SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
STUNTING
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
POLTEKES YAPKESBI SUKABUMI
TAHUN 2023/2024
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
STUNTING
Pokok Bahasan : Stunting
Sasaran : Ibu Balita
Tempat : Posyandu Durian 5B
Hari/Tanggal : Kamis, 28 Desember 2023
Waktu : 30 Menit
Metode : Ceramah
Penyuluh : Iqbal Arba dan Cantika Anashwa, Mahasiswa D3 Keperawatan
I. TUJUAN
I.1 Tujuan Intruksional Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, Audiens diharapkan dapat
mengetahui dan memahami bagaimana cara mencegah Stunting.
I.2 Tujuan Intruksional Khusus.
Setelah diberikan penyuluhan Audiens mampu memahami tentang :
a. Definisi Stunting.
b. Cara mendeteksi Stunting.
c. Penyebab Stunting.
d. Dampak Stunting.
e. Upaya pencegahan Stunting.
f. Makanan bergizi untuk mencegah Stunting.
II. SASARAN
Masyarakat Subang Jaya RT/003 Dan RT/005 yang memilliki Bayi dan Balita
III. SUB POKOK BAHASAN
a. Definisi Stunting
b. Cara mendeteksi Stunting
c. Penyebab Stunting
d. Dampak Stunting
e. Upaya pencegahan Stunting
f. Makanan bergizi untuk mencegah Stunting
IV. METODE PEMBELAJARAN
Ceramah, Tanya Jawab
V. MEDIA
Lembar balik, Poster, Leaflet
VI. KEGIATAN PENYULUHAN
Tahap Waktu Kegiatan Penyuluh Peserta Metode
Pendahulua 5 menit 1. Memberi salam 1. Menjawab Ceramah
n 2. Memperkenalka salam dan
n diri 2. Mendengarkan tanya
3. Menjelaskan dan jawab
tujuan memperhatika
penyuluhan dan n
pokok materi
yang akan
disampaikan
4. Mengkaji
pengetahuan
audiens
mengenai
stunting
Penyajian 15 1. Menjelaskan Mendengarkan dan Ceramah
menit materi memperhatikan dan
a. Definisi stunting tanya
b. Cara mendeteksi jawab
stunting
c. Penyebab
stunting
d. Dampak
stunting
e. Upaya
pencegahan
stunting
f. Makanan bergizi
untuk mencegah
stunting
2. Memberikan
sesi untuk
bertanya
Penutup 10 1. Ice Breaking 1. Mengikuti Ice Praktek
menit 2. Doorprize Breaking dan
3. Menutup acara, 2. Menjawab Tanya
dengan salam pertanyaan jawab
penutup Doorprize
3. Membalas
salam
1. MATERI
(terlampir)
2. KRITERIA PEMANTAUAN
1. Pemantauan
a. Input
Kegiatan penyuluhan dihadiri oleh minimal 15 peserta.
Media penyuluhan yang digunakan adalah Lembar balik, Poster,
Leaflet.
Paket penyuluhan sesuai SPO dan Up to Date.
Tempat penyuluhan adalah di Lingkungan Posyandu.
Pengorganisasian penyuluhan disiapkan beberapa hari sebelum
kegiatan penyuluhan.
b. Proses
Peserta aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan penyuluhan.
Tidak ada peserta yang meninggalkan kegiatan penyuluhan.
Narasumber menguasai materi dengan baik.
c. Output
Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan peserta mengerti dan memahami
materi penyuluhan.
d. Outcome
Setelah dilakukan penyuluhan ada perubahan perilaku kesehatan yang
lebih baik.
3. EVALUASI
Promosi kesehatan mahasiswa dilakukan untuk mengetahui efektifitas mahasiswa
terhadap indikator cara pencegahan stunting.
MATERI STUNTING
[Link] Stunting
Stunting atau perawakan pendek merupakan gangguan pertumbuhan yang sebagian
besar disebabkan oleh masalah nutrisi kronis sejak bayo dalam kandungan hingga masa awal
anak lahir yang biasanya tampak setelah ank berusia 2 tahun. Menurut Kemenkes RI, balita
pendek atau stunting bisa diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi
badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasil pengukurannya ini berada pada
kisaran di bawah normal.
