0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan21 halaman

Visi Misi dan Akreditasi FK UNSRI

Visi FK UNSRI menjadi fakultas kedokteran terkemuka di Asia Tenggara dengan pendidikan, penelitian dan pelayanan berbasis kesehatan internasional pada 2025. FK UNSRI berkomitmen menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pelayanan kesehatan berstandar internasional.

Diunggah oleh

Dimas Djiwa D
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan21 halaman

Visi Misi dan Akreditasi FK UNSRI

Visi FK UNSRI menjadi fakultas kedokteran terkemuka di Asia Tenggara dengan pendidikan, penelitian dan pelayanan berbasis kesehatan internasional pada 2025. FK UNSRI berkomitmen menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pelayanan kesehatan berstandar internasional.

Diunggah oleh

Dimas Djiwa D
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Visi Misi FK UNSRI

Visi:
Menjadi Fakultas Kedokteran Terkemuka di Asia Tenggara yang Berbasis Pendidikan,
Penelitian dan Pelayanan di Bidang Ilmu Kedokteran dan Kesehatan pada Tahun 2025.

Misi:
1) Menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan di bidang Ilmu Kedokteran
dan Kesehatan sesuai dengan standar internasional berbasis kearifan lokal
2) Menyelenggarakan dan mengembangkan penelitian di bidang Ilmu Kedokteran
dan Kesehatan yang berkualitas sehingga dapat dikenali dan diaplikasikan dalam
pengembangan ilmu di tingkat nasional dan internasional
3) Menyelenggarakan dan mengembangkan pengabdian dan pelayanan kepada
masyarakat sebagai pusat rujukan di bidang Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
4) Menyelenggarakan dan mengembangkan mutu sistem manajemen dan tata kelola
yang efisien dan berkualitas

Akreditasi FK UNSRI
Terakreditasi A
Rektor Universitas Sriwijaya : Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE
Nama Dekanat FK
Dekan : dr. Syarif Husin M.S
Wakil dekan I : Bidang Akademik [Link]. Irfanuddin, SpKO, [Link]

Wakil Dekan II : Bidang Umum dan Keuangan [Link]. H. Muhammad Irsan Saleh
[Link]
Wakil Dekan III : Bidang Kemahasiswaan dan Alumni [Link] Indah Lestari,
Sp.A (K)
Visi Misi RSMH
Visi:
Rumah Sakit Pendidikan dan Rujukan Nasional yang Mandiri dan Terpercaya.

Misi:
1) Menyelenggarakan standarisasi Pelayanan , Pendidikan, dan Penelitian.
2) Meningkatkan SDM yang Unggul dan Berbudaya Kerja.
3) Menyelenggarakan Produktifitas dan Efisiensi
4) Menjalin Kemitraan dengan Jaringan Bisnis Rumah Sakit secara Komprehensif
dan Berkelanjutan.

Motto RSMH : kepuasan dan kesembuhan anda merupakan kebahagiaan kami


Akreditasi RSMH
 Akreditasi Nasional Paripurna oleh SNARS tahun 2015
 JCI (joint commission internasional ) Januari tahun 2017

Nama Direksi RSMH


Direktur Utama : dr. Bambang Eko Sunaryanto, [Link], MARS
Direktur Medik dan Keperawatan: dr. Hj. Zubaedah, Sp.P, MARS
Direktur Keuangan & Barang Milik Negara: Bp. Ekwanto, SE, Ak, MM
Direktur Umum, SDM, dan Pendidikan : dr. Msy. Rita Dewi Mustika, Sp.A (K),
MARS
Direktur Perencanaan, Organisasi dan Umum : Drs. Amrizal, [Link], MARS, PhD
Ketua Komite Medik : dr. H. Rizal Sanif, SpOG (K), MARS, PhD
Visi Misi Neurologi FK UNSRI
Visi : Pusat Rujukan dan Pendidikan Penyakit saraf yang handal dan bermutu di
Sumatera bagian Selatan

Misi :

 Menjadi Pusat Pendidikan yang berkualitas, sehingga lulusan dapat bersaing di


era globalisasi
 Menyelengarakan penelitian Neurosains, klinis dan komunitas berkualitas
nasional dalam upaya pengembangan ilmu dan teknologi kedokteran
 Memberikan pelayanan medik penyakit saraf yang cepat, tepat, berkualitas dan
memuaskan di RSMH dan RS. Jejaring
 menyelengarakan upaya promosi kesehatan di bidang penyakit saraf
 Mengembangkan profesionalisme sumber daya manusia (SDM)

