0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Pengaruh Discovery Learning pada Siswa

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang. 2. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa meningkat setelah menggunakan model Discovery Learning dibandingkan model pembelajaran langsung. 3. Dapat dis

Diunggah oleh

ferawati.unh123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Pengaruh Discovery Learning pada Siswa

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang. 2. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa meningkat setelah menggunakan model Discovery Learning dibandingkan model pembelajaran langsung. 3. Dapat dis

Diunggah oleh

ferawati.unh123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Vol. 8 No.

3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN


PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS X IPA SMA NEGERI 8
PADANG TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Sherin Khairunnisa1, Armiati2

Mathematics Department, Padang State University


Jl. Prof. Dr. Hamka, Padang, Indonesia
1
Mahasiswa Program studi Pendidikan Matematika FMIPA UNP
2
Dosen Jurusan Matematika FMIPA UNP
Email sherinkhairunnisa@[Link]

Abstract – Problemmsolving of mathematical ability is oneoof learningoobjectoof mathematics


thatmshould be achieved byystudents. But in fact mathematical problem solvinggabilities are still not
optimal. OneOof the factors that make it happen isslearning that has not been able to facilitate students
to developpmathematical problem solvinggability properly. The effortssthatccan be doneone of that is by
implementinggthe DiscoverylLearning model. The purposeoof this study is to describewwheterrthe
mathematicalpproblem solvinggabilities of students who’s learning usinggthe Discovery Learning model
are betterrthan the students abilitiesswho’s using directllearning models and describe students’
mathematicalpproblem solving abilitiessduring the Discovery Learning modellimplementation. This
research isccombinationoof quasy experiment andddescriptiveeresearch which design issRandomized
Control-GrouppOnly Design. Based onntherresult of dataaanalysis, theemathematical problemmsolving
abilitiesoof students whileeusinggthe dDiscovery Learninggmodellhave increased. It can beeconcluded
that mathematicallproblemm solving abilities of student’sswho’s learning with theeDiscovery Learning
modelaare betterrthan theaabilities of students who’s learninggwithddirect learning modelssin class X
IPA SMA Negeri 8 Padang.

Keywords – MathematicalpProblem Solving, Discovery Learning Model, Direct Learning

PENDAHULUAN strategi yang digunakan untuk mengembangkan dan


menyelesaikan masalah lain[1].
Pengetahuan serta wawasan merupakan hal utama Kemampuan pemecahan masalah berperan penting
dalam mencapai kualitas hidup pada zaman sekarang. dalam pemebelajaran matematika, karena salah satu
Sehingga peningkatan mutu pendidikan dapat menjadi indikator dalam tujuan pembelajaranmmatematika yang
tolak ukur majuuatau tidaknya sebuah negara. Sumber lebih mengutamakannketerampilan, proses dan strategi
daya yang dituntut adalah yang memliki kemampuan dan yang dilakukan siswa dalam memecahkan persoalan
keterampilannyang tinggi yagn melibatkan pemikiran bukan hasil, sehingga pemecahan masalah menjadii dasar
kritis, kreatif, sistematis, logis, dan kemampuan dalam pembelajaran matematika.
bekerjasama yang efektif. Siswa dikatakan sudah memiliki kemampuan
Melalui pembelajaran matematika pengetahuan pemecahan masalah matematis apabila indikator dari
dapat dikembangkan karena matematikaomemiliki kaitan pemecahan masalah matematis sudah tercapai. Indikator
yang kuat dan jelas pada setiap konsepnya. Matematika dari pemecahanmmasalah matematis yaitu, (1)
merupakan landasannpenting dalam peningkatan mutu Mengorganisasiddata dan memilih informasi yangrrelevan
penddikan karena dengan belajaromatematika dapat dalammmengidentifikasimmasalah, (2) Menyajikan suatu
melatih kemampuan berpikir kritis, bernlar, dan rumusanmmasalah secara matematissdalam berbagai
menghadapi serta menyelsaikan masalah. bentuk, (3) Memilih dan Mneggunakan pendekatanndan
Untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah, strategi yang tepat untukmmemecahkan masalah, (4)
siswa dituntut untukosering melakukan pemecahan Menyelesaikanmmasalah, dan yang terakhir (5)
masalah, mulai dari masalah sederhana hingga masalah Menafsirkannhasil jawaban yangddiperoleh[2].
kompleks dengan melibatkan usaha yang lebih untuk Namun kenyataan menunjukkan bahwa
menyelesaikannya. Siswa didorong untuk merefleksikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih
pemikiran merekaaselama proses pemecahan masalah rendah. Hal ini terlihat dari hasil ulangan harian
sehingga siswa dapat menemukan dan menerapkan matematika siswa tentang fungsi komposisi kelas X IPA

