkan dampak yang
akan diperoleh sebelum berbuat sesuatu. Adapun peribahasa dalam Bahasa Jawa
yaitu “sabar sareh mesthi bakal pikoleh” yang artinya orang yang tekun, sabar dan
tenang menghadapi berbagai persoalan akan memperoleh apa yang diharapkan.
Bahkan peribahasa seperti ini telah diterima sejak berada di bangku sekolah dalam
pelajaran Bahasa Jawa, yang mana artinya mahasiswa lokal telah mengenal,
mengerti dan menerapkan hal-hal tersebut sebagai peribahasa yang bermakna bagi
kehidupan. Kesabaran, ketekunan, dan rasa optimis inilah yang mempengaruhi
para mahasiswa yang berasal dari Jawa melakukan strategi coping. Dalam
menghadapi permasalahan, mereka tetap berusaha untuk meregulasi perasaannya,
menumbuhkan kepercayaan dalam diri bahwa mereka mampu untuk
mengatasinya (optimis) dan juga rasa sabar untuk melalui berbagai proses yang
harus dilalui untuk meraih apa yang diinginkan.

Mahasiswa yang berasal Painan tepatnya daerah pesisir, dipenuhi dengan


masyarakat yang berambisi tinggi, mampu bersaing, saling peduli atau perhatian
antar sesama. Hal ini ditunjukkan dari sikap kebanyakan orang tua yang mendidik
anaknya untuk tekun dan disiplin dalam kegiatan belajar di sekolah, dikarenakan
orang tua mereka berharap nantinya anak-anak mereka dapat merantau untuk
mendapat pendidikan yang lebih baik dan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap.
Nantinya anak-anak tersebut akan merantau dengan perasaan bangga karena telah
mampu bersaing dengan ribuan orang untuk berada di tempat pendidikan yang
baik dan membuat orang tuanya bangga. Oleh karena itu, jika mereka telah berada
di kota perantauan segala usaha akan dilakukan untuk terus bertahan dan berjuang
menuntaskan pendidikan. Maka saat dihadapkan pada satu atau lebih kendala,
mahasiswa asal Painan ini berusaha meringankan hingga mengatasinya dan
menikmati tiap proses yang harus ia lalui di perantauan karena ia juga selalu ingat
bagaimana usahanya untuk dapat sampai di titik ini. Dan hal inilah yang

84
mendorong mahasiswa melakukan strategi coping, yaitu supaya dapat
menyelesaikan kendala yang dihadapi baik itu mengatasi langsung permasalahan
tersebut atau meregulasi emosinya.

Mahasiswa yang berasal dari Cimahi menunjukkan sikapnya yang selalu


berusaha memandang positif terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya dan
mudah bergaul karena keramahannya. Hal ini dapat dilihat dari kesulitan atau
hambatan apapun yang berada didepannya, mereka selalu melihat sisi positifnya
untuk menenangkan perasaannya atau meregulasi emosinya. Selain itu, sikap
mereka yang mudah bergaul juga sangat memberikan dampak bagi kesehariannya
yang mana mereka tidak merasa sendirian dan mendapat teman mengobrol untuk
membicarakan satu hingga lebih hal-hal menarik. Oleh karena itu mahasiswa yang
berasal dari Cimahi memilih untuk melakukan strategi coping dibanding terus
tepuruk dalam permasalahan yang mereka hadapi. Salah satu strategi coping yang
dilakukan yaitu seeking social support yang dilakukan dengan berkumpul dengan
orang-orang disekitarnya untuk mendapat dukungan seperti saling bantu terhadap
masalah yang dihadapi, memberi informasi terkait permasalahan tersebut dan
sebagainya.

Ada pula mahasiswa asal Serang yang menunjukkan sikap berhati-hati dalam
bertindak, religius dan pantang menyerah. Di kota asal, lingkungannya masih
sering melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang tak banyak diperingati oleh
masyarakat luar seperti haul yang merupakan peringatan kematian seseorang tiap
setahun sekali menggunakan kalender hijriah, memperingati muludan, masih
banyak ziarah makam sultan-sultan Islam, perayaan tanggal-tanggal Islam yang
dimeriahkan oleh anak-anak pesantren yang mengadakan pawai dan sejenisnya.
Kebiasaan budaya seperi inilah yang membuat seseorang menjadi religius dan
menjalani kehidupan yang cenderung lebih tenang karena menyerahkan segala
sesuatunya kepada Tuhan. Begitu pula hal seperti ini juga yang mendorong
seseorang untuk melakukan strategi coping, yang mana jika menghadapi suatu
masalah mereka akan memilih untuk menghadapinya karena percaya bahwa

85
Tuhan akan memberi kemudahan dan membantu setiap lika-liku yang akan
dilalui.

Kehidupan sosial budaya yang berada dekat dengan individu pastinya akan
berdampak dalam berperilaku atau memilih suatu pilihan. Lingkungan tersebut
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang atau kelompok
untuk dapat melakukan suatu tindakan serta perubahan-perubahan perilaku setiap
individu. Lingkungan sosial ini antara lain lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, lingkungan pekerjaan dan lingkungan pertemanan. Sosial budaya
melibatkan segala sesuatu yang berkaitan dengan cara hidup, nilai-nilai,
kebiasaan, dan interaksi sosial yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat.
Dalam penelitian yang telah dilakukan, peneliti menemukan hal-hal yang
mempengaruhi pemilihan strategi coping yaitu peran lingkungan keluarga dan
lingkungan pertemanan dan kemajuan teknologi.

