0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan32 halaman

Pengetahuan Masyarakat tentang COVID-19

Survei pengamatan perilaku masyarakat bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku masyarakat terkait COVID-19. Survei ini mengumpulkan data dari 150 responden mengenai karakteristik demografis, riwayat kontak dengan kasus positif, pengetahuan tentang COVID-19, dan perilaku pencegahan selama pandemi. Hasilnya menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik namun perilaku pencegahannya masih perlu ditingkat

Diunggah oleh

Adelia Mastura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan32 halaman

Pengetahuan Masyarakat tentang COVID-19

Survei pengamatan perilaku masyarakat bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku masyarakat terkait COVID-19. Survei ini mengumpulkan data dari 150 responden mengenai karakteristik demografis, riwayat kontak dengan kasus positif, pengetahuan tentang COVID-19, dan perilaku pencegahan selama pandemi. Hasilnya menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik namun perilaku pencegahannya masih perlu ditingkat

Diunggah oleh

Adelia Mastura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SURVEI PENGAMATAN PERILAKU

HARI/TANGGAL : JUMAT, 22 JANUARI 2021

WAKTU : 90 MENIT

Jawaban Dikirim ke email : syarifah_tsabitall@[Link]

Jangan lupa menulis Nama dan NIM pada lembar jawaban

Berikut Hasil data-data dari satu penelitian, baca dan selanjutnya kerjakanlah pertanyaan
berikut :

1. Tetapkanlah judul tabel yang sesuai dan analisis table-tabel berdasarkan data yang ditemukan.
2. Dari analisis tersebut tetapkanlah judul penelitian, rancanglah latar belakang, permasalahan dan
tujuan penelitian kerangka konsep serta metode penelitian yang tepat dari hasil tersebut.
3. Setelah penelitian tersebut selesai sampai bab hasil penelitian maka buatlah bab pembahasan serta
kesimpulan dan saran dari penelitian tersebut.
4. Tugas SPP lengkap dengan out put SPP yang sudah dilakukan lampirkan kembali melalui jawaban
UAS ini

Tabel 1.
Karakteristik f %
Jenis Kelamin
Laki-Laki 83 55.33
Perempuan 67 44.67
Tingkat Pendidikan
Sarjana 79 52.67
SMA 58 38.66
SMP 11 7.33
SD 1 0.67
Tidak Sekolah 1 0.67
Usia
< 17 tahun 6 4
17-25 tahun 51 34
26-35 tahun 27 18
36-45 tahun 24 16
46-55 tahun 24 16
> 55 tahun 18 12
Pekerjaan
Ibu RT 8 5.33
Pegawai Swasta/ Pensiunan Swasta 46 30.67
ASN/ Pensiunan ASN 19 12.67
TNI/Polri/Purnawirawan 2 1.33
Pelajar 33 22
Wirausaha 31 20.67
Tidak Bekerja 3 2
Lainnya 8 5.33

Tabel 2.

Riwayat Ya Tidak
f % f %
Kontak langsung dengan orang Positif COVID-19 3 2 147 98
dalam 2 minggu terakhir
Berada dalam satu ruangan/lingkungan yang sama 6 4 144 96
dengan orang positif COVID-19 dengan jarak 1-2m
& waktu > 15 menit
Pernah dinyatakan dokter memiliki salah satu 10 6.67 140 93.33
penyakit berikut: diabetes, hipertensi, jantung,
stroke, TBC, kanker, atau penyakit menahun
lainnya
Sedang demam (suhu 38oC) saat penelitian 3 2 147 98
dilaksanakan atau pernah demam dalam 2 minggu
terakhir
Pernah mengalami salah satu gejala pernafasan 10 6.67 140 93.33
seperti batuk/pilek/sakit menelan/sulit bernafas
dalam minggu terakhir

Tabel 3.

Jawaban Benar Jawaban Salah


Pertanyaan
f % F %
COVID-19 adalah penyakit yang tidak berbahaya 126 84 24 16
dan sama seperti flu biasa
Virus korona dapat bertahan hidup beberapa jam di 116 77.33 34 22.67
luar tubuh manusia
Virus korona tidak akan menular pada saat 128 85.33 22 14.67
berbicara
Orang yang bisa menularkan COVID-19 hanyalah 101 67.33 49 32.67
yang memiliki gejala
Orang yang sehat tidak perlu memakai masker saat 142 94.55 8 5.45
keluar rumah
Gejala COVID-19 pada usia lanjut umumnya lebih 136 90.67 14 9.33
berat dari pada pada usia muda
Risiko kematian pasien COVID-19 lebih tinggi 130 86.67 20 13.33
pada penderita penyakit kronis
Anak-anak tidak termasuk kelompok yang berisiko 131 87.33 19 12.67
karena jarang terinfeksi Covid- 19
New normal artinya adalah kembali kepada 107 71.33 43 28.67
kebiasaan semula sebelum munculnya wabah
korona
Isolasi mandiri pada orang yang terinfeksi COVID- 110 73.33 40 26.67
Tabel 4.

Hampir Tidak
Selalu Jarang
Pernyataan selalu Pernah
f % f % f % f %
Saya mencuci tangan dengan sabun atau
mengunakan hand sanitizer setelah 126 84 20 13.3 4 2.67 0 0
memegang benda-benda di tempat umum
Saya mandi dan mengganti pakaian setelah
113 75.33 30 20 7 4.67 0 0
pulang dari bepergian
Saya memakai masker bila berada di
tempat umum (pasar, terminal, tempat 137 91.33 8 5.33 4 2.67 1 0.67
sembahyang, dll)
Saya menjaga jarak minimal 1 meter dari
107 71.33 27 18 13 8.67 3 2
orang lain saat berada di luar rumah
Saya menjaga jarak dengan orang yang 12.6
79 52.67 39 26 19 13 8.67
berusia lanjut 7
Saya menghadiri acara yang 33.6
5 3.33 12 8 67 66 44
mengumpulkan banyak orang 7
Saya menggunakan fasilitas umum atau
pergi ke tempat umum (transportasi umum, 5 3.33 15 10 60 40 70 46.67
mall, pasar, tempat wisata)
Kasus f %
Risiko Rendah 128 85.33
Risiko Tinggi 17 11.33
ODP 4 2.67
PDP 1 0.67
Nama : Adelia Mastura

