0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan11 halaman

Teori Agensi dan Penghindaran Pajak

Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori dan pengajuan hipotesis penelitian, meliputi teori agen, teori sinyal, dan pengertian penghindaran pajak beserta jenis dan bentuk-bentuknya. Teori agen membahas hubungan antara pemilik perusahaan dan manajemen, sedangkan teori sinyal membahas upaya perusahaan untuk mengurangi asimetri informasi dengan memberikan sinyal kepada investor. Dokumen juga menjelaskan pen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan11 halaman

Teori Agensi dan Penghindaran Pajak

Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori dan pengajuan hipotesis penelitian, meliputi teori agen, teori sinyal, dan pengertian penghindaran pajak beserta jenis dan bentuk-bentuknya. Teori agen membahas hubungan antara pemilik perusahaan dan manajemen, sedangkan teori sinyal membahas upaya perusahaan untuk mengurangi asimetri informasi dengan memberikan sinyal kepada investor. Dokumen juga menjelaskan pen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bab II

Landasan Teori dan Pengajuan Hipotesis


I. Landasan Teori
1. Teori agen(Agency Theory)
Teori agen (Agency Theory) yaitu teori mengenai ikatan antara pemilik
perusahaan yang peranannya sebagai prinsipal dan manajemen yang mengemban
peran sebagai agen yang diberikan tugas serta wewenang oleh pemilik perusahaan
untuk mengatur perusahaan. (Jensen & Meckling, 1976), memaparkan mengenai
hubungan keagenan bahwa ikatan agensi sebagai kontrak di mana seseorang
pemilik perusahaan (prinsipal) merekrut orang lain (agen) dan
memperkerjakannya untuk menjalankan perusahaan atas nama pemilik
perusahaan, dan agen diberikan amanat untuk mempertanggung jawabkan atas
segala tugas dan wewenang yang telah diberikan oleh prinsipal. Apabila
hubungan antara manajemen (agen) dengan stakeholder dapat mencapai kerja
sama yang baik dalam keputusan perhitungan akan perpajakan hal ini dapat
meningkatkan nilai perusahaan. Namun hubungan antara prinsipal dengan agen
tidak selamanya sejalan dan hal inilah yang akan menimbulkan adanya konflik
agensi akibat adanya perbedaan kepentingan pemilik perusahaan (prinsipal) dan
manajer (agen). Prinsipal akan berupaya untuk menaikkan nilai perusahaan
dengan kegiatan penghindaran pajak agar hasil investasi bisa didapatkan setinggi
mungkin, namun pada sisi lain penghindaran pajak akan dipraktikkan agen jika
hal ini dikira mampu memunculkan kemanfaatan bagi pihak agen yang sifatnya
oppoturnistic karena pihak agen lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan
dengan begitu kepentingan prinsipal akan terabaikan.
Perubahan harga saham pada perusahaan nantinya dapat memunculkan dampak
pada nilai perusahaan. Hal ini lantaran nilai perusahaan direfleksikan oleh harga
sahamnya. Kendati didasari pada motivasi yang mungkin berbeda dengan
motivasi prinsipal, pihak agen akan meminimalkan beban pajak sehingga laba
yang diperoleh akan menjadi naik, hal ini dikarenakan semakin banyaknya laba
yang didapatkan akan diiringi dengan meningkatnya nilai perusahaan yang
memicu daya tarik para investor untuk berinvestasi. Meningkatnya laba lantaran
praktik penghindaran pajak dapat memunculkan persepsi positif dari para pelaku
pasar.
Pada sisi lain, penghindaran pajak yang dilakukan manajemen (agen) boleh jadi
tidak sesuai dengan keinginan stakeholder Ini terkait dengan risiko bahwa apabila
perusahaan terindikasi telah melakukan penghindaran pajak pada saat dilakukan
audit perpajakan maka perusahaan harus membayar lebih atas tindakan yang
dilakukan seperti hukuman yang diterima perusahaan. Juga, risiko apabila publik
mengetahui hal tersebut maka akan merusak reputasi perusahaan yang dampaknya
akan menurunkan nilai perusahaan. Di sini, praktik penghindaran pajak dapat
dipandang atau dipersepsikan secara negatif oleh pelaku pasar.
2. Teori Sinyal (Signaling Theory)
Menurut Brigham & Houston (2019) sinyal adalah suatu tindakan yang diambil oleh
manajemen perusahaan yang memberikan petunjuk bagi para investor tentang bagaimana
manajemen memandang prospek perusahaan. Teori Sinyal ini menjelaskan bahwa semua
tindakan mengandung informasi, dan hal ini disebabkan adanya asimetri informasi.
Asimetri informasi adalah suatu kondisi di mana suatu pihak memiliki informasi lebih
banyak dibanding dengan pihak lain. Teori ini memiliki dasar asumsi bahwa manajer dan
pemegang saham tidak memiliki akses informasi perusahaan yang sama, sehingga
terdapat informasi yang tidak simetri antara manajer dengan pemegang saham. Salah satu
cara perusahaan untuk dapat meningkatkan nilai perusahaan salah satu caranya yaitu
dengan mengurangi asimetri informasi tersebut.
Salah satu cara untuk mengurangi asimetri informasi adalah dengan memberikan sinyal
pada pihak luar, berupa informasi keuangan yang positif dan dapat dipercaya yang akan
mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang sehingga
dapat meningkatkan kredibilitas dan kesuksesan perusahaan (Brigham & Houston, 2019).

