RKS Pembangunan Ruang UKS SMKS Nurul Iman
RKS Pembangunan Ruang UKS SMKS Nurul Iman
Program :
Program Pengelolaan Pendidikan
Kegiatan :
Pengelolaan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan
Pekerjaan :
PEMBANGUNAN RUANG UKS
SMKS NURUL IMAN SEBATIK TIMUR (DAK FISIK)
Lokasi :
Kabupaten Nunukan
Kalimantan Utara
Sumber Dana :
DAK FISIK
Tahun Anggaran 2023
Halaman 0
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
BAB I
PEKERJAAN STRUKTUR
PASAL 1
NAMA KEGIATAN
PASAL 2
SYARAT-SYARAT UMUM
2.1 UMUM
RKS Teknis ini bertujuan untuk melengkapi Outline Specification sebelumnya. Agar dapat memahami
dengan sebaik-baiknya seluruh seluk beluk pekerjaan ini, Kontraktor diwajibkan mempelajari secara
seksama seluruh gambar pelaksanaan beserta uraian Pekerjaan dan Persyaratan Pelaksanaan seperti
yang akan diuraikan di dalam buku ini. Bila terdapat ketidakjelasan dan/atau perbedaan dalam
gambar dan uraian ini, Kontraktor diwajibkan melaporkan hal tersebut kepada Perencana/Pengawas
untuk mendapatkan penyelesaian.
Halaman 1
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
2.4.2 Semua ukuran yang tertera dalam gambar adalah ukuran jadi, dalam keadaan selesai/terpasang.
2.4.3 Mengingat masalah ukuran ini sangat penting, Kontraktor diwajibkan memperhatikan dan
meneliti terlebih dahulu semua ukuran yang tercantum seperti peil-peil, ketinggian, lebar
ketebalan, luas penampang dan lain-lainnya sebelum memulai pekerjaan.
Bila ada keraguan mengenai ukuran mana yang akan dipakai dan dijadikan pegangan Kontraktor
wajib merundingkan terlebih dahulu dengan Perencana.
2.4.4 Kontraktor tidak dibenarkan merubah dan atau mengganti ukuran-ukuran yang tercantum di
dalam gambar pelaksanaan tanpa sepengetahuan Perencana atau Pengawas. Bila hal tersebut
terjadi, segala akibat yang akan ada menjadi tanggung jawab Kontraktor baik dari segi biaya
maupun waktu.
2.4.5 Kontraktor harus menyediakan dengan lengkap masing-masing dua salinan, segala gambar-
gambar, spesifikasi teknis, agenda, berita-berita perubahan dan gambar-gambar pelaksanaan
yang telah disetujui di tempat pekerjaan.
2.4.6 Dokumen-dokumen ini harus dapat dilihat Konsultan Pengawas Konstruksi dan Direksi setiap
saat sampai dengan serah terima kesatu. Setelah serah terima kesatu, dokumen-dokumen tersebut
akan didokumentasikan oleh Pemberi Tugas.
2.5.9 Gambar-gambar pelaksanaan atau contoh-contoh material harus dikirimkan Kontraktor kepada
Konsultan Pengawas dalam 3 (tiga) set, masing-masing 1 (satu) set asli dan 2 (dua) set
salinan. Konsultan Pengawas akan mencantumkan tanda-tanda "Telah Diperiksa Tanpa
Perubahan" atau " Telah “Diperiksa Dengan Perubahahan" atau "Ditolak". Satu salinan ditahan oleh
Konsultan Pengawas untuk arsip, satu salinan untuk Konsultan Perencana, sedangkan yang ketiga
dikembalikan kepada Kontraktor yang bersangkutan.
2.5.10 Sebutan katalog atau barang cetakan, hanya boleh diserahkan apabila menurut Konsultan
Pengawas hal-hal yang sudah ditentukan dalam katalog atau barang cetakan tersebut sudah jelas
dan tidak perlu dirubah. Barang cetakan ini juga harus diserahkan dalam tiga rangkap untuk
masing-masing jenis dan diperlukan sama seperti butir di atas.
2.5.11 Contoh-contoh material yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknis harus dikirimkan kepada
Konsultan Pengawas.
2.5.12 Biaya pengiriman gambar-gambar pelaksanaan, contoh-contoh material, katalog-katalog kepada
Konsultan Pengawas dan Perencana menjadi tanggungan Kontraktor.
2.8.3 Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampiri dengan tanda bukti / sertifikat pengujian
dan spesifikasi teknis dari barang-barang/material-material tersebut.
2.8.4 Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site (melalui pemesanan), maka
Kontraktor diwajibkan menyerahkan Brochure, katalogue, gambar kerja atau
shop drawing, konster dan sample, yang dianggap perlu oleh Perencana/Pengawas dan
harus mendapatkan persetujuan Perencana.
2.9 SUBSTITUSI
2.9.1 Produk yang disebutkan nama pabriknya :
Material, peralatan, perkakas, aksesoris yang disebutkan nama pabriknya dalam RKS,
Kontraktor harus melengkapi produk yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknis, atau dapat
mengajukan produk pengganti yang setara, disertai data-data yang lengkap untuk
mendapatkan persetujuan Konsultan Perencana sebelum pemesanan.
2.9.2 Produk yang tidak disebutkan nama pabriknya :
Material, peralatan, perkakas, aksesoris dan produk-produk yang tidak disebutkan nama
pabriknya di dalam Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus mengajukan secara tertulis nama negara
dari pabrik yang menghasilkannya, katalog dan selanjutnya menguraikan data yang
menunjukkan secara benar bahwa produk-produk yang dipergunakan adalah sesuai dengan
Spesifikasi Teknis dan kondisi proyek untuk mendapatkan persetujuan dari Pemilik /Perencana/
Pengawas.
Halaman 4
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
atas pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor, tidak berarti Kontraktor bebas dari tanggung
jawab.
2.12.4 Pekerjaan yang tidak memenuhi uraian dan syarat- syarat pelaksanaan (spesifikasi) atau
gambar atau instruksi tertulis dari Pengawas harus diperbaiki atau dibongkar. Semua biaya yang
diperlukan untuk ini menjadi tanggung jawab kontraktor.
Halaman 5
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
2.15 IKLAN
Kontraktor tidak diijinkan membuat iklan dalam bentuk apapun di dalam sempadan (batas)
site atau ditanah yang berdekatan tanpa seijin dari pihak Pemberi Tugas.
Halaman 6
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
2.17.2 Gambar pelaksanaan ini harus memberikan semua data-data yang diperlukan termasuk
keterangan produk bahan, keterangan pemasangan, data-data tertulis, dan hal-hal lain yang
diperlukan.
2.17.3 Kontraktor bertanggung jawab terhadap semua kesalahan-kesalahan detailing fabrikasi dan
ketepatan penyetelan/pemasangan semua bagian konstruksi baja.
2.17.4 Semua bahan untuk pekerjaan baja difabrikasikan di workshop, kecuali atas persetujuan
Perencana.
2.17.5 Semua baut, baik yang dikerjakan di workshop maupun di lapangan harus selalu memberikan
kekuatan yang sebenarnya dan masuk tepat pada lubang bout tersebut.
2.17.6 Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambahan di lapangan pada waktu pemasangan yang
diakibatkan oleh kurang teliti atau kelalaian Kontraktor, harus dilakukan atas biaya Kontraktor.
2.17.7 Keragu-raguan terhadap kebenaran dan kejelasan gambar dan spesifikasi harus ditanyakan
kepada Pengawas/Perencana.
2.17.8 Kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-gambar "As Built Drawing" sesuai dengan
pekerjaan yang telah dilakukan di lapangan secara kenyataan, untuk kebutuhan pemeriksaan
di kemudian hari. Gambar-gambar tersebut diserahkan kepada Pengawas.
PASAL 3
PEKERJAAN PERSIAPAN / PENDAHULUAN
3.2.2 Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari sambungan sementara PLN
setempat selama masa pembangunan. Penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya
diperkenankan untuk penggunaan sementara atas persetujuan Pemberi Tugas/Pengawas. Daya
listrik juga disediakan untuk suplai Kantor Konsultan Pengawas.
PASAL 4
PEKERJAAN TANAH
4.1. UMUM
4.1.1. Seluruh lapangan pekerjaan harus diratakan dan semua sisa-sisa tanaman seperti akar-akar,
rumput-rumput dan sebagainya, harus dihilangkan.
4.1.2. Pekerjaan penggalian tanah, perataan tanah, harus dikerjakan lebih dahulu sebelum
kontraktor memulai pekerjaan. Pekerjaan galian tersebut disesuaikan dengan kebutuhannya
sesuai dengan peil-peil (level), pada lokasi yang telah ditentukan di dalam gambar, dan
mendapatkan persetujuan pengawas.
4.1.3. Daerah yang akan digali harus dibersihkan dari semua benda penghambat seperti, sampah-
sampah, tonggak bekas-bekas lubang dan sumur, lumpur, pohon dan semak-semak.
4.1.4. Bekas-bekas lubang dan sumur, harus dikuras airnya dan diambil lumpur/tanahnya yang lembek
di dalamnya. Pohon yang ada, hanya boleh disingkirkan setelah mendapat persetujuan
pengawas.
4.1.5. Tunggak - tunggak pepohonan dan jalinan - jalinan akar harus dibersihkan dan disingkirkan
sampai pada kedalaman + 1,5 m di bawah permukanan tanah.
4.1.6. Segala sisa dan kotoran yang disebabkan oleh pekerjaan tersebut, harus disingkirkan dari daerah
pembangunan oleh kontraktor, sesuai dengan petunjuk pengawas.
