Pengaruh Discovery Learning pada Siswa
Pengaruh Discovery Learning pada Siswa
3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
115
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
SMA Negeri 8 Padang pada 14 Februari 2019. Pada salah pembelajaran. Siswa dapat mengembangkann, melakukan
satu soal pemecahan masalah yang diberikan, dari 171 pemeriksaan,tebakanndan mencoba-coba(trialaand error)
siswa yang mengikuti ulangan, hanya 28 siswa yang sesuai dengan pengetahuannya sehingga siswaadapat ikut
mampu dengan benar menjawab. Berdasarkan hasil berperan aktiffdalam kegiatanppembelajaran[4].
wawancara dengan beberapa siswa pada tanggal 23 Model Discovery Learning dirancang untuk
Februari 2019 diketahui bahwa penyebabnya karena siswa menemukannsendiri informasi dan menemukan konsep
sering diberikan soalrrutin saja sehingga ketika diberikan dengan mandiri melalui bimbingan guru dalam bentuk
soal yang lebih menantang, siswa belum bisa pertanyaan-pertanyaan untuk membangktkan rasa ingin
menyelesaikan soal tersebut dengan tepat dan benar. tahu siswa, serta keaktifan siswa dalam proses
Contoh soal yang diberikan jarang sekali berupa soal pembelajaran, dimana guru hanya berperannsebagai
cerita atau soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan fasilitator untuk mengatur jalannya proses pembelajaran.
nyata siswa. Sehingga mereka tidak termotivasi untuk Diharapkan, apabila siswaaterlibat aktiffdi dalam
belajar lebih gian dan memahami manfaat matematika, menemukannsuatu konsep dasarssendiri, Ia akan mengerti
Berdasarkan beberapa kendala yang terjadi dapat lebih baik, mengingatlebih lama dan akan
diketahuii bahwa kemampuan pemecahannmasalah mampummenggunakannya kedalam perihal yang lain
matematis merupakan kemampuan yang belum dikuasai yang berkaitan dengan pembelajaran[5].
oleh siswa. Hal ini bertentangan denganntujuan dan Langkah-langkah dalam penggunaan model
harapan pemerintah dalam pembelajaran matematika. Bila Discovery Learning yang pertamaadalah Stimulation
kemampuan pemecahan masalah matematis tidak (stimulasi/pemberian rangsangan). Pada tahap ini siswa
dikembangkan dan0ditingkatkan, maka bagi siswa diberikan sesuatu yangmmenimbulkan keingintahuannya.
pembelajarannmatematika hanya akan menjadi materi Hal ini bisa diawal dengan guru mengajukan pertanyaan,
yang mengkuti seramgkaianoprosedur dan meniru contoh menyarankannmembaca buku, dan aktifitass belajar
tanpa mengetahuii makanya. lainnyaayang menuntun pada persiapannpemecahan
Berdasarkan beberapa penyebab rendahnya masalah. Stimulsi ini bergunaauntukmmenyiapkan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, kondisi belajar yanggdapat meningkatkann dan membantu
dimana salah satu penyebabnyaaadalah kurang efektifnya siswa dalammmendalami pemahamani bahan yang
cara dan proses pembelajaran yang digunakan oleh guru. diperolehnya[6].
Hal ini dikarenakan pada proses pembelajaran, guru Langkah kedua adalah Problem Statement
memberikan langsung materi pada siswa tanpa (pernyataan/identifikasimasalah). Langkah ini menuntut
memberikan kesempatan untuk siswa aktf. Dengan kata guru untuk memberikan peluang kepada siswa agar
lain, model pembelajarannyang digunakan di dalam kelas mereka dapat mengenalis dan menggaalisebanyak
kurang mampu mebimbng siswa untuk mengkonstruksi mungkinninformasi yang berhubungan dengan materi
pemahamannyaadan belum mampu mengembangkan pembelajran berdasarkan hasilddari lamgkah awal,
kemampuan pemecahan masalah matematis. selanjutnya salahssatu dari informasi tersebut dipilihddan
Salah satu cara untuk menghadapi permasalahan dirumuskanndalambbentuk hipotesis(jawaban sementara
terhadap rendahnya kemampuanppemecahan masalah atas pertanyaan masalah).
