Asuhan Keperawatan RDS Bayi Prematur
Asuhan Keperawatan RDS Bayi Prematur
OLEH :
010190108
RS HERMINA SUKABUMI
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada
Bayi Ny. I dengan masalah RDS di ruangan NICU RS Hermina Sukabumi dengan baik.
Penulisan makalah dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat menyelesaikan
persyaratan kenaikan level 1B yang diselenggarakan oleh HHG (Hermina Hospital Group).
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan
dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, tidak terlepas dari bantuan tenaga, pikiran dan
dukungan moril. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Suci Nurhayati, S. Kep,
Ners selaku pembimbing dengan penuh kesabaran dan ketelitian serta dengan segala totalitasnya
dalam menyumbangkan ide-idenya dalam mengoreksi, merevisi, serta melengkapi dalam
menyusun karya tulis ilmiah ini. Dan tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada Bapak
Herdiansyah, S. Kep, Ners selaku kepala ruangan yang telah memberikan semangat dan waktu
untuk menyelesaikan makalah ini , serta terimakasih juga kepada keluarga By. Ny. I yang telah
bersedia menjadi pasien dalam pengambilan kasus ini dan membantu penulis menyelesaikan
kasus ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
segala kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari pembaca sangat diharapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga segala budi baik dari semua pihak diberkati oleh Tuhan
Yang Maha Esa. Akhirnya, penulis mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca.
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. TUJUAN
BAB II KONSEP DASAR
A. MEDIS
1. PENGERTIAN
2. ETIOLOGI
3. TANDA DAN GEJALA
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
5. PATOFISIOLOGI
6. PENATALAKSANAAN MEDIS
B. KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
2. MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PATOFLOW
TEORI
3. RENCANA TINDAKAN DAN RASIONAL
BAB III LAPORAN KASUS
1. PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PATOFLOW KASUS
3. PERENCANAAN
4. PELAKSANAAN
5. EVALUASI
BAB IV PEMBAHASAN
1. PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PATOFLOW KASUS
3. PERENCANAAN
4. PELAKSANAAN
5. EVALUASI
BAB V PENUTUP
1. KESIMPULAN
2. SARAN
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Respiratory Distress Syndrome (RDS) ialah keadaan dimana terdapat gangguan
sistem respiratori pada neonatus yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan terlebih pada
bayi yang kurang bulan. Surfaktan merupakan zat yang mampu menurunkan tegangan
pada dinding alveoli [Link] dengan Respiratory Distress Syndrome masih
menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat yang signifikan secara menyeluruh karena
efek yang ditimbulkan, baik efek dalam jangka yang pendek maupun dalam jangka
panjang (Pp, Skp, & Suminto, 2017).
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2012 pravelansi
gangguan pernafasan pada neonatus mencapai 6% pada sejumlah bayi baru lahir di Asia
Tenggara. Respiratory Distress Syndrome ini 60%-80% terjadi pada bayi yang kurang
bulan dan 5% pada bayi cukup bulan (Erlita,R,2013). Di Amerika Serikat RDS masih
menjadi penyebab kematian pada bayi, terdapat 40.000 bayi yang meninggal karena
penyakit tersebut.
