100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
12 tayangan19 halaman

Panduan Medis Sectio Caesarea dan PEB

Laporan ini membahas konsep dasar post partum sectio caesarea atas indikasi preeklampsia berat kehamilan (PEB). PEB ditandai dengan tekanan darah tinggi dan gangguan organ lain yang menjadi indikasi persalinan dengan sectio caesarea. Perawatan pasca persalinan sangat penting untuk mencegah komplikasi dan memulihkan kondisi ibu serta mengembangkan kesehatan ibu dan bayi.

Diunggah oleh

Wulan Septa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
12 tayangan19 halaman

Panduan Medis Sectio Caesarea dan PEB

Laporan ini membahas konsep dasar post partum sectio caesarea atas indikasi preeklampsia berat kehamilan (PEB). PEB ditandai dengan tekanan darah tinggi dan gangguan organ lain yang menjadi indikasi persalinan dengan sectio caesarea. Perawatan pasca persalinan sangat penting untuk mencegah komplikasi dan memulihkan kondisi ibu serta mengembangkan kesehatan ibu dan bayi.

Diunggah oleh

Wulan Septa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN PEB POST SECTIO CAESARIA


MATERNITAS

OLEH: WULAN SEPTA ANJAR RAHAYU,[Link]


NIM : 23101171

PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS dr. SOEBANDI JEMBER
2024
KONSEP DASAR SECTIO CAESAREA

1. Definisi

Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan diatas
500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Cunningham FG, 2015)
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui
suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Nurarif, A.H, 2015)
Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut (Israr YA, 2016)
Jadi, sectio caesaria adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mengeluarkan
janin dengan cara melakukan insisi pada dinding uterus depan perut.

2. Jenis – Jenis Operasi Sectio Caesaria


Terdapat 2 jenis oepras sectio caesaria yaitu

a. Sectio Caesarea Abdomen Sectio caesarea transperitonealis


b. Sectio Caesarea Vaginalis

Menurut arah sayatan rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Sayatan memanjang (longitudinal) menurut koring

2) Sayatan melintang (tranversal) menurut kerr

3) Sayatan huruf T (T-incision)

c. Sectio Caesarea Klasik (Corporal)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira


sepanjang 10 cm, tetapi saat ini teknik ini jarang dilakukan karena memilki
banyak kekurangan namun pada kasus ini dapat dipertimbangkan.

d. Sectio Caesarea Ismika (Profunda)

Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah


rahim (low cervical tranfersal) kira-kira sepanjang 10 cm. (SDKI, 2016)
3. Etiologi

a. Etiologi beasal dari ibu

Yaitu pada primigravidarum dengan kelainan letak, primi para tua disertai kelainan
letak ada, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin/panggul), ada sejarah kehamilan
dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, plasenta previa terutama pada
primigravida, solusio plasenta tingkat I-II, komplikasi kehamilan yaitu preeklampsia-
eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang disertai penyakit (jantung, DM), gangguan
perjalanan persalinan (kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya.

b. Etiologi yang berasal dari janin

Fetal distress / gawat janin mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin,
prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau forseps
ekstraksi (SDKI, 2016).

4. Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi klinis terdiri dari:
a. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
b. Panggul sempit
c. Disporsi sefalopelvik yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan ukuran
panggul
d. Rupture uteri mengancam
e. Partus lama (prolonged labor)
f. Partus tak maju (obstructed labor)
g. Distosia serviks
h. Preeklampsia dan hipertensi
i. Malpresentasi janin
1) Letak lintang
2) Letak bokong
j. Presentasi dahi dan muka (letak defleksi)
k. Presentasi rangkap jika reposisi tidak berhasil
l. Gemeli (SDKI, 2016)