Nama ketua PRODI


Ketua Bagian : dr. Selly Marisdina, SpS (K)
KPS PPDS : dr. H. Achmad Junaidi, SpS (K)
KSM : dr. H. M. Hasnawi Haddani, SpS (K)
Pengetahuan tentang STR
 Surat Tanda Registrasi (STR), merupakan dokumen hukum/tanda bukti tertulis
bagi dokter dan dokter spesialis bahwa yang bersangkutan telah mendaftarkan diri
dan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan serta telah diregistrasi pada Konsil
Kedokteran Indonesia.
 Teregistrasi : Pencatatan resmi terhadap dokter yang telah memiliki sertifikat
kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara
hukum untuk melakukan tindakan profesinya.
 STR berlaku 5 tahun.
 Terdapat di UU no 29 th 2004 pasal 29 :
 dokter wajib punya STR
 STR diterbitkan KKI
 STR didapat jika memenuhi persyaratan

Pengetahuan tentang SIP


 SIP adalah bukti tertulis yang diberikan dinkes kab atau kota setempat kepada
dokter yang telah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik kedokteran.
 Praktik kedokteran: rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter terhadap
pasien dalam melaksanakan pelayanan kesehatan.

Hal yang bikin DO


 Narkoba
 Selingkuh
 Melakukan tindakan kriminal, misalnya mencuri

Apa yang anda ketahui tentang Pelayanan Prima


 Pelayanan Prima : pelayanan terbaik yang diberikan sesuai standar mutu yang
memuaskan dan sesuai harapan
 Prisip Pelayanan Prima:
o Attitude : penampilan serasi, berfikir positif dan sikap menghargai
o Attention : mendengarkan, mengamati dan memberikan perhatian
o Action : mencatat, menegaskan kembali dan mewujudkan kebutuhan,
mengucapkan terima kasih

Definisi Pelayanan Prima


Pelayanan terbaik yang diberikan oleh karyawan RS untuk memenuhi/bahkan melampaui
harapan pengguna jasa rumah sakit.
Unsur unsur melayani prima sebagaimana dimaksud dengan pelayanan umum, sesuai
keputusan Menpan No. 81/1993, yaitu:
 Kesederhanaan,
 Kejelasan dan Kepastian,
 Keamanan,
 Keterbukaan,
 Efisien,
 Ekonomis,
 Keadilan yang merata,
 Ketepatan waktu.
Dalam instruksi Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.828/MENKES/VII/1999
tentang Pelaksanaan Pelayanan Prima Bidang Kesehatan, dijelaskan bahwa:
Berdasarkan aspek – aspek kesederhanaan, kejelasan, kepribadian, keamanan, efisiensi,
ekonomis, keadilan, ketepatan waktu, kebersihan, kinerja dan juga sikap perilaku, maka
pelaksanaan pelayanan prima bidang kesehatan perlu memperhatikan hal–hal sebagai
berikut :
 Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan informasi atau petunjuk yang
mudah dipahami dan diperoleh pada setiap tempat / lokasi pelayanan sesuai
dengan kepentingannya menyangkut prosedur / tata cara pelayanan, pendaftaran,
pengambilan sample atau hasil pemeriksaan, biaya / tarif pelayanan serta jadwal /
waktu pelayanan.
 Setiap aturan tentang prosedur / tata cara / petunjuk seperti yang tersebut diatas
harus dilaksanakan secara tepat, konsisten, konsekuen sesuai dengan peraturan
perundang – undangan yang berlaku.
 Hak dan kewajiban pemberi atau penerima pelayanan diatur secara jelas setiap
persyaratan yang diwajibkan dalam rangka menerima pelayanan harus mudah
diperoleh dan berkaitan langsung dengan kepentingan pelayanan serta tidak
menambah beban masyarakat penerima pelayanan.
 Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi penerima pelayanan yang mudah
dilihat / dijumpai pada setiap tempat pelayanan. Saran yang masuk harus selalu
dipantau dan dievaluasi, bila perlu diberi tanggapan atau tindak lanjut dalam
rangka upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan.
 Penanganan proses pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang
berwenang atau kompeten, mampu terampil dan professional sesuai spesifikasi
tugasnya. Setiap pelaksanaan pemberian pelayanan dan hasilnya harus dapat
menjamin perlindungan hukum dan dapat dijadikan alat bukti yang sah.
 Selalu diupayakan untuk menciptakan pola pelayanan yang tepat sesuai dengan
sifat dan jenis pelayanan yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi
dan efektivitas dalam pelaksanaannya.
 Biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan
memperhitungkan kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk
mengatur mekanisme pungutan biaya yang memudahkan pembayarannya dan
tidak menimbulkan biaya tinggi. Pengendalian dan pengawasan pelaksanaannya
harus dilaksanakan dengan cermat, sehingga tidak terdapat titipan pungutan oleh
instansi lain.
 Pemberian pelayanan dilakukan secara tertib, teratur dan adil, tidak membedakan
status social masyarakat. Cakupan / jangkauan pelayanan diupayakan seluas
mungkin dengan distribusi yang merata.
 Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas pelayanan harus selalu
dijamin melalui pelaksanaan pembersihan secara rutin dan penyediaan fasilitas
pembuangan sampah / kotoran secukupnya sesuai dengan kepentingannya.
 Selalu diupayakan agar petugas memberikan pelayanan dengan sikap ramah dan
sopan serta berupaya meningkatkan kinerja pelayanan secara optimal dengan
kemampuan pelayanan yang tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup.
 Menyapa dan memberi salam kepada pasien
 Ramah dan senyum manis kepada pasien
 Cepat dan tepat waktu dalam bertindak
 Mendengar dengan sabar dan aktif keluhan pasien
 Penampilan yang rapi dan bangga akan penampilan
 Terangkan apa yang anda lakukan
 Jangan lupa mengucapkan terima kasih
 Perlakukan teman sekerja seperti pelanggan
 Mengingat nama pelanggan

Pengetahuan Kode Etik


1) Kerahasiaan Rekam Medis
 Rekam medis adalah catatan kondisi kesehatan pasien, pengobatan,
rencana tindakan dan terapi pasien yang harus terjamin kerahasiaannya.
 Penjelasan isi dari RM hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat
pasien dengan izin tertulis pasien peraturan perundang undangan. (pasal
11 ayat 1)
 Tidak perlu persetujuan pasien bila untuk kepentingan Negara.

2) Kerahasiaan teman sejawat


 KODEKI
Pasal 14: setiap dokter memperlakukan TS sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan
Pasal 15: setiap dokter tidak boleh mengambil pasien dr TS , kecuali
dengan persetujuan atau dengan prosedur yang etis.

Penjelasan: Secara etis bila ada pasien yang sudah pernah ditangani TS lain
sebelumnya, dokter tsb harus memberi tau terlebih dahulu dokter
sebelumnya.
Etika Kedokteran
 MKEK : Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
Tugasnya : membimbing, mengawasi, menilai pelaksanaan etik kedokteran apakah
sejalan dg profesi kedokteran
 MKDKI : Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
Tugasnya : menentukan ada tidaknya kesalahan penerapan disiplin ilmu kedokteran
dan menjatuhkan saksi atas itu

Sumpah Dokter
Demi ALLAH saya bersumpah bahwa :
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
2. Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai
dengan martabat pekerjaan saya
3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan
kedokteran
4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya
dan karena keilmuan saya sebagai dokter
5. Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan
6. Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita saya akan berikhtiar dengan
sungguh – sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan,
kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial

7. Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan


terima kasih yang selayaknya.
8. Teman sejawat saya akan saya perlakukan sebagai saudara kandung
9. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan
10. Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran
saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum kemanusiaan

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh – sungguh dan dengan mempertaruhkan
kehormatan diri saya

Pengetahuan tentang hukum kedokteran


a. STR  merupakan dokumen hukum/tanda bukti tertulis yang dikeluarkan KKI
bagi dokter dan dokter spesialis yang telah terregistrasi.
b. SIP  bukti tertulis yang diberikan dinkes kab atau kota setempat kepada dokter
yang telah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik kedokteran.
c. Jumlah tempat praktek
Permenkes 2007 pasal 4
SIP dokter diberikan max 3 tempat praktek, baik pada sarana pelayanan kesehatan
milik pemerintah, swasta, maupun praktek perorangan.
3 tempat dapat berada dalam 1 kab /kota atau kab/kota lain baik dari provinsi
yg sama maupun provinsi lain.
d. Kondisi apa dokter terkait hukum perdata /pidana
 Aspek Hukum Perdata (prinsip ganti rugi)
Contoh: bila dokter lupa informed consent padahal px dan dokter dalam
keadaan sadar , lalu dokter melakukan kesalahan atau kealpaan kecil
(culpa levis) yang merugikan px sanksi PERDATA
 Aspek Hukum Pidana (prinsip penganiayaan)
Contoh : bila tidak ada informed consent lalu didapatkan kesalahan besar
(culpa lata)  dokter dituntut karena melakukan penganiayaan. PIDANA

Pengetahuan Patient Safety


a. Mengapa perlu informed consent
 Informed consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan
oleh px atau keluarganya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap
mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan kepada px tsb.
 Kegunaan informed consent: Memberikan perlindungan terhadap pasien
dan perlindungan hukum terhadap dokter terhadap suatu kegagalan yang
bersifat negative.
 UU Pasal 45 : setiap tindakan kedokteran yang akan dilakukan oleh dokter
terhadap px,harus mendapat persetujuan.
 Permenkes: dalam memberikan informasi kpd px atau keluarga kehadiran
perawat atau paramedic lain sebagai saksi sangat penting.
Definisi Informed Consent
Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat
penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan
dilakukan terhadap pasien.

Berisi tentang diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran:


 tujuan tindakan kedokteran yang akan dilakukan
 alternatif tindakan lain dan risikonya
 risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
 prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
 perkiraan pembiayaan

b. Bagaimana jika kondisi px tidak sadar


 Permenkes 2008 Pasal 4 ayat 1 : dalam keadaan darurat untuk
menyelamatkan jiwa pasien dan mencegah kecacatan tidak diperlukan
persetujuan tindakan kedokteran.
 Pasal 4 ayat 3: Penjelasan sesegera mungkin diberikan kepada px setelah
px sadar /pada keluarga px.

c. Apa saja yang perlu diperhatikan agar keselamatan px terjamin


Patient safety:
Suatu system yang membuat asuhan px di RS menjadi lebih aman dengan cara
mencegah terjadinya cidera yang diakibatkan oleh suatu tindakan (commission)
atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya diambil.(omission)

Patient Safety Goals


1. Ketepatan identifikasi pasien
2. Peningkatan komunikasi yang efektif
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (High Alert
Medication)
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur,dan tepat pasien operasi
5. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
6. Pengurangan resiko pasien jatuh

Tujuan:
1. Tercipta budaya keselamatan px di RS
2. Meningkatkan akuntabilitas RS terhadap px dan masyarakat
3. Menurunkan KTD di RS
4. Terlaksananya program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan KTD.

FIVE STARS DOCTOR


 Case Provider
 Decision Maker
 Community Leader
 Communicator
 Manager

Penyimpangan ETIK Kedokteran


 Indikator medik tidak jelas.
 Tindakan medik yang menyimpang dari pedoman baku.
 Pasien tidak diberitahukan mengenai tindakan yang akan dilakukan.
 Persetujuan tindakan medik tidak dibuat.
Kewajiban dokter.
1) Mengamalkan sumpah dokter.
2) Melaksanakan standar profesi.
3) Kebebasan dan kemandirian profesi.
4) Memberi surat keterangan sesudah memeriksa sendiri.
5) Menghormati harkat dan martabat manusia, menghormati hak sejawat &
nakes lain.
6) Jujur terhadap pasien dan sejawat.
7) Melindungi hidup manusia insani.
8) Memperhatikan kepentingan masyarakat dan semua aspek.
9) Tulus ikhlas menerapkan ilmu, merujuk bila tidak mampu.
10) Merahasikan tentang pasien.
11) Memberikan pertolongan darurat.
12) Memberlakukan sejawat seperti dia sendiri ingin diperlakukan
13) Memelihara kesehatannya.
14) Mengikuti perkembangan IPTEK DOK.

