BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Suhu Tubuh pada Bayi Baru Lahir
1. Pengertian Suhu Tubuh
Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi
oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Suhu
yang dimaksud adalah “panas” atau dingin suatu substansi. Meskipun dalam
kondisi tubuh yang ekstrem dan aktivitas fisik, mekanisme kontrol suhu
manusia tetap menjaga suhu inti atau suhu jaringan dalam relative konstan.
Suhu permukaan akan berfluktuasi. Keseimbangan suhu tubuh diregulasi
oleh mekanisme fisiologis dan perilaku. Supaya suhu tubuh tetap konstan
dan berada dalam batas normal, hubungan antara produksi panas dan
pengeluaran panas harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui
mekanisme neurologis dan kardiovaskuler bergantung pada aliran darah ke
kulit dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar (Potter dan Perry,
2005: 760-761).
2. Kontrol Neural dan Vaskular
Hipotalamus yang terletak antara hemisfer serebral mengontrol suhu
tubuh sebagaimana kerja termostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan
perubahan ringan pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol
pengeluaran panas, dan hipotalamus posterior mengontrol produksi panas.
8
9
Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set
point, impuls akan dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme
pengeluaran panas termasuk berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh
darah, dan hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke
pembuluh darah permukaan untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika
hipotalamus posterior merasakan suhu tubuh lebih rendah dari set point,
mekanisme konversi panas bekerja. Vasokonstriksi (penyempitan)
pembuluh darah mengurangi aliran darah ke kulit dan ekstremitas.
Kompensasi produksi panas distimulasi melalui kontraksi otot volunter dan
getaran (menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi tidak efektif dalam
pencegahan tambahan pengeluaran panas, tubuh mulai menggigil. Lesi atau
trauma pada hipotalamus atau korda spinalis yang membawa pesan
hipotalamus, dapat menyebabkan perubahan yang serius pada control suhu
(Potter dan Perry, 2005: 761).
3. Klasifikasi Suhu
Menurut Bachtiar (2012) secara umum suhu tubuh manusia berkisar
antara 36,5oC-37,5oC. Gangguan suhu tubuh dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 36,5oC atau disebut
juga cold stress. Tanda klinis awal terjadinya cold stress, kaki terasa
dingin, kemampuan mengisap lemah, letargi (aktivitas berkurang),
tangisan lemah, apabila hipotermia berlanjut maka akan timbul cidera
dingin (cold injury) yang ditandai dengan letargi, pernapasan lambat,
pernapasan tidak teratur, bunyi jantung lambat maka dapat terjadi
10
hipoglikemia dan asidosis metabolic yang dapat menyebabkan kematian
bayi (Runjati, 2017: 552). Hipotermia pada bayi dapat dibedakan menjadi
dua yaitu :
1) Hipotermia berat, apabila ditemukan dua atau lebih tanda yaitu bayi
menangis sangat lemah/tidak menangis, bayi mengantuk yang sulit
dibangunkan, kulit mengeras berwarna kemerahan, seluruh tubuh bayi
teraba dingin, bayi mengisap ASI sangat lemah/tidak dapat menyusu,
pada pengukuran suhu tubuh kurang dari 36oC-32 oC (Runjati, 2017:
553) dan bayi bernapas pelan dan dalam (Walyani, 2015: 157).
2) Hipotermia sedang, apabila ditemukan dua atau lebih tanda yaitu bayi
menangis lemah, aktivitas lemah, bayi mengantuk, masih bisa
dibangunkan, kulit bayi berbercak merah, kaki teraba dingin, reflex
mengisap bayi lemah, pada pengukuran suhu 32oC-36,4oC (Runjati,
2017: 553) dan gangguan napas, denyut jantung <100 kali permenit,
letargi (Walyani, 2015: 157).
a) Diagnosis
Diagnosis hipotermia dapat ditegakkan dengan pengukuran
suhu tubuh bayi atau kulit bayi. Pengukuran suhu ini penting
sebagai salah satu petunjuk untuk mendeteksi awal adanya suatu
penyakit, pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan melalui aksila,
rektal atau kulit. Pengukuran suhu tubuh pada bayi dianjurkan
melalui aksila karena mudah dan sederhana (Walyani, 2015: 157).
11
b) Etiologi
Perinatal adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran
dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke
kehidupan ekstra uterin selama 28 hari. Empat aspek transisi pada
bayi baru lahir dimasa perinatal yang cepat berlangsung adalah
system pernapasan, sirkulasi dan kemampuan menghasilkan
sumber glukosa.
Penyebab terjadinya hipotermia di masa perintal yaitu
jaringan lemak subkutan pada bayi baru lahir tipis, perbandingan
luas permukaan tubuh bayi dengan berat badan, bayi baru lahir
tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi
kedingininan, asfiksia, lambat pada saat mengeringkan tubuh bayi,
distress pernapasan, sepsis, dan pada bayi premature atau bayi kecil
cadangan glukosa hanya sedikit (Walyani, 2015: 158).
c) Faktor yang dianggap risiko untuk terjadinya hipotermia
Bayi baru lahir berisiko terjadi hipotermia apabila terdapat
perawatan yang kurang tepat setelah bayi lahir, bayi yang
dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir, berat bayi lahir rendah
dan bayi premature, ruangan persalinan yang dingin, suhu tubuh
yang tidak terjaga selama proses rujukan, bayi mengalami asfiksia,
hipoksia, atau penyakit pada bayi (Runjati, 2017: 553).
12
d) Akibat yang dapat ditimbulkan hipotermia
Bayi yang hipotermia maka akan berakibat mengalami
hipoglikemia–sidosis metabolic karena vasokontriksi perifer
dengan metabolisme anaerob, kebutuhan oksigen yang meningkat,
metabolisme meningkat sehingga metabolisme terganggu dan
gangguan pembekuan darah sehingga meningkatkan pulmonal yang
menyertai hipotermia berat, shock, apnea, perdarahan intra
ventrikuler dan hipoksemia, dan berlanjut dengan kematian
(Walyani, 2015: 161).
e) Ciri-ciri hipotermia pada bayi baru lahir
Hipotermia pada bayi baru lahir akan terlihat dari ciri-
cirinya yaitu kulit bayi terlihat belang-belang, merah campur putih
atau timbul bercak-bercak, bayi menggigil (walaupun biasanya ciri
ini tidak mudah terlihat pada bayi kecil), bayi terlihat apatis atau
diam saja, gerakan bayi kurang dari normal, akan diperparah jika
bayi menjadi biru yang bisa dilihat pada bibir dan ujung-ujung
jarinya (Walyani, 2015: 161).
f) Pencegahan Hipotermia
Hipotermia pada bayi baru lahir dapat dicegah dengan
kontak langsung kulit ibu ke bayi melalui IMD (Inisiasi Menyusu
Dini), membungkus bayi agar tetap hangat, menyediakan ruangan
yang hangat untuk menaruh bayi (Runjati, 2017: 553).
13
g) Penanganan hipotermia secara umum untuk bayi baru lahir
Prinsip dasar untuk mempertahankan suhu tubuh pada bayi
baru lahir yaitu:
(1) Mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir
Bayi yang baru lahir tubuhnya basah oleh air ketuban
dengan udara yang masuk melalui jendela/pintu yang terbuka
akan mempercapat terjadinya penguapan dannkehilangan
panas pada tubuh bayi. Akibatnya akan timbul serangan dingin
(cold stress) yang merupakan gejala awal terjadinya
hipotermia. Untuk mencegah terjadinya serangan dingin setiap
bayi baru lahir harus dikeringkan terlebih dahulu.
Mengeringkan tubuh bayi dengan cepat mulai dari kepala
kemudian seluruh tubuh kecuali telapak tangan tanpa
menghilangkan verniks.
(2) Inisiasi Menyusu Dini (IMD) atau kontak kulit ke kulit
Setelah tubuh bayi kering segera selimuti bayi dan
pakaikan topi, selanjutnya meletakkan bayi telungkup di dada
ibu untuk mendapatkan kehangatan dan memulai inisiasi
menyusu dini. Memberi ASI sedini mungkin segera setelah
melahirkan untuk merangsang reflex rooting supaya bayi
mendapat kalori.
(3) Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh bayi
stabil
14
(4) Kangaroo Mother Care
Kangaroo mother care atau perawatan lekat bermanfaat
untuk merawat bayi yang lahir dengan hipotermia. Caranya
dengan menggunakan popok dan penutup kepala pada bayi
baru lahir. Kemudian bayi diletakkan di antara payudara ibu
dan ditutupi baju ibu yang berfungsi sebagai kantung kanguru
(Walyani, 2015: 161-163).
(5) Menyelimuti bayi, memakaikan topi (Runjati, 2017: 390).
b. Hipertermia adalah meningkatnya suhu pada bayi lebih dari 37,5oC.
Keadaan ini terjadi apabila bayi diletakkan didekat api atau dalam
ruangan yang berudara panas. Lingkungan yang terlalu panas juga
berbahaya bagi bayi. Gejala hipertermia pada bayi ketika suhu tubuh bayi
lebih dari 37,5oC. Frekuensi pernapasan bayi >60 kali per menit, adanya
tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang,
pengeluaran urine berkurang (Runjati, 2017: 553).
c. Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai
akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus (>37,5oC-38,3oC)
(Sodikin, 2012:32). Demam terjadi karena mekanisme pengeluaran panas
tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan
produksi panas, yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal
(Potter dan Perry, 2005: 764). Demam meningkatkan metabolisme sel.
Reaksi-reaksi kimia meningkat rata-rata 120% untuk setiap peningkatan
15
suhu 10oC. Hal tersebut berarti setiap peningkatan 1oC suhu tubuh
menyebabkan 12% reaksi kimia akan terjadi (Asmadi, 2008: 156).
d. Hiperpireksia suhu tubuh (>40oC-41,5oC) terjadi dengan melibatkan set
point di hipotalamus.
4. Faktor yang Mempengaruhi Produksi Panas
Panas diproduksi dalam tubuh melalui metabolisme, yang
merupakan reaksi kimia pada semua sel [Link] panas terjadi selama
istirahat, gerakan otot polos, getaran otot dan termogenesis tanpa menggigil.
(Potter dan Perry, 2005: 761). Beberapa faktor yang memengaruhi
peningkatan atau penurunan produksi panas tubuh, antara lain:
a. Basal Metabolisme Rate (BMR)
Basal Metabolisme Rate (BMR) merupakan pemanfaatan energi
di dalam tubuh untuk memelihara aktivitas pokok seperti bernapas.
Besarnya BMR bervariasi sesuai dengan umur dan jenis kelamin
(Asmadi, 2008: 155). Umur pada bayi baru lahir, mekanisme pengaturan
suhu tubuhnya belum sempurna. Oleh karenanya, suhu tubuh bayi sangat
dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan harus dilindungi dari perubahan-
perubahan suhu yang ekstrem. Sedangkan jenis kelamin dapat
memengaruhi suhu tubuh. Misalnya, terdapat peningkatan suhu tubuh
sebesar 0,3-0,5oC pada wanita yang sedang mengalami ovulasi. Hal
tersebut karena selama ovulasi terjadi peningkatan basal metabolisme
rate (Asmadi, 2008: 157).
16
Banyak faktor yang menyebabkan BMR meningkat diantaranya
adalah karena cedera, demam dan infeksi. Meningkatnya BMR ini
menunjukkan tingginya metabolisme yang dialami. Peningkatan
metabolisme akan menghasilkan peningkatan produksi panas dalam
tubuh, sehingga suhu tubuh menjadi naik (Asmadi, 2008: 156).
Lingkungan yang dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa
mekanisme menggigil merupakan jalan utama bayi yang kedinginan
untuk mendapatkan kembali panas tubuh. Pembentukan suhu tanpa
mekanisme menggigil merujuk pada penggunaan lemak coklat untuk
produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat pada seluruh tubuh,
mampu meningkatkan panas sebesar 100%. Untuk membakar lemak
coklat bayi membutuhkan glukosa untuk mendapat energi yang
mengubah lemak menjadi panas (Noordiati, 2018: 4).
Sebagian besar lemak coklat disimpan di sekitar leher, sepanjang
garis kolumna spinalis di antara scapula, yang melintasi garis klavikula
dan menuju sternum. Lemak tersebut juga mengelilingi pembuluh darah
paru dan membantali ginjal. Bayi aterm memiliki persediaan lemak
coklat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan panas selama 2-4 hari
setelah kelahiran. Stres akibat dingin akan meningkatkan konsumsi
oksigen saat bayi berupaya mempertahankan panas yang cukup agar
dapat bertahan hidup. Pembakaran lemak coklat membutuhkan oksigen
tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jaringan tubuh lainnya,
17
dengan efek pengalihan oksigen dan glukosa dari pusat pengatur vital
seperti otak dan otot jantung (Runjati, 2017: 390).
b. Aktivitas Otot
Aktivitas Otot, termasuk menggigil, dapat memproduksi panas
tubuh sebanyak lima kali.
c. Peningkatan Produksi Tiroksin
Hipotalamus merespons terhadap dingin dengan melepas factor
releasing. Faktor ini merangsang tirotropin pada adenohipofise untuk
merangsang pengeluaran tiroksin oleh kelenjar tiroid. Efek tiroksin
meningkatkan nilai metabolisme sel di seluruh tubuh dan memproduksi
panas.
d. Termogenesis Kimia
Thermogenesis kimia adalah perangsangan produksi panas
melalui sirkulasi neropineprin dan epineprin atau melalui perangsangan
saraf simpatis. Hormon-hormon ini segera meningkatkan nilai
metabolisme sel di jaringan tubuh. Secara langsung, neropineprin dan
epineprin memengaruhi hati dan sel-sel otot sehingga meningkatkan
aktivitas otot. Selain itu, produksi sejumlah panas juga dapat diperoleh
melalui rangsangan saraf simpatis terhadap lemak coklat.