Halaman 8
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
4.2.2. Pelaksanaan pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan 20 cm material
lepas, dipadatkan sampai mencapai kepadatan maksimum dengan alat pemadat dan mencapai
peil permukaan yang direncanakan.
4.2.3. Material-material bahan urugan yang terletak pada daerah yang tidak memungkinkan untuk
dipadatkan dengan alat-alat berat, urugan dilakukan dengan ketebalan maksimum 10 cm material
lepas dan dipadatkan dengan mesin stamper.
4.2.4. Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian maupun pengurugan adalah 10
mm terhadap kerataan yang ditentukan.
4.2.5. Untuk mencapai kepadatan yang optimal, bahan harus ditest di laboratorium, untuk mendapat nilai
standard proctor. Laboratorum yang memeriksa harus laboratorium resmi atau laboratorium yang
ditunjuk oleh Pengawas.
4.2.6. Hasil test di lapangan harus tertulis dan diketahui oleh Perencana/ Pengawas. Semua hasil-hasil
pekerjaan diperiksa kembali terhadap patok-patok referensi untuk mengetahui sampai dimana
kedudukan permukaan tanah tersebut.
4.2.7. Bagian permukaan tanah yang telah dinyatakan padat sesuai hasil pengetesan, harus
dipertahankan dan dijaga jangan sampai rusak, akibat pengaruh luar dan tetap menjadi tanggung
jawab kontraktor s/d masa pemeliharaan.
4.2.8. Pekerjaan pemadatan telah dianggap cukup, setelah mendapat persetujuan Pengawas.
4.2.9. Bahan urugan untuk pelaksanaan pengerasan harus disebar dalam lapisan-lapisan yang rata
dalam ketebalan yang tidak melebihi 200 mm pada kedalaman gembur.
4.2.10. Gumpalan-gumpalan tanah harus digemburkan dan bahan tersebut harus dicampur dengan cara
menggaru atau cara sejenisnya sehingga diperoleh lapisan yang kepadatannya sama.
4.2.11. Setiap lapisan harus diarahkan pada kepadatan yang dibutuhkan dan diperiksa melalui pengujian
lapangan yang memadai, sebelum dimulai dengan lapisan berikutnya. Lapisan berikutnya tidak
boleh dihampar sebelum hasil pekerjaan lapisan sebelumnya mendapat persetujuan dari
Pengawas.
4.2.12. Bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki, lapisan tersebut harus
diulang kembali pekerjannya atau diganti, dengan cara-cara pelaksanaan yang telah ditentukan,
guna mendapatkan kepadatan yang dibutuhkan.
4.2.13. Jadwal pengujian akan ditentukan / ditetapkan oleh Perencana / Pengawas. Pengujian diadakan
minimum setiap 500 m2. Biaya pengujian ditanggung oleh Kontraktor. Setelah pemadatan
selesai, kelebihan tanah urugan harus dipindahkan ketempat yang ditentukan oleh Pengawas.
Ketinggian (peil) disesuaikan dengan gambar.
4.2.14. Sarana-sarana darurat :
Kontraktor harus mengadakan drainage yang sempurna setiap saat, apabila perlu harus
membangun saluran-saluran, memasang parit-parit, memompa dan atau mengeringkan drainage.
PASAL 5
PEKERJAAN BETON
5.1. SEMEN
5.1.1. Semua semen yang digunakan adalah semen portland lokal setara dengan Semen Tonasa.
Syarat - syarat :
- Peraturan Semen Portland Indonesia ( NI.8-1972 ).
- Peraturan Beton Indonesia ( NI.2-1971 ).
- Mempunyai sertifikat Uji ( test sertificate ).
- Mendapat Persetujuan Perencana / pengawas.
Halaman 9
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
5.1.2. Semua semen yang akan dipakai harus dari satu merk yang sama (tidak diperkenankan
menggunakan bermacam-macam jenis/merk semen untuk suatu konstruksi/struktur yang sama),
dalam keadaan baru dan asli, dikirim dalam kantong-kantong semen yang masih disegel dan
tidak pecah.
5.1.3. Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan. Harus diterimakan dalam sak (kantong)
asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat, dan harus disimpan di gudang yang cukup
ventilasinya serta diletakkan tidak kena air. Tempat penyimpanan ditinggikan paling sedikit 30
cm dari lantai. Sak-sak semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai tingginya melampaui 2 m
atau maximum 10 sak, setiap pengiriman baru harus ditandai dan dipisahkan dengan
maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya.
5.1.4. Untuk semen yang diragukan mutu dan kerusakan-kerusakan akibat salah penyimpanan
dianggap rusak, membatu, dapat ditolak penggunaannya tanpa melalui test lagi. Bahan yang
telah ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 x 24 jam.
5.2. AGREGAT
5.2.1. Semua pemakaian koral (kerikil), batu pecah (aggregat kasar) dan pasir beton, harus memenuhi
syarat-syarat :
- Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan Bangunan (NI.3-1956)
- Peraturan Beton Indonesia ( NI.2-1971 ).
- Tidak Mudah Hancur (tetap keras) , tidak porous.
- Bebas dari tanah/tanah liat (tidak bercampur dengan tanah/tanah liat atau kotoran - kotoran
lainnya.
5.2.2. Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari Rudelaff dengan
beban penguji 20 ton, agregat kasar harus memenuhi syarat sebagai berikut :
- Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 - 19 mm lebih dari 24 %
- Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19 - 30 mm lebih dari 22 % atau dengan mesin
pengaus Los Angelos dimana tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 50 %.
5.2.3. Koral (kerikil) dan batu pecah (aggregat kasar) yang mempunyai ukuran lebih besar dari 30 mm,
untuk penggunaannya harus mendapat persetujuan Pengawas.
5.2.4. Gradasi dari aggregat - aggregat tersebut secara keseluruhan harus dapat menghasilkan
mutu beton yang baik, padat dan mempunyai daya kerja yang baik dengan
semen dan air, dalam proporsi campuran yang akan dipakai.
5.2.5. Pengawas dapat meminta kepada Kontraktor untuk mengadakan test kwalitas dari aggregate-
aggregat tersebut dari tempat penimbunan yang ditunjuk oleh Pengawas setiap saat dalam
laboratorium yang diakui atas biaya Kontraktor.
5.2.6. Dalam hal adanya perubahan sumber dari mana aggregat tersebut disupply, maka Kontraktor
diwajibkan untuk memberitahukan kepada Pengawas.
5.2.7. Aggregat harus disimpan di tempat yang bersih, yang keras permukaannya dan dicegah supaya
tidak terjadi pencampuran satu sama lain dan terkotori.
5.3. AIR.
5.3.1. Air yang akan dipergunakan untuk semua pekerjaan - pekerjaan di lapangan adalah air bersih,
tidak berwarna,tidak mengandung bahan-bahan Fisika (asam alkali) tidak mengandung
organisme yang dapat memberikan efek merusak beton, minyak atau lemak. Memenuhi
syarat-syarat Peraturan Beton Indonesia (NI. 2-1971) dan diuji oleh Laboratorium yang diakui
sah oleh yang berwajib dengan biaya ditanggung/ pihak Kontraktor.
5.3.2. Air yang mengandung garam (air laut) tidak diperkenankan untuk dipakai.
Halaman 10
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
5.5. ADMIXTURE.
Untuk memperbaiki mutu beton, sifat-sifat pengerjaan, waktu pengikatan dan pengerasan maupun
untuk maksud-maksud lain dapat dipakai bahan admixture. Jenis dan jumlah bahan admixture yang
dipakai harus disetujui terlebih dahulu oleh pengawas/Perencana.
Halaman 11
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
5.6.2. Kontraktor diharuskan membuat adukan percobaan (trial mixes) untuk mengontrol daya kerjanya
sehingga tidak ada kelebihan pada permukaan ataupun menyebabkan terjadinya pengendapan
(segregation) dari aggregat. Percobaan slump diadakan menurut syarat-syarat dalam Peraturan
Beton Bertulang Indonesia (NI. 2-1971).
5.6.3. Pekerjaan pembuatan adukan percobaan (trial mixes) tersebut diatas harus dilakukan untuk
menentukan mutu beton yang akan dipergunakan.
5.6.4. Adukan Beton Yang Dibuat Setempat (Site Mixing)
Adukan beton harus memenuhi syarat-syarat :
- Semen diukur menurut volume
- Agregat diukur menurut volume (batu pecah)
- Pasir diukur menurut volume (pasir beton).
- Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete mixer)
- Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin pengaduk
- Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada dalam mesin
pengaduk.
- Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih dulu,
sebelum adukan beton yang baru dimulai.
Adukan beton :
- Adukan beton harus memenuhi syarat-syarat PBI 1971 NI.2. Beton harus mempunyai kekuatan
karakteristik sesuai yang disyaratkan dalam gambar rencana.
- Khusus untuk beton yang dipergunakan pada perbaikan/elemen struktur yang honey
comb/keropos, aggregat terbesar/batu pecah tidak boleh lebih dari 1 cm atau mempergunakan
cement grouting dari merk yang disetujui oleh pengawas.
- Apabila mutu beton rencana dari hasil site mixing tidak bisa tercapai, kontraktor diharuskan
membuat adukan beton di Batching Plant (Beton Ready Mix)
- Dalam hal apapun tidak diperkenankan membuat adukan beton dengan tangan (hand mixing),
kecuali untuk beton lantai kerja.
- Pekerjaan pembuatan adukan percobaan (trial mixes) tersebut diatas harus dilakukan untuk
menentukan komposisi adukan yang akan dipakai pada pekerjaan beton selanjutnya dan harus
mendapat persetujuan Pengawas.
