SEMESTER 1
MODUL
PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
SEMESTER 1
MODUL
PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
Modul ini digunakan hanya untuk proses pendidikan
Di Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Fakultas Kedokteran
Universitas Tadulako
Palu
2021
Modul Pendidikan Interprofesional 1
© 2021 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
dicetak di Palu
Dipublikasikan oleh Fakultas Kedokteran Universitas
Tadulako
All rights reserved
Copyright 2021 © FK Untad
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 1
SEMESTER 1
PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
BUKU PANDUAN
TIM
PENYUSUN:
dr. Indah Puspasari Kiay Demak, MMedEd
Medical Education Unit
Dr. dr. M. Sabir, [Link]
Bagian Mikrobiologi
EDITOR
dr. Christin Rony Nayoan, Sp. T.H.T.K.L, MM
dr. I Kadek Rupawan, M. Biomed
dr. Moh. Zainul Ramadhan
2 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
VISI DAN MISI FK UNIVERSITAS TADULAKO
Visi
Pada tahun 2030 Program Studi Profesi Dokter FK Untad :
“Unggul dalam Pengabdian kepada Masyarakat terutama
di bidang Penyakit Tropis dan Traumatologi melalui
pengembangan Pendidikan & Penelitian Kedokteran”
Misi
1. Melaksanakan kegiatan Pendidikan dan Pengajaran
yang bermutu untuk menghasilkan lulusan yang
bermoral dan professional terutama di bidang Penyakit
Tropis dan Traumatologi.
2. Mengembangkan Penelitian kedokteran dan kesehatan
terutama bidang Penyakit Tropis dan Traumatologi baik
di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
3. Melaksanakan Pengabdian masyarakat dalam
membantu pemecahan masalah kedokteran dan
kesehatan terutama di bidang penyakit tropis dan
traumatologi baik lokal, nasional dan internasional.
4. Menjalin kerjasama lintas sektor di bidang kedokteran
dan kesehatan serta bidang lainnya di tingkat nasional
dan internasional.
5. Menyelenggarakan tata kelola yang efektif, efisien,
transparan, akuntabel dan berkelanjutan.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 3
DAFTAR ISI
Pendahuluan ..................................................................................... 4
Tujuan Pembelajaran ................................................................... 6
Peta Materi ........................................................................................ 8
Daftar Materi .................................................................................... 9
Sistem Penilaian .............................................................................. 10
Panduan praktikum....................................................................... 11
Team building 1 ............................................................... 15
Team building 2 ............................................................... 21
Esai Reflektif ...................................................................... 26
Simulasi Kasus .................................................................. 47
Referensi ............................................................................................. 50
4 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
PENDAHULUAN
Mata kuliah Pendidikan Interprofesional 1
merupakan mata kuliah yang diperlukan untuk membantu
mahasiswa dalam bekerja sama antar sesama mahasiswa
bidang kesehatan. Pada mata kuliah ini, akan dipelajari
peran masing-masing profesi Kesehatan. Selain itu,
mahasiswa akan mempelajari bagaimana strategi dalam
bekerjasama dengan mahasiswa bidang Kesehatan,
sehingga dapat mempermudah dan menciptakan
kebiasaan mahasiswa dalam berkolaborasi dan dapat
menghasilkan Kerjasama yang harmonis dan efektif.
Pendidikan interprofesi (Interprofessional
Education, selanjutnya disingkat IPE) merupakan upaya
strategis untuk mempersiapkan peserta didik dalam
menghadapi masalah kesehatan yang kompleks serta
perkembangan tekonologi bidang kesehatan yang pesat.
Pendidikan interprofesi merupakan aplikasi konsep
pendidikan kolaborasi yang mencakup banyak aspek
didalamnya, antara lain kerjasama dalam tim, komunikasi
inter dan antarprofesi dan pemahaman peran dan tugas
setiap profesi.
Pendidikan interprofesional terjadi ketika siswa
dari dua atau lebih profesi belajar tentang, dari dan satu
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 5
sama lain untuk memungkinkan efektif kerjasama dan
meningkatkan Kesehatan hasil. Pendidikan
interprofesional adalah langkah yang diperlukan dalam
mempersiapkan “interprofessional collaboration”.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitranya
mengakui kolaborasi interprofessional dalam pendidikan
dan praktik sebagai strategi inovatif yang memiliki peran
penting dalam mengurangi krisis tenaga kesehatan global.
Palu, Juni 2021
Tim Penyusun Mata Kuliah
6 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Menjelaskan pengertian IPE
2. Memahami pentingnya IPE
3. Menjelasakan pengertian IPC
4. Menjelaskan praktik IPE dan IPC di Indonesia dan
dunia
5. Menjelaskan Pengertian komunikasi yang efektif
6. Menjelaskan dampak komunikasi efektif dan tidak
efektif ke pasien
7. Menjelaskan metode komunikasi efektif
8. Menjelaskan peran masing-masing tenaga kesehatan
9. Menjelasakan tanggung jawab masing-masing tenaga
Kesehatan
10. Memberikan contoh peran dan tanggung jawab tenaga
Kesehatan melalui kasus
11. Mendiskusikan peran dan tanggung jawab tenaga
Kesehatan
12. Menjelaskan konsep etika kedokteran
13. Menjelaskan contoh kasus pasien yang berhubungan
dengan etika
14. Menjelaskan lima prinsip utama dalam Kerjasama
tenaga Kesehatan yang efektif
15. Menjelaskan empat kebiasaan untuk performans tim
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 7
yang baik.