115
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

SMA Negeri 8 Padang pada 14 Februari 2019. Pada salah pembelajaran. Siswa dapat mengembangkann, melakukan
satu soal pemecahan masalah yang diberikan, dari 171 pemeriksaan,tebakanndan mencoba-coba(trialaand error)
siswa yang mengikuti ulangan, hanya 28 siswa yang sesuai dengan pengetahuannya sehingga siswaadapat ikut
mampu dengan benar menjawab. Berdasarkan hasil berperan aktiffdalam kegiatanppembelajaran[4].
wawancara dengan beberapa siswa pada tanggal 23 Model Discovery Learning dirancang untuk
Februari 2019 diketahui bahwa penyebabnya karena siswa menemukannsendiri informasi dan menemukan konsep
sering diberikan soalrrutin saja sehingga ketika diberikan dengan mandiri melalui bimbingan guru dalam bentuk
soal yang lebih menantang, siswa belum bisa pertanyaan-pertanyaan untuk membangktkan rasa ingin
menyelesaikan soal tersebut dengan tepat dan benar. tahu siswa, serta keaktifan siswa dalam proses
Contoh soal yang diberikan jarang sekali berupa soal pembelajaran, dimana guru hanya berperannsebagai
cerita atau soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan fasilitator untuk mengatur jalannya proses pembelajaran.
nyata siswa. Sehingga mereka tidak termotivasi untuk Diharapkan, apabila siswaaterlibat aktiffdi dalam
belajar lebih gian dan memahami manfaat matematika, menemukannsuatu konsep dasarssendiri, Ia akan mengerti
Berdasarkan beberapa kendala yang terjadi dapat lebih baik, mengingatlebih lama dan akan
diketahuii bahwa kemampuan pemecahannmasalah mampummenggunakannya kedalam perihal yang lain
matematis merupakan kemampuan yang belum dikuasai yang berkaitan dengan pembelajaran[5].
oleh siswa. Hal ini bertentangan denganntujuan dan Langkah-langkah dalam penggunaan model
harapan pemerintah dalam pembelajaran matematika. Bila Discovery Learning yang pertamaadalah Stimulation
kemampuan pemecahan masalah matematis tidak (stimulasi/pemberian rangsangan). Pada tahap ini siswa
dikembangkan dan0ditingkatkan, maka bagi siswa diberikan sesuatu yangmmenimbulkan keingintahuannya.
pembelajarannmatematika hanya akan menjadi materi Hal ini bisa diawal dengan guru mengajukan pertanyaan,
yang mengkuti seramgkaianoprosedur dan meniru contoh menyarankannmembaca buku, dan aktifitass belajar
tanpa mengetahuii makanya. lainnyaayang menuntun pada persiapannpemecahan
Berdasarkan beberapa penyebab rendahnya masalah. Stimulsi ini bergunaauntukmmenyiapkan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, kondisi belajar yanggdapat meningkatkann dan membantu
dimana salah satu penyebabnyaaadalah kurang efektifnya siswa dalammmendalami pemahamani bahan yang
cara dan proses pembelajaran yang digunakan oleh guru. diperolehnya[6].
Hal ini dikarenakan pada proses pembelajaran, guru Langkah kedua adalah Problem Statement
memberikan langsung materi pada siswa tanpa (pernyataan/identifikasimasalah). Langkah ini menuntut
memberikan kesempatan untuk siswa aktf. Dengan kata guru untuk memberikan peluang kepada siswa agar
lain, model pembelajarannyang digunakan di dalam kelas mereka dapat mengenalis dan menggaalisebanyak
kurang mampu mebimbng siswa untuk mengkonstruksi mungkinninformasi yang berhubungan dengan materi
pemahamannyaadan belum mampu mengembangkan pembelajran berdasarkan hasilddari lamgkah awal,
kemampuan pemecahan masalah matematis. selanjutnya salahssatu dari informasi tersebut dipilihddan
Salah satu cara untuk menghadapi permasalahan dirumuskanndalambbentuk hipotesis(jawaban sementara
terhadap rendahnya kemampuanppemecahan masalah atas pertanyaan masalah).
matematissadalah dengan memeberikan pembelajaran Langkah ketiga adalah Data Collection
yang lebih mengaktifkan siswa. Sehingga proses (pengumpulanndata). Langkah ini adalah untuk
penyerapannpengetahuanodapat bermakna dan tinggal membantu menjawabbdan menunjukkan benaraatau
lebih lama dalam ingatan siswa. tidaknyaajawban sementara, dengan mengumpulkan
Ada beberapa model pembelajaran yang dapat berbagaininformasi yang berkaitan, membacaliteratur,
digunakan sebagaiaalternatif tindakan untuk mengamati, wawancaraadengan narasumber, melakukan
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah percobaan sendiri dan lainnya..
matematis siswa, salah satunya yaitu dengan Langkah keempat adalah Data Processing
menggunakan model Discovery Learning. Discovery (pengolahanndata). Langkah ini adalahbberupa
Learning merupakan model pembelajaran yang lebih pengerjaan dan pemrosesanhdataadanninformasi yang
menekankan pada pemecahan masalah yang diberikan telah diperolehssiswa kemudian dianalisis. Lalu pemilihan
oleh guru. Dengan Discovery Learnig siswa diajak untuk dan penggunaan langkah yang tepat untukkmendapatkan
aktif dalam belajar melalui keikut sertaan mereka sendiri penyelesaianndari sebuah masalah mengharuskan siswa
terhadapkkonsep-konsep, prinsip-prinsip, dan guru untuk cermat dalammmemilih sumber yang tepat.
menstimulasi siswaauntuk memiliki pengalaman dan Langkah kelima adalah Verivication(pembuktian).
mereka melakukan ppengecekan yangmmemungkinkan Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan melaksanakan
merekan mendapatkan prinsip-prinsippuntuk diri mereka penyelidikanndalam membuktikanbenar atauutidaknya
sendiri[3]. jawabanssementara yang ditetapkanndengan temuan
Model Discovery Learning menekankan pada lainnya, kemudianndikaitkanddengan hasil pengolahan
proses belajar yang meminta keaktfan dan kekreatifan datappada langkah sebelumnya.
siswa. Dengan model ini, guru hanya bertindakssebagai Langkah terkahir adalah Generalitation(menarik
fasiltator sedangkannsiswa sebagai pokok dari proses kesimpulan/generalisasi). Pada tahap ini siswa diminta

116
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

untuk memberikan sebuah kesimpulan akhir dari seluruh kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang tahun pelajaran
proses yang dilakukan untuk dapat dijadikan patoka atau 2018/2019. Prosedur dalam penelitian ini meliputi tahap
pedomannumum yang dapat berlakuuuntuk semua persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian.
kejadiannataummasalah yang sama, dengan Instrumen yang dipakai dalam penelitisn ini adalah
mempertimbanghkannhasilldari pembuktiannsebelumnya. kuis danntes akhir kemampuan pemecahan masalah
Dari hasilppembuktian makadirumuskan dasar-dasar matematis yang disusun berdasarkan indikator
untuk mengambilssebuah kesimpulah akhir dariiproses kemampuan pemecahan masalah matematis. Kuis berupa
penemuan[6]. soal essay yang diberikan pada akhir pembelajaran. Tes
Pembelajaran menggunakan model Discovery akhir berupa soal essay yang yang diberikan di akhir
Learning ini dalam pelaksanaannya menggunakan penelitian dan dinilai sesuai dengan rubrik penilaian
bantuan LKPD yang mana dirancanggsesuai dengan pemecahan masalah matematis dengan menggunakan skor
langkah-langkah pada model Discovery Learning. 0 sampai 4. Materi tes yang diberikan berupa materi
Dimana dapat membimbing dan mengarahkan siswa selama penelitiannberlangsung, yaitu trigonometri. Hasil
untuk dapat memahami dannmenyelesaikan masalah yang yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan
diberikan secara mandiri. Siswa juga dituntut bukan statistik uji-t dengan bantuan software Minitab.
hanya memahami konsep namum juga dilatih untuk
terbiasa memecahkannmasalah baik yang mudah maupun
yang menantang. Diharapkan dengan tuntutang tersebut HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
siswa dapatmmeningkatkan kemampuan pemecahan
masalahmmatematisnya. Perkembangan kemampuan pemecahan masalah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk matematis siswa dengan diterapkan model Discovery
mendeskripsikan kemampuan pemecahanmmasalah Learning mengalami peningkatan. Hal ini dilihat dari
matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan hasil setiap kuis yang diujikan sebanyak tiga kali.
model Discovery Learning lebihbbaik dari pada Perkembangan kemampuannpemecahan masalah
kemampuan pemecahannmasalah matematis siswa yang matematis siswa apabila dilihat dari persentase jumlah
pembelajarannyaamenggunakan pembelajan langsung siswa yang tuntas dan tidak danarata-rata nilai pada
pada siswa kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang. Serta setiappkuis dapat dilihat pada Tabel 1.
mendeskripsikan perkembangan kemampuanpemecahan
masalah matematis siswa selamaamenggunakan model Tabel 1. Persentase Jumlah Siswa yang Tuntas dan
Discovery Learning. Tidak Tuntas dan Rata-Rata Nilai Kuis
Kuis Tidak Rata- Kategori
Tuntas
METODE PENELITIAN Ke- Tuntas Rata Rata-Rata
I 6% 94 % 47,71 Kurang Baik
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuasi
eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah II 65 % 35 % 72,47 Sangat Baik
Randomized Control-GroupoOnly Design[7]. Dalam III 94 % 6% 84,76 Sangat Baik
rancangan ini, digunakan pembelajaranddengan model
Discovery Learninggpada kelas kesperimen, sedangkan Berdasarkan Tabel 1 dan KKM yang ditetapkan
pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran dengan sekolah yaitu 79 diketahui bahwaapersentase ketuntasan