Hasil survei kesehatan Indonesia tahun 2012 menuturkan bahwa kematian pada
neonatus masih dalam angka 32 per 1.000 kelahiran neonatus hidup, dan hal tersebut
dapat terjadi pada minggu pertama setelah kelahiran, paling tinggi disebabkan oleh
gangguan pada sistem pernafasan yang mencapai 36,9%. Salah satu penyebab gangguan
pernafasan adalah Respiratory Distress Syndrome yang bisa mencapai hingga 14%. Data
yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2015 angka kematian
neonatus sebesar 10 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian Berat Badan Lahir
Rendah atau BBLR sebesar 28,7%, Respiratory Distress Syndrome sebesar 33,1%,
Asfiksia sebesar 2,6%, Ikterik 0,44%, Sepsis 1,3%, Kelainan kongenital sebesar 2,6%,
dan lain-lain sebesar 33,6% (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2015). Berdasarkan data
registrasi neonatologi bulan November 2023 sampai dengan Januari 2024 di Rumah Sakit
Umum Hermina Sukabumi didapatkan Respiratory Distress Syndrome pada neonatus
berjumlah 8 orang (38%) diantara 21 neonatus yang dirawat. (PERTAJAM DATA )
Tenaga kesehatan harus paham kebutuhan pernafasan yang spesifik sesuai dengan
jenis dan derajat gangguan pernafasan. Terpenting dalam pemberian terapi oksigenasi
pada penanganan pertama bayi dengan RDS membutuhkan dasar pengetahuan tentang
ketepatan dalam mengevaluasi gangguan pernafasan menggunakan pemberian terapi
oksigen sesuai dengan derajat kegawatan nafas. Berdasarkan pada hal tersebut perawat
harus memahami jumlah kebutuhan oksigen yang diperlukan, indikasi pemberian
oksigen, metode pemberian oksigen, dan bahaya-bahaya pemberian oksigen
(UCSF,2014). Oleh karena itu peran perawat dalam masalah Respiratory Distress
Syndrome yaitu dengan memonitor pola nafas (frekuensi napas, kedalaman, usaha nafas),
memonitor bunyi tambahan, mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan
menggunakan cara head-tilt dan chin-lift, memposisikan semi fowler atau fowler,
memberikan terapi oksigen yang memiliki tujuan untuk mencukupi kebutuhan oksigen
bayi dan observasi tanda- tanda vital (SIKI, 2018).
Berdasarkan dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penulisan
mengenai studi kasus yang berjudul “ Asuhan Keperawatan pada [Link].I dengan
Respiratory Distress Syndrome di Ruang NICU Rumah Sakit Umum Hermina sukabumi”
2. Tujuan
A. Tujuan Umum
Tujuan umum yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah agar penulis
dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada By. Ny. I selama 3 hari yang lahir
dengan Prematur di Ruangan NICU RS Hermina Sukabumi dengan pendekatan
proses keperawatan.
B. Tujuan Khusus
Sedangakan tujuan khusus yang ingin dicapai oleh penulis dalam melakukan asuhan
keperawatan pada By. Ny. I yang lahir dengan Prematur adalah agar penulis dapat :
1. Melakukan pengkajian pada By. Ny. I lahir dengan RDS di Ruangan NICU RS
Hermina Sukabumi.
2. Membuat perencanaan tindakan yang akan dilakukan pada By. Ny. I lahir dengan
RDS.
3. Melakukan tindakan keperawatan pada By. Ny. I lahir dengan Prematur.
4. Melakukan evaluasi tindakan pada By. Ny. I lahir dengan Prematur.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pemeriksaan Skor
0 1 2
Frekuensi < 60 kali/ menit 60-80 kali/ menit > 80 kali/ menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan oksigen walaupun diberi
oksigen
Air Entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara masuk
udara masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar dengan
dengan stetoskop alat bantu
Evaluasi < 4 : Gawat napas ringan O² Nasal / Head
Box 4-7 : Gawat napas sedang Perlu Nasal CPAP
> 7 : Gawat berat Diperlukan analisis gas darah/ Perlu Intubasi
4. Patofisiologi
Faktor yang mempengaruhi terjadinya RDS pada bayi yaitu disebabkan oleh
ukuran alveoli yang masih kecil sehingga sulit untuk berkembang. Pengembangan
kurang sempurna karena dinding thorax masih lemah dan juga produksi surfaktan
kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus
sehingga membuat paru-paru menjadi kaku. Hal ini menyebabkan perubahan fisiologi
paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25 % dari normal,
pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia
berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein , lipoprotein ini
berfungsi menurunkan tegangan pada permukaan dan menjaga agar alveoli tetap
mengembang. Secara makroskopik, paru-paru tampak tidak berisi udara dan berwarna
kemerahan seperti hati. Oleh karena itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan
yang tinggi untuk mengembang.
Gawat napas dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat
menimbulkan dampak cukup berat pada bayi berupa kerusakan otak bahkan
kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan atau kurangnya oksigen
(hipoksia) pada tubuh bayi yang akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen
dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat
dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilakn asam laktat.
Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah keotak
maka terjadilah kerusakan otak dan organ yang lainnya karena hipoksia dan iskemia.
Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu primer. Pada keadaan
ini bayi tampak sianosis, tetapi sirkulasi darah relatif masih baik. Curah jantung
meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peningkatan
tekanan darah dan refleks bradikardi ringan.
