Regulasi RTH Permukiman
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pada
Pasal 29 disampaikan bahwa total luas RTH sebesar 30% yang terdiri atas 20% RTH public dan 10% RTH
privat. Jika diperhatikan lebih detail, luasan dari RTH public lebih besar dari RTH privat. Artinya,
pemerintah daerah memiliki peran besar dalam penyediaan RTH, serta memperbesar jaminan
tercapainya persentase minimum RTH di suatu wilayah atau kota. Persentase dari luas RTH di suatu
wilayah ditentukan dari luas administrasi dikurangi luas kawasan non-terbangun. Menurut Santoso et al.
(2022), kawasan non-terbangun dapat berupa badan air, pertanian, kawasan hutan, dan kawasan lindung
gambut.
Dari pandangan banyak ahli peran RTH ini penting untuk peningkatan kualitas udara di perkotaan,
pengaturan iklim mikro perkotaan, penyapuan debu di perkotaan, peredaman kebisingan, penunjang
sistem tata air di perkotaan, penunjang pelestarian plasma nutfah, serta penunjang tata guna dan
pelestarian tanah. Pratiwi dan Purnomo (2021) menyatakan bahwa ruang terbuka hijau dipahami
sebagai suatu bagian dari ruang atau area atau kawasan yang relative bersifat terbuka dan diisi oleh
tumbuhan, tanaman, maupun vegetasi baik yang tumbuh alami maupun dibudidayakan.
Keadaan ruang terbuka hijau (RTH) atau green open space di Indonesia hingga saat ini mengalami
beberapa masalah. Permasalahan utama yang menjadi kendala yaitu penyediaan ruang yang
dimanfaatkan sebagai RTH. Hal ini kemudian menjadi pertimbangan dikeluarkannya Peraturan Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2022
tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. Dalam permen tersebut disebutkan bahwa
saat ini pemerintah daerah mengalami kendala pemenuhan 20% RTH public sehingga diperlukan
terobosan penyedian RTH. Selain itu, penyediaan RTH perlu mempertimbangkan aspek kualitas. Solusi
yang ditawarkan dalam bentuk regulasi yaitu pengintegrasian antara RTNH dan RTB yang masuk dalam
lingkup RTH (Gambar 1).
Sumber: Peraturan Menteri ATR/BPN No 14 Tahun 2022
Gambar 1 Ilustrasi pengintegrasian RTNH dan RTB menjadi RTH
Penyediaan dan pemanfaatan RTH berkualitas dihadapkan pada tantangan keterbatasan lahan atau
harga lahan yang tinggi. Kurangnya kesadaran terkait pentingnya RTH juga berdampak pada rendahnya
partisipasi seluruh pihak yang berpotensi sebagai penyedia dan pemanfaat RTH. Hal ini menuntut adanya
solusi penyediaan dan pemanfaatan RTH yang lebih baik, cepat, dan tepat agar tetap menjamin kualitas
dan proporsi kuantitas RTH ideal. RTH berkualitas sebagai paradigma baru yang memadukan RTNH yang
menggunakan material ramah lingkungan maupun RTB di dalamnya dapat menjadi solusi yang tepat
dengan metode perhitungan Indeks Hijau Biru Indonesia (IHBI) sebagai indikator pencapaian dan faktor
hijau sebagai nilai kualitas dari setiap elemen pembentuk RTH. IHBI diketahui berdasarakan fungsi
ekologis dan sosial RTH. Adapun perhitungan RTH pada wilayah disajikan pada Gambar 2.
Sumber: Peraturan Menteri ATR/BPN No 14 Tahun 2022
Gambar 2 Perhitungan RTH berdasarkan IHBI
RTH Permukiman di Mamuju
Perkembangan penduduk dalam sebuah kawasan permukiman sejalan dengan meningkatnya
pembangunan permukiman. Pembangunan yang dilakukan seringkali tidak di imbangi oleh pemenuhan
dan penyediaan ruang terbuka bagi penduduk. Hal tersebut menggambarkan pembangunan yang tidak
seimbang. Pembangunan yang tidak seimbang mengakibatkan penggunaan lahan yang tidak diimbangi
dengan pemenuhan dan penyediaan ruang. Penggunaan lahan sebagai ruang terbangun (solid) salah
satunya disebabkan oleh tingginya nilai ekonomis lahan perkotaan. Sedangkan lahan atau tanah
merupakan sumber daya yang terbatas, sementara pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan
perumahan dan permukiman di perkotaan terus meningkat. Hal ini lah yang menyebabkan rendahnya
pemanfaatan lahan perkotaan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Menurut Alifia dan Purnomo (2016),
ruang terbuka hijau kota memiliki peran yang cukup penting bagi kehidupan perkotaan, salah satunya
adalah sebagai paru-paru kawasan.
Besarnya pengaruh luas ruang terbuka hijau di suatu wilayah tentunya harus menjadi perhatian
semua unsur demi menjaga iklim kondusif wilayah tersebut, olehnya itu dibutuhkan adanya perencanaan
yang matang sebagai langkah awal dalam menentukan titik ruang terbuka hijau yang diharapkan dapat
menjadi perhatian demi terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan seperti energi bersih dan
terjangkau, kehidupan sehat dan sejahtera, penanganan perubahan iklim, dan menjaga ekosistem darat.
