0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Kurikulum Merdeka: Konsep dan Implementasi

Bab II membahas kajian teori tentang kurikulum merdeka dan bahan ajar. Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada siswa dan guru dalam pembelajaran. Perbedaannya dengan K13 antara lain adalah strategi pembelajaran dan penilaian. Bahan ajar bermanfaat untuk memudahkan proses pembelajaran dan menarik minat siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Kurikulum Merdeka: Konsep dan Implementasi

Bab II membahas kajian teori tentang kurikulum merdeka dan bahan ajar. Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada siswa dan guru dalam pembelajaran. Perbedaannya dengan K13 antara lain adalah strategi pembelajaran dan penilaian. Bahan ajar bermanfaat untuk memudahkan proses pembelajaran dan menarik minat siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori

1. Kurikulum Merdeka

a. Pengertian Kurikulum Merdeka

Kurikulum ialah bagian terpenting dalam pelaksanaan pembelajaran di

sekolah, karena sebagai pedoman utama atau acuan pembelajaran. Kurikulum

2013 atau K13 kurikulum yang sudah digunakan. Kurikulum merdeka

merupakan kurikulum intrakulikuler, peserta didik banyak waktu untuk

memahami konsep maupun kemampuannya setiap individu. Gagasan Merdeka

Belajar ini dicanangkan oleh Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan, dengan tujuan membentuk Sumber Daya Manusia yang unggul

melalui penekanan pada penerapan nilai-nilai karakter,sehingga kemampuan

berpikir dan kreativitas setiap pelajar dapat berkembang. Keinginan untuk

mencapai kebebasan dalam konteks MBKM ini juga memberikan dorongan

kepada setiap perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas mereka,

dengan hasil mencetak lulusan yang memiliki karakter yang kuat, kemampuan

berpikir yang cemerlang, serta kreativitas yang berkembang (Mambarasi Nehe,

2021).

Kurikulum merdeka berperan untuk menyempurnakan kurikulum

sebelumnya dalam pembelajaran di sekolah. Pengembangan kurikulum

merdeka dalam pembelajaran diharapkan dapat mengatasi ketertinggalam pada

masa pandemi. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menghasilkan

pembelajaran yang aktif dan kreatif. Ini tidak menggantikan program-program

11
12

yang sudah ada, melainkan bertujuan untuk meningkatkan sistem yang telah

berjalan sebelumnya (Achmad dkk., 2022). Kurikulum merdeka diberikan

pembebasan kepada peserta didik, guru dan sekolah dalam menentukan KBM

dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekolah. Guru bisa menentukan

pembelajaran seperti apa yang akan diajarkan kepada peserta didik.

Peran utama kesuksesan dalam kurikulum merdeka berada pada guru yang

terlebih dahulu harus memahami betul terhadap kurikulum ini. Kurikulum

merdeka memiliki beragam pembelajaran dengan berfokus kepada potensi-

potensi yang dimiliki peserta didik, penggalian pengetahuan, memberikan

keleluasaan waktu memahami pembelajaran di kelas serta menganggkat konsep

merdeka belajar. Merdeka belajar adalah proses pembelajaran yang

memberikan makna dan nilai sehingga menghadirkan kemerdekaan dalam

berpikir, berinovasi, mandiri dan kreatif (Lao & Hendrik dalam Daga, 2021).

Program Merdeka Belajar adalah inisiatif untuk mengungkapkan potensi

kreatif dari guru dan peserta didik, meningkatkan mutu pembelajaran. Merdeka

belajar memberikan peluang peserta didik mengeksplor kemampuannya,

kebebasan untuk belajar serta kenyamanan. Maka diharapkan dapat melahirkan

generasi penerus bangsa yang unggul dan berguna bagi masyarakat Indonesia.

Dapat disimpulkan bahwa kurikulum merdeka diciptakan untuk

memperbaiki sistem pada kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini mengusung

konsep kemandirian belajar, sehingga dengan ini guru mempunyai kebebasan

menentukan pembelajaran untuk diajarkan ke peserta didik. Tidak hanya itu,

pada kurikulum merdeka memberikan kesempatan kepada peserta didik agar


13

punya waktu lama dalam KBM. Peserta didik akan lebih aktif, kreatif untuk

mengekplor kemampuanya supaya lebih memahami materi yang dipelajari.

b. Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan K13

Tabel 2. 2 Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan K13


NO. Aspek Kurikulum 2013 Kurikulum Merdeka
1. Strategi Lebih mengutamakan Guru, peserta didik, dan orang
Pembelajaran pemahaman, skill, dan tua bisa mempunyai suasana
pendidikan berkarakter, yang menyenangkan (Saleh,
peserta didik dituntut 2020).
paham materi, aktif dalam
berdiskusi dan presentasi
serta mempunyai sopan
santun disiplin tinggi
(Anwar dkk, 2022).

