0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Penyuluhan Penyakit Stroke untuk Keluarga

Berikut ringkasan singkat dari dokumen tersebut dalam 3 kalimat: Dokumen tersebut membahas tentang satuan acara penyuluhan penyakit stroke yang akan dilaksanakan untuk keluarga binaan. Penyuluhan akan membahas pengertian, gejala, penyebab, dan penatalaksanaan stroke dalam waktu 30 menit."

Diunggah oleh

raden
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Penyuluhan Penyakit Stroke untuk Keluarga

Berikut ringkasan singkat dari dokumen tersebut dalam 3 kalimat: Dokumen tersebut membahas tentang satuan acara penyuluhan penyakit stroke yang akan dilaksanakan untuk keluarga binaan. Penyuluhan akan membahas pengertian, gejala, penyebab, dan penatalaksanaan stroke dalam waktu 30 menit."

Diunggah oleh

raden
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Lampiran 5

SATUAN ACARA PENYULUHAN


PENYAKIT STROKE PADA KELUARGA BINAAN
DI WILAYAH KELURAHAN SUKOLILO BARU SURABAYA

Disusun Oleh :
Raden Mochammad A, [Link] (1930070)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TA. 2019/2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN
PENYAKIT STROKE

Pokok Bahasan : Penyakit Stroke


Sub Pokok Bahasan : Penyakit Stroke dan Cara Perawatannya
Sasaran : Klien dan keluarga
Waktu : 30 Menit
Hari, Tanggal : Selasa, 15 Oktober 2019
Tempat : Rumah warga binaan
I. Latar belakang
Stroke merupakan penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf lokal
atau global, munculnya mendadak, progresif, dan cepat. Gangguan fungsi syaraf
pada stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik.
Gangguan syaraf tersebut menimbulkan gejala antara lain : kelumpuhan wajah
atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas (pelo), mungkin
perubahan kesadaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain (Riskesdas, 2013).
Pasien stroke akan mengalami gangguan-gangguan yang bersifat fungsional.
Gangguan sensoris dan motorik post stroke mengakibatkan gengguan
keseimbangan termasuk kelemahan otot, penurunan fleksibilitas jaringan lunak,
serta gangguan kontrol motorik dan sensorik. Fungsi yang hilang akibat gangguan
kontrol motorik pada pasien stroke mengakibatkan hilangnya koordinasi,
hilangnya kemampuan keseimbangan tubuh dan postur (kemampuan untuk
mempertahankan posisi tertentu) (Irfan, 2010).
Paralisis (kelumpuhan )merupakan salah satu gejala klinis yang ditimbulkan
oleh penyakit stroke (Junaidi, 2006). Paralisis disebabkan karena hilangnya suplai
saraf ke otot sehingga otak tidak mampu untuk menggerakkan ekstremitas,
hilangnya suplai saraf ke otot akan menyebabkan otot tidak lagi menerima sinyal
kontraksi yang dibutuhkan untuk mempertahankan ukuran otot yang normal
sehingga terjadi atrofi. Serat otot akan dirusak dan digantikan oleh jaringan
fibrosa dan jaringan lemak. Jaringan fibrosa yang menggantikan serat otot selama
strofi akibat denervasi memiliki kecenderungan untuk terus memendek selama
berbulan-bulan, yang disebut kontraktur. Atrofi otot menyebabkan penurunan
aktivitas pada sendi sehingga sendi akan mengalami kehilangan cairan kinovial
dan menyebabkan kekakuan sendi. Kekakuan sendi dan kecenderungan otot untuk
memendek menyebabkan penurunan rentang gerak sendi (Guyton, 2007).
Menurut WHO (2014) Stroke merupakan adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-
gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian
tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Menurut American Heart
Association (AHA, 2015) angka kejadian stroke pada laki-laki usia 20-39 tahun
sebanyak 0,2% dan perempuan sebanyak 0,7%. Usia 40-59 tahun angka terjadinya
stroke pada perempuan sebanyak 2,2% dan laki-laki 1,9%. Pada usia 60-79 tahun
yang menderita stroke pada peremuan 5,2 % dan laki-laki sekitar 6,1%. Prevalensi
stroke pada usia lanjut semakin meningkaat dan bertambah setiap tahunnya dapat
dilihat dari usia seseorang 80 tahun keatas dengan angka kejadian stroke pada
laki-laki sebanyak 15,8% dan pada perempuan sebanyak 14%, Prevalensi angka
kematian yang terjadi di Amerika disebabkan oleh stroke dengan populasi
100.000 pada perempuan sebanyak 27,9% dan pada laki-laki sebanyak 25,8%
sedangkan di Negara Asia angka kematian yang diakibatkan oleh stroke pada
perempuan sebanyak 30% dan pada laki-laki 33,5% per 100.000 populasi (AHA,
2015). Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI tahun 2014 jumlah
penderita stroke di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
diperkirakan sebanyak 1.236.825 orang (7,0%), penderita penyakit stroke di
provinsi Jawa Timur sebanyak 190.449 orang (6,6%) (Ismatika, 2017) dalam
(Rizki et al., 2019). Penduduk yang mengalami kelemahan ekstremitas akibat
stroke sebanyak 4,31% (Bistara, 2019).
Pasien stroke yang mengalami kelemahan pada satu sisi anggota tubuh
disebabkan oleh karena penurunan tonus otot, sehingga tidak mampu
menggerakkan tubuhnya. Imobilisasi yang tidak mendapatkan penanganan yang
tepat, akan menimbulkan komplikasi berupa abnormalitas tonus, orthostatic
hypotension, deep vein thrombosis dan kontraktur (Garrison, 2003). Hasil analisis
menunjukkan ROM aktif maupun pasif yang dilakukan pada pasien stroke dapat
meningkatkan rentang sendi, dimana reaksi kontraksi dan relaksasi selama
gerakan ROM aktif maupun pasif yang dilakukan pada pasien stroke terjadi
penguluran serabut otot dan peningkatan aliran darah pada daerah sendi yang
mengalami paralisis sehingga terjadi peningkatan penambahan rentang sendi
abduksi-adduksi pada ekstremitas atas dan bawah hanya pada sendi-sendi besar
(Marsinova & Warsito, 2016). Maka dari itu, latihan ROM diperlukan untuk
meningkatkan rentang gerak sendi pada pasien stroke yang mengalami paralisis.

