0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan44 halaman

Perbandingan Displacement Struktur Apartemen

Dokumen tersebut membahas perbandingan displacement antara sistem struktur rigid frame dengan sistem struktur dual system pada bangunan apartemen 30 lantai. Isi ringkasan dokumen meliputi latar belakang, tujuan, metode penelitian perbandingan displacement kedua sistem struktur pada bangunan apartemen tinggi tersebut.

Diunggah oleh

muhammad bido
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan44 halaman

Perbandingan Displacement Struktur Apartemen

Dokumen tersebut membahas perbandingan displacement antara sistem struktur rigid frame dengan sistem struktur dual system pada bangunan apartemen 30 lantai. Isi ringkasan dokumen meliputi latar belakang, tujuan, metode penelitian perbandingan displacement kedua sistem struktur pada bangunan apartemen tinggi tersebut.

Diunggah oleh

muhammad bido
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERBANDINGAN DISPLACEMENT ANTARA SISTEM

STRUKTUR RIGID FRAME DENGAN SISTEM STRUKTUR


DUAL SYSTEM PADA BANGUNAN APARTEMEN 30 LANTAI

SKRIPSI PENELITIAN
TUGAS AKHIR – 478D5136
PERIODE II

OLEH:

ANDI ARNITA DWI DESTRINA


D5 11 14 030

DEPARTEMEN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
GOWA
2021
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang


melimpahkan nikmat dan karunia-Nya sehingga tugas akhir dengan judul:

PERBANDINGAN DISPLACEMENT ANTARA


SISTEM STRUKTUR RIGID FRAME DENGAN SISTEM STRUKTUR
DUAL SYSTEM PADA BANGUNAN APARTEMEN 30 LANTAI

dapat diselesaikan dengan baik. Segala upaya telah saya lakukan dalam menyusun
tugas akhir ini, namun keterbatasan tenaga, kemampuan dan waktu menjadi
batasan saya sebagai manusia biasa. Adapun harapan penulis agar tugas akhir ini
dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan perincian dalam tahap penelitian
selanjutnya.
Tak lupa pula ucapan terima kasih saya sampaikan dengan penuh hormat
kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian tugas
akhir ini, antara lain kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, Drs. Andi Ajir Mattahya dan Andi Rayu Kartika Sary
yang selalu memberikan perhatian, dukungan, doa, dan motivasi yang tiada tara.
2. Prof. Dr. Ir. Victor Sampebulu, [Link] dan Dr. Ir. Hartawan, MT selaku dosen
pembimbing yang dengan sabar membimbing, meluangkan waktu, perhatian dan
membagi ilmunya selama penulisan tugas akhir ini.
3. Dr. Eng. Nasruddin, ST., MT selaku dosen penguji sekaligus dosen penasehat
akademik penulis yang telah memberikan bimbingannya selama di bangku
perkuliahan.
4. Ir. Muh. Taufik Ishak, MT selaku dosen penguji ujian akhir yang telah memberikan
arahan dan masukan terkait penulisan tugas akhir ini.

5. Dr. H. Edward Syarif, ST., MT selaku Ketua Departemen Teknik Arsitektur


Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin beserta seluruh dosen dan staf lainnya,
terima kasih atas ilmu-ilmunya yang berharga dan juga bantuannya selama ini.

iii
6. Segenap keluarga besar sekaligus teman-teman ‘Arsiktetur Angkatan 2014’, yang
telah banyak memberi bantuan, arahan, dan masukan selama di bangku
perkuliahan.
7. Rekan seperjuangan saya tim pejuang [Link] yaitu Agnes, Tsanny, Kak Yustin,
Nanda, Apryliawan, Adzhani, Titi, Yusriadi, Icha, Dewi, Jihan dan Mutia yang
telah menjadi saudara dan saudari, senantiasa mendukung, menemani,
mengingatkan, dan memberi motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir.
8. Saudara saya yang berada di Luwu Utara, kampung halaman saya yaitu Andi Muh.
Aslam, Andi Muh. Anugrah, dan Andi Muh. Batara yang memberi semangat serta
doanya beserta Andi Annisa Eka Aprilda, [Link]., selaku motivator dan kakak saya
yang telah menemani saya selama di perantauan tinggal bersama dan memberikan
dukungan selama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan.
9. Serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhir kata dengan segenap kerendahan hati, penulis menyadari masih


terdapat banyak kekurangan dalam pembuatan tugas akhir ini. Oleh karena itu,
saya memohon maaf atas kekeliruan yang tanpa sengaja terbuat. Semoga tugas
akhir ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa lainnya dan dipergunakan
dengan sebagaimana mestinya.
Gowa, September 2021

PENULIS

ANDI ARNITA DWI DESTRINA

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ................................................................. ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... x
ABSTRAK ............................................................................................................. xi
ABSTRACT .......................................................................................................... xii

BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................... 1


A. Latar Belakang Penelitian ................................................................................ 1
B. Rumusan Penelitian ......................................................................................... 2
C. Manfaat dan Tujuan Penelitian ........................................................................ 2
D. Lingkup Penelitian ........................................................................................... 3
E. Batasan Penelitian ............................................................................................ 4
F. Sistematika Penelitian ...................................................................................... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 6


A. Tinjauan Umum tentang Apartemen ................................................................ 6
B. Karakteristik Perancangan Model Bangunan Apartemen ................................ 7
C. Tinjauan Umum tentang Sistem Struktur Bangunan Tinggi ............................ 8
D. Tinjauan Umum tentang Sistem Struktur Dual System .....................................
(Kombinasi Sistem Struktur Rigid Frame dan Shear Wall) .......................... 14
E. Tinjauan Umum tentang Material Struktur Bangunan ................................... 19
F. Tinjauan Umum tentang Prinsip Tumpuan Struktur Bangunan .................... 22
G. Tinjauan Umum tentang Pembebanan Struktur Bangunan ............................ 24

v
BAB 3 METODE PENELITIAN........................................................................ 32
A. Jenis Metode Penelitian ................................................................................. 32
B. Jenis Data Penelitian ...................................................................................... 32
C. Variabel Penelitian ......................................................................................... 36
D. Alat Bantu Penelitian ..................................................................................... 38
E. Tahapan Penelitian ......................................................................................... 40
F. Kerangka Penelitian ....................................................................................... 41

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 43


A. Kriteria Desain ............................................................................................... 43
B. Perhitungan Awal Desain (Preliminary Design) Dimensi Elemen Struktur . 45
C. Pemodelan Bangunan Apartemen 30 Lantai dengan SAP 2000 ................... 52
D. Penerapan Kasus Pembebanan pada Model Struktur dengan SAP 2000 ....... 55
E. Hasil Analisa Perbandingan Displacement dari 2 Model Stuktur yang ......... 99
F. Analisis Perbandingan Luas Penopang Vertikal (Kolom dan Shearwall) .........
pada 2 Model Bangunan Apartemen ............................................................ 101

BAB 5 PENUTUP............................................................................................. 103


A. Kesimpulan .................................................................................................. 103
B. Saran ............................................................................................................. 105

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... xiii

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jenis Sistem Struktur Bangunan Tinggi menurut Schueller 1977 .......... 10
Tabel 2 Mutu Baja Tulangan (Beban Tetap) ....................................................... 21
Tabel 3 Kelas dan Mutu Beton (Beban Tetap) .................................................... 21
Tabel 4 Prinsip Tingkat Derajat Kebebasan Tiap Jenis Tumpuan ...................... 24
Tabel 5 Berat Sendiri Bahan Bangunan dan Komponen Gedung ....................... 26
Tabel 6 Beban Hidup pada Lantai Struktur ......................................................... 28
Tabel 7 Kombinasi Pembebanan ......................................................................... 31
Tabel 8 Pembagian Fungsi Lantai Bangunan Apartemen ................................... 34
Tabel 9 Daftar Dimensi Kolom Berdasarkan Pembebanan Per Lantai (cm) ....... 51
Tabel 10 Berat Struktur dan Beban Mati Tambahan Pada Apartemen ................ 55
Tabel 11 Tabel Pergeseran Joint Displacement Pada Beban Mati ........................ 56
Tabel 12 Tabel Pergeseran Joint Displacement Pada Beban Hidup ..................... 62
Tabel 13 Tabel Pergeseran Joint Displacement Pada Beban Angin Arah X ......... 69
Tabel 14 Tabel Pergeseran Joint Displacement Pada Beban Angin Arah Y ......... 74
Tabel 15 Tabel Pergeseran Joint Displacement Untuk Beban Kombinasi 1 ......... 80
Tabel 16 Tabel Pergeseran Joint Displacement Untuk Beban Kombinasi 2 ......... 85
Tabel 17 Tabel Pergeseran Joint Displacement Untuk Beban Kombinasi 3 ......... 90
Tabel 18 Tabel Pergeseran Joint Displacement Untuk Beban Kombinasi 4 ......... 95
Tabel 19 Perbandingan Keunggulan 2 Model Bangunan Berdasarkan .................
Besaran Joint Displacement dari SAP2000 ............................................ 100
Tabel 20 Perbandingan Luas Penopang Vertikal (Kolom dan Shearwall) pada ...
2 Model Bangunan yang Diuji ............................................................... 101

