0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan7 halaman

Perbandingan Pertumbuhan Aspergillus Fumigatus pada SDA dan MEA

Dokumen tersebut membahas latar belakang tentang jamur Aspergillus fumigatus sebagai penyebab infeksi pada manusia. Dokumen ini juga membahas perbedaan diameter koloni jamur Aspergillus fumigatus pada dua jenis media tumbuh, yaitu Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan Malt Extract Agar (MEA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui media mana yang lebih baik untuk pertumbuhan jamur Aspergillus fumigatus

Diunggah oleh

Diva
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan7 halaman

Perbandingan Pertumbuhan Aspergillus Fumigatus pada SDA dan MEA

Dokumen tersebut membahas latar belakang tentang jamur Aspergillus fumigatus sebagai penyebab infeksi pada manusia. Dokumen ini juga membahas perbedaan diameter koloni jamur Aspergillus fumigatus pada dua jenis media tumbuh, yaitu Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan Malt Extract Agar (MEA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui media mana yang lebih baik untuk pertumbuhan jamur Aspergillus fumigatus

Diunggah oleh

Diva
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamur merupakan salah satu penyebab penyakit infeksi di dunia.

Iklim tropis dengan kelembaban yang tinggi menjadi faktor utama

terjadinya infeksi jamur pada manusia (Kemenkes, 2013).

Jamur Aspergillus fumigatus merupakan penyebab infeksi pada

manusia terbanyak dimana > 90% menyebabkan invasif dan non-invasif

aspergillosis. Jamur ini dapat ditemukan di tanah, air dan tumbuhan yang

mengalami pembusukan, khususnya pada pupuk kandang dan humus

(Lubis,2009 dalam Gandi,dkk., 2019). Spora jamur Aspergillus fumigatus

dapat diisap masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan infeksi kronik

atau aspergillosis diseminata, jika terjadi infeksi paru invasif oleh

Aspergillus (Hasanah, 2017).

Aspergillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur

Aspergillus sp. Aspergillosis merupakan sebuah spectrum dari penyakit

manusia dan binatang yang disebabkan oleh anggota dari genus

Aspergillus. Jenis penyakit dan beratnya bergantung pada status fisiologi

dari hospes dan spesies Aspergillus yang terlibat. Agen penyebab bersifat

kosmopolitan dan diantaranya yaitu Aspergillus fumigatus, Aspergillus

flavus, Aspergillus niger, Aspergillus nidulans dan Aspergillus terreus.

1
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
2

Aspergillosis merupakan infeksi oportunistik, paling sering terjadi pada

paru-paru dan disebabkan oleh spesies Aspergillus yaitu Aspergillus

fumigatus, jamur yang terutama ditemukan pada pupuk kandang dan

humus (Hasanah, 2017).

Diagnosis atau identifikasi suatu jamur dapat dilakukan dengan

pemeriksaan kultur biakan yang dilakukan dalam suatu media. Pemilihan

media yang tepat merupakan salah satu hal penting yang perlu

diperhatikan dalam penanaman jamur. Media yang digunakan untuk

pertumbuhan jamur secara kimia dibedakan menjadi media sintetik dan

non sintetik. Beberapa jenis media sintetik yang umum digunakan dalam

identifikasi suatu jamur adalah media SDA (Sabouraud Dextrose Agar)

dan MEA (Malt Extract Agar). Media sintetik digunakan karena lebih

praktis dan merupakan media buatan pabrik yang sudah siap pakai serta

memiliki kandungan yang dapat membantu proses pertumbuhan jamur.

Media ini mendukung pertumbuhan jamur karena keasamannya yang

rendah (pH 4,5 sampai 5,6) sehingga menghambat pertumbuhan bakteri

(Capuccino dan Sherman, 2013).

Media SDA (Sabouraud Dextrose Agar) merupakan media sintetis

buatan pabrik berbentuk sediaan siap pakai dengan harga relatif mahal dan

hanya diperoleh pada tempat tertentu. Harga dari media ini berkisar Rp

1.000.000 hingga Rp 2.500.000 per 500 gram. Komposisi dari media

Sabouraud Dextrose Agar atau SDA yaitu Mycological peptone 10 g,

glukosa 40 g dan agar 15 g (Kustyawati, 2009 dalam Askari 2018).

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


3

Menurut Pramono (1987) dalam Haryani, dkk (2017) Aspergillus sp dapat

tumbuh dalam medium yang mengandung karbohidrat seperti Sabouraud

Dextrose Agar (SDA) yang telah di tambah antibiotika. Selain itu,

Aspergillus merupakan jamur yang mampu hidup pada media dengan

derajat keasaman dan kandungan gula yang tingi (Praja dan Yudhana,

2017).

Media MEA (Malt Extract Agar) juga merupakan media sintetis

yang kaya nutrisi, media ini juga digunakan untuk mengamati

pertumbuhan isolat cendawan dengan mengukur diameter pertumbuhan

radialnya (Nurbaya, dkk., 2014). Komposisi dari media Malt Extract Agar

(MEA) yaitu 20 g malt extract powder, 1,0 g pepton, 20 g glukosa dan 20

g agar (Wipradnyadewi, dkk., 2005). Media ini juga berbentuk sediaan

siap pakai dengan harga cukup mahal dan hanya diperoleh pada toko

bahan kimia tertentu. Harga dari media ini berkisar Rp 6.000.000 hingga

Rp 7.500.000 per 500 gram. Malt Extract Agar berdasarkan formula yang

direkomendasikan oleh Tom dan Chruch (1926) dalam Diarrukmi (2021),

mengandung formulasi yang tepat dari karbon, protein dan sumber nutrisi

penting untuk pertumbuhan kapang dan khamir atau ragi. Selain itu, MEA

juga mengandung konsentrasi maltosa tinggi sehingga sangat cocok untuk

pertumbuhan khamir dan kapang (Remel Technical Manual of

Microbiological Media, 2010 dalam Diarrukmi, 2021).

Penelitian bidang Mikrobiologi sering terkendala pada media

dengan harga yang mahal dan susah didapatkan. Selain itu, jamur yang

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


4

berbeda juga tidak akan memberikan reaksi pertumbuhan yang sama pada

media pertumbuhan yang sama digunakan. Perbedaan pertumbuhan tiap

isolat pada berbagai macam media diduga lebih dilatarbelakangi oleh

kecocokan media bagi tiap isolat (Fitriana, dkk., 2018).

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat perbedaan diameter koloni jamur Aspergillus

fumigatus pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan Malt Extract

Agar (MEA) ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan diameter koloni jamur Aspergillus fumigatus

pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan Malt Extract Agar

(MEA).

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui rerata diameter hasil pertumbuhan jamur Aspergillus

fumigatus pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)

b. Mengetahui rerata diameter hasil pertumbuhan jamur Aspergillus

fumigatus pada media Malt Extract Agar (MEA).

D. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini termasuk dalam bidang Teknologi

Laboratorium Medis mencakup keilmuan bidang Mikologi.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


5

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang media

pilihan untuk pertumbuhan jamur Aspergillus fumigatus.

2. Manfaat Praktis

a. Ilmu Pengetahuan

Memberikan informasi ilmiah mengenai perbedaan diameter koloni

jamur Aspergillus fumigatus pada media Sabouraud Dextrose

Agar (SDA) dan Malt Extract Agar (MEA)

b. Ahli Teknologi Laboratorium Medis

Memberikan informasi terkait media yang dapat dijadikan pilihan

untuk pertumbuhan jamur Aspergillus fumigatus

c. Peneliti

1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan

penelitian tentang perbedaan diameter koloni jamur Aspergillus

fumigatus pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan

Malt Extract Agar (MEA)

2) Menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh

pendidikan di Jurusan Teknologi Laboratorium Media

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


6

F. Keaslian Penelitian

Penelitian sejenis yang sudah pernah dilakukan sebelumnya antara lain :

1. Penelitian oleh Diarrukmi, R. M. (2021) berjudul “Efektivitas Hasil

Pertumbuhan Jamur Aspergillus flavus pada Media SDA (Sabouraud

Dextrose Agar) dan MEA (Malt Extract Agar) yang Dibandingkan

dengan Media PDA (Potato Dextrose Agar)”. Hasil dari penelitian

oleh Diarrukmi ini adalah efektivitas hasil pertumbuhan jamur

Aspergillus flavus pada media SDA (Sabouraud Dextrose Agar) lebih

baik daripada efektivitas hasil pertumbuhan jamur Aspergillus flavus

pada media MEA (Malt Extract Agar) dan media kontrol PDA (Potato

Dextrose Agar). Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama

membandingkan pertumbuhan jamur pada media dan sama-sama

mengukur diameter pertumbuhan jamur. Perbedaan pada penelitian ini

adalah perbedaan subjek penelitian, dimana peneliti terdahulu

menggunakan jamur Aspergillus flavus sedangkan pada penelitian ini

menggunakan jamur Aspergillus fumigatus.

2. Penelitian oleh Saputri, O. D. (2021) berjudul “Efektivitas Hasil

Pertumbuhan Jmur Candida albicans pada Media Sabouraud Dextrose

Agar (SDA) dan Malt Extract Agar (MEA) yang Dibandingkan

dengan Media Potato Dextrose Agar (PDA)”. Hasil dari penelitian

oleh Saputri ini adalah media Malt Extract Agar (MEA) adalah media

yang paling efektif digunakan untuk pertumbuhan jamur Candida

albicans. Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


7

membandingkan pertumbuhan jamur pada media dan sama-sama

mengukur diameter pertumbuhan jamur. Perbedaan pada penelitian ini

adalah perbedaan subjek penelitian, dimana peneliti terdahulu

menggunakan jamur Candida albicans sedangkan pada penelitian ini

menggunakan jamur Aspergillus fumigatus.

3. Penelitian oleh Basarang, dkk. (2018) berjudul “Perbandingan

Pertumbuhan Jamur pada Media Bekatul Dextrose Agar (BDA) dan

Potato Dextrose Agar (PDA)”. Hasil dari penelitian oleh Basarang,

dkk ini adalah pertumbuhan Aspergillus niger pada media Bekatul

Dextrose Agar lebih cepat dibandingkan pada media Potato Dextrose

Agar (p>0,05). Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama

membandingkan pertumbuha jamur pada 2 media serta sama-sama

mengukur rerata diameter pertumbuhan jamur. Perbedaan pada

penelitian ini adalah perbedaan objek penelitian terdahulu

menggunakan Media Bekatul Dextrose Agar (BDA) dan Potato

Dextrose Agar (PDA) dan menggunakan jamur Aspergillus niger dan

Candida albicans sebagai subjeknya serta dilakukan perhitungan

jumlah koloni jamur, sedangkan pada objek penelitian ini dilakukan

menggunakan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan Malt

Extract Agar (MEA) dan jamur Aspergillus fumigatus sebagai

subjeknya serta tidak dilakukan perhitungan jumlah koloni.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai