Gaya Axial dalam Analisis Kolom Biaksial
Gaya Axial dalam Analisis Kolom Biaksial
Supplemen
(Sumber: Reinforced Concrete and Design 6th Ed, Wight, J.K. & MacGregor, J.G.)
Kalau kita berdiskusi dengan kolom, pasti gaya yang dianalisis tidak jauh-jauh dari aksial-
lentur. Maka dari itu, kita biasanya menganalisis dengan menggunakan P-M Diagram atau
diagram aksial lentur. Tapi, diagram tersebut hanya terbatas di satu arah momen saja. Nyatanya,
eksentrisitas bisa terjadi di dua arah (sumbu x dan sumbu y).
Di buku acuan (Reinforced Concrete and Design 6th Ed), ada empat prosedur yang dapat
digunakan dalam analisis kolom persegi atau persegi panjang yang dikenakan beban biaksial
yang dapat teman-teman baca pada Halaman 548-558. Untuk tutorial ini, kita akan
menggunakan “Bresler Reciprocal Load Method” karena prosedur pendekatan ini dinilai
cukup sederhana dan biasanya digunakan untuk design check penampang.
Kekuatan nominal penampang yang terkena beban biaksial dapat diilustrasikan oleh tiga grafik,
(Sumber: [Link]
[Link])
Ilustrasi (a) menunjukkan grafik kegagalan penampang dengan parameter P (axial load) dan
ex, ey (eksentrisitas). Ilustrasi (b) menunjukkan grafik kegagalan penampang dengan
parameter 1/P dan ex, ey. Ilustrasi (c) menunjukkan grafik kegagalan dengan parameter P, Mx,
dan My.
Untuk metode Reciprocal Bresler, kita akan memeriksa kegagalan penampang dengan
pendekatan pada kegagalan penampang ilustrasi (b).
𝟏 𝟏 𝟏 𝟏 𝟏
≈ ′ = + −
𝑷𝒏 𝑷𝒏 𝑷𝟎𝒙 𝑷𝒐𝒚 𝑷𝟎
𝑃0 : gaya aksial nominal penampang akibat tekan aksial murni (saat 𝑀𝑛𝑥 = 𝑀𝑛𝑦 = 0)
Tapi, hasil pengujian eksperimental menunjukkan bahwa persamaan di atas hanya terbatas
(dikatakan akurat) apabila penampang tidak flexure govern. Maka dari itu, persamaan di atas
hanya dapat digunakan jika:
𝑷𝒏 ≥ 𝟎, 𝟏 × 𝒇′𝒄 × 𝑨𝒈
Jawaban
Dengan susunan seperti di atas, kita bisa lihat bahwa terdapat tiga garis tulangan
longitudinal pada kolom. Maka, kita akan membagi menjadi 3 di dan 3 Asi.
25
𝑑1 = 50 + 13 + = 75,5 𝑚𝑚
2
𝑑2 = 300 𝑚𝑚
𝑑3 = 600 − 75,5 = 524,5 𝑚𝑚
𝜋
𝐴𝑠1 = 3 ( 𝑑𝑏2 ) = 1472,62 𝑚𝑚2
4
𝜋
𝐴𝑠2 = 2 ( 𝑑𝑏2 ) = 981,75 𝑚𝑚2
4
𝜋
𝐴𝑠3 = 3 ( 𝑑𝑏2 ) = 1472,62 𝑚𝑚2
4
Lalu, untuk mencari 𝑃𝑢𝑥 sesuai dengan eksentrisitasnya, kita harus menentukan dua
titik dengan regangan baja tulangan tertentu. Untuk titik pertama, kita coba pada
saat kondisi balanced atau regangan baja mencapai 𝜖𝑦 .