16. Menjelaskan pengertian esai refleksi
17. Menjelaskan metode penulisan esai refleksi
18. Menulis esai reflektif
19. Menjelaskan konsep portofolio
20. Menjelaskan fungsi portofolio
21. Menjelaskan cara membuat portofolio
22. Melakukan simulasi kasus untuk membangun
kerjasama tim
8 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
PETA MATERI
Gambar 1. Peta Materi Pendidikan Interprofesional
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 9
DAFTAR MATERI
Tabel 1. Materi Keterampilan Belajar
No Kuliah Praktikum
Konsep Team building 1
1 Pendidikan
Interprofesional
Komunikasi di Team building 2
2 pelayanan
kesehatan
Peran dan Esai reflektif
3 tanggung jawab
tenaga Kesehatan
4 Norma dan etika Simulasi kasus
5 Kerjasama tim
6 Esai reflektif
7 Portofolio
Materi sesuai Tabel 1 akan dipelajari sepanjang semester 1
sebanyak 1 SKS. Metode pembelajaran Mata Kuliah
Pendidikan Interprofesional 1 berupa kuliah, praktikum,
dan belajar mandiri.
10 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
SISTEM PENILAIAN
1. Penilaian pada Mata Kuliah Pendidikan Interprofesional
1 terdiri dari 3 komponen:
a. Ujian akhir
Bobot 20%
b. Praktikum Team Building dan Simulasi Kasus
Merupakan nilai keaktifan dari praktikum
Bobot 40%
c. Tugas Portofolio dan Esai Reflektif
Bobot 40%
2. Kehadiran perkuliahan minimal 75% dan untuk
praktikum dan tutorial 100 %.
3. Bagi Mahasiswa yang berhalangan hadir karena sakit,
kedukaan keluarga inti, atau tugas fakultas/universitas
wajib melapor ke bagian akademik dan dosen
pengampu mata kuliah dengan membawa bukti surat
keterangan sakit, surat kematian, atau surat tugas
maksimal 2 hari setelahnya.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 11
PANDUAN
PRAKTIKUM
TATA TERTIB PRAKTIKUM PENDIDIKAN
INTERPROFESIONAL 1
1. Mahasiswa/i harus ada di ruang dan siap mengikuti
praktikum 10 menit sebelum jadwal dan wajib
mengikuti seluruh kegiatan praktikum sampai selesai.
2. Mahasiswa/i yang datang terlambat tidak
diperbolehkan mengikuti kegiatan praktikum.
3. Mahasiswa/i harus mengikuti praktikum dengan
tertib, wajib menggunakan name tag(nama lengkap
dan stambuk), berpakaian rapi, tidak memakai kaos
oblong/ pakaian ketat, celana jeans dan sandal. Bagi
mahasiswa tidak diperbolehkan berambut panjang
hingga menyentuh telinga. Bagi mahasiswi harus
memakai rok panjang dibawah lutut.
4. Untuk praktikum secara online, berlaku peraturan no 1
dan 2, dan mahasiswa wajib berpakaian rapi,
menyalakan video, dan menuliskan akun zoom dengan
identitas kelompok_NIM_Nama lengkap.
12 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
5. Apabila Mahasiswa/i melanggar peraturan nomor 3,
maka yang bersangkutan tidak diperkenankan
mengikuti kegiatan praktikum
6. Mahasiswa/i yang tidak hadir karena sakit harus ada
surat keterangan sakit dalam waktu 1x24 jam.
7. Mahasiswa/i yang tidak hadir karena praktikum
karena kedukaan harus ada surat keterangan
kedukaan yang ditandatangani oleh wali dalam waktu
2x24 jam.
8. Mahasiswa/i yang tidak hadir karena praktikum
karena kegiatan resmi dari fakultas, harus ada surat
izin dari fakultas sebelum kegiatan tutorial mulai.
9. Surat izin, surat keterangan dan surat tugas seperti
yang tersebut pada nomor 5,6 dan 7 harus diserahkan
kepada koordinator blok. Mahasiswa yang tidak
menyetor surat di atas sesuai dengan waktu yang
ditentukan, dianggap alfa.
10. Mahasiswa/i yang tidak mengikuti praktikum baik
karena sakit, kedukaan maupun izin harus melapor ke
koordinator blok secepatnya, segera setelah yang
bersangkutan masuk kuliah dan akan diberi tugas.
11. Mahasiswa/i wajib menjaga kebersihan ruangan
praktikum masing – masing ; tidak diperbolehkan
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 13
membuang sampah sembarangan ataupun
meninggalkan sampah dalam ruangan.
12. Mahasiswa/i yang tidak mengikuti kegiatan praktikum
100% karena alasan diluar dari ketentuan yang
berlaku tidak boleh mengikuti ujian blok yang
berlangsung.
14 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
SISTEM PENILAIAN
Penilaian praktikum keterampilan belajar diambil
berdasarkan aspek:
1. Kehadiran mahasiswa
Mahasiswa yang tidak hadir dibagi menjadi dua
kategori. Pertama yaitu tidak hadir karena alasan sakit
(dibuktikan dengan surat keterangan dokter),
kematian anggota keluarga ini, atau ada kegiatan lain
sebagai utusan fakultas/universitas (dibuktikan
dengan surat tugas). Mahasiswa pada kategori
pertama, dapat meminta tugas kepada instruktur dan
mengerjakan tugas tersebut sebagai pengganti
kehadiran. Kategori kedua yaitu mahasiswa yang hadir
bukan karena ketiga alasan pada kategori pertama.
Mahasiswa pada kategori kedua secara otomatis
mendapatkan nilai “0” dan harus inhal.
2. Keaktifan mahasiswa
Mahasiswa yang sering bertanya, menjawab, atau aktif
berdiskusi akan mendapatkan nilai lebih tinggi
daripada yang kurang aktif.