5. Mekanisme Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir
a. Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang
kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi
18
ke obyek lain melalui kontak langsung). Kehilangan panas tubuh melalui
kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja,
tempat tidur, atau timbangan yang suhunya lebih rendah dari suhu tubuh
bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi
apabila bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut. Contoh :
1) Menimbang bayi tanpa alas timbangan.
2) Tangan penolong yang dingin memegang bayi baru lahir.
b. Konveksi
Hilangnya panas tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang
bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung kepada kecepatan dan
suhu udara). Kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar
udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di
dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.
Kehilangan panas juga terjadi jika aliran udara dingin dari kipas angin,
hembusan udara dingin melalui ventilasi/pendingin ruangan. Contoh :
1) Membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir dekat jendela.
2) Membiarkan bayi baru lahir di ruang yang terpasang kipas angin.
c. Radiasi
Panas dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhya ke
lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara dua obyek yang
mempunyai suhu berbeda). Kehilangan panas yang terjadi karena bayi
ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah
dari suhu tubuh bayi. Bayi dapat kehilangan panas dengan cara ini karena
19
benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walau tidak
bersentuhan secara langsung). Contoh :
1) Bayi baru lahir dibiarkan dalam ruangan AC tanpa diberikan pemanas
(radiant warmer).
2) Bayi baru lahir dibiarkan dalam keadaan telanjang.
3) Bayi baru lahir ditidurkan berdekatan dengan ruangan yang dingin,
misalnya dekat tembok.
d. Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada
kecepatan dan kelembaban udara (perpindahan panas dengan cara
merubah cairan menjadi uap). Evaporasi dipengaruhi oleh jumlah panas
yang dipakai, tingkat kelembaban udara dan aliran udara yang melewati.
Jika saat lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan, dapat terjadi
kehilangan panas akibat penguapan cairan ketuban pada permukaan
tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri. Kehilangan panas juga terjadi pada
bayi yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera
dikeringkan dan diselimuti (Indrayani, 2016: 489-491).
6. Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Banyak faktor yang mempengaruhi suhu tubuh. Perubahan suhu
tubuh pada rentang normal terjadi ketika hubungan antara produksi panas
dan kehilangan panas diganggu oleh variable fisiologis atau perilaku (Potter
dan Perry, 2005: 763).
20
a. Usia
Saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat, yang
relative konstan, masuk dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi
dengan cepat. Mekanisme kontrol suhu masih imatur. Suhu tubuh bayi
dapat berespons secara drastis terhadap perubahan suhu lingkungan. Bayi
baru lahir pengeluaran lebih dari 30% panas tubuhnya melalui kepala oleh
karena itu perlu menggunakan penutup kepala untuk mencegah
pengeluaran panas. Produksi panas akan meningkat seiring dengan
pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. Regulasi suhu tidak stabil
sampai anak-anak mencapai pubertas (Potter dan Perry, 2005: 763).
b. Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan
pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan
metabolisme dan produksi panas.
c. Kadar Hormon
Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih
besar dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Kadar progesterone meningkat dan
menurun secara bertahap selama siklus menstruasi. Bila kadar
progesterone rendah, suhu tubuh beberapa derajat di bawah kadar batas.
Suhu tubuh yang rendah berlangsung sampai terjadi ovulasi.
21
d. Irama Sirkadian
Suhu tubuh berubah secara normal 0,5oC sampai 1 oC selama
periode 24 jam. Suhu merupakan irama paling stabil pada manusia. Suhu
tubuh biasanya paling rendah antara pukul 1:00 dan 4:00 dini hari.
Sepanjang hari suhu tubuh naik, sampai sekitar pukul 18:00 dan
kemudian turun seperti pada dini hari.
e. Stres
Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi
hormonal dan persarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan
panas.
f. Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh, jika suhu dikaji dalam
ruangan yang sangat hangat, klien mungkin tidak mampu meregulasi
suhu tubuh melalui mekanisme pengeluaran panas dan suhu tubuh akan
naik. Jika klien berada di lingkungan luar tanpa baju hangat, suhu tubuh
mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas
yang konduktif. Bayi dan lansia paling sering dipengaruhi oleh suhu
lingkungan karena mekanisme suhu bayi dan lansia kurang efisien (Potter
dan Perry, 2005: 764).
7. Alat Pengukuran Suhu
Termometer sering dipergunakan untuk mengukur suhu seseorang.
Sampai saat ini termometer terus mengikuti perkembangan teknologi yang
22
ada dan mulai terjadi pergeseran dari termometer air raksa ke peralatan
elektronik (Sodikin, 2012:80).
a. Jenis-jenis termometer
1) Termometer air raksa
Termometer klinis sering digunakan untuk mengukur suhu
tubuh. Umumnya, termometer ini digunakan oleh para dokter untuk
mengetahui suhu badan pasiennya. Termometer ini mempunyai skala
dari 35oC sampai dengan 42oC. Hal ini dikarenakan suhu tubuh
manusia tidak pernah kurang dari 35oC atau tidak pernah lebih dari
42oC. Bagian-bagian termometer ini terdiri atas tabung (terbuat dari
kaca tipis), bagian sempit, batang kaca, dan air raksa (Vasra,
2016:107). Waktu yang diperlukan untuk pengukuran termometer air
raksa 5-10 menit (Potter dan Perry, 2005: 773).
Kelebihan termometer air raksa yaitu jangkauan suhu air raksa
cukup lebar karena air raksa membeku pada suhu -40oC dan mendidih
pada suhu 36oC, air raksa mudah dilihat karena mengkilat,
pemuainnya sangat teratur, terpanasi secara merata, sehingga
perubahan suhu sangat cepat, air raksa tidak bisa membasahi dinding
pipa kapilet, sehingga pengukurannya menjadi teliti, air raksa cepat
mengambil panas dari suatu benda yang sedang diukur.
Kekurangan termometer air raksa antara lain, sukar diperoleh
sehingga air raksa harganya cukup mahal, air raksa termasuk zat
beracun sehingga berbahaya apabila tabungnya pecah (Aldiyan, 2013).
23
2) Termometer Digital
Termometer digital menggunakan logam sebagai sensor
suhunya yang kemudian memuai dan pemuainnya ini diterjemahkan
oleh rangkaian elektrolik dan ditampilkan dalam bentuk angka yang
langsung dibaca.
