Nama : Auliatur Rohmah
Nim : 21051334048
Kelas : Gizi 2021 B
ESAI KOLABORASI INTERPROFESIONAL
Pelayanan di rumah sakit melibatkan berbagai macam profesi Kesehatan sesuai dengan
peran dan tanggung jawab masing-masing. Oleh karena itu World Health Organization (2010),
memperkenalkan adanya kolaborasi interprofessional (IPC) yang membuat institusi Pendidikan
dan pelayanan kesehatan mulai mengembangkan serta menerapkan kolaborasi interprofesional.
Adanya pengembangan konsep kolaborasi interprofesional dari profession center ke patient
center dapat mengintegrasikan praktik kerjasama dari berbagai disiplin ilmu khususnya di bidang
kesehatan untuk meningkatkan pelayanan pasien. Menurut Institute of Medicine (IOM) konsep
kerjasama dalam IPC terbukti efektif dalam pemberian pelayanan berfokus pada pasien (Patient
Cantared Care), karna lebih aman, efektif dan efisien pentingnya implementasi kolaborasi
interprofessional dapat diperkenalkan sejak saat mahasiswa agar dapat mempersiapkan diri
dalam memberikan praktik kolaboratif interprofesional di lapangan nanti.
Kolaborasi interprofessional adalah kerjasama antara berbagai profesi kesehatan yang
bertujuan untuk meningkatkan asuhan pasien secara preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif
di dalam batas-batas atau kewenangan masing-masing profesi. Praktik IPC kesehatan yang
melibatkan berbagai profesi kesehatan bertujuan untuk membuat keputusan bersama tentang
masalah kesehatan pasien dalam memberikan layanan yang komprehensif (Hustoft et al., 2018).
IPC menggunakan komunikasi secara efektif untuk memastikan bahwa berbagai kebutuhan
pasien akan pelayanan kesehatan ditangani dan dilayani secara terpadu. Strategi IPC bertujuan
untuk patient safety, kekurangan SDM, dan mengubah sistem perawatan kesehatan yang lebih
efektif. IPC yang tidak baik akan memberikan dampak yang tidak baik bagi pihak Rumah Sakit,
staf dan pasien sebagai penerima pelayanan. Adapun dampak yang ditimbulkan adalah semakin
meningkatnya ketidak puasan hingga maraknya tuntutan pasien atau keluarga pasien (Yang,
2018). Dengan demikian IPC merupakan hal yang penting dalam pelayanan rumah sakit.
Ahli gizi memainkan peran penting dalam bidang kesehatan saat ini karena adanya
kolaborasi dengan berbagai profesi kesehatan seperti fisioterapi, dokter, farmasi, bidan, rekam
medis, psikolog, tenaga laboratorium medis, dan perawat (DiMaria-Ghalili et al., 2014).
Hubungan antara fisioterapi yaitu adanya rehabilitasi nutrisi untuk memperbaiki status nutrisi
pada pasien sarcopenia dan kelemahan pasien lanjut usia yang cacat dan lemah. Gangguan
nutrisi, sarkopenia, dan asupan energi yang tidak memadai berdampak buruk pada pemulihan
fungsi fisik. Skrining gizi oleh fisioterapis dapat mengidentifikasi pasien dengan gangguan gizi.
Jika diduga malnutrisi, fisioterapis harus berkonsultasi dengan ahli gizi untuk mengevaluasi
asupan nutrisi dan status gizi secara lebih lanjut serta mempertimbangkan manajemen perawatan
gizi yang tepat agar dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan gangguan
gizi.
