BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknolog mendukung Visi
dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan
berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang berketuhanan dan
berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinnekaan global, gotong royong, dan
kreatif. Hal ini diharapkan akan menjadi pijakan yang kuat untuk menyongsong Visi
Pendidikan Indonesia Tahun 2035, yaitu membangun rakyat Indonensia untuk
menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan
berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.
Perlindungan anak, khususnya pencegahan perundungan mendapatkan
perhatian nasional, sebagaimana tercantum pada RPJMN 2020-2024 serta
Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
Kekerasan di Satuan Pendidikan. Pencegahan kekerasan juga menjadi salah satu nilai
yang didorong dalam upaya penguatan karakter siswa didik melalui promosi profil
Pelajar Pancasila.
Pusat Penguatan Karakter bekerja sama dengan UNICEF Indonesia bersama
mitranya memiliki program Roots Indonesia untuk Pencegahan Perundungan dan
Kekerasan Berbasis Sekolah. Fokus penekanan program ini adalah pada peran siswa
yang memiliki tujuan mengubah norma sosial di sekolah untuk menanamkan
“Perilaku Positif” dengan menggunakan pendekatan jejaring sosial disertai pelatihan
guru “Disiplin Positif”. Diharapkan buku petunjuk pelaksanaan ini dapat membantu
semua pihak, terutama ekosistem pendidikan, dalam melaksanakan program Roots
Indonesia: Program Pencegahan Perundungan dan Kekerasan Berbasis Sekolah.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan perlindungan anak sebagai prioritas
nasional,sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak. Aturan mengenai larangan kekerasan terhadap anak, khususnya
di konteks sekolah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di
Lingkungan Satuan Pendidikan. Aturan dan kebijakan itu diterjemahkan sebagai
upaya pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak, dengan tujuan menciptakan
iklim yang aman dan nyaman untuk anak belajar. Dalam implementasinya, kebijakan
tersebut berfokus pada tenaga pengajar (guru), siswa, dan orang tua.
UNICEF bersama mitra telah mengembangkan program riset-aksi terkait
pencegahan kekerasan antarteman sebaya yang mengadaptasi program bernama Roots
yang kemudian diadaptasi menjadi Roots Indonesia: Program Pencegahan
Perundungan dan Kekerasan Berbasis Sekolah. Program ini merupakan program
pencegahan kekerasan di kalangan teman sebaya yang berfokus pada upaya
membangun iklim yang aman di sekolah dengan mengaktifkan peran siswa sebagai
Agen Perubahan. Program Roots Indonesia ini akan dimasukkan ke dalam kegiatan
sekolah, di mana pegawai, guru, dan siswa akan mendesain kegiatan Roots di sekolah
sesuai kebutuhan dan konteks lokal yang diikuti dengan internalisasi desain kegiatan
tersebut di sekolah.
Dalam upaya pencegahan kekerasan anak di sekolah, beragam riset global
menunjukkan bahwa siswa memiliki pengaruh yang besar dalam menghentikan
kekerasan, khususnya dalam konteks kekerasan antarsiswa di sekolah. Penelitian dari
Princeton University, Rutgers University, dan Yale University di Amerika Serikat
(tahun 2015), yang melibatkan kelompok siswa yang memiliki pengaruh pada 56
sekolah menengah di New Jersey untuk menyebarkan pesan tentang bahaya
perundungan (bullying) dan konflik di sekolah. Menggunakan media penyampaian
pesan seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, poster cetak, dan gelang warna- warni,
siswa yang dipilih didorong untuk berdiskusi dengan cara mereka sendiri mengenai
langkah positif untuk menangani konflik dengan menggunakan istilah yang dipahami
oleh teman sebaya mereka. Penelitian di atas ingin menguji apakah siswa tertentu,
yang diberi label sebagai ‘social referents’ atau pengaruh perubahan, memiliki
pengaruh lebih terhadap iklim sekolah atau norma-norma sosial dan pola perilaku di
sekolah mereka. Siswa yang dipilih tidak selalu mengacu pada anak paling populer di
sekolah, melainkan siswa-siswa yang ditunjuk oleh kelompok sebaya mereka melalui
angket tertutup. Semua kegiatan dirancang untuk menguji apakah upaya yang
dilakukan untuk membentuk sikap yang positif kepada mereka pada akhirnya dapat
membentuk perilaku positif pada teman sebaya mereka serta mengubah norma sosial
di sekolah yang menerima, mengabaikan, atau menoleransi bentuk-bentuk kekerasan.