II. Tujuan
a. Tujuan Intruksional Umum (TIU)
Setelah di lakukan penyuluhan diharapkan keluarga binaan dapat
memahami tentang penyakit Stroke
b. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah diberikan penyuluhan selama 7x30 menit, diharapkan keluarga
dapat :
1) Menjelaskan pengertian Stroke
2) Menjelaskan dengan tepat gejala dan penyebab Stroke
3) Menjelaskan dengan tepat makanan yang boleh dan tidak boleh
dikonsumsi pada pasien dengan penyakit Stroke
4) Menjelaskan dengan tepat penatalaksanaan Stroke

III. Sasaran
Keluarga binaan

IV. Metode Penyuluhan


a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya jawab

V. Media
a. Leaflet
VI. Materi Penyuluhan
(Terlampir)

VII. Kegiatan Penyuluhan


No Tahap Waktu Kegiatan
1. Pendahuluan 5 menit 1. Memberikan salam

2. Memperkenalkan diri

3. Menyampaikan pokok bahasan

4. Menyampaikan tujuan
2. Isi 10 menit Penyampaian materi tentang :

1. Menjelaskan pengertian Stroke


2. Gejala dan penyebab Stroke
3. Makanan yang boleh dan tidak
boleh dikonsumsi pada pasien
dengan penyakit Stroke
4. Penatalaksanaan Stroke

3. Penutup 15 menit 1. Diskusi

2. Kesimpulan

3. Evaluasi

4. Salam penutup

VIII. Setting Tempat


Keterangan :

: Peserta

: Penyaji

IX. Pengorganisasian
Penyaji : Raden Mochammad Arifin, [Link]

X. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. SAP sudah dibuat beberapa hari sebelum dilaksanakan kegiatan
b. Media dan alat memadai
c. Tempat sesuai dengan kegiatan
d. Pembagian peran sudah diberikan
e. Perencanaan pendidikan kesehatan yang sesuai dan tepat
f. Mahasiswa, dosen pendamping dan peserta siap
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan pendidikan kesehatan dilakukan sesuai dengan waktu
yang direncanakan
b. Persiapan pre planning kegiatan dilakukan 1 hari sebelum
kegiatan
c. Persiapan pengorganisasian tugas dilakukan 1 hari sebelum
kegiatan
d. Persiapan pada keluarga dan pasien dilakukan 30 menit sebelum
kegiatan dimulai
e. Peserta mengikuti kegiatan penyuluhan dengan aktif dan
kooperatif
f. Peserta menanyakan hal-hal yang kurang jelas
g. Peserta menjawab pertanyaan yang diajukan

3. Evaluasi Hasil
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan peserta
dapat:
a. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat selama kegiatan
berlangsung
b. Peserta mampu mengikuti kegiatan dengan kooperatif
c. Peserta mampu menjawab dan menjelaskan tentang Stroke
d. Peserta mengikuti kegiatan sampai kegiatan berakhir
MATERI PENYULUHAN

