0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Koordinasi dan Komunikasi dalam MBS

Dokumen tersebut membahas tentang koordinasi, komunikasi, dan supervisi dalam manajemen berbasis sekolah. Koordinasi diperlukan untuk menyelaraskan kegiatan antar bagian sekolah demi mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. Komunikasi yang baik antar semua pihak juga penting untuk mencegah kesalahpahaman. Supervisi berkelanjutan dibutuhkan untuk menjamin kualitas proses pembelajaran.

Diunggah oleh

Caalaa Ca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Koordinasi dan Komunikasi dalam MBS

Dokumen tersebut membahas tentang koordinasi, komunikasi, dan supervisi dalam manajemen berbasis sekolah. Koordinasi diperlukan untuk menyelaraskan kegiatan antar bagian sekolah demi mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. Komunikasi yang baik antar semua pihak juga penting untuk mencegah kesalahpahaman. Supervisi berkelanjutan dibutuhkan untuk menjamin kualitas proses pembelajaran.

Diunggah oleh

Caalaa Ca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL KOORDINASI, KOMUNIKASI, SUPERVISI DALAM

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH


MATA KULIAH MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
(PSD 327)

Materi 14
KOORDINASI, KOMUNIKASI, SUPERVISI DALAM MANAJEMEN
BERBASIS SEKOLAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
Jalan Arjuna Utara No.9 RT 1/ RW 2 Duri Kepa,
Kebon Jeruk Jakarta Barat 11510

2020

Universitas Esa Unggul


[Link] 1 / 26
KOORDINASI, KOMUNIKASI, SUPERVISI DALAM MANAJEMEN
BERBASIS SEKOLAH

A. Pendahuluan
Majunya suatu bangsa dapat dilihat dari pendidikannya. Dunia pendidikan tidak pernah
lepas dari kehidupan manusia, baik didalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun
dalam berbangsa dan bernegara (Melinda & Susanto, 2018). Pendidikan merupakan
jembatan dalam menciptakan manusia yang memiliki potensi, berkualitas, dan intelektual
tinggi dalam kegiatan pembelajaran (Lawe, 2019). Pembelajaran didapatkan dari satu
lembaga formal, yaitu sekolah (Rahayu & Susanto, 2018). Kegiatan pembelajaran berjalan
dengan baik dilihat dari bagaiman proses manajemen yang ada di sekolah. Manajemen
berkaitan dengan pengelolaan proses pendidikan, tujuan yang dicapai, dan perencanaan
untuk kedepannya (Sari, Bafadal, & Wiyono, 2018).
Untuk menentukan peraturan dan kebijakan yang di lakukan sekolah untuk
meningkatkan mutu efisiensi dan pemerataan pendidikan sehingga keinginan masyarakat
dapat tercapai, serta kerjasama antar sekolah, masyarakat, pemerintah, dapat terjalin
dengan baik melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (Darnalita, 2014). MBS adalah
strategi untuk memperbaiki pendidikan dengan mentransfer otoritas pengambilan
keputusan secara signifikan dari pemerintah pusat dan daerah ke sekolah-sekolah secara
individual dengan memberi kepala sekolah, guru, siswa, orangtua dan masyarakat untuk
memiliki kontrol yang lebih besar dalam proses pendidikan dan memberikan mereka
tanggung jawab tentang dana, personel dan kurikulum (Pratiwi, 2016). Strategi dalam
MBS berjalan dengan adanya pengelolaan pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari
peran dan tanggung jawab dari kepala sekolah. Kemampuan seorang kepala sekolah dapat
terlihat dari bagaimana manajemen pendidikan di sekolah yang di kelola (Susanto, 2019).
Sebagai kepala sekolah harus memperhatikan beberapa hal. Salah satunya adalah
masalah koordinasi,komunikasi serta supervisi. Koordinasi dalam MBS merupakan hal
penting karena desentralisasi memerlukan koordinasi antara satu bagian dengan bagian
lainnya agar terwujud suatu kesatuan dan lancarnya program tersebut. Sebuah koordinasi
pasti menuntut adanya [Link] antara pusat dan daerah maupun
penerapan komunikasi di sekolah melalui MBSakan mampu menciptakan suasana yang
hangat dan menghindarkan terjadi kesalah pahaman antar komponen pelaksana MBS. Hal
terakhir yang tidak dapat dilupakan yaitu supervisi. Supervisi perlu dalam MBS agar
menjaga kualitas proses belajar mengajar. Supervisi dilakukan secara berkala dan
Universitas Esa Unggul
[Link] 2 / 26
berkesinambungan agar terjadi perbaikan untuk menyempurnakan pencapaian tujuan dan
proses belajar-mengajar di kelas. Hal ini harus diperhatikan, karena masih terjadi
koordinasi yang kurang baik, tidak adanya komunikasi yang baik dengan orang tua
maupun masyarakat. Maka sebagai kepala sekolah harus memperhatiikan hal tersebut agar
manajemen sekolah berjalan dengan baik.

B. Kompetensi Dasar
Mampu mengembangkan keterampilan koordinasi, komunikasi, supervisi dalam
manajemen berbasis sekolah.

C. Kemampuan Akhir yang Diharapkan


Dapat mengimplementasikan koordinasi, komunikasi, dan supervisi dalam manajemen
berbasis sekolah.

D. Kegiatan Belajar 1
I. URAIAN DAN CONTOH

1. Koordinasi Dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


A. Pengertian Koordinasi

Koordinasi dalam bahasa inggris coordination, berasal dari bahasa latin, yakni
cum yang artinya berbeda-beda, dan ordinare yang artinya penyusunan atau
penempatan sesuatu pada semestinya. Dalam manajemen berbasis sekolah koordinasi
berkaitan dengan penempatan berbagaikegiatan yang berbeda-beda pada keharusan
tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mecapai tujuan dengan sebaik-
baiknya melalui proses yang tidak membosankan. Koordinasi sering dimaknai sebagai
kerjasama. Padahal, koordinasi lebih daripada kerjasama karena dalamkoordinasi juga
terkandung sinkronisasi. Oleh sebab itu kerjasama dapat terjadi tanpa koordinasi,
sedangkan koordinasi terdapat upaya untuk menciptakan kerjasama.
Terdapat lima pokok pikiran dalam koordinasi, yaitu kesatuan tindakan atau
kesatuan usaha, penyesuaian antar bagian, keseimbangan antar satuan, keselarasan dan
sinkronisasi. Mengkoordinasi merupakan upaya menyelaraskan satuan-satuan pekerja-
pekerja dan orang-orang agar dapat bekerjasama dengan baik untuk mencapai tujuan
tanpa adanya terjadinya suatu masalah. Jadi, koordinasi dapat dimaknai sebagai proses

