0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil dan KEK

Tinjauan pustaka membahas konsep pengetahuan dan sosial ekonomi yang mempengaruhi kejadian KEK pada ibu hamil. Pengetahuan adalah hasil proses indra setelah mengamati objek, sedangkan sosial ekonomi meliputi kekayaan, kekuasaan, pendidikan dan pekerjaan. Faktor-faktor seperti pengetahuan, sosial ekonomi dan usia dapat mempengaruhi status gizi ibu hamil dan berisiko menimbulkan KEK.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil dan KEK

Tinjauan pustaka membahas konsep pengetahuan dan sosial ekonomi yang mempengaruhi kejadian KEK pada ibu hamil. Pengetahuan adalah hasil proses indra setelah mengamati objek, sedangkan sosial ekonomi meliputi kekayaan, kekuasaan, pendidikan dan pekerjaan. Faktor-faktor seperti pengetahuan, sosial ekonomi dan usia dapat mempengaruhi status gizi ibu hamil dan berisiko menimbulkan KEK.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut WHO, pregnancy atau kehamilan adalah proses sembilan bulan atau lebih di
mana seorang perempuan membawa embrio dan janin yang sedang berkembang di dalam
rahimnya.

Menurut Depkes RI (2016), kehamilan adalah suatu proses pembuahan dalam rangka
melanjutkan yang terjadi secara alami menghasilkan janin yang tumbuh di rahim ibu. Kehamilan
adalah sebuah proses yang dimulai dari tahap konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
kehamilan normal adalah 38 minggu - 40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Kehamilan dibagi dalam 3 Trimester yaitu Trimester I mulai dari konsepsi sampai 12 minggu,
Trimester II >12 minggu sampai 28 minggu, Trimester III >28 minggu sampai 42 minggu. Selama
proses kehamilan berlangsung tidak menutup kemungkinan untuk seorang ibu akan mengalami
masalah tanda bahaya kehamilan yang dapat berpengaruh pada proses kehamilannya maupun
proses persalinannya apabila usia kehamilan sudah memasuki aterm 37-40 minggu (Saifuddin,
2014).

Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kekurangan gizi pada ibu hamil yang
dapat menimbulkan KEK adalah pengetahuan tentang gizi ibu hamil. Pengetahuan mempengaruhi
kejadian KEK karena pengetahuan akan berpengaruh terhadap perilaku dalam mengkonsumsi makanan
sehari-hari dan dalam memahami kebutuhan gizi yang baik dalam kehamilan sesuai dengan angka
kecukupan gizi, sehingga dengan memiliki pengetahuan yang lebih baik diharapkan akan menentukan
pilihan yang baik pula. Sedangkan yang memiliki pengetahuan yang kurang dapat menyebabkan
seseorang melakukan pemilihan makanan yang kurang cermat (Rahmanishati, 2019).

Pengetahuan ibu hamil terhadap kehamilan adalah salah satu factor yang mempengaruhi
predisposisi perilaku kesehatan. Apabila terjadi resiko tinggi maka kemungkinan besar akan
berpikir mencegah, menghindari atau mengatasi secara dini dan tepat oleh tenaga medis
(Kemenkes, 2015).

Sosial ekonomi menurut Soerjono Soekanto (2007:89) adalah posisi seseorang dalam
masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-
hak serta kewajibannya dalam berhubungan dengan sumber daya. Menurut Soekanto
(2001:237) menyatakan bahwa komponen pokok kedudukan sosial ekonomi meliputi ukuran
kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, ukuran ilmu pengetahuan.
Kekurangan energi kronik (KEK) merupakan kondisi yang rentan dialami oleh ibu hamil yang
digambarkan dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) di bawah 23,5 cm. Sebagian besar ibu hamil di
daerah pedesaan dan perkotaan mengalami kekurangan konsumsi energi dan protein, sehingga
menjaga perhatian terhadap zat gizi makro dan zat gizi mikro bagi ibu hamil sangat penting
untuk mencegah Bayi Berat Lahir Rendah dan Balita Pendek (stunting) (Kementerian Kesehatan,
2018).

Kurang Energi Kronis (KEK) merupakan salah satu masalah kurang gizi yang sering terjadi pada
wanita hamil, yang disebabkan oleh kekurangan energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
KEK pada wanita di negara berkembang merupakan hasil kumulatif dari keadaan kurang gizi
sejak masa janin, bayi, dan kanak-kanaknya, dan berlanjut hingga dewasa. Ibu hamil yang
menderita KEK mempunyai risiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau risiko
melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) (Deuis & Febrianti, 2012).