3. Penatalaksaan (Medis/Keperawatan)
a. Medis
1) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
- Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
- Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
- Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
3 Obat – obat lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit. C
4) Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi
hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa
diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah
tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah
sesuai kebutuhan.
b. Keperawatan
1) Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi,
berupa air putih dan air teh.
2) Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap :
- Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
- Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini
mungkin setelah sadar
- Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta
untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
- Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
- Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk
selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3
sampai hari ke5 pasca operasi.
3) Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita.
4) Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah
harus dibuka dan diganti
5) Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah,
nadi,dan pernafasan. (Manuaba, 1999)
6) Edukasi
- Gurita/korset dipakai selama 3 bulan.
- Boleh hamil setelah 2-3 tahun.
- Coitus boleh dilakukan pada post operasi setelah 8 minggu.
- Jika section caesaria dilakukan karena panggul sempit maka persalinan berikutnya
section caesaria lagi. (Prawirohardjo,S, 2017)

4. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra
operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit (Prawirohardjo,S, 2017)

5. Komplikasi
a. Pada ibu
1) Komplikasi Periferal.
Komplikasi yang bersifat ringan seperti peningkatan suhu tubuh dan bias bersifat
peritonitis dan sepsis.
2) Perdarahan.
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang uteri
ikut terpotong atau karena atonia uteri.
3) Komplikasi lain seperti luka pada blass, embolisme paru dan lain-lain.
4) Kurang kuatnya parut dinding uterus sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptur uteri.
b. Pada anak
Seperti ibunya. nasib anak yang dilahirkan dengan section caesaria banyak
tergantung pada keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesaria.
KONSEP DASAP PEB

A. Post Partum Sectio Caesarea Atas Indikasi PEB


Menurut Departemen Kesehatan RI (dalam Siska, 2015) “post partum adalah masa
setelah persalinan terhitung dari setelah proses persalinan sampai pulihnya kembali
kandungan ke keadaan sebelum hamil dan lamanya post partum kurun waktu kurang
lebih 6 minggu”. Periode post partum merupakan kondisi krisis bagi ibu dan keluarga
akibat berbagai perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikologis, maupun keluarga
yang memerlukan proses adaptasi. Adaptasi secara fisik dimulai sejak bayi dilahirkan
hingga kembalinya kondisi ibu seperti sebelum hamil, yaitu 6 sampai 8 minggu
(Fatmawati, 2015).
Persalinan dilakukan dengan dua acara yaitu persalinan normal atau spontan (lahir
melalui vagina) dan persalinan abnormal atau persalinan dengan bantuan prosedure
yaitu Sectio Caesarea. Proses sectio caesarea dilakukan tindakan pembedahan, berupa
irisan diperut ibu (laparotomi) dan rahim (histerektomi) untuk mengeluarkan bayi
(Anwar, Astuti, & Bangsawan, 2018). Aprina dan Putri (2016) mengatakan bahwa
“preeklampsia berat kehamilan memiliki indikasi ibu hamil untuk dilakukan tindakan
persalinan sectio caesarea. Ketika dalam keadaan darurat ibu hamil dengan PEB wajib
dilakukan persalinan dengan tindakan sectio caesarea”.
Preeklampsia berat (PEB) ditandai dengan adanya tekanan darah sistol ≥ 160
mmHg atau tekanan darah diasistol ≥ 110, fungsi hati terganggu, gagal ginjal progresif,
edema paru, gangguan otak dan penglihatan (Wardana, Valentina, & Aldezzia Pratama,
2019). Persentase ibu bersalin yang mengalami PEB awitan dini lebih besar
dibandingkan yang mengalami awitan lambat (Widya, Wittiarika, & Akbar, 2021).
Masalah preeklampsia tidak hanya berdampak bagi ibu hamil dan melahirkan,
namun juga timbul masalah pasca persalinan akibat disfungsi endotel dalam berbagai
organ. Akibat jangka panjang pada bayi yang lahir dengan preeklampsia, bayi akan lahir
prematur sehingga berdampak pada organ pertumbuhan bayi. Hingga masa ini penyebab
dari preeklampsia belum diketahui secara pasti, namun faktor resiko yang menjadi dasar
kemajuan kasus preeklampsia diantaranya yaitu usia, primigravida, multigravida, jarak
antar kehamilan, janin besar dan kehamilan dengan janin lebih dari satu (POGI, 2016).
Perawatan nifas merupakan komponen penting dalam pencegahan dan mendiagnosis
komplikasi pada periode ini, kembali dengan cepat ke status normal, mendorong
pemberian ASI dan berkonsultasi mengenai keluarga berencana untuk mengembangkan
kesehatan ibu dan bayi. (Rahmadhani, 2020). Perawatan wanita pada masa nifas
menjadi lebih efisien dengan diperbolehkan ambulasi dini. Pemeriksaan secara teratur
pada suhu tubuh dengan denyut nadi. Inspeksi perineum dilakukan setiap hari untuk
mengamati derajat edema dan keadaan jahitan. Pengamatan lokia dan memeriksa tinggi
fundus diatas simfisis pubis setiap hari. Kontraksi uterus berlangsung setelah bayi lahir.

