Asuhan Keperawatan Cephalgia di RSUD
Asuhan Keperawatan Cephalgia di RSUD
S
DENGAN CHEPALGIA DI BANGSAL MAWAR
RSUD MUNTILAN
ENI SULISTIYOWATI
NPM: 22.0604.0093
A. Konsep cephalgia
1. Pengertian Cephalgia
Cephalgia adalah istilah medis dari nyeri kepala atau sakit kepala. Cephalgia berasal
dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu cephalo dan algos. Cephalgia
memiliki arti kepala, sedangkan logos memiliki arti nyeri. Cephalgia dapat menimbulkan
gangguan pada pola tidur, pola makan, menyebabkan depresi sampai kecemasan pada
penderitaannya (Hidayati, 2016).
Cephalgia atau nyeri kepala merupakan suatu penyakit yang sering atau pernah
dialami oleh masyarakat. Penyakit ini menyerang pada segala umur. Namun penyakit ini
bisa disembuhkan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan periksa ke dokter
(Kurniawan, 2019).
Nyeri kepala merupakan perasaan sakit atau nyeri, termasuk rasa tidak nyaman yang
menyerang seluruh kepala dengan batas dari bawah dagu sampai belakang kepala.
Gangguan rasa nyaman ini dapat berlangsung kurang dari 1 jam atau bahkan selama
beberapa hari, serta dapat muncul secara tiba-tiba atau perlahan-lahan.
Berdasarkan penyebab dapat digolongkan menjadi nyeri kepala primer dan nyeri
kepala sekunder. Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang tidak jelas terdapat
kelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya. Sedangkan nyeri kepala
sekunder adalah nyeri kepala yang jelas terhadap kelainan anatomi atau kelainan struktur.
2. Klasifikasi Cephalgia
Tahun 2013, International Headache Society merilis sistem klasifikasi terbarunya
untuk nyeri kepala. Ada tiga kategori nyeri kepala menurut IHS berdasarkan sumber
nyeri:
a. Nyeri kepala primer
Yang termasuk tipe nyeri kepala primer, yaitu: tension, migrain dan cluster. Nyeri
kepala primer dapat mempengaruhi kualitas hidup. Beberapa orang mungkin dapat
mengalami pemulihan yang segera sementara sedangkan orang lain dapat terus berulang
dalam waktu yang lama. Walaupun nyeri kepala dalam tipe ini sering dianggap ringan,
namun terkadang keluhan-keluhan ini dapat berkaitan dengan gejala yang menyerupai
gejala stroke atau penyakit serius lainnya.
b. Nyeri kepala sekunder
Yang termasuk tipe nyeri kepala sekunder, yaitu:
1) Nyeri kepala post-konkusi (Post-concussion headaches).
2) Nyeri kepala yang disebabkan oleh kondisi infeksi seperti meningitis. Infeksi
juga dapat berasal dari bagian tubuh lain selain kepala, seperti yang terjadi
pada kasus sinusitis, flu, infeksi telinga, serta infeksi pada gigi.
3) Nyeri kepala rebound. Nyeri kepala ini disebabkan karena terlalu banyak
mengkonsumsi obat pereda sakit.
4) Nyeri kepala akibat penambahan massa dalam kepala misal tumor otak, dan
perdarahan dalam otak. Orang yang meminum terlalu banyak alkohol
biasanya bangun dengan nyeri kepala. Tipe ini termasuk ke dalam kategori
nyeri kepala sekunder.
c. Neuralgia cranialis, nyeri fasialis dan nyeri kepala lain.
Neuralgia artinya nyeri saraf. Neuralgia cranialis menandakan adanya inflamasi pada
salah satu dari dua belas saraf kranialis yang berasal dari otak. Salah satu contoh yang
paling sering adalah trigeminal neuralgia yang melibatkan nervus kranial V (saraf
trigeminal). Nyeri timbul ketika saraf mengalami radang.
3. Etiologi
Penyebab nyeri kepala banyak sekali, meskipun kebanyakan adalah kondisi yang
tidak berbahaya (terutama bila kronik dan kambuhan), namun nyeri kepala yang timbul
pertama kali dan akut awas ini adalah manifestasi awal dari penyakit sistemik atau suatu
proses intrakranial yang memerlukan evaluasi sistemik yang lebih teliti (Bahrudin, 2013).