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Respons Lenturan Balok dan Kolom .................................................. 15


Gambar 2 Simpangan pada Struktur Rangka Kaku (Rigid Frame) ..................... 15
Gambar 3 (a) Bearing Walls (b) Frame Walls (c) Core Walls ............................ 16
Gambar 4 Perilaku Penggabungan Elemen Rigid Frame dan Shear Wall........... 18
Gambar 5 Jenis Tumpuan Sendi .......................................................................... 22
Gambar 6 Jenis Tumpuan Rol.............................................................................. 23
Gambar 7 Jenis Tumpuan Jepit ............................................................................ 23
Gambar 8 Skema Pembebanan Struktur Bangunan ............................................. 25
Gambar 9 Variabel Bebas dan Terikat (Arah Pembebanan) pada 2 Model .........
Bangunan Apartemen yang Diuji ........................................................ 37
Gambar 10 Interface Program AutoCAD 2016 ...................................................... 38
Gambar 11 Interface Program SAP 2000 versi 15 ................................................. 39
Gambar 12 Input Spesifikasi Material Beton dan Baja Tulangan ......................... 44
Gambar 13 Model Struktur Bangunan 1 (Rigid Frame) ........................................ 53
Gambar 14 Model Struktur Bangunan 2 (Dual System) ........................................ 54
Gambar 15 Input Beban Mati Tambahan pada Bangunan. .................................... 55
Gambar 16 Grafik Joint Displacement Beban Mati pada Bangunan Model 1 ..... 57
Gambar 17 Grafik Joint Displacement Beban Mati pada Bangunan Model 2 ..... 58
Gambar 18 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model untuk Beban Mati ........ 59
Gambar 19 Input Beban Hidup pada Bangunan .................................................... 61
Gambar 20 Grafik Joint Displacement Beban Hidup pada Bangunan Model 1 ... 63
Gambar 21 Grafik Joint Displacement Beban Hidup pada Bangunan Model 2 ... 64
Gambar 22 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model untuk Beban Hidup ..... 65
Gambar 23 Peta Prakiraan Arah Angin di Indonesia ............................................. 67
Gambar 24 Input Beban Angin pada Kolom Pinggir Bangunan ........................... 68
Gambar 25 Grafik Joint Displacement Beban Angin Arah X pada......................
Bangunan Model 1 .............................................................................. 70
Gambar 26 Grafik Joint Displacement Beban Angin Arah X pada......................
Bangunan Model 2 .............................................................................. 71

viii
Gambar 27 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model untuk Beban ................
Angin Arah X ...................................................................................... 72
Gambar 28 Grafik Joint Displacement Beban Angin Arah Y pada......................
Bangunan Model 1 .............................................................................. 75
Gambar 29 Grafik Joint Displacement Beban Angin Arah Y pada......................
Bangunan Model 2 .............................................................................. 76
Gambar 30 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model untuk Beban ................
Angin Arah Y ...................................................................................... 77
Gambar 31 Input Beban Kombinasi pada Bangunan ............................................ 79
Gambar 32 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 1 pada Bangunan 1 ... 81
Gambar 33 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 1 pada Bangunan 2 ... 82
Gambar 34 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model Bangunan untuk ..........
Beban Kombinasi 1 ............................................................................ 83
Gambar 35 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 2 pada Bangunan 1 ... 86
Gambar 36 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 2 pada Bangunan 2 ... 87
Gambar 37 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model Bangunan untuk ..........
Beban Kombinasi 2 ............................................................................ 88
Gambar 38 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 3 pada Bangunan 1 ... 91
Gambar 39 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 3 pada Bangunan 2 ... 92
Gambar 40 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model Bangunan untuk ..........
Beban Kombinasi 3 ............................................................................ 93
Gambar 41 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 4 pada Bangunan 1 ... 96
Gambar 42 Grafik Joint Displacement Beban Kombinasi 4 pada Bangunan 2 ... 97
Gambar 43 Grafik Perbandingan Displacement 2 Model Bangunan untuk ..........
Beban Kombinasi 4 ............................................................................ 98

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Perhitungan Lift ................................................................................. 106


Lampiran 2 Perhitungan Kebutuhan Air Bersih .................................................... 108
Lampiran 3 Gambar Arsitektural Bangunan Apartemen 30 Lantai ...................... 110

x
ABSTRAK

Pembangunan Apartemen yang menggunakan metode rancang bangun


secara vertikal dengan jumlah lantai yang banyak atau disebut high rise building.
Sistem struktur untuk bangunan vertikal (high rise building) terdapat beberapa
kategori diantaranya sistem struktur Rigid Frame (rangka kaku) dan sistem
struktur Dual System (rangka-dinding geser). Kedua sistem struktur ini akan
diaplikasikan pada Apartemen 30 Lantai sesuai dengan karakteristik arsitektural
yang telah didesain oleh penulis. Dari pengaplikasian dua sistem struktur tersebut
akan dianalisis menggunakan aplikasi SAP 2000 versi 15 dan didapatkan hasil dari
pergeseran titik struktur (Joint Displacement) yang ditinjau pada tiap lantai
berdasarkan nilai pembebanan yang dimasukkan pada bangunan tersebut. Jenis
pembebanan yang dimasukkan ialah beban mati, beban hidup, beban angin dan
beban kombinasi. Dari hasil penelitian ini didapatkan besaran perbandingan dari
nilai joint displacement pada kedua model bangunan dengan sistem struktur yang
diuji. Nilai displacement pada kedua model bangunan dengan sistem struktur yang
berbeda memiliki perbedaan besaran tergantung dari nilai beban yang diterapkan.
Dari beberapa jenis pembebanan untuk mengetahui sistem struktur manakah yang
lebih ungul diterapkan beban kombinasi. Dan hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa sistem struktur Dual System lebih unggul dalam menahan kombinasi
beban-beban yang bekerja pada bangunan Apartemen 30 Lantai daripada sistem
struktur Rigid Frame.

Kata Kunci: High Rise Building, Displacement, Rigid Frame, Dual System.

xi
ABSTRACT

The Construction of Apartment that used the vertical design method with a
large number of floors or called high rise building. There are several categories
of structural systems for vertical building (high rise building), including Rigid
Frame structural system and Dual System structural system (Rigid-Shear Wall).
These two of structural systems will be applied to the 30th floors of Apartment
building in accordance with the architectural characteristics that have been
designed by the author. From the application of two structural systems, it will be
analyzed using SAP 2000 version 15 and the results obtained from the structural
point shift (Joint Displacement) which are viewed on each floor based on the load
values that entered to the building. The types of loads included are dead load, live
load, wind load and combinations load. From the result of this research it was
found comparison of the joint displacement values in the two building models with
the structural system tested. From the kind of loads to find out which structural
system is superior, a combined load is applied. And the results of this study
indicate that the Dual System structural system is superior in resisting the
combination of loads that work on a 30-floor apartment building than the Rigid
Frame structural system.

Keywords: High Rise Building, Displacement, Rigid Frame, Dual System.

xii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Laju pembangunan infrastruktur di era globalisasi masa kini kian meningkat


setiap tahunnya. Infrastruktur suatu Negara, termasuk di Indonesia yang
merupakan Negara berkembang menjadi permasalahan yang esensial. Hal
tersebut dikarenakan infrastruktur menjadi tolak ukur utama kemajuan suatu
negara atau bangsa.

Kota-kota besar di Indonesia termasuk Kota Makassar mulai mengalami


keterbatasan lahan untuk keperluan pembangunan. Oleh karena itu metode
rancang bangun secara vertikal menjadi pilihan tepat yang dilakukan untuk
mengoptimalkan penggunaan lahan yang efisien. Sebagai contoh perancangan
bangunan seperti apartemen, hotel, dan perkantoran umumnya telah menggunakan
metode rancang bangun secara vertikal dengan jumlah lantai yang banyak atau
juga sering disebut high rise building.