3. Penghindaran Pajak
a. Pengertian
Penghindaran pajak merupakan usaha dari wajib pajak dalam
pemanfaatan celah pada hukum perpajakan guna meminimalkan pembayaran
pajak1. Celah hukum ini bisa digunakan perusahaan karena tidak ada aturan
jelas tentang skemanya. suatu tindakan yang legal yang berbeda dengan
penyeludupan pajak. Biasanya perusahaan melakukan strategi-strategi atau
cara-cara yang legal sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku,
namun dilakukan dengan memanfaatkan hal-hal yang sifatnya ambigu dalam
undang-undang sehingga dalam hal ini wajib pajak memanfaatkan celah-
celah yang ditimbulkan oleh adanya ambiguitas dalam undang-undang
perpajakan.
b. Karakteristik Penghindaran Pajak
Menurut komite fiskal dari Organization for Economic Coorperation and
Development (OECD), menyebutkan bahwa penghindaran pajak atau tax
avoidance memiliki beberapa ciri atau karakteristik, yaitu:

1) Adanya unsur artifical arrangement, dimana berbagai pengaturan


seolah-olah terdapat di dalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan
karena ketiadaan faktor pajak.
2) Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes (celah) dari
undang-undang atau menerapkan ketentuan-ketentuan legal berbagai
tujuan, yang berlawanan dari isi undang-undang sebenarnya.
3) Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini di mana umumnya para
konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran
pajak dengan syarat wajib pajak menjaga serahasia mungkin.

beberapa ciri dalam penghindaran pajak atau tax avoidance yaitu:

1
Primanti Mira Zetira and Bambang Suryono, “Pengaruh Penghindaran Pajak, Profitabilitas Terhadap Biaya Hutang
Dengan Kepemilikan Institusional Sebagai Variabel Moderasi,” Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi 11 (2022),
[Link] BAB [Link].
1) Wajib pajak berusaha untuk membayar pajak lebih sedikit dari yang
seharusnya terutang dengan memanfaatkan kewajaran interpretasi
hukum pajak.
2) Wajib pajak berusaha agar pajak dikenakan atas keuntungan yang di
declare dan bukan atas keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
3) Wajib pajak mengusahakan penundaan pembayaran pajak.