Nim : 171000176

1. GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG COVID-19 DAN PERILAKU


MASYARAKAT DI MASA PANDEMI COVID-1.
2. Latar Belakang :
Coronavirus merupakan keluarga virus coronaviridae dikarenakan memiliki
tonjolan berbentuk karangan bunga di selubung virus (Zhou W, 2020). Jenis baru
coronavirus yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2)
menyerang sistem pernafasan mengakibatkan pneumonia ini pertama kali ditemukan
pada penghujung Desember 2019 dari pasar seafood Huanan di Wuhan, Provinsi Hubei
China (Bogoch, et al, 2020). Badan Kesehatan Dunia kemudian menamainya
Coronavirus Disease (COVID-19), dan telah menyebar ke lebih dari 200 negara,
sehingga disebut pandemi. Hingga tanggal 27 Mei 2020, terdapat 6.381.280 kasus dan
381.309 jumlah kematian di seluruh dunia. Sementara di Indonesia sudah ditetapkan
28.818 kasus dengan positif COVID-19 dan 1.721 kasus kematian hingga tanggal 4 Juni
2020 (WHO, Kemenkes, 2020).

Indonesia pertama kali melaporkan 2 kasus positif COVID-19 pada tanggal 2


Maret 2020. Dari awal kemunculannya di akhir tahun 2019 hingga 20 Mei 2020, penyakit
ini telah menginfeksi 4.789.205 orang dan menyebabkan kematian terhadap 318.789
orang di seluruh dunia. (WHO, 2020).

Gejala klinis yang muncul akibat terinfeksi virus ini adalah gejala flu biasa
(demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala) hingga komplikasi
berat (diare dan pneumonia) hingga menyebabkan kematian (Huang dkk, 2020: Chen
2020). Penyakit ini ditularkan melalui droplet (percikan) pada saat berbicara, batuk, dan
bersin dari orang yang terinfeksi virus Corona. Selain itu penyakit ini juga dapat
ditularkan melalui kontak fisik (sentuhan atau jabat tangan) dengan penderita serta
menyentuh wajah, mulut, dan hidung oleh tangan yang terpapar virus Corona (Singhal,
2020).
Faktor pengetahuan, mempunyai pengaruh besar terhadap status kesehatan
individu maupun masyarakat dan berperan penting dalam penanggulangan penyakit dan
pencegahan penularannya termasuk penyakit COVID-19. Berdasarkan uraian latar
belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengetahuan
masyarakat dalam upaya pencegahan COVID-19.
Peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di masyarakat didukung oleh proses
penyebaran virus yang cepat, baik dari hewan ke manusia ataupun antara manusia. Penularan
virus SARS-CoV-2 dari hewan ke manusia utamanya disebabkan oleh konsumsi hewan yang
terinfeksi virus tersebut sebagai sumber makanan manusia, utamanya hewan keleawar. Proses
penularan COVID-19 kepada manusia harus diperantarai oleh reservoir kunci yaitu
alphacoronavirus dan betacoronavirus yang memiliki kemampuan menginfeksi manusia. Kontak
yang erat dengan pasien terinfeksi COVID-19 akan mempermudah proses penularan COVID-19
antara manusia. Proses penularan COVID-19 disebabkan oleh pengeluaran droplet yang
mengandung virus SARS-CoV-2 ke udara oleh pasien terinfeksi pada saat batuk ataupun bersin.
Droplet di udara selanjutnya dapat terhirup oleh manusia lain di dekatnya yang tidak terinfeksi
COVID-19 melalui hidung ataupun mulut. Droplet selanjutnya masuk menembus paruparu dan
proses infeksi pada manusia yang sehat berlanjut (Shereen, Khan, Kazmi, Bashir, & Siddique,
2020; Wei et al., 2020). Secara klinis, representasi adanya infeksi virus SARS-CoV-2 pada
manusia dimulai dari adanya asimtomatik hingga pneumonia sangat berat, dengan sindrom akut
pada gangguan pernapasan, syok septik dan kegagalan multiorgan, yang berujung pada kematian
(Guan et al., 2020). Hal ini akan meningkatkan ancaman dalam masa pandemi COVID-19
sehingga jumlah kasus COVID-19 di masyarakat dapat terus meningkat. Guna melawan adanya
peningkatan kasus COVID-19, maka berbagai tindakan preventif mutlak harus dilaksanakan, baik
oleh pemerintah ataupun masyarakat. Upaya preventif sejauh ini merupakan praktik terbaik untuk
mengurangi dampak pandemi COVID19, mengingat belum adanya pengobatan yang dinilai
efektif dalam melawan virus SARS-CoV-2. Saat ini, tidak adanya vaksin untuk SARS-CoV-2
yang tersedia dan telah memenuhi berbagai fase uji klinis, sehingga upaya preventif terbaik yang
dilakukan adalah dengan menghindari paparan virus dengan didasarkan pada PHBS (Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat). Untuk mencapai tujuan ini, langkah-langkah utama yang hendak
dilaksanakan masyarakat seperti penggunaan masker; menutup mulut dan hidung saat bersin
ataupun batuk; mencuci tangan secara teratur dengan sabun atau desinfeksi dengan pembersih
tangan yang mengandung setidaknya 60% alkohol; menghindari kontak dengan orang yang
terinfeksi; menjaga jarak dari orang-orang; dan menahan diri dari menyentuh mata, hidung, dan
mulut dengan tangan yang tidak dicuci (Di Gennaro et al., 2020). Pengetahuan dan tindakan yang
nyata dari pemerintah dan masyarakat terkait PHBS akan senantiasi mampu menurunkan jumlah
kasus COVID-19, sehingga masa pandemi COVID-19 dapat berakhir dengan cepat. Maka dari
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang
pandemi COVID-19 dan perilaku masyarakat di masa pandemi COVID-19
Tujuan Penelitian :

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk ”Mengetahui Pengetahuan masyarakat


dalam upaya pencegahan COVID-19.”
Kerangka konsep :

Landasan Teori :

Teori Lawrence Green. Berangkat dari analisis penyebab masalah kesehatan, Green
membedakan adanya dua determinan masalah kesehatan tersebut, yakni behavioral factors
(faktor perilaku), dan non-behavioral factors atau faktor nonperilaku (Notoatmodjo, 2003).
Dalam menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku, konsep umum yang
sering digunakan dalam berbagai kepentingan program dan beberapa penelitian yang dilakukan
adalah teori yang dikemukakan oleh Green dalam Notoadmodjo (2003). Ia menyatakan bahwa
perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu faktor prediposisi, faktor pendorong, dan
faktor penguat.

1. Faktor predisposisi (Predisposing Factors).


Faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang.
Faktor ini termasuk karateristik, pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
kebiasaan, nilai-nilai, norma sosial-budaya, dan faktor sosio-demografi.

2. Faktor pendukung (Enabling Factors).


Faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku atau
tindakan. Hal ini berupa lingkungan fisik, sarana dan prasarana atau sumber – sumber
khusus yang mendukung dan keterjangkauan sumber dan fasilitas kesehatan.

3. Faktor pendorong (Reinforcing Factors).


Faktor yang memperkuat terjadinya perilaku. Kadang – kadang meskipun
seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya. Faktor –
faktor yang termasuk faktor penguat adalah sikap dan perilaku petugas, kelompok
referensi, dan tokoh masyarakat.

Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian maka kerangka konsep dapat digambarkan sebagai
berikut:
Faktor Predisposisi
1. Umur, Jenis kelamin, Tingkat
Pendidikan , pekerjaan.
2. Pengetahuan terhadap
pencegahan covid

Faktor Pendukung Pengetahuan


tentang Covid 19
1. Riwayat tentang
pencegahan Covid

Faktor Pendorong

1. Perolehan Informasi
tentang covid.

Gambar 2. Kerangka Konsep


Metode penelitian :

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Peserta
penelitian adalah 150 masyarakat .Dengan pendekatan cros-sectional yang dilakukan untuk
mengumpulkan data dari sampel atau populasi target pada titik waktu tertentu.

2. Kesimpulan dan saran

 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan masyarakat adalah :
1. Karakteristik responden berdasarkan Umur, Jenis kelamin, Tingkat Pendidikan ,
pekerjaan.
2. Faktor predisposisi mayarakat terkait pengetahuan mengenai covid sebanyak 105
responden (70%%) berpengetahuan baik dan 45responden (30%) berpengetahuan kurang
baik.
3. Tingkat faktor pendukung masyarakat terhadap covid sebanyak 32 responden berfaktor
baik.
4. Tingkat faktor pendorong masyarakat terhadap covid 19 baik

Sebagian besar masyarakat Kelod telah memahami dan mengamalkan berbagai


pengetahuan dan perilaku terkait pandemi COVID-19. Masyarakat Desa Sumerta Kelod
dinilai telah memiliki pengetahuan yang baik terkait berbagai protokol kesehatan beserta
berbagai dasar yang harus dipahami terkait pandemi COVID19. Di samping itu, masyarakat
Desa Sumerta Kelod dinilai memiliki potensi Kasus COVID-19 yang rendah berdasarkan
riwayat ataupun perilaku yang telah dilaksanakan. Sehendaknya, dengan pengetahuan
masyarakat yang baik dalam masa pandemi COVID-19 diharapkan dapat meningkatkan
perilaku masyarakat dalam menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat atau kepatuhan
dalam menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.
 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan oleh
peneliti adalah :
1. Untuk masyarakat yang telah berpengetahuan dan bersikap baik disarankan untuk
mempertahankan hal tersebut agar terus dapat menegah dari tertularnya virus corona
2. Disarankan untuk masyarakatlainnya untuk meningkatkan pengetahuan akan haltersebut
serta menurunkan perasaan “tidak mau tahu” terhadap covid 19.

4. Lampiran tugas :

PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT DALAM MENERAPKAN


PROTOKOL KESEHATAN DI LOKASI WISATA SAWAH DI KELURAHAN
MARTUBUNG KECAMATAN MEDAN LABUHAN KOTA MEDAN

Oleh:

Nama : Adelia Mastura

Nim : 171000176
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Medan

2020

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia
dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu
biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan
Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis
baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada
Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2
(SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (Kementrian Kesehatan
RI)

Pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease-2019) yang disebabkan oleh virus SARSCoV-2


(Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2) menjadi peristiwa yang mengancam
kesehatan masyarakat secara umum dan telah menarik perhatian dunia. Pada tanggal 30 Januari
2020, WHO (World Health Organization) telah menetapkan pandemi COVID-19 sebagai
keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian dunia internasional (Guner,
Hasanoglu, & Aktaş, 2020). Berdasarkan data Gugus Tugas COVID-19 Republik Indonesia, per
tanggal 1 Oktober 2020, jumlah pasien total positif COVID-19 di dunia mencapai 33.968.271
orang, yang diakumulasikan dari pasien positif dirawat, pasien positif sembuh, serta pasien
positif meninggal. Di Indonesia, total pasien positif COVID-19 sebesar 291.182 orang, dengan
pasien sembuh sebesar 218.487 orang dan pasien meninggal sebesar 10.856 orang. Provinsi
Sumatera Utara menempati posisi keenam per tanggal 1 Oktober 2020 di Indonesia dengan
jumlah pasien positif Covid-19 sebesar 10.424 orang. Berdasarkan data tersebut menunjukkan
bahwa penularan masih terus terjadi, dan bisa jadi masih terus meningkat. Maka, sudah
seharusnya semua pihak terlibat, baik pemerintah ataupun masyarakat, semakin terdesak untuk
segera mengambil tindakan dalam melakukan deteksi dini infeksi serta mencegah penyebaran
COVID-19 terjadi guna menurunkan jumlah kasus COVID-19.

Upaya pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 memerlukan pemahaman dan


pengetahuan yang baik dari seluruh elemen termasuk masyarakat. Pengetahuan adalah suatu
hasil dari rasa ingin tahu melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek
tertentu. Pengetahuan juga merupakan domain terpenting dalam terbentuknya perilaku (Donsu,
2017). Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tingkat pendidikan,
pekerjaan, umur, factor lingkungan dan factor social budaya (Notoatmodjo, 2010). Perilaku
merupakan suatu tanggapan atau reaksi seseorang terhadap rangsangan (KBBI, 2014).
Sedangkan menurut Robert Kwick dalam Donsu (2017) perilaku adalah sebagian tindakan
seseorang yang dapat dipelajari dan diamati. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku
manusia atau masyarakat adalah tingkat pengetahuan (Donsu, 2017).

Pemerintah telah menetapkan upaya pencegahan dengan menerapkan Social Distancing


( membatasai kegiatan social untuk menjauh dari keramaian ) saat pandemic covid-19 sesuai
dengan Undang- Undang (UU) No 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.

Tempat wisata kerab menjadi tujuan masyarakat dalam mengatasi kejenuhan masyarakat
yang menerapkan social distancing atau diruah saja. Karena itu pemerintah mulai membuka
beberapa tempat wisata dengan menerapkan peraturan protocol kesehatan sesuai dengan
keputusan Kementerian Kesehatan telah mengesahkan KMK Nomor
HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan
Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.
Keputusan pemerintah untuk membuka beberapa kawasan pariwisata konservasi, pengelola
dan pengunjung lokasi wisata serta penduduk setempat wajib menerapkan protokol kesehatan
secara ketat. Pengelola harus menyediakan fasilitas cuci tangan menggunakan sabun yang
memadai dan mudah diakses, mengecek suhu tubuh pengunjung di pintu masuk, dan
memperbanyak media informasi tentang penerapan protokol kesehatan di lokasi pariwisata.
Pengelola wajib memperhatikan beberapa hal seperti pembatasan jumlah pengunjung baik
secara umum maupun di tempat dan fasilitas tertentu, jarak antarpengunjung, jam operasional,
mengoptimalkan ruang terbuka untuk tempat transaksi dan penggunaan pembatas atau partisi di
lokasi pembelian tiket atau customer service.

Lokasi Wisata sawah Martubung menjadi salah satu wisata favorit di Kota Medan yang
terletak di Kawasan Martubung Jalan Johar Raya Jl. Dusun VI, Pematang Johar, Kecamatan
Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Wisata Sawah ini merupakan Objek
Wisata yang berbasis Edukasi untuk pembelajaran kepada generasi bangsa, selain itu disini juga
terdapat tempat-tempat untuk berfoto selfi. dan menawarkan jajanan Khas Daerah. Pengunjung
sangat bervariasi, mulai dari Balita hingga Lansia. Semenjak Covid- 19 pengunjung wisatawan
semakin ramai dan meningkat. Hal ini dikarenakan masa- masa pandemic , masyarakat lebih
banyak memilih melakukan wisata di daerah local. Saat ini Wisata sawah di Martubung sangat
hits dikalangan masyarakat karena wisata tersebut menawarkan berbagai wisata menarik berupa
hamparan sawah yang menjadi spot foto selfi, danau mini, bahkan wisata edukasi bagi anak yang
menjadi daya tarik tempat tersebut.

Lokasi wisata menjadi tempat yang sangat rentan terhadap penyebaran virus SARS-CoV-
2 penyebab pandemi covid-19, perlu dihadapi dengan mematuhi protokol kesehatan Sedangkan
wisata sawah di kawasan Martubung tidak menerapkan hal ini. Protokol kesehatan tidak
dilakukan secara ketat. Banyak pengunjung yang tidak menggunakan masker, tidak ada
penjagaan jarak atau penerapan social distancing.

I.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah “ Bagaimana
Pengetahuan dan Sikap Masyarakat dalam Menerapkan Protocol Kesehatan di Lokasi Wisata
Sawah di Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan”

I.3 Tujuan
I.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat dalam Menerapkan Protocol Kesehatan di Lokasi Wisata Sawah di
Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan Khusus dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui hubungan Pengetahuan Masyarakat dalam Menerapkan
Protocol Kesehatan di Lokasi Wisata Sawah di Kelurahan Martubung Kecamatan
Medan Labuhan Kota Medan.
2. Untuk mengetahui hubungan Sikap Masyarakat dalam Menerapkan Protocol
Kesehatan di Lokasi Wisata Sawah di Kelurahan Martubung Kecamatan Medan
Labuhan Kota Medan
I.4 Manfaat
I.4.1 Manfaat Praktif
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dan kajian bagi peneliti yang
membutuhkan informasi terkait dengan penelitian ini.
I.4.2 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai Penerapan
Protocol Kesehatan di Lokasi Wisata Sawah di Kelurahan Martubung Kecamatan
Medan Labuhan Kota Medan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku

Perilaku manusia bersifat kompleks, dan juga terarah pada bagian tertentu. Perilaku
manusia tidak terlepas dari keberadaan dirinya sebagai makhluk biologis, makhluk individu,
makhluk sosial, makhluk religious dan sebagainya. Menurut Skinner, perilaku merupakan respon
atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar) dan kemudian organisme tersebut
memberikan respon. Teori ini disebut dengan teori “SOR” atau Stimulus Organisme Respons.
Respon ini dibedakan menjadi, yaitu:

1. Respondent respon atau reflexive, yaitu respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-
rangsangan (stimulus) tertentu. Biasanya respon-respon yang ditimbulkan relative
tetap.
2. Operant respon atau instrumental, yaitu respon yang timbul dan berkembang
kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan tertentu. Perangsangan ini disebut
reinforcing stimulation atau reinforce, karena dapat memperkuat respon.

Maka dari hal tersebut perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Perilaku Tertutup (Covert Behavior)


Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup masih
terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan dan sikap yang terjadi pada penerima
stimulus tersebut.
2. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik
yang mudah diamati.

Menurut Bloom seorang ahli psikologi pendidikan dalam Notoatmodjo (2005), perilaku
dibedakan dalam tiga kawasan/domain yakni Cognitive Domain, Afektif Domain, Psycomotor
Domain. Ketiga domain ini diukur dari pengetahuan, sikap dan tindakan.

1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil “tahu” yang terjadi pada seseorang setelah melakukan
pengindraan yang terjadi melalui pancaindra manusia seperti pendengaran,
penciuman, rasa dan raba.
Pengetahuan dalam hal ini mempunyai 6 tingkatan yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu dapat diartikan sebagai mampu mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami dapat diartikan kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang
objek yang diketahui, dan menginterpretasikan materi tersebut dengan benar.
c. Aplikasi (aplication)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi yang
sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan
masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintetis (synthesis)
Sintesis dapat diartikan kepada suatu kemampuan meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi
atau objek.
2. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tapi hanya
dapat ditafsirkan terlebih dahulu. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung
dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau
pernyataan responden terhadap suatu objek. Orang bisa berperilaku bertentangan
dengan sikapnya, dan bisa juga merubah sikapnya sesudah yang bersangkutan
merubah tingkatannya.
Namun secara tidak mutlak dapat dikatakan bahwa perubahan sikap merupakan
loncatan untuk terjadinya perubahan perilaku. Sikap terdiri dari beberapa tingkatan,
yaitu:
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa subjek mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan.
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas
yang diberikan.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Mempunyai tanggung jawab atas segala resiko terhadap sesuatu yang sudah
dipilihnya.
3. Tindakan (Practice)
Tindakan merupakan kelanjutan dari sikap namun sebelum menjadi suatu tindakan
diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain
fasilitas dan faktor dukungan.
2.2 Protokol Kesehatan
Protokol kesehatan adalah aturan dan ketentuan yang perlu diikuti oleh segala pihak agar
dapat beraktivitas secara aman pada saat pandemi COVID-19.

2.2.1 Tujuan Protokol Kesehatan


Agar masyarakat tetap dapat beraktivitas secara aman dan tidak membahayakan keamanan atau
kesehatan orang lain. Jika masyarakat dapat mengikuti segala aturan yang tertera di dalam
protokol kesehatan, maka penularan COVID-19 dapat diminimalisir.

2.2.2 Bentuk Protokol kesehatan


Protokol kesehatan terdiri dari beberapa macam, seperti pencegahan dan pengendalian.
Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian
secara spesifik melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan
Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019
(COVID-19).
2.2.3 Fasilitas yang menerapkan protocol kesehatan
Dalam protokol kesehatan tersebut, dipaparkan aturan-aturan yang perlu dilakukan oleh
segala pihak yang berada di tempat atau fasilitas umum. Berikut adalah tempat dan fasilitas yang
disebutkan:

a. Pasar dan sejenisnya


b. Pusat perbelanjaan/mall/pertokoan dan sejenisnya
c. Hotel/penginapan/homestay/asrama dan sejenisnya
d. Rumah makan/restoran dan sejenisnya
e. Sarana dan kegiatan olahraga
f. Moda transportasi Stasiun/terminal/pelabuhan/bandar udara
g. Lokasi daya tarik wisata Jasa perawatan kecantikan/rambut dan sejenisnya
h. Jasa ekonomi kreatif (arsitektur, fotografis, periklanan, penerbitan, televisi, dan
lain-lain)
i. Kegiatan keagamaan di rumah ibadah
j. Jasa penyelenggaraan event/pertemuan

2.2.4 Pihak yang melaksanakan protocol kesehatan


Setiap lokasi, aturan-aturan protokal kesehatan diperuntukkan bagi tiga pihak, yaitu
pihak pengelola atau penyelenggara, penjual atau pekerja, dan pengunjung atau tamu. Setiap
pihak memiliki perannya masing-masing sehingga aturan bagi tiap pihak telah disesuaikan.

1. Pihak pengelola atau penyelenggara

Memperhatikan informasi terkini serta himbauan dan instruksi pemerintah pusat dan
pemerintah daerah terkait COVID-19 di wilayahnya. Hal tersebut penting dilakukan agar segala
hal penting dapat terorganisir dan termonitor. Membentuk Tim Pencegahan COVID-19 di lokasi
masing-masing untuk membantu pengelola dalam penanganan COVID-19 dan masalah
kesehatan lainnya. Selalu menerapkan jaga jarak di lokasi masing-masing dengan berbagai cara,
seperti pengaturan jarak antrean, memberikan tanda khusus jaga jarak yang ditempatkan di
lantai, dan lain sebagainya. Melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para penjual atau pekerja
tentang pencegahan penularan COVID-19.

2. Pihak penjual atau pekerja


Memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum berangkat berdagang/bekerja. Saat
perjalanan dan selama bekerja selalu menggunakan masker, menjaga jarak dengan orang lain,
dan hindari menyentuh area wajah. Jika terpaksa akan menyentuh area wajah pastikan tangan
bersih dengan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau menggunakan handsanitizer.
Melakukan pembersihan area kerja masing-masing sebelum dan sesudah bekerja. Meningkatkan
daya tahan tubuh dengan menerapkan PHBS seperti mengkonsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik
minimal 30 menit sehari dan istirahat yang cukup dengan tidur minimal 7 jam, serta menghindari
faktor risiko penyakit.

3. Pihak pengunjung atau tamu

Memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum keluar rumah. Jika mengalami gejala
seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan/atau sesak nafas tetap di rumah. Wajib
menggunakan masker Menerapkan prinsip jaga jarak Membawa alat pribadi termasuk peralatan
ibadah sendiri seperti alat sholat. Poin-poin protokol di atas adalah aturan-aturan secara umum.
Tempat atau fasilitas tertentu memiliki aturan yang lebih ketat dan rumit karena kerentanan dan
kemungkinan penularan yang lebih tinggi.

2.3 Protokol Kesehatan Di tempat Wisata


Lokasi Daya Tarik Wisata Wisata merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk
menjaga kesehatan jiwa yang akan berdampak pada kesehatan jasmani dan rohani bagi
masyarakat. Kegiatan wisata dapat dilakukan di dalam gedung/ruangan atau di luar gedung pada
lokasi daya tarik wisata alam, budaya, dan hasil buatan manusia. Kepariwisataan juga memiliki
aspek ekonomi dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dalam kondisi pandemi COVID-19
pembukaan lokasi daya tarik wisata harus berdasarkan ketentuan pemerintah daerah dengan
penerapan protokol kesehatan yang ketat.