Universitas Esa Unggul


[Link] 3 / 26
penyatupaduan sasaran dan kegiatan-kegiatan dari unit-unit lembaga, untuk mencapai
tujuan lembaga secara efektif dan efisien.
Koordinasi bukan upaya sesaat, tetapi merupakan upaya yang
berkesinambungan dan berlangsung secara terus menerus untuk menciptakan,
mengembangkan kerjasama, keserasian, dan keselarasan tindakan antar pegawai
maupun unit lembaga, sehingga sasaran yang telah ditentukan dapat terwujud sesuai
dengan rencana. Pelaksanaan koordinasi dengan hubungan kerja berkaitan dengan
bagaimana setiap anggota menggunakan komunikasi dengan baik dengan komunikasi
ke segala arah dan adanya timba balik baikt atasan, bawahan, internal maupun eksternal
(Oktarina, Yusrizal, & R, 2018). Handayaningrat (1992) mengemukakan karakteristik
koordinasi sebagai berikut :
a. Tanggung jawab koordinasi terletak pada pimpinan. Oleh karena itu koordinasi
menjadi wewenang dan tanggung jawab pimpinan sehingga dapat dikatakan
bahwa pimpinan bisa berhasil jika melakukan koordinasi.
b. Koordinasi adalah kerjasama. Hal ini karena kerjasama merupakan syarat
mutlak terselenggaranya koordinasi.
c. Koordinasi merupakan proses yang terus menerus, dan berkesinambungan
dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga.
d. Pengaturan usaha kelompok secara teratur karena merupaka konsep yang
diterapkan dalam kelompok untuk mecapai tujuan bersama.
e. Kesatuan tindakan merupakan inti koordinasi. Pimpinan merupakan pengatur
usaha dan setiap tindakan individu, maka diperoleh keserasian dalam mencapai
hasil bersama.
f. Tujuan bersama (common purpose). Kesatuan bersama meminta kesadaran
bersama untuk dapat berpartisipasi aktif untuk melaksanakan tujuan bersama.

Karakteristik tersebut menunjukan bahwa tindakan keselarahan harus


diupayakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dan koordinasi harus
direncanakan dengan pembinaan, dijaga, dan selalu dikembangkan secara
berkesinambungan. Terdapat lima prinsip dalam koordinasi agar berjalan dengan
lancar sebagai berikut :
a. Koordinasi harus dimulai dari tahap perencanaan awal.
b. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah menciptakan iklim yang kondusif
bagikepentingan bersama.

Universitas Esa Unggul


[Link] 4 / 26
c. Merupakan proses yang terus menerus dan berkesinambungan.
d. Merpakan pertemuan-pertemuan bersama untuk mencapai tujuan.
e. Perbedaan pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukakan
secaraterbuka dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan.

B. Manfaat Koordinasi
Manfaat koordinasi antara lain, melakukan gerak sentripental, yaitu gerakan
untukmengembalikan kegiatan yang terpisah-pisah kedalam kesatuan untuk
mengembalikan kegiatanyang terpisah-pisah kedalam kesatuan kegiatan induknya. Hal
ini penting karena pengelompokkan tugas-tugas dalam lembaga kedalam unit-
unit, biro, bagian, direktorat, seksi,dan lain-lain dapat menimbulkan suatu kekuatan
yang memisahkan diri dari kekuatan [Link] demikian bahaya spesialisasi
yang terlalu jauh dalam lembaga dapat dipertemukanmelalui [Link]
sangat penting untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas dari pencapaiantujuan
lembaga. maka manfaat koordinasi dalam MBS dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Menghilangkan dan menghindarkan perasaan terpisahkan satu sama lain
antara pengawas, kepala sekolah, guru, dan para petugas di sekolah.
b. Menghindarkan perasaan atau pendapat bahwa dirinya atau jabatannya
merupakanyang paling penting.
c. Mengurangi dan menghindarkan kemungkinan timbulnya pertentangan sekolah
atauanatara pejabat pelaksana.
d. Menghindarkan timbulnya rebutan fasilitas.
e. Menghindari timbulnya peristiwa menunggu yang memakan waktu lama.
f. Menghindarakan kemungkinan terjadi kekembaran pekerjaan sesuatu kegiatan
olehsekolah.
g. Menghindarkan kemungkinan terjadinya kekosongan pekerjaan suatu program
olehsekolah atau kekosongan pengerjaan tugas oleh para kepala sekolah.
h. Menumbuhkan kesadaran para kepala sekolah untuk saling memberikan
bantuanantara satu sama lain terutama bagi mereka yang berada pada wilayah
yang sama.
i. Menumbuhkan kesadaran para kepala sekolah untuk memberitahu maslah
yangdihadapi bersama dan bekerjasama dalam memecahkannya.
j. Memberikan jaminan tentang kesatuan langkah diantara para kepala sekolah
atau para guru.

Universitas Esa Unggul


[Link] 5 / 26
k. Menjamin adanya kesatuan langkah dan tindakan diantara para kepala sekolah.
l. Menjamin kesatuan sikap diantara para kepala sekolah.
m. Menjamin kesatuan kebijaksanaan diantara para kepala sekolah dalam wilayah
tertentu.

Berdasaran uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa manfaat utama koordinasi


dalam MBS adalah untuk menumbuhkan sikap egaliter, serta meningkatkan rasa
kesatuan dan persatuandiantara para kepala sekolah dan guru-guru dengan tetap
menghargai wewenang dan kewajiban masing-masing. Dengan demikian setiap kepala
sekolah maupun guru-guru tidak dapat terjebak dalam kepentingan masing-masing
sehingga dapat melakukan perannya secara efektif dan efisisen dalam mencapai tujuan
sekolah secara menyeluruh.

C. Macam – Macam Koordinasi


Secara teoritis dapat dikemukakan beberapa macam koordinasi sesuai dengan
ruanglingkup dan arah kegiatannya. Koordinasi dapat terbagi menjadi dua, yaitu
koordinasi intern dan koordinasi ekstern. Koordinasi intern merupakan koordinasi antar
pejabat atau antar unit dalam suatu lembaga. Koorsinasi ekstern merupakan koordinasi
antar pejabat dari berbagai lembaga atau antar lembaga. Berdasarkan arah kegiatannya
dapat diidentifikasikan terdapat koordinasi vertical, horizontal, fungsional, dan
diagonal.
Koordinasi vertical terjadi antara para pejabat-pejabat dan bagian-bagian, sub-
sub bagian dan staf lembaga yang berada di bawahnya. Koordinasi horizontal, terjadi
antara pejabat yang memiliki hieraki yang sama dalamsuatu lembaga, antarpejabatdari
berbagai lembaga yang sederajat atau satu level. Koordinasi fungsional, terjadi
antarpejabat, antarunit, dan antar lembaga, atas dasarkesamaan fungsi dan kepentingan.
Koordinasi diagonal, terjadi antar pejabat atau unit yang memiliki perbedaan,
baikdalam fungsi maupun tingkat hierarkinya.
Handayaningrat (1982) mengemukakan koordinasi berdasarkan hubungan antar
pejabat yang mengkoordinasikan dan pejabat yang dikooordinasikan sebagai berikut :
a. Koordinasi intern terdiri atas 3, yaitu Koordinasi vertical atau koordinasi
structural antarayang mengkoordinasikan dengan yang dikoordinasikan secara
structural terdapat hubunganhierarkis. Koordinasi horizontal atau koordinasi
fungsional, kedudukan antara yangmengkoordinasikan dan dikoordinasikan