2. Penanaman Nilai Melalui PPK (Penguatan Adanya program P5 (Projek


Karakter Pendidikan Karakter); Penguatan Profil Pelajar
religius, nasionalisme, Pancasila. Terdiri dari
mandiri, gotong royong, dimensi: beriman dan
integritas (Virdaus, 2022). bertaqwa kepada Tuhan YME,
berkebhinekaan global,
bergotong royong, mandiri,
kreativitas, bernalar kritis
(Kemendikburistek, 2022).

3. Tujuan Adanya tujuan dalam Tujuan pelajaran tersajikan


membangun karakter dalam capaian pembelajaran
bangsa. (CP). ada penilaian assesmen
yaitu non kognitif dan kognitif
yang mana non kognitif..

4. Kebijakan 1. Berlaku Ujian Nasional Dirangkum dari penelitian


(UN). sebelumnya oleh Nasution
2. RPP dibuat secara (2021), perubahan-perubahan
lengkap dari kebijakan K-13 menjadi
Kompetensi Inti, Kurikulum Merdeka antara
Kompetensi Dasar, lain:
hingga Penilaian. 1. Ujian Nasional (UN) akan
3. Tidak ada kebijakan ditiadakan dan diganti
yang berarti mengenai Assesment Kompetensi
PPDB. Minimum serta Survei
Karakter.
2. Ujian Sekolah Berstandar
Nasional (USBN) terkait
kebijakan ini USBN
diserahkan seutuhnya ke
sekolah masing-masing.
3. Penyederhanaan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) cukup dibuat satu
14

NO. Aspek Kurikulum 2013 Kurikulum Merdeka


halaman tanpa diharuskan
ratusan halaman.
4. Penerimaan Peserta Didik
Baru (PPDB), kebijakan
PPDB ditekankan
penerapan sistem zonasi,
namun tidak termasuk
wilayah 3T.

2. Bahan Ajar

a. Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar yakni perangkat pendukung KBM bagi siswa di sekolah. Bahan

ajar dalam KBM termasuk komponen penting yang berisikan materi yang

tersusun sistematis oleh guru untuk peserta didik pada awal pembelajaran.

Bahan ajar biasanya berisikan materi pelajaran, ide, konsep serta evaluasi

pembelajaran yang nantinya peserta didik harus menguasainya pada proses

pembelajaran berlangsung. Sependapat dengan kutipan berikut, Materi

pembelajaran adalah dasar awal yang disusun dengan terstruktur didasarkan

prinsip-prinsip tertentu guna mengukur kesuksesan peserta didik (Syukur,

Fitria, & F, 2021).

Pengembangan bahan ajar hendaklah disesuaikan dengan kebutuhan peserta

didik. Kesesuaian bahan ajar dapat memudahkan guru dalam pemberian

pemahaman dalam meningkatkan kreativitas, aktif serta pemahaman yang baik.

(Fajri, 2018) menyatakan bahan ajar berperan krusial pada proses pembelajaran

karena berfungsi sebagai panduan guru dan peserta didik untuk menghasilkan

proses pembelajaran yang efektif mampu meningkatkan pemahaman.

Kesimpulannya, bahan ajar adalah sekelompok materi yang mengandung isi

pembelajaran dan berfungsi sebagai panduan awal peserta didik. Bahan ajar
15

mendukung peserta didik pada proses pembelajaran yang efektif, dan salah satu

contohnya adalah Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD).

b. Manfaat Bahan Ajar

Manfaat bahan ajar untuk peserta diidk yaitu membuat kegiatan belajar

dapat menarik, di dalam bahan memuat materi yang sesuai kemudian dikemas

secara menarik dan krearif oleh guru. bahan ajar memudahkan peserta didik

untuk belajar materi yang harus dikuasai serta dicapai bagi peserta didik.

Menurut Siti Aisyah, Evih Noviyanti Triyanto (2022: 63) Pemanfaatan

bahan ajar berdampak signifikan pada kesuksesan pencapaian tujuan

pembelajaran. bahan ajar bisa diguakan sebagai media utama penunjangan

proses pembelajaran bagi peserta didik, biasanya berbentuk cetak maupun non

cetak. Memberikan informasi materi yang dikemas secara ringkas dan jelas

supaya bisa menarik serta memberi kemudahan untuk belajar.

Dapat disimpulkan manfaat bahan ajar sebagai alat bantu dalam

prosespembelajaran berlangsung dikelas. Bahan ajar digunakan dalam

pembelajaran berkelompok maupun individu, bahan ajar disusun secara

menarik dan singkat namum jelas. Ketika pembuatannya isi materi diharuskan

sesui dengan kebutuhan peserta didik sehingga tepat kegunaannya.

c. Tujuan Bahan Ajar

Bahan ajar menyediakan materi pembelajaran disesuaikan kurikulum dan

mempertimbangkan karakteristik serta latar belakang sosial, memberikan

mereka alternatif pengajaran yang dapat menggantikan buku teks yang mungkin

sulit diakses, sehingga dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam

mengelola proses pembelajaran. (Bawamenewi, 2019). Sedangkan tujuan bahan


16

ajar menurut Daryanto dan Dwicahyono (dalam Usman dkk, 2019), Ini

melibatkan tiga aspek penting, yakni: (1) menyediakan bahan ajar disesuaikan

kurikulum dengan memahami kebutuhan peserta didik, mencakup karakteristik

pribadi dan lingkungan sosial; (2)mendukung peserta didik mendapatkan

sumber pembelajaran lain selain buku teks yang kadang sulit didapatkan; (3)

memberikan bantuan kepada guru dalam mengelola proses pembelajaran.