Depresi pernafasan saat ini dapat diatasi dengan meningkatkan implus afereen
seperti perangsangan pada kulit. Apneu normal berlangsung sekitar 1-2 menint.
Apnea primer dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya sistem sirkulasi.
Hipoksia miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi, vesokontriksi dan
hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi samapai 5 menit dan kemudian terjadi apneu
sekeunder. Selama apneu sekunder jantung tekanan darah, dan kadar oksigen dalam
darah terus menurun. Banyi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak
menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali
pernafasan buatan akan memberikan oksigen sesegera mungkin (Marmi & Rahardjo,
2014)
Menurut (Suriadi et al., 2010) dalam bukunya dijelaskan patofisiologi RDS
Mengiritasi bronkus
sebagai berikut :
a. Pada bayi dengan RDS, dimana terjadi ketidakmampuan paru untuk mengembang
dan alveoli
Terjadi peradangan terbuka. RDS pada bayi yang belum matur dapat menjadi penyebab
gagal napas karena imaturnya dinding dada, parenchyma paru dan imaturnya
Akumulasi sekret
endotelium kapiler yang menyebabkan kolaps paru pada akhir ekspirasi
pada saluran napas
b. Pada bayi dengan RDS disebabkan oleh menurunnya jumlah surfaktan atau
perubahan kualitatif surfaktan, dengan demikian menimbulkan ketidakmampuan
Menghambat
alveoli
masuknya oksigen ke untuk ekspansi.
paru-paru
c. Secara alamiah perbaikan mulai setelah 24-48 jam sel yang rusak akan diganti.
Membran hyaline berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam
proteinaceous filtrate serum (saringan serum protein) di fagosit oleh makrofag. Sel
Batuk
cuboidal menempatkan pada alveolar yang rusak dan epitelium jalan napas,
kemudian terjadi perkembangan sel kapiler baru pada alveoli. Sintesis surfaktan
Bersihan jalanmemulai
napas lagi clan kemudian membantu perbaikan alveoli untuk pengebangan.
tidak efektif
PATHWAY
Etiologi :
1. Usia kehamilan
2. Berat badan bayi < 2500 gram
3. Bayi prematur
4. Ada kelainan di dalam/luar paru
5. Ketidakmampuan paru-paru mengembang
6. Infeksi
Sesak nafas
5. Manisfestasi klinis
Berdasarkan berat dan ringannya tanda dan gejala klinis penyakit RDS ini
dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Apabila semakin rendah berat badan dan usia
kehamilan, maka semakin berat pula gejala klinis yang akan ditunjukkan. Manifestasi
dari RDS disebabkan adanya atelektasis alveoli, edema, dan kerusakan sel dan
selanjutnya menyebabkan kebocoran serum protein ke dalam alveoli sehingga
menghambat fungsi surfaktan. Gejala klinikal yang timbul yaitu : adanya sesak nafas
pada bayi yang ditandai dengan takipnea > 60 x/minit, pernafasan cuping hidung,
grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala menetap dalam 48-96 jam
pertama setelah lahir (Marmi & Rahardjo, 2014).
Menurut (Suriadi et al., 2010) manifestasi klinis dari RDS adalah sebagai berikut
:
a. Pernapasan cepat
b. Pernapasan terlihat parodaks
c. Cuping hidung
d. Apnea
e. Murmur
f. Sianosis pusat
Kolaps pada paru-paru
6. Pemeriksaan Penunjang Paru-paru menjadi kaku
Diagnosa RDN dapat ditegakkan melalui pemeriksaan foto thoraks, AGD,
hitung darah lengkap, perubahan elektrolit dan biopsy paru (Atika, 2019)
a. Foto Thoraks
1) Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada,
setelah 12-24 jam akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas
diseluruh paru
2) Pola retikulogranular difus bersama bronkhogram udara yang saling tumpah
tindih
3) Tanda paru sentral, batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk
4) Kemungkinan terdapat kardoimegali bila system lain juga terkena (bayi dari
ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung terkena (bayi dari ibu diabetes, hipoksia,
gagal jantung kongestif)
5) Bayangan timus yang besar
6) Bergranul merata pada bronkhogram udara, yang menandakan penyakit berat
jika terdapat pada beberapa jam pertama
b. AGD menunjukkan asidosis respiratory dan metabolik yaitu adanya penurunan
pH, penurunan PaO2, dan peningkatan paCO2, penurunan HCO3
c. Hitung darah lengkap
d. Perubahan elektrolit, cenderung terjadi penurunan kadar kalsium, natrium, dan
glukosa serum
e. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam
parenkim paru
Menurut (Suriadi et al., 2010) pemeriksaan diagnostik atau penunjang pada
RDS meliputi :
a. Foto rontgen
b. AGD
c. Imatur lecithin/ sphingomyolin
7. Komplikasi
a. Komplikasi dalam waktu singkat
1) Ateletaktis atau paru-paru tidak terisi oleh udara
2) Adanya infeksi dikarenakan oleh keadaan klien yang menurun yang dapat
menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan jumlah leukosit dan dapat
mengakibatkan trombositopeni.
