BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kurikulum Merdeka
a. Pengertian Kurikulum Merdeka
Kurikulum ialah bagian terpenting dalam pelaksanaan pembelajaran di
sekolah, karena sebagai pedoman utama atau acuan pembelajaran. Kurikulum
2013 atau K13 kurikulum yang sudah digunakan. Kurikulum merdeka
merupakan kurikulum intrakulikuler, peserta didik banyak waktu untuk
memahami konsep maupun kemampuannya setiap individu. Gagasan Merdeka
Belajar ini dicanangkan oleh Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, dengan tujuan membentuk Sumber Daya Manusia yang unggul
melalui penekanan pada penerapan nilai-nilai karakter,sehingga kemampuan
berpikir dan kreativitas setiap pelajar dapat berkembang. Keinginan untuk
mencapai kebebasan dalam konteks MBKM ini juga memberikan dorongan
kepada setiap perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas mereka,
dengan hasil mencetak lulusan yang memiliki karakter yang kuat, kemampuan
berpikir yang cemerlang, serta kreativitas yang berkembang (Mambarasi Nehe,
2021).
Kurikulum merdeka berperan untuk menyempurnakan kurikulum
sebelumnya dalam pembelajaran di sekolah. Pengembangan kurikulum
merdeka dalam pembelajaran diharapkan dapat mengatasi ketertinggalam pada
masa pandemi. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menghasilkan
pembelajaran yang aktif dan kreatif. Ini tidak menggantikan program-program
11
12
yang sudah ada, melainkan bertujuan untuk meningkatkan sistem yang telah
berjalan sebelumnya (Achmad dkk., 2022). Kurikulum merdeka diberikan
pembebasan kepada peserta didik, guru dan sekolah dalam menentukan KBM
dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekolah. Guru bisa menentukan
pembelajaran seperti apa yang akan diajarkan kepada peserta didik.
Peran utama kesuksesan dalam kurikulum merdeka berada pada guru yang
terlebih dahulu harus memahami betul terhadap kurikulum ini. Kurikulum
merdeka memiliki beragam pembelajaran dengan berfokus kepada potensi-
potensi yang dimiliki peserta didik, penggalian pengetahuan, memberikan
keleluasaan waktu memahami pembelajaran di kelas serta menganggkat konsep
merdeka belajar. Merdeka belajar adalah proses pembelajaran yang
memberikan makna dan nilai sehingga menghadirkan kemerdekaan dalam
berpikir, berinovasi, mandiri dan kreatif (Lao & Hendrik dalam Daga, 2021).
Program Merdeka Belajar adalah inisiatif untuk mengungkapkan potensi
kreatif dari guru dan peserta didik, meningkatkan mutu pembelajaran. Merdeka
belajar memberikan peluang peserta didik mengeksplor kemampuannya,
kebebasan untuk belajar serta kenyamanan. Maka diharapkan dapat melahirkan
generasi penerus bangsa yang unggul dan berguna bagi masyarakat Indonesia.
Dapat disimpulkan bahwa kurikulum merdeka diciptakan untuk
memperbaiki sistem pada kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini mengusung
konsep kemandirian belajar, sehingga dengan ini guru mempunyai kebebasan
menentukan pembelajaran untuk diajarkan ke peserta didik. Tidak hanya itu,
pada kurikulum merdeka memberikan kesempatan kepada peserta didik agar
13
punya waktu lama dalam KBM. Peserta didik akan lebih aktif, kreatif untuk
mengekplor kemampuanya supaya lebih memahami materi yang dipelajari.
b. Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan K13
Tabel 2. 2 Perbedaan Kurikulum Merdeka Dengan K13
NO. Aspek Kurikulum 2013 Kurikulum Merdeka
1. Strategi Lebih mengutamakan Guru, peserta didik, dan orang
Pembelajaran pemahaman, skill, dan tua bisa mempunyai suasana
pendidikan berkarakter, yang menyenangkan (Saleh,
peserta didik dituntut 2020).
paham materi, aktif dalam
berdiskusi dan presentasi
serta mempunyai sopan
santun disiplin tinggi
(Anwar dkk, 2022).
2. Penanaman Nilai Melalui PPK (Penguatan Adanya program P5 (Projek
Karakter Pendidikan Karakter); Penguatan Profil Pelajar
religius, nasionalisme, Pancasila. Terdiri dari
mandiri, gotong royong, dimensi: beriman dan
integritas (Virdaus, 2022). bertaqwa kepada Tuhan YME,
berkebhinekaan global,
bergotong royong, mandiri,
kreativitas, bernalar kritis
(Kemendikburistek, 2022).
3. Tujuan Adanya tujuan dalam Tujuan pelajaran tersajikan
membangun karakter dalam capaian pembelajaran
bangsa. (CP). ada penilaian assesmen
yaitu non kognitif dan kognitif
yang mana non kognitif..
