0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan7 halaman

Pembelajaran Inkuiri Tingkatkan Berpikir Kritis

Artikel ini membahas penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sosiologi. Model ini membuat siswa lebih aktif dalam menemukan dan menganalisis masalah, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur untuk membuktikan bahwa model inkuiri efektif mengembang

Diunggah oleh

lhcbbh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan7 halaman

Pembelajaran Inkuiri Tingkatkan Berpikir Kritis

Artikel ini membahas penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sosiologi. Model ini membuat siswa lebih aktif dalam menemukan dan menganalisis masalah, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur untuk membuktikan bahwa model inkuiri efektif mengembang

Diunggah oleh

lhcbbh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Meningkatkan Daya Berpikir Kritis Peserta

Didik Siswa dalam Pembelajaran Sosiologi

Dirayati Fitril

Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Padang

dirayatifitril@[Link]

Abstrak

Penelitian ini penting dilakukan untuk melihat dan mengetahui bagaimana penerapan
model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan daya berpikir kritis peserta didik dalam
pembelajaran sosiologi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan
teknik pengumpulan data seperti studi literatur yang bersumber dari jurnal, artikel ilmiah dan
referensi bacaan lainnya yang sesuai dengan topik penelitian. Penelitian ini berfokus pada
peserta didik untuk mata pelajaran sosiologi. Adanya hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa model pembelajaran inkuiri mampu membuat peserta didik lebih percaya diri,
terampil, mandiri, dan mampu bekerja sama dengan siswa lainnya. Model pembelajaran
inkuiri ini sendiri menitikberatkan pada peserta didik agar mampu menemukan dan
menggunakan berbagai sumber informasi dan mengembangkan ide-ide untuk memahami dan
menganalisis topik permasalahan yang diberikan dalam pembelajaran sosiologi. Serta peserta
didik tidak hanya berfokus pada menemukan jawaban saja, tetapi juga menganalisis
menemukan solusi untuk topik permasalahan. Sehingga peserta didik dituntut untuk lebih
aktif dan meningkatkan daya berpikir kritis.

Kata Kunci : Peserta Didik, Pembelajaran Inkuiri, Sosiologi, Terampil, Berpikir Kritis

Abstract

This research is important to see and find out how the application of the inquiry
learning model in improving students' critical thinking skills in sociology learning. This
research uses a qualitative approach with data collection techniques such as literature studies
sourced from journals, scientific articles and other reading references that are appropriate to
the research topic. This research focuses on students for sociology subjects. The results of this
study indicate that the inquiry learning model is able to make students more confident,
skilled, independent, and able to work together with other students. This inquiry learning
model itself focuses on students being able to find and use various sources of information and
develop ideas to understand and analyze the topic of problems given in sociology learning. As
well as students not only focusing on finding answers, but also analyzing finding solutions to
the topic of the problem. So that students are required to be more active and improve critical
thinking
Keywords : Students, Inquiry Learning, Sociology, Skilled, Critical Thinking

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting di kehidupan manusia karena
pendidikan adalah bagian dari penentu masa depan. Dalam dunia pendidikan indonesia masih
banyak kekurangan yang dimiliki karena kurikulum yang sangat lambat diperbaharui dan
bentuk mengajar guru yang masih sangat klasik. Pada proses belajar, guru menginginkan hasil
dari peserta didiknya agar dapat menyerap materi yang diberikan dengan baik, akan tetapi
beberapa proses yang digunakan untuk mendapatkan hasil tersebut tidak sesuai harapan.
Salah satu contohnya pada pembelajaran sosiologi yang dikenal dengan menghafal materi dan
pembelajaran satu arah yang sangat mudah membuat peserta didik jenuh. Hal tersebut
menyebabkan peserta didik cenderung pasif dan hanya menerima materi dari apa yang telah
disampaikan oleh guru tanpa mengembangkannya secara mandiri sehingga peserta didik tidak
mampu mengembangkan kemampuan berpikirnya dan hasil belajarnya menjadi rendah
(Amijaya et al., 2018).Untuk itu perlu adanya perubahan dalam proses belajar peserta didik
agar lebih efektif. Pembelajaran berpusat pada peserta didik menjadi salah satu alternatif bagi
pendidikan saat ini karena pembelajaran konvensional dirasa kurang cocok. Hal ini
disebabkan karena pembelajaran konvensional hanya berpusat pada guru (Salam, 2017).
Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik didukung dengan model pembelajaran yang
baik juga.

Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan pelaksanaan pembelajaran di


kelas yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran (Lovisia, 2018). Berbagai model pembelajaran bisa diaplikasikan melalui cara
pengkajian agar dapat meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah dan menuntut
untuk kemandirian belajar. Salah satunya model pembelajaran yang akurat dan cocok
dimanfaatkan sebagai kemandirian belajar yaitu model pembelajaran inkuiri (Sugianto et al.,
2020). Kemudian menurut (Prasetiyo & Rosy, 2020) dalam Hamdayama (2014:31) “Model
pembelajaran inkuiri yang berarti ikut serta atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-
pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan”. Model pembelajaran inkuiri
diharapkan membuat peserta didik lebih percaya diri, terampil, mandiri, dan mampu bekerja
sama dengan peserta didik lainnya. Model Pembelajaran inkuiri (MPI) adalah suatu model
pembelajaran yang dikembangkan agar siswa menemukan dan menggunakan berbagai sumber
informasi dan ide-ide untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang masalah, topik, atau
isu tertentu. Penggunaan model ini menuntut siswa untuk mampu untuk tidak hanya sekedar
menjawab pertanyaan atau mendapatkan jawaban yang benar (Wati, 2022). Sedangkan
menurut (Zain et al., 2022) dalam Lailah et al., (2021) Model pembelajaran inkuiri adalah
suatu cara yang digunakan dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik mempunyai
kemampuan untuk bertanya, memeriksa, atau menyelidiki sesuatu yang melibatkan seluruh
kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis,
analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri. Model pembelajaran inkuiri merupakan
model pembelajaran yang lebih menekankan peserta didik agar lebih aktif dalam proses
pembelajaran, dimana peserta didik dapat menemukan sendiri dan meneliti masalah sesuai
dengan fakta yang mereka temukan untuk mendapatkan data, sedangkan peran guru adalah
sebagai pembimbing dan fasilitator peserta didik dalam proses pembelajaran (Putri et al.,
2020). Intinya dalam model pembelajaran inkuiri ini adalah peserta didik lebih berperan aktif
daripada guru agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya dalam menemukan dan
menyelesaikan suatu masalah.

Adapun tahapan pembelajaran inkuiri menurut Trianto (2011: 172) yang diadaptasi
dari tahapan model pembelajaran inkuiri terbimbing Eggen dan Kauchak (1996) terdiri atas 6
fase, antara lain 1) menyajikan pertanyaan atau masalah, 2) membuat hipotesis, 3) Merancang
percobaan, 4) melakukan percobaan untuk memperoleh informasi, 5) mengumpulkan data dan
mengolah data, dan 6) membuat kesimpulan (Falahudin et al., 2016). Menurut (Putri et al.,
2020) penelitian yang dilakukan oleh Degita et al., (2019) menunjukkan bahwa model
pembelajaran inkuri berdampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Dalam temuan (Suarsana et al., 2019) Secara sederhana Duron et al., (2005) berpikir kritis
dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi.
Menurut Ennis (2011) kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir logis yang
difokuskan pada pengambilan keputusan apa yang harus dipercaya dan apa yang harus
dilakukan. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Handriani et al., (2015)
didapatkan hasil bahwa kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik dengan
model pembelajaran inkuiri terstruktur lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran
ekspositori. Dalam (Zain et al., 2022) Ramdani, et al., (2021b) mengatakan bahwa salah satu
upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik
adalah dengan pemberian masalah terbuka (open- ended problem), yaitu permasalahan-
permasalahan yang menghendaki banyak solusi dan mungkin juga banyak jawaban yang
benar. Berdasarkan semua pernyataan di atas, maka artikel ini merumuskan bagaimana
penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan daya berpikir kritis peserta didik
dalam pembelajaran sosiologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa model
pembelajaran inkuiri mampu dijadikan sebagai strategi mengembangkan kemampuan berpikir
kritis dalam pembelajaran sosiologi.

Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yaitu dengan


menggunakan studi literatur yang bersumber dari jurnal, artikel ilmiah dan referensi bacaan
lainnya yang sesuai dengan topik penelitian. Penelitian ini berfokus pada peserta didik untuk
mata pelajaran sosiologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa model
pembelajaran inkuiri mampu dijadikan sebagai strategi mengembangkan kemampuan berpikir
kritis dalam pembelajaran sosiologi.