Universitas Esa Unggul


[Link] 6 / 26
setingkat eselonnya. Koordinasi diagonal yaitu koordinasi fungsional yang
mengkoordinasikan memiliki tingkat eselon yang lebih tinggidisbanding yang
dikoordinasikan tetapi tidak berada dalam satu garis komando.
Koordinasiekstern termasuk koordinasi fungsional.
b. Koordinasi ekstern yang bersifat fungsional,koordinasi itu hanya bersifat
horizontal dan diagonal.

D. Cara Melakukan Koordinasi


Melakukan koordinasi dapat dilakukan secara formal dan informal, melalui
konferensi lengkap, pertemuan berkala, pembentukan panitian gabungan, pembentukan
badan koordinasi staff, wawancara dengan bawahan, dan lain sebagainya. Pendapat
Sutarto (1983) mengenai cara-cara koordinasi yaitu:
a. Mengadakan pertemuan informal diantara para pejabat
b. Mengadakan pertemuan formal antarpejabat
c. Membuat edaran berantai kepada pejabat yang diperlukan
d. Memuat penyebaran kartu pejabat yang diperlukan
e. Mengangkat coordinator
f. Membuat buku pedoman lembaga, buku pedoman tata kerja, buku
pedomankumpulan peraturan
g. Berhubungan melalui alat perhubungan (telepon)
h. Membuat tanda-tandai
i. Menbuat symbol
j. Membuat kode
k. Bernyanyi bersama

Pada hakikatnya koordinasi dapat dilakukan formal maupun


[Link] formaldilakukan dengan adanya usaha impersonal, seperti dalam
kehidupan birokrasi, membuat peraturan atau pedoman. Sementara cara-cara informal
dapat dilakukan dengan pembicaraan dankonsultasi pada saat bertemu diluar
kepentingan dinas. Manajemen berbasis sekolah dapat ditinjau dari pendekatan proses
dan pendekatan tugas. Oleh sebab itu dalam MBS koordinasi dapat dilakukan dalam
setiap tahapannya. Koordinasi MBS mencakup semua program pengelolaan terhadap
subjek, objek, dan bidang garapan sekolah.

Universitas Esa Unggul


[Link] 7 / 26
2. Komunikasi Dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan penyampaian informasi (komunikator) maupun
penerima informasi (komunikan) secara dua arah atau lebih dengan menggunakan
symbol-simbol mapun dari sebuah tindakan atau prilaku (Pakpahan, Nababan,
Simanjuntak, & Sudirman, 2019). Komunikasi yang dilakukan dalam organisasi dapat
dilihat dari sisi antar individu maupun kelompok atau organisasi (Nata, n.d.).
Komunikasi dalam manajemen berbasis sekolah (MBS) dibagi menjadi dua, yaitu
komunikasi intern dan komunikasi ekstern.
B. Komunikasi Intern
a. Dasar, Tujuan, dan Manfaat Komunikasi Intern
Komunikasi intern yang terbina dengan baik akan memberikan kemudahan dan
keringanan dalam melaksanakan serta memecahkan masalah sekolah menjadi tugas
bersama. Manajemen dilihat dari para anggotanya, di sekolah tidak banyak personil
dewasa yangterdiri atas guru dan pegawai. Namun jika peserta didik juga
dipandang sebagai personil sekolah, jumlahnya akan menjadi banyak. Oleh karena
itu, terjalinnya komunikasi yang baik antarpersonil sekolah merupakan hal yang
urgen. Kurang komunikasi akan mengakibatkan kurang tercapainyahasil yang
diinginkan.
Dalam suatu sekolah yang memiliki komunikasi yang buruk akan
mengakibatkan hubungan tidak harmonis antara personil sekolah dan cenderung
memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri. Sehingga jika terjadi suatu masalah
pada sekolah akan sulit menemukan titik temu antara para personil sekolah. Oleh
karena itu kepala sekolah wajib untuk membina komunikasi intern yang baik agar
personil sekolah mau dan mampu meningkatkan kemampuan kinerja masing-
masing. Selain itu komunikasi yang baik dapat menciptakan suasana yang hangat
dan menarik.
Komunikasi intern akan sangat dirasakan manfaatnya terutama bagi seorang
[Link] awalnya memiliki rasa canggung menjalani rutinitas dalam dunia
yang baru namun teman-temannya yang sudah berada lebih awal akan mampu
membantunya dan membuat kondisi menjadi lebih nyaman. Komunikasi intern
bukan hanya untuk seorang pemula sajat, tetapi untuk pegawai yang sudah pegawai
lama selalu perlu berkomunikasi dengan teman-temannya untuk mengetahui

Universitas Esa Unggul


[Link] 8 / 26
pendapat dari orang lain terhadap suatu masalah. Baik dalam masalah model
mengajar, pendekatan, metode, strategi, teknik, taktik, evaluasi dan lain
sebagainya.

b. Prinsip Komunikasi
Kedinasan mengkehendaki kerja sama dan profesi mendidik memerlukan tukar
pikiran. Oleh sebab itu, adanya pembinaan professional. Karakteristik hubungan
professional antara lain dipengaruhi “tata karma” professional, terbuka untuk
mengemukakan pendapat, keputusan diambil berdasarkan pertukaran pendapat dan
memberikan keputusan yang bersifat pedoman, bukan sesuatu yang tegas dan
praktis. Hubungan professional dan hubungan dinas dapat disatukan dalam suatu
komunikasi lain, yaitu hubungan pribadi sehingga berlangsung dengan lancar tanpa
adanya hambatan. Jika berlandasan “tata karma” professional kuat, maka
hubungan pribadi aka nada dengan sendirinya dalam bentuk komunikasi
professional. Kepala sekolah perlu memperhatikan prinsip sebagai berikut :
a) Bersikap terbuka, tidak memaksakan kehendak, tetapi bertindak sebagai
fasilitatoryang mendorong suasana demokratis dan kekeuargaan.
b) Mendorong para guru untuk mau dan mampu mengemukakan pendapatnya
dalammemecahkan maslah, serta dapat harus mendorong aktivitas
danrkreatifitas guru.
c) Mengembangkan kebiasaan untuk berdiskusi secara terbuka, dan mendidik
guru-guruuntuk mau menerima pendapat orang lain secara objektif.
d) Mendorong para guru dan pegawai untuk mengambil keputusan yang
paling baik danmeaati keputusan tersebut.
e) Berlaku sebagai pengarah, pengatur pembicaraan, perantara, dan
pengambilkeputusan secara redaksional.

c. Memecahkan Masalah Bersama di Sekolah


Setiap sekolah memiliki masalah yang memerlukan jalan keluar dari
permasalahan secara proposional. Untuk hal tersebut, perlu adanya pertemuan
secara berkala, dan teratur misalnya dalam satu minggu sekali. Waktu yang
dibutuhkan dalam mencari jalan keluar masalah bergantung pada pertemuan antar
personil. Masalah akan berlarut-larut jika jarang diadakannya pertemuan dalam

Universitas Esa Unggul


[Link] 9 / 26
mencari solusi masalah. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru
mengungkapkan pendapat masing-masing terhadap masalah yang dihadapinya.
Ketika berdiskusi akan mengetahui hal yang baru yang belum diketahui oleh
guru. Misalnya kebijakan baru departemen pendidikan yang harus segera diketahui
oleh para guru atau guru yang telah kembali dari penataran akan membagikan hal-
hal yang didapat selama kegiatan tersebut yang belum diketahui oleh rekan guru
yang lain. Keadaan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan dan
keprofesionalan personil sekolah dengan menyelenggarakan diskusi dan tanya
jawab. Jika hal ini dapat dilakukan secara berkesinambungan akan tersa besar
manfaatnya untuk pemecahan masalah dan pengembangan kemampuan dan kinerja
personil sekolah.

C. Komunikasi Ekstern
Komunikasi ekstern merupakan komunikasi yang antara sekolah denga
lingkunan sekitar untuk mendapatkan masukan-masukan dari lingkungan yang
berkaitan dengan kegiatan-kegiatanyang dilakukan di sekolah. Komunikasi ekstern
meliputi komunikasi sekolah dengan orangtuasiswa, dan komunikasi sekolah dengan
masyarakat, baik individu maupun melembaga.
a. Hubungan Sekolah Dengan Orangtua
Sekolah merupakan lembaga pendidik secara formal dan potensial. Sedangkan
orang tua pemberi pendidikan pertama dan utama yang berpengaruh terhadap
pembinaan dan perkembangan pribadi anak. Hubungan sekolah dengan orang tua
dapat terjalin dengan mendatangkan orang tua ke sekolah untuk rapat tentang
perkembangan anak. Terdapat hal-hal yang mendasari hubungan kerjasama antara
orang tua dengan sekolah,yaitu: Adanya kesamaan tanggung jawab, dalam UU
telah dikemukakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara
pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Adanya kesamaan tujuan, untuk
menjadikan putra-putrinya menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohaninya,
trampil, kreatif, demokratis, serta berguna bagi bangsa dan Negara.
1) Tujuan Hubungan Sekolah dengan Orang Tua
a) Saling membantu dan saling mengisi. Guru dapat member informasi
kepada orang tuatentang anaknya berkaitan dengan segi-segi yang positif
dan negatif yang dapatdiberikan secara tertulis maupun dengan kunjungan

Universitas Esa Unggul


[Link] 10 / 26
guru. Dengan memahamikekurangan dan kelebihan peserta didik dapat
bersama-sama membinanya.
b) Bantuan keuangan dan barang, merupakan bantuan yang diberikan oleh
orang tua peserta didik dalam bentuk uang atau barang yang diberikan
secara perorangan maupun melalui lembaga BP3 (Badan Pembantu
Penyelenggara Pendidikan).
c) Untuk mencegah perbuatan yang kurang baik. Akhir-akhir ini banyak
kasus yangmelibatkan siswa seperti tawuran. Oleh karena itu guru dan
orang tua dapat bekerjasama untuk mencegah terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan.
d) Membuat rencana yang baik untuk anak, dengan mengetahui kelebihan
serta minat dan bakat peserta didik, orang tua dan guru membuat
rencana bersama orang tua peserta didik untuk mengembangkannya.

2) Cara Menjalin Hubungan Sekolah dengan Orang tua Siswa


a) Melalui dewan sekolah, untuk membantu menyukseskan kelancaran
proses belajar mengajar di sekolah baik menyangkut perencanaan,
pelaksanaan,dan penilaian. Anggota terdiri dari kepala sekolah, guru, dan
beberapa tokoh masyarakat serta orang tua.
b) Melalui BP3, merupakan organisasi orang tua peserta didik, yang bertugas
dan berfungsi memberikan bantuan penyelenggaraan pendidikan sekolah.
Berkaitan dengan masalah sarana dan prasarana dalam kegiatan belajar
mengajar.
c) Melalui pertemuan penyerahan buku laporan pendidikan, merupakan
pemberian penjelasan tentang kegiatan belajar mengajar serta prestasi
peserta didik dan kelemahan yang perlu ditingkatkan.
d) Melalui ceramah ilmiah, upaya menghadirkan ahli untuk menyampaikan
permasalahan dan pemecahannya dalam forum tersebut.

Hubungan sekolah dengan orang tua dapat terjalin dalam beberapa


bidang, seperti proses belajar mengajar, pengembangan bakat,
pendidikan mental, dan maupun kebudayaan. Hal tersebut dimaksudkan
untuk memberikan bantuan dan kemudahan dalam belajar pada peserta didik.
Selain ituagar orang tua juga memberi perhatian kepada anaknya sekaligus
Universitas Esa Unggul
[Link] 11 / 26
bekerjasama dengan sekolah untuk lebih mengutkan pemahaman materi yang
diajarkan di sekolah.
Dalam bidang pengembangan bakat. Guru dan orang tua harus
menngetahui bakat pesertadidik dan anaknya agar bakat yang dimiliki oleh
anak dapat dikembangkan dan tersalurkan dengan baik. Sebagai contoh anak
yang memiliki bakat bermusik dapat diarahkan untuk masukke kegiatan
ekstrakurikuler musik di sekolah dan didukung penuh oleh orang tua.
Dalam bidang pendidikan mental sebagai contoh, menghadapi masalah
kesulitan percayadiri karena kondisi lingkungan keluarga selalu meremehkan
anak dan kurang perhatian oleh anggota keluarga membuat mindset anak
menjadi orang yang minder dan lain sebagainya. Sekolah akan membantu
anak tersebut dengan memberikan semangat dan motivasi melalui bimbingan
konseling terhadap anak, membantuanak berbaur dengan teman-teman
lainnya dan membantu anak mendapatkan rasa percaya diri.

Dalam bidang kebudayaan terutama dalam melestarikan budaya daerah


agar tidak [Link] di sekolah diberikan wawasan budaya dan kearifan
lokal yang membuat anak menjadi bangga dengan kebudayaannya. Namun
apabila dirumah keluarga anak tidak menghargai budayasetempat maka
sikap anak terhadap kebudayaannya tidak akan terlihat. Oleh karena
itudibutuhkan kerjasama orang tua dan sekolah agar tujuan diatas dapat
tercapai.

3) Memecahkan Masalah Bersama


Dalam kerjasama antara sekolah dengan orang tua bukan hanya untuk
saling mendukungmelalui bidang-bidang yang telah diuraikan, tetapi juga
dalam memecahkan masalah peserta didik bersama-sama. Masalah yang
menyangkut peserta didik secara umum diklasifikasikansebagai berikut:
a) Masalah yang berhubungan denga keadaan tubuhnya
b) Masalah yang berhubungan dengan keadaan mentalnya
c) Masalah yang berhubungan dengan belajarnya

Oleh sebab itu sekolah dengan orang tua harus bekerjasama untuk
menemukan penyelesaian yang tepat. untuk masalah diatas guru dan orang tua

Universitas Esa Unggul


[Link] 12 / 26
harus mengetahui kelemahan yang dimilik peserta ddik yang membuat dirinya
belajar tidak optimal. Apabila ada masalah yang tidak dapat ditangani oleh
sekolah dan orang tua, maka guru akan menyarankan orangtua menyekolahkan
anaknya di sekolah luarbiasa yaitu:
a) SLB/A= untuk anak tuna netra
b) SLB/B= untuk anak tuna rungu-bicara
c) SLB/C= untuk anak tuna mental
d) SLB/D= untuk anak cacat tubuh
e) SLB/E= untuk anak tuna laras
Berdasarkan perkembangan kurikulum yang ada saat ini bahwa anak
yang berkebutuhan khusus dapat bersekolah di sekolah biasa bersama dengan
anak yang normal. Untuk menghindari hal-hal buruk terjadi perlu adanya
komunikasi guru kepada seluruh peserta didik untuk saling menghargai,
adanya toleransi terhadap sesama.

b. Hubungan Sekolah denagn Masyarakat.


Hubungan sekolah dengan masyarakat berkaitan erat, karena sekolah
merupakan lembaga untuk mendidik, melatih, dan membimbing generasi penerus
bangsa untuk masa depannya kelak. Sedangkan masyarakat merupakan sebagai
anggota yang menggunakan jasa pendidikan yang didapatkan di sekolah.
Hubungan sekolah dan masyarakt merupakan komunikasi ekstern berdasarkan
tanggung jawab dan tujuan. Masyarakat merupakan sekelompok maupun individu
yang dapat membantu dalam usaha pendidikan. Sekolah mengkehendaki agar
peserta didik menjadi manusia yang berkualitas, demikian halnya dengan
masyarkat agar tenaga pendidik memiliki kualitas yang bagus dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah. Oleh sebab itu sekolah dan masyarakat memiliki
tujuan yang sama
1) Tujuan Hubungan Antara Sekolah dengan Masyarakat
Tujuan sekolah dan masyarakat dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu
sebagai berikut :
a) Kepentingan sekolah
 Memelihara kelangsungan hidup sekolah
 Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
 Memperlancar kegiatan belajar mengajar
Universitas Esa Unggul
[Link] 13 / 26
 Memperoleh bantuan dan dukungan masyarakat dalam rangka
pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
b) Kebutuhan Masyarakat
 Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
 Memperoleh kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai
masalah dalammasyarakat
 Menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan
perkembanganmasyarakat
 Memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang terampil dan
makinmeningkat kemampuannya

Hubungan sekolah dan masyarakat untuk saling membantu dalam hal


keuangan, bangunan, maupun barang yang diperlukan untuk sekolah. Selain
itu masyarakat juga dapat mengadakan pendidikan dalam bidang keahlian.
Program yang akan dibuat harus adanya komunikasi dan konsultasi dengan
sekolah agar dapat sejalan dengan kegiatan pendidikan yang ada di sekolah.
Program yang dapat dikembangkan seperti, belajar sholat, menyanyi, karate,
judo, sepak bola, dan lain sebagainya yang dapat mengisi waktu luang peserta
didik agar dapat dimanfaatkan dengan baik.

2) Bidang Kerja Sama Sekolah dengan Masyarakat


Hubungan sekolah dan masyarakat mengandung makna yang luas dan
mencakup berbagai bidang yang berkaitan dengan pendidikan untuk anak dan
masyarakat. Bidang kerjasama yang dapat dikembangkan merupakan
pengembangan atau pembinaan minat dan bakat peserta didik, seperti:
kesenian, olahraga, keterampilan, dan lain sebagainya. Selain itu dalam bidang
pendidikan untuk peserta didik yang membutuhkan perhatian lebih. Untuk bisa
mencapai itu semua perlu adanya kerjasama dengan lembaga dan yayasan di
masyarakat untuk menekan dana yang dikeluarkan. Hubungan dapat dijalin
dengan melalui dewan sekolah, melalui rapat BP3, melalui rapat bersama,
konsultasi, radio, tv, surat, telepon, pameran sekolah (pameran hasil karya
peserta didik, pementasan,dan mencari dana), serta melalui ceramah.

Universitas Esa Unggul


[Link] 14 / 26
3. Supervisi dalam Manajemen Berbasis Sekolah
A. Hakikat Supervisi
Kata supervisi dalam etimologi terdiri dari kata “super” dan “visi” yang
memiliki makna melihat dan meninjau dari atas dan menilai yang dilakukan oleh
pihak atasan terhadap kreativitas, aktivitas, dan kinerja bawahan. Terdapat istilah yang
sama dengan supervisi, yaitu pengawasan, pemeriksaan, dan inspeksi. Supervisi
dalam MBS lebih mengarah pada pembinaan dan peningkatan kemampuan dan
kinerja tenaga kependidikan di sekolah dalam menjalankan tugas (Modo, 2020).
Pada dasarnya supervisi mengandung beberapa kegiatan utama, yaitu
pembinaaan kontinu, pengembangan kemampuan professional pegawai, perbaikan
situasi belajar mengajar, dengan sasaran akhir pencapaian tujuan pendidikan dan
pertumbuhan pribadi peserta didik. Dalam supervisi terdapat proses pelayanan untuk
membantu serta membina guru-guru sehingga adanya peningkatan professional guru
yang akan diterapkan dalam kegiatan mengajar, sehingga akan menciptakan Susana
yang baik dam meningkatkan pertumbuhan peserta didik. supervisi dapat berjalan
dengan baik jika adaya keterlibatan semua anggota dalam mengimplemantasikannya
dengan baik (Sari et al., 2018).

B. Tujuan dan Fungsi Supervisi


Berdasarkan berbagai pengeriatan dan hakikat supervisi, tujuan supervisi
pengajaranadalah membantu dan memberikan kemudahan kepada guru untuk belajar
bagaimanameningkatkan kemampuan merekan guna mewujudkan tujuan belajar
peserta [Link] khusus Ametembun (1981) mengemukakan sebagai berikut:
a. Membina kepala sekolah dan para guru untuk lebih memahami tujuan
pendidikanyang sebenarnya dan peranan sekolah dalam merealisasikan tujuan
tersebut.
b. Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru-guruuntuk
mempersiapkan peserta didiknya memnjadi anggota masyarakat yang lebih
efektif.
c. Membantu kepala sekolah dan guru-guru untuk mediagnosis secara kritis
terhadapaktivitasnya dan kesuliatan belajar mengajar sertam menolong
merekamemperbaikannya.

Universitas Esa Unggul


[Link] 15 / 26
d. Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru-guru serta warga sekolah
lainnyaterhadap cara kerja yang demokratis dan komprehansif serta memperbesar
kesdiaanuntuk tolong-menolong.
e. Memperbesar semangat guru-guru dan meningkatkan motivasi berprestasi
untukmeningkatkan kinerja secara maksimal dalam profesinya.
f. Membantu kepala sekolah untuk memulerkan pengembangan program
pendidikan disekolah kepada masyarakat.
g. Melindungi orang-orang yang disupervisi agar terhindar dari tuntutan tidak wajar
dankriti-kritik yang tidak sehat dari masyarakat.
h. Membantu kepala sekolah dan guru-guru dalam mengevalasi aktivitasnya
untukmengembangkan aktivitas dan kretifitas peserta didik.
i. Meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan diantara guru.

Setiap supervisor pendidikan mampu melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi


dan tugas pokoknya dalam penelitian, penilaian, perbaikan maupun pengembangan.
Kegiatan penelitian dalam supervisi agar dapat memproleh sebuah gambaran yang
jelas dan objektif tentang pendidikan. Hasil dari penelitian akan menjadi sebuah
pertimbangan untuk menentukan tindakan yang dilakukan untuk bisa memperbaiki
serta mengembangkan pendidikan maupun kegiatan pembelajaran. Kemudian adanya
penilaian sebagai tindak lanjut untuk mengetahui hal yang mempengaruhi situasi
pendidikan. Penilaian menitikberatkan pada aspek positif yang dapat dikembangkan
dari orang yang ada di supervisi. Untuk kelemahan dan kekurangan tidak diabaikan
begitu saja, tetapi dicari solusinya. Hal ini bukan untuk mencari sebuah kesalahan,
tetapi bisa membantu untuk pengembangan karir dan kemampuan professional.
Selanjutnya dilakukannya perbaikan berdasarkan hasil penelitian dan penilaian.
Dalam hal ini supervisi telah mengetahui dan memahami kondisi kependidikan serta
berbagai fasilitas dan upaya yang akan digunakan, apakah hal tersebut baik atau
buruk, memuaskan atau tidak, mengalami perubahan atau tidak, mencapai target atau
tidak. Selanjutnya mencari jalan keluar dari permasalahan, mengadakan perbaikan,
meningkatkan keadaan, dan menyempurnakan . pengembangan adalah upaya untuk
mempertahankan serta meningkatkan kondisi yang sudah baik yang didaptakan dari
hasil penelitian dan penilaian. Oleh sebab itu supervisor dapat memelihara, menjaga,
dan meningkatkan hasil yang sudah dicapai agar tidak terjadinya penurunan.

Universitas Esa Unggul


[Link] 16 / 26
Dalam pelaksanaan tuhas supervisor, terdapat tugas utama yang harus
dilakukannya adalah sebagai berikut :
a. Membantu guru mengerti dan memahami peserta didik
b. Membantu mengembangkan dan memperbaiki, baik secara individual
maupun bersama.
c. Membantu seluruh staf sekolah untuk melaksanakan proses belajar-mengajar
yang lebih efektif
d. Membantu guru meningkatkan cara mengajar yang efektif.
e. Membantu guru secara individual.
f. Membantu guru agar dapat menilai peserta didik dengan lebih baik.
g. Menstimulir guru agar dapat menilai diri dan pekerjaannya.
h. Membantu guru agar merasa bergairah dalam pekerjaannya dengan penuh rasa
aman.
i. Membantu guru dalam melaksanakan kurikulum di sekolah.
j. Membantu guru agar dapat memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada
masyarakat tentang kemajuan sekolahnya.

C. Teknik-Teknik Supervisi
Untuk menyeleanggarakan supervisi, supervisior harus menentukan teknik apa
yang akan digunakan sesuai tujuan yang akan dicapai. Teknik dimaksud antara lain:
kunjungan dan observasi kelas, pembicaraan individual, diskusi kelompok,
demonstrasi mengajar, dan perpustakaan professional.
a. Kunjungan dan Observasi Kelas
Tekni kunjungan dan observasi kelas dilakukan untuk mendapatkan sebuah
informasi dari proses kegiatan belajar secara langsung baik dalam segi
kekurangan maupun kelebihannya. Teknik ini kepala sekolah dapat melihat
secara nyata bagaimana seorang guru mengajar apakah sudah sesuai baik dalam
menggunakan media, pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik yang
digunakan ketika mengajar baik. Hasil observasi ini bermanfaat untuk supervisor
bersama guru untuk menentukan cara yang paling tepat untuk meningkatkan
kondisi proses belajar mengajar. Teknik kunjungan dan observasi kelas dapat
dilakukan dengan tiga pola. Kunjungan dengan tidakmemberitahu guru kelas,
kunjungan dengan memberithu guru kelas, dan kunjungan berdasarkanundangan
guru kelas. Pemilihan pola ini disesuaikan dengan tujuan kunjungan.

Universitas Esa Unggul


[Link] 17 / 26
b. Pembicaraan Individual
Teknik pembicaraan individual biasanya melengkapi teknik kunjungan dan
observasi kelas. Teknik ini juga dapat dilakukan tanpa adanya kunjungan dan
observasi kelas. Pembicaraan individual merupakan alat supervisi yang penting,
karena supervisor dapat bekerja sama secara individual dengan guru untuk
memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar.

c. Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan teknik pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu
percakapan tentang suatu masalah yang dihadapi untuk mencari alternatif
pemecahannya. Diskusi kelompok merupakan salah satu teknik supervisi yang
digunakan supervisor untuk dapat mengembangkan berbagai ketrampilan pada diri para
guru dalam mengatasi berbagai masalah atau kesulitan dalam kegiatan pembelajaran
dengan cara melakukan tukar pikiran antara satu dengan yang lain. Kegiatan ini dapat
dilakukan dalam beberapa bentuk pertemuan, seperti panel, seminar, lokakarya,
konperensi, kelompok studi, dan kegiatan yang lainnya.

d. Demonstrasi Mengajar
Teknik demonstrasi engajar merupakan proses menunjukan kepada guru-guru
bagaimana mengajar yang baik dan benar yang dilakukan oleh guru yang
memiliki kemampuan dalam mengajar. Hal ini dilakukan sebagai salah satu
alternative untuk dapat memberi contoh bagaimana cara melaksanakan proses
belajar mengajar yang baik dalam menyajikan materi, menggunakan pendekatan,
metode, dan media pembelajaran.

e. Perpustakaan Profesional
Guru merupakan kelompok “Reading People” serta menjadi bagian dari
masyarakat belajar, yang menjadikan belajar sebagai kebutuhan dalam hidupnya.
Untuk itu dibutuhkan sumber belajar, yaitu buku. Buku merupakan gudang ilmu
pengetahuan dan sumber pengetahuan. Sehubungan dengan itu dibutuhkannya
buku untuk menunjang pengetahuan guru sesuai bidang kajiannya melalui
perpustakaan yang ada di sekolah. Adanya perpustakaan di sekolah sangat
bermanfaat untuk guru untuk peningkatan dan pertumbuhan pengetahuan guru
dalam mengajar (Mulyasa, 2017).

Universitas Esa Unggul


[Link] 18 / 26
II. LATIHAN
Jawablah pertanyaan pilihan ganda berikut ini :
1. Koordinasi antar pejabat atau antar unit di dalam suatu lembaga merupakan ....
a. Koordinasi ekstern
b. Koordinasi horizontal
c. Koordinasi vertical
d. Koordinasi intern

2. Koordinasi ekstern termasuk dalam koordinasi ….


a. Funsional
b. Diagonal
c. Horizontal
d. Vertical

3. Proses penyatupaduan sasaran dan kegiatan-kegiatan dari unit lembaga untuk


mencapai tujuan secara efisien dan efektif merupakan pengertian dari ….
a. MBS
b. Koordinasi
c. Komunikasi
d. Supervisi

4. Suatu bentuk hubungan sekolah dengan lingkungan sekitarnya untuk mendapatkan


masukan yang dapat dilakukan di sekolah merupakan pengertian dari ….
a. Komunikas
b. Komunikasi intern
c. Komunikasi ekstern
d. Kerjasama

5. Menjalin hubungan sekolah dengan orang tua dapat dilakukan melalui kegiatan,
kecuali ….
a. BP3
b. Dewan sekolah
c. Pertemuan penyerahan buku laporan pendidikan
d. Pameran sekolah

Universitas Esa Unggul


[Link] 19 / 26
6. Supervisi secara etimologi berasal dari kata “super” dan “visi” yang mengandung
arti ….
a. Berbeda-beda dan Penyusunan
b. Penyusunan dan Penempatan
c. Melihat dan Meninjau
d. Pengawasan dan Pemeriksaan

7. Supervisi pendidikan dilakukan atas dasar ….


a. Partisipasi
b. Paksaan
c. Ketakutan
d. Kepatuhan

8. Teknik yang dapat dipilih dan digunakan supervisor, kecuali ….


a. Kunjungan dan observasi kelas
b. Pembicaraan individual
c. Perpustakaan professional
d. Menilai orang lain

9. Komunikasi ekstern meliputi hubungan sekolah dengan ….


a. Orang tua siswa
b. Guru
c. Kepala sekolah
d. Pemerintah

10. Koordinasi intern termasuk ke dalam koordinasi, kecuali ….


a. Vertical
b. Horizontal
c. Fungsional
d. Diagonal

Universitas Esa Unggul


[Link] 20 / 26
Kunci Jawaban
1. D
2. A
3. B
4. C
5. D
6. C
7. A
8. D
9. A
10. C

III. RANGKUMAN
Koordinasi dalam bahasa inggris coordination, berasal dari bahasa latin, yakni cum
yang artinya berbeda-beda, dan ordinare yang artinya penyusunan atau penempatan sesuatu
pada semestinya. Lima pokok pikiran dalam koordinasi, yaitu kesatuan tindakan atau
kesatuan usaha, penyesuaian antar bagian, keseimbangan antar satuan, keselarasan dan
sinkronisasi. Pelaksanaan koordinasi dengan hubungan kerja berkaitan dengan bagaimana
setiap anggota menggunakan komunikasi dengan baik dengan komunikasi ke segala arah
dan adanya timba balik baikt atasan, bawahan, internal maupun eksternal
Komunikasi merupakan penyampaian informasi (komunikator) maupun penerima
informasi (komunikan) secara dua arah atau lebih dengan menggunakan symbol-simbol
mapun dari sebuah tindakan atau prilaku. Komunikasi dalam manajemen berbasis sekolah
(MBS) dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi intern dan komunikasi ekstern.
Kata supervisi dalam etimologi terdiri dari kata “super” dan “visi” yang memiliki
makna melihat dan meninjau dari atas dan menilai yang dilakukan oleh pihak atasan
terhadap kreativitas, aktivitas, dan kinerja bawahan. supervisi mengandung beberapa
kegiatan utama, yaitu pembinaaan kontinu, pengembangan kemampuan professional
pegawai, perbaikan situasi belajar mengajar, dengan sasaran akhir pencapaian tujuan
pendidikan dan pertumbuhan pribadi peserta didik.

Universitas Esa Unggul


[Link] 21 / 26
IV. TES FORMATIF
1. Apa manfaat utama koordinasi dalam MBS?
2. Sebutkan cara-cara melakukan koordinasi!
3. Sebutkan prinsip-prinsip komunikasi!
4. Sebutkan tujuan supervisi pendidikan!
5. Sebutkan tugas utama supervisor!

Kunci Jawaban

1. manfaat utama koordinasi dalam MBS adalah untuk menumbuhkan sikap egaliter,
serta meningkatkan rasa kesatuan dan persatuandiantara para kepala sekolah dan
guru-guru dengan tetap menghargai wewenang dan kewajibanmasing-masing.

2. Cara-cara cara-cara koordinasi yaitu:


a. Mengadakan pertemuan informal diantara para pejabat
b. Mengadakan pertemuan formal antarpejabat
c. Membuat edaran berantai kepada pejabat yang diperlukan
d. Memuat penyebaran kartu pejabat yang diperlukan
e. Mengangkat coordinator
f. Membuat buku pedoman lembaga, buku pedoman tata kerja, buku
pedomankumpulan peraturan
g. Berhubungan melalui alat perhubungan (telepon)
h. Membuat tanda-tandai
i. Menbuat symbol
j. Membuat kode
k. Bernyanyi bersama

3. Prinsip-prinsip komunikasi sebagai berikut :


a. Bersikap terbuka, tidak memaksakan kehendak, tetapi bertindak sebagai
fasilitatoryang mendorong suasana demokratis dan kekeuargaan.
b. Mendorong para guru untuk mau dan mampu mengemukakan pendapatnya
dalammemecahkan maslah, serta dapat harus mendorong aktivitas
danrkreatifitas guru.
c. Mengembangkan kebiasaan untuk berdiskusi secara terbuka, dan mendidik
guru-guruuntuk mau menerima pendapat orang lain secara objektif.

Universitas Esa Unggul


[Link] 22 / 26
d. Mendorong para guru dan pegawai untuk mengambil keputusan yang paling
baik danmeaati keputusan tersebut.
e. Berlaku sebagai pengarah, pengatur pembicaraan, perantara, dan
pengambilkeputusan secara redaksional.

4. Tujuan supervisi pendidikan sebagai berikut :


a. Membina kepala sekolah dan para guru untuk lebih memahami tujuan
pendidikanyang sebenarnya dan peranan sekolah dalam merealisasikan tujuan
tersebut.
b. Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru-guruuntuk
mempersiapkan peserta didiknya memnjadi anggota masyarakat yang lebih
efektif.
c. Membantu kepala sekolah dan guru-guru untuk mediagnosis secara kritis
terhadapaktivitasnya dan kesuliatan belajar mengajar sertam menolong
merekamemperbaikannya.
d. Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru-guru serta warga sekolah
lainnyaterhadap cara kerja yang demokratis dan komprehansif serta
memperbesar kesdiaanuntuk tolong-menolong.
e. Memperbesar semangat guru-guru dan meningkatkan motivasi berprestasi
untukmeningkatkan kinerja secara maksimal dalam profesinya.
f. Membantu kepala sekolah untuk memulerkan pengembangan program
pendidikan disekolah kepada masyarakat.
g. Melindungi orang-orang yang disupervisi agar terhindar dari tuntutan tidak
wajar dankriti-kritik yang tidak sehat dari masyarakat.
h. Membantu kepala sekolah dan guru-guru dalam mengevalasi aktivitasnya
untukmengembangkan aktivitas dan kretifitas peserta didik.
i. Meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan diantara guru.

5. Tugas utama supervisor, yaitu :


a. Membantu guru mengerti dan memahami peserta didik
b. Membantu mengembangkan dan memperbaiki, baik secara individual
maupun bersama.
c. Membantu seluruh staf sekolah untuk melaksanakan proses belajar-mengajar
yang lebih efektif.

Universitas Esa Unggul


[Link] 23 / 26
d. Membantu guru meningkatkan cara mengajar yang efektif.
e. Membantu guru secara individual.
f. Membantu guru agar dapat menilai peserta didik dengan lebih baik.
g. Menstimulir guru agar dapat menilai diri dan pekerjaannya.
h. Membantu guru agar merasa bergairah dalam pekerjaannya dengan penuh rasa
aman.
i. Membantu guru dalam melaksanakan kurikulum di sekolah.
j. Membantu guru agar dapat memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada
masyarakat tentang kemajuan sekolahnya.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut.


Pedoman penskoran:
Nomor 1 = skor maksimal = 4
Nomor 2 = skor maksimal = 4
Nomor 3 = skor maksimal = 4
Nomor 4 = skor maksimal = 4
Nomor 5 = skor maksimal = 4
Total skor maksimal = 20
Pedoman penilaian = Jumlah skor diperoleh x 5

VIDEO TUTORIAL
[Link]

PENGAYAAN
Bacalah jurnal ddengan judul berikut:

Tinjaulah masalah komunikasi instruksional menurut penelitian ini :

Development of Pedagogical Competency Models for Elementary School Teachers:


Pedagogical Knowledge, Reflective Ability, Emotional Intelligence and Instructional
Communication Pattern
[Link]

Universitas Esa Unggul


[Link] 24 / 26
V. DAFTAR PUSTAKA

Darnalita, S. F. (2014). Upaya Kepala Sekolah Untuk Meningkatkan Implementasi Manajemen


Berbasis Sekolah Di SMP Pembangunan Laboratorium UNP, 2, 696–703.
Lawe, Y. U. (2019). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Berbantuan Lembar Kerja
Siswa Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Sd. Journal of Education Technology, 2(1), 26.
[Link]
Melinda, I., & Susanto, R. (2018). Peran Guru untuk keberhasilan siswa, 2(2), 81–86. Retrieved
from [Link]
Modo, P. S. (2020). Supervisi Akademik Pengawas Sekolah Pada Sekolah Dasar di Daerah
Terluar , Terdepan dan Tertinggal ( 3T ), 2(3), 400–408. Retrieved from
[Link]
Mulyasa, E. (2017). Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategis, Dan Implementasi.
(Muchlis, Ed.). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nata, L. E. (n.d.). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Partisipatif Dan Komunikasi Terhadap
Disiplin Kerja Guru SDN 013 Balikpapan Selatan, 1(4). Retrieved from
[Link]
Oktarina, C. D., Yusrizal, & R, M. A. (2018). Koordinasi Dan Hubungan Kerja Tenaga
Kependidikan Dalam Pengelolaan Administrasi Akademik Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan :
Program Pascasarjana Unsyiah, 5(4), 241–247. Retrieved from
[Link]
Pakpahan, G. E., Nababan, S., Simanjuntak, J., & Sudirman, A. (2019). PEngaruh Budaya
Organisasi, Komunikasi, Dan Kompetensi Guru Terhadap Kinerja Guru SMA Swasta
Sultan Agung Pematangsiantar. Jurnal Kinerja, 16(2), 131–138. Retrieved from

Universitas Esa Unggul


[Link] 25 / 26
[Link]
Pratiwi, S. N. (2016). Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah.
EduTech: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(1), 96. Retrieved from
[Link]
[Link]
Rahayu, R., & Susanto, R. (2018). Pengaruh Kepemimpinan Guru Dan Keterampilan
Manajemen Kelas Terhadap Perilaku Belajar Siswa Kelas IV. JURNAL PENDIDIKAN
DASAR PERKHASA: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 4(2), 220–229.
[Link]
Sari, D. N. A., Bafadal, I., & Wiyono, B. B. (2018). Pelaksanaan Supervisi Manajerial Dalam
Rangka Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Jurnal Administrasi Dan
Manajemen Pendidikan, 1, 213–221. Retrieved from
[Link]
Susanto, R. (2019). Hubungan Pengambilan Keputusan Rasional Dengan Akuntabilitas
Kepemimpinan Kepala Sekolah, (January 2016). Retrieved from
[Link]
_KEPUTUSAN_RASIONAL_DENGAN_AKUNTABILITAS_KEPEMIMPINAN_KE
PALA_SEKOLAH

Universitas Esa Unggul


[Link] 26 / 26

Anda mungkin juga menyukai