a. Lingkungan Keluarga

Keluarga dapat dipahami sebagai sebuah kelompok primer yang paling


memberi peran besar dalam kehidupan seseorang, keluarga merupakan suatu
masyarakat terkecil dalam kehidupan umat manusia sebagai makhluk sosial, hal
ini dikarenakan keluarga merupakan unit pertama dalam masyarakat dan tempat
terjadinya tahap awal proses sosialisasi dan perkembangan individu. Keluarga
berperan dalam proses penanaman nilai yang merupakan bagian terpenting dari
pembentukan karakter anak. Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam
perkembangan kepribadian anak, setiap anak akan memiliki kepribadian yang
berbeda karena berasal dari keluarga yang berbeda pula yang dipengaruhi oleh
perbedaan budaya dari masing-masing daerah asal. Perilaku orang tua sangat
berpengaruh dalam membentuk perilaku anak seperti pola asuh, kelekatan anak
dan orang tuanya, serta pemberian perlakuan yang tidak tepat terhadap anak.

Mulai dari cara beradaptasi, cara berinteraksi, dan cara mengelola emosi
semuanya diajarkan orang tua kepada anaknya. Budaya yang lekat pada daerah
masing-masing individu diajarkan melalui orang tua. Pada umumnya, orang tua

86
ingin anak menjadi sosok yang mampu berjuang, dinilai baik oleh orang-orang
sekitar, dan dapat membanggakan keluarga. Apa yang telah menjadi kebiasaan
dalam keluarga, biasanya itulah yang akan mempengaruhi individu dalam
bertindak. Beberapa contoh lingkungan keluarga yaitu keluarga yang mendidik
anaknya dengan disiplin, keluarga yang berpisah, orang tua yang otoriter,
hubungan komunikasi orang tua dengan anak yang terjaga baik, keluarga yang
sering melakukan kekerasa fisik dan lain sebagainya. Hal-hal yang terjadi didalam
suatu keluarga tidak bisa disama ratakan, maka dengan ini pula menimbulkan
banyaknya perilaku-perilku anak yang berbeda, terlebih lagi anak pada dasarnya
mencontoh orang tua.

Beberapa contoh yang seringkali kita lihat yaitu keluarga yang mengajarkan
anaknya untuk dapat bersosialisasi dengan baik akan membuat anak percaya diri,
suka akan topik atau pengetahuan baru, mudah berbaur dan lain sebagainya.
Selain itu adapula anak yang dididik tegas dan disiplin oleh orang tuanya, maka
dengan itu anaknya akan tumbuh menjadi anak yang tertib disiplin dalam
beberapa hal. Tak hanya itu, ada juga keluarga harmonis yang membiasakan
anaknya untuk selalu bercerita kepada orang tuanya layaknya teman curhat dan ini
membuat hubungan komunikasi orang tua dan anak selalu terjaga. Dalam ketiga
keadaan keluarga yang telah disebutkan, dapat mempengaruhi anak dalam
pemilihan strategi coping. Baik itu dengan cara berkumpul bersama teman-teman
terlebih lagi mereka yang mudah berbaur, disiplin dalam memanajemen waktu
hingga menjadikan curhat atau telepon orang tuanya sebagai salah satu bentuk
strategi coping.

b. Lingkungan Pertemanan

Dalam kehidupan sehari-hari tak hanya keluarga yang terlibat dekat dalam
kehidupan seorang individu, adapula peran teman. Dalam menjalin pertemanan,
sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku teman sebaya sangat
berpengaruh kepada kehidupan seseorang. Dari hubungan pertemanan dapat
ditemukan beberapa perilaku teman yang tertular kepada individu karena

87
mengikuti atau menyesuaikan agar dapat lebih diterima didalam kelompok
pertemanan. Pada jaman ini, budaya yang melekat pada diri remaja adalah budaya
nongkrong entah itu di coffeeshop, burjo, warmindo dan tempat-tempat menarik
lainnya. Dari budaya nongkrong ini dapat membuat seseorang terpengaruh dan
merasa nyaman saat menjalaninya karena dapat berkumpul dengan orang-orang
seumuran yang kebanyakan mengalami fase yang sama sehingga lebih nyaman
untuk saling bercerita, mendapat informasi mengenai suatu hal, dan
membicarakan topik-topik menarik. Tak hanya itu, lingkungan pertemanan juga
berpengaruh dengan pengerjaan tugas akhir. Jika individu bergaul dengan orang-
orang yang memiliki semangat dan ambisi dalam mengerjakan tugas akhir maka
hal itu akan mempengaruhi individu untuk juga melanjutkan progresnya dengan
bantuan dukungan dari teman-temannya, mengerjakan bersama teman-teman,
saling bertukar informasi mengenai karya ilmiah dan lain sebagainya.