𝜖𝑠3 = 0,0021
0,003
𝑐= 𝑑 = 308,53 𝑚𝑚
0,003 + 𝜖𝑦
𝑑1 − 𝑐
𝜖𝑠1 = (0,003) = −0,0022 (𝑛𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑎𝑟𝑡𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛)
𝑐
𝑑2 − 𝑐
𝜖𝑠2 = (0,003) = −8,29 × 10−5
𝑐
𝑃𝑛𝑥 = Σ𝐶 − Σ𝑇
𝑃𝑛𝑥 = 4422,08 𝑘𝑁
𝑃𝑢𝑥 = 𝜙𝑃𝑛𝑥 = 0,65(𝑃𝑛𝑥 ) = 2874,35 𝑘𝑁
ℎ ℎ ℎ ℎ 𝑎
𝑀𝑛𝑥 = 𝐹𝑠1 ( − 𝑑1 ) + 𝐹𝑠2 ( − 𝑑2 ) + 𝐹𝑠3 (𝑑3 − ) + 𝐶𝑐 ( − )
2 2 2 2 2
𝑀𝑛𝑥 = 1055,72 𝑘𝑁𝑚
𝑀𝑛𝑥 3
𝑒𝑦 = 10 = 238,74 𝑚𝑚
𝑃𝑛𝑥
Dari sini, kita bisa lihat bahwa 𝑒𝑦 = 238,74 > 100 𝑚𝑚. Maka, kita harus cari satu
titik lagi yang menghasilkan 𝑒𝑦 < 100 𝑚𝑚. Kenapa harus lebih kecil? Supaya titik
yang kita cari berada di rentang 𝑒𝑦 hasil perhitungan kita untuk diinterpolasi.
Hindari ekstrapolasi karena hasilnya tidak akurat dan sangat tidak
konservatif.
Untuk titik kedua, kita gunakan 𝜖𝑠3 = 0 . Prosedur perhitungannya sama seperti
yang dilakukan sebelumnya.
𝑐 = 𝑑3 = 524,5 𝑚𝑚
𝑑1 = 75,5 𝑚𝑚
𝑑2 = 300 𝑚𝑚
𝑑1 − 𝑐 75,5 − 524,5
𝜖𝑠1 = (0,003) = (0,003) = −0,00257
𝑐 524,5
𝑑2 − 𝑐 300 − 524,5
𝜖𝑠2 = (0,003) = (0,003) = −0,00128
𝑐 524,5
𝑑3 − 𝑐 0
𝜖𝑠3 = (0,003) = (0,003) = 0
𝑐 524,5
𝑃𝑛𝑥 = Σ𝐶 − Σ𝑇
𝑃𝑛𝑥 = 8360,49 𝑘𝑁
𝑃𝑢𝑥 = 𝜙𝑃𝑛𝑥 = 0,65(𝑃𝑛𝑥 ) = 5434,318 𝑘𝑁
ℎ ℎ ℎ ℎ 𝑎
𝑀𝑛𝑥 = 𝐹𝑠1 ( − 𝑑1 ) + 𝐹𝑠2 ( − 𝑑2 ) + 𝐹𝑠3 (𝑑3 − ) + 𝐶𝑐 ( − )
2 2 2 2 2
𝑀𝑛𝑥 = 814,43 𝑘𝑁𝑚
𝑀𝑛𝑥 3
𝑒𝑦 = 10 = 97,42 𝑚𝑚
𝑃𝑛𝑥
Karena kita sudah memperoleh 𝑒𝑦 yang lebih kecil dan lebih besar dari 100 mm,
maka interpolasi dapat dilakukan (semakin kecil rangenya, semakin akurat hasil
interpolasinya).
𝑒𝑦1 = 238,74 𝑚𝑚
𝑒𝑦2 = 97,42 𝑚𝑚
𝑒𝑦 = 100 𝑚𝑚
𝑃𝑢𝑥1 = 2874,35 𝑘𝑁
𝑃𝑢𝑥2 = 5434,32 𝑘𝑁
(𝑒𝑦 − 𝑒𝑦1 )
𝑃𝑢𝑥 = 𝑃𝑢𝑥1 + (𝑃𝑢𝑥2 − 𝑃𝑢𝑥1 )
(𝑒𝑦2 − 𝑒𝑦1 )
(100 − 238,74)
𝑃𝑢𝑥 = 2874,35 + (5434,32 − 2874,35)
(97,42 − 238,74)
𝑃𝑢𝑥 = 3244,96 𝑘𝑁
iii. Step 3, hitung 𝑃𝑢𝑦
Caranya sama seperti langkah (ii), kita peroleh:
𝑒𝑥1 = 238,74 𝑚𝑚
𝑒𝑥2 = 97,42 𝑚𝑚
𝑒𝑥 = 200 𝑚𝑚
𝑃𝑢𝑦1 = 2874,35 𝑘𝑁
𝑃𝑢𝑦2 = 5434,32 𝑘𝑁
(𝑒𝑥 − 𝑒𝑥1 )
𝑃𝑢𝑦 = 𝑃𝑢𝑦1 + (𝑃 − 𝑃𝑢𝑦1)
(𝑒𝑥2 − 𝑒𝑥1 ) 𝑢𝑦2
(200 − 238,74)
𝑃𝑢𝑦 = 2874,35 + (5434,32 − 2874,35)
(97,42 − 238,74)
𝑃𝑢𝑦 = 3576,07 𝑘𝑁
iv. Hitung 𝑃𝑢
1 1 1 1
= + −
𝑃𝑢 𝑃𝑢𝑥 𝑃𝑢𝑦 𝑃𝑢0
1
𝑃𝑢 =
1 1 1
𝑃𝑢𝑥 + 𝑃𝑢𝑦 − 𝑃𝑢𝑜
1
𝑃𝑢 =
1 1 1
+ −
3244,96 5434,32 6366,10
𝑃𝑢 = 3244,96 𝑘𝑁
16 𝑑𝑏
𝑠 ≤ { 48 𝑑𝑠
max(𝑏, ℎ)
16(25) = 400
𝑠 ≤ {48(13) = 624
600
𝑠 = 400 𝑚𝑚
Dengan asumsi menggunakan dua kaki sengkang, maka kita menggunakan 2𝐷13 −
400.