pembelajaran langsung. nilaikkuis dan rata-rataanilai kuis siswa dalam tiga kali
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kuismmengalami peningkatan. Jika dibandingkan
kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang tahun pelajaran berdasarkan persentase siswa yang tuntasppada kuis
2018/2019. Setelah dilakukan beberapa prosedur pertama dengannterakhir, dapat disimpulkan terjadinya
penarikan sampel berupa uji kesamaan rata-rata terhadap peningkatan persentase siswaayang tuntas. Berdasarkan
nilai ulangan matematika, pemilihan sampeldilakukan tabel kategori rata-rata nilai kuis siswa adalah kurang baik
secara acak(random sampling). Kelas yang terpilih dan sangat baik maka dapat dikatakan kemampuan
sebagai kelasssampel yaitu kelas X IPA 1 sebagai kelas pemecahan masalah matematis siswa mengalami
eksperimen dan kelas X IPA 2 sebagaiikelas kontrol. perkembangan.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran Peningkatan rata-rata nilai kuis dan persentase
matematika dengan model Discovery Learning pada kelas ketuntasan nilai kuis siswa ini disebabkan penerapan
eksperimen dannpembelajaran langsung pada kelas model Discovery Learning dalam proses pembelajaran.
kontrol. Variabel terikattdalam penelitian ini adalah Pada model Discovery Learning siswa dituntut untuk
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. berpatisipasi aktif dan berpikir kritis. Siswa juga terlibat
Data primer dalam penelitian ini adalah nilai tes dalam menyelesaikannmasalah melalui tahap-tahap
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada tertentu. Yang berakibatkan siswa dapat memperoleh
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sedangkan data pengetahuan yang berkaitanndengan masalahhtersebut
sekunder dalam penelitian ini adalah jumlah siswa yang dan sekaligus memiliki kemampuannuntuk menyelesaikan
menjadi populasi dan nilai ulangan matematika siswa

117
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

masalah[8]. Sehingga diharapkan siswa dapat yang relevan


mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dalam
matematisnya. mengidentifik
Perbandingan kemampuan pemecahan masalah asi masalah
matematis siswa yang belajar menggunakan model Menyajikan suatu
Discovery Learning (kelas eksperimen) dengan rumusan
kemampuan pemecahannmasalah matematis siswa yang masalah secara
belajar menggunakan model pembelajaran langsung 2 3,22 3,05
matematis
(kelas kontrol) dilihat dari hasil tes kemampuan dalam berbagai
pemecahan masalahmatematis. Soal tes yang dipakai bentuk
untuk melihat kemampuannpemecahan masalah Memilih dan
matematis berbentuk essay sebanyak 6 butir soal, yang menggunakan
mana pada tiap-tiap soal memuat lima indikator pendekatann atau
kemampuan pemecahan masalah matematis. Tes 3 3,02 2,45
strategi yang tepat
dilaksanakan pada akhir penelitian yaitu pada tanggal 27 untukmemecahkan
April 2019 di kelas kontrol dan pada tanggal 30 April masalah
2019 di kelas eksperimen. Tes pada kelas eksperimen dan Menyelesaiakan
kelas kontrol diikuti oleh 34 orang siswa. Data hasil tes 4 2,54 1,82
masalah
dapat dilihat pada Tabel 2. Menafsirkan
Tabel [Link] TessKemampuan PemecahannMasalah hasil jawaban
Matematis KelasaSampel yang diperoleh
Nilai Nilai 5 1,55 1,09
Jumlah Rata- Simpang ≥KKM untk
Kelas Terti Teren memecahkan
Siswaa rata an Baku
nggi dah
masalah
Eksperimen 34 62,56 17,61 94 32 17,64%