Dalam satu tahun, sekolah menengah yang memiliki ‘Agen Perubahan’ di atas
mengalami penurunan 30 persen terkait laporan konflik antarsiswa, yang dilaporkan
oleh Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Secara signifikan,
penurunan konflik terbesar terjadi pada Agen Perubahan itu sendiri. Hal ini
mendukung hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa para siswa dapat
memberikan pengaruh lebih pada iklim sekolah dan norma sosial.
a. Landasan Hukum
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2019 tentang Rincian
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020;
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2019 tentang
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020—2024;
4. Peraturan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak
Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan;
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 17
Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 46 Tahun 2019 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di
Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; dan
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22
Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Tahun 2020—2024.
b. Tujuan dan Indikator Keberhasilan Program
Tujuan pelaksanaan Program Roots Indonesia di SMP Negeri 16 Sukabumi iadalah
sebagai berikut.
1. Menyamakan pemahaman tentang pencegahan dan penanganan
perundungan dan tindak kekerasan di sekolah.
2. Mencegah, menanggulangi, serta meminimalkan perundungan dan
tindak kekerasan yang terjadi di sekolah.
3. Mewujudkan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter melalui
program pencegahan perundungan.
4. Menghasilkan fasilitator pencegahan perundungan di tingkat sekolah
(Fasilitator Guru), dan (Agen Perubahan) yang terlatih untuk
melakukan program Roots Indonesia.
5. Mendorong sekolah untuk membentuk Siswa Agen Perubahan yang
difasilitasi oleh guru
6. terkait terhadap pencegahan perundungan dan tindak kekerasan di
sekolah.
Adapun Indikator keberhasilan Program Roots Indonesia di SMPN 16 Sukabumi
adalah sebagai berikut:
1. Terjadinya persamaan pemahaman tentang pencegahan dan
penanganan perundungan dan tindak kekerasan di sekolah.
2. Adanya keterlibatan warga sekolah dalam pencegahan dan penanganan
perundungan dan tidak kekerasan dengan terbentuknya Satuan Tugas
di sekolah yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, siswa, orang
tua, dan warga-warga sekolah lainnya (misalnya: penjaga sekolah,
tukang kebun, petugas kantin, dan lain-lain).
3. Terlatihnya guru sebagai fasilitator program pencegahan perundungan
dan tindak kekerasan di sekolah.
4. Program Roots Indonesia wajib dilaksanakan setidaknya 10 kali yang
dipandu oleh Fasilitator Guru serta kegiatan Unjuk Informasi dan
Kreasi tentang Pencegahan Perundungan di Sekolah (Roots Day) yang
dipimpin oleh Siswa Agen Perubahan.
5. Terbentuknya kelompok Siswa Agen Perubahan dan Satuan Tugas
Guru guna mencegah perundungan dan tindak kekerasan di sekolah.
6. Meningkatnya pengetahuan siswa tentang nilai-nilai utama pendidikan
karakter setelah mengikuti program pencegahan perundungan dan
tindak kekerasan di sekolah.
7. Adanya bukti data yang menggambarkan perubahan sebelum dan
setelah program Roots dilaksanakan dari warga sekolah terkait
pencegahan perundungan dan tindak kekerasan di sekolah.
BAB II
RENCANA AKSI
Program ini sebelumnya telah diimplementasikan di berbagai negara, salah
satu di AmerikaSerikat (di beberapa negara bagian) dan di Indonesia (Sulawesi
Selatan dan Jawa Tengah, khususnya Makassar dan Gowa). Setelah
diimplementasikan selama satu tahun, ditemukan perbedaan secara statistik antara
sekolah yang berpartisipasi dan tidak. Di sekolah yang berpartisipasi dalam program
Roots, rata-rata ditemukan pengurangan kasus konflik antarsiswa sebanyak 30 persen.
Penanganan satu konflik dapat menghabiskan waktu setidaknya satu jam, sehingga
pengurangan angka ini dapat disetarakan dengan menyimpan ratusan jam untuk
penanganan konflik.
