0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan14 halaman

RDS pada Bayi Prematur di Perinatologi

Laporan ini membahas tentang Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi di ruang perinatologi rumah sakit. RDS adalah gangguan pernapasan yang umum terjadi pada bayi prematur karena paru-paru yang belum matang. Laporan ini menjelaskan konsep, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, klasifikasi, diagnosa, dan penatalaksanaan RDS serta konsep asuhan keperawatan untuk bayi dengan gangguan ini.

Diunggah oleh

Aris Munandar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan14 halaman

RDS pada Bayi Prematur di Perinatologi

Laporan ini membahas tentang Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi di ruang perinatologi rumah sakit. RDS adalah gangguan pernapasan yang umum terjadi pada bayi prematur karena paru-paru yang belum matang. Laporan ini menjelaskan konsep, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, klasifikasi, diagnosa, dan penatalaksanaan RDS serta konsep asuhan keperawatan untuk bayi dengan gangguan ini.

Diunggah oleh

Aris Munandar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME DI RUANGAN

PERINATOLOGI, RSUD MAJALAYA

(Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas PKK Anak)

Oleh :

Aris Munandar

211FK01010

PROGRAM STUDI DIPLOMA KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA

2023
A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi

RDS (Respiratori Distress Syndrom) adalah gangguan Hernafasan yang sering terjadi pada
bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara
kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang
spesifik. Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada
tidaknya shunting darah melalui PDA.

Sindrom distres pernafasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane
Disesae (Suryadi dan Yuliani, 2016).

2. Etiologi

Menurut (Suriadi et al., 2014) dalam bukunya menyebutkan penyebab RDS


sebagai berikut :
a. Usia kehamilan
b. Berat badan bayi lahir < 2500 gram
c. Bayi dengan Berat badan < 1000 gram
d. 20% berkembang dengan Bronchopolmunary Dysplasia (BPD)

Penyebab RDS dalam (Atika, 2019) yatu sebagai berikut :

1. Ketidakmampuan paru – paru untuk mengembang dan alveoli terbuka


2. Alveoli masih kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan pengembangan juga
kurang sempurna
3. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram
4. Adanya kelainan di dalam dan di luar paru
5. Kelainan dalam paru yang menunjukkan sindrom adalah pneumothoraks /
pneumomediastinum dan PMH
6. Bayi premature
3. Manifestasi Klinis

Gejala klinikal yang timbul yaitu : Adanya sesak nafas pada bayi yang ditandai dengan
takipnea > 60x/menit, pernapasan cuping hidung, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala
menetap dalam 48 – 96 jam pertama setelah lahir (Marni & Rahardjo, 2014).

Menurut (Suriadi et al., 2014) manifestasi klinis dari RDS adalah sebagai berikut :

a. Cepat
b. Pernapasan terlihat parodakas
c. Cuping hidung
d. Apnea
e. Murmur
f. Sianosis pucat

4. Patofisiologi

Menurut (Suriadi et al., 2014) dalam bukunya dijelaskan patofisiologi RDS sebagai berikut :

a. Pada bayi dengan RDS, dimana terjadi ketidakmampuan paru untuk mengembang dan alveoli
terbuka. RDS pada bayi yang belum matur dapat menjadi penyebab gagal napas karena
imaturnya dinding dada, parenchyma paru dan imaturnya endotelium kapiler yang
menyebabkan kolaps paru pada akhir ekspirasi
b. Pada bayi dengan RDS disebabkan oleh menurunnya jumlah surfaktan atau perubahan
kualitatif surfaktan, dengan demikian menimbulkan ketidakmampuan alveoli untuk ekspansi.
c. Secara alamiah perbaikan mulai setelah 24-48 jam sel yang rusak akan diganti. Membran
hyaline berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam proteinaceous filtrate
serum (saringan serum protein) di fagosit oleh makrofag. Sel cuboidal menempatkan pada
alveolar yang rusak dan epitelium jalan napas, kemudian terjadi perkembangan sel kapiler
baru pada alveoli. Sintesis surfaktan memulai lagi clan kemudian membantu perbaikan
alveoli untuk pengebangan.
5. Klasifikasi

Pada foto thorak menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS, yaitu :

1) Stadium 1
Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara
2) Stadium 2
Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran air broncogram
udar terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer menutupi bayangan jantung dengan
penurunan aerasi paru.
3) Stadium 3
Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat apaque
(White lung) dan bayangan jantung hampir tidak berlihat, bronchogram udara lebih luas.
4) Stadium 4
Seluruh thorak sangat opaque (White lung) sehingga jantung tidak dapat terlihat. (Warman,
Waskito, & Romadhon, 2013).

6. Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosa RDN dapat ditegakkan melalui pemeriksaan foto thoraks, AGD, hitung darah
lengkap, perubahan elektrolit dan biopsy paru (Atika, 2019).

