Ekokritik dalam Novel Numbuk di Sué
Ekokritik dalam Novel Numbuk di Sué
2) (2019)
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah
[Link]
M. Andri Yuriansyah
[Link]@[Link]
Departemen Pendidikan Bahasa Sunda
Universitas Pendidikan Indonesia
80
Abstrack
81
PENDAHULUAN bahwa karya sastra merupakan gambaran
kenyataan yang berkembang sebagai sarana
Pola kapitalisme menyebar dalam
artistik, sebab seni atau karya sastra merupakan
bebagai aspek kehidupan, baik dalam aspek sosial
gambaran dari hal-hal yang nyata (A. Teeuw,
maupun alam atau lingkungan. Kepentingan
2015: 169).
pribadi untuk mengeruk keuntungan dan pola
Hal-hal yang berhubungan dengan
industri yang terus-menerus telah menyebabkan
lingkungan hidup menjadi salah satu tema dari
hilangnya lingkungan yang alami. Contonya,
nilai kemanusiaan dalam sastra. Sebab, ketika
banyak hutan yang dijadikan tempat wisata,
membahas mengenai sastra tentunya membahas
perkebunan kelapa sawit, atau dijadikan lahan
juga mengenai nilai-nilai kemanusiaan (Chandra,
pertanian. Begitu juga dengan lahan sawah yang
2017, hlm. 102).
dijadikan pabrik atau perumahan. Hal itu selain
Melihat bentuknya, karya sastra dibagi
merusak alam juga menyebabkan berubahnya
menjadi tiga bentuk yaitu prosa, puisi, dan drama.
pola kehidupan manusia dan lingkungannya.
Novel merupakan salah satu karya sastra bentuk
Manusia yang asalnya sangat dekat dengan alam,
prosa. Novel pertama dalam khazanah sastra
menjadi jauh bahkan kurang peduli terhadap
Sunda yaitu Baruang ka nu Ngarora karya DK
lingungan sekitarnya.
Ardiwinata. Selain D.K Ardiwinata, pengarang
Kerusakan lingkungan menyebabkan
yang menulis dalam bentuk prosa di antaranya
sebagian manusia kehilangan tempat beraktivitas.
Memed Sastrahadiprawira, lalu dilanjutkan oleh
Anak-anak yang biasa bermain di kebun, di
Moh. Ambri, yang sangat produktif menulis
sawah, kini telah berubah, mereka lebih memilih
dalam bentuk prosa.
bermain ke mall dari pada di alam terbuka. Lebih
Adapun yang menjadi tema karya sastra
dari itu bahkan ada anak yang sudah tidak ingin
Sunda, khususnya sastra Sunda modern, banyak
bermain sama sekali, sebab lebih memilih untuk
mengangkat tema-tema yang berhubungan
bermain game yang ada di gadgetnya..
dengan keadaan alam atau lingkungan Sunda.
Keadaan seperti itu telah banyak
Contohnya Novel Sri Panggung karya Caraka,
digambarkan oleh pengarang dalam karyanya.
walaupun inti ceritanya tentang percintaan, latar
Pengarang biasanya menyatakan hal-hal yang ada
cerita novel tersebut menggambarkan bagaimana
di lingkungannya ke dalam karya kreatif, dengan
keadaan alam Sunda di tahun 1990-an. Selain itu,
cara menjadikan lingkungan sebagai latar, majas,
ada juga cerita pendek Sandekala Gunung
atau tema untuk menggambarkan alam. Hal
Kendeng karya Chye Retty Isnendes yang
tersebut seperti dijelaskan Kaswadi (2015: 32)
menceritakan keadaan alam di Baduy.
bahwa karya sastra sebagai produk budaya,
Sesuai dengan penjelasan di atas, semakin
memiliki hubungan paralel dengan fenomena
menegaskan bahwa ekologis sudah menjadi
kehidupan manusia. Antara karya sastra dengan
bagian dari karya sastra. Ekologi merupakan ilmu
kehidupan manusia, mempunyai tingkat
yang membahas hubungan antara makhluk hidup
kompleksitas/masalah yang sederajat. Sebab,
dengan lingkungannya. Menurut Endraswara
karya sastra mempunyai sumber untuk membahas
(2016, hlm. 2-3) ekologi sastra membahas
mengenai satu hal, dan tujuannya untuk
hubungan antara sastra dengan lingkungan. Oleh
kehidupan manusia. Oleh sebab itu dikatakan
sebab itu, sastra bisa dipengaruhi lingkungan, juga
Suherman (2019: 269) membaca karya sastra
sebaliknya lingkungan bisa dipengaruhi sastra.
sebagai kegiatan literasi budaya. Oleh sebab itu
Istilah ekokritik muncul pada tahun 1978
pula, kerusakan lingkungan merupakan salah satu
oleh William Rueckert dalam Esainya “Literature
contoh masalah nyata di masyarakat, yang harus
and Ecology; An Experiment in Ecocriticism”
diperhatikan juga bisa diteliti dalam kajian sastra
yang seterusnya diperkenalkan di Departemen
(Dewi, 2014: 21).