Program ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu menggunakan sanksi untuk
mengurangi perundungan (bullying). Kita dapat menargetkan siswa tertentu untuk
menyebarkan pesan antiperundungan. Potensi mereka yang dapat menyebarkan
perilaku positif dapat menunjukkan kepada siswa lain apa yang ‘normal’ dan
seharusnya terjadi di sekolah. Selain itu akan ada banyak cara yang datang dari diri
mereka sendiri untuk memberikan inspirasi dan membuat perubahan positif. Selain
dapat dilakukan secara sederhana, program Roots Indonesia ini juga dipandang murah
secara pendanaan dan dapat diadaptasi pada beragam konteks. Inovasi dalam program
ini adalah melalui penggunaan jaringan sosial siswa untuk memilih rekan-rekan
mereka yang dapat ‘didengar’ dan mengurangi pemilihan siswa secara sembarangan.
Ketika orang dewasa yang memilih siswa, mereka biasanya memilih anak-anak yang
dianggap ‘baik’ atau ‘berprestasi’. Akan tetapi, para Agen Perubahan yang ditentukan
melalui pemetaan jaringan sosial ialah mereka yang memiliki pengaruh di kalangan
siswa dan sebagian akan dipilih oleh orang dewasa secara acak. Beberapa siswa yang
dipilih atau terpilihbisa jadi adalah siswa yang sering terlibat konflik. Namun, dalam
hal ini yang terpenting adalahperilaku seperti ini dapat menjadi pembelajaran yang
dapat dilihat bersama.
Untuk menentukan siswa yang paling berpengaruh, peneliti meminta seluruh
anak di sekolah (pada setiap angkatan) untuk menominasikan 10 siswa di angkatan
mereka yang menghabiskan waktu paling sering dengan mereka, baik di dalam
maupun di luar sekolah, secara tatap muka maupun online (daring). Dengan
menggunakan data ini, peneliti kemudian memetakan jaringan sosial di masing-
masing sekolah. Sebanyak 30 siswa di tiap satu sekolah intervensi akan dipilih untuk
berpartisipasi dalam Program Roots Indonesia
Tahap Pelaksanaan Program Roots Indonesia
Pelaksanaan program Roots Indonesia dapat dibagi menjadi empat tahapan utama
berikut ini.
1. Pemilihan Fasilitator Guru
Kepala sekolah memberikan dua nama fasilitator guru dari tiap sekolah
untuk mengikuti pelatihan Roots. Fasilitator menjadi salah satu pemain utama
dalam pelaksanaan program pencegahan perundungan dan tindak kekerasan di
sekolah. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait Fasilitator
dalam program Roots ini.
a. Tanggung Jawab Fasilitator
Fasilitator bertanggung jawab terhadap hal-hal berikut ini.
i. Merencanakan dan menyusun pertemuan mingguan dengan siswa Agen
Perubahan.
ii. Memfasilitasi diskusi dan menyusun rencana aksi bersama siswa dalam
menghadapi tantangan yang berkaitan dengan bullying di sekolah.
iii. Memfasilitasi kegiatan-kegiatan berbasis siswa dengan kelompok Agen
Perubahan.
iv. Menjaga komunikasi dengan supervisor dan pihak guru pembina
kesiswaan (BK) –jika perlu berkomunikasi juga dengan Dinas
Pendidikan– untuk mendiskusikan kegiatan dan pertemuan.
v. Mengikuti protokol keamanan dan keselamatan siswa jika ada anak yang
melaporkan atau dilaporkan mengalami kekerasan.
b. Kualifikasi Guru sebagai Fasilitator
i. Memiliki jabatan di sekolah, misalnya sebagai Wakil Kepala Sekolah,
Guru Mata Pelajaran, atau Guru Bimbingan Konseling.
ii. Guru yang masih aktif (berusia 25– 45 tahun) dan/atau mampu
menyesuaikan diri dengan para remaja.
iii. Bersahabat dengan anak-anak.
iv. Memiliki pengalaman memfasilitasi ekstrakurikuler atau menjadi
pembina kegiatan siswa.
v. Menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar (penguasaan bahasa
daerah setempat juga bisa menjadi pertimbangan).
vi. Mampu menghadapi diskusi dengan topik yang sensitif (misalnya:
kasus kekerasan dan pelecehan antarsiswa) dan mampu memberikan
tanggapan yang nyaman untuk siswa.
vii. Mampu berdiskusi dengan jujur, terbuka, dan menghargai dengan
individu maupun kelompok.
viii. Menunjukkan minat dan komitmen pada isu anak.
ix. Memiliki pengalaman berhadapan dengan siswa SMP, SMA, dan SMK.
x. Mampu mengatur waktu kesibukan.