Menurut Papdi (2012) sakit kepala sering berkembang dari sejumlah faktor resiko
yang umum yaitu:
a. Penggunaan obat yang berlebihan dapat memicu sakit kepala bertambah
parah setiap diobati.
b. Stres adalah pemicu yang paling umum menyebabkan sakit kepala. Stres
dapat menyebabkan pembuluh darah dibagian otak mengalami penegangan
sehingga menyebabkan sakit kepala.
c. Masalah tidur merupakan salah satu faktor terjadinya sakit kepala, karena
saat tidur seluruh anggota tubuh termasuk otak dapat beristirahat.
d. Kegiatan berlebihan Kegiatan yang berlebihan dapat mengakibatkan
pembuluh darah di kepala dan leher mengalami pembengkakan, sehingga
efek dari pembengkakan dan terasa nyeri.
e. Rokok Kandungan didalam rokok yaitu nikotin yang dapat
mengakibatkan pembuluh darah menyempit, sehingga menyebabkan sakit
kepala.
4. Manifestasi Klinis
Cephalgia biasanya ditandai dengan nyeri kepala ringan maupun berat, nyeri seperti
diikat, tidak berdenyut, nyeri tidak terpusat pada satu titik, terjadi secara spontan, vertigo,
dan adanya gangguan konsentrasi (Kusuma, 2012).
Gejala dan tanda nyeri menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2017) adalah sebagai
berikut:
a. Gejala dan Tanda Mayor
1) Subjektif : mengeluh nyeri
2) Objektif : tampak meringis, bersikap protektif (mis. waspada, posisi
menghindari nyeri), gelisah, frekuensi nadi meningkat, dan sulit
tidur.
b. Gejala dan Tanda Minor
1) Subjektif : tidak tersedia
2) Objektif : tekanan darah meningkat, pola napas berubah, nafsu makan berubah,
proses berfikir terganggu, menarik diri, berfokus pada diri sendiri, dan
diaphoresis.
5. Patofisiologi
Mekanisme nyeri dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan jaringan dalam
saraf sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf
bermielin A delta (mentransmisikan nyeri yang tajam dan terlokalisasi) dan saraf
bermielin C (mentransmisikan nyeri tumpul dan menyakitkan) ke kornus dorsalis medulla
spinalis, thalamus, dan korteks serebri. Impuls listrik tersebut dipersepsikan dan
didiskriminasi sebagai kualitas dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasi
sepanjang saraf perifer dan disusun saraf pusat. Rangsangan nyeri dapat berupa
rangsangan mekanik, suhu (panas dan dingin), agen kimia, trauma/inflamasi (Iqbal
Mubarak,M 2015).
Efek yang ditimbulkan dapat berupa pasien mengeluh nyeri, tampak meringis,
bersikap protektif terhadap lokasi nyeri, menimbulkan kegelisahan, frekuensi nadi
meningkat, pasien mengalami kesulitan tidur, tekanan darah meningkat, pola nafas
berubah, nafsu makan berubah, menarik diri, berfokus pada diri sendiri, dalam kasus
tertentu pasien bisa mengalami perubahan proses berfikir dan diaphoresis (PPNI, 2016).
1. Pathway
Trauma Non Trauma
Beban
Tumpul Tajam
Stress
Intrakranial
Ekstrakarnial
Hormon
Terputusnya Jaringan Otak Rusak kortisol ↑
kontuinitas jaringan (Kontusio Laserasi)
kulit otot dan vaskuler
Faso kontriksi
Perubahan pemulih darah
autoregulasi otak
Perdarahan Gangguan Suplai
darah
Hematoma
Kejang
Gang. Pola
Penekanan
Perubahan Tidur
jaringan otak
sirkulasi CSS
Ketidak
adekuatan
Hipoksia
Peningkatan suplai darah
Gang.