3) Leukomalacia periventikuler dan perdarah intrakranial, bayi RDS yang lahir
kurang bulan dapat terjadi perdarahan intrakranial sebesar 20%-40%
b. Komplikasi dalam waktu lama
1) Komplikasi dalam waktu yang lama disebabkan oleh rusaknya suatu zat,
tekanan yang menetap didalam paru, berkurangnya oksigen yang mengarah
keseluruh organ dan otak. Komplikasi dalam waktu lama yang sering terjadi :
2) Bronchopulmonary Dsyplasia (BPD) adalah keadaan dimana gangguan pada
paru-paru kronik yang disebabkan oleh pemberian oksigen pada neonatus
dengan masa kehamilan 36 minggu. BPD berkaitan dengan meningkatnya
volume dan tekanan yang dimanfaatkan pada saat memakai ventilasi
mekanik,terdapat infeksi, perdangan, dan kekurangan vitamin A. BPD dapat
terjadi lebih sering dengan menurunnya masa kehamilan.
3) Retinopathy prematur, ketidaksempurnaan pada fungsi neurologi.
(Respiratory, AcuteSyndrome, Distress, 2018)
8. Penatalaksanaan Medis
baru lahir yang menderita RDS harus dirawat secara cepat supaya tidak
mengakibatkan komplikasi yang tidak diharapkan (Fida & Maya, 2012) berikut
beberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan :
a. Lingkungan yang ideal
Usahakan selalu untuk menjaga suhu tubuh dalam kisaran normal (36,5-
37). Untuk mendapatkan suhu tersebut dapat dilakukan pemberian fototerapi.
Kelembapan dalam ruangan juga harus mencukupi yaitu 70- 80%.
b. Memberikan oksigen
Dalam memberikan oksigen harus berhati-hati dikarenakan memiliki efek
yang buruk pada bayi yang lahir kurang bulan. Agar terhindar dari adanya
komplikasi, pemeriksaan analisis gas darah juga harus dilakukan untuk
mengiringi pemberian oksigen. Dan untuk menghindari terjadinya kehilangan
volume saat ekspirasi diharuskan tekanan jalan napas positif secara berlanjut
menggunakan alat bantu pernapasan.
c. Pemberian antibiotic
Memberikan antibiotik memilik tujuan untuk mencegah infeksi minor.
Neonatus dapat menerima penisilin dengan dosis 5.000-10.000 U/Kg BB/hari
bersamaan atau tidak dengan gentamicin 3-5/Kg BB/hari.
