0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan39 halaman

Ciri-Ciri Hipotermia pada Bayi Baru Lahir

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai suhu tubuh bayi baru lahir, yang mencakup pengertian suhu tubuh, kontrol neural dan vaskular, klasifikasi suhu tubuh seperti hipotermia dan hipertermia, serta pencegahan dan penanganan hipotermia pada bayi baru lahir.

Diunggah oleh

rizky arya sadewa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan39 halaman

Ciri-Ciri Hipotermia pada Bayi Baru Lahir

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai suhu tubuh bayi baru lahir, yang mencakup pengertian suhu tubuh, kontrol neural dan vaskular, klasifikasi suhu tubuh seperti hipotermia dan hipertermia, serta pencegahan dan penanganan hipotermia pada bayi baru lahir.

Diunggah oleh

rizky arya sadewa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Suhu Tubuh pada Bayi Baru Lahir

1. Pengertian Suhu Tubuh

Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi

oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Suhu

yang dimaksud adalah “panas” atau dingin suatu substansi. Meskipun dalam

kondisi tubuh yang ekstrem dan aktivitas fisik, mekanisme kontrol suhu

manusia tetap menjaga suhu inti atau suhu jaringan dalam relative konstan.

Suhu permukaan akan berfluktuasi. Keseimbangan suhu tubuh diregulasi

oleh mekanisme fisiologis dan perilaku. Supaya suhu tubuh tetap konstan

dan berada dalam batas normal, hubungan antara produksi panas dan

pengeluaran panas harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui

mekanisme neurologis dan kardiovaskuler bergantung pada aliran darah ke

kulit dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar (Potter dan Perry,

2005: 760-761).

2. Kontrol Neural dan Vaskular

Hipotalamus yang terletak antara hemisfer serebral mengontrol suhu

tubuh sebagaimana kerja termostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan

perubahan ringan pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol

pengeluaran panas, dan hipotalamus posterior mengontrol produksi panas.

8
9

Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set

point, impuls akan dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme

pengeluaran panas termasuk berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh

darah, dan hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke

pembuluh darah permukaan untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika

hipotalamus posterior merasakan suhu tubuh lebih rendah dari set point,

mekanisme konversi panas bekerja. Vasokonstriksi (penyempitan)

pembuluh darah mengurangi aliran darah ke kulit dan ekstremitas.

Kompensasi produksi panas distimulasi melalui kontraksi otot volunter dan

getaran (menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi tidak efektif dalam

pencegahan tambahan pengeluaran panas, tubuh mulai menggigil. Lesi atau

trauma pada hipotalamus atau korda spinalis yang membawa pesan

hipotalamus, dapat menyebabkan perubahan yang serius pada control suhu

(Potter dan Perry, 2005: 761).

3. Klasifikasi Suhu

Menurut Bachtiar (2012) secara umum suhu tubuh manusia berkisar

antara 36,5oC-37,5oC. Gangguan suhu tubuh dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 36,5oC atau disebut

juga cold stress. Tanda klinis awal terjadinya cold stress, kaki terasa

dingin, kemampuan mengisap lemah, letargi (aktivitas berkurang),

tangisan lemah, apabila hipotermia berlanjut maka akan timbul cidera

dingin (cold injury) yang ditandai dengan letargi, pernapasan lambat,

pernapasan tidak teratur, bunyi jantung lambat maka dapat terjadi


10

hipoglikemia dan asidosis metabolic yang dapat menyebabkan kematian

bayi (Runjati, 2017: 552). Hipotermia pada bayi dapat dibedakan menjadi

dua yaitu :

1) Hipotermia berat, apabila ditemukan dua atau lebih tanda yaitu bayi

menangis sangat lemah/tidak menangis, bayi mengantuk yang sulit

dibangunkan, kulit mengeras berwarna kemerahan, seluruh tubuh bayi

teraba dingin, bayi mengisap ASI sangat lemah/tidak dapat menyusu,

pada pengukuran suhu tubuh kurang dari 36oC-32 oC (Runjati, 2017:

553) dan bayi bernapas pelan dan dalam (Walyani, 2015: 157).

2) Hipotermia sedang, apabila ditemukan dua atau lebih tanda yaitu bayi

menangis lemah, aktivitas lemah, bayi mengantuk, masih bisa

dibangunkan, kulit bayi berbercak merah, kaki teraba dingin, reflex

mengisap bayi lemah, pada pengukuran suhu 32oC-36,4oC (Runjati,

2017: 553) dan gangguan napas, denyut jantung <100 kali permenit,

letargi (Walyani, 2015: 157).

a) Diagnosis

Diagnosis hipotermia dapat ditegakkan dengan pengukuran

suhu tubuh bayi atau kulit bayi. Pengukuran suhu ini penting

sebagai salah satu petunjuk untuk mendeteksi awal adanya suatu

penyakit, pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan melalui aksila,

rektal atau kulit. Pengukuran suhu tubuh pada bayi dianjurkan

melalui aksila karena mudah dan sederhana (Walyani, 2015: 157).


11

b) Etiologi

Perinatal adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran

dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke

kehidupan ekstra uterin selama 28 hari. Empat aspek transisi pada

bayi baru lahir dimasa perinatal yang cepat berlangsung adalah

system pernapasan, sirkulasi dan kemampuan menghasilkan

sumber glukosa.

Penyebab terjadinya hipotermia di masa perintal yaitu

jaringan lemak subkutan pada bayi baru lahir tipis, perbandingan

luas permukaan tubuh bayi dengan berat badan, bayi baru lahir

tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi

kedingininan, asfiksia, lambat pada saat mengeringkan tubuh bayi,

distress pernapasan, sepsis, dan pada bayi premature atau bayi kecil

cadangan glukosa hanya sedikit (Walyani, 2015: 158).

c) Faktor yang dianggap risiko untuk terjadinya hipotermia

Bayi baru lahir berisiko terjadi hipotermia apabila terdapat

perawatan yang kurang tepat setelah bayi lahir, bayi yang

dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir, berat bayi lahir rendah

dan bayi premature, ruangan persalinan yang dingin, suhu tubuh

yang tidak terjaga selama proses rujukan, bayi mengalami asfiksia,

hipoksia, atau penyakit pada bayi (Runjati, 2017: 553).


12

d) Akibat yang dapat ditimbulkan hipotermia

Bayi yang hipotermia maka akan berakibat mengalami

hipoglikemia–sidosis metabolic karena vasokontriksi perifer

dengan metabolisme anaerob, kebutuhan oksigen yang meningkat,

metabolisme meningkat sehingga metabolisme terganggu dan

gangguan pembekuan darah sehingga meningkatkan pulmonal yang

menyertai hipotermia berat, shock, apnea, perdarahan intra

ventrikuler dan hipoksemia, dan berlanjut dengan kematian

(Walyani, 2015: 161).

e) Ciri-ciri hipotermia pada bayi baru lahir

Hipotermia pada bayi baru lahir akan terlihat dari ciri-

cirinya yaitu kulit bayi terlihat belang-belang, merah campur putih

atau timbul bercak-bercak, bayi menggigil (walaupun biasanya ciri

ini tidak mudah terlihat pada bayi kecil), bayi terlihat apatis atau

diam saja, gerakan bayi kurang dari normal, akan diperparah jika

bayi menjadi biru yang bisa dilihat pada bibir dan ujung-ujung

jarinya (Walyani, 2015: 161).

f) Pencegahan Hipotermia

Hipotermia pada bayi baru lahir dapat dicegah dengan

kontak langsung kulit ibu ke bayi melalui IMD (Inisiasi Menyusu

Dini), membungkus bayi agar tetap hangat, menyediakan ruangan

yang hangat untuk menaruh bayi (Runjati, 2017: 553).


13

g) Penanganan hipotermia secara umum untuk bayi baru lahir

Prinsip dasar untuk mempertahankan suhu tubuh pada bayi

baru lahir yaitu:

(1) Mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir

Bayi yang baru lahir tubuhnya basah oleh air ketuban

dengan udara yang masuk melalui jendela/pintu yang terbuka

akan mempercapat terjadinya penguapan dannkehilangan

panas pada tubuh bayi. Akibatnya akan timbul serangan dingin

(cold stress) yang merupakan gejala awal terjadinya

hipotermia. Untuk mencegah terjadinya serangan dingin setiap

bayi baru lahir harus dikeringkan terlebih dahulu.

Mengeringkan tubuh bayi dengan cepat mulai dari kepala

kemudian seluruh tubuh kecuali telapak tangan tanpa

menghilangkan verniks.

(2) Inisiasi Menyusu Dini (IMD) atau kontak kulit ke kulit

Setelah tubuh bayi kering segera selimuti bayi dan

pakaikan topi, selanjutnya meletakkan bayi telungkup di dada

ibu untuk mendapatkan kehangatan dan memulai inisiasi

menyusu dini. Memberi ASI sedini mungkin segera setelah

melahirkan untuk merangsang reflex rooting supaya bayi

mendapat kalori.

(3) Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh bayi

stabil
14

(4) Kangaroo Mother Care

Kangaroo mother care atau perawatan lekat bermanfaat

untuk merawat bayi yang lahir dengan hipotermia. Caranya

dengan menggunakan popok dan penutup kepala pada bayi

baru lahir. Kemudian bayi diletakkan di antara payudara ibu

dan ditutupi baju ibu yang berfungsi sebagai kantung kanguru

(Walyani, 2015: 161-163).

(5) Menyelimuti bayi, memakaikan topi (Runjati, 2017: 390).

b. Hipertermia adalah meningkatnya suhu pada bayi lebih dari 37,5oC.

Keadaan ini terjadi apabila bayi diletakkan didekat api atau dalam

ruangan yang berudara panas. Lingkungan yang terlalu panas juga

berbahaya bagi bayi. Gejala hipertermia pada bayi ketika suhu tubuh bayi

lebih dari 37,5oC. Frekuensi pernapasan bayi >60 kali per menit, adanya

tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang,

pengeluaran urine berkurang (Runjati, 2017: 553).

c. Demam merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai

akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus (>37,5oC-38,3oC)

(Sodikin, 2012:32). Demam terjadi karena mekanisme pengeluaran panas

tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan

produksi panas, yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal

(Potter dan Perry, 2005: 764). Demam meningkatkan metabolisme sel.

Reaksi-reaksi kimia meningkat rata-rata 120% untuk setiap peningkatan


15

suhu 10oC. Hal tersebut berarti setiap peningkatan 1oC suhu tubuh

menyebabkan 12% reaksi kimia akan terjadi (Asmadi, 2008: 156).

d. Hiperpireksia suhu tubuh (>40oC-41,5oC) terjadi dengan melibatkan set

point di hipotalamus.

4. Faktor yang Mempengaruhi Produksi Panas

Panas diproduksi dalam tubuh melalui metabolisme, yang

merupakan reaksi kimia pada semua sel [Link] panas terjadi selama

istirahat, gerakan otot polos, getaran otot dan termogenesis tanpa menggigil.

(Potter dan Perry, 2005: 761). Beberapa faktor yang memengaruhi

peningkatan atau penurunan produksi panas tubuh, antara lain:

a. Basal Metabolisme Rate (BMR)

Basal Metabolisme Rate (BMR) merupakan pemanfaatan energi

di dalam tubuh untuk memelihara aktivitas pokok seperti bernapas.

Besarnya BMR bervariasi sesuai dengan umur dan jenis kelamin

(Asmadi, 2008: 155). Umur pada bayi baru lahir, mekanisme pengaturan

suhu tubuhnya belum sempurna. Oleh karenanya, suhu tubuh bayi sangat

dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan harus dilindungi dari perubahan-

perubahan suhu yang ekstrem. Sedangkan jenis kelamin dapat

memengaruhi suhu tubuh. Misalnya, terdapat peningkatan suhu tubuh

sebesar 0,3-0,5oC pada wanita yang sedang mengalami ovulasi. Hal

tersebut karena selama ovulasi terjadi peningkatan basal metabolisme

rate (Asmadi, 2008: 157).


16

Banyak faktor yang menyebabkan BMR meningkat diantaranya

adalah karena cedera, demam dan infeksi. Meningkatnya BMR ini

menunjukkan tingginya metabolisme yang dialami. Peningkatan

metabolisme akan menghasilkan peningkatan produksi panas dalam

tubuh, sehingga suhu tubuh menjadi naik (Asmadi, 2008: 156).

Lingkungan yang dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa

mekanisme menggigil merupakan jalan utama bayi yang kedinginan

untuk mendapatkan kembali panas tubuh. Pembentukan suhu tanpa

mekanisme menggigil merujuk pada penggunaan lemak coklat untuk

produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat pada seluruh tubuh,

mampu meningkatkan panas sebesar 100%. Untuk membakar lemak

coklat bayi membutuhkan glukosa untuk mendapat energi yang

mengubah lemak menjadi panas (Noordiati, 2018: 4).

Sebagian besar lemak coklat disimpan di sekitar leher, sepanjang

garis kolumna spinalis di antara scapula, yang melintasi garis klavikula

dan menuju sternum. Lemak tersebut juga mengelilingi pembuluh darah

paru dan membantali ginjal. Bayi aterm memiliki persediaan lemak

coklat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan panas selama 2-4 hari

setelah kelahiran. Stres akibat dingin akan meningkatkan konsumsi

oksigen saat bayi berupaya mempertahankan panas yang cukup agar

dapat bertahan hidup. Pembakaran lemak coklat membutuhkan oksigen

tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jaringan tubuh lainnya,
17

dengan efek pengalihan oksigen dan glukosa dari pusat pengatur vital

seperti otak dan otot jantung (Runjati, 2017: 390).

b. Aktivitas Otot

Aktivitas Otot, termasuk menggigil, dapat memproduksi panas

tubuh sebanyak lima kali.

c. Peningkatan Produksi Tiroksin

Hipotalamus merespons terhadap dingin dengan melepas factor

releasing. Faktor ini merangsang tirotropin pada adenohipofise untuk

merangsang pengeluaran tiroksin oleh kelenjar tiroid. Efek tiroksin

meningkatkan nilai metabolisme sel di seluruh tubuh dan memproduksi

panas.

d. Termogenesis Kimia

Thermogenesis kimia adalah perangsangan produksi panas

melalui sirkulasi neropineprin dan epineprin atau melalui perangsangan

saraf simpatis. Hormon-hormon ini segera meningkatkan nilai

metabolisme sel di jaringan tubuh. Secara langsung, neropineprin dan

epineprin memengaruhi hati dan sel-sel otot sehingga meningkatkan

aktivitas otot. Selain itu, produksi sejumlah panas juga dapat diperoleh

melalui rangsangan saraf simpatis terhadap lemak coklat.