Sastra Universitas Amerika pada tahun 1990-an
Adanya hubungan antara alam dan sastra
(Endraswara, 2016: 22). Adapun yang menjadi
memunculkan satu konsep mengenai
aturan dalam kajian ekokritik yaitu kritik sastra.
permasalahan ekologi dalam sastra di antara para
Kritik sastra merupakan bidang sastra yang
kritikus sastra (Widianti, 2017, hlm. 1). Hubungan
berhubungan dengan menimbang-nimbang karya,
antara karya sastra dengan lingkungan alam
yang tujuannya membedah nilai sastra. Pembaca
sekelilingnya juga tidak lepas dari konsep bahwa
bisa disebut menghasilkan kritik sastra jika benar-
pengarang sebagai kreator sastra mendapatkan ide
benar memusatkan kesukaannya dalam sastra,
dari kenyataan yang ada. Sebagai mana yang
melatih kepekaannya dan mendalami nilai dari
disebutkan Plato mengenai pendekatan mimetik
pengalaman kemanusiaanya. (Hermoyo, 2015:
82
45). Adapun menurut Endraswara (2016: 21) oleh Moh. Ambri secara humoris serta tetap
esensi kritik sastra yaitu memberi pertimbangan menjaga konsep sastra, yaitu harus mempunyai
tentang bagus atau jeleknya karya sastra. nilai dan amanat yang bermanfaat bagi pembaca.
Menurut Endraswara (2016: 43) Hal ini sejalan dengan yang diutarakan Horatius
pendekatan ekokritik sastra mempunyai dua versi, bahwa sastra harus mempunyai sifat utile dan
yaitu sastra ekologi dan versi ekologi sastra. (1) dulce, bermanfaat dan nikmat, sebagai tujuan dan
versi sastra ekologi lebih mengarah terhadap hal- fungsi karya sastra (Teeuw, 2015: 7).
hal berupa estetika lingkungan dan makna yang Tujuan penelitian ini selain mengkaji
ada di dalam sastra, (2) versi ekologi sastra, yaitu novel Numbuk di Sue dengan menggunakan
kritik yang mengarah terhadap hal-hal yang ada di pendekatan ekokritik, juga menggunakan
sekeliling lingkungan sastra. Lingkungan sastra pendekatan strukturalisme Robert Stanton, yang
diperluas berdasarkan kehidupan manusia, membagi karya sastra menjadi tiga unsur, yaitu:
termasuk lingkungan politik. Dalam kajian ini, tema, fakta cerita dan sarana cerita.
peneliti lebih mengarah terhadap versi yang Adapaun beberapa penelitian mengenai
pertama, yaitu mengkaji dan menganalisis ekokritik yang pernah dilakukan di antaranya
mengenai estetika lingkungan. dengan judul “Kajian Ekofeminis terhadap Tokoh
Karya sastra yang meluas, mengikat Nyi Puhaci dalam Wawacam Sulanjana”, Sri
hubungan manusia dan lingkungan alam, salah Rahayu, 2006. “Kajian Struktural dan Ekokritik
satunya yaitu novel Numbuk di Sue karya Moh. dalam Carpon Sapeuting di Cipawening karya
Ambri. Novel ini mempunyai cerita yang Usep Romli H.M” Herman Setiawan, 2017.
sederhana, tetapi isi atau inti ceritanya “Lima Carpon Sunda untuk Alternatif Bahan
mengandung pengetahuan mengenai kehidupan. Pembelajaran Membaca Carpon di SMA kelas XI
Diceritakan ada beberapa anak-anak yang (Kajian Struktural dan Ekokritik)” Rahayu Nur
berencana akan bermain ke pantai selatan (basisir Hikmah , 2018. Ada juga skripsi karya mahasiswa
kidul) Garut, Pameungpeuk, setelah lulus sekolah. UNY, “Kritik Ekologi dalam Kumpulan Cerpen
Mereka bermain ke Garut ketika akhir tahun, Kayu Naga Karya Korrie Layun Rampan Melalui
setelah libur sekolah. Dalam perjalanan, mereka Pendekatan Ekokritik” Ammar Akbar Fauzi,
sering mengalami sue atau sial, dan tidak selalu 2014, dan artikel yang disampaikan dalam
sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. seminar di UNY dengan judul “Tiga Karya Sastra
Banyak hal yang menjadi pengalaman mereka Sunda Yus Rusyana dalam Perspektif
ketika melakukan perjalanan ke Garut, dari mulai Pendidikan Lingkungan” oleh Rétty Isnéndés
bertamu ke rumah priyayi (menak), berjalan pada tahun 2015.
melewati hutan larangan, berburu badak yang
masih banyak ditemukan di Pameungpeuk, dan METODE PENELITIAN
lain-lain.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Penelitian ini merupakan penelitian
kualiltatif dengan pendekatan objektif terhadap
peneliti memilih novel Numbuk di Sue karya Moh.
Ambri menjadi objek untuk dianalisis. Hal ini karya sastra, dengan objek utamanya novel
dikarenakan novel tersebut banyak mengandung Numbuk di Sue karya Moh. Ambri.
aspek yang berkaitan dengan tatakrama, baik Metode yang digunakan dalam penelitian
kepada sesama manusia maupun terhadap ini yaitu deskriptif analitis. Adapun teknik yang
lingkungan. Perilaku demikian di antaranya dapat digunakan yaitu kajian pustaka, dengan
menggambarkan tindakan manusia yang memiliki menggunakan instrumen berupa kartu data.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam
kepedulian, atau menurut istilah Suherman (2018:
110) sebagai manusia yang mengamalkan gapura mengolah datanya meliptu membaca novel
pancawaluya. Numbuk di Sue, menganalisis struktur ekokritik,
Adapun mengenai pengarangnya, Moh. mendeskripsikan, membuat simpulan dan
Ambri (1892 – 1936), merupakan salah seorang memyusun tulisan.
pengarang Sunda kenamaan yang terkenal dengan
gaya realismenya. Karya-karyanya di antaranya
HASIL DAN PEMBAHASAN
Munjung, Numbuk di Sue, dan Lain Eta. Dalam
karangannya sangat jelas tergambar kehidupan Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan,
manusia Sunda, baik watak tokoh, kepercayaan, yaitu struktur cerita, ekologi sastra, dan bahan
impian, harapan, keadaan alam, kebiasaan serta pembelajaran.
adat-istiadat pada jamannya. Hal itu digambarkan
83
Struktur Cerita Novel Numbuk di Sue
Struktur cerita novel Numbuk di Sue “Gancangna samen geus bérés, Emang jeung
ditelusuri berdasarkan teori strukturalisme Robert nu duaan téa meunang, sarta nomer luhur ogé,
Stanton, yang digabung dengan teori dari henteu jadi pangaclék.”
beberapa ahli, seperti Nurgiyantoro, Aminuddin,
Retty Isnendes. Analisis yang dilakukan yaitu “Diceritakan perpisahan telah selesai, Emang
menganalisis unsur-unsur yang ada di dalam teks, dan dua orang temannya jadi juara serta
meliputi: tema, fakta cerita (galur, pelaku/watak, mendapat renking atas, tidak jadi yang
latar), dan sarana cerita (judul, gaya basa, sudut terakhir”
pandang). Sub judul yang ada dalam novel ini ada (hlm. 7)
9, di antaranya: 1) Badami Saméméh Indit, 2)
Ngaliuh di Jalan, 3) Di Jalan, 4) Di Cisompét, 5) Di masa sekolah, Emang memiliki
Ka Basisir, 6) Di Basisir, 7) Ka Cisompét Deui, 8) sahabat dekat yang menemani perjalanannya,
Moro Badak, 9) Balik. yaitu Momo dan dace.
Tema dari novel ini yaitu mengenai
perjalanan remaja ke pantai Garut yang terus “Ti méméh prung samen Emang badami jeung
menerus dihadapkan dengan kesialan atau batur sakelas nu layeut, duaan, Momo jeung
kejadian yang membuat kecewa. Walaupun tidak Dacé. Badami ngalamun. Lamun meunang
secara jelas mengenai lingkungan tapi baik dari samen, rék nyaba ka nagara.”
cerita-cerita dan kejadian-kejadiannya sangat
berkaitan dengan lingkungan yang memiliki “Dari sebelum dimulai acara perpisahan,
unsur-unsur ekologi. Hal tersebut terlihat dari Emang berdiskusi dengan teman sekelasnya
beberapa hal, di antaranya: 1) tokoh yang ada yang akbar, berdua, Momo dan Dace. Mereka
daalam cerita sangat berkaitan dengan latar menghayal. Jika jadi juara di acara
ekologis, 2) menceritakan keadaan-keadaan yang perpisahan, mereka akan pergi ke nagara
dilewati selama perjalanan dari Bandung ke pantai (Pameungpeuk).”
Garut, Pameungpeuk, 3) keadaan alam (hlm. 7)
digambarkan dengan baik, 4) tokoh yang ada di
dalam novel berkaitan dengan lingkungan. Dari hal tersebut, menggambarkan bahwa
Setelah dianalisis, alur dari novel ini yaitu Emang baik terhadap teman-temannya di sekolah
alur campuran. Hal ini terlihat dari awal cerita juga kepada orang lain.
ketika Utun meminta didongengkan cerita yang Dalam novel, digambarkan bahwa Momo
asik oleh Emang atau pamannya. Pamannya lalu dan Dace merupakan tokoh tambahan yang
menceritakan perjalanannya dahulu setelah lulus mendominasi. Artinya, Momo dan Dace
sekolah. Selain itu dilihat dari lima alur menurut merupakan pelaku yang membantu
Tasrif, cerita novel Numbuk di Sue mempunyai berlangsungnya cerita. Dalam novel ini pun,
hubungan sebab-akibat dalam setiap kejadiannya. pelaku Momo dan dace memiliki watak yang
Hal tersebut terlihat dari tahapan-tahapnnya yaitu: sederhana. Dalam menggambarkan latar belakang
situation, generating circumstances, rising sosial tokoh, pengarang tidak langsung
action, climax, sampai denoumnet-nya. menyebutkan sifat seorang tokoh. Moh. Ambri
Pelaku dalam novel ini bisa disebut menyerahkan ke pembaca untuk memberikan
sederhana, hal ini terlihat dari jumlah semua tanggapannya. Peneliti sebagai pembaca memiliki
pelaku yang tidak begitu banyak dan mudah simpulan mengenai sifat para tokoh, di antaranya:
diketahui baik motifnya, wataknya, dan 1) Emang selaku pelaku yang memiliki latar
tingkahlakunya. Dalam novel ini, nama pelaku belakang kehidupan sosial keluarga yang
utama yaitu disebut Emang, sebab Emang yang sederhana, hal tersebut terlihat dari kehidupannya
benar-benar menentukan jalannya cerita. Hal yang yang tidak menggambarkan kemewahan baik dari
unik yaitu tokoh Emang tidak mennyebutkan keadaan dahulu ataupun masa sekarang, 2) Momo
nama aslinya, jadi hanya disebut Emang, baik itu dan Dace memiliki latar belakang keluarga yang
oleh dirinya sendiri atau oleh Utun selaku tokoh secara ekonomi termasuk kalangan berada, hal
orang pertama ‘kuring’. Dalam novel ini pun tersebut terlihat ketika Emang datang ke
Emang mempunyai watak yang tidak terlalu rumahnya Momo. Digambarkan ayahnya Momo
komlpleks. Diceritakan, Emang yang dahulu sudah haji beberapa kali dan memiliki kebun-
memiliki watak yang pintar, terbukti ketika lulus kebun yang cukup luas, 3) Dace sama dengan
sekolah Emang ada di ranking atas. Momo, digambarkan dalam novel ayahnya Dace
84
adalah seorang Camat di Cisompet. Hal tersebut dari cara pengarang menceritakan isi ceritanya.
mengaskan ketika ayahnya Momo sedang Dalam penyampaiannya, pengarang menceritakan
menghadap Dalem ketika berburu badak. Selain kejadian yang diketahui, dilihat, didengar serta
itu, Dace juga memiliki gandek yaitu Marhim. dialami oleh dirinya sendiri, melewati pelaku
Walaupun Momo dan Dace disebut orang yang ‘kuring’ yaitu Utun.
cukup berada, tapi mereka berdua wataknya tidak Gaya bahasa dalam novel Numbuk di Sue,
sombong dan tidak merasa derajatnya lebih tinggi setelah dianalisis hanya sedikit. Bahasa yang
dari yang lain. Mereka tatap menggambarkan digunakan pengarang benar-benar bahasa sehari-
watak yang baik dan saling membantu. hari. Hal ini menyimpulkan bahwa Moh. Ambri
Latar dalam novel Numbuk di Sue dari sebagai pengarang yang realis. Baik dari isi
awal sampai akhir banyak tergambarkan secara ceritanya atau pun dalam bahasanya.
nyata. Baik latar tempat ataupun latar waktu, Hal-hal yang ada dalam struktur novel
menjadi pembahasan utama. Latar tempat dalam Numbuk di Sue banyak yang berhubungan dengan
novel Numbuk di Sue berpengaruh terhadap unsur ekologis. Apalagi dalam interaksi pelaku
hidupnya cerita. Sangat tergambarkan latar dan lingkungan. Dari awal sampai akhir, pelaku
ekologis yang ada bisa disebut banyak, dari mulai tak lepas dari alam. Sebab merupakan cerita
latar kota Bandung, Garut, hutan, dan pantai. perjalanan yang melewati beberapa tempat,
Sebab, cerita novel Numbuk di Sue memang seperti hutan, tempat tinggal, dan sebagainya.
tentang perjalanan. Setelah membaca novel ini,
akan diketahui tempat-tempat yang dilewati untuk
menuju pantai Garut, Pameungpeuk. Tempat- Ékokritik dalam Novél Numbuk di Sue
tempat tersebut, di antaranya: Leles, Cibatu, Pembahasan ekokritik dalam novel
Wanaraja, Cigeledeg, Regol, Cisurupan, Numbuk di Sue meliputi tiga hal, yaitu: kritik
Cikajang, Cisompet, dan Pameungpeuk. Selain ekologi, interaksi tokoh dan lingkungan, serta
itu, digambarkan juga keadaan satu tempat yang latar ekologis.
dilewati atau yang dituju. Salah satunya yaitu
basisir Kritik Ékologi
Kritik ekologi merupakan salah satu
“blang ka laut, teu nyaho di lega-legana. langkah ekokritik. Dalam novel ini, digambarkan
Beuki deukeut beuki tétéla, sisi laut siga bagaimana gagasan pengarang dalam
patepung jeung sisi langit.” menyampaikan kritiknya terhadap keadaan
lingkungan. Dari hasil analisis, peneliti
“Arah ke laut, tidak terukur luasnya. Semakin menyimpulkan bahwa ada dua permasalahan
dekat bertambah jelas, di sebelah penjuru laut kritik ekologi, yaitu rusaknya hutan dan memburu
seperti bertemu dengan sudut langit.” hewan yaitu badak.
(hlm. 48) Merusak hutan
dalam novel ini, diceritakan mengenai perilaku
Seperti yang sudah disebutkan di atas, masyarakat yang membakar hutan. Hal ini
judul dari novel ini yaitu Numbuk di Sue. Secara digambarkan dalam novel Numbuk di Sue ketika
bahasa, kata numbuk memiliki arti ‘yang dialami’ pelaku utama sedang di Cisompet. Diceritakan
dan sue asal dari bahasa Jawa yang artinya sial masyarakat Cisompet merasa khawatir dengan
atau rehe. Bisa disimpulkan bahwa Numbuk di Sue adanya badak, yang seterusnya masyarakat
artinya ‘ada dalam keadaan sial’. Dilihat dari isi memiliki pendapat bahwa badak-badak tersebut
novelnya, antara judul dan ceritanya saling harus ditangkap agar bisa dibunuh.
mengikat. Permasalahan yang diceritakan Dalem yang pada saat itu memiliki
pengarang tentang perjalanan remaja yang dijalan wewenang langsung memerintahkan semua
selalu dihadapkan dalam keadaan yang warganya untuk ikut dalam pemburuan badak-
mengecewakan. Emang sebagai pelaku utama badak tersebut. Termasuk para pegawai kecamatn
dalam novel ini, adalah yang selalu mengalami Cisompet. Singkat cerita, Dalem dan semua
kesialan-kesialan tersebut. Walaupun judulnya masyarakat akan memburu badak. Ketika
tidak mengandung arti tentang ekologi, tapi dalam berburu, cara agar bisa mendapatkan badak yaitu
cerita dan unsur-unsur yang mendukungnya, dengan cara membakar hutan. Hal tersebut
novel ini sangat berkaitan dengan ekologis. digambarkan dalam cutatan di bawah ini.