Kesimpulannya adalah bahan ajar sebagai bahan pelajaran disusun

sistematis, yang dipakai guru dan peserta didik saat KBM bertujuan

menyediakan bahan pengajaran yang membantu peserta didik sebagai alternatif

buku teks, dan dikembangkan sedemikian rupa menyesuaikan kurikulum yang

berlaku. Bahan ajar disusun secara berbeda-beda dengan menyesuaikan

kebutuhan peserta didik. Wujud bahan ajar tidak berupa buku teks saja, namun

juga bisa berwujud audio visual seperti video pembelajaran interaktif.

3. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

a. Pengertian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yakni komponen bahan ajar

pendukung peserta didik saat proses pembelajaran di kelas. LKPD brisikan

materi ajar yang dicetak berupa lembar-lembar kertas berisikan rangkuman

materi dan petunjuk yang harus dikerjakan peserta didik (Suttrisno, 2021).

Hal itu memudahkan guru saat proses pembelajaran.

LKPD sering diartikan lembar evaluasi yang mana peserta didik diharuskan

mengerjakan, padahal LKPD yang benar berisikan aktifitas yang dilakukan

secara langsung oleh peserta didik. LKPD merupakan dokumen yang berisi

berbagai aktivitas, pertanyaan, dan soal yang harus dijawab peserta didik saat
17

mereka terlibat dalam aktivitas praktis yang berkaitan dengan materi pelajaran

yang dipelajarinya. (Noprinda & Soleh, 2019; Syamsu, 2020). Tidak hanya itu,

LKPD juga memuat petunjuk penggunaan, ringkasan materi dan langkah-

langkah kegiatan untuk memudahkan pemahaman peserta didik saat digunakan.

Pengembangan LKPD yang benar tidak luput dari bantuan kreativitas guru

dalam perancangannya. Perancangan LKPD tersebut dibuat semenarik mungkin

seperti penggunaan warna, isi yang jelas, mengajak peserta didik menggali

kemampuannya, serta mampu memberikan motivasi saat pembelajaran. LKPD

adalah alat yang membantu meningkatkan pemikiran dan tanggung jawab anak

didik selama mereka mengikuti keberlangsungan kegiatan pembelajaran,

berfungsi sebagai panduan (Norita & Hadiyanto, 2021).

Kesimpulannya LKPD berperan penting membantu pembelajaran di kelas,

LKPD digunakan sebagai alat bantu mengajar dengan pengemasan materi yang

jelas. Kegiatan pada LKPD membuat peserta didik akan melakukan kegiatan

agar mampu mambut peserta didik lebih cepat untuk memahaminya. Adapun

soal evaluasi digunakan sebagai penilaian peserta didik apakah sudah benar-

benar paham terhadap pembelajaran tersebut.

b. Fungsi Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Peserta Didik memiliki fungsi penunjang proses

pembelajaran peserta didik. LKPD biasanya digunakan bahan ajar peserta didik,

memberikan pengalaman baru pada pembelajaran, sehingga guru harus bisa

menuangkan kreativitasnya meciptakan LKPD. fungsi LKPD, Pertama, ia

berfungsi sebagai alat bantu yang dapat mengaktifkan peserta didik, memberi

mereka peran yang lebih aktif saat proses pembelajaran. Kedua, LKPD juga
18

berperan sebagai panduan yang membantu peserta didik paham terkait materi

dengan lebih mudah. Dalam format yang ringkas, LKPD menyediakan beragam

tugas yang berguna untuk melatih pemahaman. Selain itu, LKPD memudahkan

guru melakukan pembelajaran kepada peserta didik. Dengan demikian, LKPD

merupakan alat yang efektif dalam mendukung proses pembelajaran yang

interaktif dan pemahaman yang lebih baik. (Andi Pratowo dalam Ega Ayu

Lestari, 2018):

Fungsi utama LKPD bertujuan membantu supaya peserta didik memperoleh

pembelajaran dengan cara pelaksanaan atau interaksi secara langsung. Dengan

adanya LKPD memberikan kemudahan bagi guru sebagai fasilitator

pembelajaran dikelas.

c. Karakteristik Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) memiliki karakteristik yang

pertama menyusun kurikulum yang sesuai dengan pembelajran, terdapat tujuan,

fokus yang diambil untuk peserta didik, konsep LKPD yang disajikan. Sejalan

dengan Sari (2017) LKPD terdapat beberapa karakteristik yang mencakup: (a)

pengembangannya berdasarkan kurikulum, (b)ditujukan untuk mencapai tujuan

tertentu, (c)menekankan proses belajar peserta didik, (d)penyajiannya

disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif peserta didik, dan (e)

mendorong perkembangan kreativitas selama proses pembelajaran.