Kelebihan termometer digital bisa digunakan untuk mengukur
suhu yang cukup tinggi, bahkan bisa digunakan untuk mengukur suhu
yang sangat tinggi, termometer digital memiliki tingkat keamanan
yang lebih baik. Bahkan termometer infrared atau inframerah tidak
membutuhkan kontak secara langsung pada bagian permukaan yang
hendak diukur. Hanya dengan mengarahkan termometer digital
sebagian permukaan yang akan diukur, maka secara otomatis
termometer tersebut akan menampilkan hasil pengukurannya.
Kekurangan termometer digital harga dari termometer digital
cukuplah mahal. Termometer digital yang memiliki harga paling
mahal adalah termometer digital yang menggunakan jenis logam yang
bisa dipakai untuk mengukur temperatur sampai dengan 1000 derajat
Celcius. Termometer ini membutuhkan probe yang harganya sangat
mahal. Termometer digital tidak akan dapat bekerja dengan baik tanpa
adanya arus listrik baik listrik secara langsung dari PLN maupun
listrik yang bersumber dari baterai. Termometer digital lebih sulit
dibuat. Pada proses produksi termometer digital dibutuhkan biaya
yang cukup tinggi. Apabila dibandingkan dengan proses produksi
24
termometer jenis analog. Termometer digital memiliki ukuran dimensi
yang cukup besar. Setiap proses pengukuran suhu harus dilakukan
kalibrasi ulang pada termometer digital (Inanesia, 2017).
3) Termometer Inframerah
Termometer inframerah mengukur suhu menggunakan radiasi
kotak hitam (biasanya infra merah) yang dipancarkan objek. Kadang
disebut termometer laser jika menggunakan laser untuk membantu
pekerjaan pengukuran, atau termometer tanpa sentuhan untuk
menggambarkan kemampuan alat mengukur suhu dari jarak jauh,
dengan mengetahui jumlah energi infra merah yang dipancarkan oleh
objek dan emisi nya, temperature objek dapat dibedakan.
Kelebihan Termometer Infra merah yaitu non-kontak
pengukuran temperatur tidak berpengaruh pada objek yang diukur,
cepat respon dan pergerakan benda dapat diukur dan suhu transien,
keakuratan pengukuran, resolusi tinggi kecil, rentang pengukuran
besar, suhu pengukuran wilayah kecil, bisa menjadi titik waktu yang
sama, garis, suhu permukaan, dapat diukur suhu mutlak, kelembaban
relatif dapat diukur.
Kekurangan termometer Infra merah yaitu paparan terhadap
pengaruh temperatur pada suhu objek yang diukur, tidak cocok untuk
mengukur suhu transien, tidak mudah untuk mengukur benda
bergerak, rentang pengukuran tidak cukup luas, dan perlengkapan,
25
tidak cocok untuk mengukur beracun, tekanan tinggi, dan kesempatan
berbahaya (Vany, 2012).
b. Mengukur suhu bayi
Mengukur suhu tubuh bayi berbeda dengan mengukur suhu tubuh
orang dewasa. Tempat yang digunakan adalah aksila untuk termometer
air raksa. Pangkal paha juga dapat digunakan tetapi biasanya aksila
(Vasra, 2016:116).
1) Indikasi
Berkaitan dengan imaturitas dan kesulitan mempertahankan suhu
tubuh terutama jika terjadi hipoglikemia dan hipotermia, bayi harus
segera diperiksa suhu tubuhnya segera setelah lahir, dan pada waktu
tertentu selama beberapa hari pertama bila teraba dingin atau panas
jika disentuh. Bayi yang tampak tidak sehat, pucat, sulit makan,
preterm, atau setelah resusitasi juga memerlukan pengkajian suhu.
2) Prosedur pengukuran suhu tubuh bayi
a) Orangtua harus menemani bayi dan dapat persetujuan tindakan dari
orangtua.
b) Bayi diletakkan di tempat yang aman dan hangat, misalnya boks
bayi.
c) Baju dilonggarkan agar aksila dapat dijangkau, bayi tidak boleh
kedinginan.
26
d) Termometer dengan penutup atau termometer sekali pakai dipasang
di aksila dan lengan dipertahankan dalam posisi menyilanag di
dada agar termometer tetap terpasang.
e) Setelah cukup waktu, termometer diangkat dan dibaca hasilnya.
8. Bayi Baru Lahir
a. Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam
pertama kelahiran (Saifuddin, (2002) dalam Dwienda R, Maita, & dkk,
2014 : 4). Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000
gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan
congenital (cacat bawaan) yang berat (M. Sholeh Kosim, (2007) dalam
Dwienda R, Maita,dkk, 2014: 5).
b. Ciri - Ciri Bayi Baru Lahir
Menurut Dwienda R, Maita,dkk (2014: 5) beberapa hal yang
harus dilihat untuk menilai bayi baru lahir normal yaitu berat badan
2500-4000 gram, panjang badan 48-52 cm, lingkar dada 30-38 cm,
lingkar kepala 33-35 cm, frekuensi jantung 120-160 kali/menit,
pernafasan + 40-60 kali/ menit, kulit kemerah-merahan dan licin karena
jaringan sub kutan, rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala
biasanya telah sempurna, kuku agak panjang dan lemas, genitalia;
perempuan labia mayorasudah menutupi labia minora, pada laki-laki
testis sudah turun, skortum sudah ada.
27
Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik, refleks
morro atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik, refleks graps
atau menggenggam sudah baik, refleks rooting mencari puting susu
dengan rangsangan taktil pada pipi dan daerah mulut terbentuk dengan
baik, eliminasi baik, mekonium akan kelur dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarna hitam kecoklatan.
c. Asuhan pada Bayi Baru Lahir
Menurut Indrayani dan Djami (2016: 524) memberikan asuhan
yang aman dan bersih segera setelah bayi baru lahir merupakan bagian
dari asuhan esensial pada bayi baru lahir.
1) Penilaian
Segera setelah bayi lahir lakukan penilaian awal pada bayi baru
lahir yaitu apakah bayi bernafas dan atau menangis kuat tanpa
kesulitan, apakah bayi bergerak aktif, bagaimana warna kulit,
apakah berwarnakulit kemerahan ataukah ada sianosis.
2) Perlindungan termal (termoregulasi).
3) Merawat tali pusat.
4) Inisiasi menyusu dini (IMD).
5) Pencegahan perdarahan, pencegahan infeksi mata.
6) Pemberian imunisasi hepatitis B.
7) Pemberian ASI selanjutnya.
8) Pemeriksan fisik.
9) Metode kanguru.
28
B. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
1. Pengertian Inisiasi Menysu Dini (IMD)
Inisiasi menyusu dini adalah meletakkan bayi diatas dada ibu dengan
skin to skin lalu selimuti dan biarkan bayi mencari puting ibu dengan sendirinya
tanpa disodorkan dengan waktu minimal selama 1 jam. Inisiasi Menyusu Dini
akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI
saja) dan lama menyusui. Bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2
tahun, dan mencegah anak kurang gizi) (Maryunani Anik, 2015: 58-59). Cara
bayi melakukan inisiasi menyusu dini dinamakan crawl atau merangkak
mencari payudara (Roesli Utami, 2008: 3).