Kekurangan energi kronis (KEK) merupakan suatu kondisi dimana seorang ibu hamil menderita
kekurangan asupan makanan yang berlangsung dalam jangka waktu lama (menahun atau kronis)
yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan, sehingga kebutuhan zat gizi pada masa
kehamilan tidak dapat terpenuhi (Usman Arifa, 2019). Status gizi ibu hamil merupakan ukuran
keberhasilan untuk pemenuhan nutrisi untuk ibu hamil. Gizi ibu hamil merupakan nutrisi yang
diperlukan dalam jumlah yang sangat banyak untuk pemenuhan gizi ibu sendiri dan
perkembangan janin yang dikandungnya. Kebutuhan makanan dilihat bukan hanya dalam porsi
yang dimakan tetapi harus ditentukan pada mutu zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan
yang dikonsumsi(Samiatulmilah, 2018).
Secara global prevalensi kejadian KEK pada ibu hamil adalah sebanyak 462 juta kejadian (Ayele,
Dkk, 2020). Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) wanita hamil yang mengalami kekurangan
energi kronik sebanyak 24,2% pada tahun 2013 dan sebesar 17,3% pada tahun 2018.
Berdasarkan sumber data laporan Kemenkes RI tahun 2020 dari 34 provinsi provinsi dengan
presentase ibu hamil dengan KEK terendah 4% adalah DKI Jakarta, yang paling tinggi kasus KEK
pada ibu hamil adalah provinsi Nusa Tenggara Timur 24,3% sedangkan Provinsi Kalimatan Barat
8,8 % walapun Kalimantan Barat menduduki peringkat ke 11 terendah dari 34 provinsi namun
masih menjadi prioritas untuk tetap menurunkan angka kejadian ibu hamil dengan KEK.
(Kemenkes, 2020).

Ibu hamil yang mengalami resiko KEK akan menimbulkan beberapa permasalahan, baik pada ibu
maupun janin. KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara
lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan serangan
penyakit infeksi. Sedangkan pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan
persalinan sulit dan lama, persalinan sebelumwaktunya (prematur), pendarahan setelah
persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan KEK pada ibu hamil diantaranya adalah keadaan sosial
ekonomi yang mengakibatkan rendahnya pendidikan, jarak kelahiran yang terlalu dekat
menyebabkan buruknya status gizi pada ibu hamil, banyaknya bayi yang dilahirkan (paritas), usia
kehamilan pertama yang terlalu muda atau masih remaja dan pekerjaan yang biasanya memiliki
status gizi lebih rendah apabila tidak diimbangi dengan asupan makanan dalam jumlah yang
cukup (Fitrianingtyas dkk,2018).

Status gizi merupakan ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk ibu hamil. Gizi ibu
hamil merupakan nutrisi yang diperlukan dalam jumlah yang banyak untuk pemenuhan gizi ibu
sendiri dan perkembangan janin yang dikandungnya, salah satu masalah gizi pada ibu hamil
yaitu Kekurangan Energi Kronik (KEK).

Ibu hamil dengan masalah gizi dan kesehatan berdampak terhadap kesehatan, keselamatan ibu
dan bayi serta kualitas bayi yang dilahirkan. Kondisi ibu hamil dengan kekurangan energi kronik
(KEK), berisiko menurunkan kekuatan otot yang membantu proses persalinan sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya partus lama dan perdarahan pasca salin, bahkan kematian ibu.
Risiko pada bayi dapat mengakibatkan terjadi kematian janin (keguguran), prematur, lahir cacat,
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) bahkan kematian bayi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil adalah pengetahuan ibu, status ekonomi dan
usia ibu. Masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi yaitu Kekurangan Energi Kronik
(KEK). Hal tersebut dapat terjadi apabila ibu hamil kurang mengetahui tentang pengetahuan gizi
pada saat hamil, maka akan menyebabkan atau menimbulkan resiko kesakitan yang lebih besar.
status ekonomi orang tua sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga untuk
mencapai kesehatan yang maksimal. Dengan pendapatan yang rendah, akan sulit bagi orang tua
untuk memberikan makanan yang sehat dan bergizi kepada anak-anak mereka dan hal ini akan
berpengaruh terhadap status gizi dan kesehatan keluarga tersebut.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah di uraikan di atas terdapat rumusan masalah pada
penelitian “Hubungan pengetahuan dan social ekonomi ibu hamil dengan kejadian kurang
energi kronik di puskesmas kawua”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahui hubungan pengetahuan dan social ekonomi ibu hamil dengan kejadian kurang
energi kronik di puskesmas kawua.
2. Tujuan Khusus
a. DIketahui pengetahuan dan social ekonomi ibu hamil di puskesmas kawua
b. Diketahui kejadian kurang energi kronik di puskesmas kawua
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Kawua
Sebagai bahan masukan dan evaluasi terhadap pelayanan Kesehatan, khususnya petugas
bidan puskesmas kawua untuk memberikan edukasi bagi ibu hamil tentang pencegahan
kurang energi kronik.

2. Bagi Institusi Pendidikan


Diharapkan bisa menjadi bahan kajian dan pengetahuan mengenai kurang energi kronik
pada ibu hamil dan bisa menjadi acuan untuk meneliti mengenai faktor-faktor yang
berhubungan dengan kurang energi kronik.
3. Penelitian Selanjutnya
Diharapkan bisa dijadikan sebagai dasar perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang akan
melakukan penelitian berkaitan dengan kejadian kurang energi kronik pada ibu hamil
dengan menggunakan desain penelitian yang lebih baik lagi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Pengetahuan


1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2012) merupakan hasil “tahu“ dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindra manusia yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga , hal ini sejalan dengan
pendapat yang dikemukakan oleh Hidayat (2011) yang mengatakan pengetahuan
(Knowledge) adalah suatu proses dengan menggunakan pancaindra yang dilakukan
seseorang terhadap objek tertentu dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan.