B. Tujuan Asuhan Keperawatan pada Sectio Caesarea Atas Indikasi PEB

1. Menurut Padila (dalam Siska, 2019) “mencegah hemoragi”

2. Menurut Padila (dalam Siska, 2019) “memberikan kenyamanan fisik nutrisi,


hidrasi, keamanan dan eliminasi”
3. Menurut Marni (dalam Siska, 2019) “memberikan pendidikan kesehatan
mengenai perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, manfaat menyusui, dan
pemberian imunisasi bahkan perawatan bayi”

C. Adaptasi Fisiologis dan Psikologis Post Partum

1. Adaptasi fisiologis post op sectio caesarea

Adaptasi fisologis proses penyembuhan sistem reproduksi masa partum (involusi)


merupakan hal yang perlu diperhatikan bagi ibu setelah melahirkan karena proses
ini dipantau bagi tenaga kesehatan sebagai proses fisiologi kembalinya uterus
seperti sebelum hamil (Rusniati & Halimatussakdiah, 2017). Adaptasi fisiologis
yang dialami ibu post partum menurut responden antara lain (Asmuji. & Diyan,
2016):
a. Perut yang sebelumya besar menjadi kecil

b. Rasa nyeri yang dialami menjadi berkurang

c. Payudara menjadi besar


d. Kaki bengkak karena aliran darah tidak lancer

e. Rambut menjadi rontok

f. Pembuluh darah di kaki menjadi lebih tampak

g. Badan menjadi bertambah gemuk

h. Payudara terdapat garis-garis putih dan kehitaman

i. Merasa mudah lelah

j. Kulit perut terdapat stretch matc


2. Adaptasi psikologis post up sectio caesarea

Post partum merupakan masa penyembuhan dari kelahiran plasenta dan selaput
janin (menandakan akhir periode intra partum) sampai kembalinya alat
reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil. Adaptasi psikologis pada ibu post
partum dapat dialami pada ibu dengan post partum sectio caesarea. Ibu post
partum menjalani adaptasi melalui fase sebagai berikut (Taviyanda, 2019) :
a. Fase Taking In

Periode ketergantungan berlangsung pada hari ke 1-2 setelah melahirkan,


pada saat itu fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri.

b. Fase Taking Hold

Fase ini berlangsung selama 3-10 hari setelah melahirkan, ibu merasa
khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan
bayi, ibu menjadi mudah tersinggung dan sensitive.

c. Fase Letting Go

Fase ini berlangsung untuk menerima tanggung jawab akan peran selama 10
hari, setelah melahirkan, dan sudah beradaptasi dengan bayinya.

(Taviyanda, 2019)

D. Konsep Asuhan Keperawatan


Konsep asuhan keperawatan merupakan proses atau serangkaian kegiatan praktik
keperawatan dilakukan langsung ke klien di bagian prosedur pelayanan kesehatan yang
pelaksanaannya berdasarkan kaidah profesi keperawatan.
[Link]
Pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan, perlu ketelitian dan
kecermatan masalah-masalah klien sehingga memberikan arahan dalam tindakan
keperawatan.
a. Anamnesa
Identitas klien, meliputi: Inisial nama, TTL, Usia, Pendidikan terakhir, Suku,
Pekerjaan, Agama, dan Alamat tempat tinggal
b. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan keluhan yang ditanyakan untuk mengetahui alasan klien
datang. Menggunakan metode PQRST untuk pendekatan perawat, biasanya pada
kasus post sc dengan preeklampsia berat, klien merasakan keluhan seperti nyeri
bekas luka post sc.
c. Data Riwayat Kesehatan
1). Riwayat Kesehatan yang sekarang
Pasien mengalami nyeri di bagian abdomen pada luka post caesarea, terasa
hilang timbul dan nyeri seperti disayat-sayat semakin nyeri saat melakukan
aktivitas.
2). Riwayat Kesehatan yang lalu
Pasien mengalami hipertensi semenjak kehamilan ke-2 pada usia kehamilan
3 bulan dan mengalami obesitas karena selama kehamian berat badan klien
bertambah 20 kg sehingga berat badan klien menjadi 100kg.
3). Riwayat Kesehatan genetic
Preeklampsia pada kehamilan sangat sering terjadi pada klien
primigradiva/kehamilan pertama, kehamilan ganda, serta semakin tuanya
usia kehamilan.
4). Psikososial spiritual

Preeklampsia juga membuat klien emosi yang tidak stabil dapat


menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moral untuk
menghadapi resikonya
5). Riwayat perkawinan

Status persalinan, jumlah perkawinan

6). Riwayat menstruasi

Menarche umur, siklus menstruasi, lama menstruasi, keluhan yang


dirasakan selama menstruasi dan mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir
(HPHT)
7). Riwayat kelahiran

Riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat persalinan sebelumnya,


komplikasi pada masa nifas dan jumlah anak
8). Riwayat Keluarga Berencana (KB)
Jenis KB yang digunakan serta masa penggunaan KB

d. First Level Assesment adaptasi Callista Roy atau Holistic Adaptif System
1) Pengkajian fungsi fisiologis

Pengkajian berhubungan dengan struktur dan fungsi tubuh,


mengidentifikasi sembilan kebutuhan dasar fisiologis yang harus dipenuhi
untuk mempertahankan integritas,terdiri dari 5 kebutuhan fisiologis dasar
dan 4 kebutuhan fisiologi kompleks. Terdiri dari oksigenasi, nutrisi,
eliminasi, aktivitas dan istirahat, keamanan, sensori, cairan dan elektrolit,
fungsi neurologis, fungsi endokrin.
2) Pengkajian konsep diri

Pengakajian difokuskan pada bagaimana penerimaan pasien terhadap


penyakit, terapi yang dijalani, harapan pasien dan penatalaksanaan
selanjutnya serta nilai yang diyakini terkait dengan penyakit dan terapinya.
3) Pengkajian fungsi peran

Konsep diri pasien yaitu dampak penyakit, ideal diri, moral, etik dan
spiritual pasien.
4) Pengkajian interdependensi

Pengkajian yang menggambarkan tentang ketergantungan atau hubungan


pasien dengan orang terdekat, siapakah orang yang paling bermakna dalam
kehidupannya.
e. Pemeriksaan Fisik (Head to toe)

1. Keadaan Umum: Pada pasien yang menderita preeklampsia biasanya


mengalami kelelahan, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital, berat badan,
tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA)
2. Tekanan Darah : Pasien ditemukan dengan darah sistol > 140 mmHg dan
diastol > 90 mmHg
3. Nadi : Klien preeklampsia mengalami nadi yang meningkat

4. Nafas : Klien preeklampsia mengalami nafas pendek

5. Suhu : Klien preeklampsia biasanya suhu normal

6. Berat Badan : terjadi peningkatan berat badan lebih dari 1 kg/minggu atau
sebanyak 3 kg/bulan
7. Kepala : Kepala terlihat bersih dan klien mengalami preeklampsia
mengeluh sakit kepala
8. Mata : Pandangan klien masih normal tidak kabur

9. Mulut : Klien yang preeklampsia mukosa bibirnya lembab dan mulut


terjadi pembengkakan vaskuler pada gusi sehingga bisa mengalami
pembengkakan dan perdarahan

10. Thorax

a. Paru -paru: Klien preeklampsia terjadi peningkatan respirasi, nafas


pendek, dan edema paru

b. Jantung : Klien preeklampsia mengalami dekompensasi jantung


11. Payudara : Payudara membesar, lebih keras dan padat, areola
menghitam dan puting menonjol
12. Abdomen : terdapat jahitan sectio caesarea, involusi uterus pada
persalinan dengan SC (Marmi, 2016)
13. Pemeriksaan janin: Klien preeklampsia gerakan janin melemah dan
tidak teraturnya bunyi jantung
14. Ekstermitas : Edema jari dan tungkai merupakan gejala dari PEB
(Manuaba, 2016)
15. Genitourinaria : Jumlah produksi urine  500 cc/24 jam merupakan
tanda PEB
f. Data Penunjang

Uji laboratorium dilakukan pada periode post partum, untuk mengetahui nilai
hemoglobin dan hematokrit untuk mengkaji kehilangan darah saat
melahirkan. Pemeriksaan urin untuk dilakukan urinalisasi rutin.
1. Urine : protein urine pada PEB bersifat (+), kadarprotein urine

> 5 gr/jam atau +2 pada pemeriksaan [Link] (500cc/24jam


) merupakan tanda PEB

2. Darah : trombositpeni berat : <100.000 sel/mm merupakan tanda


sindroma HELLP. Terjadi peningkatan hematocrit

2. Diagnosa keperawatan yang muncul

Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) mengatakan bahwa diagnosa keperawatan
merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah
kesehatan yang dialaminya baik berlangsung aktual maupun potensial.
Diagnosa keperawatan menurut teori adaptasi Roy diperoleh dari pengkajian
yang menggunakan 4 model adaptif, yaitu fisiologis, konsep diri, fungsi peran
dan interdependen (Pardede, 2018). Marliana dan Hani (2017) dan Tim Pokja
SDKI DPP PPNI (2017) diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus post sc
dengan indikasi PEB yaitu:

a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (D.0077)


b. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi perfusi (D.0003)
c. Menyusui tidak efektif b.d payudara bengkak (D.0029)

d. Gangguan eliminasi urine b.d penurunan kapasitas kandung kemih


(D.0040)
e. Resiko infeksi d.d efek prosedur invasive (D.0142)
f. Intoleransi aktivitas b.d tirah baring (D.0056)

g. Defisit perawatan diri b.d luka post sc (D.0109)

3. Rencana Intervensi

Intervensi keperawatan merupakan segala treatment yang dikerjakan perawat


yang didasarkan pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai outcome yang
diharapkan (SIKI DPP PPNI, 2018). SIKI DPP PPNI (2018) mengemukakan
bahwa tindakan keperawatan merupakan aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh
perawat untuk mengimlementasikan intervensi keperawatan. Penerapan luaran
keperawatan dengan menggunakan tiga komponen luaran keperawatan yaitu
label, ekspetasi, dan kriteria hasil (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (D.0077)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang


ditetapkan diharapkan nyeri yang dirasakan klien berkurang Kriteria Hasil :
1) Keluhan nyeri menurun

2) Meringis menurun

3) Gelisah menurun

4) Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi : manajemen nyeri (I.08238)

Observasi
1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
intensitas nyeri
Rasional : untuk mengetahui status nyeri yang dirasakan
2) Identifikasi skala nyeri

Rasional : untuk mengetahui tingkat keparahan nyeri

3) Identifikasi respons nyeri non verbal

Rasional : untuk mengetahui tanda gejala nyeri secara non verbal


Terapeutik

1) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal


terapi musik, kompres hangat, teknik relaksasi)
Rasional : dapat mengurangi tingkat nyeri yang dirasakan

2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (misal suhu ruangan,


pencahayaan, kebisingan)
Rasional : lingkungan yang nyaman dapat mencegah keparahan nyeri
Edukasi

1) Jelaskan strategi meredakan nyeri

Rasional : menambah wawasan dalam mengatasi nyeri

2) Ajarkan teknik non farmakologis dapat menurunkan rasa nyeri


Rasional : teknik non farmakologis dapat menurunkan rasa nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
Rasional : analgetik dapat menurunkan kadar nyeri dalam jaringan
b. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi perfusi (D.0003)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang
ditetapkan diharapkan pertukaran gas meningkat
Kriteria hasil :
1) Pasien melaporkan keluhan sesak berkurang

2) Tidak terdengar bunyi nafas tambahan

3) Tanda-tanda vital dalam batas normal Intervensi :


pemantauan respirasi (I.01014)

Observasi
1) Identifikasi adanya kelelahan otot bantu nafas

2). Identifikasi efek perubahan posisi terhadap status pernafasan


2) Monitor status respirasi dan oksigenasi
Terapeutik
1) Pertahankan kepatenan jalan nafas

2) Berikan posisi semi fowler

3) Fasilitasi mengubah posisi senyamanmungkin

4) Berikan oksigen sesuai kebutuhan

Edukasi
1) Ajarkan melakukan teknik relaksasi nafas dalam

2) Ajarkan mengubah posisi secara mandiri Kolaborasi


Kolaborasi penentuan dosis oksigen

c. Menyusui tidak efektif b.d payudara bengkak (D.0029)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang


ditetapkan diharapkan status menyusui membaik.
Kriteria hasil :

1) Perlekatan bayi pada payudara ibu meningkat

2) Kemampuan ibu memposisikan bayi dengan benar meningkat

3) Pancaran ASI meningkat

4) Suplai ASI adekuat meningkat

5) Pasien melaporkan payudara tidak bengkak

Intervensi : edukasi menyusui (I.12393)

Observasi
1) Identifikasi permasalahan yang ibu alami selama proses menyusui
2) Identifikasi keinginan dan tujuan menyusui

3) Identifikasi keadaan emosional ibu saat akan dilakukan konseling


menyusui
Terapeutik

1) Gunakan teknik mendengar aktif

2) Berikan pujian terhadap perilaku ibu yang benar

Edukasi
1) Ajarkan teknik menyusui yang tepat sesuai kebutuhan ibu
d. Intoleransi aktivitas b.d tirah baring (D.0056)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang


ditetapkan diharapkan pasien dapat meningkatkan dalam aktivitas fisik
Kriteria hasil :

1) Aktivitas fisik meningkat

2) Kekuatan tubuh bagian bawah meningkat

3) Jarak jalan meningkat

4) Keluhan lelah menurun

Intervensi : manajemen energi (I.05178)


1) Monitor kemampuan pasien untuk perawatan untuk perawatan diri
yang mandiri
2) Damping dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
3) Fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan
diri
e. Defisit perawatan diri b.d luka post sc (D.0109)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang


ditetapkan diharapkan masalah perawatan diri teratasi Kriteria hasil :
1) Pasien dapat menjaga personal hygiene dan kekuatan tubuh pasien
kembali normal
Intervensi : dukungan perawatan diri (I.11348)
2) Pantau tingkat kemampuan diri dalam perawatan diri
Rasional : mengetahui kemampuan pasien dalam personal
hygiene
3) Motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap
Rasional : mengajarkan pasien untuk memenuhi secara mandiri
4) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
Rasional : keluarga merupakan orang terdekat penting dan tepat
untuk kenyamanan dan membuat pasien merasa lebih diperhatikan
5) Ajarkan pasien latihan bertahap

Rasional : dapat meningkatkan kemampuan pasien


E. Implementasi

Implementasi merupakan pengelolaan dari rencana keperawatan yang disusun pada


tahap perencanaan. Perawat harus mempunyai kemampuan kognitif intelektual,
kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan keterampilan dalam melakukan
tindakan. Proses pelaksanaan implementasi berpusat kepada kebutuhan pasien ,
strategi implementasi keperawatan dan kegiatan komunikasi (Sari, 2019).

F. Evaluasi

Evaluasi mengacu kepada penilaian, tahapan dan perbaikan. Bagaimana reaksi klien
terhadap intervensi yang telah diberikan dan menetapkan apa yang menjadi
petunjuk dari rencana rencana keperawatan dapat diterima. Evaluasi mempunyai
dua komponen yaitu formatif dan sumatif. Evaluasi mengacu pada tujuan dan
kriteria hasil. Disusun menggunakan SOAP yaitu :
S : Ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara objektif oleh
pasien setelah diberikan implementasi keperawatan
O: Keadaan objektif yang perawat menggunakan pengamatan yang objektif
A: analisis perawat setelah mengetahui respon subjekn dan objektif apakah
masalah telah teratasi, teratasi sebagian atau belum teratasi
P: Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis
G. Patologisways

A. Patologisways

Kehamilan dengan PEB

Faktor Imonologi Etiologi PEB


Tekanan Darah 
1. Riwayat hipertensi
2. Riwayat kencing
manis
3. Kelainan ginjal
4. Obesitas

Sectio Caesarea

Post Sectio Caesarea

Efek Anestesi Luka Post Operasi

Kelemahan Otot Jaringan Terputus

Mobilitas Fisik  Nyeri Akut

Aktivitas Fisik 
Defisit Perawatan
Diri

Intoleransi
Aktivitas

Skema 2.1. Patologisways Sectio Caesarea


Sumber : (Fatmawati dan Fauziah, 2018)
(Warsono, Fahmi, dan Iriantono 2019)
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Mutia, Titi Astuti, and Merah Bangsawan. 2018. “Pengaruh Aromaterapi
Lavender Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien Paska Operasi Sectio
Caesarea.” Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik 14 (1): 84.
[Link]
Aprina, and Anita Putri. 2016. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Persalinan Sectio Caesarea Di Rsud Dr. H Abdul Moeloek.” Jurnal
Kesehatan 7 (1): 90–96. [Link]
Asmuji., and Indriyani. Diyan. 2014. “Model Edukasi Postnatal Melalui
Pendekatan FCMC.” Keperawatan 5 (2): 128–41.
[Link]
Dwi Palupi dan Rachmah Indawati, Dhora, Fakultas C Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga Jl Mulyorejo Kampus Unair Surabaya, Alamat
Korespondensi, and Dhora Dwi Palupi. 2017. “Faktor Risiko Kematian Ibu
Dengan Preeklampsia/Eklampsia Dan Perdarahan Di Provinsi Jawa Timur.”
Jurnal Biometrika Dan Kependudukan 3 (2): 107–13.
Fatmawati. 2015. “Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Post
Partum Blues.” Jurnal EduHealth 5 (2): 82–157.
Fatmawati, Rizka, and Falih Fauziah. 2018. “Lavender Aromatherapy
Effectiveness.” Maternal II (3): 199–205.
Hoga, Dian, Grasiana Florida Boa, and Uly Agustine. 2022. “3 1,2,3.” Jurnal
Keperawatan Sumba 1: 8–14.
Machmudah. 2015. “Penerapan Model Konsep Need for Help Dan Self Care Pada
Asuhan Keperawatan Ibu Pre Eklampsia Berat Dengan Terminasi
Kehamilan.” Jurnal Keperawatan Maternitas 3 (1): 16–26.
Mandasari, Pera. 2020. “Hubungan Kehamilan Lewat Waktu Dan Preeklampsia
Berat (PEB) Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum.” Citra Delima : Jurnal
Ilmiah STIKES Citra Delima Bangka Belitung 4 (1): 36–40.
[Link]
National, Gross, and Happiness Pillars. 2019. “Pre-Eklampsia Berat Pada
Multigravida Preterm Dengan Obesitas.”
Pardede, Jek Amidos. 2018. “Teori Dan Model Adaptasi Sister Calista Roy :
Pendekatan Keperawatan.” Jurnal Ilmiah Kesehatan 10 (1): 96–105.
POGI. 2016. “PNPK Diagnosis Dan Tatalaksana Preeklampsia,” 1–48.
Rahayu, Dwi, and Yunarsih Yunarsih. 2019. “Mobilisasi Dini Pada Ibu Post Op
Sectio Caesarea.” Jurnal Keperawatan 11 (2): 111–18.
[Link]
Rahmadhani, Wulan. 2020. “Knowledge Of Post Partum Mothers on Post
PARTUM Care In.” Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan 16 (1): 18–43.
[Link]
Retno, Widya, Ivon Diah Wittiarika, and Muhammad Aldika Akbar. 2021. “The
Relationship Beetween The Onset Of Severe Preeclampsia and Perinatal
Complications at Rumkital Dr. Ramelan In Surabaya.” Indonesian Midwifery
and Health Sciences Journal 5 (2): 139–51.
[Link]
Retno, Winarti, Setyowati, and Budiati Tri. 2018. “Aplikasi Model Needfor
Helpwiedenbach Pada Ibu Dengan Perdarahan Post Partum.” Jurnal Ilmiah
Keperawatan Altruistik 1: 31–40.
Rusniati, and Halimatussakdiah. 2017. “Nursing Implementation Post Partum and
Physiology Adaptation On Mother Post Partum in General Hospital Aceh.”
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan 2 (4): 1–5.
Sari, Khofifah Juniar. 2019. “Pedoman Dalam Melaksanakan Implementasi
Keperawatan.” Keperawatan.
Septiwi, Cahyu, and Wahyu Rizal Setiaji. 2020. “Penerapan Model Adaptasi Roy
Pada Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Penyakit Ginjal Kronis.” Jurnal
Ilmiah Kesehatan Keperawatan 16 (2): 101.
[Link]
Siska, S. 2019. “Kajian Teori,” no. 2009: 7–43.
Taviyanda, Dian. 2019. “Adaptasi Psikologis Pada Ibu Post Partum Primigravida
(Fase Taking Hold) Sectio Caesarea Dan Partus Normal.” Jurnal Penelitian
Keperawatan 5 (1): 1–87. [Link]
Wahyuni, S, and A Rahmawati. 2018. “Analisis Faktor Yang Mempengaruhi
Kejadian Pre Eklampsia Pada Kehamilan Di Rsi Sultan Agung Semarang.”
Jurnal Keperawatan Intan … 6 (1): 12–21. [Link]
[Link]/[Link]/insada/article/view/86.
Wardana, Chakra, Jesslyn Valentina, and Henry Aldezzia Pratama. 2019. “77
INational Symposium And Workshop Continuing Medical Education XIII
„Call for Paper-Maternity‟ PRE-EKLAMPSIA BERAT PADA
MULTIGRAVIDA PRETERM DENGAN OBESITAS DERAJAT I DAN
INSUFISIENSI RENAL.” Surakarta.
Warsono, Warsono, Faradisa Yuanita Fahmi, and Galuh Iriantono. 2019.
“Pengaruh Pemberian Teknik Relaksasi Benson Terhadap Intensitas Nyeri
Pasien Post Sectio Caesarea Di RS PKU Muhammadiyah Cepu.” Jurnal Ilmu
Keperawatan Medikal Bedah 2 (1): 44.
[Link]
Wulandari, C & Wahyuni, S. 2018. “Efektivitas Pelvic Rocking Rocking Exercise
Pada Ibu Bersalin Kala I Terhadap Kemajuan Persalinan Dan Lama
Persalinan” 7 (9): 8–9.

Anda mungkin juga menyukai