Sistem struktur high rise building memerlukan kriteria perancangan yang baik
dan matang agar sesuai umur perencanaan bangunan. Hal ini disebabkan
bangunan harus bertahan terhadap perubahan beban yang berasal dari lingkungan
sekitarnya. Seperti mampu memikul beban angin dan goncangan akibat gempa
bumi. Olehnya itu untuk pencapaian stabilitas dan daktilitas yang optimum
terhadap pembebanan tersebut dalam proses perencanaan bangunan apartemen
yang sesuai dengan karakteristik desain arsitektural yang telah dibuat oleh penulis,
maka penulis mencoba mengaplikasikan sistem struktur gabungan atau disebut
Dual System. Sistem struktur Dual System merupakan kombinasi dari sistem
struktur Rigid Frame (sistem rangka pemikul momen) dan sistem struktur Shear
Wall (dinding geser).

Latar belakang dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar
peran pangaruh sistem struktur Dual System yang diaplikasikan pada bangunan
apartemen 30 lantai dengan membandingkan besaran displacement (nilai

1
pergeseran struktur yang terjadi) antara penggunaan sistem struktur Rigid Frame
saja tanpa Shear Wall dan penggunaan sistem struktur gabungan (Dual System).

Dalam penyajian tugas akhir ini, penulis akan mengaplikasikan sistem strukur
pada bangunan apartemen yang terdiri dari 30 lantai berlokasi di Makassar dengan
menggunakan bantuan program SAP 2000 versi 15. Dengan adanya penelitian ini
diharapkan penentuan dimensi struktur bangunan yang didesain oleh penulis
berdasarkan pada kaidah dan standar pelayanan SNI (Standar Nasional Indonesia)
sehingga menjamin kestabilan dan keamanan bangunan secara struktural. Adapun
untuk penyajian gambar secara arsitektural menggunakan bantuan program
AutoCAD 2016.

B. Rumusan Penelitian

Rumusan penelitian dari tugas akhir ini adalah:


1. Seberapa besar perbandingan Displacement antara sistem struktur Rigid
Frame dan sistem struktur Dual System pada bangunan apartemen 30 lantai
dengan spesifikasi desain bangunan berbentuk L berlokasi di Makassar?
2. Dari perbandingan tersebut apakah sistem struktur Dual System atau sistem
sturktur Rigid Frame yang lebih unggul dalam menahan beban-beban yang
bekerja pada struktur bangunan apartemen 30 lantai?

C. Manfaat dan Tujuan Penelitian

1. Manfaat Penelitian, yaitu:


a. Bagi bidang ilmu Arsitektur yaitu memberikan kontribusi dalam
pengembangan ilmu Arsitektur khususnya terkait struktur bangunan
tinggi di masa yang akan datang.
b. Bagi masyarakat dan pemerintah yaitu referensi yang memberikan
informasi baru tentang sistem struktur bangunan tinggi yaitu Dual System
(gabungan Rigid Frame dan Shear Wall), khususnya bangunan hunian
apartemen yang mampu menjamin kestabilan dan keamanan bangunan
secara struktural.

2
2. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu: Mengungkapkan
perbandingan Displacement dari penerapan sistem struktur Rigid Frame
dengan sistem struktur Dual System (gabungan Rigid Frame dan Shear
Wall) pada bangunan Apartemen 30 lantai berbentuk L di Makassar.
Sehingga dari perbandingan tersebut dapat diketahui sistem struktur manakah
yang lebih unggul dalam menahan beban-beban yg bekerja pada bangunan.

D. Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian tugas akhir ini adalah sebagai berikut:


1. Perancangan arsitektural awal bangunan 30 lantai berbentuk L dengan fungsi
sebagai Apartemen menggunakan program AutoCAD 2016.
2. Analisis perancangan sistem struktur dengan penentuan elemen struktur yang
dihitung menggunakan SAP 2000 versi 15, yaitu struktur atas: Balok, Kolom
Struktur, dan Pelat Lantai, dan struktur tambahan: Shear Wall/dinding geser.
3. Analisis Joint Displacement dari perilaku bangunan model 1 (Rigid Frame)
sebelum penambahan Shear Wall (Dual System).
4. Analisis Joint Displacement dari perilaku bangunan model 2 setelah
penambahan Shear Wall (Dual System).
5. Jenis beban yang dihitung menggunakan SAP 2000 versi 15, antara lain yaitu:
a. Beban vertikal (beban gravitasi) meliputi beban mati dan beban hidup
b. Beban horisontal (beban lateral) meliputi beban angin
6. Perencanaan struktur bangunan apartemen ini mengacu pada Standar
Nasional Indonesia (SNI) yaitu sebagai berikut:
a. Peraturan Pembebanan yang digunakan adalah Peraturan Pembebanan
Indonesia untuk Gedung (PPIUG) 1987.
b. Peraturan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
adalah Peraturan Beton Indonesia (PBI) 1971 dan SNI 2847-2013, 2002.
c. Kombinasi Pembebanan berdasarkan pada SNI 03-1726, 2002.

3
E. Batasan Penelitian

Masalah yang diteliti pada tugas akhir ini dibatasi pada beberapa hal yaitu:
1. Perancangan bangunan 30 lantai dengan fungsi sebagai Apartemen berlokasi
di Kota Makassar dengan perancangan arsitektural awal sesuai dengan
karakteristik desain yang terlampir.
2. Material struktur bangunan yang digunakan ialah struktur beton bertulang.
3. Perencanaan elemen struktur awal dari bangunan apartemen 30 lantai ini
meliputi:
a. Perencanaan dimensi kolom,
b. Perencanaan dimensi balok induk dan balok anak,
c. Perencanaan dimensi pelat lantai.
4. Perhitungan pembebanan gravitasi dan lateral (beban hidup, beban mati,
beban angin, dan beban kombinasi) yang bekerja pada bangunan.
5. Perhitungan beban angin dilihat dari 2 arah yaitu sumbu X negatif
(berlawanan arah) dan Y positif pada bagian fasad bangunan (lantai tower).
6. Tidak menghitung analisis pembebanan gempa pada bangunan.
7. Pengujian simulasi bangunan apartemen menerapkan 2 macam model struktur
yaitu model 1 dengan Rigid Frame dan model 2 dengan Dual System (Rigid
Frame dengan penambahan Shear Wall).
8. Pemodelan struktur Rigid Frame sebagai rangka utama tidak termasuk Core.
9. Perencanaan struktur penambahan Shear Wall (Dual System) dimulai pada
lantai basement hingga lantai tipikal tower.
10. Kondisi tanah diabaikan dan struktur pondasi bangunan terjepit kaku di tanah.
11. Tidak mendesain pondasi bangunan.
12. Fokus penelitian pada struktur atas bangunan.

4
F. Sistematika Penelitian

Dalam penulisan tugas akhir ini disusun dalam 5 bab yang secara garis besar
mencakup hal-hal sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi tentang latar belakang judul, rumusan masalah,
manfaat dan tujuan, lingkup penelitian, batasan penelitian serta
sistematika penelitian tugas akhir.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini berisi acuan yang menjadi dasar dalam desain dan
perancangan struktur serta teori-teori yang melatarbelakanginya.

BAB 3 METODE PENELITIAN

Membahas tentang metode penelitian yang akan digunakan untuk


perancangan dan analisis struktur bangunan apartemen.

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini membahas uraian data hasil penelitian serta


pembahasannya.

BAB 5 PENUTUP

Berisi tentang kesimpulan dan saran yang dibutuhkan dalam penelitian


tugas akhir.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Apartemen

1. Pengertian Apartemen

Berikut ialah beberapa definisi dari istilah „Apartemen‟ antara lain yaitu:
a. Tempat tinggal suatu bangunan bertingkat yang lengkap dengan ruang
duduk, kamar tidur, dapur, ruang makan, jamban, dan kamar mandi yang
terletak pada satu lantai, bangunan bertingkat yang terbagi atas beberapa
tempat tinggal. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1994)
b. Bangunan hunian yang dipisahkan secara horisontal dan vertikal agar
tersedia hunian yang berdiri sendiri dan mencakup bangunan bertingkat
rendah atau bangunan tinggi, dilengkapi berbagai fasilitas yang sesuai
dengan standar yang ditentukan. (Ernest Neufert, 1980).

2. Fungsi Apartemen

Berikut ialah fungsi-fungsi bangunan apartemen antara lain yaitu:


a. Fungsi Utama, yaitu fungsi dominan dalam sebuah apartemen ialah
pemukiman. Apartemen mempunyai ruang-ruang yang mewadahi
aktifitas-aktifitas penghuni yang berlangsung secara rutin. Jenis aktifitas
tersebut seperti: tidur, makan, menerima tamu, berinteraksi sosial,
melakukan hobi, bekerja, dan lain-lain.
b. Fungsi Pendukung, yaitu fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada
sebuah apartemen untuk mendukung dan menambah kenyamanan
berlangsungnya fungsi utama, antara lain seperti:
- Layanan olahraga: fitness centre, aerobic, kolam renang
- Layanan kesehatan: poliklinik dan apotik
- Layanan komersial: minimarket, restoran, dan salon
- Layanan anak: tempat penitipan anak dan area bermain.
c. Fungsi Pelengkap, yaitu misalnya ruang administrasi, ruang cleaning
service dan ruang keamanan/satpam.