3. Penugasan
Penilaian berdasarkan tugas yang dikerjakan oleh
mahasiswa.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 15
TEAM BUILDING 1
Tujuan pembelajaran:
1. Mahasiswa mengetahui pentingnya Kerjasama
2. Mahasiswa dapat berkomunikasi secara efektif dalam
menyelesaikan tugas
3. Mahasiswa dapat menghargai pendapat orang lain
4. Mahasiswa dapat bekerjasama dengan orang lain
dalam menyelesaikan tugas
Langkah Praktikum
1. Pembukaan dan briefing dari instruktur mengenai
tatacara praktikum (5 menit)
2. Permainan 1 (25 menit)
3. Permainan 2 (25 menit)
4. Permainan 3 (25 menit)
5. Refleksi dari mahasiswa dan feedback dari instruktur
(20 menit)
PERMAINAN 1 – INTRODUCTION BALL
Waktu: 25 menit
Semua mahasiswa dalam 1 kelompok melakukan
permainan secara bersama
Bahan : bola
16 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
Petunjuk permainan:
1. Mahasiswa berdiri melingkar.
2. Semua mahasiswa terlebih dahulu memberitahukan
nama masing-masing.
3. Setelah itu, aktivitas melempar bola bisa dimulai, yaitu
dengan dimulai dengan instruktur melempar bola
kepada mahasiswa lain sambil memanggil namanya,
selanjutnya mahasiswa melanjutkan melempar bola
ke teman-temannya dengan menyebutkan nama
temannya.
4. Bola terus dioper, memastikan bahwa semua menjadi
akrab dengan nama.
5. Bila semua mahasiswa telah menghapal nama,
kegiatan bisa diulang dengan menambah informasi
lainnya, misalnya asal sekolah, tempat lahir, dll.
PERMAINAN 2 – INFINITY LOOP
Waktu: 25menit
Setiap grup terdiri dari 3-4 orang
Bahan: tali
Pada permainan ini mahasiswa akan berpasang-
pasangan (bisa per 2 orang, 3 orang, atau 4 orang dalam
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 17
satu kelompok). Kelompok akan terhubung menggunakan
infinity loop (tali). Tantangan mereka adalah melepaskan
diri dari pasangan mereka, tanpa melepaskan tangan
mereka dari loop atau melepaskan ikatan. Aktivitas ini
akan membuat setiap orang dalam satu kelompok bekerja
sama dengan erat dan memikirkan taktik apa yang
sebaiknya digunakan dalam memecahkan teka-teki yang
menyenangkan dan menantang ini.
Petunjuk permainan:
1. Ikat satu lingkaran di kedua ujung panjang tali.
Pastikan Anda memiliki cukup tali untuk satu orang
per orang dan memiliki beberapa tali cadangan (untuk
berjaga-jaga jika simpul menjadi longgar selama
tugas). Perhatikan, bahwa lingkaran harus cukup
besar agar seseorang dapat memasukkan tangannya.
2. Peserta akan bekerja berpasangan selama tantangan
ini (jika jumlah peserta ganjil, masukkan ke dalam
kelompok yang terdiri dari tiga orang).
3. Satu peserta menempatkan pergelangan tangan
mereka di loop, yang lain kemudian menempatkan
salah satu tangan mereka dalam satu loop, lalu
mengambil ujung tali yang lain dan menjalin satu kali
18 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
dengan tali pasangan sebelum menempatkan
pergelangan tangan lainnya di loop mereka.
4. Setelah pasangan terhubung, tali harus tetap, setiap
saat, di pergelangan tangan yang mereka mulai.
5. Tujuannya adalah untuk membebaskan semua orang
dari pasangannya.
Peraturan:
1. Loop pergelangan tangan Anda harus tetap berada di
pergelangan tangan Anda selama permainan
permainan.
2. Tali/loop tidak boleh dipotong (dengan cara apa pun).
3. Simpul harus tetap terikat sebagaimana adanya dan
pemain tidak dapat secara fisik mengubah tali atau
simpul atau pasangan.
4. Jika pasangan terjerat, diperbolehkan untuk
melepaskan tangan dari loop pergelangan tangan dan
memulai dari awal lagi.
PERMAINAN 3 – BLINDFOLD COMMUNICATION
Waktu: 25 menit
Setiap grup berisi 6-7 orang
Bahan: gelas plastik
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 19
Petunjuk permainan:
1. Bangun rintangan dengan gelas plastik pada area
sekitar 3x7m (satu ruang kelas). Kegiatan bisa
dilakukan di ruang kelas atau di lapangan/luar kelas
2. Bagi menjadi dua tim yang berisi 6 – 7 mahasiswa.
3. Ikatkan penutup mata pada salah satu anggota dan
minta mereka berdiri di garis “start”.
4. Anggota lainnya kemudian harus membimbing
anggota yang ditutup matanya dengan menyebutkan
arah, sampai anggota yang tertutup matanya bisa tiba
di garis “finish”, tanpa menginjak atau menyentuh
ranjau/rintangan/gelas plastik.
5. Anggota kelompok memberikan instruksi ke arah yang
benar, sedangkan tim lawan dapat memberikan
instruksi palsu untuk mengalihkan perhatian ke arah
yang salah. Dengan kata lain, orang yang ditutup
matanya harus mengenali semua suara tim
sekelompoknya.
6. Kelompok yang tiba duluan di garis finis (yang
waktunya paling cepat) adalah pemenang pada
permainan ini.
20 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari
permainan ini, yaitu:
1. Permainan ini mendorong kerja sama, kerja tim yang
sukses, dan kepercayaan, yang sangat penting untuk
komunikasi yang efektif. Ketika ada kurangnya
kepercayaan, itu membangun kecurigaan dan
mencegah pembelian.
2. Kejelasan dalam memberikan instruksi adalah suatu
keharusan dalam bekerjasama. Ketika ada yang
mengalami kesulitan memahami arahan teknis,
tergoda untuk menggunakan lebih banyak kata untuk
menjelaskan, yang semakin membingungkan
temannya. Singkat dan pemilihan kata yang cermat
adalah kunci untuk komunikasi yang lebih baik.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 21
TEAM BUILDING 2
Tujuan pembelajaran:
1. Mahasiswa mengetahui pentingnya Kerjasama
2. Mahasiswa dapat berkomunikasi secara efektif dalam
menyelesaikan tugas
3. Mahasiswa dapat menghargai pendapat orang lain
4. Mahasiswa dapat bekerjasama dengan orang lain
dalam menyelesaikan tugas
Langkah Praktikum
1. Pembukaan dan briefing dari instruktur mengenai
tatacara praktikum (5 menit)
2. Permainan 1 (25 menit)
3. Permainan 2 (25 menit)
4. Permainan 3 (25 menit)
5. Refleksi dari mahasiswa dan feedback dari instruktur
(20 menit)
22 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
PERMAINAN 1– MESSAGE RELAY
Waktu: 25 menit
Setiap grup berisi 6-7 orang
Bahan yang dibutuhkan: buku gambar dan spidol
Tujuan:
Untuk menyampaikan pesan dengan benar dari orang
pertama sampai ke orang terakhir.
Petunjuk permainan:
1. Instruktur membagi mahasiswa menjadi 2 kelompok
kecil
2. Peserta berbaris dalam satu barisan.
3. Pesan yang akan di sampaikan dapat berupa
“Gerakan” atau “petunjuk yang akan digambar”.
4. Komunikasi verbal tidak diperbolehkan.
5. Bila dalam bentuk Gerakan, instruktur akan
memperagakan Gerakan yang harus disampaikan. Bila
dalam bentuk gambar, instruktur akan menunjukkan
catatan berupa petunjuk yang perlu digambar.
Gerakan dan petunjuk diberikan pada orang pada
baris terakhir.
6. Kemudian orang pertama akan memperagakan
gerakan yang diperlihatkan intruktur kepada orang
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 23
kedua, sampai seterusnya pada orang di baris
pertama.
7. Kelompok tersebut berhasil, apabila orang pada
barisan paling depan (orang terakhir yang
mendapatkan pesan) dapat memperagakan gerakan
yang sama persis seperti yang ditunjukkan oleh
instruktur.
8. Bila dalam bentuk pesan yang harus digambar, orang
pada baris paling belakang (orang pertama) akan
menggambar sesuai dengan pesan yang disampaikan
oleh instruktur. Kemudian memperlihatkan hasil
gambar nya kepada orang kedua.
9. Orang kedua akan menggambar, lalu memperlihatkan
pada orang ketiga, dan seterusnya. Sampai pada orang
terakhir (yang paling depan), yang harus menebak apa
pesan yang disampaikan oleh instruktur.
10. Untuk memudahkan persamaan persepsi, pesan dapat
berupa peribahasa, judul lagu, atau judul film.
PERMAINAN 2 – TEAM PEN
Waktu: 25 menit
Setiap grup terdiri dari 6-7 orang
Bahan yang dibutuhkan: tali dan pena
24 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
Game ini sangat bagus karena sangat membantu
tim Anda menggunakan kreativitas mereka dan juga
mendorong mereka untuk melatih keterampilan
komunikasi mereka satu sama lain.
Petunjuk permainan:
1. Instruktur membagi mahasiswa menjadi 2 kelompok
kecil
2. Ambil pena dan seutas tali. Potong tali sebanyak yang
jumlah orang dalam 1 kelompok. Pena akan berada di
tengah dan semua tali akan diikat ke tengah pena,
sedemikian rupa sehingga ketika Anda menarik tali,
itu membentuk bentuk seperti bintang.
3. Setiap orang akan mengambil seutas tali dan
menariknya secara bersamaan. Di bawah pena, Anda
akan memiliki kertas. Tim akan menggambar atau
menulis kata, dan mereka harus berkomunikasi dan
bekerja sama dengan sempurna untuk menyelesaikan
tugas.
PERMAINAN 3 – PEN BALL CHALLENGE
Setiap grup berisi 6-7 orang
Bahan yang dibutuhkan: Pena dan bola karet
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 25
Tantangan
Tim harus mengangkat bola dari satu tempat dan
mereka harus menempatkan bola di tempat tertentu.
Petunjuk permainan:
1. Tim tidak boleh menyentuh bola dengan tangan.
Mereka harus menggunakan ujung pena.
2. Jika bola menyentuh tanah, mereka harus memulai
kembali.
3. Tim yang pertama kali dapat memindahkan bola
sampai pada tempat tujuan adalah pemenang.
26 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
ESAI REFLEKTIF
Tujuan pembelajaran:
1. Mahasiswa mampu memahami mengenai esai reflektif
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi Langkah menulis
esai reflektif
3. Mahasiswa mampu menentukan peristiwa yang perlu
ditulis menjadi esai reflektif
4. Mahasiswa mampu menulis esai reflektif
Langkah Praktikum
1. Pembukaan dan penyampaian materi oleh instruktur
(20 menit)
2. Diskusi dan tanya jawab mengenai esai reflektif (20
menit)
3. Mahasiswa menulis draft esai reflektif di laptop
masing-masing. Untuk yang tidak membawa laptop,
bisa menulis di buku/kertas (50menit)
4. Pemberian feedback dari instruktur (10 menit)
5. Mahasiswa melanjutkan menulis esai reflektif di
rumah dan esai reflektif yang sudah selesai,
dikumpulkan kepada instruktur.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 27
REFLEKSI KRITIS
Refleksi adalah cara untuk memungkinkan
pengembangan diri dan pembelajaran yang lebih dalam
dengan melihat kembali pengalaman yang telah
terjadi. Refleksi dapat membantu dalam memahami lebih
baik antara teori dan praktik, dan antara pengetahuan
masa lalu dan masa kini. Merefleksi diri, dan belajar dari
pengalaman, dapat membantu dalam menghindari
kesalahan yang berulang dan berubah menjadi lebih baik.
Refleksi kritis adalah refleksi terhadap diri sendiri
dari pengalaman yang dialami, terintegrasi dengan
pengetahuan yang dimiliki dan yang baru didapat, dan
meresponnya (ada perbaikan dalam diri). Refleksi kritis
merupakan salah satu hal penting dalam konsep “adult
learning”. Proses refleksi kritis memerlukan kejujuran dan
integritas dalam menilai. Mahasiswa sebagai “adult
learner” seharusnya mengetahui apa yang harus dipelajari,
apa yang masih kurang, dan bertanggung jawab atas
konsekuensi yang dilakukan.