Pengetahuan adalah hal-hal yang kita ketahui tentang fakta-fakta kebenaran disekitar kita,
yang berfungsi meningkatkan martabat dan kualitas hidup manusia (Sunaryo, 2017).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan
telinga terhadap obyek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang didasari pengetahuan
yang umumnya bersifat langgeng (Notoatmodjo, 2017).

Menurut Retni dan Puluhulawa (2021), pengetahuan ibu hamil berkaitan dengan kejadian
KEK dapat diperoleh melalui pendidikan, baik formal, yaitu melalui bangku sekolah, maupun
non formal, yaitu melalui penyuluhan atau sosialisasi oleh petugas kesehatan, seperti
puskesmas. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin mudah individu untuk
memperoleh dan mengembangkan informasi yang diterima, baik dari media massa maupun
orang lain (Putri, 2015).

2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2017) pengetahuan yang dicakup dalam dominan kognitif
mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu (Know) Tahu adalah mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,
termasuk mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” merupakan
tingkat pengetahuan yang peling rendah.
b. Memahami (Comprehension) Memahami merupakan suatu kemampuan menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek 9 atau materi harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Application) Aplikasi merupakan kemampuan untuk mengatakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan
pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan dalam konteks atau situasi yang
lain.
d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penelitian ini berdasarkan suatu
kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
f. Menciptakan (berkreasi) Mencipta adalah kemampuan memadukan unsur-unsur
menjadi suatu bentuk baru yang utuh dan koheren atau membuat sesuatu yang orisinil.
Memadukan bagian-bagian yang saling terpisah untuk membentuk struktur keseluruhan
yang baru, atau mengorganisasi kembali elemen-elemen dalam suatu struktur untuk
membentuk struktur yang baru (Kusnawa, 2018)

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


a. Umur
Menurut Notoatmodjo (2017), usia produktif keinginan seseorang untuk maju dan
menambah pengetahuan lebih tinggi dan kemampuan menerima informasi lebih
mudah. Pengetahuan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman, membaca literatur,
hubungan interpersonal, sikap dan keinginan seseorang. Hal ini juga terkait dengan
perilaku dan kemampuan seseorang tersebut mengakses informasi yang diterima
mencakup enam tingkat pengetahuan dari tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis
dan evaluasi (Sunaryo, 2017).
b. Sosial budaya
Menurut Mantra (2018) budaya adalah seluruh sistem gagasan, rasa, tindakan, serta
karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya
dengan cara belajar. Sistem budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi
pengetahuan seseorang dalam menerima informasi. budaya dimana seseorang hidup
dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang.
Seseorang memiliki pengetahuan yang baik dikarenakan mendapat reinforcement
(penguatan, ganjaran) dari masyarakat, adanya pemahaman yang baik tentang
kesehatan serta didukung oleh tradisi dan kepercayaan yang tidak bertentangan dengan
kesehatan akan menyebabkan meningkatkan pengetahuan seseorang (Sunaryo, 2017).
c. Pendidikan
Pendidikan adalah proses tumbuh kembang seluruh kemampuan dan perilaku manusia
melalui pengajaran, sehingga dalam penelitian itu perlu dipertimbangkan umur dan
proses belajar, tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi yang
baru, semakin meningkat batas seseorang, maka akan bertambah pengalaman yang
mempengaruhi wawasan dan pengetahuan. Adapun tujuan yang hendak dicapai melalui
pendidikan adalah untuk mengubah pengetahuan (pengertian, pendapat, konsep-
konsep), sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku atau kebiasaan yang baru
(Notoatmodjo, 2017).
d. Pengalaman
Pengalaman belajar dalam bekerja yang berkembang memberikan pengetahuan dan
keterampilan profesional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat
mengembangkan kemampuan mengambil keputusan dari masalah nyata dalam bidang
keperawatan (Notoatmodjo, 2017).
e. Sumber Informasi
Sumber informasi adalah segala sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan
informasi, semakin banyak sumber informasi yang diperoleh maka semakin banyak pula
pengetahuan yang dimiliki media informasi untuk komunikasi massa (Notoatmodjo,
2017).
f. Pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Pekerjaan juga diperkirakan dapat
mempengaruhi pengetahuan, orang yang bekerja akan memiliki pengetahuan yang lebih
baik bila dibandingkan dengan pengetahuan orang yang tidak bekerja. Semua ini
disebabkan karena orang yang bekerja di luar rumah (sektor formal) memiliki akses yang
lebih baik terhadap berbagai informasi, termasuk mendapatkan informasi tentang
tehnik menyusui (Notoatmodjo, 2017).

Anda mungkin juga menyukai