Kontrol 34 50,82 16,53 86 26 8,82%


Pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa rata-rata
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata dari skor kemampuan pemecahan masalah siswa untuk
nilai tes kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kelima indikatorrpada kelas eksperimen yang
kontrol. Rata-ratannilai tes kelas eksperimen adalah 62,56 melaksanakan pembelajaran dengan model Discovery
sedangkan rata-rata nilai tes kelasskontrol adalah 50,82. Learning lebih tinggi daripada siswa pada kelas
Nilai tertinggi pada kelas eksperimen lebih tinggi kontrol yang menerapkannmodel pembelajaran
daripada kelas kontrol. Nilai tertinggi kelas eksperimen langsung. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan
adalah 94 dan nilaitertinggi kelas kontrol adalah 86. Nilai pemecahan masalahhmatematis siswa yang
terendah kelas eksperimen juga lebih tinggidaripada kelas melaksanakan kegiatan pembelajaran model Discovery
kontrol. Nilai terendah kelas eksperimen adalah 32 dan Learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan
nilai terendah kelas kontrol adalah 26. Simpangan baku masalah siswa yang belajar dengan model pembelajaran
kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. langsung.
Simpangan baku kelas eksperimen adalah 17,61 dan Berikut akan dijabarkan secara lengkap mengenai
simpangan baku kelas kontrol adalah 16,53. Hal ini kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dalam
menunjukkan bahwa kemampuannpemecahan masalah memenuhi setiap indikator pemecahan masalah
matematis siswa kelaseeksperimen lebih beragam matematis yang digunakan.
daripada kelas kontrol.
Hasil tes kemampuan pemecahan masalah a. Mengorganisasikan data dan memilih informasi
matematis siswa pada kelasssampel dapat dilihat melalui yang relevan dalam mengidentifikasi masalah
persentase rata-rata skor untuk masing-masing indikator.
Berikut ini merupakannpersentaseerata-rata skor Indikator ini mengharapkann siswa untuk dapat
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada mengenali masalah yang terdapat pada soal. Siswa
setiap indikator. dituntut untuk dapatmmemilih antara apa yang
Tabel 3. Perbandingan Rata-rata (Persentase) Nilai sudah, belum dan yang harus iatentukan dari
Tes Kemampuan Pemecahan Masalah permasalahann yang diberikan. Siswa diharapkan bisa
Matematis Siswa Kelas Sampel mengumpulkann data danninformasi yang berkaitan
No Indikator Eksperimen Kontrol dengan masalahpada soal dengan tapat dan lengkap.
Apabila langkah ini terpenuhi dengan baik maka
Mengorganisasi
siswaakan menyelesaikan masalah dengan baik ketika
1 data dan memilih 2,53 2,24
iamampu mengorganisasikan data dan memilih informasi
informasi