Halaman 12
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
5.8.2. Untuk mutu beton karakteristik, Selama pengecoran beton harus selalu dibuat benda-benda uji
setiap 5 m3 dengan minimum 2 (dua) benda uji setiap pelaksanaan pengecoran dengan nomor
urut yang menerus.
5.8.3. Cetakan silinder coba harus berbentuk tabung dalam segala arah, dan memenuhi syarat-
syarat dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI.2-1971).
5.8.4. Ukuran kubus coba atau benda uji adalah diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Pengambilan adukan
beton, pencetakan silinder coba dan curingnya harus dibawah pengawasan pengawas lapangan.
Prosedurnya harus memenuhi syarat - syarat dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI.2-
1971).
5.8.5. Silinder coba harus ditandai untuk identifikasi dengan suatu kode yang dapat menunjukkan
tanggal pengecoran, pembuatan adukan struktur yang bersangkutan dan lain-lain yang perlu
dicatat. Pengujian kubus coba dilakukan untuk umur beton 7 hari dan 28 hari.
5.8.6. Pada umumnya pengujian dilakukan sesuai dengan PBI 1971, Bab. 4,7. termasuk juga
pengujian-pengujian susut (slump) dan pengujian-pengujian tekanan.
Jika beton tidak memenuhi syarat-syarat pengujian slump, maka kelompok adukan yang tidak
memenuhi syarat itu tidak boleh dipakai, dan kontraktor harus menyingkirkannya dari tempat
pekerjaan. Jika pengujian tekanan gagal maka perbaikan harus dilakukan dengan mengikuti
prosedur-prosedur PBI 1971 untuk perbaikan.
5.8.7. Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan silinder coba menjadi tanggung jawab kontraktor.
5.8.8. Semua silinder coba jika perlu akan dicoba dalam laboratorium yang berwenang, dan disetujui
Pengawas.
5.8.9. Laporan hasil percobaan harus diserahkan kepada pengawas segera sesudah selesai
percobaan, paling lambat 7 hari sesudah pengecoran, dengan mencantumkan besarnya
kekuatan karakteristik, deviasi standar, campuran adukan berat silinder benda uji tersebut,
dan data-data lain yang diperlukan.
5.8.10. Apabila dalam pelaksanaan nanti kedapatan bahwa mutu beton yang dibuat seperti yang
ditunjukan oleh silinder cobanya gagal memenuhi syarat spesifikasi, maka pengawas berhak
meminta kontraktor supaya mengadakan percobaan-percobaan non destruktif atau kalau
memungkinkan mengadakan percobaan (Destruktif).
Percobaan-percobaan ini harus memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Beton Bertulang
Indonesia (NI.2-1971).
Apabila gagal, maka bagian pekerjaan tersebut harus dibongkar dan dibangun baru sesuai
dengan petunjuk pengawas. Semua biaya-biaya untuk percobaan dan akibat - akibat gagalnya
pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor. Kontraktor juga diharuskan
mengadakan slump test menurut syarat-syarat dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI.2-
1971).
5.8.11. Slump beton berkisar antara 10 cm sampai 12 cm untuk balok beton, plat beton dan kolom.
5.9.1 MATERIAL
[Link] Paku, angkur dan sekrup-sekrup; ukuran sesuai dengan keperluan dan cukup kuat untuk
menahan bekisting agar tidak bergerak ketika dilakukan pengecoran.
[Link] Plywood; untuk plat lantai, dinding, balok dan kolom persegi, tebal 18 mm.
[Link] Pasangan bata untuk pile cap dan tie beam.
[Link] Baja lembaran, tebal minimal 1,2 mm, untuk kolom-kolom bundar.
Halaman 13
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
[Link] Form ties; baja yang mudah dilepas (snap-off metal). Panjang fixed atau adjustable, dapat
terkunci dengan baik dan tidak berubah saat pengecoran. Lubang yang terjadi pada
permukaan beton setelah form ties dibuka tidak boleh lebih dari 1 inch (25 mm).
[Link] Form Release Agent; minyak mineral yang tidak berwarna, yang tidak menimbulkan karat pada
permukaan beton dan tidak mempengaruhi rekatan maupun warna bahan finishing permukaan
beton.
[Link] Rencana pemakaian material harus diinformasikan dan mendapat persetujuan dari pengawas
lapangan.
5.9.2. PELAKSANAAN.
[Link] Pemasangan Bekisting
[Link].1 Tentukan jarak, level dan pusat (lingkaran) sebelum memulai pekerjaan.
Pastikan ukuran-ukuran ini sudah sesuai dengan gambar rencana.
[Link].2 Pasang bekisting dengan tepat dan sudah diperkuat (bracing), sesuai dengan
design dan standard yang telah ditentukan; sehingga bisa dipastikan akan
menghasilkan beton yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan akan bentuk,
keselurusan dan dimensi.
[Link].3 Hubungan-hubungan antar papan bekisting harus lurus dan harus dibuat kedap air,
untuk mencegah kebocoran adukan atau kemungkinan deformasi bentuk beton.
[Link].4 Bekisting untuk pile cap dan tie beam harus dipasang pada setiap sisinya.
Pemakaian pasangan bata untuk bekisting pondasi harus atas seijin Pengawas
Lapangan. Semua tanah yang mengotori bekisting pada sisi pengecoran harus
dibuang.
[Link].5 Perkuatan pada bukaan dibagian-bagian yang struktural yang tidak diperlihatkan pada
gambar harus mendapatkan pemeriksaan dan persetujuan dari Pengawas Lapangan.
[Link].6 Bekisting harus memenuhi toleransi deviasi maksimal berikut :
a. Deviasi garis vertikal dan horisontal :
- 6 mm, pada jarak 3000 mm.
- 10 mm, pada jarak 6000 mm.
- 20 mm, pada jarak 12000 mm, atau lebih.
b. Deviasi pada pemotongan melintang dari dimensi kolom/balok, ketebalan plat : 3
mm.
[Link].7 Aplikasi bahan pelepas acuan (form release agent) harus sesuai dengan rekomendasi
pabrik. Aplikasi harus dilaksanakan sebelum pemasangan besi beton, angkur-angkur
dan bahan-bahan tempelan (embedded item) lainnya. Bahan yang dipakai dan cara
aplikasinya tidak boleh menimbulkan karat atau mempengaruhi
warna permukaan beton.
[Link].8 Dimana permukaan beton yang akan dilapisi bahan yang bisa rusak terkena bahan
pelepas acuan; bahan pelepas acuan tidak boleh dipakai.
Untuk itu, dalam hal bahan pelepas acuan tidak boleh dipakai, sisi dalam bekisting
harus dibahasi dengan air bersih. Dan permukaan ini harus dijaga
selalu basah sebelum pengecoran beton dimulai.
[Link] Sisipan (insert), Rekatan (embedded) dan Bukaan (Opening).
[Link].1 Sediakan bukaan pada bekisting dimana diperlukan untuk pipa, conduits, sleeves dan
pekerjaan lain yang akan merekat pada atau melalui beton.
[Link].2 Pasang langsung pada bekisting alat-alat atau yang pekerjaan lain yang akan di cor
langsung pada beton.
Halaman 14
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
[Link].3 Koordinasikan bagian dari pekerjaan lain yang terlibat ketika membentuk/
menyediakan bukaan, slots, recessed, sleeves, bolts, angkur dan sisipan-sisipan
lainnya. Jangan laksanakan pekerjaan diatas jika tidak secara jelas/khusus
ditunjukkan pada gambar yang berhubungan.
[Link].4 Pemasangan water stops apabila diperlukan harus kontinyu (tidak terputus dan tidak
mengubah letak besi beton).
[Link].5 Sediakan bukaan sementara pada bekisting dimana diperlukan untuk pembersihan
dan pemeriksaan. Tempatkan bukaan dibagian bawah bekisting guna
memungkinkan air pembersih keluar dari bekisting. Penutup bukaan sementara ini
harus dengan bahan yang memungkinkan merekat rapat, rata dengan
permukaan dalam bekisting, sehingga sambungannya tidak akan tampak pada
permukaan beton ekspose.
[Link] Kontrol Kualitas.
[Link].1 Periksa dan kontrol bekisting yang dilaksanakan telah sesuai dengan bentuk
beton yang diinginkan, dan perkuatan-perkuatannya guna memastikan
bahwa pekerjaan telah sesuai dengan rancangan bekisting, wedgeeties, dan bagian-
bagian lainnya aman.
[Link].2 Informasikan pada Pengawas Lapangan jika bekisting telah dilaksanakan, dan telah
dibersihkan, guna pelaksanaan pemeriksaan. Mintakan persetujuan Pengawas
Lapangan terhadap bekisting yang telah dilaksanakan sebelum dimulai pengecoran
beton.
[Link].3 Untuk permukaan beton ekspose, pemakaian bekisting kayu plywood lebih dari 2 kali
tidak diperkenankan.
[Link].4 Bekisting yang akan dipakai ulang harus mendapatkan persetujuan sebelumnya dari
Pengawas Lapangan.
[Link] Pembersihan dan pembukaan.
[Link].1 Bersihkan bekisting selama pemasangan, buang semua benda-benda yang
tidak perlu. Buang bekas-bekas potongan, kupasan dan puing dari bagian dalam
bekisting. Siram dengan air, menggunakan air bertekanan tinggi, guna membuang
benda-benda asing yang masih tersisa pastikan bahwa air dan puing-puing tersebut
telah mengalir keluar melalui lubang pembersih yang disediakan.
