0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan19 halaman

Panduan Farmakoterapi Asma

Dokumen ini membahas tentang farmakoterapi asma, termasuk pengobatan, dosis obat, dan alur terapi. Dokumen ini juga membahas update terbaru tentang panduan pengobatan asma tahun 2021.

Diunggah oleh

tendri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan19 halaman

Panduan Farmakoterapi Asma

Dokumen ini membahas tentang farmakoterapi asma, termasuk pengobatan, dosis obat, dan alur terapi. Dokumen ini juga membahas update terbaru tentang panduan pengobatan asma tahun 2021.

Diunggah oleh

tendri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FARMAKOTERAPI ASMA

Paparan alergi → akan mengakibatkan serangkaian reaksi

PAPARAN PERTAMA

1. Paparan antigen → akan ditangkap oleh sel dendritik → sel dendritik mencerna antigen dan
dibawa masuk untuk diperkenalkan kepada sel T
2. Sel T helper akan melepaskan Il4 dan il% yang merupakan mediator inflamasi
3. Il 4 dan il5 bisa menstimulasi sel B untuk melakukan proliferasi →akan menghasilkan antibodi
(IgE) → igE akan berikatan dengan sel mast
PAPARAN KEDUA

1. Alergennya datang lagi → alergen akan berikatan dengan igE → sel mast akan mengeluarkan
mediator2 inflamasi → menyebabkan meregangnya epitel →antigen berikatan dengan saraf
vagus → akan menstimulasi pengirimkan sinyal dan akan menghasilkan asetilkolin →asetilkolin
berikatan, terjadi kontsriksi otot polos
2. sel mast akan mengeluarkan mediator2 inflamasi → sel mast mengirimkan keoatrakton
(neutrofil, eosinofil →neutrofil akan melepaskan senyawa inflamatori yang bisa lebih
memperparah inflamasi
3. sel mask mengelurakan lt, pg , il4, il5 →menyebabkan bronkostriksi, edema dan kelenjar mukus
menjadi hiperaktif → mukus lebih banyak dihasilkan sehingga terjadi penebalan mukus (terjadi
obstruksi sal nafas →pasien sulit bernafas
SPIROMETRI

➔ pemeriksaan utk menunjukkan ada atau tidak adanya penurunan aliran


➔ bagaimana kemampuan pasien dalam mengembuskan nafas, aliran udaranya terhambat atau
tidak
1. FVC
- Menggambarkan berapa banyak udara yang bisa dikeluarkan dengan paksa oleh pasien
ketika pasien sudah menarik nafas dengan dalam
- Untuk normalnya 70-80% dari nilai FVC

2. FEV1
- Volume udara yang dikeluarkan pasien pada detik pertama saat FVC
➔ Ini akan direkam oleh alatnya dan akan dilihat rasionya
➔ Pada PPOK untuk rasio pada pasien asma ini bisa kembali lagi atau bersifat irreversibel

FAKTOR RISIKO

1. Infeksi virus
- Virus bisa menyebabkan inflamasi pada sal pernafasan sehingga bisa menimbulkan
kambuhnya asma pada pasien
2. Stress, depresi
3. GERD
- Pada pasien gerd, ketika asam lambung naik, bisa menstimulasi saraf vagus sehingga bisa
memicu bronkokonstriksi
- Pada pasien asma menggunakan obat B agonis dan teofilin yang dimana bisa melonggarkan
sfingter sehingga bisa jg menyebabkan gerd
4. Obesitas
- Penumpukan lemak di abdomen bisa menekan paru2 sehingga bisa sesak nafas
5. Lingkungan dan pekerjaan
- Cuaca
- Pekerjaan : banyak polusi dan alergen lainnya sehingga harus dihindari paparan alergen
tersebut
6. NSAID

PANDUAN DIAGNOSIS
- Pasien dengan gejala respiratori (batuk, mengi, sesak nafas ) dan dari serangkaian
anamnesis dari riwayat keluarga dan riwayat gejala bisa sementara di dx asma → maka akan
diberi terapi empiris terlebih dahulu selama 1 – 3 bulan
- Jadi tidak langsung di dx tetap dengan asma
- Selama terapi empiris ini pasien juga akan melakukan spirometri untuk konfirmasi diagnosis

TINGAKT KEPARAHAN ASMA

- Tidak bisa ditentukan diawal, harus ditentukan setelah pasien menggunakan terapi
pengontrol 1-3 bulan

Harus bisa dibedakan asma tidak terkontorl atau asma berat

- Jangan sampai dikira asma berat untuk kemudian pengobatannya dinaikkan namun ternyata
pasiennya asma tidak terkontrol
- Untuk membedakannya diperiksa terlebih dahulu apakah benar cara penggunaan obatnya,
teknik penggunaan inhalernya
- Asma berat : semua sudah benar tetapi obatnya tidak mempan
PENGOBATAN ASMA

- Pengontrol :
- Pelega : pada saat pasian terkena serangan dan pencegahan agar tidak terjadi
bronkokonstriksi
- Add on : digunakan pada asma yang berat yang menggunakan ICS dosis tinggi – LABA
- Sudah menggunakan 2 kombinasi tersebut tetapi tidak mempan, maka diberikan terapi
tambahan
- Antibiotik : ada bebrapa penelitian yang mengatakan dimana antibiotik yang golongan
makrolida yaitu azitromisin ketika ditambahkan dengan kombinasi ICS-LABA bisa
menurunkan efek eksaserbasi
- Vitamin D : terutama pada pasien ibu hamil, karena jika terjadi defisiensi vit D bisa
menyebabkan penurunan fungsi paru