4. Kebijakan 1. Berlaku Ujian Nasional Dirangkum dari penelitian
(UN). sebelumnya oleh Nasution
2. RPP dibuat secara (2021), perubahan-perubahan
lengkap dari kebijakan K-13 menjadi
Kompetensi Inti, Kurikulum Merdeka antara
Kompetensi Dasar, lain:
hingga Penilaian. 1. Ujian Nasional (UN) akan
3. Tidak ada kebijakan ditiadakan dan diganti
yang berarti mengenai Assesment Kompetensi
PPDB. Minimum serta Survei
Karakter.
2. Ujian Sekolah Berstandar
Nasional (USBN) terkait
kebijakan ini USBN
diserahkan seutuhnya ke
sekolah masing-masing.
3. Penyederhanaan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) cukup dibuat satu
14
NO. Aspek Kurikulum 2013 Kurikulum Merdeka
halaman tanpa diharuskan
ratusan halaman.
4. Penerimaan Peserta Didik
Baru (PPDB), kebijakan
PPDB ditekankan
penerapan sistem zonasi,
namun tidak termasuk
wilayah 3T.
2. Bahan Ajar
a. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar yakni perangkat pendukung KBM bagi siswa di sekolah. Bahan
ajar dalam KBM termasuk komponen penting yang berisikan materi yang
tersusun sistematis oleh guru untuk peserta didik pada awal pembelajaran.
Bahan ajar biasanya berisikan materi pelajaran, ide, konsep serta evaluasi
pembelajaran yang nantinya peserta didik harus menguasainya pada proses
pembelajaran berlangsung. Sependapat dengan kutipan berikut, Materi
pembelajaran adalah dasar awal yang disusun dengan terstruktur didasarkan
prinsip-prinsip tertentu guna mengukur kesuksesan peserta didik (Syukur,
Fitria, & F, 2021).
Pengembangan bahan ajar hendaklah disesuaikan dengan kebutuhan peserta
didik. Kesesuaian bahan ajar dapat memudahkan guru dalam pemberian
pemahaman dalam meningkatkan kreativitas, aktif serta pemahaman yang baik.
(Fajri, 2018) menyatakan bahan ajar berperan krusial pada proses pembelajaran
karena berfungsi sebagai panduan guru dan peserta didik untuk menghasilkan
proses pembelajaran yang efektif mampu meningkatkan pemahaman.
Kesimpulannya, bahan ajar adalah sekelompok materi yang mengandung isi
pembelajaran dan berfungsi sebagai panduan awal peserta didik. Bahan ajar
15
mendukung peserta didik pada proses pembelajaran yang efektif, dan salah satu
contohnya adalah Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD).
b. Manfaat Bahan Ajar
Manfaat bahan ajar untuk peserta diidk yaitu membuat kegiatan belajar
dapat menarik, di dalam bahan memuat materi yang sesuai kemudian dikemas
secara menarik dan krearif oleh guru. bahan ajar memudahkan peserta didik
untuk belajar materi yang harus dikuasai serta dicapai bagi peserta didik.
Menurut Siti Aisyah, Evih Noviyanti Triyanto (2022: 63) Pemanfaatan
bahan ajar berdampak signifikan pada kesuksesan pencapaian tujuan
pembelajaran. bahan ajar bisa diguakan sebagai media utama penunjangan
proses pembelajaran bagi peserta didik, biasanya berbentuk cetak maupun non
cetak. Memberikan informasi materi yang dikemas secara ringkas dan jelas
supaya bisa menarik serta memberi kemudahan untuk belajar.
Dapat disimpulkan manfaat bahan ajar sebagai alat bantu dalam
prosespembelajaran berlangsung dikelas. Bahan ajar digunakan dalam
pembelajaran berkelompok maupun individu, bahan ajar disusun secara
menarik dan singkat namum jelas. Ketika pembuatannya isi materi diharuskan
sesui dengan kebutuhan peserta didik sehingga tepat kegunaannya.
c. Tujuan Bahan Ajar
Bahan ajar menyediakan materi pembelajaran disesuaikan kurikulum dan
mempertimbangkan karakteristik serta latar belakang sosial, memberikan
mereka alternatif pengajaran yang dapat menggantikan buku teks yang mungkin
sulit diakses, sehingga dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam
mengelola proses pembelajaran. (Bawamenewi, 2019). Sedangkan tujuan bahan
16
ajar menurut Daryanto dan Dwicahyono (dalam Usman dkk, 2019), Ini
melibatkan tiga aspek penting, yakni: (1) menyediakan bahan ajar disesuaikan
kurikulum dengan memahami kebutuhan peserta didik, mencakup karakteristik
pribadi dan lingkungan sosial; (2)mendukung peserta didik mendapatkan
sumber pembelajaran lain selain buku teks yang kadang sulit didapatkan; (3)
memberikan bantuan kepada guru dalam mengelola proses pembelajaran.