[Link].2 Buka bekisting secara kontinyu dan sesuai dengan standard yang berlaku
sehingga tidak terjadi beban kejut (shock load) atau ketidak seimbangan beban yang
terjadi pada struktur. Pembukaan bekisting sesuai dengan umur beton yang tercantum
dalam pasal 7.12.2.
[Link].3 Pembukaan bekisting harus dilakukan dengan hati-hati, agar peralatan-
peralatan yang dipakai untuk membuka tidak merusak permukaan beton.
[Link].4 Untuk yang akan dipakai kembali, bekisting-bekisting yang telah dibuka harus
disimpan dengan cara yang memungkinkan perlindungan terhadap permukaan yang
akan kontak dengan beton tidak mengalami kerusakan.
[Link].5 Diperlukan perkuatan-perkuatan pada komponen-konponen struktur yang telah
dilaksanakan guna memenuhi syarat pembebanan dan konstruksi sehingga pekerjaan-
pekerjaan konstruksi lantai diatasnya bisa dilanjutkan.
Pembukaan penunjang bekisting seluruhnya hanya bisa dilakukan setelah beton
berumur 21 hari setelah beton mempunyai kuat tekan 95 % dari kuat tekan rencana.
[Link].6 Bekisting-bekisting yang dipakai untuk curing beton, tidak boleh dibongkar sebelum
mendapat persetujuan dai Pengawas Lapangan.
Halaman 15
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
5.12.3. Pekerjaan pembongkaran cetakan harus dilaporkan dan disetujui sebelumnya oleh pengawas.
5.12.4. Apabila setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton yang kropos atau
cacat lainnya, yang akan mempengaruhi kekuatan konstruksi tersebut, maka Kontraktor harus
segera memberitahukan kepada pengawas, untuk meminta persetujuan mengenai cara
perbaikannya. Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan biaya-biaya
perbaikan bagian tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor.
5 12.5. Meskipun hasil pengujian kubus-kubus beton memuaskan, pengawas mempunyai wewenang
untuk menolak konstruksi beton yang cacat seperti berikut :
- Konstruksi beton sangat kropos.
- Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan atau posisi-posisinya
tidak seperti gambar rencana.
- Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya yang tidak sesuai dengan gambar
rencana.
5.13. GROUTING.
Material grouting harus mendapat persetujuan Pengawas Lapangan.
BAB II
PEKERJAAN ARSITEKTUR
Halaman 17
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
A. UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. Adukan untuk pasangan bata.
b. Pasangan bata untuk dinding exterior dan partisi interior.
c. Pasangan untuk arsitektur interior (built in).
3. Standard.
a. NI-3, Standard untuk pasir.
b. NI-8, Standard untuk P-C.
c. NI-10, Standard untuk Pasangan bata.
d. PUBI-9 Standard untuk air agregate.
e. ASTM : C144, Agregate for masonry mortar.
C150, Portland cement
C270, Mortar for unit masonry.
B. BAHAN/PRODUK
1. a. Portland Cement : ASTM C150 type V dan NI-8 jenis semen dari merk Tiga Roga,
atau setara.
b. Agregates : Standard type pasangan, ASTM C144 bersih, kering dan terlindung dari
minyak dan noda.
c. Air bersih, bebas dari minyak, alkali organik.
2. Horizontal Joint Reinforcement :
a. Kawat fabrikasi tidak kurang dari 3000 mm.
b. Fabrikasi dari kawat baja.
c. Lebar 25 mm, lebih kecil dari tebal dinding partisi.
3. Kawat pasangan 4,8 mm dari baja digalvanis.
4. Expanded metal lath : Diamond mesh, galvanis 1,8 kg/m2.
5. Angkur pasangan, baut dan sebagainya.
6. Adukan.
a. Untuk interior, 1 semen : 4 pasir + air.
b. Untuk exterior, (toilet dan pantry/rg. saji); 1 semen; 2 pasir + air.
c. Grout, 1 semen : 3 pasir.
C. PELAKSANAAN
1. Dimana diperlukan, menurut KONSULTAN SUPERVISI, pemborong harus membuat shop
drawing untuk pelaksanaan pembuatan adukan dan pasangan.
2. Tentukan perbandingan campuran spesi dan tebal adukan yang diperlukan. Adukan
Halaman 18
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
dilaksanakan sesuai standard spesifikasi dari bahan yang digunakan sesuai dengan
petunjuk Perencana/KONSULTAN SUPERVISI.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam gambar
arsitektur, terutama gambar detail dan gambar potongan mengenai ukuran tebal / tinggi /
peil dan bentuk profilnya.
4. Untuk bidang kedap air, pasangan dinding batu bata yang berhubungan dengan udara
luar dan semua pasangan batu bata dari bawah permukaan tanah sampai ketinggian 30
cm dari permukaan lantai dan 160 cm dari permukaan lantai untuk toilet, ruang saji/pantry
dan daerah basah lainnya dipakai adukan plesteran 1 pc : 2 pasir (trasraam).
5. Untuk adukan kedap air harus ditambah Daily bond, dengan perbandingan 1 pc : 1 Daily
Bond.
6. Material untuk adukan harus diukur yang sebenarnya dan menggunakan kotak (boxes)
pengukuran yang akurat.
7. Penggunaan bahan additive harus disetujui oleh perencana dan digunakan sesuai dengan
ketentuan dari pabrik.
8. Pekerjaan bata yang sudah selesai harus dilindungi dengan lembaran penutup untuk
mencegah adukan menjadi cepat kering.
9. Pasangan dinding bata pada sudut ruangan harus dilindungi dengan papan untuk
melindungi dari kerusakan. Jika ada pekerjaan pasangan yang memperlihatkan sambungan
yang rusak atau tidak beres maka pasangan itu harus dibongkar dan diganti yang baru.
10. Berikan angkur sesuai dengan gambar atau jika tidak ditunjukkan gunakan ukuran/jarak
type standard.
11. Tempatkan angkur pada bubungan pasangan bata dengan struktur kolom praktis atau
balok sesuai petunjuk gambar tapi tidak lebih dari 60 cm pada jarak vertikal dan 90 cm
pada jarak horizontal.
Halaman 19
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
A. UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-
alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan
hasil yang baik.
b. Pekerjaan pasangan batu bata ini meliputi seluruh detail yang disebutkan /
ditunjukkan dalam gambar seperti toilet, ruang pengurus, ruang atlit dan lain-lain.
2. Pekerjaan yang berhubungan
a. Pasal 0501 Adukan dan Pasangan.
3. Standard.
- Batu bata harus memenuhi NI-10
- Semen Portland harus memenuhi NI-8.
- Pasir harus memenuhi NI-3 Pasal 14 ayat 2.
- Air harus memenuhi PVBI-1982 Pasal 9.
B. BAHAN/PRODUK
1. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex. lokal dengan kualitas terbaik yang
disetujui Perencana/Konsultan Supervisi.
C. PELAKSANAAN
1. Pasangan batu bata/batu merah, dengan menggunakan aduk campuran 1 PC : 4 pasir
pasang.
2. Untuk semua dinding luar, semua dinding lantai dasar mulai dari permukaan sloof sampai
ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai dasar, dinding didaerah basah setinggi 160 cm
dari permukaan lantai, serta semua dinding yang pada gambar menggunakan simbol aduk
trasraam/kedap air digunakan aduk rapat air dengan campuran 1pc : 2 pasir pasang.
3. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum hingga jenuh.
4. Setelah bata terpasang dengan aduk, nad/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm dan
dibersihkan dengan sapu lidi dan kemudian disiram air.
5. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu
dan siar-siar telah dikerok serta dibersihkan.
6. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri maksimum 24 lapis
setiap harinya, diikuti dengan cor kolom praktis.
7. Bidang dinding 1/2 batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan kolom dan
balok penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12 x 12 cm, dengan tulangan pokok 4
diameter 10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm.
8. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/steiger sama sekali tidak
diperkenankan.
9. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan
Halaman 20
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
beton (kolom) harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 6 mm jarak 75 cm, yang
terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang
ditanam dalam pasangan bata sekurang-kurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
10. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari 5 %. Bata yang
patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan.
11. Pasangan batu bata untuk dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish setebal
15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan pasangan harus cermat,
rapi dan benar-benar tegak lurus.
Halaman 21
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
A. UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
Meliputi penyediaan bahan material atap, lengkap dengan peralatan dan alat bantunya,
pengangkutan material di lokasi sampai dengan terpasang dengan baik.
2. Pekerjaan yang berhubungan
a. Pekerjaan Logam Struktural
b. Pekerjaan Logam Non Struktural
c. Pekerjaan Waterproofing Talang Beton
3. Contoh Bahan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan memberikan contoh bahan material
yang digunakan lengkap dengan brosur.
B. BAHAN/PRODUK
1. jenis Atap yang digunakan adallah Spandek yang suda memenuhi SNI.
a. Tebal Bahan Dasar : 0,25 mm
b. Tebal Total incl : 0,35 mm
c. Pewarnaan dengan sistem lapisan Primer yang bermutu tinggi.
2. Bahan yang digunakan adalah Merek “Multiroof”.
3. Standard :
Memenuhi Standard Nasional Indonesia.
C. PELAKSANAAN
1. Pemasangan atap multiroof ini agar dilaksanakan, dengan kemiringan minimal 5o
2. Setiap lembaran atap multiroof dibutuhkan 10 buah sekrup untuk setiap gording.
3. Pihak Kontraktor agar menyerahkan contoh bahan yang akan digunakan, dan
memasangnya sesuai dengan spesifikasi yang dikeluarkan oleh pabrik.
