JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
PENGEMBANGAN DRAINASE SISTEM POLDER SUNGAI SRINGIN
KOTA SEMARANG
ABSTRAK
Banjir yang terjadi di Kawasan Sungai Sringin khususnya Kawasan Industri Terboyo dan
Kawasan permukiman Dukuh Ngilir Kelurahan Trimulyo Kecamatan Genuk diakibatkan
oleh genangan pasang surut air laut (rob) serta limpasan air hujan. Daerah hilir Sungai
Sringin mempunyai elevasi lahan lebih rendah dari muka air pasang, hal ini
mengakibatkan air sungai tidak mampu mengalir secara gravitasi sehingga penanganan
banjir yang tepat untuk kawasan Sungai Sringin adalah menggunakan sistem polder (non-
gravitasi). Sistem polder adalah sistem penanganan drainase perkotaan dengan cara
mengisolasi daerah yang dilayani (catchment area) terhadap masuknya air dari luar
sistem. Komponen sistem polder meliputi tanggul, kolam retensi, sistem pompa dan pintu,
serta perbaikan drainase saluran induk Sungai Sringin. Luas kolam retensi 17,795 hektar
dengan kedalaman 3,5 meter. Jenis pompa yang digunakan adalah gate pump berjumlah 8
buah, terdiri dari empat buah masing-masing 10 m3/detik dan empat buah masing-masing
2,5 m3/detik. Gate pump yang digunakan adalah pintu tipe sliding gate berjumlah enam
buah pintu dengan lebar masing-masing pintu tiga meter. Perbaikan penampang sungai
dengan rencana lebar sungai 30 meter pada hilir saluran dan 28 meter pada hulu saluran.
Perkuatan dinding sungai direncanakan dengan dinding penahan tanah pasangan batu
kali. Dinding laut (revetment) direncanakan di garis pantai untuk mengisolasi air laut
agar tidak masuk ke dalam sistem polder. Total rencana anggaran biaya yang diperlukan
dalam Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin adalah Rp. 230.210.000,00
(Dua ratus tiga puluh milyar dua ratus sepuluh juta rupiah) dengan lama pekerjaan 22
minggu.
Kata kunci: Sistem Drainase Polder, Gate Pump, Sungai Sringin
PENDAHULUAN
Sungai Sringin berada di Dukuh Ngilir Kelurahan Trimulyo Kecamatan Genuk Kota
Semarang. Pada pinggiran Sungai Sringin terdapat Kawasan Industri Terboyo dan
Kawasan permukiman warga. Kawasan-kawasan tersebut mengalami banjir yang
diakibatkan oleh genangan pasang surut air laut (rob) dan limpasan air hujan. Daerah hilir
Sungai Sringin mempunyai elevasi lahan lebih rendah dari muka air pasang, hal ini
mengakibatkan air sungai tidak mampu mengalir secara gravitasi sehingga penanganan
banjir yang tepat untuk kawasan Sungai Sringin adalah menggunakan sistem polder (non-
gravitasi).
Lokasi Pengembangan Sistem Polder
283
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Gambar 1. Lokasi Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin
(Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2008)
Tujuan dari Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin Kota Semarang adalah
untuk mengendalikan banjir di kawasan Sungai Sringin.
Tinjauan Pustaka
Sistem polder adalah sistem penanganan drainase perkotaan dengan cara mengisolasi
daerah yang dilayani (catchment area) terhadap masuknya air dari luar sistem baik berupa
limpasan (overflow) maupun aliran di bawah permukaan tanah (gorong-gorong dan
rembesan), serta mengendalikan ketinggian muka air banjir di dalam sistem sesuai dengan
284
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
rencana kebutuhan (Al Falah, 2008). Drainase sistem polder digunakan untuk kondisi
sebagai berikut:
a. Elevasi/ketinggian muka tanah lebih rendah dari elevasi muka air laut pasang.
b. Elevasi/ketinggian muka tanah lebih rendah dari elevasi muka air banjir sungai yang
merupakan outlet dari saluran drainase kota.
c. Daerah yang mengalami penurunan (land subsidence) sehingga daerah yang semula
lebih tinggi dari muka air laut pasang atau muka air banjir di sungai menjadi lebih
rendah.
Komponen Sistem Polder
Sistem polder terdiri dari beberapa komponen yang membentuk satu kesatuan untuk
menunjang keberhasilan sistem drainase. Gambar 2 menampilkan gambar komponen-
komponen sistem polder.
Keterangan:
1. Tanggul
2. Kolam
3. Jaringan Saluran Drainase
4. Stasiun Pompa
5. Pintu Air
Gambar 2. Komponen Sistem Polder (Al Falah , 2008)
Perencanaan Kolam Tampungan
Volume kolam tampungan serta kapasitas pompa ditentukan berdasarkan keseimbangan
antara inflow (hidrograf banjir) yang masuk ke dalam kolam, kapasitas pompa dan kapastas
kolam tampungan seperti ditampilkan pada Gambar 3.
Gambar 3 Volume Tampungan Kolam Berdasarkan Kapasitas Pompa dan Debit
Keseimbangan tersebut dapat diperoleh persamaan penelusuran banjir seperti pada Rumus
1 (Kamiana, 2011):
285
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
............................................... (1)
dimana :
= volume tampungan (m3)
= inflow (debit banjir) pada langkah penelusuran ke j (m3/detik)
= inflow (debit banjir) pada langkah penelusuran ke j + 1
3
(m /detik) Oj = outflow (debit pompa) pada langkah penelusuran ke j
(m3/detik)
= outflow (debit pompa) pada langkah penelusuran ke j + 1 (m3/detik)
Δ t = selang waktu (detik)
Gate Pump
Gate pump merupakan sistem terdiri dari pintu air yang dilengkapi dengan pompa dimana
pompa terintegrasi dengan pintu. Pompa submersible dipasang pada pintu air yang berarti
bahwa fungsi pintu air dapat dikombinasikan dengan fungsi stasiun pompa Beberapa
keuntungan dari sistem gate pump adalah:
1. Kebutuhan lahan lebih sedikit karena tidak memerlukan rumah pompa
2. Operasi lebih sederhana karena pompa terintegrasi dengan pintu
3. Biaya perawatan lebih rendah karena instalasi yang lebih sederhana
METODOLOGI
Bagan alir metode pengembangan drainase sistem polder Sungai Sringin, dapat dilihat pada
Gambar 4.
MULAI A
Identifikasi Masalah Q Rencana Q Kapasitas HHWL
Pengumpulan Data
Pengembangan Drainase Sistem Polder
Hidrometri Topografi [Link] Topografi
Pasang SurutEksisting
[Link]
Kolam
Curah Hujan Pompa
DAS Drainase Saluran
Revetment
Analisis Data Gamb
ar
Analisis Hidrologi Analisis Hidrolika Analisis Pasang Surut RAB & RKS
HSS Snyder HEC RAS Ms. Excel Selesai
Gambar 4. Bagan Alir Metode Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin
286
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis hidrologi diperlukan untuk mengetahui karakteristik hidrologi dan menentukan
besarnya debit banjir rencana Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin Kota
Semarang. Adapun langkah-langkah untuk mendapatkan debit rencana adalah sebagai
berikut:
1. Menentukan daerah aliran sungai (DAS) beserta luasnya.
2. Menentukan curah hujan maksimum rata-rata kawasan.
DAS Sringin dipengaruhi dari 3 stasiun, yaitu stasiun BMG Maritim Semarang,
Sta. Karangroto, Sta. Pucang Gading. Penentuan hujan maksimum rata-rata
kawasan menggunakan metode polygon Thiessen.
3. Menentukan metode distribusi.
Pemilihan jenis sebaran atau metode distribusi yang digunakan adalah Log Person III.
4. Menentukan curah hujan periode ulang tertentu.
Curah hujan rencana untuk masing masing periode ulang dapat dilihat pada Tabel 1.
5. Menghitung Debit Banjir Rencana.
Analisis perhitungan debit banjir rencana dihitung dengan menggunakan Metode
Hidrograf Satuan Sintetis Snyder. Rekapitulasi hasil debit banjir rencana disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Curah Hujn dan Debit Banjir Rencana
Periode Ulang Curah
Debit
No (th) Hujan (m3/det)
(mm)
1 2 105,89 58,01
2 5 153,22 90,14
3 10 184,92 111,85
4 25 225,28 139,62
5 50 255,30 160,32
6 100 285,34 182,67
Dari hasil Tabel 1 dipilih debit banjir periode ulang 10 tahun (Q10) sebesar 111,85 m3/det.
Analisis hidrolika data penampang eksisting dengan menggunakan HEC-RAS bertujuan
untuk mengetahui kondisi dari Kawasan Sungai Sringin saat ini (eksisting). Hasil analisis
steady flow dari program HEC-RAS menunjukkan bahwa penampang eksisting saluran
yang ada tidak mampu menampung debit yang direncanakan. Pada semua penampang
melintang, air melimpas ke kanan dan kiri tanggul. Hal ini berarti perlu adanya
perencanaan ulang pada penampang saluran dan tanggul. Perencanaan ulang ini dilakukan
agar tanggul yang direncanakan mampu menahan air sungai agar tidak melimpas dan
menyebabkan banjir. Profil memanjang Sungai Sringin dapat dilihat pada Gambar 5.
PERENCANAAN TEKNIS
Perencanaan Dinding Penahan Tanah (DPT)
Perencanaan perkuatan dinding saluran meliputi perencanaan DPT (Dinding Penahan Tanah)
dengan pasangan batu kali untuk ketinggian maksimum dinding rencana 4,10 m. Dinding
penahan tanah berfungsi untuk menahan tanah dan mencegah timbulnya bahaya longsor.
287
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Gambar 5. Tampilan Hasil Analisis Steady Flow Profil Memanjang Saluran Kondisi
Eksisting
Baik akibat beban air hujan, berat tanah itu sendiri maupun akibat beban yang bekerja di
atasnya. Dinding penahan tanah yang direncanakan di Sungai Sringin ini menggunakan
tipe dinding penahan tanah pasangan batu kali. Gambar dinding penahan tanah dapat
dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Dinding Penahan Tanah Sungai Sringin
Perencanaan Kolam Retensi dan Kapasitas Pompa
Pendimensian kolam retensi Sungai Sringin direncanakan dengan analisa flood routing.
Selanjutnya hasil perhitungan penelusuran tampungan disajikan dalam bentuk grafik
hubungan Q inflow (Qi), yaitu nilai debit banjir periode ulang 10 tahun dan Q outflow
(Qo), yaitu nilai kapasitas pompa yang digunakan. Grafik hubungan Qi dan Qo ditampilkan
pada Gambar 7.
Dari hasil analisa flood routing di peroleh kapasitas volume kolam yang diperlukan adalah
622.826 m3 dengan kedalaman 3,5 meter maka direncanakan luas kolam tampungan 17,79
hektar. Kapasitas pompa 50 m3/detik. Pompa direncanakan sebanyak 8 buah, terdiri dari 4
buah pompa masing-masing berkapasitas 10 m3/detik dan 4 buah pompa lainnya masing-
masing berkapasitas 2,5 m3/detik.
288
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Qo m3/detik Qi m3/detik
Gambar 7. Grafik Hubungan Q Inflow dan Q Outflow
Penentuan Lokasi Kolam
Berdasarkan pertimbangan topografi serta faktor pembebasan lahan maka lokasi, maka
lokasi kolam direncanakan di muara Sungai Sringin dengan posisi garis kolam yang segaris
dengan penyaring terletak pada Sta. 420 dengan elevasi dasar sungainya adalah -2,86 m.
Sedangkan pintu pompa atau gate pump berada di Sta. 0 dengan elevasi dasar sungai
adalah -3.10 m. Layout rencana kolam dan pompa sistem drainase sungai Sringin dapat
dilihat pada Gambar 8.
Keterangan:
1. Revetment
2. Kolam Retensi
3. Dinding Penahan
Tanah Sungai Induk
4. Gate Pump
5. Penyaring/Screening
Gambar 8. Layout Rencana Sistem Drainase Sistem Polder Sungai Sringin
Elevasi Dasar Kolam dan Tinggi Tanggul Kolam
Elevasi muka air di kolam direncanakan sama dengan muka air sungai pada Sta. 0 yaitu
0.00, maka elevasi dasar kolam dapat diperoleh dari elevasi muka air kolam dikurangi
tinggi kolam. Elevasi dasar kolam adalah – 3,5 meter sedangkan elevasi tanggul kolam + 1
meter. Perencanaan desain tanggul kolam dapat dilihat pada Gambar 9.
Perencanaan Gate Pump
Jenis pompa pada Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin direncanakan
dengan sistem gate pump tipe pintu sliding gate. Gambar rencana desain gate pump dapat
dilihat pada Gambar 10.
289
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Gambar 9. Tanggul Kolam
Perencanaan Revetment/ Dinding Pantai
Revetment berfungsi untuk perlindungan terhadap pengaruh pasang air laut, gelombang dan
arus. Revetment yang direncanakan dengan batu pelindung armor. Gambar revetment dapat
dilihat pada Gambar 11.
Gambar 10 . Rencana Gate Pump Sliding Gate
RENCANA ANGGARAN BIAYA
Berdasarkan hasil rekapitulasi diketahui jumlah keseluruhan biaya yang dibutuhkan untuk
melaksanakan pekerjaan adalah Rp. [Link],00. (Dua ratus tiga puluh milyar dua
ratus sepuluh juta rupiah) dengan lama pekerjaan 22 minggu.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari Pengembangan Drainase Sistem Polder Sungai Sringin Kota Semarang
adalah sebagai berikut:
1. Penyebab utama terjadinya banjir kawasan Sungai Sringin khususnnya di kawasan
industri Terboyo dan Dukuh Ngilir Kecamatan Genuk adalah genangan dari pasang
surut air laut (rob) dan limpasan air hujan. Daerah hilir Sungai Sringin mempunyai
290
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
a. Tampak Atas Revetment
b. Potongan A-A Revetment
Gambar 11. Revetment
elevasi lahan lebih rendah dari muka air pasang mengakibatkan air sungai tidak
mampu mengalir secara gravitasi.
2. Penanganan banjir yang terjadi di Sungai Sringin dilakukan dengan pengembangan
drainase sistem polder.
3. Debit banjir rencana pada pengembangan drainase sistem polder Sungai Sringin
adalah debit periode ulang 10 tahun Q10 = 111,85 m³.
4. Untuk mengatasi banjir akibat penurunan kapasitas Sungai Sringin maka dilakukan
perbaikan penampang sungai. Rencana lebar sungai dari STA 0 sampai dengan STA
2.660 adalah 30 meter. Sedangkan rencana lebar sungai dari STA 2.660 sampai
dengan STA 9433,72 adalah 28 meter.
5. Perkuatan dinding sungai direncanakan menggunakan dinding penahan tanah
pasangan batu kali.
6. Luas kolam retensi direncanakan 17,79 hektar dengan kedalaman 3,5 meter.
7. Jenis pompa yang digunakan adalah gate pump berjumlah 8 buah terdiri dari 4 buah
masing-masing 10 m3/detik dan 4 buah masing-masing 2,5 m3/detik.
8. Gate pump yang digunakan adalah pintu tipe sliding gate berjumlah 6 buah pintu
dengan lebar masing-masing pintu 3 meter.
9. Dinding laut (revetment) direncanakan di garis pantai.
10. Total rencana anggaran biaya yang diperlukan dalam pengembangan drainase sistem
polder Sungai Sringin adalah Rp. 230.210.000,00 (Dua ratus tiga puluh milyar dua
ratus sepuluh juta rupiah) dengan lama pekerjaan 22 minggu.
SARAN
Saran untuk pengembangan drainase sistem polder Sungai Sringin Kota Semarang adalah :
1. Penggunaan drainase sistem polder menghabiskan biaya yang besar untuk investasi dan
operasionalnya, oleh karena itu perlu dilakukan pemeliharaan yang teratur dan sesuai
standar sehingga dapat bertahan sesuai dengan umur rencana dan hasilnya dapat berfungsi
secara optimal dalam penanggulangan banjir yang terjadi di kawasan Sungai Sringin.
291
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
2. Dinding penahan tanah menggunakan pasangan batu kali sudah tidak
direkomendasikan untuk daerah land subsidence. Sebaiknya pasangan batu kali diganti
dengan menggunakan sheetpile.
DAFTAR PUSTAKA
Al Falah, 2008. Bahan Kuliah Drainase Perkotaa, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro, Semarang.
Kamiana, I. M. 2011. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air . Garah Ilmu.
Yogyakarta
Semarang Dalam Angka 2008. Bappeda Kota Semarang dan Badan Pusat Statistik Kota
Semarang 2009.
292