d. Pemberian surfaktan eksogen
Pemberian ini dapat melalui endotrakeal tube. RDS dapat diobati secara
efektif menggunakan obat ini.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai
informasi yang berkaitan dengan masalah yang dialami pasien. Pengkajian yang
dilakukan pada bayi dengan Prematur sebagai berikut:
a. Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama dan alamat pasien.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering terlihat pada bayi dengan Prematur adalah gangguan
sistem Bayi dengan RDN sering ditemui keluhan seperti sesak, ada pernapasan
cuping hidung, kondisi umum lemah, lesu, apneu, tidak responsif, penurunan
bunyi napas
c. Riwayat Kesehatan
Pada bayi yang mengalami RDN, biasanya akan diawali dengan tanda dan gejala
seperti mudah letih, dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus otot
menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/
epigastrik/ intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan
keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau
menghilangkan keluhan keluhan tersebut
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan paru-paru yang
imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfaktan, lahir prematur dengan
operasi caesar serta penurunan suplai oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi
matur atau prematur, atelektasis, DM, hipoksia, asidosis
e. Riwayat Maternal
Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti
perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal atau
intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang
memiliki riwayat sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta tidak
memperhatikan gizi yang baik bagi janin)
f. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang disinyalir
sebagai penyebab kelahiran prematur/ caesar sehinnga menimbulakan membran
hyialin disease
g. Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan keluarga terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasi
masalahnya serta bagaimana perilaku keluarga terhadap tindakan yang dilakukan
terhadap bayinya
h. Infant Saat Lahir
1) Prematur, umur kehamilan
2) Apgar score, apakah terjadi aspiksia
3) Apgar score adalah : Suatu ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi keadaan
umum bayi baru lahir
4) Bayi premature yang lahir melalui operasi Caesar
i. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu/ pernapasan > 60 kali /
menit, pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping
hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit
bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian
dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan
dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat
dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian
fungsi respirasi meliputi :
a. Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi.
Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha
kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare,
dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal
kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada
hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya
keadaan klinik
b. Mekanika usaha pernafasan
Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung,
retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan
penyakit alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi
memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.
Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
c. Warna kulit/membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin,
sianosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan
persentase desaturasi hemoglobin
d. Kardiovaskuler
1) Frekuensi jantung dan tekanan darah
Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress,
ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung
2) Kualitas nadi
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume
dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada
satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran
darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat
dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis
3) Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara :
a) Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
b) Blancing Skin Test
Caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas
dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki
tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya
tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik
c) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi
agitasi dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi
penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi
pupil
Objektif :
1) Gelisah Sianosis
2) Bunyi napas menurun Frekuensi napas berubah Pola napas berubah
3) Kondisi klinis terkait
4) Gullian barre syndrome
5) Sklerosis multiple
6) Infeksi saluran napas
Subjektif
Objektif
c. Intervensi Keperawatan
1) Diagnosa I : Pola Napas Tidak Efektif
Luaran Keperawatan : (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
a) Tujuan dan kriteria hasil
- Sesak yang dirasakan klien menurun dengan kriteria hasil :
- Dispnea menurun
- Frekuensi napas membaik
- Tidak ada penggunaan otot bantu napas
- Tidak ada pernapasan cuping hidung
b) Intervensi keperawatan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2019)
Pemantauan Respirasi
Observasi
- Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
- Monitor pola napas
- Monitor kemampuan batuk efektif
- Monitor adanya produksi sputum
- Monitor adanya sumbatan jalan napas
- Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
- Auskultasi bunyi napasMonitor saturasi oksigen
- Monitor hasil x-ray thorax Terapeutik
- Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
- Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi
- Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
- Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2) Diagnosa II : Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Luaran Keperawatan :
a) Tujuan dan kriteria hasil
Jalan napas tetap paten dengan kriteria hasil :
- Produksi sputum menurun
- Tidak ada sianosis
- Pola napas membaik
- Frekuensi napas membaik
b) Intervensi keperawatan
Manajemen Jalan Napas Observasi
- Monitor pola napas
- Monitor bunyi napas
- Monitor sputum
Terapeutik
Kolaborasi
Edukasi
Kolaborasi
BAB III
APLIKASI KASUS
A. Pengkajian
1. Identifikasi Pasien
a. Nama : Bayi Nyonya I
b. Tempat, Tanggal Lahir : Sukabumi, 23-12-2023
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Alamat : Kp Cibeureum RT 02/07 Kel Selawangi
e. Nama Penanggung Jawab : Tn. H
f. Usia Penanggung Jawab : 44 Tahun
g. Pekerjaan Penanggug Jawab : Wiraswasta
h. Pendidikan Penanggung Jawab : S1
i. Suku/Bangsa : Arab / Indonesia
j. Nama DPJP : Dr. R, Sp.A
k. Diagnosa Medis : BBLC,KB,SMK,SC + RDS ec TTN dd Neonatal
Pneumonia
l. Tanggal & Jam Masuk : 23/12/2023 Jam 11.00 WIB
m. Tanggal & Jam Pengkajian : 23/12/2023 Jam 11.00 WIB
2. Anamnesa
o Resume :
Bayi lahir Sectio Caesar dari ibu G1P0A0 37 minggu atas indikasi letak obligue
tanggal 23/12/2023 Jam 09.45 WIB denga APGAR Score 3/5, dilakukan resusitasi
neoatus oleh dokter dan blueteam. Bayi masuk NICU dengan downscore 6, napas
cuping hidung ada, retraksi berat, sianosis hilang dengan oksigen, air entry masuk
sebagian, grunting terdengar tanpa stetoskop, RR: 68x/menit, saturasi O2 93-94%.
