0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan49 halaman

Asuhan Keperawatan RDS Bayi Prematur

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi Ny. I yang mengalami Respiratory Distress Syndrome (RDS) selama dirawat di Ruang NICU RS Hermina Sukabumi. RDS adalah gangguan sistem pernapasan pada bayi baru lahir yang disebabkan kurangnya surfaktan paru. Tanda dan gejala RDS antara lain takipnea, retraksi dada, dan sianosis. Penyebab RDS utama adalah bayi prematur dan berat badan lahir rendah

Diunggah oleh

Lala Sutiara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan49 halaman

Asuhan Keperawatan RDS Bayi Prematur

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi Ny. I yang mengalami Respiratory Distress Syndrome (RDS) selama dirawat di Ruang NICU RS Hermina Sukabumi. RDS adalah gangguan sistem pernapasan pada bayi baru lahir yang disebabkan kurangnya surfaktan paru. Tanda dan gejala RDS antara lain takipnea, retraksi dada, dan sianosis. Penyebab RDS utama adalah bayi prematur dan berat badan lahir rendah

Diunggah oleh

Lala Sutiara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.

DENGAN RDS (RESPIRATORY DISTRES SYNDROM)

DI RUANGAN NICU RS HERMINA SUKABUMI

OLEH :

HANI HANDAYANI, AM. KEP

010190108

RS HERMINA SUKABUMI

GANTI LOGO HERMINA


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada
Bayi Ny. I dengan masalah RDS di ruangan NICU RS Hermina Sukabumi dengan baik.
Penulisan makalah dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat menyelesaikan
persyaratan kenaikan level 1B yang diselenggarakan oleh HHG (Hermina Hospital Group).

Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan
dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, tidak terlepas dari bantuan tenaga, pikiran dan
dukungan moril. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Suci Nurhayati, S. Kep,
Ners selaku pembimbing dengan penuh kesabaran dan ketelitian serta dengan segala totalitasnya
dalam menyumbangkan ide-idenya dalam mengoreksi, merevisi, serta melengkapi dalam
menyusun karya tulis ilmiah ini. Dan tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada Bapak
Herdiansyah, S. Kep, Ners selaku kepala ruangan yang telah memberikan semangat dan waktu
untuk menyelesaikan makalah ini , serta terimakasih juga kepada keluarga By. Ny. I yang telah
bersedia menjadi pasien dalam pengambilan kasus ini dan membantu penulis menyelesaikan
kasus ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
segala kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari pembaca sangat diharapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga segala budi baik dari semua pihak diberkati oleh Tuhan
Yang Maha Esa. Akhirnya, penulis mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca.
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. TUJUAN
BAB II KONSEP DASAR
A. MEDIS
1. PENGERTIAN
2. ETIOLOGI
3. TANDA DAN GEJALA
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
5. PATOFISIOLOGI
6. PENATALAKSANAAN MEDIS
B. KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
2. MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PATOFLOW
TEORI
3. RENCANA TINDAKAN DAN RASIONAL
BAB III LAPORAN KASUS
1. PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PATOFLOW KASUS
3. PERENCANAAN
4. PELAKSANAAN
5. EVALUASI
BAB IV PEMBAHASAN
1. PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PATOFLOW KASUS
3. PERENCANAAN
4. PELAKSANAAN
5. EVALUASI
BAB V PENUTUP
1. KESIMPULAN
2. SARAN
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Respiratory Distress Syndrome (RDS) ialah keadaan dimana terdapat gangguan
sistem respiratori pada neonatus yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan terlebih pada
bayi yang kurang bulan. Surfaktan merupakan zat yang mampu menurunkan tegangan
pada dinding alveoli [Link] dengan Respiratory Distress Syndrome masih
menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat yang signifikan secara menyeluruh karena
efek yang ditimbulkan, baik efek dalam jangka yang pendek maupun dalam jangka
panjang (Pp, Skp, & Suminto, 2017).
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2012 pravelansi
gangguan pernafasan pada neonatus mencapai 6% pada sejumlah bayi baru lahir di Asia
Tenggara. Respiratory Distress Syndrome ini 60%-80% terjadi pada bayi yang kurang
bulan dan 5% pada bayi cukup bulan (Erlita,R,2013). Di Amerika Serikat RDS masih
menjadi penyebab kematian pada bayi, terdapat 40.000 bayi yang meninggal karena
penyakit tersebut.
Hasil survei kesehatan Indonesia tahun 2012 menuturkan bahwa kematian pada
neonatus masih dalam angka 32 per 1.000 kelahiran neonatus hidup, dan hal tersebut
dapat terjadi pada minggu pertama setelah kelahiran, paling tinggi disebabkan oleh
gangguan pada sistem pernafasan yang mencapai 36,9%. Salah satu penyebab gangguan
pernafasan adalah Respiratory Distress Syndrome yang bisa mencapai hingga 14%. Data
yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2015 angka kematian
neonatus sebesar 10 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian Berat Badan Lahir
Rendah atau BBLR sebesar 28,7%, Respiratory Distress Syndrome sebesar 33,1%,
Asfiksia sebesar 2,6%, Ikterik 0,44%, Sepsis 1,3%, Kelainan kongenital sebesar 2,6%,
dan lain-lain sebesar 33,6% (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2015). Berdasarkan data
registrasi neonatologi bulan November 2023 sampai dengan Januari 2024 di Rumah Sakit
Umum Hermina Sukabumi didapatkan Respiratory Distress Syndrome pada neonatus
berjumlah 8 orang (38%) diantara 21 neonatus yang dirawat. (PERTAJAM DATA )
Tenaga kesehatan harus paham kebutuhan pernafasan yang spesifik sesuai dengan
jenis dan derajat gangguan pernafasan. Terpenting dalam pemberian terapi oksigenasi
pada penanganan pertama bayi dengan RDS membutuhkan dasar pengetahuan tentang
ketepatan dalam mengevaluasi gangguan pernafasan menggunakan pemberian terapi
oksigen sesuai dengan derajat kegawatan nafas. Berdasarkan pada hal tersebut perawat
harus memahami jumlah kebutuhan oksigen yang diperlukan, indikasi pemberian
oksigen, metode pemberian oksigen, dan bahaya-bahaya pemberian oksigen
(UCSF,2014). Oleh karena itu peran perawat dalam masalah Respiratory Distress
Syndrome yaitu dengan memonitor pola nafas (frekuensi napas, kedalaman, usaha nafas),
memonitor bunyi tambahan, mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan
menggunakan cara head-tilt dan chin-lift, memposisikan semi fowler atau fowler,
memberikan terapi oksigen yang memiliki tujuan untuk mencukupi kebutuhan oksigen
bayi dan observasi tanda- tanda vital (SIKI, 2018).
Berdasarkan dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penulisan
mengenai studi kasus yang berjudul “ Asuhan Keperawatan pada [Link].I dengan
Respiratory Distress Syndrome di Ruang NICU Rumah Sakit Umum Hermina sukabumi”
2. Tujuan
A. Tujuan Umum
Tujuan umum yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah agar penulis
dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada By. Ny. I selama 3 hari yang lahir
dengan Prematur di Ruangan NICU RS Hermina Sukabumi dengan pendekatan
proses keperawatan.
B. Tujuan Khusus
Sedangakan tujuan khusus yang ingin dicapai oleh penulis dalam melakukan asuhan
keperawatan pada By. Ny. I yang lahir dengan Prematur adalah agar penulis dapat :
1. Melakukan pengkajian pada By. Ny. I lahir dengan RDS di Ruangan NICU RS
Hermina Sukabumi.
2. Membuat perencanaan tindakan yang akan dilakukan pada By. Ny. I lahir dengan
RDS.
3. Melakukan tindakan keperawatan pada By. Ny. I lahir dengan Prematur.
4. Melakukan evaluasi tindakan pada By. Ny. I lahir dengan Prematur.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Asuhan Medis