c. Kemajuan Teknologi

Semakin majunya teknologi yang terus berjalan hingga saat ini tentu
membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek. Baik itu budaya konsumtif,
gaya berbahasa, gaya berpakaian, cara berkomunikasi. Dampak positif maupun
negatif tidak terhindarkan dari keseharian manusia. Sama halnya dengan strategi
coping yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Mahasiswa di jaman sekarang
sudah pasti akrab dengan sosial media yang memudahkan mereka menemukan
apapun seperti contohnya rekomendasi kuliner, rekomendasi tempat nongkrong
hingga mencari referensi guna melengkapi tugas akhir. Budaya anak remaja yang
saat ini sedang marak yaitu budaya nongkrong, yang mama mereka menghabiskan
waktu berjam-jam disebuah coffeeshop/burjo/warmindo/tempat yang dipilih
sesuai keinginannya. Disaat mahasiswa merasa penat mereka kebanyakan akan
mencari tempat menarik untuk mencari inspirasi, menemukan informasi yang
diperoleh dari berkumpul bersama teman-teman, menemukan tempat menarik
yang dapat menenangkan suasana hatinya. Kemajuan teknologi sangat berperan
dalam hal ini, salah satu contohnya adalah munculnya konten-konten tempat
nongkrong hidden gem yang membuat penasaran dan ingin menikmati waktu

88
disana, munculnya akun-akun yang memberi rekomendasi tempat-tempat menarik
di Semarang, dan juga banyaknya hiburan yang dapat ditemukan dengan mudah
melalui sosial media. Dengan kemajuan jaman seperti ini, tentu berpengaruh pada
pemilihan strategi coping mahasiswa yaitu mereka menjadi menemukan tempat-
tempat yang menarik dan dianggap cocok untuk menghabiskan waktu bersama
teman, mencoba kuliner baru yang dipromosikan melalui sosial media, dan
sebagainya.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Ruth Benedict dalam Patterns of


Culture, Benedict melakukan penelitian pada tiga kebudayaan primitif, dua dari
bangsa Amerika yaitu Zuni dan Kwakiult dan satu dari Melanesia yaitu Dobu.
Dari ketiga masyarakat primitif itu, Ruth membaginya menjadi dua kebudayaan.
Kwakiult dan Dobu yang masuk dalam kebudayaan Dionysia, sedangkan Zuni
yang masuk dalam kebudayaan Appolonisia. Kebudayaan Dionysia ialah mereka
yang hidup bersama dengan berbagai perselisihan, penderitaan, rasa emosional
yang tinggi, individualisme, hingga perilaku yang berlebihan. Orang-orang Dobu
termasuk dalam kebudayaan Dionysia karena perilaku mereka yang saling
menyihir antara satu marga dengan marga lainnya, baik itu yang berada di satu
desa ataupun dengan desa lainnya. Aktivitas sihir menyihir ini dapat terjadi karena
adanya perasaan iri hati yang muncul diakibatkan masuknya penduduk ke sebuah
desa. Sihir-sihir yang ada di Dobu berupa mantra sihir yang berasal dari nenek
moyang mereka dan diturunkan kepada generasi berikutnya. Dalam
kehidupannya, mereka sangat menyandarkannya kepada mantra-mantra tersebut
yang membuat mereka merasa puas untuk bertindak semaunya. Sedangkan untuk
kebudayaan Dionysia di Kwakiult, ditandai dengan adanya pengakuan hak
istimewa serta gelar kebangsawanan, dan gelar ini akan diturunkan pada anak
laki-laki tertua. Hal ini dapat menjadi penghinaan apabila mereka dikawinkan
dengan orang biasa, mereka akan disebut “berkumpul seperti anjing”, dan hinaan
ini akan menurun pula pada anak-anak mereka. Untuk keluar dari situasi itu,
mereka diwajibkan untuk mengumpulkan kekayaan yang lebih dari cukup agar
mendapat pengakuan dan memiliki kehormatan khusus. Selain itu, adapula cara

89
lain untuk keluar dari penghinaan itu yaitu dengan membunuh pemilik-pemilik
hak istimewa itu. Hal ini dikarenakan dengan membunuh pemilik hak istimewa
tersebu, segala yang dimiliki dapat diberikan kepadanya, mulai dari istri,
kebangsawanan, bahkan benda-benda pusaka. Adapula kebudayaan masyarakat
Zuni yang termasuk dalam kebudayaan Appolonisia, yang terjadi akibat kebiasaan
perilaku mereka yang mementingkan kebersamaan dalam merawat tanaman
pangan mereka, mengadakan ritual turunnya hujan bagi kesejahteraan bersama,
dan hidup berdampingan dengan damai karena adanya kesadaran akan perlunya
peran orang lain didalam hidupnya.

Dari penelitian yang dilakukan Ruth Benedict ini dapat dikemukakan bahwa
lingkungan sosial budaya mempengaruhi seseorang untuk berperilaku. Hingga
dimasa kini, dapat ditemukan peran budaya yang kuat terhadap perilaku individu
dan masyarakat. Pengaruh ini dapat tercermin dalam berbagai aspek kehidupan
sehari-hari, termasuk dalam cara individu berinteraksi, berpakaian, berbicara,
beragama, makan, bekerja, dan bahkan berpikir. Beberapa cara budaya
mempengaruhi perilaku adalah dengan (1) Norma dan nilai: budaya menetapkan
norma-norma sosial dan nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat.
Individu cenderung mengikuti norma-norma ini untuk diterima oleh kelompok
mereka. Contohnya, dalam budaya tertentu, menghormati orang tua dianggap
sangat penting, sehingga individu akan cenderung berperilaku dengan cara yang
mencerminkan nilai tersebut. (2) Tradisi dan ritual: Budaya juga diwujudkan
melalui tradisi dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat. Partisipasi dalam
tradisi-tradisi ini memperkuat identitas budaya dan mempengaruhi cara individu
berperilaku. Misalnya, festival atau upacara keagamaan dapat mempengaruhi
perilaku individu dalam hal waktu luang dan interaksi sosial. (3) Media dan
teknologi: Dalam hal ini, media massa dan teknologi informasi memiliki peran
penting dalam membentuk budaya dan memengaruhi perilaku individu. Misalnya,
media sosial dapat mempengaruhi persepsi diri dan citra tubuh individu, serta
memengaruhi cara individu berinteraksi satu sama lain. (4) Pola perilaku
berulang: Budaya menciptakan pola perilaku yang berulang di antara anggota

90
masyarakat. Melalui tradisi, ritual, dan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke
generasi, budaya menciptakan ekspektasi tentang cara-cara tertentu untuk
berperilaku dalam berbagai situasi.

91
BAB V

KESIMPULAN

Skripsi adalah suatu karya ilmiah yang mengharuskan mahasiswa secara


nyata mengkritisi suatu fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia secara
ilmiah sesuai dengan ilmu yang didapat dalam disiplin ilmu masing-masing.
Dalam proses pengerjaannya, mahasiswa akan mengalami beberapa kendala atau
hambatan secara internal maupun eksternal yang jika tidak segera diatasi atau
diringankan dapat menjadi hal yang mengganggu pikiran. Oleh karena itu
mahasiswa memiliki strategi coping pilihannya untuk mengatasi hal tersebut.
Strategi coping yang dilakukan oleh mahasiswa berupa seeking social support,
planful problem solving, accepting responsibility dan self controlling. Seeking
social support yang mahasiswa terapkan adalah membutuhkan kehadiran atau
peran serta orang-orang terdekat untuk memberi dukungan dan informasi, saling
bertukar cerita dan melepas beban pikiran dengan membicarakan hal-hal yang
disukai ataupun bermain bersama, planful problem solving dibuktikan dengan
kemampuan mahasiswa untuk mengatasi segala kesulitan atau kendala secara
internal maupun eksternal yang mereka hadapi selama proses pengerjaan skripsi,
accepting responsibility dapat dilihat bahwa mahasiswa menyadari mereka
memiliki peran penting serta memiliki rasa tanggung jawab atas skripsinya
masing-masing dan mereka selalu ada kemauan serta niat untuk menyelesaikan
kewajiban tersebut, kemudian untuk strategi self controlling dibuktikan dari
sikap mahasiswa yang selalu berfikir sebelum bertindak melakukan sesuatu serta
sangat menghindari untuk melakukan hal-hal yang dianggap akan menghambat
pengerjaan skripsinya.

Kehidupan sosial budaya yang berada dekat dengan individu pastinya akan
berdampak dalam berperilaku atau memilih suatu pilihan. Lingkungan tersebut
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk
melakukan suatu tindakan serta perubahan-perubahan perilaku yang terjadi pada

87
diri seseorang. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Ruth Benedict
terhadap dua dari bangsa Amerika yaitu Kwakiult dan Zuni dan satu dari
Melanesia yaitu Dobu. Dari penelitian yang dilakukan Ruth Benedict ini dapat
dikemukakan bahwa lingkungan sosial budaya mempengaruhi seseorang untuk
berperilaku. Budaya memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku individu
karena merupakan kumpulan nilai-nilai, norma, tradisi, dan praktik yang dianut
dan diinternalisasi oleh anggota masyarakat. Pengaruh ini tercermin dalam setiap
aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari cara individu berinteraksi dengan orang
lain hingga cara mereka memandang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar
mereka. Begitu pula dalam pemilihan strategi coping, budaya memainkan peran
penting dalam membentuk strategi tersebut melalui nilai-nilai, norma-norma
sosial, dukungan sosial. Ini menunjukkan bahwa strategi coping individu sering
kali mencerminkan konteks budaya mereka.

88
DAFTAR PUTAKA

Aditama, Damar. 2017. Hubungan Antara Spiritualitas dan Stres Pada Mahasiswa
yang Mengerjakan Skripsi. EL-TARBAWI Vol. 10(2).

Ambarwati, Putri Dewi, Sambodo Sriadi Pinilih & Retna Tri Astuti. 2019.
Gambaran Tingkat Stres Mahasiswa. Jurnal Keperawatan Jiwa Vol. 5(1),
40-47.

Baqutayan, Shadiya. 2015. Stress and Coping Mechanisms: A Historical


Overview. Journal of Social Sciences Vol. 6(2).

Benedict, Ruth. 1934. Patterns of Culture. New York: Houghton Mifflin


Company.

Dela, Vitrua Larseman, Anas Munandar Matondang & Rahmad Taufik. 2019.
Strategi Coping Stress Pada Mahasiswa Bimbingan Konseling yang
Menyusun Skripsi di Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan.
Ristekdik: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 4(2), 90-94.

Fauzia, Nadia, Asmaran & Shanty Komalasari. 2021. Dinamika Kemandirian


Mahasiswa Perantauan. Jurnal Al-Husna Vol. 1(3), 167-181.

I, Ismiati. 2015. Problematika dan Coping Stres Mahasiswa Fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Ar-Raniry dalam menyusun skripsi. Jurnal Al-Bayan:
Media Kajian Dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol. 21 (2).