Larangan untuk dokter


 Memuji diri sendiri
 Perbuatan untuk atau nasihat yang melemahkan daya tahan pasien.
 Mengumumkan & menerapkan Teknik yang belum jelas kebenarannya.
 Melepaskan kemandirian profesi karena pengaruh sesuatu.
HAK Pasien
 Memperoleh informasi mengenai tata tertib & peraturan yang berlaku di RS.
 Memperoleh informasi tentang hak & kewajiban pasien.
 Memperoleh pelayanan yang manusiawi, adil, jujur dan tanpa diskriminasi.
 Memperoleh layanan Kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi &
SOP.
 Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari
kerugian fisik dan materi.
 Menganjurkan pengaduan atas kualitas pelayanan yang di dapatkan.
 Memilih dokter & kelas perawatan sesuai dengan keinginan & peraturan RS.
 Meminta konsultasi penyakit yang diderita kepada dokter lain.
 Mendapatkan privasi & kerahasiaan penyakit yang di derita.
 Mendapatkan informasi yang meliputi tata cara Tindakan medis,
tujuan Tindakan, alternative Tindakan, resiko dan komplikasi serta prognosis.
 Memberikan persetujuan/menolak atas Tindakan yang dilakukan.
 Didampingi keluarga dalam keadaan klinis.
 Menjalakan ibadah sesuai agamanya.

SYARAT REKAM MEDIS


e. Accurate (cermat)
RM menjadi dasar informasi dan informasi tersebut selanjutnya menjadi dasar
dari pengambilan keputusan
f. Brief (singkat, pendek)
Tetapi harus dapat :
 Memberi informasi lengkap mengenai identitas pasien
 Menunjukkan diagnosa dan terapi
 Mencatat semua hasil pemeriksaan dan tindakan
g. Clear (jelas)
RM sebagai sarana komunikasi

Triase di RS
 Definisi : tindakan untuk memilah / mengelompokkan korban berdasarkan beratnya cidera,
kemungkinan untuk hidup dan keberhasilan tindakan berdasarkan sumber daya (SDM dan sarana)
yang tersedia.
 Tipe :
o Merah (P1) : mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera /
stabilisasi segera (GD)
o Ex : Tension Pneumothorax, Syok, etc
o Kuning (P2) : memerlukan tindakan definitive tetapi tidak ada ancaman jiwa segera (gawat,
tidak darurat)
o Ex : Fr multiple, Fr Femur, etc
o Hijau (P3) : cidera minimal, bisa berjalan, bisa menolong diri sendiri & bisa mencari
pertolongan (bukan GD)
o Ex : Fr minor, Luka bakar minor
o Hitam : meninggal
 Triase lapangan dapat dilakukan pada kondisi :
o Triase ditempat : pemeriksaan, klasifikasi, pemberian tanda dan pemindahan k epos medis
lanjutan
o Triase medik : menentukan tingkat perawatan yang dibutuhkan oleh korban
o Triase evakuasi : ditujukan pada korban yang dapat dipindahkan ke tempat yang telah siap
menerima korban bencana massal
Akreditasi Rumah Sakit SNARS Edisi 1
ARK : Akses RS dan Kontinuitas Pelayanan
AP : Assesmen Pasien
PAP : Pelayanan dan Asuhan Pasien
PAB : Pelayanan Anestesi dan Bedah
HPK : Hak Pasien dan Keluarga
MKE : Manajemen dan komunikasi dan Edukasi
PPI : Pencegahan dan pengendalian Infeksi
MIRM : Manajemen Informasi dan Rekam Medis
SKP : Sasaran dan Keselamatan Pasien
PKPO : Pelayanan Kefarmasian dan Pelayanan Obat
PMKP : Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
TKRS : Tata Kelola Rumah Sakit
MFK : Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
KKS : Kompetensi dan Kewenangan Staf
PROGNAS : Program Nasional ( Geriatri, TB Dots, HIV, Ponek, PPRA).

Akreditasi SNARS Edisi 1


paripurna 3 th sekali
madya 1 th sekali
pratama 1 th sekali
Keputusan Akreditasi
Rumah Sakit Pendidikan
Tidak lulus akreditasi
 Rumah sakit tidak lulus akreditasi bila dari 16 bab yang di survei
mendapat nilai kurang dari 60 %
 Bila rumah sakit tidak lulus akreditasi dapat mengajukan akreditasi ulang
setelah rekomendasi dari surveior dilaksanakan.
Akreditasi tingkat dasar
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat dasar bila dari
16 bab yang di survei hanya 4 bab, dimana salah satu babnya adalah
Institusi pendidikan pelayanan kesehatan, mendapat nilai minimal 80 %
dan 12 bab lainnya tidak ada yang mendapat nilai dibawah 20 %
Akreditasi tingkat madya
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat madya bila dari
16 bab yang di survei ada 8 bab, dimana salah satu babnya adalah Institusi
pendidikan pelayanan kesehatan, mendapat nilai minimal 80 % dan 8 bab
lainnya tidak ada yang mendapat nilai dibawah 20 %
Akreditasi tingkat utama
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat utama bila dari
16 bab yang di survei ada 12 bab, dimana salah satu babnya adalah
Institusi pendidikan pelayanan kesehatan mendapat nilai minimal 80 %
dan 4 bab lainnya tidak ada yang mendapat nilai dibawah 20 %
Akreditasi tingkat paripurna
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat paripurna bila
dari 16 bab yang di survei semua bab mendapat nilai minimal 80 %

Status akreditasi berlaku selama tiga tahun kecuali ditarik oleh KARS. Status akreditasi
berlaku surut sejak hari pertama pelaksanaan survei rumah sakit atau saat survei ulang.
Pada akhir tiga tahun siklus akreditasi rumah sakit, rumah sakit harus melaksanakan
survei ulang untuk perpanjangan status akreditasi.
Fungsi Akreditasi
untuk menilai kepatuhan rumah sakit terhadap standar akreditasi.
Akreditasi JCI
Elemen Penilaian
I. Standar-standar Yang Berfokus Pasien
a. Sasaran Internasional Keselamatan Pasien (SIKP) / International Patient
Safety Goals (IPSG)
b. Akses ke Perawatan dan Kesinambungan Perawatan (APKP) / Access to Care
and Continuity of Care (ACC)
c. Hak Pasien dan Keluarga (HPK) / Patient and Family Rights (PFR)
d. Asesmen Pasien (AP) / Assessment of Patients (AOP)
e. Perawatan Pasien (PP) / Care of Patients (COP)
f. Perawatan Anestesi dan Bedah (PAB) / Anesthesia and Surgical Care (ASC)
g. Manajemen dan Penggunaan Obat-obatan (MPO) / Medication Management
and Use (MMU)
h. Penyuluhan Pasien dan Keluarga Pasien (PPKP) / Patient and Family
Education (PFE)

II. Standar-standar Manajemen Organisasi Pelayanan Kesehatan


a. Perbaikan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) / Quality Improvement and
Patient Safety (QPS)
b. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)/ Prevention and Control of
Infections (PCI)
c. Tata Kelola, Kepemimpinan, dan Arah (TKKA) / Governance, Leadership,
and Direction (GLD)
d. Manajemen dan Keamanan Fasilitas (MKF) / Facility Management and Safety
(FMS)
e. Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS) / Staff Qualifications and Education
(SQE)
f. Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI) / Management of
Communication and Information (MCI)

 Apa hubungan JCI dengan The Joint Commission?


JCI adalah versi internasional dari The Joint Commission (USA); Misi JCI adalah
memperbaiki kualitas dan keamanan pelayanan kesehatan di masyarakat
internasional.

 Apa maksud dan tujuan inisiatif akreditasi JCI?


Akreditasi JCI adalah berbagai inisiatif yang dirancang untuk menanggapi
meningkatnya kebutuhan seluruh dunia akan sebuah sistem evaluasi berbasis
standar di bidang perawatan kesehatan.
Tujuannya adalah untuk menawarkan kepada masyarakat internasional proses
objektif untuk mengevaluasi organisasi pelayanan kesehatan yang berbasis
standar.
Dengan demikian diharapkan program ini akan menstimulasi perbaikan yang
berkelanjutan dan terus-menerus dalam organisasi-organisasi pelayanan kesehatan
lewat penerapan standarstandar konsensus internasional, Sasaran Internasional
Keselamatan Pasien (International Patient Safety Goals), didukung oleh
pengukuran data sebagai tambahan untuk standar bagi rumah sakit yang terdapat
di edisi keempat ini, JCI juga telah mengembangkan standar dan program
akreditasi sebagai berikut:
• Rawat Jalan (Ambulatory Care)
• Laboratorium Klinik (Clinical Laboratories)
• Pusat Pelayanan Primer (Primary Care Center)
• Perawatan Berkelanjutan (The Care Continuum; perawatan di rumah, hidup
dengan dibantu, perawatan jangka panjang, perawatan di rumah sakit hingga ajal
menjemput)
• Pelayanan Transportasi Medik (Medical Transport Organization) JCI juga
menawarkan sertifikasi program perawatan klinis, seperti program untuk
perawatan stroke, perawatan jantung, atau penggantian sendi.