c. Jenis-jenis Penghindaran Pajak


Penghindaran pajak dapat diartikan sebagai manipulasi penghasilannya
secara legal yang masih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang. Tax
avoidance tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah pelanggaran undang-
undang perpajakan karena dalam hal ini wajib pajak melakukan usaha
meminimalkan atau meringankan beban pajak dengan ketentuan yang telah
dimungkinkan oleh undang-undang pajak.
Meskipun telah di upayakan dengan menciptakan kebijakan yang memadai,
tidak jarang ditemui berbagai kendala atau hambatan atau perlawanan dalam
pemungutan pajak. Menurut Purwono (2010), jenis-jenis perlawanan yang
dilakukan dalam penghindaran pajak yaitu:

1) Perlawanan Pasif. Perlawanan pajak secara pasif merupakan perlawanan


yang keterjadiannya berkaitan erat dengan struktur ekonomi suatu negara,
perkembangan intelektual, dan teknik pemungutan pajak.
2) Perlawanan Aktif. Perlawanan aktif yang meliputi semua usaha dan
perbuatan yang secara langsung ditujukan terhadapfisik dengan tujuan
menghindari pajak melalui, penghindaran diri dari wajib pajak,
pengelakan diri dari wajib pajak, dan melalaikan pajak.

d. Bentuk-bentuk Penghindaran Pajak


Bentuk-bentuk usaha yang biasa dilakukan dalam penghindaran pajak atau
tax avoidance umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu:

1) Memindahkan subjek pajak dan/atau objek pajak ke negara-negara yang


memberikan perlakuan pajak khusus atau keringanan pajak (tax haven
country) atas suatu jenis penghasilan (substantive tax planning).
2) Usaha penghindaran pajak dengan mempertahankan substansi ekonomi dari
transaksi melalui pemilihan formal yang memberikan beban pajak yang
paling rendah (formal tax planning).
3) Ketentuan anti avoidance atas transaksi transfer pricing, thin capitalization,
treaty shopping, dan controlled foreign corporation (Specific Anti Avoidance
Rule), serta transaksi yang tidak mempunyai substansi bisnis (General Anti
Avoidance Rule).
Adapun menurut Surbakti (2012), beberapa cara yang dilakukan oleh
perusahaan dalam melakukan penghindaran pajak, antara lain yaitu sebagai
berikut:

1) Menampakkan laba dari aktivitas operasional sebagai laba dari modal


sehingga mengurangi laba bersih dan utang pajak perusahaan tersebut.
2) Mengakui pembelanjaan modal sebagai pembelanjaan operasional dan
membebankan yang sama terhadap laba bersih sehingga mengurangi utang
pajak perusahaan.
3) Membebankan biaya personal sebagai biaya bisnis sehingga mengurangi
laba bersih.
4) Membebankan depresiasi produksi yang berlebihan di bawah nilai penutupan
peralatan sehingga mengurangi laba kena pajak.
5) Mencatat pembuangan yang berlebihan dari bahan baku dalam industri
manufaktur sehingga mengurangi laba kena pajak.

a. Faktor Penyebab Penghindaran Pajak


beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya penghindaran pajak,
antara lain yaitu sebagai berikut:

1) Kesempatan (opportunities). Adanya sistem self assessment yang


merupakan sistem yang memberikan kepercayaan penuh terhadap wajib
pajak (WP) untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri kewajiban
perpajakan kepada fiskus. Hal ini memberikan kesempatan kepada wajib
pajak untuk melakukan tindakan penghindaran pajak.
2) Lemahnya penegakan hukum (low enforcement). Wajib Pajak (WP)
berusaha untuk membayar pajak lebih sedikit dari yang seharusnya terutang
dengan memanfaatkan kewajaran interpretasi hukum pajak. Wajib pajak
memanfaatkan loopholes yang ada dalam peraturan perpajakan yang berlaku
(lawfull).
3) Manfaat dan biaya (level of penalty). Perusahaan memandang bahwa
penghindaran pajak memberikan keuntungan ekonomi yang besar dan
sumber pembiayaan yang tidak mahal. Di dalam perusahaan terdapat
hubungan antara pemegang saham, sebagai prinsipal, dan manajer, sebagai
agen. Pemegang saham, yang merupakan pemilik perusahaan, mengharapkan
beban pajak berkurang sehingga memaksimalkan keuntungan.
4) Bila terungkap masalahnya dapat diselesaikan (negotiated settlements).
Banyaknya kasus terungkapnya masalah penghindaran pajak yang dapat
diselesaikan dengan bernegosiasi, membuat wajib pajak merasa leluasa
untuk melakukan praktik penghindaran pajak dengan asumsi jika terungkap
masalah dikemudian hari akan dapat diselesaikan melalui negosiasi.

b. Rumus Perhitungan Penghindaran Pajak


Menurut Budiman dan Setiyono (2012), penghindaran pajak atau tax
avoidance dapat dihitung menggunakan formula ETR (Effective Tax Rate)
perusahaan, yaitu kas yang dikeluarkan untuk biaya pajak dibagi dengan laba
sebelum pajak. Semakin besar ETR ini mengindikasikan semakin rendah tingkat
penghindaran pajak perusahaan. Adapun rumus perhitungan ETR yaitu:
𝑃𝐴𝐽𝐴𝐾 𝑇𝑈𝑁𝐴𝐼 𝑌𝐴𝑁𝐺 𝐷𝐼𝐴𝐵𝐴𝑌𝐴𝑅𝐾𝐴𝑁
CETR= 𝐿𝐴𝐵𝐴 𝑆𝐸𝐵𝐸𝐿𝑈𝑀 𝑃𝐴𝐽𝐴𝐾
Cash ETR yang dihitung dengan membandingkan pembayaran pajak dengan
laba sebelum pajak. Pembayaran pajak terdapat dalam Laporan Arus Kas
Konsolidasi, sedangkan laba sebelum pajak terdapat dalam Laporan Laba Rugi
Komperenshif.
Selain itu pengukuran menggunakan Cash ETR dapat menjawab atas
permasalahan dan keterbatasan atas pengukuran tax avoidance berdasarkan model
GAAP ETR. Semakin kecil nilai Cash ETR, artinya semakin besar penghindaran
pajaknya, begitu pun sebaliknya
4. Biaya agensi
Biaya keagenan adalah biaya internal yang timbul karena adanya persaingan
kepentingan antara pemegang saham (principals) dan tim manajemen (agents).
Biaya yang terkait dengan penyelesaian ketidaksepakatan ini dan mengelola
hubungan disebut sebagai biaya agensi.
Poin kuncinya adalah bahwa biaya ini timbul dari adanya pemisahan
kepemilikan dan kontrol. Pemegang saham ingin memaksimalkan nilai pemegang
saham (shareholder), sementara manajemen terkadang membuat keputusan yang
tidak sesuai dengan kepentingan terbaik pemegang saham (yaitu, yang
menguntungkan diri mereka sendiri).Terdapat dua kategori biaya agensi (agency
cost):
a. Biaya yang dikeluarkan ketika manajemen (agent) menggunakan sumber
daya perusahaan untuk keuntungannya sendiri.
b. Biaya yang dikeluarkan oleh pemegang saham (principal) untuk mencegah
agen (tim manajemen) memprioritaskan dirinya sendiri di atas
kepentingan pemegang saham.
Terdapat tiga jenis cara untuk mengatasi konflik keagenan (agency
conflict)yang dimana bisa menimbulkan biaya agensi (agency costs), antara
lain:
1) Monitoring cost terjadi untuk mengukur, observasi dan kontrol
perilaku agen, termasuk audit laporan keuangan, menyusun aturan
operasional. Sebagai principal, kita tidak dibebani secara langsung
biaya ini. Namun ingat, shareholders berkepentingan pada profit after
tax. Profit ini telah dikurangi dengan biaya monitoring ini. Jadi bila
monitoring cost lebih rendah, maka profit after tax akan menjadi
lebih tinggi dan deviden yang dibagikan juga diharapkan akan lebih
tinggi. Monitoring cost (atau biaya audit) ini akan lebih rendah
terjadi, hanya untuk agent yang bereputasi baik.
2) Bonding cost terjadi untuk menginstall atau implementasi
mekanisme dalam rangka memberikan jaminan bahwa keputusan
yang diambil oleh agen adalah untuk best interest of the principles.
Contoh, biaya untuk menyusun laporan keuangan yang regular untuk
creditor atau investor. Ada kontrak perjanjian juga dapat dibentuk
agar manajer tidak memberikan informasi perusahaan ke pihak
external yang mungkin akan memperoleh competitive advantage dari
informasi itu.
3) Residual loss Biasanya, monitoring and bonding costs diestimasi
malalui pengurangan remunerasi (di managerial contract) or suku
bunga yg lebih tinggi (di debt contact). Selisih antara keduanya ini
disebut residual loss. Selisih ini bisa jadi makin besar karena ada
beberapa aktivitas monitoring yang dirasa tidak cost-effective bila
diterapkan. Misal biaya perjalanan hanya untuk bisnis trip, atau
stationary (alat tulis kantor) atau biaya jamuan bisnis atau
penggunaan fasilitas kantor (mobil dinas).

5. Nilai perusahaan
a. Pengertian
Nilai perusahaan adalah kondisi yang dicapai bisnis sebagai gambaran dari
kepercayaan masyarakat sebagai konsumen terhadap kinerja dan produk
[Link] dapat dikatakan value perusahaan menjadi penilaian
investor dalam melihat tingkat keberhasilan manajemen dan pengelolaan sumber
daya serta hubungannya dengan harga saham perusahaan itu sendiri.
b. Pengukuran Nilai Perusahaan
Pengeluaran investasi memberikan sinyal positif dari investasi kepada manajer
tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga
meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan. Menurut Weston
dan Copelan (2010) pengukuran nilai perusahaan terdiri dari:
1) Price Earning Ratio (PER) Price Earning Ratio (PER) adalah perbandingan
antara harga saham perusahaan dengan earning per share dalam saham.
2) Tobin’s Q Tobin’s Q ditemukan James Tobin. Tobin’s Q adalah nilai pasar
dari aset perusahaan dengan biaya penggantinya
3) Price to Book Value (PBV) yang merupakan salah satu variabel yang
dipertimbangkan seorang investor dalam menentukan saham mana yang akan
dibeli3.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan adalah rasio nilai pasar yaitu rasio yang menggambarkan
kondisi yang terjadi di pasar. Rasio ini mampu memberi pemahaman bagi pihak
manajemen perusahaan ter- hadap kondisi penerapan yang akan dilaksanakan dan
dam- paknya pada masa yang akan datang4,Beberapa faktor yang mempengaruhi
nilai perusahaan antara lain:
1) Profitabilitas

2
Endah Prawesti Ningrum, Nilai Perusahaan (Konsep Dan Aplikasi), Angewandte Chemie International Edition,
6(11), 951–952., vol. 3, 2022, [Link]
3
Ibid.
4
Ibid.
Profitabilitas merupakan keuntungan bersih yang diperoleh oleh
perusahaan dalam menjalankan operasionalnya, di mana rasio ini mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada tingkat
penjualan, aset dan modal saham yang tertentu (Hanafi, 2014). Rasio ini juga
dapat digunakan untuk melihat seberapa efisien pengelola perusahaan dalam
mencari keuntungan untuk perusahaan. Profitabilitas ini merupakan salah satu
daya tarik utama
bagi para investor dikarenakan profitabilitas ini mencerminkan seberapa
efektifnya pengelolaan perusahaan dan perusahaan yang memiliki
profitabilitas yang tinggi lebih diminati oleh investor sehingga permintaan
akan saham perusahaan dapat meningkat yang berdampak pada meningkatnya
nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham perusahaan.
2) Kebijakan Deviden
kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau
akan ditahan dalam bentuk laba yang nantinya berguna untuk pembiayaan
investasi dimasa mendatang. Menurut Hanafi (2104) Dividen merupakan
kompensasi yang akan diterima oleh pemegang saham, di samping capital
gain, dividen yang dibagikan akan sebanding dengan jumlah lembar saham
yang dimiliki oleh investor.
Ada dua jenis dividen yaitu dividen saham preferen merupakan dividen
yang dibayarkan secara tetap dalam jumlah tertentu dan dividen saham biasa
merupakan dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham apabila
perusahaan mendapatkan keuntungan atau laba. Pembagian dividen yang
dilakukan oleh perusahaan
dapat menjadi indikasi bahwa perusahaan dapat memaksimumkan
kemakmuran para pemegang saham, pembayaran dividen juga diharapkan
dapat menjadi pertimbangan investor terhadap kinerja perusahaan dikarenakan
tinggi maupun rendahnya dividen yang dibayarkan oleh perusahaan dapat
mempengaruhi harga saham