Kesimpulannya karakteristik pada LKPD yang baik secara penyusunannya

sesuai dengan prosedur yang berlaku. Mulai urutan kurikulum, tujuan, isi serta

bentuk LKPD atau pola hasil jadinya yang akan digunakan peserta didik pada

proses pembelajran.
19

d. Kelemahan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Berdasarkan hasil penelitian Rizkiyah dkk (2018), tidak semua produk

pengembangan LKPD bersifat universal, karena terdapat beberapa rancangan

LKPD yang tidak mudah digunakan di sekolah yang lebih memahami nilai-nilai

agama Islam, selain itu variasi latihan soal dalam LKPD hanya berpola itu-itu

saja sehingga berpotensi peserta didik akan merasakan bosan.

Selain itu, kekurangan LKPD juga dikemukakan oleh Rahmat (dalam

Lorena dkk, 2019) melalui hasil penelitiannya. Dari hasil penelitiannya tersebut

dapat ditemukan beberapa kekurangan LKPD seperti aplikasinya hanya terbatas

gambar sehingga kurang mendorong motivasi peserta didik agar tertarik, serta

tidak banyak terdapat jumlah butir soal sehingga peserta didik yang

memerlukan lebih banyak latihan akan tidak maksimal dalam mengikuti

pembelajaran yang menggunakan LKPD.

Dari kekurangan-kekurangan oleh beberapa tokoh, kesimpulannya

pengembangan LKPD harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang saat

ini sedang diajar, dengan kata lain tidak disarankan menggunakan LKPD yang

dijual bebas dan bersifat umum, sehingga dengan ini akan meminimalisir

kemungkinan ada ketidakcocokan kebutuhan yang membuat jalannya

pembelajaran kurang maksimal.

e. Kelebihan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Penggunaan LKPD di pembelajaran memberikan keunggulan, seperti

membantu guru mengatur proses pengajaran dengan lebih efisien. Contohnya,

dapat mengubah pendekatan pembelajaran dari yang sebelumnya berpusat pada

guru menjadi berpusat pada peserta didik. Pada model pembelajaran


20

menitikberatkan pada peserta didik, akan terjadi interaksi yang aktif peserta

didik dengan guru dan peserta didik dengan sesama peserta didik. Dalam model

ini, peserta didik mampu mengakses informasi dari berbagai sumber, seperti

perpustakaan, sumber di luar sekolah, atau pengamatan pribadi mereka sendiri

(Darmojo dan Kaligis). (dalam Kristyowati, 2018).

Keunggulan lain dari LKPD diungkapkan oleh Kristyowati (2018) adalah

LKPD memiliki potensi membantu guru mengarahkan peserta didik menggali

konsep melalui pengalaman pribadi mereka atau melalui kerja kelompok. Selain

itu, penggunaan LKPD juga bisa berperan dalam pengembangan keterampilan

proses, memicu pola pikir ilmiah, dan menumbuhkan minat peserta didik

terhadap lingkungan alam. Pada akhirnya, LKPD juga memberikan kemudahan

bagi guru untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan

pembelajaran. Menurut Umbaryati (2020), Semua ini akan memberikan

manfaat yang sangat positif bagi peserta didik. Pertama, akan mendorong

partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Kedua, akan mendukung

perkembangan pemahaman konsep peserta didik. Ketiga, akan memberikan

latihan yang berguna bagi peserta didik dalam menemukan serta memperkuat

keterampilan proses mereka. Keempat, LKPD akan berfungsi sebagai panduan

yang berguna baik bagi guru maupun peserta didik dalam menjalani proses

pembelajaran. Terakhir, ini juga akan membantu peserta didik dalam menyusun

catatan yang bermanfaat terkait dengan materi pembelajaran yang mereka

pelajari selama kegiatan belajar.

Dari pendapat beberapa tokoh, dapat diketahui bahwasannya LKPD

memiliki banyak sekali kelebihan dan manfaat bagi siswa. Siswa akan terbiasa
21

untuk menemukan konsep melalui kegiatannya, membiasakan diri dalam

berpikir logic dan ilmiah, serta dapat menuntun peserta didik dalam

berargumentasi. Jika dilakukan komparasi antara kekurangan dan kelebihan

LKPD, maka kelebihan LKPD jauh lebih unggul, sehingga di dalam

pembelajaran LKPD layak untuk digunakan.

f. Sistematika Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Sistematika LKPD merupakan komponen yang terdapat dalam LKPD,

sistematika LKPD biasanya berisikan judul, petunjuk penggunaan, isi materi,

Langkah-langkah dan evaluasi pembelajaran. Ini sesuai dengan pandangan yang

disampaikan oleh Prastowo (2014:208). Menurutnya, LKPD sebagai materi

pembelajaran memiliki enam komponen inti yang mencakup judul, panduan

pembelajaran, kompetensi dasar atau materi pokok, informasi tambahan yang

mendukung, tugas atau langkah-langkah kerja, serta elemen penilaian dan

evaluasi.