2. Prinsip Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
a. Mulailah sedini mungkin tanpa harus dibersihkan, semakin cepat inisiasi
menyusu dini dilakukan tanpa ditunda akan membuat bayi mendapatkan
kehangatan dan kekebalan tubuh secara cepat. Apabila ditunda akan
berisiko besar bayi kedinginan dan menyebabkan kematian. Bau yang
dicium bayi dari tubuhnya akan memudahkannya menemukan payudara ibu.
Berbeda kenyataannya bila bayi dibersihkan terlebih dahulu.
b. Harus terjadi kontak kulit antara bayi dan ibu tanpa dihalangi oleh
kain/selimut. Kontak anatar kulit ini penting untuk menghangatkan tubuh
bayi. Jangan biarkan bayi dibedong atau dialasi kain ketika di letakkan di
dada ibu, sebab tindakan ini menghalangi bayi mendapatkan panas dari
29
tubuh ibu. Selimut dan topi hanya untuk menyelimuti dan bukan
menghalangi kontak kulit.
c. Bayi menyusu sendiri bukan ibu yang menyusui. Inilah prinsip penting
inisiasi menyusu dini. Bayi sudah diberikan kemampuan alamiah dari Tuhan
untuk menyusu sendiri tanpa perlu diarahkan ibunya.
d. Sangat penting untuk mendapatkan insting dan reflex bayi dalam 1 jam
pertama setelah bayi lahir. Reflex menghisap awal bayi paling kuat dalam
beberapa jam pertama setelah lahir. Jika inisiasi menyusu dini ditunda
dengan aktivitas lain atau lewat dari satu jam, reflex dan insting bayi akan
menurun dan baru akan menguat kembali beberapa jam kemudian atau ±40
jam (Widiartini, 2017: 14).
3. Manfaat Inisiasi Menysu Dini (IMD)
a. Manfaat IMD bagi bayi
1) Mendapatkan kolostrum dari susu pertama
Untuk segi kesehatan, manfaat yang paling utama IMD adalah
bayi dapat memperoleh air susu ibu yang mengandung antibody. Zat
kekebalan tubuh ini tidak terdapat dalam susu formula yang mahal
sekalipun. Kolostrum kadang disebut juga susu jolong. Susu paling
pertama ini sangat berharga karena zat protektifnya bermanfaat untuk
kebaikan usus bayi. Bayi yang mendapatka kolostrum sebagai imunisasi
pertama sudah terbukti memiliki imunitas lebih kuat dan jarang terkena
infeksi. Kolostrum harus sebanyak mungkin disusukan kepada bayi.
30
2) Meningkatkan kedekatan antara bayi dan ibu
Kontak ibu dan bayi pertama kali akan menciptakan hubungan
kedekatan selanjutnya dimasa depan. Hal ini disebabkan karena hubungan
tersebut akan mengalirkan perasaan hangat, rasa cinta, rasa aman, dan
ikatan yang lebih dalam lagi antara bayi dan ibu. Tidak hanya itu, saat
bayi merangkak dan mencari putting susu ibu, tentu akan menjadi momen
paling membahagiakan memesona, maka akan terbentuk hubungan
emosional yang lebih erat.
3) Mengontrol suhu tubuh bayi
Inisiasi Menyusu Dini menghindarkan kedinginan atau hipotermia
yang menyebabkan risiko kematian. Saat dilahirkan, bayi akan
mengalami perubahan suhu yang sangat drastis. Meletakkan bayi diatas
dada ibu akan membantu bayi menyesuaikan diri dengan suhu ruangan.
Dada ibu akan menghangatkan dan memberi perlindungan kepada bayi
dengan tepat. Kulit seorang ibu sangat istimewa karena suhu tubuh ibu
dapat menyesuaikan diri dengan suhu yang dibutuhkan bayi. Suhu tubuh
ibu dapat lebih hangat 1oC dari lingkungan sekitar sehingga bayi merasa
lebih nyaman dan aman disisi ibu. Bila bayi kepanasan, suhu tubuh ibu
akan turun 1oC. Bila bayi kedinginan, suhu ibu akan naik 2oC.
4) Menenangkan bayi
Inisiasi Menyusu Dini membuat bayi akan merasa lebih tenang
karena adanya kontak kulit dengan ibu sehingga membantu pernafasan
31
dan detak jantung bayi lebih stabil dengan cepat. Dengan demikian, bayi
akan lebih jarang gelisah dan menagis selama satu jam pertama sehingga
mengurangi stress.
5) Mengurangi infeksi pada bayi
Salah satu penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian
bayi baru lahir adalah pneumonia, suatu infeksi yang dapat terjadi saat
lahir atau setelah lahir. Faktor risiko terpenting terjadinya pneumonia
adalah perawatan yang tidak bersih, hipotermia, dan pemberian ASI yang
kurang. Pneumonia pada bayi baru lahir gejalanya tidak jelas dan sering
kali tidak diketahui sampai keadaanya sudah sangat terlambat.
Melalui IMD, risiko bayi dari infeksi berkurang karena bakteri
dari badan ibu yang dijilat bayi saat mencari putting justru akan menjadi
bakteri baik di pencernaan bayi. Bakteri ini akan berkoloni di usus dan
kulit bayi sehingga melindunginya dari kuman berbahaya di luar.
6) Membantu pertumbuhan saraf dan sel-sel bayi
Bayi yang langsung diarahkan menyusu pasca kelahiran akan
meningkatkan sikap refleksnya. IMD membantu bayi mengoordinasikan
hisap, telan, nafas, dan membuat bayi terlatih untuk menyusu lebih cepat
dan [Link] itu, IMD dapat membentuk sel-sel saraf di otak bayi
lebih awal.
32
7) Lebih suskes dalam program ASI eksklusif
Inisiasi Menyusu Dini yang dilakukan dengan benar juga akan
membantu bayi lebih sukses dalam ASI eksklusif selama 6 bulan
nantinya. Bayi yang diberi kesempatan menghisap puting ibu segera
setelah lahir memiliki kemungkinan keberhasilan lebih besar dalam
menyusu sebab terlatih motoriknya. Bayi akan tetap mau minum ASI
hingga usianya cukup untuk memperoleh makanan pendamping ASI
(MP-ASI).
8) Memulai kehidupan dengan baik
Dekapan hangat ibu akan memberi kekuatan bagi jiwa bayi dan
membuat bayi memulai kehidupannya dengan perasaan aman. Bayi yang
baru lahir berada di situasi siaga dan tegang. Bayi berada di situasi untuk
mulai belajar mengenal lingkungan barunya. Bayi memandang dengan
mata terbuka dan mencari pandangan mata yang lain, dengan ibu berada
dekat dengan bayi, menatap matanya, dan mendekapnya bayi akan
semakin rileks. Selain itu, dengan IMD bayi akan mendapat ASI sejak
pertama kalinya ia lahir. Bukan makanan lain. Sejatinya ASI memang
dikhususkan untuk bayi sejak pertama bayi dilahirkan hingga berusia dua
tahun atau lebih. ASI yang keluar dari payudara ibu adalah yang tepat
bagi kehidupan bayi, dengan memberikan kesempatan bayi menyusu ASI
pertama kalinya, berarti ibu telah memberikan hal terbaik bagi kehidupan
bayinya.