5. Mekanisme Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir

a. Konduksi

Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang

kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi
18

ke obyek lain melalui kontak langsung). Kehilangan panas tubuh melalui

kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja,

tempat tidur, atau timbangan yang suhunya lebih rendah dari suhu tubuh

bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi

apabila bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut. Contoh :

1) Menimbang bayi tanpa alas timbangan.

2) Tangan penolong yang dingin memegang bayi baru lahir.

b. Konveksi

Hilangnya panas tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang

bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung kepada kecepatan dan

suhu udara). Kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar

udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di

dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.

Kehilangan panas juga terjadi jika aliran udara dingin dari kipas angin,

hembusan udara dingin melalui ventilasi/pendingin ruangan. Contoh :

1) Membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir dekat jendela.

2) Membiarkan bayi baru lahir di ruang yang terpasang kipas angin.

c. Radiasi

Panas dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhya ke

lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara dua obyek yang

mempunyai suhu berbeda). Kehilangan panas yang terjadi karena bayi

ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah

dari suhu tubuh bayi. Bayi dapat kehilangan panas dengan cara ini karena
19

benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walau tidak

bersentuhan secara langsung). Contoh :

1) Bayi baru lahir dibiarkan dalam ruangan AC tanpa diberikan pemanas

(radiant warmer).

2) Bayi baru lahir dibiarkan dalam keadaan telanjang.

3) Bayi baru lahir ditidurkan berdekatan dengan ruangan yang dingin,

misalnya dekat tembok.

d. Evaporasi

Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada

kecepatan dan kelembaban udara (perpindahan panas dengan cara

merubah cairan menjadi uap). Evaporasi dipengaruhi oleh jumlah panas

yang dipakai, tingkat kelembaban udara dan aliran udara yang melewati.

Jika saat lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan, dapat terjadi

kehilangan panas akibat penguapan cairan ketuban pada permukaan

tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri. Kehilangan panas juga terjadi pada

bayi yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera

dikeringkan dan diselimuti (Indrayani, 2016: 489-491).

6. Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tubuh

Banyak faktor yang mempengaruhi suhu tubuh. Perubahan suhu

tubuh pada rentang normal terjadi ketika hubungan antara produksi panas

dan kehilangan panas diganggu oleh variable fisiologis atau perilaku (Potter

dan Perry, 2005: 763).


20

a. Usia

Saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat, yang

relative konstan, masuk dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi

dengan cepat. Mekanisme kontrol suhu masih imatur. Suhu tubuh bayi

dapat berespons secara drastis terhadap perubahan suhu lingkungan. Bayi

baru lahir pengeluaran lebih dari 30% panas tubuhnya melalui kepala oleh

karena itu perlu menggunakan penutup kepala untuk mencegah

pengeluaran panas. Produksi panas akan meningkat seiring dengan

pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. Regulasi suhu tidak stabil

sampai anak-anak mencapai pubertas (Potter dan Perry, 2005: 763).

b. Olahraga

Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan

pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan

metabolisme dan produksi panas.

c. Kadar Hormon

Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih

besar dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi

menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Kadar progesterone meningkat dan

menurun secara bertahap selama siklus menstruasi. Bila kadar

progesterone rendah, suhu tubuh beberapa derajat di bawah kadar batas.

Suhu tubuh yang rendah berlangsung sampai terjadi ovulasi.


21

d. Irama Sirkadian

Suhu tubuh berubah secara normal 0,5oC sampai 1 oC selama

periode 24 jam. Suhu merupakan irama paling stabil pada manusia. Suhu

tubuh biasanya paling rendah antara pukul 1:00 dan 4:00 dini hari.

Sepanjang hari suhu tubuh naik, sampai sekitar pukul 18:00 dan

kemudian turun seperti pada dini hari.

e. Stres

Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi

hormonal dan persarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan

panas.

f. Lingkungan

Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh, jika suhu dikaji dalam

ruangan yang sangat hangat, klien mungkin tidak mampu meregulasi

suhu tubuh melalui mekanisme pengeluaran panas dan suhu tubuh akan

naik. Jika klien berada di lingkungan luar tanpa baju hangat, suhu tubuh

mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas

yang konduktif. Bayi dan lansia paling sering dipengaruhi oleh suhu

lingkungan karena mekanisme suhu bayi dan lansia kurang efisien (Potter

dan Perry, 2005: 764).

7. Alat Pengukuran Suhu

Termometer sering dipergunakan untuk mengukur suhu seseorang.

Sampai saat ini termometer terus mengikuti perkembangan teknologi yang


22

ada dan mulai terjadi pergeseran dari termometer air raksa ke peralatan

elektronik (Sodikin, 2012:80).

a. Jenis-jenis termometer

1) Termometer air raksa

Termometer klinis sering digunakan untuk mengukur suhu

tubuh. Umumnya, termometer ini digunakan oleh para dokter untuk

mengetahui suhu badan pasiennya. Termometer ini mempunyai skala

dari 35oC sampai dengan 42oC. Hal ini dikarenakan suhu tubuh

manusia tidak pernah kurang dari 35oC atau tidak pernah lebih dari

42oC. Bagian-bagian termometer ini terdiri atas tabung (terbuat dari

kaca tipis), bagian sempit, batang kaca, dan air raksa (Vasra,

2016:107). Waktu yang diperlukan untuk pengukuran termometer air

raksa 5-10 menit (Potter dan Perry, 2005: 773).

Kelebihan termometer air raksa yaitu jangkauan suhu air raksa

cukup lebar karena air raksa membeku pada suhu -40oC dan mendidih

pada suhu 36oC, air raksa mudah dilihat karena mengkilat,

pemuainnya sangat teratur, terpanasi secara merata, sehingga

perubahan suhu sangat cepat, air raksa tidak bisa membasahi dinding

pipa kapilet, sehingga pengukurannya menjadi teliti, air raksa cepat

mengambil panas dari suatu benda yang sedang diukur.

Kekurangan termometer air raksa antara lain, sukar diperoleh

sehingga air raksa harganya cukup mahal, air raksa termasuk zat

beracun sehingga berbahaya apabila tabungnya pecah (Aldiyan, 2013).


23

2) Termometer Digital

Termometer digital menggunakan logam sebagai sensor

suhunya yang kemudian memuai dan pemuainnya ini diterjemahkan

oleh rangkaian elektrolik dan ditampilkan dalam bentuk angka yang

langsung dibaca.

Kelebihan termometer digital bisa digunakan untuk mengukur

suhu yang cukup tinggi, bahkan bisa digunakan untuk mengukur suhu

yang sangat tinggi, termometer digital memiliki tingkat keamanan

yang lebih baik. Bahkan termometer infrared atau inframerah tidak

membutuhkan kontak secara langsung pada bagian permukaan yang

hendak diukur. Hanya dengan mengarahkan termometer digital

sebagian permukaan yang akan diukur, maka secara otomatis

termometer tersebut akan menampilkan hasil pengukurannya.

Kekurangan termometer digital harga dari termometer digital

cukuplah mahal. Termometer digital yang memiliki harga paling

mahal adalah termometer digital yang menggunakan jenis logam yang

bisa dipakai untuk mengukur temperatur sampai dengan 1000 derajat

Celcius. Termometer ini membutuhkan probe yang harganya sangat

mahal. Termometer digital tidak akan dapat bekerja dengan baik tanpa

adanya arus listrik baik listrik secara langsung dari PLN maupun

listrik yang bersumber dari baterai. Termometer digital lebih sulit

dibuat. Pada proses produksi termometer digital dibutuhkan biaya

yang cukup tinggi. Apabila dibandingkan dengan proses produksi


24

termometer jenis analog. Termometer digital memiliki ukuran dimensi

yang cukup besar. Setiap proses pengukuran suhu harus dilakukan

kalibrasi ulang pada termometer digital (Inanesia, 2017).

3) Termometer Inframerah

Termometer inframerah mengukur suhu menggunakan radiasi

kotak hitam (biasanya infra merah) yang dipancarkan objek. Kadang

disebut termometer laser jika menggunakan laser untuk membantu

pekerjaan pengukuran, atau termometer tanpa sentuhan untuk

menggambarkan kemampuan alat mengukur suhu dari jarak jauh,

dengan mengetahui jumlah energi infra merah yang dipancarkan oleh

objek dan emisi nya, temperature objek dapat dibedakan.

Kelebihan Termometer Infra merah yaitu non-kontak

pengukuran temperatur tidak berpengaruh pada objek yang diukur,

cepat respon dan pergerakan benda dapat diukur dan suhu transien,

keakuratan pengukuran, resolusi tinggi kecil, rentang pengukuran

besar, suhu pengukuran wilayah kecil, bisa menjadi titik waktu yang

sama, garis, suhu permukaan, dapat diukur suhu mutlak, kelembaban

relatif dapat diukur.

Kekurangan termometer Infra merah yaitu paparan terhadap

pengaruh temperatur pada suhu objek yang diukur, tidak cocok untuk

mengukur suhu transien, tidak mudah untuk mengukur benda

bergerak, rentang pengukuran tidak cukup luas, dan perlengkapan,


25

tidak cocok untuk mengukur beracun, tekanan tinggi, dan kesempatan

berbahaya (Vany, 2012).

b. Mengukur suhu bayi

Mengukur suhu tubuh bayi berbeda dengan mengukur suhu tubuh

orang dewasa. Tempat yang digunakan adalah aksila untuk termometer

air raksa. Pangkal paha juga dapat digunakan tetapi biasanya aksila

(Vasra, 2016:116).

1) Indikasi

Berkaitan dengan imaturitas dan kesulitan mempertahankan suhu

tubuh terutama jika terjadi hipoglikemia dan hipotermia, bayi harus

segera diperiksa suhu tubuhnya segera setelah lahir, dan pada waktu

tertentu selama beberapa hari pertama bila teraba dingin atau panas

jika disentuh. Bayi yang tampak tidak sehat, pucat, sulit makan,

preterm, atau setelah resusitasi juga memerlukan pengkajian suhu.

2) Prosedur pengukuran suhu tubuh bayi

a) Orangtua harus menemani bayi dan dapat persetujuan tindakan dari

orangtua.

b) Bayi diletakkan di tempat yang aman dan hangat, misalnya boks

bayi.

c) Baju dilonggarkan agar aksila dapat dijangkau, bayi tidak boleh

kedinginan.
26

d) Termometer dengan penutup atau termometer sekali pakai dipasang

di aksila dan lengan dipertahankan dalam posisi menyilanag di

dada agar termometer tetap terpasang.

e) Setelah cukup waktu, termometer diangkat dan dibaca hasilnya.

8. Bayi Baru Lahir

a. Pengertian Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam

pertama kelahiran (Saifuddin, (2002) dalam Dwienda R, Maita, & dkk,

2014 : 4). Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000

gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan

congenital (cacat bawaan) yang berat (M. Sholeh Kosim, (2007) dalam

Dwienda R, Maita,dkk, 2014: 5).

b. Ciri - Ciri Bayi Baru Lahir

Menurut Dwienda R, Maita,dkk (2014: 5) beberapa hal yang

harus dilihat untuk menilai bayi baru lahir normal yaitu berat badan

2500-4000 gram, panjang badan 48-52 cm, lingkar dada 30-38 cm,

lingkar kepala 33-35 cm, frekuensi jantung 120-160 kali/menit,

pernafasan + 40-60 kali/ menit, kulit kemerah-merahan dan licin karena

jaringan sub kutan, rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala

biasanya telah sempurna, kuku agak panjang dan lemas, genitalia;

perempuan labia mayorasudah menutupi labia minora, pada laki-laki

testis sudah turun, skortum sudah ada.


27

Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik, refleks

morro atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik, refleks graps

atau menggenggam sudah baik, refleks rooting mencari puting susu

dengan rangsangan taktil pada pipi dan daerah mulut terbentuk dengan

baik, eliminasi baik, mekonium akan kelur dalam 24 jam pertama,

mekonium berwarna hitam kecoklatan.

c. Asuhan pada Bayi Baru Lahir

Menurut Indrayani dan Djami (2016: 524) memberikan asuhan

yang aman dan bersih segera setelah bayi baru lahir merupakan bagian

dari asuhan esensial pada bayi baru lahir.

1) Penilaian

Segera setelah bayi lahir lakukan penilaian awal pada bayi baru

lahir yaitu apakah bayi bernafas dan atau menangis kuat tanpa

kesulitan, apakah bayi bergerak aktif, bagaimana warna kulit,

apakah berwarnakulit kemerahan ataukah ada sianosis.

2) Perlindungan termal (termoregulasi).

3) Merawat tali pusat.

4) Inisiasi menyusu dini (IMD).

5) Pencegahan perdarahan, pencegahan infeksi mata.

6) Pemberian imunisasi hepatitis B.

7) Pemberian ASI selanjutnya.

8) Pemeriksan fisik.

9) Metode kanguru.
28

B. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

1. Pengertian Inisiasi Menysu Dini (IMD)

Inisiasi menyusu dini adalah meletakkan bayi diatas dada ibu dengan

skin to skin lalu selimuti dan biarkan bayi mencari puting ibu dengan sendirinya

tanpa disodorkan dengan waktu minimal selama 1 jam. Inisiasi Menyusu Dini

akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI

saja) dan lama menyusui. Bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2

tahun, dan mencegah anak kurang gizi) (Maryunani Anik, 2015: 58-59). Cara

bayi melakukan inisiasi menyusu dini dinamakan crawl atau merangkak

mencari payudara (Roesli Utami, 2008: 3).

2. Prinsip Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

a. Mulailah sedini mungkin tanpa harus dibersihkan, semakin cepat inisiasi

menyusu dini dilakukan tanpa ditunda akan membuat bayi mendapatkan

kehangatan dan kekebalan tubuh secara cepat. Apabila ditunda akan

berisiko besar bayi kedinginan dan menyebabkan kematian. Bau yang

dicium bayi dari tubuhnya akan memudahkannya menemukan payudara ibu.

Berbeda kenyataannya bila bayi dibersihkan terlebih dahulu.

b. Harus terjadi kontak kulit antara bayi dan ibu tanpa dihalangi oleh

kain/selimut. Kontak anatar kulit ini penting untuk menghangatkan tubuh

bayi. Jangan biarkan bayi dibedong atau dialasi kain ketika di letakkan di

dada ibu, sebab tindakan ini menghalangi bayi mendapatkan panas dari
29

tubuh ibu. Selimut dan topi hanya untuk menyelimuti dan bukan

menghalangi kontak kulit.

c. Bayi menyusu sendiri bukan ibu yang menyusui. Inilah prinsip penting

inisiasi menyusu dini. Bayi sudah diberikan kemampuan alamiah dari Tuhan

untuk menyusu sendiri tanpa perlu diarahkan ibunya.

d. Sangat penting untuk mendapatkan insting dan reflex bayi dalam 1 jam

pertama setelah bayi lahir. Reflex menghisap awal bayi paling kuat dalam

beberapa jam pertama setelah lahir. Jika inisiasi menyusu dini ditunda

dengan aktivitas lain atau lewat dari satu jam, reflex dan insting bayi akan

menurun dan baru akan menguat kembali beberapa jam kemudian atau ±40

jam (Widiartini, 2017: 14).

3. Manfaat Inisiasi Menysu Dini (IMD)

a. Manfaat IMD bagi bayi

1) Mendapatkan kolostrum dari susu pertama

Untuk segi kesehatan, manfaat yang paling utama IMD adalah

bayi dapat memperoleh air susu ibu yang mengandung antibody. Zat

kekebalan tubuh ini tidak terdapat dalam susu formula yang mahal

sekalipun. Kolostrum kadang disebut juga susu jolong. Susu paling

pertama ini sangat berharga karena zat protektifnya bermanfaat untuk

kebaikan usus bayi. Bayi yang mendapatka kolostrum sebagai imunisasi

pertama sudah terbukti memiliki imunitas lebih kuat dan jarang terkena

infeksi. Kolostrum harus sebanyak mungkin disusukan kepada bayi.


30

2) Meningkatkan kedekatan antara bayi dan ibu

Kontak ibu dan bayi pertama kali akan menciptakan hubungan

kedekatan selanjutnya dimasa depan. Hal ini disebabkan karena hubungan

tersebut akan mengalirkan perasaan hangat, rasa cinta, rasa aman, dan

ikatan yang lebih dalam lagi antara bayi dan ibu. Tidak hanya itu, saat

bayi merangkak dan mencari putting susu ibu, tentu akan menjadi momen

paling membahagiakan memesona, maka akan terbentuk hubungan

emosional yang lebih erat.

3) Mengontrol suhu tubuh bayi

Inisiasi Menyusu Dini menghindarkan kedinginan atau hipotermia

yang menyebabkan risiko kematian. Saat dilahirkan, bayi akan

mengalami perubahan suhu yang sangat drastis. Meletakkan bayi diatas

dada ibu akan membantu bayi menyesuaikan diri dengan suhu ruangan.

Dada ibu akan menghangatkan dan memberi perlindungan kepada bayi

dengan tepat. Kulit seorang ibu sangat istimewa karena suhu tubuh ibu

dapat menyesuaikan diri dengan suhu yang dibutuhkan bayi. Suhu tubuh

ibu dapat lebih hangat 1oC dari lingkungan sekitar sehingga bayi merasa

lebih nyaman dan aman disisi ibu. Bila bayi kepanasan, suhu tubuh ibu

akan turun 1oC. Bila bayi kedinginan, suhu ibu akan naik 2oC.

4) Menenangkan bayi

Inisiasi Menyusu Dini membuat bayi akan merasa lebih tenang

karena adanya kontak kulit dengan ibu sehingga membantu pernafasan


31

dan detak jantung bayi lebih stabil dengan cepat. Dengan demikian, bayi

akan lebih jarang gelisah dan menagis selama satu jam pertama sehingga

mengurangi stress.

5) Mengurangi infeksi pada bayi

Salah satu penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian

bayi baru lahir adalah pneumonia, suatu infeksi yang dapat terjadi saat

lahir atau setelah lahir. Faktor risiko terpenting terjadinya pneumonia

adalah perawatan yang tidak bersih, hipotermia, dan pemberian ASI yang

kurang. Pneumonia pada bayi baru lahir gejalanya tidak jelas dan sering

kali tidak diketahui sampai keadaanya sudah sangat terlambat.

Melalui IMD, risiko bayi dari infeksi berkurang karena bakteri

dari badan ibu yang dijilat bayi saat mencari putting justru akan menjadi

bakteri baik di pencernaan bayi. Bakteri ini akan berkoloni di usus dan

kulit bayi sehingga melindunginya dari kuman berbahaya di luar.

6) Membantu pertumbuhan saraf dan sel-sel bayi

Bayi yang langsung diarahkan menyusu pasca kelahiran akan

meningkatkan sikap refleksnya. IMD membantu bayi mengoordinasikan

hisap, telan, nafas, dan membuat bayi terlatih untuk menyusu lebih cepat

dan [Link] itu, IMD dapat membentuk sel-sel saraf di otak bayi

lebih awal.
32

7) Lebih suskes dalam program ASI eksklusif

Inisiasi Menyusu Dini yang dilakukan dengan benar juga akan

membantu bayi lebih sukses dalam ASI eksklusif selama 6 bulan

nantinya. Bayi yang diberi kesempatan menghisap puting ibu segera

setelah lahir memiliki kemungkinan keberhasilan lebih besar dalam

menyusu sebab terlatih motoriknya. Bayi akan tetap mau minum ASI

hingga usianya cukup untuk memperoleh makanan pendamping ASI

(MP-ASI).