1. Foto Thoraks
a. Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada, setelah
12-24 jam akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas diseluruh paru
b. Pola retikulogranular difus bersama bronkhogram udara yang saling tumpah tindih
c. Tanda paru sentral, batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk
d. Kemungkinan terdapat kardoimegali bila system lain juga terkena
e. (bayi dari ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung terkena (bayi dari ibu diabetes,
hipoksia, gagal jantung kongestif)
f. ayangan timus yang besar
g. Bergranul merata pada bronkhogram udara, yang menandakan penyakit berat jika
terdapat pada beberapa jam pertama
1. AGD menunjukkan asidosis respiratory dan metabolic yaitu adanya penurunn
pH, penurunan PCo2, punurunan HCO3
2. Hitung darah lengkap
3. Perubahan elektrolit, cenderung terjadi penurunan secara abnormal dalam
parekim paru

Menurut (Suriadi et al., 2014) pemeriksaan diagnostic atau penunjang pada RDS
meliputi :

1. Fotor rontgen
2. AGD
3. Imatur leeithin/sphingomyoli

2. Penatalaksanaan
a. Tujuan Terapi Oksigen
Untuk menyediakan oksigen yang memadai bagi jaringan, mencegah akumulasi asam
laktat yang dihasilkan oleh hipoksiaserta pada waktu yang sama menghindari efek
negatif yang potensial dari hiperoksia dan radikal bebas.
b. Terapi Pengganti Surfaktan
Surfaktan dapat diberikan sebagai tambahan untuk terapi oksigen dan ventilasi. Pada
umumnya, bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu belum mempunyai
surfaktan paru yang cukup adekuat untuk kelangsungan hidup di luar Rahim.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


a) Pengkajian
1. Data Demograf
Berisi identitas bayi, usia, jenis kelamin, agama, identitas orangtua, suku, alamat,
pekerjaan.
2. Keluhan Utama
Bayi dengan RDN sering ditemui keluhan seperti sesak, ada pernapasan cuping
hidung, kondisi umum lemah, lesu, apneu, tidak responsif, penurunan bunyi napas.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada bayi yang mengalami RDN, biasanya akan diawali dengan tanda dan gejala
seperti mudah letih, dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus otot
menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/
epigastrik/ intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan
keluhan keluhan tersebut.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan paru-paru yang
imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfaktan, lahir prematur dengan operasi
caesar serta penurunan suplai oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi matur atau
prematur, atelektasis, DM, hipoksia, asidosis.
b) Pengkajian Fisik
1) Eksternal
Perhatikan warna, bercak warna, kuku, lipatan pada telapak kaki, periksa potensi hdung
dengan menutup sebelah lubang hidung sambil mengobservasi pernafasan dan perubahan
kulit.
2) Dada
Palpasi untuk mencari detak jantung yang terkencang, auskultrasi untuk menghitung
denyut jantung, perhatikan bunyi nafas pada setiap dada.
a) Abdomen
Verifikasi adanya abdomen yang berbentuk seperti kubam atau tidak ada anomaly,
perhatikan jumlah pembuluh darah pada tali pusat.
b) Neurologis
Periksa tonus otot dan reaksi reflex
3) Pernapasan dan Peredaran Darah

Bayi normal mulai bernapas 30 detik sesudah lahir, untuk menilai status kesehatan bayi
dalam kaitannya dnegan pernapasan dan peredaran darah dapat digunakan metode APGAR
SCORE. Frekuensi denyut jantung bayi normal berkisar antara 120 – 140 x/menit (12 jam
pertama setelah kelahiran), berfluktuasi dari 70 – 100 x/menit (Tidur) sampai 180 x/menit
(Menangis). Pernapasan bayi normal berkisar antara 30 – 60 x/menit, Tekanan darah sistolik
bayi baru lahir 78 dan tekanan diastolic rata – rata 42.

4) Suhu tubuh
Suhu tubuh biasanya berkisar antara 36,5 0C – 370C
5) Kulit
Kulit neonatus yang cukup bulan biasanya halus, lembut dan padat dengan sedikit
pengelupasan, terutama pada telapak tangan, kaki dan selangkangan.
6) Keadaan dan Kelengkapan Ekstermitas
Dilihat apakah ada cacat bawaan berupa kelainan bentuk, kelainan jumlah atau tidak sama
sekali pada semua anggota tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki juga lubang anus
(Rektal) dan jenis kelamin.
7) Tali pusat
Pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena umbilikalis. Keadaan tali pusat harus
kering, tidak ada perdarahan, tidak ada kemerahan di sekitarnya.

8) Refleks
Beberapa refleks yang terdapat pada bayi :
a. Refleks moro (Refleks teerkejut)
b. Refleks palmergraps (Refleks menggenggam)
c. Reflek stepping (Berjalan)
d. Refleks rooting (Mencari)
e. Refleks sucking (Mengisap)
9) Berat badan
Berat badan lahir normal adalah 2500 sampai 4000 gram.
10) Mekonium
Feses bayi yang berupa pasta kental berwarna gelap hitam kehijauan dan lengket.
Mekonium akan mulai keluar dalam 24 jam pertama.
11) Antropometri
Lingkar kepala normal : 34 cm, lingkar dada normal : 32 – 34 cm, Lingkar lemgan atas
normal : 10 – 11 cm, Panjang badan normal : 48 – 50 cm.
12) Seksualitas
Genetalia Wanita : Labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda vagina/himen dapat
terlihat, rabas mukosa putih (Smegma) atau rabas berdarah sedikit.
Genetalia pria : Testis turun, skrotum tertutup dengan rugae, fimosisi biasa terjadi.
c) Diagnosa Keperawatan
1. Pola napas tidakefektif
2. Defisit nutrisi
3. Risiko perfusi perifer tidakefektif
d) Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil
1 Pola napas tidakefektif Pertukaran Gas Pemantauan
Mneingkat (L.01003) Respirasi
Tujuan dan kriteria (I.01014)
hasil : Observasi
Sesak yang diraskan a. Monitor
klien menurun dengan frekuensi, irama,
kriteria hasl : kedalaman dan
1) Dispnea menurun upaya napas
2) Frekuensi napas b. Monitor pola
membaik napas
3) Tidak ada c. Monitor
penggunaan otot kemampuan
bantu napas batuk efektif
4) Tidak ada d. Monitor adanya
pernapasan cuping produksi sputum
hidung e. Monitor adanya
sumbatan jalan
napas
f. Palpasi
kesimetrisan
ekspansi paru
g. Auskultasi bunyi
napasMonitor
saturasi oksigen
h. Monitor hasil x-
ray thorax
Terapeutik
a. Atur interval
pemantauan
respirasi sesuai
kondisi pasen
b. Dokumentasikan
hasil pemantauan
Edukasi
a. Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan
b. Informasikan
hasil
pemantauan, jika
perlu

2 Defisit Nutrisi Status Nutrisi Manajemen Nutrisi


Membaik (I. 03119)
(L.03030) Observasi
Tujuan dan kriteria a. Identifikasi status
hasil : nutrisi
1) Berat badan dalam b. Identifikasi alergi
batas normal dan intoleran
Indeks Masa Tubuh makanan
(IMT) dalam batas c. Identifikasi
normal makanan yang
2) Membran mukosa disukai
membaik d. Identifikasi
3) Nafsu makan kebutuhan kalori
membaik dan jenis nutrien
4) Nafsu makan e. Identifikasi
membaik perlunya
penggunaan
selang nasogastrik
f. Monitor asupan
makanan
g. Monitor BB
h. Monitor hasil
pemeriksaan
laboratorium

Terapeutik
a. Lakukan oral
hygiene sebelum
makan, jika perlu
b. Fasilitasi
menentukan
program
diet
c. Sajikan makanan
secara menarik
dan suhu yang
sesuai
d. Berikan makanan
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
e. Berikan makanan
tinggi kalori dan
tinggi protein
f. Berikan suplemen
makanan
g. Hentikan
pemberian makan
melalui selang
nasogastric jika
asupan oral dapat
ditoleransi
Edukasi
a. Anjurkan
posisi susuk,
jika mampu
b. Ajarkan diet
yang
diprogramkan
Kolaborasi
a. Pemberian
medikaso
sebelum
makan
b. Kolaborasi
dengan ahli
gizi untuk
menentukan
jumlah kalori
dan jenis
nutrient yang
dibutuhkan,
jika perlu
3 Risiko Perfusi Perifer Perfusi Perifer Perawatan Sirkulasi
Tidakafektif Meningkat (I.02079)
(L.02011) Observasi
Tujuan dan kriteris a. Periksa
hasil sirkulasi
1) Warn kulit perifer
pucat menurun b. Identifikasi
2) Pengisian factor risiko
kapuler gangguan
membaik sirkulasi
c. Monitor panas,
kemerahan,
nyeri atau
bengkak pada
ekstermitas
Terapeutik
a. Hindari
pemasangan
infus dan
pengambilan
darah di area
keterbatasan
perifer
b. Hindari
pengukuran
tekanan darah
pada
ekstermitas
dengan
keterbatasan
perfusi
c. Lakukan
pencegahan
infeksi
Edukasi
a. Anjurkan
berhenti
merokok
b. Anjurkan
berolahraga
dengan rutin
c. Anjurkan
menggunakan
obat penurun
tekanan darah,
antikoagulan
dan penurun
kolesterol, jika
pelru
d. Anjurkan
melakukan
perawatan
kulit
e. Anjurkan
program
rehabilitasi
vaskuler

Daftar Pustaka

Atika, A. (2019). Faktor Risiko Kejadian Respiratory Distress Newborn Di Neonatal Intensive Care
Unit RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo. Universitas Hasanuddin Makassar.

Efendi, D., Sari, D., Riyantini, Y., Anggur, D., & Lestari, P. (2019). Pemberian Posis

( Posiotoning ) Dan Nesting Pada Bayi Prematur : Evaluasi Implementasi Perawatan Di Neonatal
Iintensive Care Unit ( NICU ). 22(July), 169–181. [Link]

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi I). PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi I). PPNI.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2019). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (Edisi I). PPNI.

Anda mungkin juga menyukai