3) Kebijakan Hutang
Kebijakan hutang merupakan keputusan pendanaan berkaitan dengan
penentuan struktur modal yang tepat bagi perusahaan. Kebijakan hutang 14
juga merupakan kebijakan yang diambil oleh perusahaan untuk melakukan
pembiayaan melalui hutang Kebijakan pendanaan ini meru pakan salah satu
kebijakan yang penting bagi peru- sahaan karena menyangkut perolehan
sumber dana untuk kegiatan operasi perusahaan.
Tingkat penggunaan hutang akan menimbulkan biaya tetap berupa beban
bunga yang dapat meningkatkan risiko bisnis, pajak perusahaan dapat
dijadikan alasan peng- gunaan hutang dikarenakan biaya bunga dapat
mengurangi perhitungan pajak dan dapat menurunkan biaya pajak yang
sesungguhnya. Penggunaan hutang sebagai kebijakan pendanaan yang
dilakukan perusahaan-perusahaan merupakan sumber pertumbuhan
perusahaan dan dapat diartikan oleh pihak luar tentang kemampuan
perusahaan untuk membayar kewajiban di masa yang akan datang atau adanya
risiko bisnis pada perusahaan
6. Transparansi
Transparansi adalah kejujuran dan keterbukaan sehingga tersusun akuntabilitas
yang pada umumnya dianggap sebagai dua pilar utama tata kelola perusahaan
yang baik, perihal inilah implikasi dari transparansi adalah bahwa semua tindakan
organisasi harus cukup teliti untuk mendapatkan pengawasan publik.
a. Tujuan Transparansi
Adapun beberapa tujuan dari adanya penerapan sistem transparansi, antara
lain;
1) Mendorong terciptanya proses komunikasi yang lebih besar dan kerja sama
antara kelompok internal dan eksternal
2) Mampu untuk memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak
seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan
3) Meningkatkan akuntabilitas dalam setiap keputusan-keputusan
4) Mampu untuk meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada pimpinan
secara keseluruhan.
b. Manfaat Transparansi
Transparansi membantu mengurangi ketidakpastian dan fluktuasi harga saham
liar karena semua pelaku pasar dapat mendasarkan keputusan nilai pada data yang
sama. Perusahaan juga memiliki motivasi yang kuat untuk memberikan
pengungkapan karena transparansi dihargai oleh kinerja saham.
Indikator kuat pertumbuhan di masa depan adalah bagaimana bisnis
menginvestasikan uangnya. Ketika seorang investor tidak dapat menemukan
informasi yang menyatakan di mana sebuah perusahaan berinvestasi, investor
tersebut cenderung tidak berinvestasi dalam bisnis tersebut. Laporan keuangan
yang tidak jelas dapat menyembunyikan tingkat hutang perusahaan, misalnya, saat
bisnis sedang berjuang dengan kebangkrutan.
Investor harus menyadari investasi dasar yang menyusun portofolionya.
Misalnya, memiliki satu saham berarti berinvestasi di satu perusahaan sementara
memiliki reksa dana berarti berinvestasi dalam sekeranjang sekuritas atau
perusahaan. Transparansi membantu menunjukkan kepada investor seberapa besar
risiko yang terlibat dengan pembelian sekuritas, yang dapat membantu dalam
membuat keputusan investasi yang lebih tepat.
Investor harus membandingkan hasil investasi mereka dengan sekuritas terkait,
tolok ukur, dan kelas aset lainnya untuk membantu menentukan bagaimana
kinerja investasi mereka. Jika sebuah saham, misalnya, berkinerja buruk
sementara industrinya berkinerja baik, itu mungkin merupakan tanda bahaya.
Dengan kata lain, pelaku pasar mungkin prihatin tentang situasi keuangan
perusahaan, prospek pendapatan, beban hutang, atau kemampuan manajemen
untuk menjalankan perusahaan secara efektif.
J. Hipotesis

Penghindaran H1
pajak (X1)
Nilai Perusahaan
(Y)

H2
Biaya Agensi (X2)
H3 H4

Transaparasi (M)

Gambar 1.3 kerangka pikir


1. Pengaruh Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan
Penghindaran pajak merupakan usaha yang dilakukan oleh manajemen untuk
mengurangi beban pajak perusahaan. Variabel penghindaran pajak digunakan
untuk mengukur bagaimana nilai perusahaan apabila terjadi pengurangan beban
pajak pada perusahaan. Chen dkk. (2014) menemukan bahwa tax avoidance
mengurangi nilai perusahaan akan tetapi pengaruhnya dapat diperkecil pada
perusahaan yang memiliki transparansi baik. Ketika perusahaan mampu
meminimalkan pengeluaran untuk keperluan perpajakan, berarti semakin sedikit
beban yang dikeluarkan oleh perusahaan5. Beban merupakan pengurang dalam
mendapatkan laba perusahaan. Semakin kecil beban yang dikeluarkan perusahaan
maka semakin besar laba yang diperoleh oleh perusahaan. Minat investor akan
semakin tinggi pada saham perusahaan yang memperoleh laba besar. Semakin
tinggi minat investor akan suatu saham maka harga saham akan mengalami
kenaikan karena jumlah saham yang beredar di masyarakat terbatas.
Penghindaran pajak di proksi kan dengan tarif pajak efektif kas (Cash ETR).
Perusahaan yang melakukan penghindaran pajak memiliki tarif pajak efektif yang
lebih kecil. Penghindaran pajak dilakukan untuk meningkatkan nilai perusahaan,
sehingga manajemen terlihat baik dimata pemegang [Link] dalam
mengambil sebuah keputusan seharusnya memperhatikan manfaat dan biaya yang
akan diperoleh oleh perusahaan. Dalam pengambilan keputusan, manfaat yang
akan diterima oleh perusahaan selayaknya lebih besar dari biaya yang
dikeluarkan. Teori agensi muncul ketika manajemen berusaha menekan rendah
pajak dengan melakukan penghindaran pajak untuk mendapatkan nilai perusahaan
yang tinggi sedangkan prinsipal tidak menginginkan adanya penghindaran pajak

5
A. F. Kurniawan and M. Syafruddin, “Pengaruh Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Dengan Variabel Moderasi
Transparansi,” Diponegoro Journal Of Accounting 6 (2017): 1–10.
6
A Anggoro, ST dan Septiani, “‘Analisis Pengaruh Perilaku Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
Transparansi Sebagai Variabel Moderating,’” Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas
Diponegoro 4 No.4 (2015): 1–10.
karena dianggap hal tersebut merupakan manipulasi laporan keuangan.
Penghindaran pajak yang dilakukan oleh manajemen juga dapat memberikan
informasi terhadap investor. Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis
merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Penghindaran pajak berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan
2. Pengaruh Biaya Agensi Terhadap Nilai Perusahaan
menemukan bahwa dengan adanya biaya agensi maka, pemegang saham dapat
mengendalikan manajemen sehingga nilai perusahaan dapat meningkat sejalan
dengan meningkatnya biaya agensi yang dikeluarkan oleh pemegang saham.
Dalam teori agensi adanya konflik kepentingan antara agen dan prinsipal akan
menimbulkan biaya berlebih yang dilakukan sebagai bentuk manajemen pajak7.
Dengan adanya biaya berlebih tersebut, diharapkan prinsipal dapat memonitor
perilaku agen dan mengurangi tindakan tertentu yang dilakukan agen yang dapat
merugikan prinsipal. Dengan insentif yang diberikan, maka manajemen dapat
meningkatkan nilai perusahaan dengan tata kelola yang baik.
H2: Biaya agensi berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan
3. Transparansi Informasi Dapat Memperlemah pengaruh Negatif
penghindaran Pajak dan Biaya agensi Terhadap Nilai Perusahaan
Analisis ini menjelaskan bahwa keterbukaan informasi atau transparansi
informasi mempunyai interaksi terhadap praktik penghindaran pajak. Perusahaan
dalam menghadapi ancaman konflik keagenan yang parah, menjadikan
transparansi informasi untuk membantu mengurangi masalah agensi di antara
pemegang saham, manajer dan pemangku kepentingan8.
keterbukaan informasi membuat pengungkapan untuk aktivitas bisnis
perusahaan berpihak dan terbuka untuk pihak pemerintah sehingga melemahnya
kemampuan perusahaan dalam menghindari pajak. Oleh karena itu, keterbukaan
informasi merupakan variabel cocok untuk menguji proposisi dari teori keagenan.
Diharapkan bahwa keterbukaan informasi dapat memoderasi hubungan antara
penghindaran pajak terhadap nilai perusahaan. Melihat keterangan di atas maka
hipotesis ketiga pada penelitian ini adalah H3: transparansi informasi dapat
memperlemah pengaruh negatif penghindaran pajak terhadap nilai
perusahaan

4. Transparansi Informasi Dapat Memperlemah pengaruh Negatif


penghindaran pajak dan biaya agensi terhadap Nilai Perusahaan
Perusahaan dalam menghadapi ancaman konflik keagenan yang parah,
menjadikan transparansi informasi untuk membantu mengurangi masalah agensi
di antara pemegang saham, manajer dan pemangku kepentingan untuk
menyesuaikan nilai pasar dengan memindahkan kas saat ini dan masa depan

7
Haqi Fadillah, “PENGARUH TAX AVOIDANCE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEPEMILIKAN
INSTITUSIONAL SEBAGAI VARIABEL MODERASI,” JIAFE (Jurnal Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi) 01, no. 1 (2018):
1–23, [Link]
8
Citra Ratusan Asa and Dwi Cahyo Utomo, “Pengaruh Praktik Penghindaran Pajak Terhadap Nilai Perusahaan Dan
Biaya Agensi Dengan Transparansi Informasi Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2015-2017),” Diponegoro Journal of Accounting 8, no. 3 (2019): 1–15.
mengalir melalui perubahan pengambilan keputusan manajemen9 .
Ketika agency cost pada suatu perusahaan tinggi, maka nilai perusahaan akan
turun. Ketika manajer berusaha melindungi dirinya sendiri dengan tata kelola
internal dan eksternal, maka manajer memiliki kesempatan untuk mendapatkan
insentif guna kepentingan pribadi manajer dengan cara mengorbankan
kepentingan pemegang saham. Hal ini terjadi karena manajer cenderung menilai
dari investasi yang dilakukan oleh pemegang saham. biaya agensi merupakan
biaya yang diberikan oleh pemegang saham untuk manajer agar dapat
menjalankan perusahaan sesuai dengan keinginan prinsipal. Dengan adanya
transparansi informasi yang kuat, kemampuan untuk terjadinya konflik
kepentingan akan rendah Melihat keterangan di atas maka hipotesis ketiga yaitu
H4: Transparansi informasi dapat memperlemah pengaruh negatif biaya
agensi terhadap nilai perusahaan.

9
Dewi Kusuma Wardani and Wahyu Tri Susilowati, “Pengaruh Agency Cost Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
Transparansi Informasi Sebagai Variabel Moderasi,” Jurnal Akuntansi Maranatha 12, no. 1 (2020): 1–12,
[Link]

Anda mungkin juga menyukai