33
b. Manfaat IMD bagi ibu
1) Menghasilkan hormon prolaktin dan oksitosin
Hormon prolaktin adalah hormon yang merangsang sel-sel
payudara untuk memproduksi ASI. Hormon ini muncul ketika bayi
menyusu. Hormon prolaktin bekerja untuk produksi susu berikutnya.
Semakin sering putting disedot oleh bayi, maka semakin banyak ASI
yang akan diproduksi.
Hormon oksitosin timbul karena rangsangan dari payudara. Selain
itu karena pikiran dan perasaan ibu terhadap bayinya. Hormon ini
merangsang sel-sel otot berkontraksi yang menyebabkan aliran susu
terdorong ke puting atau menetes.
2) Mengeluarkan plasenta lebih cepat
Hisapan pertama bayi pada putting akan merangsang keluarnya
oksitosin. Peran oksitosin terbaik ada di menit-menit pertama saat bayi
menyusu dini. Oksitosin selain berperan untuk mendorong ASI keluar di
payudara, juga akan menyebabkan kontraksi uterus dengan cepat
sehingga mempermudah proses terlepasnya plasenta. Setelah plasenta
lahir, uterus akan mengecil dan mengencang.
3) Meminimalisasi terjadinya perdarahan
Perdarahan pasca persalinan disebabkan lemahnya kontraksi
uterus dan tertinggalnya sisa plasenta atau selaput ketuban di dalam
uterus. IMD akan memberikan keuntungan karena mengurangi terjadinya
34
perdarahan akibat stimulasi produksi oksitosin oleh hisapan bayi di
payudara ibu.
4) Merupakan awal ikatan antara ibu dan bayi
Inisiasi Menyusu Dini merupakan awal ikat batin antara ibu dan
bayi. Ibu mempercayai kemampuan alamiah bayi untuk dapat menyusu
dengan IMD. Begitu pula bayi akan merasa nyaman dalam dekapan
ibunya. Hormon oksitosin yang keluar pada saat IMD juga menghasilkan
perasaan cinta ibu ke bayinya, meningkatkan rasa bahagia, mengurangi
sakit, dan stress pasca persalinan. Itulah sebabnya hormon oksitosin
disebut dengan hormon cinta.
5) Meningkatkan produksi ASI
Inisiasi Menyusu Dini merangsang pengeluaran ASI dari
payudara. Semakin sering payudara ibu dihisap oleh bayi, maka produksi
ASI akan semakin meningkat. Semakin jarang payudara ibu dihisap oleh
bayi, maka produksi ASI akan menurun. Produksi ASI dimulai dari
kolostrum yang berwarna kekuning-kuningan hingga ASI matang (yang
berwarna putih susu) terangsang lebih cepat keluar ketika bayi melakukan
pengisapan.
6) Merangsang pengeluaran kolostrum
Kolostrum adalah cairan peratama yang keluar dari payudara ibu.
Produksi kolostrum hanya sekitar 7,4 sendok teh atau 36,23 ml per hari.
Selain jumlahnya sangat sedikit, karakteristik kolostrum juga belum
35
seperti ASI matang, warnanya bening kekuningan-kuningan. Tidak jarang
ibu yang tidak melihat keluarnya kolostrum mengira ASI-nya belum
keluar. Ada pula yang melihat kolostrumnya keluar, tetapi karena
jumlahnya yang sedikit ibu mengira ASI-nya hanya keluar sedikit.
Akhirnya ibu menunda untuk menyusui, atau bahkan memilih
memberikan susu formula kepada bayinya. Sebenarnya, Tuhan telah
mengatur supaya produksi kolostrum (yang hanya sedikit itu) sesuai
dengan kapasitas perut bayi.
Kapasitas perut bayi usia 1-2 hari hanya sebesar kelereng (5-7 ml)
itu pun kapasitas maksimalnya. Lebih dari itu akan segera dimuntahkan
karena perut bayi belum dapat meregang. Sekali menyusui, rata-rata
produksi kolostrum hanya 1,4 sendok teh (6,86 ml). Sekali menyusu bayi
akan mencerna habis semua kolostrum yang ia konsumsi, tidak ada yang
terbuang. Jika pada hari 1-2 kapasitas perutnya sekitar 5-7 mililiter, maka
pada hari ke-3 akan mencapai 22-27 mililiter. Kira-kira sebesar kepalan
tangan bayi atau sebesar kelereng besar (gundu). Pada hari ke-10,
kapasitasnya berkembang menjadi sekitar 45-60 mililiter atau sebesar
bola pingpong. Oleh karena kapasitas perut bayi yang sangat kecil
tersebut, mustahil memberi ASI dalam jumlah yang besar dalam sekali
minum. Bayi hanya akan mampu mencerna sedikit ASI setiap kali
menyusu, dan karenanya bayi akan lebih sering menyusu. Apabila
dibandingkan dengan kapasitas atau daya tampung perut orang dewasa.
36
Itu sebesar bola tenis dengan diameter sekitar 6½ cm atau setara dengan
900 mililiter (Widiartini, 2017: 15-18).
c. Manfaat Secara Psikologis
Adanya ikatan emosi (Emotional Bonding), hubungan ibu-bayi lebih
erat dan dan penuh kasih sayang, ibu merasa lebih bahagia, bayi lebih jarang
menangis, ibu berperilaku lebih peka (affectionately), lebih jarang menyiksa
bayi (child abused). Perkembangan anak dapat menunjukkan uji kepintaran
yang lebih baik di kemudian hari (Maryunani, 2015: 64-66).
4. Standar Operasional Prosedur (SOP) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Terdapat beberapa tahapan yang dilalui saat akan menyusu dini sesuai
Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Kementerian Kesehatan dan juga
United States Agency for International Development (USAID) tahun 2014
dalam penanganan pasca kelahiran sesuai tipe persalinan. SOP IMD pada
Kelahiran Normal, Operasi Caesar, dan Bayi Kembar. Sebuah SOP IMD dapat
membantu petugas kesehatan untuk melaksanakan IMD setelah seorang ibu
bersalin. Ini sangat bermanfaat bagi staf unit layanan kesehatan maupun ibu dan
bayi. SOP IMD ini memberikan panduan terhadap apa yang seharusnya
dilakukan dan meyakinkan bałwa tidak ada bayi yang tidak dinisiasi menyusu
dini. Berikut ini SOP IMD diuraikan secara lengkap.