Untuk kait sengkang, kita gunakan kait 135°. Mengacu pada SNI 2847:2019, maka:
= 400 5 , kN
Penampang terhadap
:
.
aman geser
.
Un (2 TPh V
Jawab8 Beban 3 Tu ① To = Tahanan
1032 58 181648
#G
350
Tuliskan Parameter Soal
0, 75 52 , .
MPa
.
2 04
.
t = ,
400 537 5 . , 1, 7 .
1501002
Diketahui : ·
f = 30 MPa ·
b = 400 mm
fy =
400 MPa h =
600 mm 196 27 10
+30
· .
,
,75 MPA
.
0 = 3 42 .
·
C =
40 Mm ·
Tul Atas.
:
3-D25 400 . 537 , 5
·
Th =
5 Ton-m .
Tul Bawah : 6-D25
Ruas Kiri=2 04 MPa Ruas Kanan
:
3 , 42 MPa
.. <
.
·
Vu =
35 Ton Tul Lengkang : 2010-100
sehingga penampang culap untuk menahan
6
.
.
Pcp = 2 (b + h) =
2 (400 + 600) =
2000 mm
Xo = -
2x - = - -
=
mm Tu
"2$A0 fy
·
·
Yo :
h -
2C -
&S =
600 -
2140) -
10 =
510 mm .
.
cott .
.
cot o
Aon Xo Yo =
310 510 150100 mm2 52 ,50 106 mm2
· = :
. .
.
= = 0 ,489 mm
·
Au =
, 85 Aon
0 :
134385 mm2 .
2 134385 400(1) .
= =
·
Cek
.
3
= 1 , 26 mm2/mm
Tcr =
+i 30.(240 0 .
·
Aut At
=
1 , 26 + 2(0, 489) = 2 , 24
mm2
mm
2000 S
hitung
= 52 , 50 .
10 Nmm Art At 0 , 062 fcb 0 , 062 .
30 .
400
· I =
① Tor , 75
0 . 52 , 58 = 0 . 34 mm2/mm
= =
9 06 , kN-m
↑ 4 Art At 400
Tu - 5 Ton-m s min , 2
= 0 . 33
. ·
=0 1 33
40
= 0, 33
mm
[2 33)
= 50kN-m Ar+ At
max 24 : 0 , 34 ; 0 ,
perlu
·
= ,
· . 2 = 157 ,
kaki
sehingga kapasitas hanus diperbesar dengan
·
d =
h -
C -
ds -
db/z = 000 -
40 -
10 -
25/2 =
537 5 mm
, cara : 1. Perbesar diameter sengkang
.
2 Rapatkan spasi sengkang
·
vc =
! +c b . . d =
30 . 400 537 5 ·
, =
196 .
27 kN
.
3 Tambah sengkang. (Ck kaki
·
= ·
ty .
= .
,
Hidak)
1. Kumpulkan data-data yang kalian butuhkan. Khususnya kalau di sini yang perlu sedikit
lebih effort adalah data pembebanan.
Dimensi & Penulangan
Ln 6m
b 400 mm
h 600 mm
natas 3
Datas 25 mm
2
As, atas 1472.62 mm
nbawah 6
Dbawah 25 mm
As, bawah 2945.24 mm2
cc 40 mm
d 547.5 mm
d' 52.5 mm
Mutu Material
f'c 30 MPa
Ec 25743 MPa
Es 200000 MPa
fy 420 MPa
Pembebanan
wc 23.52 kN/m3
DL 5.6448 kN/m
1.2 ton/m
SiDL
11.772 kN/m
2 ton/m
LL
19.62 kN/m
qDL+LL 37.0368 kN/m
qDL 17.4168 kN/m
Pada soal ini, aku mengerjakan dengan asumsi bahwa kombinasi pembebanan yang
akan digunakan adalah beban layan (gaada faktor perbesaran beban).
2. Cari faktor konversi dari baja ke beton
𝐸𝑠
𝑛=
𝐸𝑐
200000
𝑛=
25743
𝑛 = 7,77
3. Cari sumbu netral dengan metode yang sama seperti tugas besar
Sumbu Netral Penampang Gross (Lap)
Komponen A (mm 2 ) y lokal (mm) A.y lokal (mm 3 )
Beton 240000 300 72000000
As, atas 9968.344 52.5 523338.0402
As, bawah 19936.69 547.5 10915336.27
Total 269905 - 83438674.31
ynetral, dari atas (mm) 309.1408635
Jangan lupa tentukan titik acuan kalian, boleh dari titik paling atas atau paling bawah.
Terus, kalian cari juga untuk tumpuan dan lapangan. Kita perlu cari dua-duanya untuk
nanti mencari Ieff.
4. Cari Igross. Harusnya tumpuan lapangan sama aja.
Inersia Penampang Gross (Lap)
Komponen A (mm 2 ) y lokal - y netral (mm) Ipenampang (mm4)
Beton 240000 -9.140863505 7220053293
As, atas 9968.344 -256.6408635 -
As, bawah 19936.69 238.3591365 -
4
Igross (mm ) 7220053293
6. Setelah kita tahu lokasi sumbu netral yang baru, kemudian kita akan menghitung Icrack
dari penampang yang sudah retak.
Inersia Penampang Retak (Lap)
2 4 2 4
Komponen A (mm ) y lokal - c retak (mm) Inersia (mm ) Ay (mm )
Beton 74481.44 93.10179769 215200329.9 645600990
As, atas 9968.344 133.7035954 - 178200604
As, bawah 22881.93 -361.2964046 - 2986894884
Total 215200329.9 3810696478
4
Icrack (mm ) 4025896808
Penurunan 44.24%
Melalui perhitungan di atas, terlihat bahwa Icrack pada penampang tumpuan mengalami
pengurangan sebesar >75% karena seluruh bagian beton mengalami tarik. Artinya
penampang beton tidak diperhitungkan lagi.
7. Setelah itu, kita akan mulai menghitung lendutan yang terjadi. Lendutan yang kita
butuhkan akan menggunakan rumus berikut:
1 𝑞𝑙 4
Δ= (𝑃𝑒𝑟𝑙𝑒𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑝𝑖𝑡 − 𝑗𝑒𝑝𝑖𝑡)
384 𝐸𝐼𝑒𝑓𝑓
Inersia penampang efektif kemudian dapat kita cari menggunakan rumus dua ujung
menerus:
𝐼𝑎𝑣𝑔 = 0,7𝐼𝑒,𝑚𝑖𝑑 + 0,15(𝐼𝑒,𝑢𝑗𝑢𝑛𝑔 + 𝐼𝑒,𝑢𝑗𝑢𝑛𝑔)
𝑀𝑐𝑟 3 𝑀𝑐𝑟 3
𝐼𝑒 = ( ) 𝐼𝑔 + (1 − ( ) ) 𝐼𝑐𝑟 ≤ 𝐼𝑔
𝑀𝑎 𝑀𝑎
Kemudian, nilai-nilai momen yang diperlukan dapat menggunakan rumus:
𝐼𝑔𝑟𝑜𝑠𝑠 × 𝑓𝑟
𝑀𝑐𝑟 =
ℎ/2
𝑓𝑟 = 0,62𝜆√𝑓𝑐′
1 2
𝑀𝑎,𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 = 𝑞𝑙
24
1 2
𝑀𝑎,𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = 𝑞𝑙
12
Kondisi Keretakan Penampang (Lap)
fr 3.39588 MPa
Mcr 81.72811 kN.m
Mu, service 55.5552 kN.m
4
Ie, avg (DL + LL) 11106009658 mm
Ie, avg (DL) 78116958648 mm4
Jangan lupa, kalian perlu mencari semua parameter tersebut untuk dua kombinasi
pembebanan ya:
• DL + LL (Service Load, termasuk SiDL)
• DL (Dead Load)
Mengapa harus mencari begitu? Karena nanti lendutan yang jenis long-term dihitung
berdasarkan lendutan yang diakibatkan oleh DL saja, bukan DL + LL.
1. Berikan dua alasan mengapa panjang penyaluran untuk tarik lebih panjang daripada panjang penyaluran untuk
tekan?
Jawab:
- A bar stressed in compression transfers some of its force to the concrete by bearing on the end of the bars.
- A bar stressed in tension transfers its tensile stress into concrete. As a result, the concrete is cracked and “in-
and-out” bond stresses exist. In such a case there are localized bond stresses which are several times greater
the average bond stress. A bar stressed in compression transfers its stress into concrete which is compressed
and hence un-cracked. There are no “in-and-out” bond stresses in such a case.
Translate:
- Sebuah batang yang mengalami tekanan tekan memindahkan sebagian gayanya ke beton melalui bantalan di
ujung jeruji.
- Sebuah batang yang diberi tegangan tarik memindahkan tegangan tariknya ke beton. Akibatnya beton retak
dan terjadi tegangan ikatan “masuk-keluar”. Dalam kasus seperti itu, ada tekanan ikatan terlokalisasi yang
beberapa kali lebih besar dari tekanan ikatan rata-rata. Sebuah bar ditekankan dalam kompresi mentransfer
tegangannya ke beton yang dikompresi dan karenanya tidak retak. Tidak ada tekanan ikatan “masuk dan
keluar” dalam kasus seperti ini.
2. Mengapa jarak antar tulangan dan selimut baja mempengaruhi tegangan lekatan?
Jawab:
The lugs on deformed bars transfer forces to the concrete. The radial component of these lug forces causes a
tensile stress in an annulus of concrete around the bar. The thicker the wall of this annulus the lower the tensile
stresses are in it. The thickness of the wall is governed by the minimum distance to the surface of the concrete or to
the next bar. Thus, the larger the cover and bar spacing are, the larger the bond stresses can be developed.
Translate:
Lug pada batang yang mengalami deformasi memindahkan gaya ke beton. Komponen radialnya gaya lug
menyebabkan tegangan tarik pada anulus beton di sekitar batang. Semakin tebal dinding annulus ini, semakin
rendah tegangan tarik yang ada di dalamnya. Tebal dindingnya adalah diatur oleh jarak minimum ke permukaan
beton atau ke batang berikutnya. Dengan demikian, semakin besar jarak penutup dan batang, semakin besar
tegangan ikatan yang dapat dihasilkan.
3. Mengapa SNI mengharuskan bahwa baja melebihi sepanjang dari titi cut-off lentur?
Jawab:
Inclined cracking due to shear increases the tension in the flexural reinforcement at all points except the points of
maximum moments. As a result, the tensile force in the flexural reinforcement computed from the moment at a
given section actually exists at a point about 0.75d to d from that point in the direction of decreasing moment.
Translate:
Retak miring akibat geser meningkatkan tegangan pada tulangan lentur sama sekali titik kecuali titik momen
maksimum. Akibatnya, gaya tarik di tulangan lentur dihitung dari momen pada suatu penampang tertentu yang
benar-benar ada pada suatu titik sekitar 0,75d sampai d dari titik tersebut dalam arah penurunan momen.
4. Mengapa SNI mendefinisikan titik sepanjang bentang Dimana tulangan yang sejajar berhenti sebagai segmen kritis
dari penyaluran tulangan pada member lentur?
Jawab:
If flexural reinforcement is cut off according to the moment diagram, the flexural cut-off point is the point in the
beam where the remaining steel not cut off is just adequate for the moment if stressed to 𝑓 . Due to the effect of
shear, this point actually occurs about d farther away and hence this point is critical.
Translate:
Jika tulangan lentur dipotong sesuai diagram momen, maka terjadi pemutusan lentur
titik adalah titik pada balok dimana sisa baja yang tidak terpotong cukup untuk menahan beban tersebut momen
jika ditekankan ke 𝑓 . Akibat pengaruh geser, titik ini sebenarnya terletak sekitar d lebih jauh dan oleh karena itu
titik ini sangat penting.
5. Mengapa SNI mengharuskan tambahan sengkang pada titik cut-off di beberapa kasus?
Jawab:
A severe discontinuity in longitudinal bar stresses exists in the region of a cut-off point in a zone of flexural
tension. This causes a reduction in the inclined cracking load in that region. To compensate, more stirrups are
required.
Translate:
Diskontinuitas yang parah pada tegangan batang memanjang terjadi pada daerah titik potong zona tegangan lentur.
Hal ini menyebabkan berkurangnya beban retak miring di dalamnya wilayah. Untuk mengimbanginya, diperlukan
lebih banyak sanggurdi.