0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan20 halaman

Penyuluhan Latihan ROM untuk Keluarga Stroke

Setelah di lakukan penyuluhan diharapkan keluarga binaan dapat memahami dan melakukan latihan ROM untuk meningkatkan rentang gerak sendi pasien stroke. Penyuluhan ini akan menjelaskan pengertian, manfaat, dan langkah latihan ROM selama 30 menit.

Diunggah oleh

raden
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan20 halaman

Penyuluhan Latihan ROM untuk Keluarga Stroke

Setelah di lakukan penyuluhan diharapkan keluarga binaan dapat memahami dan melakukan latihan ROM untuk meningkatkan rentang gerak sendi pasien stroke. Penyuluhan ini akan menjelaskan pengertian, manfaat, dan langkah latihan ROM selama 30 menit.

Diunggah oleh

raden
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Lampiran 3

SATUAN ACARA PENYULUHAN


RANGE OF MOTION (ROM) PADA KELUARGA BINAAN DI
WILAYAH KELURAHAN SUKOLILO BARU SURABAYA

Disusun Oleh :
Raden Mochammad A (1930070)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TA. 2019/2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN
RANGE OF MOTION (ROM)

Pokok Bahasan : Range Of Motion (ROM)


Sub Pokok Bahasan : Latihan rentang gerak
Sasaran : Klien dan keluarga
Waktu : 30 Menit
Hari, Tanggal : Rabu, 15 Juli 2020
Tempat : Rumah warga binaan
I. Latar belakang
Stroke merupakan penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf lokal
atau global, munculnya mendadak, progresif, dan cepat. Gangguan fungsi syaraf
pada stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik.
Gangguan syaraf tersebut menimbulkan gejala antara lain : kelumpuhan wajah
atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas (pelo), mungkin
perubahan kesadaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain (Riskesdas, 2013).
Pasien stroke akan mengalami gangguan-gangguan yang bersifat fungsional.
Gangguan sensoris dan motorik post stroke mengakibatkan gengguan
keseimbangan termasuk kelemahan otot, penurunan fleksibilitas jaringan lunak,
serta gangguan kontrol motorik dan sensorik. Fungsi yang hilang akibat gangguan
kontrol motorik pada pasien stroke mengakibatkan hilangnya koordinasi,
hilangnya kemampuan keseimbangan tubuh dan postur (kemampuan untuk
mempertahankan posisi tertentu) (Irfan, 2010).
Paralisis (kelumpuhan )merupakan salah satu gejala klinis yang ditimbulkan
oleh penyakit stroke (Junaidi, 2006). Paralisis disebabkan karena hilangnya suplai
saraf ke otot sehingga otak tidak mampu untuk menggerakkan ekstremitas,
hilangnya suplai saraf ke otot akan menyebabkan otot tidak lagi menerima sinyal
kontraksi yang dibutuhkan untuk mempertahankan ukuran otot yang normal
sehingga terjadi atrofi. Serat otot akan dirusak dan digantikan oleh jaringan
fibrosa dan jaringan lemak. Jaringan fibrosa yang menggantikan serat otot selama
strofi akibat denervasi memiliki kecenderungan untuk terus memendek selama
berbulan-bulan, yang disebut kontraktur. Atrofi otot menyebabkan penurunan
aktivitas pada sendi sehingga sendi akan mengalami kehilangan cairan kinovial
dan menyebabkan kekakuan sendi. Kekakuan sendi dan kecenderungan otot untuk
memendek menyebabkan penurunan rentang gerak sendi (Guyton, 2007).
Menurut WHO (2014) Stroke merupakan adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-
gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian
tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Menurut American Heart
Association (AHA, 2015) angka kejadian stroke pada laki-laki usia 20-39 tahun
sebanyak 0,2% dan perempuan sebanyak 0,7%. Usia 40-59 tahun angka terjadinya
stroke pada perempuan sebanyak 2,2% dan laki-laki 1,9%. Pada usia 60-79 tahun
yang menderita stroke pada peremuan 5,2 % dan laki-laki sekitar 6,1%. Prevalensi
stroke pada usia lanjut semakin meningkaat dan bertambah setiap tahunnya dapat
dilihat dari usia seseorang 80 tahun keatas dengan angka kejadian stroke pada
laki-laki sebanyak 15,8% dan pada perempuan sebanyak 14%, Prevalensi angka
kematian yang terjadi di Amerika disebabkan oleh stroke dengan populasi
100.000 pada perempuan sebanyak 27,9% dan pada laki-laki sebanyak 25,8%
sedangkan di Negara Asia angka kematian yang diakibatkan oleh stroke pada
perempuan sebanyak 30% dan pada laki-laki 33,5% per 100.000 populasi (AHA,
2015). Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI tahun 2014 jumlah
penderita stroke di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
diperkirakan sebanyak 1.236.825 orang (7,0%), penderita penyakit stroke di
provinsi Jawa Timur sebanyak 190.449 orang (6,6%) (Ismatika, 2017) dalam
(Rizki et al., 2019). Penduduk yang mengalami kelemahan ekstremitas akibat
stroke sebanyak 4,31% (Bistara, 2019).
Pasien stroke yang mengalami kelemahan pada satu sisi anggota tubuh
disebabkan oleh karena penurunan tonus otot, sehingga tidak mampu
menggerakkan tubuhnya. Imobilisasi yang tidak mendapatkan penanganan yang
tepat, akan menimbulkan komplikasi berupa abnormalitas tonus, orthostatic
hypotension, deep vein thrombosis dan kontraktur (Garrison, 2003). Hasil analisis
menunjukkan ROM aktif maupun pasif yang dilakukan pada pasien stroke dapat
meningkatkan rentang sendi, dimana reaksi kontraksi dan relaksasi selama
gerakan ROM aktif maupun pasif yang dilakukan pada pasien stroke terjadi
penguluran serabut otot dan peningkatan aliran darah pada daerah sendi yang
mengalami paralisis sehingga terjadi peningkatan penambahan rentang sendi
abduksi-adduksi pada ekstremitas atas dan bawah hanya pada sendi-sendi besar
(Marsinova & Warsito, 2016). Maka dari itu, latihan ROM diperlukan untuk
meningkatkan rentang gerak sendi pada pasien stroke yang mengalami paralisis.

II. Tujuan
a. Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah di lakukan penyuluhan diharapkan keluarga binaan dapat
memahami dan bisa mempergerakan kembali latihan ROM
b. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah diberikan penyuluhan selama 7x30 menit, diharapkan keluarga
dapat :
1) Menjelaskan pengertian latihan gerak ROM
2) Menyebabkan manfaat latihan gerak ROM
3) Mendemonstrasikan kembali langkah-langkah latihan gerak
ROM

III. Sasaran
Keluarga binaan

IV. Metode Penyuluhan


a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya jawab

V. Media
a. Leaflet

VI. Materi Penyuluhan


(Terlampir)
VII. Kegiatan Penyuluhan
No Tahap Waktu Kegiatan
1. Pendahuluan 5 menit 1. Memberikan salam

2. Memperkenalkan diri

3. Menyampaikan pokok bahasan

4. Menyampaikan tujuan
2. Isi 10 menit Penyampaian materi tentang :

1. Menjelaskan pengertian latihan


gerak ROM
2. Menyebabkan manfaat latihan
gerak ROM
3. Mendemonstrasikan kembali
langkah-langkah latihan gerak
ROM

3. Penutup 15 menit 1. Diskusi

2. Kesimpulan

3. Evaluasi

4. Salam penutup

VIII. Setting Tempat

Keterangan :
: Peserta

: Penyaji

IX. Pengorganisasian
Penyaji : Raden Mochammad Arifin

X. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. SAP sudah dibuat beberapa hari sebelum dilaksanakan kegiatan
b. Media dan alat memadai
c. Tempat sesuai dengan kegiatan
d. Pembagian peran sudah diberikan
e. Perencanaan pendidikan kesehatan yang sesuai dan tepat
f. Mahasiswa, dosen pendamping dan peserta siap
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan pendidikan kesehatan dilakukan sesuai dengan waktu
yang direncanakan
b. Persiapan pre planning kegiatan dilakukan 1 hari sebelum
kegiatan
c. Persiapan pengorganisasian tugas dilakukan 1 hari sebelum
kegiatan
d. Persiapan pada keluarga pasien dilakukan 30 menit sebelum
kegiatan dimulai
e. Peserta mengikuti kegiatan penyuluhan dengan aktif dan
kooperatif
f. Peserta menanyakan hal-hal yang kurang jelas
g. Peserta menjawab pertanyaan yang diajukan

3. Evaluasi Hasil
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan peserta
dapat:
a. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat selama kegiatan
berlangsung
b. Peserta mampu mengikuti kegiatan dengan kooperatif
c. Peserta mampu menjawab dan menjelaskan tentang ROM
d. Peserta mengikuti kegiatan sampai kegiatan berakhir

MATERI PENYULUHAN

1. Definisi ROM
Latihan gerak aktif dan pasif atau Range Of Motion (ROM) adalah tindakan
atau latihan otot atau persendian yang diberikan kepada pasien yang mobilitas
sendinya terbatas karena penyakit, diabilitas, atau trauma. Pergerakan ROM
meliputi :
a. Aktif
Yaitu latihan pada tulang dan sendi yang dapat dilakukan sendiri tanpa
bantuan perawat atau keluarga
b. Pasif
Mobilisasi pasif adalah latihan yang diberikan pada klien yang mengalami
kelemahan otot lengan maupun otot kaki berupa latihan pada tulang dan sendi
dimana klien tidak dapat melakukannya sendiri, sehingga klien memerlukan
bantuan perawat atau keluarga. Mobilisasi pasif ini sebaiknya dilakukan sejak
hari pertama klien tidak diperkenankan meninggalkan tempat tidur atau klien
yang jarang bergerak sehingga terjadi kekakuan pada otot, maka dalam hal ini
dilakukan mobilisasi pasif.
2. Manfaat ROM
a. Memelihara kelenturan dari tulang dan sendi.
b. Menjaga agar tidak terjadi kerapuhan tulang.
c. Meningkatkan kekuatan otot.
d. Menjaga agar peredaran darah lancar.
3. Tujuan ROM
Untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan pada otot yang
dapat dilakukan aktif maupun pasif tergantung dengan keadaan pasien.
4. Prinsip Dasar Latihan ROM (Range Of Motion)
Prinsip dasar dalam pelaksanaan latihan ROM antara lain:

a. ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari.

b. ROM dilakukan perlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan

pasien.

c. Dalam merencanakan program latihan ROM, perlu diperhatikan umur

pasien, diagnosis, tanda vital, dan lamanya tirah baring.

d. ROM sering diprogramkan oleh dokter dan dikerjakan oleh ahli

fisioterapi.

e. Bagian-bagian tubuh yang dapat dilakukan latihan ROM adalah leher,

jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.

f. ROM dapat dilakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-

bagian yang dicurigai mengalami proses penyakit.

g. Melakukan ROM harus sesuai waktunya, misalnya setelah mandi atau

perawatan rutin telah dilakukan.

5. Efektifitas Latihan ROM (Range Of Motion)

Pergerakan dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan

nyeri. Untuk frekuensi setiap gerakan harus diulang 8 kali setiap gerakannya

minimal 1 kali sehari sesudah 24 jam pertama setelah stroke kecuali sesuai

kontraindikasi yang telah ditentukan.