Stunting adalah keadaan tubuh yang pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah
median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi refrensi internasional. Tinggi badan
berdasarkan umur rendah, atau tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain
seumurnya merupakan definisi stunting yang ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan
anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat
sesuai dengan umur anak (WHO, 2006).
Stunting dapat diartikan sebagai kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan
dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.
Administrative Committee on Coordination/Sub Committee on Nutrition (ACC/SCN) tahun
2000, diagnosis stunting dapat diketahui melalui indeks antopometri tinggi badan menurut
umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan
dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai atau
kesehatan. Stunting yaitu pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi genetik
sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit. Stunting diartikan sebagai indicator
status gizi TB/U sama dengan atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah
rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan ana-
anak lain seumurnya, ini merupakan indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis
yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan sosial
ekonomi (UNICEF II, 2009; WHO, 2006).
[Link] Deteksi Stunting
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang seharusnya selalu dipantau
pada setiap kunjungan ke dokter. Pemantauan pertumbuhan anak biasanya dilakukan dengan
memplot berat badan dan tinggi badan ke dalam suatu kurva pertumbuhan. Seorang anak
dikatakan pendek jika tinggi badan atau panjang badan menurut usia lebih dari dua standar
deviasi di bawah median kurve standar pertumbuhan anak [Link] mendeteksi anak
terkena stunting salah satunya dengan pemantauan berat badan terutama hingga usianya 2
tahun. Penurunan berat badan merupakan salah satu risiko terjadinya stunting.
jika berat badan mulai turun terus menerus bisa menjadi stunting. Bila anak di masa
awal kehidupannya mengalami penurunan berat badan, segeralah berkonsultasi dengan dokter
untuk memastikan penyebabnya. Bisa jadi, ada masalah dalam jumlah asupan nutrisinya dan
hal [Link] paling mudah dikenali, tinggi badan anak kurang dari 85 cm pada usia 2
tahun. Gejala ini bila tidak ditangani maka akan berakibat fatal. Anak akan mengalami
kekerdilan permanen dan kehilangan kemampuan pertumbuhan mereka sampai dewasa.
Ciri-ciri anak stunting:
1. Keterlambatan pertumbuhan
2. Performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar
3. Tanda Pubertas Terlambat
4. Anak menjadi pendiam,sulit melakukan eyes contact pada usia 8-10 tahun
5. Wajah tampak lebih muda dari usianya
6. Mudah mengalami penyakit infeksi.
[Link] Stunting
Kejadian stunting pada anak merupakan suatu proses komulatif menurut
beberapa penelitian, yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang
siklus kehidupan. Proses terjadinya stunting pada anak dan peluang peningkatan
stunting terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan. Banyak faktor yang menyebabkan
terjadinya keadaan stunting pada anak. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan
oleh faktor langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian
stunting adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak
langsungnya adalah pola asuh, pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, faktor
budaya, ekonomi dan masih banyak lagi faktor lainnya (UNICEF, 2008; Bappenas,
2013)
a. Faktor langsung
1) Asupan gizi balita
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat balita akan
mengalami tumbuh kembang dan tumbuh kejar. Balita yang mengalami
kekurangan gizi sebelumnya masih dapat diperbaiki dengan asupan yang baik
sehingga dapat melakukan tumbuh kejar sesuai dengan perkembangannya.
Namun apabila intervensinya terlambat balita tidak akan dapat mengejar
keterlambatan pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh. Balita yang
normal kemungkinan terjadi gangguan pertumbuhan bila asupan yang diterima
tidak mencukupi. Penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan
bahwa konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek,
selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di bawah rata-
rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek (Sihadi dan Djaiman,
2011).