[Link] Pengelola
a. Memperhatikan informasi terkini serta himbauan dan instruksi pemerintah pusat dan
pemerintah daerah terkait COVID-19 di wilayahnya. Informasi secara berkala dapat
diakses pada laman [Link] [Link], dan
kebijakan pemerintah daerah setempat.
b. Melakukan pembersihan dengan disinfeksi secara berkala (paling sedikit tiga kali
sehari) terutama pada area, sarana dan peralatan yang digunakan bersama seperti
pegangan tangga, pintu toilet, perlengkapan dan peralatan penyelenggaraan kegiatan
daya tarik wisata, dan fasilitas umum lainnya.
c. Menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun yang memadai dan mudah diakses oleh
pengunjung.
d. Mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk area dalam gedung. Jika
terdapat AC lakukan pembersihan filter secara berkala.
e. Memastikan ruang dan barang publik bebas dari vektor dan binatang pembawa
penyakit.
f. Memastikan kamar mandi/toilet berfungsi dengan baik, bersih, kering, tidak bau,
dilengkapi sarana cuci tangan pakai sabunatau handsanitizer, serta memiliki
ketersediaan air yang cukup.
g. Memperbanyak media informasi wajib pakai masker, jaga jarak minimal 1 meter, dan
cuci tangan di seluruh lokasi.
h. Memastikan pekerja/SDM pariwisata memahami perlindungan diri dari penularan
COVID-19 dengan PHBS.
i. Pemberitahuan informasi tentang larangan masuk ke lokasi daya tarik wisata bagi
pekerja dan pengunjung yang memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan,
dan/atau sesak nafas.
j. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk gedung. Jika ditemukan pekerja
atau pengunjung dengan suhu > 37,3 oC (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit)
tidak diperkenankan masuk. Petugas pemeriksa suhu menggunakan masker
danpelindung wajah(faceshield). Pelaksanaan pemeriksaan suhu agar didampingi oleh
petugas keamanan.
k. Mewajibkan pekerja/SDM pariwisata dan pengunjung menggunakan masker. Jika tidak
menggunakan masker tidak diperbolehkan masuk lokasi daya tarik wisata.
l. Memasang media informasi untuk mengingatkan pekerja/SDMpariwisata, dan
pengunjung agar mengikuti ketentuanpembatasan jarak fisik dan mencuci tangan pakai
sabun denganair mengalir atau menggunakan handsanitizer serta
kedisiplinanmenggunakan masker.
m. Terapkan jaga jarak yang dapat dilakukan dengan berbagai cara,seperti:
1)Pembatasan jumlah pengunjung yang masuk.
2)Pengaturan kembali jam operasional.
3)Mengatur jarak saat antrian dengan memberi penanda dilantai minimal 1 meter (seperti
di pintu masuk, kasir, danlain lain).
4)Mengomptimalkan ruang terbuka untuk tempat penjualan/transaksi agar mencegah
terjadinya kerumunan.
5)Membatasi kapasitas penumpang lift dengan pemberianlabel di lantai lift.
6)Pengaturan jarak minimal 1 meter di elevator dan tangga.
7)Pengaturan alur pengunjung di area daya tarik wisata.
8)Menggunakan pembatas/partisi (misalnya flexy glass) dimeja atau counter sebagai
perlindungan tambahan untukpekerja/SDM pariwisata (loket pembelian tiket,
customerservice, dan lain-lain).
n. Mendorong penggunaan metode pembayaran nontunai (tanpakontak dan tanpa alat
bersama).
o. Jika memungkinkan, dapat menyediakan pos kesehatan yangdilengkapi dengan tenaga
kesehatan dan sarana pendukungnyauntuk mengantisipasi pengunjung yang mengalami
sakit.
p. [Link] ditemukan pekerja/SDM pariwisata dan pengunjung yangditemukan yang suhu
tubuhnya > 37,3 oC dan gejala demam,batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak
nafas,diarahkan dan dibantu untuk mendapatkan pelayanankesehatan di fasilitas
pelayanan kesehatan terdekat.
q. [Link] daya tarik wisata yang berisiko terjadinya penularankarena sulit dalam
penerapan jaga jarak dan banyaknyapenggunaan peralatan/benda-benda
secarabersama/bergantian, agar tidak dioperasikan dahulu.
[Link] Pekerja
a. Memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum berangkat bekerja di lokasi daya tarik
wisata. Jika mengalami gejala sepertidemam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan/atau
sesak nafastetap di rumah dan periksakan diri ke fasilitas pelayanankesehatan apabila
berlanjut, dan laporkan pada pimpinantempat kerja.
b. Saat perjalanan dan selama bekerja selalu menggunakanmasker, menjaga jarak minimal
1 meter, hindari menyentuharea wajah, jika terpaksa akan menyentuh area wajah
pastikantangan bersih dengan cuci tangan pakai sabun dengan airmengalir atau
menggunakan handsanitizer.
c. Semua pekerja (pedagang, petugas keamanan, tukang parkirdan lain lain) harus selalu
berpartisipasi aktif mengingatkanpengunjung untuk menggunakan masker dan menjaga
jarakminimal 1 meter.
d. Saat tiba di rumah, segera mandi dan berganti pakaian sebelumkontak dengan anggota
keluarga di rumah, serta membersihkanhandphone, kacamata, tas, dan barang lainnya
dengan cairandisinfektan.
e. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan PHBSseperti mengkonsumsi gizi
seimbang, aktivitas fisik minimal 30menit sehari dan istirahat yang cukup dengan tidur
minimal 7jam, serta menghindari faktor risiko penyakit.
[Link] Pengunjung

a. Memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum melakukankunjungan ke lokasi daya tarik
wisata. Jika mengalami gejalaseperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan/atau
sesaknafas tetap di rumah dan periksakan diri ke fasilitas pelayanankesehatan apabila
berlanjut.
b. Selalu menggunakan masker selama berada di lokasi daya tarikwisata.
c. Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan paka isabun dengan air
mengalir atau menggunakan handsanitizer.
d. Hindari menyentuh area wajah seperti mata, hidung, dan mulut.
e. Tetap memperhatikan jaga jarak minimal 1 meter.
f. Saat tiba di rumah, segera mandi dan berganti pakaian sebelum kontak dengan anggota
keluarga di rumah.
g. Bersihkan handphone, kacamata, tas, dan barang lainnya dengan cairan disinfektan.
2.4 Tempat Wisata
2.4.1 Pengertian Wisata

Undang-undang Nomor 10 tahun 2009, menyebutkan pariwisata adalah segala


sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata
serta usaha-usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata, dengan demikian
pariwisata meliputi:

1) Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata.


2)Pengusahaan objek dan daya tarik wisata seperti: kawasan wisata, taman rekreasi,
kawasan peninggalan sejarah, museum, pagelaran seni budaya, tata kehidupan masyarakat
atau yang bersifat alamiah: keindahan alam, gunung berapi, danau, dan pantai.

3)Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata yaitu: usaha jasa pariwisata (biro
perjalanan wisata, agen perjalananwisata, konvensi, perjalanan insentif dan pameran,
konsultan pariwisata, dan informasi pariwisata). Usaha sarana pariwisata yang terdiri dari
akomodasi, rumah makan, bar, angkutan wisataMenurut Prof. Hunzieker dan Prof. K. Krapf
dalam Muhammad Ilyas (2009), pariwisata dapat didefinisikan sebagai keseluruhan jaringan
dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang asing di suatu tempat, dengan syarat
bahwa mereka tidak tinggal di situ untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting yang
memberikan keuntungan yang bersifat permanen maupun sementara.