Kesadaran Resiko Jatuh
2) Objektif: tekanan darah meningkat, pola nafas berubah, nafsu makan berubah, proses
berpikir terganggu, menarik diri, berfokus pada diri sendiri, diaphoresis
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon Pasien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Diagnosa
keperawatan dalam penelitian ini yaitu diagnosa aktual. Diagnosa aktual terdiri dari tiga
komponen yaitu masalah (problem), penyebab (etiologi), tanda (sign), dan gejala
(symptom) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Masalah (problem) merupakan label
diagnosa yang menggambarkan inti dari respons pasien terhadap kondisi kesehatan atau
proses kehidupannya. Label diagnosis terdiri dari deskriptor atau penjelas dan fokus
diagnostik. Nyeri merupakan deskriptor, sedangkan akut merupakan fokus diagnostik.
Penyebab (etiologi) merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status
kesehatan. Etiologi dapat mencangkup empat kategori yaitu fisiologis, biologis atau
psikologis, efek terapi/tindakan, situasional(lingkungan atau personal), dan maturasional.
Etiologi dari nyeri akut terdiri dari agen pencedera fisiologis, agen pencemaran kimiawi,
agen cedera fisik(prosedur operasi). Tanda(sign) dan gejala (sign and symptom). Tanda
merupakan data objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan prosedur diagnostik, sedangkan gejala merupakan data subjektif yang
diperoleh dari hasil anamnesis. Tanda dan gejala dikelompokkan menjadi dua yaitu
mayor dan minor. Tanda dan gejala pada nyeri akut terdiri dari tanda mayor yaitu
mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif([Link], posisi menghindari
nyeri), gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur. Tanda dan gejala minor yaitu,
tekanan darah meningkat, pola napas berubah, nafsu makan berubah, proses berpikir
terganggu, menarik diri, berfokus pada diri sendiri, dan diaphoresis.
Proses penegakan diagnosis atau mendiagnosis merupakan suatu proses sistematis
yang terdiri atas tiga tahap yaitu analisis data, identifikasi masalah, dan perumusan
diagnosis. Metode penulisan pada diagnosa aktual terdiri dari masalah, penyebab, dan
tanda/gejala. Masalah berhubungan dengan penyebab dibuktikan dengan tanda/gejala
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Adapun diagnosa keperawatan yang akan diteliti
pada penelitian ini yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis:
proses inflamasi ditandai dengan pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap
protektif (misal, waspada, menghindari nyeri), gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit
tidur, tekanan darah meningkat, pola napas berubah.
Diagnosis yang muncul pada pasien cephalgia menurut Soemarno (2009) adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
2. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
3. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (mis. Stres,
keengganan untuk makan).
4. Resiko perfusi serebral tidak efektif ditandai dengan cedera kepala.
5. Resiko jatuh ditandai dengan kejang.
3. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan adalah fase proses keperawatan yang penuh pertimbangan dan
sistematis dan mencangkup pembuatan keputusan dan penyelesaian masalah, setiap
tindakan berdasarkan penilaian klinis dan pengetahuan, yang perawat lakukan untuk
meningkatkan hasil pada pasien (Kozier et al, 2010). Intervensi keperawatan terdiri dari
intervensi utama dan pendukung. Intervensi utama dari diagnosa keperawatan nyeri akut
adalah manajemen nyeri dan pemberian analgesik. Intervensi pendukung diantaranya
edukasi efek samping obat, edukasi manajemen nyeri, edukasi teknik nafas dalam
pemijatan masase, latihan pernapasan dan teknik distraksi (Tim Pokja SIKI DPP PPNI,
2018).
Luaran (outcome) keperawatan merupakan aspek-aspek yang dapat diobservasi dan
diukur meliputi kondisi, perilaku, atau persepsi pasien keluarga atau komunitas sebagai
respon terhadap intervensi keperawatan. Luaran keperawatan menunjukkan status
diagnosis keperawatan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Hasil akhir intervensi
keperawatan yang terdiri dari indikator-indikator atau kriteria hasil pemulihan masalah.
Terdapat dua jenis luaran keperawatan yaitu luaran positif (perlu ditingkatkan) dan luaran
negatif (perlu diturunkan) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2018).
Komponen luaran keperawatan diantaranya label (nama luaran keperawatan berupa
kata-kata kunci informasi luaran), ekspektasi (penilaian terhadap hasil yang diharapkan,
meningkat, menurun, atau membaik), kriteria hasil (karakteristik pasien yang dapat
diamati atau diukur, dijadikan sebagai dasar untuk menilai pencapaian hasil intervensi,
menggunakan skor 1-3 pada pendokumentasian computer-based). Ekspektasi luaran
keperawatan terdiri dari ekspektasi meningkat yang artinya bertambah baik dalam
ukuran, jumlah, maupun derajat atau tingkatan, menurun artinya berkurang, baik dalam
ukuran, jumlah maupun derajat atau tingkatan, membaik artinya menimbulkan efek yang
lebih baik, adekuat, atau efektif (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2018).