Hubungan antara ahli gizi dengan dokter yaitu pada saat diagnosa medis dapat dijadikan
acuan dalam pemberian pengobatan gizi sehingga dapat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
pasien. Lalu, peran perawat yang memberikan perawatan langsung kepada pasien juga bisa
mendapatkan komunikasi tindak lanjut, misalnya terkait dengan pemasangan alat untuk jalur
makanan. Ahli gizi juga bekerja sama dengan perawat untuk mengawasi kesehatan, riwayat
kesehatan, dan gejala pasien sehingga asupan makanan dapat diubah sewaktu-waktu asesuai
kebutuhan pasien. Penanganan gizi bagi pasien yang sedang hamil, baik sebelum melahirkan,
atau setelah melahirkan dapat menjadi bentuk kerjasama ahli gizi dengan bidan. Kondisi ibu
hamil yang kekurangan gizi atau kelebihan gizi akibat kurangnya kebutuhan asupan nutrisi dapat
meningkatkan risiko bagi kesehatan ibu dan bayi sehingga perlunya kolaborasi antara bidan dan
ahli gizi,
Ahli gizi adapat membuat diagnosis gizi apabila memperoleh catatan medis dan
anamnesis pasien dari perekam medis. Setelah memperoleh catatan medis dan anamnesis dari
perekam medis selanjutnya dokter meresepkan obat ke apoteker sedangkan peran nutrisionis
memberikan informasi terkait interaksi antara obat tersebut dengan makanan sehingga dapat
meningkatkan efektivitas obat. Dalam lingkup rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya,
pasien dapat dikirim ke staf laboratorium untuk melakukan pemeriksaan atau meninjau data
biokimia. Ahli gizi juga memerlukan tenaga laboratorium medis untuk mendapatkan informasi
biokimia pasien agar lebih akurat dalam mendiagnosis dan melalukan asuhan gizi. Misalnya,
seorang pasien mungkin menjalani asuhan gizi yang memerlukan informasi biokimia dalam
menentukan kadar sel darah merah,sel darah putih,dll. Setelah pasien diberikan pelayanan dan
asuhan Kesehatan maka untuk menjaga sikap maintenance pasien secara mandiri dapat diberikan
konseling gizi. Pemberian konseling gizi tentu juga tidak lepas dari peran psikolog yang dapat
membantu dalam mengidentifikasi perilaku pasien, Misalnya, dengan kita mengetahui penyebab
pola makan yang tidak sehat, ilmu psikologi bisa membantu kita mengetahui cara menghadapi
penyebab tersebut dengan mengelola stress, depresi, hingga cara meningkatkan kemauan untuk
mengubah kebiasaan makan yang tidak baik menjadi lebih baik.
Dalam berkolaborasi, permasalahan pasien terkait nutrisi dan gizinya telah menjadi tugas
nutrisionis atau dietisien sehingga dokter atau perawat dapat merujuk dan mengambil Tindakan
ya sesuai dengan perawatan yang dibutuhkan. Walaupun terdapat anggapan bahwa profesi dokter
memiliki keunggulan tersendiri, namun profesi nutrisionis tidak kalah penting dalam ranah
kerjanya. Maka, kepercayaan diri dalam kompetensi dan keterampilan nutrisionis atau dietisen
menjadi kunci utama yang harus dipegang teguh dan dimiliki. Dengan perbedaan yang ada,
komunikasi harus dibangun untuk menciptakan iklim budaya kerja yang menyenangkan.
Termasuk nutrisionis atau dietisien harus saling percaya satu sama lain dalam bekerja demi
kelancaran pelayanan pasien. Pada praktiknya sendiri, kolaborasi interprofesional terkadang
hanya berjalan pada satu atau dua bidang tenaga kesehatan saja karena keterbatasan sumber daya
manusia atau kendala yang ada.
Kolaborasi interprofesional memerlukan adanya program koordinasi yang benar-benar
dilaksanakan dan dipahami oleh masing-masing tenaga kesehatan. Perbaikan dan penguatan
misalnya oleh nutrisionis atau dietisien harus memiliki struktur organisasi yang jelas dengan
pembagian tugas sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui bagian arah kerja nutrisionis
atau dietisien yang masih dikesampingkan. Idealnya, nutrisionis atau dietisien dapat bekerja pada
bidangnya dan saling menyamakan persepsi dan pemahaman diantara masing-masing tenaga
kesehatan untuk mencapai kesepakatan perawatan dan pemecahan masalah kesehatan pada
pasien. Kunci utama untuk dapat meningkatkan kerjasama interprofesional yang baik dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dan masyarakat adalah komunikasi yang efektif.
Dengan komunikasi efektif yang baik kolaborasi akan dibangun antara profesi pemberi
perawatan
DAFTAR PUSTAKA
DiMaria-Ghalili, R. A., Mirtallo, J. M., Tobin, B. W., Hark, L., Van Horn, L., & Palmer, C. A.
(2014). Challenges and opportunities for nutrition education and training in the health care
professions: Intraprofessional and interprofessional call to action. American Journal of
Clinical Nutrition, 99(5), 1184–1193. [Link]
Hustoft, M., Biringer, E., Gjesdal, S., Aßus, J., & Hetlevik,. (2018). Relational coordination in
interprofessional teams and its effect on patient-reported benefit and continuity of care: A
prospective cohort study from rehabilitation centres in Western Norway. BMC Health
Services Research, 18(1), 1–9. [Link]
Yang, Y. (2018). Tang et al 2018 Nature Communications ( Supplementary Information )
Supplementary Information Tang et al . 2018 . Identifying long-term stable refugia for
relict plant species in East Asia . October.
WHO. (2010). Human Resources for Health Framework for Action on Interprofessional
Education & Collaborative Practice.