Struktur LKPD yang telah dibuat mengikuti pedoman penyusunan yang

dirinci oleh Prastowo (2015). Struktur tersebut terdiri dari beberapa elemen

yang meliputi halaman depan (cover), rangkuman materi (konsep), tujuan

pembelajaran, daftar alat dan bahan, langkah-langkah prosedur kerja, tabel

observasi yang diperkaya dengan ilustrasi, sejumlah pertanyaan yang harus

direspons oleh peserta didik, serta rangkuman atau simpulan.

Dari uraian diatas kesimpulannya LKPD berisikan kegiatan peserta didik

yang baik dilengkapi dengan judul, petunjuk penggunaan yang jelas, Langkah-

langkah kegiatan, materi yang sesuai dengan kurikulum, serta terdapat evaluasi

pembelajaran bagi peserta didik yang dikemas berupa lembaran. Dengan


22

adanya kejelasan yang ada pada LKPD dapat menjadi pendukung untuk

memahami materi pada proses pembelajaran di kelas.

4. Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)

a. Pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)

Model pembelajaran merupakan sebuah rancangan yang sudah dirancang

terlebih dahulu sebagai gambaran proses pembelajaran. Model pembelajaran

berisikan gambaran seperti apa pembelajaran yang akan diajarkan oleh guru,

selain itu juga memudahkan guru untuk menyalurkan materi pembelajaran di

kelas. Kurikulum merdeka saat ini pembelajaran lebih berpusat kepada peserta

didik belajar secara langsung (Student Center), untuk itu penggunaan model

pembelajaran juga harus sesuai dengan penerapan kurikulum merdeka, seperti

model pembelajaran PJBL.

Model PJBL memberikan fokus yang lebih besar pada peran peserta didik,

sementara peran guru berperan sebagai fasilitator yang membantu mengatasi

kendala yang mungkin dihadapi peserta didik dalam memahami materi. PJBL

membantu peserta didik untuk berkolaborasi dalam pembelajaran berkelompok,

mengembangkan keterampilan yang mereka miliki, dan proyek yang mereka

kerjakan memberikan pengalaman pribadi yang berharga. Selain itu, model ini

menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.,

(Pasaribu & Simatupang, 2020). Dalam PJBL, peserta didik diberikan peluang

untuk mengidentifikasi serta menyelesaikan tantangan yang muncul selama

proses pembelajaran dan menghasilkan produk akhir berupa hasil dari proyek

yang telah peserta didik selesaikan.


23

Peserta didik harus berperan aktif dalam pembelajaran untuk dapat

memecahkan masalah pada proyek yang dikerjakan, mampu memberikan

argumentasi dalam pemahaman materi menggunakan pendapatnya secara

mandiri maupun kelompok.

PJBL adalah metode pembelajaran yang berakar pada konsep

konstruktivisme, yang menyatakan bahwa peserta didik dapat mencapai

pemahaman yang lebih mendalam tentang materi ketika mereka secara aktif

terlibat dalam membangun pemahaman mereka sendiri melalui kerja nyata

dengan gagasan-gagasan yang ada (Sujana & Sopandi, 2020). Untuk

mendukung hal tersebut maka pengembangan PJBL disesuaikan dengan

kebutuhan pengetahuan dari pesert didik serta perencanaan yang baik. Sehingga

peserta didik bisa mengeksplor pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan

memberikan kenyaman mempelajari ilmu pengetahuan di sekolah.

Perlu diperhatikan dalam penerapan model PJBL terdapat kelebihan dan

kekurangannya, seperti pada kutipan berikut. Aidawati (2016) Model

pembelajaran Project Based Learning (PjBL) memiliki banyak kelebihan atau

keunggulan, seperti membuat peserta didik menjadi aktif dalam proses

pembelajaran, meningkatkan interaktivitas dalam pembelajaran, mendorong

pendekatan berpusat pada peserta didik, mengembangkan kemampuan berpikir

tingkat tinggi peserta didik, memberikan mereka kesempatan untuk mengelola

sendiri penyelesaian tugas, dan menyediakan pemahaman yang lebih mendalam

terhadap materi pembelajaran. Sholekah (2020) kekurangan atau tantangan

dalam penerapan model PjBL melibatkan penggunaan waktu yang cukup lama

untuk menyelesaikan proyek, persiapan yang memerlukan banyak peralatan,


24

potensi peserta didik menjadi kurang aktif dalam kelompok, serta kebutuhan

dana yang cukup besar.