diberikan oksigen melalui ventilasi mekanik dengan mode P-CMV.
o Cara masuk : ☑ Menggunakan isolet transport □Couve □Infant Warmer
□Digendong □Box bayi
o Asal masuk : □IGD □Poliklinik □Rujukan dr spesial/RS Luar/bidan/klinik ☑ OK
□VK
o Keluhan utama :
Bayi lahir langsung menangis, presentase kepala, lilitan tali pusat tidak ada, nafas
on ventilator mode P-CMV, rr: 62x/menit, retraksi sedang, sianosis hilang dengan
O2, grunthing tidak ada, air entry masuk semua, downscore 5.
o Riwayat obstetrik : G1P1A0 Usia gestasi : 37 minggu
o Pernah di rawat : ☑Ya/ Tidak Indikasi Rawat : Prematur kontraksi
o Obat-obatan yang di konsumsi selama kehamilan: □Tidak ada ☑Ada, jenis vitamin
hamil dan penguat kandungan
o Kebiasaan ibu : □Merokok □Minum Jamu □Minuman beralkohol ☑Tidak ada
Pasien dan keluarga diberikan informasi tentang perencanaan pulang? ☑Ya □Tidak
B. Diagnose Keperawatan
1. Pathway Kasus GANTI WOC
Etiologi :
1. Usia kehamilan
2. Berat badan bayi < 2500 gram
3. Bayi prematur
4. Ada kelainan di dalam/luar paru
5. Ketidakmampuan paru-paru mengembang
6. Infeksi
[Link] alveoli
PO2 menurun
Menurunnya
ventilasi dan CO2
meningkat
Atelektasis alveoli,
edema
2. AnalisaDEFISIT
Data ( TIDAK PERLU GANTI DENGAN WOC)
RESIKO
PENGETAHUAN
INFEKSI
NO DATAOT ETIOLOGI PROBLEM
1. DS : - Ketidakmampuan paru-paru Pola nafas tidak efektif
mengembang
DO :
☑ Bayi Sianosis Menurunnya ventilasi dan CO2
meningkat
☑ Napas cuping hidung
☑ Retraksi ringan Kolaps pada paru-paru Paru-
paru menjadi kaku
☑ RR: 72x/menit
☑Downscore 3 Ekspansi Paru tidak adekuat
Resiko Infeksi
3. DS : - distress nafas Defisit pengetahuan OT
☑ OT tampak cemas
Defisit pengetahuan OT
C. Diagnosa dan Perencanaan Asuhan Keperawatan ( Data sesuaikan dg kondisi px)
Edukasi
□ Jelaskan tentang pentingnya
istirahat dan membatasi jumlah
pengunjung
□ Ajarkan tanda dan gejala
infeksi
☑ Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
□ Ajarkan cara
menghindari asupan
nutrisi
□ Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
□ ..............................................
..............................................