Sudut pandang dalam novel Numbuk di
Sue menggunakan pesona pertama. Hal ini terlihat
85
“Ger leuweung téh diduruk ti beulah wétan “Seekor badak seperti sudah tidak merasa
sareng ti beulah kidul. Angin tarik, seuneu aman berdiam diri, ia seperti merasa
muntab-muntab, haseup meledek. Ti palih kebingungan sebab dikelilingi bahaya. Ke
kulon ramé jelema ayeuh-ayeuhan dibarung arah selatan, ada jalan yang kosong bisa
ku sora kohkol. Seuneu beuki gedé ngaudag- dilewati untuk berlari. Tapi anehnya seperti
ngudag, sorana murubut, langit poék ku tidak ingin berlari ke arah itu, seperti tidak
haseup. Seuneu nu ti wétan sareng nu ti kidul enak hati, jika berlari ke situ akan
jadi hiji, komo haseupna ngagulung ti tadi mendapatkan bahaya.”
kénéh. Jelema ngangseg beuki deukeut. Surak (hlm 63)
jeung kohkol diindungan ku beledug-beledug
sora bedil buang obat” Supaya bisa menyelamatkan dirinya,
badak tidak menyerang manusia yang sedang
“Langsung hutan dibakar dari sebelah timur memburu, dan lebih memilih lari ke tempat yang
dan di sebelah utara. Angin sangat kencang, si kosong.
jago merah mengamuk, asap mengepul. Dari
sebelah barat ramai orang-orang “Waw deui badak calawak sarta disada kawas
berbondong-bondong disertai suara yang ngageroan anak pamajikan, durugdug ngaleut
ditabuh. Api semakin besar. Terdengar suara tiluan, anak di tengah, nyorang-nyorang nu
api yang merajalela, langit semakin gelap oleh lowong.”
asap. Api dari sebelah timur dan dari selatan
menjadi satu, apalagi asapnya semakin “Waw mulut badak menganga dan bersuara
mengepul. Orang-orang berkumpul semakin seperti memanggil anak istrinya, tiga badak
dekat. Sorak sorai dan suara yang ditabuh itu berlari, anak-anaknya di tengah,
disertai oleh suara pistol membuang angin.” menyusuri jalan yang bisa dilewati.”
(hlm. 61-62) (hlm. 63)
86
untuk bisa diambil culanya. Secara tidak langung, Cisalaki. Dalam cerita tersebut digambarkan
Moh. Ambri sebagai pengarang sudah sungai Cisalaki yang bersih dan airnya bening.
menggambarkan keadaan alam kedepannya Perilaku yang harmonis dengan alam
dengan cara memberikan warisan keadaan alam digambarkan ketika Emang dan teman-temannya
Sunda yang dahulu melewati karya sastra. mandi di sungai. Sikap yang spontan dan natural
sangat tergambarkan. Dari peristiwa tersebut
Interaksi Tokoh dan Lingkungan terlihat tidak ada rasa canggung atau terpaksa
Interaksi tokoh dan lingkungan dibagi untuk mandi di sungai. Emang yang asalnya
menjadi dua, yaitu 1) perilaku tokoh dan membasahi kakinya saja, melihat teman-
lingkungan; 2) memahami keadaan lingkungan. temannya Emang pun tertarik untuk ikut mandi.
Hasil analisis mengenai interaksi tokoh dan Dari hal tersebut menegaskan perilaku tokoh yang
lingkungan dari novel Numbuk di Sue akan memanfaatkan alam sekitarnya.
dijelaskan di bawah ini. Memetik Limus di Jalan
1) Perilaku Tokoh dan Lingkungan Dari beberapa unsur-unsur yang telah di
Perilaku tokoh yaitu gambaran perilaku dari bahas di atas, alam menajdi hal yang fundamental
cerita yang memiliki hubungan dengan dalam berlangsungnya cerita Numbuk di Sue. Hal
lingkungan, baik yang sifatnya positif atau terakhir dalam perkara tokoh yang memanfaatkan
pun yang sifatnya negatif. Bentuk interaksi alam yaitu ketika Emang mengambil buah limus
dari perilaku tokoh dan lingkungan yaitu yang ada di jalan. Ketika keadaan sedang kurang
memanfaatkan lingkungan. nyaman karena sudah memakan pete dan durian,
Bermain di Kebun Emang punya siasat mengambil buah limus yang
Dalam novel ini, salah satu perilaku tokoh jatuh di jalan. Sebenarnya bukan karena keinginan
yang memanfaatkan lingkungan yaitu bermain di memakan buah limus, Emang pikir bauh tersebut
kebun. Hal ini merupakan bentuk yang harmonis akan sedikit membantu menyegarkan bau
antara pelaku dan lingkungannya. Digambarkan mulutnya.
ketika tokoh Emang sedang di rumahnya Momo, Dalam kejadian tersebut, walaupun hal
di Cigeledeg. Untuk mengisi waktu kosong yang kecil tapi manfaatnya sangat terasa oleh
mereka bermain bola di kebon. Hal tersebut secara Emang. Dari buah limus tersebut, alam
tidak langsung menegaskan dalam waktu saat itu sekelilingnya sudah memberikan manfaat. Hal
lingkungan sekeliling masih asri dan tempat tersebut digambarkan dalam cutatan di bawah ini.
bermain anak-anak tempatnya di alam terbuka.
Pelaku dalam novel Numbuk di Sue, “Salila nyaba ti barang indit ti Bandung mani
menggambarkan bahwa manusia harus kakara harita meunang bagja gedé. Eureuleu
mempunyai hubungan yang erat dengan teurab, héor bau limus. Bau kadu jeung bau
lingkungan. Emang dan Momo ketika bermain di peuteuy musna samasakali. Lieur jeung sebel
kebun tidak hanya sekadar bermain tapi sembari leungit. Plong sirah asa hararampang,
memetik mangga yang ada di kebun tersebut. téténjoan bener deui.”