2. Survei Awal dan Pemilihan Siswa sebagai Agen Perubahan
Survei awal dan pemilihan ini dilakukan guna mengukur tingkat
perundungan yang terjadi di setiap sekolah dan menentukan siswa/i yang
pantas untuk dijadikan Agen Perubahan. Survei dan pemilihan ini dilakukan
pada bulan Agustus tahun pelajaran berjalan, sambil guru mempersiapkan diri
untuk mengikuti pelatihan. Setiap sekolah yang mengikuti program Roots
Indonesia akan melakukan Survei Situasi Perundungan untuk Guru dan Siswa
di awal dan akhir guna melihat situasi perundungan dan tindak kekerasan di
Sekolah. Survei yang dilaksanakan akan dibagi menjadi dua kategori
berdasarkan pengisi survei. Kategori tersebut yaitu survey situasi perundungan
untuk siswa dan survei situasi perundungan untuk guru, adapun angket untuk
survey terlampir.
Agen Perubahan adalah siswa paling berpengaruh yang dipilih oleh
siswa-siswi lain berdasarkan teori jejaring sosial. Untuk menentukan siswa
yang paling berpengaruh, fasilitator akan meminta seluruh siswa di sekolah
(pada setiap angkatan) untuk menominasikan 10 siswa di angkatan mereka
yang menghabiskan waktu paling sering dengan mereka, baik di dalam
maupun di luar sekolah, secara tatap muka maupun daring. Agen Perubahan
yang terpilih akan mengikuti sesi pertemuan Roots yang difasilitasi oleh
Fasilitator Guru. Agen Perubahan yang terpilih akan memiliki tanggung jawab
sebagai berikut.
1. Menyebarkan perilaku positif kepada siswa lainnya untuk menciptakan
iklim positif di sekolah.
2. Mengambil pembelajaran yang didapat dari pertemuan mingguan Roots
untuk mengidentifikasi permasalahan yang timbul antarsiswa.
3. Mengembangkan kemampuan menemukan solusi, termasuk kemampuan
untuk menghentikan perilaku perundungan dengan menjadi positive
bystander.
4. Menyusun kegiatan aksi berbasis siswa yang melibatkan seluruh sekolah
(misalnya: penyebaran perilaku positif, kampanye antiperundungan di
media sosial, dan lain-lain).
5. Membuat ide-ide siswa terlihat oleh siswa lain di saat pelaksanaan Roots
Day, di mana mereka bisa menunjukkan hasil karya dan perkembangan
diri mereka setelah mengikuti program Roots Indonesia.
6. Melapor jika mengalami atau menyaksikan perundungan di sekolah
kepada pihak sekolah atau layanan yang berwenang (cara melaporkannya
dijelaskan pada subbab berikutnya).
Adapun langkah-langkah dari pemilihan agen peubahan dapat dilihat pada bagan
berikut :
3.
Aktivitas Bersama Agen Perubahan
Aktivitas bersama dapat dimulai dengan sesi pembelajaran dan diskusi
mingguan entang modul Roots antara Fasilitator Guru dan Agen Perubahan.
Kegiatan ini dapat dilakukan setiap minggu pada awal September—awal
Desember pada tahun pelajaran berjalan, sebanyak 10—15 kali pertemuan
dan ditambah juga pelaksanaan Roots Day di akhir program. Lini masa
penyelenggaraan program Root dapat dilihat pada skema berikut:
BAB III
PELAKSANAAN PROGRAM
A. Format Penyampaian Program Roots
Format penyampaian program Roots Indonesia terbagi dalam dua sesi utama berikut
ini.