6
3. Karakteristik Apartemen

Berikut ialah karakteristik apartemen yang dirangkum dari beberapa sumber,


antara lain yaitu:
a. Memiliki lebih dari dua lantai dan biasanya bangunan berbentuk vertikal
b. Dalam satu lantai terdiri dari unit-unit hunian
c. Fleksibel dalam mencapai pemanfaatan ruang secara maksimal
d. Efisien, efektif, dan ekonomis
e. Memiliki fasilitas bersama yang belum tentu dimiliki perumahan dengan
akses yang mudah dan cepat untuk menjangkau fasilitas yang ada.
f. Pada umumnya terdapat area komersil pada bangunan atau lingkungan
apartemen
g. Sirkulasi vertikal berupa tangga atau lift dan sirkulasi horisontal berupa
koridor
h. Keamanan, ketenangan, dan privasi lebih terjamin
i. Struktur dan bahan bangunan dapat bertahan dalam jangka waktu yang
lama.

B. Karakteristik Perancangan Model Bangunan Apartemen

Sebelum melakukan perancangan sistem struktur pada bangunan maka perlu


ditentukan terlebih dahulu karakteristik arsitekturalnya. Olehnya itu, berdasarkan
tinjauan pustaka tentang bangunan Apartemen diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa karakteristik arsitektural bangunan yang akan dianalisis terkait
perancangan struturalnya ialah sebuah Apartemen dengan jumlah lantai 30 (belum
termasuk basement) dengan konsep bentuk denah simetris menyerupai huruf L.

Adapun detail klasifikasi jenis bangunan yang akan di analisis yaitu High-rise
Apartemen yang direncanakan memiliki unit-unit hunian. Dimana tiap unit
terdapat ruang yang dapat menampung aktifitas sehari-hari, sesuai dengan fungsi
bangunan yang diperuntukkan secara umum (dari semua golongan masyarakat).
Jenis unit hunian terdiri atas 3 tipe yaitu tipe studio dengan satu kamar tidur (108
m2), tipe keluarga dengan dua kamar tidur (120 m2), serta tipe penthouse dengan
tiga kamar tidur(156 m2).

7
C. Tinjauan Umum tentang Sistem Struktur Bangunan Tinggi

1. Pengertian Sistem Struktur Bangunan Tinggi

Secara umum dalam kajian analisis, sistem struktur dibedakan pada dua
kategori dasar sistem, yaitu Struktur Kerangka (Portal) dan Struktur Kontinum.
Sistem Struktur Kerangka merupakan rakitan beberapa elemen struktur, yang
terdiri dari elemen balok, kolom, atau dinding geser membentuk kerangka yang
disebut Portal. Sambungan antara elemen pembentuk portal ini biasanya kaku atau
monolit, serta ukuran penampang elemen (lebar atau tinggi) kecil dibandingkan
dengan bentang elemen. Sedangkan sistem struktur yang tidak dapat dibedakan
unsur elemennnya, seperti pelat, cangkang, atau tangki dinamakan Sistem Struktur
Kontinum.

Bangunan tinggi biasanya juga disebut dengan bangunan bertingkat/berlantai


banyak. Pada suatu bangunan gedung bertingkat banyak, kecil kemungkinannya
semua lantai tingkat akan dibebani secara penuh oleh beban hidup. Untuk
bangunan tinggi termasuk Apartemen 30 lantai yang direncanakan ini
digolongkan ke dalam Sistem Struktur Kerangka (Portal) yang terdiri dari elemen
struktur berupa pelat lantai, balok, dinding pemikul, dan kolom yang tersusun
beraturan, saling tegak lurus, serta beban/gaya vertikal dan horizontal disalurkan
melalui tiang/kolom untuk disalurkan menuju pondasi.

Sistem struktur bangunan tinggi selain memiliki sistem struktur utama juga
sistem struktur advanced (lanjutan). Dimana komponen dan dimensinya bersifat
non-konvensional, seperti aspek utilitas yang menghubungkan antar lantai. Pada
umumnya tiap jenis utilitas diletakkan pada core bangunan gedung dengan
transportasi vertikal berupa lift dan tangga.

Secara umum, terdapat 3 unsur dasar dari sistem struktur bangunan tinggi
yang membentuk struktur tulang bangunan, antara lain yaitu:

a. Unsur Linier: kolom dan balok yang menahan gaya aksial dan rotasi
b. Unsur Permukaan: dinding berlubang/berangka dan plat padat/beruas
c. Unsur Spasial: Pembungkus fasad (inti/core) yang mengikat bangunan

8
Selain itu, dalam mendesain suatu bangunan tinggi harus memenuhi kriteria-
kriteria sesuai sistem fungsional gedung dan masalah-masalah seperti berikut:

a. Arsitektural, Estetika, dan Fungsi Bangunan. Aspek ini dipertimbangkan


berdasarkan kebutuhan dari jiwa manusia akan sesuatu hal yang terlihat
indah. Bentuk-bentuk struktur yang direncanakan sudah semestinya
mengacu pada pemenuhan kebutuhan yang dimaksud.
b. Aspek Fungsional. Perencanaan struktur yang baik sangat
memperhatikan fungsi daripada bangunan tersebut. Dalam kaitannya
dengan penggunaan ruang, aspek ini sangat mempengaruhi besarnya
dimensi bangunan yang direncanakan.
c. Kekuatan dan Kestabilan. Struktur harus cukup kuat dan stabil dalam
mendukung beban rencana yang bekerja dan penampang mempunyai
kuat rencana minimum sama dengan kuat perlu yang dihitung
berdasarkan kombinasi beban dan gaya-gaya yang [Link]
dan pembangunan di lapangan harus menggunakan skala dan presisi
dalam pengerjaannya.
d. Kemampuan Layan. Komponen struktur harus memenuhi kemampuan
layanan terhadap tingkat beban kerja dan kemampuan layan bagi
keamanan serta kenyamanan pengguna bangunan tersebut. Hal-hal yang
perlu diperhatikan yaitu lendutan, retak, korosi tulangan, rusaknya
permukaan balok atau pelat beton bertulang.
e. Faktor Ekonomis dan kemudahan pelaksanaan, serta dampak terhadap
lingkungan sekitar wilayah proyek, baik dampak di masa pelaksanaan
maupun dampak yang akan terjadi setelah masa pelaksanaan berakhir.

2. Jenis-Jenis Sistem Struktur Bangunan Tinggi

Berikut ialah 14 jenis dari sistem struktur bangunan tinggi berdasarkan


menurut [Link] dalam bukunya High Rise Builiding 1997, antara lain
disajikan dalam tabel berikut:

9
Tabel 1 | Jenis Sistem Struktur Bangunan Tinggi menurut Schueller 1977

No. Penjelasan Gambar

Dinding Pendukung Sejajar

(Parallel Bearing Walls)

Sistem ini terdiri dari unsur bidang vetikal yang di


perkuat dengan berat dinding itu sendiri, sehingga
1
mampu menahan gaya aksial lateral secara efisien.
Sistem struktur dinding sejajar ini digunakan pada
bangunan-bangunan apartemen yang tidak
membutuhkan ruang bebas yang luas dan sistem-
sistem mekanisnya tidak memerlukan struktur inti.

Inti Dinding Pendukung Fasad

(Core Fasade Bearing Walls)

Sistem ini terdiri dari unsur bidang vetikal yang di


perkuat dengan berat dinding itu sendiri, sehingga
2
mampu menahan gaya aksial lateral secara efisien.
Sistem struktur dinding sejajar ini digunakan pada
bangunan-bangunan apartemen yang tidak
membutuhkan ruang bebas yang luas dan sistem-
sistem mekanisnya tidak memerlukan struktur inti.

Boks Berdiri Sendiri (Self Supporting Boxes)

Sistem ini merupakan unit tiga dimensi


prefabrikasi yang menyerupai bangunan dinding

3 pendukung yang diletakan di suatu tempat dan di


gabung dengan unit lainnya. Sebagai contoh boks-
boks ini di tumpuk seperti bata dengan pola
„English Bond’ sehingga tersusun seperti balok
dinding berselang-seling.

10
Plat Kantilever (Cantilevered Slab)

Pemikulan plat lantai dari sebuah inti pusat akan


memungkinkan ruang bebas kolom yang batas

4 kekuatan platnya adalah batas besar ukuran


bangunan. Sistem ini memerlukan banyak besi,
terutama apabila proyeksi pelat sangat besar.
Kekakuan plat dapat di tingkatkan dengan
menggunakan teknik-teknik pratekan.