118
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

yang berkaitan, maka hasil belajar siswa akan dalammmenyajikan rumusan masalahhsecara matematis
berakibatkan. dalam berbagaibbentuk. Skor maksimalddiberikan jika
Pada model Discovery Learning terdapat langkah siswa mampu merumuskanmasalah secara matematis
problem statement dan data collection, langkah ini denganbbenar adalah 4. Berikut ini, disajikannmengenai
melatih kemampuannsiswa dalamm mengorganisasikan kemampuan siswa dalammmenyajikan rumusan masalah
data dann mengumpulkanI informasi yangg relevan. secaraamatematis dalam berbgai bentuk.
Kemampuan siswa pada indikator ini dapat dilihat
dari jawaban siswa dalam membuatddiketahui dan 60.0%
ditanya. Skormmaksimal yang diberikan jika siswa 50.0%
dapatumemilihhinformasi dan mengumpulkandata 40.0%
dengan benardan lengkapp adalah 4. Berikut ini akan 30.0%
disajikan secara lebih rinci kemampuan siswa pada kedua 20.0%
kelas sampel dalam menguasai indikator ini. 10.0%
0.0%
4 3 2 1 0
60.0%
Eksperimen 52.8% 19.4% 19.4% 8.3% 0.0%
50.0%
40.0% Kontrol 50.0% 11.8% 29.4% 5.9% 2.9%
30.0% Gambar 2. Persentase Setiap Skor Siswa untuk Indikator 2
20.0%
10.0% Pada Gambar 2 diperoleh informasi bahwa
0.0% persentase jumlah siswa yang mendapat skor 4 pada
4 3 2 1 0
Eksperimen 52.9% 32.3% 5.8% 8.8% 0.0% kelas eksperimen adalah 52,8% sedangkan pada kelas
kontrol persentase siswa yang mendapat skor 4 adalah
Kontrol 50.0% 38.2% 5.9% 2.9% 2.9%
50%. Hal ini memperlihatkan bahwa siswa pada kelas
Gambar 1. Persentase Setiap Skor Siswa pada Indikator 1 eksperimen lebihhbanyakkmenjawab dengan benardan
tepat pada indikator menyajikannsuatu rumusan masalah
secaraa matematis dibandingkan kelas kontrol.
PadaaGambar 1 diperoleh informasi bahwa Kemudian persentase siswa yang mendapatkan skor 0
persentase jumlah siswa yang mendapatkan skor 4 pada pada kelas eksperimenNlebih rendah dari pada kelas
kelas eksperimen adalah 52,9%, sedangkan pada kelas kontrol. Ini menunjukkan bahwa pembelajarannyang
kontrol persentase siswa yang mendapatkan skor4 menggunakan model Discovery Learning lebih baik
adalah 50%. Artinya, siswa pada kelas eksperimen dalammmenyajikan suatu rumusannmasalahhsecara
lebih banyak menjawab benar dan tepat sesuai indikator matematisdalam berbagaiibentuk.
mengorganisasikan data dan memilih informasi yang
relevan dalam mengidentifikasi masalah dibandingkan c. Memilih dan menggunakan pendekatan atau strategi
dengankkelas kontrol. Kemudian persentase siswa yang yang tepat untuk memecahkan masalah
mendapatkan skor 0 pada kelaseksperimen juga
lebihhtinggi dari pada kelas kontrol. Ini menunjukan Indikator ini merupakan kelanjutansetelah siswa
bahwa siswa yang belajar dengan mengumpulkan informasiiyang relevan dan
modelp pembelajarannDiscovery Learnig lebih baik merumuskanmmasalah secara matematis. Pada
dalam mengorganisasikanndata dan memilih indikator ini siswa diharapkan dapat
informasii yang relevan dalammengidentifikasi masalah. meningkatkannstrategi pemecahannmasalah yang sesuai
denganmasalah yang ada. Kemudian strategi tersebut
b. Menyajikan suatuUrumusan masalah secara diterapkannsesuai dengannprosedur.
matematissdalam berbagai bentuk Setelah terpenuhi indikator 1 dan 2, maka
selanjutnya kemampuannyang harus dimilikiaadalah
Pada indikator ini siswa diharapkan memilih dan menggunakan strategi atau
mampuumenyatakan permasalahan yanga akan mereka pendekatany yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
selesaikannsecara matematis. Pemenuhan indikator ini Kemampuan ini dapat ditingkatkan dengan baik sesuai
dilihat dari kemampuan siswaa dalammenggambarkan tahap pembelajaran pada model Discovery Learning
situasip padappermasalahan yang akanddiselesaikan yaitu data processing. Sehingga siswa mampu
maupun menrjemahkan permasalahann dalam bentuk memilih strategi yang tepat untuk menyelesaikan
rumus. masalah dan menggunakannserta mengembangkan
Discovery Learning memiliki tahap data collection strategi tersebut sesuai dengan prosedur yang
dan data processing, pada tahap ini data yang telah seharusnya
dikumpulkan sebelumnyan diproses oleh siswa, sehingga Skor 4 diberikannkepada sisiwa yang mampu
tahap tersebuttberpengaruh terhadap kemampuannya memilih dan menggunakannstrategiuntuk menyelesaikan