SDKI SLKI SIKI
Nyeri akut b.d Setelah diberikan Manajemen Nyeri Observasi
agen pencedera asuhan keperawatan ▪ lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
fisiologis selama 2x24 jam nyeri
diharapkan nyeri ▪ Identifikasi skala nyeri
menurun dengan ▪ Identifikasi respon nyeri non verbal
kriteria hasil: ▪ Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan
a. Keluhan nyeri nyeri
menurun
Andarmoyo, S. (2013). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Jogjakarta: ARRuzz Media.
Alimul, A. and H. (2012). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan. (D. Sjabana, Ed.) (1st ed.). Salemba Medika.
[Link]
Fudori, A., Innayati, A., & Immawati, I. (2021). PENERAPAN RELAKSASI OTOT
PROGRESIF UNTUK MENGATASI MASALAH KEPERAWATAN NYERI
AKUT PADA PASIEN
Hidayati, H. B. (2016b). Pendekatan Klinisi dalam Manajemen Nyeri Kepala. Mnj, 2(2), 89–
96.
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, shirlee J. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik (7th ed.). Jakarta: EGC
Kozier, Erb, Berman, & Snyder. (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses & Praktik. (7 ed., Vol. 1) Jakarta : EGC.
McCaffery M. (1999). Nursing practice theories related to cognition, bodily pain, and man-
environment interactions. Diunduh tanggal 14 Maret 2021 dari
[Link]
Mubarak, Wahit Iqbal., Lilis Indrawati., & Joko Susanto. (2015). Buku Ajar Ilmu
Keperawatan Dasar (hlm. 3-24). Jakarta: Salemba Medika.
Nurhikmah, N. EFEKTIFITAS TERAPI BEKAM/HIJAMAH DALAM MENURUNKAN
NYERI KEPALA (CEPHALGIA).
Nyeri Kepala: Kenali dan Cegah. (2018). (n.p.): [Link].
Papdi, E. (2012). Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in internal medicine).
Satyanegara. (2011). CERITA LUCU DARI PROFESOR BEDAH SYARAF. JAKARTA:
PT. GRAMEDIA PUSTEKA UTAMA
Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indoensia Edisi I.
Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawata Nasional Indonesia
RESUME KASUS
PENGKAJIAN 13 DOMAIN NANDA
A. DATA UMUM
1. Nama Inisial Klien : Ny. S
2. Umur : 45 th
3. Alamat : pakis
4. Agama : Islam
5. Tanggal Masuk RS : 16/2/2023 jam15.00
6. Nomor Rekam Medis : 327xxx
7. Bangsal : Mawar
Pasien mengatakan tidak pernah olahraga, dulu sering minum teh pahit ,
gorengangan dan makanan bersantan .
d. Faktor sosial ekonomi
Pekerjaan : IRT
Saat ini pasien menggunakan jasa kesehatan BPJS.
e. Pengobatan sekarang
2. Nutrition
a. Antropometri
1) BB biasanya : 54 kg BB sekarang : 52 kg
Urine : 200 cc
IWL : (15xBB/24 jam) = 15x52/24 jam = 32,5cc/ jam 130 cc dalam 4 jam
k. Penilaian status cairan (balance cairan)
a. Sistem urinari
1) Pola eliminasi
Pasien belum BAB sejak masuk rumahsakit. Tidak merasa ingin BAB ,
padahal selalu makan , makanan dari rumah sakit. Klien mengatakan,
saatingin bab, tidak bisa mengejan , padahal rasa ingin bab tinggi.
