0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
142 tayangan31 halaman

Aplikasi dan Sifat Homothety dalam Geometri

Diunggah oleh

joel brian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
142 tayangan31 halaman

Aplikasi dan Sifat Homothety dalam Geometri

Diunggah oleh

joel brian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Homothety

Wildan Bagus Wicaksono

Diperbarui 10 Januari 2024

Ringkasan

Homothety merupakan salah satu metode yang cukup berguna pada permasalahan geo-
metri. Metode ini dapat menjadi jalan yang mempersingkat atau mempermudah pengerjaan
menghadapi soal geometri yang terkait dua bangun yang sebangun, kesegarisan, dan lain-
lain.

Daftar Isi

1 Terminologi 2

2 Sifat-Sifat Homothety 2

3 Pengaplikasian Homothety 5
3.1 Euler Line . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
3.2 Nine Point Circle N9 (NPC) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
3.3 Lingkaran Dalam dan Lingkaran Singgung Luar . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
3.3.1 Properti Lingkaran Dalam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
3.3.2 Properti Lingkaran Singgung Luar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
3.3.3 Hubungan Lingkaran Dalam dan Lingkaran Singgung Luar . . . . . . . . 11

4 Contoh Soal 14
4.1 Olimpiade Sains Nasional 2022 #6 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
4.2 International Mathematical Olympiad 1983 #2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
4.3 Asian Pacific Mathematical Olympiad 2000 #3 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
4.4 KTO Matematika Agustus 2023 #15 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17

5 Problems 19

6 Hint 24

7 Solusi Soal Terpilih 26

1
2 Sifat-Sifat Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

§1. Terminologi

Gambar 1: Homothety adalah cara mengatakan dilatasi dengan gaya.


Homothety merupakan suatu transformasi afinitas suatu bidang yang ditentukan oleh
suatu titik P dan rasio (atau skala) k ̸= 0, yang membawa sebarang titik A ke titik A′ sedemikian
−−→ −→
sehingga A′ P = k AP . Dalam hal ini, kita definisikan h(P, k) : A 7→ A′ . Nilai dari k dapat
bernilai positif ataupun negatif. Gambar berikut menunjukkan h(P, 2) : A 7→ A′ dan h(P, −1) :
A 7→ A′′ . Jika k > 0 maka hasil pemetaan h(P, k) akan berada di sisi yang sama terhadap titik
P dengan titik semula, sedangkan k < 0 menyebabkan hasil pemetaan h(P, k) akan berada di
sisi yang berbeda terhadap titik P dengan titik semula.

A′
A
P

A′′

Gambar 2: Pemetaan h(P, k) dari titik A untuk k = 2 dan k = −1.

§2. Sifat-Sifat Homothety


Sifat pertama yang dapat diobservasi dengan mudah adalah sebagai berikut.

Aksioma 2.1: Hubungan Titik Pusat, Titik Asal, dan Titik Hasil Transformasi

Jika A′ adalah hasil transformasi titik A terhadap h(P, k), maka P , A, dan A′ segaris.

Pembicaraan pemetaan dengan sebuah titik saja cukup membosankan. Kita bisa mendi-
latasikan suatu garis bahkan bangun datar (tentu saja pembicaraan kita masih sebatas R2 ). Hal
ini sama saja dengan mentransformasikan kumpulan titik-titik dengan titik pusat yang sama
dan skala yang sama. Gambar berikut menunjukkan hasil transformasi garis ℓ terhadap h(P, k)
yang menghasilkan ℓ′ .

2 Wildan Bagus Wicaksono


2 Sifat-Sifat Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

ℓ′

Gambar 3: Transformasi h(P, 2) : ℓ 7→ ℓ′ .

Teorema 2.2: Homothety Sebuah Garis

Hasil transformasi garis ℓ terhadap h(P, k) di mana k ∈ R adalah sebuah garis ℓ′ . Selain
itu, berlaku ℓ sejajar dengan ℓ′ .