8) Memulai kehidupan dengan baik

Dekapan hangat ibu akan memberi kekuatan bagi jiwa bayi dan

membuat bayi memulai kehidupannya dengan perasaan aman. Bayi yang

baru lahir berada di situasi siaga dan tegang. Bayi berada di situasi untuk

mulai belajar mengenal lingkungan barunya. Bayi memandang dengan

mata terbuka dan mencari pandangan mata yang lain, dengan ibu berada

dekat dengan bayi, menatap matanya, dan mendekapnya bayi akan

semakin rileks. Selain itu, dengan IMD bayi akan mendapat ASI sejak

pertama kalinya ia lahir. Bukan makanan lain. Sejatinya ASI memang

dikhususkan untuk bayi sejak pertama bayi dilahirkan hingga berusia dua

tahun atau lebih. ASI yang keluar dari payudara ibu adalah yang tepat

bagi kehidupan bayi, dengan memberikan kesempatan bayi menyusu ASI

pertama kalinya, berarti ibu telah memberikan hal terbaik bagi kehidupan

bayinya.
33

b. Manfaat IMD bagi ibu

1) Menghasilkan hormon prolaktin dan oksitosin

Hormon prolaktin adalah hormon yang merangsang sel-sel

payudara untuk memproduksi ASI. Hormon ini muncul ketika bayi

menyusu. Hormon prolaktin bekerja untuk produksi susu berikutnya.

Semakin sering putting disedot oleh bayi, maka semakin banyak ASI

yang akan diproduksi.

Hormon oksitosin timbul karena rangsangan dari payudara. Selain

itu karena pikiran dan perasaan ibu terhadap bayinya. Hormon ini

merangsang sel-sel otot berkontraksi yang menyebabkan aliran susu

terdorong ke puting atau menetes.

2) Mengeluarkan plasenta lebih cepat

Hisapan pertama bayi pada putting akan merangsang keluarnya

oksitosin. Peran oksitosin terbaik ada di menit-menit pertama saat bayi

menyusu dini. Oksitosin selain berperan untuk mendorong ASI keluar di

payudara, juga akan menyebabkan kontraksi uterus dengan cepat

sehingga mempermudah proses terlepasnya plasenta. Setelah plasenta

lahir, uterus akan mengecil dan mengencang.

3) Meminimalisasi terjadinya perdarahan

Perdarahan pasca persalinan disebabkan lemahnya kontraksi

uterus dan tertinggalnya sisa plasenta atau selaput ketuban di dalam

uterus. IMD akan memberikan keuntungan karena mengurangi terjadinya


34

perdarahan akibat stimulasi produksi oksitosin oleh hisapan bayi di

payudara ibu.

4) Merupakan awal ikatan antara ibu dan bayi

Inisiasi Menyusu Dini merupakan awal ikat batin antara ibu dan

bayi. Ibu mempercayai kemampuan alamiah bayi untuk dapat menyusu

dengan IMD. Begitu pula bayi akan merasa nyaman dalam dekapan

ibunya. Hormon oksitosin yang keluar pada saat IMD juga menghasilkan

perasaan cinta ibu ke bayinya, meningkatkan rasa bahagia, mengurangi

sakit, dan stress pasca persalinan. Itulah sebabnya hormon oksitosin

disebut dengan hormon cinta.

5) Meningkatkan produksi ASI

Inisiasi Menyusu Dini merangsang pengeluaran ASI dari

payudara. Semakin sering payudara ibu dihisap oleh bayi, maka produksi

ASI akan semakin meningkat. Semakin jarang payudara ibu dihisap oleh

bayi, maka produksi ASI akan menurun. Produksi ASI dimulai dari

kolostrum yang berwarna kekuning-kuningan hingga ASI matang (yang

berwarna putih susu) terangsang lebih cepat keluar ketika bayi melakukan

pengisapan.

6) Merangsang pengeluaran kolostrum

Kolostrum adalah cairan peratama yang keluar dari payudara ibu.

Produksi kolostrum hanya sekitar 7,4 sendok teh atau 36,23 ml per hari.

Selain jumlahnya sangat sedikit, karakteristik kolostrum juga belum


35

seperti ASI matang, warnanya bening kekuningan-kuningan. Tidak jarang

ibu yang tidak melihat keluarnya kolostrum mengira ASI-nya belum

keluar. Ada pula yang melihat kolostrumnya keluar, tetapi karena

jumlahnya yang sedikit ibu mengira ASI-nya hanya keluar sedikit.

Akhirnya ibu menunda untuk menyusui, atau bahkan memilih

memberikan susu formula kepada bayinya. Sebenarnya, Tuhan telah

mengatur supaya produksi kolostrum (yang hanya sedikit itu) sesuai

dengan kapasitas perut bayi.

Kapasitas perut bayi usia 1-2 hari hanya sebesar kelereng (5-7 ml)

itu pun kapasitas maksimalnya. Lebih dari itu akan segera dimuntahkan

karena perut bayi belum dapat meregang. Sekali menyusui, rata-rata

produksi kolostrum hanya 1,4 sendok teh (6,86 ml). Sekali menyusu bayi

akan mencerna habis semua kolostrum yang ia konsumsi, tidak ada yang

terbuang. Jika pada hari 1-2 kapasitas perutnya sekitar 5-7 mililiter, maka

pada hari ke-3 akan mencapai 22-27 mililiter. Kira-kira sebesar kepalan

tangan bayi atau sebesar kelereng besar (gundu). Pada hari ke-10,

kapasitasnya berkembang menjadi sekitar 45-60 mililiter atau sebesar

bola pingpong. Oleh karena kapasitas perut bayi yang sangat kecil

tersebut, mustahil memberi ASI dalam jumlah yang besar dalam sekali

minum. Bayi hanya akan mampu mencerna sedikit ASI setiap kali

menyusu, dan karenanya bayi akan lebih sering menyusu. Apabila

dibandingkan dengan kapasitas atau daya tampung perut orang dewasa.


36

Itu sebesar bola tenis dengan diameter sekitar 6½ cm atau setara dengan

900 mililiter (Widiartini, 2017: 15-18).

c. Manfaat Secara Psikologis

Adanya ikatan emosi (Emotional Bonding), hubungan ibu-bayi lebih

erat dan dan penuh kasih sayang, ibu merasa lebih bahagia, bayi lebih jarang

menangis, ibu berperilaku lebih peka (affectionately), lebih jarang menyiksa

bayi (child abused). Perkembangan anak dapat menunjukkan uji kepintaran

yang lebih baik di kemudian hari (Maryunani, 2015: 64-66).

4. Standar Operasional Prosedur (SOP) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Terdapat beberapa tahapan yang dilalui saat akan menyusu dini sesuai

Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Kementerian Kesehatan dan juga

United States Agency for International Development (USAID) tahun 2014

dalam penanganan pasca kelahiran sesuai tipe persalinan. SOP IMD pada

Kelahiran Normal, Operasi Caesar, dan Bayi Kembar. Sebuah SOP IMD dapat

membantu petugas kesehatan untuk melaksanakan IMD setelah seorang ibu

bersalin. Ini sangat bermanfaat bagi staf unit layanan kesehatan maupun ibu dan

bayi. SOP IMD ini memberikan panduan terhadap apa yang seharusnya

dilakukan dan meyakinkan bałwa tidak ada bayi yang tidak dinisiasi menyusu

dini. Berikut ini SOP IMD diuraikan secara lengkap.