Plat Rata (Flat Slab)

Sistem ini terdiri dari bidang horizontal yang


umumnya adalah plat lantai beton tebal dan rata

5 yang bertumpu pada kolom. Apabila tidak


terdapat penebalan plat pada bagian atas kolom,
maka sistem ini di katakan sistem plat rata. Pada
kedua sistem ini tidak terdapat balok yang dalam
(deep beam) sehingga tinggi lantai bisa minimum.

Interspasial

Sistem struktur rangka tinggi selantai yang


terkantilever diterapkan pada setiap lantai antara
6 untuk memungkinkan ruang fleksibel di dalam
dan di atas rangka. Ruangan yang berada di dalam
lantai rangka di atasnya dapat di gunakan sebagai
wadah untuk kegiatan aktivitas lainya.

Gantung (Suspension)

Sistem ini dapat memungkinkan penggunaan

7 beban secara efisien dengan menggunakan


penggantungan sebagai pengganti kolom untuk
memikul beban lantai. Kekuatan unsur tekan pada
sistem ini harus dikurangi sebab adanya bahaya

11
tekuk, berbeda dengan unsur tarik yang dapat
mendaya gunakan kemampuan secara maksimal.
Kabel-kabel ini dapat meneruskan beban gravitasi
ke rangka di bagian atas yang terkantilever dari
inti pusat.

Rangka Selang-Seling (Staggered Truss)


Rangka tinggi yang selantai disusun sedemikian
rupa sehinga pada setiap lantai bangunan dapat
menumpangkan beban di bagian atas suatu rangka

8 begitupun di bagian bawah rangka di atasnya.


Selain memikul beban vertikal, susunan rangka ini
akan mengurangi tuntutan kebutuhan ikatan angin
dengan cara mengarahkan beban angin ke dasar
bangunan melalui struktur balok dan plat lantai.

Rangka Kaku (Rigid Frame)


Sistem struktur ini terdiri dari kolom dan balok
yang bekerja saling mengikat satu dengan yang
lainnya. Kolom sebagai unsur vertikal yang
bertugas menerima beban dan gaya, sedangkan
balok sebagai unsur horizontal media pembagi
9 beban dan gaya. Sistem ini biasanya berbentuk
pola grid persegi, organisasi grid serupa juga di
gunakan untuk bidang horizontal yang terdiri atas
balok dan gelagar. Dengan keterpaduan rangka
spasial yang bergantung pada kekuatan kolom dan
balok, maka tinggi lantai ke lantai dan jarak antara
kolom menjadi penentu pertimbangan rancangan.

12
Rangka Kaku dan Inti (Rigid Frame and Core)
Rangka kaku akan bereaksi terhadap beban lateral.
Terutama melalui lentur balok dan kolom.
Perilaku demikian berakibat ayunan (drift) lateral
yang besar sehingga pada bangunan dengan
10
ketinggian tertentu. Akan tetapi apabila di
lengkapi dengan struktur inti, maka ketahanan
lateral bangunan akan sangat meningkat karena
interaksi inti dan rangka. Sistem inti ini memuat
sistem-sistem mekanis dan transportasi vertikal.

Trussed Frame
Sistem ini terdiri dari gabungan rangka kaku atau
bersendi dengan rangka geser vertikal yang
mampu memberikan peningkatan kekuatan dan

11 kekakuan struktur. Rancangan sistem struktur


dapat berdasarkan pada penggunaan rangka untuk
menahan beban gravitasi dan rangka vertikal
untuk beban angin yang serupa dengan rangka
kaku dan inti.

Rangka Belt-Trussed dan Inti

(Belt Trussed and Core)


Sistem struktur belt-trussed bekerja mengikat
kolom fasade ke inti bangunan sehingga
12
meniadakan aksi terpisah rangka dan inti
pengakuan ini dinamai “cap trussing” apabila
berada pada bagian atas bangunan, dan dinamai
“belt-trussed” apabila berada di bagian bawahnya.

13
Tabung dalam Tabung (Tube in Tube)
Dalam struktur ini, kolom dan balok eksterior di
tempatkan sedemikian rapat sehingga fasade
menyerupai dinding yang diberi pelubangan
13 (untuk jendela). Seluruh bangunan berlaku sebagai
tabung kosong yang terkantilever dari tanah. Inti
interior (tabung) dapat meningkatkan kekakuan
bangunan dengan cara ikut memikul beban
bersama kolom-kolom fasade tersebut.

Kumpulan Tabung (Bundled Tube)

Sistem struktur ini dapat di gambarkan sebagai


suatu kumpulan tabung-tabung terpisah yang
14 membantuk tabung multi-use. Pada sistem ini
kekakuan akan bertambah. Sistem ini dapat
memungkinkan bangunan mencapai bentuk yang
paling tinggi dan daerah lantai yang sangat luas.

Sumber: High Rise Building, 1977

D. Tinjauan Umum tentang Sistem Struktur Dual System (Kombinasi


Sistem Struktur Rigid Frame dan Shear Wall)

1. Perilaku Sistem Struktur Rangka Kaku (Rigid Frame)

Sistem rangka kaku atau rigid frame biasanya berbentuk rangka segi empat
teratur yang terdiri dari balok horizontal dan kolom vertikal yang terhubung pada
suatu bidang secara kaku (rigid), sehingga pertemuan antara kolom dan balok
dapat menahan momen. Karena sifat hubungan yang kontinuitas antara kolom dan
balok, maka mekanisme rangka kaku dalam menahan beban lateral merupakan
suatu respons bersama dari balok dan kolom, terutama respons melalui lentur dari
kedua jenis elemen tersebut, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut:

14
Gambar 1 | Respons Lenturan Balok dan Kolom
(Sumber: Schueller, 1989)

Dari gambar tersebut menjelaskan bahwa lendutan lateral yang terjadi pada
balok dan kolom struktur rangka disebabkan oleh dua hal, yaitu:
a. Lendutan disebabkan oleh lentur [Link] ini dikenal sebagai
chord drift, yaitu dimana saat menahan momen guling (overturning
moment) akibat beban lateral, struktur rangka beraksi sebagai suatu balok
kantilever vertikal yang melentur dalam bentuk deformasi aksial dari
kolom-kolom penyusunnya. Lentur kantilever ini kira-kira
menyumbangkan 20% dari total simpangan struktur.
b. Deflasi (penurunan) disebabkan oleh lentur balok dan [Link]
struktur akibat lentur balok dan kolom dikenal sebagai shear lag atau
frame wracking. Adanya gaya geser yang terjadi pada kolom dan balok
akan menimbulkan momen lentur pada kedua elemen tersebut. Lenturan
pada kolom dan balok menyebabkan terjadi distorsi secara keseluruhan
pada rangka gedung. Tipe deformasi ini menyebabkan ±80% dari total
simpangan struktur yang terdiri dari 65% akibat lenturan balok dan 15%
akibat lenturan kolom.

Gambar 2 | Simpangan pada Struktur Rangka Kaku (Rigid Frame)


(Sumber: Schueller, 1989)

15
Dari gambar tersebut menjelaskan bahwa kombinasi simpangan yang
diakibatkan oleh lentur kantilever sebesar 20% dari total keseluruhan simpangan,
dan lentur balok dan kolom sebesar 80% dari total keseluruhan simpangan
merupakan suatu struktur rangka kaku yang menerima gaya lateral akan
mengalami simpangan ke arah beban yang bekerja (Schueller, 1989).

2. Perilaku Sistem Struktur Dinding Geser (Shear Wall)

Dinding geser atau shear wall adalah struktur vertikal yang digunakan pada
bangunan tingkat tinggi. Dinding geser merupakan elemen struktur yang
berbentuk dinding beton bertulang, dengan fungsi utama dari dinding geser adalah
untuk menahan gaya geser, beban lateral akibat gempa bumi atau gaya lainnya
pada gedung bertingkat dan bangunan tinggi seperti beban angin. Berdasarkan
letak dan fungsinya, dinding geserdapat diklasifikasikan dalam 3 jenis yaitu:
a. Bearing Wall adalah jenis dinding geser yang mempunyai fungsi lain
sebagai penahan beban gravitasi. Dindig ini biasanya digunakan untuk
dinding partisi antar apartemen yang berdekatan.
b. Frame Wall adalah dinding geser yang berfungsi sebagai penahan gaya
lateral, geser dan pengaku pada sisi luar bangunan. Dinding ini terletak di
antara dua kolom struktur.
c. Core Wall adalah jenis dinding geser yang terletak di pusat-pusat massa
bangunan yang berfungsi sebagai pengaku bangunan gedung. Biasanya
core wall diletakkan pada lubang lift yang berfungsi sebagai dinding lift
sekaligus.