Halaman 22
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
3. Design Criteria
a. Seluruh kusen, pintu dan jendela, kayu tersebut harus diketam rapi dan diprofil yang
sama. Kusen, daun pintu dan jendela dibuat rapi, tidak baling dan siku pada sudut-
sudutnya.
4. Persetujuan-persetujuan
a. Shop drawing :
1. Harus memperlihatkan dengan jelas dimensi, sistim konstruksi, hubungan-
hubungan antar komponen, cara peng-angkuran dan lokasinya, penem-patan
hardware, dan detail-detail pemasangan.
2. Harus memperlihatkan kesesuaiannya dengan gambar rencana dan spesifikasi.
3. Shop drawing harus dikoordinasikan dengan pasal ......... “Ironmongery” guna
ketepatan perkuatan-perkuatan yang diperlukan serta lokasi dari hardware
tersebut.
4. Shop drawing harus memperlihatkan juga detail-detail pemasangan kaca,
gasket, serta sealant.
b. Contoh bahan :
1. Kontraktor harus menyerahkan contoh semua bahan yang memperlihatkan
tekstur, finishing dan warna.
Kayu setara bengkirai
2. Bahan bebas dar cacat dan mata kayu
3. Kayu wajib lurus dan tidak lapuk,
4. Kayu harus dalam keadaan kering dan kuat
Halaman 23
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
B. BAHAN/PRODUK
1. Kosen yang digunakan :
- Bahan : Dari kayu bengkirai atau setara.
- Bentuk profil : Sesuai shop drawing yang disetujui Perencana/Pengawas.
- Warna Profil : Ditentukan kemudian (contoh : warna diajukan Kontraktor).
- Lebar Profil : 5 x 15 cm (pemakaian lebar bahan sesuai yang ditunjukkan dalam
gambar.
- Pewarnaan : Ditentukan kemudian (contoh : warna diajukan Kontraktor).
2. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi uraian dan syarat-syarat dari
pekerjaan aluminium serta memenuhi ketentuan-ketentuan dari pabrik yang bersangkutan.
3. Konstruksi kosen aluminium yang dikerjakan seperti yang ditunjukkan dalam detail
gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
4. Ketahanan terhadap air dan angin untuk setiap type harus disertai hasil test, minimum 100
kg/m2.
5. Ketahanan terhadap udara tidak kurang dari 15 m3/hr dan terhadap tekanan air 15 kg/m2
yang harus disertai hasil test.
6. Bahan yang akan diproses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu sesuai dengan bentuk
toleransi ukuran, ketebalan, kesikuan, kelengkungan dan pewarnaan yang dipersyaratkan.
7. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna profil-profil
harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu fabrikasi unit-unit, jendela,
pintu partisi dan lain-lain, profil harus diseleksi lagi warnanya sehingga dalam tiap unit
didapatkan warna yang sama. Pekerjaan memotong, punch dan drill, dengan mesin harus
sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil yang telah dirangkai untuk jendela, dinding dan
pintu mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
- Untuk tinggi dan lebar 1 mm.
- Untuk diagonal 2 mm.
C. PELAKSANAAN
1. Daun Pintu dan Jendela
• Setara Dekson kecuali disebutkan lain dalam gambar maupun RAB.
• Sebelum mengadakan pembelian untuk perlengkapan pintu ini, Pemborong harus
mengajukan contoh - contohnya untuk mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas
dan Direksi.
• Semua kunci tanam harus terpasang dengan baik, kuat dan rapi pada daun pintu dan
terpasang 90 cm diatas lantai atau sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas dan
Direksi.
• Engsel - engsel minimal dipasang 2 buah untuk pintu teakwood dan 3 buah untuk pintu
panil atau diperhitungkan agar masing - masing engsel memikul beban tidak lebih dari
20 kg.
2. Pemasangan Kusen
• Semua kayu harus dikerjakan dengan rapi, bagian yang nampak harus diserut dan
diamplas halus.
Halaman 24
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
• Semua kusen harus mempunyai alur dan diberi angker besi diameter 10 mm tiap jarak
vertikal 60 cm, dan dicor ke tembok dengan adukan 1 pc: 2 ps : 3 kr.
• Semua kusen harus menempel pada beton yang sudah jadi maka harus dipakai fischer
dengan sekrup kuningan.
• Untuk mencegah gangguan rayap, maka bagian kayu yang menempel pada dinding dan
lantai harus dimenie.
• Selama pekerjaan berlangsung, kusen - kusen harus dilindungi dari benturan-benturan
benda keras. Kerusakan atau cat -cat harus diganti oleh Pemborong dengan biaya sendiri.
• Pegangan kunci dipasang sesuai dengan gambar. Kalau tidak disebutkan lain, maka tinggi
pegangan kunci adalah 90 cm dari lantai.
• Rangka kayu tidak boleh disambung bertepatan dengan penanaman badan pengunci.
Halaman 25
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
A. UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna.
b. Pekerjaan kaca meliputi seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam detail
gambar.
3. Standard :
a. ANSI : American National Standard Institute 7.1-1975-Safety
Materials Used in Building
b. ASTM : American Society for Testing and Materials. E6 - P3
Proposed Specification for Sealed Insulating Glass Units.
4. Persyaratan Bahan
a. Kaca adalah benda terbuat dari bahan glass yang pipih pada umumnya mempunyai
ketebalan yang sama, mempunyai sifat tembus cahaya, dapat diperoleh dari proses-
proses tarik tembus cahaya, dapat diperoleh dari proses-proses tarik, gilas dan
pengembangan (Float glass).
b. Toleransi lebar dan panjang.
Ukuran panjang dan lebar tidak boleh melampaui toleransi seperti yang ditentukan
oleh pabrik.
c. Kesikuan.
Kaca lembaran yang berbentuk segi empat harus mempunyai sudut serta tepi
potongan yang rata dan lurus, toleransi kesikuan maximum yang diperkenankan
adalah 1,5 mm per meter.
d. Cacat-cacat.
- Cacat-cacat lembaran bening yang diperbolehkan harus sesuai ketentuan dari
pabrik.
- Kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang2 yang berisi gas
yang terdapat pada kaca).
- Kaca yang digunakan harus bebas dari komposisi Fisika yang dapat
mengganggu pandangan.
- Kaca harus bebas dari keretakan (garis-garis pecah pada kaca baik sebagian
atau seluruh tebal kaca).
- Kaca harus bebas dari gumpilan tepi (tonjolan pada sisi panjang dan lebar kearah
luar/masuk).
Halaman 26
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
- Harus bebas dari benang (string) dan gelombang (wave) benang adalah cacat
garis timbul yang tembus pandangan, gelombang adalah permukaan kaca yang
berobah dan mengganggu pandangan.
- Harus bebas dari bintik-bintik (spots), awan (cloud) dan goresan (scratch).
- Bebas lengkungan (lembaran kaca yang bengkok).
- Mutu kaca lembaran yang digunakan AA.
- Ketebalan kaca lembaran yang digunakan tidak boleh melampaui toleransi yang
ditentukan oleh pabrik.
Untuk ketebalan kaca 5 mm kira-kira 0,3 mm.
B. BAHAN/PRODUK
1. Bahan kaca adalah bahan kaca setara Asahimas.
2. Semua bahan kaca sebelum dan sesudah terpasang harus mendapat persetujuan
Perencana/KONSULTAN SUPERVISI.
C. PELAKSANAAN
1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat
pekerjaan dalam buku ini.
2. Pekerjaan ini memerlukan keakhlian dan ketelitian.
3. Semua bahan yang telah terpasang harus disetujuai oleh Perencana/Konsultan Supervisi.
4. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan, dan diberi
tanda untuk mudah diketahui, tanda-tanda tidak boleh menggunakan kapur.
Tanda-tanda harus dibuat dari potongan kertas yang direkatkan dengan menggunakan
lem aci.
5. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat-alat pemotong kaca
khusus.
6. Pemotongan kaca harus disesuaikan ukuran rangka, minimal 10 cm masuk kedalam alur
kaca pada kosen.
7. Pembersih akhir dari kaca harus menggunakan kain katun yang lunak dengan
menggunakan cairan pembersih kaca.
8. Hubungan kaca dengan kaca atau kaca dengan material lain tanpa malalui kosen, harus
diisi dengan lem silikon produk Dow corning USA atau setara. Warna transparant cara
pemasangan dan persiapan-persiapan pemasangan harus mengikuti petunjuk yang
dikeluarkan pabrik.
9. Kaca harus terpasang rapi, sisi tepi harus lurus dan rata, tidak diperkenankan retak dan
pecah pada sealant/tepinya, bebas dari segala noda dan bekas goresan.
Halaman 27
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
A. UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, perlengkapan daun
pintu/daun jendela dan alat-alat bantu lainnya untuk melaksanakan pekerjaan hingga
tercapainya hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
b. Pemasangan alat penggantung dan pengunci dilakukan meliputi seluruh pemasangan
pada daun pintu kayu, daun pintu aluminium dan daun jendela aluminium seperti
yang ditunjukkan/disyaratkan dalam detail gambar.
3. Persyaratan Bahan
a. Semua 'hardwere' yang digunakan harus dengan ketentuan yang tercantum dalam
buku Spesifikasi Teknis. Bila terjadi perubahan atau penggantian 'hardware' akibat
dari pemilihan merek, Kontraktor wajib melaporkan hal tersebut kepada Perencana/
SupervisI untuk mendapatkan persetujuan.
b. Semua anak kunci harus dilengkapi dengan tanda pengenal dari pelat aluminium
berukuran 3 x 6 cm dengan tebal 1 mm. Tanda pengenal ini dihubungkan dengan
cincin nikel kesetiap anak kunci.
c. Harus disediakan lemari penyimpanan anak kunci dengan 'Backed Enamel Finish'
yang dilengkapi dengan kait-kaitan untuk anak kunci lengkap dengan nomor
pengenalnya.