1. Definisi
Sindrom gangguan pernapasan / Respiratory Distress syndrome (RDS) adalah
gangguan pada sistem pernapasan neonatus, khususnya karena kurangnya surfaktan
yang efektif dan kurangnya tekanan permukaan alveoli untuk mencegah kolaps pada
alveoli. (S. Suminto, 2017)
Sindrom gawat napas atau RDS adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi
pernapasan pada neonatus. Sindrom ini merupakan penyakit yang berhubungan
dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru (Asrining Surasmi, Siti
Handayani, 2003).
RDS disebut juga sebagai penyakit membran hialin (hyalin membrane disease,
(HMD)) atau penyakit paru akibat difisiensi surfaktan (surfactant deficient lung
disease (SDLD)) (Meta Febri Agrina, Afnani Toyibah, 2016).
RDN adalah kumpulan gejala gangguan pernapasan pada bayi yang baru lahir
yang ditandai dengan takipnea, grunting, retraksi dada, pernapasan cuping hidung,
dan sianosis (Atika, 2019)
RDS merupakan istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada
neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan
keterlambatan perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan
dalam paru (Marmi & Rahardjo, 2014)
RDN/ RDS atau biasa juga disebut dengan Hyaline Membrane Disease (HMD)
merupakan gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi prematur dengan
tanda-tanda antara lain takipnue > 60 kali/ menit, retraksi dinding dada, sianosis pada
udara kamar yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray
thorak yang spesifik, sekitar 60% bayi yang lahir sebelum gestasi 39 minggu
mengalami RDS (Suriadi et al., 2010). Tanda dan gejala sesuai dengan besarnya bayi,
berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui Patent Ductus
Arteri (PDA) (Hidayat, 2012)
2. Etiologi
Menurut (Suriadi et al., 2010) dalam bukunya menyebutkan penyebab RDS
sebagai berikut :
a. Usia kehamilan
b. Berat badan bayi lahir < 2500 gram
c. Bayi dengan Berat badan < 1000 gram
d. 20% berkembang dengan Bronchopolmunary Dysplasia (BPD)
Penyebab RDS dalam (Atika, 2019) yaitu sebagai berikut :
a. Ketidakmampuan paru-paru untuk mengembang dan alveoli terbuka
b. Alveoli masih kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan
pengembangan juga kurang sempurna
c. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram
d. Adanya kelainan di dalam dan di luar paru
e. Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah pneumothoraks
pneumomediastinum dan PMH
f. Bayi premature
3. Klasifikasi Kegawatan Pernapasan pada Bayi
Down Score dapat digunakan untuk mendiagnosis cepat dari gawat napas yang
dialami oleh bayi baru lahir dalam menilai tingkat keparahannya. Down score dapat
dijadikan sebagai pengkajian klinis awal dalam memantau derajat gawat napas pada
bayi dengan RDN tanpa melalui uji yang kompleks di unit perawatan (Atika, 2019).
Menurut (Hidayat, 2012) RDN atau RDS di klasifikasikan berdasarkan tingkat
kegawatannya. Penilaian tingkat kegawatan napas dengan down skor ialah sebagai
berikut :

Tabel 2.1 Score Down

Pemeriksaan Skor
0 1 2
Frekuensi < 60 kali/ menit 60-80 kali/ menit > 80 kali/ menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan oksigen walaupun diberi
oksigen
Air Entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara masuk
udara masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar dengan
dengan stetoskop alat bantu
Evaluasi < 4 : Gawat napas ringan O² Nasal / Head
Box 4-7 : Gawat napas sedang Perlu Nasal CPAP
> 7 : Gawat berat Diperlukan analisis gas darah/ Perlu Intubasi

4. Patofisiologi
Faktor yang mempengaruhi terjadinya RDS pada bayi yaitu disebabkan oleh
ukuran alveoli yang masih kecil sehingga sulit untuk berkembang. Pengembangan
kurang sempurna karena dinding thorax masih lemah dan juga produksi surfaktan
kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus
sehingga membuat paru-paru menjadi kaku. Hal ini menyebabkan perubahan fisiologi
paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25 % dari normal,
pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia
berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein , lipoprotein ini
berfungsi menurunkan tegangan pada permukaan dan menjaga agar alveoli tetap
mengembang. Secara makroskopik, paru-paru tampak tidak berisi udara dan berwarna
kemerahan seperti hati. Oleh karena itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan
yang tinggi untuk mengembang.
Gawat napas dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat
menimbulkan dampak cukup berat pada bayi berupa kerusakan otak bahkan
kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan atau kurangnya oksigen
(hipoksia) pada tubuh bayi yang akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen
dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat
dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilakn asam laktat.
Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah keotak
maka terjadilah kerusakan otak dan organ yang lainnya karena hipoksia dan iskemia.
Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu primer. Pada keadaan
ini bayi tampak sianosis, tetapi sirkulasi darah relatif masih baik. Curah jantung
meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peningkatan
tekanan darah dan refleks bradikardi ringan.
Depresi pernafasan saat ini dapat diatasi dengan meningkatkan implus afereen
seperti perangsangan pada kulit. Apneu normal berlangsung sekitar 1-2 menint.
Apnea primer dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya sistem sirkulasi.
Hipoksia miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi, vesokontriksi dan
hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi samapai 5 menit dan kemudian terjadi apneu
sekeunder. Selama apneu sekunder jantung tekanan darah, dan kadar oksigen dalam
darah terus menurun. Banyi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak
menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali
pernafasan buatan akan memberikan oksigen sesegera mungkin (Marmi & Rahardjo,
2014)
Menurut (Suriadi et al., 2010) dalam bukunya dijelaskan patofisiologi RDS
Mengiritasi bronkus
sebagai berikut :
a. Pada bayi dengan RDS, dimana terjadi ketidakmampuan paru untuk mengembang
dan alveoli
Terjadi peradangan terbuka. RDS pada bayi yang belum matur dapat menjadi penyebab
gagal napas karena imaturnya dinding dada, parenchyma paru dan imaturnya
Akumulasi sekret
endotelium kapiler yang menyebabkan kolaps paru pada akhir ekspirasi
pada saluran napas
b. Pada bayi dengan RDS disebabkan oleh menurunnya jumlah surfaktan atau
perubahan kualitatif surfaktan, dengan demikian menimbulkan ketidakmampuan
Menghambat
alveoli
masuknya oksigen ke untuk ekspansi.
paru-paru
c. Secara alamiah perbaikan mulai setelah 24-48 jam sel yang rusak akan diganti.
Membran hyaline berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam
proteinaceous filtrate serum (saringan serum protein) di fagosit oleh makrofag. Sel
Batuk
cuboidal menempatkan pada alveolar yang rusak dan epitelium jalan napas,
kemudian terjadi perkembangan sel kapiler baru pada alveoli. Sintesis surfaktan
Bersihan jalanmemulai
napas lagi clan kemudian membantu perbaikan alveoli untuk pengebangan.
tidak efektif

PATHWAY
Etiologi :

1. Usia kehamilan
2. Berat badan bayi < 2500 gram
3. Bayi prematur
4. Ada kelainan di dalam/luar paru
5. Ketidakmampuan paru-paru mengembang
6. Infeksi
Sesak nafas

Pola nafas tidak


efektif

5. Manisfestasi klinis
Berdasarkan berat dan ringannya tanda dan gejala klinis penyakit RDS ini
dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Apabila semakin rendah berat badan dan usia
kehamilan, maka semakin berat pula gejala klinis yang akan ditunjukkan. Manifestasi
dari RDS disebabkan adanya atelektasis alveoli, edema, dan kerusakan sel dan
selanjutnya menyebabkan kebocoran serum protein ke dalam alveoli sehingga
menghambat fungsi surfaktan. Gejala klinikal yang timbul yaitu : adanya sesak nafas
pada bayi yang ditandai dengan takipnea > 60 x/minit, pernafasan cuping hidung,
grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala menetap dalam 48-96 jam
pertama setelah lahir (Marmi & Rahardjo, 2014).
Menurut (Suriadi et al., 2010) manifestasi klinis dari RDS adalah sebagai berikut
:
a. Pernapasan cepat
b. Pernapasan terlihat parodaks
c. Cuping hidung
d. Apnea
e. Murmur
f. Sianosis pusat
Kolaps pada paru-paru
6. Pemeriksaan Penunjang Paru-paru menjadi kaku
Diagnosa RDN dapat ditegakkan melalui pemeriksaan foto thoraks, AGD,
hitung darah lengkap, perubahan elektrolit dan biopsy paru (Atika, 2019)
a. Foto Thoraks
1) Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada,
setelah 12-24 jam akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas
diseluruh paru
2) Pola retikulogranular difus bersama bronkhogram udara yang saling tumpah
tindih
3) Tanda paru sentral, batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk
4) Kemungkinan terdapat kardoimegali bila system lain juga terkena (bayi dari
ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung terkena (bayi dari ibu diabetes, hipoksia,
gagal jantung kongestif)
5) Bayangan timus yang besar
6) Bergranul merata pada bronkhogram udara, yang menandakan penyakit berat
jika terdapat pada beberapa jam pertama
b. AGD menunjukkan asidosis respiratory dan metabolik yaitu adanya penurunan
pH, penurunan PaO2, dan peningkatan paCO2, penurunan HCO3
c. Hitung darah lengkap
d. Perubahan elektrolit, cenderung terjadi penurunan kadar kalsium, natrium, dan
glukosa serum
e. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam
parenkim paru
Menurut (Suriadi et al., 2010) pemeriksaan diagnostik atau penunjang pada
RDS meliputi :
a. Foto rontgen
b. AGD
c. Imatur lecithin/ sphingomyolin
7. Komplikasi
a. Komplikasi dalam waktu singkat
1) Ateletaktis atau paru-paru tidak terisi oleh udara
2) Adanya infeksi dikarenakan oleh keadaan klien yang menurun yang dapat
menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan jumlah leukosit dan dapat
mengakibatkan trombositopeni.
3) Leukomalacia periventikuler dan perdarah intrakranial, bayi RDS yang lahir
kurang bulan dapat terjadi perdarahan intrakranial sebesar 20%-40%
b. Komplikasi dalam waktu lama
1) Komplikasi dalam waktu yang lama disebabkan oleh rusaknya suatu zat,
tekanan yang menetap didalam paru, berkurangnya oksigen yang mengarah
keseluruh organ dan otak. Komplikasi dalam waktu lama yang sering terjadi :
2) Bronchopulmonary Dsyplasia (BPD) adalah keadaan dimana gangguan pada
paru-paru kronik yang disebabkan oleh pemberian oksigen pada neonatus
dengan masa kehamilan 36 minggu. BPD berkaitan dengan meningkatnya
volume dan tekanan yang dimanfaatkan pada saat memakai ventilasi
mekanik,terdapat infeksi, perdangan, dan kekurangan vitamin A. BPD dapat
terjadi lebih sering dengan menurunnya masa kehamilan.
3) Retinopathy prematur, ketidaksempurnaan pada fungsi neurologi.
(Respiratory, AcuteSyndrome, Distress, 2018)
8. Penatalaksanaan Medis
baru lahir yang menderita RDS harus dirawat secara cepat supaya tidak
mengakibatkan komplikasi yang tidak diharapkan (Fida & Maya, 2012) berikut
beberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan :
a. Lingkungan yang ideal
Usahakan selalu untuk menjaga suhu tubuh dalam kisaran normal (36,5-
37). Untuk mendapatkan suhu tersebut dapat dilakukan pemberian fototerapi.
Kelembapan dalam ruangan juga harus mencukupi yaitu 70- 80%.
b. Memberikan oksigen
Dalam memberikan oksigen harus berhati-hati dikarenakan memiliki efek
yang buruk pada bayi yang lahir kurang bulan. Agar terhindar dari adanya
komplikasi, pemeriksaan analisis gas darah juga harus dilakukan untuk
mengiringi pemberian oksigen. Dan untuk menghindari terjadinya kehilangan
volume saat ekspirasi diharuskan tekanan jalan napas positif secara berlanjut
menggunakan alat bantu pernapasan.
c. Pemberian antibiotic
Memberikan antibiotik memilik tujuan untuk mencegah infeksi minor.
Neonatus dapat menerima penisilin dengan dosis 5.000-10.000 U/Kg BB/hari
bersamaan atau tidak dengan gentamicin 3-5/Kg BB/hari.
d. Pemberian surfaktan eksogen
Pemberian ini dapat melalui endotrakeal tube. RDS dapat diobati secara
efektif menggunakan obat ini.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai
informasi yang berkaitan dengan masalah yang dialami pasien. Pengkajian yang
dilakukan pada bayi dengan Prematur sebagai berikut:
a. Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama dan alamat pasien.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering terlihat pada bayi dengan Prematur adalah gangguan
sistem Bayi dengan RDN sering ditemui keluhan seperti sesak, ada pernapasan
cuping hidung, kondisi umum lemah, lesu, apneu, tidak responsif, penurunan
bunyi napas
c. Riwayat Kesehatan
Pada bayi yang mengalami RDN, biasanya akan diawali dengan tanda dan gejala
seperti mudah letih, dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus otot
menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/
epigastrik/ intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan
keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau
menghilangkan keluhan keluhan tersebut
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan paru-paru yang
imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfaktan, lahir prematur dengan
operasi caesar serta penurunan suplai oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi
matur atau prematur, atelektasis, DM, hipoksia, asidosis
e. Riwayat Maternal
Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti
perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal atau
intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang
memiliki riwayat sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta tidak
memperhatikan gizi yang baik bagi janin)
f. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang disinyalir
sebagai penyebab kelahiran prematur/ caesar sehinnga menimbulakan membran
hyialin disease

g. Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan keluarga terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasi
masalahnya serta bagaimana perilaku keluarga terhadap tindakan yang dilakukan
terhadap bayinya
h. Infant Saat Lahir
1) Prematur, umur kehamilan
2) Apgar score, apakah terjadi aspiksia
3) Apgar score adalah : Suatu ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi keadaan
umum bayi baru lahir
4) Bayi premature yang lahir melalui operasi Caesar
i. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu/ pernapasan > 60 kali /
menit, pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping
hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit
bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian
dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan
dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat
dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian
fungsi respirasi meliputi :
a. Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi.
Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha
kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare,
dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal
kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada
hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya
keadaan klinik
b. Mekanika usaha pernafasan
Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung,
retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan
penyakit alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi
memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.
Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
c. Warna kulit/membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin,
sianosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan
persentase desaturasi hemoglobin
d. Kardiovaskuler
1) Frekuensi jantung dan tekanan darah
Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress,
ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung
2) Kualitas nadi
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume
dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada
satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran
darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat
dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis
3) Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara :
a) Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
b) Blancing Skin Test
Caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas
dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki
tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya
tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik
c) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi
agitasi dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi
penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi
pupil

e. Activity Daily Life (ADL)


1) Nutrisi
Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau
menghisap
2) Istirahat tidur
Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun
kebutulan nyaman tergangu akibat tindakan medis
3) Eliminasi
Penurunan pengeluaran urin
f. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian fisik dilakukan secara sistematik dengan penekanan khusus pada
pengkajian pernafasan, Premature dapat dikaji dengan mengobservasi
takipnea, retraksi substernalm kreleks inspirasi, mengorok ekspiratori,
pernafasan (Wong,2003)
j. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Analisa gas darah.
b. Diagnosa Keperawatan (SESUAIKAN DENGAN SDKI)
a. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi : Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat
Penyebab :
1) Depresi pusat pernapasan
2) Hambatan upaya napas
3) Deformitas dinding dada
4) Deformitas tulang dada
5) Gangguan neuromuscular
6) Gangguan neurologis
7) Imaturitas neurologis
8) Penurunan energi
9) Obesitas
10) Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
11) Sindrom hipoventilasi
12) Kerusakan inervasi diafragma
13) Cedera medula spinalis
14) Efek agen farmakologis
15) Kecemasan

Gejala dan tanda mayor


Subjek : Dispnea
Objektif:

1) Penggunaan otot bantu pernapsan Fase ekspirasi memanjang


2) Pola napas abnormal

c. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (SESUAIKAN DENGAN SDKI)


Definisi : Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk
mempertahankan jalan napas tetap paten
Penyebab :
1) Spasme jalan napas
2) Hipersekresi jalan napas
3) Disfungsi neuromuscular
4) Benda asing dalam jalan napas
5) Adanya jalan napas buatan
6) Sekresi yang tertahan
7) Hiperplasia dinding jalan napas
8) Proses infeksi
9) Respon alergi
Gejala dan tanda mayor
Subjektif : Tidak ada
Objektif:
1) Batuk tidak efektif Tidak mampu batuk Sputum berlebih
2) Mengi, wheezing dan/ ronchi kering Mekonium di jalan napas

Gejala dan tanda minor

Subjektif Dispnea Sulit bicara Ortopnea

Objektif :

1) Gelisah Sianosis
2) Bunyi napas menurun Frekuensi napas berubah Pola napas berubah
3) Kondisi klinis terkait
4) Gullian barre syndrome
5) Sklerosis multiple
6) Infeksi saluran napas

d. Defisit Nutrisi (SESUAIKAN DENGAN SDKI)


Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolism
Penyebab
1) Ketidakmampuan menelan makanan
2) Ketidakmampuan mencerna makanan
3) Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient
4) Peningkatan kemampuan metabolism
5) Faktor ekonomi
6) Faktor psikologis

Gejala dan tanda mayor

Subjektif : Tidak tersedia

Objektif : BB menurun minimal 10% dibawah rentang ideal

Gejala dan tanda minor

Subjektif

1) Cepat kenyang setelah makan Keram/nyeri absomen


2) Napsu makan menurun

Objektif

1) Bising usus hiperaktif Otot pengunyah melemah Otot menelan melemah


Membran mukosa pucat Sariawan
2) Serum albumin turun Rambut rontok berlebihan
3) Diare
4) Kondisi klinis terkait

c. Intervensi Keperawatan
1) Diagnosa I : Pola Napas Tidak Efektif
Luaran Keperawatan : (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
a) Tujuan dan kriteria hasil
- Sesak yang dirasakan klien menurun dengan kriteria hasil :
- Dispnea menurun
- Frekuensi napas membaik
- Tidak ada penggunaan otot bantu napas
- Tidak ada pernapasan cuping hidung
b) Intervensi keperawatan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2019)
Pemantauan Respirasi
Observasi
- Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
- Monitor pola napas
- Monitor kemampuan batuk efektif
- Monitor adanya produksi sputum
- Monitor adanya sumbatan jalan napas
- Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
- Auskultasi bunyi napasMonitor saturasi oksigen
- Monitor hasil x-ray thorax Terapeutik
- Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
- Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi
- Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
- Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2) Diagnosa II : Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Luaran Keperawatan :
a) Tujuan dan kriteria hasil
Jalan napas tetap paten dengan kriteria hasil :
- Produksi sputum menurun
- Tidak ada sianosis
- Pola napas membaik
- Frekuensi napas membaik
b) Intervensi keperawatan
Manajemen Jalan Napas Observasi
- Monitor pola napas
- Monitor bunyi napas
- Monitor sputum

Terapeutik

- Pertahankan kepatenan jalan napas


- Posisikan semi fowler atau fowler
- Berikan minum hangat
- Lakukan fisioterapi dada
- Lakukan pengisapan lendir <15 detik
- Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
- Berikan oksigen Edukasi
- Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari
- Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika


perlu
3) Diagnosa III : Defisit Nutrisi
Luaran Keperawatan :
a) Tujuan dan kriteria hasil
Kebutuhan nutrisi klien tercukupi dengan kriteria hasil :
- Berat badan dalam batas normal
- Indeks Masa Tubuh (IMT) dalam batas normal
- Membran mukosa membaik
- Nafsu makan membaik
b) Intervensi keperawatan Manajemen Nutrisi
Observasi
- dentifikasi status nutrisi
- Identifikasi alergi dan intoleran makanan
- Identifikasi makanan yang disukai
- Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
- Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric
- Monitor asupan makanan
- Monitor BB
- Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapeutik
- Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
- Fasilitasi menentukan program diet
- Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
- Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
- Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
- Berikan suplemen makanan
- Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan oral
dapat ditoleransi

Edukasi

- Anjurkan posisi susuk, jika mampu


- Ajarkan diet yang diprogramkan

Kolaborasi

- Pemberian medikasi sebelum makan


- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrien yang dibutuhkan, jika perlu

BAB III

APLIKASI KASUS

A. Pengkajian
1. Identifikasi Pasien
a. Nama : Bayi Nyonya I
b. Tempat, Tanggal Lahir : Sukabumi, 23-12-2023
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Alamat : Kp Cibeureum RT 02/07 Kel Selawangi
e. Nama Penanggung Jawab : Tn. H
f. Usia Penanggung Jawab : 44 Tahun
g. Pekerjaan Penanggug Jawab : Wiraswasta
h. Pendidikan Penanggung Jawab : S1
i. Suku/Bangsa : Arab / Indonesia
j. Nama DPJP : Dr. R, Sp.A
k. Diagnosa Medis : BBLC,KB,SMK,SC + RDS ec TTN dd Neonatal
Pneumonia
l. Tanggal & Jam Masuk : 23/12/2023 Jam 11.00 WIB
m. Tanggal & Jam Pengkajian : 23/12/2023 Jam 11.00 WIB

2. Anamnesa
o Resume :
Bayi lahir Sectio Caesar dari ibu G1P0A0 37 minggu atas indikasi letak obligue
tanggal 23/12/2023 Jam 09.45 WIB denga APGAR Score 3/5, dilakukan resusitasi
neoatus oleh dokter dan blueteam. Bayi masuk NICU dengan downscore 6, napas
cuping hidung ada, retraksi berat, sianosis hilang dengan oksigen, air entry masuk
sebagian, grunting terdengar tanpa stetoskop, RR: 68x/menit, saturasi O2 93-94%.
diberikan oksigen melalui ventilasi mekanik dengan mode P-CMV.
o Cara masuk : ☑ Menggunakan isolet transport □Couve □Infant Warmer
□Digendong □Box bayi
o Asal masuk : □IGD □Poliklinik □Rujukan dr spesial/RS Luar/bidan/klinik ☑ OK
□VK
o Keluhan utama :
Bayi lahir langsung menangis, presentase kepala, lilitan tali pusat tidak ada, nafas
on ventilator mode P-CMV, rr: 62x/menit, retraksi sedang, sianosis hilang dengan
O2, grunthing tidak ada, air entry masuk semua, downscore 5.
o Riwayat obstetrik : G1P1A0 Usia gestasi : 37 minggu
o Pernah di rawat : ☑Ya/ Tidak Indikasi Rawat : Prematur kontraksi

o Status gizi ibu: ☑Baik □Buruk

o Obat-obatan yang di konsumsi selama kehamilan: □Tidak ada ☑Ada, jenis vitamin
hamil dan penguat kandungan
o Kebiasaan ibu : □Merokok □Minum Jamu □Minuman beralkohol ☑Tidak ada

o Riwayat persalinan : ☑ SC (atas letak obligue) □Spontan Kepala/Bokong □VE


□FORCEP
o Ketuban : ☑Jernih □Hijau encer/kental □Meconium □Darah □Putih keruh □lain-
lain
o Volume : •☑Normal □Oligohidramnion □Poligohidramnion,
o APGAR SCORE: 3/5
o Antropometri BBL : BB: 2510 gr, PB: 46 cm, LK:33 cm, LD:32 cm, LP:30 cm
o Riwayat penyakit keluarga: ☑Tidak ada Ada: □Diabetes □Kanker □Asthma
□Hipertensi □Jantung
o Riwayat alergi obat/makanan : ☑Tidak ada □Ada

o Riwayat tranfusi darah : ☑Tidak □Ya, kapan? Timbul reaksi □Tidak/Ya

o Riwayat imunisasi : ☑Tidak □Ya, sebutkan ________


3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : □Tampak Tidak Sakit □Sakit Ringan ☑Sakit Sedang
□Sakit Berat
b. Kesadaran : ☑Compos Mentis □Apatis □Somnolen □Sopor □Sopor Coma □Coma
c. GCS : E4M4V2
d. Tanda Vital: Sh: 36.3 °C, Nadi: 152 x/m, RR: 73 x/mnt, SpO2: 95% TD: Tidak
diukur, Down Score: 5
e. Berat badan : 2510 gr, TB: 46 cm, LK: 33 cm, LD: 32 cm, LP:30 cm
f. Gol darah/Rh (Bayi) : Belum diperiksa
Gol darah/Rh (Ibu) : Belum diperiksa
Gol darah/Rh (Ayah): Belum diperiksa
g. Pengkajian Persistem