SOP IMD pada Partus Spontan (Kelahiran Normal). Pada proses

persalinan spontan atau persalinan normal, IMD dapat dilakukan dengan lebih

mudah :
37

a. Dampingi lbu

Anjurkan pasangan, keluarga dan/atau petugas kesehatan bayi mendampingi

di kamar bersalin karena peristiwa persalinan mungkin menakutkan.

Dukungan moril baik dari penolong persalinan maupun dari kełuarga akan

sangat baik meredakan ketegangan.

b. Kurangi obat kimiawi

Saat menolong ibu melahirkan disarankan untuk mengurangi menggunakan

obat kimiawi (tanpa indikasi medis).

c. Bersihkan jalan nafas bayi

Setelah bayi lahir, petugas kesehatan akan segera membersihkan jalan nafas

bayi dari lender-lendir. Kemudian, dengan lembut bayi akan dikeringkan

khusus muka dan kepala saja tanpa menghilangkan vemiks (selaput putih

yang membungkus tubuh bayi). Verniks akan membantu menyamankan dan

menghangatkan bayi. Punggung tangan bayi tidak dikeringkan karena bau

cairan ketuban pada tangannya membantu bayi mencari puting yang berbau

sama. Kemudian, tali pusar bayi dipotong dan diikat.

d. Tengkurapkan bayi di dada ibu

Bila bayi stabil tidak memerlukan resusitasi (pertolongan pertama

pembebasan jalan nafas yang menyumbat di tenggorokan karena bayi tidak

menangis), bayi ditengkurapkan di dada ibu. Bahu bayi diluruskan sehingga

kulit bayi menempel di dada ibunya. Kepala bayi harus berada di antara

payudara, tetapi lebih rendah dari puting. Mata bayi kira-kira setinggi puting
38

susu. Ibu dan bayi akan diselimuti dengan kain hangat. Kepala bayi juga

dipasang topi karena kehangatan tubuh bayi dapat hilang melalui kepalanya.

e. Peluk dan belai bayi

Ibu dianjurkan untuk memeluk dan membelai bayi demi merangsangnya,

tetapi biarkan bayi mencari puting susu sendiri. Jika pertu letakkan bantal di

bawah kepala ibu untuk mempermudah kontak visual antara ibu dan bayi.

Hindari membersihkan payudara, biarkan apa adanya.

f. Dukungan dari petugas kesehatan kepada ibu

Petugas kesehatan akan mendukung dan membantu untuk mengenalkan

perilaku-perilaku bayi sebelum menyusu. Petugas kesehatan juga akan

menuntun ibu untuk mendapatkan posisi yang paling pas. Petugas kesehatan

akan menjelaskan kepada ibu dan keluarga tentang pentingnya IMD dan ASI

Eksklusif.

g. Kontak kulit bayi dan ibu serta menemukan puting

Biarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama paling tidak satu

jam. Biarkan bayi mencari, menemukan puting susu ibu dan mulai menyusu.

Sebagian besar bayi akan berhasil menemukan puting ibu dalam waktu 30-

60 menit, tetapi tetap biarkan kontak kulit bayi dan ibu bersentuhan

setidaknya selama 1 jam walaupun bayi sudah menemukan puting kurang

dari 1 jam. Ibu, keluarga, dan penolong persalinan dianjurkan tidak

menginterupsi bayi yang sedang menyusu, misalnya dengan memindahkan

bayi dari satu payudara ke payudara lainnya. Biarkan bayi menyelesaikan


39

proses IMD-nya. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15

menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara.

h. Beri tambahan waktu jika belum menemukan puting

Bila dalam satu jam menyusu dini belum terjadi, berilah tambahan waktu

lagi sampai menyusu dini terjadi. Petugas kesehatan akan membantu dengan

mendekatkan posisi bayi lebih dekat ke puting susu, tetapi jangan

memasukkan puting susu ke mulut bayi. Biarkan kontak kulit dengan kulit

selama 30-60 menit berikutnya.

i. Menunda semua aktivitas sampai bayi selesai IMD

Petugas kesehatan harus menunda semua asuhan bayi baru lahir normal

lainnya hingga bayi selesai menyusu. Setelah setidaknya kulit ibu dan kulit

bayi melekat selama satu jam atau bayi telah selesai menyusu dini, bayi baru

boleh dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, dan diberi vitamin K.

j. Usahakan bayi dan ibu tetap bersama

Bila bayi harus dipindah dari kamar bersalin sebelum 1 jam atau sebelum

bayi menyusu, usahakan ibu dan bayi dipindah bersama dengan

mempertahankan kontak kulit ibu dan bayi.

k. Tetap dekatkan bayi bersama ibunya meskipun pindah ke ruang pemulihan

Jika bayi masih belum melakukan IMD dalam waktu 2 jam, petugas

kesehatan akan memindahkan ibu ke ruang pemulihan. Diharapkan bayi

tetap di dada ibu. Asuhan perawatan neonatal esensial lainnya, seperti


40

menimbang, pemberian vitamin K1, dan salep mata dapat dilanjutkan.

Kemudian, bayi akan dikembalikan lagi kepada ibu untuk menyusu.

l. Rawat gabung bayi dan ibu dalam satu kamar

Rawat gabung bayi maksudnya ibu dan bayi ditempatkan dan dirawat dalam

satu ruangan. Bayi harus selalu dalam jangkauan ibu selama 24 jam dalam

sehari sehingga bayi bisa menyusu sesering keinginannya. Rawat gabung ini

penting karena akan menciptakan hubungan yang saling memahami antara

bayi dan ibu. Bila berada dalam satu ruangan, itu akan memudahkan ibu

untuk segera berlari setiap mendengar bayi menangis karena lapar atau

buang air atau yang lainnya. Lama-kelamaan ibu akan terlatih dan paham

bahkan tanpa perlu bayi memberi isyarat dengan menangis lagi. Berbeda

apabila ibu dan bayi dipisahkan, ketika bayi menangis dan bayi lain

menangis, suaranya akan semakin meninggi dan kencang. Tidak ada ibu

yang segera berlari menjemput bayinya. Ibu tidak dapat menangkap isyarat

bayi. Akhirnya, tidak jelas bayi menangis karena marah atau karena ia ingin

menyusu ketika dipertemukan dengan ibu, yang terjadi bayi malah tidak mau

menyusu lalu akhirnya dengan terpaksa diberikan susu formula.

m. Tetap selimuti atau beri bayi pakaian untuk menjaga kehangatannya

Kepala bayi tetap harus ditutupi dengan topi selama beberapa hari pertama.

Bila suatu saat kaki bayi terasa dingin saat disentuh, buka pakaiannya

kemudian telungkupkan kembali di dada ibu dan petugas kesehatan akan

menyelimuti sampai bayi hangat kembali (Widiartini, 2017: 19-22).