matematissadalah dengan memeberikan pembelajaran Langkah ketiga adalah Data Collection
yang lebih mengaktifkan siswa. Sehingga proses (pengumpulanndata). Langkah ini adalah untuk
penyerapannpengetahuanodapat bermakna dan tinggal membantu menjawabbdan menunjukkan benaraatau
lebih lama dalam ingatan siswa. tidaknyaajawban sementara, dengan mengumpulkan
Ada beberapa model pembelajaran yang dapat berbagaininformasi yang berkaitan, membacaliteratur,
digunakan sebagaiaalternatif tindakan untuk mengamati, wawancaraadengan narasumber, melakukan
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah percobaan sendiri dan lainnya..
matematis siswa, salah satunya yaitu dengan Langkah keempat adalah Data Processing
menggunakan model Discovery Learning. Discovery (pengolahanndata). Langkah ini adalahbberupa
Learning merupakan model pembelajaran yang lebih pengerjaan dan pemrosesanhdataadanninformasi yang
menekankan pada pemecahan masalah yang diberikan telah diperolehssiswa kemudian dianalisis. Lalu pemilihan
oleh guru. Dengan Discovery Learnig siswa diajak untuk dan penggunaan langkah yang tepat untukkmendapatkan
aktif dalam belajar melalui keikut sertaan mereka sendiri penyelesaianndari sebuah masalah mengharuskan siswa
terhadapkkonsep-konsep, prinsip-prinsip, dan guru untuk cermat dalammmemilih sumber yang tepat.
menstimulasi siswaauntuk memiliki pengalaman dan Langkah kelima adalah Verivication(pembuktian).
mereka melakukan ppengecekan yangmmemungkinkan Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan melaksanakan
merekan mendapatkan prinsip-prinsippuntuk diri mereka penyelidikanndalam membuktikanbenar atauutidaknya
sendiri[3]. jawabanssementara yang ditetapkanndengan temuan
Model Discovery Learning menekankan pada lainnya, kemudianndikaitkanddengan hasil pengolahan
proses belajar yang meminta keaktfan dan kekreatifan datappada langkah sebelumnya.
siswa. Dengan model ini, guru hanya bertindakssebagai Langkah terkahir adalah Generalitation(menarik
fasiltator sedangkannsiswa sebagai pokok dari proses kesimpulan/generalisasi). Pada tahap ini siswa diminta
116
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
untuk memberikan sebuah kesimpulan akhir dari seluruh kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang tahun pelajaran
proses yang dilakukan untuk dapat dijadikan patoka atau 2018/2019. Prosedur dalam penelitian ini meliputi tahap
pedomannumum yang dapat berlakuuuntuk semua persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian.
kejadiannataummasalah yang sama, dengan Instrumen yang dipakai dalam penelitisn ini adalah
mempertimbanghkannhasilldari pembuktiannsebelumnya. kuis danntes akhir kemampuan pemecahan masalah
Dari hasilppembuktian makadirumuskan dasar-dasar matematis yang disusun berdasarkan indikator
untuk mengambilssebuah kesimpulah akhir dariiproses kemampuan pemecahan masalah matematis. Kuis berupa
penemuan[6]. soal essay yang diberikan pada akhir pembelajaran. Tes
Pembelajaran menggunakan model Discovery akhir berupa soal essay yang yang diberikan di akhir
Learning ini dalam pelaksanaannya menggunakan penelitian dan dinilai sesuai dengan rubrik penilaian
bantuan LKPD yang mana dirancanggsesuai dengan pemecahan masalah matematis dengan menggunakan skor
langkah-langkah pada model Discovery Learning. 0 sampai 4. Materi tes yang diberikan berupa materi
Dimana dapat membimbing dan mengarahkan siswa selama penelitiannberlangsung, yaitu trigonometri. Hasil
untuk dapat memahami dannmenyelesaikan masalah yang yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan
diberikan secara mandiri. Siswa juga dituntut bukan statistik uji-t dengan bantuan software Minitab.
hanya memahami konsep namum juga dilatih untuk
terbiasa memecahkannmasalah baik yang mudah maupun
yang menantang. Diharapkan dengan tuntutang tersebut HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
siswa dapatmmeningkatkan kemampuan pemecahan
masalahmmatematisnya. Perkembangan kemampuan pemecahan masalah
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk matematis siswa dengan diterapkan model Discovery
mendeskripsikan kemampuan pemecahanmmasalah Learning mengalami peningkatan. Hal ini dilihat dari
matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan hasil setiap kuis yang diujikan sebanyak tiga kali.
model Discovery Learning lebihbbaik dari pada Perkembangan kemampuannpemecahan masalah
kemampuan pemecahannmasalah matematis siswa yang matematis siswa apabila dilihat dari persentase jumlah
pembelajarannyaamenggunakan pembelajan langsung siswa yang tuntas dan tidak danarata-rata nilai pada
pada siswa kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang. Serta setiappkuis dapat dilihat pada Tabel 1.
mendeskripsikan perkembangan kemampuanpemecahan
masalah matematis siswa selamaamenggunakan model Tabel 1. Persentase Jumlah Siswa yang Tuntas dan
Discovery Learning. Tidak Tuntas dan Rata-Rata Nilai Kuis
Kuis Tidak Rata- Kategori
Tuntas
METODE PENELITIAN Ke- Tuntas Rata Rata-Rata
I 6% 94 % 47,71 Kurang Baik
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuasi
eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah II 65 % 35 % 72,47 Sangat Baik
Randomized Control-GroupoOnly Design[7]. Dalam III 94 % 6% 84,76 Sangat Baik
rancangan ini, digunakan pembelajaranddengan model
Discovery Learninggpada kelas kesperimen, sedangkan Berdasarkan Tabel 1 dan KKM yang ditetapkan
pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran dengan sekolah yaitu 79 diketahui bahwaapersentase ketuntasan
pembelajaran langsung. nilaikkuis dan rata-rataanilai kuis siswa dalam tiga kali
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kuismmengalami peningkatan. Jika dibandingkan
kelas X IPA SMA Negeri 8 Padang tahun pelajaran berdasarkan persentase siswa yang tuntasppada kuis
2018/2019. Setelah dilakukan beberapa prosedur pertama dengannterakhir, dapat disimpulkan terjadinya
penarikan sampel berupa uji kesamaan rata-rata terhadap peningkatan persentase siswaayang tuntas. Berdasarkan
nilai ulangan matematika, pemilihan sampeldilakukan tabel kategori rata-rata nilai kuis siswa adalah kurang baik
secara acak(random sampling). Kelas yang terpilih dan sangat baik maka dapat dikatakan kemampuan
sebagai kelasssampel yaitu kelas X IPA 1 sebagai kelas pemecahan masalah matematis siswa mengalami
eksperimen dan kelas X IPA 2 sebagaiikelas kontrol. perkembangan.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran Peningkatan rata-rata nilai kuis dan persentase
matematika dengan model Discovery Learning pada kelas ketuntasan nilai kuis siswa ini disebabkan penerapan
eksperimen dannpembelajaran langsung pada kelas model Discovery Learning dalam proses pembelajaran.
kontrol. Variabel terikattdalam penelitian ini adalah Pada model Discovery Learning siswa dituntut untuk
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. berpatisipasi aktif dan berpikir kritis. Siswa juga terlibat
Data primer dalam penelitian ini adalah nilai tes dalam menyelesaikannmasalah melalui tahap-tahap
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada tertentu. Yang berakibatkan siswa dapat memperoleh
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sedangkan data pengetahuan yang berkaitanndengan masalahhtersebut
sekunder dalam penelitian ini adalah jumlah siswa yang dan sekaligus memiliki kemampuannuntuk menyelesaikan
menjadi populasi dan nilai ulangan matematika siswa
117
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
118
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
yang berkaitan, maka hasil belajar siswa akan dalammmenyajikan rumusan masalahhsecara matematis
berakibatkan. dalam berbagaibbentuk. Skor maksimalddiberikan jika
Pada model Discovery Learning terdapat langkah siswa mampu merumuskanmasalah secara matematis
problem statement dan data collection, langkah ini denganbbenar adalah 4. Berikut ini, disajikannmengenai
melatih kemampuannsiswa dalamm mengorganisasikan kemampuan siswa dalammmenyajikan rumusan masalah
data dann mengumpulkanI informasi yangg relevan. secaraamatematis dalam berbgai bentuk.