(a) (b) (c)

Gambar 3 | (a) Bearing Walls (b) Frame Walls (c) Core Walls
(Sumber: Schueller, 1989)

16
Dalam merencanakan dinding geser, perlu diperhatikan bahwa dinding geser
yang berfungsi untuk menahan gaya lateral yang besar akibat beban gempa tidak
boleh runtuh akibat gaya lateral, karena apabila dinding geser runtuh karena gaya
lateral maka keseluruhan struktur bangunan akan runtuh karena tidak ada elemen
struktur yang mampu menahan gaya lateral. Oleh karena itu, dinding geser harus
didesain untuk mampu menahan gaya lateral yang mungkin terjadi akibat beban
gempa, dimana berdasarkan SNI 03-2847-2013 pasal [Link], tebal minimum
dinding geser (td) tidak boleh kurang dari 100 mm.

Dinding geser merupakan suatu subsistem gedung yang memiliki fungsi


utama untuk menahan gaya lateral akibat beban gempa. Keruntuhan pada dinding
geser disebabkan oleh momen lentur karena terjadinya sendi plastis pada kaki
dinding. Semakin tinggi suatu gedung, simpangan horisontal yang terjadi akibat
lateral akan semakin besar, olehnya itu sering digunakan dinding geser pada
struktur bangunan tinggi untuk memperkaku struktur sehingga simpangan yang
terjadi dapat berkurang. Dinding geser juga berfungsi untuk mereduksi momen
yang diterima struktur rangka sehingga dimensi struktur rangka dapat dibuat se-
efisien mungkin pada struktur bangunan tinggi akibat gaya lateral.

Gaya lateral yang terjadi pada suatu gedung, baik diakibatkan oleh beban
gempa maupun angin akan disebar melalui struktur lantai yang berfungsi sebagai
diafragma horizontal yang kemudian akan ditahan oleh dinding geser karena
memiliki kekakuan yang besar untuk menahan gaya lateral (Schueller, 1989).
Dinding geser dapat dianggap sebagai balok yang tebal karena kekakuannya dan
berinteraksi terhadap gaya lateral serta lentur terhadap momen guling (Overtuning
Momen). Kemampuan dinding geser dalam menahan gaya lateral, torsi, dan
momen guling tergantung dari konfigurasi geometri, orientasi, dan lokasi dinding
geser pada suatu bangunan.

3. Perilaku Sistem Struktur Rangka – Dinding Geser (Dual System)

Dalam pelaksanaannya dinding geser selalu dihubungkan dengan sistem


rangka pemikul momen. Dinding struktural yang biasa digunakan pada bangunan
tinggi adalah dinding geser kantilever, dinding geser berangkai, dan sistem

17
rangka-dinding geser (Dual System). Kerja sama antara sistem rangka penahan
momen dan dinding geser merupakan suatu keadaan khusus, dimana dua struktur
yang berbeda sifat dan perilakunya digabungkan sehingga diperoleh struktur yang
lebih ekonomis.

Semakin tinggi suatu gedung, penggunaan struktur rangka saja untuk


menahan gaya lateral akibat beban gempa menjadi kurang ekonomis karena akan
menyebabkan dimensi struktur balok dan kolom yang dibutuhkan akan semakin
besar untuk menahan gaya lateral. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kekakuan
dan kekuatan struktur terhadap gaya lateral dapat digunakan kombinasi antara
sistem rangka kaku dengan dinding geser (Dual System).

Pada struktur kombinasi ini, dinding geser dan kolom-kolom struktur akan
dihubungkan secara kaku (rigid) oleh balok-balok pada setiap lantai bangunan.
Dengan adanya hubungan yang rigid antara kolom, balok, dan dinding geser akan
memungkinkan terjadinya interaksi antara struktur rangka dan dinding geser
secara menyeluruh pada bangunan, dimana struktur rangka dan dinding geser akan
bekerja bersama-sama dalam menahan beban yang bekerja baik itu beban
gravitasi maupun beban lateral. Selain itu, dengan menggunakan sistem ganda ini,
maka simpangan lateral akan jauh berkurang seiring dengan peningkatan jumlah
lantai struktur. Semakin tinggi suatu struktur gedung, semakin kecil simpangan
yang terjadi. Besarnya simpangan keseluruhan yang terjadi pada sistem rangka
kaku-dinding geser diperoleh dengan cara menggabungkan perilaku kedua elemen
tersebut seperti yang terdapat pada gambar berikut:

Gambar 4 | Perilaku Penggabungan Elemen Rigid Frame dan Shear Wall


(Sumber: Schueller, 1989)

18
Keterangan gambar 8:
a. Deformasi mode geser untuk rangka kaku. Pada struktur rangka kaku,
sudut deformasi (lendutan) paling besar terjadi pada dasar struktur
dimana terjadi geser maksimum.
b. Deformasi mode lentur untuk dinding geser. Pada struktur dinding geser,
sudut deformasi (lendutan) paling besar terjadi pada bagian atas
bangunan sehingga sistem dinding geser memberikan kekakuan paling
kecil pada bagian atas bangunan.
c. Interaksi antara rangka kaku dan dinding geser. Perbedaan sifat defleksi
antara dinding geser dan rangka kaku menyebabkan dinding geser
menahan simpangan rangka kaku pada bagian bawah, sedangkan rangka
kaku akan menahan simpangan dinding geser pada bagian atas. Dengan
demikian, geser akibat gaya lateral akan dipikul oleh rangka pada bagian
atas bangunan dan dipikul oleh dinding geser dibagian bawah bangunan.

Berikut ialah fungsi utama dari penggunaan dinding geser (shear wall), yaitu:
a. Kekuatan. Dinding geser harus memberikan kekuatan lateral yang
diperlukan untuk melawan kekuatan gempa horisontal. Ketika dinding
geser cukup kuat, mereka akan mentransfer gaya horisontal ini ke elemen
berikutnya dalam jalur beban di bawah mereka, seperti dinding geser
lainnya, lantai, pondasi dinding, lembaran atau footings.
b. Kekakuan. Dinding geser juga memberikan kekakuan lateral untuk
mencegah atap atau lantai di atas dari sisi goyangan yang berlebihan.
Ketika dinding geser cukup kaku, mereka akan mencegah membingkai
lantai dan atap anggota dari bergerak dari mendukung mereka. Juga,
bangunan yang cukup kaku biasanya akan menderita kerusakan kurang
nonstruktural.

E. Tinjauan Umum tentang Material Struktur Bangunan

Secara umum, material struktur bangunan dibagi menjadi 3 jenis, antara lain
sebagai berikut:

19
1. Material Baja (Steel Structure)

Struktur baja sangat tepat digunakan pada bangunan bertingkat tinggi karena
material baja mempunyai kekuatan dan tingkat daktilitas yang tinggi bila
dibandingkan dengan material-material struktur lainnya. Struktur baja memiliki
sifat-sifat mekanis antara lain yaitu tegangan leleh (fy), tegangan patah/ultimate
(fu), dan tegangan dasar (σ). Dimana penggunaan struktur baja harus disesuaikan
dengan persyaratan minimum yang telah ditentukan (SNI 03-1729-2002).

2. Material Komposit(Composite Structure)

Struktur komposit merupakan gabungan antara dua jenis material atau lebih.
Pada umumnya yang sering digunakan adalah kombinasi antara baja struktural
dengan beton bertulang. Struktur komposit ini digunakan untuk bangunan tingkat
menengah sampai dengan bangunan tingkat tinggi.

3. Material Beton (Concrete Structure)

Struktur beton ini biasanya digunakan pada bangunan tingkat menengah


sampai dengan bangunan tingkat tinggi. Struktur ini paling banyak digunakan bila
dibandingkan dengan struktur lainnya karena struktur ini lebih monolit dan
mempunyai umur rencana yang cukup panjang, serta mempunyai ketahanan yang
lebih baik dibandingkan dengan struktur yang terbuat dari pasangan dinding bata.

Dalam pelaksanaan konstruksi, material beton paling sering dikombinasikan


dengan material baja tulangan. Hal ini untuk mendapatkan kekakuan dan kekuatan
struktur itu sendiri mengingat sifat baja yang tahan terhadap lendutan dan sifat
daktilitasnya yang tinggi. Kombinasi material ini menghasilkan material beton
bertulang (Reinforced Concrete). Penggunaan material ini sebelumnya perlu
disesuaikan dengan mutu beton dan mutu baja tulangan terkait penggunaan
material yang dapat mempengaruhi umur bangunan. Kelas atau mutu beton
bertulang harus disesuaikan dengan persyaratan yang berlaku (Peraturan Beton
Indonesia,1971dan SNI 03-2847-1992).