1. Pengenalan materi (30 menit)
Sesi pengenalan materi bertujuan untuk mengajarkan materi-materi Roots terkait
perundungan guna memantik diskusi tentang pencegahan perundungan dan kekerasan
di sesi berikutnya. Sesi ini dapat dilakukan melalui media e-course di laman
[Link]. Agen Perubahan dapat melakukan pendaftaran
secara mandiri di laman cerdas [Link] untuk membuat
username dan password. Sesi pengenalan materi bisa dilakukan bersama-sama ketika
melakukan pertemuan mingguan Roots atau dilakukan secara mandiri di rumah
sebelum pertemuan mingguan Roots.
2. Diskusi kelompok (60 menit)
Sesi diskusi kelompok dilakukan setelah Agen Perubahan menyelesaikan e-
course modul dari sesi pengenalan materi. Sesi ini bertujuan untuk membangun
kemampuan berpikir kritis bagi Agen Perubahan dan juga membangun kerjasama
antarAgen Perubahan untuk menyebarkan informasi pencegahan perundungan. Sesi
ini dilakukan bersama seluruh Agen Perubahan dan difasilitasi oleh Fasilitator Guru
melalui media daring Zoom / Google Meet. Fasilitator Guru dapat menggunakan kartu
flashcard yang sudah disediakan untuk tiap pertemuan guna membantu merekadalam
menjalankan sesi diskusi kelompok.
Sebagai syarat penyelesaian program Roots Indonesia, siswa Agen Perubahan
wajib mengikuti 10 pertemuan wajib dari modul Roots Indonesia serta melakukan
pelaksanaan Roots Day, baik secara luring ataupun daring. Selain 10 modul wajib
tersebut, modul Roots Indonesia juga memiliki 5 modul tambahan yang dapat
dilakukan bila Roots Day diselenggarakan secara luring.
Daftar modul pembelajaran untuk program Roots Indonesia
A. Persiapan dan Panduan Pelaksanaan Program
Dalam pelaksanaan setiap pertemuan Roots, Fasilitator Guru berperan sangat
penting untuk memastikan kualitas penyampaian informasi kepada Agen Perubahan,
baik dalam materi pengenalan maupun diskusi kelompok. Fasilitator Guru diharapkan
membuat lingkungan menyenangkan, aman, dan inklusif dengan menggunakan teknik
fasilitasi yang bervariasi dan menyiapkan diri dengan situasi emosional yang
beragam.
Sebelum melaksanakan pertemuan pertama dengan Agen Perubahan, Fasilitator Guru
wajib melakukan persiapan sebagai berikut.
1. Memastikan semua siswa yang berpartisipasi atau Agen Perubahan telah
mengumpulkan surat perizinan dan lembar persetujuan yang masing-masing
ditandatangani oleh orang tua dan siswa.
2. Menyampaikan kepada Agen Perubahan untuk menyiapkan laptop atau gawai
lainnya dengan paket internet untuk mengerjakan materi pengenalan dan
media komunikasi selama diskusi daring
3. Memastikan bahwa Siswa Agen Perubahan telah melakukan registrasi mandiri
melalui laman [Link] dan dapat mengakses
materi e-course modul Roots.
4. Berlatih dan menguasai materi.
Selama berjalannya program Roots, Fasilitator Guru juga harus melakukan persiapan
di setiap awal minggu sebagai berikut.
1. Menentukan waktu khusus selama 1—1,5 jam untuk diskusi kelompok di
minggu itu atau menyepakati jadwal pertemuan mingguan.
2. Membaca flashcard dan modul sesuai dengan jadwal pertemuan Roots
mingguan.
3. Mengingatkan Agen Perubahan untuk menyelesaikan e-course modul Roots
untuk sesi pengenalan materi sesuai dengan jadwal modul mingguan.
4. Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan (misanya: PowerPoint untuk
mencatat, daftar hadir siswa, ruangan Zoom/Google Meet, dan lain-lain).
5. Membaca modul untuk mempelajari materi minggu tersebut.
Ketika memfasilitasi sesi diskusi kelompok bersama Agen Perubahan, Fasilitator
Guru dapat mengikuti panduan berikut ini.
1. Mengenal siswa dengan baik, termasuk kebutuhan, karakteristik, pengalaman,
dankeadaan siswa di antara kelompok pertemanan sebaya di sekolah.