1. Definisi Stroke
Stroke adalah sindrom klinis yang timbulnya mendadak, progresi cepat,
berupa defisit neurologis fokal dan/atau global, yang berlangsung 24 jam
atau lebih, atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata
disebabkan oleh gangguan peredaran darah non-traumatik.
Jenis Stroke dibagi menjadi dua, antara lain :
a. Stroke karena perdarahan. Stroke ini terjadi karena satu atau
beberapa pembuluh darah di otak pecah.
b. Stroke karena penyumbatan. Stroke ini terjadi karena pembuluh
darah di otak mengalami penyumbatan oleh kolesterol atau lemak
lain sehinggasuplai oksigen ke otak terhambat. Otak tidak dapat
bernapas sehingga fungsi jaringannya terganggu.
2. Tanda dan Gejala Stroke
Gejala stroke tergantung luas dan area otak yang mengalami gangguan
stroke. Gejala Stroke secara umum sebagai berikut:
a. Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya satu sisi saja) yang
timbul mendadak.
b. Gangguan kepekaan pada satu atau lebih anggota badan
c. Perubahan mendadak status mental (bingung, mengigau, koma)
d. Afasia (bicara tidak lancar, ucapan kurang, atau sulit memahami
ucapan)
e. Disartria (bicara pelo atau cadel)
f. Gangguan penglihatan atau diplopia (penglihatan dobel)
g. Ataksia (kesulitan gerakan)
h. Vertigo, mual, dan muntah, atau nyeri kepala.
3. Makanan/Diet untuk pasien Stroke
a. Pasien stroke dianjurkan untuk makan:
1) Sumber karbohidrat: beras, kentang, ubi, singkong, tapioca, biscuit,
bihun
2) Sumber protein hewani: daging sapi dan ayam tanpa kulit, ikan,
telur ayam, susu skim
3) Sumber protein nabati: semua kacang-kacangan dan produk
olahannya (tahu & tempe)
4) Sayuran: bayam, wortel, kangkung, kacang panjang, labu siam,
tomat, toge.
5) Buah: buah segar, dijus ataupun diolah dengan cara disetup, seperti
pisang, papaya, manga, jambu biji, melon, semangka.
6) Sumber lemak: minyak jagung dan mintak kedelai, margarin dan
mentega dalam jumlah terbatas, dan santan encer.
b. Makanan yang tidak dianjurkan untuk penderita stroke:
1) Sumber karbohidrat: mie, soda (baking powder), kue-kue yang
terlalu manis
2) Sumber protein hewani: daging sapid an ayam yang berlemak,
jeroan, keju, protein hewani yang diawetkan
3) Sumber protein nabati: pindakas, produk kacang-kacang olahan
yang diawetkan.
4) Sayuran: Sayuran yan gmengandung gas seperti kol, sawi,
kembang kol, dan lobak
5) Buah-buahan: buah-buahan yan gmengangung gas seperti durian,
nangka, dan buah-buahan yang diawetkan (buah kaleng)
6) Sumber lemak: santan kental dan produk goring-gorengan.
4. Penatalaksanaan Stroke

a. Pada saat terjadi serangan

Stroke merupakan suatu kegawatdaruratan medis. Periode Emas

stroke hanya 3-6 jam, sehingga penatalaksanaan cepat, tepat, dan cermat

berperan besar dalam menentukan hasil akhir pengobatan. Deteksi dini

stroke dapat dilakukan dengan F.A.S.T.


Face (Wajah) : Minta pasien untuk senyum. Lihat apakah salah satu

sisi wajahnya turun?

Arms (Lengan) : Minta pasien mengangkat kedua lengan. Lihat

apakah salah satu lengan tidak bisa diangkat?

Speech (Bicara) : Minta pasien bicara. Perhatikan apakah ucapannya

pela atau tidak jelas?

Time (Waktu) : Jika Anda menemukan tanda-tanda tersebut,

segerahubungi unit perawatan terdekat.

b. Pasien Pasca Stroke

1) Latihan ROM Aktif atau Pasif

2) Memonitor tekanan darah secara rutin

3) Meminum obat sesuai anjuran dokter

4) Melakukan diet rendah garam dan rendah lemak

5) Melakukan olahraga sesuai kondisi.


DAFTAR PUSTAKA

Black, J.M., & Hawk. 2005. Medical Surgical Nursing Clinical Management for
Positive Outcomes. 7th Edition. St Louis Missouri. Elsevier Saunders

Buku Kompetensi L. 2006 Pembelajaran Praktik Klinik Keperawatan Kebutuhan


Dasar Manusia. Surabaya : STIKES Hang Tuah

Guyton, C. A., & Hall, J. E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Hidayat, AAA. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia, Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan. Buku 2. Jakarta : Salemba Medika

Irfan, Muhammad. 2010. Fisioterapi Bagi Insan Stroke. Yogyakarta : Graha Ilmu

Junaidi, I. 2006. Stroke A-Z. Jakarta : PT. Buana Ilmu Popular

Marsinov Bkara, Derison, & Warsito, Surani. 2016. Latihan Range Of Motion
(ROM) Pasif Terhadap Rentang Sendi Pasien Pasca Stroke. Bengkulu : Idea
Nursing Journal

Riskesdas. 2018. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI

Suratun, Heryati, Santa Manurung, Een Raenah. 2008. Seri Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai