0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan44 halaman

Evaluasi Kinerja Koridor 13 Transjakarta

Dokumen tersebut membahas evaluasi kinerja operasional Koridor 13 Transjakarta dengan melihat indikator kinerja seperti load factor, frekuensi kendaraan, dan headway sesuai standar ITDP dan peraturan pemerintah. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas layanan transportasi umum koridor tersebut.

Diunggah oleh

Mhmd Snjy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan44 halaman

Evaluasi Kinerja Koridor 13 Transjakarta

Dokumen tersebut membahas evaluasi kinerja operasional Koridor 13 Transjakarta dengan melihat indikator kinerja seperti load factor, frekuensi kendaraan, dan headway sesuai standar ITDP dan peraturan pemerintah. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas layanan transportasi umum koridor tersebut.

Diunggah oleh

Mhmd Snjy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Evaluasi Kinerja Transjakarta Koridor 13

(Tendean – CBD Ciledug)

Fagri Hafizh (M1C119039)

Pembimbing 1: Ir. Ade Nurdin, S.T., M.T. Penguji 1: Dr. Ir. Fetty Febriasti Bahar, S.T., M.T.
Pembimbing 2: Ir. Dyah Kumalasari, S.T., M.T. Penguji 2: Ir. Dyah Kumalasari, S.T., M.T.
Penguji 3: Nurza Purwa Abiyoga, S.T., M.T.
Materi

01 Pendahuluan

02 Tinjauan Pustaka

03 Metodologi Penelitian
01
Pendahuluan
Latar Belakang
Jakarta sebagai kota metropolitan dengan tingkat mobilitas
tinggi, menghadapi masalah kemacetan yang kronis. Banyak
penduduk yang terlambat datang atau pulang dari tempat kerja
mereka karena terjebak dalam kemacetan.

Dengan populasi sekitar 10.679.951 orang dan luas wilayah


sekitar 661.52 km2, DKI Jakarta, sebagai Ibukota Indonesia,
mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ini
berdampak pada daerah sekitarnya dan mendorong pola
transportasi pusat kota Jakarta yang berbeda.
Latar Belakang
Transportasi publik, seperti Bus Rapid Transit (BRT)
Transjakarta, memainkan peran penting dalam mendukung
mobilitas penduduk di perkotaan. Transjakarta memiliki
beberapa koridor, salah satunya adalah Koridor 13. Koridor
dengan penumpang 984.226 orang per September 2023
(Transjakarta, 2023) ini menonjol karena memiliki jalur terpisah
dengan jalan umum dan melewati jaringan jalan strategis serta
melayani kawasan-kawasan dengan tingkat kepadatan
penduduk dan aktivitas ekonomi yang tinggi.
Latar Belakang

Transjakarta Koridor 13 adalah koridor terbaru yang dibangun


elevated yang beroperasi dari halte Tendean hingga halte CBD
Ciledug, serta koridor-koridor feeder lainnya (13B, 13C, 13D,
L13E, 13F, 6V, 7B) adalah salah satu koridor yang melayani
penduduk Jakarta.

Koridor ini melintasi beberapa jalan utama dan terintegrasi


dengan KRL Green Line dan MRT Jakarta North-South Line.
Latar Belakang
Pada saat ini, Transjakarta, termasuk Koridor 13, menghadapi
beberapa tantangan. Terdapat beberapa parameter kinerja
pelayanan yang belum optimal dan belum efektif, seperti load
factor di jam sibuk, frekuensi kendaraan, dan headway. Oleh
karena itu, Evaluasi Kinerja Operasional Transjakarta Koridor
13 menjadi penting.

Evaluasi ini melibatkan aspek-aspek seperti keandalan waktu,


kapasitas layanan, dan kecepatan rata-rata, dengan tujuan
mendapatkan wawasan mendalam tentang kinerja operasional
harian koridor ini.
Rumusan Masalah
Apakah Koridor 13 Transjakarta telah memenuhi indikator
kinerja yang ditetapkan Ketetapan Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat Nomor: SK.687/AJ.206/DRJD/2002 dan
pada BRT Standard ITDP 2016?

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Koridor 13 Transjakarta telah memenuhi
indikator kinerja yang ditetapkan pada Ketetapan Direktorat
Jenderal Perhubungan Darat Nomor:
SK.687/AJ.206/DRJD/2002 dan pada BRT Standard ITDP 2016
Manfaat Penelitian

1. Peningkatan Layanan Publik:


Dapat meningkatkan kualitas layanan transportasi publik,
khususnya pada Koridor 13.