Sistem Susunan Gerak bayi : ☑ Aktif □ Tidak aktif


Syaraf Pusat UUB : ☑ Datar □ Cekung □ Tegang □ Menonjol
Kejang : ☑ Tidak ada □ Ada :
Refleks : ☑Moro □Menelan □Hisap ☑Babinski □Rooting
Tangis bayi : ☑Kuat □Melengking □Lain-lain:
Sistem Posisi mata : ☑ Simetris □Asimetris
Penglihatan Besar pupil : ☑ Isokor □ Anisokor
Kelopak mata : ☑TAK □Edema □Cekung □Lain-lain:
Konjungtiva : ☑TAK □Anemis □Konjungtivitis □Lain-lain:
Sklera : ☑TAK □Ikterik □Perdarahan □Lain-lain:
Sistem ☑TAK □Asimetris □Serumen □Keluar cairan
Pendengaran □Tidak ada lubang telinga □Lain-lain:
Sistem ☑TAK □Asimetris □Pengeluaran cairan □Lain-lain:
Penciuman
Sistem Warna kulit : □Kemerahan ☑Sianosis: hilang dengan oksigen
Kardiovaskuler □Pucat □Lain-lain:
Denyut nadi : ☑Teratur □Tidak teratur ☑Frekuensi: 152 x/menit
Sirkulasi : ☑Akral hangat □Akral dingin □CRT: < 2 detik
□Palpitasi □Edema/lokasi:
Pulsasi : ☑Kuat □Lemah □Mur-mur □Lain-lain:
Sistem Pola napas : □Normal: x/menit
Pernafasan □Bradipnea: x/menit ☑Takipnea: 73x/menit
Jenis pernafasan : □Pernapasan Dada ☑Pernapasan Perut ☑Alat
bantu napas, sebutkan: terpasang Ventilator NIV
Irama napas : ☑Teratur □Tidak teratur
Retraksi : □Tidak ada □Ringan ☑Sedang □Berat
Air entry : ☑Udara masuk □Penurunan udara masuk
□Tidak ada udara masuk
Merintih : ☑Tidak ada □Terdengar dengan stetoskop
☑Terdengar tanpa stetoskop
Suara napas ; ☑Vesikuler □Wheezing □Ronchi □Stridor
Sistem Mulut : ☑Tidak ada kelainan □Simetris □Asimetris
Pencernaan □Mukosa mulut kering □Bibir pucat □Lain-lain:
Lidah : ☑TAK □Kotor □Gerakan asimetris □Lain-lain:
Esofagus : ☑TAK □Lain-lain:
Abdomen : ☑Supel □Asitesi □Tegang □Bising usus: x/menit
Anus : ☑Normal □Tidak normal
BAB : ☑Normal □Konstipasi □Melena □Colostomy
□Diare,frekuensi: x/hari
Meco pertama, tanggal/pukul : 23/12/2023 10.00 wib
Warna : □Kuning □Dempul □Coklat ☑Hijau □Lain-lain:
Sistem BAK : ☑Normal □Hematuri □Urin menetes □Sakit □Oliguri
Genitourinaria BAK pertama : □Tgl/pukul: 23/12/2023 14.00 wib
Warna : ☑Jernih □Kuning □Kuning pekat □Lain-lain:
Sistem Laki-laki : ☑Normal □Hipospadia □Epispadia □Fimosis □Hidrokel
Reproduksi Perempuan : □Normal □Keputihan □Vagina skintag
Sistem Vernic kaseosa : ☑Ada □Tidak ada □Lain-lain
Integumen Lanugo : □Tidak ada ☑Banyak □Tipis
□Bercak-bercak tanpa lanugo □Sebagian besar tanpa lanugo
Warna : □Pucat □Ikterik □Sianosis ☑Normal
Turgor : ☑Baik □Sedang □Buruk
Kulit : ☑Normal □Rash/kemerahan □Lesi □Luka □Memar
□Ptechie □Bula
Kriteria resiko decubitus : □Jaringan/elastisitas kulit kurang
□Immobilisasi □Perawatan NICU
(Bila terdapat satu atau lebih kriteria diatas, lakukan
pengkajian dengan menggunakan formular pengkajian resiko
decubitus)
Sistem Lengan : □Fleksi □Ekstensi ☑Pergerakan aktif
Muskuloskeletal □Pergerakan tidak aktif

Tungkai : □Fleksi □Ekstensi ☑Pergerakan aktif


□Pergerakan tidak aktif
Rekoil telinga : □Rekoil lambat □Rekoil cepat ☑Rekoil segera
Garis telapak kaki : □Tipis □Garis transversal anterior
□☑Garis 2/3 anterior □Seluruh telapak kaki

4. Status Psikologi (Orang Tua)


□Tenang ☑Cemas □Sedih □Depresi □Marah □Hiperaktif □Mengganggu sekitar
□Lain-lain
5. Kenyamanan/Pengkajian Nyeri (Asesmen Nyeri) Pada usia 0-1bulan (NIPS)
Nyeri : □Tidak ada ☑Ada, skala nyeri : 1
Frekuensi : □Jarang □Hilang timbul □Terus menerus □Lama nyeri

Penilaian Skala Nyeri NIPS (Neonatus Infant Pain Scale) (0-1bulan)

Indicator Kategori Skor Hasil Skor


Ekspresi Wajah Santai 0 0
Meringis 1
Menangis Tidak menangis 0 0
Merengek 1
Menangis keras 2
Pola nafas Rileks 0
Perubahan pola nafas 1 1
Lengan Tertahan/rileks 0 0
Fleksi/ekstensi 1
Tungkai Tertahan/rileks 0 0
Fleksi/ekstensi 1
Keadaan Tersangsang Tidur/bangun 0 0
Rewel 1
Total Skor 1
*Keterangan skor: 0: bebas nyeri, 1-2: nyeri ringan/sedang, 3-4: Nyeri sedang, >4: Nyeri berat
Jika terdapat nyeri, lakukan observasi lanjutan dengan menggunakan formular observasi pasien nyeri

6. Kebutuhan Komunikasi/ Pendidikan dan Pengajaran Orang Tua


a. Bicara : ☑Normal □Tidak, gangguan:
b. Bahasa sehari-hari : Sunda
c. Penerjemah : ☑Tidak □Ada, Bahasa :
Bahasa isyarat : ☑Tidak □Ada
d. Masalah penglihatan : ☑Tidak □Ada, sebutkan:
e. Pasien atau keluarga menginginkan informasi tentang : □Proses penyakit
□Gizi/nutrisi ☑Terapi/obat ☑Peralatan medis ☑Tindakan/pemeriksaan
☑Lain-lain: Perawatan bayi
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium :
Tanggal 23/12/2023 20.31 WIB
Hemoglobin : 17.4 gr/dl (13,5-20gr/dl)
Hematokrit : 50.3 % (42-60%)
Leukosit : 17.470 /mm3 (9.000-30.000/mm3)
Trombosit : 209.000 /mm3 (150.000-350.000/mm3)
GDS : 406 mg/dl (30-70mg/dl)
Natrium : 138,9 mmol/L (136-145 mmol/L)
Kalium : 4,69 mmol/L (3,50-5,10 mmol/L)
Kalsium : 9,4 mg/dl (8,6-10,4 mg/dl)
b. Radiologi Tanggal 13/12/2023
FOTO BABYGRAM
Kesan : Susp Pneumonia Paru Kanan dan Kiri DD/HMD
8. Penatalaksanaan Medis
a. Resusitasi neonatus -> VTP dg T-piece resuscitator
b. Inj vit K1 1 mg im
c. Rawat NICU
d. Pasang NIV-NCPAP -> PCMV : PEEP 7 PC 12 FiO2 60% RR 40 I:E = 1:2
e. Pasang OGT terbuka, puasa
f. Inj. Pycin 2x125 mg iv
g. Inj. Gentamycin 1x10 mg iv ?> D= 1 cc/kgBB/jam
h. Inj. Dexamethasone 3x 0,3 mg iv
i. Inj. Ranitidin 2x2 mg iv
j. Keb. cairan: 60 cc/kgBB/hari = 150 cc/hari ->D10%

ASESMEN GIZI / SKRINING GIZI OLEH PERAWAT

1. Minum : ☑ASI ☑PASI □Frekuensi: PUASA


Masalah : □Ada (skor 1) □Tidak ada (skor 0)
2. Penurunan BB : ☑<10% dari BBL (0) □>10% dari BBL (1)
3. Penyakit yang menyertai jika skornya 2
□Sepsis □Jantung □BBLR □Hipoglikemi □Diare □Lain-lain
Total skor
Jika skor < 2 : diet yang diberikan ☑ ASI ☑ PASI ☑ Per Oral/ NGT
Jika skor > 2 : Asesmen lanjut oleh ahli gizi

DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN

□ Nyeri □ Perfusi jaringan I. Pola nafas

□. Nutrisi □ Suhu tubuh □ Peningkatan bilirubun

□ Mobilitas / aktifitas □ Eliminasi □ Integritas kulit

III. Pengetahuan/komunikasi □ Keseimbangan cairan&elektrolit

II Infeksi □ Pertukaran Gas

RENCANA KEPERAWATAN (SESUAKAN HINAI / SIKI)

1. Observasi ku, ttv, dan tanda distress napas

2. Posisikan bayi semi ekstensi


3. Berikan penkes pada OT pentingnya pemberian oksigen

4. Libatkan OT dalam mengenali tanda distress nafas

5. Kolaborasi dengan DPJP untuk intubasi jika diperlukan

PERENCANAAN PERAWATAN INTERDISIPLIN/REFERAL

1. Diet dan nutrisi : ☑Tidak □Ya :


2. Rehabilitasi medik : ☑Tidak □Ya :
3. Farmasi : ☑Tidak □Ya :
4. Perawatan luka : ☑Tidak □Ya :
5. Manajemen nyeri : ☑Tidak □Ya :
6. Lain-lain : ☑Tidak □Ya :

PERENCANAAN PULANG (DISCHARGE PLANNING)

Pasien dan keluarga diberikan informasi tentang perencanaan pulang? ☑Ya □Tidak

1. Lama perawatan rata-rata : ± 14 hari


2. Tanggal perencanaan pulang : 07/01/2024
3. Perawatan lanjutan yang diberikan dirumah :
□Hygiene (mandi, BAK/BAB) □Pemberian minum NGT/Sendok/Dot bayi
□Perawatan luka □Nutrisi
☑Perawatan bayi □Latihan gerak/ Exercise
□Pemberian obat □Pemeriksaan laboratorium lanjutan
□Lain-lain □Penyakit/diagnose
4. Bayi tinggal bersama
☑OT kandung □Keluarga
5. Transpotasi yang digunakan
☑Kendaraan pribadi (mobil, roda dua)
□Kendaraan umum
□Mobil ambulance
□Lain-lain
6. Jika ada kriteria masuk dalam pemulangan kondisi khusus dilanjutkan asesmen
pemulangan kondisi khusus

Perawat/Bidan Yang Melakukan Pengkajian Verifikasi DPJP


Tanggal : 23/12/2023 Jam 13.00 WIB Tanggal : 23/12/2023 Jam 18.00 WIB

Sr. H Dr. R, Sp.A


Tandan Tangan dan Nama Jelas Tanda Tangan dan Nama Jelas

B. Diagnose Keperawatan
1. Pathway Kasus GANTI WOC

Etiologi :

1. Usia kehamilan
2. Berat badan bayi < 2500 gram
3. Bayi prematur
4. Ada kelainan di dalam/luar paru
5. Ketidakmampuan paru-paru mengembang
6. Infeksi

[Link] alveoli

PO2 menurun

Usaha nafas meningkat

Menurunnya
ventilasi dan CO2
meningkat
Atelektasis alveoli,

edema

Kolaps pada paru-paru


TERPASANG ALAT Paru-paru menjadi kaku TERPASANG ALAT
INVASIF DAN DI INVASIF
RAWAT DI NICU

POLA NAFAS PENINGKATAN


OT CEMAS INEFEKTIF PAPARAN
LINGKUNGAN
PATHOGEN

2. AnalisaDEFISIT
Data ( TIDAK PERLU GANTI DENGAN WOC)
RESIKO
PENGETAHUAN
INFEKSI
NO DATAOT ETIOLOGI PROBLEM
1. DS : - Ketidakmampuan paru-paru Pola nafas tidak efektif
mengembang
DO :
☑ Bayi Sianosis Menurunnya ventilasi dan CO2
meningkat
☑ Napas cuping hidung
☑ Retraksi ringan Kolaps pada paru-paru Paru-
paru menjadi kaku
☑ RR: 72x/menit
☑Downscore 3 Ekspansi Paru tidak adekuat

☑Terpasang ventilator mode


PCMV PEEP 7 FiO2 60% Retraksi

Pola napas tidak efektif


2. DS : - Ditress nafas Resiko Infeksi
Terpasang alat invasi
DO :
☑ Bayi sudah dirawat > Peningkatan paparan
7hari lingkungan pathogen

☑ Terpasang alat invasi


□ Leukosit Pertahanan sekunder tidak
adekuat (penurunan Hb,
□ KPD
peningkatan Leukosit

Resiko Infeksi
3. DS : - distress nafas Defisit pengetahuan OT

Bayi dirawat di NICU


DO :
☑ Bayi dirawat diruang Terpasang alat invasi
NICU
☑ Terpasang alat invasi OT tampak cemas

☑ OT tampak cemas
Defisit pengetahuan OT
C. Diagnosa dan Perencanaan Asuhan Keperawatan ( Data sesuaikan dg kondisi px)

DIAGNOSA DAN PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF

TGL PERENCANAAN TGL


NO DITEGAKKAN TERATASI
DIAGNOSA
DX & NAMA TUJUAN KRITERIA HASIL RENCANA TINDAKAN & NAMA
PERAWAT PERAWAT
1
Pola nafas tidak efektif adalah
23/12/2023
Setelah dilakukan ☑Dispneu menurun Observasi
inspirasi dan atau ekspirasi Jam 11.30 intervensi
☑Penggunaan otot bantu ☑ Monitor pola nafas
yang tidak memberikan Sr. H keperawatan
pernafasan menurun (frekuensi, kedalaman,
ventilasi adekuat. selama 7x24 jam usaha nafas)
☑Ortopneu (sesak dalam
pola nafas
kondisi berbaring) ☑Monitor adanya
Berhubungan dengan : membaik
menurun kelelahan otot bantu
☑ Depresi pusat pernapasan nafas
☑Pernafasan cuping
☑ Hambatan upaya napas (mis. hidung menurun ☑Monitor status
Nyeri saat bernapas kelemahan respirasi dan
☑Pola nafas normal oksigenasi
otot pernapasan
□ Deformitas dinding dada
☑Kapasital vital
membaik
(kelainan bentuk dinding Terapeutik
dada) ☑Tekanan ekspirasi ☑Pertahankan
membaik
□ Gangguan neuromuscular kepatenan jalan nafas
(kelemahan otot, kesulitan ☑Tekanan inspirasi ☑Posisikan semi
bernafas, kesulitan membaik
fowler atau fowler
menelan) ☑Ekskursi dada normal ☑Bantu untuk
□ Gangguan neurologis (hasil merubah posisi jika
EEG positif, cedera kepala, diperlukan
gangguan kejang)
☑Analisa efek
□ Imaturitas neurologis perubahan posisi pada
terutama pada bayi pernafasan
premature □ Lakukan pengukuran
□ Penurunan energi nafas dengan spirometri,
□ Obesitas jika perlu
□ Posisi tubuh yang □ Berikan bantuan
menghambat ekspansi resusitasi, jika perlu
paru (posisi terlentang) □ ........................................
□ Sindrom hipoventilasi (kadar ........................................
oksigen lebih rendah ........................................
daripada karbondioksida Edukasi
dalam darah) □ Ajarkan pasien
□ Cedera pada medulla spinalis melakukan tehnik
□ Efek agen farmakologis relaksasi nafas dalam
□ Kecemasan □ Ajarkan pasien
merubah posisi secara
□ ................................................
mandiri
DIAGNOSA DAN PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN RESIKO INFEKSI

TGL PERENCANAAN TGL


NO DITEGAKKAN TERATASI
DIAGNOSA
DX & NAMA TUJUAN KRITERIA HASIL RENCANA TINDAKAN & NAMA
PERAWAT PERAWAT
2
Risiko infeksi adalah berisiko Setelah dilakukan ☑ Kemerahan menurun Observasi
mengalami peningkatan terserang
23/12/23
intervensi
□ Vesikel menurun ☑ Monitor tanda – tanda vital
organisme patogenis, dibuktikan keperawatan
Jam 11.30 □ Demam menurun ☑ Monitor keadaan umum
dengan : selama 3 x 24 Jam
□ Nyeri menurun pasien
□ Penyakit kronis (mis. Diabetes Sr. H infeksi
melitus) tidak terjadi □ Lethargi menurun ☑ Monitor tanda – tanda
□ Efek prosedur invasif ☑ Kultur darah normal infeksi dan peradangan
(demam, adanya kemerahan
□ Kerusakan jaringan □ Kultur sputum
pada sekitar luka, adanya pus
□ Malnutrisi normal
pada luka)
□ Kultur area
☑ Peningkatan paparan □ ..............................................
luka normal
lingkungan patogen ..............................................
☑ Hasil sel darah
☑ Penurunan daya tahan tubuh
putih normal
Terapeutik
☑ Pertahanan sekunder tidak □ ..................................
adekuat (penurunan Hb, ☑ Batasi jumlah pengunjung
□ ..................................
leukopenia) □ Berikan perawatan kulit
..................................
□ Pertahanan primer tidak adekuat pada area edema secara
(kerusakan kulit, trauma teratur
jaringan, gangguan peristaltik) ☑ Cuci tangan sebelum
□ KPD 3 hari dan sesudah kontak dengan
pasien dan lingkungan
pasien

☑ Pertahankan tehnik septik


pada pasien beresiko tinggi
□ ..............................................
..............................................

Edukasi
□ Jelaskan tentang pentingnya
istirahat dan membatasi jumlah
pengunjung
□ Ajarkan tanda dan gejala
infeksi
☑ Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
□ Ajarkan cara
menghindari asupan
nutrisi
□ Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
□ ..............................................
..............................................

