BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jamu
2.1.1 Definisi jamu
Bagi penduduk indonesia, penggunaan berbagai macam jenis tumbuhan
sebagai bahan ramuan untuk obat tradisional bukan merupakan hal baru. Baik
dalam bentuk jamu yang terdiri dari berbagai jenis, maupun yang bahan bakunya
terdiri dari satu jenis. Hal itu telah berlaku sejak lama dan terus berlangsung serta
diwariskan kepada generasi berikutnya secara turun-menurun (Santoso, 2000).
Krisis ekonomi mulai melanda indonesia sejak tahun 1997, yaitu saat harga obat-
obatan kimiawi semakin meningkat. Oleh sebab itu, penggunaan tanaman obat
salah satunya sebagai pembuatan jamu untuk mengobati penyakit dapat menjadi
alternatif yang relatif murah dibandingkan dengan obat kimia, selain itu juga
kepraktisan dan murahnya obat tradisional juga memiliki efek samping yang lebih
sedikit dibandingkan obat modern, sehingga orang indonesia suka mengkonsumsi
jamu tradisional (Duryatmo, 2003).
Gambar 2.1 serbuk jamu (Anonim, 2000)
5
6
Obat modern adalah obat yang dibuat dengan cara menggunakan teknologi
mesin. Obat jenis ini biasanya di produksi di perusahaan-perusahaan farmasi
dengan bahan kimia dan mempunyai satu keunggulan dengan obat tradisional,
yaitu lebih higienis dan steril. Obat modern yang seringkali kita konsumsi, yakni
panadol, ultra flu, mixagrip yang sudah banyak dijual bebas di pasaran (Anne,
2011).
Obat tradisional adalah bahan atau racikan bahan yang berupa bahan dari
tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan
tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan
pengalaman (Permenkes RI No. 007 tahun 2012 tentang registrasi obat
tradisional). Obat tradisonal memiliki bentuk sediaan bervariasi, dapat berupa
serbuk, kapsul, tablet, cair, pil, dll, yang ditujukan untuk pengobatan. Obat
tradisional biasa disebut sebagai jamu tradisional (Bhowmik, 2009).
Pada jamu tradisional memiliki beberapa bentuk sediaan yaitu serbuk,
kapsul, tablet, larutan ataupun pil. Berdasarkan cara pembuatannya bentuk sediaan
serbuk dikenal dengan istilah jamu seduh. Bentuk sediaan serbuk memerlukan
proses penyeduhan dengan air panas tanpa proses pemasakan (Trubus, 2010).
Pada sediaan serbuk berupa butiran homogen dengan derajat halus yang cocok
lalu dikeringkan dengan suhu tidak lebih dari 50o C, bahan bakunya berupa
simplisa, sediaan galenik atau campuran (Dirjen POM, 1999).
2.1.2 Simplisa obat
Simplisa adalah bagian-bagian yang digunakan sebagai bahan obat. Bahan
simplisa terdiri atas beberapa bagian dibawah ini (Widyastuti, 2004).
7
Tabel 2.1 Simplisa Obat
Simplisa Obat Keterangan
Kulit (cortex) Kortek adalah kulit bagian terluar dari tanaman tingkat tinggi
yang berkayu.
Kayu Simplisia kayu merupakan pemanfaatan bagian dari batang
(lignum) atau cabang.
Daun (folium) Folium merupakan jenis simplisia yang paling umum
digunakan sebagai bahan baku ramuan obat tradisional
maupun minyak atsiri.
Herba Simplisia herba pada umumnya berupa produk tanaman obat
dari jenis herba yang bersifat herbaceous.
Bunga (flos) Bunga sebagai simplisia dapat berupa bunga tungga atau
majemuk, bagian bunga majemuk serta komponen penyusun
bunga.
Akar (radix) Akar tanaman yang sering dimanfaatkan untuk bahan obat
dapat berasal dari jenis tanaman yang umumnya berbatang
lunak dan memiliki kandungan air yang tinggi.
Umbi Bulbus atau bulbi adalah produk berupa potongan rajangan
(bulbus) umbi lapis, umbi akar, atau umbi batang. Bentuk ukuran umbi
bermacam-macam tergantung dari jenis tanamannya.
Rimpang Rhizoma atau rimpang adalah produk tanaman obat berupa
(rhizoma) potongan-potongan atau irisan rimpang.
Buah Simplisia buah ada yang lunak dan ada pula yang keras. Buah
(fructus) yang lunak akan menghasilkan simplisia dengan bentuk dan
warna yang sangat berbeda, khususnya bila buah masih
dalam keadaan segar.
Kulit buah Sama halnya dengan simplisia buah, simplisia kulit buah pun
(perikarpium) ada yang lunak, keras bahkan adapula yang ulet dengan
bentuk bervariasi.
Biji (semen) Semen (biji-bijian) diambil dari buah yang telah masak
sehingga umumnya sangat keras. Bentuk dan ukuran simplisia
biji pun bermacam- macam tergantung dari jenis tanaman.
8
2.1.3 Obat bahan alam indonesia dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu
(POM, 2004) :
1. Jamu
Merupakan obat tradisional warisan nenek moyang. Dipasar dapat
dijumpai dalam bentuk herbal kering siap seduh atau siap rebus, juga dalam
bentuk segar rebusan sebagaimana dijajakan para penjual jamu gendong (Yuliarti,
2008).
Menurut (Lewi, 2008) ada beberapa contoh jamu :
a. Jamu beras kencur
Jamu beras kencur dipercaya dapat menghilangkan pegal-pegal pada
tubuh. Selain itu, jamu beras kencur dapat merangsang nafsu makan, sehingga
selera makan meningkat dan tubuh menjadi sehat.
b. Jamu kunir asam
Jamu kunir asam digunakan untuk menyegarkan tubuh atau dapat
membuat tubuh menjadi dingin. Jamu kunir ini bermanfaat untuk menghindarkan
tubuh dari panas dalam dan sariawan.
c. Jamu pahitan
Jamu pahitan dimanfaatkan untuk gatal-gatal dan kencing manis. Manfaat
lainya untuk menhilangkan bau badan, jerawat, pegal, pusing. Bahan yang
digunakan yaitu sambiloto.
d. Jamu kudu laos
Manfaat jamu kudu laos yaitu untuk menurunkan tekanan darah. Selain itu,
untuk melancarkan peredaran darah, menghangatkan badan, menambah nafsu
makan, melancarkan haid.
9
2. Obat herbal terstandar
Herbal terstandar umumnya sudah mengalami pemprosesan, misalnya
berupa ekstrak atau kapsul. Herbal yang sudah diekstrak tersebut sudah diteliti
khasiat dan keamanannya melalui uji pra klinis (pada hewan) di laboratorium.
Disebut Herbal terstandar, karena dalam proses pengujian telah diterapkan standar
kandungan bahan, proses pembuatan ekstrak, higienitas, serta uji toksisitas untuk
mengetahui ada tidaknya racun dalam sediaan tersebut (Yuliarti, 2008).
3. Fitofarmaka
Merupakan jamu dengan kasta tertinggi karena khasiat, keamanan serta
standar proses pembuatan dan bahannya telah diuji secara klinis. Jamu berstatus
sebagai fitofarmaka juga dijual di apotek dan sering dengan resep dokter (Yuliarti,
2008).
Menurut Hermanto (2007), terdapat 5 produk fitofarmaka di indonesia
hingga saat ini, yaitu:
a. Nodiar
Merupakan fitofarmaka anti diare yang dibuat dari bahan baku jamu biji
(Psidium guajava) dan Curcuma domestica.
b. Rheumaneer
Merupakan fitofarmaka anti rematik yang dibuat dari bahan baku
Curcuma xanthorrhiza.
c. Stimuno
Merupakan fitofarmaka untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan
menggunakan bahan baku meniran (Phyllanthus niruri).
10
d. Tensigard
Merupakan fitofarmaka anti hipertensi dengan menggunakan bahan baku
kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dan seledri (Apium graviolens).
e. X-gra
Merupakan aprodisiak dengan menggunakan bahan baku linzhi
(Gaoderma lucidum), pasak bumi (Eurycoma longifolia) dan gingseng.
2.1.4 Bentuk sediaan Obat Tradisional
Obat tradisional tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat diminum atau
ditempelkan pada permukaan pada permukaan kulit. Tetapi tidak tersedia dalam
bentuk suntikan atau aerosol. Dalam bentuk sediaan obat-obat tradisional ini dapat
berbentuk serbuk yang menyerupai bentuk sediaan obat modren, kapsul, tablet,
larutan, ataupun pil (BPHN, 1993).
a) Larutan
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan,
maka padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Zat cair atau
cairan biasanya ditimbang dalam botol yang digunakan sebagai wadah yang
diberikan. Cara melarutkan zat cair ada dua cara yakni zat-zat yang agak sukar
larut dilarutkan dengan pemanasan (Anief, 2000).
b) Serbuk
Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang disebukkan.
Pada pembuatan serbuk kasar, terutama serbuk nabati, digerus terlebih dahulu
sampai derajat halus tertentu setelah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih 500oC.
Serbuk obat yang mengandung bagian yang mudah menguap dikeringkan
dengan pertolongan bahan pengering yang cocok, setelah itu diserbuk dengan
11
jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai diperoleh serbuk yang mempunyai
derajat halus serbuk (Anief, 2000).
c) Tablet
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak, berbentuk rata
atau cempung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih
Universitas Sumatera Utaradengan atau tanpa zat tambahan. Zat pengembang, zat
pengikat, zat pelicin, zat pembasah. Contohnya yaitu tablet antalgin (Anief, 2002).
d) Pil
Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng
mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil berkisar antara 100 mg sampai
500 mg. untuk membuat pil diperlukan zat tambahan seperti zat pengisi untuk
memperbesar volume, zat pengikat dan pembasah dan bila perlu ditambah
penyalut (Anief, 2002).
e) Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras
atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat
juga terbuat dari pati dan bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras
bervariasi dari nomor paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000), dan ada
juga kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang ( dikenal sebangai
usuran OE), yang memberikan kapasitas isi yang lebih besar tanpa peningkatan
diameter. Contohnya IV kapsul pacekap (Farmakope, 1995).
12
Tabel 2.2 Kegunaan obat tradisional beserta bahan kimia obat yang
sering ditambahkan pada sediaan jamu seduh
Kegunaan Obat Tradisional BKO yang sering ditambahkan
Pegal linu/encok/rematik Fenilbutazon,metampiron,
diklofenaksodium,piroksikam,
parasetamol,prednison, atau deksametaon
Pelangsing Sibutramin hidroklorida
Peningkat stamina/obat kuat pria Sildenafil sitrat
Kencing manis/diabetes Glibenklamid
Sesak nafas/asma Teofilin
Sumber : (Yuliarti, 2008)
2.1.5 Pembuatan Jamu
Pembuatan jamu sendiri menggunakan bermacam-macam tumbuhan yang
diambil langsung dari alam berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-
akaran), daun-daunan, kulit batang dan buah. Selain itu ada juga yang
menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur
buaya. Efek samping jamu relatif lebih kecil dibanding obat medis.
Namun demikian tidak menutup kemungkinan adanya penambahan bahan
kimia terlarang pada jamu meski pada kenyataannya jamu sudah digunakan
puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu secara turun-menurun sebelum
farmakologi modern masuk ke Indonesia (Hermanto, 2007).
2.1.6 Manfaat Jamu
Jamu memiliki berbagai macam manfaat yang sangat menguntungkan
kesehatan tubuh manusia, diantaranya: Menjaga kebugaran tubuh, menjaga
kecantikan ,mencegah Penyakit ,mengobati Penyakit.
13
2.1.7 Efek Samping Jamu
Jamu dapat dikatakan juga berbahaya bagi kesehatan dan bahaya yang
ditimbulkan pada jamu bersifat akumulatif. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain: Digunakan secara terus - menerus atau sembarangan,
digunakan dalam jumlah yang berlebihan / dosis berlebih, salah mengonsumsi
jamu atau mengonsumsi jamu palsu (bercampur dengan obat sintetik) ( Yuliarti,
2008)
2.1.8 Kelebihan dan Kekurangan Jamu
Jamu memang memiliki kelebihan dibandingkan dengan obat – obatan
kimia atau yang kita kenal dengan obat apotik. Namun demikian jamu juga
memiliki kekurangan. Karena itu sebelum mengonsumsi jamu hendaknya kita
memahami segala kelebihan dan kekurangan jamu dengan baik.
Kelebihan jamu diantaranya adalah, harganya relatif murah, dapat
terjangkau seluruh lapisan masyarakat, tersedia di alam sekitar kita, kandungan
kimia di dalam jamu formulasinya lebih ringan dibandingkan obat, sintetis, dapat
dikonsumsi sehari-hari karena kandungannya mengandung bahan alami.
Kekurangan jamu diantaranya adalah, Efek yang dirasakan tidak dapat
secara spontan, belum ada standarisasi yang baku terhadap jamu dalam segi
keamanan, penelitian tentang jamu yang belum banyak dilakukan maka dosis
tepat, sediaan jamu belum dapat dipastikan dengan jelas.
2.1.9 Syarat Pembuatan Jamu
Syarat pembuatan jamu yaitu, Kadar air tidak lebih dari 10%. Ini untuk
mencegah berkembang biaknya bakteri, kapang dan khamir (ragi), jumlah kapang
dan khamir tidak lebih dari 10.000, jumlah bakteri non-patogen tidak lebih dari
14
1.000.000, bebas dari bakteri patogen seperti Salmonella, jamu berbentuk pil atau
tablet, daya hancur tidak lebih dari 15 menit (menurut farmakope indonesia).
Toleransi sampai 45 menit, Tidak boleh tercemar bahan kimia (Santoso, 2006).