Program akreditasi JCI didasarkan pada kerangka kerja standar internasional yang
disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Semua akreditasi JCI dan program sertifikasi
bercirikan sebagai berikut:
• Standar konsensus internasional, dikembangkan dan dikelola oleh sebuah gugus
tugas internasional, dan disetujui Dewan internasional, yang merupakan dasar
program akreditasi.
• Filosofi yang mendasari standar didasarkan pada prinsip manajemen bermutu
yang terus-menerus diperbaiki mutunya.
• Proses akreditasi ini dirancang untuk mengakomodasi faktor hukum, agama,
dan/atau faktor budaya di sebuah negara tertentu. Meski standar yang ditetapkan
bersifat seragam demi harapan tinggi untuk keselamatan dan kualitas perawatan
pasien, proses akreditasi juga mempertimbangkan sejauh mana kondisi khas
negara tertentu dapat memenuhi harapan tinggi tersebut.
• Tim survei lapangan dan penentuan agenda survei akan bervariasi tergantung
pada besar-kecilnya organisasi pelayanan kesehatan dan jenis layanan yang
diberikan. Sebagai contoh, sebuah organisasi multispesialis raksasa mungkin
memerlukan survei empat atau lima hari oleh dokter, perawat, dan administrator,
sementara rumah sakit dengan 50 tempat tidur dan spesialisasi di satu bidang
mungkin hanya memerlukan survei lebih pendek dengan tim yang lebih kecil.
• Akreditasi JCI ini dirancang agar absah, dapat dipercaya, dan objektif.
Berdasarkan analisis hasil survei, keputusan akreditasi akhir dibuat oleh komite
akreditasi internasional.
6 langkah cuci tangan
5 moment cuci tangan

Common questions

Didukung oleh AI

Untuk mematuhi standar akreditasi dalam konteks pengendalian dan pencegahan infeksi, rumah sakit harus mengimplementasikan protokol ketat terkait higiene dan sanitasi, menjalankan program pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi staf medis mengenai teknik pencegahan infeksi seperti prosedur mencuci tangan yang tepat, dan melakukan audit serta evaluasi rutin atas praktik pengendalian infeksi di rumah sakit . Selain itu, memperkuat sistem komunikasi dan informasi untuk identifikasi dan pelaporan cepat kasus infeksi juga penting untuk meminimalkan risiko penyebaran infeksi di lingkungan rumah sakit . Pelaksanaan langkah-langkah ini memastikan rumah sakit patuh terhadap standar internasional dan memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu .

Implikasi etis dari sumpah dokter dalam praktik kedokteran sehari-hari melibatkan komitmen untuk memegang teguh martabat profesi kedokteran, menjaga kerahasiaan pasien, dan memperlakukan teman sejawat dengan hormat . Selain itu, dokter harus memastikan bahwa kesehatan pasien selalu diutamakan, dan bahwa segala tindakan dilakukan tanpa diskriminasi berdasarkan agama, kebangsaan, atau status sosial . Sumpah ini juga menuntut dokter untuk tidak menggunakan pengetahuan kedokteran mereka untuk tujuan yang bertentangan dengan hukum kemanusiaan, menjadikannya sebagai panduan moral dalam menghadapi dilema etis dalam praktik sehari-hari .

Kerahasiaan rekam medis berhubungan erat dengan etika kedokteran di Indonesia, karena etika ini menuntut dokter untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien yang tercatat dalam rekam medis . Menurut pasal 11 ayat 1 regulasi terkait, hanya dokter yang merawat pasien dengan izin tertulis pasien yang boleh menjelaskan isi rekam medis tersebut, kecuali untuk kepentingan negara . Ini sejalan dengan prinsip etika dokter yang harus merahasiakan segala sesuatu yang diketahui karena pekerjaannya, menjaga martabat, dan melindungi privasi pasien sebagai bagian integral dari tanggung jawab profesional .

