0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan111 halaman

Perencanaan Life of Mine PT Bubuhan Jambi

Skripsi ini membahas perencanaan penambangan dan penjadwalan produksi life of mine pit barat di PT Bubuhan Multi Sejahtera. Tujuannya adalah merencanakan strategi dan metode penambangan serta merancang life of mine untuk mendukung revisi studi kelayakan akibat perubahan area penambangan. Hasilnya adalah rancangan pit, jadwal produksi, cadangan 113.530,43 ton batubara dan 307.923,52 BCM overburden.

Diunggah oleh

Tilev
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan111 halaman

Perencanaan Life of Mine PT Bubuhan Jambi

Skripsi ini membahas perencanaan penambangan dan penjadwalan produksi life of mine pit barat di PT Bubuhan Multi Sejahtera. Tujuannya adalah merencanakan strategi dan metode penambangan serta merancang life of mine untuk mendukung revisi studi kelayakan akibat perubahan area penambangan. Hasilnya adalah rancangan pit, jadwal produksi, cadangan 113.530,43 ton batubara dan 307.923,52 BCM overburden.

Diunggah oleh

Tilev
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN PENAMBANGAN DAN PENJADWALAN

PRODUKSI LIFE OF MINE (LoM) PIT BARAT DI PT.


BUBUHAN MULTI SEJAHTERA KABUPATEN
BATANGHARI PROVINSI JAMBI

SKRIPSI

WERIK DIRGA PUTRA


F1D118034

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2023
PERENCANAAN PENAMBANGAN DAN PENJADWALAN
PRODUKSI LIFE OF MINE (LoM) PIT BARAT DI PT.
BUBUHAN MULTI SEJAHTERA KABUPATEN
BATANGHARI PROVINSI JAMBI

SKRIPSI

Diajukan Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh


Gelar Sarjana pada Program Studi Teknik Pertambangan

WERIK DIRGA PUTRA


F1D118034

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2023
HALAMAN PERNYATAAN

Dengan Ini Saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya


sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau
pendapat yang tertulis atau diterbitkan orang lain kecuali acuan
kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang telah
lazim.
Tanda tangan yang tertera dalam halaman pengesahan adalah
asli. Jika tidak asli, saya siap menerima sanski sesuai dengan
peraturan yang berlaku.

Jambi, 3 Agustus 2023


Yang menyatakan

Werik Dirga Putra


F1D118034

i
PENGESAHAN

Skripsi dengan judul Perencanaan Penambangan dan Penjadwalan


Produksi Life of mine Pit Di PT. Bubuhan Multi Sejahtera Kabupaten
Batanghari Provinsi Jambi yang disusun oleh Werik Dirga Putra, NIM :
F1D118034 telah dipertahankan didepan tim Penguji pada tanggal 3
agustus 2023 dan dinyatakan lulus.

Susunan Tim Penguji :


Ketua : Dr. Lenny Marlinda, S.T., M.T.
Sekretaris : Ericson, S.T., [Link].
Anggota : 1. Yosa Megasukma, S.T., M.T.
2. Jarot Wiratama, S.T., M.T.
3. Yudi Arista Yulanda, S.T., M.T.

Disetujui :
Pembimbing 1 Pembimbing 2

Dr. Lenny Marlinda, S.T., M.T. Ericson, S.T., [Link].


NIP. 197907062008122002 NIP199104172022031006

Diketahui :

Ketua Jurusan Koordinator Program Studi


Teknik Kebumian Teknik Pertambangan

Dr. Lenny Marlinda, S.T., M.T M. Ikrar Lagowa, S.T., [Link]


NIP. 197907062008122002 NIP. 198902142019031011

ii
ABSTRAK

PT. Bubuhan Multi Sejahtera (BMS) adalah perusahaan yang


bergerak bidang pertambangan batubara di Desa Sungai Buluh
Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Rancangan penambangan dan
penjadwalan produksi merupakan salah satu parameter penting yang
harus dipenuhi sebelum melakukan kegiatan penambangan. Kegiatan
rancangan ini bertujuan agar terlaksananya penambangan yang layak
secara teknis sesuai dengan tahapan operasi produksi yang sistematis
dan terarah serta tercapainya sasaran produksi yang optimal. Adapun
permasalahan yang terjadi pada PT. Bubuhan Multi Sejahtera yaitu telah
mencapainya batas penambangan tahunan tetapi terdapat perubahan
area penambangan, dikarenakan adanya perubahan tersebut maka perlu
adanya revisi pada studi kelayakan. Studi kelayakan bertujuan untuk
merencanakan strategi dan metode penambangan sehingga rancangan
life of mine (LoM) merupakan salah hal yang sangat penting dilakukan
untuk mendukung dan menjadikan dasar atas perubahan revisi studi
kelayakan. Data primer yang diperlukan dalam penelitian adalah
orientasi lapangan sedangkan data sekunder berupa data rencana
target produksi, rekomendasi geotek lereng pit final, survey, logbor,
data ketersediaan alat mekanis dan jam kerja perusahaan. Hasil yang
diperoleh dari penelitian yaitu rancangan pit barat, penjadwalan
produksi, total cadangan batubara sebesar 113.530,43 ton dan
307.923,52 BCM Overburden dengan rata-rata SR 2,7 dan kebutuhan
jumlah alat mekanis. Terdapat 2 fleet dan setiap fleetnya terdapat 1
excavator melayani 3 articulated dump truck. Dalam penelitian ini PT.
Bubuhan Multi Sejahtera dapat menjadikan acuan untuk perubahan
revisi studi kelayakan.

iii
RIWAYAT HIDUP

Penulis Bernama Werik Dirga Putra, dilahirkan pada


tanggal 05 Agustus 1999 Di Pematang pauh, Provinsi
Jambi. Penulis merupakan putra dari pasangan
suami istri Bapak Nafrizal dan Ibu Mastuti. Penulis
beralamat di kota bangko, Kabupaten Merangin,
Provinsi Jambi. Penulis menyelesaikan pendidikan
Sekolah Dasar di SD Negeri 197 Kerinci tahun 2011,
lalu melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah
Pertama di SMP Negeri Satap 2 Merangin dan lulus pada tahun 2014. Kemudian
penulis melanjutkan Pendidikan Sekolah Menengah kejuruan di SMK Negeri 2
Merangin dan lulus pada tahun 2017. Pada tahun 2018 penulis melanjutkan
Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri, tepatnya di Universitas Jambi dan
menjadi mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Jambi.

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul
“Perencanaan Penambangan dan Penjadwalan Produksi Life of mine
(LoM) Pit barat Di PT. Bubuhan Multi Sejahtera Kabupaten
Batanghari Provinsi Jambi”. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada
PT. Bubuhan Multi Sejahtera yang telah memberikan kesempatan kepada saya
untuk melakukan tugas akhir selama 1 bulan, dengan tujuan sebagai
persyaratan mata kuliah skripsi.
Dalam penyusunan skripsi ini saya juga mendapatkan bimbingan dari
berbgai pihak, maka dari itu saya mengucapkan terimakasih kepada :

1. Drs. Jefri Marzal, [Link]., D.I.T., selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Jambi.
2. Muhammad Ikrar Lagowa, S. T., [Link]. selaku Koordinator Program
Studi Teknik Pertambangan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Jambi.
3. Dr. Lenny Marlinda, S.T. M.T, selaku dosen pembimbing utama dan bapak
Ericson, S.T., [Link]. selaku dosen pembimbing pendamping.
4. Muhammad Fajrin, S.T, selaku pembimbing lapangan di PT. Bubuhan
Multi Sejahtera.
5. Seluruh karyawan di PT. Bubuhan Multi Sejahtera.
6. Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan dan doa
dalam kegiatan magang terintegrasi penelitian akhir ini.

Semoga bimbingan dan dukungan yang telah ibu/bapak berikan kepada


saya menjadi amal ibadah dan mendapat balasan yang sebesar-besarnya oleh
Allah SWT. Jika terdapat kesalahan didalam penulisan, penulis sangat terbuka
untuk masukan, kritik dan saran sehinga akan lebih baik lagi kedepannya.

Jambi, 3 Agustus 2023


Yang menyatakan

Werik Dirga Putra


F1D118034

v
DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ............................................................................... i


PENGESAHAN ............................................................................................... ii
ABSTRAK ........................................................................................................ iii
RIWAYAT HIDUP ............................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ x
BAB I ............................................................................................................... 1
I.1 Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
I.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
I.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................................ 3
I.4 Batasan masalah ................................................................................................................. 3
I.5 Manfaat Penelitian ................................................................................................................... 3
BAB II ............................................................................................................ 4
2.1 Kondisi Geologi .......................................................................................................................... 4
2.2 Perencanaan Tambang .......................................................................................................... 5
2.3 Batubara ....................................................................................................................................... 6
2.4 Perhitungan Sumberdaya .................................................................................................... 8
2.4.1 Batubara ................................................................................................................................ 8
2.4.2 Overburden ............................................................................................................................ 9
2.5 Lereng ........................................................................................................................................... 11
2.5.1 Lereng Secara Umum .................................................................................................... 11
2.5.2 Analisis Kestabilan Lereng.......................................................................................... 11
2.5.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng ............................................... 12
2.5.4 Geometri Jenjang KEPMEN 1827 No. 555 Pasal 241 ................................... 15
2.6 Desain Tambang...................................................................................................................... 15
2.6.1 Batas Penambangan (Pit Limit) ................................................................................. 15
2.6.2 Geometri Jenjang (Bench)............................................................................................ 16
2.6.3 Sudut Jenjang (Slope).................................................................................................... 17
2.6.4 Geometri Jalan Tambang ............................................................................................ 19
2.6.5 Perhitungan Cadangan ......................................................................................... 23
2.6.6 Perhitungan Nisbah Pengupasan (Striping Rasio) ........................................... 25
2.7 Kemampuan Alat Mekanis ........................................................................................ 26
2.7.1 Produktifitas ................................................................................................................. 26
2.7.2 Fill Faktor (Factor Pengisian)........................................................................... 27
2.7.3 Swell Factor (Faktor Pengembang) ............................................................. 28
2.7.4 Cycle Time ....................................................................................................................... 28

vi
2.7.5 Efisiensi Kerja ............................................................................................................. 29
2.7.6 Match Factor.................................................................................................................. 29
2.8 Sistem Penyaliran Tambang.............................................................................................. 30
2.9 Curah Hujan ............................................................................................................................. 31
2.9.1 Periode Ulang Hujan ...................................................................................................... 31
2.9.2 Curah Hujan Rencana .................................................................................................. 32
2.9.3 Intensitas Curah Hujan ............................................................................................... 34
2.9.4 Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area) ..................................................... 34
2.9.5 Air Limpasan ..................................................................................................................... 35
2.9.6 Air Tanah ........................................................................................................................... 35
2.10 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang ................................................................. 36
2.10.1 Perencanaan Kolam Penampungan (Sump) .................................................... 36
2.10.2 Pemompaan dan pemimpaan ................................................................................. 37
2.11 Penjadwalan Produksi (Sequence) ............................................................................... 40
2.12 Rancangan Penimbunan .................................................................................................. 43
2.13 Perangkat lunak (Software)................................................................................... 44
2.14 Penelitian Terdahulu .......................................................................................................... 45
BAB III ........................................................................................................... 46
3.1 Lokasi Penelitian dan Kesampaian Daerah .................................................. 46
3.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ............................................................................... 46
3.3 Metode Penelitian ............................................................................................................... 47
3.3.1 Studi Literatur ........................................................................................................... 47
3.3.2 Data Primer ................................................................................................................. 47
3.3.3 Data Sekunder .......................................................................................................... 48
3.3.4 Pengolahan Data ..................................................................................................... 48
3.3.5 Analisis Data .............................................................................................................. 49
BAB IV .......................................................................................................... 53
4.1 Rancangan Design Pit Limit ........................................................................................ 53
4.1.1 Geometri Lereng .......................................................................................................... 53
4.1.2 Geometri Jalan Angkut .......................................................................................... 54
4.1.3 Perhitungan Cadangan ........................................................................................... 55
4.1.4 Rancangan Blok Pada Pit ...................................................................................... 56
4.1.5 Rancangan Waste dump ........................................................................................ 62
4.2 Kemampuan Alat Mekanis ........................................................................................... 65
4.3 Penjadwalan Produksi..................................................................................................... 67
4.4 Rancangan Design Pit Limit Rekomendasi ....................................................... 72
4.4.1 Geometri Lereng .......................................................................................................... 72
4.4.2 Rancangan Blok Pada Pit ...................................................................................... 74

vii
4.4.3 Perhitungan Cadangan ........................................................................................... 80
4.4.4 Rancangan Waste dump ........................................................................................ 81
4.4.5 Penjadwalan Produksi dan Pivot table ........................................................ 84
4.4.6 Rekomendasi Rancangan Penyaliran ............................................................ 89
4.5 Ringkasan Penelitian ....................................................................................................... 95
BAB V ............................................................................................................ 96
5.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 96
5.2 Saran ............................................................................................................................................. 97
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 98
LAMPIRAN………………………………………………………………………………….100

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jarak Pengeboran .............................................................................. 9


Tabel 2. Densitas material ............................................................................. 10
Tabel 3. Nilai faktor keamanan ...................................................................... 12
Tabel 4. Fill factor .......................................................................................... 28
Tabel 5. Sweel factor ...................................................................................... 28
Tabel 6. Match factor ..................................................................................... 30
Tabel 7. Hubungan derajat hujan dan intensitas curah hujan ........................ 34
Tabel 8. Koefisien limpasan ........................................................................... 35
Tabel 9. Waktu kegiatan ................................................................................ 47
Tabel 10. Pengamatan Dilapangan ................................................................ 47
Tabel 11. Faktor keamanan ........................................................................... 51
Tabel 12. Hasil Uji laboratorium .................................................................... 53
Tabel 13. Nilai Faktor Keamanan ................................................................... 54
Tabel 14. Jumlah Overburden perbulan ......................................................... 56
Tabel 15. Jumlah cadangan batubara ............................................................ 56
Tabel 16. Volume Waste dump ...................................................................... 62
Tabel 17. Perhitungan produktivitas alat gali muat ........................................ 65
Tabel 18. Perhitungan produktivitas alat angkut ............................................ 65
Tabel 19. Match Faktor ................................................................................. 66
Tabel 20. Hasil Uji laboratorium .................................................................... 73
Tabel 21. Cadangan Overburden perbulan ..................................................... 74
Tabel 22. Jumlah cadangan batubara ............................................................ 75
Tabel 23. Volume waste dump rekomendasi ................................................... 81
Tabel 24. Luasan Cathment Area ................................................................... 89
Tabel 25. Koefisien Limpasan ........................................................................ 90
Tabel 26. Perhitungan Debit air limpasan ...................................................... 91
Tabel 27. Volume Sump ................................................................................. 91
Tabel 28. Dimensi sump keseluruhan ............................................................ 94
Tabel 29. Jam kerja pompa ........................................................................... 94

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Geologi PT. Bubuhan Multi Sejahtera ...................................... 4


Gambar 2. Lapisan Batubara pada pit timur .................................................... 5
Gambar 3. Sumber daya dan cadangan ............................................................ 9
Gambar 4. Ilustrasi Pengupasan Overburden .................................................. 11
Gambar 5. Geometri Jenjang ......................................................................... 16
Gambar 6. Overalslope angle.......................................................................... 18
Gambar 7. overall slope angle with ramp ........................................................ 18
Gambar 8. interamp slope angle ..................................................................... 19
Gambar 9. Jalan Dua Jalur ........................................................................... 19
Gambar 10. Jalan pada tikungan ................................................................... 21
Gambar 11. Geometri jalan ............................................................................ 21
Gambar 12. Geometri jalan tikungan ............................................................. 22
Gambar 13. Metode Poligon ........................................................................... 25
Gambar 14. Metode Discharge ....................................................................... 39
Gambar 15. Peta Kesampaian lokasi penelitian .............................................. 46
Gambar 16. Laporan cadangan ...................................................................... 55
Gambar 17. Design blok bulan ke-1 ............................................................... 57
Gambar 18. Design blok bulan ke-2 ............................................................... 58
Gambar [Link] blok bulan ke-3 ................................................................ 59
Gambar 20. Design blok bulan ke-4 ............................................................... 60
Gambar 21. Design blok bulan ke-5 ............................................................... 60
Gambar 22. Design blok bulan ke-6 ............................................................... 61
Gambar 23. Design blok bulan ke-7 ............................................................... 62
Gambar 24. Rancangan Disposal bulan ke-1 .................................................. 63
Gambar 25. Rancangan Disposal bulan ke-2 .................................................. 63
Gambar 26. Rancangan Disposal bulan ke-3 .................................................. 64
Gambar 27. Rancangan Disposal bulan ke-4 .................................................. 65
Gambar 28. Perhitungan Faktor keamanan .................................................... 73
Gambar 29. Design blok bulan ke-1 rekomendasi ........................................... 76
Gambar 30. Design blok bulan ke-2 ............................................................... 76
Gambar [Link] blok bulan ke-3 ................................................................ 77
Gambar 32. Design blok bulan ke-4 ............................................................... 78
Gambar 33. Design blok bulan ke-5 ............................................................... 79
Gambar 34. Design blok bulan ke-6 ............................................................... 80
Gambar 35. Design blok bulan ke-7 ............................................................... 80
Gambar 36. Laporan cadangan ...................................................................... 81
Gambar 37. Rancangan rekomendasi Disposal bulan ke-1 ............................. 82
Gambar 38. Rancangan Rekomendasi Disposal bulan ke-2 ............................. 83
Gambar 39. Rancangan Rekomendasi Disposal bulan ke-3 ............................. 83
Gambar 40. Rancangan Rekomendasi Disposal bulan ke-4 ............................. 84
Gambar 41. Dimensi sump bulan ke-1 ........................................................... 92
Gambar 42. Dimensi sump bulan ke-1 ........................................................... 92
Gambar 43. Dimensi sump bulan ke-2 ........................................................... 92
Gambar 44. Dimensi sump bulan ke-2 ........................................................... 92
Gambar 45. Dimensi sump bulan ke-3 ........................................................... 93
Gambar 46. Dimensi sump bulan ke-3 ........................................................... 93
Gambar 47. Dimensi sump bulan ke-4 ........................................................... 93
Gambar 48. Dimensi sump bulan ke-4 ........................................................... 93

x
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Perencanaan penambangan bertujuan agar tercapainya
sasaran produksi yang optimal yang sesuai secara teknis dengan
tahapan operasi produksi secara sistematis dan terarah. Sehingga
dalam pelaksanaan kegiatan penambangan dibutuhkan rancangan
penambangan untuk mengatur dan mengarahkan kegiatan
produksi yang akan berlangsung. Dengan tujuan untuk
mengetahui dari awal terkait penambangan melalui optimasi
cadangan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan
beberapa parameter teknis sehingga dapat merencanakan jadwal
produksi dalam jangka waktu tertentu (Awang, 2004).
Perencanaan merupakan gagasan pada tahap awal suatu
kegiatan yang berguna untuk menetapkan apa dan karena apa
dikerjakan, kapan, siapa, dimana serta bagaimana pelaksanaan
kegiatan tersebut. Perencanaan tambang pada umumnya dimulai
dari perencanaan lokasi penambangan, rencana penambangan
mencakup perencanaan alat utama, alat penunjang dan Design pit,
penjadwalan produksi, rencana penimbunan dan pengupasan
Overburden hingga rencana reklamasi (Suyartono, 2003).
Dalam perencanaan penambangan dikenal suatu rancangan
tambang (mine Design) yang merupakan syarat utama dan harus
sesuai dengan kriteria teknis, ekonomis maupun lingkungan
sebelum dilanjutkan ke tahap produksi. Beberapa aspek penting
dalam rancangan tambang yang harus dipenuhi antara lain
penentuan cadangan terukur pada daerah pit potensial, rancangan
pit, Disposal serta ramp (road acces mining pit) berdasarkan
parameter geoteknik serta rencana produksi dan penjadwalan
produksi yang bertujuan untuk menunjang kegiatan
penambangan batubara dengan efisien kerja yang tinggi.
Perencanaan life of mine (LoM) merupakan perencanaan dengan
waktu yang dihitung dari jumlah cadangan dibagi dengan produksi
tambang perbulan ataupun pertahunnya dan merupakan
rancangan awal yang terdapat didalam studi kelayakan sebagai
acuan rancangan long term, middle term dan short term dan LoM ini
digunakan sepanjang umur tambang.

1
Rancangan pit dibuat berdasarkan penyebaran dari endapan
batubara serta stripping ratio di pit tersebut serta pengoptimalan
perhitungan cadangan tertambang berpengaruh terhadap target
produksi yang akan direncanakan. Setelah memperoleh hasil
cadangan tertambang, rencana produksi dapat terjadwal sesuai
dengan nilai tonase batubara yang harus diambil dan volume
dari tanah penutup yang harus dikupas.
PT. Bubuhan Multi Sejahtera adalah perusahaan yang
bergerak pada bidang pertambangan di Provinsi Jambi. Adapun
permasalahan yang terjadi pada PT. Bubuhan Multi Sejahtera yaitu
telah mencapainya batas penambangan tahunan tetapi terdapat
perubahan area penambangan, dikarenakan adanya perubahan
tersebut maka perlu adanya revisi pada studi kelayakan. Studi
kelayakan bertujuan untuk merencanakan strategi dan metode
penambangan sehingga rancangan life of mine (LoM) merupakan salah
satu hal yang sangat penting dilakukan untuk mendukung dan
menjadikan dasar atas perubahan revisi studi kelayakan
Penerapan perencanaan LoM atau perancangan sepanjang
umur tambang untuk kegiatan awal penambangan di PT. Bubuhan
Multi Sejahtera, seperti rancangan pit, rancangan jalan, dan
kombinasi alat mekanis dilakukan pada awal penambangan yang
bertujuan agar terlaksananya penambangan yang layak secara
teknis sesuai dengan target yang telah di tetapkan oleh
perusahaan sebesar 15.000 ton/bulan untuk mencapai tahapan
operasi produksi yang sistematis dan terarah serta tercapainya
sasaran produksi yang optimal.

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana rancangan Design pit life of mine di PT. Bubuhan Multi
Sejahtera ?
2. Bagaimana kemampuan alat mekanis yang tersedia pada PT.
Bubuhan Multi Sejahtera ?
3. Bagaimana penjadwalan produksi yang optimal melalui
kemampuan produktivitas alat mekanis ?
4. Bagaimana rancangan rekomendasi pada pit dan waste dump life
of mine di PT. Bubuhan Multi Sejahtera ?

2
I.3 Tujuan Penelitian
1. Mampu membuat rancangan Design pit life of mine di PT. Bubuhan
Multi Sejahtera.
2. Mampu menganalisis kemampuan produktivitas alat mekanis yang
tersedia.
3. Mampu membuat penjadwalan produksi berdasarkan kemampuan
produktivitas alat mekanis yang tersedia.
4. Mampu membuat rancangan rekomendasi Design pit dan waste
dump life of mine di PT. Bubuhan Multi Sejahtera.

I.4 Batasan masalah


1. Penelitian ini hanya dilakukan di PT. Bubuhan Multi Sejahtera.
2. Tidak menghitung biaya produksi.
3. Tidak menghitung kemampuan produktivitas alat pada coal
getting.
4. Rencana hanya dilakukan Life of mine tidak dilakukan dengan long
term, middle term dan Short term.
5. Pembuatan perencanaan tahapan penambangan mengunakan
Sofware tambang.
6. Geometri jalan dan jenjang mengunakan rekomendasi dari PT.
Bubuhan Multi Sejahtera.
7. Perhitungan faktor keamanan lereng berdasarkan data
perusahaan tidak melakukan uji laboratorium.
8. Tidak melakukan rancangan settling pond.