Kesimpulannya adalah bahan ajar sebagai bahan pelajaran disusun
sistematis, yang dipakai guru dan peserta didik saat KBM bertujuan
menyediakan bahan pengajaran yang membantu peserta didik sebagai alternatif
buku teks, dan dikembangkan sedemikian rupa menyesuaikan kurikulum yang
berlaku. Bahan ajar disusun secara berbeda-beda dengan menyesuaikan
kebutuhan peserta didik. Wujud bahan ajar tidak berupa buku teks saja, namun
juga bisa berwujud audio visual seperti video pembelajaran interaktif.
3. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
a. Pengertian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yakni komponen bahan ajar
pendukung peserta didik saat proses pembelajaran di kelas. LKPD brisikan
materi ajar yang dicetak berupa lembar-lembar kertas berisikan rangkuman
materi dan petunjuk yang harus dikerjakan peserta didik (Suttrisno, 2021).
Hal itu memudahkan guru saat proses pembelajaran.
LKPD sering diartikan lembar evaluasi yang mana peserta didik diharuskan
mengerjakan, padahal LKPD yang benar berisikan aktifitas yang dilakukan
secara langsung oleh peserta didik. LKPD merupakan dokumen yang berisi
berbagai aktivitas, pertanyaan, dan soal yang harus dijawab peserta didik saat
17
mereka terlibat dalam aktivitas praktis yang berkaitan dengan materi pelajaran
yang dipelajarinya. (Noprinda & Soleh, 2019; Syamsu, 2020). Tidak hanya itu,
LKPD juga memuat petunjuk penggunaan, ringkasan materi dan langkah-
langkah kegiatan untuk memudahkan pemahaman peserta didik saat digunakan.
Pengembangan LKPD yang benar tidak luput dari bantuan kreativitas guru
dalam perancangannya. Perancangan LKPD tersebut dibuat semenarik mungkin
seperti penggunaan warna, isi yang jelas, mengajak peserta didik menggali
kemampuannya, serta mampu memberikan motivasi saat pembelajaran. LKPD
adalah alat yang membantu meningkatkan pemikiran dan tanggung jawab anak
didik selama mereka mengikuti keberlangsungan kegiatan pembelajaran,
berfungsi sebagai panduan (Norita & Hadiyanto, 2021).
Kesimpulannya LKPD berperan penting membantu pembelajaran di kelas,
LKPD digunakan sebagai alat bantu mengajar dengan pengemasan materi yang
jelas. Kegiatan pada LKPD membuat peserta didik akan melakukan kegiatan
agar mampu mambut peserta didik lebih cepat untuk memahaminya. Adapun
soal evaluasi digunakan sebagai penilaian peserta didik apakah sudah benar-
benar paham terhadap pembelajaran tersebut.
b. Fungsi Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kegiatan Peserta Didik memiliki fungsi penunjang proses
pembelajaran peserta didik. LKPD biasanya digunakan bahan ajar peserta didik,
memberikan pengalaman baru pada pembelajaran, sehingga guru harus bisa
menuangkan kreativitasnya meciptakan LKPD. fungsi LKPD, Pertama, ia
berfungsi sebagai alat bantu yang dapat mengaktifkan peserta didik, memberi
mereka peran yang lebih aktif saat proses pembelajaran. Kedua, LKPD juga
18
berperan sebagai panduan yang membantu peserta didik paham terkait materi
dengan lebih mudah. Dalam format yang ringkas, LKPD menyediakan beragam
tugas yang berguna untuk melatih pemahaman. Selain itu, LKPD memudahkan
guru melakukan pembelajaran kepada peserta didik. Dengan demikian, LKPD
merupakan alat yang efektif dalam mendukung proses pembelajaran yang
interaktif dan pemahaman yang lebih baik. (Andi Pratowo dalam Ega Ayu
Lestari, 2018):
Fungsi utama LKPD bertujuan membantu supaya peserta didik memperoleh
pembelajaran dengan cara pelaksanaan atau interaksi secara langsung. Dengan
adanya LKPD memberikan kemudahan bagi guru sebagai fasilitator
pembelajaran dikelas.
c. Karakteristik Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) memiliki karakteristik yang
pertama menyusun kurikulum yang sesuai dengan pembelajran, terdapat tujuan,
fokus yang diambil untuk peserta didik, konsep LKPD yang disajikan. Sejalan
dengan Sari (2017) LKPD terdapat beberapa karakteristik yang mencakup: (a)
pengembangannya berdasarkan kurikulum, (b)ditujukan untuk mencapai tujuan
tertentu, (c)menekankan proses belajar peserta didik, (d)penyajiannya
disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif peserta didik, dan (e)
mendorong perkembangan kreativitas selama proses pembelajaran.
Kesimpulannya karakteristik pada LKPD yang baik secara penyusunannya
sesuai dengan prosedur yang berlaku. Mulai urutan kurikulum, tujuan, isi serta
bentuk LKPD atau pola hasil jadinya yang akan digunakan peserta didik pada
proses pembelajran.