Bukti. Ambil dua titik sebarang A dan B pada garis ℓ. Misalkan A′ dan B ′ berturut-turut
adalah hasil transformasi titik A dan B terhadap h(P, k). Ini berarti panjang P A′ = |k|P A dan
P B ′ = |k|P B. Karena berlaku

P A′ P B′ P A′ P B′
= |k| = =⇒ = dan ∠A′ P B ′ = ∠AP B,
PA PB PA PB
ini berarti △A′ P B ′ ∼ △AP B (SAS). Ini berakibat AB ∥ A′ B ′ . Apabila C adalah titik lain di
garis ℓ, dengan cara yang sama diperoleh AC ∥ A′ C ′ dan BC ∥ B ′ C ′ . Karena A, B, C segaris,
dapat disimpulkan bahwa A′ , B ′ , C ′ segaris.

Aksioma 2.3: Kedudukan Hasil Transformasi Titik


Hasil transformasi kumpulan titik-titik ini tidak akan merubah sifat semula titik-titik
semula.

Kita ambil contoh sederhana terlebih dahulu. Misalkan A dan B adalah dua titik yang ber-
beda, kemudian M adalah titik tengah dari AB. Tranformasikan masing-masing titik A, B, M
terhadap h(P, k) yang berturut-turut menghasilkan A′ , B ′ , M ′ .

A B
M

A′ M′ B′

Gambar 4: Transformasi A, B, M terhadap h(P, 2) ketika P tidak berada di AB.

P
′ A ′ B B′
A M M

Gambar 5: Transformasi A, B, M terhadap h(P, 1.5) ketika P berada di AB.

3 Wildan Bagus Wicaksono


2 Sifat-Sifat Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

B′ M′ A, P M B

Gambar 6: Transformasi A, B, M terhadap h(P, −0.5) ketika P = A, dalam hal ini A′ = A.


Dari Gambar 4, sebagaimana pada bukti Teorema 2.2 dapat diperoleh bahwa △P A′ M ′ ∼
△P AM dan △P B ′ M ′ ∼ △P BM . Dari sini diperoleh
A′ M ′ AM BM B′M ′ A′ M ′ B′M ′
= = = =⇒ =
PM′ PM PM PM′ PM′ PM′
sehingga diperoleh A′ M ′ = B ′ M ′ . Jadi, M ′ titik tengah segmen A′ B ′ . Pembaca dipersilahkan
memverivikasi pada Gambar 5 dan Gambar 6 juga berlaku M ′ titik tengah segmen A′ B ′ .
Sekarang kita akan berbicara mengenai transformasi bangun datar termasuk unsur-unsur yang
terkait. Kita mulai contoh dengan segitiga ABC. Misalkan H, I, dan O berturut-turut menya-
takan titik tinggi, titik bagi, dan titik pusat lingkaran luar dari segitiga ABC. Untuk suatu
titik P , transformasikan masing-masing titik A, B, C, H, I, O terhadap sebuah homothety h(P, k)
yang berturut-turut memberikan hasil A′ , B ′ , C ′ , H ′ , I ′ , O′ . Di sini kita akan menemukan bebe-
rapa fakta yang menarik. Berdasarkan Teorema 2.2, kita punya AB ∥ A′ B ′ , BC ∥ B ′ C ′ , dan
CA ∥ C ′ A′ . Terlebih lagi, kita punya
A′ B ′ B′C ′ C ′ A′
= = = |k|
AB BC CA
yang menyimpulkan △A′ B ′ C ′ ∼ △ABC (SSS). Yang tidak kalah menarik, titik-titik H ′ , I ′ , O′
berperan sebagai titik tinggi, titik bagi, dan titik pusat lingkaran luar dari segitiga A′ B ′ C ′ . Jadi,
hasil transformasi tidak merubah sifat semulanya. Terlebih lagi, dapat diperoleh pula hubungan
HI ∥ H ′ I ′ , IO ∥ I ′ O′ , dan HO ∥ H ′ O′ berdasarkan Teorema 2.2.
C′

O′
O

I I′
P
H H′

B
A
B′
A′

Gambar 7: Transformasi h(P, 1.5) : △ABC 7→ △A′ B ′ C ′ beserta unsur-unsur terkait, yakni titik tinggi,
titik bagi, dan titik pusat lingkaran luar.