I.5 Manfaat Penelitian


1. Menambah wawasan penulis mengenai kegiatan penambangan
yang dilakukan pada PT. Bubuhan Multi Sejahtera.
2. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Strata-1
Prodi Teknik Pertambangan Jurusan Teknik Kebumian Fakultas
Sains Dan Teknologi Universitas Jambi.
3. Dapat memberi saran kepada perusahaan untuk mengetahui
memecahkan masalah yang ada.
4. Menjadi mahasiswa yang mampu menganalisis bagaimana cara
memecahkan suatu studi kasus permasalahan dengan cara
melakukan analisa sesuai dengan bidangnya, dan membangun
hubungan baik dengan perusahaan tempat dilaksanakan
penelitian.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kondisi Geologi
Secara regional batuan sedimen yang terdapat di daerah ini
termasuk dalam cekungan Sumatera Selatan bagian barat yang
disebut sebagai sub cekungan Jambi, seperti yang dijelaskan pada
peta geologi lembar sarolangun yang disusun oleh S. Suwarna, dkk
(1992) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
PT. Bubuhan Multi Sejahtera terletak di formasi muara enim
dan memiliki arah strike dan dip N 315˚ E/8˚ pada lokasi
penambangan memiliki kondisi geologi sederhana dikarenakan
tidak terdapat struktur geologi dan jenis material berupa pasiran
dan lempung. Berdasarkan dari data logbor kedudukan endapan
memiliki satu seam dengan ketebalan 4,5-5 meter dan untuk lebih
lengkap dapat dilihat pada kontur struktur roof dan floor pada
lampiran 4 dan 5.
Formasi muara enim menindih secara selaras formasi air
benakat dan menunjukkan bahwa susut laut dan pendangkalan
cekungan berlangsung menerus sampai kala pliosen. Batuannya
terdiri dari batupasir dan batulempung, sebagian tufaan, disana
juga mengandung horison lignit, dan memperlihatkan
pengendapan di lingkungan laut dangkal sampai peralihan (ke
darat). Berdasarkan posisi stratigrafinya formasi ini berumur
miosen akhir sampai pliosen (de coster, 1974). Pada gambar
dibawah ini dapat dilihat peta geologi dan terdapat juga pada
lampiran.

Gambar 1. Peta Geologi PT. Bubuhan Multi Sejahtera


(Sumber Penulis, 2023)

4
Di atas formasi muara enim ditindih secara tidak selaras oleh
formasi kasai yang berumur plio-plistosen. Formasi ini terdiri dari
batupasir dan batulempung darat, ber-batuapung dan tufaan.
Ketidak selarasan memperlihatkan pengangkatan setempat pada
pliosen akhir yang berkaitan dengan erosi terhadap pegunungan
barisan, tetapi tidak berkembang di seluruh wilayah dengan
tingkat yang sama (nayoan & martosono, 1974, gafoer dkk, 1986).
Jenis material yang berada pada daerah penelitian umumnya
didominasi oleh material jenis pasiran yang berada dibawah top soil
kemudian material dibawahnya didominasi oleh material jenis
lempungan. Berdasarkan pemodelan endapan batubara diperoleh
bahwa lapisan batubara yang terdapat pada areal penelitian terdiri
dari 1 lapisan yaitu BL1 dimana BL1 merupakan satu-satunya
seam area IUP. Pada seam batubara memiliki ketebalan rata-rata
4,5-5 m. kenampakan fisik dari seam dapat dilihat pada Gambar
dibawah ini.

Gambar 2. Lapisan Batubara pada pit timur


(Sumber Penulis, 2023)
2.2 Perencanaan Tambang
Perencanaan adalah suatu tahapan penentuan persyaratan
secara teknis urutan pekerjaan apa yang dilakukan untuk
mencapai sebuah tujuan serta sasaran kegiatan (Projosumarto,
2004). Perencanaan ialah gagasan yang terdapat pada tahap awal
suatu kegiatan yang berguna untuk menetapkan apa dan karena
apa dikerjakan, kapan, siapa, dimana serta bagaimana
pelaksanaan kegiatannya. Perencanaan tambang pada umumnya
dimulai dari perencanaan lokasi penambangan, rencana
penambangan mencakup perencanaan alat utama dan alat
penunjang dan Design pit, penjadwalan produksi, rencana
penimbunan hingga rencana reklamasi.

5
Terdapat beberapa hal penting yang harus dipahami pada
perencanaan tambang pada tambang terbuka. Hal tersebut
adalah jenis bahan galian tambang, besaran target produksi
tambang, lokasi bahan galian, bentuk dan persebaran bahan
galian serta posisi bahan galian tersebut yang berada dibawah
permukaan topografi. jenis alat mekanis utama dan penunjang
yang tersedia, sarana dan prasarana apa yang sudah ada dan
belum ada pada daerah keberadaan bahan galian, bagaimana
kondisi lingkungan dan sosial masyarakat pada lokasi yang akan
dilaksanakan kegiatan penambangan.
Perencanaan tambang dibagi menjadi empat macam yaitu :
a. Perencanaan tambang longterm (jangka panjang), adalah
suatu perencanaan kegiatan penambangan yang rentang
waktunya lebih dari lima tahun secara berkelanjutan.
b. Perencanaan tambang middleterm (jangka menengah), adalah
suatu perencanaan kegiatan penambangan yang rentang
waktunya antara satu sampai lima tahun.
c. Perencanaan tambang shortterm (jangka pendek), adalah
suatu perencanaan penambangan yang rentang waktunya
kurang dari setahun, mencakup antara satu bulan sampai
enam bulan, tiga bulan, satu bulan hingga perminggu, yang
berfungsi untuk kelancaran perencanaan middleterm dan
longterm.
Perencanaan tambang jangka pendek dilakukan dengan cara
membandingkan rencana bulanan dengan jumlah volume material
yang dibongkar dari hasil survey di akhir bulan sebelumnya
(Suhairi et al., 2018). Pada kegiatan penambangan, rencana awal
dan kondisi aktual di lapangan sering tidak sesuai.
Ketidaksesuaian ini diantaranya adalah overcut (kelebihan
penggalian), undercut (kekurangan penggalian), dan overstripping
(pengupasan melebihi target posisi yang ditentukan) (Ibrahim,
2015).
2.3 Batubara
Batubara adalah batuan karbonat berbentuk padat, rapuh,
berwarna coklat tuasampai hitam, dapat terbakar, yang terjadi
akibat perubahan tumbuhan secara kimia dan fisik. Batubara
secara geologi termasuk golongan batuan sedimen organo klastik.
Lingkungan pembentukan batubara sendiri harus merupakan

6
cekungan anaerob, yaitu tidak ada oksigen yang terlibat dalam
prosesnya (Arif, 2014).
Secara umum klasifikasi batubara di Indonesia dibagi
menjadi brown coal dan hard coal (SNI13-6011-1999, 1999).
Brown coal (batubara energi rendah) adalah jenis batubara dengan
peringkat paling rendah, bersifat lunak, mudah diremas,
mengandung air yang tinggi (10-70%) dengan nilai kalori <7000
kalori/gram. Hard coal didefinisikan sebagai semua jenis batubara
yang memiliki peringkat lebih tinggi dari brown coal, bersifat lebih
keras, tidak mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang
relative rendah, umumnya struktur kayu tidak tampak lagi, dan
relative tahan terhadap kerusakan fisik pada saat penanganan
dengan nilai kalori >7000 kalori/gram.
Menurut Sukandarrumidi (2014), Batubara merupakan
endapan organic yang mutunya sangat ditentukan oleh beberapa
factor antara lain tempat terdapatnya cekungan, umur dan
banyaknya kontaminasi.
Secara umum untuk menentukan kualitas batubara yaitu
sebagai berikut :
1. High heating value (Kcal/kg)
High heating value sangat berpengaruh terhadap
pengoperasian alat seperti :
-pulverizer
-pipa batubara, wind box
-burner
Semakin tinggi High heating value maka aliran batubara
setiap jamnya semakin rendah, sehingga kecepatan coal
feeder harus disesuakan.
2. Total moisture (%)
Kandungan air total (total moisture) merupakan jumlah
kandungan air yang terdapat pada batubara dalam bentuk
inherent dan adherent pada kondisi batubara diambil (as
sampled) atau diterima (as received).
3. Volatile matter (%)
Volatile matter merupakan zat aktif yang terdapat pada
batubara yang menghasilkan energi atau panas apabila
batubara tersebut dibakar, sehingga zat terbang merupakan
zat aktif yang mempercepat proses pembakaran. moisture

7
tinggi akan membutuhkan udara primer lebih banyak.
4. Ash (%)
Kandungan abu akan terbawa ngas pembakaran melalui
ruang bakar dan daerah konveksi dalam bentuk abu abu
terbang atau abu dasar.
5. Sulfur (%)
Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat korosi
sisi dingin yang terjadi pada elemen pemanas udara,
terutama apabila suhu kerja lebih rendah dari letak embun
sulfur.
6. Coal size (<3 mm, 40 mm, 50 mm)
Ukuran Butir batubara dibatasi pada rentang butir halus
dan butir kasar. Butir paling halus untuk ukuran <3mm,
sedangkan untuk ukuran paling kasar sampai 50 mm.
7. Fixed carbon (%)
Fixed carbon menyatakan banyaknya karbon yang
terdapat dalam material sisa setelah zat terbang (volatile
matter) dihilangkan. Nilai fixed carbon sangat mempengaruhi
kualitas suatu batubara, karena semakin tinggi nilai fixed
carbon maka kualitas batubara semakin meningkat.
8. Ultimate analysis
Ultimate analysis merupakan analisa bahan bakar yang
ditinjau dari sisi kimiawi berupa kadar komposisi kimia.
Kadar komposisi kimia yang didapat dari hasil ultimate
analysis berupa kadar Carbon, Hydrogen, Oxygen, Nitrogen
dan Sulfur.

2.4 Perhitungan Sumberdaya


2.4.1 Batubara
Menurut SNI 5015:2011 tentang pedoman sumber daya
dan cadangan batubara bahwa sumber daya batubara diartikan
sebagai bagian dari endapan batubara yang keberadaan,
kualitas, kuantitas dan kemenerusannya telah diketahui dan
memiliki nilai tambang ekonomis.
Sumber daya batubara dibagi menjadi 3 :
1. Sumber daya batubara tereka adalah bagian dari total estimasi
sumber daya batubara dimana kualitas serta kuantitasnya
diperkirakan dengan tingkat kepercayaan rendah.

8
2. Sumber daya batubara tertunjuk adalah bagian dari total
sumber daya yang tingkat keyakinan masuk akal berdasarkan
titik-titik informasi pengamatan.
3. Sumber daya batubara terukur adalah bagian dari total sumber
daya batubara dengan tingkat kepercayaan yang tinggi
berdasarkan titik-titik informasi pengamatan.

Gambar 3. Sumber daya dan cadangan


(Sumber SNI 5015:2011)
Tabel 1. Jarak Pengeboran
Sumberdaya
Kondisi Geologi Kriteria
Tereka Tertunjuk Terukur
Sederhana Jarak titik informasi (m) 1000<x ≤1500 500<x≤1000 ≤ 500
Moderat Jarak titik informasi (m) 500<x≤1000 250<x≤500 ≤ 250
Kompleks Jarak titik informasi (m) 200<x≤400 100<x≤200 ≤ 100
(Sumber SNI 5015:2011)
2.4.2 Overburden
Tanah penutup (Overburden) merupakan material yang
terdapat di permukaan dan sifatnya dapat dikatakan lepas.
Overburden terdiri dari tiga jenis material yaitu material top
soil, common soil dan rock (Tenriajeng, 2003).
Definisi dari ketiga jenis material tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Top Soil
Top soil merupakan materi bagian atas yang sifatnya
lunak dan mudah digali. Contoh material top soil adalah
material eks-penimbunan dan memiliki kedalaman kurang

9
lebih 2 m. Karena sifat dari materi top soil yang lunak dan
mudah digali maka penggaliannya cukup dengan
menggunakan Excavator backhoe. Adapun material top soil
yang digali berupa tanah yang mengandung humus.
2. Common Soil
Common soil merupakan material yang sifatnya agak
keras dan agak sulit digali, sehingga penggaliannya tidak
dapat menggunakan Excavator, melainkan terlebih dahulu
harus di-ripping menggunakan bulldozer. Material yang
termasuk common soil adalah shale, sillsstone, clay, dan lain-
lain.
3. Rock
Rock merupakan material yang sangat keras dan sulit
digali dengan menggunakan alat berat sehingga untuk
melepaskan material rock yaitu dengan peledakan. Material
yang termasuk rock adalah granit, andesit, sandstone dan
lain-lain.
Tabel 2. Densitas material
Tipe Batuan Rentang Densitas (Gr/Cc) Densitas Rata-Rata (Gr/Cc)
Overburden 1,92 1,92
Soil 1,20-2,40 1,92
Clay 1,63-2,60 2,21
Gravel 1,70-2,40 2
Sand 1,70-2,30 2
Sandstone 1,61-2,76 2,35
Shale 1,77-320 2,4
Limestone 1,93-2,90 2,55
Dolomite 2,28-2,90 2,7

(Sumber Tenriajeng, 2003)

10
Gambar 4. Ilustrasi Pengupasan Overburden
(Sumber Tenriajeng, 2003)
2.5 Lereng
2.5.1 Lereng Secara Umum
Menurut Akbar (2020), Lereng merupakan setiap bagian
permukaan yang memotong material di alam dan memiliki
kemiringan tertentu terhadap bidang horizontal, secara umum
lereng terbagi atas 3 bagian, yaitu :
1. Lereng alam yaitu lereng yang terjadi akibat proses alamiah,
misalnya lereng pada perbukitan.
2. Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan misalnya
tanggul atau bendungan urungan tanah.
3. Lereng yang dibuat dalam pada tanah asli misalnya tanah
dipotong untuk pembuatan jalan atau saluran air irigasi.
Menurut Syafar (2017), Geometri lereng merupakan
kenampakan visual yang terdapat di lapangan. Pengukuran
geometri lereng dapat dilakukan dengan menggunakan total
station untuk mengetahui tinggi lereng, jarak datar dan sudut
kemiringan lereng. Kemiringan dan tinggi suatu lereng sangat
mempengaruhi kemantapannya. Semakin besar kemiringan dan
tinggi suatu lereng maka kemantapannya semakin kecil.
2.5.2 Analisis Kestabilan Lereng
Kestabilan lereng dalam suatu pekerjaan yang diakibatkan
oleh kegiatan penggalian maupun kegiatan penimbunan
merupakan masalah yang harus diperhatikan. Hal ini sangat
berkaitan degan kerugian yang mungkin timbul jika terjadi
suatu kelongsoran.
Tingkat kestabilan pada suatu rancangan lereng perlu di

11
ukur dengan menggunakan suatu standar yaitu Faktor
Keamanan (FK). FK merupakan suatu fungsi antara gaya yang
menahan longsoran dan juga gaya yang menyebabkan longsoran
(Azizi & Handayani, 2011)
Tabel 3. Nilai faktor keamanan
kriteria dapat diterima
Jenis Lereng keparahan longsor
FK Statis FK Dinamis Probabolitas Longsor
Lereng Tunggal Rendah-Tinggi 1,1 Tidak ada 25-50%
Rendah 1,15-1,2 1,0 25%
Inter-ramp Menegah 1,2-1,3 1,0 20%
Tinggi 1,2-1,3 1,1 10%
Rendah 1,2-1,3 1,0 15-20%
Lereng Keseluruhan Menegah 1,3 1,05 10%
Tinggi 1,3-1,5 1,1 5%
(Sumber : KEPMEN ESDM 2018)
2.5.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng
Menurut Herlambang, dkk (2020), Kemantapan atau
kestabilan suatu lereng tergantung pada besarnya gaya penahan
dan gaya penggerak yang terdapat pada bidang gelincirnya. Gaya
penahan adalah gaya yang menahan terjadinya suatu longsoran
sedangkan gaya penggerak merupakan gaya yang menyebabkan
terjadinya longsoran.
Menurut Bria & Isjudarto (2017), Faktor yang
mempengaruhi kestabilan lereng. secara umumnya stabil atau
tidaknya suatu lereng tergantung dari beberapa faktor, antara
lain:
1. Geometri Lereng
Geometri lereng meliputi bentukan lereng, baik tinggi
lereng dan besar sudut lereng. Kemiringan dan tinggi suatu
lereng sangat mempengaruhi kestabilannya. Semakin besar
kemiringan dan ketinggian suatu lereng, maka kestabilan
semakin berkurang.
2. Struktur batuan
Struktur batuan yang sangat mempengaruhi kestabilan
lereng adalah bidang-bidang sesar, perlapisan dan rekahan.
Struktur batuan tersebut merupakan bidang-bidang lemah
(diskontinuitas) dan sekaligus sebagai tempat merembesnya air,
sehingga batuan lebih mudah longsor. Jika orientasi umum
bidang-bidang lemah tersebut searah dengan arah lereng dan
kemiringan bidang lemah lebih landai dari kemiringan bidang

12
lereng. Maka struktur tersebut mempunyai pengaruh langsung
yang lebih besar terhadap stabilitas lereng, sebaliknya jika arah
dan kemiringan bidan lereng berlawanan maka struktur bidang
lemah tersebut mempunyai pengaruh langsung yang lebih kecil
terhadap stabilitas lereng. Struktur geologi mempunyai
kemantapan lereng adalah adanya bidang ketidakmenerusan.
Hal yang paling penting dalam bidak ketidakmenerusan adalah
adanya pengaruh tekanan air yang berada pada saat rekahan
ditarik. Sekain adanya rembesan air pada bidang
ketidakmenerusan tersebut, rekahan tarik juga akan terisi oleh
material pengisi yang dapat memisahkan dua sisi batuan,
batuan tersebut akan memiliki kuat geser yang kecil untuk
menahan potensi longsoran. Kondisi bidang lemah dan
penyebaran perlu diketahui untuk menentukan arah dan jenis
longsoran yang terjadi pada massa batuan tersebut. Bila jenis
longsoran diketahui, maka lebih mudah untuk 8 menentukan
geometri yang mantap dengan melakukan analisa kestabilan
lereng.
3. Kandungan Air Tanah
Kandungan air tanah sebagai moisture tanah pada lereng
yang bersangkutan akan memberikan tambahan beban yang
besar pada lereng. Selain itu juga, kondisi material yang jenuh
dengan air tanah akan mengalami penurunan kekuatan geser
akibat adanya tekanan air pori di dalam tubuh material tersebut.
Penambahan air tanah pada pori-pori tanah atau batuan akan
memperbesar beban dan pada akhirnya menimbulkan gaya
penggerak yang dapat mengakibatkan terjadinya longsor.
Kondisi air tanah yang dimaksud disini adalah ketinggian level
air tanah yang berada di bawah permukaan lereng yaitu adanya
tekanan ke atas dari air pada bidang-bidang lemah yang secara
efektif mengurangi kekuatan geser dan mempercepat proses
pelapukan dari batuan.
4. Berat beban
Berat beban yang di tanggung oleh lereng Pada suatu lereng
yang menanggung beban massa, semakin berat beban yang
ditanggung lereng maka semakin besar potensi lereng untuk
mengalami pergerakan
5. Sifat fisik dan Sifat Mekanik Batuan

13
a. Sifat Fisik Batuan
Sifat fisik batuan terdiri dari :
• Bobot isi asli (natural density)
• Bobot isi kering (dry density)
• Bobot isi (saturated density)
• Berat Jenis Semu (apparent specific gravity)
• Berat jenis sejati (true specific gravity)
• Kadar air asli (natural water content),
• Saturated water content (absorption).
• Derajat kejenuhan
• Porositas
b. Uji sifat Mekanik
Uji kuat tekan (Unconfiend Compression Strength/UCS)
dari data hasil pengujian kuat tekan, dapat digambarkan
kurva tegangan-regangan (stress–strain) untuk tiap
percontohan batuan, Kemudian dari kurva ini dapat
ditentukan sifat mekanik batuan:
• Kuat tekan (σc)
• Batas elastik (σE)
• Modulus young 9
• Poisson’s ratio : pada tegangan σ1
c. Uji triaksial
Salah satu uji yang terpenting di dalam mekanika
batuan, untuk menentukan kekuatan batuan dibawah tiga
komponen tegangan adalah uji triaksial. Contoh yang
digunakan berbentuk silinder dengan syarat-syarat sama
pada uji kuat tekan : Dari uji tiraksial dapat ditemukan:
• Strength envelope (kurva intrinsic)
• Kuat geser (shear strength)
• Sudut geser dalam (Φ)
• Kohesi (C)
d. Uji geser Langsung
Uji ini digunakan untuk mengetahui kuat geser batuan
pada tegangan normal tertentu. Dari hasil uji dapat
ditentukan:
• Garis coulomb’s shear strength
• Kuat geser (shear strength)

14
• Sudut geser dalam (Φ)
• Kohesi (C)
6. Gaya dari luar
Gaya-gaya dari luar yang dapat mempengaruhi
(mengurangi) kestabilan suatu lereng adalah :
• Getaran yang diakibatkan oleh gempa.
• Peledakan di dekat lereng.
• Pemakaian alat-alat mekanis yang berat.
2.5.4 Geometri Jenjang KEPMEN 1827 No. 555 Pasal 241
a. Kemiringan, tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan
aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari
material atau benda jatuh
b. Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang
mengandung pasir, tanah liat, kerikil, dan material lepas lainnya harus:
1. Tidak boleh lebih dari 2,5 m apabila dilakukan secara manual.
2. Tidak boleh lebih dari 6 m apabila dilakukan secara mekanik.
3. Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan
dragline, bucket whell Excavator atau alat sejenis kecuali mendapat
persetujuan Kepala Inspeksi Tambang.
c. Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak
tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual.
d. Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang
dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat, maka tinggi jenjang
maksimum untuk material kompak 15 m, kecuali mendapat persetujuan
Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang.
e. Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila Tinggi jenjang keseluruhan
pada sistem penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap
jenjang lebih dari 15 m
f. Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1,5 kali tinggi jenjang atau
disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja
dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (Safety
Berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari
kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-
tanda kelemahan lainnya.
2.6 Desain Tambang
2.6.1 Batas Penambangan (Pit Limit)
Batas penambangan (Pit Limit) merupakan batas akhir atau
paling luar dari suatu tambang terbuka. Faktor-faktor yang

15
mempengaruhi pit limit adalah :
1. Stripping Ratio (SR) yang masih diizinkan dan ekonomis
2. Karakteristik batuan pembentuk lereng mencakup sifat fisik
dan mekanik serta keberadaan struktur geologi yang
dominan Tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan
batas-batas penambangan batubara (yakni jumlah
cadangan dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai
bersih total dari endapan batubara tersebut.
2.6.2 Geometri Jenjang (Bench)
Karena letak batubara berada dilapisan bawah dari
permukaan dan tertutup oleh lapisan tanah penutup, maka
untuk mencapai lapisan batubara itu biasanya dibuat
jenjang/bench. Suatu jenjang yang dibuat harus mampu
menampung dan mempermudah pergerakan alat-alat mekanis
pada saat aktivitas pengupasan tanah penutup dan
pengambilan endapan.
Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng
jenjang tunggal dan lebar jenjang. Rancangan geoteknik
jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-
parameter untuk ketiga aspek ini:

Gambar 5. Geometri Jenjang


(Sumber Bargawa, 2018)
1. Lebar jenjang
Lebar jenjang (bench width) adalah jarak datar dari
ujung lantai jenjang hingga belakang lantai jenjang. Lebar
jenjang ditentukan berdasarkan faktor keamanan. Tujuan
pembuatan jenjang adalah untuk menahan tanah atau
batuan yang runtuh. Pembersihan berkala pada jenjang ini
dilakukan menggunakan bulldozer kecil atau motor grader.

16
2. Tinggi Jenjang
Tinggi jenjang (bench height) adalah jarak vertikal dari
ujung bawah jenjang hingga atas ujung atas jenjang.
Biasanya alat muat yang digunakan harus mampu mencapai
crest (bagian atas jenjang). Apabila diinginkan peningkatan
dimensi jenjang maka ukuran alat muat harus
menyesuaikan dengan pertimbangan tersebut.
3. Sudut kemiringan Jenjang
Lereng tunggal (single slope) merupakan lereng yang
dibentuk oleh crest dan toe. Lereng keseluruhan (overall
slope) merupakan lereng yang dibentuk oleh keseluruhan
jenjang. Kemiringan overall slope diukur dari crest paling
atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan.
Pada umumnya pekerjaan penggalian yang dilakukan
memakai alat gali mekanis seperti backhoe atau shovel
dipermukaan jenjang akan menghasilkan sudut lereng
antara 60–70˚. Biasanya sudut lereng yang lebih curam
memerlukan peledakan pre-splitting.
Menurut Hustrulid, dkk (2013), Pada tambang terbuka,
jenjang digambarkan dengan kaki lereng (toe), puncak (crest)
dan sudut muka jenjang (face angle) dan lebar jenjang (bench
width). Permukaan bagian atas dan bagian bawah jenjang
dipisahkan oleh jarak (H) yang disebut dengan tinggi jenjang.
Lebar bench adalah proyeksi horizontal dari muka jenjang.
Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang, yaitu:
1. Sasaran produksi dan stripping ratio
2. Kondisi Overburden
3. Kondisi dan karakter cebakan batubara
4. Peralatan yang digunakan
5. Penimbunan material
2.6.3 Sudut Jenjang (Slope)
1. Overall slope angle
Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari
keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan.
Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe
paling akhir dari front penambangan.

17
Gambar 6. Overalslope angle
(Sumber Bargawa, 2018)
Pada awalnya sebuah Design pit dibuat dengan overall slope
sebesar 45° dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi
geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut. Batter dapat
diatur pada kemiringan 30-35° untuk Overburden, meningkat
35-40° untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan
fresh. Menurut Robert, Hook dan Fish (1972) sebaiknya
kemiringan lereng kurang dari 60 ° pada kedalaman 65 m dan
kurang dari 400 m pada kedalaman 300 m.
2. Overall slope angle with ramp
Pengertiannya sama, namun pada bagian pertengahan
Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya
lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut.

Gambar 7. overall slope angle with ramp


(Sumber Bargawa, 2018)

18
3. Interamp Slope Angle
Interramp slope angle merupakan sudut yang berada
diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada
ramp.

Gambar 8. interamp slope angle


(Sumber Bargawa, 2018)
2.6.4 Geometri Jalan Tambang
Penampang melintang yang khas melalui jalan angkut
tambang yang membawa lalu lintas dua arah. Seperti yang dapat
dilihat, ada tiga komponen utama yang perlu dipertimbangkan:
a) lebar jalur lalu lintas,
b) tanggul pengaman,
c) parit drainase

Gambar 9. Jalan Dua Jalur


(Sumber Kennedy, B. 2009)
Menurut Couzens (1979), Lebar masing-masing jalur
dijumlahkan untuk mendapatkan lebar jalan total. Kriteria lebar

19
untuk lajur yang dilalui pada segmen pengangkutan lurus harus
didasarkan pada kendaraan terlebar yang digunakan. Manual
AASHO 1965 untuk Desain Jalan merekomendasikan bahwa setiap
lajur perjalanan harus menyediakan ruang bebas ke kiri dan kanan
sebesar setengah dari lebar kendaraan. Jalan dua arah yang paling
umum di tambang terbuka, aturan praktisnya adalah bahwa lebar
jalan tidak boleh kurang dari empat kali lebar truk yaitu Lebar jalan
≥ 4 × Lebar truk.
Menurut Kaufman, dkk (1977), Faktor-faktor yang harus
diikuti dalam menentukan desain jalan adalah sebagai berikut :
1. Tentukan lebar semua peralatan yang mungkin harus melalui
jalan angkut.
2. Minta data dimensi untuk semua alat berat baru yang
diantisipasi.
3. Tentukan lebar keseluruhan dari setiap kombinasi peralatan
yang mungkin terlibat dalam situasi berpapasan.
4. Tentukan lokasi segmen jalan yang membutuhkan lebar yang
lebih besar dari lebar normal.
Pada jalan menikung jarak harus ditambah karena posisi
kendaraan yang menggantung dan meningkatnya kesulitan
mengemudi.
Untuk kombinasi kecepatan dan panjang jari-jari tertentu,
gaya sentrifugal akan sama atau melebihi gaya penahan. Dalam
kasus seperti itu, kendaraan akan tergelincir ke samping. Untuk
membantu kendaraan yang melewati tikungan, maka adanya
kemiringan pada jalan menikung atau superelevasi. superelevasi
(kemiringan melintang) dapat dipilih untuk mengurangi gaya
sentrifugal. Persamaan dasarnya adalah sebagai berikut :
𝑉²
𝑒 + 𝑓 = .................................................................... (1)
15𝑅

Keterangan
e = tingkat superelevasi (m/m)
f = faktor gesekan samping
v = kecepatan kendaraan (kpj)
R =jari-jari lengkung (m).

20
Gambar 10. Jalan pada tikungan
(Sumber Kennedy, B. 2009)

Menurut Awang, (2004). Beberapa geometri jalan tambang


yaitu sebagai berikut :
1. Lebar jalan angkut lurus
Lebar jalan angkut minimum pada kegiatan pertambangan
berpatokan kepada jumlah jalur dan lebar alat angkut terbesar.
Dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝐿 = 𝑛. 𝑊𝑡 + (𝑛 + 1)(0,5. 𝑊𝑡) ...................................................... (2)
Keterangan :
L : lebar minimum jalan angkut (m)
n : jumlah jalur
Wt : lebar alat angkut terbesar (m)

Gambar 11. Geometri jalan


(Sumber Awang, 2004)
2. Lebar jalan angkut pada tikungan
Pada tikungan jalan angkut memiliki lebar yang lebih besar
dibandingkan jalan lurus. Persamaan yang digunakan untuk

21
menghitung lebar minimum jalan angkut pada tikungan sebagai
berikut :
𝑊 = 2 (𝑈 + 𝐹𝑎 + 𝐹𝑏 + 𝑍) + 𝐶 ..................................................... (3)
Keterangan :
W = lebar jalan angkut pada tikungan (m)
U = jarak jejak roda (m)
Fa = lebar juntai depan (m)
Fb = lebar juntai belakang (m)
Z = lebar tepi jalan (m)
C = total lateral clearance (m)

Gambar 12. Geometri jalan tikungan


(Sumber Awang, 2004)
3. Kemiringan jalan (grade jalan)
Kemiringan jalan adalah salah satu faktor penting saat
melakukan evaluasi geometri jalan, dikarenakan kemiringan
jalan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produktivitas
alat angkut, pada saat tanjakan maupun turunan. Kemiringan
jalan yang dapat dilalui oleh alat angkut tidak boleh lebih dari
12%, dengan memperhatikan spesifikasi kemampuan alat
angkut, jenis material jalan dan penggunaan bahan bakar.
Grade jalan dinyatakan dalam persen (%), artinya kemiringan
1 % berarti jalan tersebut memiliki beda tinggi 1 meter pada jarak
mendatar 100 meter. Dapat dirumuskan sebagai berikut :
∆h
𝐺𝑟𝑎𝑑𝑒 = × 100% .................................................................. (4)
∆x

Keterangan
Grade : kemiringan jalan angkut (%)
∆h : beda tinggi antara 2 titik yang diukur
∆x : jarak datar antara dua titik yang diukur

22
2.6.5 Perhitungan Cadangan
Cadangan batubara adalah bagian dari sumberdaya
batubara terukur dan tertunjuk yang memiliki nilai tambang
ekonomis dengan menyertakan dilusi dan losses yang terjadi
pada saat melakukan penambangan.
Cadangan batubara dibagi menjadi 2 :
1. Cadangan batubara terkira merupakan bagian dari
sumberdaya batubara tertunjuk yang dapat ditambang
secara ekonomis
2. Cadangan batubara terbukti merupakan bagian yang dapat
ditambang secara ekonomis dari sumberdaya batubara
terukur.
Perhitungan cadangan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan sebagai langkah mengetahui besaran volume terhadap
suatu material yang keterdapatannya secara alamiah.
Perhitungan cadangan dilakukan menggunakan berbagai metode
berdasarkan pada pertimbangan empiris dan teoritis. Parameter
yang diperhitungkan umumnya adalah volume, tonase, kadar
dan kualitas bahan galian. Dasar hukum yang dapat dijadikan
sebagai acuan dan juga aturan dalam perhitungan cadangan
adalah KEPMEN 1827 tahun 2018 yaitu pada lampiran kedua
tentang pedoman pengelolaan teknik pertambangan, dalam
bagian E butir ke 1. Estimasi cadangan batubara mengacu pda
SNI 5015:2011 dan perubahannya.
Dalam melakukan penaksiran cadangan batubara harus
mempertimbangkan hal berikut, antara lain adalah (Sulistya,
2010)
Taksiran sumberdaya harus mengartikan secara tepat
kondisi geologi serta karakteristik endapan bahan galian.
a. Model sumberdaya yang digunakan pada perancangan
tambang harus konsisten terhadap metode penambangan
dan Teknik perencanaan tambang yang akan digunakan.
b. Metode pemodelan yang digunakan harus memberikan
hasil yang dapat di uji ulang dan di validasi.
c. Taksiran harus didasarkan pada data aktual yang telah
diolah secara objektif. Terpakai atau tidaknya sebuah
data dalam penaksiran harus diputuskan berdasarkan
pedoman perhitungan cadangan. Tidak boleh terdapat

23
pembobotan data dan jika dilakukan pembobotan data
harus dilakukan berdasarkan dasar yang kuat.
Setelah perhitungan cadangan selesai, langkah pertama
yang harus dilakukan yaitu memeriksa atau mengecek taksiran
perblok. Hal tersebut dilakukan menggunakan data bor yang
berada di sekitarnya. Setelah kegiatan penambangan dimulai,
harus dilakukan pengecekan ulang terhadap taksiran cadangan
dengan tonase hasil penambangan yang sesungguhnya
(Notosiswoyo et al., 2005).
Data-data yang diperlukan pada pemodelan dan
perhitungan cadangan batubara pada umumnya terdiri dari 4
data, yaitu (Komang et al., 2005)
a. Peta topografi (xyz aktual)
b. Peta geologi dan cropline batubara
c. Data pengeboran (litologi dan survey)
d. Peta situasi tambang
Empat data tersebut merupakan data dasar dalam
perhitungan cadangan yang memiliki fungsi masing-masing. Peta
topografi berfungsi untuk mengetahui elevasi di sekitar area
bahan galian. Peta geologi dan cropline batubara berguna untuk
mengetahui area singkapan batubara, yang mana dijadikan
sebagai rencana area penambangan dimulai. Data pengeboran
memuat data litologi bawah tanah pada titik koordinat area
pengeboran berupa jenis material dan ketebalannya, kemudian
dilakukan korelasi untuk mementukan lapisan dan seam
batubara. Peta situasi dan data-data yang memuat batasan-
batasan alamiah berfungsi dalam penentuan batas/boundary
perhitungan cadangan.
Terdapat beberapa metode perhitungan cadangan,
diantaranya adalah metode konvensional dan metode non
konvensional. Metode konvensional menggunakan pendekatan
penaksiran dan perhitungan yang sederhana, sedangkan metode
non-konvensional menggunakan pendekatan geostatistik. Salah
satu metode konvensional perhitungan cadangan adalah metode
polygon.
Perhitungan cadangan metode ini memiliki konsep suatu
sampel didefinisikan sebagai prisma. Metode ini memiliki
pendekatan menggunakan nilai titik data yaitu lubang bor sebagai

24
pengaruh untuk mewakili area pengaruh. Batas area pengaruh
ditentukan berdasarkan setengah dari jarak diantara lubang bor.
Area polygon atas prisma merupakan Surface topography dan area
polygon bawah prisma merupakan floor seam batubara paling
bawah. Tanda (x) pada gambar dibawah ini merupakan letak lubang
bor atau titik pusat prisma, sedangkan tanda (t) adalah tinggi
prisma atau ketebalan litologi pada logbor (Alkausar, 2020).

Gambar 13. Metode Poligon


(Sumber Alkausar, 2020).
Pada software Tambang terlebih dahulu di import data bor dan
data survey. Data bor berfungsi untuk pemodelan dibawah
permukaan dan data topografi berfungsi untuk pemodelan
permukaan. Kemudian data bor tersebut dibuat solid poligon dengan
batas atas surface topografi dan batas bawah seam floor batubara
paling bawah, sehingga menghasilkan bentuk area perhitungan
cadangan tiga dimensi. Kemudian area tersebut dihitung
cadangannya dan hasilnya akan ditampilkan pada table viewer.
Pada tabel tersebut ditampilkan parameter-parameter perhitungan
cadangan, seperti seam (lapisan batubara), Overburden, reserve,
koordinat xyz, dan lain sebagainya.
2.6.6 Perhitungan Nisbah Pengupasan (Striping Rasio)
Salah satu cara menggambarkan efisiensi geometri
(geometrical efficiency) dalam kegiatan penambangan adalah
dengan istilah “Stripping ratio” atau nisbah pengupasan. Stripping
ratio (SR) menunjukkan jumlah Overburden yang harus
dipindahkan untuk memperoleh sejumlah batubara yang
diinginkan. Ratio ini secara umum digambarkan sebagai berikut:
𝑂𝑣𝑒𝑟𝑏𝑢𝑟𝑑𝑒𝑛 (𝑚3 )
𝑆𝑅 = ………………………………………………….(5)
Coal (tons)

25
Dari nilai stripping ratio yang diperoleh dan dibandingkan
dengan nilai BESR (Break Even Stripping Ratio) yang telah
dihitung sebelumnya, maka akan diperoleh bahwa secara teknis
batasan kegiatan penambangan dalam pit adalah sampai nilai
BESR yang dicapai dalam perhitungan stripping ratio.

2.7 Kemampuan Alat Mekanis


Kapasitas Unit Untuk mengetahui kemampuan produksi
alat mekanis yang digunakan dapat dilakukan dengan
menghitung produktifitas setiap alat mekanis. Alat mekanis yang
sering dipakai saat kegiatan penambangan adalah alat gali muat,
alat angkut dan alat support. Setiap alat mekanis mempunyai
kemampuan produksi yang berbeda-beda tergantung spesifikasi
alat tersebut.
2.7.1 Produktifitas
Alat Gali Muat
Menurut Indonesianto (2018), Alat gali muat adalah alat
mekanis yang digunakan untuk menggali sekaligus memuat
material ke dalam alat angkut.
a. Power shovel
b. Dozer shovel
c. Backhoe
d. Dragline
Backhoe adalah alat gali muat yang paling umum
digunakan dalam penambangan.
produktifitas alat angkut dapat dihitung dengan persamaan
berikut :
Kb×Sf ×Ff×E×3600
𝑄= ................................................................... (6)
Ctm

Keterangan :
Q = Produktifitas (m3/jam)
KB = kapasitas bucket
FF = Bucket fill factor
SF = Swell factor
Ctm = cycle time (waktu siklus) (detik)
E = Efisiensi kerja
Alat Angkut
Menurut Indonesianto (2018), Untuk menghitung
kemampuan produksi alat angkut yaitu alat dump truck

26
mempertimbangkan kombinasi pemuatan peralatan gali dan
muat.
Alat angkut adalah alat mekanis yang digunakan untuk
mengangkut material dari suatu tempat ke tempat lainnya. Alat
angkut yang sering digunakan di area tambang terbuka adalah
alat angkut jenis dump truck.
produktifitas alat angkut dapat dihitung dengan
persamaan berikut :
n×Kb×Sf ×Ff×E×3600
𝑄= ................................................................ (7)
Ctm

Keterangan :
Q = Produktifitas (m3/jam)
n = Banyak bucket
KB = kapasitas bucket
FF = Bucket fill factor
SF = Swell factor
Ctm = cycle time (waktu siklus) (detik)
E = Efisiensi kerja
2.7.2 Fill Faktor (Factor Pengisian)
Menurut Kennedy (2009), Fill factor adalah persenan dari
total kapasitas bucket yang benar-benar terisi selama setiap
lintasan. Bijih yang kasar dan diledakkan dengan buruk
biasanya memberikan pengisian yang rendah faktor. Bijih yang
lebih halus dan dasar yang relatif halus akan memberikan faktor
pengisian tinggi.
Menurut Oemiati (2020), Faktor pengisian merupakan
perbandingan antara kapasitas nyata suatu alat dengan
kapasitas baku alat yang dinyatakan dalam persen (%).
𝑉𝑛
𝐹𝑝 = × 100% ........................................................ (8)
𝑉𝑏

Keterangan:
Fp = faktor pengisian atau fill factor, %
Vn = kapasitas nyata alat, m³
Vb = kapasitas baku alat, m³
Bucket fill faktor (BFF) merupakan angka atau persentase
yang menunjukan banyaknya isian bucket kondisi munjung
(heaped) dalam sekali siklus. BFF bervariasi tergantung jenis
material yang digali. Selain berdasarkan pengamatan, fill faktor
dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

27
Tabel 4. Fill factor
Category Excavating Condition Bucket Fill Factor
Easy Excavating natural ground of clayey soil, soil, clay, or soft soil 1.1-1.2
Average Excavating natural ground of soil such, as sandly soil 1.0-1.1
Rather
Excavating natural ground of sandly soil with gravel 0.8-0.9
difficult
Difficult Loading blasted rock 0.7-0.8
(Sumber Projosumarto, 1996)
2.7.3 Swell Factor (Faktor Pengembang)
Swell factor adalah pengembangan volume material dari
keadaan asli (insitu) jika digali atau diberai. (Projosumarto,
1996). Bentuk material pada umumnya dibagi menjadi tiga
keadaan yaitu keadaan asli (Bank condition), keadaan gembur
(Loose condition), dan keadaan padat (Compact condition).
Tabel 5. Sweel factor
Jenis M aterial Densitas (g/cm3) Swell Factor (%)
tanah liat, kering 1,3 80
tanah liat, basah 1,6-1,7 80-82
tanah biasa, kering 1,6 80
tanah biasa, basah 1,9,3 85
batupasir kering 1,3-1,9 89
batupasir basah 1,9-2,1 88
Antrasit 1,8 74
Bituminus 1.3 74
Sub-bituminus 1,5 74
(Sumber Ettinger dan Zhupakhina, 1960)
Faktor pengembangan adalah pengembangan volume
suatu material setelah digali. Di alam material didapati dalam
keadaan padat sehingga hanya sedikit bagian kosong yang terisi
dengan udara diantara butir-butirnya.
𝑙𝑜𝑜𝑠𝑒 𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦
𝑆𝑤𝑒𝑙𝑙 𝐹𝑎𝑐𝑡𝑜𝑟 = × 100% ................................................. (9)
𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑖𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑘

2.7.4 Cycle Time


Menurut Indonesianto (2018), Waktu siklus adalah
kemampuan peralatan dalam melakukan satu siklus produksi.
Itu waktu sirkulasi alat gali dan muat dan alat angkut sangat
berpengaruh terhadap kemampuan produksi dari peralatan
tersebut, dimana jika waktu sirkulasi dari masing-masing
peralatan besar maka kemampuan produksi akan semakin kecil.
Waktu sirkulasi dapat dipengaruhi oleh jalan kondisi, jarak,
kondisi mekanik peralatan, keterampilan operator dan lain-lain.
Alat Gali Muat

28
Menurut Projosumarto (1996), Waktu yang digunakan alat
gali muat dalam satu siklus disebut cycle time. Setiap alat
mekanis mempunyai waktu siklus yang terbagi dalam beberapa
proses. proses-proses pada cycle time dapat diketahui dari
persamaan berikut :
Cycle time = Dg + Sl + Dt + Sb..............................................(10)
Keterangan:
Dg = Digging
Sl = swing loading (loaded)
Dt = dumping
Sb = swing back (empty)
Alat Angkut
Waktu yang digunakan alat angkut dalam satu siklus
disebut cycle time. Setiap alat mekanis mempunyai waktu siklus
yang terbagi dalam beberapa proses. proses-proses pada cycle
time dapat diketahui dari persamaan berikut :
𝐶𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒 = 𝐷 + 𝑀1 + 𝐿 + 𝐻1 + 𝑀2 + 𝐷𝑚 + 𝐻2.........................(11)
Keterangan:
D = Delay
M1 = Manuver
L = Loading
H1 = Hauling isi
M2 = Manuver 2
Dm = Dumping
H2 = Hauling kosong
Cycle time (detik) dapat menunjukan berapa kali siklus
yang dilakukan oleh alat gali muat dalam waktu satu jam atau
periode tertentu.
2.7.5 Efisiensi Kerja
Dalam waktu satu jam atau satu periode tertentu alat
mekanis tidak akan bekerja secara efektif secara terus menerus.
Oleh sebab itu perlu diperhitungkan persentase waktu kerja
efisien alat tersebut. Pengamatan langsung dapat dilakukan
dengan mencatat semua kegiatan backhoe dalam satu jam lalu
efisensinya dapat diketahui dengan membagi waktu kerja efektif
dengan total waktu kerja saat pengamatan.
2.7.6 Match Factor
Match Factor adalah faktor keserasian kombinasi alat

29
antara alat gali muat dengan alat angkut. Nilai match factor dapat
ditentukan dengan persamaan berikut (Projosumarto, 1996).
MF = n x Nh x Ctm
Nm x Cta................................................................(12)
Keterangan :
MF : Faktor keselarasan (Match Factor)
n : Jumlah pemuatan bucket
Nh : Jumlah alat angkut
Ctm : Waktu edar alat muat (detik)
Nm : Jumlah alat muat
Cta : Waktu edar alat angkut (detik)
Tabel 6. Match factor
Nilai Match Factor Keterangan
kinerja alat muat 100 % sedangkan alat angkut kurang dari 100 %
MF>1
dan menyebabkan terjadinya antrian alat angkut
Kinerja alat gali muat kurang dari 100% menyebabkan alat gali muat
MF<1
menunggu dan kinerja alat angkut 100 %
Keserasian kerja yang sempurna sehingga tidak ada waktu tunggu
MF=1
diantara keduanya
(Sumber Projosumarto, 1996)
Menurut Oemiati (2020), Hubungan kerja yang serasi antara
alat muat dan alat angkut dapat terjadi, bila produksi alat muat
harus sesuai dengan produksi alat angkut. Faktor keserasian alat
muat dan alat angkut ini didasarkan pada produksi alat muat dan
alat angkut yang dinyatakan dalam faktor keserasian (match factor).
2.8 Sistem Penyaliran Tambang
Sistem penyaliran tambang ialah usaha yang bertujuan untuk
memberikan pencegahan, pengeringan atau mengeluarkan air yang
memasuki wilayah pertambangan. Hal tersebut dilaksanakan untuk
mencegah aktivitas penambangan agar tidak terganggu dari air yang
banyak terlebih dimusim hujan. Sistem penyaliran ini ditujukan
guna agar alat mekanis tidak cepat rusak jadi alat yang digunakan
tersebut mempunyai masa pakai yang lebih lama atau awet
(Suwandhi, 2004). Penanganannya ini terbagai dua jenis yakni mine
drainage dan mine dewatering. Air dilokasi tambang bisa berasal dari
air bawah tanah dan air permukaan.
Penanganan masalah air disuatu tambang terbuka bisa dibagi
2 (Suwandhi, 2004) yaitu:
1. Mine drainage
Mine drainage merupakan cara-cara yang tidak konvensional