Terdapat beberapa jenis ruang terbuka hijau berdasarkan Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang
penataan ruang, antara lain ruang terbuka hijau public dan ruang terbuka hijau privat.
Kabupaten Mamuju mencakup 11 (sebelas) kecamatan dengan beberapa pengembangan
kawasan strategis yang telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Mamuju 2019-2039 demi mendukung
pengembangan kabupaten ini. Bila dilihat dari luas wilayah Kota Mamuju yang memiliki total luas
4,999.69 km2, maka wilayah ini harus mengembangkan minimal 1.499,91 km 2 ruang terbuka hijau
dengan rincian 499,97 km2 RTH privat dan 999,94 km2 RTH publik. Wilayah Kecamatan Mamuju
memiliki luas 246,22 km2, dilihat dari aturan pengembangan ruang terbuka hijau, Kecamatan Mamuju
harus mengembangkan ruang terbuka hijau publik dengan luas minimal 49,22 km 2 dan ruang terbuka
hijau privat dengan luas minimal 24,62 km 2, sedangkan untuk Kecamatan Simboro dengan luas 132,06
km2 minimal harus mengembangkan ruang terbuka hijau publik seluas 26,41 km 2 dan ruang terbuka
hijau privat seluas 13,21 km2.
Penelitian terkait ruang terbuka hijau di Mamuju telah dilakukan Marsawal (2021). Beliau
melaporkan bahwa berdasarkan hasil wawancara, pola sebaran RTH di Kabupaten Mamuju adalah
scattered (tersebar). Sedangkan wilayah Kecamatan Mamuju dan Simboro yang merupakan pusat
perkotaan (Kawasan Perkotaan Mamuju) dan pemerintahan, tutupan lahannya padat dengan
perumahan, gudang, dan bangunan perkantoran. Berdasarkan publikasi Marsawal et al. (2021) ruang
terbuka hijau eksisting dianalisis melalui citra Landsat 8 tahun 2020 yang dipadukan dengan citra resolusi
tinggi dan menampilkan ruang terbuka hijau eksisting di Kawasan Perkotaan Mamuju dengan luas 320,04
ha berupa taman, sarana pendidikan, sarana ibadah, olahraga fasilitas, jalur median jalan, dan kawasan
perbatasan. sungai. Ruang terbuka hijau yang ada di Kawasan Perkotaan Mamuju tersebar di 33 titik,
sedangkan pada tahun 2016 Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan Mamuju terletak di 55 (lima
puluh lima) titik yang terdiri dari sarana olahraga, median jalan, taman, sarana pendidikan, fasilitas
kesehatan ibadah dan lainnya (Mamuju, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa luas ruang terbuka hijau di
Kawasan Perkotaan Mamuju terus berkurang dari waktu ke waktu. Sebaran ruang terbuka hijau yang ada
dapat dilihat pada Gambar 3.
Sumber: Marsawal et al. (2021)
Gambar 3 Sebaran ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan Mamuju
Berdasarkan RTRW Kota Mamuju tahun 2018 yang diambil dari Dinas PU (shp administrasi BWP),
diketahui bahwa luas total wilayah perkotaan yaitu sebesar 2.2276,6 ha. Artinya, diperlukan RTH sebesar
30% yang setara dengan 682,9 ha. Sedangkan hasil penelitian Marsawal et al. (2021) melaporkan bahwa
RTH kota Mamuju hanya sebesar 320,04 ha. Kota Mamuju saat ini masih kekurangan RTH, jika dikalkulasi
maka persentase RTH eksisting tahun 2020 hanya sebesar 14,06%. Namun, nilai tersebut belum
dikatakan pasti karena ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi, seperti perubahan tutupan lahan,
perbedaan shp, serta perubahan regulasi. Dari sisi luas RTH masih sangat kurang sehingga diperlukan
peningkatan kuantitas, serta kualitas RTH di Kota Mamuju.
Daftar Pustaka
Alifia N dan Purnomo Y. 2016. Identifikasi letak dan jenis ruang terbuka hijau di kawasan permukiman
perkotaan. Langkau Betang. 3 (2): 25-38. Doi: 10.26418/lantang.v3i2.18329.
Marsawal DA. 2021. Perencanaan ruang terbuka hijau dalam meningkatkan kualitas ruang di kawasan
perkotaan Mamuju [tesis]. Makassar (ID): Sekolah Pascasarjana, Universitas Hasanuddin.
Marsawal DA, Zubair H, Soma AS. 2021. Green open space planning in improving the quality of space in
the Mamuju urban area. International Journal Papier. 2 (3): 29-42. Doi: 10.47667/ijppr.v2i3.99.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional. 2022. Peraturan Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2022 Tentang
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. Jakarta (ID).
Pratiwi B dan Purnomo EP. 2021. Analisa Undang-Undang 26 Tahun 2007 terhadap Penyediaan Ruang
Terbuka Hijau Berdasarkan Prinsip Good Environmental Governance Di Kota Yogyakarta. Wajah Hukum.
5(1). Doi: 10.33 087/wjh.v5i1.345
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang. Jakarta (ID).