4 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

§3. Pengaplikasian Homothety

§3.1. Euler Line

Misalkan H, G, dan O berturut-turut adalah titik tinggi, titik berat, dan titik pusat ling-
karan luar dari segitiga ABC. Tinjau segitiga medial dari ABC, yakni segitiga XY Z, di mana
X, Y, Z berturut-turut titik tengah sisi BC, CA, AB.
A

Y
Z
O
G
H

B X C

Gambar 8: Hubungan segitiga ABC dengan segitiga XY Z.


Ingat bahwa salah satu properti titik berat, yakni

AG : GX = BG : GY = CG : GZ = 2 : 1.

Hal ini menandakan


1 1 1
     
h G, − : A 7→ X, h G, − : B 7→ Y, h G, − : C 7→ Z.
2 2 2

Hasil terakhir menunjukkan bahwa h G, − 12 : △ABC 7→ △XY Z. Pembaca dapat membuk-


 

tikan bahwa O merupakan titik tinggi dari segitiga XY Z. Padahal, H adalah titik tinggi tinggi
segitiga ABC. Akhirnya, kita dapatkan kesimpulan h G, − 12 : H 7→ O menurut Aksioma 2.3
 

yang berarti juga O, G, H segaris menurut Aksioma 2.1. Selain itu, berlaku HG : GO = 2 : 1.
Garis yang melalui O, G, H disebut sebagai Euler Line dan akan dibahas sebuah titik lain yang
juga dilalui oleh garis tersebut.

Teorema 3.1: Euler Line


Misalkan H, G, dan O berturut-turut titik tinggi, titik berat, dan titik pusat lingkaran
luar dari segitiga ABC. Maka O, G, H segaris dan berlaku OG : GH = 1 : 2.

§3.2. Nine Point Circle N9 (NPC)

Misalkan H dan O berturut-turut merupakan titik tinggi dan titik pusat lingkaran luar
segitiga ABC. Misalkan X, Y, Z berturut-turut merupakan titik tengah dari BC, CA, AB, kemu-
dian AH, BH, CH berturut-turut memotong BC, CA, AB di titik D, E, F . Cerminkan titik H

5 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

terhadap titik-titik D, E, F, X, Y, Z berturut-turut menghasilkan bayangan D′ , E ′ , F ′ , X ′ , Y ′ , Z ′ .


Misalkan pula P, Q, dan R berturut-turut merupakan titik tengah segmen AH, segmen BH,
dan segmen CH.

Lemma 3.2
Titik D′ , X ′ , E ′ , Y ′ , Z ′ , F ′ masing-masing terletak di lingkaran luar segitiga ABC.

Bukti. Akan dibuktikan bahwa D′ dan X ′ masing-masing terletak di lingkaran luar segitiga
ABC, sedangkan untuk sisanya dapat dibuktikan secara analog.
Pertama, akan dibuktikan D′ terletak di lingkaran luar segitiga ABC. Berdasarkan sifat pen-
cerminan diperoleh △BHC ∼ = △BD′ C. Dengan meninjau segiempat AEHF ,

∠BD′ C = ∠BHC = ∠F HE = 360◦ −∠AF H−∠AEF −∠F AE = 180◦ −∠F AE = 180◦ −∠BAC

yang memberikan ∠BD′ C + ∠BAC = 180◦ . Ini berarti ACD′ B segiempat tali busur yang
membuktikan bahwa D′ terletak di lingkaran luar segitiga ABC.
Akan dibuktikan bahwa X ′ terletak di lingkaran luar segitiga ABC. Berdasarkan sifat pencer-
minan, ini berarti panjang XH = XX ′ . Karena juga berlaku panjang XB = XC, ini berarti
HCX ′ B merupakan jajargenjang. Dari sini diperoleh

∠BX ′ C = ∠BHC = ∠F HE = 180◦ − ∠F AE = 180◦ − ∠BAC =⇒ ∠BX ′ C + ∠BAE = 180◦ .

Ini menunjukkan bahwa ABX ′ C terletak di lingkaran luar segitiga ABC. Dengan kata lain,
titik X ′ terletak di lingkaran luar segitiga ABC.

Z′ Y′

P E′
Y
Z
O
E

F′ N9

F H

Q R
B D X C

D′ X′

Gambar 9: Hubungan lingkaran sembilan titik dengan lingkaran luar segitiga ABC.

6 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

Berdasarkan sifat pencerminan kita punya


HD HE HZ HX HY HZ 1

= ′
= ′
= ′
= ′
= ′
= .
HD HE HZ HX HY HZ 2
Dari hal tersebut diperoleh hasil transformasi titik-titik D′ , E ′ , F ′ , X ′ , Y ′ , dan Z ′ oleh homothety
h H, 12 berturut-turut menghasilkan D, E, F, X, Y, dan Z. Karena titik-titik D′ , E ′ , F ′ , X ′ , Y ′ ,
 

dan Z ′ terletak di lingkaran luar segitiga ABC, maka hasil transformasi lingkaran luar segitiga
ABC oleh h H, 21
 
menghasilkan lingkaran luar yang melalui titik-titik D, E, F, X, Y, dan Z
menurut Aksioma 2.3. Di sisi lain, homothety h H, 21
 
mentranformasikan titik-titik A, B, C
berturut-turut ke titik-titik P, Q, R. Akibatnya, titik-titik P, Q, R juga terletak di lingkaran
yang melalui keenam titik tadi menurut Aksioma 2.3, sebut saja N9 . Sehingga terbukti bahwa
N9 melalui sembilan titik D, E, F, X, Y, Z, P, Q, dan R. Karena O pusat lingkaran luar segitiga
ABC dan N9 pusat ω, diperoleh h H, 21
 
: O 7→ N9 sehingga O, H, N segaris dan HN9 =
1 OH
2 · OH = 2 sehingga N9 titik tengah OH.

Teorema 3.3: Nine Point Circle


Misalkan H dan O berturut-turut adalah titik tinggi dan titik pusat lingkaran luar dari
segitiga ABC. Maka sembilan titik berikut: tiga titik tengah sisi segitiga ABC, tiga kaki
tinggi segitiga ABC, titik tengah AH, titik tengah BH, dan titik tengah CH terletak di
lingkaran yang sama yang disebut Nine Point Circle (NPC). Jika NPC berpusat di N9 ,
maka N9 , O, dan H segaris dan N9 O : N9 H = 1 : 1.

Akibat 3.4
Titik O, G, N9 , dan H segaris dalam urutan tersebut dan berlaku perbandingan panjang
OG : GN9 : N9 H = 2 : 1 : 3.

Bukti. Berdasarkan Aksioma 2.1 dan Lemma 3.2 berlaku bahwa O, G, N9 , H segaris. Misalkan
panjang OH = 6a, diperoleh OG = 31 ·6a = 2a, GH = 32 ·6a = 4a, ON9 = N9 H = 12 ·6a = 3a. Ini
berarti O, G, N9 , H segaris dalam urutan tersebut dan berlaku OG : GN9 : N9 H = 2 : 1 : 3.

§3.3. Lingkaran Dalam dan Lingkaran Singgung Luar

Sebelum membahas lebih lanjut keterkaitan diantara lingkaran dalam dan lingkaran sing-
gung luar segitiga akan dibahas terlebih dahulu terkait masing-masing propertinya.

3.3.1 Properti Lingkaran Dalam

Lingkaran dalam dari suatu segitiga merupakan lingkaran yang menyinggung ketiga
sisi segitiga tersebut. Pada gambar berikut, misalkan D, E, dan F berturut-turut adalah titik
singgung lingkaran dalam segitiga ABC dengan BC, CA, dan AB.

7 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

E
F
I

B D C

Gambar 10: Lingkaran dalam segitiga ABC.

Teorema 3.5: Properti Lingkaran Dalam

Pada segitiga ABC, dibuat lingkaran dalam segitiga ABC yang berpusat di I yang me-
nyinggung ketiga sisi segitiga tersebut. Misalkan panjang BC = a, CA = b, AB = c, dan
2s = a + b + c. Maka:

(a). I adalah perpotongan ketiga garis bagi dalam segitiga ABC.

(b). Panjang BD = BF = s − b, CD = CE = s − c, dan AE = AF = s − a.

Bukti. Perhatikan bahwa ID ⊥ BC, IE ⊥ AC, dan IF ⊥ AB. Misalkan panjang ID = IE =


IF = r dan dari Teorema Pythagoras kita punya

BI 2 − ID2 = BI 2 − r2 = BI 2 − IF 2 = BF ⇐⇒ BD = BF.
p p p
BD =

∼ △BF I (SSS). Akibatnya, kita punya ∠DBI = ∠F BI sehingga


Sehingga kita punya △BDI =
BI garis bagi dari ∠B. Dengan cara sama, diperoleh AI dan CI juga garis bagi dari ∠A
dan ∠C secara berturut-turut. Artinya, I adalah perpotongan ketiga garis bagi segitiga ABC.
Selanjutnya, misalkan AF = AE = x, BF = BD = y, dan CD = CE = z. Kita punya
x + y = c, y + z = a, dan z + x = b. Jumlahkan, diperoleh
a+b+c
a + b + c = 2x + 2y + 2z ⇐⇒ = x + y + z ⇐⇒ s = x + y + z.
2
Karena y +z = a, maka x = s−a. Dengan cara sama, diperoleh juga y = s−b dan z = s−c.

3.3.2 Properti Lingkaran Singgung Luar

Lingkaran singgung luar dari suatu segitiga merupakan lingkaran yang menyinggung
dua perpanjangan sisi dan satu sisi segitiga. Lingkaran ini disebut juga sebagai excircle. Pada
segitiga ABC, definisikan A-Excircle merupakan lingkaran yang menyinggung perpanjangan
sisi AB, perpanjangan sisi AC, dan segmen BC. Definisikan pula B-Excircle dan C-Excircle
secara analog. Selain itu, misalkan IA , IB , IC sebagai titik pusat A-Excircle, B-Excircle, dan
C-Excircle.

8 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

C
IA

A B

Gambar 11: A-Excircle dari segitiga ABC

Teorema 3.6: Lingkaran Singgung Luar

Misalkan rA , rB , rC berturut-turut menyatakan panjang jari-jari A-Excircle, B-Excircle,


dan C-Excircle. Selain itu, misalkan A′ , B ′ , C ′ berturut-turut adalah titik singgung A-
Excircle dengan segme BC, perpanjangan AB, dan perpanjangan AC. Jika panjang
BC = a, CA = b, AB = c, dan 2s = a + b + c, maka:

(a). Titik pusat lingkaran singgung luar merupakan perpotongan dua garis bagi luar
dan satu garis bagi dalam dari sudut segitiga ABC. Dengan kata lain, IA adalah
perpotongan dua garis bagi luar ∠B dan ∠C serta garis bagi dalam ∠A. Begitu
juga untuk IB dan IC .

(b). Titik A, I, IA segaris di mana I adalah titik pusat lingkaran dalam segitiga ABC.
Begitu juga B, I, IB segaris dan C, I, IC segaris.