19
d. Kelemahan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Berdasarkan hasil penelitian Rizkiyah dkk (2018), tidak semua produk
pengembangan LKPD bersifat universal, karena terdapat beberapa rancangan
LKPD yang tidak mudah digunakan di sekolah yang lebih memahami nilai-nilai
agama Islam, selain itu variasi latihan soal dalam LKPD hanya berpola itu-itu
saja sehingga berpotensi peserta didik akan merasakan bosan.
Selain itu, kekurangan LKPD juga dikemukakan oleh Rahmat (dalam
Lorena dkk, 2019) melalui hasil penelitiannya. Dari hasil penelitiannya tersebut
dapat ditemukan beberapa kekurangan LKPD seperti aplikasinya hanya terbatas
gambar sehingga kurang mendorong motivasi peserta didik agar tertarik, serta
tidak banyak terdapat jumlah butir soal sehingga peserta didik yang
memerlukan lebih banyak latihan akan tidak maksimal dalam mengikuti
pembelajaran yang menggunakan LKPD.
Dari kekurangan-kekurangan oleh beberapa tokoh, kesimpulannya
pengembangan LKPD harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang saat
ini sedang diajar, dengan kata lain tidak disarankan menggunakan LKPD yang
dijual bebas dan bersifat umum, sehingga dengan ini akan meminimalisir
kemungkinan ada ketidakcocokan kebutuhan yang membuat jalannya
pembelajaran kurang maksimal.
e. Kelebihan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Penggunaan LKPD di pembelajaran memberikan keunggulan, seperti
membantu guru mengatur proses pengajaran dengan lebih efisien. Contohnya,
dapat mengubah pendekatan pembelajaran dari yang sebelumnya berpusat pada
guru menjadi berpusat pada peserta didik. Pada model pembelajaran
20
menitikberatkan pada peserta didik, akan terjadi interaksi yang aktif peserta
didik dengan guru dan peserta didik dengan sesama peserta didik. Dalam model
ini, peserta didik mampu mengakses informasi dari berbagai sumber, seperti
perpustakaan, sumber di luar sekolah, atau pengamatan pribadi mereka sendiri
(Darmojo dan Kaligis). (dalam Kristyowati, 2018).
Keunggulan lain dari LKPD diungkapkan oleh Kristyowati (2018) adalah
LKPD memiliki potensi membantu guru mengarahkan peserta didik menggali
konsep melalui pengalaman pribadi mereka atau melalui kerja kelompok. Selain
itu, penggunaan LKPD juga bisa berperan dalam pengembangan keterampilan
proses, memicu pola pikir ilmiah, dan menumbuhkan minat peserta didik
terhadap lingkungan alam. Pada akhirnya, LKPD juga memberikan kemudahan
bagi guru untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Menurut Umbaryati (2020), Semua ini akan memberikan
manfaat yang sangat positif bagi peserta didik. Pertama, akan mendorong
partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Kedua, akan mendukung
perkembangan pemahaman konsep peserta didik. Ketiga, akan memberikan
latihan yang berguna bagi peserta didik dalam menemukan serta memperkuat
keterampilan proses mereka. Keempat, LKPD akan berfungsi sebagai panduan
yang berguna baik bagi guru maupun peserta didik dalam menjalani proses
pembelajaran. Terakhir, ini juga akan membantu peserta didik dalam menyusun
catatan yang bermanfaat terkait dengan materi pembelajaran yang mereka
pelajari selama kegiatan belajar.
Dari pendapat beberapa tokoh, dapat diketahui bahwasannya LKPD
memiliki banyak sekali kelebihan dan manfaat bagi siswa. Siswa akan terbiasa
21
untuk menemukan konsep melalui kegiatannya, membiasakan diri dalam
berpikir logic dan ilmiah, serta dapat menuntun peserta didik dalam
berargumentasi. Jika dilakukan komparasi antara kekurangan dan kelebihan
LKPD, maka kelebihan LKPD jauh lebih unggul, sehingga di dalam
pembelajaran LKPD layak untuk digunakan.
f. Sistematika Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
Sistematika LKPD merupakan komponen yang terdapat dalam LKPD,
sistematika LKPD biasanya berisikan judul, petunjuk penggunaan, isi materi,
Langkah-langkah dan evaluasi pembelajaran. Ini sesuai dengan pandangan yang
disampaikan oleh Prastowo (2014:208). Menurutnya, LKPD sebagai materi
pembelajaran memiliki enam komponen inti yang mencakup judul, panduan
pembelajaran, kompetensi dasar atau materi pokok, informasi tambahan yang
mendukung, tugas atau langkah-langkah kerja, serta elemen penilaian dan
evaluasi.