Kolaborasi
□ Kolaborasi pemberian diet
TKTP
☑ Kolaborasi pemberian terapi
☑ Kolaborasi pemeriksaan
septik marker

☑ Kolaborasi pemberian
imunisasi jika perlu

DIAGNOSA DAN PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN DEFISIT PENGETAHUAN

TGL PERENCANAAN TGL


NO DITEGAKKAN TERATASI
DIAGNOSA
DX & NAMA TUJUAN KRITERIA HASIL RENCANA TINDAKAN & NAMA
PERAWAT PERAWAT
II 23/12/2023
Defisit pengetahuan adalah
J.11.30
Setelah dilakukan  Pasien dan keluarga Observasi
defisit pengetahuan adalah Sr H tindakan secara verbal dapat  Identifikasi pengetahuan
ketiadaan atau kurangnya keperawatan memahami tentang pasien dan keluarga
informasi koqnitif yang selama 3 X 24 penyakit, prognosa dan □ Identifikasi kemungkinan
berkaitan dengan topik jam kebutuhan pengobatan penyebab ketidaktahuan
tertentu b.d : tingkat □ Pasien dan □ ..............................................
pengetahuan keluarga kooperatif □ ..............................................
Ditandai dengan : meningkat dalam menjalani Terapeutik
 Keterbatasan pengetahuan program perawatan  Berikan kesempatan kepada
□ Gangguan fungsi kognitif □ Pasien dan keluarga pasien dan keluarga untuk
(proses penuaan, efek mampu melaksanakan bertanya
penyakit degeneratif) prosedur yang  Berikan gambaran tanda dan
dijelaskan secara gejala yang biasa muncul
□ Kurang terpapar informasi
benar dengan cara yang tepat
□ Kurang minat
□ Pasien dan keluarga  Diskusikan pilihan
dalam belajar
mampu menjelaskan perawatan dengan cara yang
□ Kekeliruan mengikuti kembali apa yang tepat
anjuran (persepsi yang telah disampaikan □ Dukung pasien untuk
salah terhadap oleh perawat/ tim mengeksplorasi atau
informasi yang kesehatan lain mendapatkan second opinion
diberikan) □ .................................... dengan cara yang tepat
□ Libatkan keluarga dan
DS :
pasien dalam proses
 OT/ pasien menanyakan perawatan
masalah yang dihadapi □ ..............................................
□ .......................................... ..............................................
□ .......................................... Edukasi
 Jelaskan tentang rencana
DO : perawatan yang akan dilakukan
□ Menunjukkan perilaku □ Berikan leaflet tentang
tidak sesuai anjuran penyuluhan yang akan
 Menunjukkan persepsi diberikan
□ ..............................................
yang keliru terhadap masalah
□ ..............................................
□ Menunjukkan perilaku
Kolaborasi
berlebihan (mis. Apatis,
marah, agitasi, histeria)
 Kolaborasi dengan Dokter
untuk menjelaskan kondisi
□ ..........................................
pasien dan program pengobatan
□ .............................................

D. Tindakan dan Evaluasi Asuhan Keperawatan

TANGGAL / JAM TINDAKAN DAN EVALUASI KEPERAWATAN NAMA & TTD


PERAWAT

23/12/2023 Bayi lahir dari kamar operasi dilakukan resusitasi Sr. T


09.45 dan pidah ke ruangan NICU
23/11/2023 Melakukan assessment ulang Sr. H
11.30 Ds : -

Do : K/u sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi


teraba kuat dan regular, napas on ventilator, retraksi
sedang, siaosis hilang dengan O2, air entry masuk
semua, grunthing tidak ada, rr : 73x/menit, downscore 5
12.00 Mempertahankan therapy oksigen adekuat Sr. H
Respon : Terpasang ventilator mode P-CMV
13.00 Memposisikan bayi semi ekstensi Sr. H
Respon : Jalan napas terbuka
24/12/23 Melakukan assessment ulang Sr. H
07.30 Ds : -

Do : K/u berat, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba


kuat dan regular, napas on ventilator, sianosis hilang
dengan O2, retraksi sedang, air entry masuk semua,
grunthing tidak ada, rr : 62x/menit, downscore 3
10.00 Mempertahankan therapy oksigen adekuat Sr. H
Respon : Terpasang ventilator mode P-CMV
12.00 Memposisikan bayi semi ekstensi Sr. H
Respon : Jalan napas terbuka
13.00 Mengkaji tanda distress napas Sr. H
Respon : retraksi sedang, sianosis hilang dengan
oksigen, air entry masuk semua, gruthing tidak ada, RR:
59x/menit, downscore 3
25/12/23 Melakukan assessment ulang Sr. H
14.00 Ds : -

Do : K/u sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi


teraba kuat dan regular, napas on ventilator, siaosis
hilang dengan O2, retraksi ringan, air entry masuk
semua, grunthing tidak ada, rr : 58x/menit, downscore 2
16.30 Mempertahankan therapy oksigen adekuat Sr. H
Respon : Terpasang ventilator mode P-SIMV
18.00 Memposisikan bayi semi ekstensi Sr. H
Respon : Jalan napas terbuka
21.00 Mengkaji tanda distress napas Sr. H
Respon : retraksi ringan, sianosis hilang dengan
oksigen, air entry masuk semua, gruthing tidak ada, RR:
57x/menit, downscore 2

CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN TERINTEGRASI (format sesuaikn dg


hinai)

Tanggal Profesional HASIL ASESMEN-IAR INTRUKSI PPA REVIEW & VERIFIKASI


dan Pemberi PENATALAKSANAAN TERMASUK DPJP
Waktu Asuhan PASIEN PASCA BEDAH (Nama, TTD dan Tgl, Waktu) DPJP

(Tulis dengan format SOAP/ADIME, (Instruksi ditulis harus membaca/mereview seluruh

disertai sasaran, Tulis nama, beri paraf dengan rinci dan jelas) recana asuhan

pada akhir catatan)

23/12/23 Perawat EVALUASI PAGI R/


14.00 S: - Observasi tanda
distress napas
O: K/U berat, kesadaran cm, akral Pertahankan suhu
hangat, SH: 36,5-36,6 , nadi teraba 36,5-37,5
kuat dan regular, HR: Libatkan keluarga
132-137x/menit, gerak aktif, dalam perawatan
menangis kuat, klinis kemerahan, bayi
napas on ventilator mode P-CMV, Obs tanda infeksi
RR: 62-73x/menit, sianosis hilang pada umbilical
dengan oksigen, retraksi ringan, Cuci tangan
air entry masuk semua, grunthing sebelum dan
tidak, downscore 3. Abdomen setelah tindakan
supel, kembung tidak ada, muntah
tidak ada, terpasang OGT terbuka,
CPL 2cc lendir keruh. Terpasang
IVFD via uVC
A:
Dx I Pola Nafas Inefektif belum
teratasi
Dx II Resiko Infeksi tidak terjadi
Dx III Defisit pengetahuan OT
P: Intervensi dilanjutkan
Sr. H
24/11/23 Perawat EVALUASI PAGI R/
14.00 S: - Observasi tanda
distress napas
O: K/U sedang, kesadaran cm, Pertahankan suhu
akral hangat, SH: 36,7-36,8 , nadi 36,5-37,5
teraba kuat dan regular, HR: 130- Libatkan keluarga
137x/menit, gerak aktif, menangis dalam perawatan
kuat, klinis kemerahan, napas on bayi
ventilator mode P-SIMV, RR: 59- Obs tanda infeksi
62x/menit, sianosis hilang dengan pada umbilical
oksigen, retraksi ringan, air entry Cuci tangan
masuk semua, grunthing tidak, sebelum dan
downscore 3. Abdomen supel, setelah tindakan
kembung tidak ada, muntah tidak
ada, terpasang OGT terbuka, CPL
2cc lendir keruh. Terpasang IVFD
via UVC
A:
Dx I Pola Nafas Inefektif belum
teratasi
Dx II Resiko Infeksi tidak terjadi
Dx III Defisit pengetahuan OT
P: Intervensi dilanjutkan

Sr. H
25/11/23 Perawat EVALUASI SORE R/
21.00 S: - Observasi tanda
distress napas
O: K/U berat, kesadaran cm, akral Pertahankan suhu
hangat, SH: 36,8-36,9 , nadi teraba 36,5-37,5
kuat dan regular, HR: Libatkan keluarga
136-142x/menit, gerak aktif, dalam perawatan
menangis kuat, klinis kemerahan, bayi
napas on ventilator mode P-SIMV, Obs tanda infeksi
RR: 56-57x/menit, sianosis hilang pada umbilical
dengan oksigen, retraksi ringan, Cuci tangan
air entry masuk semua, grunthing sebelum dan
tidak, downscore 2. Abdomen setelah tindakan
supel, kembung tidak ada, muntah
tidak ada, terpasang OGT terbuka,
CPL 1cc lendir keruh. Terpasang
IVFD via UVC
A:
Dx I Pola Nafas Inefektif belum
teratasi
Dx II Resiko Infeksi tidak terjadi
Dx III Defisit pengetahuan OT
P: Intervensi dilanjutkan
Sr. H