Proses refleksi memberi waktu untuk mengenali dan
mengukur diri sendiri. Lalu mengambil keputusan apa
yang harus dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi dapat
menambah pengetahuan (sampai ke proses konstruksi)
dan mengubah perilaku.
28 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
Pada dasarnya, melakukan refleksi memberi Anda
waktu dan ruang untuk mempertimbangkan apa yang
telah Anda lakukan, menghargainya, dan
mempertimbangkan sebaiknya apa yang seharusnya
dilakukan bila kejadian tersebut terjadi kembali. Refleksi
tidak selalu menghasilkan sebuah perubahan, akan tetapi
dengan adanya refleksi berarti ada keinginan dari
seseorang untuk menjadi lebih baik. Melalui proses
refleksi kritis, orang dewasa belajar melalui pengalaman
dengan dasar teori dan teknis untuk menkonstruksi
pengetahuan dan perilaku baru atau wawasan.
Kapan anda sebaiknya melakukan refleksi kritis?
Setiap hari, luangkan waktu untuk melakukan refleksi
kritis. Cari waktu yang tepat, saat menyendiri, saat sedang
tidak memikirkan hal lain, sebelum tidur, setelah sholat.
Mulailah dengan mengingat kejadian hari itu (minggu itu),
hal mana yang paling berkesan, pengalaman buruk (yang
berhubungan dengan proses pembelajaran).
TAHAPAN REFLEKSI KRITIS
Beberapa model refleksi telah diusulkan. Gibbs
(1988) mengusulkan siklus reflektif yang dapat digunakan
untuk memandu proses refleksi seperti digambarkan
pada gambar 1.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 29
Gambar 1. The Reflective Cycle (Gibbs, 1988)
Sesuai dengan siklus refleksi yang diperkenalkan
oleh Gibbs (1988), proses refleksi terdiri dari 6 langkah:
1. Deskripsi
Pada tahap ini, kita mendeskripsikan atau
membayangkan kembali peristiwa yang telah terjadi.
2. Perasaan
Mengidentifikasi perasaan apa yang kita rasakan
terhadap peristiwa tersebut. Apakah kita senang,
kecewa, marah, sedih, dan sebagainya.
3. Evaluasi
Mengevaluasi apakah peristiwa tersebut merupakan
30 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
pengalaman yang baik atau buruk. Bila itu adalah
pengalaman baik, maka bila hal serupa terjadi kembali,
kita bisa melakukan hal yang sama atau dengan lebih
meningkatkan jadi yang lebih baik lagi. Tetapi, bila hal
itu adalah hal yang buruk, maka kita perlu
menganalisis kenapa bisa terjadi seperti itu.
4. Analisis Pelajaran (Hikmah) apa yang kita dapatkan
dari peristiwa tersebut.
5. Kesimpulan
Apakah kita bisa melakukan hal lain supaya peristiwa
tersebut tidak menjadi buruk? Hal lain apa yang
seharusnya kita lakukan?
6. Rencana perbaikan
Pada tahap terakhir ini adalah membuat rencana
apabila terjadi pengalaman yang serupa, apa yang
sebaiknya kita lakukan.
ESAI REFLEKTIF
Esai reflektif adalah tulisan yang menggambarkan
proses refleksi kritis. Esai reflektif biasanya dapat berupa
sekumpulan tulisan cerita pengalaman, terutama yang
berhubungan dengan kegiatan akademik bagi seorang
mahasiswa. Esai reflektif menggambarkan apa yang terjadi
dan bagaimana perasaan Anda hanyalah sebagian kecil
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 31
dari tulisan reflektif. Pada esai reflektif, penulis lebih
menekankan pada analisis dan eksplorasi pengalaman
yang dialami. Tulisan reflektif berbeda dari sebagian besar
tulisan akademis lain. Yang paling menonjol adalah
penggunaan kata penunjuk orang pertama (“Saya”) untuk
menggambarkan pengalaman dan pengalaman yang anda
rasakan. Sebagian besar tulisan reflektif untuk tugas juga
akan menyertakan elemen akademik sehingga Anda harus
tulis sebagai orang pertama ("Saya merasa ...") untuk
mendeskripsikan pengalaman dan perasaan Anda sendiri
dan menyebut orang ketiga misalnya "Jones (2010)
menyarankan bahwa ..." sebagai referensi yang Anda pakai
dalam tulisan esai reflektif yang anda tulis.
Seperti dalam penulisan akademik, penulisan
reflektif membutuhkan penggunaan bahasa formal,
argumen yang didukung oleh bukti, dan sumber informasi
yang didapat melalui pencarian jurnal, buku, atau sumber
referensi lainnya yang terpercaya. Tulisan reflektif melihat
ke masa depan. Anda perlu menunjukkan bagaimana
refleksi Anda tentang apa yang terjadi di masa lalu akan
menginformasikan apa yang sebaiknya anda lakukan di
masa depan. Analisis Anda tentang pengalaman harus
dikaitkan dengan teori akademis untuk memberikan
kredibilitas.
32 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
CARA MENULIS ESAI REFLEKTIF
Menulis reflektif bisa lebih menantang daripada
bentuk tulisan lain karena melibatkan perasaan
(kecemasan, kesalahan, atau keberhasilan). Pikirkan
sebuah peristiwa yang bisa menjadi topik esai Anda.