Struktur LKPD yang telah dibuat mengikuti pedoman penyusunan yang
dirinci oleh Prastowo (2015). Struktur tersebut terdiri dari beberapa elemen
yang meliputi halaman depan (cover), rangkuman materi (konsep), tujuan
pembelajaran, daftar alat dan bahan, langkah-langkah prosedur kerja, tabel
observasi yang diperkaya dengan ilustrasi, sejumlah pertanyaan yang harus
direspons oleh peserta didik, serta rangkuman atau simpulan.
Dari uraian diatas kesimpulannya LKPD berisikan kegiatan peserta didik
yang baik dilengkapi dengan judul, petunjuk penggunaan yang jelas, Langkah-
langkah kegiatan, materi yang sesuai dengan kurikulum, serta terdapat evaluasi
pembelajaran bagi peserta didik yang dikemas berupa lembaran. Dengan
22
adanya kejelasan yang ada pada LKPD dapat menjadi pendukung untuk
memahami materi pada proses pembelajaran di kelas.
4. Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)
a. Pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)
Model pembelajaran merupakan sebuah rancangan yang sudah dirancang
terlebih dahulu sebagai gambaran proses pembelajaran. Model pembelajaran
berisikan gambaran seperti apa pembelajaran yang akan diajarkan oleh guru,
selain itu juga memudahkan guru untuk menyalurkan materi pembelajaran di
kelas. Kurikulum merdeka saat ini pembelajaran lebih berpusat kepada peserta
didik belajar secara langsung (Student Center), untuk itu penggunaan model
pembelajaran juga harus sesuai dengan penerapan kurikulum merdeka, seperti
model pembelajaran PJBL.
Model PJBL memberikan fokus yang lebih besar pada peran peserta didik,
sementara peran guru berperan sebagai fasilitator yang membantu mengatasi
kendala yang mungkin dihadapi peserta didik dalam memahami materi. PJBL
membantu peserta didik untuk berkolaborasi dalam pembelajaran berkelompok,
mengembangkan keterampilan yang mereka miliki, dan proyek yang mereka
kerjakan memberikan pengalaman pribadi yang berharga. Selain itu, model ini
menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.,
(Pasaribu & Simatupang, 2020). Dalam PJBL, peserta didik diberikan peluang
untuk mengidentifikasi serta menyelesaikan tantangan yang muncul selama
proses pembelajaran dan menghasilkan produk akhir berupa hasil dari proyek
yang telah peserta didik selesaikan.
23
Peserta didik harus berperan aktif dalam pembelajaran untuk dapat
memecahkan masalah pada proyek yang dikerjakan, mampu memberikan
argumentasi dalam pemahaman materi menggunakan pendapatnya secara
mandiri maupun kelompok.
PJBL adalah metode pembelajaran yang berakar pada konsep
konstruktivisme, yang menyatakan bahwa peserta didik dapat mencapai
pemahaman yang lebih mendalam tentang materi ketika mereka secara aktif
terlibat dalam membangun pemahaman mereka sendiri melalui kerja nyata
dengan gagasan-gagasan yang ada (Sujana & Sopandi, 2020). Untuk
mendukung hal tersebut maka pengembangan PJBL disesuaikan dengan
kebutuhan pengetahuan dari pesert didik serta perencanaan yang baik. Sehingga
peserta didik bisa mengeksplor pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan
memberikan kenyaman mempelajari ilmu pengetahuan di sekolah.
Perlu diperhatikan dalam penerapan model PJBL terdapat kelebihan dan
kekurangannya, seperti pada kutipan berikut. Aidawati (2016) Model
pembelajaran Project Based Learning (PjBL) memiliki banyak kelebihan atau
keunggulan, seperti membuat peserta didik menjadi aktif dalam proses
pembelajaran, meningkatkan interaktivitas dalam pembelajaran, mendorong
pendekatan berpusat pada peserta didik, mengembangkan kemampuan berpikir
tingkat tinggi peserta didik, memberikan mereka kesempatan untuk mengelola
sendiri penyelesaian tugas, dan menyediakan pemahaman yang lebih mendalam
terhadap materi pembelajaran. Sholekah (2020) kekurangan atau tantangan
dalam penerapan model PjBL melibatkan penggunaan waktu yang cukup lama
untuk menyelesaikan proyek, persiapan yang memerlukan banyak peralatan,
24
potensi peserta didik menjadi kurang aktif dalam kelompok, serta kebutuhan
dana yang cukup besar.