Akreditasi JCI mengubah pendekatan rumah sakit dalam memberikan layanan dengan mendorong penerapan standar internasional untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas perawatan pasien . Dengan penerapan Sasaran Internasional Keselamatan Pasien dan proses akreditasi yang mempertimbangkan faktor hukum, agama, dan budaya, akreditasi ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis standar yang komprehensif . Akreditasi ini merangsang rumah sakit untuk secara berkelanjutan meningkatkan mutu layanan dengan akreditasi yang dapat dipercaya dan objektif, sehingga mengarahkan rumah sakit pada evaluasi dan perbaikan pelayanan yang terus-menerus .

Konsep keselamatan pasien dapat diterapkan untuk mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dengan meningkatkan komunikasi yang efektif, memastikan tepat lokasi dan prosedur saat operasi, serta menekan risiko infeksi melalui praktik sterilisasi yang baik . Penekanan pada pengurangan risiko infeksi dapat dilakukan dengan memastikan lingkungan steril, penggunaan alat pelindung yang tepat, dan ketatnya kontrol terhadap praktik kebersihan, termasuk penerapan prosedur mencuci tangan di 5 momen yang krusial bagi tenaga medis . Ini merupakan bagian dari upaya menciptakan budaya keselamatan pasien yang menekankan pencegahan dan pengendalian infeksi sebagai prioritas utama .

Elemen penilaian dalam akreditasi rumah sakit menurut SNARS Edisi 1 termasuk Akses RS dan Kontinuitas Pelayanan (ARK), Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP), Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), hingga Manajemen Informasi dan Rekam Medis (MIRM). Elemen-elemen ini berperan penting dalam meningkatkan mutu layanan dengan menyusun standar yang berfokus pada keselamatan pasien, efisiensi pengelolaan fasilitas, dan keterampilan staf. Misalnya, peningkatan komunikasi dan informasi manajemen mendorong akuntabilitas serta koordinasi yang lebih baik antara tim perawatan kesehatan, yang pada akhirnya meningkatkan hasil perawatan pasien .

Surat Tanda Registrasi (STR) adalah dokumen hukum yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia bagi dokter dan dokter spesialis yang telah terregistrasi dan dinyatakan memenuhi persyaratan hukum untuk berpraktik . STR berlaku selama lima tahun dan merupakan syarat wajib bagi dokter untuk mendapatkan Surat Izin Praktik (SIP). SIP, di sisi lain, adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Dinas Kesehatan setempat kepada dokter untuk menjalankan praktik kedokteran setelah memenuhi persyaratan tertentu . SIP memastikan bahwa dokter dapat secara legal berpraktik di lokasi tertentu hingga maksimal tiga tempat praktek sesuai regulasi .

Pelayanan kesehatan dapat mengimplementasikan prinsip 'Pelayanan Prima' dengan memperhatikan prinsip-prinsip seperti sikap positif, perhatian penuh, dan tindakan konkret. Sikap positif mencakup penampilan profesional dan sikap hormat terhadap pasien . Perhatian penuh melibatkan kemampuan mendengarkan keluhan pasien dengan sabar dan memberikan perhatian yang tulus . Tindakan konkret dapat diwujudkan dengan menegaskan kebutuhan pasien dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan . Selain itu, memastikan keterbukaan informasi dan efisiensi pelayanan serta keadilan dalam memberikan layanan adalah elemen penting lain yang harus diperhatikan .

Informed consent penting dalam praktik kedokteran karena memberikan perlindungan hukum baik bagi pasien maupun dokter. Ini memastikan bahwa pasien atau keluarganya memahami secara lengkap tindakan kedokteran yang akan dilakukan, termasuk tujuan, risiko, dan alternatif yang tersedia . Hal ini menjadi bagian dari hak pasien untuk mendapatkan informasi yang memadai dan untuk menjaga keamanan pasien dalam menerima perawatan .

Etika kedokteran mengatur hubungan profesional antar dokter dengan menetapkan bahwa pengambilalihan pasien dari dokter teman sejawat harus dilakukan dengan persetujuan atau melalui prosedur etis . Hal ini dijelaskan dalam KODEKI Pasal 15 yang melarang seorang dokter mengambil pasien dari sesama dokter tanpa persetujuan atau alasan etis yang kuat . Pengaturan ini bertujuan untuk menjaga etika profesional dan menghormati privasi serta hubungan terapi yang telah terbangun antara pasien dan dokter sebelumnya .

Anda mungkin juga menyukai