2) Penyakit infeksi
Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penyebab langsung stunting,
Kaitan antara penyakit infeksi dengan pemenuhan asupan gizi tidak dapat
dipisahkan. Adanya penyakit infeksi akan memperburuk keadaan bila terjadi
kekurangan asupan gizi. Anak balita dengan kurang gizi akan lebih mudah
terkena penyakit infeksi. Untuk itu penanganan terhadap penyakit infeksi yang
diderita sedini mungkin akan membantu perbaikan gizi dengan diimbangi
pemenuhan asupan yang sesuai dengan kebutuhan anak balita. Penyakit infeksi
yang sering diderita balita seperti cacingan, Infeksi saluran pernafasan Atas
(ISPA), diare dan infeksi lainnya sangat erat hubungannya dengan status mutu
pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan
perilaku sehat (Bappenas, 2013). Ada beberapa penelitian yang meneliti tentang
hubungan penyakit infeksi dengan stunting yang menyatakan bahwa diare
merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada anak umur dibawah 5
tahun (Paudel et al, 2012).
b. Faktor tidak langsung
1) Ketersediaan pangan.
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada kurangnya
pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-rata asupan kalori
dan protein anak balita di Indonesia masih di bawah Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang dapat mengakibatkan balita perempuan dan balita laki-laki
Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3
cm lebih pendek dari pada standar rujukan WHO 2005 (Bappenas, 2011). Oleh
karena itu penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor
kesehatan saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya. Ketersediaan
pangan merupakan faktor penyebab kejadian stunting, ketersediaan pangan di
rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga, pendapatan keluarga
yang lebih rendah dan biaya yang digunakan untuk pengeluaran pangan yang
lebih rendah merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek
(Sihadi dan Djaiman, 2011).
2). Status gizi ibu saat hamil
Status gizi ibu saat hamil dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor
tersebut dapat terjadi sebelum kehamilan maupun selama kehamilan. Beberapa
indikator pengukuran seperti
1) kadar hemoglobin (Hb) yang menunjukkan gambaran kadar 11 Hb dalam
darah untuk menentukan anemia atau tidak;
2) Lingkar Lengan Atas (LILA) yaitu gambaran pemenuhan gizi masa lalu
dari ibu untuk menentukan KEK atau tidak;
3) hasil pengukuran berat badan untuk menentukan kenaikan berat badan
selama hamil yang dibandingkan dengan IMT ibu sebelum hamil (Yongky,
2012; Fikawati, 2010).
a) Pengukuran LILA dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui
status KEK ibu tersebut. KEK merupakan suatu keadaan yang
menunjukkan kekurangan energi dan protein dalam jangka waktu
yang lama (Kemenkes R.I, 2013). Faktor predisposisi yang
menyebabkan KEK adalah asupan nutrisi yang kurang dan adanya
faktor medis seperti terdapatnya penyakit kronis. KEK pada ibu hamil
dapat berbahaya baik bagi ibu maupun bayi, risiko pada saat prsalinan
dan keadaan yang lemah dan cepat lelah saat hamil sering dialami
oleh ibu yang mengalami KEK (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012)
Penelitian di Sulawesi Barat menyatakan bahwa faktor yang
berhubungan dengan kejadian KEK adalah pengetahuan, pola makan,
makanan pantangan dan status anemia (Rahmaniar dkk, 2013).
Kekurangan energi secara kronis menyebabkan cadangan zat gizi
yang dibutuhkan oleh janin dalam kandungan tidak adekuat sehingga
dapat menyebabkan terjadinya gangguan baik pertumbuhan maupun
perkembangannya. Status KEK ini dapat memprediksi hasil luaran
nantinya, ibu yang mengalami KEK mengakibatkan masalah
kekurangan gizi pada bayi saat masih dalam kandungan sehingga
melahirkan bayi dengan panjang badan pendek (Najahah, 2013).
Selain itu, ibu hamil dengan KEK berisiko melahirkan bayi dengan
berat badan lahir rendah (BBLR). Panjang badan 12 lahir rendah dan
BBLR dapat menyebabkan stunting bila asupan gizi tidak adekuat.
Hubungan antara stunting dan KEK telah diteliti di Yogyakarta
dengan hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa ibu hamil dengan
riwayat KEK saat hamil dapat meningkatkan risiko kejadian stunting
pada anak balita umur 6-24 bulan (Sartono, 2013).
b) Kadar Hemoglobin Anemia pada saat kehamilan merupakan suatu
kondisi terjadinya kekurangan sel darah merah atau hemoglobin (Hb)
pada saat kehamilan. Ada banyak faktor predisposisi dari anemia
tersebut yaitu diet rendah zat besi, vitamin B12, dan asam folat,
adanya penyakit gastrointestinal, serta adanya penyakit kronis
ataupun adanya riwayat dari keluarga sendiri (Moegni dan Ocviyanti,
2013). Ibu hamil dengan anemia sering dijumpai karena pada saat
kehamilan keperluan akan zat makanan bertambah dan terjadi
perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang (Wiknjosastro,
2009). Nilai cut-off anemia ibu hamil adalah bila hasil pemeriksaan
Hb < -3,0 b. Pendek : Z-score < -2,0 s.d Z-score ≥ -3,0 c. Normal : Z-
score ≥ -2,0
D. Dampak stunting
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode
tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan,
gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan
dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya
kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga
mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan,
penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua,
serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya
produktivitas ekonomi (Kemenkes R.I, 2016) Masalah gizi, khususnya anak pendek,
menghambat perkembangan anak muda, dengan dampak negatif yang akan
berlangsung dalam kehidupan selanjutnya. Studi menunjukkan bahwa anak pendek
sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan yang
menurun dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Anak-anak pendek
menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi orang dewasa
yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit
tidak menular.
Oleh karena itu, anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas sumber
daya manusia yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan
produktif suatu bangsa di masa yang akan datang (UNICEF, 2012). Stunting
memiliki konsekuensi ekonomi yang penting untuk laki-laki dan perempuan di
tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat. Bukti yang menunjukkan hubungan
antara perawakan orang dewasa yang lebih pendek dan hasil pasar tenaga kerja
seperti penghasilan yang lebih rendah dan produktivitas yang lebih buruk (Hoddinott
et al, 2013). Anak-anak stunting memiliki gangguan perkembangan perilaku di awal
kehidupan, cenderung untuk mendaftar di sekolah atau mendaftar terlambat,
cenderung untuk mencapai nilai yang lebih rendah, dan memiliki kemampuan
kognitif yang lebih buruk daripada anak-anak yang normal (Hoddinott et al, 2013;
Prendergast dan Humphrey 2014). Efek merusak ini diperparah oleh interaksi yang
gagal terjadi. Anak yang terhambat sering menunjukkan perkembangan keterampilan
motorik yang terlambat seperti merangkak dan berjalan, apatis dan menunjukkan
perilaku eksplorasi kurang, yang semuanya mengurangi interaksi dengan teman dan
lingkungan (Brown dan Pollitt 1996).
[Link] pencegahan stunting
Upaya pencegahan stunting sudah banyak dilakukan di negara-negara
berkembang berkaitan dengan gizi pada anak dan keluarga. Upaya tersebut oleh WHO
(2010) dijabarkan sebagai berikut:
a. Zero Hunger Strategy Stategi yang mengkoordinasikan program dari sebelas
kemeterian yang berfokus pada yang termiskin dari kelompok miskin.
b. Dewan Nasional Pangan dan Keamanan Gizi 20 Memonitor strategi untuk
memperkuat pertanian keluarga, dapur umum dan strategi untuk meningkatkan
makanan sekolah dan promosi kebiasaan makanan sehat.
c. Bolsa Familia Program Menyediakan transfer tunai bersyarat untuk 11 juta
keluarga miskin. Tujuannya adalah untuk memecahkan siklus kemiskinan antar
generasi d. Sitem Surveilans Pangan dan Gizi Pemantauan berkelanjutan dari
status gizi populasi dan yang determinan.
d. Strategi Kesehatan Keluarga Menyediakan perawatan kesehatan yang berkualitas
melalui strategi perawatan primer. Upaya penanggulangan stunting menurut
Lancet pada Asia Pasific Regional Workshop (2010) diantaranya:
a) Edukasi kesadaran ibu tentang ASI Eksklusif (selama 6 bulan)
b) Edukasi tentang MP-ASI yang beragam (umur 6 bulan- 2 tahun)
c) Intervensi mikronutrien melalui fortifikasi dan pemberiam suplemen
d) Iodisasi garam secara umum.