OBAT ASMA

- B2 agonis : karena dari pato nya terjadi bronkonstriksi jadi kita butuh bantuan dari saraf
simpati untuk melakukan bronkodilator, ex : SABA (salbutamol), LAMA (formoterol)
- Kortikosteroid : antiinflamasi, ex : OCS (deksametason, prednison), ICS (mometason,
flutikason, budesonid)
- Antikolinergik : bronkodilator, ex : inhalasi (ipratropium bromida)
- LTRA : antiinflamasi (montelukast)

OBAT ASMA

- SABA
- Kortikosteriod
- LABA + kortikosteroid
TERAPI ASMA :

- Mengkonfirmasi terlebih dahulu riwayat gejala yang mendekati pasien asma


- Konfirmasi tingkat gejala dan faktor risiko (obesitas, penyakit2 bawaan tertentu termasuk
fungsi paru dari pasien)
- Penentuan terapi pengontrol
- Konfirmasi diagnosis setelah dilakukan pemeriksaan spirometri

UPDATE 2021

Terdapat 2 jalur :

Pada tahun 2019, menyarangkan peleganya HANYA bronkodilator, tetapi di patofisiologi nya kalau asma
selain terjadi bronkonstriksi juga terjadi inflamasi → olehnya itu jika hanya menggunakan bronkodilator
saja, inflamasinya tidak ditangani → Makanya ada beberapa penelitian yang mengatakan jika hanya
menggunakan SABA hanya akan menimbulkan kekambuhan pada pasien asma

Oleh karena itu, GINA 2021 → membagi menjadi 2 jalur

Jalur 1 : Pelega : ICS - formoterol

Jalur 2 : Pelega SABA (ada beberpa pasien yang tidak patuh dengan menggunakan ICS, dan ada pasien
lama yang nyaman menggunakan SABA dan tidak terbukti ada kekambuhan yang lebih parah)

ALUR TERAPI ASMA

1. Konfirmasi diagnosis → gejala dan faktor risiko → komorbid → dan edukasi terkait inhaler dan
pentingnya kepatuhan → dan kita sesuaikan dengan profilnya, pasien ingin menggunakan obat
apa, apakah terganggu dengan efek sampingnya dan sebagainya
2. Selanjutnya kita lihat dari gejala harian yang ditunjukkan oleh pasien, apakah gejalanya tiap hari
kambuh dan pernah bagun malam hari .... → jika YA → terapinya bisa menggunakan dosis
sedang ICS dikomninasikan dengan formoterol menggunakan MART (yaitu terapi pemeliharaan
dan pelega) → atau jalur 2 → peleganya menggunakan SABA (ICS dikombinasi dengan LABA +
SABA bila butuh
3. Tapi, pasien dengan gejala tersebut, sudah menggunakan step 4 atau sudah termasuk asma
yang berat untuk diawal, biasanya pasien bisa juga menggunakan OCS pada pasien asma berat
yang tidak terkontrol

JIKA TIDAK

- Gejala beberapa hari ... → ICS dosis rendah – formoterol tetapi tetpa digunakan sebagai
pengontorl dan eplega

JIKA TIDAK

- Gejala >2x sebulan → dosis rendah bila butuh


JIKA TIDAK

- Tidak lebih dari 2 kali sebulan → dosis rendah ICS

Perlu dicatat juga, kalau lebih disarankan untuk menggunakan terapi yang ICS untuk mencegah
eksaserbasi dan mencegah kebutuhan OCS, karena efek samping dari OCS lumayan

Pasien juga ada yang tidak menoleransi ICS, bisa diganti dengan ICS dikombinasikan dengan formoterol
hanya diberikan saat kambuh saja
DOSIS ICS
REKOMENDASI SABA

- Sudah tidak menyarankan penggunaan SABA


- Tetapi masih bisa digunakan pada jalur kedua, jika memang dengan saba tidak menimbulkan
eksaserbasi
- Bisa meningkatkan kekambuhan yang lebih parah

- Dan ICS bisa menurnkan kematian dibadingkan SABA

REKOMENDASI LTRA

Montelukast harus hati2 karena efek sampingnya kejadian neuropsikiatrik, makanya tidak termasuk lini
pertama dalam pengobatan asma

TERAPI PADA BUMIL

- Pada ibu hamil terutama trimester 2 cenderung sering kambuh asmanya


- Penggunaan ICS itu aman2 saja karena pada peneltiian obat2an asma tidak menunjukkan
pengaruh terhadap abnormalitas janin, jadi tetap bisa digunakan sebagaimana umumnya
sebelum hamil, jadi obatnya bisa tetap dilanjutkan dan terkontrol, karena apabila tidak
terkontorl bisa berbahaya pada janinnya karena pasokan O2 ke plasentanya bisa berkurang
jika kambuh
- Pada saat melahirkan apabila terjadi bronkokonstriksi dapat diberikan SABA

TERAPI NON FAMRAKO

- berhenti merokok
- Hindari obat2an yang dapat memicu asma
- Paparan pekerjaan yang bisa menimbulkan kekambuhan (polusi)
- Diet
- Aktivitas fisik (untuk menjaga BB)
- Menghindari paparan alergen yang bisa menimbulkan kekambuhan

EVALUAS ITERAPI

- Kontrol gejala dalam 4 mgg terakhir → kuesioner


- Indentifikasi faktor risiko
- Lakukan pemoeriksaan fungsi paru
- Evaluasi teknik inhaler
- Evaluasi komorbid
-

Anda mungkin juga menyukai