RM 01.25.001
Rev. 3

RUMAH SAKIT UMUM


HERMINA SUKABUMI LABEL IDENTITAS PASIEN
Jl. Raya Sukaraja Sukabumi
Jawa-Barat
Telp (0266)6252525
Fax (0266)235020
ASESMEN KEBUTUHAN EDUKASI & PEMBERIAN EDUKASI PASIEN/ KELUARGA
TERINTEGRASI (SESUAIKAN DG DATA DI HINAI)
INSTRUKSI : Beri tanda check list (√) pada kotak yang sesuai (dapat lebih dari satu sesuai
dengan kebutuhan pasien dan keluarga

PERSIAPAN EDUKASI/ BELAJAR:


Bahasa : ☑ Indonesia □ Inggris □ Daerah:_______________ □ Lain-lain:
________________ Kebutuhan penterjemah : □ Ya ☑ Tidak
Pendidikan pasien : □ SD □ SLTP ☑ SLTA □ S-1 □ Lain-lain: _________________
Baca dan tulis : ☑ Baik □ Kurang
Pilihan tipe pembelajaran: ☑ Verbal □ Tulisan
Hambatan edukasi : ☑ Tidak ada □ Penglihatan terganggu □ Bahasa □ Kognitif terbatas □ Motivasi
Kurang
□ Budaya/agama/Spirituaal ( tidak ada masalah ) □ Emosional □ Pendengaran
Terganggu
□ Gangguan bicara □ Fisik Lemah □ Lain-lain
________________________________
Kesediaan menerima informasi : ☑ Bersedia  Tidak bersedia
Kebutuhan informasi/ edukasi : ☑ Diagnosis / penyakit ☑ Tindakan  Obat-obatan  Manajemen nyeri 
Vaksinasi
 Manajemen risiko jatuh  Penggunaan peralatan khusus  Rehabilitasi
medik
 Cuci tangan  Penggunaan APD  Transfusi darah  Intervensi diet 
Warfarin
 Edukasi diabetes  Penyakit Khusus  Tindakan pencegahan  Lain-lain
________
Metode pembelajaran : ☑ Diskusi  Demonstrasi  Pemberian leaflet / handout

Nama & TT Penerima & Pemberi Verifikasi/ Evaluasi


Tanggal & Edukasi (sudah mengerti,
Materi Edukasi mampu melakukan
Jam Penerima Hubungan Pemberi
Edukasi Dengan Edukasi demonstrasi/ perlu re
Pasien edukasi/demonstrasi)
23/12/23 Menjelaskan kepada
OT mengenai :
- DPJP bayi dr R Tn H Ayah Sr T Sudah mengerti
Sp.A Sr T
- pemberian injeksi Tn H Ayah Sudah mengerti
vit-k Sr T
- pemasangan gelang Tn H Ayah Sudah mengerti
identitas pasien Sr T
- kondisi bayi saat ini Tn H Ayah Sudah mengerti
- kondisi bayi harus
masuk perawatan Tn H Ayah Sr T Sudah mengerti
NICU
- pemasangan infus
dan alat bantu napas Tn H Ayah Sr T Sudah mengerti
(ventilator)
-pemasangan OGT
- pemeriksaan Tn H Ayah Sr T Sudah mengerti
laboratorium (darah Tn H Ayah Sudah mengerti
tepi, gds, Na, K, Ca Sr T
- pemeriksaan Sr T
babygram Tn H Ayah Sudah mengerti
-Menjelaskan hak Sr T
pasien dan keluarga Tn H Ayah Sudah mengerti

Nama & TT Penerima & Pemberi Verifikasi/ Evaluasi


Tanggal & Edukasi (sudah mengerti,
Materi Edukasi mampu melakukan
Jam Penerima Hubungan Pemberi
Edukasi Dengan Edukasi demonstrasi/ perlu re
Pasien edukasi/demonstrasi)
24/12/23 -Menjelaskan tentang Tn H Ayah Dr R Sudah mengerti
09.00 perkembangan SpA
kondisi bayi masih
sesak, saturasi sempat
turun, sehingga mode
ventilator di ganti ,
dan masih dipuasakan

- menjelaskan tentang Tn H Ayah Sr H Sudah mengerti


cara mencuci tangan
dan harus diaplikasi
setiap kontak dengan
pasien

25/12/202 - menjelaskan kondisi Tn H Ayah Sr H Sudah mengerti


3 bayi saat ini masih
15.00 sesak, namun tidak
turun saturasi seperti
sebelumnya dan bayi
masih dipuasakan

- menjelaskan kepada
OT pasien untuk
minimal kontak dan
minimal handling Tn H Ayah Sr H Sudah mengerti
pada pasien karena
beresiko untuk
menyebabkan infeksi
pada bayi
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari hasil pengkajian diatas tidak ditemukan adanya kesenjangan data antara
pengkajian pada teori Prematur dengan pengkajian pada lapangan. Tanda dan gejala yang
muncul pada kasus ini sudah sesuai dengan teori. Tanda dan gejala yang muncul yaitu
pernapasan bayi cepat (takipnea), retraksi berat, sianosis hilang atau menetap dengan
oksigen, grunthing atau merintih.
Diagnose yang ada dalam teori antara lain Pola napas tidak efektif berhubungan
dengan imaturitas paru dan neuromuscular, Ketidakefektifan bersihan jalan napas
berhubungan dengan penumpukkan secret pada paru-paru, Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan terpajan kuman pathogen,. Sedangkan pada kasus ini diagnose yang
muncul adalah Pola napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas paru dan
neuromuscular, Resiko Infeksi dan Defisit pengetahuan OT berhubungan dengan kondisi
bayi dan penyakitnya.
Diagnose yang sesuai teori yang tidak muncul pada kasus ini adalah
Ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukkan secret, karena
tidak ada data dan pemeriksaan penunjang untuk mendukung menetukan diagnose
sehingga penulis tidak mengangkatnya. Namun pada saat pengkajian ditemukan data
bahwa OT mempertanyakan kondisi bayi dan penyakitnya maka penulis mengangkat
diagnose Defisit pengetahuan OT berhubungan dengan kurangnya sarana informasi.
Pada kasus ini intervensi yang dibuat sudah sesuai dengan diagnose yang
ditegakkan dan sudah sesuai dengan 5 aspek perencanaan yaitu observasi, tindakan
mandiri, edukasi, libatkan keluarga dan kolaborasi dengan dokter.
Implementasi untuk diagnose pertama sudah sesuai karena pada saat dilakukan
tindakan keperawatan mulai menunjukkan tanda distress napas dengan adanya tanda
takipnea, sianosis hilang dengan oksigen, retraksi berat, air entry masuk sebagian,
grunthing terdengar tanpa stetoskop, maka dilakukan tatalaksana pemberian oksigen yang
adekuat via ventilator mode P-CMV. Pada dasarnya pemberian oksigen dengan tekanan
tinggi pada bayi tidak dianjurkan, karena bisa mengakibatkan terjadinya komplikasi
seperti ROP, kolaps paru, dan pneumothoraks. Pada kasus ini O2 diturunkan secara
bertahap sampai dengan bayinya mampu bernapas spontan tanpa bantuan alat bantu
napas lainnya.
BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan
Penelitian dilakukan pada Bayi I yang mengalami RDN dengan masalah utama
pola napas tidak yang efektif diberikan intervensi 3 hari berturut-turut yaitu dengan
pemberian oksigen on ventilator sesuai kebutuhan dan pemberian posisi semi ekstensi
terbukti dapat mengurangi sesak dengan kriteia frekuensi napas membaik,
penggunaan otot bantu menurun, dan pernapasan cuping hidung menurun.
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:
a. Bila ditemukan bayi lahir premature disertai gangguan sistem pernafasan
maka berikan oksigen secara adekuat sesuai kebutuhan bayi
b. Bayi dengan Premature harus selalu dimonitor tanda distress napas, tanda
hipotermia dan tanda hypoglikemia
c. Pahami kondisi bayi sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang
tepat dan cepat untuk bayi denga kasus Prematur.

Anda mungkin juga menyukai