Ketika Anda telah memilih suatu peristiwa, tanyakan pada
diri Anda bagaimana perasaan Anda tentangnya,
bagaimana hal itu mempengaruhi (atau tidak
mempengaruhi) hidup Anda dan mengapa? Ini akan
membantu Anda membuat topik yang akan menjadi titik
fokus esai Anda. Berikut adalah Langkah yang dapat
dilakukan dalam Menyusun esai reflektif:
1. Pertama-tama buatlah peta pikiran. Tulis topik Anda
dan buat lingkaran di sekelilingnya. Sekarang
identifikasi argumen dan ide utama Anda yang akan
mendukungnya dan bantu pembaca mengikuti
pemikiran dan pengalaman Anda, kelompokkan ke
dalam paragraf yang akan Anda tulis nanti, dan
hubungkan ke lingkaran pusat Anda. Peta pikiran dan
diagram alir ini akan membantu Anda melihat
keseluruhan struktur esai Anda dengan lebih jelas.
Akhirnya, putuskan urutan logis dari paragraf-
paragraf ini dan urutkan sesuai dengan itu.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 33
2. Buat paragraf pendahuluan. Tulislah paragraf
pembuka yang kuat. Perkenalan Anda harus menarik
perhatian, sehingga pembaca langsung tertarik.
Seperti halnya semua esai, esai reflektif harus dimulai
dalam pendahuluan yang berisi topi kapa yang akan
dibicarakan atau pengalaman apa yang akan Anda
tulis. Anda harus menggambarkan aspek menarik dari
cerita Anda di paragraf awal sehingga Anda memiliki
peluang terbaik untuk menarik minat pembaca Anda.
Lihat kembali kutipan pembuka, apakah itu menarik
perhatian Anda dan mendorong Anda untuk membaca
lebih lanjut? Ingatlah untuk memberikan gambaran
singkat tentang pengalaman Anda dan jangan
memberikan terlalu banyak informasi atau akan
berisiko pembaca Anda menjadi tidak tertarik.
3. Buat paragraf inti. Nyatakan argumen, ide, dan contoh
pendukung Anda dalam paragraf inti. Tekankan hanya
satu poin atau pengalaman, serta refleksi di dalamnya,
dalam setiap paragraf. Ini bisa menjadi bagian tersulit
dari keseluruhan esai. Kuncinya di sini adalah
meluangkan banyak waktu dan upaya untuk
merencanakan penulisan paragraph inti, dan Anda
dapat memanfaatkan tip berikut untuk membantu
Anda melakukannya dengan baik. Cobalah tulis sesuai
34 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
kronologis. Sehingga bisa memastikan bahwa Anda
menulis secara sistematis dan koheren. Ingatlah
bahwa esai reflektif tidak selalu harus linier, tetapi
dengan menulis secara kronologis akan mencegah
Anda menulis hal lain di luar topik pengalaman yang
seharusnya. Pastikan paragraph inti terfokus dengan
baik dan berisi kritik dan refleksi yang sesuai. Selain
itu, pada paragraph ini juga Anda harus
mengeksplorasi dampak pengalaman itu terhadap
hidup Anda, serta pelajaran yang telah Anda pelajari
dari pengalaman.
4. Buat paragraf penutup. Dalam kalimat pertama
kesimpulan, ringkaslah pemikiran Anda. Cobalah
untuk memasukkan beberapa poin tentang mengapa
dan bagaimana sikap dan perilaku Anda telah
berubah. Pertimbangkan juga bagaimana karakter dan
keterampilan Anda telah terpengaruh, misalnya:
kesimpulan apa yang dapat ditarik tentang
keterampilan pemecahan masalah Anda? Apa yang
dapat disimpulkan tentang pendekatan Anda terhadap
situasi tertentu? Apa yang mungkin Anda lakukan
secara berbeda dalam situasi serupa di masa depan?
Langkah-langkah apa yang telah Anda ambil untuk
mengkonsolidasikan semua yang telah Anda pelajari
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 35
dari pengalaman Anda?. Pikirkan tentang apa yang
telah Anda pelajari dan bagaimana pengalaman Anda
mungkin berguna bagi orang lain. Akhiri esai Anda
dengan pertanyaan retoris kepada pembaca Anda
tentang bagaimana mereka dapat bertindak dalam
situasi yang sama. Atau, minta mereka untuk
memikirkan topik terkait sendiri.
Beberapa hal yang dapat membantu memudahkan
proses penulisan:
Bacalah esai reflektif lainnya di majalah, surat kabar,
atau di internet.
Jangan terlalu memikirkan bagaimana memulai
kalimat atau paragraf pertama; mulai saja menulis apa
yang terdapat di pikiran Anda, dan Anda juga bisa
membuat peta pikiran (mind map) untuk
mempermudah dalam menulis nanti. Draf pertama
Anda belum tentu langsung menjadi esai terbaik,
tetapi penting untuk diingat bahwa semakin awal
Anda mulai menulis, semakin banyak waktu yang
Anda miliki untuk terus mengerjakan ulang esai Anda
hingga sempurna.
Untuk setiap poin yang Anda buat tentang pengalaman
atau peristiwa, dukunglah dengan menjelaskan
36 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
bagaimana Anda terkena dampak langsung. Gunakan
kata-kata spesifik untuk mendeskripsikan bagaimana
perasaan Anda.
Tulislah menggunakan narasi orang pertama dan
pastikan bahwa nada esai Anda sangat pribadi dan
mencerminkan karakter Anda.
Pertimbangkan untuk memulai pendahuluan Anda
dengan anekdot atau kutipan singkat untuk menarik
perhatian pembaca Anda, atau teknik menarik lainnya
seperti kilas balik.