Kesimpulannya model pembelajaran PJBL yaitu model pembelajaran yang
berpusat kepada peserat didik sebagai peran utama. Peserta didik harus mampu
untuk mengerjakan sebuah proyek dan menghasilkan produk. PjBL juga
menekankan peserta didik untuk berifikir kreatif, pemahaman materi melalui
kegiatan aktif, serta menjelaskan pemahaman materi yang telah diperoleh
dengan bahasa sendiri secara kelompok maupun individu.
b. Manfaat Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)
Daryanto dan Syaiful Menurut Daryanto dan Syaiful (2017: 247-248) dalam
bukunya yang berjudul "Pembelajaran Abad 21", Project Based Learning
(PjBL) memiliki sejumlah kelebihan atau manfaat meliputi, PjBL dapat
meningkatkan motivasi peserta didik. Banyak laporan menunjukkan bahwa
dalam proyek-proyek ini, peserta didik menunjukkan tingkat ketekunan yang
tinggi hingga melewati batas waktu yang ditetapkan, mereka berusaha keras
untuk mencapai tujuan proyek tersebut. Kedua, PjBL dapat meningkatkan
kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah. Berbagai sumber
menjelaskan bahwa lingkungan pembelajaran yang berfokus pada proyek
mendorong peserta didik untuk menjadi lebih aktif dan sukses dalam
menyelesaikan masalah-masalah yang kompleks. Ketiga, PjBL juga
meningkatkan kolaborasi di antara peserta didik, di mana mereka bekerja sama
dalam kelompok untuk mencapai tujuan proyek bersama-sama.
Menurut Fathurrohman sebagaimana dikutip dalam Melinda dan Zainil
(2020), penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
25
membawa berbagai manfaat yang signifikan, baik bagi guru maupun peserta
didik. Manfaat dari model PjBL termasuk: pertama, peserta didik akan
memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam proses pembelajaran.
Kedua, model ini akan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
pemecahan masalah. Ketiga, peserta didik akan menjadi lebih antusias dalam
mengikuti proses pembelajaran. Keempat, PjBL akan memajukan kemampuan
peserta didik dalam mengelola sumber-sumber informasi. Kelima, model ini
akan mendorong kerjasama antara peserta didik. Keenam, peserta didik
memiliki kebebasan untuk mengambil inisiatif dan merancang kerangka tugas
proyek. Ketujuh, proyek-proyek ini seringkali menghadirkan tantangan dengan
solusi yang belum ditentukan sebelumnya. Kedelapan, dapat merancang proses
untuk mencapai hasil akhir. Kesembilan, bertanggung jawab untuk mencari
serta mengorganisir informasi yang dibutuhkan. Kesepuluh,melakukan
penilaian secara berkelanjutan. Kesebelas, peserta didik secara berkala
melakukan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah lakukan. Keduabelas, hasil
akhir dari proyek adalah produk yang dinilai berdasarkan keunggulannya.
Terakhir, suasana kelas yang tercipta dalam model PjBL cenderung lebih
toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Berdasarkan pandangan dua tokoh terkait manfaat pembelajaran model
PjBL sebagai Model pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk terlibat
secara aktif dalam pembelajaran, mendorong pemecahan masalah, dan
memungkinkan mereka bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan produk
yang memiliki nilai. Dalam konteks PjBL, peserta didik akan memperoleh
pengetahuan dan keterampilan baru, mengasah kemampuan pemecahan
26
masalah, menjadi aktif dalam proses belajar, meningkatkan kerjasama antar
peserta didik, memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan dan kerangka
tugas proyek, serta bertanggung jawab. Memperoleh toleransi terhadap orang
lain, meningkatkan kehadiran di sekolah, disiplin, dan rasa percaya diri.
c. Sintaks Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL)
Sintaks merujuk pada urutan kegiatan pembelajaran yang membentuk alur
pengajaran. Sintaks ini mengatur jenis tindakan yang dilakukan oleh guru,
mengatur urutan kegiatan tersebut, dan memberikan petunjuk tugas kepada
peserta didik. Setiap model pembelajaran memiliki urutan dan tahapan yang
berbeda, termasuk model pembelajaran PJBL. Dalam Pembelajaran Berbasis
Proyek, pendidik memiliki kesempatan untuk mengelola proses pembelajaran
di kelas dengan mendorong keterlibatan dalam proyek-proyek. Sesuai dengan
pandangan Eliza dkk. (2019), proyek-proyek ini mencakup tugas-tugas yang
kompleks yang berasal dari pertanyaan dan masalah yang menantang, yang
memerlukan peserta didik untuk merancang, menyelesaikan masalah, membuat
keputusan, melakukan investigasi, dan memberikan kesempatan bagi peserta
didik untuk bekerja secara mandiri.
Diadopsi dari Furi dkk, (2018) pada model PjBL terdapat enam langkah-
langkah/fase pembelajaran di antaranya adalah:
1) Pertanyaan mendasar, Guru memperkenalkan topik dan mengajukan
pertanyaan tentang bagaimana mengatasi masalah, sedangkan peserta didik
kemudian mengajukan pertanyaan mendasar tentang langkah-langkah yang
harus mereka ambil terkait dengan topik atau pemecahan masalah tersebut.