6. Gerakan Latihan ROM (Range Of Motion)

Latihan ROM memiliki beberapa variasi gerakan. Macam-macam gerakan

yang digunakan dalam latihan ROM menurut antara lain:

a. Fleksi, yaitu gerakan menekuk persendian.

b. Ekstensi, yaitu gerakan meluruskan persendian.


c. Abduksi, yaitu gerakan satu anggota tubuh ke arah mendekati aksis tubuh.

d. Adduksi, yaitu gerakan satu anggota tubuh ke arah menjauhi aksis tubuh.

e. Rotasi, yaitu gerakan memutar atau menggerakkan satu bagian melingkari

aksis tubuh.

f. Pronasi, yaitu gerakan memutar ke bawah.

g. Supinasi, yaitu gerakan memutar ke atas.

h. Inversi, yaitu gerakan ke dalam.

i. Eversi, yaitu gerakan ke luar.

7. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pergerakan ROM


a. Perhatikan keadaan umum penderita, apakah merasa kelelahan, pusing atau
kecapekan
b. Pastikan pakaian dalam keadaan longgar
c. Jangan lakukan pada penderita patah tulang
d. Jangan lakukan latihan fisik segera setelah penderita makan
e. Gunakan gerakan badan yang benar untuk menghindari ketegaangan/luka
pada penderita
f. Gunakan kekuatan dengan pegaangan yang nyaman ketika melakukan latihan
g. Gerakan bagian tubuh dengan lancar, pelan dan berirama
h. Hindari gerakan yang terlalu sulit
i. Jika kejang pada saat latihan, hentikan
j. Jika terjadi kekakuan tekan pada daerah yang kaku, teruskan latihan dengan
perlahan
8. Gerakan – Gerakan ROM
a. Fleksi dan Ekstensi pergelangan tangan
Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Atur posisi lengan pasien dnegan menjauhi sisi tubuh dan siku
menekuk dengan lengan
3) . Pegang tangan pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain
memegang pergelangan tangan pasien
4) . Tekuk tangan pasien ke depan sejauh munhkin
5) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 1. Latihan fleksi dan ekstensi pergelangan tangan

b. Fleksi dan Ekstennsi Siku


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dengan telapak
mengarah ke tubuhnya
3) . Letakkan tangan diatas siku pasien dan pegang tangannya mendekat
bahu
4) . Lakukan dan kembalikan ke posisi sebelumnya
5) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 2. Latihan fleksi dan ekstensi siku


c. Pronasi dan Supinasi Lengan Bawah
Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Atur posisi lengan bawah dengan menjauhi tubuh tubuh dan siku
menekuk
3) . Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan pasien dan pegang
tangan pasien dengan tangan lainnya
4) . Putar lengan bawah pasien sehingga telapaknya menjauhinya
5) . Kembalikan keposisi semula
6) . Putar lengan bawah pasien sehingga telapak tanganna menghadap ke
arahnya
7) . kembalikan keposisi semula
8) . Catat perubahan yang terjadi.

Gambar 3. Latihan Pronasi dan Supinasi Lengan Bawah

d. Pronasi Fleksi Bahu


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Atur posisi tangan pasien disisi tubuhnya
3) . Letakkan satu tangan perawat diatas siku pasien dan pegang tangan
pasien dengan tangan lainnya.
4) . Angkat lengan pasien pada posisi semula
5) . Catat perubahan yang terjadi
Gambar
e. Abduksi dan 4. Latihan
Adduksi Bahu pronasi fleksi bahu
Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Atur posisi lengan pasien di samping badannya
3) . letakkan satu tangan perawat diatas siku pasien dan pegang tagan
pasien dengan tangan lainnya
4) . Gerakan lengan pasien menjauh dari tubuhnya kearah perawat
(Abduksi)
5) . Gerakan lengan pasien mendekati tubuhnya (Adduksi)
6) . Kembalikan ke posisi semula
7) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 5. Latihan abduksi dan adduksi Bahu

f. Rotasi bahu
Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Atur posisi lengan pasien menjauhi tbuh dengan siku menekuk
3) . Letakkan satu tangan perawat di lengan atas pasien dekat siku dan
pegang tangan pasien dengan tangan lainnya
4) . Gerakkan lengan bawah ke bawah sampai menyentuh tempat tidur,
telapak tangan menghadap ke bawah
5) . Kembalikan posisi lengan keposisi semula
6) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 6. Latihan rotasi bahu

g. Fleksi dan Ekstensi Jari-Jari


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Pegang jari-jari kaki pasien dngan satu tangan, sementara tangan lain
memegang kaki
3) . Bengkokan (Tekuk) jari-jari kaki kebawah
4) . Luruskan jari-jari kemudian dorong ke belakang
5) . Kembalikan keposisi semula
6) . Catat perubahan yang terjadi
Gambar 7. Latihan fleksi dan ekstensi jari-jari

h. Infersi dan Efersi Kaki


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Pegang separuh bagian atas kaki pasien dnegan satu jari dan pegang
pergelangan kaki degan tangan satunya
3) . Putar kaki kedalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki
lainnya
4) . kembalikan keposisi semula
5) . Putar kaki keluar sehingga bagian telapak kaki menjauhi kaki yang
lain
6) . Kembalikan ke posisi semula
7) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 8. Latihan infersi dan efersi kaki

i. Fleksi dan Ekstensi Pergelangan Kaki


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Letakkan satu tangan perawat pada telapak kaki pasien dan satu
tangan yang lain diatas pergelangan kaki. Jaga kaki lurus dan rileks
3) . Tekuk pergelangan kaki, arahkan jari-jari kaki kearah dada pasien
4) . Kembalikan keposisi semula
5) . Tekuk pergelangan kaki menjauhi dada pasien
6) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 9. Latihan fleksi dan ekstensi pergelangan kaki

j. Fleksi dan Ekstensi Lutut


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Letakkan satu tangan dibawah lutut pasien dan pegang tumit pasien
dengan tangan yang lain
3) . Angkat kaki, tekuk pada lutut dan pangkal paha
4) . Lanjutkan menekuk lutut kearah dada sejauh mungkin
5) . Kebawahkan kaki dan luruskan lutut dengan mengangkat kaki keatas
6) . Kembalikan keposisi semula
7) . Catat perubahan yang terjadi
Gambar 10. Latihan fleksi dan ekstensi lutut

k. Rotasi Pangkal paha


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Letakkan satu tangan perawat pada pergelagan kaki dan satu tangan
yang lain diatas lutut
3) . Putar kaki menjauhi perawat
4) . Putar kaki kea rah perawat
5) . Kembalikan keposisi semula
6) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 11. Latihan rotasi pangkal paha

l. Abduksi dan Adduksi pangkal paha


Cara :
1) . Jelaskan Prosedure yang akan diberikan
2) . Letakkan satu tangan perawat dibawah lutut pasien dan satu tangan
pada tumit
3) . Jaga posisi pasien lurus, angkat kaki kurang lebih 8 cm daari tempat
tidur, gerakkan kaki menjauhi badan pasien
4) . Gerakan kaki mendekati badan pasien
5) . Kembalikan keposisi semula
6) . Catat perubahan yang terjadi

Gambar 12. Latihan abduksi dan adduksi pangkal paha


DAFTAR PUSTAKA

Black, J.M., & Hawk. 2005. Medical Surgical Nursing Clinical Management for
Positive Outcomes. 7th Edition. St Louis Missouri. Elsevier Saunders

Buku Kompetensi L. 2006 Pembelajaran Praktik Klinik Keperawatan Kebutuhan


Dasar Manusia. Surabaya : STIKES Hang Tuah

Guyton, C. A., & Hall, J. E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Hidayat, AAA. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia, Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan. Buku 2. Jakarta : Salemba Medika

Irfan, Muhammad. 2010. Fisioterapi Bagi Insan Stroke. Yogyakarta : Graha Ilmu

Junaidi, I. 2006. Stroke A-Z. Jakarta : PT. Buana Ilmu Popular

Marsinov Bkara, Derison, & Warsito, Surani. 2016. Latihan Range Of Motion
(ROM) Pasif Terhadap Rentang Sendi Pasien Pasca Stroke. Bengkulu : Idea
Nursing Journal

Riskesdas. 2018. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI

Suratun, Heryati, Santa Manurung, Een Raenah. 2008. Seri Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : EGC
Lampiran 4

Anda mungkin juga menyukai