Lemari berukuran lebar x tinggi adalah 40 x 50 cm, dengan tebal 15 cm berdaun
pintu tunggal memakai engsel piano dan handel aluminium.
B. BAHAN/PRODUK
1. Pekerjaan Kunci dan Pegangan Pintu.
a. Semua pintu menggunakan peralatan kunci.
b. Merek yang digunakan adalah SES, Deckson dan KEND
c. Untuk pintu-pintu aluminium dan pintu-pintu besi yang dipakai adalah kunci "mortise
cylinder dead lock" dua kali putar, warna Bronze. Pada pintu masuk utama yang terdiri
dari masing-masing dua daun pintu, maka setiap daun pintu dipasangi kunci
tersebut.
d. Seluruh kunci-kunci yang disebutkan dalam ad. 1 dan 2 diatas harus tercakup dalam
satu sistim general Masterkey; begitu pula untuk ad. 3 dan 4 juga satu sistim Masterkey
tersendiri.
e. Semua kunci-kunci tanam terpasang dengan kuat pada rangka daun pintu. Dipasang
setinggi 90 cm dari lantai atau sesuai petunjuk Konsultan Supervisi.
f. Pegangan pintu masuk utama dipakai handle jenis plastic coating, type Tabular handle.
2. Pekerjaan Engsel.
Halaman 28
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
a. Untuk pintu-pintu panil pada umumnya menggunakan engsel pintu, warna Bronze,
dipasang sekurang-kurangnya 2 buah untuk setiap daun dengan menggunakan
sekrup kembang dengan warna yang sama dengan warna engsel. Jumlah engsel
yang dipasang harus diperhitungkan menurut beban berat daun pintu, tiap engsel
memikul maksimal 20 kg.
b. Untuk pintu2 aluminium serta pintu panel menggunakan engsel lantai (floor hinge)
double action, dipasang dengan baik pada lantai sehingga terjamin kekuatan dan
kerapihannya, dipasang sesuai dengan gambar untuk itu.
c. Untuk jendela digunakan engsel warna Bronze.
C. PELAKSANAAN
1. Engsel atas dipasang +/- 28 cm (as) dari permukaan atas pintu.
Engsel bawah dipasang +/- 32 cm (as) dari permukaan bawah pintu.
Engsel tengah dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
2. Untuk pintu toilet, engsel atas dan bawah dipasang +/- 28 cm dari permukaan pintu,
engsel tengah dipasang di tengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
3. Penarikan pintu (door pull) dipasang 90 cm (as) dari permukaan lantai.
4. Pemasangan door closer harus rapi, lurus dan sesuai dengan letak posisi yang telah
ditentukan oleh Konsultan Pengawas.
Apabila hal tersebut tidak tercapai, Kontraktor wajib memperbaiki tanpa tambahan biaya.
5. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan pengujian
secara kasar dan halus.
6. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
7. Kontraktor wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan) berdasarkan
Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
Didalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua data yang diperlukan termasuk
keterangan produk, cara pemasangan atau detail-detail khusus yang belum tercakup
secara lengkap di dalam Gambar Dokumen Kontrak, sesuai dengan Standar Spesifikasi
pabrik.
8. Shop drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui dahulu oleh Supervisi/Perencana.
Halaman 29
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
B. PERSYARATAN BAHAN
1. Semen portland harus memenuhi NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh pekerjaan).
2. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
3. Air harus memenuhi NI-3 pasal 10.
4. Penggunaan adukan plesteran :
a. Adukan 1 pc : 2 pasir dipakai untuk plesteran rapat air.
b. Adukan 1 pc : 4 pasir dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
c. Seluruh permukaan plesteran difinish acian dari bahan PC.
C. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
1. Plesteran dilaksanakan sesuai standar spesifikasi dari bahan yang digunakan sesuai dengan
petunjuk dan persetujuan Perencana/Supervisi, dan persyaratan tertulis dalam Uraian
dan Syarat Pekerjaan ini.
2. Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilamana pekerjaan bidang beton atau pasangan
dinding batu bata telah disetujui oleh Perencana/Supervisi sesuai Uraian dan
Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam gambar
Arsitektur terutama pada gambar detail dan gambar potongan mengenai ukuran tebal/tinggi/
peil dan bentuk profilnya.
4. Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume, cara pembuatan-
nya menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Untuk bidang kedap air, beton, pasangan dinding batu bata yang berhubungan dengan
udara luar, dan semua pasangan batu bata di bawah permukaan tanah sampai
ketinggian 30 cm dari permukaan lantai dan 150 cm dari permukaan lantai toilet dan
daerah basah lainnya dipakai adukan plesteran 1pc : 3 pasir.
b. Untuk aduk kedap air, harus sitambah dengan Daily bond, dengan perbandingan 1
bagian PC : 1 bagian Daily Bond.
c. Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran campuran 1 PC : 4 pasir.
d. Semua jenis aduk perekat tersebut di atas harus disiapkan sedemikian rupa sehingga
selalu dalam keadaan baik dan belum mengering.
Diusahakan agar jarak waktu pencampuran aduk perekat tersebut dengan
pemasangannya tidak melebihi 30 menit terutama untuk adukan kedap air.
Halaman 30
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
5. Pekerjaan plesteran dinding hanya diperkenankan setelah selesai pemasangan instalasi pipa
listrik dan plumbing untuk seluruh bangunan.
6. Untuk beton sebelum diplester permukaannya harus dibersihkan dari sisa-sisa bekisting
dan kemudian diketrek (scrath) terlebih dahulu dan semua lubang-lubang bekas pengikat
bekisting atau form tie harus tertutup aduk plester.
7. Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan difinish dengan
cat dipakai plesteran halus (acian di atas permukaan plesterannya).
8. Untuk dinding tertanam di dalam tanah harus diberapen dengan memakai spesi kedap air.
9. Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya diberi alur-alur
garis horizontal atau diketrek (scrath) untuk memberi ikatan yang lebih baik terhadap bahan
finishingnya, kecuali untuk yang menerima cat.
10. Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 M, dipasang tegak dan menggunakan
keping-keping plywood setebal 9 mm untuk patokan kerataan bidang.
11. Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding/kolom yang dinyatakan
dalam gambar, atau sesuai peil-peil yang diminta gambar. Tebal plesteran minimum 2,5 cm,
jika ketebalan melebihi 2,5 cm harus diberi kawat ayam untuk membantu dan memperkuat
daya lekat dari plesterannya pada bagian pekerjaan yang diizinkan Perencana/SUPERVISI.
12. Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya yang bertemu dalam satu bidang
datar, harus diberi naat (tali air) dengan ukuran lebar 0,7 cm dalamnya 0,5 cm, kecuali bila
ada petunjuk lain di dalam gambar.
13. Untuk pemukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau cembung bidang
tidak melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi, Kontraktor berkewajiban memper-
baikinya dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
14. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar tidak terlalu
tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan melindungi
dari terik panas matahari langsung dengan bahan-bahan penutup yang bisa mencegah
penguapan air secara cepat.
15. Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran harus dibongkar
kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh Perencana / Supervisi dengan
biaya atas tanggungan Kontraktor. Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai Kontraktor
harus selalu menyiram dengan air, sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
16. Selama pemasangan dinding batu bata/beton bertulang belum finish, Kontraktor wajib
memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan-kerusakan dan pengotoran bahan lain.
Setiap kerusakan yang terjadi menjadi tanggung jawab Kontraktor dan wajib diperbaiki.
17. Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum plesteran berumur
lebih dari 2 (dua) minggu.
Halaman 31
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
A. UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
a. Plesteran kasar untuk dasar pasangan ubin keramik di dinding dan lantai.
b. Pasangan ubin keramik untuk dinding dengan campuran mortar additive, semen dan
pasir sebagai perekat.
c. Pasangan ubin keramik untuk lantai dengan campuran semen dan pasir, pada area-
area sesuai dengan yang ditunjukkan pada gambar.
d. Campuran latex + semen + bahan pewarna untuk joint filler.
e. Pasangan ubin keramik kaolin untuk tangga
2. Pekerjaan yang berhubungan
a. Pekerjaan Pasangan bata
b. Pekerjaan Waterproofing
3. Standard
a. PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia - 1982 (NI-3).
b. ANSI : American National Standard Institute.
c. TCA : Tile Council of America, USA
(1) TCA 137.1 - Recommended Standard Spesification for Ceramic Tile.
4. Persetujuan
a. Contoh bahan
Guna persetujuan Direksi/Perencana, Kontraktor harus menyerahkan contoh-contoh
semua bahan yang akan dipakai; keramik, bahan-bahan additive untuk adukan, dan
bahan untuk tile grouts.
b. Mock-up/contoh pemasangan
Sebelum mulai pemasangan, kontraktor harus membuat contoh pemasangan yang
memperli-hatkan dengan jelas pola pemasangan, warna dan groutingnya.
Mock-up yang telah disetujui akan dijadikan standard minimal untuk pemasangan
keramik.
c. Brosur
Untuk keperluan Direksi/Perencana, Kontraktor harus menyediakan brosur bahan
guna pemilihan jenis bahan yang akan dipakai.
5. Kondisi lingkungan
Suhu dan ventilasi ruang dimana keramik akan dipasang harus dijaga agar sesuai dengan
rekomendasi pabrik, sehingga tidak mempengaruhi rekatan keramik.