Sebab kebun tersebut ditanami beberapa
tumbuhan mangga, ketika ingin memakan “Selama berlibur dari awal berangkat dari
mangga tidak perlu susah-susah membeli dulu ke Bandung baru pertama kali mendapatkan hal
pasar, tinggal memetik sendiri. yang bahagia. Tiba-tiba bersendawa, tercium
Dibandingkan dengan keadaan saat ini, bau buah limus. Bau durian dan bau petai
kebiasaan bermain anak-anak dan remaja sudah hilang seketika. Pusing dan mual hilang.
berbeda. Jangankan di kota yang sudah pasti tidak Kepala langsung terasa ringan dan
ada kebun dan hutan, di pedesaan juga anak-anak penglihatan jelas kembali.”
kini sepertinya sudah tidak ingin bermain di alam (hlm. 70)
terbuka. Mereka lebih memilih bermain game di
HP. Hal tersebut menyebabkan anak-anak dan Dari beberapa pembahasan di atas
remaja sekarang tidak bisa menghargai keadaan mengenai interaksi tokoh dan lingkungan,
alam sekelilingnya. menegaskan bahwa manusia tidak bisa terlepas
Bermain di Sungai dari alam. Manusia akan selalu membutuhkan
Dalam novel ini diceritakan perjalanan, alam untuk keberlangsungan kehidupannya.
hampir semua tokoh tidak ada yang mempunyai Secara tidak langsung, pengarang ingin
sifat ekosentris. Ketika Emang, Dace dan Momo menyampaikan makna agar hidup harmonis
melewati hutan, mereka beristirahat di sungai dengan alam.
87
ngahaja ti tengah leuweung. Ngan sakeudeung
2) Memahami Keadaan Lingkungan mapay jalan gedé téh, bus deui ka leuweung.”
Unsur-unsur yang menegaskan dari analisis
ini tergambarkan dengan obrolan tokoh “Sudah jauh dari Pamegatan langsung
dalam cerita. Adapun hal-hal yang ada di menuju arah ke hutan, tapi malah keluar di
dalam novel, yang mengandung makna jalan besar, jalan baru yang akan dikerjakan
bahwa pelaku memahami keadaan menuju ke Pamegatan, dikerjakan dari hutan
lingkungan, yaitu: 1) mengetahui dulu. Hanya sebentar berjalan menyusuri
lingkungan sekelilingnya, 2) menghargai jalan besar, lalu kembali lagi masuk ke dalam
alam, 3) menghadapi keadaan alam. hutan.”
Mengetahui Lingkungan Sekelilingnya (hlm. 26)
Dalam unsur ini, tokoh sebagai subjek yang
melakukan interkasi dengan lingkungan sudah Dari dua analisis di atas, pelaku telah
memahami dengan apa yang harus dilakukan. melewati perbincangan dalam menyampaikan
Salah satu bentuk yang menegaskan pemahaman gambarannya. Tapi melewati pikiran yang hidup
tokoh terhadap lingkungan yaitu mengetahui jalan dan merespon apa yang dialami. Teakhir yaitu
yang harus dilewati. Hal tersebut menegaskan pelaku sudah tahu waktu yang dibuthkan untuk
bahwa pelaku sudah biasa dan berani. Hal tersebut bisa sampai di tempat yang dituju. Ini merupakan
digambarkan dalam cutatan di bawah ini. gambaran bahwa pelaku sudah memahami
keadaan lingkungannya. Hal tersebut di
“Ti halteu Cimindi ngagedig leumpang ka Ua gambarkan dalam cutatan di bawah ini.
di parapatan Cihanjuang. Teu meuli karcis ka
Cimahi, da éta ti Cimahi ka parapatan “Lain geus deukeut”? cék Momo. Jawab
Cihanjuang mah malik deui.” Dacé, “Deukeut nanahaon, aya meureun dua
welas pal mah.” Geus ngomong, tuluy
“Dari halte Cimindi terus jalan kaki ke Ua di ngaléos, teu nyaho rék ka mana.
perempatan Cihanjuang. Tidak perlu membeli
lagi karcis ke Cimahi, sebab dari Cimahi ke “Bukannya sudah dekat?” kata Momo. Lalu
perempatan Cihanjuang hanya tinggal Dace menjawab, “Dekat dari mana, mungkin
berbalik arah.” masih dua belas pal lagi.” Setelah berbicara
(hlm. 10) langsung pergi, tidak tahu mau ke mana.
(hlm. 40)
Cutatan di atas menggambarkan Menghargai Alam
bagaimana pelaku ‘Emang’ yang akan Manusia sebagai makhluk hidup yang
mengunjungi suatu tempat. Dalam pemikiran mebutuhkan alam tentunya harus bisa menghargai
Emang bisa menentukan harus bagaimana dan alam. Alam di sekeliling kita yang melingkupi
harus ke mana. Hal tersebut menegaskan Emanng seluruh makhluk hidup termasuk tumbuhan dan
memiliki prinsip. Dalam cutatan tersebut juga hewan. Tumbuhan dan hewan pun memiliki
disebutkan nama tempat seperti Cimindi, peranan yang penting di alam ini, bukan hanya
Cihanjuang, dan Cimahi. Untuk orang Bandung manusia. Sebab pada hakikatnya manusia bukan
tentunya sudah tidak asing lagi dengan nama yang memiliki alam, dan tidak bisa berbuat apa
tempat tersebut. Begitu juga untuk orang yang saja dengan alam. Rasa menghargai alam tersebut,
bukan orang Bandung, setidaknya tergambarkan ada dalam novel Numbuk di Sue. Pelaku merasa
keadaan Bandung, dan minimalnya menjadi tahu harus melakukan hal yang dianggap mistis dan
nama-nama tempat yang ada di Bandung. dipercaya secara konvensional. Hal tersebut
Adapun, ketika sudah memasuki perjalan dicutat di bawah ini.
di hutan, sama halnya ketika Emang sedang di
Cimahi. Pelaku memberi tahu kepada pembaca “Keur jongjon-jongjon leumpang, Dacé
tentang keadaan jalan yang dilewati. Hal tersebut ngomong, “Cuplak Dudukuy!”
digambarkan dalam cutatan di bawah ini. “Na aya naon?” cék Emang jeung Momo.