2.1.10 Bahan Pengawet Pada Jamu
Bahan tambahan berupa pengawet yang tidak lebih dari 0,1%. Pengawet
yang diperbolehkan (Depkes R.I, 1994) yaitu: Metil p – hidroksi benzoat
(Nipagin), Propil p–hidroksi benzoat (Nipasol), Asam sorbat atau garamnya,
Garam Natrium benzoat dalam suasana asam, Pengawet lain yang disetujui.
2.2 Metampiron
Metampiron atau yang biasa disebut dengan antalgin merupakan obat
analgetik–antipiretik dan anti-inflamasi. Analgetik adalah obat untuk
menghilangkan rasa nyeri dengan meningkatkan nilai ambang nyeri pada system
saraf pusat tanpa menekan kesadaran, sedangkan antipiretik merupakan obat yang
menurunkan suhu tubuh yang awalnya tinggi. Sedangkan anti-inflamasi adalah
mengatasi pembengkakan. Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah
dengan menghambat sintesa neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan
rasa nyeri dan demam. Denga blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka
otak tidak lagi mendapatkan “sinyal” nyeri, sehingga rasa nyerinya berangsur-
angsur menghilang.
2.3 Efek Farmakodinamik dan Efek Farmakokinetik Metampiron
2.3.1 Efek Farmakodinamik ada 3 efek :
1. Efek Analgesik
Metampiron digunakan untuk mengurangi nyeri akut atau kronik hebat
bila analgesik lain tidak menolong.
15
2. Efek Antipiretik
Menurunkan suhu tubuh yang sukar diatasi oleh obat antipiretik lainnya.
3. Efek Anti Inflamasi sangat lemah.
2.3.2 Efek Farmakokinetik
Metampiron diabsorbsi dengan baik oleh saluran pencernaan tertinggi
dalam plasma dicapai dalam waktu 30-45 menit dan masa paruh plasma dicapai
dalam waktu 1-4 jam. Onat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan
diekskresi melalui ginjal. (Wilmana, 1995).
2.3.3 Kegunaan metampiron
Berdasarkan penggunaannya sebagai obat analgetik antipiretik sangat dibatasi,
yaitu :
1. Nyeri akut hebat sesudah luka atau pembedahan.
2. Nyeri karena tumor atau kolik.
3. Nyeri hebat akut atau kronik bila analgetik lain tidak menolong
4. Demam tinggi yang tidak dapat diatasi antipiretik lainnya.
2.3.4 Uraian tentang metampiron
Gambar 2.3 Tablet Antalgin (Anonim, 1995)
1. Sifat Kimia
Mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0%
C13H16N3NaO4S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan
16
Nama IUPAC : METHAMPYRONUM
Nama Lain : Metampiron, antalgin
Nama Kimia : Natrium 2,3-dimetil-1-fenil-5-pirazolon-4-
Metilaminoetanasulfonat
Gambar 2.4 Rumus Bangun Antalgin (Ristina,2008)
Rumus Kimia : C13H16N3NaO4S. H2O
Bobot Molekul : 351,37 (Dirjen POM, 1995)
Khasiat :Analgetik, antipiretik, untuk macam-macam rasa sakit,
pada kolik dan sakit setelah operasi.
Dosis : Dewasa 3 g
Anak 6-12 tahun 2 g
Anak 6 tahun 1 g
Pemberian : Diberikan secara oral
Farmakologi : Pada fase ini, antalgin mengalami proses absorbs, distribusi,
metabolisme, dan ekskresi yang berjalan secara stimuli
langsung.
17
2. Sifat Fisika
Bentuk : Serbuk halus
Bau :-
Rasa : Agak pahit
Warna : Putih atau putih kekuningan
Kelarutan : Mudah larut dalam air ,alkohol dan larut dalam HCl 0,02 N
Fluoresensi :-
Pengarangan : Tidak meninggalkan sisa arang
2.3.5 Efek samping metampiron
Penggunaan metampiron dengan jangka lama dapat menyebabkan
gangguan pada saluran pencernaan, telinga terasa seperti berdenging, anemia
aplastik (terhambatnya pembentukan sel erytrosit), peradangan daerah mulut,
hidung dan tenggorokan, tremor, shok, urine menjadi berwarna merah (Sartono,
1996).
Pada hal ini banyak dimanfaatkan para produsen jamu untuk
meningkatkan penjualan, karena pada dasarnya konsumen lebih menyukai
produk jamu tradisional yang bereaksi cepat pada tubuh. Pencampuran
metampiron dalam jamu dimaksudkan untuk menjadikan jamu lebih berkhasiat
secara instant (Yuliarti, 2008).