41

5. Lima Tahapan Perilaku (Pre-Feeding Behaviour) Sebelum Bayi Berhasil


Menyusu
Bayi baru lahir yang mendapat kontak kulit ke kulit segera setelah lahir,

akan melalui lima tahapan perilaku sebelum bayi berhasil menyusu. lima

tahapan tersebut, yakni:

a. Dalam 30-45 menit pertama, bayi akan diam dalam keadaan siaga, sesekali

matanya membuka lebar dan melihat ke ibunya, masa ini merupakan

penyesuaian peralihan dari keadaan dalam kandungan keluar kandungan dan

merupakan dasar pertumbuhan rasa aman bayi terhadap lingkungannya. Hal

ini juga akan meningkatkan rasa percaya diri ibu akan kemampuannya

menyusui dan mendidik anaknya, demikian pula halnya dengan ayah,

dengan melihat bayi dan istrinya dalam suasana menyenangkan ini, akan

tertanam rasa percaya diri ayah untuk ikut membantu keberhasilan ibu

menyusui dan mendidik anaknya.

b. Antara 45-60 menit pertama bayi akan menggerakkan mulutnya seperti mau

minum, mencium, kadang mengeluarkan suara, dan menjilat tangannya.

Bayi akan mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada ditangannya.

Bau ini sama dengan bau cairan yang dikeluarkan payudara ibu dan bau serta

rasa ini yang akan membimbing bayi untuk menemukan payudara dan

putting susu ibu, itulah sebabnya tidak dianjurkan mengeringkan ke-2 tangan

bayi pada saat bayi baru lahir.


42

c. Mengeluarkan liur, saat bayi siap dan menyadari ada makanan disekitarnya,

bayi mulai mengeluarkan liur

d. Bayi mulai bergerak kearah payudara, maka areola payudara akan menjadi

sasarannya dengan kaki bergerak menekan perut ibu, bayi akan menjilat kulit

ibu, menghentakkan kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan dan ke kiri, serta

menyentuh dan meremas daerah putting susu dan sekitarnya dengan

tangannya.

e. Menyusu, akhirnya bayi menemukan, menjilat, mengulum putting, membuka

mulut lebar-lebar, dan melekat dengan baik serta mulai menyusu

(Maryunani, 2015: 75-76).

C. Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Peningkatan Suhu pada Bayi

Baru Lahir

Inisiasi menyusu dini merupakan proses bayi menyusu segera setelah

dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari putting susu ibunya sendiri (tidak

disodorkan ke putting susu). Inisiasi menyusu dini sangat membantu dalam

pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui.

Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang

merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan

kehidupan karena inisiasi menyusu dini dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang

meninggal sebelum usia satu bulan.


43

Inisiasi menyusu dini bermanfaat secara umum dapat mencegah terjadinya

hipotermia karena dada ibu meghangatkan bayi dengan tepat selama bayi

merangkak mencari payudara ibu. Bayi dan ibu akan menjadi lebih tenang, tidak

stress, pernapasan dan detak jantung bayi akan lebih stabil karena adanya kontak

kulit antara ibu dan bayi (Maryunani, 2015: 61).

Berdasarkan hasil penelitian Wildan, H.D., dan Febriana, P (2015) tentang

Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Kejadian Hipotermia Pada Bayi Baru

Lahir terdapat kesimpulan ada pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap kejadian

hipotermia pada bayi baru lahir dengan rata-rata suhu sebelum IMD 36,53oC dan

sesudah IMD 37,25oC dengan hasil yang signifikan (sig, 0,000). Penelitian ini

sejalan dengan hasil penelitian Chaidir, R. (2016) tentang Pengaruh Inisiasi

Mnyusu Dini Terhadap Suhu Tubuh Bayi Baru Lahir terdapat kesimpulan ada

perbedaan yang bermakna rata-rata suhu bayi baru lahir sebelum dan sesudah

dilakukan IMD dengan nilai p-value = 0,0001 sehingga p-value<α (0,05).

Bayi baru lahir yang dilakukan inisiasi menyusu dini akan mendapatkan

kolostrum, cairan yang pertama kali kuluar dari payudara ibu ini juga dinamakan

the gift of life. Kolostrum ASI sangat bermanfaat untuk daya tahan tubuh bayi,

tahan terhadap infeksi, penting untuk pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan

hidup bayi (Maryunani, 2015: 73).


44

D. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan

proporsi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui

spesifik hubungan antar variabel, sehinga dapat berguna untuk menjelaskan dan

meramalkan fenomena (Sugiyono, 2017: 52). Kerangka teori penelitian ini adalah

sebagai berikut:

Prinsip mempertahankan
suhu pada bayi baru lahir
1. Mengeringkan tubuh bayi
segera setelah lahir
2. Menyelimuti dan
Suhu Pada Bayi Baru
memakaikan topi bayi
Lahir
3. Inisiasi Menyusu Dini
4. Menunda memandikan
bayi
5. Kangaroo Mother Care

Gambar 1. Kerangka Teori


Sumber: Runjati (2017: 390), Walyani (2015:163),

E. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan

antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau variable yang satu dengan

variable yang lain dari masalah yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2014: 83).

Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


45

Gambar 2. Bagan Kerangka Konsep Penelitian

Inisiasi Menyusu Dini Suhu Pada Bayi Baru


(IMD) Lahir

F. Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran

yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang sesuatu konsep

pengertian tertentu, misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,

pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya (Notoatmodjo,

2014: 103). Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu :

1. Variabel Independent (Variabel Bebas)

Variabel Independent (Variabel Bebas) yaitu variabel yang mempengaruhi

variabel dependent (Notoatmodjo, 2014:104).Variabel independent dari

penelitian ini adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

2. Variabel Dependent (Variabel Tergantung)

Variabel Dependent (Variabel Tergantung) adalah variabel yang dipengaruhi

atau sebagai akibat dilakukannya variabel bebas (Notoatmodjo, 2014: 104).

Pada penelitian ini yang menjadi variabel tergantung adalah suhu pada bayi

baru lahir.
46

[Link]

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pernyataan

[Link] dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variable,

variable bebas dan variable tergantung (Notoatmodjo, 2014: 84). Hipotesis dalam

penelitian ini yaitu “Ada pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap suhu pada bayi

baru lahir”.

H. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah batasan ruang lingkup atau pengertian variabel-

variabel yang diamati atau diteliti untuk mengarahkan kepada pengukuran atau

pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan

instrumen atau alat ukur (Notoatmodjo, 2014: 85). Adapun definisi operasional

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 1
Definisi Operasinal

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Suhu pada Jumlah panas yang Observasi Termometer Suhu Rasio
bayi baru dihasilkan dengan air raksa dinyatakan
lahir yang hilang ke dalam oC
lingkungan luar pada
bayi baru lahir
sampai usia 1 jam

Inisiasi Meletakkan bayi Observasi Checklist Dilakukan Nominal


Menyusu didada ibu kontak Inisiasi
Dini kulit ke kulit pada Menyusu
(IMD) bayi usia 5 menit Dini
selama 1 jam

Anda mungkin juga menyukai