“Urang ngaliwat nu sanget, kudu nyuplak
“Geus jauh ti Pamegatan nyorang leuweung dudukuy.”
baé, bet jol ka jalan gedé, jalan anyar nu rék “Lebah mana nu sanget téh?” cék Emang.
dirampungkeun ka Pamegatan, ngamimitian “Éta,” cék Dacé bari nunjuk ka leuweung.””
88
“Ketika sedang berjalan, Dace berbicara selama perjalanan, dan 2) gambaran keadaan
“buka topinya!” pantai.
“memangnya kenapa?” kata Emang dan Keadaan alam yang dilewati selama perjalanan
Momo. Ada beberapa latar ekologi yang
“Kita akan melewati tempat yang angker, dihadirkan ketika pelaku sedang ada di
harus membuka topi.” perjalanan. Di ceritakan dalam novel ini tempat-
“Di sebelah mana tempat yang angker itu?” tempat yang dilwati dari awal perjalanan di
Kata Emang. Bandung sampai ke tempat yang dituju yaitu
“Itu,” kata Dace sembari menunjuk ke arah pantai Garut, Pameungpeuk. Pengarang dalam
hutan.” menyampaikan gambaran latar ekologis
(hlm. 27) menggunakan bahasa yang indah. Terlihat dari
cara dan gayanya, Moh. Ambri menyampaikan
Walaupun hubungannya dengan sesuatu yang realis, yang biasa ada dalam
kepercayaan mistis dan tahayul, pelaku tetap kehidupan manusia biasanya tapi tidak
menghargai dengan apa yang menjadi menghilangkan nilai estetikanya. Adapun tempat-
larangannya. Gambaran tersebut menegaskan tempat yang dilewati selama perjalan yaitu di
pelaku memiliki rasa menghargai alam, sebab dekat gunung Cikuray, kebun teh, sungai Cilaki,
pelaku merasa antara dirinya dan alam, dirinya lah dan alun-alun kecamatan. Empat tempat yang
yang lebih tidak berdaya dibandingkan dengan dilewati oleh para pelaku selama perjalanan
alam. Oleh sebab itu, kita haruslah menghargai tergambarkan secara estetis menjadi suatu latar
alam. ekologis.
Tahu untuk menghadapi alam yang sulit Lewat karyanya, Moh. Ambri mengajak
diprediksi para pembaca agar bisa merasakan perjalanan
dalam analisis yang terkahir mengenai yang dialakukan oleh para pelaku di dalam novel.
interaksi tokoh dan lingkungan, ada hal yang Melewati karya tersebut, pembaca diberi
harus dimengerti mengenai makna yang ada pengalaman yang asik, menghibur juga
dalam cerita. Emang dan teman-temannya yang mengandung nilai-nilai pengetahuan. Hal tersebut
akan melewati ranca, diingatkan oleh Mandor menegaskan bahwa Moh. Ambri ada dalam aspek
Besar bahwa harus berhati-hati ketika melewati sastra menurut Plato, yaitu dekat dengan keadaan
ranca, sebab sering ada ular. Secara ekosistem, alam.
ular memang lebih senang berada di tempat yang
lembab, basah, becek dan berumput. Oleh sebab Keadaan Pantai
itu, Mandor Besar menyarankan agar membawa Dalam novel tersebut, pantai merupakan
iteuk atau tongkat sebagai alat untuk melindungi tempat yang menjadi tujuan dalam perjalanan.
diri ketika tiba-tiba ada ular. Pantai yang dituju oleh para pelaku yaitu
Pameungpeuk, Garut. Dalam latar ekologis
Latar Ékologis tersebut, tergambar dan terbayang keindahan.
Dalam novel Numbuk di Sue, yang paling Adapun gambaran tersebut ada dalam cutatan di
menentukan jalannya cerita yaitu latarnya. Latar bawah ini.
menjadi media utama yang digunakan pengarang
agar terciptanya jalan cerita. Terlihat dalam novel “Barang nepi ka tegal jukut, blang ka laut, teu
ini dari awal sampai akhir yang menggambarkan nyaho di lega-legana. Beuki deukeut tétéla, sisi
banyak latar yang saling berkaitan dan laut siga patepung jeung sisi langit. Laut jeung
mempunyai hubungan yang kompleks. Bisa langit arék sarua rupana. Langit siga hateup
disebut, yang menjadi benang merah dalam cerita lamak paul semu hideung, melendung euweuh
novel ini adalah latarnya. usukan. Laut ngemplang, moyég teu eureun-
Salah satu analisis mengenai ekologis eureun, jeung siga pirang-pirang nu
sastra yaitu latar ekologis. Latar ekologis yaitu susurungkuyan. Ti darat ka sisi langit
gambaran mengenai segala keadaan alam yang katénjona nanjak, jadi deudeuleueun laut siga
ada dalam karya sastra. Dalam hal ini, gambaran déngdék tapi caina teu daékeun bahé.”
keadaan lingkungan disampaikan bukan dengan
bahasa yang biasa, tapi dengan menggunakan “Ketika sampai ke padang rumput, arah
bahasa-bahasa yang diperindah. Dalam novel pandangan langsung ke laut, tak terkira
Numbuk di Sue, ada beberapa latar ekologis yang luasnya. Semakin dekat semakin jelas, pinggir
ada, di antaranya: 1) keadaan alam yang dilewati
89
lautan seperti bertemu menyatu dengan langit.