Kesimpulannya model pembelajaran PJBL yaitu model pembelajaran yang

berpusat kepada peserat didik sebagai peran utama. Peserta didik harus mampu

untuk mengerjakan sebuah proyek dan menghasilkan produk. PjBL juga

menekankan peserta didik untuk berifikir kreatif, pemahaman materi melalui

kegiatan aktif, serta menjelaskan pemahaman materi yang telah diperoleh

dengan bahasa sendiri secara kelompok maupun individu.

b. Manfaat Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)

Daryanto dan Syaiful Menurut Daryanto dan Syaiful (2017: 247-248) dalam

bukunya yang berjudul "Pembelajaran Abad 21", Project Based Learning

(PjBL) memiliki sejumlah kelebihan atau manfaat meliputi, PjBL dapat

meningkatkan motivasi peserta didik. Banyak laporan menunjukkan bahwa

dalam proyek-proyek ini, peserta didik menunjukkan tingkat ketekunan yang

tinggi hingga melewati batas waktu yang ditetapkan, mereka berusaha keras

untuk mencapai tujuan proyek tersebut. Kedua, PjBL dapat meningkatkan

kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah. Berbagai sumber

menjelaskan bahwa lingkungan pembelajaran yang berfokus pada proyek

mendorong peserta didik untuk menjadi lebih aktif dan sukses dalam

menyelesaikan masalah-masalah yang kompleks. Ketiga, PjBL juga

meningkatkan kolaborasi di antara peserta didik, di mana mereka bekerja sama

dalam kelompok untuk mencapai tujuan proyek bersama-sama.

Menurut Fathurrohman sebagaimana dikutip dalam Melinda dan Zainil

(2020), penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL)


25

membawa berbagai manfaat yang signifikan, baik bagi guru maupun peserta

didik. Manfaat dari model PjBL termasuk: pertama, peserta didik akan

memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam proses pembelajaran.

Kedua, model ini akan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam

pemecahan masalah. Ketiga, peserta didik akan menjadi lebih antusias dalam

mengikuti proses pembelajaran. Keempat, PjBL akan memajukan kemampuan

peserta didik dalam mengelola sumber-sumber informasi. Kelima, model ini

akan mendorong kerjasama antara peserta didik. Keenam, peserta didik

memiliki kebebasan untuk mengambil inisiatif dan merancang kerangka tugas

proyek. Ketujuh, proyek-proyek ini seringkali menghadirkan tantangan dengan

solusi yang belum ditentukan sebelumnya. Kedelapan, dapat merancang proses

untuk mencapai hasil akhir. Kesembilan, bertanggung jawab untuk mencari

serta mengorganisir informasi yang dibutuhkan. Kesepuluh,melakukan

penilaian secara berkelanjutan. Kesebelas, peserta didik secara berkala

melakukan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah lakukan. Keduabelas, hasil

akhir dari proyek adalah produk yang dinilai berdasarkan keunggulannya.

Terakhir, suasana kelas yang tercipta dalam model PjBL cenderung lebih

toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Berdasarkan pandangan dua tokoh terkait manfaat pembelajaran model

PjBL sebagai Model pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk terlibat

secara aktif dalam pembelajaran, mendorong pemecahan masalah, dan

memungkinkan mereka bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan produk

yang memiliki nilai. Dalam konteks PjBL, peserta didik akan memperoleh

pengetahuan dan keterampilan baru, mengasah kemampuan pemecahan


26

masalah, menjadi aktif dalam proses belajar, meningkatkan kerjasama antar

peserta didik, memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan dan kerangka

tugas proyek, serta bertanggung jawab. Memperoleh toleransi terhadap orang

lain, meningkatkan kehadiran di sekolah, disiplin, dan rasa percaya diri.

c. Sintaks Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)

Sintaks merujuk pada urutan kegiatan pembelajaran yang membentuk alur

pengajaran. Sintaks ini mengatur jenis tindakan yang dilakukan oleh guru,

mengatur urutan kegiatan tersebut, dan memberikan petunjuk tugas kepada

peserta didik. Setiap model pembelajaran memiliki urutan dan tahapan yang

berbeda, termasuk model pembelajaran PJBL. Dalam Pembelajaran Berbasis

Proyek, pendidik memiliki kesempatan untuk mengelola proses pembelajaran

di kelas dengan mendorong keterlibatan dalam proyek-proyek. Sesuai dengan

pandangan Eliza dkk. (2019), proyek-proyek ini mencakup tugas-tugas yang

kompleks yang berasal dari pertanyaan dan masalah yang menantang, yang

memerlukan peserta didik untuk merancang, menyelesaikan masalah, membuat

keputusan, melakukan investigasi, dan memberikan kesempatan bagi peserta

didik untuk bekerja secara mandiri.

Diadopsi dari Furi dkk, (2018) pada model PjBL terdapat enam langkah-

langkah/fase pembelajaran di antaranya adalah:

1) Pertanyaan mendasar, Guru memperkenalkan topik dan mengajukan

pertanyaan tentang bagaimana mengatasi masalah, sedangkan peserta didik

kemudian mengajukan pertanyaan mendasar tentang langkah-langkah yang

harus mereka ambil terkait dengan topik atau pemecahan masalah tersebut.
27

2) Mendesain perencanaan produk, Guru memastikan bahwa setiap peserta

didik dalam kelompok memilih dan memahami langkah-langkah yang

diperlukan untuk membuat proyek atau produk. Kemudian, peserta didik

berkolaborasi dalam diskusi untuk merencanakan pembuatan proyek

pemecahan masalah, termasuk pembagian tugas, persiapan alat, bahan,

media, dan sumber yang diperlukan.