30
untuk mencegah air masuk ke area pertambangan. Ini secara umum
digunakan untuk mengolah air dari sumber air permukaan dan air
tanah. Cara umum guna mencegah masuknya air permukaan ke
wilayah pertambangan ialah dengan membangun parit atau kanal di
sekitar tambang atau di permukaan tanah.
2. Mine dewatering
Mine dewatering ialah upaya mengeluarkan air yang sudah
masuk ke area pertambangan. Ini guna melibatkan pengelolaan dari
air hujan. Berbagai metode drainase dan dewatering tambang ialah
sistem kolam terbuka, drainase, dan galeri.
2.9 Curah Hujan
Curah hujan adalah sekumpulan air yang turun ke permukaan
yang dinyatakan dalam milimeter. Curah hujan adalah banyaknya
hujan yang terjadi pada suatu daerah. Sumber utama air yang
masuk ke daerah penambangan pada tambang terbuka adalah air
hujan, sehingga besar kecilnya curah hujan yang terjadi di daerah
penambangan tersebut akan mempengaruhi banyak sedikitnya air
tambang yang harus diatasi dan dikendalikan (Triadmodjo, 1993).
Pengukuran besarnya curah hujan yang terjadi di daerah
penambangan dapat dilakukan dengan alat penakar hujan biasa dan
alat penakar hujan otomatis. Dengan alat penakar hujan biasa,
pengukuran dilakukan sekali dalam satu hari, biasanya pada jam
07.00 dengan demikian akan dihasilkan curah hujan harian. Dengan
alat penakar hujan otomatis dilakukan pengukuran secara terus
menerus dan pencatatan dilakukan secara otomatis, sehingga
dihasilkan data curah hujan yang akurat. Dalam pengukuran harus
diletakkan di tempat terbuka yang bebas dari pengaruh pohon-
pohon dan gedung-gedung.
Ilmu statistik menunjukkan bahwa ada berbagai jenis
distribusi frekuensinya serta 2 jenis distribusi yang kerap dipakai
dalam bidang hidrologi yaitu annual series, pengambilan data
maksimal per tahun, artinya hanya jumlah maksimal setiap tahun
yang dianggap berpengaruh dalam analisis data dan partial duration
series, yaitu dengan terlebih dahulu menentukan batas bawah curah
hujan tertentu, kemudian diambil data di atas batas bawah itu dan
digunakan sebagai data untuk analisis (Soewarno, 1995).
2.9.1 Periode Ulang Hujan
Curah hujan biasanya terjadi menurut pola tertentu dimana

31
curah hujan tertentu biasanya akan berulang pada periode tertentu
yang dikenal dengan periode ulang hujan. Periode ulang hujan
didefinisikan sebagai waktu dimana curah hujan dengan besaran
tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka waktu
tertentu. Misalnya periode ulang hujan 10 tahun, maka peristiwa
yang bersangkutan (hujan, banjir) akan terjadi rata-rata sekali setiap
periode 10 tahun. Terjadinya peristiwa tersebut tidak harus 10
tahun, melainkan rata-rata sekali setiap periode 10 tahun, misal 10
kali dalam periode 100 tahun, 25 kali dalam periode 250 tahun dan
seterusnya. Periode ulang ini memberikan gambaran bahwa semakin
besar periode ulang semakin tinggi curah hujannya. Penetapan
periode ulang hujan sebenarnya lebih ditekankan pada masalah
kebijaksanaan yang perlu diambil sesuai dengan perencanaan.
Pertimbangan dalam penentuan periode ulang hujan tersebut adalah
risiko yang dapat ditimbulkan bila curah hujan melebihi curah hujan
rencana (Suwandhi, 2004).
2.9.2 Curah Hujan Rencana
Dalam perancangan sistem penyaliran untuk air permukaan
pada suatu tambang, hujan rencana merupakan suatu kriteria
utama. Hujan rencana adalah hujan maksimum yang mungkin
terjadi selama umur dari sarana penirisan tersebut. Hujan rencana
ini ditentukan dari hasil analisa frekuensi data curah hujan, dan
dinyatakan dalam curah hujan dengan periode ulang tertentu. Salah
satu metode dalam analisa frekuensi yang sering digunakan dalam
menganalisa data curah hujan adalah metode distribusi ekstrim,
atau juga dikenal dengan metode distribusi Gumbel (Suwandhi,
2004).
Perkiraan nilai curah hujan rencana dapat ditentukan dengan
Formula Extreme Value E.J Gumbel untuk mendapatkan perkiraan
curah hujan. (Persamaan 2.1.) (Soewarno, 1995).
𝑆
Xt=x
̅+ (𝑦 − 𝑦𝑛)……………………………..……………..…………………….(13)
𝑆𝑛
Keterangan:
Xt = Curah hujan rencana dalam periode ulang T tahun (mm)
x̅ = Curah hujan rata rata (mm)
S = Simpangan Baku (Standar deviation)
Sn = Standar deviasi dari reduksi variate, nilainya tergantung jumlah data
Yt = nilai reduksi variate dari variabel yang diharapkan terjadi pada

32
periode ulang tertentu
Yn = Koreksi rata-rata (reduced mean)
1. Tentukan curah hujan rata-rata dengan rumus :
∑CH
x̅ = 𝑛
……………………………………………………………………….(14)

Keterangan :
x̅ = Rata-rata nilai data
∑CH = Jumlah nilai data
n = Jumlah data
2. Simpangan baku dihitung dengan rumus (Soewarno, 1995):

𝛴(𝑥−𝑥𝑖)2
𝑆= √ ..............................................................................(15)
𝑛−1

Keterangan :
S = Standar deviasi
x = Nilai rata-rata curah hujan
xi = Curah hujan maksimum pada tahun x
n = jumlah data
3. Nilai reduksi variat dihitung dengan menggunakan rumus (Soewarno,
1995):
𝑌𝑡=−𝑙𝑛[−𝑙𝑛{𝑇-1}]/T........................................................................(16)
Keterangan :
Yt= Koreksi varians
T = Periode ulang hujan
4. Koreksi rata-rata (Reduced mean) menggunakan rumus (Soewarno, 1995):
{𝑛+1−𝑚}
𝑌𝑛 = −𝑙𝑛 [− ].........................................................................(17)
𝑛+1

Keterangan :
Yn= Koreksi rata-rata (reduced mean)
n = Jumlah data
m = Urutan data (1,2,3)
5. Nilai koreksi simpangan (reduced standard deviation) ditentukan dengan
rumus (Soemarto, 1987) :
𝑆𝑛 = √∑(𝑌𝑛−YN)/(n-1).......................................................................(18)
Keterangan :
Sn = Standar deviasi dari reduksi variate, nilainya tergantung jumlah
data
Yn = Koreksi rata-rata (reduced mean)
YN = Nilai rata-rata Yn
n = Jumlah data

33
2.9.3 Intensitas Curah Hujan
Intensitas hujan adalah jumlah curah hujan dalam jangka
waktu tertentu, dan dinyatakan dalam mm persatuan waktu.
Dengan kata lain bahwa intensitas curah hujan menyatakan
besarnya curah hujan dalam jangka pendek yang memberikan
gambaran derasnya hujan perjam. Untuk mengelola data curah
hujan menjadi intensitas hujan digunakan cara statistik dari data
pengamatan curah hujan yang terjadi (Suripin, 2003).
Besarnya intensitas hujan yang kemungkinan terjadi dalam
kurun waktu tertentu dihitung berdasarkan persamaan Mononobe,
yaitu:
𝑅24 24 2/3
I= ( ) ……………………………………………………..………………(19)
24 𝑡

Keterangan :
R24 = Curah hujan maksimum harian (mm/hari)
T = Durasi hujan rencana (jam)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
Tabel 7. Hubungan derajat hujan dan intensitas curah hujan
Intensitas Curah Hujan (mm)
Keadaan Curah Hujan
1 jam 24 jam
Hujan Sangat Ringan <1 <5
Hujan Ringan 1-5. 5-20.
Hujan Normal 5-10. 20-50.
Hujan Lebat 10-20. 50 - 100
Hujan Sangat Lebat >20 > 100
(Sumber Suripin, 2004)
2.9.4 Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area)
Daerah tangkapan hujan (catchment area) merupakan suatu
areal atau daerah tangkapan hujan dimana batas wilayah
tangkapannya ditentukan dari titik-titik elevasi tertinggi sehingga
akhirnya merupakan suatu poligon tertutup yang mana polanya
disesuaikan dengan kondisi topografi, dengan mengikuti
kecenderungan arah gerak air (Suwandhi, 2004).
Dengan pembatasan catchment area maka diperkirakan setiap
debit hujan yang tertangkap akan terkonsentrasi pada elevasi
terendah pada catchment area tersebut. Pembatasan catchment area
biasa dilakukan pada peta topografi dan untuk perencanaan sistem
penyaliran dianjurkan dengan menggunakan peta rencana
penambangan dan peta situasi tambang. Daerah tangkapan hujan
dibatasi oleh pegunungan dan bukit-bukit yang diperkirakan akan

34
mengumpulkan air hujan sementara (Soewarno, 1995).
2.9.5 Air Limpasan
Limpasan adalah semua air yang mengalir di permukaan
tanah akibat hujan, yang bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke
tempat yang lebih rendah, memperlihatkan asal atau jalan yang
ditempuh sebelum mencapai saluran. (Endriantho et al, 2013). Laju
aliran air limpasan bisa diketahui dengan persamaan metode
rasional berikut :
Q = 0,278 x C x I x A………………………………………………………..(20)
Keterangan :
Q = Debit limpasan (m3/detik)
C = Koefisien limpasan (Tabel 2)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas catchment area (km2)
Koefisien limpasan ialah bilangan yang memperlihatkan
bandingan besarnya limpasan permukaan dengan intensitas curah
hujannya yang berlangsung disetiap area tangkapan hujan, koefisien
limpasan pada tiap daerah berbeda (Amin, 2002). Koefisien limpasan
dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu faktor- faktor tutupan
tanah, kemiringan lahan, intensitas hujan dan lamanya hujan.
Tabel 8. Koefisien limpasan
Kemiringan Jenis lahan Koefisien Limpasan (C)

Sawah, rawa 0,2


>3% (datar) Hutan, perkebunan 0,3
perumahan 0,4
Hutan, perkebunan 0,4
perumahan 0,5
3%-15% (Sedang) semak-semak agak jarang 0,6
Lahan terbuka daerah tambang 0,7
hutan 0,6
perumahan 0,7
>15% (Curam) semak-semak agak jarang 0,8
Lahan terbuka daerah tambang 0,9
(Sumber Amin, 2002)
2.9.6 Air Tanah
Air tanah adalah air yang meresap ke dalam tanah lalu
bergerak di dalam tanah yang terdapat didalam ruang antar butir-
butir tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah yang disebut
akuifer (Sosrodarsono, 1993). Debit air tanah bisa dihitung dengan
mencari selisih waktu air ketika pompa dihidupkan dan dimatikan,
kenaikan permukaan air sump serta luas permukaan pada saat
pompa dihidupkan dan dimatikan (Soemarto, 1987).

35
𝐿1+𝐿2
[ ]
Q=h 2
………………………………….…………………………..(21)
∆𝑡

Keterangan :
Q = Debit air tanah (m3/jam)
Δt = Selisih waktu pompa dimatikan dan dihidupkan kembali (jam)
H = Kenaikan permukaan air sump (m)
L1 = Luas permukaan air pada saat pompa dimatikan (m2)
L2 = Luas permukaan air pada saat pompa dihidupkan (m2)
2.10 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang
2.10.1 Perencanaan Kolam Penampungan (Sump)
Sump atau sering disebut dengan kolam penampung
merupakan tempat yang dibuat untuk menampung air sebelum air
tersebut dipompakan. Kolam penampung ini juga dapat berfungsi
sebagai tempat mengendapkan lumpur. Tata letak kolam
penampung dipengaruhi oleh sistem drainase tambang yang
digunakan serta disesuaikan dengan letak geografis daerah tambang
dan kestabilan lereng tambang (Syukriadi, 2005).
V =Q x t………………………………………………..……………………..(22)
Keterangan:
V = Volume sump rekomendasi (m3)
Q = Debit air yang masuk waktu dengan konsentrasi selama 3 hari (m3)
T = Durasi hujan (jam/hari)
Pada umumnya, bentuk sump yang sering digunakan pada
lokasi tambang yaitu sump berbentuk trapesium (inverted trapezium)
dikarenakan mudah dalam pembuatannya, Penentuan volume sump
didasarkan atas bentuk sump itu sendiri. Rumus volume inverted
trapezium dihitung menggunakan persamaan rasional :
1
V= x (P1+P2) x t x L…………………………………………………….(23)
2

Keterangan :
V = Volume sump (m3)
P1 = Panjang atas (m)
P2 = Panjang bawah (m)
t = Kedalaman (m)
L = Lebar sump (m)
Menurut (Suwandhi, 2004) Sump bisa dibedakan berbagai jenis, yaitu :
1. Travelling Sump
Travelling Sump dibangun di area depan tambang, tujuan dari
sump ini ialah untuk menghadapi air permukaan, baik secara

36
terencana yang digambarkan pada peta jangka pendek atau tidak
terencana sebelumnya. periodenya menggunakan sump cukup
singkat dan diposisikan berdasarkan pada kemajuan tambang.
2. Sump Jenjang
Sump Jenjang dibangun berdasarkan perencanaan untuk
memilih lokasi dan volumenya. Penempatan poros ini berada
dipermukaan tambang dan umumnya pada lereng- lereng tepi
tambang. Sump Jenjang dirancang untuk periode yang tidak
sebentar dan umumnya terbuat dari bahan yang kedap air yang
bertujuan dalam mencegah masuknya air yang bisa membuat
jenjang tambang longsor. sump ini dibagi menjadi dua bagian, bagian
pertama untuk menampung air kotor yang berasal dari sump front
berfungsi sebagai tempat penampungan lumpur dan bagian lainnya
sebagai tempat penampungan air bersih yang berasal dari bagian
sump yang pertama kemudian dialirkan ke paritan pelimpah.
3. Main Sump
Main Sump dibuatkan sebagai tempat menampung air terakhir
dan dapat digunakan sebagai cadangan air untuk digunakan dalam
pengamanan kebakaran. Secara umum sump ini dibuat pada elevasi
paling rendah dari dasar tambang.
2.10.2 Pemompaan dan pemimpaan
• Pompa
Pompa ialah alat pengangkut yang fungsinya agar cairan dari
satu tempat ke tempat lainnya pindah. Penggunaan pompa dalam
sebuah tambang ialah untuk membuang air yang masuk kedalam
daerah penambangan. Jenis pompa yang banyak dipakai dikegiatan
drainase tambang ialah pompa sentrifugal Pompa sentrifugal banyak
dipakai dipertambangan sebab bisa mencapai head of discharge yang
tinggi (Suripin, 2004).
Terkadang sebuah pompa memerlukan debit atau head yang
tinggi, sementara tiap pompa mempunyai kapasitas dalam mencapai
debit atau head tertentu. Oleh sebabnya, dua ataupun lebih pompa
dapat dikonfigurasi guna dipasangkan secara bersamaan. yang
berisi dari sambungan paralel serta sambungan seri (Sularso dan
Tahara, 2000).
Head pompa adalah energi per satuan berat fluida yang
diberikan oleh pompa sehingga fluida tersebut dapat mengalir dari
suction ke discharge. Fluida yang dipindahkan adalah fluida

37
incompresibel atau fluida yang tidak dapat dimampatkan.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas
pompa seperti beda elevasi antara tempat penampungan dengan
tempat pembuangan, kecepatan fluida yang mengalir,gesekan antara
fluida dengan pipa, belokan-belokan dan perubahan aliran yang
terjadi, densitas cairan, dan ukuran butiran material dalam cairan.
Penentuan daya pompa yang dibutuhkan dihitungan dengan
persamaan dibawah ini :
𝑄𝑥𝐻𝑥𝑦𝑥𝑔
P=
3,6 𝑥 1000 𝑥 𝐸

Keterangan :
P = Daya pompa (KWh)
Q= Kapasitas pompa (l/s)
H= Head pompa (m)
Y = Berat jenis air (kg/m3)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
E = Efisiensi pompa, dinyatakan dalam decimal
Perhitungan debit aktual menggunakan outlet suatu pompa
dapat dihitung dengan pengukuran jauh tembakan outlet pompa
serta diameter pipa. Perhitungan debit pompa aktual dapat
dilakukan dengan menggunakan Metode Discharge. Langkah kerja
metode ini yaitu dengan membuat alat ukur berbentuk “L” (Cassidy,
1973) Kemudian data data yang telah didapatkan dihitung
menggunakan persamaan sebagai berikut:
𝑑2 𝑥 𝑋 𝑥 𝜋
Q= x 3600……………………………………………………...(24)
4 √2𝑦/𝑔

Keterangan:
Q = Debit Pemompaan (m3/jam)
d = Diameter dalam pipa (m)
g = Gravitasi (m/s2)
x = Jarak Lontaran Air (m)
y = Tinggi Lontaran Air (m)

38
Gambar 14. Metode Discharge
(Sumber Cassidy, 1973)

• Pipa
Pipa adalah suatu alat yang dipakai untuk menyalurkan air
dengan bantuan pompa. Kapasitas pipa tergantung dari luas
penampang pipa tersebut dan kecepatan alirannya. Kecepatan aliran
pipa dapat diketahui apabila diketahui debit air yang dikeluarkan
per satuan waktu dan luas penampang dari pipa yaitu dengan
rumus:
Q = v x A………………………………………………………………………….(25)
Keterangan :
Q= Debit air (m3/dtk)
A = Luas penampang pipa (m2)
v = Kecepatan aliran air (m/dtk)
Adapun perhitungan julang (head) total pompa menggunakan
persamaan berikut:
H = Hs + Hv + Hf + Hb…………………………………………………….(26)
Dimana:
1. Static Head (Hs)
Static head adalah kehilangan energi yang disebabkan
oleh perbedaan tinggi antara tempat penampungan dengan
tempat pembuangan. Persamaan yang dipakai untuk
menghitung nilai Hs, adalah:
Hs = H2 – H1……….……………………………………………………(27)
Keterangan :
Hs = Head statis (m)
H2 = Elevasi tempat pembuangan (m)
H1 = Elevasi tempat penampungan (m)

39
2. Velocity Head (Hv)
Velocity Head adalah kehilangan yang diakibatkan
oleh kecepatan air yang melalui pompa.
𝑣2
Hv = ………………………………………………………………….(28)
2𝑥𝑔

Keterangan :
v = Kecepatan aliran air didalam pipa (m/s)
g = Gaya gravitasi bumi (m/s2)
3. Friction Head (Hf1)
Friction Head adalah kehilangan head akibat gesekan
air yang melalui pipa dengan pipa karena adanya pengaruh
kekasaran dari dinding pipa, yang dihitung berdasarkan
persamaan berikut:
𝐿𝑥 𝑣 2
Hf = f ( )…………………………………………………………..(29)
2𝑥𝑑𝑥𝑔

Keterangan :
f = Koefisien belokan
L = Panjang pipa (m)
d = diameter dalam pipa (m)
v = Kecepatan aliran air didalam pipa (m/s)
g = Gaya gravitasi bumi (m/s2)
4. Head Belokan (Hb)
Head belokan adalah kehilangan head akibat adanya
belokan pipa dan berpengaruh terhadap laju air yang melalui
pipa, yang dihitung berdasarkan persamaan berikut:
𝑣2
Hb = k ……………………………………………………………….(30)
2𝑥𝑔

Keterangan :
k = Koefisien kerugian pada pipa
v = Kecepatan aliran air didalam pipa (m/s)
g = Gaya gravitasi bumi (m/s2)
2.11 Penjadwalan Produksi (Sequence)
Menurut Bargawa (2018), tahapan penambangan
merupakan bentuk-bentuk penambangan yang menunjukan
bagaimana suatu pit dari awal sampai akhir penambangan.
Tahapan penambangan juga disebut push back, phase, slice dan
stage. Tujuan dari tahapan penambangan yaitu untuk
menyederhanakan semua volume yang terdapat didalam pit
menjadi unit-unit pit yang lebih sederhana atau kecil sehingga
memudahkan penambangan. Dalam merancang tahapan

40
penambangan, parameter waktu sangat diperhitungkan, karena
waktu adalah parameter yang sangat berpengaruh dalam proses
menjadwalkan (mine scheduling) untuk mengoptimalkan target
produksi.
Metode sequence perluasan dari tambang dilakukan pada
serangkaian fase, yang disebut sebagai pushback. Geometri
pushback ditentukan berdasarkan pada faktor geometri endapan,
target finansial, peralatan penambangan, target produksi, dan
rancangan penambangan jangka panjang. Metode Pushback
terbagi atas secara konvensial atau sekuensial (McCarter, 1992).
1. Metode blok sekuensial menerus secara bersamaan pada
beberapa level elevasi, sedangkan metode pushback
konvensial menambang suatu luasan horizontal hingga level
elevasi pushback sebelum melanjut ke elevasi berikutnya.
Zona sekuen pushback yang berbeda terpisah oleh jalan
angkut
2. Semua aktivitas terkonsentrasikan pada satu level
dibandingkan sejumlah level aktif pada pushback
sekuensial. Metode pushback sekuensial membutuhkan
perencanaan yang lebih kompleks dibandingkan pushback
konvensional. Namun, mengembangkan beberapa area
secara bersamaan memberikan fleksibilitas selama proses
penggalian, dan kontrol perencanaan produksi. Lebih lanjut,
pushback sekuensial terdiri dari sejumlah jenjang aktif
dengan sudut jenjang kerja yang lebih rendah dari
kemiringan jenjang akhir, membuat stabilitas lereng yang
lebih baik
Menurut Thompson (2005), Penentuan arah kemajuan
sequence penambangan umumnya berdasarkan arah
kemenerusan batubara (strike) dan kemiringan endapan batubara
(dip) yang dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Sejajar dengan batas outcrop batubara atau strike, maju
searah turunan down dip (low wall to high wall).
2. Sejajar dengan strike endapan batubara, maju searah
naikan up-dip (high wall to low wall).
3. Sejajar dengan dip endapan batubara, maju sepanjang arah
strike.
4. Arah menyerong.

41
Menurut Parhusip (2021), penjadwalan tambang ialah
tahap-tahap kegiatan penambangan yang menjelaskan cara
bagaimana suatu pit akan ditambang dari bentuk awal sampai pit
final. Adapun tujuan dari pembuatan tahapan penambangan
yaitu untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit (lapisan
tanah penutup dan bahan galian) menjadi unit-unit perancangan
yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah untuk dilakukan
perancangan. Proses penjadwalan produksi dapat ditentukan
setelah dilakukan perhitungan cadangan pada area yang akan
dilakukan penjadwalan produksi yang memenuhi prasyarat
stripping ratio (pit limit).
Terdapat beberapa tujuan dari penjadwalan produksi,
Yaitu :
a. Menentukan jadwal produksi seperti periode tahunan, 3
bulanan, bulanan dan juga mingguan.
b. Menentukan bagaimana urutan penggalian, penimbunan
Disposal dan pembuatan jalan yang mengacu pada mine
Design.
c. Membuat desain situasi penambangan dengan periode
tersebut.
Penjadwalan produksi tambang dirancang berdasarkan
periode waktu tertentu. Data yang harus diketahui ialah data
tonase batubara, Overburden, dan pemindahan material total dari
area penambangan. Prinsip dasar penjadwalan produksi adalah
dapat memperoleh material sebanyak mungkin dengan biaya
semurah mungkin. Terdapat beberapa evaluasi yang dilakukan
ada saat proses penjadwalan produksi, yaitu besar target
produksi lapisan tanah penutup dan batubara, jadwal
pengupasan tanah penutup, jadwal penambangan dan strategi
pemenuhan target kualitas batubara dan material yang
ditambang (Bargawa, 2008).
Menurut Bargawa, 2008), asumsi awal yang digunakan
untuk menentukan penjadwalan produksi ialah :
• Besaran target produksi batubara dapat berubah berdasarkan
waktu
• Penjadwalan dirancang sebagai strategi untuk mengevaluasi
berubahnya besaran target produksi batubara.
Dua asumsi tersebut bisa mempengaruhi jadwal

42
pengupasan Overburden sebelum coal expose. Penjadwalan
produksi berfungsi untuk menentukan kombinasi alat mekanis
pada blok-blok penambangan di area pit dengan dasar jam kerja.
Penjadwalan produksi pada periode kurang dari satu bulan, akan
menekankan apa saja hal yang harus tercapai dalam rentan
waktu tersebut. Rencana produksi harus dilaksanakan dengan
batasan dari perencanaan short term dan dievaluasi atau
diperbaiki setiap hari atau lebih sering untuk merekomendasikan
perubahan kombinasi alat mekanis dan blok-blok penambangan
bahan galian dan waste baru yang disiapkan untuk kegiatan
penambangan.
Penjadwalan tambang merupakan salah satu bagian dari
perencanaan tambang. Setelah pemodelan geologi, blok
pemodelan level, penentuan Striping ratio (SR) atau Cut-off grade
(COG), hingga desain pit-limit, penjadwalan menjadi sangat
penting untuk menentukan kegiatan penambangan pada tahun
berikutnya. Tujuan utama dari penjadwalan adalah untuk
mendapatkan Net present value (NPV) seoptimal mungkin.
Dengan cara yang sama, the tujuan penjadwalan adalah
memanfaatkan keuntungan semaksimal mungkin dengan yang
terkecil biaya operasi (Hustrulid dan Kuchta, 1995).
2.12 Rancangan Penimbunan
Faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pemindahan
lapisan tanah penutup ialah keseimbangan material (material
balance). Material balance berhubungan dengan penimbunan
material Overburden ke area penimbunan (Disposal) dengan
memperhatikan jenis material untuk memaksimalkan ruang
Disposal. Beberapa langkah-langkah yang perlu diperhatikan
dalam perencanaan material balance, antara lain :
a. Membuat desain pit & Disposal untuk merencanakan
penempatan material.
b. Melakukan taksiran terhadap volume material terambil dan
luasan area penimbunan yang tersedia.
c. Pemilihan lokasi pemuatan di pit dan lokasi penumpahan
material di area penimbunan sesuai dengan rancangan dan
volume yang diinginkan.
Setelah itu dapat ditentukan jarak pengangkutan material
Waste dump area dibagi menjadi dua, yaitu :

43
a. In pit dump (IPD)
lokasi penimbunan material lapisan tanah penutup
pada daerah penambangan yang sudah selesai tambang.
b. Out pit dump (OPD)
lokasi penimbunan material tanah penutup berada
diluar area pit limit.
Rencana lokasi dan rancangan waste dump akan
berpengaruh terhadap kombinasi alat meknis yang digunakan
dan match factor dari kombinasi tersebut. Luasan area yang
digunakan untuk waste dump pada umumnya luasnya 2–3 kali
dari luas area penambangan (pit) (Sunarno, 2008). Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Material yang diberai (loose material) akan berkembang 30–
45 % dari material in situ (swell factor).
b. Sudut miring jenjang lebih landai daripada pit.
Material lapisan tanah penutup tidak bisa ditumpuk setinggi
kedalaman pit penambangan.
2.13 Perangkat lunak (Software)
Pemanfaatan Sofware merupakan instruksi dari Peraturan
menteri dari Kementerian ESDM No.26 Tahun 2018 Pasal 3, yang
menjelaskan pentingnya kemajuan didalam pemanfaatan dan
penerapan teknologi dalam operasi tambang.
Ada beberapa contoh Sofware yang biasa digunakan dalam
perencanaan dan perancangan penambangan seperti Software
Minescape, Arcgis, Spry, dan office.
1. Minescape
Minescape adalah salah satu produk dari perusahaan
yang berada di Australia yang memiliki software mine
planning & scheduling. Fungsi minescape adalah sebagai
solusi eksplorasi, permodelan desain tambang, perencanaan
produksi, dan scheduling.
2. Arcgis
ArcGis merupakan temuan ESRI (Environment Science
and Research Institute) di California. Aplikasi ini berkaitan
dengan kegiatan sistem informasi geografis. Dalam
penggunaannya, ArcGis mempunyai fitur penting seperti
untuk kegiatan pembuatan tampilan peta, pengumpulan
data lapangan, dan data spasial.

44
3. Spry
Spry adalah Sofware yang biasanya digunakan untuk
melakukan Penjadwalan produksi pada pertambangan yang
dimana dapat membagi dan menghitung perbedaan ataupun
selisih produksi.
4. Microsoft Office
Microsoft Office adalah salah satu software yang dibuat
oleh perusahaan Microsoft pada tahun 1988. Software ini
sangat sering digunakan dalam dunia kerja karena praktis
dan mudah dipakai, serta tidak membutuhkan teknologi
yang canggih untuk bisa dioperasikan.
5. Slide
Sofware yang digunakan dalam analisis stabilitas
lereng ini adalah slide. Software ini dapat merancang desain
geometri jenjang yang meliputi tinggi dan kemiringan jenjang
tambang beserta tingkat faktor keamanannya. Hasil analisis
yang diperoleh akan dijadikan dasar untuk membuat model
desain tambang yang aman bagi lingkungan.
2.14 Penelitian Terdahulu
Penelitan terdahulu adalah salah satu cara untuk mencari sumber
referensi atau sebagai perbandingan pada penelitian sebelumnya.
Tabel 9. Penelitian terdahulu
No Penulis Perihal Keterkaitan
membahas keterkaitan
(Pradana, kopa, & Yulhendra, Estimasi
1 Estimasi sumberdaya
2020) sumberdaya
batubara terukur
Membahas tentang
Optimalisasi bagaimana membuat
2 (Putra & Yulhendra, 2020)
kemajuan tambang rancanggan sequence
penambangan

membahas tentang
teknis
3 (saputra, asof & wiwik, 2021) keterkaitan teknis
penambangan
penambangan
Membahas keterkaitan
rancangan teknis
4 (Suprianto dan hariyadi, 2019) rancangan teknis desain
desain sequence
sequence

Membahas keterkaintan
(Prasakto, Nurhakim, Riswan & Perencanaan
5 perencanaan
Putri, 2020) penambangan
penambangan batubara
(Sumber Penulis, 2023)

45
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian dan Kesampaian Daerah
PT. Bubuhan Multi Sejahtera yang terletak di Desa Sungai
Buluh, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari, Provinsi
Jambi dengan luas 195 hektar. Untuk mencapai lokasi wilayah PT
Bubuhan Multi Sejahtera dapat dicapai dengan menggunakan
kendaraan roda empat maupun roda dua. Dari kota jambi
ditempuh sekitar 1-1,5 jam dengan jarak ± 70 km dengan perincian
jalan negara sejauh 58 Km dilanjutkan jalan propinsi atau jalan
kabupaten sekitar 2 km. Kondisi jalan negara, jalan provinsi dan
jalan kabupaten beraspal dan relative baik, hanya sebagian kecil,
di beberapa tempat berlubang-lubang.
PT. Bubuhan Multi Sejahtera Memulai Eksplorasi di Tahun
2010 Akhir hingga 2011 Awal, dan mulai melakukan kegiatan
Penambangan di pertengahan tahun 2011. Namun setelah berjalan
beberapa bulan perusahaan vakum hingga tahun 2022, Februari
2022 Perusahaan kembali melakukan penambangan. Daerah
lokasi kesampaian dapat dilihat pada gambar dibawah ini dan pada
Lampiran 3.

Gambar 15. Peta Kesampaian lokasi penelitian


(Sumber Penulis, 2023)
3.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 5 Januari
2023 sampai dengan akhir januari 2023. Untuk lebih jelasnya

46
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 10. Waktu kegiatan
Waktu Penelitian
Bulan Januari
No Kegiatan
Minggu Ke-
1 2 3 4
1 Studi Literatur
2 Orientasi Lapangan
3 Pengumpulan Data
4 Pengolahan Data
5 Penyusunan Laporan
(Sumber Penulis 2023)
3.3 Metode Penelitian
Metode analisis data berdasarkan analisis kuantitatif yang
digunakan dengan mengelompokkan data berdasarkan variabel
perencanaan tambang, kemudian dilakukan koreksi terhadap data
yang diperoleh. Setelah itu dilakukan tabulasi terhadap data yang
diperoleh. Kemudian data diolah dengan bantuan perangkat lunak
tambang. Setelah itu diperoleh hasil dari pengolahan data tersebut.
Berikut ini merupakan urutan pekerjaan penelitian yang akan
dilakukan:
3.3.1 Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan mencari bahan-bahan
referensi berupa teori dan rumusan yang berkaitan dengan
rencana penambangan, pemindahan tanah mekanis, dan
ketersediaan alat gali muat. Bahan referensi yang digunakan
adalah buku, jurnal ilmiah, handbook, dan arsip dari PT.
Bubuhan Multi Sejahtera.
3.3.2 Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan dengan
melakukan pengamatan langsung di lapangan yang dimana
pengamatan ini digunakan sebagai pertimbangan untuk
melakukan Design. Adapun data primer yang didapatkan
adalah sebagai berikut :
Tabel 11. Pengamatan Dilapangan
No Pengamatan Lapangan
1 Melihat Kedudukan Batubara
2 Melihat area yang akan di Rancang
3 Melihat Pit dan disposal pada pit timur
4 Menentukan arah kemajuan tambang
5 Menentukan jalan yang akan di design
6 Foto lapangan/kondisi aktual
(Sumber Penulis, 2023)

47
3.3.3 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari
perusahaan tempat dilaksanakannya penelitian, meliputi:
1. Data Log Bor PT. Bubuhan Multi Sejahtera
Data Log bor adalah data yang didapatkan dari
perusahaan yang merupakan hasil dari ekplorasi pada
tahun 2010 sampai pertengahan 2011.
2. Data Topografi
Data topografi merupakan data yang didapatkan
dari hasil pengukuran di luasan IUP PT. Bubuhan
multi sejahtera dengan luas 195 ha yang mencakup
lembah, sungai dan rawa.
3. Data rekomendasi geoteknik lereng pit, Disposal, dan
jalan
Data rekoemndasi geoteknik diperoleh dari
perusahaan yang berdasarkan uji material pada
laboratorium.
4. Data cycle time, jam kerja dan waktu hambatan.
Data cycle time, jam kerja dan waktu hambatan
merupakan laporan yang didapatkan perusahaan dari
hasil pengamatan penelitian terdahulu pada tahun
2022.
5. Data curah hujan
Data curah hujan adalah data yang diperoleh dari
perusahaan yang didapatkan dari badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 tahun
terakhir.
6. Data ketersediaan alat
Data mengenai alat didapatkan dari hasil laporan
bulanan perusahaan.
3.3.4 Pengolahan Data
Data primer dan sekunder diolah dengan dasar teori
yang sudah diperoleh dari studi literatur yang berkaitan.
Pengolahan data tersebut dilakukan dengan menggunakan
Software tambang. Software tambang berfungsi untuk
mengelompokkan data kemudian dianalisa dan diolah.
Ada beberapa tahapan pengolahan data yaitu sebagai
berikut.
1. pembuatan blok model geologi

48
Pembuatan pemodelan lapisan batubara dengan
data-data yang digunakan yaitu data singkapan
meliputi data koordinat X, Y, Z, kontur roof dan floor.
2. Pembuatan Design pit
Pembuatan Design pit yang mana pada pembuatan
Design ini mencangkup jenjang tambang (bench
Design), Bidang permukaan (surface) yang terbentuk
dipergunakan dalam perhitungan cadangan.
3. Produktivitas
Dalam menghitung produksi perbulan maupun
per-sequence diawali dengan menghitung produksi alat
angkut maupun alat muat.
a. Produksi alat gali-muat
Untuk menghitung produktivitas atau
kemampuan dari alat gali-muat, Adapun data yang
diperlukan yaitu kapasitas bucket, fill factor, waktu edar
dan efisiensi kerja alat.
b. Produktivitas alat angkut
Menghitung produktivitas atau kemampuan dari
alat angkut adapun data yang diperlukan yaitu waktu
siklus dan efisiensi kerja alat.
4. Penjadwalan produksi
Untuk penjadwalan penambangan didapat dari
hasil perhitungan cadangan yang dapat tertambang
sesuai dengan Design per-sequence. Kemudian hasil
dari volume cadangan yang dapat ditambang akan
menjadi acuan dalam menentukan jadwal atau arah
penambangan dengan memperhatikan produktivitas
alat yang ada, sehingga dapat mencapai target yang
diinginkan.
3.3.5 Analisis Data
Adapun tahapan analisis data adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan cadangan
Cadangan yang dihitung merupakan cadangan yang
tersisa dari proses penambangan pada akhir bulan
September. Langkah pertama yang dilakukan adalah
melakukan perhitungan cadangan keseluruhan
menggunakan data sebaran titik bor menggunakan software

49
Tambang sehingga didapatkan kontur struktur batubara
yang menunjukkan ketebalan batubara dan ketebalan
Overburden sehingga dapat ditentukan nilai stripping ratio.
Dengan mencocokkan stripping ratio yang diizinkan
perusahaan maka akan didapat pit limit penambangan dan
cadangan total yang dapat ditambang.
Selanjutnya adalah mengolah data topografi kemajuan
penambangan pada akhir bulan September. Data topografi
tersebut dijadikan sebagai top surface, dan floor seam
batubara paling bawah dijadikan bottom surface kemudian
diolah menggunakan software Tambang sehingga
didapatkan cadangan yang masih tersisa.
2. Design pit
Pada pembuatan Design pit tahapan yang dilakukan
adalah mengolah data kontur struktur batubara dan pit limit.
Kontur struktur dijadikan sebagai bottom surface dan pit
limit dijadikan sebagai boundary dari Design pit pada saat
pengolahan menggunakan software Tambang. Menurut
KEPMEN ESDM 1827 parameter pembuatan Design pit
adalah pit limit, geometri jenjang, dan Design jalan
tambang.
Parameter Design pit diantaranya adalah Pit limit, pit
limit memiliki parameter singkapan batubara, nilai stripping
rasio, ekonomis dan kemenerusan batubara. Parameter
Design jalan yaitu :
• kemiringan (grade) jalan tambang/produksi dibuat tidak
boleh lebih 12% (dua belas persen) dengan
memperhitungkan:
- spesifikasi kemampuan alat angkut
- jenis material jalan
- fuel ratio penggunaan bahan bakar
• lebar jalan tambang/produksi mempertimbangkan alat
angkut terbesar yang melintasi jalan tersebut paling
kurang:
- tiga setengah kali lebar alat angkut terbesar, untuk
jalan tambang dua arah
- dua kali lebar alat angkut terbesar, untuk jalan
tambang satu arah

50
- lebar jalan pada jembatan sesuai ketentuan di atas.
• sudut belokan pada pertigaan jalan tidak boleh kurang
dari 70⁰ (tujuh puluh derajat).
• sepanjang permukaan badan jalan tambang/produksi
dibentuk kemiringan melintang (cross fall) paling kurang
2% (dua persen).
Parameter Geometri jenjang salah satunya faktor
keamanan dan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 12. Faktor keamanan
kriteria dapat diterima
Jenis Lereng keparahan longsor
FK Statis FK Dinamis Probabolitas Longsor
Lereng Tunggal Rendah-Tinggi 1,1 Tidak ada 25-50%
Rendah 1,15-1,2 1,0 25%
Inter-ramp Menegah 1,2-1,3 1,0 20%
Tinggi 1,2-1,3 1,1 10%
Rendah 1,2-1,3 1,0 15-20%
Lereng Keseluruhan Menegah 1,3 1,05 10%
Tinggi 1,3-1,5 1,1 5%
(Sumber KEPMEN ESDM 1827, 2018)
3. Menghitung hambatan-hambatan kegiatan produksi
Untuk meningkatkan produksi alat mekanis harus
dilakukan perbaikan dari hambatan-hambatan yang terjadi
pada kegiatan produksi. Perbaikan hambatan tersebut
bertujuan meningkatkan waktu kerja efektif dari alat
mekanis sehingga diperoleh produktivitas alat mekanis
optimal.
4. Menghitung kapasitas dan jumlah alat produksi
Untuk menghitung kapasitas alat produksi kita harus
terlebih dahulu mengetahui spesifikasi alat mekanis yang
digunakan, jenis bahan galian, dan jam kerja alat mekanis.
Data cycle time dari alat-alat mekanis kemudian diolah
menggunakan rumus sesuai literatur. Semua data tersebut
kemudian diolah menggunakan persamaan rumus
produktivitas pada literatur untuk mengetahui produktivitas
setiap alat mekanis. Nilai produktivitas tersebut kemudian
digunakan dalam perhitungan untuk mengetahui berapa
jumlah dan kombinasi alat gali muat yang digunakan.
5. Rancangan penambangan
Perancangan tahapan penambangan menggunakan
metode trial dan error dengan memodifikasi dalam

51
menentukan berapa luasan areal bukaan yang dihubungkan
dengan bukaan bench, ramp of mine hingga perhitungan SR
menunjukkan hasil yang sesuai dengan target SR produksi
perusahaan.
6. Perancangan tahapan
Penambangan ini dibuat menggunakan software
Tambang dengan cara membagi areal dari Design pit yang
akan ditambang selanjutnya menjadi unit-unit
penambangan yang lebih kecil untuk periode.
7. Penjadwalan produksi
Penjadwalan produksi dibuat berdasarakan target
produksi perbulan dan cadangan yang tersisa pada akhir
bulan September. Penjadwalan produksi dibuat dalam skala
harian mingguan dan bulanan.

52
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Rancangan Design Pit Limit
Penentuan pit limit merupakan rencana perusahaan atas
perubahan area penambangan pada rancangan ini luas bukaan
area pit penambangan atau boundry adalah seluas 3,15 hektar
dengan elevasi tertinggi 54,1 mdpl dan terendah 25,46 mdpl. Luas
bukaan area Disposal in pit dump 1,09 hektar dengan elevasi
terendah 36 mdpl dan pada bulan pertama 46 mdpl, pada bulan
kedua 48,5, pada bulan ketiga 58 mdpl dan pada bulan keempat
63 mdpl.
4.1.1 Geometri Lereng
Design geometri lereng akan mempengaruhi tingkat
kestabilan lereng tambang. Pada penelitian ini Design lereng
dibuat berdasarkan rekomendasi perusahaan tempat penelitian.
Design geometri lereng yang akan dibuat terdiri dari tinggi
jenjang, lebar jenjang dan single slope. Berdasarkan
rekomendasi perusahaan maka geometri lereng adalah sebagai
berikut.
• Tinggi jenjang 10 meter
• Lebar jenjang 5 meter
• Single slope 45°
Selain geometri peneliti juga memperoleh hasil uji
laboratorium dari material yang terdapat pada lokasi area
penambangan. Hasil uji laboratorium dapat dilihat pada tebel
berikut dan terdapat juga pada lampiran.
Tabel 13. Hasil Uji laboratorium
No. Ma te ria l Na me P rope rty Dis tribution Me a n S td. De v. Re l. Min Re l. Ma x

1 S oil Cohe s ion Norma l 246.5 14.3 234.3 266.6

2 S oil P hi Norma l 10.98 5.33 5.413 18.182

3 S oil Unit We ight Norma l 38.42 0.48 37.94 38.9

4 CLAY Cohe s ion Norma l 267 26.86 242.1 307.3

5 CLAY P hi Norma l 13.92 2.6 10.238 15.799

6 CLAY Unit We ight Norma l 40.62 0.45 40.17 41.07

7 Coa l Cohe s ion Norma l 258 4.8 251.3 262

8 Coa l P hi Norma l 24 3.521 12.606 20.391

9 Coa l Unit We ight Norma l 15.4 0.45 13.87 14.76

(Sumber Laboratorium, 2011)


Dari geometri dan data laboratorium diatas peneliti
melakukan perhitungan faktor keamanan, perhitungan ini guna

53
untuk memastikan nilai kestabilan lereng yang akan dirancang
pada pit penambangan dengan mengunakan bantuan software
tambang dan mengunakan dua metode yaitu bishop dan janbu
sehingga menghasilkan nilai faktor keamanan 2,239 dengan
mengunakan metode bishop. Dari data ini peneliti
menyimpulkan telah mencapai batas aman sesuai Kepmen
ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 dan dapat diterapkan pada
rancangan pit penambangan. Perhitungan dapat dilihat pada
tabel berikut dan terdapat juga pada Lampiran.
Tabel 14. Nilai Faktor Keamanan
FAKTOR KEAMANAN METODE BISHOP
Plan Perusahaan
2,239
(Sumber Sofware Tambang, 2023)

4.1.2 Geometri Jalan Angkut


Geometri jalan angkut tambang (Ramp) berfungsi untuk
menunjang kelancaran proses penambangan terutama dalam
proses pengangkutan material hasil penambangan. Menurut
Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018, jalan
tambang/produksi adalah jalan yang terdapat pada area
pertambangan dan/atau area proyek yang digunakan dan dilalui
oleh alat pemindah tanah mekanis dan unit penunjang lainnya
dalam kegiatan pengangkutan tanah penutup, bahan galian
tambang, dan kegiatan penunjang pertambangan.
Geometri ramp disesuaikan dengan spesifikasi alat angkut
pada area atau lokasi yang bekerja di pit penambangan. Pada
PT. Bubuhan Multi Sejahtera terdapat 1 jalur dan 2 lajur dan
mengunakan jenis alat angkut ADT Volvo a35e dengan lebar 3,5
meter. Geometri ramp pada area penambangan adalah sebagai
berikut.
Lebar Jalan Lurus
Menurut Kepmen ESDM no. 1827 K/30/MEM/2018 Lebar
jalan tambang/produksi mempertimbangkan alat angkut
terbesar yang melintasi jalan tersebut paling kurang tiga
setengah kali lebar alat angkut terbesar untuk jalan tambang
satu arah. Berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827
K/30/MEM/2018, lebar jalan lurus diarea penambangan adalah
sebagai berikut.

54
Luas minimal = 3,5 x 3,5
= 12,25 meter
Kemiringan Jalan (Grade)
Kemiringan jalan atau grade merupakan factor penting
yang harus diamati secaa detail dalam suatu kajian kondisi jalan
tambang karena akan mempengaruhi kinerja alat angkut yang
melaluinya, Menurut Kepmen ESDM No. 1827
K/30/MEM/2018, grade jalan tambang/produksi dibuat tidak
boleh lebih dari 12% atau sesuai dengan kemampuan alat. Disini
penulis memilih grade dalam rentang 8% sampai 12%.
4.1.3 Perhitungan Cadangan
Pada penelitian ini cadangan yang dihitung adalah cadangan
didalam pit yang akan dirancang. Perhitungan dilakukan dengan bantuan
sofware tambang. Data-data yang diperoleh dari perusahaan berupa data
logbor, survei dan topografi. Didalam perhitungan ini mengunakan metode
blok yang dimana setiap blok dibagi dengan ukuran 50x50 meter untuk
blok pada perhitugan cadangan Overburden dan 20x20 meter untuk blok
pada perhitungan batubara, kemudian dilakukan perhitungan reserves
dan perhitungan tersebut mendapatkan total Overburden dan batubara
dalam bentuk data report sehingga pengolahan data untuk mendapatkan
nilai Striping rasio (SR) bisa dilakukan dengan membagi total Overburden
dan total batubara. Pada perhitungan cadangan didalam pit didapatkan
260.213 bcm dan 74.425 ton batubara dan rata-rata SR dengan nilai 3,49.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini dan pada
Lampiran.

Gambar 16. Laporan cadangan


(Sumber Software Tambang, 2023)

55
4.1.4 Rancangan Blok Pada Pit
Terdapat beberapa blok yang telah dibagi berdasarkan
target produksi perbulannya yaitu 15.000 ton batubara dan
75.000 Overburden. Pada pembagian ini terdapat volume
Overburden, luasan blok, coal getting dan inventory yang dimana
rancangan pit ini terbagi menjadi 7 blok setiap bloknya akan
dilakukan penambangan setiap bulannya. Untuk dapat
mengetahui secara lengkap batubara pada setiap bulannya
dapat dilihat pada tabel berikut ini dan terdapat juga pada
Lampiran.
Tabel 15. Jumlah Overburden perbulan
CADANGAN OB PLAN PERUSAHAAN
OB 1 (bcm) OB 2 (bcm) OB 3 (bcm) OB 4 (bcm)
160.65 2,831.06 2,285.90 11,215.36
5,437.77 11,674.25 9,983.62 15,447.82
CADANGAN

5,543.86 7,109.11 3,597.38 42.57


680.6 8,428.85 9,328.35 1,427.77
11,982.12 31,444.71 30,718.38 4,155.89
16,363.87 10,898.14 11,177.15
2,727.37 747.59 1,852.73
17,769.08 2,089.58 4,763.34
14,727.45 492.65 1,838.85
TOTAL 75392.77 75,715.94 75,545.70 32,289.41
TOTAL 258,943.82
(Sumber Penulis, 2023)
Tabel 16. Jumlah cadangan batubara
CADANGAN BB PLAN PERUSAHAAN
BB 2 BB 3 BB 4 BB 5 BB 6 BB 7
1.85 896.83 503.83 139.57 96.28 527.09
104.04 259.30 824.50 667.66 365.64 1665.34
64.95 333.36 654.89 992.13 293.33 1823.17
24.17 392.55 788.79 1386.17 220.01 82.69
312.80 235.35 583.55 636.98 87.26 3.72
505.01 740.23 281.82 287.77 294.81 326.84
625.76 922.61 1086.23 1078.69 2465.14 292.65
862.82 1162.20 1433.13 1571.94 2091.72
CADANGAN PERBLOK

435.24 1359.49 1831.28 1881.69 1611.78


483.98 684.92 1056.41 1217.02 698.26
582.37 182.15 374.35 317.41 32.44
740.56 854.13 1113.25 1070.99 2667.70
1074.83 1276.84 1538.03 1519.35 2389.52
1126.22 1240.67 2010.82 2043.98 2056.94
470.75 1437.96 713.52 1142.12 519.81
681.67 366.73 63.76 0.21
887.61 120.02 169.53 28.55
1164.51 522.29 237.75 32.59
1184.66 631.12 311.49 24.63
467.39 770.19 48.12
701.89 838.80
920.19 274.10
1116.30
997.45
EXPOSE/TOTAL (Ton) 15537.02 15501.84 15625.05 15953.47 15976.62 4721.50
COAL GETTING (Ton) 15000.00 15000.00 15000.00 15000.00 15000.00 8313.52
INVENTORY (Ton) 537.02 1038.02 1663.02 2616.02 3592.02 -
TOTAL (Ton) 83315.50
LUASAN BLOK (M³) 11951.55 11924.49 12019.27 12271.90 12289.71 3631.92
(Sumber Penulis, 2023)

56
Rancangan blok bulan ke-1
Pembuatan Design blok penambangan didasarkan pada beberapa
pertimbangan. Diantaranya yaitu rekomendasi geoteknik yang dimiliki
oleh BMS. Desain jenjang kerja yang diterapkan mengikuti standar
geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar jenjang 5
meter dan single slope 45˚. Penambangan pada blok pertama pengupasan
Overburden dengan target produksi yaitu 75.000 bcm/bulan dengan total
volume Overburden 75.392 bcm yang dimana dilakukan mulai dari area
low wall menuju highwall. Pada blok pertama ini merupakan awal
penambangan hingga mencapai elevasi terendah RL 40, RL 39, RL 38, RL
37 dan RL 36 atau roof dari batubara. Pada gambar dibawah ini
merupakan rancangan blok pada bulan ke-1 dan untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Lampiran 8 dan 43.

Gambar 17. Design blok bulan ke-1


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-2
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-2 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-1 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti standar geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan
lebar jenjang 5 meter dan single slope 45˚. Penambangan pada blok bulan
ke-2 yaitu pengupasan Overburden dengan target produksi yaitu 75.000
bcm/bulan dengan total volume Overburden 75.715 bcm yang dimana
dilakukan mulai dari area low wall menuju highwall. Pada blok bulan ke-
2 ini dilakukan penambangan Overburden hingga mencapai elevasi
terendah RL 35 atau roof dari batubara. Pada bulan ke-2 juga dilakukan
penambangan pada blok pertama yaitu proses coal getting dengan elevasi
terendah RL 34 atau floor dari batubara dengan target produksi 15.000
ton/bulan dengan total coal expose 15.537 ton dan luasan blok 11.951 m³
selain itu juga terdapat inventory sebanyak 537 ton yang nantinya akan
dilakukan penambangan pada bulan ketiga. Pada gambar dibawah ini
merupakan rancangan blok pada bulan ke-2 dan untuk lebih jelasnya

57
dapat dilihat pada Lampiran10 dan 44.

Gambar 18. Design blok bulan ke-2


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-3
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-3 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-2 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti standar geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan
lebar jenjang 5 meter dan single slope 45˚. Penambangan pada blok bulan
ke-3 yaitu pengupasan Overburden dengan target produksi yaitu 75.000
bcm/bulan dengan total volume Overburden 75.545 bcm yang dimana
dilakukan mulai dari area low wall menuju highwall. Pada blok bulan ke-
3 ini dilakukan penambangan Overburden hingga mencapai elevasi
terendah RL 33 atau roof dari batubara. Pada bulan ke-3 juga dilakukan
penambangan pada blok kedua yaitu proses coal getting dengan elevasi
terendah RL 32 atau floor dari batubara dengan target produksi 15.000
ton/bulan dengan total coal expose 15.501 ton, inventory 501 ton dan
luasan blok 11.924 m³. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan
kedua yang harus ditambang pada bulan ketiga sebanyak 537 ton
sehingga coal getiing pada bulan ketiga dikurangi dengan jumlah inventory
bulan sebelumnya agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan
target 15.000 ton, sisa pengurangan coal getting tersebut menjadi
inventory bulan ketiga yaitu 537 ton dan ditambah inventory sebenarnya
pada bulan ketiga yaitu 501 ton sehingga jumlah inventorynya
keseluruhan pada bulan ini yaitu 1038 ton. Pada gambar dibawah ini
merupakan rancangan blok pada bulan ke-3 dan untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Lampiran 12 dan 45.

58
Gambar [Link] blok bulan ke-3
(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-4
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-4 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-3 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti standar geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan
lebar jenjang 5 meter dan single slope 45˚. Penambangan pada blok bulan
ke-4 yaitu pengupasan Overburden dengan target produksi yaitu 75.000
bcm/bulan dengan total volume Overburden 32.289 bcm yang dimana
dilakukan mulai dari area low wall menuju highwall. Bulan keempat
merupakan proses pengupasan Overburden terakhir didalam pit dengan
luasan boundry 3 hektar. Pada blok bulan ke-4 ini dilakukan
penambangan Overburden hingga mencapai elevasi terendah RL 30 atau
roof dari batubara. Pada bulan ke-4 juga dilakukan penambangan pada
blok ketiga yaitu proses coal getting dengan elevasi terendah RL 31 atau
floor dari batubara dengan target produksi 15.000 ton/bulan dengan total
coal expose 15.625 ton dan luasan blok 12.019 m³. Selain itu juga terdapat
inventory pada bulan ketiga yang harus ditambang pada bulan keempat
sebanyak 1038 ton sehingga coal getiing pada bulan keempat dikurangi
dengan jumlah inventory bulan sebelumnya agar dapat dilakukan
penambangan sesuai dengan target 15.000 ton, sisa pengurangan coal
getting tersebut menjadi inventory bulan keempat yaitu 1038 ton dan
ditambah inventory sebenarnya pada bulan empat yaitu 629 ton sehingga
jumlah inventorynya keseluruhan pada bulan ini yaitu 1667 ton. Pada
gambar dibawah ini merupakan rancangan blok pada bulan ke-4 dan
untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 14 dan 46.

59
Gambar 20. Design blok bulan ke-4
(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-5
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-5 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-4 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti standar geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan
lebar jenjang 5 meter dan single slope 45˚. Pada blok bulan ke-5 hanya
dilakukan coal getting dengan target produksi yaitu 15.000 ton/bulan
dengan coal expose 15.953 ton dan luasan blok 12.271 m³ sehingga
adanya penurunan elevasi yaitu elevasi terendah RL 30 atau floor dari
batubara. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan keempat yang
harus ditambang pada bulan kelima sebanyak 1667 ton sehingga coal
getiing pada bulan keempat dikurangi dengan jumlah inventory bulan
sebelumnya agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan target
15.000 ton, sisa pengurangan coal getting tersebut menjadi inventory
bulan kelima yaitu 1667 ton dan ditambah inventory sebenarnya pada
bulan kelima yaitu 953 ton sehingga jumlah inventorynya keseluruhan
pada bulan ini yaitu 2.620 ton. Pada gambar dibawah ini merupakan
rancangan blok pada bulan ke-5 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Lampiran 16 dan 47.

Gambar 21. Design blok bulan ke-5


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-6
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-6 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-5 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti standar geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan

60
lebar jenjang 5 meter dan single slope 45˚. Pada blok bulan ke-6 hanya
dilakukan coal getting dengan target produksi yaitu 15.000 ton/bulan
dengan coal expose 15.976 ton dan luasan blok 12.289 m³ sehingga
adanya penurunan elevasi yaitu elevasi terendah RL 29 atau floor dari
batubara. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan kelima yang harus
ditambang pada bulan keenam sebanyak 2620 ton sehingga coal getiing
pada bulan kelima dikurangi dengan jumlah inventory bulan sebelumnya
agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan target 15.000 ton, sisa
pengurangan coal getting tersebut menjadi inventory bulan keenam yaitu
2620 ton dan ditambah inventory sebenarnya pada bulan keenam yaitu
976 ton sehingga jumlah inventorynya keseluruhan pada bulan ini yaitu
3596 ton. Pada gambar dibawah ini merupakan rancangan blok pada
bulan ke-6 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 18 dan
48.

Gambar 22. Design blok bulan ke-6


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-7
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-7 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-6 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti standar geoteknik dari BMS yaitu tinggi bench 10 meter dengan
lebar jenjang 5 meter dan single slope 45˚. Pada blok bulan ke-7 hanya
dilakukan coal getting dengan target produksi yaitu 15.000 ton/bulan
tetapi pada bulan ke-7 merupakan akhir dari penambangan didalam pit
sehingga coal expose 4.721 ton dan luasan blok 12.289 m³ sehingga
adanya penurunan elevasi yaitu elevasi terendah RL 29 atau floor dari
batubara. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan keenam yang
harus ditambang pada bulan ketujuh sebanyak 3.596 ton, bulan ketujuh
adalah akhir dari penambangan sehingga coal expose pada bulan ketujuh
ditambah dengan inventory bulan sebelumnya dan didapatkan total coal
expose 8.371 ton. Pada gambar dibawah ini merupakan rancangan blok
pada bulan ke-6 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran
20 dan 49.

61
Gambar 23. Design blok bulan ke-7
(Sumber software Tambang, 2023)
4.1.5 Rancangan Waste dump
Rancangan Disposal merupakan rancangan yang harus disesuaikan
pada jumlah pengupasan Overburden didalam pit atau blok. Rancangan
Design Disposal ini terdapat 4 bulan rancangan dikarenakan pengupsan
Overburden hanya dilakukan selama 4 bulan. Untuk ketentuan geometri,
luasan dan daya tampung akan dijelaskan dibawah ini sesuai rancangan
setiap bulannya.
Tabel 17. Volume Waste dump
VOLUME WASTE DUMP PLAN PERUSAHAAN
Bulan BULAN ke-1 BULAN ke-2 BULAN ke-3 BULAN ke-4
Overburden (ccm) 72.377 72.687 72.523 30.997
kapasitas disposal 74.059 74.244 75.681 72.624
(Sumber Penulis, 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-1
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter
dan single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun
sesuai dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 75.392
bcm. Hasil dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal
merupakan material compact karena terdapat pemadatan menggunakan
compactor di Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan
dengan 1,2 dan kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya
ccm. Penimbunan ini dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi
sampai elevasi RL 46. Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,09 hektar
dan bulan pertama menampung Overburden 72.376 ccm dengan
kapasitas Disposal 74.059 m³. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar dibawah ini dan terdapat juga pada Lampiran 57.

62
Gambar 24. Rancangan Disposal bulan ke-1
(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-2
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter dan
single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun sesuai
dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 75.715 bcm. Hasil
dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal merupakan
material compact karena terdapat pemadatan menggunakan compactor di
Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan dengan 1,2 dan
kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya ccm. Penimbunan ini
dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi sampai elevasi RL 48,5.
Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,66 hektar dan bulan kedua
menampung Overburden 72.686 ccm dengan kapasitas Disposal 74.245 m³ .
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini dan terdapat juga
pada Lampiran 58.

Gambar 25. Rancangan Disposal bulan ke-2


(Sumber Software Tambang 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-3
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter dan
single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun sesuai
dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 75.545 bcm. Hasil
dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal merupakan

63
material compact karena terdapat pemadatan menggunakan compactor di
Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan dengan 1,2 dan
kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya ccm. Penimbunan ini
dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi sampai elevasi RL 50.
Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,66 hektar dan bulan ketiga
menampung Overburden 72.523 ccm dengan kapasitas 75.681 m³. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini dan terdapat juga pada
Lampiran 59.

Gambar 26. Rancangan Disposal bulan ke-3


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-4
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter dan
single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun sesuai
dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 32.289 bcm. Hasil
dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal merupakan
material compact karena terdapat pemadatan menggunakan compactor di
Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan dengan 1,2 dan
kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya ccm. Penimbunan ini
dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi sampai elevasi RL 48,5.
Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,98 hektar dan bulan pertama
menampung Overburden 30.997 ccm dengan kapasitas 72.624 m³. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini dan terdapat juga pada
Lampiran 60.

64
Gambar 27. Rancangan Disposal bulan ke-4
(Sumber Software Tambang, 2023)
4.2 Kemampuan Alat Mekanis
Berdasarkan rencana penambangan pada pengupasan Overburden
terdiri dari 2 fleet dimana setiap fleet terdiri dari 1 unit Excavator Komatsu
Pc400 dan berpasangan dengan 3 unit Articulated dump truck volvo a35e.
Berdasarkan penelitian dan pengamatan pada pit timur diperoleh hasil
perhitungan kemampuan alat mekanis sebagai berikut.
Produktivitas Alat Gali Muat
Tabel 18. Perhitungan produktivitas alat gali muat
NO Parameter Keterangan
1 Cycle Time (Ct) 20,02
2 Kapasitas Bucket (Kb) 2,2 m3
3 Fill Factor (Ff) 1
4 Effesiensi Kerja (E) 79%
5 Swell Factor (Sf) 0,80
(Sumber Penulis, 2023)
Berdasarkan parameter diatas, diperoleh produktivitas Excavator
Komatsu pc400lc dalam pengupasan Overburden sebesar 265,64 bcm/jam
atau 52.995 bcm/bulan. Untuk perhitungan lebih jelasnya dapat dilihat
pada Lampiran.
Produktivitas Alat Angkut
Tabel 19. Perhitungan produktivitas alat angkut
NO Parameter Keterangan
1 Kapasitas Bucket (Kb) 2,2 m3
2 Swell Factor (Sf) 0,80
3 Fill Factor (Ff) 1
4 Effesiensi (Eff) 79,47 %
5 Jumlah Pengisian (n) 5
6 Cycle Time (CT) 416,021 detik
(Sumber Penulis, 2023)
Berdasarkan parameter diatas, diperoleh produktivitas alat angkut
Articulated dump truck volvo a35e sebesar 63,91 bcm/jam atau 38.077,5
bcm/bulan. Untuk perhitungan lebih jelasnya dapat dilihat pada
Lampiran.

65
Keserasian Alat (Match factor)
Berikut merupakan match factor antara alat gali muat dan alat
angkut berdasarkan penelitian di lapangan.
Tabel 20. Match Faktor
No Parameter Keterangan
1 Jumlah alat angkut 3 unit
2 CT alat angkut 760,88 detik
3 Jumlah pengisian 5 kali
4 Jumlah alat gali muat 3 unit
5 CT alat gali 20,02 detik
(Sumber Penulis, 2023)
Jumlah alat angkut x Ct alat gali x jumlah pengisian
MF =
Jumlah alat gali muat x CT alat angkut
3 x 20,02 x 5
MF =
1 x 416,021
MF = 0,72

Dengan hasil ini didapatkan MF=<1 yang berarti alat angkut bekerja
100 % dan alat muat bekerja kurang dari 100 % sehingga alat muat
menunggu. Penyesuaian alat muat dan alat angkut pada kegiatan
penambangan dapat diketahui dengan cara menghitung besarnya nilai
match factor (Sumarya, 2012). Untuk perhitungan lebih jelasnya dapat
dilihat pada Lampiran.
Efisiensi Kerja Alat
Berdasarkan data perusahaan yang didapatkan oleh penulis, faktor
yang mempengaruhi efisiensi kerja alat gali muat dan alat angkut
Overburden di PT. Bubuhan Multi Sejahtera adalah waktu pemakaian alat
gali muat dan alat angkut tersebut.
1. MA (Mechanical Availability)
Mechanical avaibility merupakan tingkat kesediaan alat untuk
melakukan produksi dengan memperhitungkan kehilangan waktu karena
alasan mekanis. Berdasarkan data yang didapatkan Mechanical
Availability dump truck adalah 100% dan excavator adalah 100%.
2. PA (Physical Availability)
Physical Avaibility yaitu catatan mengenai keadaan fisik dari alat
yang sedang digunakan, yang menunjukkan persentase tersedianya alat
untuk beroperasi dengan memperhitungkan waktu yang hilang
disebabkan selain sebab mekanis. Berdasarkan data yang didapatkan
physical avaibility dump truck adalah 100% dan excavator Komatsu adalah
100%.

66
3. UA (Use of Availability)
Use of Avaibility adalah Nilai yang menunjukkan persentase waktu
yang digunakan oleh alat untuk beroperasi pada saat alat dapat
digunakan. Berdasarkan data yang didapatkan Use of Availability dump
truck adalah 73,55% dan excavator adalah 73,88 %.
4. EU (Effective Utilization)
Effective Utilization yaitu menunjukkan berapa persen dari seluruh
waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif.
Berdasarkan data yang didapatkan Effective Utilization articulated dump
truck adalah 76,67% dan excavator adalah 77,78%.
4.3 Penjadwalan Produksi
4.3.1 Pivot Table Dan Penjadwalan Produksi
Pivot Table dibuat dengan bantuan mengunakan software atau
perangkat lunak yaitu Microsoft Excel yang disusun berdasarkan faktor-
faktor elevasi atau ketinggian, nama blok dan strip pada blok. Pivot table
dibuat setelah melakukan perhitungan cadangan pada pit dengan
mengunakan metode blok yang dimana blok tersebut berukuran 50x50
meter untuk Overburden dan 20X20 meter untuk batubara dengan tinggi
sesuai tinggi blok. Pivot table berfungsi untuk mengetahui jumlah
cadangan batubara maupun Overburden dalam satu blok yang dimana
nantinya akan mempermudah didalam penjadwalan baik itu perbulan,
minggu ataupun perhari. Dengan adanya pivot table arah kemajuan
tambang dapat diatur sesuai rencana penambangan sehingga dapat
terlaksananya penambangan yang layak secara teknis, sistematis dan
terarah.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-2
Penambangan pada bulan ke-2 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.537 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Terdapat inventory pada blok kedua
yang akan ditambang pada bulan ke tiga sebanyak 537 ton. Dikarenakan
penjadwalan pada bulan kedua telah mencapai target yaitu 15.000
ton/bulan.
Pada bulan ke-2 terdapat lima blok diantaranya blok W01, W02,
W03, W04 dan W05. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu

67
dimana pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-
masing blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh
waktu dengan warna pada pivot table tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Lampiran.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-3
Penambangan pada bulan ke-3 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.501 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan kedua sebanyak
537 ton yang akan ditambang pada bulan ketiga, tetapi pada bulan ketiga
juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan ketiga dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan ketiga yaitu 501 maka total inventory keseluruhan adalah 1038 ton.
Pada bulan ke-3 terdapat empat blok diantaranya blok Y01, Y02, Y03
dan Y04. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-4
Penambangan pada bulan ke-4 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.625 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan ketiga sebanyak
1.038 ton yang akan ditambang pada bulan keempat, tetapi pada bulan
keempat juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan keempat dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan keempat yaitu 625 ton maka total inventory keseluruhan adalah
1.663 ton.

68
Pada bulan ke-4 terdapat empat blok diantaranya blok 101, 102, 103
dan 104. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-5
Penambangan pada bulan ke-5 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.953 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan keempat sebanyak
1.663 ton yang akan ditambang pada bulan kelima, tetapi pada bulan
kelima juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan kelima dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan kelima yaitu 953 ton maka total inventory keseluruhan adalah 2.616
ton.
Pada bulan ke-5 terdapat tiga blok diantaranya blok 301, 302 dan
303. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-6
Penambangan pada bulan ke-6 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.976 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan kelima sebanyak
2.616 ton yang akan ditambang pada bulan keenam, tetapi pada bulan
keenam juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan keenam dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada

69
bulan keenam yaitu 976 ton maka total inventory keseluruhan adalah
3.592 ton.
Pada bulan ke-6 terdapat 4 blok diantaranya blok 501, 502, 503, 504
dan 505. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-7
Penambangan pada bulan ke-7 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 4.721 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan keenam sebanyak
3.592 ton yang akan ditambang pada bulan tujuh sehingga total
kesluruhan batubara expose pada bulan ketujuh yaitu 8.313 ton, maka
pada bulan ketujuh hanya dilakukan penambangan atau penjadwalan
selama 2 minggu.
Pada bulan ke-7 terdapat 2 blok diantaranya blok 701 dan 702.
penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-1
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-1 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan
dengan total Overburden pada blok bulan ke-1 mencapai 75.392 bcm dan
dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal
penambangan.
Pada bulan ke-1 terdapat 3 blok diantaranya blok G01, G02, G03
dan G04. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.

70
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-2
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-2 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan
dengan total Overburden pada blok bulan ke-2 mencapai 75.715 bcm dan
dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal
penambangan.
Pada bulan ke-2 terdapat 3 blok diantaranya blok L01, L02 dan L03.
penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-3
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-3 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan
dengan total Overburden pada blok bulan ke-3 mencapai 75.545 bcm dan
dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal
penambangan.
Pada bulan ke-3 terdapat 3 blok diantaranya blok K01, K02 dan K03.
penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-4
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-4 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan,
tetapi bulan keempat merupakan akhir dari penambangan pengupasan
Overburden dan total Overburden pada blok bulan keempat yaitu 32.289
bcm dan dilakukan penjadwalan perminggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 18.750 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal
penambangan.

71
Pada bulan ke-4 terdapat 2 blok diantaranya blok M01 dan M02.
penjadwalan pada blok ini dibagi menjadi 1 minggu selama 2 minggu
dimana pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-
masing blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh
waktu dengan warna pada pivot table tersebut.
4.4 Rancangan Design Pit Limit Rekomendasi
Penentuan pit limit ini adalah rekomendasi dari penulis atas
perubahan area penambangan pada rancangan ini terdapat
perubahan yaitu geometri lereng, yang dimana perubahan
tersebut akan mempengaruhi semua hasil pada rencana
perusahaan mulai dari cadangan bahkan waktu yang akan
dijadwalkan didalam penambangan. Untuk luas bukaan area pit
penambangan atau boundry tetap sama pada luasan
sebelumnya yaitu seluas 3,15 hektar dengan elevasi tertinggi
54,1 mdpl dan terendah 25,46 mdpl.
4.4.1 Geometri Lereng
Design geometri lereng akan mempengaruhi tingkat
kestabilan lereng tambang. Pada penelitian ini Design lereng
dibuat berdasarkan rekomendasi penulis. Design geometri
lereng yang akan dibuat terdiri dari tinggi jenjang, lebar jenjang
dan single slope. Berdasarkan rekomendasi penulis maka
geometri lereng adalah sebagai berikut.
• Tinggi jenjang 10 meter
• Lebar jenjang 3 meter
• Single slope 80°
• Overall slope 60°
Selain geometri penulis juga memperoleh hasil uji
laboratorium dari material yang terdapat pada lokasi area
penambangan. Hasil uji laboratorium dapat dilihat pada tabel
berikut dan terdapat juga pada lampiran.

72
Tabel 21. Hasil Uji laboratorium
No. Material Name Property Distribution Mean Std. Dev. Rel. Min Rel. Max
1 Soil Cohesion Normal 246.5 14.3 234.3 266.6
2 Soil Phi Normal 10.98 5.33 5.413 18.182
3 Soil Unit Weight Normal 38.42 0.48 37.94 38.9
4 CLAY Cohesion Normal 267 26.86 242.1 307.3
5 CLAY Phi Normal 13.92 2.6 10.238 15.799
6 CLAY Unit Weight Normal 40.62 0.45 40.17 41.07
7 Coal Cohesion Normal 258 4.8 251.3 262
8 Coal Phi Normal 24 3.521 12.606 20.391
9 Coal Unit Weight Normal 15.4 0.45 13.87 14.76

(Sumber Laboratorium, 2011)


Dari geometri dan data laboratorium diatas penulis
melakukan perhitungan faktor keamanan, perhitungan ini guna
untuk memastikan nilai kestabilan lereng yang akan dirancang
pada pit penambangan dengan mengunakan bantuan software
tambang dan mengunakan dua metode yaitu bishop sehingga
menghasilkan nilai faktor keamanan 1,203. Berdasarkan
Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 nilai tersebut
merupakan standar yaitu 1,2-1,5 dan ditambah lagi waktu
penambangan hanya satu bulan perbloknya dan penulis juga
mempertimbangkan jumlah lereng yang ada pada pit
penambangan hanya terdapat satu seam. Perhitungan dapat
dilihat pada tabel berikut dan terdapat juga pada Lampiran.

Gambar 28. Perhitungan Faktor keamanan


(Sumber Sofware Tambang, 2023)

73
4.4.2 Rancangan Blok Pada Pit
Terdapat beberapa blok yang telah dibagi berdasarkan
target produksi perbulannya yaitu 15.000 ton batubara dan
75.000 Overburden. Pada pembagian ini terdapat volume
Overburden, luasan blok, coal getting dan inventory yang dimana
rancangan pit ini terbagi menjadi 7 blok setiap bloknya akan
dilakukan penambangan setiap bulannya. Untuk dapat
mengetahui secara lengkap batubara pada setiap bulannya
dapat dilihat pada tabel berikut ini dan terdapat juga pada
Lampiran.
Tabel 22. Cadangan Overburden perbulan
CADANGAN OB PLAN REKOMENDASI
OB 1 (bcm) OB 2 (bcm) OB 3 (bcm) OB 4 (bcm)
843.49 3,000.04 5,413.04 5,778.17
6,465.73 18,490.29 3,726.01 20,927.64
3,655.33 21,994.96 23,891.05 13,663.87
CADANGAN

2,999.90 3,293.03 13,816.56 4,767.10


14,926.69 15,655.07 18,427.95 21,365.71
13,510.51 13,477.86 10,343.84 4,812.80
5,701.00
16,874.33
10,863.19
TOTAL 75840.17 75,911.25 75,618.45 71,315.29
TOTAL 298,685.16
(Sumber Penulis, 2023)

74
Tabel 23. Jumlah cadangan batubara
CADANGAN BB PLAN REKOMENDASI
BB 2 BB 3 BB 4 BB 5 BB 6 BB 7 BB 8
29.88 257.8 27.32 122.57 230.22 424.7
244.85 572.47 667.54 498.95 763.6 1,028.49
238.67 733.99 825.18 683.77 1,116.86 1,388.90
226.26 897.75 960.68 983.41 1,534.38 1,713.27
43.91 1,045.72 1,095.23 1,275.68 1,857.60 23.78
413.38 527.44 813.25 375.68 323.36 532.79
523.45 476.91 135.91 300.53 253.2 2,118.54
673.23 843.42 993.76 995.73 1,420.43 2,216.14
1,009.62 1,050.44 1,274.53 1,422.28 1,906.95 2,655.52
920.99 1,265.66 1,685.97 1,500.32 2,400.53 810.48
5.81 1,462.96 2,003.10 2,404.11 2,356.06 1,842.00
0.85 397.04 1,018.85 556.94 23.74 1,114.37
CADANGAN PERBLOK

516.99 575.7 110.37 180.21 57.3


612.45 928.63 501.11 622.06 245.91
785.07 1,140.83 669.71 898.35 318.38
1,115.46 1,360.69 905.15 1,123.57 379.2
1,310.04 1,561.00 1,109.94 1,373.83 284.26
45.89 129.71 438.21 526.52
1.1 31.51
590 51.25
718.42 83.6
944.91 149.98
1,197.45 171.69
1,393.63 24.43
26.66
254.03
316.93
427.96
564.45
643.15
2.69
EXPOSE/TOTAL (Ton) 15798.2 15740.6 15235.8 15844.5 15472.0 15869.0 3958.2
COAL GETTING (Ton) 15000.0 15000.0 15000.0 15000.0 15000.0 15000.0 3958.2
INVENTORY (Ton) 798.2 1538.2 1773.2 2617.2 3089.2 3958.2 -
TOTAL (Ton) 93960.1
VOLUME BLOK (M³) 12152.4 12108.2 11719.9 12188.1 11901.5 12206.9 -
(Sumber Penulis, 2023)
Rancangan Blok Bulan Ke-1
Pembuatan Design blok penambangan didasarkan pada beberapa
pertimbangan. Diantaranya yaitu geoteknik yang direkomendasikan oleh
penulis. Desain jenjang kerja yang diterapkan mengikuti rekomendasi
penulis dengan geoteknik yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar jenjang
3 meter, single slope 80˚ dan overall slope 60°. Penambangan pada blok
pertama pengupasan Overburden dengan target produksi yaitu 75.000
bcm/bulan dengan total volume Overburden 75.840 bcm yang dimana
dilakukan mulai dari area low wall menuju highwall. Pada blok pertama
ini merupakan awal penambangan hingga mencapai elevasi terendah RL
36 atau roof dari batubara. Pada gambar dibawah ini merupakan
rancangan blok pada bulan ke-1 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Lampiran 24 dan 50.

75
Gambar 29. Design blok bulan ke-1 rekomendasi
(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Blok Bulan Ke-2
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-2 juga sama pada
rekomendasi blok bulan pertama yaitu Design jenjang kerja yang
diterapkan mengikuti rekomendasi penulis yaitu tinggi bench 10 meter
dengan lebar jenjang 3 meter, single slope 80˚ dan overall slope 60°.
Penambangan pada blok bulan ke-2 yaitu pengupasan Overburden dengan
target produksi yaitu 75.000 bcm/bulan dengan total volume Overburden
75.911 bcm yang dimana dilakukan mulai dari area low wall menuju
highwall. Pada blok bulan ke-2 ini dilakukan penambangan Overburden
hingga mencapai elevasi terendah RL 36 atau roof dari batubara. Pada
bulan ke-2 juga dilakukan penambangan pada blok pertama yaitu proses
coal getting dengan elevasi terendah RL 34 atau floor dari batubara dengan
target produksi 15.000 ton/bulan dengan total coal expose 15.798 ton,
inventory 798 ton dan luasan blok 12.152 m³. Pada gambar dibawah ini
merupakan rancangan blok pada bulan ke-2 dan untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Lampiran 26 dan 51.

Gambar 30. Design blok bulan ke-2


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Blok Bulan Ke-3
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-3 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-2 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti rekomendasi penulis yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar

76
jenjang 3 meter, single slope 80˚ dan overall slope 60°. Penambangan pada
blok bulan ke-3 yaitu pengupasan Overburden dengan target produksi
yaitu 75.000 bcm/bulan dengan total volume Overburden 75.618 bcm
yang dimana dilakukan mulai dari area low wall menuju highwall. Pada
blok bulan ke-3 ini dilakukan penambangan Overburden hingga mencapai
elevasi terendah RL 33 atau roof dari batubara. Pada bulan ke-3 juga
dilakukan penambangan pada blok kedua yaitu proses coal getting dengan
elevasi terendah RL 31 atau floor dari batubara dengan target produksi
15.000 ton/bulan dengan total coal expose 15.740 ton, inventory 740 ton
dan luasan blok 12.108 m³. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan
kedua yang harus ditambang pada bulan ketiga sebanyak 798 ton
sehingga coal getiing pada bulan ketiga dikurangi dengan jumlah inventory
bulan sebelumnya agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan
target 15.000 ton, sisa pengurangan coal getting tersebut menjadi
inventory bulan ketiga yaitu 798 ton dan ditambah inventory sebenarnya
pada bulan ketiga yaitu 740 ton sehingga jumlah inventorynya
keseluruhan pada bulan ini yaitu 1.538 ton. Pada gambar dibawah ini
merupakan rancangan blok pada bulan ke-3 dan untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Lampiran 28 dan 52.

Gambar [Link] blok bulan ke-3


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Blok Bulan Ke-4
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-4 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-3 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti rekomendasi penulis yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar
jenjang 3 meter, single slope 80˚ dan overall slope 60°. Penambangan pada
blok bulan ke-4 yaitu pengupasan Overburden dengan target produksi
yaitu 75.000 bcm/bulan dengan total volume Overburden 71.315 bcm
yang dimana dilakukan mulai dari area low wall menuju highwall. Bulan

77
keempat merupakan proses pengupasan Overburden terakhir didalam pit
dengan luasan boundry 3 hektar. Pada blok bulan ke-4 ini dilakukan
penambangan Overburden hingga mencapai elevasi terendah RL 30 atau
roof dari batubara. Pada bulan ke-4 juga dilakukan penambangan pada
blok ketiga yaitu proses coal getting dengan elevasi terendah RL 30 atau
floor dari batubara dengan target produksi 15.000 ton/bulan dengan total
coal expose 15.235 ton dan luasan blok 11.719 m³. Selain itu juga terdapat
inventory pada bulan ketiga yang harus ditambang pada bulan keempat
sebanyak 1.538 ton sehingga coal getiing pada bulan keempat dikurangi
dengan jumlah inventory bulan sebelumnya agar dapat dilakukan
penambangan sesuai dengan target 15.000 ton, sisa pengurangan coal
getting tersebut menjadi inventory bulan keempat yaitu 1.538 ton dan
ditambah inventory sebenarnya pada bulan empat yaitu 235 ton sehingga
jumlah inventorynya keseluruhan pada bulan ini yaitu 1.773 ton. Pada
gambar dibawah ini merupakan rancangan blok pada bulan ke-4 dan
untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 30 dan 53.

Gambar 32. Design blok bulan ke-4


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan blok bulan ke-5
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-5 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-4 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti rekomendasi penulis yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar
jenjang 3 meter, single slope 80˚ dan overall slope 60°. Pada blok bulan ke-
5 hanya dilakukan coal getting dengan target produksi yaitu 15.000
ton/bulan dengan coal expose 15.844 ton dan luasan blok 12.188 m³
sehingga adanya penurunan elevasi yaitu elevasi terendah RL 29 atau floor
dari batubara. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan keempat yang
harus ditambang pada bulan kelima sebanyak 2.617 ton sehingga coal
getiing pada bulan keempat dikurangi dengan jumlah inventory bulan
sebelumnya agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan target

78
15.000 ton, sisa pengurangan coal getting tersebut menjadi inventory
bulan kelima yaitu 1.773 ton dan ditambah inventory sebenarnya pada
bulan kelima yaitu 844 ton sehingga jumlah inventorynya keseluruhan
pada bulan ini yaitu 2.617 ton. Pada gambar dibawah ini merupakan
rancangan blok pada bulan ke-5 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Lampiran 32 dan 54.

Gambar 33. Design blok bulan ke-5


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Blok Bulan Ke-6
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-6 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-5 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti rekomendasi penulis yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar
jenjang 3 meter dan single slope 45˚. Pada blok bulan ke-6 hanya
dilakukan coal getting dengan target produksi yaitu 15.000 ton/bulan
dengan coal expose 15.472 ton dan luasan blok 11.901 m³ sehingga
adanya penurunan elevasi yaitu elevasi terendah RL 28 atau floor dari
batubara. Selain itu juga terdapat inventory pada bulan kelima yang harus
ditambang pada bulan keenam sebanyak 2.617 ton sehingga coal getiing
pada bulan kelima dikurangi dengan jumlah inventory bulan sebelumnya
agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan target 15.000 ton, sisa
pengurangan coal getting tersebut menjadi inventory bulan keenam yaitu
2.617 ton dan ditambah inventory sebenarnya pada bulan keenam yaitu
472 ton sehingga jumlah inventorynya keseluruhan pada bulan ini yaitu
3089 ton. Pada gambar dibawah ini merupakan rancangan blok pada
bulan ke-6 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 34 dan
55.

79
Gambar 34. Design blok bulan ke-6
(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Blok Bulan Ke-7
Pembuatan Design blok penambangan bulan ke-7 juga sama pada
rekomendasi blok bulan ke-5 yaitu Design jenjang kerja yang diterapkan
mengikuti rekomendasi penulis yaitu tinggi bench 10 meter dengan lebar
jenjang 3 meter dan single slope 45˚. Pada blok bulan ke-7 hanya
dilakukan coal getting dengan target produksi yaitu 15.000 ton/bulan
dengan coal expose 15.869 ton dan luasan blok 1.206 m³ sehingga adanya
penurunan elevasi yaitu elevasi terendah RL 25 atau floor dari batubara.
Selain itu juga terdapat inventory pada bulan keenam yang harus
ditambang pada bulan ketujuh sebanyak 3.089 ton sehingga coal getiing
pada bulan ketujuh dikurangi dengan jumlah inventory bulan sebelumnya
agar dapat dilakukan penambangan sesuai dengan target 15.000 ton, sisa
pengurangan coal getting tersebut menjadi inventory bulan ketujuh yaitu
3.089 ton dan ditambah inventory sebenarnya pada bulan ketujuh yaitu
869 ton sehingga jumlah inventorynya keseluruhan pada bulan ini yaitu
3.958 ton sehingga inventory tersebut dilakukan penambangan pada
bulan kedelapan. Pada gambar dibawah ini merupakan rancangan blok
pada bulan ke-6 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran.

Gambar 35. Design blok bulan ke-7


(Sumber Software Tambang, 2023)
4.4.3 Perhitungan Cadangan
Pada penelitian ini cadangan yang dihitung adalah cadangan
didalam pit yang akan dirancang. Perhitungan dilakukan dengan bantuan
sofware tambang. Data-data yang diperoleh dari perusahaan berupa data

80
logbor, survei dan topografi. Didalam perhitungan ini mengunakan metode
blok yang dimana setiap blok dibagi dengan ukuran 50x50 meter untuk
blok pada perhitugan cadangan Overburden dan 20x20 meter untuk blok
pada perhitungan batubara, kemudian dilakukan perhitungan reserves
dan perhitungan tersebut mendapatkan total Overburden dan batubara
dalam bentuk data report sehingga pengolahan data untuk mendapatkan
nilai Striping rasio (SR) bisa dilakukan dengan membagi total Overburden
dan total batubara. Pada perhitungan cadangan didalam pit didapatkan
294.568 bcm dan 88.248 ton batubara dan rata-rata SR dengan nilai 3,3.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini dan pada
Lampiran.

Gambar 36. Laporan cadangan


(Sumber Software Tambang, 2023)
4.4.4 Rancangan Waste dump
Rancangan Disposal merupakan rancangan yang harus disesuaikan
pada jumlah pengupasan Overburden didalam pit atau blok. Pada
rancangan Design Disposal ini terdapat 4 bulan rancangan dikarenakan
pengupsan Overburden hanya dilakukan selama 4 bulan. Untuk
ketentuan geometri, luasan dan daya tampung akan dijelaskan dibawah
ini sesuai rancangan setiap bulannya.
Tabel 24. Volume waste dump rekomendasi
VOLUME WASTE DUMP PLAN REKOMENDASI
Bulan BULAN ke-1 (ccm) BULAN ke-2 (ccm) BULAN ke-3 (ccm) BULAN ke-4 (ccm)
Overburden (ccm) 72806.5632 72,874.80 72593.712 68462.6784
Kapasitas disposal 74,059.95 74,244.00 75,681.00 72,624.00

(Sumber Penulis, 2023)


Rancangan Disposal Bulan Ke-1
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter

81
dan single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun
sesuai dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 75.840
bcm. Hasil dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal
merupakan material compact karena terdapat pemadatan menggunakan
compactor di Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan
dengan 1,2 dan kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya
ccm. Penimbunan ini dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi
sampai elevasi RL 46. Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,09 hektar
dan bulan pertama menampung Overburden 72.806 ccm dengan
kapasitas Disposal 74.059 m³. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar dibawah ini dan terdapat juga pada Lampiran .

Gambar 37. Rancangan rekomendasi Disposal bulan ke-1


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-2
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter
dan single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun
sesuai dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 75.911
bcm. Hasil dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal
merupakan material compact karena terdapat pemadatan menggunakan
compactor di Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan
dengan 1,2 dan kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya
ccm. Penimbunan ini dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi
sampai elevasi RL 48,5. Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,66 hektar
dan bulan kedua menampung Overburden 72.874 ccm dengan kapasitas
Disposal 74.244 m³. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
dibawah ini dan terdapat juga pada Lampiran.

82
Gambar 38. Rancangan Rekomendasi Disposal bulan ke-2
(Sumber Software Tambang 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-3
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter
dan single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun
sesuai dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 75.618
bcm. Hasil dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal
merupakan material compact karena terdapat pemadatan menggunakan
compactor di Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan
dengan 1,2 dan kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya
ccm. Penimbunan ini dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi
sampai elevasi RL 58. Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,66 hektar
dan bulan ketiga menampung Overburden 72.593 ccm dengan kapasitas
Disposal 75.681 m³. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
dibawah ini dan terdapat juga pada Lampiran.

Gambar 39. Rancangan Rekomendasi Disposal bulan ke-3


(Sumber Software Tambang, 2023)
Rancangan Disposal Bulan Ke-4
Pembuatan Design Disposal juga perlu memperhatikan rekomendasi
geoteknik yang ditetapkan oleh BMS. Design geoteknik untuk pembuatan
Disposal memiliki lebar jenjang 5 meter dengan tinggi jenjang 10 meter
dan single slope 45° atau mengikuti jumlah Overburden yang tertimbun
sesuai dengan pengupasan Overburden pada setiap bloknya yaitu 71.315

83
bcm. Hasil dari pengupasan Overburden yang akan ditimbun di Disposal
merupakan material compact karena terdapat pemadatan menggunakan
compactor di Disposal sehingga bcm menjadi lcm dengan cara mengalikan
dengan 1,2 dan kemudian dikalikan dengan 0,80 untuk menjadikannya
ccm. Penimbunan ini dilakukan dari bawah yang didasari oleh topografi
sampai elevasi RL 63. Luasan pada boundry Disposal yaitu 1,97 hektar
dan bulan keempat menampung Overburden 68.462 ccm dengan
kapasitas Disposal 72.624 m³. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar dibawah ini dan terdapat juga pada Lampiran.

Gambar 40. Rancangan Rekomendasi Disposal bulan ke-4


(Sumber Software Tambang, 2023)
4.4.5 Penjadwalan Produksi dan Pivot table
Pada penjadwalan produksi plan rekomendasi tetap mengunakan
cara yang sama pada penjadwalan plan sebelumnya yaitu plan
perusahaan hanya terdapat perbedaan jumlah cadangan sehingga
penjadwalannya menjadi berubah. Pada penjadwalan ini masih
mengunakan pivot table atau mengunakan Microsoft excel yang disusun
berdasarkan elevasi ketinggian, nama blok dan strip pada blok. Pivot table
dibuat setelah melakukan perhitungan cadangan pada pit dengan
mengunakan metode blok yang dimana blok tersebut berukuran 50x50
meter untuk Overburden dan 20x20 meter untuk batubara.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-2
Penambangan pada bulan ke-2 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.798 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Terdapat inventory pada blok kedua
yang akan ditambang pada bulan ke tiga sebanyak 798 ton. Dikarenakan
penjadwalan pada bulan kedua telah mencapai target yaitu 15.000
ton/bulan.

84
Pada bulan ke-2 terdapat lima blok diantaranya blok A01, A02, A03,
A04 dan A05. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Lampiran.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-3
Penambangan pada bulan ke-3 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.740 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan kedua sebanyak
798 ton yang akan ditambang pada bulan ketiga, tetapi pada bulan ketiga
juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan ketiga dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan ketiga yaitu 740 ton maka total inventory keseluruhan adalah 1.538
ton.
Pada bulan ke-3 terdapat empat blok diantaranya blok C01, C02,
C03 dan C04. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-4
Penambangan pada bulan ke-4 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.235 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan ketiga sebanyak
1.538 ton yang akan ditambang pada bulan keempat, tetapi pada bulan
keempat juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi

85
inventory bulan keempat dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan keempat yaitu 235 ton maka total inventory keseluruhan adalah
1.773 ton.
Pada bulan ke-4 terdapat tiga blok diantaranya blok E01, E02 Dan
E03. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-5
Penambangan pada bulan ke-5 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.844 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan keempat sebanyak
1.773 ton yang akan ditambang pada bulan kelima, tetapi pada bulan
kelima juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan kelima dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan kelima yaitu 844 ton maka total inventory keseluruhan adalah 2.617
ton.
Pada bulan ke-5 terdapat tiga blok diantaranya blok I01, I02 dan
I03. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-6
Penambangan pada bulan ke-6 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.472 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan kelima sebanyak
2.617 ton yang akan ditambang pada bulan keenam, tetapi pada bulan
keenam juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat

86
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan keenam dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan keenam yaitu 472 ton maka total inventory keseluruhan adalah
3.089 ton.
Pada bulan ke-6 terdapat 3 blok diantaranya blok K01, K02 dan K03.
penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-7
Penambangan pada bulan ke-7 sesuai rekomendasi perusahaan
dengan target produksi batubara sebesar 15.000 ton/bulan dengan total
cadangan batubara expose 15.869 ton dan dilakukan penjadwalan
perminggu pada blok tersebut sehingga produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu. Kemudian cadangan tersebut dilakukan penjadwalan
manual dengan mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip
blok sesuai arah awal penambangan. Inventory bulan keenam sebanyak
3.089 ton yang akan ditambang pada bulan ketujuh, tetapi pada bulan
ketujuh juga telah memiliki inventory dan target 15.000 ton, untuk dapat
menambang inventory bulan sebelumnya maka target bulan ini dikurangi
inventory bulan sebelumnya dan hasil dari pengurangan tersebut menjadi
inventory bulan ketujuh dan ditambah dengan inventory sebenarnya pada
bulan ketujuh yaitu 869 ton maka total inventory keseluruhan adalah
3.958 ton.
Pada bulan ke-7 terdapat 3 blok diantaranya blok M01, M02 dan
M03. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 4 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Batubara Bulan Ke-8
Penambangan pada bulan ke-8 Merupakan penambangan terakhir
atau telah mencapai mine out pada pit plan rekomendasi dan penjadwalan
pada bulan kedelapan adalah penjadwalan untuk menghabiskan sisa
inventory sebanyak 3.958 ton. Pada produktivitas perminggunya yaitu
3.750 ton/minggu sehingga inventory bulan sebelumnya dapat dilakukan
selama 1 minggu.
Pada bulan ke-8 tidak terdapat pivot table seperti bulan

87
sebulumnya, penjadwalan bulan kedelapan ini bertujuan untuk
menambang dan mengambil inventory bulan sebelumnya.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-1
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-1 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan
dengan total Overburden pada blok bulan ke-1 mencapai 75.840 bcm dan
dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal
penambangan.
Pada bulan ke-1 terdapat 3 blok diantaranya blok O01, O02 dan
O03. penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana
pembagian tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing
blok yang telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu
dengan warna pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-2
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-2 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan
dengan total Overburden pada blok bulan ke-2 mencapai 75.911 bcm dan
dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal
penambangan.
Pada bulan ke-2 terdapat 2 blok diantaranya blok Q01 dan Q02.
penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-3
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-3 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan
dengan total Overburden pada blok bulan ke-3 mencapai 75.618 bcm dan
dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut sehingga
produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian pengupasan
Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan mengunakan
pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah awal

88
penambangan.
Pada bulan ke-3 terdapat 3 blok diantaranya blok S01, S02 dan S03.
penjadwalan pada blok ini terbagi menjadi 2 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
Pivot Table Penjadwalan Overburden Bulan Ke-4
Penambangan pada pengupasan Overburden bulan ke-4 sesuai
dengan target produksi perusahaan yaitu sebesar 75.000 bcm/bulan,
tetapi bulan keempat merupakan akhir dari penambangan pengupasan
Overburden dan total Overburden pada blok bulan keempat yaitu 71.315
bcm dan dilakukan penjadwalan per 2 minggu pada blok tersebut
sehingga produktivitasnya yaitu 37.500 bcm/minggu. Kemudian
pengupasan Overburden tersebut dilakukan penjadwalan manual dengan
mengunakan pivot table berdasarkan elevasi dan strip blok sesuai arah
awal penambangan.
Pada bulan ke-4 terdapat 2 blok diantaranya blok U01 dan U02.
penjadwalan pada blok ini dibagi menjadi 2 minggu dimana pembagian
tersebut berdasarkan jumlah cadangan pada masing-masing blok yang
telah dibagi didalam pivot table dan ditunjukan oleh waktu dengan warna
pada pivot table tersebut.
4.4.6 Rekomendasi Rancangan Penyaliran
Perhitungan Debit Air Limpasan
Catchment Area (A)
Untuk menentukan luas daerah tangkapan hujan (catchment area) pada
Pit barat peneliti dibantu dengan bantuan software Tambang Daerah
tangkapan hujan di bentuk dengan cara menghitung luasan area Boundry
atau garis mengelilingi pit dan di tentukan berdasarkan tinggi dan rendah dari
bentuk kontur tersebut. Air dari catchment area akan mengalir ke sump
tambang dan catchment area dibagi setiap bulannya dikarenakan setiap blok
akan terjadi perubahan setiap bulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 25. Luasan Cathment Area
Cathment Area

Satuan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4

Hektar 1,24 1,87 2,50 3,15


Km° 0,0121 0,0187 0,025 0,0315
(Sumber Penulis, 2023)

89
Koefisien Limpasan (C)
Nilai koefisien limpasan ditentukan berdasarkan kondisi lapangan, dari
hasil pengamatan peneliti di lapangan diketahui bahwa kondisi di utara
tumbuhan yang jarang dan daerah tambang. Sehingga berdasarkan pada tabel
2 diperoleh nilai koefisien limpasan 0,9.
Tabel 26. Koefisien Limpasan

Kemiringan Jenis lahan Koefisien Limpasan (C)

Sawah, rawa 0,2


>3% (datar) Hutan, perkebunan 0,3
perumahan 0,4
Hutan, perkebunan 0,4
perumahan 0,5
3%-15% (Sedang) semak-semak agak jarang 0,6
Lahan terbuka daerah tambang 0,7
hutan 0,6
perumahan 0,7
>15% (Curam) semak-semak agak jarang 0,8
Lahan terbuka daerah tambang 0,9

(Sumber Bambang S, 1985)


Intensitas Curah Hujan (I)
Intensitas curah hujan merupakan jumlah hujan yang jatuh atau turun
dan dinyatakan dalam tinggi curah hujan atau volume hujan per satuan
waktu. Adapun satuan dalam intensitas curah hujan dinyatakan dalam
mm/jam. Untuk mendapatkan intensitas curah hujan yaitu dengan
menggunakan persamaan Mononobe. Adapun tahapannya harus dari
pengolahan data curah hujan yang diolah untuk mendapatkan curah hujan
rencana menggunakan metode distribusi gumbell. Dari hasil curah hujan
rencana yang diolah maka akan didapatkan nilai intensitas curah hujan. Nilai
intensitas curah hujan dengan menggunakan data curah hujan selama 5
tahun yaitu sebesar 5,82 mm/jam Lampiran.
𝑆
𝑋𝑡 = 𝑋 + (𝑌𝑡 − 𝑌𝑛)
𝑆𝑛
47,19
𝑋𝑡 = 378,2 + (0,36 − 0,21)
0,98
𝑋𝑡 = 385,61 𝑚𝑚/𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
2⁄
𝑅24 24 3
𝐼= ( )
24 𝑡𝑐
2⁄
26,44 24 3
= ( )
24 1,97
= 5,82 𝑚𝑚/𝑗𝑎𝑚

90
Xt = Curah Hujan Rencana
X = Rata-rata curah hujan maksimal pertahun
S = Simpangan Baku
Sn = Simpangan Koreksi
Yt = Periode ulang
Debit Air Limpasan
Beberapa faktor yang mempengaruhi besar debit air limpasan yaitu
luas catchment area dan intensitas hujan. Jumlah air limpasan yang masuk
ke Pit barat hampir berasal dari limpasan air hujan.
Perhitungan debit limpasan (Q) dengan luas catchment berbeda
dikarenakan ada beberapa blok yang dimana setiap bulannya terjadi
perubahan luasan area. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel bawah
ini dan terdapat juga pada Lampiran.
Q = 0,278 x c x I x A
Tabel 27. Perhitungan Debit air limpasan
Debit air limpasan
Bulan 1 0,018056/detik 65,00316/jam 128,4872/hari 385,46/3 hari 1.860,325/bulan
Bulan 2 0,02723/detik 98,02896/jam 193,767/hari 581,30/3 hari 5.545,419/bulan
Bulan 3 0,036404/detik 131,0548/jam 259,0468/hari 777,14/3 hari 7.413,661/bulan
Bulan 4 0,045869/detik 165,129/jam 326,399/hari 979,19/3 hari 9.341,213/bulan
(Sumber Penulis, 2023)
Rekomendasi Temporary Sump
Sump atau kolam penampung merupakan tempat yang dibuat untuk
menampung air dalam tambang sebelum air tersebut dipompakan. Volume
sump rekomendasi dihitung menggunakan perangkat lunak, kemudian
volume tersebut dikalikan dengan nilai 1,25 sesuai dengan Kepmen ESDM
No. 1827 K/30/MEM/2018 dan dengan metode trial dan error, didapatkan
ukuran titik tertinggi, titik terendah, sisi 1 (panjang), sisi 2 (lebar) dan sisi 3
dari sump tersebut. Pada penelitian ini terdapat 4 rancangan sump yang
dimana pada rancangan bulan keempat menjadi rancangan sampai bulan
kedelapan, perubahan ukuran sump dikarenakan adanya kemajuan
tambang. Untuk hasil dapat dilihat pada gambar bawah ini atau terdapat
pada Lampiran.
Tabel 28. Volume Sump
Volume Sump/3 hari
Waktu debit/3 hari dimensi sump dimensi sump design
Bulan 1 385,46/3 hari 481,81 m³ 487,77 m³
Bulan 2 581,30/3 hari 726,62 m³ 719,55 m³
Bulan 3 777,14/3 hari 971,42 m³ 987,06 m³
Bulan 4 979,19/3 hari 1.223,99 m³ 1.245,19 m³
(Sumber Penulis, 2023)

91
Gambar 41. Dimensi sump bulan ke-1
(Sumber Sofware Tambang, 2023)

Gambar 42. Dimensi sump bulan ke-1


(Sumber Sofware Tambang, 2023)

Gambar 43. Dimensi sump bulan ke-2


(Sumber Sofware Tambang, 2023)

Gambar 44. Dimensi sump bulan ke-2


(Sumber Software Tambang, 2023)

92
Gambar 45. Dimensi sump bulan ke-3
(Sumber Software Tambang, 2023)

Gambar 46. Dimensi sump bulan ke-3


(Sumber Software Tambang, 2023)

Gambar 47. Dimensi sump bulan ke-4


(Sumber Software Tambang, 2023)

Gambar 48. Dimensi sump bulan ke-4


(Sumber Software Tambang, 2023)

93
Tabel 29. Dimensi sump keseluruhan
Dimensi Sump (Meter)
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4
Sisi 1 ( panjang top) 50 33,4 33,5 33,5
Sisi 2 (lebar top) 37 13 13 13
Sisi 3 67,27 - - -
Sisi 4 (panjang bottom) 49,7 32 32,5 32,5
Sisi 5 (lebar bottom) 37,5 12 12 13,3
Slope 80 80 80 80
Titik tertinggi 36,16 35,48 32,75 30,59
Titik terendah 34,42 32,5 29,3 27,4
(Sumber Software Tambang, 2023)
Waktu Pemompaan
Jenis pompa yang digunakan pada PT. Bubuhan Multi sejahtera
pada penambangan sebelumnya yaitu jenis rakitan yang mampu
mengeluakan debit air 300 m³/jam sehingga untuk mencari waktu
pemompaan yaitu debit pompa dibagi dengan debit air yang masuk. Pada
waktu pemompaan penulis merekomendasi pemompaan dilakukan setiap
3 hari sekali didalam satu bulan, sehingga terdapat 10x pemompaan
perbulannya. Didalam 1 bulannya waktu jam kerja pompa berbeda-beda
dikarenakan adanya perbedaan ukuran catchment area. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 30. Jam kerja pompa
Jam Kerja Pompa/3hari
Bulan 1 385,46/3 hari 1,28 jam
Bulan 2 581,30/3 hari 1,93 jam
Bulan 3 777,14/3 hari 2,59 jam
Bulan 4 979,19/3 hari 3,26 jam
(Sumber Penulis, 2023)

Gambar 49. Pompa PT. BMS


(Sumber Penulis, 2023)

94
4.5 Ringkasan Penelitian
Pada ringkasan penelitian merupakan perbandingan secara singkat
dan garis besar untuk melihat perbandingan total cadangan Overburden
dan batubara, geometri lereng dan penjadwalan produksi. Perbandingan
antara plan perusahaan dan plan rekomendasi dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 31. Perbandingan plan penambangan
CADANGAN (BCM)
OVERBURDEN BATUBARA
PLAN PERUSAHAAN 258.943,82 83.315,50
PLAN REKOMENDASI 298.685,16 93.960,10
CADANGAN/BLOK
PLAN PERUSAHAAN
EXPOSE/TOTAL (Ton) 15537.00 15501.00 15625.00 15953.00 15976.00 4721.00
COAL GETTING (Ton) 15000.00 15000.00 15000.00 15000.00 15000.00 8313.00
INVENTORY (Ton) 537.00 1038.00 1663.00 2616.00 3592.00 -
TOTAL (Ton) 83313.00
VOLUUME BLOK (M³) 11951.54 11923.85 12019.23 12271.54 12289.23 3631.54
PLAN REKOMENDASI
EXPOSE/TOTAL (Ton) 15798.0 15740.0 15235.0 15844.0 15472.0 15869.0
COAL GETTING (Ton) 15000.0 15000.0 15000.0 15000.0 15000.0 15869.0
INVENTORY (Ton) 798.0 740.0 235.0 844.0 472.0 -
TOTAL (Ton) 93958.0
VOLUME BLOK (M³) 12152.3 12107.7 11719.2 12187.7 11901.5 12206.9
GEOMETRI LERENG (METER)
PLAN PERUSAHAAN PLAN REKOMENDASI
TINGGI (M) 10 10
LEBAR (M) 5 3
SINGLE SLOPE (°) 45 80
OVERALL SLOPE (°) 50 60
FK Metode Bishop 2,239 1,203
PENJADWALAN PRODUKSI
PLAN PERUSAHAAN PLAN REKOMENDASI
WAKTU OVERBURDEN (BCM) BATUBARA (TON) OVERBURDEN (BCM) BATUBARA (TON)
BULAN 1 37.500/2 weeks for 1 month - 37.500/2 weeks for 1 month -
BULAN 2 37.500/2 weeks for 1 month 3.750/week for 1 month 37.500/2 weeks for 1 month 3.750/week for 1 month
BULAN 3 37.500/2 weeks for 1 month 3.750/week for 1 month 37.500/2 weeks for 1 month 3.750/week for 1 month
BULAN 4 32.289/2 weeks for 2 weeks 3.750/week for 1 month 37.500/2 weeks for 1 month 3.750/week for 1 month
BULAN 5 - 3.750/week for 1 month - 3.750/week for 1 month
BULAN 6 - 3.750/week for 1 month - 3.750/week for 1 month
BULAN 7 - 3.750/week for 2 weeks - 3.750/week for 1 month
BULAN 8 - - - 3.960/week for 1 week
(Sumber Penulis, 2023)

95
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Pada rancangan Design pit didalamnya terdapat geometri lereng, geometri
jalan angkut, perhitungan cadangan, rancangan blok dan Design waste
dump. Geometri lereng mengunakan rekomendasi dari perusahaan yaitu
tinggi 10 meter, lebar 5 meter, single slope 45° dan didapatkan factor
keamanan 2,23 untuk metode bishop. selain itu juga terdapat geometri
jalan angkut berupa lebar jalan 12,25 meter dan grade 8-12%. Pada
perhitungan cadangan Overburden yaitu 258.943 Bcm dan 83.315 ton
untuk batubara, sedangkan pada rancangan blok ukuran atau bukaan
blok dibagi sesuai dengan target produksi yaitu 75.000 Bcm Overburden
dan 15.000 ton untuk batubara, terdapat 4 blok Overburden dan 6 blok
batubara. Selain itu terdapat rangan waste dump yang mampu
menampung Overburden setiap bulannya dalam bentuk material ccm,
waste dump ini dirancang selama 4 bulan dikarenakan material pada pit
hanya selama 4 bulan.
2. Pada kemampuan alat mekanis penulis hanya melakukan perhitungan alat
pada Overburden dan didapatkan kemampuan alat 76.154 bcm/bulan.
Terdapat 2 fleet yang dimana alat yang digunakan yaitu 2 excavator
komatsu pc400 dengan kemampuan 105.990 bcm dan 76.154 bcm untuk
articulated dump truck volvo A35e sedangkan untuk keserasian alat
didapatkan nilai 0,72 dengan waktu kerja 9 jam, waktu kerja efektif 6,65
jam/hari dan terdapat 1 shift/hari.
3. Pada penjadwalan produksi terdapat 4 penjadwalan pada Overburden dan
7 pada penjadwalan batubara, penjadwalan ini didasari oleh blok model
yang dimana model pada Overburden yaitu 50x50 meter dan 20x20 meter
pada batubara dan penjadwalan dilakukan perminggu untuk batubara
dengan target produksi 3.750/minggu dan per 2 minggu untuk Overburden
dengan target produksi 37.500/2 minggu.
4. Pada plan rekomendasi terdapat Design pit dengan geometri lereng tinggi
10 meter, lebar 3 meter, single slope 80°, overall slope 60° dan didapatkan
factor keamanan 1,20 untuk metode bishop. Pada perhitungan cadangan
Overburden 298.685 bcm dan 93.960 ton untuk batubara. Terdapat 4 blok
Overburden dan 6 blok untuk batubara selain itu juga dilakukan
penjadwalan selama 4 bulan untuk Overburden dan 7 bulan untuk
batubara. Selain itu penulis juga merekomendasi penyaliran atau

96
rancangan sump dengan waktu pompa per 3 hari dan jam kerja pompa
1,28 jam volume 385,46 m³ bulan ke-1, 1,93 jam volume 581,30 m³ bulan
ke-2, 2,59 jam volume 777,14 m³ bulan ke-3 dan 3,26 jam volume 979,19
m³ bulan ke-4.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Studi kelayakan tetap harus diperhatikan didalam melakukan rancangan
middle term maupun short term agar tidak menjadi suatu rancangan yang
bersifat illegal.
2. Diperlukan koordinasi kepada pengawas lapangan agar keberlangsungan
penambangan sesuai dengan yang direncanakan.

97
DAFTAR PUSTAKA

Adnannst, Maryanto, & Guntoro, D. (2015). Rencana Rancangan Tahapan


Penambangan Untuk Menentukan Jadwal Produksi PT Cipta Kridatama
Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Prosiding
Teknik Pertambangan.
Alkausar, T. J. (2020). Rancangan Penambangan Pit SR4 Pada PT. Manggala
Usaha Manunggal Jobsite Bara Anugra
h Sejahtera, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Bina
Tambang, Vol 5 (1).
Asdak, C.,1995, Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada
University Press,P.O.Box14Bulak sumur Yogyakarta 55281, hal.7– 8; 151
-161
Badhurahman, abie. 2017. Materi Praktikum Sistem Dewatering Tambang Terbuka
(Pemompaan dan Sumuran). Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Bambang, S. (1985). Perencanaan Drainase Tambang Terbuka. Jakarta: PT.
Pradnya Paramita.
Barber, A. J., Crow, M. J., & Milsom, J. S. (2005). Sumatera : Geology, Resources,
and Tectonic Evolution, Geological Society. Oxford University.
Bargawa, W. S. (2008). Penjadwalan Produksi (Mine Scheduling) pada
Perancangan Teknis Penambangan Batubara secara Tambang Terbuka.
Prosiding Seminar Nasional FTM UPNVY Yogyakarta 5 Agustus 2008, 221–
230.
Bargawa, W. S. (2018). Perancanaan Tambang Edisi ke 8. Anugerah Print.
Budiarto. [Link] Kuliah Sistem Penirisan Tambang, Fakultas Teknologi
[Link] Pembangunan Veteran, Yogyakarta.
Bowles, Joseph, E. (1989). Sifat-sifat Fisis dan Geoteknik Tanah (Mekanika Tanah)
Edisi kedua. Jakarta : Erlangga.
De Coster, G. (1974). The Geologi of Central Sumatera and South Sumatera Basin,
Proceedings Indonesian Petroleum Association 3rd Annual Convention.
IPA.
Depari, A. A., Sakdillah, & Umar, H. (2020). Perhitungan Overburden dan
Cadangan Batubara Pada Pit Di Area B III-S Warute South di PKP2B PT.
Antang Gunung Meratus Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu
Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Teknologi Mineral, 8
(1), 1–5.
Hartman, H. L. (1987). Introductory Mining Engineering. A Wiley Interscience
Publication.
Hustrulid, W., & Kuchta, M. (1998). Open Pit Mine Planning and Design Vol. 1
Fundamentals. AA Balkema.
Ibrahim, E. (2015). Rekonsiliasi Penambangan Antara Rencana Penambangan
Bulanan dengan Reaisasi di Tambang Swakelola B2 PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk. Jurnal Ilmu Teknik, 3 (1).
Indonesianto, Y. (2007). Pemindahan Tanah Mekanis. UPN.
Komang, Anggana, Syafrizal, & Haris W, A. (2005). Diktat Kuliah TE-4211
Eksplorasi Batubara. Institut Teknologi Bandung.
Mincom. (1998). Petunjuk Menggunakan Startmodel. Mincom Ltd.
Nabar, D. (1998). Pemindahan Tanah Mekanis dan Alat Berat. Universitas
Sriwijaya.
Notosiswoyo, S., Sudarto, Lillah, S., Nur H, M., & Haris, A. (2005). Diktat
Matakuliah Metode Perhitungan Cadangan. Institut Teknologi Bandung.
63.
Pardosi, M. R., Amsyar, R. M., & Ervil, R. (2020). Perancangan Pit Limit
Berdasarkan Stripping Ratio Pada Pit 5 Penambangan Batubara PT
Caritas Energi Indonesia Provinsi Jambi. Sains Dan Teknologi Keilmuan
Dan Aplikasi Teknologi Industri, XX.

98
Parhusip, M., Bargawa, W. S., & Cahyadi, T. A. (2021). Simulasi Rancangan
Teknis dan Penjadwalan Penambangan Dengan Metode Block Strip
Mining. Jurnal Geosapta, Vol 7 (2).
Projosumarto, P. (1996). Pemindahan Tanah Mekanis. ITB.
Projosumarto, P. (2004). Pengantar Perencanaan Tambang. Universitas Islam
Bandung.
Suhairi, R., Nurhakim, N., & Riswan, R. (2018). Evaluasi Kemajuan Tambang
Bulanan Berdasarkan Metode Survey Pada PT XYZ. Jurnal Geosapta, 4
(1).
Sunanrno, P. (2008). Standar Job Procedure Perencanaan dan Pelaksanaan
Disposal Mining Departement. PT. INCO Tbk.
Suwandi, A. (2004). Diktat Perencanaan Tambang Terbuka. UNISBA.
Suyartono. (2003). Pengelolaan Pertambangan Yang Baik dan Benar (Good Mining
Practice). Studi Nusa.
Wilopo. (2011). Metode Konstruksi dan Alat - Alat Berat. Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

99

Anda mungkin juga menyukai