100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
526 tayangan3 halaman

Rencana Pengontrolan Proses Manufaktur

Control Plan adalah rencana pengontrolan proses dan produk untuk memastikan proses dan produk sesuai standar. Control Plan merupakan dokumen panduan yang lebih banyak dipakai di area produksi dibandingkan PFMEA. Control Plan meliputi seluruh proses dari penerimaan bahan baku hingga pengiriman produk. Terdapat tiga jenis Control Plan yaitu Prototype, Pre-Launch, dan Production.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
526 tayangan3 halaman

Rencana Pengontrolan Proses Manufaktur

Control Plan adalah rencana pengontrolan proses dan produk untuk memastikan proses dan produk sesuai standar. Control Plan merupakan dokumen panduan yang lebih banyak dipakai di area produksi dibandingkan PFMEA. Control Plan meliputi seluruh proses dari penerimaan bahan baku hingga pengiriman produk. Terdapat tiga jenis Control Plan yaitu Prototype, Pre-Launch, dan Production.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

CONTROL PLAN

Control Plan adalah rencana pengontrolan proses dan produk untuk


memastikan seluruh proses yang dilewati sudah dilakukan sesuai standar dan
produk sudah diinspeksi sesuai ketentuan dan spesifikasi yang ada.

Seperti saya pernah uraikan dalam artikel APQP Document Linkages (DFMEA,
PFMEA, Control Plan), Control Plan adalah turunan dari PFMEA yang memuat
deskripsi lebih detail dari process control. Control Plan adalah dokumen
panduan yang lebih banyak dipakai sehari-hari di area produksi untuk
mengontrol proses dibandingkan dengan PFMEA. Bila diibaratkan dengan
sistem QA dan QC, maka PFMEA adalah QA atau quality assurance, sedangkan
Control Plan adalah QC atau quality control. PFMEA lebih ke arah garansi
produk, sedangkan control plan adalah bagaimana mengecek atau
menginspeksi produk agar bisa memberikan garansi.

Control Plan meliputi semua proses yang ada di process flowchart, mulai dari
penerimaan bahan baku sampai pengiriman produk. Dokumen ini bisa
digunakan di banyak jenis industri dan tidak terbatas hanya pada industri
otomotif. Yang perlu diingat adalah bahwa control plan merupakan dokumen
hidup yang harus direview apabila ada perubahan proses atau produk. Seperti
DFMEA dan PFMEA, control plan juga dibuat oleh cross functional team yang
terlibat dalam proses manufaktur. Bila diperlukan customer dan supplier bisa
diikutsertakan sebagai anggota team.

Karena control plan memuat metode pengontrolan yang cukup detail, yaitu
dengan menyebutkan jumlah sampel, frekuensi sampling, alat ukur bahkan
reaction plan bila ditemukan kondisi abnormal, akhirnya banyak perusahaan
atau individu yang beranggapan tidak diperlukan lagi dokumen pendukung
lain, misalnya instruksi kerja operator. Sering saya temui proses-proses yang
tidak dilengkapi instruksi kerja karena anggapan ini dan pertimbangan bahwa
operator sudah berpengalaman atau proses tidak sulit. Padahal di buku APQP
sendiri sudah dijelaskan bahwa control plan tidak menggantikan instruksi
kerja. Ini cukup masuk akal karena control plan hanya menjelaskan what, when,
where dan how many. Tetapi tidak menjelaskan how to do yang lebih detail yang
hanya bisa digambarkan di dokumen pendukung lain.

Ada 3 macam control plan yang dibuat sesuai dengan tahapan APQP atau masa
pengembangan produk, yaitu prototype, pre-launch dan production. Berikut
ini definisi dari masing-masing jenis control plan dan perbedaannya.

PROTOTYPE CONTROL PLAN

• Definisi : A description of the dimensional measurements, material and


functional tests that will occur during the prototype build.
• Dibuat apabila ada tahap prototype atau bila diminta customer.
• Pembuatan dilakukan sebelum produksi prototype, yaitu pada APQP
tahap 2.
• Input untuk membuat prototype control plan diperoleh dari quality
history produk/proses sejenis, informasi/claim customer, pengetahuan
dan pengalaman.
• Inspection plan mencakup seluruh spesifikasi untuk setiap produk
prototype (cek 100%).
• Special characteristic diperoleh dari DFMEA, customer drawing dan
customer specification.
• Mencantumkan seluruh mesin, tooling dan equipment yang digunakan
saat prototype.
• Apabila area proses yang digunakan berbeda dengan yang akan dipakai
untuk mass-production, maka prototype control plan dibuat berdasarkan
prototype process flowchart.
• Reaction plan menjelaskan bahwa harus ada otorisasi customer apabila
hasil repair atau nonconformance ingin digunakan.

PRE-LAUNCH CONTROL PLAN

• Definisi : A written description of the dimensional measurements and


material and functional tests (in-process checks) that will occur after
prototype builds and before the production builds.
• Dibuat untuk tahap pre-launch.
• Pembuatan dilakukan sebelum pre-launch, yaitu pada APQP tahap 3.
• Input untuk membuat pre-launch control plan lebih banyak dari hasil
pembuatan prototype.
• Inspection plan mencakup seluruh spesifikasi dengan sistem sampling.
• Special characteristic diperoleh dari DFMEA, PFMEA, customer
specification dan informasi lainnya.
• Mencantumkan seluruh mesin, tooling dan equipment yang digunakan
saat pre-launch dan production trial run.
• Mencantumkan persyaratan preliminary capability, termasuk prosedur,
teknik dan data.
• Reaction plan berupa preventive action, corrective action dan
containment action.

PRODUCTION CONTROL PLAN

• Definisi : A written description of the systems for controlling parts and


processes during full production.
• Dibuat untuk tahap mass-production.
• Pembuatan dilakukan setelah production trial run dan sebelum mass-
production, yaitu pada APQP tahap 4.
• Input untuk membuat production control plan lebih banyak dari hasil pre-
launch dan production trial run.
• Inspection plan mencakup seluruh spesifikasi yang perlu dikontrol dengan
sistem sampling. Artinya tidak seluruh karakteristik harus dikontrol
apabila bisa diwakilkan oleh karakteristik lainnya. Misalnya bila kita ingin
mengukur suatu bentuk persegi panjang, maka yang perlu diukur cukup
dua sisi, yaitu 1 panjang dan 1 lebar, tidak perlu keempat sisinya.
• Special characteristic biasanya carry-over atau melanjuti special
characteristic dari tahap pre-launch.
• Mencantumkan seluruh mesin, tooling dan equipment yang digunakan
untuk mass-production (atau sama dengan trial run).
• Mencantumkan persyaratan capability, termasuk prosedur dan teknik.
• Reaction plan berupa corrective dan containment action.
• Cantumkan current control dari DFMEA dan PFMEA yang masih perlu
dikontrol.

Control plan harus direview apabila ada perubahan proses, perubahan produk,
proses menjadi tidak stabil atau tidak capable secara statistik atau ada
perubahan sistem inspeksi, misalnya frekuensi pengecekan atau jumlah
sampel.
Control plan dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan manufacturing
process audit, dimana auditor akan mengikuti dan mengaudit seluruh proses
sesuai ketentuan yang tercantum pada control plan. Oleh karena itu selalu
tuliskan apa yang dilakukan dan lakukan apa yang tertulis di control plan.
Jangan membuat sistem inspeksi yang ideal, tetapi tidak bisa dilakukan karena
keterbatasan kemampuan. Control Plan is the way to show to customer that you
produce their product seriously and consistently.

Anda mungkin juga menyukai