3) Menyusun jadwal pembuatan, Guru dan peserta didik bersama-sama

menentukan jadwal pelaksanaan proyek, termasuk tahapan-tahapan dan

tenggat waktu pengumpulan. Setelah itu, peserta didik merancang jadwal

penyelesaian proyek mereka, dengan memperhitungkan batas waktu yang

telah ditetapkan dalam kesepakatan bersama.

4) Memonitor keaktifan dan perkembangan proyek, Guru melakukan

pemantauan terhadap keterlibatan peserta didik selama proses pelaksanaan

proyek, mengawasi perkembangan yang terjadi, dan memberikan

bimbingan saat peserta didik menghadapi kendala. Selanjutnya, peserta

didik menjalankan pembuatan proyek sesuai dengan jadwal yang telah

disepakati, mencatat setiap tahapannya, dan berdiskusi dengan guru

mengenai masalah-masalah yang timbul selama proses penyelesaian proyek

tersebut.

5) Menguji hasil, Guru berpartisipasi dalam diskusi mengenai prototipe

proyek, mengamati tingkat keterlibatan peserta didik, dan mengevaluasi

pencapaian standar yang telah ditetapkan. Setelah itu, peserta didik

melakukan evaluasi mengenai keberhasilan proyek yang telah mereka


28

kerjakan dan menyusun laporan mengenai produk atau karya yang nantinya

akan dipresentasikan kepada orang lain.

6) Evaluasi pengalaman belajar, Guru mengarahkan serta memberikan

panduan dalam penyajian proyek, memberikan respon terhadap hasil yang

dipresentasikan, dan kemudian bersama-sama dengan peserta didik

melakukan refleksi atau penyimpulan. Setiap peserta didik memaparkan

laporan proyek mereka, dan peserta didik lain memberikan tanggapan.

Bersama dengan guru, mereka mengambil kesimpulan mengenai hasil

proyek yang telah dilakukan.

Berdasarkan paparan di atas ditarik kesimpulan PjBL/Pembelajaran

Berbasis Proyek yakni metode belajar memakai permasalahan untuk langkah

pertama mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru didasarkan

pengalaman saat aktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek

dirancang terkait permasalahan komplek yang dibutuhkan peserta didik dalam

melakukan insvestigasi dan memahami dengan betul, cocok untuk digunakan

pada mata pelajaran Sains.

5. Pembelajaran IPA Dan IPS (IPAS)

Pembelajaran IPAS adalah kombinasi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas IV. Isinya sangat berkaitan dengan alam

dan interaksi sosial manusia. IPA fokus pada pemahaman tentang makhluk

hidup dan ekosistem di bumi. Menurut Wati dkk (2023), IPA merupakan mata

pelajaran yang sebaiknya diajarkan dengan pendekatan observasi langsung

karena tidak semua materi bisa efektif disampaikan melalui metode ceramah

saja. Oleh karena itu, metode ini bisa dipadukan dengan modul dan berbagai
29

jenis media pembelajaran. Faktor inilah yang disebut sebagai penyebab

rendahnya minat belajar peserta didik, karena kurangnya variasi dan kurangnya

inisiatif dalam proses pembelajaran (Asrul dkk dalam Wati, 2023).

Sementara itu, pembelajaran IPS berfokus pada studi tentang kehidupan

sosial dari berbagai latar belakang budaya dan bersifat multikultural (Faizin

dkk, 2023). Menurut Standar isi yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan No. 21 Tahun 2016, mata pelajaran IPS mencakup berbagai aspek,

termasuk geografi, waktu, kehidupan sosial, ekonomi, sosiologi, dan

kesejahteraan.

Berdasarkan uraian di atas, pengembangan kegiatan pembelajaran

pembelajaran IPAS harus menerapkan model, pendekatan, metode atau strategi

yang memadai disesuaikan situasi dan kondisi yang ada di masing-masing

sekolah. Namun sebagai alternatif, guru dapat menggunakan model, strategi

metode berbasis inkuiri, pembelajaran berbasis proyek dan tidak melupakan

proses pembelajaran berdiferensiasi dengan memperhatikan isi, proses dan

produk pembelajaran, karena karakteristik pembelajaran berdiferensiasi

nantinya adalah kreatif, efektif, pembelajaran yang inovatif dan santai agar

peserta didik merasa senang dan nyaman selama proses pembelajaran.