Imanuel, Aria Saloka dkk. 2021. Kajian Stres pada Mahasiswa Sumber Stres dan
Kontribusi Strategi Coping. Jurnal Ilmu Perilaku Vol. 5(2).

Kanita, Maria dan Nur Dewi. 2012. Coping Mechanism Concerned With Culture
Differences of Outer Region Students in The First Year. Journal Nursing
Studies Vol. 1(1), 9-15.

Kurniawati, Weni. 2022. Manajemen Stres pada Mahasiswa Tingkat Akhir dalam
Penyusunan Skripsi. Jurnal An-Nur: Kajian Pendidikan dan Ilmu
Keislaman Vol. 8.

Lazarus, Richard S. & Susan Folkman. 1984. Stress, Apprasial, And Coping. New
York: Springer Publishing Company.

Maryam, Siti. 2017. Strategi Coping: Teori Dan Sumberdayanya. Jurnal


Konseling Andi Matappa Vol. 1(2), 101-107.

Ningrum, Dwi Widya. 2011. Hubungan Antara Optimisme dan Coping Stres Pada
Mahasiswa UEU yang Sedang Menyusun Skripsi. Jurnal Psikologi Esa
Unggul Vol. 9(1), 126-155.

89
Prasetio, Clement Eko, Esther Gustara & Aulia Hanafitri. 2020. Rumah, Tempat
Kembali: Pemaknaan Rumah Pada Mahasiswa Rantau. Mediapsi Vol. 6(2),
132-144.

Saihu, Made, Adib Abdushomad & Encep Darisman. 2021. Strategi Coping Stress
Mahasiswa dalam Penulisan Skripsi. Jurnal Psikologi Vol. 3(1), 72.

Thahir, Akhmad Zhauqi & Suryanto. 2022. Stress Akulturatif pada Individu
Mahasiswa Rantau di Surabaya. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol.
5(11), 4909-4916.

Thoits, Peggy. 1995. Stress, Coping, and Social Support Processes: Where Are
We? What Next?. Journal of Health and Social Behavior, 53-79.

Y, Amallia Putri. 2021 Stress Akademik dan Coping Mahasiswa Menghadapi


Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Bimbingan dan
Konseling Ar-Rahman Vol. 7(2), 55-61.

Yulianti, Marietha Helfi, Jaka Santosa Sudagijono & Robik Anwar Dani. 2021.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Penyesuaian Sosial pada
Mahasiswa Rantau Tahun Pertama. Jurnal Ilmiah Widya Warta Vol. 1.

Yuningsih & Nurjannah. 2019. Adaptasi Masyarakat Transmigran di Desa Batang


Pane II, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Jurnal
Antropologi Sosial dan Budaya Vol. 4(2), 188-193.

Website

Rah, Bintah. 2022. Problematika yang Kerap Dihadapi Mahasiswa Tingkat Akhir.
Diakses pada tanggal 7 Agustus 2023 melalui laman IDNTimes:
[Link]
ka-mahasiswa-akhir-c1c2?page=all

Setyorini, Ida. 2019. Survei: Tugas Kuliah Jadi Sumber Utama Stres di Kalangan
Mahasiswa. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2023 melalui laman Kompas
Muda: [Link]
jadi-sumber-utama-stres-di-kalangan-mahasiswa

Qotunnafiah, Evi. 2022. Pentingnya Adaptasi bagi Mahasiswa Rantau. Diakses


pada tanggal 21 Agustus 2023 melalui laman Media Mahasiswa Indonesia:
[Link]

90
LAMPIRAN

Inisial Informan : RMS


Asal : Kota Semarang
Jurusan : Teknik Sipil
Angkatan : 2019
Judul Tugas Akhir : Identifikasi Karakteristik Tanah dan Analisis Konsolidasi
pada Jalan Tol Semarang-Demak STA 23+000 sampai STA
24+000
Tanggal Wawancara : 11 September 2023
Lokasi Wawancara : Burjo Van Java
Pukul : 19.00-20.50
1. Kendala yang dialami selama pengerjaan tugas akhir
a. Cukup sulit menemukan sumber referensi yang mudah diakses
b. Pengolahan atau analisis data yang tidak selalu mudah
c. Kekhawatiran akan hasil yang tidak sesuai dengan hipotesis
2. Potensi yang dimiliki
a. Dapat mengatur atau membagi waktu karena sudah terbiasa sejak SMA,
mengikuti beberapa kegiatan salah satunya Pasukan Pengibar Bendera
Semarang
b. Dapat bersosialisasi dengan baik sehingga dengan dapat dengan mudah
membangun hubungan pertemanan
c. Merencanakan segala sesuatunya dengan baik untuk meminimalisir hal-hal
yang tidak diinginkan
3. Lingkungan keluarga
a. Tertutup
b. Saling ada untuk satu sama lain
c. Keluarga tidak mengetahui kesulitan atau kendala yang dialami informan
selama pengerjaan tugas akhir
4. Strategi coping yang diterapkan

91
a. Berkeluh kesah dengan teman atau pacar karena mereka yang sangat
berperan dalam memberi semangat atau dukungan kepada informan
b. Bermain untuk melepas lelah pikiran
c. Mengobrol dengan orang lain
d. Mengerjakan tugas akhir bersama teman
e. Tetap mengingat tanggung jawabnya untuk menyelesaikan tugas akhir

Inisial Informan : CDW


Asal : Kota Semarang
Jurusan : Teknik Geodesi
Angkatan : 2019
Judul Tugas Akhir : Analisis Kerentanan Fisik Kawasan Pesisir dengan
Metode Coastal Vulnerability Index (CVI) di Kota
Pekalongan
Tanggal Wawancara : 10 September 2023
Lokasi Wawancara : Kopi Nako
Pukul : 18.45 - 19.40

1. Kendala yang dialami selama pengerjaan tugas akhir


a. Ketersediaan data, terkadang ada data yang tidak tersedia
b. Pengolahan data, terkadang juga harus melihat pengolahan di YouTube
dikarenakan di perkuliahan tidak menggunakan beberapa pengolahan
c. Rasa khawatir atau cemas akan hasil dari pengolahan yang tidak sesuai
harapan
d. Diri sendiri, kadang merasa malas
2. Potensi yang dimiliki
a. Dapat menyesuaikan diri dan mengusahakan hasil yang terbaik, salah satu
contohnya saat ia menjadi Sekretaris Jenderal IMGI (Ikatan Mahasiswa
Geodesi Indonesia) Periode 2022-2023
b. Memiliki motivasi dari dalam diri yang tinggi
c. Dapat membangun hubungan pertemanan yang baik

92
d. Merencanakan segala sesuatunya dengan baik untuk meminimalisir hal-hal
yang tidak diinginkan
3. Lingkungan keluarga
a. Tegas
b. Terbuka
c. Keluarga mengetahui kendala atau kesulitan yang dialami informan
selama pengerjaan tugas akhir, namun tidak sepenuhnya
4. Strategi coping yang diterapkan
a. Memotivasi diri sendiri
b. Bermain bersama teman dengan tujuan meringankan beban pikiran
c. Sesekali bercerita kepada orang tua
d. Tetap mengingat tanggung jawabnya untuk menyelesaikan tugas akhir

Inisial informan : YAS


Asal : Kota Semarang
Jurusan : Teknik Industri
Angkatan : 2019
Judul Tugas Akhir : Usulan Perancangan Model Bisnis pada Kopi Cemara
Semarang dengan Menggunakan Kerangka Business Model
Canvas (BMC)
Tanggal Wawancara : 14 September 2023
Lokasi Wawancara : Mixue Citra Grand
Pukul : 15.00 - 16.45

1. Kendala yang dialami selama pengerjaan tugas akhir


a. Laptop yang saat ini digunakan pergerakannya melambat
b. Kekhawatiran atau kecemasan mengecewakan orang tua yang telah
mempercayakan informan mengambil keputusan menjalani semester akhir
dibarengi dengan pekerjaan freelance
c. Diri sendiri, yang sering merasa minder dengan teman-teman yang
progresnya sudah jauh mendahului informan
2. Potensi yang dimiliki

93
a. Rasa tanggung jawab yang tinggi
b. Dapat menyesuaikan diri antara dunia perkuliahan dan dunia pekerjaan
yang dijalani
c. Merencanakan segala sesuatunya dengan matang untuk meminimalisir hal-
hal yang tidak diinginkan
3. Lingkungan keluarga
a. Tegas
b. Memberi kepercayaan penuh
c. Mendukung tiap keputusan informan
d. Keluarga mengetahui kendala atau kesulitan yang dialami informan
selama pengerjaan tugas akhir, namun tidak sepenuhnya
4. Strategi coping yang diterapkan
a. Bermain dan bercerita dengan teman-teman yang cocok
b. Memerlukan dukungan atau bantuan dari teman-teman dalam menghadapi
kendala pengerjaan tugas akhir
c. Tetap mengingat tanggung jawabnya untuk menyelesaikan tugas akhir

Inisial informan : VA
Asal : Painan, Sumatera Barat
Jurusan : Perencanaan Wilayah dan Kota
Angkatan : 2019
Judul Tugas Akhir : Efektivitas Program Rehabilitasi Sosial Layak Huni
Tahun
2017-2021 di Kabupaten Pesisir Selatan
Tanggal Wawancara : 15 September 2023
Lokasi Wawancara : Kos Informan
Pukul : 09.00 - 11.30
[Link] yang dialami selama pengerjaan tugas akhir
a. Dosen pembimbing yang tidak sesuai dengan topik tugas akhir
b. Harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang sangat berbeda saat berada
di kota asalnya, contohnya saat berada di Painan ia lebih suka menyendiri

94
tetapi sejak berada di perantauan ia banyak melibatkan teman-temannya
dalam tiap aktivitas
2. Potensi yang dimiliki
a. Memiliki motivasi diri yang tinggi
b. Dapat menyesuaikan diri dengan cepat
c. Dapat menenangkan perasaannya sendiri
3. Lingkungan keluarga
a. Tegas
b. Mengajarkan disiplin sejak kecil
c. Mengajarkan untuk peduli atau perhatian dengan orang-orang sekitar
d. Keluarga mengetahui kendala atau kesulitan yang dialami informan
selama pengerjaan tugas akhir, namun tidak sepenuhnya
4. Strategi coping yang diterapkan
a. Saat di kota asalnya, informan terbiasa untuk mengatasi segala kesulitan
atau meringankan beban masalahnya sendiri namun saat di perantauan ia
menemukan teman-teman yang cocok dan hal ini membuat informan
nyaman untuk bercerita serta berkeluh kesah atau sekedar bercanda dengan
mereka
b. Mengunjungi tempat-tempat yang disukai seperti McD, Swalayan ADA,
Taman Tirto Agung dan Superindo
c. Membicarakan hal-hal lucu dengan teman-teman
d. Tetap mengingat tanggung jawabnya untuk menyelesaikan tugas akhir
e. Mengerjakan tugas akhir sambil mendengarkan musik. khususnya musik
yang bertema galau

Inisial informan : RDR


Asal : Cimahi, Jawa Barat
Jurusan : Teknik Mesin
Angkatan : 2019

95
Judul Tugas Akhir : Analisis Pengaruh Kekasaran Permukaan Terhadap
Performa Journal Bearing dengan Fluida Newtonian dan Non-Newtonian
menggunakan Metode Computational Fluid Dynamics (CFD)
Tanggal Wawancara : 17 September 2023
Lokasi Wawancara : Parjo
Pukul : 15.30 - 16.45
1. Kendala yang dialami selama pengerjaan tugas akhir
a. Terbebani dengan sistem adu skor untuk mendapatkan dosen pembimbing
b. Terdapat mata kuliah yang menjadi syarat untuk tema tugas akhir yang
belum selesai
c. Cukup susah membiasakan diri dengan cuaca di Semarang
d. Rasa khawatir bila mengecewakan keluarga dan tertinggal oleh teman-
teman
e. Keluarga yang selalu berekspektasi tinggi terhadap informan
2. Potensi yang dimiliki
a. Dapat mengolah emosi dengan baik
b. Memiliki tanggung jawab yang tinggi
c. Merencanakan segala sesuatu sematang mungkin agar menemukan jalan
keluar terbaik
d. Mampu menyesuaikan diri
3. Lingkungan keluarga
a. Tegas
b. Tidak mengetahui kesulitan yang dialami informan selama pengerjaan
tugas akhir
c. Berekspektasi tinggi terhadap informan
4. Strategi coping yang diterapkan
a. Bermain dan bercerita dengan teman-teman yang cocok
b. Semenjak di perantauan, informan sering berkeliling Semarang
menggunakan motor atau bermain di malam hari karena tidak terbiasa
dengan cuaca siang hari di Semarang

96
c. Memerlukan dukungan atau bantuan dari teman-teman dalam menghadapi
kendala pengerjaan tugas akhir
d. Tetap mengingat tanggung jawabnya untuk menyelesaikan tugas akhir

Inisial informan : SH
Asal : Serang
Jurusan : Arsitektur
Angkatan : 2019
Judul Tugas Akhir : Pusat Kebudayaan dan Komunitas Kota Semarang
Berbasis TOD
Tanggal Wawancara : 20 September 2023
Lokasi Wawancara : Burjo Mitro
Pukul : 11.00 - 12.30
1. Kendala yang dialami selama pengerjaan tugas akhir
a. Memiliki rasa khawatir atau cemas yang berlebihan hingga seringkali
mual
b. Saat di kota asal, informan sering meringankan beban pikiran dengan
berkeliling menggunakan motor, namun hal itu tidak bisa dilakukan di
perantauan karena merasa pengendara di Semarang ugal-ugalan dan
banyak yang tidak menaati peraturan lalu lintas
c. Saat di kota asal, SH juga sering bermain gitar untuk meringankan beban
pikirannya, namun hal itu tidak bisa dilakukan di perantauan karena ia
merasa akan mengganggu tetangga kos
2. Potensi yang dimiliki
a. Memikirkan strategi coping yang dirasa sesuai untuk dilakukan di
perantauan agar tidak mengganggu siapapun
b. Memiliki tanggung jawab yang tinggi
c. Mampu mengatasi rasa cemas berlebihannya
3. Lingkungan keluarga
a. Tegas

97
b. Keluarga tidak mengetahui kesulitan yang dialami informan dalam
pengerjaan tugas akhir
c. Sangat hormat dan tidak bisa bersikap santai kepada orang tua
4. Strategi coping yang diterapkan
a. Informan merasa cangguug untuk banyak bercerita kepada keluarga, hal
ini yang membuatnya memilih teman atau pacar dalam berkeluh kesah
b. Karena informan merasa pengendara di Semarang ugal-ugalan maka
semenjak di perantauan, ia lebih nyaman untuk berada di kos
c. Bermain gitar yang biasanya ia lakukan di kota asal digantikan dengan
tidur di perantauan, karena SH tidak ingin mengganggu tetangga kosnya
d. Bercerita atau berkeluh kesah dengan teman dan pacar

Pedoman Wawancara
Tema 1: Informasi Pribadi
1. Nama, jurusan
2. Daerah asal
3. Judul tugas akhir
Tema 2: Pengerjaan tugas akhir
1. Mengapa memilih judul tersebut?
2. Apakah sebelum menentukan judul tersebut kamu sudah memiliki
gambaran mengenai penelitian dan pengolahan datanya?
3. Apakah kamu menargetkan kapan kamu akan menyelesaikan pengerjaan
tugas akhir ini?
4. Sejauh ini, apakah ada hal yang menjadi kendala dalam pengerjaan tugas
akhir?
Tema 3: Lingkungan sosial
1. Apakah saat mengalami kesulitan kamu menceritakannya kepada orang
tua atau saudara kandung?
2. Apa yang membuat nyaman atau tidak nyaman bercerita kepada keluarga
terdekat?

98
3. Apa yang orang tuamu tanamkan sejak kecil bila mengalami suatu
kendala?
4. Apakah hal itu (nomor 3) tetap kamu lakukan hingga saat ini bila
mengalami suatu kendala?
5. Apakah kehadiran teman-temanmu dapat meringankan beban pikiranmu?
Bagaimana caranya?
6. Selain teman-teman, adakah orang lain yang membuatmu kembali
memiliki semangat untuk menyelesaikan tugas akhir? Bagaimana caranya?
7. Apakah sejak memasuki fase mahasiswa tingkat akhir, kamu jadi pribadi
yang lebih suka bermain atau bergaul? Atau tidak ada yang berubah?
8. Apakah sosial media mempengaruhi pilihanmu dalam menentukan
tindakan apa yang akan kamu lakukan untuk meringankan beban pikiran?
Bagaimana caranya?
Tema 4: Emotion focused coping dan problem focused coping
1. Saat menghadapi beberapa kendala tersebut apa yang biasanya kamu
lakukan untuk mengatasinya atau sekedar meringankannya?
2. Apa yang kamu rasakan setelah melakukan cara tersebut?
3. Apakah cara itu selalu kamu lakukan bila mengalami suatu kendala atau
hambatan?
4. Apakah kamu selalu membutuhkan peran orang lain dalam menumbuhkan
kembali rasa semangat untuk melanjutkan pengerjaan skripsi? (seeking
social support)
5. Apakah kamu selalu merencanakan apa yang harus kamu lakukan agar
skripsi dapat cepat selesai? jika iya, apa yang kamu lakukan? (planful
problem solving)
6. Apakah kamu pernah melakukan hal-hal yang berisiko buruk saat
mengalami stres karena skripsi? seperti mungkin contohnya mabuk-
mabukan dan sebagainya? (confrontative coping)
7. Apakah kamu memandang skripsi sebagai hal yang positif, hal yang bisa
memberi suatu pelajaran untuk kamu? (positive reapprasial)

99
8. Dalam pengerjaan skripsi yang tak terhindarkan dari satu atau lebih
kendala, apakah kamu tetap ada niat untuk menyelesaikan skripsimu?
(accepting responsibility)
9. Sejak masuk dalam masa pengerjaan skripsi, adakah perilaku-perilaku
yang berubah untuk mencegah terjadinya hal-hal tidak diinginkan yang
dapat berdampak dalam penyelesaian skripsi? (self controlling)
10. Apakah kamu pernah berhenti untuk tidak melanjutkan progres pengerjaan
karena merasa lelah atau stres yang diakibatkan oleh skripsi itu sendiri?
(distancing)
11. Apakah kamu pernah menghindar hingga tak mau bersosialisasi dengan
orang lain saat sedang stres atau lelah pikiran? (escape avoidance)
Pedoman Observasi
1. Kesan umum yang dilihat melalui penampilan informan
2. Keadaan emosi yang meliputi bahasa tubuh, ekspresi serta cara menjawab
seperti adanya penekanan atau pengulangan yang berhubungan dengan
strategi coping
3. Bentuk strategi coping yang digunakan saat mengerjakan skripsi

Informan Lokal

(Wawancara dengan RMS) (Wawancara dengan CDW)

100
(Wawancara dengan YAS)

Informan Rantau

(Wawancara dengan VA)

101
(Wawancara dengan SH)

(Wawancara dengan RDR)

102
BIODATA PENULIS

Nama : Nathania Ekarani M


Tempat, tanggal lahir : Semarang, 5 Juni 2001
Alamat : JL. KPA 1 RT 03 RW 17 Kel. Sendangmulyo Kec.
Tembalang, Seamarang

Pendidikan Formal
Jenjang Nama Sekolah Nama Kota Tahun Tahun
Masuk Lulus
SD SD Kebon Semarang 2007 2013
Dalem 2
SMP SMP St. Yoris Semarang 2013 2016
SMA SMA PL Don Semarang 2016 2019
Bosko
Universitas Universitas Semarang 2019 2024
Diponegoro

Pelatihan/Seminar
Acara Penyelenggara Tempat Tahun
Webinar: How To Skillana Semarang 2020
Move From
Comfort to
Growth Zone
Webinar KAWAN UNDIP Semarang 2021
Etnografi Visual
Pelatihan: Project Coursera Semarang 2021
Management
Pelatihan: Be Global Semarang 2021
Content Writing Indonesia
Webinar: How To Skillana Semarang 2022
Be The Best
Version of
Yourself
Webinar: Skillana Semarang 2023
Mastering Public
Speaking for

103
Your Career

Pengalaman Magang
Instansi Posisi Nama Kota Tahun
Dinas Sosial Bidang Semarang 2022
Provinsi Jawa Pemberdayaan
Tengah Sosial
Sekretariat Kota Bidang Semarang 2023
Semarang Kesejahteraan
Rakyat

Daftar Informan
Nama (Inisial) Jurusan Asal Kota
RMS Teknik Sipil Semarang
CDW Teknik Geodesi Semarang
YAS Teknik Industri Semarang
VA Perencanaan Wilayah Painan
dan Kota
RDR Teknik Mesin Cimahi
SH Arsitektur Serang

104

Anda mungkin juga menyukai