119
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

sebuahpermasalahan dengan tepat. Berikut akan Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa kemampuan
disajikan presentase jumlah siswa dalam memilih dan siswa kelas eksperimen lebih baik dalam menyelesaikan
menggunakannstrategiuntuk menyelesaikan masalah masalah dibandingkan siswa kelas kontrol. Persentase
pada setiap skornya. siswa kelas eksperimen yang memperoleh skor
sempurna yaitu sebesar 44,4% sedangkan persentase
70.0%
siswa pada kelas kontrol yang memperoleh skor
60.0% sempurna hanya 11,8%.
50.0% Hal ini terjadi karena pada kelas eksperimen
40.0% menerapkan model Discovery Learning. Dimana
30.0% menuntut siswa dalam kelompokuntuk menyelesaikan
20.0%
10.0% masalah yang diberikan pada LKPD setiap
0.0% pertemuannya. Sehingga siswa memilikibbanyak
4 3 2 1 0 pengalaman dalam menyelesaikan masalah. Semaking
Eksperimen 63.9% 13.9% 19.4% 0.0% 2.80% siswa berpengalaman dalam memecahkan beragam
Kontrol 17.6% 20.6% 32.4% 23.5% 5.90% masalah,semakinn baik pula kemampuan pemecahan
Gambar [Link] Setiap Skor Siswa untuk Indikator 3
masalahnya.

Pada Gambar 3 dapat dilihat persentase siswa e. Menafsirkan hasil jawaban yang diperoleh untuk
kelas eksperimenn yang memperoleh skor 4 untuk memecahkan masalah
indikator ini lebih tinggi daripada siswa pada kelas
kontrol. Siswa kelas eksperimen yang memperoleh skor Indikator terakhir yaitu menafsirkan hasil
4 yaitu 63,9% sedangkan persentase siswa pada kelas jawaban yang diperoleh dari langkah-langkah yang
kontrol memperoleh skor 4 adalah 17,6%. Hal ini telah dilakukann sebelumnnya untuk memecahkan
disebabkan oleh kelas eksperimen yang belajar dengan masalah. Siswa mengartikan hasil jawaban yang
model Discovery Learning dimana mengajak siswa untuk diperolehnya dengan cara menarik kesimpulan dari
berdiskusi bersama dalammkelompok untuk memilh permasalahan yang telah dipecahkannya. Indikator ini
strategi yang tepat dalam memecahkan masalah. berkaitan dengan langkah pembelajaran model
Discovery Learning yaitu Generalization. Tahap
generalisasi melatih dan mengembangkansiswa untuk
d. Menyelesaikan Masalah menafsirkan atau membuat kesimpulan hasil jawaban.
Oleh karena itu, selain memperoleh jawaban yang
Pada indikator menyelesaikan masalah, siswa benar, menafsirkan hasil jawaban dengan benar juga
diharapkan mampu melaksanakann penyelesaian diperlukann dalam memecahkann masalah. Jika siswa
masalah sesuai dengan soal yang diberikan. Tahap melakukan kesalahan dalam menyelesaikan masalah
verification pada model Discovery Learning mampu maka siswaajuga akan salah dalam menafsikan
mengembangkannkemampuansiswa dalam menyelesaikan jawaban untuk permasalahan yang diberikan
masalah. Berikut akan disajikan mengenai persentase
Ketiga indikator sebelumnya sangat mempengaruhi jumlah siswa dalam menafsirkan hasil jawaban.
kemampuan siswa dalam melaksanakan indikator ini.
Skor maksimalyyang dapat diperoleh siswa mampu 50.0%
menyelesaikan masalah dengan benar adalah 4. Berikut 40.0%
ini akan disajikan mengenai persentase jumlah siswa
30.0%
dalam menyelesaikan masalah.
20.0%
10.0%
50.0%
40.0% 0.0%
4 3 2 1 0
30.0% Eksperimen 41.7% 2.8% 22.2% 22.2% 11.1%
20.0% Kontrol 26.5% 8.8% 14.7% 17.6% 32.4%
10.0%
Gambar [Link] Setiap Skor Siswa untuk Indikator 5
0.0%
4 3 2 1 0
Pada Gambar 5 terlihat bahwa persentase siswa
Eksperimen 44.4% 19.4% 22.2% 11.1% 2.8%
pada kelas eksperimen yang memperoleh skor 4 lebih
Kontrol 11.8% 11.8% 20.6% 35.3% 20.6% tinggi daripada persentase siswa pada kelas kontrol. Pada
Gambar [Link] Setiap Skor Siswa untuk Indikator 4 kelas eksperimen persentase siswa yanggmemperoleh skor
4 adalah 41,7% sedangkan persentase siswa kelas kontrol
yang memperoleh skor 4 adalah 26,5%. Sehingga terlihat

120
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121

bahwa siswa kelas eksperimenn lebih baik dari pada


kelas kontrol dalam indikator menafsirkan hasil jawaban
untuk memecahkan masalah.