Pilih kosakata Anda dengan hati-hati untuk
menyampaikan perasaan dan emosi Anda dengan
benar. Ingatlah bahwa tulisan reflektif memiliki
komponen deskriptif dan karenanya harus memakai
kata sifat yang tepat. Hindari kata sifat yang terlalu
umum seperti 'baik' karena mereka tidak benar-benar
mencerminkan tentang perasaan dan kepribadian
Anda. Pilihlah kata yang lebih spesifik untuk
menggambarkan ‘baik’, misalnya saat ‘saya merasa
sangat bersyukur dan beruntung karena ada orang
lain yang bisa membantu saya menyelesaikan laporan
di saat saya merasa sudah tidak ada jalan keluar’
Jujurlah dengan perasaan dan pendapat Anda. Ingatlah
bahwa ini adalah tugas reflektif, dan merupakan satu-
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 37
satunya tempat Anda dapat dengan bebas mengakui -
tanpa akibat apa pun, bahkan ketika Anda gagal pada
tugas tertentu. Saat menilai esai Anda, instruktur akan
mengharapkan tingkat refleksi yang mendalam, bukan
ulasan sederhana tentang pengalaman dan emosi
Anda. Menampilkan refleksi mendalam mengharuskan
Anda untuk jujur dalam mendeskripsikan pengalaman.
Bersikaplah sangat kritis tentang pengalaman Anda
dan tanggapan Anda terhadapnya. Dalam evaluasi dan
analisis, pastikan bahwa Anda memasukkan ide-ide
dari luar pengalaman yang Anda miliki. Ingatlah
bahwa Anda bisa jujur tentang perasaan Anda tanpa
menulis secara langsung. Gunakan kata-kata yang
cocok untuk Anda dan selaras dengan kepribadian
Anda.
Setelah Anda selesai mempelajari dan merenungkan
pengalaman Anda, pertimbangkan untuk bertanya
pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini: apa yang
secara khusus saya hargai dari pengalaman tersebut
dan mengapa? Melihat ke belakang, seberapa
sukseskah prosesnya? Pikirkan tentang pendapat
Anda segera setelah pengalaman dan bagaimana
perbedaannya sekarang, sehingga Anda dapat
mengevaluasi perbedaan antara persepsi langsung
38 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
dan saat ini. Bertanya seperti itu kepada diri sendiri
akan membantu Anda dalam menulis esai reflektif
secara efektif dan efisien.
Jika Anda benar-benar ingin membangkitkan imajinasi
pembaca, Anda dapat menggunakan perumpamaan
untuk membuat gambaran yang jelas tentang
pengalaman Anda.
Mulailah menulis sesegera mungkin setelah acara
selesai. Menunda penulisan Anda mungkin akan
menyulitkan bagi Anda untuk mengingat dengan tepat
apa yang terjadi dan bagaimana perasaan Anda.
Gunakan refleksi sebagai hal positif yang akan
membantu Anda mengembangkan diri dan
keterampilan Anda.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 39
Contoh esai reflektif
Reflections of a Fourth Year
Medical Student
By Ilana Yurkiewicz on May 6, 2014
“We pass through the present with our eyes blindfolded.
We are permitted merely to sense and guess at what we
are actually experiencing. Only later when the cloth is
untied can we glance at the past and find out what we
have experienced and what meaning it has.” – Milan
Kundera
Two weeks ago, I finished my third year of medical
school. This is the year that you leave the classrooms
and spend your time in hospitals and clinics, as an
apprentice of sorts. After cramming medical
information through books and national exams for two
years, you finally make it to the hospital wards. You
rotate through a range of specialties: internal medicine,
surgery, pediatrics, obstetrics and gynecology,
radiology, psychiatry, and neurology. You spend a few
weeks on each, meeting a new team and discovering
40 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
Your role, and then once you start to get the hang of it
you are shipped into a whole new medical world with a
new language and a new culture. In the meantime, you
finally get to do what you came to do: you get to take
care of patients.
It’s almost astounding how many transitions there are
in medicine. How many firsts. How many have
occurred, and how many still remain. There are
moments you will never forget, that make their way
into your emotional psyche and set up permanent
shop. That show their faces when you least expect
them: maybe on the backs of your eyelids as you try to
sleep, or perhaps in a stranger’s voice. The unfortunate
outcomes that haunt you, but you try not to let oppress
you. The first time I saw a fellow human being die. The
first time I had to deliver bad news. There’s good, too,
and beautiful. The first time I delivered a baby. The
first time I helped someone through successfully
quitting an addiction. And the personal growths: the
first time I came up with my own plan from scratch to
treat someone. The first time I stitched closed an open
wound. The first diagnostic catch. And there is still so
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 41
much more to come: the first time I will run a code; the
first time I will be alone in the ICU; the first time I will
have to make calls with no one watching over my every
move. So much remains unknown, even at times
unimaginable.
There has been every emotion on the spectrum, and
sometimes they have occurred over the course of a
single day. This past year has been wonderful and
terrible. I’ve been thanked profusely and I’ve been
disparaged. I’ve formed meaningful relationships with
patients, and I’ve struggled with building rapport. I’ve
felt incompetent and I’ve felt proud. I’ve been
impressed by nurses, doctors, physical therapists,
social workers, and many others so incredibly skilled
at what they do. I’ve been ashamed by inefficiency and
waste. I’ve imitated and I’ve developed my own style.
I’ve been comforted. I’ve been able to comfort. I’ve
laughed. I’ve been moved, scared, confident, anxious,
overwhelmed, overjoyed, insecure, humbled, sad.
The hospital is a world in itself, with many moving
pieces and emotional overload. And then there’s you,
42 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
the third year medical student, trying to navigate it –
sometimes playing an active role and sometimes being
a shadow, sometimes making mistakes and sometimes
doing well. By end of the year, you develop more and
more independence; you evaluate patients yourself,
and you are surprised when colleagues trust you. By
the end of the year, you formulate assessments and
plans, and you run those by seasoned physicians, and
you are amazed and nervous by the number of times
those plans go unchanged. Your white coat has
developed stains – usually metaphorical, and
sometimes literal – and you carry them with you and
let them shape you.
There were two major themes I could focus on to think
about third year: there was efficiency, and then there
was poetry. Yes, one thing I was struck by was the
burden of what can only be described as logistics, and
the stark reality of how encompassing it can become.
