0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan69 halaman

Program Reward dan Punishment HSE

Program insentif HSE bertujuan meningkatkan partisipasi karyawan dan kesadaran mereka terhadap isu-isu HSE di tempat kerja. Program ini memberikan penghargaan berdasarkan kepatuhan standar HSE, laporan pengamatan bahaya yang bermanfaat, partisipasi program HSE, dan pencapaian jam kerja aman. Pelanggaran aturan dihukumi dengan surat peringatan hingga pemutusan hubungan kerja. Laporan ketidaksesuaian dikeluarkan unt

Diunggah oleh

Fakhrul Rozan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan69 halaman

Program Reward dan Punishment HSE

Program insentif HSE bertujuan meningkatkan partisipasi karyawan dan kesadaran mereka terhadap isu-isu HSE di tempat kerja. Program ini memberikan penghargaan berdasarkan kepatuhan standar HSE, laporan pengamatan bahaya yang bermanfaat, partisipasi program HSE, dan pencapaian jam kerja aman. Pelanggaran aturan dihukumi dengan surat peringatan hingga pemutusan hubungan kerja. Laporan ketidaksesuaian dikeluarkan unt

Diunggah oleh

Fakhrul Rozan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

8.

HSER INCENTIVE PROGRAM


8.1 REWARD HSE
Program reward HSE ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi karyawan dan pekerja akan lebih sadar dengan
isu-isu HSE di lingkungan kerja mereka.
Program penghargaan HSE akan diberikan dengan kriteria berikut:
 Kepatuhan dalam penerapan standar HSE
 Laporan pengamatan bahaya / observasi bahaya yang memenuhi syarat – berfokus pada proses
kerja/perbaikan sistem – memberikan masukan yang bermanfaat untuk perbaikan kerja/proses.
 Partisipasi yang luar biasa dalam program HSE, dari segi kuantitas dan kualitas.
- Kuantitas
Konsistensi dalam partisipasi program HSE seperti toolbox meeting, general safety talk
- Kualitas
Kualitas pelaksanaan HSE program seperti kontribusi dan pastisipasi dalam penyampaian issue HSE di
forum toolbox meeting, kualitas pengisian observasi program
 Pencapaian jumlah jam kerja aman (kelipatan 1.000.000 jam kerja)
Penghargaan/reward terhadap pemenuhan aspek HSE akan diberikan dan diumumkan pada saat agenda HSE
Talk mingguan dan penghargaan yang akan diberikan berupa souvenir / voucher / sertifikat kepada personil atau
tim Subkontraktor yang telah memenuhi syarat penilaian HSE implementasi.
The HSE reward program is expected to increase employee participation and employees will be more aware of HSE
issues in their work environment.
The HSE award program will be awarded with the following criteria:
 Compliance in implementing HSE standards.
 Eligible hazard observation/hazard observation reports – focusing on work processes/system improvements –
providing useful input for work/process improvements.
 Outstanding participation in the HSE program, both in terms of quantity and quality.
- Quantity
Consistency in HSE program participation such as toolbox meetings, general safety talks,
- Quality
The quality of HSE program implementation such as contribution and participation in delivering HSE
issues in forum toolbox meetings,
 Achievement o f the number of safe working hours (multiple of 1,000,000 working hours)
Awards/rewards for fulfilling HSE aspects will be given and announced during the weekly HSE Talk agenda and
awards will be given in the form of souvenirs/vouchers/certificates to personnel or subcontractor teams who have met
the HSE implementation assessment requirements.
Gambar Pemberian Reward HSE kepada Pekerja
Image of Giving HSE Rewards to Employees

8.2 PUNISHMENT HSE


Punishment HSE dirancang untuk membatasi terjadinya pelanggaran keselamatan terus-menerus dan untuk memastikan
bahwa semua karyawan mematuhi peraturan dan persyaratan HSE yang terdapat dalam 10 golden rule company dan
prosedur lainnya yang berlaku di proyek KONTRAKTOR harus membentuk Komite Manajemen Konsekuensi yang
bertanggung jawab untuk memutuskan tindakan disipliner yang akan diambil kepada para pelanggar. Anggota komite
terdiri dari berikut, tetapi tidak terbatas pada:
 Construction Manager
 HSE Manager
 Site Administration Manager
Punishment berupa surat peringatan (SP) HSE akan diberikan kepada setiap staff dan pekerja yang melanggar peraturan
HSE proyek dengan ketentuan sebagai berikut:
 Surat Peringatan 1 (SP 1) untuk pelanggaran yang bersifat non kritikal (tidak berpotensi menyebabkan
kecelakaan kerja dan tidak melanggar ketentuan hukum).
 Surat Peringatan 2 (SP 2) untuk pelanggaran yang berulang sesuai SP 1 yang sudah dirilis sebelumnya dan
pelanggaran yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja.
 Surat Peringatan 3 (SP 3) untuk pelanggaran yang berulang sesuai SP 2 yang sudah dirilis sebelumnya dan
pelanggaran yang melanggar hukum, SP 3 mempunyai konsekuensi pemutusan hubungan kerja.
 Untuk pelanggaran berat terhadap 10 golden rules akan segera diberhentikan dari lokasi kerja
HSE Punishment is designed to limit the occurrence of continuous safety violations and to ensure that all employees
comply with HSE rules and requirements contained in 10 golden rule company and other procedures that apply to the
project.
The CONTRACTOR shall establish a Consequences Management Committee which is responsible for deciding on
disciplinary action to be taken against violators. Committee members consist of the following, but are not limited to:
 Construction Manager
 HSE Manager
 Site Administration Manager
Punishment in the form of an HSE warning letter (SP) will be given to every staff and worker who violates project HSE
regulations with the following conditions:
 Warning Letter 1 (SP 1) for non-critical violations (does not have the potential to cause work accidents and does
not violate legal provisions).
 Warning Letter 2 (SP 2) for repeated violations according to SP 1 which was previously released and
violations that have the potential to cause work accidents.
 Warning Letter 3 (SP 3) for repeated violations according to SP 2 which was previously released and
violations that violate the law, SP 3 has the consequence of termination of employment.
 For serious violations of 10 golden rules will be immediately terminated from the work site.

8.3 PENGENDALIAN NON-CONFORMANCE


Untuk mengontrol ketidaksesuaian dengan persyaratan dan prosedur HSE, KONTRAKTOR akan menerbitkan Non-
Conformance Report (NCR). Ketidaksesuaian berarti tidak terpenuhinya persyaratan yang dapat menyimpang dari standar
kerja, praktik, prosedur, persyaratan hukum, atau persyaratan HSE yang relevan.
Setiap Laporan Ketidaksesuaian (Non-Conformance Report/NCR) harus diterbitkan untuk setiap penyimpangan dan/atau
ketidaksesuaian dari sistem manajemen KONTRAKTOR termasuk penyimpangan dari kebijakan atau standar HSE,
prosedur, aturan, regulasi dan komitmen yang ditetapkan.

To control non-compliance with HSE requirements and procedures, the CONTRACTOR will issue a Non-Conformance
Report (NCR). Non- conformity means non-compliance with requirements that may deviate from relevant work standards,
practices, procedures, legal requirements or HSE requirements.
Each Non-Conformance Report (NCR) must be issued for any deviations and/or non-conformances from the
CONTRACTOR's management system including deviations from established HSE policies or standards, procedures, rules,
regulations and commitments.

9. DOKUMENTASI
9.1 10 GOLDEN RULE
10 Golden Rules didefinisikan untuk menetapkan aturan mutlak yang tidak dapat dilanggar karena menyebabkan
cedera serius atau kerugian bagi KONTRAKTOR dan PERUSAHAAN.
Fatality Prevention ini menjadi tanggung jawab yang harus dipahami untuk semua karyawan KONTRAKTOR dan
subkontraktor yang melakukan pekerjaan di lokasi kerja Proyek @@@@@@. Pelanggaran terhadap 10 Golden
Rules akan dikenakan punishment HSE dan peringatan kepada personil yang melanggar.
10 golden rule is defined to set absolute rules that cannot be violated for causing serious injury or loss to
CONTRACTOR and COMPANY.
This Fatality Prevention is a responsibility that must be understood for all CONTRACTOR and subcontractor
employees who carry out work at the @@@@@@@ Project work site. Violation of 10 Fatality Prevention will be
subject to HSE punishment and warning to personnel who violate it.

MASUKAN KEBIJAKAN GOLDEN RULES

9.2 PROJECT HSE CRITICAL ACTIVITIES REQUIREMENTS


9.2.1 Site Access
Semua karyawan Kontraktor yang memasuki area proyek di lokasi kerja PT PP Presisi Tbk harus mendapatkan
pelatihan Safety Induction sebelum memasuki area proyek. Untuk pekerja baru dilakukan pemeriksaan medis
MCU dan kelengkapan administrasi personil dengan Perwakilan HSE Kontraktor.
Setelah pemberian pelatihan induction dan verifikasi dokumen personil, Company akan menerbitkan ID Badge/
Mine Permit.
Ketika personel didemobilisasi dari proyek, semua ID Badge/ Mine Permit harus
dikembalikan ke personel gerbang keamanan, atau Departemen HSE. Sebelum pengunjung tiba di lokasi, tuan
rumah bertanggung jawab untuk memberi tahu pengunjung tentang persyaratan APD minimum untuk
memasuki area situs yang relevan dengan kunjungan mereka. Semua karyawan Kontraktor harus memastikan
semua personelnya menghadiri induksi keselamatan yang disetujui.

Masukan Flow Proses

Flow chart ID badge / Mine Permit process

All Contractor employees entering the project area at the PT PP Presisi Tbk work site must receive Safety
Induction training before entering the project area. For new workers, an MCU medical examination and complete
personnel administration are carried out with the Contractor's HSER Representative.
After giving induction training and verification of personnel documents, the Contractor will issue an ID Badge.
When personnel are demobilized from the project, all ID Badges must be returned to the security gate personnel,
or HSE Department.
Before visitors arrive at the site, it is the host's responsibility to inform visitors of the minimum PPE requirements
for entering the area of the site that is relevant to their visit.
All Contractor employees must ensure all personnel attend approved safety inductions.

9.2.2 Drug and Alcohol Management


Tambahkan Kebijakan

KONTRAKTOR memastikan bahwa Kebijakan Obat dan Alkohol berlaku untuk semua karyawan, subkontraktor,
atau pengunjung di lokasi operasional. Kontraktor berpedoman pada prinsip "zero tolerance" untuk
penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.
Konsumsi alkohol selama jam kerja dilarang sepenuhnya untuk semua aktifitas kerja yang dikendalikan oleh
Kontraktor. Semua karyawan diingatkan bahwa mereka dapat dikenai random check dan screening untuk
penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan penyalahgunaan alkohol sewaktu-waktu selama mereka bekerja di
area kerja Kontraktor. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi minuman beralkohol akan
mendapatkan sanksi tegas.
Pemeriksaan awal dilakukan pada saat medical check up pre-employment dan pemeriksaan acak harian akan
dilakukan setiap hari oleh Site Paramedis untuk memastikan kondisi kesehatan pekerja dengan beberapa
kondisi sebagai berikut :
 Pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang melakukan aktivitas berisiko tinggi.
 Random check untuk pekerja di area kerja
Tes Narkoba dan Alkohol akan dilakukan secara acak. Namun, driver , operator dan karyawan dengan aktivitas
berisiko tinggi akan diprioritaskan untuk mengikuti tes.
Program ini dirancang untuk meminimalkan potensi seseorang melakukan pekerjaan di bawah pengaruh obat-
obatan dan/atau alkohol dan memastikan karyawan dan Kontraktor sadar akan bahaya melakukan pekerjaan
tersebut
CONTRACTOR ensures that the Drug and Alcohol Policy applies to all employees, subcontractors or visitors to
operational sites. The contractor is guided by the principle of "zero tolerance" for the abuse of drugs and alcohol.
Consumption of alcohol during working hours is strictly prohibited for all work activities controlled by the
Contractor. All employees are reminded that they may be subject to random checks and screening for drug
abuse and alcohol abuse at any time while they are working in the Contractor's work area. Abuse of illegal drugs
and consumption of alcoholic beverages will receive strict sanctions.
The initial examination is carried out during the pre-employment medical check-up and daily random checks will
be carried out every day by the Paramedic Site to ensure the health condition of workers with the following
conditions:
 Health checks for workers who carry out high-risk activities.
 Random check for workers in the work area
Drug and Alcohol tests will be conducted randomly. However, drivers, operators and employees with high-risk
activities will be prioritized to take the test.
This program is designed to minimize the potential for a person to perform work under the influence of drugs
and/or alcohol and to ensure that employees and Contractors are aware of the dangers of doing such work.
9.2.3 Night Work
Kontraktor harus memastikan bahwa penerangan yang disediakan cukup untuk pekerjaan malam. Kabel dan
perangat penerangan harus dipasang dan dirawat dengan konsisten dengan perkabelan listrik yang baik dan
tidak berada di jalur akses untuk menghindari kabel rusak terlindas kendaraan dan alat berat.
Kontraktor harus memastikan bahwa semua titik gerbang, jalur dan titik berkumpul diberi penerangan dan diberi
tanda dengan jelas. Akses tangga dan area jalan keluar harus diberikan penerangan yang jelas. Kontraktor
memastikan bahwa pencahayaan area kerja ditempatkan dengan jarak yang sesuai untuk menghindari silau
dan dipastikan penerangan yang memadai untuk seluruh area kerja.
Kontraktor memastikan bahwa penerangan sementara terdiri dari soket lampu non-konduktif dan sambungannya
didesign secara permanen ke insulasi konduktor. Bola lampu yang dipasang pada kabel ekstensi dan tali lampu
harus dilindungi oleh pelindung lampu.
Kontraktor memastikan tidak ada seorang pun yang diizinkan bekerja sendirian di malam hari.
Persyaratan HSE direkomendasikan sebelum mulai bekerja selama aktivitas malam hari.
Seperti bahaya kesehatan dan keselamatan lainnya, semakin besar paparan shift kerja dan jam kerja yang
diperpanjang, semakin besar kemungkinan risiko bahaya. Risiko bekerja dengan shift malam yang Panjang dan
terus menerus dapat berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan dan keselamatan kerja. Untuk itu ada
beberapa mitigasi yang perlu diperhatikan antara lain namun tidak terbatas pada:
 Rencanakan beban kerja yang sesuai dan bervariasi.
 Tawarkan pilihan shift permanen atau rotasi dan cobalah untuk menghindari shift malam permanen.
 Batasi shift hingga 12 jam termasuk lembur.
 Dorong pekerja untuk beristirahat secara teratur dan berikan beberapa pilihan kapan mereka akan
diambil.
 Pertimbangkan kebutuhan pekerja yang rentan, seperti pekerja muda atau lanjut usia.
 Pertimbangkan untuk menyediakan minuman hangat & makanan dan zona makan yang tepat.
 Kondisi cuaca akan menjadi pertimbangan untuk menyediakan pakaian tambahan agar tubuh tetap
hangat.
 Pastikan suhu dan pencahayaan sesuai dan sebaiknya disesuaikan.
 Informasi tentang risiko kerja malam hari dan memastikan pelaksanaan toolbox meeting dan
briefing.
 Supervisor dan manajemen dapat mengenali potensi resiko dan masalah.
 Pertimbangkan untuk meningkatkan pengawasan selama periode kewaspadaan rendah.
 Melakukan pengawasan kesehatan untuk pekerja malam hari.
 Penilaian pencahayaan (Pengukuran lux) akan selesai
Menurut Peraturan no.5/2018 Pastikan tempat kerja dan sekitarnya baik-baik saja, aman dan terjamin

The Contractor shall ensure that sufficient lighting is provided for night work. Cables and lighting devices must be
installed and maintained consistently with good electrical wiring and not on access points to prevent the cables
from being crushed by vehicles and heavy equipment.
The Contractor shall ensure that all gate points, pathways and assembly points are clearly lit and marked.
Stairway access and egress areas must be clearly lit.
The Contractor ensures that work area lighting is spaced properly to avoid glare and ensures adequate lighting of
the entire work area.
The Contractor ensures that the temporary lighting consists of non- conductive light sockets and their
connection is designed to be permanently attached to the insulation of the conductors. Light bulbs attached to
extension cords and light strings must be protected by a lamp guard.
The contractor made sure that no one was allowed to work alone at night.
HSE requirements are recommended before commencing work during night activities.
As with other health and safety hazards, the greater the exposure to shift work and extended working hours, the
greater the potential risk of harm. The risk of working long and continuous night shifts can potentially cause health
and safety problems. For this reason, there are several mitigations that need to be considered, including but not
limited to:
 Plan appropriate and varied workloads.
 Offer a choice of permanent or rotational shifts and try to avoid permanent night shifts.
 Limit shifts to 12 hours including overtime.
 Encourage workers to take regular breaks and provide options for when they will be taken.
 Consider the needs of vulnerable workers, such as young or elderly workers.
 Consider providing warm drinks & food and appropriate eating zones.
 Weather conditions will be taken into consideration to provide additional clothing to keep the body
warm.
 Make sure the temperature and lighting are suitable and preferably adjusted.
 Information about the risks of working at night and ensuring the implementation of toolbox meetings and
briefings.
 Supervisors and management can identify potential risks and problems.
 Consider increasing surveillance during periods of low alertness.
 Conduct health surveillance for night workers.
 Lighting assessment (Measurement of lux) will be completed according to Regulation no.5/2018 Make
sure the workplace and surroundings are okay, safe and secure.

9.2.4 Fatigue Management


Kontraktor harus menyediakan waktu istirahat yang cukup bagi karyawan. Direkomendasikan bahwa waktu
istirahat antar shift setidaknya 10 jam. Jika seorang karyawan diharuskan bekerja lebih lama dari alokasi normal,
Pemeriksaan kesehatan harus diberikan pada waktu karyawan akan mulai untuk shift berikutnya.
 Jika karyawan diharuskan bekerja dalam shift yang diperpanjang, (yaitu: lebih dari 12 jam), Perlu
dipertimbangkan untuk:
- Maksimal lembur di area kerja adalah 15 (lima belas jam) dalam satu hari.
- Setidaknya setiap 10 jam istirahat harus diberikan dengan mempertimbangkan waktu perjalanan,
makan, bersosialisasi, bersantai dan tidur.
- Istirahat yang cukup harus diberikan selama shift kerja.
 Jika seorang karyawan diharuskan untuk mengubah shift dari shift siang ke shift malam, dan sebaliknya,
mereka harus diberikan waktu istirahat 24 jam penuh sebelum memulai shift baru.
 Semua karyawan tidak boleh bekerja lebih dari tiga belas (13) hari berturut-turut tanpa istirahat sehari.
 Untuk secara efektif mengelola potensi fatigue yang disebabkan oleh pekerjaan panggilan,
pertimbangan harus diberikan kepada:
- Jumlah personil yang akan ijin atau selesai lembur dapat mengajukan personil back up untuk
penggantian di hari berikutnya sehingga personil yang akan ijin atau selesai lembur dapat waktu
cukup istirahat
- Membatasi jumlah periode 24 jam berturut-turut
- Menyediakan lebih dari satu orang untuk pekerjaan panggilan sehingga setiap pekerja mempunyai
waktu yang cukup untuk beristirahat.
- Rencanakan transportasi untuk pekerja dengan menggunakan bis atau kendaraan mobil.
The contractor must provide adequate rest time for employees. It is recommended that the rest time between
shifts be at least 10 hours. If an employee is required to work longer hours than the normal allotment, a health
check must be given at the time the employee is about to start for the next shift.
 If employees are required to work in extended shifts, (ie: more than 12 hours), Consideration should be
given to:
- Maximum overtime in the work area is 15 (fifteen hours) in one day.
- At least every 10 hours a break must be provided taking into account travel, eating, socializing,
relaxing and sleeping time.
- Adequate rest should be provided during work shifts.
 If an employee is required to change shifts from the day shift to the night shift, and vice versa, they must
be given a full 24-hour break before starting a new shift.
 All employees may not work more than thirteen (13) consecutive days without a day's rest.
 To effectively manage the potential for fatigue caused by the job on call, consideration should be given
to:
- The number of personnel who will permit or finish overtime can apply for back-up personnel for
replacement the next day so that personnel who will permit or finish overtime can have sufficient rest
time.
- Limit the number of consecutive 24-hour periods.
- Provide more than one person for call work so that each worker has sufficient time to rest.
- Plan transportation for workers by bus or car. Installing fatigue Management indicator in each Heavy
Vehicle, and Light Vehicle.
 Routine patrol by medical team during the day using sound system and give safety announcement
about fatige, especially during break time.
 Early morning call by supervisor/superintendent

9.2.5 Heat Stress Management


Persyaratan minimum harus diidentifikasi serta tindakan pengendalian untuk meminimalkan terjadinya Heat Stres,
mengidentifikasi gejala yang terkait dengan Heat Stres dan tindakan yang harus diambil jika Heat Stres telah
diidentifikasi, tidak terbatas pada:
 Kontraktor harus memastikan bahwa pasokan air, yang cukup untuk minum, penyediaan cangkir /kaca
sekali pakai atau tempat air pribadi (tumbler) untuk minum, bersama dengan tempat istirahat yang teduh,
disediakan di sekitar area kerja. disediakan akses yang mudah untuk mendapatkan air dan tempat
instirahat untuk mencegah Heat Stres.
 Semua karyawan yang terpapar atau berpotensi terkena Heat Stres akan menerima pelatihan
mengenai cedera dan tindakan pencegahan terkait Heat Stres.
 Kontraktor harus memastikan bahwa semua karyawan memahami gejala awal Heat Stres.

Minimum requirements must be identified as well as control measures to minimize the occurrence of Heat Stress,
identifying symptoms associated with Heat Stress and actions to be taken if Heat Stress has been identified,
including but not limited to:
 The contractor must ensure that an adequate supply of drinking water, provide worker with disposable
cup /glass or personal water container (tumbler) for drink, together with shaded rest areas, is provided
around the work area. provided easy access to water and rest area to prevent Heat Stress.
 All employees who are exposed or potentially exposed to Heat Stress will receive training on injuries
and precautions related to Heat Stress.
 The contractor must ensure that all employees understand the early signs of heat stress.
9.2.6 Lone or Isolated Work
Kontraktor akan memastikan karyawan dan subkontraktor yang melakukan pekerjaan secara sendirian tetap
diawasi oleh personil pengawas dan dapat menghubungi layanan darurat jika terjadi kedaruratan.

The contractor will ensure that employees and subcontractors carrying out work alone are kept under supervision
by supervisory personnel and able to contact emergency services in the event of an emergency.
9.2.7 Drilling Work
Persyaratan berikut untuk memandu apa yang harus dilakukan sebelum memulai tugas:
 Membatasi dan memberi sinyal pada lokasi survei untuk membatasi akses ke orang yang tidak
berwenang untuk mendekat, bila memungkinkan, membatasi dan memberi sinyal "jalur aman"
 Pastikan peralatan pelindung individu dan kolektif tersedia dan sesuai untuk digunakan, termasuk
namun tidak terbatas pada kacamata dengan filter pelindung, sun blocker, seragam reflektif untuk
membuat karyawan lebih terlihat, dan jas hujan
 Pastikan tidak ada orang yang tidak berkepentingan berada di dalam area peralatan survei (periksa
area kerja).
 Periksa apakah tempat kerja dalam keadaan baik, rapi dan bersih, bebas dari tumbuh-tumbuhan dan
lumpur atau apapun yang mempersulit pelaksanaan kegiatan.
 Lakukan studi pendahuluan tentang kemungkinan gangguan bawah tanah, jika memungkinkan dilakukan
tes georadar.
 Periksa apakah semua sumber daya seperti mesin, peralatan, dan bahan disimpan, dipesan, dan ditandai
dengan benar.
 Periksa bahwa jalur, rute pelarian, peralatan pemadam kebakaran, dan fasilitas darurat lainnya ditandai
dengan benar dan tidak terhalang.
 Dalam kegiatan jarak jauh, sarana komunikasi yang aman harus ditetapkan (telepon radio atau satelit)
 Pastikan tempat kerja hanya berisi alat, suku cadang dan material yang akan digunakan untuk melakukan
kegiatan pengeboran.
 Periksa apakah perangkat pemblokiran diberi sinyal dan dalam kondisi kerja yang sempurna.
 Periksa apakah pencahayaan dipasang dengan benar mengikuti langkah-langkah keamanan untuk
operasi yang dioperasikan secara elektrik.
 Pastikan bahwa pengeboran, penggalian, atau kegiatan lain yang melibatkan gangguan, pemindahan
secara mekanis atau manual dari penutup tanah, perkerasan atau lantai di dekat atau di bawah pengaruh
saluran, pipa, galeri, terowongan atau jaringan energi bawah tanah diadopsi minimal, sebagai berikut
kriteria:
- Evaluasi rinci proyek eksekutif dan/atau konstruksi dengan spesifikasi gangguan (menggunakan
georadar).
- Jika berlaku dan perlu, mintalah gambar "as built" untuk menemukan gangguan bawah tanah.
- Pelaksanaan survei manual (bila ada).
 Jika berlaku, pelepasan resmi dari area di mana pengeboran, penggalian, atau layanan gangguan
lainnya akan dilakukan harus diminta.
 Simpan semua dokumen yang diperlukan di depan pekerjaan, seperti: ART, PTS dan daftar periksa
peralatan, bukti pelatihan (lencana/paspor, dll.) dan lain-lain yang relevan dengan jenis kegiatan ini.
 Pasang bak penampung di sebelah peralatan pengeboran yang digerakkan oleh mesin diesel, yang
komponennya digunakan dengan minyak pelumas dan gemuk, yang rentan bocor selama
pengoperasiannya, untuk mengurangi kemungkinan dampak.

The following requirements to guide what to do before starting a task:


 Limiting and signaling the survey site to limit access to unauthorized persons approaching, where
possible, limiting and signaling "safe passage”.
 Ensure individual and collective protective equipment is available and suitable for use, including but not
limited to goggles with protective filters, sun blockers, reflective uniforms to make employees more visible,
and raincoats.
 Make sure no unauthorized persons are in the survey equipment area (check work area).
 Check whether the workplace is in good condition, neat and clean, free from vegetation and mud or
anything that complicates the implementation of activities.
 Conduct a preliminary study of possible underground disturbances, if possible georadar tests.
 Check that all resources such as machinery, equipment and materials are properly stored, ordered and
marked.
 Check that pathways, escape routes, firefighting equipment and other emergency facilities are properly
marked and unobstructed.
 In remote activities, a secure means of communication should be established (radio or satellite telephone)
 Make sure the workplace contains only tools, spare parts and materials that will be used to carry out
drilling activities.
 Check that the blocking device is signaled and in perfect working condition.
 Check that the lighting is properly installed following the safety measures for electrically operated
operations.
 Ensure that drilling, excavation or other activities involving disturbance, mechanical or manual removal of
ground cover, pavement or floor near or under the influence of conduits, pipes, galleries, tunnels or
underground energy networks are adopted as a minimum, as a minimum, as follows:
- Detailed evaluation of executive and/or construction projects with disturbance specifications (using
georadar).
- If applicable and necessary, request "as built" drawings to locate underground disturbances.
- Manual survey implementation (if any).
 If applicable, a legal release from the area where drilling, quarrying or other disturbance services will be
performed must be requested.
 Keep all documents required up front of work, such as: household member, PTS and equipment checklist,
proof of training (badge/passport, etc.) etc. relevant to this type of activity.
 Install a catchment body next to a drilling rig driven by a diesel engine, whose components are used
with lubricating oil and grease, which are prone to leaks during operation, to reduce the possibility of
impact.

9.2.8 Safe Work Permit


Kontraktor akan menggunakan sistem Izin Kerja untuk setiap kegiatan yang dianggap Berisiko Tinggi di lapangan
hijau untuk mematuhi Peraturan Pemerintah Indonesia No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja UU No. 1 Tahun 1970, yang menyebutkan untuk menetapkan
Izin Kerja untuk kegiatan Berisiko Tinggi.
Tujuan Sistem Perizinan harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada memastikan :
o Sistem kerja yang aman dan semua tindakan pencegahan yang diperlukan tersedia dan diterapkan.
o Otorisasi yang tepat diperoleh untuk semua pekerjaan yang akan dilakukan.
o Bahan yang membahayakan personel dan/atau lingkungan diisolasi.
o Potensi bahaya diidentifikasi dan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk meminimalkan risiko
diterapkan.
The Contractor will use the Work Permit system for any activity deemed High Risk in green fields to comply with
Indonesian Government Regulation no. 50 of 2012 concerning the Implementation of the Occupational Health
and Safety Management System Law no. 1 of 1970, which states to determine work permits for high-risk
activities. The following are categories of Contractor permits to work:
The objectives of the Licensing System must include, but are not limited to ensuring:
 Safe work systems and all necessary precautions are in place and implemented.
 Proper authorization is obtained for all work to be performed.
 Materials that are hazardous to personnel and/or the environment are isolated.
 Potential hazards are identified and necessary precautions to minimize risks are implemented.

9.2.9 Excavations & Trenches


Semua operasi penggalian harus dilakukan dengan memperhatikan:
o Sebelum memulai penggalian, pengawas harus diberi tahu tentang pekerjaan yang diusulkan untuk
menentukan lokasi semua instalasi bawah tanah, saluran pembuangan, telepon, air, listrik, dan gas.
Bahaya overhead harus diperhatikan dan ditangani secara langsung.
o Prosedur izin kerja diperoleh dalam kondisi tertentu.
o Pengawas dan personil HSE harus memeriksa penggalian dan parit setelah hujan dan ketika kondisi
tanah berubah.
o Jika ada genangan air di area penggalian dan dapat membahayakan pekerja, maka pompa
air dipasang dan dioperasikan oleh orang yang berkompeten.
o Jika stabilitas bangunan atau dinding terancam longsor oleh akibat penggalian atau parit, maka
penggalian diberikan proteksi untuk mengamankan pekerjaan.
o Perlindungan harus disediakan dengan menempatkan pagar setidaknya 1 meter dari tepi galian, atau
dengan mensterilkan tepi galian dari material untuk mencegah material atau peralatan terjatuh atau
terguling ke dalam area penggalian.
o Akses berupa tangga dengan handrail harus disediakan sebagai akses untuk naik dan turun area galian.
o Penghalang fisik (Handrail atau hard barrief) menggunakan pengaman pita tidak diperbolehkan
o Safe work method statement harus ajukan bersama dengan gambar lengkap, pemeriksaan stabilitas
tanah, validasi dengan Survei geo-teknis
o Jika area dibiarkan tidak dijaga, lereng pemeriksaan stabilitas harus dilakukan oleh yang berkompeten
personel sebelum melanjutkan aktivitas.

All excavation operations must be carried out with due regard for:

 Prior to commencing excavation, inspectors should be informed of the proposed work to locate all
underground, sewer, telephone, water, electricity and gas installations. Overhead hazards must be noticed
and dealt with directly.
 Procedures for obtaining work permits under certain conditions.
 Supervisors and HSE personnel should inspect excavations and trenches after rain and when soil
conditions change.
 If there is stagnant water in the excavation area and it can endanger workers, then the water pump is
installed and operated by a competent person.
 If the stability of a building or wall is threatened with landslides as a result of digging or ditches, then the
excavation is given protection to secure the work.
 Protection should be provided by placing fences at least 1 meter from the edge of the excavation, or by
clearing the excavation edge of material to prevent material or equipment from falling or rolling over into
the excavation area.
 Access in the form of stairs with handrails must be provided as access to go up and down the
excavation area.
 Physical barrier (handrail or any hard barrier) using safety tape is not allowed.
 A safe work method statement will submit along with complete drawing, ground stability check, cross
validation with Geo-technical survey.
 If area is left unguarded, a slope stability check shall be done by
 qualified personnel before resume the activit.

9.2.10 Pencegahan jatuh / Fall Prevention


 Setiap pekerjaan di ketinggian wajib memiliki ijin kerja aman termasuk rencana penyelamatan darurat dan
job safety analysis
 Perangkat pelindung jatuh harus terpasang setiap aktivitas yang memiliki potensi terjatuh dari ketinggian
 Bekerja 1,8m wajib menggunakan safety full body harness lengkap dengan double lanyard.
 Peredam kejut akan diminta untuk dipasang pada harnes seluruh tubuh dengan mempertimbangkan
potensi jarak jatuh (dengan faktor keamanan 3 kaki). Di bawah ini ilustrasi gambar untuk perhitungan jarak
jatuh potensial.
 Pekerja yang bekerja di atas 10 m harus diperiksa oleh paramedis site untuk memastikan kebugaran
pekerja (tekanan darah, roomberg tes & lain-lain) sebelum memulai pekerjaan.
 Bekerja di ketinggian tidak akan diizinkan tanpa pengawasan dari orang yang berwenang.
 Bila diperlukan izin untuk bekerja harus dikeluarkan di bawah otorisasi Manajer Konstruksi.
 Verifikasi penyelesaian pekerjaan akan dilakukan oleh Tim HSE.

 Every work at height must have a safe work permit including an emergency rescue plan and work safety
analysis.
 Fall protection devices must be fitted for any activity that has the potential to fall from a height.
 Working 1.8m must use a safety full body harness complete with a double lanyard.
 Shock absorbers will be required to be fitted to the full body harness taking into account the potential
fall distance (with a safety factor of 3 feet). Below is an illustration of the image for calculating the potential
fall distance.
 Workers who work above 10 m must be checked by the site paramedic to ensure worker fitness
(blood pressure, roomberg test & others) before starting work.
 Work at height will not be permitted without supervision from an authorized person.
 If a permit is required to work, it must be issued under the authorization of the Construction Manager.
 Verification of work completion will be carried out by the Project HSE Team

9.2.11 Perancah / Scaffolding


o Pemasangan, modifikasi, dan pembongkaran perancah harus dilakukan oleh orang yang berkompeten
(seperti biasa, dalam tim setidaknya satu orang sebagai Perancah bersertifikat) dan diperiksa oleh
Inspektur Perancah bersertifikat (Sertifikat DEPNAKER)
o Karyawan tidak boleh mengakses perancah yang belum diperiksa dan diberi tag dengan benar.
o Minimal, spesifikasi untuk pipa baja ketebalan 3,2 mm
o Platform kerja harus dilengkapi dengan pagar pembatas standar, rel tengah, dan papan kaki.
o Drop bar harus dipasang di semua dek/platform perancah.
o Detail spesifikasi pipa scaffolding dan material harus mengikuti Construction Execution Plan (CEP) dan
engineering scaffolding design yang sudah dihitung oleh tim engineering.
o Penggunaan perancah frame untuk bekerja di platform ketinggian sangat dilarang.
o Pergerakan material, perkakas, peralatan, dll ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah akan
dipengaruhi oleh peralatan hand line atau hoist.
o Sisi terbuka dan ujung platform 6 kaki (1,8 meter) atau lebih di atasnya akan dijaga oleh railing atas,
railing tengah, dan papan kaki dengan pagar atas 42 inci (1,1 meter) di atas tingkat platform.
o Perancah harus didirikan tegak lurus dan di atas pondasi yang kokoh. Batu bata lepas, kotak, balok
beton, kayu bekas, dll. tidak boleh digunakan untuk meratakan atau menopang perancah atau papan.
o Semua perancah harus memiliki label inspeksi yang ditempatkan di titik akses/keluar oleh scaffolding
inspector.
o Karyawan, material, dan peralatan tidak boleh menaiki perancah bergerak.
o Jika menggunakan Mobile Elevated Work Platforms (MEWP), alat ini harus dioperasikan oleh orang yang
berkompeten.
o Lakukan pemeriksaan harian (P2H) sebelum mengoperasikan alat
o Pastikan alat sudah memiliki tagging pass pemeriksaan berkala (quarterly basis).

o Installation, modification and dismantling of scaffolding must be carried out by a competent person (as
usual, in a team of at least one person as a certified scaffold) and inspected by a certified scaffold
inspector (DEPNAKER certificate).

o Employees must not access scaffolding that has not been properly inspected and tagged.

o As a minimum, specifications for 3.2 mm thickness

o Work platforms must be provided with standard guardrails, center rails and footboards.

o Drop bars must be installed on all scaffolding decks/platforms.


o Detailed specifications for scaffolding pipes and materials must follow the Construction Execution Plan
(CEP) and engineering scaffolding design that has been calculated by the engineering team.
o The use of frame scaffolding for working on elevated platforms is strictly prohibited.
o The movement of materials, tools, equipment, etc. to a higher or lower level will be affected by hand line
equipment or hoists.
o Open sides and end platforms 6 feet (1.8 meters) or more above will be guarded by top railings, center
railings and toe boards with top railing 42 inches (1.1 meters) above the platform level.
o Scaffolding must be erected perpendicularly and on a solid foundation. Loose bricks, boxes,
concrete blocks, scrap wood, etc. shall not be used to level or support scaffolding or boards.
o All scaffolding must have an inspection label placed at the access/exit point by the scaffolding
inspector.
o Employees, materials and equipment are not allowed to climb on moving scaffolding.
o If using Mobile Elevated Work Platforms (MEWP), they must be operated by a qualified person.
o Perform daily checks (P2H) before operating the tool.
o Make sure the tool already has a periodic inspection tagging pass (quarterly basis).

9.2.12 Terpeleset, terjatuh / slip and fall


Kontraktor dan Subkontraktor harus menerapkan beberapa prosedur keselamatan untuk meminimalkan risiko
terpeleset, tersandung dan jatuh dengan cara:
 Housekeeping harus dijaga dengan baik untuk membatasi atau mencegah terjadinya terpeleset,
tersandung dan jatuh.
 Saat bekerja di ketinggian, personel harus berhati-hati untuk bergerak dan memanjat dengan aman,
dengan mempertimbangkan permukaan yang licin seperti anak tangga.
 Pencahayaan yang memadai harus disediakan untuk area yang berpotensi tergelincir, tersandung dan
jatuh.
 Bahaya/halangan yang dapat menyebabkan terpeleset, tersandung dan jatuh harus diidentifikasi dan
ditandai dengan jelas.
 Untuk menjaga kondisi permukaan non-slip dan menggunakan alat permukaan non-slip.
 Mempraktikkan manajemen kabel yang baik untuk meminimalkan potensi terpeleset, tersandung, dan
jatuh.
 Platform kerja di area yang ditinggikan harus dilengkapi dengan pegangan, seperti platform perancah,
tangga, platform rak pipa.
 Alas kaki anti slip harus disediakan untuk semua pekerja
 Kontraktor dan Subkontraktor.

Contractors and Subcontractors must implement several safety procedures to minimize the risk of
slipping, tripping and falling by:
• Housekeeping must be maintained properly to limit or prevent slips, trips and falls.
• When working at heights, care must be taken to move and climb safely, taking into account slippery
surfaces such as steps.
• Adequate lighting should be provided for areas where there is a potential for slipping, tripping and falling.
• Hazards/obstacles that can cause slips, trips and falls must be clearly identified and marked.
• To maintain non-slip surface conditions and use non-slip surface tools.
• Practice good cable management to minimize the potential for slips, trips and falls.
• Work platforms in elevated areas must be equipped with handrails, such as scaffolding platforms, ladders,
pipe rack platforms.
• Anti-slip footwear must be provided for all Contractor and Subcontractor workers.

9.2.13 Drop object.


Cara paling efektif untuk menghilangkan/meminimalkan potensi paparan terhadap personel dari alat, bahan,
dan/atau puing yang jatuh adalah dengan tidak pernah mengizinkan karyawan bekerja dan berjalan di bawah
area yang terdapat pekerjaan di ketinggian.
o Untuk mengamankan area bawah yang diatasnya terdapat pekerjaan ketinggian dengan memasang
barikade.
o Alat, perlengkapan, bahan, dll., akan disimpan dan diatur dengan tertib dan tata graha yang baik.
o Mengontrol/membatasi jumlah material yang dibawa ke area kerja di ketinggian.
o Minimalkan membawa atau menyerahkan material dari orang ke orang dengan tangan.
o Gunakan, keranjang, wadah, dll. untuk mengangkat alat dan bahan.
o Ikat pipa scaffolding menjadi satu, dipasang dengan minimal dua choker/sling dan akan dijaga agar tetap
horizontal.
o Material harus diamankan dengan baik untuk mencegah pengaruh angin.
o Perancah dan platform kerja harus dilengkapi papan kaki di tepiannya.
o Peralatan dan perlengkapan akan disimpan dalam wadah/kotak yang sesuai untuk mencegah benda
jatuh.
o Pekerjaan Panas tidak akan dilakukan di atas tanpa dilindungi dengan fire blangket untuk mencegah
potensi ampas/leburan besi panas, percikan api, atau logam cair jatuh kebawah
o Alat, bahan, tidak akan pernah ditempatkan atau disimpan pada balok, pipa, katup kecuali jika
diamankan
o Tool cover yang tepat harus digunakan saat bekerja di ketinggian.

The most effective way to eliminate/minimize potential exposure to personnel from falling tools, materials and/or
debris is to never allow employees to work and walk under areas where there is work at height.
 to secure the lower area above which there is elevation work by installing barricades.
 Tools, equipment, materials, etc., will be stored and managed in an orderly manner and with good
housekeeping.
 Controlling/limiting the amount of material brought into the work area at height.
 Minimize hand-to-hand carrying or handing of materials.
 Use, baskets, containers, etc. for lifting tools and materials.
 Tie scaffolding pipes together, installed with a minimum of two chokers/slings and will be kept
horizontal.
 Materials must be properly secured to prevent the influence of wind.
 Scaffolding and work platforms must be provided with footboards at the edges.
 Tools and equipment will be stored in suitable containers/boxes to prevent objects from falling.
 Hot work will not be carried out above without being protected by a fire blanket to prevent potential hot
iron dregs/melting, sparks, or molten metal falling down.
 Tools, materials, will never be placed or stored on beams, pipes, valves unless they are secured.
 Appropriate cover tools must be used when working at height

9.2.14 Heavy mobile equipment


Semua alat berat bergerak yang digunakan di tempat kerja harus laik jalan dan terdaftar pada otoritas yang
berwenang,:
All mobile heavy equipment used in the workplace must be roadworthy and registered with the competent
authority.
 Alat Berat tidak boleh lebih dari 10 tahun.
 Semua kendaraan dan alat berat harus memasang alarm mundur.
 Kontraktor harus memastikan bahwa semua pengemudi kendaraan dan operator alat berat
dalam keadaan sehat untuk bekerja dan harus memiliki surat izin mengemudi dan/atau operasi yang
masih berlaku yang dikeluarkan oleh Pemerintah atau instansi yang berwenang.
 Semua alat berat dan kendaraan bergerak harus selalu dalam kondisi operasi yang aman. Mereka
harus diperiksa pada awal setiap shift. Semua alat berat bergerak dan kendaraan harus dilengkapi
dengan alat pemadam api, alat P3K, sabuk pengaman dan penahan api/percikan.
 Jumlah penumpang kendaraan atau perlengkapannya harus mengikuti ketersediaan sabuk
pengaman dan dilarang memanfaatkan tempat tidur truk dan/atau kendaraan untuk penumpang.
 Pemeriksaan terhadap semua alat berat dan kendaraan bergerak akan dilakukan secara berkala. Stiker
Inspeksi akan ditempelkan pada alat berat dan kendaraan setelah lulus Inspeksi. Dengan stiker ini,
peralatan dan/atau kendaraan diizinkan untuk digunakan di area Proyek.
 Semua alat berat dan kendaraan yang akan digunakan di Proyek akan dikelola sesuai prosedur
 Semua alat berat harus di periksa sebelum digunakan

 Heavy Equipment must not be more than 10 years old.


 All vehicles and heavy equipment must install a reverse alarm.
 The contractor must ensure that all vehicle drivers and heavy equipment operators are fit to work and
must have valid driving and/or operating licenses issued by the Government or an authorized agency.
 All heavy equipment and moving vehicles must always be in a safe operating condition. They must be
checked at the start of each shift. All mobile heavy equipment and vehicles must be equipped with a fire
extinguisher, first aid kit, safety belt and fire/spark arrestor.
 The number of passengers in a vehicle or its equipment must follow the availability of seat belts and
are prohibited from using truck beds and/or vehicles for passengers.
 Regular inspection of all heavy equipment and moving vehicles will be carried out. Inspection Sticker will
be affixed to the heavy equipment and vehicles after passing the Inspection. With this sticker, equipment
and/or vehicles are permitted to be used in the Project area.
 All heavy equipment and vehicles to be used in the Project will be managed according to procedures
 All heavy equipment must be checked before used.

9.2.15 Persyaratan crane dan liftting gear / Crane requirements and lifting gear

 Persyaratan crane
Kontraktor akan memastikan bahwa semua crane yang digunakan untuk proyek ini baik yang disediakan
oleh Subkontraktor dan/atau langsung oleh Kontraktor harus memiliki sertifikat yang sah dari DEPNAKER.
Semua crane harus memenuhi standar Kontraktor dan hanya dapat digunakan setelah mendapat
persetujuan dari Kontraktor.
 Persyaratan lifting gear.
Semua alat pengangkat akan diperiksa oleh inspektur berkualifikasi dari Kontraktor.
Lifting gear akan diperiksa secara berkala oleh HSE Inspector dan mengikuti sistem pemeriksaan kode
warna.
 Rencana pengangkatan
Sebelum melakukan aktivitas pengangkatan apa pun, Tim Engineer akan menyiapkan rencana
pengangkatan (Lifting Plan) dan metode serta menyerahkannya kepada Koordinator HSE Kontraktor dan
Construction Manager untuk ditinjau. Pernyataan rencana dan metode pengangkatan akan dilampirkan di
permit to work. Rencana pengangkatan ini akan disampaikan paling lambat dua hari sebelum pelaksanaan
pekerjaan.
 Lifting Plan dan Izin Kerja khusus harus dibuat untuk semua kegiatan terutama untuk kondisi berikut:
- Ketika pengangkatan dengan beban 80% dari SWL crane.
- Bentuk tidak beraturan misalnya beton, plat, pipa, batang, dll.
- Bahan berharga (lihat biaya tingkat risiko tinggi)
- Bahan berbahaya
- Cuaca (kecepatan angin maksimum 20 knot)
- Ketika pengangkatan yang melintasi area plan proses eksisting.
- Untuk pengangkatan dengan menggunakan crane diatas 80 ton
- Ketika operator crane tidak memiliki pengalaman untuk mengangkat beban tertentu
- Untuk pengangkatan yang kompleks, JSA harus dianalisis secara menyeluruh (misalnya crane
Crawler melakukan pengangkatan tandem bergerak dengan beban)
- Karena adanya bahaya kerja malam hari, kegiatan ini mungkin diperbolehkan untuk dilakukan
dengan tindakan pengendalian yang ketat hasil dari penilaian risiko tertentu.

 Kualifikasi operator crane


Semua operator crane dan rigger harus memenuhi persyaratan standar Kontraktor dan wajib memiliki
SIO/Surat Ijin Operator (Surat Ijin Operator) yang masih berlaku dari DEPNAKER yang harus diverifikasi
oleh Kontraktor atas keaslian SIO DEPNAKER.
 Chain block & lever block
- Chain block dan Lever Block harus memiliki sertifikat uji yang valid.
- Pemeriksaan pre-use untuk Chain block dan Lever block harus dilakukan setiap hari oleh rigger.
- Chain block tidak boleh digunakan untuk menarik, menarik atau menahan beban.
- Chain block dan Lever block harus diperiksa setiap tiga bulan dan mengubah kode warna inspeksi.
- Dilarang menggunakan chain block yang di reject atau tidak lolos inspkesi.
 Crane requirements
The Contractor will ensure that all cranes used for this project either provided by the Subcontractor and/or
directly by the Contractor must have a valid certificate from the DEPNAKER. All cranes must meet
Contractor standards and can only be used after obtaining approval from the Contractor.
 Requirements for lifting gear
All lifting equipment will be inspected by the Contractor's qualified inspector.
Lifting gear will be checked regularly by the HSE Inspector and follow a color coded inspection system.
 Appointment plan
Prior to carrying out any lifting activity, the Engineer Team will prepare a Lifting Plan and methods and
submit them to the Contractor's HSE Coordinator and Construction Manager for review. Statement of plan
and method of lifting will be attached to the permit to work. This appointment plan will be submitted no later
than two days before the implementation of the work.
Special Lifting Plans and Work Permits must be made for all activities, especially for the following conditions:
- When lifting with a load of 80% of the crane's SWL
- Irregular shapes [Link], slab, pipe, bar, etc.
- Valuable materials (see cost of high-risk level)
- Hazardous materials
- Weather (maximum wind speed of 20 knots)
- When lifting crosses the existing process plan area.
- For lifting using a crane above 80 tons
- When the crane operator does not have the experience to lift a particular load
- For complex lifts the JSA should be thoroughly analyzed ([Link] cranes perform tandem lifts
moving with the load)
- Due to the hazards of night work, this activity may be allowed to be carried out with strict control
measures resulting from a certain risk assessment.
 Qualifications of crane operators
 All crane and rigger operators must meet the standard requirements of the Contractor and must have a valid
SIO/Operator Permit (Operator License) from DEPNAKER which must be verified by the Contractor for the
authenticity of the SIO DEPNAKER.
 Chain blocks & lever blocks
- Chain block and Lever Block must have a valid test certificate.
- Pre-use checks for Chain blocks and Lever blocks must be carried out every day by the rigger.
- Chain blocks must not be used for towing, pulling or holding loads.
- Chain block and Lever block should be inspected every three months and change the inspection color
code.
- It is forbidden to use chain blocks that are rejected or do not pass inspection.
9.2.16 Manajemen lalu lintas / Traffic management
Untuk mengontrol lalu lintas di proyek, contractor akan membuat rencana manajemen lalu lintas untuk mencegah
terjadinya kecelakaan lalu lintas di tempat kerja. Dalam penyusunan rencana manajemen lalu lintas ini kontraktor
akan melakukan Analisa dan determinasi beberapa item sebagai berikut:
 Penilaian awal resiko kondisi akses lalu lintas di area proyek Penilaian resiko awal lalu lintas ini
dilaksanakan untuk mengetahui resiko-resiko lalu lintas di area proyek. Contractor akan
mengumpulkan data-data resiko hasil dari risk assessment yang kemudian akan dilakukan
pengkajian untuk menentukan pengendalian resiko lalu lintas yang tepat.
 Pengkajian elemen-elemen berikut :
- Melakukan analisa terhadap kepadatan lalu lintas dan jenis-jenis kendaraan dan peralatan mobile
yang akan melewati jalan proyek
- Melakukan analisa kondisi lingkungan lalu lintas yang akan dilewati seperti: medan, lereng, bank dan
sistem drainase.
- Menentukan standard jalan yang akan dibangun dan digunakan
- Pemeriksaan jalan harus dilaksanakan secara berkala untuk memastikan kondisi jalan dalam
keadaan baik untuk digunakan serta memastikan program pemeliharaan jalan agar dilakukan secara
berkala
 Pengemudi semua kendaraan harus memiliki surat izin mengemudi dari POLRI dan SIMPER
Perusahaan.
 Semua muatan harus diamankan dengan baik, semua penumpang harus memasang sabuk
pengaman sebelum bergerak.
 Untuk pengangkutan material atau peralatan yang terlalu besar harus dikawal oleh petugas keamanan.
 Pekerja tidak diperbolehkan untuk menumpang di belakang pick up, tetapi dilarang juga untuk membawa
pekerja dan material secara bersama-sama.
 Melakukan pemeriksaan fisik setiap hari mengenai kelayakan jalan kendaraan mereka sebelum
digunakan.
 Tidak mengemudi saat sakit atau minum obat apa pun yang dapat memengaruhi penilaian mengemudi.
 Mengenakan sepatu keselamatan dan helm safety saat keluar dari kendaraan/peralatan mereka di area
konstruksi lokasi.
 Memastikan tidak ada kebocoran oli dari kendaraan/peralatan yang masuk ke site project yang dapat
mencemari tanah dan akibatnya sistem air tanah.
 Untuk parkir hanya di tempat parkir yang ditentukan.
 Untuk melaporkan semua kecelakaan dan insiden

To control traffic on the project, the contractor will develop a traffic management plan to prevent traffic accidents
from occurring in the workplace. In preparing the traffic management plan, the post office will carry out an
analysis and determine the following items:
 Initial risk assessment of traffic access conditions in the project area
This initial traffic risk assessment was carried out to determine the traffic risks in the project area. The
contractor will collect risk data resulting from a risk assessment which will then be reviewed to determine
the appropriate traffic risk control.
 Assessment of the following elements:
- Analyze traffic density and the types of vehicles and mobile equipment that will pass through the
project road.
- Analyze the environmental conditions of the traffic that will be traversed such as: terrain, slopes, banks
and drainage systems.
- Define standard roads to be built and used.
- Road inspections must be carried out periodically to ensure that the road conditions are in good
condition for use and to ensure that the maintenance of the road program is carried out periodically.
 All driving on mining roads must comply with posted traffic signs.
All Light Vehicles, Equipment, Buses, Trailers must pass inspection by the Contractor.
 Drivers of all vehicles must have a driver's license from POLRI and Company SIMPER.
 All loads must be properly secured, all passengers must fasten their seat belts before moving.
 For the transportation of material or equipment that is too large, it must be escorted by a security officer.
 Workers are not allowed to ride behind the pickup, but it is also prohibited to carry workers and materials
together.
 Carry out daily physical checks regarding the roadworthiness of their vehicles prior to use.
 Not driving when sick or taking any medication that could affect driving judgment.
 Wear safety shoes and safety helmet when exiting their vehicle/equipment in the construction site area.
 Ensure that there are no oil leaks from vehicles/equipment that enter the project site which can
contaminate the soil and consequently the groundwater system.
 To park only in designated parking lots.
 To report all accidents and incidents.

9.2.17 Compressed gas cylinders


Penggunaan compressed gas cylinders akan mengikuti standar Kementerian Tenaga Kerja (Peraturan Menteri
Tenaga Kerja No. 37 Tahun 2016 tentang Bejana Tekan dan Tangki timbun) dalam hal: cara penyimpanan, cara
penanganan, cara pengangkutan dan penggunaan. Compressed gas cylinders disimpan menggunakan rak dan
diikat menggunakan rantai.
 Kontraktor harus memastikan bahwa semua tabung gas diberi label untuk menunjukkan isi tabung.
• Silinder Flammable gas dan oksigen harus dilengkapi dengan flashback arrestor di sisi torch dan
regulator
• Kontraktor harus menyusun jadwal inspeksi tabung gas.
• Semua silinder terkompresi harus dijauhkan dari minyak, gemuk, atau hidrokarbon lainnya.
• Silinder harus diperiksa untuk kebocoran dan/atau cacat sebelum digunakan.
• Silinder tidak boleh terkena percikan api, terak, nyala api, atau sumber panas lainnya.
• Silinder harus diamankan dalam posisi tegak selama penggunaan dan penyimpanan. Mereka harus
diamankan menggunakan Rantai, (jangan pernah menggunakan pita atau tali barikade).
• Tutup pelindung harus dipasang di atas batang katup saat silinder disimpan atau saat tidak digunakan.
• Silinder tidak boleh dibawa ke ruang terbatas.
• Ketika silinder tidak digunakan, tabung oksigen dan bahan bakar gas harus disimpan secara terpisah.
• Kontraktor menyediakan kereta silinder (portabel rak) dengan roda dan mudah untuk diangkut.
• Persyaratan untuk flash back arresstor dan Tidak kembali (periksa) katup harus dibuat di sesuai dengan
MHS12.
Area penyimpanan untuk silinder harus ditandai dengan tanda yang menyatakan “Oksigen Penuh atau Kosong,”
Asetilen Penuh atau Kosong, dll.

The use of compressed gas cylinders will follow the standards of the Ministry of Manpower (Ministry of Manpower
Regulation No. 37 of 2016 concerning Pressure Vessels and Storage Tanks) in terms of: how to store, how to
handle, how to transport and use. Compressed gas cylinders are stored using racks and tied using chains.
 The contractor must ensure that all gas cylinders are labeled to indicate the contents of the cylinders.
 Flammable gas and oxygen cylinders must be equipped with a flashback arrestor on the side of the torch
and regulator.
 The contractor must prepare a gas cylinder inspection schedule.
 All compressed cylinders must be kept away from oil, grease or other hydrocarbons.
 Cylinders should be checked for leaks and/or defects before use.
 Cylinders must not be exposed to sparks, slag, flames, or other sources of heat.
 Cylinders must be secured in an upright position during use and storage. They must be secured using
Chains, (never use tape or rope barricades).
 A protective cap must be fitted over the valve stem when the cylinder is stored or not in use.
 Cylinders must not be brought into confined spaces.
 When cylinders are not in use, cylinders of oxygen and fuel gas must be stored separately.
 Contractor provides cylindrical carts (portable racks) with wheels and easy to transport.
 Requirements for flash back arrestors and No return (check) valves to be made in accordance with MHS12.

The storage area for cylinders must be marked with a sign stating, “Full or Empty Oxygen,” Full or Empty
Acetylene, etc.

9.2.18 Confined space


Pada ruang kerja yang terbatas atau sedikitnya ventilasi seperti asap kebakaran atau gas, kontaminasi racun,
atau oksigen (sedikit udara yang bisa masuk). Tujuan untuk prosedur ini untuk menghindari terjadinya kecelakaan
dan cedera setiap personil yang bekerja pada ruang terbatas. Masuknya pekerja kedalam ruang terbatas harus
disesuaikan dengan izinnya, yang akan dilakukan pencatatan pada jalan masuk.
Sebelum karyawan diijinkan memasuki ruang terbatas tersebut, atmosfir dalam ruang di tes untuk mengukur
tingkat oksigen dan konsentrasi dari kebakaran, perubahan tekanan, gas, zat beracun, sebagai berikut:
 Oksigen tidak kurang dari 19,5% atau banyak air.
 Kemungkinan kebakaran/ perubahan tekanan atau gas tidak lebih dari 2%.
 Tidak boleh ada kandungan zat beracun seperti H2S, H2SO4, Cyanide, dan lain-lain.
 Setiap kondisi atmosfir yang berbahaya untuk hidup dan kesehatan.
Jika pekerjaan panas dilakukan di ruang terbatas, persyaratan HSER pada kondisi didalam dan peralatan
yang digunakan harus sesuai dengan “Prosedur ijin kerja aman”, ketika karyawan memasuki ruang pembatas
berisi mudah terbakar atau zat beracun, harus dilengkapi tali penyelamat. Manajeman KONTRAKTOR dan
subkontraktor harus bertanggung jawab untuk menjamin prosedur ruang terbatas dilaksanakan sesuai dengan
prosedur dan peraturan HSER PERUSAHAAN.
Kontraktor agar melakukan identifikasi daftar peralatan atau pekerja daerah mana yang potensial bekerja di
ruang terbatas. Identifikasi area tersebut diberikan identitas khusus.
Penilaian risiko harus di lakukan untuk pekerjaan di ruang pekerjaan khusus.
List peralatan pendukung untuk pekerjaan di ruang tebatas adalah sebagai berikut :
- Gass tester
- Blower
- Lighting
Setiap tenaga kerja yang akan bekerja di ruang terbatas harus sudah mengikuti training bekerja di ruang
terbatas.
Persyaratan APD dan peralatan keselamatan untuk bekerja di dalam confined space yang harus disiapkan
adalah:
 Peralatan life support dengan sumber listrik (battere) cadangan yang secara otomatis dapat digunakan
apabila ada kegagalan tenaga.
 Persedian tabung udara diatur sedemikian rupa sehingga dalam keadaan bebas dan disediakan untuk
penyediaan udara primer dan sekunder.
 Alat bantu pernafasan untuk emergency (kapasitas 10 menit).
 Alat monitor kandungan oksigen, LEL dan temperatur untuk memantau kondisi dalam ruang terbatas.
 Temperatur gauge untuk mengecek temperatur agar dapat memantau kondisi dalam ruang terbatas.
 Alat komunikasi yang berfungsi dengan baik, sehingga antara petugas yang stand by, pekerja yang
bekerja di dalam confined space dan operator life support equipment berfungsi dengan baik pada saat
pekerjaan di dalam stack. Alat komunikasi dengan pekerja yang di dalam stack bekerja otomatis tidak
harus menekan tombol bicara. Peralatan komunikasi yang digunakan harus terintegrasi dengan peralatan
pasokan udara, peralatan tersebut harus mempunyai explosion proof .
 Penerangan yang digunakan di dalam ruang terbatas harus termasuk kategori explosion proof dan tidak
melebihi dari 50 V.
 Full body harness
 Perlengkapan mekanik seperti winch yang mampu mencegah pekerja dari bahaya jatuh dan dapat
digunakan untuk evakuasi dalam keadaan darurat
 Daerah terbatas/restricted sekitar manway yang terbuka wajib dilengkapi dengan alat monitor O2 di
udara atmosfer secara kontinyu.
 Tabung oksigen resusitasi untuk pertolongan pernafasan buatan di sekitar area disediakan oleh
Pertamina beserta petugas yang memiliki kompetensi dalam melakukan pertolongan pernafasan buatan
(CPR).
Waktu bekerja yang aman di dalam area terbatas tergantung pada tingginya temperatur yang terpapar. Tabel di
bawah ini digunakan untuk menunjukan lamanya waktu kerja bagi pekerja yang bekerja dalam kondisi confined
space:

Suhu atmosfer tempat Waktu bekerja maksimum di dalam


dilakukan vessel
150 C - 200 C 120 menit (max)
200 C - 250 C 60 menit
250 C - 300 C 45 menit
300 C - 350 C 30 menit
350 C - 400 C 15 menit
Lebih dari 400 C Tidak bekerja

Bekerja di dalam ruang kerja terbatas harus dilengkapi dengan Ijin kerja aman

In a workspace with limited or little ventilation such as fire or gas fumes, toxic contamination, or oxygen (little air
can enter). The aim of this procedure is to avoid accidents and injuries to any personnel working in confined
spaces. The entry of workers into confined spaces must be in accordance with their permits, which will be
recorded on the entrance. Before employees are allowed to enter the confined space, the atmosphere in the
room is tested to measure oxygen levels and concentrations of fire, pressure changes, gases, toxic substances,
as follows:
 Oxygen not less than 19.5% or lots of water
 The possibility of fire/change in pressure or gas is not more than 2%
 Must not contain toxic substances such as H2S, H2SO4, Cyanide, and others.
 Any atmospheric condition hazardous to life and health
If hot work is carried out in a confined space, the HSER requirements on the conditions inside and the equipment
used must comply with the "Hazardous Work Permit Procedure", when an employee enters the confined space
containing flammable or toxic substances, a lifeline must be equipped. CONTRACTOR management and
subcontractors shall be responsible for ensuring that confined space procedures are carried out in accordance
with COMPANY HSER procedures and regulations.
Contractors to identify a list of equipment or area workers who have the potential to work in confined spaces.
Identification of the area is given a special identity.
A risk assessment should be carried out for work in the designated workspace.
The list of supporting equipment for work in confined spaces is as follows:
- Gas tester
- Blowers
- Lighting
Every workforce that will work in confined spaces must have attended training to work in confined spaces.
Requirements for PPE and safety equipment for working in a confined space that must be prepared are:
 Life support equipment with a backup power source (battery)
 which can automatically be used if there is a power failure.
 The supply of air cylinders is arranged in such a way that they are free and provided for primary and
secondary air supply.
 Breathing apparatus for emergency (10 minutes capacity).
 Tool for monitoring oxygen content, LEL and temperature to monitor conditions in confined spaces.
 Temperature gauge to check temperature in order to monitor conditions in confined spaces.
 Well-functioning communication tools, so that the staff on standby, workers working in confined spaces
and operators of life support equipment function properly when working in a stack. Communication tools
with workers in the stack work automatically without having to press the talk button. The communication
equipment used must be integrated with the air supply equipment, the equipment must have explosion
proof.
 Lighting used in confined spaces must be categorized as explosion proof and not exceed 50 V.
 Full body harnesses.
 Mechanical equipment such as a winch that is capable of preventing workers from falling and can be
used for evacuation in an emergency.
 Restricted areas around open manways must be equipped with continuous O2 monitoring devices in
atmospheric air.
 Resuscitation oxygen cylinders for artificial respiration around the area are provided by Pertamina and
officers who are competent in performing artificial respiration (CPR).
Safe working time in a confined area depends on the high temperature to which it is exposed. The table below is
used to show the length of time worked for workers working in confined space conditions:

Working in a confined space must be equipped with a safel work permit.

9.2.19 Pencegahan dan perlindungan kebakaran / Fire prevention and protection


Semua kebakaran yang tidak disengaja pada properti Kontraktor, sekecil apa pun, harus segera dilaporkan
kepada Koordinator HSE. Laporan resmi harus mencakup semua rincian ringkasan yang diketahui atau masuk
akal karena laporan tambahan mungkin diperlukan oleh lembaga pemerintah.
Pencegahan kebakaran sangat penting. Tata graha yang baik dan pemeliharaan peralatan harus diikuti untuk
meminimalkan bahaya kebakaran.
Kontraktor dan Subkontraktor harus menyediakan detektor gas jika bekerja di area berbahaya, detektor gas yang
digunakan akan dikalibrasi setiap tahun.
Kontraktor akan melakukan Pelatihan Proteksi Kebakaran kepada karyawan. Penyimpanan dan penggunaan
cairan yang mudah terbakar dan mudah terbakar akan sesuai dengan NFPA 30.
Semua proteksi kebakaran harus dikumpulkan di area yang ditentukan yang diidentifikasi dengan jelas dengan
penandaan yang sesuai. Peralatan ini harus ditempatkan di dekat kemungkinan bahaya kebakaran, tetapi juga
harus dapat diakses oleh personel yang mengoperasikan. Jumlah jenis dan letak APAR harus memenuhi
standar yang berlaku.

All accidental fires on the Contractor's property, however small, must be reported immediately to the HSE
Coordinator. The official report should include all known or reasonable summary details as additional reports may
be required by government agencies.
Fire prevention is very important. Good housekeeping and equipment maintenance should be followed to
minimize fire hazard.
Contractors and Subcontractors must provide a gas detector if working in a hazardous area, the gas detector
used will be calibrated annually. Contractor will conduct Fire Protection Training to employees. Storage and use
of flammable and flammable liquids will comply with NFPA 30. All fire protection must be collected in
designated areas which are clearly identified with appropriate markings. This equipment must be located
near potential fire hazards but must also be accessible to operating personnel. The number of types and
locations o f fire extinguishers must comply with applicable standards.
9.2.20 Penyimpanan & penanganan bahan yang mudah terbakar / meledak / Storage & handling of flammable /
explosive materials
Berikut ini adalah persyaratan untuk penyimpanan bahan yang mudah terbakar / meledak:
• Karena penguapan (pembentukan uap) meningkat ketika suhu dinaikkan atau ketika cairan ini lebih
banyak terpapar ke udara, sangat penting untuk menyimpannya di tempat yang relatif dingin dan dalam
wadah tertutup. Wadah terbuka tidak boleh digunakan untuk menyimpan bahan yang mudah terbakar
dan mudah meledak.
• Penyimpanan di tempat terbuka - dalam kondisi lapangan drum harus ditempatkan sedemikian rupa
sehingga tidak terkena sinar matahari langsung, atau sumber panas lainnya.
• Area penyimpanan harus memiliki tanda peringatan yang ditampilkan dengan jelas yang menunjukkan
bahwa bahan yang mudah terbakar dan mudah meledak disimpan di sana dan tidak diperbolehkan
merokok dan lampu wajib explosion proof lamp.
• Parit atau tanggul yang dangkal harus dibangun di sekitar area penyimpanan untuk mencegah
tumpahan atau penyebaran uap ke area tanah yang lebih rendah di mana mereka dapat menghubungi
sumber api dan menyebabkan kebakaran.
• Area penyimpanan harus setidaknya 50 kaki dari sumber api (misalnya api terbuka, area bengkel di
mana alat gerinda, atau peralatan pemotong api digunakan).
• Penyimpanan di dalam ruangan - idealnya, penyimpanan bahan yang mudah terbakar dan mudah
meledak harus berada di gedung terisolasi yang terpisah. Jika ini tidak memungkinkan, mereka harus
disimpan di ruangan khusus dengan dinding, pintu, langit-langit, dan lantai tahan api.
• Penyimpanan di dalam ruangan harus dilindungi dengan sistem proteksi kebakaran otomatis
(penyiram, busa, dan karbon dioksida).
• Selama cairan yang mudah terbakar dipindahkan dari satu wadah ke wadah lain, ada kemungkinan
timbulnya listrik statis yang merupakan sumber penyalaan yang berbahaya. Untuk mencegah
penumpukan listrik statis, persyaratan berikut diperlukan selama penanganan cairan yang mudah
terbakar :
• Penyimpanan cairan yang mudah terbakar harus dilengkapi dengan fasilitas pentanahan (pembumian).
Hal ini untuk meminimalkan potensi penumpukan listrik statis selama transfer cairan yang mudah
terbakar.
• Fasilitas grounding untuk penyimpanan harus diuji secara berkala untuk memastikan masih berfungsi
dengan baik.
• Kacamata pengaman, sarung tangan pelindung dan seragam lengan panjang harus dipakai jika ada
kemungkinan kontak dengan kulit. Cairan harus dicuci dari kulit dengan sabun non-abrasif atau
pembersih tangan. Disarankan untuk menyediakan fasilitas pancuran keselamatan dan/atau pasokan air
yang layak di dekat area penyimpanan.
• Cairan harus digunakan hanya di area yang berventilasi baik untuk menghindari menghirup uap dan
asap. Jika ventilasi tidak memungkinkan (misalnya di ruang terbatas), respirator yang disetujui harus
dipakai.
• Jika ada personel yang tersiram cairan berbahaya atau terbakar, mereka harus segera dibawa ke
sumber air mengalir dan area yang terciprat harus disiram dengan air setidaknya selama 15 menit.
Pakaian yang terkontaminasi harus dilepas, dan perhatian medis segera dicari.
The following are requirements for the storage of flammable/explosive materials:
• Because evaporation (formation of vapour) increases when the temperature is increased or when
more exposure to air this liquid occurs, it is very important to store it in a relatively cool place and in a
closed container. Open containers should not be used to store flammable and explosive materials.
• Storage in open areas - in field conditions drums should be placed so that they are not exposed to direct
sunlight, or other sources of heat.
• The storage area must have a clearly displayed warning sign indicating that flammable and explosive
materials are stored there, and no smoking is permitted and an explosion proof lamp shall be mandatory.
• Shallow ditches or dikes should be constructed around storage areas to prevent spillage or spread of
vapors to lower ground areas where they can contact fire sources and start fires.
• Storage areas should be at least 50 feet from sources of ignition (eg open flames, workshop areas where
grinding tools or flame cutting equipment are used).
• Indoor storage - ideally, storage of flammable and explosive materials should be in a separate isolated
building. If this is not possible, they should be stored in special rooms with fire-resistant walls, doors,
ceilings and floors.
• Indoor storage must be protected by an automatic fire protection system (sprinkler, foam and carbon
dioxide).

During the transfer of flammable liquids from one container to another, there is a possibility of static electricity
being generated which is a dangerous source of ignition. To prevent the build-up of static electricity, the
following requirements are required during the handling of flammable liquids:
• Storage of flammable liquids must be equipped with earthing facilities. This is to minimize the potential
for static build-up during the transfer of flammable liquids.
• Grounding facilities for storage must be tested periodically to ensure they are still functioning properly.
• Safety glasses, protective gloves and long sleeve uniform should be worn if there is any possibility of
skin contact. Liquid should be washed off the skin with non-abrasive soap or hand sanitizer. It is
recommended to provide safety shower facilities and/or an adequate water supply near storage areas.
• Liquids should be used only in well-ventilated areas to avoid inhalation of vapors and fumes. If
ventilation is not possible ([Link] a confined space), an approved respirator must be worn.
If any personnel are splashed with hazardous liquid or caught fire, they must be taken immediately to a
source of running water and the splashed area must be doused with water for at least 15 minutes.
Contaminated clothing should be removed, and immediate medical attention sought.

9.2.21 Pengelasan, pemotongan & penggerindaan / Welding, Cutting, Grinding.


Pemotongan Las dan Gerinda atau pekerjaan penghasil nyala api atau percikan api lainnya adalah kegiatan yang
termasuk dalam pekerjaan panas. Semua aktivitas kerja panas harus dilakukan dengan izin kerja panas dan
analisis keselamatan kerja.
Area kerja panas harus aman dari gas yang mudah terbakar atau meledak. Uji gas harus dilakukan sebelum
pekerjaan dan terus dipantau sampai pekerjaan selesai.
Area dalam jarak 10-11 meter dari pekerjaan panas harus bebas dari bahan yang mudah terbakar seperti kayu
kering, sampah, bahan bakar, dan bahan kimia.
Semua personel yang melakukan pemotongan, pengelasan, dan penggilingan, termasuk tukang las, tukang, dan
pembantu harus dilatih.

Welding cutting and grinding or work that generates flames or other sparks are activities that are included in hot
work. All hot work activities must be carried out with a hot work permit and job safety analysis.
Hot work areas must be safe from flammable or explosive gases. Gas test must be carried out prior to work and
continue to be monitored until the work is completed.
Areas within 10-11 meters of hot work shall be free of flammable materials such as dry wood, trash, fuel and
chemicals.
All personnel performing cutting, welding and milling, including welders, fitters and helpers must be trained

9.2.22 Pemadam kebakaran / Fire fighting


• Alat pemadam kebakaran harus diperiksa setiap bulan oleh HSE.
• Segel dan Pin harus terpasang dan tidak rusak.
• Pengukur Tekanan menampilkan indicator hijau.
• Selang pada APAR tidak kering busuk atau retak.
• Periksa bodi alat pemadam bebas dari cacat dan korosi.
• Pengawas kerja dan pemantau kebakaran bertanggung jawab untuk menjaga kondisi dan persyaratan
yang tercantum pada izin Hot Work.
• Pengawas kerja dan Fire watcher harus Menghentikan pekerjaan jika melihat kondisi berbahaya.
• Fire watcher tidak memiliki tugas lain. Jangan meninggalkan lokasi kerja saat pengelasan atau operasi yang
menghasilkan percikan api sedang berlangsung. Jika tugas lain diperlukan untuk meninggalkan tempat
kerja, dia harus terlebih dahulu menghentikan pekerjaan.
• Petugas pemadam kebakaran harus dilengkapi dengan rompi berpendar, dan alat pemadam kebakaran.
Jika alat pemadam api telah habis, kembalikan ke ruang alat untuk diganti.
• Fire watcher harus terus-menerus mensurvei area kerja untuk mencari bahan yang mudah terbakar.
• Lebih dari satu fire watcher mungkin diperlukan tergantung pada potensi dampak pada area lain, seperti
area di bawah aktivitas kerja panas jika ada.
• Jika terjadi kebakaran yang tidak dapat dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran dengan cepat dan
aman, maka pemberitahuan darurat dan evakuasi harus diaktifkan.
• Seorang Fire Watcher harus tetap berada di area selama 30 menit setelah Pekerjaan Panas selesai. Ia
harus memastikan tidak ada potensi kebakaran yang bisa terjadi pada dirinya

• Fire extinguishers must be inspected monthly by HSE.


• Seals and pins must be installed and not damaged.
• Pressure gauge displays a green indicator.
• The hose on the APAR is not dry, rotten or cracked.
• Check the extinguisher body is free from defects and corrosion.
• Work supervisors and fire monitors are responsible for maintaining the conditions and requirements listed
on the Hot Work Permit.
• Work supervisors and fire watchers must stop work if they see dangerous conditions.
• Fire watcher has no other duties. Do not leave the work area while welding or spark-generating operations
are in progress. If other tasks are required to leave the workplace, he must first stop work.
• Firefighters must be equipped with fluorescent vests, and fire extinguishers. If the fire extinguisher has run
out, return it to the tool room for replacement.
• Fire watchers must constantly survey the work area for flammable materials.
• More than one fire watcher may be required depending on the potential impact on other areas, such as
areas under hot work activity if any.
• If a fire occurs which cannot be extinguished by firefighters quickly and safely, emergency and evacuation
alerts must be activated.
• A Fire Watcher must remain in the area for 30 minutes after the Hot
• Work is complete. He had to make sure there was no potential fire that could happen to him.

9.2.23 Penanganan kimia berbahaya


Kontraktor akan memastikan bahwa semua zat yang diklasifikasikan sebagai berbahaya bagi kesehatan, yang
diangkut, digunakan, atau dibuat selama kegiatan, dikendalikan untuk meminimalkan risiko terhadap kesehatan
dan lingkungan.
• Daftar Bahan Kimia dan Bahan Berbahaya yang akan digunakan harus tersedia termasuk Safety Data
Sheet (SDS).
• APD yang diperlukan sebagaimana disebutkan dalam SDS harus digunakan selama penanganan dengan
bahan kimia.
• Perlengkapan dan peralatan yang diperlukan sebagaimana disebutkan dalam SDS untuk mengendalikan
pelepasan bahan kimia berbahaya yang tidak disengaja harus disediakan.
• Kontraktor tidak boleh membawa Asbes atau bahan yang mengandung Asbes ke Lapangan.
• Sebelum memulai tugas di mana bahan berbahaya akan digunakan, risiko, tindakan pencegahan yang
harus diambil dantindakan yang harus diambil jika terjadi tumpahan (jika ada) atau cedera akan
dijelaskan selama Rapat Pra-Kerja. (PJSM).
• Disarankan untuk menggunakan lebih sedikit zat berbahaya untuk meminimalkan risiko terhadap
kesehatan dan lingkungan.
• Hanya personel terlatih yang boleh menangani bahan berbahaya dengan menggunakan tindakan
pencegahan yang harus diambil, seperti yang diinstruksikan dalam SDS.
• Wadah bekas bahan berbahaya/kimia akan dibuang sebagai limbah B3.
• Bahan kimia berbahaya akan dibuang sesuai petunjuk yang tersedia di SDS. Jangan membuang sampah
sembarangan, atau membuang wadah kimia bekas/kosong atau menggunakannya untuk tujuan
penyimpanan atau penanganan lain karena dapat membahayakan kehidupan dan lingkungan.
• Kontraktor harus menyediakan tempat cuci mata, pancuran dan kotak P3K yang memadai dengan obat-
obatan di lokasi penyimpanan dan penanganan bahan kimia berbahaya, jika dianggap perlu. Juga, untuk
memastikan bahwa itu dipelihara dengan baik dan diperiksa secara teratur.
• Karyawan harus diberi informasi sehubungan dengan bekerja dengan zat berbahaya dan penggunaan
serta pemeliharaan APD yang berlaku. Setidaknya ini harus diberikan sebagai bagian dari Pelatihan safety
induction.

Penyimpanan Bahan/Bahan Berbahaya harus memperhatikan persyaratan sebagai berikut :


• Semua wadah bahan kimia harus diberi label.
• Kontraktor harus memastikan bahwa lemari/ruang penyimpanan yang memadai tersedia untuk
pemisahan dan penyimpanan yang tepat dari berbagai jenis zat/bahan kimia berbahaya.
• Bahan kimia yang tidak cocok harus disimpan secara terpisah.
• Area penyimpanan bahan berbahaya harus diidentifikasi dengan tanda yang benar, yang menunjukkan isi
area penyimpanan dan tanda 'Dilarang Merokok'.
• Perlengkapan tumpahan harus disediakan di tempat penyimpanan atau penggunaan zat berbahaya.
• Area penyimpanan zat berbahaya akan berventilasi baik dan dijaga dengan cara yang higienis.
• Alat pemadam api portabel dan pancuran keselamatan yang sesuai harus disediakan di fasilitas
penyimpanan dan karyawan akan dilatih untuk menggunakannya secara efektif jika terjadi paparan/kontak
dengan zat/kimia berbahaya.
• Kontraktor akan menyediakan peralatan tumpahan

The Contractor will ensure that all substances classified as hazardous to health, which are transported, used or
created during the activity, are controlled to minimize risks to health and the environment.
• List of Chemicals and Hazardous Substances to be used must be available including the Safety Data
Sheet (SDS).
• The required PPE as stated in the SDS must be worn during handling with chemicals.
• Necessary equipment and tools as specified in SDS to control accidental release of hazardous
chemicals must be provided.
• Contractors may not bring Asbestos or materials containing Asbestos to the Site.
• Prior to starting a task where hazardous materials will be used, the risks, precautions to be taken and
actions to be taken in the event of a spill (if any) or injury will be explained during the Pre-Job Meeting.
(PJSM).
• It is recommended to use less hazardous substances to minimize risks to health and the environment.
• Only trained personnel should handle hazardous materials using the precautions to be taken, as
instructed in the SDS.
• Containers used for hazardous materials/chemicals will be disposed of as B3 waste.
• Hazardous chemicals will be disposed of according to the instructions provided on the SDS. Do not litter or
dispose of used/empty chemical containers or use them for storage or other handling purposes as they may
endanger life and the environment.
• Contractor must provide adequate eyewash points, showers and first aid kits with medication at locations
for storage and handling of hazardous chemicals, if deemed necessary. Also, to ensure that it is properly
maintained and inspected regularly.
• Employees must be provided with information regarding work with hazardous substances and the use and
maintenance of applicable PPE. At a minimum, this should be provided as part of the safety induction
training.
• Storage of Hazardous Materials/Materials must pay attention to the following requirements:
• All chemical containers must be labeled.
• The contractor should ensure that adequate cupboards/storage spaces are available for proper
segregation and storage of the various types of hazardous substances/chemicals.
• Incompatible chemicals should be stored separately.
• Areas where hazardous materials are stored must be identified by proper signs indicating the contents of
the storage area and a 'No Smoking' sign.
• Spill kits should be provided where hazardous substances are stored or used.
• The storage area for hazardous substances will be well ventilated and maintained in a hygienic manner.
• Portable fire extinguishers and suitable safety showers should be provided in storage facilities and
employees will be trained to use them effectively in the event of exposure/contact with hazardous
substances/chemicals.
• Contractor will provide spill equipment

9.2.24 Hand tools dan power tools


• Hand tools dan power tools harus diperiksa sebelum digunakan.
Kontraktor harus memastikan bahwa semua alat dipastikan dalam kondisi aman dan digunakan dengan
cara yang aman oleh semua personel.
• Alat yang rusak akan diberi tagging inspeksi merah (kondisi rusak) dan disimpan di Gudang peralatan
sampai diperbaiki atau diganti.
• Pengawas Lapangan harus memastikan bahwa pekerja memahami cara menggunakan alat dengan benar
dan peduli terhadap pekerja lain.
• Pelindung Mesin harus diperiksa untuk memastikan dapat dioperasikan secara efektif.
• Cover dan proteksi yang aman dari perangkat harus tetap di tempatnya dan dalam kondisi yang
dapat dioperasikan pada semua alat. Gagang kayu pada alat harus bebas dari retakan atau cacat lainnya
• Kode warna (tagging inspeksi) harus dipasang pada perangkat untuk mengetahui kondisi peralatan
(Baik atau Tidak Baik untuk digunakan).
• Alat yang rusak atau cacat tidak boleh digunakan dan dimasukkan dalam area kerja. Inspeksi ulang harus
dilakukan untuk alat-alat ini setelah perbaikan.
• Pengecekan harian harus dilakukan oleh pengguna alat untuk memastikan alat dalam kondisi baik dan
aman.
• Selalu gunakan alat yang sesuai untuk setiap pekerjaan. Jangan gunakan alat improvisasi atau
modifikasi.
• Alat explosion proof, atau alat yang aman secara intrinsik wajib digunakan di beberapa area berbahaya
atau mudah terbakar.
• Saat digunakan,alat-alat listrik harus terpasang dengan benar kotak distribusi menggunakan industri dan
steker tahan air dan stopkontak
• Menggunakan banyak soket (tiga arah soket) tidak diperbolehkan, masing masing alat harus dicolokkan
kesatu soket saja

• Hand tools and power tools must be checked before use. The Contractor shall ensure that all tools are
kept in a safe condition and used in a safe manner by all personnel.
• Defective equipment will be a red inspection tag (damaged condition) and kept in the Equipment
Warehouse until repaired or replaced.
• Field Supervisors must ensure that workers understand how to use tools properly and care about other
workers.
• The Machine Guard must be inspected to ensure it is operating effectively.
• Covers and safety guards for devices must be kept in place and in an operable condition for all devices.
The wooden handle of the tool must be free of cracks or other defects.
• Color code (inspection tagging) must be installed on the device to determine the condition of the
equipment (Good or Not Good for use).
• Damaged or defective tools must not be used and included in the work area. Re-inspection should be
carried out for these tools after repair.
• Daily checks must be carried out by the tool user to ensure the tool is in good condition and safe.
• Always use the correct tool for each job. Do not use improvised or modified tools.
• Explosion proof devices, or intrinsically safe devices must be used in some hazardous or flammable areas.
• When used, power tools must properly installed distribution box use industry and waterproof plug and
electric socket.
• Using a lot socket (three way socket) no allowed, each tool must be plugged into one socket only
9.2.25 Alat pneumatik / Pneumatic tools
Alat pneumatik termasuk Chipper, Bor, Palu, dan Sanders. Perkakas listrik pneumatik harus diamankan dengan
klem.
Selain APD wajib, pelindung mata (goggles) atau pelindung wajah (dengan kacamata pengaman atau goggle),
dan pelindung pendengaran diperlukan untuk bekerja dengan alat pneumatik. Alat pneumatik hanya dapat
digunakan oleh karyawan yang telah mendapatkan pelatihan penggunan alat pneumatik.
Karyawan harus mengikuti praktik yang aman untuk mengoperasikan alat pneumatik, termasuk yang berikut:
• Sebelum merakit sistem, periksa semua selang apakah ada yang terpotong, putus, dan kendor.
• Tiup semua selang sebelum memasang peralatan. Jika konektor memiliki segel karet. Lepaskan
sebelum (dan ganti setelah) bertiup.
• Lindungi saluran udara atau selang dari truk dan pejalan kaki baik dengan membangun landasan pacu di
atas selang atau menggantung selang di atas dengan bagian terendah dari selang setidaknya 7 kaki (2
meter) di atas tanah.
• Kencangkan sambungan palu-sendi dengan palu. Jangan kencangkan dengan tangan. Selang
yang dilengkapi dengan sambungan khusus memerlukan teknik atau peralatan pengencangan khusus.
• Jangan menyalakan katup udara sampai sambungan selang aman.
• Jangan arahkan selang udara terbuka ke siapa pun.
• Udara bertekanan tidak boleh digunakan untuk tujuan pembersihan kecuali jika dikurangi menjadi kurang
dari 30 psi, dan kemudian hanya dengan pelindung chip yang efektif dan peralatan pelindung pribadi yang
tepat.
• Kecuali peralatan memiliki konektor perubahan cepat (dengan katup periksa internal), matikan udara
di katup suplai udara di depan selang sebelum memutuskan sambungan.
Pneumatic tools include Chippers, Drills, Hammers, and Sanders. Pneumatic power tools must be secured with
clamps. In addition to mandatory PPE, eye protection (goggles) or face shield (with safety glasses or goggles),
and hearing protection are required for working with pneumatic tools. Pneumatic tools can only be used by
employees who have received training in using pneumatic tools. Employees must follow safe practices for
operating pneumatic tools, including the following:
• Before assembling the system, check all hoses for cuts, breaks and looseness.
• Blow all hoses before installing equipment. If the connector has a rubber seal. Remove before (and
replace after) blowing.
• Protect air ducts or hoses from trucks and pedestrians either by building a runway over the hose or by
hanging the hose from above with the lowest part of the hose at least 7 feet (2 meters) above the ground.
• Tighten the hammer-joint joints with a hammer. Do not tighten by hand. Hoses equipped with special
connections require special tightening techniques or equipment.
• Do not turn on the air valve until the hose connection is secure.
• Do not point the open-air hose at anyone.
• Compressed air should not be used for cleaning purposes unless reduced to less than 30 psi, and then
only with effective chip protection and appropriate personal protective equipment.
• Unless the equipment has a quick change connector (with an internal check valve), shut off the air at
the air supply valve in front of the hose before disconnecting.

9.2.26 Penggunaan dan inspeksi tangga / Use and inspection of ladders


Tangga akses atau sarana akses lainnya harus ditempatkan pada jarak yang teratur (maks. 7,5m) sehingga
pekerja dapat dengan mudah untuk melarikan diri jika ada situasi darurat. Tangga akses harus
ditempatkan setidaknya 1 m menonjol di atas permukaan dan harus diikat untuk mencegah gerakan apa pun.
Kontraktor harus memastikan untuk memelihara tangga portabel dalam kondisi aman. Tangga dengan cacat
berikut tidak boleh digunakan, dan harus ditandai sebagai tidak dapat digunakan jika :
• Anak tangga, cleat, atau anak tangga yang patah, terbelah atau hilang.
• Rel samping rusak atau terbelah.
• Baut, paku keling, atau pengencang hilang atau longgar.
• Tali yang rusak; atau
• Cacat struktural lainnya.
Tangga harus diperiksa untuk memastikan kondisinya sebelum digunakan setiap hari, dan setelah kejadian yang
mungkin dapat merusak tangga.
Kontraktor akan melakukan program pemeriksaan peralatan portabel untuk peralatan konstruksi portabel yang
digunakan dalam pekerjaan, termasuk tangga portabel. Jadwal Inspeksi akan menjadi:
• Sebelum mobilisasi ke lokasi proyek
• Setelah pengiriman ke situs
• Setiap hari di situs (oleh pengguna)
• Patroli keamanan bersama manajemen (Mingguan)
• Pemeriksaan umum / audit internal (Bulanan)

Tangga rangka hanya dapat digunakan dengan kriteria sebagai berikut:


• Tidak ada cacat atau kerusakan struktural.
• Hanya gunakan tangga untuk tujuan yang dirancang dan kapasitas bebannya.
• Tidak boleh menggunakan tangga di dekat saluran listrik atau peralatan listrik.
• Pertahankan kontak 3 titik saat menaiki/menurunkan tangga.
• Gunakan barikade untuk mengamankan area kerja di sekitar tangga
• Letakkan tangga hanya pada permukaan yang stabil dan rata yang tidak licin.
• Menggunakan tangga dengan minimal dua orang saat bekerja dengan tangga.
• Tidak dapat menggunakan tangga secara horizontal seperti
bentuk plat.
Access ladders or other means of access must be placed at regular intervals (max. 7.5m) so that workers can
easily escape in case of an emergency. Access ladders must be placed at least 1m protruding above the level
and must be secured to prevent any movement.
The contractor must ensure to maintain the portable ladder in a safe condition. Stairs with the following defects
must not be used, and must be marked as unusable if:
• Broken, split or missing rungs, cleats or steps.
• Side rail damaged or split.
• Missing or loose bolts, rivets or fasteners.
• Broken rope; or
• Other structural defects.
Ladders should be inspected for condition before each day's use, and after any incident that might damage the
ladder.
The Contractor will undertake a portable equipment inspection program for portable construction equipment used
in the work, including portable ladders. The Inspection Schedule will be:
• Prior to mobilization to the project site
• Upon delivery to the site
• Daily on site (by user)
• Joint management security patrols (Weekly)
• General inspection / internal audit (Monthly)
• Frame ladders can only be used with the following criteria:
• No defects or structural damage.
• Only use the ladder for its designed purpose and load capacity.
• Do not use ladders near power lines or electrical equipment.
• Maintain 3-point contact when climbing/descending stairs.
• Use barricades to secure work areas around ladders.
• Place ladders only on a stable, level surface that is not slippery.
• Using ladders with at least two people when working with ladders.
• Unable to use the ladder horizontally like a plate shape.

9.2.27 Peralatan listrik / Electrical Tools


Kontraktor akan memastikan bahwa semua peralatan listrik seperti peralatan portabel, peralatan tangan, dan
peralatan listrik portabel lainnya, memenuhi persyaratan keselamatan standar.
Kontraktor akan menggunakan ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker)
Instalasi listrik sementara termasuk panel distribusi, perkabelan, dan peralatan sakelar harus sesuai dengan
standart PUIL 2011. Semua pengujian yang diperlukan akan dilakukan sebelum penggunaan dan/atau sebelum
peralatan dikembalikan ke gudang.

The Contractor will ensure that all electrical equipment, such as portable equipment, hand tools and other
portable electrical equipment, meets standard safety requirements.
Contractor will use ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker)
Temporary electrical installations including distribution panels, cabling, and switching equipment must comply with
PUIL 2011 standards. All necessary tests will be carried out before use and/or before equipment is returned to
warehouse.

9.2.28 Lock out / tag out – isolasi energi


• Sistem LOTO harus diterapkan sebelum melakukan perbaikan, penyetelan peralatan listrik, pneumatik,
hidrolik, termal, gravitasi dan radiasi.
• Personal Danger Tag tag dan gembok (Warna merah) akan digunakan untuk peralatan yang sedang
diperbaiki oleh seseorang.

• The LOTO system must be applied before carrying out repairs, adjustments to electrical, pneumatic,
hydraulic, thermal, gravity and radiation equipment.
• Personal Danger Tag tags and padlocks (red color) will be used for equipment that is being repaired by
someone.
• Label (warna kuning) harus dipasang pada peralatan yang rusak atau peralatan yang tidak dapat
digunakan dan harus dibiarkan terpasang sampai peralatan diperbaiki dan siap digunakan.

• The label (yellow) must be affixed to equipment that is damaged or equipment that cannot be used and must
be left affixed until the equipment is repaired and ready for use.

Label alat Rusak


Damaged tool labels

Anda mungkin juga menyukai