2) Konstipasi dan faktor penyebab konstipasi
Tirah baring.
c. Sistem integument
Kulit tampak kerring , turgor kulit kurang elastis ,CRT 3 detik , akral
dingin
4. Activity/rest
a. Istirahat/tidur
1) Jam tidur : pasien mengatakan tidur 6-7 jam/hari, tapi saat sakit, klien
sulit beristirahat, karena banyak pengunjung.
b. Aktivitas
1) Pekerjaan : IRT
3) ADL
- Makan : Dibantu
d. Pulmonary respon
1) Penyakit sistem pernapasan : Tidak ada
5) Pemeriksaan paru-paru
- Perkusi : Sonor
- Auskultasi : Vesikuler
5. Percepception/cogintion
a. Orientasi/kognisi
1) Tingkat pendidikan : SD
4) Orientasi : Sesuai
b. Sensasi persepsi
- Pengindraan : Normal
c. Comunication
Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia dan jawa
Kesulitan berkomunikasi : Tidak ada kesulitan
6. Self Perception
1) Perasaan cemas/takut : pasien tidak cemas.
2) Perasaan putus asa/ kehilangan : Tidak ada
3) Keinginan untuk mencederai : Tidak ada
4) Adanya luka/cacat : tidak ada
7. Role relationship
Peranan hubungan
1) Status hubungan : Seorang ibu
2) Orang terdekat : suami
3) Perubahan konflik/peran : Tidak terkaji
4) Perubahan gaya hidup : Saat ini pasien tidak bisa bekerja
5) Interaksi dengan orang lain : Klien mampu berinteraksi dengan baik,
dibuktikan dengan banyak yang membesuk dari tetangg dan sanak saudara .
8. Sexuality
1) Masalah/disfungsi seksual : Tidak ada masalah disfungsi seksual yang
dialami klien
2) Periode menstruasi : Menopause
3) Metode KB yang digunakan : IUD , skrg sudah dilepas
9. Coping/Stress Tolerance
1) Rasa sedih/ takut/ cemas : Pasien mengatakan tidak ada
cemas, dan menerima sakit yang dideritanya.
2) Kemampuan untuk mengatasi : klien melakukan konsultasi
dengan nakes.
3) Perilaku yang menampakkan cemas : tidak ada
10. Life Principle
1) Kegiatan keagamaan yang diikuti : Sholat jamaah dan mengikuti pengajian
2) Kemampuan untuk berpartisipasi : Penuh
3) Kegiatan kebudayaan : Paguyuban desa
4) Kemampuan memecahkan masalah : Musyawarah Nilai
5) kepercayaan : Sembuh karena ijin Allah
11. Safety/Protection
1) Alergi : Tidak ada
2) Penyakit autoimune : Tidak ada
3) Tanda infeksi : Tidak ada
4) Gangguan thermoregulasi : Tidak ada
5) Gangguan/resiko : gula darah tidak terkontrol
12. Comfort
a. Kenyamanan/nyeri (PQRST)
4) Scala :1
b. Rasa tidak nyaman lainnya : pasien tidak nyaman , karena tidak bisa
jalan2 hanya tirah baring
c. Gejala yang menyertai : tidak ada
13. Growth/development
C. DATA LABORATORIUM
Tanggal 20/02/2023
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
Hematologi rutin
Leukosit 11.26 Ribu/uL 4.79 – 11.34
Eritrosit 5.64 10*6/uL 4.11 – 5.55
Hemoglobin 18.0 Gr/dl 10.85 – 14.9
Hematokrit 41.0 % 34 – 45.1
Trombosit 235 Ribu/uL 216 – 541
MPV 7.7 fL 7.2 – 11.1
Index Eritrosit
RDW – CW 11.7 % 11.3 – 14.6
MCV 87.9 Fl 71.8 – 92
MCH 30.0 Pg 24.2 – 31.2
MCHC 34.2 g/dl 32 – 36
Hitung Jenis
Neutrofil 59.6 % 42.5 – 71
Limfosit 28.5 % 20.4 – 44.6
Monosit 8.8 % 3.6 – 9.9
Eosinofil 3 % 0.7 – 5.4
Basofil 1.1 % 0–1
Golongan darah B
Rhesus Positif
HEMOSTASIS
Masa pembekuan (CT) 5.0 menit 2.0 - 6.0
Masa Pendarahan (BT) 3.0 menit 1.0 - 3.0
KIMIA KLINIK
Gula darah sewaktu 79 Mg/dl 70-180
ELEKTROLIT
Na 128 Mmol/L 135-147
K 4.7 Mmol/L 3.5-5
Cl 98 Mmol/L 95-105
Hba 1 C 7.76 4.3- 7.7
Tgl 17/02/2023
Na 131 Mmol/L 135-147
K 3.7 Mmol/L 3.5-5
Cl 105 Mmol/L 95-105
Tgl 18/02/2023
Na 132 Mmol/L 135-147
K 3.2 Mmol/L 3.5-5
Cl 107 Mmol/L 95-105
GDS 152 Mg/dl
D. ASUHAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama Inisial Klien : Ny.S Diagnosa Medis : cephalgia berat
No. Rekam Medis : 372XXX Bangsal : mawar
No Tanggal dan Symptom Etiologi Problem Prioritas
Jam
1. 20/2/2023 DS : pasien mengatakan kepala Hiperglikemi , Perfusi 1
15.30 sebelah kiri masih pusing. kurang perifer tidak
Parestesia ( kelemahan anggota terpaparnya efektif
tubuh bagian kiri ) informasi
DO : tentang faktor
- CRT 3 pemberat
- Akral dingin
- Warna kulit pucat
- Turgor kulit menurun , tidak
elastis .