SOP IMD pada Partus Spontan (Kelahiran Normal). Pada proses
persalinan spontan atau persalinan normal, IMD dapat dilakukan dengan lebih
mudah :
37
a. Dampingi lbu
Anjurkan pasangan, keluarga dan/atau petugas kesehatan bayi mendampingi
di kamar bersalin karena peristiwa persalinan mungkin menakutkan.
Dukungan moril baik dari penolong persalinan maupun dari kełuarga akan
sangat baik meredakan ketegangan.
b. Kurangi obat kimiawi
Saat menolong ibu melahirkan disarankan untuk mengurangi menggunakan
obat kimiawi (tanpa indikasi medis).
c. Bersihkan jalan nafas bayi
Setelah bayi lahir, petugas kesehatan akan segera membersihkan jalan nafas
bayi dari lender-lendir. Kemudian, dengan lembut bayi akan dikeringkan
khusus muka dan kepala saja tanpa menghilangkan vemiks (selaput putih
yang membungkus tubuh bayi). Verniks akan membantu menyamankan dan
menghangatkan bayi. Punggung tangan bayi tidak dikeringkan karena bau
cairan ketuban pada tangannya membantu bayi mencari puting yang berbau
sama. Kemudian, tali pusar bayi dipotong dan diikat.
d. Tengkurapkan bayi di dada ibu
Bila bayi stabil tidak memerlukan resusitasi (pertolongan pertama
pembebasan jalan nafas yang menyumbat di tenggorokan karena bayi tidak
menangis), bayi ditengkurapkan di dada ibu. Bahu bayi diluruskan sehingga
kulit bayi menempel di dada ibunya. Kepala bayi harus berada di antara
payudara, tetapi lebih rendah dari puting. Mata bayi kira-kira setinggi puting
38
susu. Ibu dan bayi akan diselimuti dengan kain hangat. Kepala bayi juga
dipasang topi karena kehangatan tubuh bayi dapat hilang melalui kepalanya.
e. Peluk dan belai bayi
Ibu dianjurkan untuk memeluk dan membelai bayi demi merangsangnya,
tetapi biarkan bayi mencari puting susu sendiri. Jika pertu letakkan bantal di
bawah kepala ibu untuk mempermudah kontak visual antara ibu dan bayi.
Hindari membersihkan payudara, biarkan apa adanya.
f. Dukungan dari petugas kesehatan kepada ibu
Petugas kesehatan akan mendukung dan membantu untuk mengenalkan
perilaku-perilaku bayi sebelum menyusu. Petugas kesehatan juga akan
menuntun ibu untuk mendapatkan posisi yang paling pas. Petugas kesehatan
akan menjelaskan kepada ibu dan keluarga tentang pentingnya IMD dan ASI
Eksklusif.
g. Kontak kulit bayi dan ibu serta menemukan puting
Biarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama paling tidak satu
jam. Biarkan bayi mencari, menemukan puting susu ibu dan mulai menyusu.
Sebagian besar bayi akan berhasil menemukan puting ibu dalam waktu 30-
60 menit, tetapi tetap biarkan kontak kulit bayi dan ibu bersentuhan
setidaknya selama 1 jam walaupun bayi sudah menemukan puting kurang
dari 1 jam. Ibu, keluarga, dan penolong persalinan dianjurkan tidak
menginterupsi bayi yang sedang menyusu, misalnya dengan memindahkan
bayi dari satu payudara ke payudara lainnya. Biarkan bayi menyelesaikan
39
proses IMD-nya. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15
menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara.
h. Beri tambahan waktu jika belum menemukan puting
Bila dalam satu jam menyusu dini belum terjadi, berilah tambahan waktu
lagi sampai menyusu dini terjadi. Petugas kesehatan akan membantu dengan
mendekatkan posisi bayi lebih dekat ke puting susu, tetapi jangan
memasukkan puting susu ke mulut bayi. Biarkan kontak kulit dengan kulit
selama 30-60 menit berikutnya.
i. Menunda semua aktivitas sampai bayi selesai IMD
Petugas kesehatan harus menunda semua asuhan bayi baru lahir normal
lainnya hingga bayi selesai menyusu. Setelah setidaknya kulit ibu dan kulit
bayi melekat selama satu jam atau bayi telah selesai menyusu dini, bayi baru
boleh dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, dan diberi vitamin K.
j. Usahakan bayi dan ibu tetap bersama
Bila bayi harus dipindah dari kamar bersalin sebelum 1 jam atau sebelum
bayi menyusu, usahakan ibu dan bayi dipindah bersama dengan
mempertahankan kontak kulit ibu dan bayi.
k. Tetap dekatkan bayi bersama ibunya meskipun pindah ke ruang pemulihan
Jika bayi masih belum melakukan IMD dalam waktu 2 jam, petugas
kesehatan akan memindahkan ibu ke ruang pemulihan. Diharapkan bayi
tetap di dada ibu. Asuhan perawatan neonatal esensial lainnya, seperti
40
menimbang, pemberian vitamin K1, dan salep mata dapat dilanjutkan.
Kemudian, bayi akan dikembalikan lagi kepada ibu untuk menyusu.
l. Rawat gabung bayi dan ibu dalam satu kamar
Rawat gabung bayi maksudnya ibu dan bayi ditempatkan dan dirawat dalam
satu ruangan. Bayi harus selalu dalam jangkauan ibu selama 24 jam dalam
sehari sehingga bayi bisa menyusu sesering keinginannya. Rawat gabung ini
penting karena akan menciptakan hubungan yang saling memahami antara
bayi dan ibu. Bila berada dalam satu ruangan, itu akan memudahkan ibu
untuk segera berlari setiap mendengar bayi menangis karena lapar atau
buang air atau yang lainnya. Lama-kelamaan ibu akan terlatih dan paham
bahkan tanpa perlu bayi memberi isyarat dengan menangis lagi. Berbeda
apabila ibu dan bayi dipisahkan, ketika bayi menangis dan bayi lain
menangis, suaranya akan semakin meninggi dan kencang. Tidak ada ibu
yang segera berlari menjemput bayinya. Ibu tidak dapat menangkap isyarat
bayi. Akhirnya, tidak jelas bayi menangis karena marah atau karena ia ingin
menyusu ketika dipertemukan dengan ibu, yang terjadi bayi malah tidak mau
menyusu lalu akhirnya dengan terpaksa diberikan susu formula.
m. Tetap selimuti atau beri bayi pakaian untuk menjaga kehangatannya
Kepala bayi tetap harus ditutupi dengan topi selama beberapa hari pertama.
Bila suatu saat kaki bayi terasa dingin saat disentuh, buka pakaiannya
kemudian telungkupkan kembali di dada ibu dan petugas kesehatan akan
menyelimuti sampai bayi hangat kembali (Widiartini, 2017: 19-22).