2. Pengembangan Kebijakan Transportasi:


Dapat memberikan wawasan tentang bagaimana Kebijakan
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan BRT Standar ITDP
dapat diterapkan dalam praktik.
Batasan Masalah

1. Indikator Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan


Darat Nomor: SK.687/AJ.206/DRJD/2002 yang digunakan
dalam penelitian ini dibatasi pada bab 3 (PENENTUAN
JUMLAH ARMADA ANGKUTAN PENUMPANG UMUM) saja,
tidak membahas bab-bab lainnya pada peraturan ini.

2. Indikator BRT Standard 2016 ITDP yang tidak digunakan


pada penelitian ini, yaitu:
a. Meminimalisasi Emisi Armada Bus
b. Kualitas Perkerasan Jalan
02
Tinjauan Pustaka
Angkutan Umum
Angkutan Umum adalah angkutan
penumpang yang dilakukan dengan
sistem sewa atau bayar.

Termasuk dalam pengertian angkutan


umum penumpang adalah angkutan
kota (bus, minibus, dsb.), kereta api,
angkutan air dan angkutan udara
(Warpani, 2002).
Bus Rapid Transit (BRT)

Bus Rapid Transit (BRT) adalah sistem


transit berbasis bus berkualitas tinggi yang
memberikan layanan cepat, nyaman, dan
hemat biaya dengan kapasitas setara
metro.
Bus Rapid Transit (BRT)
BRT dirancang untuk memiliki
kapasitas, keandalan, dan fitur kualitas
lainnya yang jauh lebih baik daripada
sistem bus konvensional.

Biasanya, sistem BRT mencakup jalan


raya yang dikhususkan untuk bus dan
memberikan prioritas kepada bus di
persimpangan di mana bus mungkin
berinteraksi dengan lalu lintas lainnya.
The BRT Basics - ITDP

Ada lima fitur penting yang mendefinisikan


BRT. Fitur-fitur ini paling signifikan
menghasilkan perjalanan yang lebih cepat
bagi penumpang dan membuat bepergian
dengan transit lebih andal dan lebih
nyaman.
Dedicated Right-of-Way - ITDP

Jalur khusus bus membuat perjalanan lebih


cepat dan memastikan bahwa bus tidak
pernah tertunda karena kemacetan lalu
lintas campuran.
Dedicated Right-of-Way - ITDP
Tabel 2.1 Jalur Khusus Bus
Tipe Pengkhususan Jalur Bus Poin Bobot Nilai
Jalur khusus terpisah secara fisik 8
Jalur khusus yang dibedakan dengan warna, 6
tanpa pemisah fisik % koridor dengan
Jalur khusus yang dipisahkan dengan 4 pengkhususan jalur bus
marka jalan
Tidak ada jalur khusus 0

(Sumber: ITDP Standard 2016)


Busway Alignment - ITDP

Pusat jalan raya atau koridor khusus


bus menjauhkan bus dari tepi jalan yang
sibuk di mana mobil parkir, berdiri, dan
berbelok.
Busway Alignment - ITDP
Off-board Fare Collection - ITDP

Pembayaran tarif di stasiun, bukan di bus,


menghilangkan penundaan yang
disebabkan oleh penumpang menunggu
untuk membayar di dalam.
Off-board Fare Collection - ITDP
Tabel 2.3 Pemungutan Tarif off-board
Sistem Pemungutan Tarif off-Board Poin Bobot Nilai
Barrier-controlled 8 % stasiun dalam koridor
Proof-of-payment 7 % rute yang
menggunakan koridor
Validasi tarif onboard pada semua pintu 4 % rute yang
menggunakan koridor

(Sumber: ITDP Standard 2016)


Intersection Treatments - ITDP

Melarang belokan untuk lalu lintas


melintasi jalur bus mengurangi
penundaan yang disebabkan pada bus
oleh lalu lintas belok.
Intersection Treatments - ITDP

Tabel 2.4 Pengaturan Simpang


Pengaturan Simpang Poin Bobot Nilai
Larangan berbelok menyebrangi jalur bus 7 % belokan yang
menyebrangi jalur bus
Sinyal prioritas pada persimpangan 2 % persimpangan pada
koridor

(Sumber: ITDP Standard 2016)


Platform-level Boarding - ITDP

Stasiun harus sejajar dengan bus untuk


naik turun cepat dan mudah. Ini juga
membuatnya sepenuhnya dapat
memudahkan aksesibilitas kepada
penumpang yang memiliki keadaan khusus.
Platform-level Boarding - ITDP
Tabel 2.5 Platform-Level Boarding
Platform-level boarding Poin Bobot Nilai
Tinggi lantai bus setara dengan lantai 7 % bus yang beroperasi
stasiun dengan celah vertikal 4cm atau dalam koridor
kurang
Stasiun pada koridor memiliki fitur untuk 6 % stasiun pada koridor
mengurangi celah horizontal

(Sumber: ITDP Standard 2016)


Transjakarta
Transjakarta merupakan moda
transportasi berbentuk BRT (Bus Rapid
Transit) yang ada di Jakarta. Pemerintah
DKI Jakarta yang ditetapkan melalui
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta
Nomor 110 Tahun 2003 adalah
mengoperasikan Bus Transjakarta pada
tanggal 15 Januari 2004).
Transjakarta
Tahap pertama koridor yang dioperasikan
adalah koridor 1, jalur yang menghubungkan
Blok M – Kota dengan panjang rute 12,9 km, dan
jumlah halte 20. Saat ini, Transjakarta memiliki
252 halte di sepanjang 14 koridor dan panjang
rute 224,7 km.

Jalur khusus BRT yang dibangun, adalah jalur


yang tidak boleh dilalui kendaraan lainnya
bertujuan untuk mendukung kecepatan serta
keteraturan perjalanan bus PT. Transportasi
Jakarta (Transjakarta, 2022).
Jalan Layang

Jalan Layang adalah alternatif pada


lingkungan perkotaan yang padat dengan
banyak persimpangan jalan.
Kinerja
Pada dasarnya pengguna kendaraan
angkutan umum menghendaki adanya
aspek operasional dan layanan yang baik.

Misalnya, frekuensi bus (berapa sering


bus tiba di setiap stasiun), kapasitas
penumpang (berapa banyak penumpang
yang dapat diangkut oleh bus), sesuaikah
dengan standar yang berlaku.
Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat SK.687/AJ.206/DRJD/2002
Bab 3 Penentuan Jumlah Armada Angkutan Penumpang Umum

1. Faktor Muat
Perbandingan antara kapasitas terjual dan
kapasitas tersedia untuk satu perjalanan
yang biasa dinyatakan dalam persen (%).

2. Waktu Antara
Waktu antara kedatangan atau
keberangkatan dari kendaraan pertama
dan kedatangan atau keberangkatan dari
kendaraan berikutnya yang diukur pada
suatu titik tertentu
Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat SK.687/AJ.206/DRJD/2002
Bab 3 Penentuan Jumlah Armada Angkutan Penumpang Umum

3. Waktu Sirkulasi
Pengaturan kecepatan kendaraan rata-
rata 20 km per jam dengan deviasi waktu
sebesar 5% dari waktu perjalanan.

4. Jumlah Armada
Perhitungan untuk menentukan kebutuhan
armada suatu trayek per waktu sirkulasi
Bus Rapid Transit (BRT) Standard 2016 Institute of
Transportation and Development Policy (ITDP)

BRT Standard merupakan alat bantu


evaluasi koridor BRT berdasarkan
implementasi terbaik (best practices)
dengan standar internasional.

BRT Standard digunakan untuk


menetapkan definisi yang konsisten
mengenai BRT serta untuk memastikan
koridor-koridor BRT dapat memberikan
kepuasan bagi pengguna, mempunyai
manfaat ekonomi, serta berdampak positif
pada lingkungan sekitarnya.
Bus Rapid Transit (BRT) Standard 2016 Institute of
Transportation and Development Policy (ITDP)