Menurut A.J. Burkart dan S. Medlik dalam Muhammad Ilyas (2009), pariwisata
berarti perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan-
tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan mereka
selama tinggal ditempat-tempat tujuan [Link] penelitian yang dilakukan Kartini La Ode
Unga(2011) merangkum berbagai pendapat mengenai pariwisata yaitu, pengertian pariwisata
menurut Norval adalah keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan masuk, tinggal, dan
pergerakan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota, atau wilayah tertentu.
Menurut definisi yang lebih luas yang dikemukakan oleh Kodhyatpariwisata adalah
perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan atau
kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup
dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu. Sedangkan menurut Musanef
menambahkanbahwa pariwisata sebagai suatu perjalanan yang dilaksanakan untuk sementara
waktu, yang dilakukan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menikmati perjalanan
bertamasya dan berekreasi.

2.4.2 Kesehatan dan Parawisata

Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan
pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Menurut
perhimpunan kedokteran wisata Indonesia Kesehatan wisata dimulai sejak berangkat dari rumah
untuk melakukan wisata, selama perjalanan, sampai di tempat tujuan, dan
kembali dengan aman dan nyaman ke tempat asalnya, sehingga wisatawan tersebut tidak jera
untuk kembali mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya. Dalam siklus perjalanan
wisata itu, yang termasuk dalam kesehatan wisata meliputi upaya pencegahan, tindakan
pengobatan jika diperlukan dan kesiapan repatriasi yang memadai ke negara asalanya. (PKWI,
2012). Kesehatan wisata meliputi berbagai aspek medis, dan kesehatan wisata juga termasuk
aspek kesehatan para “travelers” dalam arti luas termasuk business travelers.

2.5 Landasan Teori


Teori Lawrence Green. Berangkat dari analisis penyebab masalah kesehatan, Green
membedakan adanya dua determinan masalah kesehatan tersebut, yakni behavioral factors
(faktor perilaku), dan non-behavioral factors atau faktor nonperilaku (Notoatmodjo, 2003).
Dalam menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku, konsep umum yang
sering digunakan dalam berbagai kepentingan program dan beberapa penelitian yang dilakukan
adalah teori yang dikemukakan oleh Green dalam Notoadmodjo (2003). Ia menyatakan bahwa
perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu faktor prediposisi, faktor pendorong, dan
faktor penguat.

1. Faktor predisposisi (Predisposing Factors).


Faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang.
Faktor ini termasuk karateristik, pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan,
kebiasaan, nilai-nilai, norma sosial-budaya, dan faktor sosio-demografi.

2. Faktor pendukung (Enabling Factors).


Faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku atau
tindakan. Hal ini berupa lingkungan fisik, sarana dan prasarana atau sumber – sumber
khusus yang mendukung dan keterjangkauan sumber dan fasilitas kesehatan.

3. Faktor pendorong (Reinforcing Factors).


Faktor yang memperkuat terjadinya perilaku. Kadang – kadang meskipun
seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya. Faktor –
faktor yang termasuk faktor penguat adalah sikap dan perilaku petugas, kelompok
referensi, dan tokoh masyarakat.
Faktor predisposisi:

- Karakteristik
- Pengetahuan
- Sikap
- Kepercayaan
- Nilai – nilai
- Norma

Faktor pendukung:

- Sarana dan prasarana


- Sumber-sumber khusus Behavior
yang mendukung
- Keterjangkauan sumber
fasilitas

Faktor pendorong:

- Sikap dan perilaku


petugas
- Kelompok referensi
- Tokoh masyarakat

Gambar 1. Teori Lawrence Green


2.6 Kerangka Konsep
Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian maka kerangka konsep dapat digambarkan
sebagai berikut:

Faktor Predisposisi
1. Umur, jenis kelamin, daerah
asal, pekerjaan, status
perkawinan.
2. Pengetahuan terhadap
protocol kesehatan dilokasi
wisata
3. Sikap terhadap protocol
kesehatan di lokasi wisata

Faktor Pendukung Pengetahuan dan


Sikap tentang
2. Fasilitas di lokasi wisata Protokol kesehatan
dilokasi wisata
sawah

Faktor Pendorong

2. Perolehan Informasi
tentangprotokol kesehatan
di lokasi wisata.
3. Promosi Kesehatan
mengenai protokol
kesehatan
4. Pelayanan petugas lokasi
wisata

Gambar 2. Kerangka Konsep


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif survey . Dengan pendekatan cros-sectional


yang dilakukan untuk mengumpulkan data dari sampel atau populasi target pada titik waktu
tertentu.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Lokasi wisata sawah Martubung .Alasan Peneliti


memilih lokasi penelitian yaitu Lokasi ini tepat untuk dijadikan lokasi penelitian

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan selesai.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai
karakteristik tertentu (Inriantoro dan Supomo, 1999:155) Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh subjek yang berkaitan dengan keparawisataan yang mencakup penduduk,
pengunjung (wisatawan) yang berkunjung di wisata sawah kawasan Martubung, dan
pengelola wisata kawasan Wisata Sawah Matubung. Teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik non-probability sampling.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh melalui wawancara bebas terpimpin dengan
ciri fleksibilitas (keluwesan) dengan arah yang jelas, dimana peneliti diberi kebebasan untuk
mengolah sendiri pertanyaan sehingga memperoleh jawaban yang lebih lengkap.