Laut dan langit serupa. Langit seperti REFERENSI
(hlm. 47) Chandra, A.A. (2017). Ekokritik dalam Cerpen
Indonesia Mutakhir. Jurnal Pena Indonesia,
Dari kutipan di atas, pengarang Vol. 3, No. 2, Oktober 2017, kc. 100-129.
menggunakan gaya bahasa yang indah, tentunya Blitar: SMK Negeri 1 Udanawu.
tidak berlebihan. Kata-kata dan kalimatnya tidak [Link]
begitu sulit untuk dimengerti. Daya imajinasi icle/download/1704/pdf. (online) (diakses
mengenai pantai sangat tergambarkan. Keindahan tanggal 4 Juli 2019)
latar ekologisnya pun tergambarkan. Dewi, N. (2016). Ekokritik dalam Sastra
Dalam analisis mengenai latar ekologis, Indonesia: Kajian Sastra yang Memihak.
memberikan simpulan bahwa dalam novel Adabiyyat, Vol. XV, No. 1, Juni 2016 kc.
Numbuk di Sue, Moh. Ambdri sebagai pengarang 19-37. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
bisa membangun kalimat yang indah dan [Link]
menggambarkan keadaan ekologis. at/article/view/15102/756. (online)
(diakses tanggal 4 Juli 2019).
KESIMPULAN Endraswara. (2016). Sastra Ekologis.
Cerita dalam novel Numbuk di Sue karya Yogyakarta: Buku Seru.
Moh. Ambri sangat berkaitan erat dengan alam Endraswara, S. (2016). Metodologi Penelitian
atau lingkungan, walaupun tema utama dalam Ekologi Sastra: Konsep, Langkah, dan
cerita tersebut sebenarnya bukan tentang ekologi Penerapan. Yogyakarta: CAPS.
atau lingkungan. Hermoyo, R. P. (2015). Analisis Kritik Sastra
Ekokritik yang terkandung dalam novel ini Puisi “Surat Kepada Bunda: Tentang
dibagi menjadi tiga, yaitu kritik lingkungan, Calon Menantunya” karya W.S. Rendra.
interaksi tokoh dengan lingkungan, dan latar Didaktis, Vol. 15, No. 1, Februari 2015, kc.
ekologis. Kritik lingkungan digambarkan melalui 44-53. Surabaya: Universitas
kerusakan hutan sebagai akibat dari pembakaran, Muhammadiyah. [Link]-
yang awalnya disengaja dilakukan dari memburu [Link]/[Link]/didaktis/article/d
badak. Walaupun tidak ada kritik langsung ownload/40/110 (online) (diakses tanggal
terhadap peristiwa tersebut, pengarang 4 Juli 2019.
menyampaikan kritiknya melalui amanat cerita Hernawan, H., Ruhaliah, R., Suherman, A., &
yang tersirat. Pengarang sengaja memberikan Nugraha, H. S. (2019, March). Sundanese
kesempatan kepada pembaca untuk memberikan Culture-based Ecoliteracy. In Second
kritik dan kesimpulan masing-masing terhadap Conference on Language, Literature,
adegan peristiwa tersebut. Education, and Culture (ICOLLITE 2018).
Interaksi pelaku dengan lingkungan Atlantis Press.
mencakup sikap dan perilaku yang Isnéndés. Spk (2015). Teori Sastra Kontemporer.
menggambarkan bahwa antara manusia dan alam Bandung: UPI PRESS.
berada dalam posisi yang sama. Hal ini seperti Kaswandi. (2015). Paradigma Ekologi dalam
dikatakan Hernawan (2018) bahwa manusia Kajian Sastra. Semarang: FBS UNESA.
dengan alam akan membentuk sebuah interaksi. [Link]. (online) (diakses
Adapun latar ekologis dalam novel ini tampak tanggal 3 Juli 2019)
tergambar keadaan alam secara indah dan hidup. Rahayu, N.H. (2018). Lima Carpon Sunda untuk
Latar ekologis yang digambarkan pengarang di Alternatif Bahan Pembelajaran Membaca
antaranya hutan, pedesaan dan pantai. Carpon di SMA Kelas XI. Lokabasa, Vol. 9
Berdasarkan aspek ekokritik di atas dan No. 2, Oktober 2018. Bandung: Universitas
berlandaskan pada analisis bahan ajar, novel Pendidikan Indonesia.
Numbuk di Sue dapat dijadikan bahan [Link]
pembelajaran membaca novel di SMA kelas XI, article/view/15684. (online) (diakses
sebab novel tersebut memenuhi kriteria bahan tanggal 4 Juli 2019).
pembelajaran, dilihat dari isi ceritanya. Suherman, A. (2018). Jabar Masagi: Penguatan
Karakter Bagi Generasi Milenial Berbasis
Kearifan Lokal. Lokabasa, 9(2), 107.
Suherman, A. (2019). Literacy Tradition of
Sundanese Society-Indonesia.
90
International Journal for Innovation
Education and Research, 7(3), 262-271.
[Link]
77.
Teeuw, A. (2015). Sastra dan Ilmu Sastra.
Bandung: Pustaka Jaya.
Widinati, A.W. (2017). Kajian Ekologi Sastra
dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas
2014 Di Tubuh TarRa dalam Rahim Pohon.
Diksatrasia, Vol. 1, No. 2, Agustus 2017,
kc. 1-9. Ciamis: FKIP Universitas Galuh.
[Link]
asia/article/view/576. (online) (diakses
tanggal 4 Juli 2019
91