>85% 70-84,9% 55-69.9%


Studi Pendahuluan
● Irwansyah (2016) Evaluasi Kinerja ● Siahaan dan Alvinsyah (2019)
Transjakarta Koridor 3 (Kalideres Evaluasi Kinerja dan Rute
– Pasar Baru) Operasional Trayek Langsung
Transjakarta (Studi Kasus:
● Vidhia dan Hendra (2021) Evaluasi
Transjakarta Rute 6H)
Kinerja Operasional Pelayanan
Bus Rapid Transit (Koridor Blok M
● Alfin Rohmana (2022) Evaluasi
– Kota, DKI Jakarta) Kinerja Operasional Transjakarta
● Putra dan Tangkudung (2018) Koridor 3 Rute Kalideres – Pasar
Baru
Evaluasi Kinerja Layanan
Angkutan Pengumpan Bus
Transjakarta Rute Lebak Bulus -
Senen
03
Metodologi
Penelitian
Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di sepanjang koridor 13 Transjakarta dan koridor-


koridor feeder 13 Transjakarta. Koridor ini menggunakan grade-separation yaitu
Elevated road pada ruas jalan Kapten Tendean, jalan R.W. Monginsidi, jalan
Trunojoyo, jalan Kyai Maja, jalan Kebayoran Baru, jalan Ciledug Raya, jalan HOS
Cokroaminoto dengan panjang 14,7 km
JARAK
NO STASIUN BRT TRANSFER LOKASI
ANTARA STASIUN TOTAL

1 TENDEAN -> 0 0 TJ 9 (Tegal Parang/diluar area bayar) Mampang Prapatan, Jakarta Selatan

2 RAWA BARAT 1,7 1,7 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

3 TIRTAYASA 0,9 2,6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

TJ 1 (Kejaksaan Agung ∙ ASEAN)


4 CSW 1 3,6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
MRT 1 (ASEAN)
5 MAYESTIK 1 4,6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

TJ 8 (Pasar Kebayoran Lama)


6 VELBAK 0,7 5,3 Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan
KRL Rangkas Line (Kebayoran)
7 KEBAYORAN LAMA 0,9 6,2 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

8 SESKOAL 0,8 7 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

9 CIPULIR 0,7 7,7 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

10 SWADARMA 0,6 8,3 Pesanggrahan, Jakarta Selatan

11 JORR 0,7 9 Pesanggrahan, Jakarta Selatan

12 ADAM MALIK 0,8 9,8 Pesanggrahan, Jakarta Selatan

13 PURI BETA 2 -> 2,9 12,7 Larangan, Kota Tangerang

14 PURI BETA 1 <- 2,2 0,4 12,5 13,1 Larangan, Kota Tangerang

15 CBD CILEDUG 2 14,7 Karang Tengah, Kota Tangerang


Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada peak hours yaitu


pada weekday adalah hari Selasa dan
Jumat pada pukul 08.00-10.00 dan 16.00-
18.00, dan pada weekend adalah hari
Sabtu pada pukul 10.00-12.00 dan 15.00-
17.00.
Variabel Penelitian
1. Jumlah Penumpang 11. Jalur Khusus Bus
2. Waktu Kedatangan Bis 12. Penempatan Jalur Bus
3. Waktu Perjalanan Bis 13. Pemungutan Tarif Off-Board
4. Waktu Henti Bis 14. Pengaturan Simpang
5. Waktu Periode Survei 15. Platform-level Boarding
6. Kapasitas Angkutan 16. Jalur Menyusul pada Stasiun
7. Jumlah Kendaraan 17. Jarak Stasiun dari Persimpangan
8. Deviasi Waktu Bis 18. Stasiun Median
9. Faktor Ketersediaan Bis 19. Rute Bertumpuk
10. Jumlah Kebutuhan Armada 20. Layanan Ekspres, Limited-stop, dan
Layanan Lokal
Variabel Penelitian
21. Pusat Kendali 31. Docking Bays and Sub-stops
22. Berlokasi di 10 Koridor Terbaik 32. Pintu Geser pada Stasiun
23. Profil Permintaan 33. Akses Umum
24. Jam Operasional 34. Integrasi dengan Moda
25. Jaringan Multi Koridor Transportasi Umum Lain
26. Branding 35. Akses dan Keselamatan Pejalan Kaki
27. Informasi Penumpang 36. Keamanan Parkir Sepeda
28. Jarak Antar Stasiun 37. Jalur Sepeda
29. Stasiun Aman dan Nyaman 38. Integrasi Bike-sharing
30. Jumlah Pintu pada Bus
Teknik Pengumpulan Data
01 Survei Pendahuluan

02 Studi Dokumen
Metode Penelitian

1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pengumpulan Data
a. Data terkait Keputusan Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat SK.687/AJ.206/DRJD/2002
Bab 3
b. Data terkait BRT Standard 2016 ITDP
3. Tahap Input Data
Terima Kasih!

Anda mungkin juga menyukai