Berikut ialah beberapa persyaratan terkait mutu beton dan baja tulangan yang
akan digunakan dalam penginputan data struktural bangunan Apartemen berikut:

20
Tabel 2 | Mutu Baja Tulangan (Beban Tetap)

Tegangan Leleh
Tegangan Tarik/Tekan yang Karekteristik yang
Mutu Sebutan diijinkan memberikan regangan
𝝈a(kg/cm2) tetap 0,2%
𝝈au(kg/cm2)

U - 22 Baja Lunak 1250 2200

U – 24 Baja Lunak 1400 2400

U – 32 Baja Sedang 1850 3200

U – 39 Baja Keras 2250 3900

U - 48 Baja Keras 2750 4800

U - umum - 0.58 x 𝜎au -

Sumber: PBI,1971

Tabel 3 | Kelas dan Mutu Beton (Beban Tetap)

Tegangan Tekan Hancur


Konversi ke f’c
Kelas Mutu Karakteristik
2
(MPa = N/mm2)
𝝈′bk(kg/cm )

I B0 - -

B1 - -

K – 125 125 10
II
K – 175 175 15

K – 225 225 19

K – 300 300 25
III
K - >300 - 0,083 x 𝜎′bk

Sumber: PBI,1971

21
F. Tinjauan Umum tentang Prinsip Tumpuan Struktur Bangunan

Dalam struktur bangunan, tumpuan/landasan adalah tempat bersandarnya


konstruksi dan tempat bekerjanya reaksi. Jenis tumpuan berpengaruh terhadap
jenis konstruksi karena setiap tumpuan memiliki karakteristik dan prinsip sendiri.
Berikut ialah secara umum jenis tumpuan yang sering dijumpai dalam bangunan
beserta prinsipnya, sebagai berikut:

1. Tumpuan Sendi/Engsel, memiliki prinsip yaitu:


a. Untuk menahan gaya tekan, tarik dengan arah sembarang, melalui pusat
sendi.
b. Tidak dapat menahan momen atau meneruskan momen.
c. Diproyeksikan atas reaksi vertikal dan horisontal.

Gambar 5 | Jenis Tumpuan Sendi


(Sumber: Schierle,2006)

2. Tumpuan Rol, memiliki prinsip yaitu:


a. Untuk menahan gaya tarik dan tekan sembarang arah, hanya arah
vertikal.
b. Diproyeksikan atas reaksi vertikal.

22
Gambar 6 | Jenis Tumpuan Rol
(Sumber: Schierle,2006)

3. Tumpuan Jepit, memiliki prinsip yaitu:


a. Dapat menahan gaya tarik dan tekan sembarang arah.
b. Dapat meneruskan momen.
c. Diproyeksikan atas reaksi vertikal, horisontal dan momen.

Gambar 7 | Jenis Tumpuan Jepit


(Sumber: Schierle,2006)

23
Tabel 4 | Prinsip Tingkat Derajat Kebebasan Tiap Jenis Tumpuan

Tingkat Derajat Kebebasan


Tipe Tumpuan
Gerak Horisontal Gerak Vertikal Rotasi

Sendi/Engsel Tetap Tetap Bebas

Rol Bebas Tetap Bebas

Jepit Tetap Tetap Tetap

Sumber: Schierle, 2006

Jenis tumpuan mempengaruhi cara analisis dan kemampuan daya dukung


suatu konstruksi. Utamanya pada elemen struktur balok. Balok-balok pada sistem
struktur rangka (rigid frame) umumnya merupakan tumpuan sendi dengan arah
dan besarnya reaksi tidak diketahui. Tumpuan ini sifatnya dapat menahan gerak
translasi benda yang ditumpunya dalam segala arah, tetapi tidak dapat menahan
gerak rotasi benda dalam arah sumbu-sumbu tertentu dari benda yang
ditumpunya. Sehingga digolongkan ke dalam konstruksi statis tak tentu dan tidak
dapat dianalisis dengan tiga persamaan statis (∑H=0, ∑V=0, ∑M=0).

Sedangkan untuk balok-balok pada bagian pondasi bangunan tinggi


memungkinkan bekerja tumpuan jepit dikarenakan pondasi bersifat fixed. Dimana
tumpuan jepit memiliki arah, besar gaya reaksinya tidak diketahui, serta dapat
menahan momen atau kopel dalam segala arah. Tumpuan ini sifatnya kokoh,
sehingga dapat menahan gaya translasi dan rotasi dalam segala arah dari benda
yang ditumpunya.

G. Tinjauan Umum tentang Pembebanan Struktur Bangunan

Dalam melakukan analisis struktur, perlu ada gambaran yang jelas mengenai
perilaku dan besar beban yang bekerja pada struktur. Hal penting yang mendasar
adalah pemisahan antara beban-beban yang bersifat statis dan dinamis. Secara
umum, beban statis dikategorikan sebagai gaya gravitasi (Vertical Force)
sedangkan beban dinamis dikategorikan sebagai gaya lateral (Horisontal Force).
Berikut ialah skema jenis pembebanan struktur bangunan:

24
GAYA GRAVITASI
(VERTICAL FORCE)

GAYA LATERAL
(HORISONTAL FORCE)

Gambar 8 | Skema Pembebanan Struktur Bangunan


(Sumber: Penulis, 2021)

1. Beban Statis

Beban statis adalah beban yang bekerja secara terus-menerus pada suatu
struktur. Beban statis dipengaruhi oleh gaya gravitasi atau gaya vertikal (vertical
force). Pada struktur rangka kaku (rigid frame), struktur balok dan kolom akan
memikul beban-beban vertikal dan selanjutnya diteruskan ke tanah. Dimana,
balok terletak bebas di atas kolom. Sehingga pada saat beban menyebabkan
momen pada balok, ujung-ujung balok berotasi di ujung atas kolom. Sudut yang
dibentuk antara ujung balok dan ujung atas kolom berubah. Tetapi pada struktur
rangka kaku, rotasi bebas yang terjadi pada ujung kolom mencegah rotasi bebas
balok. Hal ini dikarenakan ujung atas kolom dan balok berhubungan secara kaku.

Akibat dari hubungan kaku tersebut adalah kolom menerima momen lentur
serta gaya aksial akibat ujung kolom cenderung memberikan tahanan

25
rotasionalnya. Ini berarti desain kolom menjadi relatif lebih rumit. Titik hubung
kaku berfungsi sebagai satu kesatuan. Besar rotasi titik hubung tergantung pada
kekakuan relatif antara balok dan kolom. Bila kolom semakin relatif kaku
terhadap balok, maka kolom lebih mendekati sifat jepit terhadap ujung balok,
sehingga rotasi titik hubung semakin kecil. Berikut ialah jenis dari beban statis,
antara lain yaitu:

a. Beban Mati (Dead Load)

Beban mati adalah beban-beban yang bekerja vertikal ke bawah pada


struktur dan dipengaruhi oleh karakteristik bangunan. Sifat beban mati permanen
dan termasuk material konstruksi dan komponen bangunan gedung seperti
dinding, pemisah, kolom, lantai, atap, finishing,dan mesin serta peralatan tetap
yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung (PPURG, 1987). Beban
mati dapat ditentukan dari peraturan yang berlaku di Indonesia yaitu Peraturan
Pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIG) 1983 atau Pedoman Perencanaan
Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (PPURG) 1987. Berikut ialah berat satuan
beberapa material yang menjadi acuan dalam perhitungan berdasarkan peraturan
yang berlaku, yaitu:

Tabel 5 | Berat Sendiri Bahan Bangunan dan Komponen Gedung

BAHAN BANGUNAN
Baja 7850 kg/m3
Batu Alam 2600 kg/m3
Batu Belah, Batu Bulat, Batu Gunung (berat tumpuk) 1500 kg/m3
Batu Karang (berat tumpuk) 700 kg/m3
Batu Pecah 1450 kg/m3
Besi Tuang 7250 kg/m3
Beton 2200 kg/m3
Beton Bertulang 2400 kg/m3
Kayu (kelas 1) 1000 kg/m3
Kerikil, koral 1650 kg/m3
Pasangan Bata Merah 1700 kg/m3
Pasangan Batu Belah, Batu Belat, Batu Gunung 2200 kg/m3
Pasangan Batu Cetak 2200 kg/m3

26
Pasangan Batu Karang 1450 kg/m3
Pasir (kering udara sampai lembab) 1600 kg/m3
Pasir (jenuh air) 1800 kg/m3
Pasir, kerikil, koral (kering udara – lembab) 1850 kg/m3
Tanah, Lempung dan Lanau (kering udara – lembab) 1700 kg/m3
Tanah, Lempung dan Lanau (basah) 2000 kg/m3
Tanah Hitam (timbel) 11400 kg/m3
KOMPONEN GEDUNG
Adukan, per cm tebal:
- dari semen 21 kg/m2
- dari kapur, semen merah atau tras 17 kg/m2
Aspal, per cm tebal 14 kg/m2
Dinding Pasangan Bata Merah:
- Satu Bata 450 kg/m2
- Setengah Bata 250 kg/m2
Dinding Pasangan Batako Berlubang:
- Tebal dinding 20 cm 200 kg/m2
- Tebal dinding 10 cm 120 kg/m2
Dinding Pasangan Batako Tanpa Lubang:
- Tebal dinding 15 cm 300 kg/m2
- Tebal dinding 10 cm 200 kg/m2
Dinding Pasangan Hebel 200 kg/m2
Langit-Langit:
- Serat semen, tebal maksimum 4 mm 11 kg/m2
- Kaca, tebal 3-4 mm 10 kg/m2
Plafon dan Penggantung 18 kg/m2
Penutup Atap:
- Genteng/Kaso/Reng per m2 luas atap 50 kg/m2
- Sirap/Kaso/Reng per m2 luas atap 24 kg/m2
- Serat Semen Gelombang (tebal maksimum 5 mm) 10 kg/m2
- Alumunium Gelombang 5 kg/m2
Penutup Lantai:
- Terasso, Keramik & Beton 24 kg/m2
- Granit 95 kg/m2
Mekanikal dan Elektrikal 50 kg/m2
Sumber: PPURG, 1987

27
b. Beban Hidup (Live Load)

Beban hidup adalah beban yang diakibatkan oleh hunian atau


penggunaan/occupancy loadssuatu gedung termasuk didalamnya beban lantai,
beban pada atap selain beban angin serta beban alat atau konstruksi yang sifatnya
dapat berpindah atau bergerak yang mengakibatkan perubahan dalam pembebanan
lantai atau atap (PPURG,1987). Beban ini bisa ada atau tidak ada pada struktur
untuk suatu waktu yang diberikan. Secara umum beban ini bekerja dengan arah
vertikal ke bawah, tetapi kadang-kadang dapat juga berarah horisontal. Beban
hidup untuk bangunan gedung yang menjadi acuan dalam perhitungan
berdasarkan peraturan yang berlaku, yaitu:

Tabel 6 | Beban Hidup pada Lantai Struktur

BEBAN HIDUP PADA LANTAI STRUKTUR


Lantai pada rumah tinggal 200 kg/m2
Lantai dan rumah tinggal sederhana 125 kg/m2
Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, toserba, restoran, 250 kg/m2
hotel, asrama dan rumah sakit
Lantai ruang olahraga 400 kg/m2
Lantai ruang dansa 500 kg/m2
Lantai dan balkon ruang pertemuan, bioskop, ibadah 400 kg/m2
Panggung penonton dengan penonton berdiri 500 kg/m2
Tangga, bordes tangga dan gang bangunan umum 300 kg/m2
Tangga, bordes tangga dan gang gedung pertemuan 500 kg/m2
Lantai ruang perlengkapan gedung pertemuan 250 kg/m2
Lantai pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, ruang mesin 400 kg/m2
Lantai gedung parkir bertingkat:
- untuk lantai bawah 800 kg/m2
- untuk lantai tingkat lainnya 400 kg/m2
Balkon yang menjorok bebas keluar 300 kg/m2

Sumber: PPURG, 1987

28
2. Beban Dinamis

Beban Dinamis adalah beban yang bekerja secara tiba-tiba pada struktur.
Dimana bersifat dinamis atau tidak tetap (Unsteady-state) serta mempunyai
karakteristik besaran dan arah yang berubah dengan cepat. Beban ini dipengaruhi
oleh gaya lateral atau gaya horisontal (horisontal force) seperti angin dan gempa.

Pada struktur rangka kaku (rigid frame), perilaku struktur kolom dan balok
terhadap beban horisontal sangat berbeda. Struktur kolom dan balok dapat
dikatakan hampir tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk memikul
beban horisontal. Gaya lateral atau beban horisontal mengakibatkan munculnya
momen lentur, gaya geser dan gaya aksial pada tiap elemen balok dan kolom. Dan
seringkali momen tersebut mencapai maksimum pada penampang dekat titik
hubung. Sehingga, ukuran elemen struktur kolom dan balok di bagian yang dekat
dengan titik hubung pada umumnya dibuat besar atau diperkuat bila gaya
lateralnya cukup besar.

Begitu pula pada bangunan tinggi, dimana semakin tinggi bangunan, maka
akan semakin besar pula momen dan gaya-gaya pada setiap elemen struktur.
Kolom terbawah umumnya memikul gaya aksial dan momen lentur terbesar. Bila
beban lateral itu sudah sangat besar, maka diperlukan kontribusi elemen struktur
lainnya untuk memikul, misalnya dengan menggunakan pengekang (bracing) atau
dinding geser (shear wall). Berikut ialah jenis dari beban dinamis, yaitu:

a. Beban Angin (Wind Load)

Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada bangunan, atau
bagian bangunan, yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban angin
ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif
(isapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. Besarnya
tekanan tersebut dinyatakan dalam kg/m2, ditentukan dengan mengalikan tekanan
tiup yang telah ditentukan dan koefisien angin (PPURG, 1987).

29
Tekanan tiup yang harus diambil minimum 25 kg/m2. Namun, bila
terdapat kemungkinan kecepatan angin akan mengakibatkan tekanan tiup yang
lebih besar, maka tekanan tiup harus dihitung menurut rumus berikut:
v2
p= (𝑘𝑔/𝑚2 ) ............................................................................................. (2.1)
16

Dimana: v adalah kecepatan angin dalam m/detik


p adalah tekanan tiup yang ditimbulkan

b. Beban Gempa (Earth Quake Load)

Beban Gempa adalah semua beban statik ekuivalen yang bekerja pada
bangunan atau bagian bangunan yang menirukan pengaruh dari getaran tanah
akibat gempa tersebut. Ketika pengaruh gempa pada struktur bangunan ditentukan
berdasarkan suatu analisis dinamik, maka yang diartikan beban gempa ialah gaya-
gaya didalam struktur tersebut yang terjadi oleh getaran tanah akibat gempa
tersebut (Jimmy [Link], 2005). Berdasarkan Standar Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) tentang peraturan
gempa yang berlaku di Indonesia, standar tersebut perlu diperhatikan dalam
perencanaan struktur gedung yang ditetapkan mempunyai periode ulang 500
tahun, agar probabilitas terjadinya terbatas pada 10% selama umur gedung 50
tahun. Olehnya itu, bangunan yang direncanakan perlu dikategorikan jenis
struktur apakah beraturan atau tidak beraturan sesuai SNI tersebut.

3. Kombinasi Pembebanan

Berdasarkan buku Rancangan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata


Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung 2013, disebutkan
bahwa kombinasi pembebanan yang harus diperhitungkan pada perancangan
struktur bangunan gedung adalah:

30
Tabel 7 | Kombinasi Pembebanan

Nama
Kombinasi Pembebanan Jenis Kombinasi
Kombinasi
Kombinasi 1 1,4 DL Kombinasi Pembebanan Tetap
Kombinasi 2 1,2 DL + 1,6 LL (akibat beban mati dan hidup)
Kombinasi 3 1,2 DL + 0,5 LL + 1 EQx
Kombinasi 4 1,2 DL + 0,5 LL - 1 EQx Kombinasi Pembebanan Sementara
Kombinasi 5 1,2 DL + 0,5 LL + 1 EQy (akibat beban mati, hidup, angin dan
Kombinasi 6 1,2 DL + 0,5 LL - 1 EQy gempa statik)
Kombinasi 7 1,2 DL + 0,5 LL + 1,3 W
Kombinasi 8 1,2 DL + 0,5 LL + 1 RSPx + 0,3 RSPy Kombinasi Pembebanan Sementara
Kombinasi 9 1,2 DL + 0,5 LL + 0,3 RSPx + 1 RSPy (akibat beban mati, hidup, angin dan
Kombinasi 10 1,2 DL + 0,5 LL - 1 RSPx + 0,3 RSPy gempa dinamik respons spektrum)

Kombinasi 11 Kombinasi Pembebanan Sementara


1,2 DL + 0,5 LL + 1 EQx
Kombinasi 12 (akibat beban mati, hidup, angin dan
1,2 DL + 0,5 LL - 1 EQx
gempa dinamik time history)

Sumber: SNI 03-1726,2002

Dimana: DL = beban mati (Dead Load) Ey = beban gempa arah y


LL = beban hidup (Live Load) I = faktor keutamaan struktur
Ex = beban gempa arah x R = faktor reduksi gempa

31

Anda mungkin juga menyukai