27
2) Mendesain perencanaan produk, Guru memastikan bahwa setiap peserta
didik dalam kelompok memilih dan memahami langkah-langkah yang
diperlukan untuk membuat proyek atau produk. Kemudian, peserta didik
berkolaborasi dalam diskusi untuk merencanakan pembuatan proyek
pemecahan masalah, termasuk pembagian tugas, persiapan alat, bahan,
media, dan sumber yang diperlukan.
3) Menyusun jadwal pembuatan, Guru dan peserta didik bersama-sama
menentukan jadwal pelaksanaan proyek, termasuk tahapan-tahapan dan
tenggat waktu pengumpulan. Setelah itu, peserta didik merancang jadwal
penyelesaian proyek mereka, dengan memperhitungkan batas waktu yang
telah ditetapkan dalam kesepakatan bersama.
4) Memonitor keaktifan dan perkembangan proyek, Guru melakukan
pemantauan terhadap keterlibatan peserta didik selama proses pelaksanaan
proyek, mengawasi perkembangan yang terjadi, dan memberikan
bimbingan saat peserta didik menghadapi kendala. Selanjutnya, peserta
didik menjalankan pembuatan proyek sesuai dengan jadwal yang telah
disepakati, mencatat setiap tahapannya, dan berdiskusi dengan guru
mengenai masalah-masalah yang timbul selama proses penyelesaian proyek
tersebut.
5) Menguji hasil, Guru berpartisipasi dalam diskusi mengenai prototipe
proyek, mengamati tingkat keterlibatan peserta didik, dan mengevaluasi
pencapaian standar yang telah ditetapkan. Setelah itu, peserta didik
melakukan evaluasi mengenai keberhasilan proyek yang telah mereka
28
kerjakan dan menyusun laporan mengenai produk atau karya yang nantinya
akan dipresentasikan kepada orang lain.
6) Evaluasi pengalaman belajar, Guru mengarahkan serta memberikan
panduan dalam penyajian proyek, memberikan respon terhadap hasil yang
dipresentasikan, dan kemudian bersama-sama dengan peserta didik
melakukan refleksi atau penyimpulan. Setiap peserta didik memaparkan
laporan proyek mereka, dan peserta didik lain memberikan tanggapan.
Bersama dengan guru, mereka mengambil kesimpulan mengenai hasil
proyek yang telah dilakukan.
Berdasarkan paparan di atas ditarik kesimpulan PjBL/Pembelajaran
Berbasis Proyek yakni metode belajar memakai permasalahan untuk langkah
pertama mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru didasarkan
pengalaman saat aktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek
dirancang terkait permasalahan komplek yang dibutuhkan peserta didik dalam
melakukan insvestigasi dan memahami dengan betul, cocok untuk digunakan
pada mata pelajaran Sains.
5. Pembelajaran IPA Dan IPS (IPAS)
Pembelajaran IPAS adalah kombinasi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas IV. Isinya sangat berkaitan dengan alam
dan interaksi sosial manusia. IPA fokus pada pemahaman tentang makhluk
hidup dan ekosistem di bumi. Menurut Wati dkk (2023), IPA merupakan mata
pelajaran yang sebaiknya diajarkan dengan pendekatan observasi langsung
karena tidak semua materi bisa efektif disampaikan melalui metode ceramah
saja. Oleh karena itu, metode ini bisa dipadukan dengan modul dan berbagai
29
jenis media pembelajaran. Faktor inilah yang disebut sebagai penyebab
rendahnya minat belajar peserta didik, karena kurangnya variasi dan kurangnya
inisiatif dalam proses pembelajaran (Asrul dkk dalam Wati, 2023).
Sementara itu, pembelajaran IPS berfokus pada studi tentang kehidupan
sosial dari berbagai latar belakang budaya dan bersifat multikultural (Faizin
dkk, 2023). Menurut Standar isi yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 21 Tahun 2016, mata pelajaran IPS mencakup berbagai aspek,
termasuk geografi, waktu, kehidupan sosial, ekonomi, sosiologi, dan
kesejahteraan.
Berdasarkan uraian di atas, pengembangan kegiatan pembelajaran
pembelajaran IPAS harus menerapkan model, pendekatan, metode atau strategi
yang memadai disesuaikan situasi dan kondisi yang ada di masing-masing
sekolah. Namun sebagai alternatif, guru dapat menggunakan model, strategi
metode berbasis inkuiri, pembelajaran berbasis proyek dan tidak melupakan
proses pembelajaran berdiferensiasi dengan memperhatikan isi, proses dan
produk pembelajaran, karena karakteristik pembelajaran berdiferensiasi
nantinya adalah kreatif, efektif, pembelajaran yang inovatif dan santai agar
peserta didik merasa senang dan nyaman selama proses pembelajaran.