5 4
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
2. Ketidak stabilan gula darah b.d hiperglikemia dibuktikan dengan lemah dan 2
hiperglikemia (D.0027)
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Gangguan neuromusculer 3
dibuktikan dengan pasien mengeluh sulit menggerakan ekstremitas , rom menurutn
, kekuatan otot menurun (D.0054)
F. RENCANA INTERVENSI
Nama Inisial Klien : Ny.S Diagnosa Medis : cephalgia berat
No. Rekam Medis : 372XXX Bangsal : mawar
No Tanggal/ Diagnosa
SIKI Rasional
Jam Keperawatan SLKI
1. 20/2/2023 Perfusi perifer Setelah dilakukan Observasi
tidak efektif
16.30 tindakan keperawatan Periksa sirkulasi perifer (mis: nadi perifer, edema, pengisian
b.d Mengetahui kondisi sirkulasi
Hiperglikemi , 3x 24 Perfusi perifer kapiler, warna, suhu, ankle-brachial index)
kurang pasien saat ini
meningkat dengan Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi (mis: diabetes,
terpaparnya
informasi kriteria hasil : perokok, orang tua, hipertensi, dan kadar kolesterol tinggi)
tentang faktor
- Warna kulit pucat Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada
pemberat
dibuktikan menurun ekstremitas
dengan dengan
- Pengisian kapiler Terapeutik
CRT 3 , Akral
dingin, Warna membaik Hindari pemasangan infus, atau pengambilan darah di area
kulit pucat ,
- Akral membaik keterbatasan perfusi
Turgor kulit
menurun , - Turgor kulit Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan
tidak elastis ,
membaik keterbatasan perfusi
parestesia
Hindari penekanan dan pemasangan tourniquet pada area
yang cidera
Lakukan pencegahan infeksi
Lakukan perawatan kaki dan kuku
Lakukan hidrasi
Edukasi
Anjurkan berhenti merokok
Anjurkan berolahraga rutin
Anjurkan mengecek air mandi untuk menghindari kulit
terbakar
Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu
Anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah secara teratur
Anjurkan menghindari penggunaan obat penyekat beta
Anjurkan melakukan perawatan kulit yang tepat (mis:
melembabkan kulit kering pada kaki)
Anjurkan program rehabilitasi vaskular
Ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi (mis:
rendah lemak jenuh, minyak ikan omega 3)
Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan
(mis: rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak
sembuh, hilangnya rasa).
.
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
17.10 mengjarkan pengelolaan diabetes (mis: penggunaan insulin, obat DO : Memberikan humalog 10 iu
Advis dokter infus digantikan asering 20
oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan
tpm .
professional kesehatan
melakukan kolaborasi pemberian insulin,
melakukan kolaborasi pemberian cairan IV,
3 20/2/2023 .Gangguan mengidentifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya DO : kelemahan otot ekstremitas kiri
mobilitas fisik
16.15 mengidentifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan atas dan bawah. Tangan kiri mampu
berhubungan
dengan mengangkat tetapi tidak mampu
Gangguan
menahan tahanan sedang(3) . Kaki kiri
neuromusculer
dibuktikan mampu melakukan gerakan normal tapi
dengan pasien
tidak bisa melawan tahanan maksimal
mengeluh sulit
menggerakan dari pemeriksa ( 4)
ekstremitas ,
17.45 Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi .DO : ku pucat , tirah baring (+) .
rom
menurutn ,
kekuatan otot
18.35 memfasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis: pagar DS : Klien mengatakan berpegangan
menurun
tempat tidur) dan hand rail saat ingin miring kanan dengan
memfasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu pelan .
melibatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan DO : Tampak keluarga membantu
pergerakan aktifitas klien.