3.4.2 Data Sekunder


Data sekunder diperoleh dari Badan Pengelola wisata sawah

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


3.5.1 Variabel Penelitian
4. Variabel Terikat (Variabel Dependen)
Adapun variable terikat (variable dependen) dalam penelitian ini adalah
Penerapan Protokol Kesehatan.
5. Variabel Bebas (Variabel Independen)
Adapun variable bebas (variable independen) dalam penelitian ini adalah
pengetahuan dan sikap masyarakat dilokasi wisata sawah Martubung Kecamatan
Medan Labuhan Kota Medan
3.5.2 Definisi Operasional
1. Definisi Operasional Variabel Dependen
a. Prenerapan protocol kesehatan aadalah sebuah peraturan untuk mencegah
covid di lokasi wisata sawah Martubung.
2. Definisi Operasional Variabel Independen
a. Masyarakat, termasuk petugas dan pengunjung/wisatawan di lokasi wisata
sawah Martubung.
b. Faktor predisposisi.
1. Umur adalah lama hidup responden yang dihitung sejak tahun dilahirkan
sampai tahun pada saat penelitian dilakukan.
2. Jenis kelamin adalah perbedaan bentuk, sifat, dan fungsi biologi responden
yang dibedakan dengan laki-laki atau perempuan.
3. Daerah asal adalah dimana responden berasal.
4. Pekerjaan adalah aktivitas utama yang dilakukan responden.
5. Pengetahuan terhadap Protokol kesehatan yang diterapkan di Lokasi
Wisata Sawah.
6. Sikap terhadap Penerapan protocol Kesehatan di Lokasi Wisata Sawah.
b. Faktor Pendukung
1. Fasilitas yang tersedia adalah sarana yang disediakan untuk responden di
lokasi wisata.
c. Faktor Pendorong
1. Perolehan informasi tentang Protokol kesehatan di Lokasi wisata sawah.
2. Pelayanan petugas adalah berperan dalam menyediakan atau mengingatkan
responden dalam hal menerapkan aturan protocol dan fasilitas kesehatan
yang tersedia dan mempengaruhi minat responden untuk tetap
menggunakan fasilitas yang telah disediakan.

3.6 Metode Pengukuran


Instrumen. Alat untuk pengumpulan data adalah kuesioner yang telah dipersiapkan
sebelumnya oleh peneliti. Kuesioner terdiri dari data karakteristik responden, perilaku yang
terdiri dari pengetahuan dan sikap responden dalam menerapkan protocol kesehatan.
3.6.1 Kuesioner
Jenis kuesioner dalam penelitian ini adalah angket tertutup, dimana responden telah diberikan
alternatif jawaban oleh peneliti. Data dikumpulkan dengan menyebar kuesioner kepada
masyarakat yang merupakan responden penelitian.

Berdasarkan Arikunto (1998), aspek pengukuran dengan kategori dari jumlah nilai yang
ada diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :

a. Nilai baik ,apabila responden mendapat nilai >75%dari nilai tertinggi seluruh
pertanyaan
b. Nilai sedang, apabila responden mendapat nilai 45%-75% dari nilai tertinggi seluruh
pertanyaan
c. Nilai kurang, bila responden mendapat nilai <45%dari nilai tertinggi seleruh
pertanyaan

3.7 Pengolahan Data dan Analisis Data

3.7.1 Pengolahan Data


Pengolahan Data yang didapati dari lapangan dilakukan dengan teknik
pengolahan data sebagai berikut (Sugiono, 2011)
a. Pengeditan Data (Editing)
Pengeditan dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan
jawaban atas pertanyaan (kuesioner). Dengan tujuan data yang
diperoleh dapat dioleh dengan baik dan menghasilkan informasi yang
benar.

b. Pemberian Kode (Coding)


Setelah data diperoleh dan dilakukan pengeditan maka perlu
dilakukan pengkodean pada setiap jawaban responden untuk
mempermudah analisis data yang didapatkan.
c. Pemasukan Data (Entry)
Pemasukan data adalah kegiatan memasukan data kedalam
program statistik komputer yaitu program SPSS (Statistik Product
Service Solutioni). Data yang dimasukan yaitu jawaban – jawaban dari
masing – masing pertanyaan dalam bentuk “kode” (angka/huruf).
d. Pemeriksaan Data (Clening)
Pemeriksaan data adalah pemeriksaan kembali data dari setiap
responden yang telah dimasukkan untuk melihat adanya kemungkinan
kesalahan – kesalahan kode, ketidak lengkapan atau sebagainya,
kemudian dilakuakan pembetulan kembali.

3.7.2 Analisis Data


Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi
frekuensi dari variabel dependent responden, yaitu pengetahuan dan sikap.
Analisis ini akan menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel
yang diteliti.
KUESIONER PENELITIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PENGETAHUAN DAN
SIKAP MASYARAKAT DALAM MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN DI LOKASI
WISATA SAWAH DI KELURAHAN MARTUBUNG KECAMATAN MEDAN LABUHAN
KOTA MEDAN

No Kuesioner :…….

Tanggal Wawanccara :………………..

Karakteristik Responden :

1. Nama :
2. Umur :
3. Alamat :
4. Pendidikan :
5. Pekerjaan :

Faktor Predisposisi
1. Apa yang anda ketahui tentang COVID ?
a. Penyakit menular yang disebabkan oleh jenis virus corona
b. Virus yang sedang mendunia
c. Virus yang sangat berbahaya
2. Bagaimana virus corona bisa tertular?
a. Bersentuhan kulit atau kontak fisik langsung
b. Melalui droplet manusia
c. Melalui makanan dan hewan
3. Apa saja upaya pencegahan covid dilokasi wisata yang anda ketahui?
a. Wajib menggunakan masker
b. Tidak boleh mengunjungi saat fu dan demam
c. Wajib mematuhi semua protocol kesehatan
4. Bagaimana sikap anda saat berwisata saat pandemic?
a. Menggunakan Masker dan mematuhi protocol kesehatan
b. Tidak terlalu menjaga jarak yang penting menggunakan masker
c. Normal saja seperti berwisata sebelum terjadi covid
Faktor Pendukung
1. Apakah anda mematuhi protocol kesehatan di lokasi wisata?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah anda melihat dilokasi ini dijaga aturan ketat pencegahan covid-19
?
a. Ya
b. Tidak
3. Bagaimana sikap anda terhadap fasilitas yang disediakan tersebut?
a. Menerapkannya
b. Tidak perduli
c. Biasa saja

4. Apakah anda menemukan fasilitas cuci tangan di wisata sawah ini?


a. Ya
b. Tidak

5. Apakah di lokasi ini disediakan batas jarak 1m?


a. Tidak
b. Ya
Faktor Pendorong
1. Apakah petugas kesehatan mewajibkan mematuhi protocol kesehatan ?
a. Ya
b. Tidak

2. Apakah pengunjung lain mengingatkan unuk mematuhi peraturan wisata saat pandemic?
a. Ya
b. Tidak

Anda mungkin juga menyukai