You hear residents complain about “scutwork,” and
you finally get it. There is a lot of paperwork. There is a
lot of time spent hunched over a computer, writing
daily progress notes, cranking out discharge
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 43
summaries, documenting everything, on hold with
outpatient providers and insurance companies. There
is tedium and there is waste. You use a fax machine
more than you ever thought possible in 2014. We carry
around small slips of paper in our scrub pockets with
checkboxes of tasks to do, and we cross things off as
the day goes by. Yes, I put in morning lab orders. Yes, I
ordered the evening hematocrit check on Ms R. Yes, I
filed the notes in the charts. Yes, I updated the sign-out
for the night team. This is the reality of the majority of
each day, every day, and it can soak up so much of your
time and your mental energy – if you let it.
And then there’s poetry. It’s a main reason many of us,
I presume, went into medicine in the first place, and it
stays with you, moves you, and changes you. I must
have written hundreds of notes this year – my fingers
skilled at tracing the pattern of the phrases “heart
regular rate and rhythm, lungs clear to auscultation
bilaterally” over the keyboard. But none of it made a
dent. No, what I remember is the patients; the
emotionally salient encounters remain crisp. The early
ones carve a deep imprint, and I wonder if they all will
44 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
– if their impact is a function of our being green, or if
it’s a more indelible feature of this profession. These
individuals have taught me in every possible way.
About this business we call doctoring. About life. You
remember and forget and remember again why you
chose this career in the first place. There is poetry all
around, if you open your eyes to it. You can lose the
forest for the trees, or you can rebuff the forces that
threaten to jade you and remain clear, appreciative of
what is around you, grateful and humbled by the role
you are in. It’s easier said than done.
Now, as I begin my last year of medical school, my
goals are humble. From wanting to learn everything
possible to the one goal riding above it all: to do good. I
want to do right by my patients. There is so much you
can pour into patient care. At times there will be
puzzles, but I will try to make sense of them. I will
make mistakes, but I will learn from them. I will work
hard. There will be inevitably be countless moments
where I will not know the best course of action, tiny
decisions peppering the day with each having
potentially dire consequences. I will do right.
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 45
And that, somehow, is the force that has propelled me
through this year and I hope will sustain me
throughout residency and beyond. It has been there
through it all: through the long days on call; through
the late night literature searches; through the times of
indecision; through the petty grievances. I will do right
by my patients. Inspiring me and grounding me. And so
you make sure that sandwich arrives for the patient
who came in after the cafeteria closed for the night.
And so you make that MRI happen. And so you sit by
bedsides and explain and re-explain, because it’s
information overload, and so you demonstrate
patience and compassion. You can’t do it all, and you
are bound to experience many times you are unsure.
But there is a meaning behind all of what we do, and it
is this: I will do right by my patients.
In the 2012 commencement speech to the Harvard
Medical School graduating class, Don Berwick invoked
an image that resonated with me deeply:
46 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
To every patient I’ve had the privilege of meeting over
the past year: thank you for letting me be involved in
your care. Thank you for your teaching, for your
lessons on humanity. In return, I will spend my career
trying to do right by you.
([Link]
fourth-year-medical-student/ )
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 47
SIMULASI KASUS
Tujuan pembelajaran:
1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah yang
terdapat pada kasus
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi peran masing-
masing tenaga kesehatan yang terdapat pada kasus
3. Mahasiswa mampu mendiskusikan kasus sesuai
dengan konsep pendidikan interprofesional
Langkah Praktikum
1. Pembukaan dan briefing oleh instruktur (5 menit)
2. Mahasiswa mendiskusikan masalah yang terdapat
pada skenario (80 menit)
3. Instruktur memberikan pertanyaan, saran, ataupun
feedback setiap mahasiswa selesai mendiskusikan 1
skenario (15 menit)
SKENARIO 1
Pasien diabetes melitus datang ke IGD RS Tadulako
dengan ulkus diabetikum pada kaki sebelah kiri. Pasien
langsung dipasang infus oleh perawat. Setelah melakukan
anamnesis, dokter meminta analis medis untuk melakukan
48 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
pemeriksaan darah rutin dan GDS. Kemudian dokter dan
perawat merawat luka pasien. Setelah itu, dokter
memberikan resep kepada keluarga pasien. Dokter lalu
menganjurkan pasien untuk dirawat inap, dan
memberitahukan ahli gizi untuk memberikan diet khusus
pasien diabetes melitus selama pasien dirawat.
Pertanyaan yang mungkin diajukan saat diskusi:
1. Apakah peran dari masing-masing tenaga
Kesehatan sudah sesuai?
2. Apakah terdapat tenaga Kesehatan lain yang dapat
berperan dalam membantu kesembuhan pasien?
Sebutkan siapa dan apa perannya!
3. Apakah terdapat Kerjasama yang efektif dan efisien
antar tenaga Kesehatan pada scenario?
4. Bagaimana sebaiknya komunikasi yang terjadi pada
tenaga Kesehatan di scenario?
PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1 49
SKENARIO 2
Seorang pasien geriatric sedang dirawat di rumah
sakit dengan kondisi seperti gambar di bawah.
Silahkan diskusikan:
1. Penyakit apa yang diderita oleh pasien?
2. Sebutkan tenaga kesehatan yang perlu merawat
pasien, dan sebutkan juga peran dari masing-masing
tenaga Kesehatan tersebut!
50 PANDUAN PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL 1
REFERENSI
1. [Link]
modules
2. [Link]
resources/
3. [Link]
modules
[Link]://[Link]/iris/bitstream/handle/10665/7018
5/WHO_HRH_HPN_10.3_eng.pdf;jsessionid=3FE3807580
A63B49ECE22E46926F6C7E?sequence=1
5. [Link]
to-writing-a-reflective-essay/
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI KEDOTERAN
KAMPUS BUMI TADULAKO TONDO
JL. SOEKARNO HATTA KM. 9 TELP (0451) 422611 – 422355 FAX (0451) 422844
E-MAIL : untad@[Link] PALU SULAWESI TENGAH 941