B. BAHAN/PRODUK
a Keramik Tanah Liat glasur single firing :
Produk Roman / Asia tile
b. Mortar Additive/Admixture : Laticrete 3701, produk Laticrete International, USA.
c. Pewarna tile grout : Laticrete Grout Admix, Sanded and Unsanded grout, Classic & Designer,
sesuai dengan kebutuhan pemasangan.
Halaman 32
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
d. Mortar/Adukan :
1. Semen; dipakai semen portland.
2. Pasir; harus bersih, besar butiran sama, bebas dari lumpur, garam dan bahan-bahan
organik lainnya.
Besar butiran/grain; 100 % bisa melalui ayakan 2,5 mm dan max. 10 % melalui ayakan
0,6 mm.
3. Mortar Additive/Admixtures.
Dipakai Emulsion type Rubber Latex Based. Bahan campur yang dipakai harus sesuai
dengan type ubin, metoda pemasangan, type adukan dasar, dan harus mendapat
persetujuan Direksi/Perencana.
C. PEMASANGAN
1. Umum
a. Sebelum pekerjaan dimulai, lebih dahulu harus dipelajari dengan seksama lokasi
pemasangan kramik, kualitas, bentuk dan ukuran ubinnya dan kondisi pekerjaan
setelah studi diatas dilaksanakan, tentukan metoda persiapan permukaan,
pemasangan ubin, joints dan curing, untuk diusulkan kepada Direksi Lapangan.
b. Pemborong harus menyiapkan ‘tiling menual’, yang berisi uraian tentang bahan, cara
instalasi, sistim pengawasan, perbaikan/koreksi, perlindungan, testing dan lain-lain
untuk diperiksa dan disetujui Direksi Lapangan.
c. Sebelum instalasi dimulai, siapkan lay out naad-naad, hubungan dengan finishing lain
dan dimensi-dimensi joint, guna persetujuan Direksi/Perencana.
d. Pemilihan Tile.
Tile yang masuk ke tapak harus diselekssi, agar berkesesuaian dengan ukuran,
bentuk dan warna yang telah ditentukan.
e. Potongan Tile
Ujung potongan tile harus dipoles dengan gurinda atau batu.
2. Level
a. Kecuali ditentukan lain pada spesifikasi ini atau pada gambar, level yang tercantum
pada gambar adalah level finish lantai karenanya screeding dasar harus diatur hingga
memungkinkan pada files dengan ketebalan yang berbeda permukaan finishnya
terpasang rata.
b. Lantai harus benar-benar terpasang rata; baik yang ditentukan datar maupun yang
ditentukan mempunyaai kemiringan.
c. Lantai yang ditentukan mempunyai kemiringan, kemiringan tidak boleh kurang dari 25
mm pada jarak 10 m untuk area toilet. Sedangkan untuk area lain, tidak boleh kurang
dari 12 mm pada jarak 10 m. Kemiringan harus lurus hingga air bisa mengalir semua
tanpa meninggalkan genangan.
Jika ketebalan screed tidak memungkinkaan untuk mendapatkan kemiringan yang
ditentukan, kontraktor harus segera melaporkan kepada Direksi untuk mendapatkan
jalan keluarnya.
Halaman 33
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
3. Persiapan Permukaan
a. Kontraktor harus menyiapkan permukaan sehingga memenuhi syarat yang
diperlukan, sebelum memasang ubin.
b. Secara tertulis, kontraktor harus memberikan laporan kepada Direksi Lapangan tiap
kondisi yang menurut pendapatnya akan berpengaruh buruk pada pelaksanaan
pekerjaan.
c. Permukaan beton yang akan diplester untuk penempelan ubin, harus dikasarkan dan
dibersihkan dari debu dan bahan-bahan lepas lainnya. Sebelum dilaksanakan
plesteran, permukaan ini harus dibebaskan.
d. Penyimpangan kerataan permukaan beton tidak boleh lebih dari 5 mm untuk jarak 2
mm, pada semua arah. Tonjolan harus dibuang (chip off) tekukan kedalaman diisi
dengan mortar (1 : 2), sehingga plesteran dasar (setting bed) mempunyai ketebalan
yang sama.
4. Pemasangan ubin keramik dinding di bagian dalam (internal)
a. Sebelum pemasangan dimulai, plesteran dasar dan ubin harus dibasahi. Pakai
benang untuk menentukan lay out ubin, yang telah ditentukan dan pasang sebaris
ubin guna jadi patokan untuk pemasangan selanjutnya.
b. Kecuali ditentukan lain, pemasangan ubin harus dimulai dari bawah dan dilanjutkan
ke bagian atas.
c. Pada pemasangan tile, tempelkan dibagian belakang tile adukan dan ratakan,
kemudian ubin yang telah diberi adukan ini ditekankan ke plesteran dasar. Kemudian
permukaan ubin dipukul perlahan-lahan hingga mortar perekat menutupi penuh
bagian belakang ubin dan sebagian adukan tertekan keluar dari tepi ubin.
d. Tiap hari pemasangan, tidak diperkenankan memasang tile dengan ketinggian lebih
dari ketentuan berikut :
- 1,2 m - 1,5 m, untuk tile tinggi 60 mm,
- 0,7 m - 0,9 m, untuk tile tinggi 90 - 120 mm,
- max 1,8 m, untuk semi porcelain tile.
e. Jika tile sudah terpadang, mortar yang berada di naad (joint) harus dibuang /
dikeluarkan dengan sikat atau cara lain yang tidak merusakkan permukaan tile.
Mortar yang mengotori permukaan tile harus dibuang dengan kain lap basah.
f. Pemasangan tile grant (pengisian naad) harus sesuai dengan ketentuan pabrik.
5. Pemasangan Ubin Keramik Lantai
a. Tile dipasang pada permukaan yang telah di screed.
Komposisi adukan untuk screeding :
- area kering : 1 pc : 3 ps.
- area basah : 1 pc : 2 ps.
b. Pada pemasangan diarea yang luas, harus dilaksanakan secara kontinu. Dan harus
disediakan ‘Kepalarn’ (guide line course) pada interval 2,0 m - 2,5 m. Pemasangan
tile lainnya berpedoman pada quide line ini.
c. Kikis semua mortar yang menempel pada naad dan bersihkan ketika prosess
pemasangan tile berlangsung. Pasangan tile tidak boleh diinjak dalam waktu 24 jam
setelah pemasangan.
Halaman 34
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
d. Naad-naad pada pemasangan tile harus diisi dengan bahan tile grout berwarnaa dan
kondisi pemasangan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik.
6. Pemeriksaan (Inspection)
a. Rekatan (bond).
Ketika pelaksanaan pemasangan tile, ambil beberapa tile yang telah terpasang,
secara rondom, untuk memastikan bahwa adukan perekat telah merekat dengan baik
pada bagian belakang tile dan telah terpasang dengan baik.
b. Tension Test.
Tension test harus dilakukan pada pasangan ubin di dinding; terutama di exterior.
Test harus dilaksanakan pada area pekerjaan tiap tukang. Test dilaksanakan tiap hari
kerja dan sampel diambil secara rondom jika umur pemasangan sample tidak lebih
dari 5 hari, kekuatan rekatan harus minimal 3 kg/cm2.
Halaman 35
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
B. BAHAN/PRODUK
1. Plafond Gypsum Board Tebal 9mm
2. Rangka langit-langit berbahan hollow yang disusun sesuai
dengan gambar.
C. PELAKSANAAN
1. Rangka Langit-langit
a. Rangka yang digunakan adalah rangka hollow Galvalum yang dipadukan dengan
penggantung kawat/hollow.
b. Rangka disusun sejajar dengan bidang plafond yang akan dipasang, dengan jarak
mak. 60 cm, dipasang menerus, tidak terputus.
c. penggantung dipasang dengan jarak min. 120 cm.
2. Pemasangan Plafond
a. Plafond Gypsum Board direkatkan pada rangka dengan scrup.
b. Pertemuan antar plafond ditutup dengan dempul gypsum.
c. Dimana terjadi perubahan elevasi ceiling sehingga pada bidang langit-langit terdapat
bidang vertikal, maka pada sudut luar dari pertemuan kedua bidang ini harus
dirapikan.
Halaman 36
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
PEKERJAAN PENGECATAN
A. U M U M
1. Lingkup Pekerjaan
a. Persiapan permukaan yang akan diberi cat.
b. Pengecatan permukaan dengan bahan-bahan yang telah ditentukan. Cat emulsi,
epoxy, vinyl acrylic, enamel, gypsum spray dan cat manie.
c. Pengecatan semua permukaan dan area yang ada pada gambar dan yang disebutkan
secara khusus, dengan warna dan bahan yang sesuai dengan petunjuk Perencana.
2. Pekerjaan yang berhubungan
a. Pekerjaan Langit-langit.
c. Pekerjaan Kayu
d. Pekerjaan Pintu dan Jendela
3. Standard
a. PUBI : 54, 1982
PUBI : 58, 1982
b. NI :4
c. ASTM : D - 361.
d. BS No. 3900, 1970
e. AS K-41
4. Persetujuan
a. Standard Pengerjaan (Mock-up)
- Sebelum pengecatan yang dimulai, Pemborong harus melakukan pengecatan
pada satu bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang
tersebut akan dijadikan contoh pilihan warna, texture, material dan cara
pengerjaan. Bidang-bidang yang akan dipakai sebagai mock-up ini akan ditentukan
oleh Direksi Lapangan.