30

B. Kajian Penelitian Yang Relevan

Penelitian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) berbasis Project Based

Learning (PJBL) telah banyak pada penelitian sebelumnya. Peneliti menjadikan

beberapa penelitian yang ada sebagai referensi bahan berpandingan dan

pertimbangan. Adapun perbedaan dan persamaan dengan kajian peneliti

terdahulu sebagi berikut:

Tabel 2. 3 Penelitian Yang Relevan

No. Nama dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan


1. Nama Peneliti: Penggunaan model Pada penelitian produk
Rochmi, Laila Aunur (2022) PJBL (Project Based yang dikembangkan
Judul Penelitian: Learning) pada proses yakni LKPD kelas 3
Pengembangan LKPD berbasis pembelajaran cukup pembelajaran tatap
pendekatan STEAM model PJBL membantu peserta muka, sedangkan
untuk peserta didik kelas 3 SD didik. Dalam PJBL peneliti ini produk yang
tema 6 subtema 1 pembelajaran 2 terdapat kegiatan atau dikembangkan LKPD
proyek yang berbasis PJBL
Hasil: menghasilkan produk dilengkapi dengan
Penelitian ini telah mendapatkan jadi, sehingga peserta Langkah-langkah yang
validasi materi maupun bahan ajar didik akan terlibat jelas serta penggunaan
dengan presentase yang cukup langsut saat foto asli.
tinggi, sehingga sudah dipastikan pembelajaran dan
hasil yang baik dalam penelitian. lebih memahami
materi yang dipejari
dalam kelas

2. Nama Peneliti: Penggunaan LKPD 1. Penggunaan uji coba


Diana Saputri, Sony Irianto,.dkk disesuaikan produk penelitian ini
(2019) kurikulum yang menggunakan Lesson
Judul Penelitian: berlaku, sehingga isi Study
Pengembangan Lembar Kerja dari materi yang akan Sedangkan peneliti ini
Peserta Didik (LKPD) materi disampaikan sesuai langsung melibatkan
jaring-jaring kubus dan balok bagi peserta didik. peserta didik
berbasis Project Based Learnign disesuaikan hal yang
(PjBL) dirancang di kegiatan
LKPD.
Hasil:
LKPD PJBL dengan model Lesson
Study mampu membantu guru
dalam menunjang proses kegiatan
peserta didik menjadi optimal.

3. Nama Peneliti: Sari,Lifda.,dkk Penggunaan LKPD Pada penelitian tersebut


(2022) berbasis PJBL dinilai masih menggunakan
Judul Penelitian: cukup membantu pada kurikulum 2013, dalam
Validitas LKPD Berbasis Model saat pembelajaran, pengerjaan LKPD
Project Based Learning peserta didik akan ikut melakukan pengamatan
Pembelajaran Tematik Di Kelas V serta aktif sehingga terlebih dahulu.
Sekolah Dasar peseta didik bisa Sedangkan peneliti ini
31

No. Nama dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan


Hasil: mengeksplor sudah menggunakan
LKPD yang didapatkan dengan pembelajaran dalam kurikulum merdeka,
contoh PjBL mempunyai kelas kelas secara proses pengerjaan
validitas yg tinggi dan layak berkelompok. LKPD langsung pada
diujikan di lapangan. pembuatan produk
sesuai denga nisi LKPD
tersebut.
32

C. Kerangka Pikir

Tabel 2.4 Kerangka Berpikir

Kondisi Ideal Kondisi Lapangan

1. Peserta didik bersemangat dan aktif 1. Masih terdapat siswa yang kurang
2. Lembar Kegiatan Peserta Didik bisa dikondisikan pada saat
berisikan kegiatan pembelajaran pembelajaran berlangsung.
bukan berisikan soal evaluasi peserta 2. LKPD hanya berisikan soal-soal
evaluasi
didik.
3. Belum menggunakan PJBL
3. Penggunaan model Project Based
sehingga dalam pembelajaran
Learning (PJBL) untuk mendukung
pembelajaran proyek kurang ada kegiatan praktek secara
langsung.

Analisis Kebutuhan
Penggunaan bahan ajar saat pembelajaran berisikan materi, dan soal-soal evaluasi tanpa ada
kegiatan bagi peserta didik. Pembelajaran masih terpusat kepada penjelasan guru, sehingga
peserta didik lebih sering menyimak pembelajaran tersebut.

Metodologi penelitian

➢ Model / jenis penelitian : pengembangan

➢ Tempat penelitian : SD Negeri 2 Kepatihan

➢ Pengumpulan data dokumetasi : observasi, wawancara, dokumentasi

➢ Prosedur pengembangan : analisis, desain, pemngembangan, implementasi,


evaluasi

Solusi
Melakukan upaya pembelajaran yang lebih terpusat serta melibatkan peserta didik secara
langsung, seperti kegiatan yang menghasilkan sebuah produk jadi. Dengan didukung oleh bahan
ajar Lemabar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) berbasis Project Based Learning (PJBL).

Pada penelitian ini menghasilkan produk bahan ajar “Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
berbasis Project Based Learning (PJBL) kelas IV SD”

Anda mungkin juga menyukai