2. Menunjukkan fleksibilitas, keterbukaan, dan sikap positif kepada Agen
Perubahan.
3. Menunjukkan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan mendorong
diskusi yang baik (misalnya: menggunakan pertanyaan terbuka, mendengarkan
dengan empati, dan lain-lain).
4. Menunjukkan kemampuan interpersonal dan manajemen kelompok yang baik.
5. Memiliki kemampuan untuk menghargai keberagaman dan bersabar.
6. Mendorong keterlibatan dan partisipasi aktif dari seluruh 30 Agen Perubahan.
7. Menjamin keamanan dan kenyamanan peserta dengan menghargai pendapat,
tidak menggunakan kekerasan, tidak memaksa, dan lain-lain.
8. Fasilitator Guru akan dibekali dengan flashcard yang akan menjadi panduan
dalam memfasilitasi sesi diskusi kelompok dengan Agen Perubahan. Flashcard
ini bertujuan untuk memberikan gambaran persiapan dan kegiatan yang perlu
dilakukan oleh Agen Perubahan dan Fasilitator Guru pada minggu itu.
Halaman pertama flashcard berisi berikut ini.
Tujuan: memberikan gambaran kepada Fasilitator Guru tentang objektif yang
perlu dicapai untuk pertemuan minggu tersebut.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pertemuan: menginformasikan
bahan ajar yang perlu dipersiapkan atau aktivitas yang perlu
dilakukan sebelum diskusi kelompok untuk Fasilitator Guru dan
siswa.
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan: memberikan pedoman kepada guru
supaya interaksi diskusi dapat berjalan dengan aman dan siswa
dapat terlibat secara aktif.
Tantangan di akhir pertemuan: menginformasikan aktivitas tambahan yang
perlu dilakukan oleh Agen Perubahan setelah pertemuan minggu
ini dan perlu diselesaikan sebelum pertemuan berikutnya.
Halaman kedua flashcard berisi daftar aktivitas dan diskusi yang perlu
dipandoleh Fasilitator Guru, serta terdapat panduan untuk hal-hal berikut ini.
Nama aktivitas: judul/tema dari aktivitas yang akan dikerjakan.
Durasi aktivitas: panduan pembagian waktu untuk tiap aktivitas, tapi panduan
ini tidak bersifat mutlak. Fasilitator Guru dapat
menambah/mengurangi waktu setiap aktivitas sesuai kebutuhan.
Langkah pelaksanaan aktivitas: perincian hal-hal dan diskusi yang perlu
dilakukan untuk setiap aktivitas.
Di sesi diskusi kelompok ini, Fasilitator Guru seharusnya lebih berperan sebagai
moderatordan pendengar yang menanyakan pendapat Agen Perubahan terhadap suatu
masalah, bukan menjadi pengajar yang membawakan materi satu arah.
B. Panduan Penanganan Laporan Perundungan
Berikut ini rincian dari beberapa tahapan atau prosedur yang dapat dilakukan
pihak sekolah ika menemukan kasus perundungan di sekolah (khususnya di
kalangan peserta didik).
a. Pelaporan kasus oleh siswa
1. Pihak sekolah (kepala sekolah/guru/tenaga pendidikan) perlu
mendorong para siswa di sekolah untuk melaporkan kasus
perundungan yang terjadi kepada guru/tenagakependidikan.
2. Di sisi lain, para siswa berhak untuk melaporkan langsung kasus
perundungan yang terjadi ke layanan rujukan yang tersedia (lihat poin
6). Sesuai dengan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang
Pencegahan dan Penanggulangan Tindakan Kekerasan di Satuan
Pendidikan, pihak sekolah perlu memberikan sosialisasi kepada para
siswa terkait portal pelaporan dan layanan yang dapat diakses oleh
seluruh pihak di sekolah.
b. Penanganan langsung dan segera oleh guru/tenaga kependidikan
i. Pihak sekolah perlu memberi perhatian pada insiden atau kejadian di
sekolah yang termasuk kategori perundungan.
ii. Guru/tenaga kependidikan yang menyaksikan perundungan dapat
melakukan penanganan langsung dengan cara sebagai berikut.
1) Menghentikan perundungan secara langsung.
2) Melerai pihak (siswa) yang terlibat.