18.45 menjelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi DS : Klien mengatakan sudah belajar
menganjurkan melakukan mobilisasi dini duduk, tapi masih pusing.
19.20 Mengajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis: DO: Klien tampak berusaha untuk duduk
duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat dengan menaikkan bed bagian kepala.
tidur ke kursi)
1. 21/2/2023
Perfusi perifer
16.00 Melakukan pemeriksaan sirkulasi perifer (mis: nadi perifer, edema, DO: nadi 88x/ menit , warna kulit
tidak efektif
b.d pengisian kapiler, warna, suhu, ankle-brachial index) pucat , CRT 2 detik
Hiperglikemi ,
16.10 Memonitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas DO : ekstremitas tidak bengkak . leah
kurang
terpaparnya saat digerakan
informasi
16.15 pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan DO : TD : 117/75 mmHg
tentang faktor
pemberat perfusi. Posisi melakukan pemeriksaan TD ,di tangan kanan
dibuktikan
16.30 mengevaluasi pelaksanaan pencegahan infeksi dengan cara mencuci DO : klien belum bisa melakukan
dengan
dengan CRT 3 tangan dengan benar mencucitangan dengan urutan yang
, Akral dingin,
benar
Warna kulit
16.35 pucat , Turgor menganjurkan ulang program berolahraga rutin DS : Klien mengatakan rencana olahraga
kulit
mengajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi (mis: rendah rutin dan makan makanan sesuai yang
menurun ,
tidak elastis , lemak jenuh, minyak ikan omega 3) dianjurkan ahli gizi .
parestesia
16.40 menginformasikan ulang tanda dan gejala darurat yang harus DO : Klien tampak banyak bertanya
dilaporkan (mis: rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak mengenai tanda2 stroke. Karena kaki
sembuh, hilangnya rasa). tangan kiri sudah tidak bisa normal
seperti dahulu
2. 21/2/2023 Ketidak .
stabilan gula
16.40 Memonitor kadar glukosa darah
darah b.d DO : GD 2 jam pp 150
hiperglikemia
dibuktikan
Memonitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis: polyuria,
16.45 dengan lemah polydipsia, polifagia, kelemahan, malaise, pandangan kabur, sakit DS : klien mengatakan saat ini lebih
dan fokus ke belajar mobilisasi. Kesemutan
kepala)
hiperglikemia ekstremitas berkurang . sakit kepala
(D.0027) berkurang daripada kemarin
16.50
Memotivasi ulang untuk diberikan asupan cairan oral sesuai saran
DS: Klien mengatakan sudah makan
ahli gizi sesuai anjuran ahli gizi.
16.55
menganjurkan ulang kepatuhan terhadap diet dan olahraga
DS : Klien sudah mendapat paduan gizi
untuk DM berupa leaflet yang diberikan
oleh ahli gizi .
3 21/2/2023 .Gangguan mengidentifikasi ulang adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya DO : kelemahan masih yaitu otot
mobilitas fisik
16.15 mengidentifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan dari hari ekstremitas kiri atas dan bawah. Tangan
berhubungan
dengan sebelumnya kiri mampu mengangkat tetapi tidak
Gangguan
mampu menahan tahanan sedang(3) .
neuromusculer
dibuktikan Kaki kiri mampu melakukan gerakan
dengan pasien
normal tapi tidak bisa melawan tahanan
mengeluh sulit
menggerakan maksimal dari pemeriksa ( 4)
ekstremitas ,
17.45
rom
menurutn , Monitor kembali kondisi umum selama melakukan mobilisasi dan .DS: Klien sudah mulai mobilisasi duduk
kekuatan otot
memfasilitasi melakukan pergerakan , tetapi msih pusing.
menurun
18.35 melibatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan DO : Perawat membantu cara mobilisasi
pergerakan duduk dengan benar kemudian
berdiri .keluarga tampak membantu
aktifitas klien .