Hasil dan Pembahasan

Model Pembelajaran Inkuiri

Model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar
mengajar. Model pembelajaran dapat menentukan tingkat efektivitas pembelajaran, aktivitas
belajar dan hasil belajar siswa. Semakin tepat pemilihan model pembelajaran diharapkan
pembelajaran akan semakin efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model
pembelajaran inkuiri berorientasi pada interaksi sosial antar individu. Model ini sebagai
upaya untuk memperbaiki masyarakat dengan memperbaiki hubungan-hubungan
interpersonal melalui prosedur demokratis (Salam, 2017). Model pembelajaran inkuri juga
dapat diartikan sebagai suatu model yang menuntun siswa dalam mengembangkan
kemampuan berpikir dan menekankan sikap ilmiah (Lovisia, 2018). Sedangkan menurut
(Prasetiyo & Rosy, 2020) model pembelajaran inkuiri adalah salah satu model pembelajaran
yang berpusat pada siswa dengan melibatkan siswa untuk terlibat langsung melakukan
inkuiri, yaitu merumuskan permasalahan, mengumpulkan data, berdiskusi, dan
berkomunikasi.

Komponen pembelajaran inkuri

1. Sintaks

Sintaks dalam KBBI adalah acuan umum berupa keseluruhan alur kegiatan
pembelajaran dalam suatu model pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Arends (dalam
Utomo, 2020, hlm. 60) bahwa sintaks merupakan keseluruhan alur atau urutan kegiatan
pembelajaran Menurut Llewellyn (dalam Detagory, Hanurawan, & Mahanal, 2017)
berpendapat bahwa sintak untuk model pembelajaran Inkuiri adalah:

a. Menyelidiki sebuah fenomena sosial dan Mengeksplorasi pengetahuan awal siswa


dengan mengungkapkan fenomena sosial tersebut.

b. Memfokuskan pada pertanyaan guru membimbing siswa untuk merumuskan


pertanyaan terkait fenomena sosial.

c. Merencanakan investigasi, guru memfasilitasi siswa dalam merancang investigasi


untuk mengumpulkan data.

d. Melaksanakan investigasi, guru memfasilitasi siswa untuk melaksanakan investigasi.

e. Menganalisis data dan bukti, guru membimbing siswa dalam menginterpretasi data
dan bukti.

f. Membangun pengetahuan baru, guru membimbing siswa untuk menghubungkan


pengetahuan baru dan awal siswa.

g. Mengomunikasikan pengetahuan baru, guru memfasilitasi diskusi hasil investigasi


dalam kelas.

Sedangkan Fauziyah (2004) berpendapat bahwa prosedur penerapan model


pembelajaran Inkuiri yaitu, sebagai berikut:

1) Orientasi

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan memberikan konsep dasar yang


diperlukan dalam pembelajaran sosiologi.

2) Merumuskan masalah

Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi dan


menentukan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab melalui kegiatan belajar.

3) Data collection

Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan mengenai topik/fenomena sosial


yang diberikan untuk menjawab pertanyaan yang telah diidentifikasi.

4) Data procession

Peserta didik berdiskusi dengan kelompoknya untuk mengolah data hasil


pengamatan.

5) Verification

Peserta didik mendiskusikan hasil pengolahan data dan memverifikasi hasil


pengolahan dengan teori dari buku.
2. Prinsip Reaksi

Menurut Joyce & Weil (1992, dalam Utomo, hlm. 66) prinsip reaksi berkaitan dengan
bagaimana cara guru memperhatikan dan memperlakukan siswa, termasuk bagaimana guru
memberikan respons terhadap pertanyaan, jawaban, tanggapan atau apa saja yang dilakukan
siswa.

Dalam model pembelajaran inkuiri, guru memberikan perhatian terhadap interaksi


antar peserta didik dan memastikan apakah pembelajaran berlangsung sudah sesuai dengan
tujuan pembelajaran sosiologi. Memberikan apresiasi positif yang timbal balik terhadap
peserta didik yang aktif dalam mengemukakan pendapat dan analisisnya mengenai suatu
permasalahan atau fenomena sosial yang diberikan. Serta merespon pertanyaan peserta didik.

3. Sistem Sosial

Menurut Joyce & Weil (dalam Utomo, hlm. 65) sistem sosial menyatakan peran dan
hubungan guru dan siswa, serta jenis-jenis norma yang dianjurkan. Dengan kata lain, sistem
sosial suatu model pembelajaran mendefinisikan apa saja yang harus diperankan guru,
bagaimana keterhubungan sosial antara siswa dengan siswa lainnya dan guru.

Misalnya, dalam model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran sosiologi, guru


berperan sebagai fasilitator dan moderator agar siswa aktif berdiskusi satu sama lain
mengenai topik permasalahan atau fenomena yang diberikan.

4. Sistem Pendukung

Sistem pendukung model pembelajaran adalah semua sarana, bahan, dan alat yang
diperlukan untuk menerapkan model pembelajaran (Joyce & Weil, 1992, dalam Utomo, 2020,
hlm. 67). Dalam pembelajaran sosiologi yang identik dengan bacaan maka sarana dan
prasarana yang dibutuhkan adalah sumber-sumber informasi seperti buku, internet
(komputer/smartphone), dan papan tulis yang memadai dikelas agar dapat menunjang
pembelajaran sosiologi. Serta dalam pembejalaran sosiologi, guru dapat menggunakan
beragam bentuk media pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan topik pembelajaran
sosiologi di hari tersebut.

5. Dampak Instruksional dan Pengiring

Menurut Joyce & Weil (1992, dalam Utomo, 2020, hlm. 68), dampak instruksional
adalah hasil belajar dicapai langsung dengan mengarahkan para peserta didik pada tujuan
yang diharapkan. Sementara itu, dampak pengiring adalah hasil belajar lainnya yang
dihasilkan oleh suatu pembelajaran sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami
langsung peserta didik tanpa pengarahan langsung dari guru.

Dalam penerapan model pembelajaran inkuiri, hasil belajar diperoleh dari penliaian
tugas dan ujian yang diberikan setelah diberikan pemahaman dan menganalisi serta
memahami topik pembelajaran sosiologi yang sedang di bahas. Dengan perolehan nilai yang
bagus sebagai dampak dari belajar dan berpikir kritis, peserta didik dapat merasa nyaman dan
bersemangat dalam memperoleh informasi-informasi dan semakin bagus dalam menyampaika
pendapat dan krtik yang membangun.
Pembahasan

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan Aliyah, Nur


Lailatul (2013) dalam“Penerapan model pembelajaran Inquiri untuk meningkatkan
keaktifan dan prestasi belajar siswa mata pelajaran Sosiologi di kelas XI IPS 3 MAN
Model Bangkalan”bahwa 3 siklus dalam enam kali pertemuan kegiatan pelaksanaan
penelitian tindakan kelas diperoleh data bahwa keaktifan dan prestasi siswa dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami kenaikan.

Menurut hasil penelitian dari (Setiawati, 2022) dalam “Meningkatkan Hasil Belajar
Sosiologi pada Materi Perubahan Sosial melalui Pembelajaran Inkuiri Sosial Siswa
Kelas XII IPS SMA 2 Negeri 1 Merangin” mengungkapkan bahwa hasil belajar siswa
dengan pokok bahasan perubahan sosial pada mata pelajaran sosiologi siswa kelas XII
IPS 2 SMA Negeri 1 Merangin selama menerapkan model pembelajaran inkuiri sosial
bidang studi dapat meningkat dan respon siswa kelas XII IPS 2 SMA Negeri 1 Merangin
terhadap penerapan model pembelajaran inkuiri sosial menunjukkan bahwa siswa senang
belajar pada pokok bahasan perubahan sosial pada mata pelajaran Sosiologi.

Selanjutnya menurut hasil penelitian (Herawat et al., 2019) “Analisis Keterampilan


Berpikir Kritis Siswa Melalui Model Inkuiri Sosial Pada Pembelajaran Sosiologi Kelas
Xii Ips Sma Negeri 1 Way Lima” bahwa indikator keterampilan berpikir kritis siswa kelas
XII IPS SMA Negeri 1 Way Lima yang dicapai pada pembelajaran sosiologi
menggunakan model inkuiri sosial memiliki kategori yang masih rendah sehingga masih
perlu upaya untuk ditingkatkan.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu mengenai penerapan model pembelajaran


inkuiri dalam meningkatkan daya pikir kritis peserta didik dalam pembelajaran sosiologi
belum sepenuhnya merata berhasil diterapkan oleh guru dan sekolah. dikarenakan tidak
semua pokok bahasan sosiologi cocok dengan model pembelajaran inkuiri, akan tetapi
pembelajaran inkuiri mampu membuat peserta didik lebih aktif dalam belajar.

Kesimpulan

Dengan adanya langkah-langkah penggunaan model pembelajaran inkuiri


diharapkan dapat membantu guru dalam proses pembelajaran di abad 21 ini dengan
pembelajaran yang berfokus pada peserta didik seperti meningkatkan daya pikir kritis,
positif dan aktif dalam belajar. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu mengenai
penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan daya pikir kritis peserta didik
dalam pembelajaran sosiologi belum sepenuhnya merata berhasil diterapkan oleh guru
dan sekolah. dikarenakan tidak semua pokok bahasan sosiologi cocok dengan model
pembelajaran inkuiri, akan tetapi pembelajaran inkuiri mampu membuat peserta didik
lebih aktif dalam belajar.

Daftar Rujukan

Aliyah, Nur Lailatul (2013) Penerapan model pembelajaran Inquiri untuk meningkatkan keaktifan dan
prestasi belajar siswa mata pelajaran Sosiologi di kelas XI IPS 3 MAN Model Bangkalan.

Amijaya, L. S., Ramdani, A., & Merta, I. W. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. Jurnal Pijar
Mipa, 13(2), 94–99. [Link]
Detagory, W. N., Hanurawan, F., & Mahanal, S. (2017). Peran Model Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing. Prosiding Seminar Nasional TEP & PDs Transformasi Pendidikan Abad 21, hlm.
926-933, Universitas Negeri Malang, Malang

Falahudin, I., Wigati, I., & Astuti, A. P. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pembelajaran Materi Pengelolaan
Lingkungan Di Smp Negeri 2 Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin. Bioilmi: Jurnal Pendidikan,
2(2), 92–101. [Link]

Fauziyah, D. (2004). Penerapan Strategi Pembelajaran Inquiry pada Mata Pelajaran Ekonomi Pokok
Bahasan Pasar. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Ekonomi, hlm 49–59, Universitas
Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Herawat, Sudjarwo, & Sinaga, R. M. (2019). Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Melalui
Model Inkuiri Sosial Pada Pembelajaran Sosiologi Kelas Xii Ips Sma Negeri 1 Way Lima. 7(1),
1–7.

Lovisia, E. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar. Science
and Physics Education Journal (SPEJ), 2(1), 1–10. [Link]

Prasetiyo, M. B., & Rosy, B. (2020). Model Pembelajaran Inkuiri Sebagai Strategi Mengembangkan
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 9(1),
109–120. [Link]

Putri, N. K. D., Negara, I. G. A. O., & Suniasih, N. W. (2020). Pengaruh Model Pembelajaran Think
Talk Write Berbantuan Mind Mapping Terhadap Kompetensi Pengetahuan Ipa. Jurnal
Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan, 4(3), 417. [Link]

Salam, R. (2017). Model Pembelajaran Inkuiri Sosial Dalam Pembelajaran Ips. HARMONY: Jurnal
Pembelajaran IPS Dan PkN, 2(1), 7–12.

Setiawati, M. (2022). Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi pada Materi Perubahan Sosial melalui
Pembelajaran Inkuiri Sosial Siswa Kelas XII IPS SMA 2 Negeri 1 Merangin. FOKUS : Jurnal
Pendidikan STKIP YPM Bangko, 2(1), 32–36.
[Link]

Suarsana, I. N., Suharsono, N., & Warpala, i W. S. (2019). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing Berbasis. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran IPA Indonesia, 9(1), 34–42.

Sugianto, I., Suryandari, S., & Age, L. D. (2020). Efektivitas Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap
Kemandirian Belajar Siswa Di Rumah. Jurnal Inovasi Penelitian, 1(3), 159–170.
[Link]

Wati, U. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Stad Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil
Belajar Siswa. Jurnal [Link], 9(2), 76–82.
[Link]

Zain, U. N. I., Affandi, L. H., & Oktaviyanti, I. (2022). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran IPS. Journal Of
Classroom Action Research, 4(2), 71–74. [Link]

Anda mungkin juga menyukai