3) Memisahkan korban dengan pelaku perundungan.
4) Memastikan keamanan korban.
5) Membawa pelaku perundungan (juga korban, tergantung kondisinya)
ke Bimbingan Konseling atau pihak lain yang bertanggung jawab
terhadap kesiswaan di sekolah.
c. Pelaporan insiden perundungan ke pihak sekolah oleh guru/tenaga
kependidikan
i. Segala bentuk perundungan sebaiknya dilaporkan secara langsung
kepada guru dan tenaga kependidikan, khususnya guru bimbingan
konseling, pihak kesiswaan, atau guru/tenaga kependidikan yang
ditugaskan menangani kekerasan di sekolah.
ii. Pastikan pelapor memiliki bukti atau saksi yang cukup untuk
melaporkan perundungan. Lebih baik jika insiden kejadian dicatat secara
lengkap berdasarkan tanggal kejadian, pelaku, kronologis, dan bukti .
iii. Melalui proses diskusi dengan pihak yang terlibat, Kepala sekolah, pihak
kesiswaan, guru bimbingan konseling, atau wali kelas dapat
menginformasikan orang tua atau wali korban dan pelaku terkait insiden
yang terjadi.
iv. Jika insiden melibatkan pihak dari sekolah lain, pihak sekolah perlu
menghubungi pihak sekolah lain sehingga sekolah tersebut dapat
mengambil tindakan langsung.
v. Berikan opsi jika pelapor ingin merahasiakan identitasnya. Identitas
pelapor harus dilindungi untuk mencegah potensi tindakan balas
dendam.
d. Pencatatan dan dokumentasi laporan kasus oleh pihak sekolah
Pihak sekolah, guru BK, atau pihak kesiswaan perlu memastikan hal-hal berikut ini.
i. Proses investigasi dengan mewawancarai secara terpisah korban maupun
pelaku.
ii. Menggali informasi mengenai kronologi, intensitas kejadian, serta
dampak dan kebutuhan korban.
iii. Merekomendasikan sekolah untuk menghubungi orang tua atau wali
korban dan pelaku untuk menginformasikan langkah yang perlu
dilakukan serta mencegah perbuatan balas dendam.
iv. Menyusun beberapa langkah rekomendasi untuk intervensi, rujukan, dan
pemantauan kasus dengan memperhatikan kepentingan terbaik untuk
anak, khususnya menjunjung tinggi hak anak untuk tetap mendapatkan
pendidikan.
e. Intervensi oleh pihak sekolah
i. Pihak sekolah perlu menyediakan sejumlah opsi penanganan kepada
korban, pelaku, dan saksi. Sesuai dengan Permendikbud Nomor 82
Tahun 2015, sanksi yang diberikan kepada korban dapat berupa teguran,
sanksi yang bersifat edukatif seperti tugas khusus tanpa mengurangi hak
korban terhadap layanan pendidikan, atau konseling lebih lanjut. Jika
perundungan dilakukan oleh guru/tenaga kependidikan, dapat dilihat di
Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 untuk arahan lebih lanjut.
ii. Mempertimbangkan kondisi, dampak, dan kebutuhan yang dimiliki
korban, pelaku, dan saksi, sekolah dapat merujuk kasus ke lembaga
layanan yang relevan. Rujukan untuk penanganan kesehatan, psikologis,
atau pengasuhan
f. Perujukan kasus pelaporan ke lembaga lain oleh pihak sekolah
i. Pihak sekolah dapat merujuk korban, saksi, maupun pelaku untuk
melaporkan insiden secara lebih lanjut untuk dapat difasilitasi
penyelesaian kasus oleh Pemerintah Pusat, melalui:
[Link]
ii. Selain itu, untuk rujukan ke layanan profesional seperti layanan
kesehatan dan konseling, pihak sekolah dapat menghubungi layanan
Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) yang dikelola oleh KPPPA di
nomor hotline "129" atau menghubungi WhatsApp di nomor 08111-129-
129. Pihak sekolah juga dapat menghubungi Puskesmas atau layanan
perlindungan perempuan dan anak yang dikelola Pemerintah Daerah
ataupun swasta/nirlaba di wilayah masing-masing untuk kebutuhan
penanganan profesional.
g. Pemantauan tindak lanjut kasus oleh pihak sekolah dan Pemerintah
Pusat
i. Pihak sekolah perlu secara berkala menghubungi lembaga layanan untuk
mengetahui perkembangan kasus dan kebutuhan lain yang perlu
ditindaklanjuti.
ii. Keputusan untuk mengakhiri penanganan kasus harus berbasis penilaian
terhadap kondisi dan kebutuhan pihak yang terdampak dari insiden yang
dialami.
iii. Sekolah sebaiknya memiliki protokol yang terstandar dalam penanganan
kasus perundungan atau kekerasan di sekolah untuk memudahkan
penanganan kasus di kemudian hari.
C. Persiapan dan Pelaksanaan Roots Day
Hari Unjuk Informasi dan Kreasi tentang Pencegahan Perundungan di Sekolah
(Roots Day) adalah hari perayaan yang dipimpin oleh Siswa Agen Perubahan dan
melibatkan semua elemen sekolah (siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua,
penjaga sekolah, dan lain-lain). Roots Day bertujuan untuk menularkan perilaku
positif kepada seluruh siswa sekolah dengan mengampanyekan pesan
antiperundungan melalui berbagai kreasi seni. Ketika Roots Day, Agen Perubahan
juga akan mengajak seluruh siswa sekolah untuk melakukan deklarasi dan komitmen
antiperundungan di sekolah mereka.
Pelaksanaan Roots Day sebaiknya dilakukan di akhir tahun ajaran dalam
minggu pembagian raport dan dapat dilakukan dalam 2 opsi berikut ini.
1. Roots Day secara daring: dilakukan secara virtual melalui Zoom/Google
Meet dengan durasi 2—3 jam.
2. Roots Day secara luring: dilakukan secara langsung di lingkungan sekolah
(misalnya di kantin atau lapangan) dalam waktu 1 hari penuh.
Bab V
Pemantauan dan Evaluasi
Setiap sekolah yang mengikuti program Roots Indonesia akan melakukan
Survei Situasi Perundungan untuk Guru dan Siswa di akhir program guna
mengevaluasi situasi perundungan dan tindak kekerasan yang terjadi di sekolah.
Kepala sekolah/Fasilitator Guru dapat meminta guru dan siswa di sekolah untuk mulai
melakukan pengisian survei, lalu guru dan siswa akan diberi waktu 2 minggu untuk
melakukan pengisian.
Survei akhir yang dilakukan bersifat kuantitatif menggunakan U-Report.
Proses survei yang dilakukan ini terlepas dari laporan atau evaluasi lain yang
diwajibkan oleh masing-masing direktorat.
Survei Situasi Perundungan untuk Siswa
Tujuan : mengukur situasi perundungan dan tindak kekerasan di sekolah sebelum
dan sesudah adanya intervensi program Roots Indonesia
Pengisi survei : seluruh siswa di sekolah
Pertanyaan survei : terdapat di Lampiran 1
Survei Situasi Perundungan untuk Guru
Tujuan : mengukur situasi perundungan dan tindak kekerasan di sekolah sebelum
dan sesudah adanya intervensi program Roots Indonesia
Pengisi survei : seluruh guru di sekolah
Pertanyaan survei : terdapat di Lampiran 2
BAB VI
PENUTUP
Program kerja ini disusun sebagai acuan dalam penyelenggaraan program Roots di
lingkungan SMPN 16 Sukabumi. Namun demikian, program ini tidaklah bersifat baku
dan masih dapat mengalami perubahan dalam pelaksanannya. Akhirnya, marilah kita
bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman,
harmonis, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Semoga langkah-langkah yang
telah diambil dapat menjadi landasan bagi perubahan positif, menginspirasi
kolaborasi, dan membentuk generasi yang tumbuh dalam suasana belajar yang
menghargai keragaman dan menghormati hak setiap individu. Mari kita jadikan
sekolah sebagai tempat yang memberdayakan, mendukung, dan membina potensi
setiap siswa untuk mencapai prestasi terbaiknya. Partisipasi dan dedikasi kita bersama
dalam menciptakan masa depan pendidikan yang lebih baik menjadi penentu
keberhasilan program ini. Semoga keberlanjutan upaya ini membawa dampak positif
jangka panjang bagi semua pihak.