e) Intervensi untuk pengobatan malnutrisi akut yang parah
f) Intervensi tentang kebersihan dan sanitasi Di Indonesia upaya
penanggulangan stunting diungkapkan oleh Bappenas (2011) yang disebut
strategi lima pilar, yang terdiri dari:
Perbaikan gizi masyarakat terutama pada ibu pra hamil, ibu
hamil dan anak.
Penguatan kelembagaan pangan dan gizi.
Peningkatan aksebilitas pangan yang beragam.
Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat
Peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan Kejadian balita stunting dapat
diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan dengan cara melakukan pemenuhan
kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang
cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain
itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (Eksklusif) dan
setelah umur 6 bulan diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan
kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi
berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis seharusnya dapat
dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan balita dilaksanakan secara rutin dan
benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis
untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan
pencegahan.
[Link] Stunting pada Balita
Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan menangani masalah gizi di
masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita masih harus bekerja keras untuk menurunkan
prevalensi balita pendek sebesar 2,9% agar target MD's tahun 2014 tercapai yang berdampak
pada turunnya prevalensi gizi kurang pada balita [Link] keadaan normal, tinggi badan
tumbuh bersamaan dengan. bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif
kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi gangguan
pertumbuhan. tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan
optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan anak usia sekolah sampai remaja relatif kecil
kemungkinannya. Maka peluang besar untuk mencegah stunting dilakukan sedini mungkin,
dengan mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS),
ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita yang dengan tinggi dan berat
badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang telah stunting agar
tidak semakin berat.
Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan
dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu
hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi
(tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI
saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping
ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup
gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita
yang bersifat kronis seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan
balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu
merupakan upaya yang sangatstrategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan
pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting.
Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan dan
penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap sumber air terlindung, serta
pemukiman yang layak. Juga meningkatkan akses keluarga terhadap daya beli pangan dan
biaya berobat bila sakit melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.
Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada pengetahuan dan
kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi keluarganya, sehingga anak berada dalam
keadaan status gizi yang baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan
penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan
dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah
terjadinya balita stunting.
2. Penanggulangan dan pencegahan Stunting pada Bayi Penanggulangan stunting pada
pertumbuhan bayi :
[Link] stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari pertama kehidupan,
yaitu:
Pada ibu hamil
Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi
stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam
keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu
diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat
tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga
agar ibu tidak mengalami sakit.
Pada saat bayi lahir
Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir melakukan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI)
saja (ASI Eksklusif).
Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak
memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar [Link] hidup bersih dan
sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga.
b. Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi
Kebutuhan gizi masa hamil
Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan gizinya dipergunakan untuk
kegiatan rutin dalam proses metabolisme tubuh, aktivitas fisik, serta menjaga keseimbangan
segala proses dalam tubuh. Di samping proses yang rutin juga diperlukan energi dan gizi
tambahan untuk pembentukan jaringan baru, yaitu janin, plasenta, uterus serta kelenjar
mamae. Ibu hamil dianjurkan makan secukupnya saja, bervariasi sehingga kebutuhan akan
aneka macam zat gizi bisa terpenuhi. Makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah
makanan yang mengandung zat pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu juga
perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses pertumbuhan itu.
Kebutuhan Gizi Ibu saat Menyusui
Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih besar dibanding dengan ibu
hamil, akan tetapi kualitasnya tetap sama. Pada ibu menyusui diharapkan mengkonsumsi
makanan yang bergizi dan berenergi tinggi, seperti diisarankan untuk minum susu sapi, yang
bermanfaat untuk mencegah kerusakan gigi serta tulang. Susu untuk memenuhi kebutuhan
kalsium dan flour dalam ASI. Jika kekurangan unsur ini maka terjadi pembongkaran dari
jaringan (deposit) dalam tubuh tadi, akibatnya ibu akan mengalami kerusakan gigi. Kadar air
dalam ASI sekitr 88 gr %. Maka ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum
sebanyak 2-2,5 liter (8-10 gelas) air sehari, di samping bisa juga ditambah dengan minum air
buah.
