Sejarah dan Peran Dewi Drupadi
Sejarah dan Peran Dewi Drupadi
Dropadi, Drupadi, atau Draupadi (Sanskerta: द्रौपदी; Draupadī) adalah salah satu tokoh dari
wiracarita Mahabharata. Ia adalah puteri Prabu Drupada, raja di kerajaan Panchala. Pada kitab
Mahabharata versi aslinya, Dropadi adalah istri para Pandawa lima semuanya. Tetapi dalam
tradisi pewayangan Jawa di kemudian hari, ia hanyalah permaisuri Prabu Yudistira saja.
Daftar isi
1 Arti nama
2 Kelahiran Dropadi
3 Perkawinan dengan para Pandawa
4 Upacara Rajasuya
5 Permainan dadu
6 Kematian
7 Suami dan keturunan
8 Dropadi dalam pewayangan Jawa
9 Pranala luar
Arti nama
Pada mulanya, Dropadi diberi nama "Kresna", merujuk kepada warna kulitnya yang kehitam-
hitaman. Dalam bahasa Sanskerta, kata "Krishna" secara harfiah berarti gelap atau hitam. Lambat
laun ia lebih dikenal sebagai "Dropadi" (ejaan Sanskerta: Draupadī), yang secara harfiah berarti
"puteri Drupada". Nama "Pañcali" juga diberikan kepadanya, yang secara harfiah berarti "puteri
kerajaan Panchala". Karena ia merupakan saudari dari Drestadyumna, maka ia juga disebut
"Yadnyaseni" (Yajñasenī).
Kelahiran Dropadi
Dropadi adalah anak yang lahir dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual memohon anak dalam
wiracarita Mahabarata. Diceritakan setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, beliau pergi ke
dalam hutan untuk merencanakan balas dendam. Lalu beliau memutuskan untuk mempunyai
putra yang akan membunuh Drona, dan seorang putri yang akan menikah dengan Arjuna.
Dibantu oleh resi Jaya dan Upajaya, Drupada melaksanakan Putrakama Yadnya dengan sarana
api suci. Dropadi lahir dari api suci tersebut.
Dalam kitab Mahabharata versi India dan dalam tradisi pewayangan di Bali, Dewi Dropadi
bersuamikan lima orang, yaitu Panca Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa
mengunjungi Kerajaan Panchala dan mengikuti sayembara di sana. Sayembara tersebut diikuti
oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan Bharatawarsha (India Kuno), seperti
misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun
mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana.
Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah dengan tepat oleh para
peserta dan yang berhasil melakukannya akan menjadi suami Dewi Dropadi.
Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gagal. Karna
berhasil melakukannya, namun Dropadi menolaknya dengan alasan bahwa ia tidak mau menikah
dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan perasaannya sangat kesal. Setelah Karna
ditolak, Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang
dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka
Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang
brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya
diikuti oleh golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat
dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan
Yudistira, Nakula, dan Sadewa pulang menjaga Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir
dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan
Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut
mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.
Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi
Dropadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang tidur berselimut sambil
memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara. Arjuna dan
Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil
meminta-minta. Dewi Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh.
Namun Dewi Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa hasil
meminta-minta saja, namun juga seorang wanita. Dewi Kunti tidak mau berdusta maka Dropadi
pun menjadi istri Panca Pandawa.
Upacara Rajasuya
Pada saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di
penjuru Bharatawarsha diundang, termasuk sepupunya yang licik dan selalu iri, yaitu Duryodana.
Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha.
Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga
dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana tidak
mengetahuinya lalu mereka tercebur. Melihat hal itu, Dropadi tertawa terbahak-bahak.
Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut,
apalagi yang menertawai mereka adalah Dropadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.
Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi
bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma,
Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. Melihat hal itu, Sisupala, saudara
sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna. Penghinaan itu diterima Sri
Kresna bertubi-tubi sampai kemarahannya memuncak. Sisupala dibunuh dengan Cakra
Sudarsana. Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal
tersebut, Dewi Dropadi segera menyobek kain sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna.
Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri Kresna.
Permainan dadu
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sabhaparwa
Setelah menghadiri upacara Rajasuya, Duryodana merasa iri kepada Yudistira yang memiliki
harta berlimpah dan istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan
jahat dari Sangkuni. Ia menyuruh keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main
dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di Indraprastha. Duryodana menerima usul
tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni, merupakan ahlinya permainan dadu dan harapan
untuk merebut kekayaan Yudistira ada di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya,
Dretarastra, agar mengizinkannya bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak
menolak untuk diundang.
Adegan Dropadi ditelanjangi oleh Dursasana dalam sebuah lukisan tradisional dari daerah
Punjab, dibuat sekitar abad ke-18.
Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh Duryodana dan
Sangkuni. Karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan
saudara-saudaranya, termasuk istrinya, Dropadi. Akhirnya Yudistira kalah dan Dropadi diminta
untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryodana. Duryodana mengutus para
pengawalnya untuk menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. Setelah gagal, Duryodana
menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang,
diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya ditarik sampai ke
arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh
adiknya diminta untuk menanggalkan bajunya, namun Dropadi menolak. Dursasana yang
berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan
tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna yang melihat Dropadi dalam
bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri
Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.
Kematian
Dalam kitab Mahaprasthanikaparwa diceritakan, setelah Dinasti Yadu musnah, para Pandawa
beserta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjalanan suci mengelilingi Bharatawarsha.
Sebagai tujuan akhir perjalanan, mereka menuju pegunungan Himalaya setelah melewati gurun
yang terbentang di utara Bharatawarsha. Dalam perjalanan menuju ke sana, Dropadi meninggal
dunia.
Terjadinya perbedaan cerita antara kitab Mahabharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa
karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah kerajaan Majapahit yang
bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala
sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu
sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan
dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih
dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versi asli yang bercorak
Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam
mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam.
Pranala luar
(Inggris) Dropadi, wanita India sejati
(Inggris) Kisah Dewi Dropadi dalam cerita asli India
(Inggris) Karakter Dewi Dropadi (ditulis oleh Madhuri Guin)
[sembunyikan]
l
b
s
Tokoh Mahabharata
Tokoh yang terkait dengan Kresna
Setiap kali membaca kisah Mahabharata, kerap kali saya mempertanyakan hal tersebut. Bagaimana
rasanya, ya, jadi istri boyongan yang tak punya banyak pilihan ketika ada seorang ksatria
memenangkannya dalam suatu sayembara? Apakah mereka rela-rela saja dibawa menjadi seorang istri—
atau bahkan dihadiahkan kepada orang lain untuk dijadikan istri—semata-mata hanya karena lelaki itu
adalah pemenang sayembara? Tidakkah mereka memiliki pilihan hatinya sendiri dan ingin bebas menjalin
hubungan dengan orang tersebut?
Apakah tokoh perempuan dalam Mahabharata selalu seperti itu, menjadi objek sayembara tanpa
memiliki kekuatan untuk memenuhi keinginan dirinya sendiri?
Dalam kisah Mahabharata yang pernah saya baca, ternyata ada tokoh-tokoh perempuan yang merasakan
keraguan, bahkan kesedihan karena norma masyarakat saat itu membuat mereka tidak memiliki banyak
pilihan. Lihat saja kisah Dewi Amba yang sempat menolak dipersembahkan pada Wicitrawirya oleh
Bhisma karena telah tertambat hati pada Salwa. Namun, saat ia kembali pada Salwa, ia justru mendapat
penolakan karena dianggap telah menjadi hak orang lain, yaitu Bhisma. Amba berusaha untuk tidak
menelan bulat-bulat nasibnya sebagai seorang istri boyongan dan masih berusaha memperjuangkan
pilihannya sendiri.
Drupadi memiliki peran penting di dalam kisah Mahabharata. Bukan hanya karena dia adalah istri dari
Para Pandawa, namun juga karena ia adalah salah satu tokoh yang menyulut meletusnya perang
Bharatayudha. Ia adalah perempuan yang hidup dengan Para Pandawa di masa pengasingannya di Hutan
Wanamarta. Bersama dengan suaminya, ia membangun kerajaan Amarta selepas disingkirkan secara licik
dari Kerajaan Hastinapura oleh Kurawa. Drupadi merasakan jatuh-bangunnya hidup dengan Para
Pandawa. Ia adalah wanita yang rela berkorban untuk suaminya, namun juga sekaligus mampu
mengarahkan langkah Para Pandawa untuk maju perang.
Momen yang paling mempengaruhi hidup Drupadi mungkin adalah saat ia dipermalukan di Balairung
Kerajaan Hastinapura usai permainan dadu yang dilakukan oleh Pandawa dan Kurawa. Saat itu, pihak
Kurawa sengaja mengundang Pandawa ke Hastinapura sebagai balasan atas undangan Pandawa kepada
mereka ke Amarta. Disana, mereka diajak bermain judi oleh Sengkuni—Paman dari Para Kurawa.
Yudhistira yang saat itu berniat menghormati pihak yang mengundangnya, setuju dengan ajakan
Sengkuni untuk bermain dadu. Sayangnya, Pandawa kalah dalam permainan itu disaat mereka
mempertaruhkan kerajaan masing-masing beserta isinya.
Saat itu, Dursasana (salah satu Kurawa) yang merasa telah menang, memaksa Drupadi untuk membuka
busananya. Ia berusaha menelanjangi Drupadi di depan mata banyak orang. Bukan hanya itu, Drupadi
yang telah malu juga harus merasakan kekecewaan yang mendalam karena suaminya saat itu hanya diam
tak berkutik melihat dirinya dilecehkan. Beruntung pada saat itu, dengan bantuan Sri Khrisna (kerabat
Pandawa yang merupakan titisan Dewa Wisnu) membantu Drupadi dengan kekuatannya, sehingga busana
perempuan itu tidak bisa lepas dari tubuhnya. Drupadi meratapi sikap Para Pandawa pada saat itu. Ia tidak
habis pikir mengapa lelaki yang telah banyak membuatnya berkorban tidak menolong dirinya. Ya,
Drupadi tahu ksartria memang harus sportif. Apabila mereka kalah, mereka harus mengakuinya dengan
perbuatan. Dengan perasaan marah, Drupadi bersumpah pada saat itu untuk tidak menggelung dan
mengeramasi rambutnya sebelum dapat keramas dengan darah Dursasana.
Kejadian itulah yang membuat Drupadi geram dan membuatnya menjadi istri yang berbeda dari
perempuan pada umumnya. Ia telah memafkan Pandawa, namun kejadian usai permainan dadu itu
membuatnya tidak tinggal diam. Dengan tidak mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya, Drupadi
berubah menjadi perempuan yang lebih tegas, mandiri, dan berani. Setelah terbebas dari masa
pengasingan selama 12 tahun ditambah 1 tahun penyamaran di Wirata, Drupadi menyerukan gugatannya
kepada Pandawa.
Drupadi lah yang secara lantang mengingatkan Pandawa mengenai kecurangan-kecurangan Kurawa. Ia
pula yang membakar dada Para Pandawa untuk mau maju mengambil kembali hak-hak kerjaan yang
dirampas oleh Kurawa dengan liciknya. Ia pula lah yang mengingatkan Pandawa tentang janjinya saat
dipermalukan dulu, hal yang membuat Bima tergerak untuk menuntaskan janji Drupadi.
Drupadi membuat Para Pandawa tergerak untuk menuntut Kurawa agar mengembalikan hak-hak
mereka, hingga meletus lah perang Barathayudha yang dahsyat itu.
Drupadi adalah tokoh yang memiliki dua sisi yang bertolak belakang, namun hidup dalam satu jiwa. Dia
adalah istri yang lembut, setia, dan penuh pengabdian dengan suaminya. Di sisi lain dia juga mampu
secara tegas menyampaikan pendapatnya, berani dalam mengambil tindakan, dan bahkan memberikan
masukan kepada suaminya, Para Pandawa. Mungkin, Drupadi adalah sosok yang cocok untuk
menggambarkan kutipan ini:
Draupadi sering disebut Yajnaseni, yang lahir lewat ritual Yajna, juga dikenal sebagai
Mahabharati, istri dari 5 keturunan Bharata, dan pernah dipanggil sebagai Sairandhri, perawan
penata rambut permaisuri Raja Virata, kala bersama-sama Pandawa menyamar sebagai pelayan
istana. Draupadi yang cantik jelita adalah Permaisuri Maharaja Yudistira dan istri daripada 5
Pandawa serta mempunyai 5 putra dari masing-masing Pandawa: Prativindhya, Sutasoma,
Srutakirti, Satanika, dan Srutakarma.
Drona yang dendam pada Raja Draupada mengerahkan murid-muridnya untuk mengalahkan
Draupada dan kemudian menghina Draupada dengan mengambil separuh wilayah kerajaannya.
Raja Draupada yang merasa terhina, melakukan ritual yajna untuk memperoleh putra yang dapat
membunuh Drona. Dewi Kali mengabulkannya dan lahirlah Dhristayumna dan Draupadi.
Raja Draupada memperbolehkan Draupadi ikut belajar pada Guru yang mengajar Dhristayumna.
Draupadi menjadi seorang wanita yang maju pada zamannya, berani berterus terang dan ahli
politik. Selain itu Draupadi adalah tipe wanita yang setia dan cerdas. Draupadi nampak
manusiawi dengan karakternya yang jujur apa adanya, seperti marah, cinta, benci, bahagia dan
sedih.
Raja Draupada mengadakan sayembara untuk memperoleh suami bagi Draupadi dengan cara
melepaskan 5 anak panah pada target yang berputar dan hanya boleh melihat target dari cermin.
Arjuna memenangkan sayembara dan Draupadi dibawa Pandawa kepada Kunti yang berada di
hutan. Yudistira berteriak kepada ibunya bahwa mereka membawa hadiah dan Kunti menjawab
agar dibagi yang adil. Kunti kaget setelah tahu bahwa hadiahnya adalah Draupadi, akan tetapi Sri
Krishna yang kemudian datang menyampaikan bahwa Draupadi memang dilahirkan untuk
menjadi istri 5 bersaudara Pandawa. Pandawa semakin kuat apabila Draupadi menjadi istri
pemersatu. Draupadi yang cerdas patuh terhadap Kunti dan terutama Sri Krishna yang sangat
dimuliakannya.
Sri Krishna menyampaikan bahwa pada kehidupan sebelumnya, Draupadi dilahirkan sebagai
Nalayani yang selalu berdoa kepada Shiva agar diberikan suami dengan 14 kualitas utama. Shiva
mengatakan sulit diperoleh pada kehidupan saat ini, akan tetapi pada kehidupan berikutnya akan
memperoleh 5 suami dengan 14 kualitas utama tersebut. Nalayani kaget dan bertanya, apakah ini
anugerah atau kutukan baginya? Shiva menjawab bahwa ini adalah anugerah bagi dharma
kebenaran. Nalayani tidak perlu kuatir, dia akan memperoleh kembali keperawanannya setiap
tahun.
“Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya
merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat
menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang
namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita,
sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga. Apa
yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat
sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi
mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan
menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang
disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan
berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang
menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu,
menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada
masa kini.” (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Melampaui Kelahiran Dan Kematian.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
Draupada juga menerima putrinya menjadi istri Pandawa, karena Sri Krishna berkata bahwa
musuh utamanya Drona tidak bisa dikalahkan oleh Dhristayumna sendirian, dia harus dibantu
Pandawa yang merupakan suami dari Draupadi. Draupadi menjadi istri masing-masing Pandawa
setiap tahun dan mempunyai 5 putra dari 5 Pandawa yang mempunyai wujud mirip ayah mereka
masing-masing.
Draupadi sadar bahwa dia sebenarnya hanya alat Hyang Maha Kuasa, untuk mempersatukan
Pandawa, alat untuk membalaskan dendam ayahandanya serta alat untuk menegakkan dharma.
Bhagavad Gita 2: 27-28: “Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah,
karena hukum ini memang tak terelakkan. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna,
pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya
menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya kamu bersedih hati? Yang diketahui manusia hanya
antara lahir dan mati saja. Kita ini sebenarnya hanya alatNya, yang dikirimkan untuk melakukan
tugas-tugasNya, jadi kita seharusnya berbhakti sesuai dengan kehendakNya.” (Krishna, Anand.
(2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama)
Draupadi adalah devoti Sri Krishna. Dia selalu menembangkan Nama Krishna untuk
melembutkan jiwanya. Pada suatu hari Krishna teriris jari tangannya dan Draupadi langsung
menyobek kain sarinya untuk membalut luka Krishna. Draupadi penuh kasih terhadap Krishna
tanpa mengharapkan apa pun juga. Krishna berkata bahwa bila Draupadi berdoa kepadanya, dia
akan datang membantu.
Bhagavad Gita 7: 16-18: “Ada empat kelompok manusia yang berpaling pada ‘Aku’: mereka
yang dalam keadaan duka, mereka yang ingin memperoleh pengetahuan tentang ‘Aku’, mereka
yang sedang mengejar harta dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, dan mereka yang
bijak. Di antara mereka, yang unggul adalah ia yang bijak – yang berpaling pada ‘Aku’ hanya
karena cinta dan kesadaran, tanpa harapan ataupun keinginan yang lain. Dengan berpaling pada
‘Aku’, sebenarnya mereka semua sudah melakukan yang terbaik, namun di antara mereka, ia
yang mengasihi ‘Aku’ hanya karena kasih itu sendiri, sesungguhnya sangat bijak.” (Krishna,
Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama)
Dalam pengembaraan di hutan, pernah Pandawa kehabisan beras, padahal Pandawa akan
kedatangan tamu Resi Durvasa beserta murid-muridnya. Resi Durvasa terkenal kesaktian dan
sifatnya yang temperamental, sehingga apabila sang resi tidak berkenan dia sering mengutuk.
Draupadi dalam kebingungan berdoa pada Sri Krishna, dan Sri Krishna datang. Draupadi berkata
bahwa yang tersisa hanya satu butir beras ketan sedangkan dia harus menjamu Resi Durvasa dan
para muridnya. Sri Krishna makan separuh butir dan berkata bahwa separuhnya diperuntukkan
bagi dunia. Ketika Resi Durvasa dan murid-muridnya datang bertamu mereka semua telah
merasa kenyang dan tidak ingin makan. Dan masalah Draupadi dan Pandawa terselesaikan.
Yudhistira yang gemar bermain dadu terpedaya oleh permainan Shakuni dan kalah bertaruh.
Seluruh Pandawa telah dipertaruhkan dalam permainan dadu dan kalah sehingga mereka telah
menjadi budak Korawa. Akhirnya Draupadi pun dijadikan taruhan dan kembali Yudhistira
kembali kalah. Sebagai budak Korawa, Pandawa diminta melepaskan baju dan hanya memakai
pakaian dalam, dan selanjutnya Dursasana juga berupaya menarik kain sari Draupadi.
Draupadi dengan lantang berkata, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-saudara
perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi para
Korawa tidak mempedulikannya. Mereka mengatakan bahwa pakaian yang dikenakan Pandawa
dan Draupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik kain sari
Draupadi. Draupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para suaminya yang
telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam seribu basa.
Akhirnya dia memohon pada Sri Krishna. Dan, keajaiban pun terjadi kain sari Draupadi yang
ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan yang baru sehingga Dursasana kewalahan.
“Aku memenuhi keinginan setiap orang yang mengucapkan nama-Ku dengan tulus, dan
meningkatkan kesadaran Kasih di dalam dirinya. Siapa pun yang mengagungkan kisah
kehidupan-Ku dan ajaran-Ku, akan kulindungi dari segala macam mara bahaya.” (Das, Sai.
(2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)
Dhristarastra diberitahu Gendari perihal peristiwa Draupadi dan segera menghentikan perbuatan
Dursasana. Takut Korawa dikutuk oleh Draupadi, Dhristarastra memberikan anugerah 2 hal
kepada Draupadi. Draupadi minta Pandawa dibebaskan dan demikian juga senjata mereka.
Akhirnya Pandawa diasingkan dan harus mengembara selama 13 tahun. Draupadi dengan setia
mengikuti Pandawa mengembara. Peristiwa Draupadi dihina para Korawa sangat membekas di
hati Pandawa, dan ini merupakan benih peperangan Bharatayudha.
Demikian Kisah Draupadi Bagian Pertama. Bagaimana pembalasan dendam Draupadi dan akhir
kisah hidupnya? Silakan mengikuti Kisah Draupadi Bagian Kedua: : Akhir Dendam Draupadi
di Penutup Perang Bharatayudha.
Dewi Drupadi dan Drêstadyumna tidaklah dilahirkan lewat guwa-garba (kandungan) , melainkan
muncul dari api sesaji yg dipuja mantrakan oleh Resi Yaya dan Upayaja.
Karena Prabu Drupada merasa dipermalukan oleh Pandhita Drona ,
yg mengambil separuh kerajaan Pancala setelah menyerang dan mengalahkannya , dengan
bantuan para muridnya , Pandawa dan Korawa.
Prabu Drupada menginginkan anak yg mempunyai kesaktian luar biasa ,
agar kelak dapat membalaskan sakit hatinya.
Dewi Drupadi adalah titisan Dewi Sri ,
yg sebelum menjelma menjadi Dewi Drupadi ,
menjelma menjadi anak seorang brahmana utama.
Meskipun cantik jelita ,
sang dewi hingga perawan tua tidak ada seorang lelakipun yg melamar.
Maka sang dewi pun bertapa mati raga.
“Nini dewi , tadi kamu meminta jodoh padaku , kamu ulangi hingga lima kali ,
maka dikehidupanmu yg akan datang , kamu akan diperistri oleh lima orang lelaki utama.”
———————————————————————————————————————
-
Ketika itu Pandawa sedang dalam pengembaraan setelah diperdaya oleh Kurawa , dengan
diundang ke pesanggrahan Wanamarta dan dijamu pesta andrawina , kemudian pesanggrahan itu
dibakar oleh Kurawa.
Namun Pandawa berhasil menyelamatkan diri.
(Menurut Mahabharata , yg menyelamatkan Pandawa adalah Yama Widura.
Di pedhalangan ,
cerita penyelamatan Pandawa ada dalam lakon “Bale Sigala-gala” ,
dan yg menolong Pandawa adalah garangan putih (sejenis musang) ,
penjelmaan Hyang Anantaboga (Antaboga) , dewa naga di Saptapratala.)
Pandawa yg tinggal di padhepokan seorang Brahmana di Ekacakra ,
dirawuhi Begawan Abiyasa (Wyasa , Kresna Dwipayana) kakek dari Pandawa ,
yg lalu memberitahu agar Pandawa mengikuti sayembara tersebut dan
menceritakan sebab musabab Dewi Drupadi akan menjadi istri Pandawa (berlima).
Hari mulai gelap ketika Pandawa tiba di padhepokan bersama Dewi Drupadi.
Dewi Kunti yg sejak tadi menunggu anak-anaknya pulang dari Pancala ,
ketika terlihat Pandawa sedang berjalan mendekat ,
segera masuk ke kamar hendak menyalakan pelita.
Mendengar Arjuna yg memanggil-manggil , Dewi Kunti pun berkata :
Menyadari kekurang-hati-hatiannya
dan agar tidak mendapat dosa karena mengingkari sabda yg terucap ,
Dewi Kunti , Pandawa dan Dewi Drupadi lalu berunding.
Hasil perundingan Dewi Drupadi lalu menjadi istri Pandawa.
Dari Pandawa , Dewi Drupadi mendapat masing-masing seorang anak laki-laki.
1. Pratiwindya , anak Dewi Drupadi dengan Yudhistira.
2. Srutasoma , anak Dewi Drupadi dengan Bhima.
3. Srutakirti , anak Dewi Drupadi dengan Arjuna.
4. Satanika , anak Dewi Drupadi dengan Nakula.
5. Srutasena (Srutakarman) , anak Dewi Drupadi dengan Sadewa.
Dalam Pedhalangan ,
diceritakan bahwa Dewi Drupadi HANYA diperistri oleh Yudhistira
setelah memenangkan sayembara yg diadakan oleh Prabu Drupada , yaitu
barang siapa yg bisa mengalahkan Patih Gandamana ,
akan dinikahkan dengan Dewi Drupadi.
Yudhistira memasuki sayembara dengan mengajukan Bima sebagai jagonya.
Yudhistira dan Dewi Drupadi mempunyai seorang anak , yaitu Pancawala atau Pancakumara.
Ketika Prabu Yudhistira (Pandawa) main dadu dengan Kurawa dan kalah ,
semua yg dipertaruhkannya , kereta , kuda , gajah , kerajaan , para budak ,
juga satu persatu adik-adiknya , dirinya sendiri ,
bahkan Dewi Drupadi istrinya , menjadi milik Kurawa.
Prabu Duryudana yg memang berniat mempermalukan Pandawa ,
menyuruh Arya Widura untuk memanggil Dewi Drupadi.
Arya Widura tidak mau karena sejak awalnyapun tidak menyetujui permainan dadu itu.
Arya Widura atau Yama Widura adalah paman Pandawa dan Kurawa dari ibu berkasta sudra.
Usaha Duryudana memanggil Dewi Drupadi dengan menyuruh para abdipun gagal , sang Dewi
tetap tidak mau datang.
Maka disuruhnyalah Dursasana (Dussasana) ,
yg dengan segera melaksanakan titah.
Dewi Drupadi ditarik gêlung (ikatan) rambutnya yg seketika berurai ,
dengan dijambak rambutnya Dewi Drupadi dilarak (diseret) menuju ketempat judi.
Dalam ruang judi Dursasana bermaksud membuka kain yg dikenakan Dewi Drupadi ,
karena menganggap Dewi Drupadi sekarang hanyalah budak milik Kurawa.
Namun karena perlindungan Bathara Wisnu , setiap kali kain itu ditarik ,
Dewi Drupadi sudah mengenakan kain baru , demikian berulang-ulang ,
seakan tak ada putusnya.
(Versi lain menyebutkan ,
yg melindungi Dewi Drupadi adalah Bathara Dharma , dewa keadilan)
Disitulah Dewi Drupadi bersumpah ,
tidak akan mengikat gelung rambutnya sebelum keramas darahnya Dursasana.
Bima pun bersumpah ,
tidak akan kembali ke swargaloka dan berkumpul dengan para leluhur ,
sebelum merobek dada Dursasana dan meminum darahnya.
Banyak keluhan dan sesambat Dewi Drupadi kepada para tetua Hastinapura ,
yg hadir di tempat judi itu , seperti Rêsi Bhisma ,
Rêsi Drona (Pedhalangan : Begawan Durna) ,
Rêsi Krêpa , Yama Widura dan Prabu Drêstarastra.
Oleh karena ucapan-ucapan Dewi Drupadi kepada Prabu Drêstarastra
akhirnya Prabu Drestarastra (Drestaratya , ayah Kurawa)
memberi anugrah Dewi Drupadi untuk mengajukan 2 permohonan.
Dewi Drupadi meminta agar Yudistira dan para Pandawa dibebaskan ,
oleh Prabu Drestarastra dikabulkan ,
juga dikembalikan semua yg dipertaruhkan Pandawa.
Dewi Dropadi sempat digoda dan dibujuk untuk meninggalkan Pandawa dan
akan dijadikan istri oleh Prabu Jayadrata dari kerajaan Sindu.
Prabu Jayadrata dalam perjalanan menuju Madra (Madraka , Mandaraka) ,
ketika melewati padhepokan dan melihat Dewi Drupadi yg meskipun kurus kering , tetap
memancarkan kecantikannya , Jayadrata pun terpikat.
Karena bujuk rayunya tak berhasil , Dewi Drupadipun dilarikan dengan kereta.
Brahmana dan abdi yg tinggal di padhepokan
segera memberitahu kepada Pandawa yg tengah berburu.
Usaha Jayadrata berhasil digagalkan oleh Pandawa.
Suatu ketika , saat Pandawa , Dewi Drupadi dan beberapa brahmana yg mengikuti ,
tinggal sementara di wukir Kelasa , bertiuplah angin besar.
Setelah angin itu reda , Dewi Drupadi melihat sekuntum sekar tanjung
(bunga teratai) , yg meski sudah layu tapi masih berbau harum dan tampak indah.
Dewi Drupadi meminta kepada Bima untuk dicarikan bunga tanjung yg masih segar.
Dengan pertolongan Hanuman ,
sang panglima perang Prabu Rama yg tetap hidup ,
yg juga saudara tua dari Bima (sama-sama anak dari Dewa Bayu) ,
Bima dapat menemukan dan mengambil bunga tanjung yg diinginkan Dewi Drupadi.
Kincaka , ipar Prabu Matsya rupanya jatuh cinta pada Sairandri (Dewi Drupadi).
dan memaksa agar Sairandri mau menjadi istrinya ,
Sairandri pun menolak dengan mengatakan bahwa ia sudah punya suami gandarwa 5.
Karena terus memaksa ,
Sairandri pun mengajak Kincaka bertemu diruang tari pada malam hari.
Ketika Kincaka tiba , Ballawa sudah menunggu disana.
Terjadilah perkelahian antara Ballawa (Bima) dan Kincaka ,
yg mengakibatkan kematian Kincaka.
———————————————————————————————————————
-
Dewi Drupadi termasuk salah satu dari Wanita-wanita Utama dalam pewayangan ,
yg lainnya adalah Dewi Sita (Dewi Sinta , istri Prabu Rama) ,
Dewi Savitri (Dewi Sawitri , istri Setiawan) ,
Dewi Pujawati (Dewi setyawati , istri Prabu Salya) ,
yg masih ada yg lainnya . . . .
Kesimpulannya ,
tokoh Wanita Utama dalam pewayangan terpilih adalah karena ,
berbhakti kepada suami , setya , menemani dalam susah dan senang ,
tak terpikat oleh godaan macam apapun ketika suami ‘tak berdaya’ ,
mau memaafkan dan menerima kembali , ketika suami khilaf
. . . bahkan meski membuat sang istri ikut menanggung akibat ,
mampu menjadi penyemangat (daya) bagi suami , dan lain-lainnya ,
. . . . . . hingga akhir hayat sekalipun.
Diakui atau mengelak , masih ada (banyak) lelaki yg menganggap istri hanya ,
Masak , Manak , Macak , Mlumah , Manut ,
(Memasak , Mengurusi anak , Berdandan , -maaf- Terlentang dan mengikuti.
Namun tak kurang juga ,
seorang istri yg ketika atas nama emansipasi ,
mencoba melakukan kesetaraan dalam rumah tangga ,
yg terjadi malah kudeta menghancurkan kerajaan rumah tangganya sendiri.
drupadi
Sedikit mengulas kembali tentang kisah ketika Pandawa Lima mendapatkan Drupadi. Dan,
Drupadi adalah sosok perempuan istimewa. Selain kisah hidupnya yang unik, karena ternyata
dalam budaya India, seorang perempuan mempunyai 5 suami juga tidak wajar. Apalagi
dalam Mahabharata gubahan Jawa-Islam. Karena itu, Walisongo menciptakan kisah
Drupadi bukan bersuamikan Pandawa Lima, melainkan menjadi istri Yudistira. Namun,
begawan yang menulis kitab Mahabharata, bukan sekedar membuat cerita……
______________________________
Sosok Drupadi yang beristri lima, memang bukan sekedar cerita pendek atau novel yang
berbusa-busa. Namun, mengandung pesan mendalam akan makna hidup. Sang begawan
penulisnya, mempunyai pesan atau bahkan ramalan, atau dalam istilah Jawa-nya, adalah weruh
sak durunge winarah. Seolah sang penulis Mahabharata ini, sudah tahu sebelum sebuah peristiwa
terjadi, atau dia sudah tahu jika di masa depan, sekian ratus tahun kemudian (seperti saat ini),
akan ada fakta seorang perempuan mempunyai lebih dari satu suami (poliandri).
Demikian kisahnya. Pada suatu hari, Pandawa mengikuti sayembara yang diselenggarakan Raja
Drupada di Kerajaan Panchala. Sayembara tersebut memperebutkan Dewi Dropadi. Banyak
ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri. Para Pandawa menyamar sebagai seorang
Br?hmana. Sebuah sasaran diletakkan di tengah-tengah arena, dan siapa yang berhasil memanah
sasaran tersebut dengan tepat, maka ialah yang berhasil mendapatkan Dropadi.
Satu per satu ksatria maju, namun tidak ada satu pun yang berhasil memanah dengan tepat.
Ketika Karna dari Kerajaan Anga turut serta, ia berhasil memanah sasaran dengan baik. Namun
Dropadi menolak untuk menikahi Karna karena karna anak seorang kusir yang tentu lebih rendah
kastanya. Karna kecewa tetapi juga kesal terhadap Dropadi.
Para Pandawa yang diwakili oleh Arjuna turut serta. Arjuna berpakaian seperti Br?hmana. Ketika
ia tampil ke muka, ia berhasil memanah sasaran dengan baik, maka Dropadi berhak menjadi
miliknya. Namun hal tersebut menimbulkan kericuhan karena seorang Br?hmana tidak pantas
untuk mengikuti sayembara yang ditujukan kepada golongan ksatria. Arjuna dan Bima pun
berkelahi dengan para ksatria di sana, sementara Yudistira, Nakula dan Sadewa melarikan
Dropadi ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah, Pandawa berseru, “Ibu, kami datang membawa hasil meminta-minta”.
Kunti, ibu para Pandawa, tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anaknya karena sibuk dan
berkata, “Bagi dengan rata apa yang kalian peroleh”. Ketika ia menoleh, alangkah terkejutnya ia
karena anak-anaknya tidak saja membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita.
Kunti yang tidak mau berdusta, membuat anak-anaknya untuk berbagi istri.
Para Pandawa sepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri. Mereka juga berjanji tidak akan
mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari
Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang menggangu adalah pembuangan selama 12 tahun. Pada
suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta
masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para rakshasa.
Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya.
Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang
menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata,
tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan
tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 12 tahun. Arjuna menerima
hukuman tersebut dengan ikhlas.
1 Votes
Dewi Drupadi adalah putri prabu Drupada, saudara dari Drestadyumna dan Srikandi. Dewi
Drupadi adalah istri Pandawa, akan tetapi karena budaya kita tidak mengenal poliandri, maka
leluhur kita menyebutkan bahwa Drupadi adalah istri Yudistira. Leluhur kita juga menyebutkan
Drupadi berputra Pancawala, yang sebenarnya berarti lima anak….. (dari lima bersaudara
Pandawa). Kebiasaan di India pada masa itu memang berbeda, mereka memanggil Arjuna bukan
putra Pandu tetapi putra Kunti. Mereka juga mengakui bahwa anak seorang permaisuri akan
menjadi putra mahkota, walaupun suaminya telah meninggal sebelum memberikan keturunan.
Pandu dan Drestarastra adalah putra dari permaisuri Ambika dan Ambalika hasil hubungan
dengan Abyasa, karena suaminya, Prabu Wicitrawirya meninggal sebelum memberikan
keturunan kepada mereka.
Pandawa yang selamat dari jebakan kebakaran di istana kayu yang diskenario oleh Korawa
meneruskan perjalanan di tengah hutan, menyamar sebagai brahmana menjauhi pasukan Korawa.
Mereka mendengar bahwa Prabu Drupada dari negeri Panchala mengadakan sayembara mencari
suami bagi putrinya, Drupadi. Arjuna berhasil memenangkan sayembara tersebut dan Drupadi
menjadi istri Pandawa. Kedudukan Pandawa menjadi kuat karena merupakan menantu Prabu
Drupada dan mereka juga didukung raja-raja dari keluarga Kunti, seperti Sri Krishna dan
Baladewa yang merupakan keponakan Kunti. Drestarastra akhirnya mengambil keputusan
memberikan tanah Kandawaprasta, bekas istana para leluhur Bharata kepada Pandawa…..
Tanah tersebut dibangun kembali oleh Pandawa dan diberi nama Indraprasta. Pandawa
memerintah Indraprasta selama tigapuluh enam tahun sehingga Indraprasta makmur sejahtera di
bawah pimpinan Yudistira yang merupakan ahli tatanegara.
Setelah beberapa lama, para raja mendesak Yudistira untuk melaksanakan “upacara rajasuya”
dan mengambil gelar maharaja. Korawa semakin iri dengan Pandawa yang telah berhasil
menjadi maharaja berkat dukungan banyak raja-raja sekutunya. Kemudian Korawa mengundang
Yudistira untuk bermain dadu melawan Shakuni yang licik dan Yudistira dikalahkan. Yudistira
yang kalah bahkan harus menyerahkan Indraprasta, seluruh Pandawa menjadi budak dan bahkan
juga harus menyerahkan permaisuri Drupadi.
Dursasana saudara Duryudana dari Korawa menyeret Drupadi dengan menarik rambutnya.
Drupadi berkata kepada para kesatria Korawa, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-
saudara perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi
para Korawa tidak mempedulikannya, mereka bahkan mengatakan pakaian yang dikenakan
Pandawa dan Drupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik
“kemben”, pakaian Drupadi. Drupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para
suaminya yang telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam
seribu basa. Akhirnya dia memohon pada Hyang Widhi dan jatuh pingsan. Dan, keajaiban pun
terjadi pakaian Drupadi yang ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan pakaian yang baru
sehingga Dursasana kewalahan, karena pakaian Drupadi sudah setinggi gunung. Bhima hanya
bisa mengutuk, “Aku tidak akan mati sebelum meremukkan dada Dursasana dan meminum
darahnya yang telah memalukan dinasti Bharata.”
Prabu Drestarastra yang merasa bahwa peristiwa ini akan memalukan dinasti Kuru mengatakan
bahwa perjudian dibatalkan dan Pandawa serta Drupadi agar balik ke Indraprasta. Akan tetapi
atas desakan Shakuni dan Duryudana akhirnya Drestarastra menarik kembali ucapannya dan
memanggil kembali Pandawa untuk main dadu sekali lagi. Pandawa kalah dan harus menjalani
pengasingan di hutan selama 12 tahun dan kemudian harus masa transisi penyamaran selama 1
tahun, apabila penyamaran terbuka sebelum 1 tahun Pandawa harus mengulangi pengasingan di
hutan selama 12 tahun lagi…..
Di hari-hari akhir dari perang Bharatayuda, Shakuni dan Dursasana mati oleh Bhima yang
bertindak seperti kesurupan, kemarahannya memuncak kala ingat bahwa Drupadi pernah
dipermalukan oleh Dursasana. Dursasana dibanting ke tanah kedua tangannya yang pernah
menarik kain Drupadi dihancurkan. Dia minum darah darah Dursasana dan Korawa semakin
ketakutan. Bhima berteriak, “Aku tinggal mencari Duryudana”……. Perang selalu mengerikan
dan etika banyak yang terabaikan. Para Korawa yang dulu selalu bertindak sewenang-wenang
kini dicekam ketakutan akan datangnya hari pembalasan….. adalah suatu pelajaran bagi mereka
yang selalu melakukan kekerasan dan pembunuhan tanpa berperikemanusiaan kala dia berada di
“atas angin”….. bahwa dia pun akan mengalami kecemasan yang sama saat masa pembalasan
tiba…..
Duryudana pun di hari terakhir perang juga roboh setelah pahanya remuk dipukul gada Bhima
dan dibiarkan tergeletak menunggu ajal. Saat Duryudana menunggu ajal menjemput, pada
malam harinya, Aswatama putra Drona datang dan berjanji akan membunuh semua putra
Pandawa, sehingga kemenangan Pandawa akan sia-sia. Duryudana sedikit bergembira dan
kemudian menghembuskan napas yang terakhir. Aswatama mengendap-endap masuk ke
perkemahan Drestadyumna dan dibunuhnya kesatria yang membunuh Drona, ayahandanya.
Kemudian Aswatama menuju kemah putra-putra Pandawa dan semua dibunuhnya. Hanya tinggal
satu keturunan Pandawa, putra Abimanyu, cucu Arjuna yang masih berada dalam kandungan
Dewi Utari. Senjata terakhir Aswatama diarahkankan kepada sang janin, akan tetapi janin
tersebut selamat karena dilindungi Sri Krishna. Itulah satu-satunya keturunan yang meneruskan
dinasti Pandawa. Bayi tersebut nantinya diberi nama Parikesit, dari kata pariksa karena sejak
kecik di memeriksa semua orang, dia mencari kakeknya Sri Krishna yang telah
menyelamatkannya.
Drupadi yang mengetahui bahwa semua putranya telah meninggal terbunuh dirundung kesedihan
dan kemarahan…. “Tidak adakah orang yang membalaskan kematian anak-anakku?” Kesedihan
Drupadi sangat mendalam hingga dia jatuh pingsan…..
Dalam keadaan setengah sadar Drupadi ingat pesan terakhir Eyang Bhisma kepadanya…….
“Tidak semua keinginan manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi
bukan kehendak manusia”……… Drupadi ingat bahwa dia pernah protes dengan menangis
terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma
kepada Yudistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu hamba dipermalukan oleh
Dursasana, Kakek diam seribu bahasa?” Bhisma yang dalam keadaan terluka parah dan puluhan
anak panah yang menancap di tubuhnya serta sedang menunggu hari yang baik untuk
meninggalkan jasadnya berucap pelan….. ”Cucuku Drupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan
hatimu. Pada waktu itu aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat
besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh
makanan membuat aku tak berdaya. Maafkan aku Drupadi”…….. “Tidak semua keinginan
manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi bukan kehendak
manusia”……….
Drupadi menjadi malu sendiri. Dalam perang Bharatayuda, Kakek Bhisma tidak mau membunuh
Pandawa, para suaminya. Kakek Bhisma juga tidak mau melawan wanita, akan tetapi Srikandi,
adiknya justru memanahnya, sehingga dia terluka dan kemudian beliau bisa dipanah oleh Arjuna.
Drupadi menjadi semakin malu, sang kakek tidak protes kepadanya, bahkan menjawabnya
dengan tulus. Drupadi merenung dalam……… Pandita Drona merasa dipermalukan oleh Prabu
Drupada, ayahnya. Kemudian Pandita Drona ganti mempermalukan ayahnya dan mengambil
sebagaian tanah kerajaannya. Pandita Drona kalah karena ditipu Yudistira yang mengatakan
Aswatama mati dan dalam keadaan shock dibunuh oleh Drestadyumna, adiknya. Kini Aswatama
membunuh Drestadyumna…… Para Korawa yang diam saja saat dia dipermalukan sudah mati
semua. Duryudana dan Dursasana yang mempermalukan dirinya pun sudah terbunuh….. Kini
semua anak-anaknya terbunuh…….
Dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka
Utama, tahun 2000, disampaikan…….. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat
sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai
Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya.
Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang
berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap
‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih
lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan
sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa
pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat
‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha
mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau
Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia,
ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati………
Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, tahun
1999 disampaikan bahwa……… Sri Mangkunagoro menjelaskan tentang kesadaran fisik,
jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan
materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita
masih terobsesi oleh keduniawian. Kemudian, kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi
daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara
segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan
kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama. Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat
ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan
agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk,
bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang
satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan
membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat
dirasakan, tidak dapat dijelaskan. Menurut Sri Mangkunagoro, “sruning brata kataman wahyu
dyatmika”: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari
kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri………
Bapak Anand Krishna mencoba menyampaikan hal-hal yang universal yang juga sudah
disampaikan oleh para leluhur……. Hanya saja Bapak Anand Krishna menerima perlakuan yang
tidak adil. (lihat berkas lengkap di [Link] Bapak Anand Krishna tetap
mengajak mereka yang sadar untuk selalu mendoakan Jaksa dan para Hakim agar dapat
menjalankan amanah yang diemban mereka untuk melaksanakan persidangan dengan fair…… If
u truly love me, then love those who r hostile twrds me. For, it is the power of love alone that cn
clean the dirt of hostility………
……..Drupadi sadar…. Kakek Bhisma yang perkasa yang telah melakukan sumpah yang
mengerikan demi mempersatukan Dinasti Kuru pun, cita-citanya tidak kesampaian…….
Mengapa pula dirinya harus membunuh Aswatama? ……. “Tidak semua keinginan manusia
terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi bukan kehendak manusia”………
Setelah Aswatama tertangkap, Drupadi berubah pikiran…… “Arjuna, semuanya terjadi karena
Kehendak Hyang Widhi….. aku dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya
meninggal. Bunda Gendari telah kehilangan seluruh putranya, Bunda Kunti telah kehilangan
putranya, Karna. Para ibu banyak yang telah kehilangan putra-putranya dalam perang
Bharatayuda ini termasuk diriku…… Aku tidak mau menambah kesedihan Ibu Aswatama.
Lepaskanlah Aswatama!”……
Pandawa menunggu keputusan Sri Krishna kala mendengar permintaan Drupadi. Sri Krishna
mengangguk……. Dan, batu permata di dahi Aswatama dilepas dan dia diusir ke derah padang
pasir Arvashtan….. Bagi Aswatama ini adalah penghinaan yang sangat berat, dia merasa lebih
baik dibunuh daripada diperlakukan demikian…… Tetapi demikianlah Kehendak Hyang
Widhi………
Dewi Drupadi adalah putri prabu Drupada, saudara dari Drestadyumna dan Srikandi. Dewi
Drupadi adalah istri Pandawa, akan tetapi karena budaya kita tidak mengenal poliandri, maka
leluhur kita menyebutkan bahwa Drupadi adalah istri Yudistira. Leluhur kita juga menyebutkan
Drupadi berputra Pancawala, yang sebenarnya berarti lima anak….. (dari lima bersaudara
Pandawa). Kebiasaan di India pada masa itu memang berbeda, mereka memanggil Arjuna bukan
putra Pandu tetapi putra Kunti. Mereka juga mengakui bahwa anak seorang permaisuri akan
menjadi putra mahkota, walaupun suaminya telah meninggal sebelum memberikan keturunan.
Pandu dan Drestarastra adalah putra dari permaisuri Ambika dan Ambalika hasil hubungan
dengan Abyasa, karena suaminya, Prabu Wicitrawirya meninggal sebelum memberikan
keturunan kepada mereka.
Pandawa yang selamat dari jebakan kebakaran di istana kayu yang diskenario oleh Korawa
meneruskan perjalanan di tengah hutan, menyamar sebagai brahmana menjauhi pasukan Korawa.
Mereka mendengar bahwa Prabu Drupada dari negeri Panchala mengadakan sayembara mencari
suami bagi putrinya, Drupadi. Arjuna berhasil memenangkan sayembara tersebut dan Drupadi
menjadi istri Pandawa. Kedudukan Pandawa menjadi kuat karena merupakan menantu Prabu
Drupada dan mereka juga didukung raja-raja dari keluarga Kunti, seperti Sri Krishna dan
Baladewa yang merupakan keponakan Kunti. Drestarastra akhirnya mengambil keputusan
memberikan tanah Kandawaprasta, bekas istana para leluhur Bharata kepada Pandawa…..
Tanah tersebut dibangun kembali oleh Pandawa dan diberi nama Indraprasta. Pandawa
memerintah Indraprasta selama tigapuluh enam tahun sehingga Indraprasta makmur sejahtera di
bawah pimpinan Yudistira yang merupakan ahli tatanegara.
Setelah beberapa lama, para raja mendesak Yudistira untuk melaksanakan “upacara rajasuya”
dan mengambil gelar maharaja. Korawa semakin iri dengan Pandawa yang telah berhasil
menjadi maharaja berkat dukungan banyak raja-raja sekutunya. Kemudian Korawa mengundang
Yudistira untuk bermain dadu melawan Shakuni yang licik dan Yudistira dikalahkan. Yudistira
yang kalah bahkan harus menyerahkan Indraprasta, seluruh Pandawa menjadi budak dan bahkan
juga harus menyerahkan permaisuri Drupadi.
Dursasana saudara Duryudana dari Korawa menyeret Drupadi dengan menarik rambutnya.
Drupadi berkata kepada para kesatria Korawa, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-
saudara perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi
para Korawa tidak mempedulikannya, mereka bahkan mengatakan pakaian yang dikenakan
Pandawa dan Drupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik
“kemben”, pakaian Drupadi. Drupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para
suaminya yang telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam
seribu basa. Akhirnya dia memohon pada Hyang Widhi dan jatuh pingsan. Dan, keajaiban pun
terjadi pakaian Drupadi yang ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan pakaian yang baru
sehingga Dursasana kewalahan, karena pakaian Drupadi sudah setinggi gunung. Bhima hanya
bisa mengutuk, “Aku tidak akan mati sebelum meremukkan dada Dursasana dan meminum
darahnya yang telah memalukan dinasti Bharata.”
Prabu Drestarastra yang merasa bahwa peristiwa ini akan memalukan dinasti Kuru mengatakan
bahwa perjudian dibatalkan dan Pandawa serta Drupadi agar balik ke Indraprasta. Akan tetapi
atas desakan Shakuni dan Duryudana akhirnya Drestarastra menarik kembali ucapannya dan
memanggil kembali Pandawa untuk main dadu sekali lagi. Pandawa kalah dan harus menjalani
pengasingan di hutan selama 12 tahun dan kemudian harus masa transisi penyamaran selama 1
tahun, apabila penyamaran terbuka sebelum 1 tahun Pandawa harus mengulangi pengasingan di
hutan selama 12 tahun lagi…..
Di hari-hari akhir dari perang Bharatayuda, Shakuni dan Dursasana mati oleh Bhima yang
bertindak seperti kesurupan, kemarahannya memuncak kala ingat bahwa Drupadi pernah
dipermalukan oleh Dursasana. Dursasana dibanting ke tanah kedua tangannya yang pernah
menarik kain Drupadi dihancurkan. Dia minum darah darah Dursasana dan Korawa semakin
ketakutan. Bhima berteriak, “Aku tinggal mencari Duryudana”……. Perang selalu mengerikan
dan etika banyak yang terabaikan. Para Korawa yang dulu selalu bertindak sewenang-wenang
kini dicekam ketakutan akan datangnya hari pembalasan….. adalah suatu pelajaran bagi mereka
yang selalu melakukan kekerasan dan pembunuhan tanpa berperikemanusiaan kala dia berada di
“atas angin”….. bahwa dia pun akan mengalami kecemasan yang sama saat masa pembalasan
tiba…..
Duryudana pun di hari terakhir perang juga roboh setelah pahanya remuk dipukul gada Bhima
dan dibiarkan tergeletak menunggu ajal. Saat Duryudana menunggu ajal menjemput, pada
malam harinya, Aswatama putra Drona datang dan berjanji akan membunuh semua putra
Pandawa, sehingga kemenangan Pandawa akan sia-sia. Duryudana sedikit bergembira dan
kemudian menghembuskan napas yang terakhir. Aswatama mengendap-endap masuk ke
perkemahan Drestadyumna dan dibunuhnya kesatria yang membunuh Drona, ayahandanya.
Kemudian Aswatama menuju kemah putra-putra Pandawa dan semua dibunuhnya. Hanya tinggal
satu keturunan Pandawa, putra Abimanyu, cucu Arjuna yang masih berada dalam kandungan
Dewi Utari. Senjata terakhir Aswatama diarahkankan kepada sang janin, akan tetapi janin
tersebut selamat karena dilindungi Sri Krishna. Itulah satu-satunya keturunan yang meneruskan
dinasti Pandawa. Bayi tersebut nantinya diberi nama Parikesit, dari kata pariksa karena sejak
kecik di memeriksa semua orang, dia mencari kakeknya Sri Krishna yang telah
menyelamatkannya.
Drupadi yang mengetahui bahwa semua putranya telah meninggal terbunuh dirundung kesedihan
dan kemarahan…. “Tidak adakah orang yang membalaskan kematian anak-anakku?” Kesedihan
Drupadi sangat mendalam hingga dia jatuh pingsan…..
Dalam keadaan setengah sadar Drupadi ingat pesan terakhir Eyang Bhisma kepadanya…….
“Tidak semua keinginan manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi
bukan kehendak manusia”……… Drupadi ingat bahwa dia pernah protes dengan menangis
terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma
kepada Yudistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu hamba dipermalukan oleh
Dursasana, Kakek diam seribu bahasa?” Bhisma yang dalam keadaan terluka parah dan puluhan
anak panah yang menancap di tubuhnya serta sedang menunggu hari yang baik untuk
meninggalkan jasadnya berucap pelan….. ”Cucuku Drupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan
hatimu. Pada waktu itu aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat
besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh
makanan membuat aku tak berdaya. Maafkan aku Drupadi”…….. “Tidak semua keinginan
manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi bukan kehendak
manusia”……….
Drupadi menjadi malu sendiri. Dalam perang Bharatayuda, Kakek Bhisma tidak mau membunuh
Pandawa, para suaminya. Kakek Bhisma juga tidak mau melawan wanita, akan tetapi Srikandi,
adiknya justru memanahnya, sehingga dia terluka dan kemudian beliau bisa dipanah oleh Arjuna.
Drupadi menjadi semakin malu, sang kakek tidak protes kepadanya, bahkan menjawabnya
dengan tulus. Drupadi merenung dalam……… Pandita Drona merasa dipermalukan oleh Prabu
Drupada, ayahnya. Kemudian Pandita Drona ganti mempermalukan ayahnya dan mengambil
sebagaian tanah kerajaannya. Pandita Drona kalah karena ditipu Yudistira yang mengatakan
Aswatama mati dan dalam keadaan shock dibunuh oleh Drestadyumna, adiknya. Kini Aswatama
membunuh Drestadyumna…… Para Korawa yang diam saja saat dia dipermalukan sudah mati
semua. Duryudana dan Dursasana yang mempermalukan dirinya pun sudah terbunuh….. Kini
semua anak-anaknya terbunuh…….
Dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka
Utama, tahun 2000, disampaikan…….. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat
sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai
Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya.
Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang
berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap
‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih
lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan
sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa
pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat
‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha
mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau
Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia,
ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati………
Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, tahun
1999 disampaikan bahwa……… Sri Mangkunagoro menjelaskan tentang kesadaran fisik,
jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan
materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita
masih terobsesi oleh keduniawian. Kemudian, kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi
daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara
segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan
kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama. Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat
ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan
agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk,
bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang
satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan
membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat
dirasakan, tidak dapat dijelaskan. Menurut Sri Mangkunagoro, “sruning brata kataman wahyu
dyatmika”: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari
kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri………
Bapak Anand Krishna mencoba menyampaikan hal-hal yang universal yang juga sudah
disampaikan oleh para leluhur……. Hanya saja Bapak Anand Krishna menerima perlakuan yang
tidak adil. (lihat berkas lengkap di [Link] Bapak Anand Krishna tetap
mengajak mereka yang sadar untuk selalu mendoakan Jaksa dan para Hakim agar dapat
menjalankan amanah yang diemban mereka untuk melaksanakan persidangan dengan fair…… If
u truly love me, then love those who r hostile twrds me. For, it is the power of love alone that cn
clean the dirt of hostility………
……..Drupadi sadar…. Kakek Bhisma yang perkasa yang telah melakukan sumpah yang
mengerikan demi mempersatukan Dinasti Kuru pun, cita-citanya tidak kesampaian…….
Mengapa pula dirinya harus membunuh Aswatama? ……. “Tidak semua keinginan manusia
terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi bukan kehendak manusia”………
Setelah Aswatama tertangkap, Drupadi berubah pikiran…… “Arjuna, semuanya terjadi karena
Kehendak Hyang Widhi….. aku dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya
meninggal. Bunda Gendari telah kehilangan seluruh putranya, Bunda Kunti telah kehilangan
putranya, Karna. Para ibu banyak yang telah kehilangan putra-putranya dalam perang
Bharatayuda ini termasuk diriku…… Aku tidak mau menambah kesedihan Ibu Aswatama.
Lepaskanlah Aswatama!”……
Pandawa menunggu keputusan Sri Krishna kala mendengar permintaan Drupadi. Sri Krishna
mengangguk……. Dan, batu permata di dahi Aswatama dilepas dan dia diusir ke derah padang
pasir Arvashtan….. Bagi Aswatama ini adalah penghinaan yang sangat berat, dia merasa lebih
baik dibunuh daripada diperlakukan demikian…… Tetapi demikianlah Kehendak Hyang
Widhi………
Akhir Dendam Draupadi di Penutup Perang
Bharatayudha
OPINI | 02 September 2013 | 03:38 Dibaca: 598 Komentar: 2 0
Ilustrasi Draupadi ikut Pandawa naik ke Meru mempersiapkan kematian sumber www otago ac nz
“Perkawinan adalah perjalanan dari ‘aku’ menuju ‘kita’. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap
milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Dianggap gagal atau tidak oleh masyarakat,
berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir.”
(Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama)
Draupadi sudah meleburkan dirinya ke dalam suaminya, kepentingan suaminya adalah kepentingan
bersama. Draupadi sang putri raja bersedia mengikuti pengembaraan Pandawa, suaminya selama 13
tahun masa pengasingan dan bersedia ikut menyamar sebagai pelayan istana di Kerajaan Virata pada
tahun terakhir pengembaraannya. Saat menyamar sebagai penata rambut di Kerajaan Wirata, adalah
seorang Panglima yang bernama Kichaka ingin mempersuntingnya. Draupadi tidak bisa membuka
penyamaran Pandawa dan kemudian mengatakan bahwa dia telah menjadi istri para Gandharva. Ketika
Kichaka tidak mempercayainya, Draupadi memintanya bertemu sendirian dengannya di tengah malam
dan kemudian Kichaka dibunuh oleh Bhima.
Kala dalam pengembaraan di hutan, saat sendirian dia juga pernah dilamar oleh Jayadhrata, putra adik
perempuan Duryudana. Draupadi menolak dan ketika dipaksa naik kereta dia bertahan sampai Pandawa
datang dan Jayadhrata lari terbirit-birit.
Dendam Draupadi
Nampaknya Draupadi sangat dendam pada Kaurawa, akan tetapi sebenarnya yang terjadi tidak
demikian. Draupadi paham bahwa dharma harus ditegakkan dengan jalan memusnahkan Korawa.
Berdamai dengan Korawa tidak akan memberikan ketenangan, Korawa akan selalu berkhianat
menghalalkan segala cara.
Setelah 13 tahun masa pengasingan, Sri Krishna diminta sebagai duta perdamaian agar Pandawa
diberikan sebagian kerajaan Hastina. Draupadi menyempatkan diri menemui Krishna, dan berkata
bahwa bila terjadi perdamaian dengan Korawa, dan Pandawa melupakan penghinaan Korawa terhadap
dirinya, dia tetap masih punya 5 putra untuk membalaskan dendamnya.
Sri Krishna berkata dengan bijak, “Siapa yang menanam benih akan memetik buahnya. Apabila Korawa
yang melecehkan kamu belum menerima akibat perbuatannya, itu adalah karena buah karma mereka
belum masak. Walaupun kamu telah bisa memaafkan mereka, tetap ada orang lain yang membalas
perbuatannya, tidak perlu kamu sendiri yang membalasnya. Aku akan datang ke Korawa sebagai Duta,
sebagai pembawa peringatan agar mereka sadar dan mengembalikan hak Pandawa. Apabila peringatan
sudah datang dan mereka mengabaikannya, Alam akan menyelesaikannya dengan caranya.”
“Perasaan Sri Krishna lain, karena baginya perang itu bukanlah antara dua belah pihak berseteru. Perang
itu bukanlah antara Pandava dan Kaurava. Perang itu antara Dharma dan Adharma, antara Kebijakan
dan Kebatilan. Dan, perang antara Kebajikan dan Kebatilan tidak pernah selesai. Perang ini adalah
perang sepanjang jaman, sepanjang masa. Tidak pernah berakhir. Terjadi di medan perang dan terjadi
pula dalam diri manusia, dalam diri setiap manusia. Perang Bharatayudha masih terjadi. Perang
Bharatayudha masih berlangsung. Di dalam dirimu dan di dalam diriku. Kaurava dan Pandava ada di
dalam diri kita semua. Kesadaran kita akan memenangkan pihak yang mana, sepenuhnya tergantung
pada diri kita. Sepenuhnya kembali kepada diri kita.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak
Bangsa. One Earth Media)
Darupadi ingat bahwa saat Bhisma menjelang kematiannya, dia pernah protes dengan menangis terisak-
isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma kepada
Yudhistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu hamba dipermalukan oleh Dursasana, Kakek diam
seribu bahasa?” Bhisma yang dalam keadaan terluka parah dengan puluhan anak panah yang menancap
di tubuhnya serta sedang menunggu hari yang baik untuk meninggalkan jasadnya berucap pelan…..
“Cucuku Draupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan hatimu. Pada waktu itu aku dijamu makan oleh
Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat besar. Nuraniku memberontak melihat engkau
dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh makanan membuat aku tak berdaya. Itu adalah bagian dari
Skenario Sang Sutradara Alam agar Perang Bharatayudha terjadi. Maafkan aku Draupadi”. Draupadi
merasakan kebenaran kata kakek Bhisma, apa yang kita makan akan menjadi darah, tubuh dan otak kita.
Makanan yang diperoleh dengan menyakiti makhluk lain akan membuat kita sulit mengendalikan diri.
Ibarat kita mau ngerem kendaraan akan tetapi remnya blong.
Draupadi menjadi malu sendiri. Dalam perang Bharatayuda, Kakek Bhisma tidak mau membunuh
Pandawa, para suaminya. Kakek Bhisma juga tidak mau melawan wanita, akan tetapi Srikandi, adiknya
justru memanahnya, sehingga dia terluka dan kemudian beliau bisa dipanah oleh Arjuna. Draupadi
menjadi semakin malu, sang kakek tidak protes kepadanya, bahkan menjawabnya dengan tulus.
Darupadi merenung dalam. Pandita Drona merasa dipermalukan oleh Prabu Drupada, ayahnya.
Kemudian Pandita Drona ganti mempermalukan ayahnya dan mengambil separuh wilayah kerajaannya.
Pandita Drona kalah bertempur karena ditipu Yudistira yang mengatakan Asvattama mati dan dalam
keadaan shock dibunuh oleh Drestadyumna, adiknya. Kini Aswattama membunuh Drestadyumna dan
semua putranya. Para Korawa yang diam saja saat dia dipermalukan sudah mati semua. Duryudana dan
Dursasana yang mempermalukan dirinya pun sudah terbunuh. Kini semua anak-anaknya terbunuh.
“Membaca cerita Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah.
Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya berubah, settingnya berubah,
dekornya berubah, namun panggungnya tetap sama. Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama
manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang
untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada.
Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari. Para Kaurawa takut akan popularitas
Pandava. Pandava harus diasingkan. Para Kaurava beranggapan bahwa masa pengasingan selama
belasan tahun akan membuat para Pandava terlupakan oleh rakyat. Cara-cara klasik ini sampai saat kini
pun masih digunakan. Kita selalu takut akan persaingan, karena kita tidak percaya pada diri sendiri.
Untuk menghilangkan persaingan, kita akan melakukan apa saja; kita akan menghalalkan apa saja.”
(Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama)
Memaafkan Asvattama
Setelah Asvattama tertangkap, Drupadi berubah pikiran, “Arjuna, semuanya terjadi karena Kehendak
Hyang Widhi. Aku dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya meninggal. Bunda Gendari
telah kehilangan seluruh putranya, Bunda Kunti telah kehilangan putranya, Karna. Para ibu banyak yang
telah kehilangan putra-putranya dalam perang Bharatayuda ini termasuk diriku. Aku tidak mau
menambah kesedihan Ibu Asvattama. Lepaskanlah Asvattama!”.
Pandawa menunggu keputusan Sri Krishna kala mendengar permintaan Drupadi. Sri Krishna
mengangguk. Dan, batu permata di dahi Asvattama dilepas dan dia diusir ke derah padang pasir
Arvashtan. Bagi Asvattama ini adalah penghinaan yang sangat berat, dia merasa lebih baik dibunuh
daripada diperlakukan demikian. Tetapi demikianlah Kehendak Hyang Widhi.
Kematian Draupadi
Setelah mendengar dari Arjuna bahwa Sri Krishna telah meninggal, maka Yudhistira segera menobatkan
Parikesit sebagai Raja Hastina. Kemudia kelima Pandawa beserta Draupadi dan seekor anjing melakukan
perjalanan ke Himalaya mempersiapkan kematian mereka. Draupadi adalah yang pertama kali jatuh dan
meninggal, dilanjutkan dengan saudara-saudara Yudistira. Dan Terakhir Yudisthira meninggal.
Saat Yudhistira dibawa ke surga dia melihat Draupadi yang cantik jelita duduk di singgasana mengenakan
karangan bunga teratai. Dewa Indra berkata bahwa wanita itu adalah “Shree” yang berkenan mewujud
sebagai Putri Draupada. Dialah yang merencanakan semua drama di dunia.
Drona
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Drona
द्रोण; द्रोणाचार्य
Dalam wiracarita Mahabharata, Drona (Sanskerta: द्रोण, Droṇa) atau Dronacharya (Sanskerta:
द्रोणाचार्य, Droṇāchārya) adalah guru para Korawa dan Pandawa. Ia merupakan ahli
mengembangkan seni pertempuran, termasuk dewāstra. Arjuna adalah murid yang disukainya.
Kasih sayang Drona terhadap Arjuna adalah yang kedua jika dibandingkan dengan rasa kasih
sayang terhadap puteranya, Aswatama.
Daftar isi
1 Kelahiran dan kehidupan awal
2 Belajar kepada Parasurama
3 Dorna dan Drupada
4 Legenda Dronacharya
o 4.1 Bola dan cincin
5 Diskriminasi kasta
6 Pembalasan terhadap Drupada
7 Pertempuran di Kurukshetra
8 Kematian Dorna
9 Dorna dalam pewayangan Jawa
o 9.1 Kepribadian
o 9.2 Riwayat
o 9.3 Dorna dalam Bharatayuddha
10 Lihat pula
11 Referensi
Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam Mahabharata.[1] Bharadwaja pergi
bersama rombongannya menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat
bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi. Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya
mengeluarkan air mani yang sangat banyak. Ia mengatur supaya air mani tersebut ditampung
dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian dirawat.
Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim.
Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militer
bersama-sama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona
kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk
memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi Raja Panchala.
Drona menikahi Krepi, adik Krepa, guru di keraton Hastinapura. Krepi dan Drona memiliki
putera bernama Aswatama.
Dalam Mahabarata, Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona
tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, "Persahabatan, adalah
mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama". Dia berkata bahwa
sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena
pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada
dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil. Tetapi ia
berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya
para brahmana daripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya
tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi
membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.[2]
Legenda Dronacharya
Legenda tentang Drona sebagai guru besar dan kesatria tak terbatas pada mitologi Hindu saja,
namun dengan kuatnya memengaruhi tradisi sosial India. Drona memberi inspirasi perdebatan
tentang moral dan dharma dalam wiracarita Mahabharata.
Drona pergi ke Hastinapura dengan harapan dapat membuka sekolah seni militer bagi para
pangeran muda dengan memohon bantuan Raja Dretarastra. Pada suatu hari, ia melihat banyak
anak muda, yaitu para Korawa dan Pandawa yang sedang mengelilingi sumur. Ia bertanya
kepada mereka tentang masalah apa yang terjadi, dan Yudistira, si sulung, menjawab bahwa bola
mereka jatuh ke dalam sumur dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengambilnya kembali.
Drona tertawa, dan menasihati mereka karena tidak berdaya menghadapi masalah yang sepele.
Yudistira menjawab bahwa jika Sang Brahmana (Drona) mampu mengambil bola tersebut maka
Raja Hastinapura pasti akan memenuhi segala keperluan hidupnya. Pertama Drona melempar
cincin kepunyaannya, mengumpulkan beberapa mata pisau, dan merapalkan mantra Weda.
Kemudian ia melempar mata pisau ke dalam sumur seperti tombak. Mata pisau pertama
menancap pada bola, dan mata pisau kedua menancap pada mata pisau pertama, dan begitu
seterusnya, sehingga membentuk sebuah rantai. Perlahan-lahan Drona menarik bola tersebut
dengan tali.
Dengan keahliannya yang membuat anak-anak sangat terkesima, Drona merapalkan mantra
Weda sekali lagi dan menembakkan mata pisau itu ke dalam sumur. Pisau itu menancap pada
bagian tengah cincin yang terapung kemudian ia menariknya ke atas sehingga cincin itu kembali
lagi. Karena terpesona, para bocah membawa Drona ke kota dan melaporkan kejadian tersebut
kepada Bisma, kakek mereka.
Bisma segera sadar bahwa dia adalah Drona, dan keberaniannya yang memberi contoh, ia
kemudian menawarkan agar Drona mau menjadi guru bagi para pangeran Kuru dan mengajari
mereka seni peperangan. Kemudian Drona mendirikan sekolah di dekat kota, dimana para
pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar negeri datang untuk belajar di bawah bimbingannya. [3]
Diskriminasi kasta
Sebuah lukisan dari India, tentang adegan saat Ekalawya mempersembahkan ibu jarinya kepada
Drona.
Ekalawya adalah seorang pangeran muda dari suku Nishadha, yang datang mencari Drona
karena minta diajari. Drona tidak mau menerimanya karena ia tidak berasal dari golongan Warna
(kasta) kesatria. Ekalawya tidak terkejut, kemudian memasuki hutan, dan ia mulai belajar dan
berlatih sendirian, dengan sebuah patung tanah liat menyerupai Drona dan ia sembah. Dengan
menyendiri, Ekalawya menjadi kesatria dengan kehebatan yang luar biasa, setara dengan Arjuna.
Pada suatu hari, seekor anjing menggonggong saat ia serius melakukan latihan, dan tanpa
melihat, sang kesatria menembakkan panah lalu menancap di mulut anjing tersebut. Para
Pandawa melihat anjing itu lari, dan heran karena ada yang mampu melakukan perbuatan
tersebut. Mereka melihat Ekalawya, yang mengaku bahwa ia adalah murid Drona. Drona kaget
karena merasa tidak memiliki murid seperti Ekalawya. Kemudian Ekalawya menjelaskan bahwa
setiap hari ia belajar dengan patung yang menyerupai Drona yang ia anggap sebagai guru.
Karena merasa prestasi Arjuna akan tersaingi, Drona meminta agar Ekalawya
mempersembahkan daksina kepada sang guru sebagai tanda bahwa pelajarannya telah sempurna.
daksina yang diminta Drona adalah ibu jari Ekalawya. Ekalawya pun memotong jarinya sendiri
sehingga ia tidak bisa lagi menggunakan senjata panah.
Karna yang ingin belajar di bawah bimbingan Drona juga ditolak dengan alasan bahwa Karna
tidak berasal dari kasta kesatria. Karena merasa terhina, Karna belajar kepada Parasurama
dengan menyamar sebagai brahmana.
Pertempuran di Kurukshetra
Saat perang di Kurukshetra berkecamuk, Drona menjadi komandan pasukan Korawa. Ia
merencanakan cara yang curang untuk membunuh Abimanyu pada pertempuran di hari ketiga
belas.
Kematian Dorna
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Yudistira
Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, "Hal yang membuatku lemas dan tidak mau
mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang
kuakui kejujurannya". Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima
untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan
Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa
Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan
kejujurannya. Yudistira hanya berkata, "Aswatama mati". Sebetulnya Yudistira tidak berbohong
karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam
keterangannya ia berkata, "naro va, kunjaro va" — "entah gajah atau manusia"). Gajah bernama
Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu
kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam
perang Bharatayuddha.
Kepribadian
Resi Drona berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan,
kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar biasa serta sangat mahir dalam berperang.
Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru
anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Keris
Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).
Riwayat
Bhagawan Drona atau Dorna (dibaca Durna) waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana,
putera Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara
seayah seibu bernama Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. Ia adalah guru dari para Korawa
dan Pandawa. Murid kesayangannya adalah Arjuna. Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi,
putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang
Aswatama. Ia berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir
setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.
Dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai dan ditolong oleh
seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama, yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan
berakhir bila ada seorang satria mencintainya dengan tulus. Karena pertolongannya, maka sang
Kumbayana menepati janjinya untuk mencintai kuda betina itu. Namun karena terbawa nafsu,
Kumbayana bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung, dan kelak melahirkan
seorang putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda (bersepatu kuda), yang
kemudian diberi nama Bambang Aswatama.
Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi raja dan bergelar Prabu Drupada, ia tidak diakui
sebagai saudara seperguruannya. Kumbayana marah merasa dihina, kemudian balik menghina
Raja Drupada. Namun Mahapatih Gandamana (dulu adalah Patih di Hastinapura, saat
pemerintahan Pandu) menjadi murka sehingga terjadi peperangan yang tidak seimbang.
Meskipun Kumbayana sangat sakti ternyata kesaktiannya masih jauh di bawah Gandamana yang
memiliki(ajian ini diturunkan pada murid tercintanya, Raden Bratasena) yang memiliki kekuatan
setara dengan seribu gajah.
Kumbayana menjadi bulan-bulanan sehingga wajahnya rusak. Namun dia tidak mati dan
ditolong oleh Sangkuni yang bernasib sama (baca sempalan Mahabharata yang berjudul
Gandamana Luweng). Akhirnya ia diterima di Hastinapura dan dipercaya mendidik anak-anak
keturunan Bharata (Pandawa dan Korawa).
Dalam perang Bharatayuddha, Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa, setelah
gugurnya Bisma. Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan formasi
perang. Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumena, putera
Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi Drona akibat dendam
Prabu Ekalaya, raja negara Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumena.
Akan tetapi sebenarnya kejadian itu disebabkan oleh taktik perang yang dilancarkan oleh pihak
Pandawa dengan tipu muslihat karena kerepotan menghadapi kesaktian dan kedigjayaan sang
Resi.
Pelajaran yang dapat diambil dari sini adalah bagaimanapun saktinya sang resi, beliau sangat
sayang terhadap keluarganya sehingga termakan tipuan dalam peperangan yang mengakibatkan
kematiannya.
Drestadyumna
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Drestadyumena)
Belum Diperiksa
Drestadyumna
धृष्टद्युम्न
Drestadyumna dalam versi wayang Jawa
Tokoh dalam mitologi Hindu
Nama Drestadyumna
Ejaan
धृष्टद्युम्न
Dewanagari
Ejaan IAST Dhrishtadyumna
Prestajumna;
Nama lain
Trustajumena
Asal Kerajaan Panchala
Daftar isi
1 Arti nama
2 Kelahiran
3 Kematian
4 Drestadyumna dalam pewayangan Jawa
5 Lihat pula
Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, nama Dhristadyumna secara harfiah berarti "diagungkan karena
keberaniannya".
Kelahiran
Saat Drona berhasil merebut separuh Kerajaan Panchala dari tangan Drupada, kebencian Drona
terhadap Drupada lenyap, namun sebaliknya Drupada membenci Drona untuk selama-lamanya
dan berambisi untuk membalas dendam. Ia tahu bahwa Drona sulit dikalahkan sebab Drona
merupakan murid Bhargawa dan memiliki senjata ilahi. Akhirnya Drupada memutuskan untuk
menyelenggarakan upacara yadnya yang disebut Putrakama supaya memperoleh putera yang
bisa membunuh Drona. Dengan dibantu oleh para resi, upacara tersebut terselenggara dengan
baik. Dari dalam api upacara, munculah seorang pemuda gagah, lengkap degan baju zirah dan
senjata. Atas sabda dari langit, anak tersebut diberi nama Drestadyumna.
Kematian
Setelah perang besar berakhir, putera dari Resi Drona, yaitu Aswatama, bersama dengan Krepa
dan Kertawarma, melakukan pembalasan dendam dengan membantai hampir semua putera-
puteri, cucu, dan kerabat Pandawa, termasuk yang menjadi korban adalah Drestadyumena
sendiri, Srikandi, dan Pancawala. Pembantaian tersebut dilakukan pada malam hari, ketika
pasukan Pandawa sedang tertidur lelap. Kisah tersebut terdapat dalam kitab Sauptikaparwa.
Konon Arya Drestadyumna lahir dari tungku pedupaan hasil pemujaan Prabu Drupada kepada
Dewata yang menginginkan seorang putera lelaki yang dapat membinasakan Resi Drona yang
telah mengalahkan dan menghinanya. Drestadyumna berwajah tampan, memiliki sifat
pemberani, cerdik, tangkas dan trenginas. Ia menikah dengan Dewi Suwarni, putri Prabu
Hiranyawarma, raja negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra
lelaki bernama Drestaka dan Drestara.
Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuddha. Ia tampil sebagai senapati
perang Pandawa, menghadapi senapati perang Korawa, yaitu Resi Drona. Pada saat itu roh
Ekalaya, raja negara Parangggelung yang ingin menuntut balas pada Resi Drona menyusup
dalam diri Drestadyumna. Setelah melalui pertempuran sengit, akhirnya Resi Drona dapat
dibinasakan oleh Drestadyumna dengan dipenggal lehernya.
Drestadyumna mati setelah berakhirnya perang Bharatayudha. Ia tewas dibunuh Aswatama,
putera Resi Drona, yang berhasil menyusup masuk istana Hastina dalam usahanya menuntut
balas atas kematian ayahnya.
Ilustrasi Drona sebagai Panglima naik kereta membiarkan Abhimanyu dikeroyok Kurawa
sumber: www mazhalaigal com
“Kekayaan menjadi alasan bagi sebagai orang untuk bersuka cita dan kemiskinan menjadi alasan
bagi sebagian lagi untuk berduka. Padahal, baik kekayaan maupun kemiskinan sekedar
pengalaman ‘sesaat’, pengalaman selama hidup didunia ini. Kita tidak membawa sesuatu saat
lahir, dan tidak dapat membawa sesuatu setelah mati. Segala apa yang kita miliki sudah pasti kita
tinggalkan di sini. Moksha atau kebebasan mutlak, adalah kebebasan dari rasa suka maupun
duka, kebebasan dari pikiran maupun perasaan, sehingga aku tidak terpengaruh oleh berbagai
pengalaman, dan sensasi yang disebabkan oleh keduanya.” (Krishna, Anand. (2007). Life
Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
Akan tetapi “kemiskinan yang maya” pun menjadi nyata bagi Drona yang sangat sayang kepada
putra tunggalnya Asvattama. Drona memahami Veda, akan tetapi kemiskinan membuatnya
sangat menderita. Sang anak ingin minum susu seperti anak-anak lainnya, akan tetapi Drona dan
Krpi, isterinya tidak mampu membelinya. Kala sang istri membuatkan minuman menyerupai
susu yang dibuat dari cairan sewaktu menanak nasi, bahasa jawanya “tajin” Asvattama kecil
begitu bangga dan membawa minuman tersebut ke luar rumah dan berteriak, “Horee aku minum
susu!” Sang anak dan keluarganya menjadi bulan-bulanan penghinaan masyarakat yang tidak
menghargai ilmu “Veda” yang dimiliki Drona. Drona hanya mengelus dada dan kemudian
berupaya mencari kawan seperguruannya, Drupada, yang karena nasib baik menggantikan
mertuanya menjadi Raja Panchala, karena putra Mahkota Gandamana tidak mau menjadi raja
lebih memilih menjadi mahapatih Hastina. Hinaan yangdiperoleh dari Drupada, kawan karibnya
yang menjadi raja membuatnya mengembara penuh dendam sampai akhirnya menjadi Guru
Kerajaan Hastina, pengajar bagi Pandawa dan Korawa.
Sebagai seorang brahmana, Parashurama sangat menghormati peran brahmana dan sebelum
menghabiskan waktunya di Himalaya, dia membagi-bagikan semua harta dan ilmunya kepada
semua brahmana yang menemuinya.
“Kelompok cendikiawan atau scholars, para ulama, pada jaman dahulu disebut Kaum Brahmana.
Brahmana berani ‘mereka yang tahu’. Brahmana juga berarti ‘mereka yang tidak terikat dengan
suatu keadaan dan tempat’. Brahmana adalah orang yang ‘sepenuhnya’ dapat menerima
perbedaan, tapi tidak membeda-bedakan. Arti brahmana dan Ulama, persis sama. Ia yang
berpengetahuan, berkesadaran. Seorang Brahmana memahami Esensi kehidupan. Ia paham betul
bahwa keberagaman, kebhinekaan hanyalah manifestasi luaran. Sekedar ungkapan atau ekspresi
dari Tuhan Maha Tunggal, Yang Satu Ada-Nya. Oleh karnanya, ia tidak berkonflik dengan
keberagamaan dan kebhinnekaan. Dan, ia tidak menciptakan konflik.” (Krishna, Anand. (2006).
Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)
Parashurama memberikan harta dan hasil tapanya kepada para Brahmana. Karena hartanya sudah
habis dibagikan, maka Drona minta senjata dan bagaimana mengendalikan senjata. Oleh
Parashurama Drona diajari cara menggunakan senjata dan diberikan senjata brahmastra.
Pada suatu ketika anak-anak Pandawa dan Kurawa sedang bermain-main dan bolanya masuk
sumur. Mereka kebingungan mengambil bola tersebut. Drona datang dan minta para anak-anak
memperhatikan cara dia mengeluarkan bola. Drona membaca mantra Veda dan kemudian
melemparkan rumput satu per satu seperti panah dan akhirnya menjadi tali dari rumput dan bola
dapat ditarik keluar. Pada akhirnya Drona diangkat sebagai Guru Istana bagi para Pandawa dan
Kurawa.
Guru Dakshina
Pada zaman dahulu, seorang remaja hidup bersama “Gurukula” sampai mencapai kedewasaan.
Para murid tidak dibeda-bedakan status sosialnya oleh sang guru. Pada akhir pendidikan formal,
seorang murid memberikan Guru Dakshina untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada sang
guru. Tidak harus berupa tanah atau harta, akan tetapi sesuatu yang penting bagi kehidupan guru
tersebut. Sandipani, guru Krishna dan Balarama minta mereka menghidupkan nyawa putra sang
guru yang tenggelam di perairan Prabhasa. Dan, berhasil dilakukan oleh Krishna.
Drona yang masih dendam terhadap Raja Draupada minta murid-muridnya mengalahkan sang
raja. Dan setelah raja tersebut kalah, Drona minta separuh dari wilayah kerajaan Panchala untuk
diberikan kepada Drona.
Karna pernah minta menjadi murid dan ditolak Drona, karena Karna hanya putra angkat seorang
sais istana. Karna sakit hati dan kemudian mendengar bahwa Parashurama dalam perjalanan
mengasingkan diri ke Himalaya selalu memberikan harta dan ilmunya kepada para Brahmana
yang memintanya. Karna akhirnya menyamar sebagai brahmana dan memperoleh ilmu
keperwiraan dan memanah yang mengagumkan. Akan tetapi akhirnya Parashurama tahu kalau
Karna sebenarnya bukan seorang Brahmana dan dihari kematiannya, segala ilmu pemberian
Parashurama tidak bisa digunakannya.
Ada seorang pangeran dari Suku liar Nishada bernama Ekalavya yang memintanya menjadi
muridnya dan ditolak karena bukan kerabat raja. Ekalavya kemudian mengintip Drona
mengajarkan cara memanah kepada Pandawa dan Korawa. Ekalavya membuat patung Drona dari
tanah liat dan belajar memanah denganmenganggap patung tersebut sebagai Drona.
Pada suatu saat Ekalavya yang sedang latihan merasa terganggu oleh gonggongan suara anjing,
dan dia kemudian tanpa menoleh memanah kearah suara tersebut dan anjing tersebut terpukul
oleh pangkal anak panah dan berhenti menggonggong. Arjuna yang melihat kejadian tersebut
berkenalan dengan Ekalavya yang mengaku sebagai murid Drona. Drona beberapa saat
kemudian datang ke tempat latihan Ekalavya dan memarahinya karena dia mengaku sebagai
muridnya. Akan tetapi agar murid kesayangan tak ada tandingannya, beberapa saat kemudian
Drona minta Guru Dakshina kepada Ekalavya berupa ibu jarinya. Dengan patuh Ekalavya
menyerahkan ibu jarinya dan dia tidak bisa lagi memanah dengan sempurna.
“Pembagian masyarakat dalam empat kelompok – para cendekiawan, para pegawai negeri, para
ekonom dan para pekerja atau buruh – merupakan suatu eksperimen yang hanya dilakukan oleh
masyarakat India kuno. Kelak pengelompokan ini akan disebut kasta. Kelak pengelompokan ini
akan disebut kasta oleh orang-orang asing, padahal istilah asalnya adalah varna atau
‘pengelompokan berdasarkan tugas/sifat/potensi’. Pada jaman Mahabharat, sekitar 3000 tahun S
M, sistem ini berjalan baik. Vyaasa atau Abiyasa dalam pewayangan Jawa adalah anak di luar
nikah dari seorang wanita penjual ikan dan dari golongan (kasta) Shudra, yang sekarang
disalahartikan sebagai golongan terendah. Namun, karena bijak, Abiyasa anak di luar nikah dari
kasta Shudra mendapat gelar ‘Jagad Guru’ – guru sejagad. Ia yang menulis epos besar, epos
terpanjang dalam sejarah manusia: Mahabharat. Ia pula yang mengedit dan mengumpulkan
Veda. Contoh lain yang menarik sekali adalah bahwa para avatar di India, tidak ada yang berasal
dari golongan (kasta) Brahmin yang dianggap teratas. Mereka berasal dari golongan-golongan
lain.” (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan
bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
Dalam setiap profesi kita dapat menjadi Brahmana, tetapi lingkungan memang mempunyai
pengaruh yang besar. Profesor (Brahmana) yang mengelola universitas atas dasar untung rugi,
belum menjadi Brahmana. Pengusaha (Weisya) yang mendharma-bhaktikan hartanya bagi
penegakan dharma sudah menjadi Ksatria, bahkan ketika dia mendirikan sekolah demi tujuan
peningkatkan kesadaran masyarakat, dia telah menjadi Brahmana.
Drona diangkat sebagai panglima perang Kurawa melawan pasukan Pandawa menggantikan
Bhisma. Drona mendukung upaya Karna dan Duryodhana untuk menculik Yudhistira dalam
perang tersebut, akan tetapi upaya untuk menghancurkan mental pasukan Pandawa tersebut
digagalkan oleh Arjuna. Pada hari ketigabelas Drona minta Burisrawa dan pasukannya melawan
Arjuna, sedangkan Abhimanyu dijebak dalam gelar pasukan Chakravyuha. Drona kemudian
membiarkan para komandan Kurawa mengeroyok Abhimanyu sampai meninggal. Pada hari
kelimabelas Krishna minta Bhima membunuh Gajah Ashvattama dan berteriak bahwa
Ashvattama mati dan diikuti oleh seluruh pasukan Pandawa. Drona yang tak terkalahkan dengan
senjata Brahmastranya mulai gugup dan bertanya kepada Yudhistira, bekas muridnya yang selalu
jujur apakah benar Ashvattama meninggal. Sesuai pesan Sri Krishna, Yudhistira mengangguk
pelan dan mengatakan bahwa Ashvattama mati. Drona tidak mendengar lagi bahwa Yudhistira
melanjutkan bahwa yang mati adalah gajah Ashvattama.
Kematian Drona
Resi Atri adalah salah satu dari Sapta Rsi, tujuh makhluk bijak yang bercahaya, yang kekal, yang
bertugas membantu Brahma dalam mengurus dunia. Resi Atri juga erat kaitannya dengan perang
Bharatayuda. Kala Rsi Drona menjadi panglima Kurawa menggantikan Bhisma, dia bertindak
telengas dan membunuh ribuan prajurit Pandawa. Drona seperti kesetanan dan membunuh
musuh-musuhnya yang tak berdaya dengan kesaktiannya. Devaresi Atri sangat khawatir akan hal
ini, sehingga dia mengajak 6 devaresi lainnya turun menemui Drona. Pada saat itu Drona sedang
frustrasi mendengar kematian Asvattama, putranya, dari mulut Yudistira. Drona kehilangan
harapan dalam hidupnya dan siap mengamuk dengan kemarahan yang luar biasa besar. Para
prajurit di sekitarnya merasakan bahaya yang sangat besar yang siap meledak dari diri Drona.
Resi Atri datang menghibur Drona dan berkata, “Resi Drona, kamu adalah seorang pendeta
bijak, tindakanmu pada perang ini tidak selaras dengan status kebrahmanaanmu. Resi Drona,
kamu adalah pendeta yang terpandang dalam pengetahuan Veda, sehingga tidak pantas
melakukan tindakan yang kejam. Segera letakkan senjatamu dan kembali berpikirlah tentang
Sanatana Dharma. Aku menyesal melihat engkau membantai dengan kejam prajurit yang tidak
bersalah.” Drona sadar dan segala kemarahan serta rasa dendamnya lenyap. Pikirannya menjadi
jernih dan murni. Resi Drona duduk dalam posisi yoga dan mulai bermeditasi. Ia berfokus pada
Narayana dan memejamkan mata dan dia tidak akan pernah membuka mata lagi, karena pedang
Drestayumna, putra Raja Draupada telah membunuhnya. Ruh Drona meninggalkan tubuhnya dan
menuju kahyangan.
HARI KELIMABELAS
Di medan lain, Drona mengamuk dengan dahsyatnya. Beratus-ratus pasukan Pandawa gugur di
medan itu. Dalam keadaan seperti itu, Krishna memberi tahu Arjuna: jika perang terus
berlangsung dan Drona tetap memimpin Kaurawa, Pandawa pasti hancur. Satu-satunya
jalan adalah membunuh Drona. Dan satu-satunya cara untuk mengalahkan guru Pandawa dan
Kaurawa itu adalah dengan mengabarkan kepadanya bahwa Aswatthama, anaknya, telah gugur.
Berita itu pasti akan membuatnya kaget, sedih, putus asa, dan meletakkan senjatanya. Sebab itu,
salah seorang harus pergi menemui Drona dan mengabarkan berita itu .
Arjuna kaget mendengar saran Krishna. Ia tidak sanggup berbohong, apalagi kepada
mahagurunya. Dia akan menanggung aib. Tidak! Ia tidak setuju usul itu. Yang lain juga
menolak usul Krishna .
Setelah lama berpikir dan tidak melihat ada jalan lain, Yudhistira bangkit lalu berkata, “Ya,
baiklah akan aku pikul dosa ini.”
Dia terpaksa membohongi gurunya walau pun hati kecilnya menentang perbuatan itu. Kemudian
ia menyuruh Bhimasena melakukan sesuatu .
Bhimasena lalu mencari gajah yang namanya sama dengan nama putra Drona: “Aswatthama”.
Sesuai perintah Yudhistira, dia harus membunuh gajah yang besar, kuat, dan pandai berlaga itu.
Setelah menemukannya, Bhimasena mengangkat gadanya lalu menghantamkannya ke kepala
Aswatthama si gajah. Gajah itu langsung roboh berdebam ke tanah dan mati seketika.
Setelah gajah Aswatthama mati, Bhimasena menyelinap ke dekat kemah Drona, lalu
mengaum lantang agar terdengar oleh Mahasenapati Kaurawa itu .
Mendengar kata-kata Bhimasena, Drona langsung bangkit dan pergi menemui Yudhistira. Ia
hendak bertanya sambil dalam hati mengucapkan mantra brahmastra, “Yudhistira, benarkah
anakku telah mati terbunuh?”
Ia yakin, satu-satunya orang yang tak pernah berbohong adalah Dharmaputra. Kesatria Pandawa
itu selalu mengatakan yang sebenarnya dan tak pernah berani berbohong .
Ketika Drona bertanya kepada Dharmaputra, Krishna mengawasi mereka dengan cemas dan hati
berdebar-debar. Demikian pula Bhimasena, ia merasa ngeri dan malu karena tadi dia yang
“meneriakkan” berita itu. Yudhistira berdiri gemetaran, ngeri akan perbuatan dusta dan akibat
mantra brahmastra yang diucapkan Drona .
“Kalau sekarang engkau tidak sanggup menjawab, kita semua akan hancur. Brahmastra yang
menyertai ucapan Drona mengandung kekuatan magis untuk memusnahkan Pandawa,” bisik
Krishna kepada Yudhistira .
Mendengar bisikan Krishna, Yudhistira menjawab perlahan dengan suara lirih sekali, “Biarlah
ini menjadi dosaku.”
Lalu dengan suara jelas ia berkata kepada Drona, “Benar, Aswatthama telah mati terbunuh.”
Ucapannya itu menusuk hatinya sendiri. Ia tahu, dengan berbohong ia telah merendahkan
martabat dan pekertinya. Kemudian ia meneruskan kata-katanya dengan suara yang semakin
lirih, “Aswatthama gajah yang kuat dan mahir bertempur.” Kata gajah diucapkan sangat
lirih agar tidak terdengar oleh Drona . Yudhistira belum pernah berbicara satu
kata palsu sampai saat itu. (Setelah tindakan ini, keretanya itu turun ke bumi dan ia
menjadi seperti makhluk hidup lainnya - Admin.)
Mendengar berita itu dari mulut Yudhistira yang terkenal tak pernah berbohong, Drona langsung
lemas.
Ia yakin, ia benar-benar telah kehilangan anak yang sangat dicintainya. Semangatnya menguap,
bagaikan embun pagi disinari matahari. Semua keinginan duniawi hapus dari pikirannya, hilang
tidak berbekas sedikit pun. Drona, mahaguru dan kesatria tua yang perkasa itu terlihat pucat dan
layu .
Pada saat itu Bhimasena berkata lantang kepadanya karena kecewa terhadap bekas
mahagurunya, “Wahai guruku, sebagai brahmana engkau telah meninggalkan tugas dan
kewajibanmu sesuai varna-mu. Engkau memilih varna kesatria dengan mengangkat
senjata dan menyebabkan banyak raja, putra mahkota, dan kesatria tewas dalam perang
ini. Jika engkau tidak terlalu bernafsu atau berambisi untuk meraih kekuasaan, pastilah
kaum kesatria tidak mengalami kemusnahan seperti sekarang. Varna-mu sebagai
brahmana mengajarkan bahwa ahimsa — tindakan tanpa kekerasan— adalah dharma
tertinggi. Tetapi engkau menolak dharma itu dan memilih menjadi mahasenapati yang
memimpin pertempuran. Sekarang, setelah korban berjatuhan, engkau ingkari semuanya.
Perbuatanmulah yang membuat hidupmu penuh dosa. Dan engkau harus menerima
akibatnya.”
Drona merasa tersinggung dan terhina oleh kata-kata Bhimasena. Perasaan hampa karena
tewasnya Aswatthama, putranya, semakin parah karena hinaan Bhimasena. Dengan putus asa ia
meletakkan semua senjatanya, melepas pakaian dan atribut perangnya, kemudian duduk bersila
di keretanya untuk beryoga. Tidak berapa lama kemudian Drona kemasukan roh halus .
Pada saat itu Dristadyumna datang berlari mendekati Drona dengan pedang terhunus. Kesatria
itu hendak menghabisi brahmana yang telah banyak membunuh kaum kesatria. Tanpa bertanya-
tanya, ia melompat ke dalam kereta Drona sambil berteriak nyaring, “Mampus engkau
Brahmana!”
Dengan sekali tebas ia memenggal leher Drona. Kepala mahasenapati itu menggelinding, jatuh
tepat di di sisinya. Tetapi, ajaib! Dari leher yang terpotong itu memancar cahaya kedewaan yang
kemudian terbang ke angkasa, menuju surga, manunggal dengan Hyang Widhi .
***
***
diterjemahkan dan diceritakan kembali oleh Rachel Hutami untuk Wayang Nusantara
Kesuraman mendatangi perkemahan Kurawa mendengar berita ini, tapi di lain pihak tidak
ada perayaan di perkemahan para Pandawa. Jadi hari kelima belas telah terbukti menjadi hari
yang paling kejam selama perang di Kurusetra. Drona dengan senjata Astra dewata
dan Brahmastra telah mengambil korban dari dua puluh empat ribu Ksatria Pandawa.
Tentara Korawa itu mundur dengan panik. Raja Korawa dan para prajurit berkerumun
di bersama untuk berembuk. Aswatama sudah tidak dapat mengendalikan dirinya mendengar
kematian ayahnya yang terjadi dengan cara kejam. Dia bersumpah untuk
mengirim semua Pandawa ke dalam kematian. Kedatangan Aswatama memberi sedikit
keberanian pada pasukan Korawa. Dipimpin oleh Aswatama , tentara Korawa sekali
lagi mempersiapkan diri untuk melawan.
Para Pandawa terkejut oleh suara drum dan terompet oleh pasukan Korawa. Arjuna berkata, "Itu
adalah suara Aswatama yang memimpin tentara. Dia seperti ular yang terluka."
Aswatama memanggil astra yang paling dahsyat yang dimilikinya. Astra itu bernama
Narayanastra, yang didapat dari Dewa Wisnu. Tentara Pandawa dicekam rasa takut. Tidak ada
yang bisa berpikir bagaimana untuk menghindari atau mengatasi ini senjata yang dahsyat
itu. Bahkan Arjuna juga tidak berdaya, untuk sekali ini, Yudistira berkata bahwa dia yang
bertanggung jawab atas semua tindakan dosa yang dilakukan dalam perang seperti matinya
kakeknya Bisma oleh tipu daya, sekarang membunuh Drona gurunya. Yudistira menyediakan
diri untuk dibunuh oleh Astra yang dahsyat itu, dan ia meminta semua prajurit untuk kembali ke
kemah mereka dan tidak perlu berkabung untuknya.
Krishna memperhatikan semua ini. Dia mengatakan kepada Yudistira untuk tidak berputus asa,
juga dia tiak perlu merasa bersalah karena apa yang telah terjadi selama perang. Yudistira tidak
memiliki kendali atas semua hal ini.
Kemudian Yudistira bertanya apakah ada jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari astra yang
dikirim oleh Aswatama itu.
Krishna tersenyum dan berkata bahwa dia mengenal Narayanaastra dengan baik (ingat dia adalah
titisan Dewa Wisnu sendiri! - Admin). Sebuah jalan keluar untuk menyelamatkan diri adalah
dengan cara untuk meletakkan senjata yang dipunyai dan menyerah di depan
astra. Semakin seseorang menolak dan mencoba melawan astra tersebut, semakin kuatlah astra
itu. Seluruh prajurit Pandawa meletakkan senjata mereka, kemudian berlutut dan bersujud di
hadapan astra yang dahsyat tersebut. Mereka semua pun lolos dari bahaya kehancuran yang
mungkin diakibatkan oleh Narayanaastra.
Hanya Bima yang berdiri menantang dengan mengayunkan gada nya. Astra itu mulai menuju ke
arah Bima. Arjuna segera menyambar gada yang dipegang oleh Bima dan Krishna melindungi
Bima di bawah bayangannya. Kemarahan dari astra itu mereda.
Melihat semua kejadian ini orang yang paling kecewa adalah [Link] yang terkenal
dahsyat ini tidak berhasil membunuh seorang pun dari kubu Pandawa. Tapi Aswatam sangat
bangga bahwa semua orang telah menyerah kepadanya. Dengan demikian, dia menganggap
bahwa mereka semua mengakui kekalahan mereka. Duryodana tidak merasa puas dengan
kemenangan moral dan spiritual tersebut. Dia meminta anak dari gurunya untuk menarik astra itu
kembali. Tapi, Aswatama mengatakan bahwa itu hal yang mustahil terjadi, karena astra itu bila
berbalik akan membunuh seluruh tentara mereka (Aswatama tidak tahu rahasia bagaimana
menarik kembali astra tersebut karena Drona tidak pernah mengajarkan kepadanya - BACA
CATATAN TAMBAHAN - Admin). Harapan Duryodana untuk menang pupus sudah. Dia
sangat murung dan bermuram durja. Maka perang hari kelima belas itupun berakhir
sudah. Korawa dirudung kemurungan karena kematian Drona komandan mereka dan
kegagalan dari Narayanaastra yang dilepas oleh Aswatama.
Sumber : [Link]
BERSAMBUNG
Perbedaan SRIKANDI versi INDIA dan PERWAYANGAN
7 November 2009 pukul 2:33
Dewi Wara Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada , raja
negara Cempalareja dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua
kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari
bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka mendongak, menandakan ia putri
bersuara dencing. Bersanggul gede (nama bentuk sanggul). Berjamang dengan garuda
membelakang. Sebagian rambut terurai bentuk polos. Berkalung bulan sabit. Berkain dodot
putren (pakaian putri dalam kraton).
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata
panah. Waktu masih remaja putri ia berguru memanah pada Raden Arjuna.
Pada suatu hari Srikandi melihat Arjuna mengajar memanah gundiknya, Rarasati. Lalu datang
Srikandi pada Rarasati untuk belajar memanah. Tetapi ini sebenarnya hanya cara untuk bisa
bertemu dengan Arjuna.
Tingkah laku Srikandi ini menjadikan murka Dewi Drupadi, permaisuri Prabu Puntadewa dan
kakak perempuan Srikandi. Drupadi menganggap kurang baik perbuatan adiknya itu.
Ketika ia menonton kawinnya Arjuna dengan Sumbadra, melihat tingkah laku kedua pengantin
itu dan ingin menjadi pengantin pula. Menurut adat susila Jawa, seorang gadis dulu dilarang
melihat pengantin. Tetapi jaman berobah dan gadis-gadis mengerumuni pengantin sekarang
dianggap biasa.
Dewi Wara Srikandi pernah dipinang oleh seorang raja, Prabu Jungkungmardea dari kerajaan
Parangkubarja. Prabu Drupada tertarik untuk menerima lamaran itu, tetapi Srikandi lalu
mengadu pada Arjuna.
Srikandi dibela Arjuna dan di dalam perang yang terjadi, mati terbunuhlah Jungkungmardea.
Karena hal itulah kemudian ia diperistri juga oleh Raden Arjuna. Selanjutnya Srikandi diperistri
oleh Arjuna dengan adat kebesaran perkawinan seorang pangeran dengan seorang putri. Dalam
perkawinan tersebut mereka tidak mempunyai anak.
Tabiat Srikandi seperti laki-laki, gemar berperang dan oleh karena itu disebut juga putri prajurit.
Hingga kini, wanita-wanita yang berani menentang hal-hal yang tidak baik, terutama yang
mengenai bangsa Indonesia, disebut Srikandi-Srikandi.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab
keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Srikandi seorang putri
perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, baik di masa damai maupun di masa
perang.
Srikandi seorang putri yang gampang marah, tetapi kemarahannya lekas reda. Tanda bahwa ia
sedang marah, membikin rujaklah ia dan memakannya sambil berkata-kaca keras tak
berkeputusan. Kalau sangat marah barang-barang pecah belah dipecahkannya dan burung-burung
perkutut kepunyaan Arjuna dilepaskannya.
Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa
menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati
agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan
Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang
dendam kepada Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dipenggal kepalanya saat
sedang tidur oleh Aswatama (anak dari Pandita Durna) yang menyelundup masuk ke keraton
Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.
***
Srikandi by : Garang 76
Shikandi adalah seorang tokoh dalam wiracarita MAHABHARATA. Putra Drupada, ia berjuang
dalam perang Kurukshetra di pihak Pandawa.
Dia telah lahir di masa sebelumnya sebagai seorang wanita bernama Amba, yang ditolak oleh
Bisma untuk menikah.
Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba melakukan tapa dan penebusan dosa
besar dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Amba kemudian dilahirkan
kembali sebagai Shikhandini (wanita).
Dari dia lahir,terdengar suara dewata yang memerintahkan kepada ayahnya untuk
membesarkannya sebagai anak laki-laki. Jadi Shikhandini dibesarkan seperti pria dan mengganti
namanya Shikhandi, terlatih dalam peperangan dan akhirnya menikah.
Pada malam pernikahannya, istrinya menghinanya pada saat menyadari kenyataan sebenarnya.
Dengan maksud untuk bunuh diri, ia melarikan diri dari Pancala, tetapi diselamatkan oleh
seorang Yaksha yang bersedia untuk menukarkan kelaminnya dengan Shikhandi .
Shikhandi kembali ke keraton sebagai seorang pria dan telah menikah hidup bahagia bersama
istri dan punya anak juga. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kepada Yaksha dan
Shikhandi mati sebagai wanita.
Dalam pertempuran di Kurukshetra, Bisma mengenalinya sebagai titisan dari Amba yang terlahir
kembali, dan tidak ingin untuk melawan 'seorang wanita', sehingga dia menurunkan senjatanya.
Mengetahui bahwa Bisma akan bereaksi demikian terhadap Shikhandi, Arjuna bersembunyi di
belakang Shikhandi dan menyerang Bisma dengan tembakan anak panah yang mematikan.
Jadi, hanya dengan bantuan Shikhandi, Arjuna mengalahkan Bisma, yang telah hampir tak
terkalahkan sampai saat itu. Shikhandi akhirnya dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18
pertempuran.
Srikandi seorang putri perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, baik di masa damai maupun
di masa perang.
DEWI WARA SRIKANDI
Oktober 22, 2008 pada 5:55 pm (Tokoh wayang)
Tags: wayang
Dewi Srikandi
Dewi Wara Srikandi ialah putri Prabu Drupada di Cempalareja. Waktu remaja putri ia berguru
memanah pada Raden Arjuna. Kemudian ia diambil istri oleh Arjuna. Asal mula Srikandi
berguru memanah pada Arjuna. Waktu pengantin Arjuna dengan Dewi Wara Sumbadra, Srikandi
datang menonton, ia melihat tingkah laku kedua pengantin itu, tertariklah Srikandi ingin menjadi
pengantin.
Pada suatu hari Srikandi melihat Arjuna memanah yang diajarkan pada Rarasati, gundik sang
Arjuna, Srikandi lalu datang berguru memanah pada Rarasati. Tetapi sebenarnya kehendak itu
hanya untuk lantaran saja, supaya dapat ketemu dengan Arjuna.
Tingkah laku Srikandi yang demikian ini menjadikan murka Dewi Drupadi, permaisuri Prabu
Puntadewa, kakak perempuan Srikandi dipandang bahwa tingkah laku Srikandi itu tak baik.
Dewi Wara Srikandi pernah dipinang oleh raja Prabu Jungkungmardea di negeri Parangkubarja,
hingga ramanda Dewi Wara Srikandi Prabu Drupada tergiur menerima pinangan itu, tetapi Dewi
Wara Srikandi lalu mengadu pada Raden Arjuna, dibelalah Srikandi oleh Arjuna dan
Jungkungmardea dibunuh oleh Arjuna. Selanjutnya Srikandi diperisteri oleh Arjuna dengan adat
kebesaran secara perkawinan putera dan puteri.
Tabiat Srikandi sebagai tabiat laki-laki, gemar pada peperangan, karena itu ia disebut puteri
prajurit. Hingga masa dewasa ini, wanita-wanita yang berani menentang sesuatu yang tak baik,
terutama yang mengenai bangsa Indonesia disebut Srikandi.
Srikandi seorang puteri penjaga keamanan negeri Madukara, ialah negeri Arjuna. Perkataan-
perkataan Srikandi sedap didengarnya Serta penuh dengan senyuman. Waktu ia marah tak
tampak kemarahannya itu, akan tetapi mendatangkan takut pada siapa juga.
Srikandi seorang puteri yang suka marah, tetapi kemarahan itu lekas reda. Tanda bahwa ia
sedang marah, merujaklah ia dan dimakan sambil berkata-kata keras tak berkeputusan. Kalau
sangat marah, ada tanda memecah barang barang pecah belah, segala burung perkutut kepunyaan
Arjuna dilepas-lepaskan. Pada waktu Srikandi sedang marah ini, dapat digambarkan pada kata-
kata dalang, yang mudah mentertawakan para penonton.
Dalam perang Baratayudha Srikandi diangkat jadi panglima perang melawan Bisma., panglima
perang Kurawa, hingga Bisma tewas olehnya,
Srikandi seorang puteri perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, di masa aman dan
di masa perang. Ternyatalah bahwa Dewi Srikandi seorang puteri prajurit, tak hanya perang pada
kebiasaan perang, pun di medan perang Baratayudha berperang juga sebagai prajurit perwira.
Sehabis Baratayudha Srikandi tewas oleh Aswatama, anak Durna, lehernya dipenggal waktu ia
sedang tidur nyenyak.
BENTUK WAYANG
Dewi Srikandi bermata jaitan, hidung mancung, muka mendongak tanda babwa puteri ini
bersuara dencing. Bersanggul gede (besar). Berjamang dengan garuda membelakang. Sebagian
rambut terurai bentuk polos, berkalung bulan sabit. Kain dodot putren. Srikandi berwanda:
Goleng dan Patrem
Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak
Hardjowirogo.