(c). Panjang AB ′ = AC ′ = s dan AB + BA′ = AC + CA′ = s.

(d). Berlaku
sr sr sr
rA = , rB = , rC = .
s−a s−b s−c

Bukti. Akan kita tinjau untuk A-excircle dan dua lingkaran lainnya dapat dibuktikan dengan
langkah yang sama. Misalkan A-excircle menyinggung sinar AB, sinar AC, dan segmen BC
berturut-turut di titik B ′ , C ′ , dan A′ . Misalkan juga I adalah perpotongan ketiga garis bagi
dalam segitiga ABC (sekaligus merupakan titik pusat lingkaran dalam segitiga ABC).

(a). Dari Teorema Pythagoras berlaku


q q
AB ′ = 2 − B′I 2 =
AIA 2 − C ′ I 2 = AC ′ .
AIA
A A

Karena panjang AB ′ = AC ′ , IA B ′ = IA C ′ , dan AIA = AIA , maka △AB ′ IA ∼


= △AC ′ IA
(SSS). Akibatnya, berlaku ∠B ′ AIA = ∠C ′ AIA sehingga AIA merupakan garis bagi da-
ri ∠B ′ AC ′ , dengan kata lain AIA adalah garis bagi dalam dari sudut ∠BAC. Per-
hatikan bahwa BB ′ dan BA′ merupakan garis singgung dari A-excircle, maka panjang
BB ′ = BA′ . Dengan cara yang sama, didapatkan △BB ′ IA ∼
= △BA′ IA sehingga diperoleh

9 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

∠B ′ BIA = ∠A′ BIA yang artinya BIA adalah garis bagi dari ∠B ′ BA′ . Dengan kata lain,
BIA merupakan garis bagi luar dari ∠ABC. Dengan cara sama, didapatkan CIA juga
merupakan garis bagi luar ∠ACB. Terbukti bahwa IA merupakan perpotongan dua garis
bagi luar dan satu garis bagi dalam dari segitiga ABC.

C′

IA
A′

A B B′

Gambar 12: A-excircle dari segitiga ABC

(b). Karena AIA dan AI masing-masing garis bagi dalam dari ∠BAC, hal ini menunjukkan
bahwa A, I, dan IA segaris. Dengan cara yang sama, diperoleh B, I, IB segaris dan C, I, IC
segaris.

(c). Telah dibuktikan △BB ′ IA ∼ ∼ △CA′ IA di bagian (a). Diperoleh


= △BA′ IA dan CC ′ IA =

AB ′ + AC ′ = AB + BB ′ + AC + CC ′
= AB + BA′ + AC + CA′
= AB + AC + (BA′ + CA′ )
= AB + AC + BC
= 2s.

Karena panjang AB ′ = AC ′ yang telah dibuktikan △AB ′ IA ∼


= △AC ′ IA di bagian (a),
maka panjang AB ′ = AC ′ = s. Selain itu,

s = AB ′ = AB + BB ′ = AB + BA′ =⇒ AB + BA′ = s

dan secara analog diperoleh AC + CA′ = s.

(d). Misalkan lingkaran dalam segitiga ABC menyinggung AB di titik D, kita punya ∠IDA =
90◦ . Karena ∠IB ′ A = ∠IDA dan ∠IAD = ∠IA AB ′ , maka △ADI ∼ △AB ′ IA (AA).
Sehingga didapatkan
IA B ′ AB ′ rA AB ′ AB ′
= ⇐⇒ = ⇐⇒ rA = · r.
ID AD r AD AD
Kita punya AD = s − a berdasarkan Teorema 3.5 dan AB ′ = s dari bagian (c), diperoleh
s s s
rA = s−a r. Secara analog, diperoleh rB = s−b r dan rC = s−c r.