41
5. Lima Tahapan Perilaku (Pre-Feeding Behaviour) Sebelum Bayi Berhasil
Menyusu
Bayi baru lahir yang mendapat kontak kulit ke kulit segera setelah lahir,
akan melalui lima tahapan perilaku sebelum bayi berhasil menyusu. lima
tahapan tersebut, yakni:
a. Dalam 30-45 menit pertama, bayi akan diam dalam keadaan siaga, sesekali
matanya membuka lebar dan melihat ke ibunya, masa ini merupakan
penyesuaian peralihan dari keadaan dalam kandungan keluar kandungan dan
merupakan dasar pertumbuhan rasa aman bayi terhadap lingkungannya. Hal
ini juga akan meningkatkan rasa percaya diri ibu akan kemampuannya
menyusui dan mendidik anaknya, demikian pula halnya dengan ayah,
dengan melihat bayi dan istrinya dalam suasana menyenangkan ini, akan
tertanam rasa percaya diri ayah untuk ikut membantu keberhasilan ibu
menyusui dan mendidik anaknya.
b. Antara 45-60 menit pertama bayi akan menggerakkan mulutnya seperti mau
minum, mencium, kadang mengeluarkan suara, dan menjilat tangannya.
Bayi akan mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada ditangannya.
Bau ini sama dengan bau cairan yang dikeluarkan payudara ibu dan bau serta
rasa ini yang akan membimbing bayi untuk menemukan payudara dan
putting susu ibu, itulah sebabnya tidak dianjurkan mengeringkan ke-2 tangan
bayi pada saat bayi baru lahir.
42
c. Mengeluarkan liur, saat bayi siap dan menyadari ada makanan disekitarnya,
bayi mulai mengeluarkan liur
d. Bayi mulai bergerak kearah payudara, maka areola payudara akan menjadi
sasarannya dengan kaki bergerak menekan perut ibu, bayi akan menjilat kulit
ibu, menghentakkan kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan dan ke kiri, serta
menyentuh dan meremas daerah putting susu dan sekitarnya dengan
tangannya.
e. Menyusu, akhirnya bayi menemukan, menjilat, mengulum putting, membuka
mulut lebar-lebar, dan melekat dengan baik serta mulai menyusu
(Maryunani, 2015: 75-76).
C. Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Peningkatan Suhu pada Bayi
Baru Lahir
Inisiasi menyusu dini merupakan proses bayi menyusu segera setelah
dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari putting susu ibunya sendiri (tidak
disodorkan ke putting susu). Inisiasi menyusu dini sangat membantu dalam
pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui.
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang
merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan
kehidupan karena inisiasi menyusu dini dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang
meninggal sebelum usia satu bulan.
43
Inisiasi menyusu dini bermanfaat secara umum dapat mencegah terjadinya
hipotermia karena dada ibu meghangatkan bayi dengan tepat selama bayi
merangkak mencari payudara ibu. Bayi dan ibu akan menjadi lebih tenang, tidak
stress, pernapasan dan detak jantung bayi akan lebih stabil karena adanya kontak
kulit antara ibu dan bayi (Maryunani, 2015: 61).
Berdasarkan hasil penelitian Wildan, H.D., dan Febriana, P (2015) tentang
Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Kejadian Hipotermia Pada Bayi Baru
Lahir terdapat kesimpulan ada pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap kejadian
hipotermia pada bayi baru lahir dengan rata-rata suhu sebelum IMD 36,53oC dan
sesudah IMD 37,25oC dengan hasil yang signifikan (sig, 0,000). Penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian Chaidir, R. (2016) tentang Pengaruh Inisiasi
Mnyusu Dini Terhadap Suhu Tubuh Bayi Baru Lahir terdapat kesimpulan ada
perbedaan yang bermakna rata-rata suhu bayi baru lahir sebelum dan sesudah
dilakukan IMD dengan nilai p-value = 0,0001 sehingga p-value<α (0,05).
Bayi baru lahir yang dilakukan inisiasi menyusu dini akan mendapatkan
kolostrum, cairan yang pertama kali kuluar dari payudara ibu ini juga dinamakan
the gift of life. Kolostrum ASI sangat bermanfaat untuk daya tahan tubuh bayi,
tahan terhadap infeksi, penting untuk pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan
hidup bayi (Maryunani, 2015: 73).
44
D. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan
proporsi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui
spesifik hubungan antar variabel, sehinga dapat berguna untuk menjelaskan dan
meramalkan fenomena (Sugiyono, 2017: 52). Kerangka teori penelitian ini adalah
sebagai berikut:
Prinsip mempertahankan
suhu pada bayi baru lahir
1. Mengeringkan tubuh bayi
segera setelah lahir
2. Menyelimuti dan
Suhu Pada Bayi Baru
memakaikan topi bayi
Lahir
3. Inisiasi Menyusu Dini
4. Menunda memandikan
bayi
5. Kangaroo Mother Care
Gambar 1. Kerangka Teori
Sumber: Runjati (2017: 390), Walyani (2015:163),
E. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan
antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau variable yang satu dengan
variable yang lain dari masalah yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2014: 83).
Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
45
Gambar 2. Bagan Kerangka Konsep Penelitian
Inisiasi Menyusu Dini Suhu Pada Bayi Baru
(IMD) Lahir
F. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran
yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang sesuatu konsep
pengertian tertentu, misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,
pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya (Notoatmodjo,
2014: 103). Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu :
1. Variabel Independent (Variabel Bebas)
Variabel Independent (Variabel Bebas) yaitu variabel yang mempengaruhi
variabel dependent (Notoatmodjo, 2014:104).Variabel independent dari
penelitian ini adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
2. Variabel Dependent (Variabel Tergantung)
Variabel Dependent (Variabel Tergantung) adalah variabel yang dipengaruhi
atau sebagai akibat dilakukannya variabel bebas (Notoatmodjo, 2014: 104).
Pada penelitian ini yang menjadi variabel tergantung adalah suhu pada bayi
baru lahir.
46
[Link]
Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pernyataan
[Link] dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variable,
variable bebas dan variable tergantung (Notoatmodjo, 2014: 84). Hipotesis dalam
penelitian ini yaitu “Ada pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap suhu pada bayi
baru lahir”.
H. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah batasan ruang lingkup atau pengertian variabel-
variabel yang diamati atau diteliti untuk mengarahkan kepada pengukuran atau
pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan
instrumen atau alat ukur (Notoatmodjo, 2014: 85). Adapun definisi operasional
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Definisi Operasinal
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Suhu pada Jumlah panas yang Observasi Termometer Suhu Rasio
bayi baru dihasilkan dengan air raksa dinyatakan
lahir yang hilang ke dalam oC
lingkungan luar pada
bayi baru lahir
sampai usia 1 jam
Inisiasi Meletakkan bayi Observasi Checklist Dilakukan Nominal
Menyusu didada ibu kontak Inisiasi
Dini kulit ke kulit pada Menyusu
(IMD) bayi usia 5 menit Dini
selama 1 jam