Kegiatan pembelajaran seperti yang telah SIMPULAN DAN SARAN


diuraikan di atas membuat siswa tertarik dann terbiasa
untuk mengkaji situasissuatu masalah dengan Berdasarkan hasil penelitian yang telah
mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan
dalamm menyelesaikan masalah. Setelah pemecahan masalahm matematis siswa yang
mengorganisasikan informasi yangb berkaitan dengan pembelajarannya menggunakan model Discovery
masalah yang akan dipecahkan maka siswa dituntun Learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan
secara mandiri untuk mencoba menyelesaikan masalah matematis siswa yang pembelajarannya
permasalahann tersebut. Pada tahap ini siswa dapat menggunakan model pembelajaran langsung di kelas X
mengasah kemampuan dalam merumuskanmasalah IPA SMA Negeri 8 Padang tahun pelajaran 2018/2019.
secara matematis, memilih dan menggunakan strategi Dan perkembangan nkemampua n
dan pendekatany yang tepat dalam memecahkan pemecahan masalah matematis sis wa selama
masalah serta kemampuanmmenyelesaikan masalah. diterapkan model Discovery Learning
Siswa d ap at meningkatkan kemampuan mengalami peningkatan.
menafsirkan hasil jawaban dengan Berdasarkan hasil penelitian tersebut
menginterpretasikann hasil jawaban pada lembar diharapkan kepada guru agar dapat menggunakan
jawaban dan melakukan presentasi di depannkelas. model pembelajaran Discovery Learning sebagai
Oleh karenaaitu, model Discovery Learning yang alternatif dalam pembelajaran matematika untuk
diterapkan memberikan kesempatan pads siswakelas
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
eksperimennuntuk menemukann sendiri dan
mengemukakann ide dan pendapatnya saat matematis siswa.
menyelesaikan sebuahsoal. Langakha-langkah kegiatan
model Discovery Learning ini secara REFERENSI
bertahappmelatihssiswa untuk mengembangkan [1] Rusman. 2015. Pembelajaran Tematik Terpadu. Teori, Praktek
kemampuan pemecahan masalah matematis. dan penilaian. Jakarta: Rajawali Pers.
[2] Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 2014.
Permendikbud Nomor 59 tentang Kurikulum 2013 Sekolah
Berdasarkan pembahasan diatas dari 5 Menengah Atas/ Madrasah Aliyah. Jakarta: Kemendikbud.
indikator yang diujikan dalam penelitian ini, ternyata [3] Nur, Muhamaddan Prima. 2000. Pengajaran berpusat pada siswa
untuk indikator (1) mengorganisasikann data dan dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran.. Surabaya:
Univesitas Negeri Surabaya.
memilih informasi yang relevan dalam [4] Klahr, D.b& Nigam, N. (2004). Theeequivalence of learning
mengidentifikasi masalah, (2) menyajikan suatu paths in earlyYscience instruction: effects of direct instruction
masalah secaraamatematis dalam berbagai bentuk, (3) and discovery learning., Pittersberg: Department offPsychology,
memilih dannmenggunakan pendekatan atau CarnegieeMellon University.
[5] Suriadi. (2006). Pembelajaranndengan Pendekatan Discovery
startegi yang tepat untuk memecahkan yang MenekankannAspek Analogi Untuk Menigkatkan
masalah, (4) menyelesaikan masalah, dan (5) Pemahaman Matematikddan Kemampuan BerfikirrKritis Siswa
menafsirkan hasil jawaban yang diperoleh untuk SMA. Tesis [Link]. UPIIBandung: Tidakkditerbitkan.
memecahkan masalah, siswa kelas eksperimen lebik [6] Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifk dan Kontekstual dalam
Pembelajaran Abad 21. Bogor: JICA UNM
baik daripada kelas kontrol. Dengan demikian, dapat [7] Suryabrata, Sumadi. 2004. Metode Penelitian. Jakarta: Raja
disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan matematis Grafindo Persada.
siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada [8] Markaban (2008). Model Penemuan Terbimbing pada
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada Pembelajaran Matematika SMK. Paket Fasilitasi
Pemberdayaan KKG/MGMP Matematika. Yogyakarta: P4TK
kelas kontrol. Matematika.

121

Anda mungkin juga menyukai