Kemampuan siswa pada indikator ini dapat dilihat
dari jawaban siswa dalam membuatddiketahui dan 60.0%
ditanya. Skormmaksimal yang diberikan jika siswa 50.0%
dapatumemilihhinformasi dan mengumpulkandata 40.0%
dengan benardan lengkapp adalah 4. Berikut ini akan 30.0%
disajikan secara lebih rinci kemampuan siswa pada kedua 20.0%
kelas sampel dalam menguasai indikator ini. 10.0%
0.0%
4 3 2 1 0
60.0%
Eksperimen 52.8% 19.4% 19.4% 8.3% 0.0%
50.0%
40.0% Kontrol 50.0% 11.8% 29.4% 5.9% 2.9%
30.0% Gambar 2. Persentase Setiap Skor Siswa untuk Indikator 2
20.0%
10.0% Pada Gambar 2 diperoleh informasi bahwa
0.0% persentase jumlah siswa yang mendapat skor 4 pada
4 3 2 1 0
Eksperimen 52.9% 32.3% 5.8% 8.8% 0.0% kelas eksperimen adalah 52,8% sedangkan pada kelas
kontrol persentase siswa yang mendapat skor 4 adalah
Kontrol 50.0% 38.2% 5.9% 2.9% 2.9%
50%. Hal ini memperlihatkan bahwa siswa pada kelas
Gambar 1. Persentase Setiap Skor Siswa pada Indikator 1 eksperimen lebihhbanyakkmenjawab dengan benardan
tepat pada indikator menyajikannsuatu rumusan masalah
secaraa matematis dibandingkan kelas kontrol.
PadaaGambar 1 diperoleh informasi bahwa Kemudian persentase siswa yang mendapatkan skor 0
persentase jumlah siswa yang mendapatkan skor 4 pada pada kelas eksperimenNlebih rendah dari pada kelas
kelas eksperimen adalah 52,9%, sedangkan pada kelas kontrol. Ini menunjukkan bahwa pembelajarannyang
kontrol persentase siswa yang mendapatkan skor4 menggunakan model Discovery Learning lebih baik
adalah 50%. Artinya, siswa pada kelas eksperimen dalammmenyajikan suatu rumusannmasalahhsecara
lebih banyak menjawab benar dan tepat sesuai indikator matematisdalam berbagaiibentuk.
mengorganisasikan data dan memilih informasi yang
relevan dalam mengidentifikasi masalah dibandingkan c. Memilih dan menggunakan pendekatan atau strategi
dengankkelas kontrol. Kemudian persentase siswa yang yang tepat untuk memecahkan masalah
mendapatkan skor 0 pada kelaseksperimen juga
lebihhtinggi dari pada kelas kontrol. Ini menunjukan Indikator ini merupakan kelanjutansetelah siswa
bahwa siswa yang belajar dengan mengumpulkan informasiiyang relevan dan
modelp pembelajarannDiscovery Learnig lebih baik merumuskanmmasalah secara matematis. Pada
dalam mengorganisasikanndata dan memilih indikator ini siswa diharapkan dapat
informasii yang relevan dalammengidentifikasi masalah. meningkatkannstrategi pemecahannmasalah yang sesuai
denganmasalah yang ada. Kemudian strategi tersebut
b. Menyajikan suatuUrumusan masalah secara diterapkannsesuai dengannprosedur.
matematissdalam berbagai bentuk Setelah terpenuhi indikator 1 dan 2, maka
selanjutnya kemampuannyang harus dimilikiaadalah
Pada indikator ini siswa diharapkan memilih dan menggunakan strategi atau
mampuumenyatakan permasalahan yanga akan mereka pendekatany yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
selesaikannsecara matematis. Pemenuhan indikator ini Kemampuan ini dapat ditingkatkan dengan baik sesuai
dilihat dari kemampuan siswaa dalammenggambarkan tahap pembelajaran pada model Discovery Learning
situasip padappermasalahan yang akanddiselesaikan yaitu data processing. Sehingga siswa mampu
maupun menrjemahkan permasalahann dalam bentuk memilih strategi yang tepat untuk menyelesaikan
rumus. masalah dan menggunakannserta mengembangkan
Discovery Learning memiliki tahap data collection strategi tersebut sesuai dengan prosedur yang
dan data processing, pada tahap ini data yang telah seharusnya
dikumpulkan sebelumnyan diproses oleh siswa, sehingga Skor 4 diberikannkepada sisiwa yang mampu
tahap tersebuttberpengaruh terhadap kemampuannya memilih dan menggunakannstrategiuntuk menyelesaikan
119
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
sebuahpermasalahan dengan tepat. Berikut akan Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa kemampuan
disajikan presentase jumlah siswa dalam memilih dan siswa kelas eksperimen lebih baik dalam menyelesaikan
menggunakannstrategiuntuk menyelesaikan masalah masalah dibandingkan siswa kelas kontrol. Persentase
pada setiap skornya. siswa kelas eksperimen yang memperoleh skor
sempurna yaitu sebesar 44,4% sedangkan persentase
70.0%
siswa pada kelas kontrol yang memperoleh skor
60.0% sempurna hanya 11,8%.
50.0% Hal ini terjadi karena pada kelas eksperimen
40.0% menerapkan model Discovery Learning. Dimana
30.0% menuntut siswa dalam kelompokuntuk menyelesaikan
20.0%
10.0% masalah yang diberikan pada LKPD setiap
0.0% pertemuannya. Sehingga siswa memilikibbanyak
4 3 2 1 0 pengalaman dalam menyelesaikan masalah. Semaking
Eksperimen 63.9% 13.9% 19.4% 0.0% 2.80% siswa berpengalaman dalam memecahkan beragam
Kontrol 17.6% 20.6% 32.4% 23.5% 5.90% masalah,semakinn baik pula kemampuan pemecahan
Gambar [Link] Setiap Skor Siswa untuk Indikator 3
masalahnya.
Pada Gambar 3 dapat dilihat persentase siswa e. Menafsirkan hasil jawaban yang diperoleh untuk
kelas eksperimenn yang memperoleh skor 4 untuk memecahkan masalah
indikator ini lebih tinggi daripada siswa pada kelas
kontrol. Siswa kelas eksperimen yang memperoleh skor Indikator terakhir yaitu menafsirkan hasil
4 yaitu 63,9% sedangkan persentase siswa pada kelas jawaban yang diperoleh dari langkah-langkah yang
kontrol memperoleh skor 4 adalah 17,6%. Hal ini telah dilakukann sebelumnnya untuk memecahkan
disebabkan oleh kelas eksperimen yang belajar dengan masalah. Siswa mengartikan hasil jawaban yang
model Discovery Learning dimana mengajak siswa untuk diperolehnya dengan cara menarik kesimpulan dari
berdiskusi bersama dalammkelompok untuk memilh permasalahan yang telah dipecahkannya. Indikator ini
strategi yang tepat dalam memecahkan masalah. berkaitan dengan langkah pembelajaran model
Discovery Learning yaitu Generalization. Tahap
generalisasi melatih dan mengembangkansiswa untuk
d. Menyelesaikan Masalah menafsirkan atau membuat kesimpulan hasil jawaban.
Oleh karena itu, selain memperoleh jawaban yang
Pada indikator menyelesaikan masalah, siswa benar, menafsirkan hasil jawaban dengan benar juga
diharapkan mampu melaksanakann penyelesaian diperlukann dalam memecahkann masalah. Jika siswa
masalah sesuai dengan soal yang diberikan. Tahap melakukan kesalahan dalam menyelesaikan masalah
verification pada model Discovery Learning mampu maka siswaajuga akan salah dalam menafsikan
mengembangkannkemampuansiswa dalam menyelesaikan jawaban untuk permasalahan yang diberikan
masalah. Berikut akan disajikan mengenai persentase
Ketiga indikator sebelumnya sangat mempengaruhi jumlah siswa dalam menafsirkan hasil jawaban.
kemampuan siswa dalam melaksanakan indikator ini.
Skor maksimalyyang dapat diperoleh siswa mampu 50.0%
menyelesaikan masalah dengan benar adalah 4. Berikut 40.0%
ini akan disajikan mengenai persentase jumlah siswa
30.0%
dalam menyelesaikan masalah.
20.0%
10.0%
50.0%
40.0% 0.0%
4 3 2 1 0
30.0% Eksperimen 41.7% 2.8% 22.2% 22.2% 11.1%
20.0% Kontrol 26.5% 8.8% 14.7% 17.6% 32.4%
10.0%
Gambar [Link] Setiap Skor Siswa untuk Indikator 5
0.0%
4 3 2 1 0
Pada Gambar 5 terlihat bahwa persentase siswa
Eksperimen 44.4% 19.4% 22.2% 11.1% 2.8%
pada kelas eksperimen yang memperoleh skor 4 lebih
Kontrol 11.8% 11.8% 20.6% 35.3% 20.6% tinggi daripada persentase siswa pada kelas kontrol. Pada
Gambar [Link] Setiap Skor Siswa untuk Indikator 4 kelas eksperimen persentase siswa yanggmemperoleh skor
4 adalah 41,7% sedangkan persentase siswa kelas kontrol
yang memperoleh skor 4 adalah 26,5%. Sehingga terlihat
120
Vol. 8 No. 3 September 2019 Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika Hal 115 - 121
121