Kebutuhan Gizi Bayi 0-12 bulan
Pada usia 0-6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu Ibu (ASI), ASI adalah makanan
terbaik bagi bayi mulai dari lahir sampai kurang lebih umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya
dilakukan sesegara mungkin setelah melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi disusui selama
minimal 20 menit pada masing-masing payudara hingga payudara benar-benar kosong.
Apabila hal ini dilakukan tanpa membatasi waktu dan frekuensi menyusui, maka payudara
akan memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan hingga 1,5-2 liter perhari.
Kebutuhan Gizi Anak 1-2 tahun
Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat tetapi perkembangan
motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan cara berjalan
kesana kemari, lompat, lari dan sebagainya. Namun pada usia ini anak juga mulai sering
mengalami gangguan kesehatan dan rentan terhadap penyakit infeks seperti ISPA dan diare
sehingga anak butuh zat gizi tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya optimal.
Pada usia ini ASI tetap diberikan. Pada masa ini berikan juga makanan keluarga secara
bertahap sesuai kemampuan anak. Variasi makanan harus diperhatikan. Makanan yang
diberikan tidak menggunakan penyedap, bumbu yang tajam, zat pengawet dan pewarna. dari
asi karena saat ini hanya asi yang terbaik untuk buah hati anda tanpa efek samping.
[Link] Bergizi Untuk Cegah Stunting
Salah satu cara untuk mencegah stunting adalah dengan mengonsumsi makanan yang
seimbang dan bergizi. Ada banyak jenis makanan yang dapat membantu meningkatkan gizi
dan mencegah stunting, di antaranya adalah ikan, telur, buah, dan sayur.
Ikan Ikan merupakan sumber protein hewani yang baik dan mengandung asam lemak omega-
3 yang penting untuk kesehatan jantung dan fungsi otak. Ikan juga mengandung vitamin dan
mineral seperti vitamin D, vitamin B12, selenium, dan yodium yang penting untuk menjaga
kesehatan tubuh. Konsumsi ikan yang cukup dapat membantu mencegah stunting pada anak,
terutama pada wilayah yang memiliki masalah stunting yang cukup [Link], perlu
diingat bahwa tidak semua jenis ikan aman dikonsumsi, terutama bagi ibu hamil dan anak-
anak. Beberapa jenis ikan dapat mengandung tinggi merkuri dan zat polutan lainnya yang
dapat berbahaya bagi kesehatan. Sebaiknya mengonsumsi ikan yang aman dan sehat seperti
ikan salmon, ikan tuna, ikan sarden, dan ikan [Link] Telur merupakan sumber protein dan
lemak yang baik, serta mengandung vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin D,
vitamin B12, selenium, dan zat besi. Konsumsi telur dapat membantu meningkatkan asupan
nutrisi dan mencegah stunting pada anak. Namun, perlu diingat bahwa konsumsi telur
berlebihan juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Zat Gizi Mikro yang Berperan untuk Menghindari Stunting (Pendek)
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi, pembekuan darah dan
kontraksi otot. Bahan makanan sumber kalsium antara lain: ikan teri kering. belut,
susu, keju, kacang-kacangan.
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon tiroid mengatur
metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Yodium juga penting untuk
mencegah gondok dan kekerdilan. Bahan makanan sumber yodium: ikan laut, udang,
dan kerang
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan luka, fungsi kekebalan dan
pengembangan fungsi reproduksi laki-laki. Bahan makanan sumber zink: hati, kerang,
telur dan kacang-kacangan.
. Zat Besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan otak, dan
metabolisme energi. Sumber zat besi antara lain: hati, telur, ikan, kacang- kacangan,
sayuran hijau dan buah-buahan.
Asam Folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan pertumbuhan sel,
memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia. Sumber asam folat antara lain
bayam, lobak, kacang-kacangan, serealia dan sayur-sayuran.