30
B. Kajian Penelitian Yang Relevan
Penelitian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) berbasis Project Based
Learning (PJBL) telah banyak pada penelitian sebelumnya. Peneliti menjadikan
beberapa penelitian yang ada sebagai referensi bahan berpandingan dan
pertimbangan. Adapun perbedaan dan persamaan dengan kajian peneliti
terdahulu sebagi berikut:
Tabel 2. 3 Penelitian Yang Relevan
No. Nama dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
1. Nama Peneliti: Penggunaan model Pada penelitian produk
Rochmi, Laila Aunur (2022) PJBL (Project Based yang dikembangkan
Judul Penelitian: Learning) pada proses yakni LKPD kelas 3
Pengembangan LKPD berbasis pembelajaran cukup pembelajaran tatap
pendekatan STEAM model PJBL membantu peserta muka, sedangkan
untuk peserta didik kelas 3 SD didik. Dalam PJBL peneliti ini produk yang
tema 6 subtema 1 pembelajaran 2 terdapat kegiatan atau dikembangkan LKPD
proyek yang berbasis PJBL
Hasil: menghasilkan produk dilengkapi dengan
Penelitian ini telah mendapatkan jadi, sehingga peserta Langkah-langkah yang
validasi materi maupun bahan ajar didik akan terlibat jelas serta penggunaan
dengan presentase yang cukup langsut saat foto asli.
tinggi, sehingga sudah dipastikan pembelajaran dan
hasil yang baik dalam penelitian. lebih memahami
materi yang dipejari
dalam kelas
2. Nama Peneliti: Penggunaan LKPD 1. Penggunaan uji coba
Diana Saputri, Sony Irianto,.dkk disesuaikan produk penelitian ini
(2019) kurikulum yang menggunakan Lesson
Judul Penelitian: berlaku, sehingga isi Study
Pengembangan Lembar Kerja dari materi yang akan Sedangkan peneliti ini
Peserta Didik (LKPD) materi disampaikan sesuai langsung melibatkan
jaring-jaring kubus dan balok bagi peserta didik. peserta didik
berbasis Project Based Learnign disesuaikan hal yang
(PjBL) dirancang di kegiatan
LKPD.
Hasil:
LKPD PJBL dengan model Lesson
Study mampu membantu guru
dalam menunjang proses kegiatan
peserta didik menjadi optimal.
3. Nama Peneliti: Sari,Lifda.,dkk Penggunaan LKPD Pada penelitian tersebut
(2022) berbasis PJBL dinilai masih menggunakan
Judul Penelitian: cukup membantu pada kurikulum 2013, dalam
Validitas LKPD Berbasis Model saat pembelajaran, pengerjaan LKPD
Project Based Learning peserta didik akan ikut melakukan pengamatan
Pembelajaran Tematik Di Kelas V serta aktif sehingga terlebih dahulu.
Sekolah Dasar peseta didik bisa Sedangkan peneliti ini
31
No. Nama dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
Hasil: mengeksplor sudah menggunakan
LKPD yang didapatkan dengan pembelajaran dalam kurikulum merdeka,
contoh PjBL mempunyai kelas kelas secara proses pengerjaan
validitas yg tinggi dan layak berkelompok. LKPD langsung pada
diujikan di lapangan. pembuatan produk
sesuai denga nisi LKPD
tersebut.
32
C. Kerangka Pikir
Tabel 2.4 Kerangka Berpikir
Kondisi Ideal Kondisi Lapangan
1. Peserta didik bersemangat dan aktif 1. Masih terdapat siswa yang kurang
2. Lembar Kegiatan Peserta Didik bisa dikondisikan pada saat
berisikan kegiatan pembelajaran pembelajaran berlangsung.
bukan berisikan soal evaluasi peserta 2. LKPD hanya berisikan soal-soal
evaluasi
didik.
3. Belum menggunakan PJBL
3. Penggunaan model Project Based
sehingga dalam pembelajaran
Learning (PJBL) untuk mendukung
pembelajaran proyek kurang ada kegiatan praktek secara
langsung.
Analisis Kebutuhan
Penggunaan bahan ajar saat pembelajaran berisikan materi, dan soal-soal evaluasi tanpa ada
kegiatan bagi peserta didik. Pembelajaran masih terpusat kepada penjelasan guru, sehingga
peserta didik lebih sering menyimak pembelajaran tersebut.
Metodologi penelitian
➢ Model / jenis penelitian : pengembangan
➢ Tempat penelitian : SD Negeri 2 Kepatihan
➢ Pengumpulan data dokumetasi : observasi, wawancara, dokumentasi
➢ Prosedur pengembangan : analisis, desain, pemngembangan, implementasi,
evaluasi
Solusi
Melakukan upaya pembelajaran yang lebih terpusat serta melibatkan peserta didik secara
langsung, seperti kegiatan yang menghasilkan sebuah produk jadi. Dengan didukung oleh bahan
ajar Lemabar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) berbasis Project Based Learning (PJBL).
Pada penelitian ini menghasilkan produk bahan ajar “Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
berbasis Project Based Learning (PJBL) kelas IV SD”