18.45 menganjurkan ulang melakukan mobilisasi dini DS : Klien mengatakan sudah belajar
Mengajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis: duduk mandiri tanpa sandaran
19.20 duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat DO: Klien tampak berusaha untuk
tidur ke kursi) berdiri sebelum jalan
EVALUASI KEPERAWATAN
1. 21/2/2023 Perfusi perifer tidak efektif b.d Hiperglikemi , S : pasien mengatakan kepala sebelah kiri masih pusing. Parestesia
19.00 kurang terpaparnya informasi tentang faktor ( kelemahan anggota tubuh bagian kiri )
pemberat dibuktikan dengan dengan CRT 3 , Akral O :
dingin, Warna kulit pucat , Turgor kulit menurun , CRT 3, Akral dingin, Warna kulit pucat , TD : 117/75 mmHg, nadi 88x/ Eni
tidak elastis , parestesia menit , warna kulit pucat , CRT 2 detik masih lelah saat digerakan
ekstremitas tidak bengkak .
A:
Perfusi perifer tidak efektif teratasi sebagian
P : Lanjut planning
lakukan pemeriksaan sirkulasi perifer (mis: nadi perifer, edema,
pengisian kapiler, warna, suhu, ankle-brachial index)
monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
ukur tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan perfusi.
Posisi melakukan pemeriksaan TD ,di tangan kanan
evaluasi pelaksanaan pencegahan infeksi dengan cara mencuci tangan
dengan benar
anjurkan ulang program berolahraga rutin
ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi (mis: rendah lemak
jenuh, minyak ikan omega 3)
informasikan ulang tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan
(mis: rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa).
2 21/2/2023 Ketidak stabilan gula darah b.d hiperglikemia S:
klien mengatakan saat ini lebih fokus ke belajar mobilisasi. Kesemutan
19.00 dibuktikan dengan lemah dan hiperglikemia
ekstremitas berkurang . sakit kepala berkurang daripada, Klien
mengatakan sudah makan sesuai anjuran ahli gizi.
O:
GD 2 jam pp 150 , pemberian diit DM oleh ahli gizi , injeksi humalog eni
10 iu masuk . infus asering 20 tpm
.
A: Masalah ketidakstabilan glukosa darah teratasi sebagian
P : Lanjut planing
Monitor kadar glukosa darah
Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis: polyuria, polydipsia,
polifagia, kelemahan, malaise, pandangan kabur, sakit kepala)
Motivasi ulang untuk diberikan asupan cairan oral sesuai saran ahli
gizi
anjurkan ulang kepatuhan terhadap diet dan olahraga
ajarkan pengelolaan diabetes (mis: penggunaan insulin, obat oral,
monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan
professional kesehatan
lakukan kolaborasi pemberian insulin
injeksi sansulin 1x10 iu ( malam)
humalog 3x10 iu
lakukan kolaborasi pemberian cairan IV,
3 21/2/2023 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan S:
19.00 Gangguan neuromusculer dibuktikan dengan pasien Klien mengatakan berpegangan hand rail saat ingin miring kanan
mengeluh sulit menggerakan ekstremitas , rom dengan pelan . Klien mengatakan sudah belajar duduk , kemudian jalan .
menurutn , kekuatan otot menurun O :
kelemahan otot ekstremitas kiri atas dan bawah. Tangan kiri mampu Eni
mengangkat tetapi tidak mampu menahan tahanan sedang(3) . Kaki kiri
mampu melakukan gerakan normal tapi tidak bisa melawan tahanan
maksimal dari pemeriksa ( 4) , lebih banyak tirah baring (+) . : Klien
tampak berusaha untuk duduk dengan menaikkan bed bagian kepala.
A: Gangguan mobiliotas fisik teratsi sebagian
P:
Lanjut intervensi :
identifikasi ulang adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan dari hari sebelumnya
Monitor kembali kondisi umum selama melakukan mobilisasi dan
fasilitasi melakukan pergerakan
libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan
pergerakan
anjurkan ulang melakukan mobilisasi dini
ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis: duduk di
tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke
kursi)