- Jika masing-masing bidang tersebut telah disetujui oleh Direksi Lapangan dan
Perencana, bidang-bidang ini akan dipakai sebagai standard minimal keseluruhan
pekerjaan pengecatan.
b. Contoh dan Bahan untuk Perawatan
- Pemborong harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis pada
bidang-bidang transparan ukuran 30 x 30 cm2. Dan pada bidang-bidang tersebut
harus dicantumkan dengan jelas warna, formila cat, jumlah lapisan dan jenis
lapisan (dari cat dasar s/d lapisan akhir).
- Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Direksi Lapangan dan
Perencana. Jika contoh-contoh tersebut telah disetujui secara tertulis oleh
Perencana dan Direksi Lapangan, barulah pemborong melanjutkan dengan
pembuatan mock-up seperti tersebut diatas.
- Pemborong harus menyerahkan kepada Direksi Lapangan untuk kemudian akan
diteruskan kepada pemberi tugas minimal 5 galon tiap warna dan jenis cat yang
dipakai. Kaleng-kaleng cat tersebut harus tertutup rapat dan mencantumkan
dengan jelas indentitas cat yang ada didalamnya. Cat ini akan dipakai sebagai
cadangan untuk perawatan, oleh pemberi tugas.
Halaman 37
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
B. BAHAN/PRODUK
1. Nippon adalah jenis cat yang digunakan atau setara dinding luar dan Dulux untuk dinding
dalam
a. Untuk dinding-dinding luar bangunan digunakan cat luar, jenis tahan cuaca, warna
ditentukan Owner.
b. Untuk dinding-dinding dalam bangunan digunakan cat jenis Emulsi Ecrylic dengan
warna ditentukan Owner.
C. PELAKSANAAN
1. Pekerjaan Dinding
a. Yang termasuk pekerjaan cat dinding adalah pengecatan seluruh plesteran bangunan
dan/atau bagian-bagian lain yaang ditentukan gambar.
b. Sebelum dinding diplamur, plesteran sudah harus betul-betul kering tidak ada retak-
retak dan Pemborong meminta persetujuan kepada Konsultan Supervisi.
c. Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisal plamur dari plat baja tipis dan lapisan
plamur dibuat setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.
d. Sesudah 7 hari plamur terpasang dan percobaan warna besi No. 00, kemudian
dibersihkan dengan bulu ayam sampai bersih betul. Selanjutnya dinding cat dengan
menggunakan Roller.
e. Untuk mendapatkan tekstur pada pengecatan dinding yang ditentukan dengan finish
texture spray paint, digunakan Texture Finish dengan Danapaint. Pasta texture
dengan bahan dasar emulsi acrylic ini disemprotkan dengan alat penyemprot
compressor.
f. Untuk cat semprot emulsi bertexture, pada dinding luar digunakan plesteran 1 pc : 4
ps dengan pasir diayak halus, disemprotkan dengan mesin semprot pada bidang
plesteran 1 pc : 4 ps yang rata. Setelah kering dan keras baru disemprot dengan alkali
resistance sealer dan dicat emulssi. Lapisan pengecatan untuk dinding luar adalah 3
(tiga) lapis dengan kekentalan sama setiap lapisnya.
g. Lapisan pengecatan dinding dalam terdiri dari 1 (satu) lapis alkali resistance sealer
yang dilanjutkan dengan 3 (tiga) lapis emulsion dengan kekentalan cat sebagai berikut
:
- Lapis I encer ( tambahan 20 % air )
- Lapis II kental
- Lapis III encer.
h. Untuk warna-warna yang jenis, Kontraktor diharuskan menggunakan kaleng-kaleng
dengan nomor percampuran (batch number) yang sama.
i. Setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding merupakan bidang yang utuh, rata, licin,
tidak ada bagian yang belang dan bidang dinding dijaga terhadap pengotoran-
pengotoran.
2. Pekerjaan Cat Langit-langit
a. Yang termasuk dalam pekerjaan cat langit-langit adalah langit-langit Gyfsum, pelat
beton atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.
b. Cat yang digunakan merk Danapaint jenis Interior warna ditentukan Owner setelah
melakukan percobaan pengecatan.
Halaman 38
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
Halaman 39
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
BAB III
PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL
1.2 GAMBAR-GAMBAR
a. Gambar-gambar perencanaan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan semua accessories
dan fixture secara terperinci. Semua bagian diatas walaupun tidak digambarkan atau
disebutkan secara spesifik harus disediakan dan dipasang oleh Pemborong, sehingga
sistem dapat bekerja dengan baik.
b. Gambar-gambar instalasi menunjukkan secara umum tata letak dari peralatan instalasi.
Sedang pemasangan harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari proyek.
Gambar-gambar arsitektur dan struktur / sipil harus dipakai sebagai referensi untuk
pelaksanaan dan detail "finishing" dari proyek.
c. Sebelum pekerjaan dimulai, Pemborong harus mengajukan gambar-gambar kerja dan
detail (working drawing) yang harus diajukan kepada Direksi untuk mendapatkan
persetujuan. Setiap shop drawing yang diajukan Pemborong untuk disetujui Direksi
dianggap bahwa Pemborong telah mempelajari situasi dan telah berkonsultasi dengan
pekerjaan instalasi lainnya.
d. Pemborong harus membuat catatan-catatan yang cermat dari penyesuaian-penyesuaian
pelaksanaan pekerjaan dilapangan, catatan-catatan tersebut harus dituangkan dalam satu
set lengkap gambar (kalkir) dan tiga set lengkap gambar blue print sebagai gambar-gambar
sesuai pelaksanaan (as built drawings).
As built drawings harus diserahkan kepada Direksi segera setelah selesai pekerjaan.
1.3 KOORDINASI
a. Pemborong pekerjaan instalasi dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus bekerja sama
dengan Pemborong bidang atau disiplin lainnya, agar seluruh pekerjaan dapat berjalan
dengan lancar sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan.
b. Koordinasi yang baik perlu diadakan untuk mencegah agar pekerjaan yang satu tidak
menghalangi / menghambat pekerjaan lainnya .
Halaman 40
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
1.8 CONTOH
Persetujuan harus menyerahkan contoh / brosur dari bahan-bahan / material yang
akan dipasang disini untuk dimintakan persetujuan pemilik sebelum memulai pekerjaan. Semua
biaya berkenaan dengan penyerahan dan pengambilan contoh-contoh ini menjadi tanggungan
pemborong.
1.9 PENGETESAN
Halaman 41
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
Pemborong harus melakukan semua pengetesan seperti yang dipersyaratkan disini dan
mendemonstrasikan cara kerja dari segenap sistem, yang disaksikan oleh Direksi.
Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang perlu untuk percobaan tersebut, merupakan
tanggung jawab Pemborong.
1.12 LAPORAN
Halaman 42
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)
a. Laporan Harian :
Pemborong wajib membuat "Laporan Harian" & "Laporan Mingguan" yang memberikan
gambaran dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di lapangan secara jelas.
Laporan tersebut dibuat dalam rangka 3 meliputi :
a. Kegiatan Fisik.
b. Catatan dan perintah Direksi yang disampaikan secara tertulis.
c. Hal-hal yang menyangkut masalah :
- Material (masuk/ditolak)
- Jumlah tenaga kerja
- Keadaan cuaca
- Pekerjaan tambah / kurang.
Berdasarkan laporan harian, dibuat laporan mingguan dimana laporan tersebut berisi ikhtisar
dan catatan prestasi atas pekerjaan minggu lalu dan rencana pekerjaan minggu depan. Laporan
ini harus ditandatangani oleh Manager Proyek dan diserahkan pada Direksi untuk diketahui /
disetujui.
b. Laporan Pengetesan
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi dalam rangkap 4 (empat) mengenai hal-hal
sebagi berikut :
1. Hasil pengetesan kabel-kabel (meger dan pemberian tegangan).
2. Hasil pengetesan peralatan-peralatan instalasi.
3. Hasil pengukuran-pengukuran dan lain-lain.
Semua pengetesan dan atau pengukuran tersebut harus disaksikan oleh Direksi pekerjaan
ini.
1.19 PENJAGAAN
a. Pemborong wajib mengadakan penjagaan dengan baik serta terus menerus selama
berlangsungnya pekerjaan atas bahan, peralatan, mesin dan alat-alat kerja yang disimpan
di tempat kerja (gudang lapangan).
b. Kehilangan yang diakibatkan oleh kelalaian penjagaan atas barang-barang tersebut diatas,
menjadi tanggung jawab Pemborong.
b. Penimbunan / penyimpanan barang, bahan dan peralatan baik di dalam gudang maupun
diluar (halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan jalannya pemeriksaan
dan tidak mengganggu pekerjaan dari bagian lain.
c. Peraturan-peraturan yang lain tentang ketertiban akan dikeluarkan oleh Direksi pada waktu
pelaksanaan.
1.24 PENGAWASAN
a. Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan adalah dilakukan oleh Direksi.
b. Pada setiap saat Direksi atau petugas-petugasnya harus dapat mengawasi, memeriksa dan
menguji setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan. Pemborong harus mengadakan
fasilitas-fasilitas yang diperlukan.
c. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengamatan Direksi
adalah menjadi tanggung jawab Pemborong.
d. Jika diperlukan pengawasan oleh Pengawas harian diluar jam-jam kerja (08.00 sampai
dengan 16.00), dan hari libur maka segala biaya yang diperlukan untuk hal tersebut menjadi
beban Pemborong yang perhitungannya disesuaikan dengan peraturan pemerintah (cipta
karya). Permohonan untuk mengadakan pemeriksaan tersebut harus dengan surat yang
disampaikan kepada Direksi.
Ditetapkan Oleh:
Pejabat Pembuat Komitmen
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi Kalimantan Utara
Halaman 46