Kolaborasi
□ Kolaborasi pemberian diet
TKTP
☑ Kolaborasi pemberian terapi
☑ Kolaborasi pemeriksaan
septik marker
☑ Kolaborasi pemberian
imunisasi jika perlu
disertai sasaran, Tulis nama, beri paraf dengan rinci dan jelas) recana asuhan
Sr. H
25/11/23 Perawat EVALUASI SORE R/
21.00 S: - Observasi tanda
distress napas
O: K/U berat, kesadaran cm, akral Pertahankan suhu
hangat, SH: 36,8-36,9 , nadi teraba 36,5-37,5
kuat dan regular, HR: Libatkan keluarga
136-142x/menit, gerak aktif, dalam perawatan
menangis kuat, klinis kemerahan, bayi
napas on ventilator mode P-SIMV, Obs tanda infeksi
RR: 56-57x/menit, sianosis hilang pada umbilical
dengan oksigen, retraksi ringan, Cuci tangan
air entry masuk semua, grunthing sebelum dan
tidak, downscore 2. Abdomen setelah tindakan
supel, kembung tidak ada, muntah
tidak ada, terpasang OGT terbuka,
CPL 1cc lendir keruh. Terpasang
IVFD via UVC
A:
Dx I Pola Nafas Inefektif belum
teratasi
Dx II Resiko Infeksi tidak terjadi
Dx III Defisit pengetahuan OT
P: Intervensi dilanjutkan
Sr. H
RM 01.25.001
Rev. 3
- menjelaskan kepada
OT pasien untuk
minimal kontak dan
minimal handling Tn H Ayah Sr H Sudah mengerti
pada pasien karena
beresiko untuk
menyebabkan infeksi
pada bayi
BAB IV
PEMBAHASAN
Dari hasil pengkajian diatas tidak ditemukan adanya kesenjangan data antara
pengkajian pada teori Prematur dengan pengkajian pada lapangan. Tanda dan gejala yang
muncul pada kasus ini sudah sesuai dengan teori. Tanda dan gejala yang muncul yaitu
pernapasan bayi cepat (takipnea), retraksi berat, sianosis hilang atau menetap dengan
oksigen, grunthing atau merintih.
Diagnose yang ada dalam teori antara lain Pola napas tidak efektif berhubungan
dengan imaturitas paru dan neuromuscular, Ketidakefektifan bersihan jalan napas
berhubungan dengan penumpukkan secret pada paru-paru, Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan terpajan kuman pathogen,. Sedangkan pada kasus ini diagnose yang
muncul adalah Pola napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas paru dan
neuromuscular, Resiko Infeksi dan Defisit pengetahuan OT berhubungan dengan kondisi
bayi dan penyakitnya.
Diagnose yang sesuai teori yang tidak muncul pada kasus ini adalah
Ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukkan secret, karena
tidak ada data dan pemeriksaan penunjang untuk mendukung menetukan diagnose
sehingga penulis tidak mengangkatnya. Namun pada saat pengkajian ditemukan data
bahwa OT mempertanyakan kondisi bayi dan penyakitnya maka penulis mengangkat
diagnose Defisit pengetahuan OT berhubungan dengan kurangnya sarana informasi.
Pada kasus ini intervensi yang dibuat sudah sesuai dengan diagnose yang
ditegakkan dan sudah sesuai dengan 5 aspek perencanaan yaitu observasi, tindakan
mandiri, edukasi, libatkan keluarga dan kolaborasi dengan dokter.
Implementasi untuk diagnose pertama sudah sesuai karena pada saat dilakukan
tindakan keperawatan mulai menunjukkan tanda distress napas dengan adanya tanda
takipnea, sianosis hilang dengan oksigen, retraksi berat, air entry masuk sebagian,
grunthing terdengar tanpa stetoskop, maka dilakukan tatalaksana pemberian oksigen yang
adekuat via ventilator mode P-CMV. Pada dasarnya pemberian oksigen dengan tekanan
tinggi pada bayi tidak dianjurkan, karena bisa mengakibatkan terjadinya komplikasi
seperti ROP, kolaps paru, dan pneumothoraks. Pada kasus ini O2 diturunkan secara
bertahap sampai dengan bayinya mampu bernapas spontan tanpa bantuan alat bantu
napas lainnya.
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Penelitian dilakukan pada Bayi I yang mengalami RDN dengan masalah utama
pola napas tidak yang efektif diberikan intervensi 3 hari berturut-turut yaitu dengan
pemberian oksigen on ventilator sesuai kebutuhan dan pemberian posisi semi ekstensi
terbukti dapat mengurangi sesak dengan kriteia frekuensi napas membaik,
penggunaan otot bantu menurun, dan pernapasan cuping hidung menurun.
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:
a. Bila ditemukan bayi lahir premature disertai gangguan sistem pernafasan
maka berikan oksigen secara adekuat sesuai kebutuhan bayi
b. Bayi dengan Premature harus selalu dimonitor tanda distress napas, tanda
hipotermia dan tanda hypoglikemia
c. Pahami kondisi bayi sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang
tepat dan cepat untuk bayi denga kasus Prematur.