10 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

3.3.3 Hubungan Lingkaran Dalam dan Lingkaran Singgung Luar

Perhatikan Gambar 13 dan misalkan D titik singgung lingakaran dalam segitiga ABC
′ segaris dan rA s
dengan AB. Telah dibuktikan bahwa A, I, IA r = s−a , ini menunjukkan bahwa
 
s
homothety h A, s−a mentransformasikan lingkaran dalam ke A-Excircle.
Misalkan lingkaran dalam segitiga ABC yang berpusat di I menyinggung BC, CA, dan
AB berturut-turut di titik D, E, dan F . Garis DI memotong lingkaran dalam segitiga ABC
sekali lagi di titik X, kemudian garis yang melalui X dan sejajar BC memotong AB dan AC
berturut-turut di titik B ′ dan C ′ . Definisikan pula A′ sebagai titik singgung A-Excircle dengan
BC. Notasikan ω sebagai lingkaran dalam segitiga ABC.

E A′
D
C′

A B′ F B

Gambar 13: Hubungan Titik Singgung Excircle

Perhatikan bahwa ω merupakan lingkaran singgung luar dari segitiga AB ′ C ′ yang berhadap-
an dengan titik A. Karena IX ⊥ B ′ C ′ , ini menunjukkan bahwa X merupakan titik singgung
 
lingkaran singgung luar segitiga AB ′ C ′ dengan B ′ C ′ . Dengan meninjau h A, s−a
s
yang men-
 
trasformasikan ω ke A-Excircle, ini berarti titik X dipetakan ke A′ , yaitu h A, s
s−a : X 7→ A′ .
Ini menunjukkan bahwa A, X, A′ kolinear.

Lemma 3.7
Diberikan segitiga ABC dan A′ merupakan titik singgung A-Excircle dengan BC, se-
dangkan titik X merupakan pencerminan titik D terhadap I di mana D titik singgung
lingkaran dalam segitiga ABC dengan BC. Maka A, X, dan A′ segaris.

Diberikan segitiga ABC, kemudian definisikan I, D, E, dan F sebagaimana pada Gambar


13. Misalkan DI memotong segmen EF di titik Y , kemudian garis yang melalui Y serta
sejajar BC memotong AB dan AC berturut-turut di titik B ′′ dan C ′′ . Perhatikan bahwa
∠Y DC = ∠IDC = 90◦ dan karena B ′′ C ′′ ∥ BC, maka ∠DY C ′′ = ∠BDY = 90◦ . Kita klaim
bahwa I terletak di lingkaran luar segitiga AB ′′ C ′′ . Notasikan ∡ besaran suatu sudut yang

11 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

diambil mod 180◦ .∗ Perhatikan bahwa ∡IY C ′′ = 90◦ = ∡IEC ′′ dan ∡IY B ′′ = 90◦ = ∡IF B ′′
sehingga I, Y, E, C ′′ terletak pada satu lingkaran dan I, Y, B ′′ , F terletak pada satu lingkaran.
Karena IF = IE yang berarti ∠IF E = ∠F EI, dari sini diperoleh

∡IB ′′ C ′′ = ∡IF Y = ∡IF E = ∡F EI = ∡Y EI = ∡Y C ′′ I.

Ini berakibat

∡B ′′ IC ′′ = ∡F EI = ∡F AE = ∡B ′′ AC ′′ =⇒ ∡B ′′ IC ′′ = ∡B ′′ AC ′′ .

Ini berarti AB ′′ IC ′′ segiempat tali busur. Karena ∠IB ′′ C = ∠IC ′′ B, maka panjang IB ′′ = IC ′′
yang mana kondisi IY ⊥ B ′′ C ′′ berakibat panjang Y B ′′ = Y C ′′ . Artinya, Y merupakan titik
tengah B ′′ C ′′ . Kondisi B ′′ C ′′ ∥ BC menunjukkan bahwa terdapat homothety h(H, r) : B ′′ C ′′ 7→
BC di mana r > 0. Ini menunjukkan bahwa h(H, r) memetakan Y ke titik tengah BC.

C ′′
E
M

Y
I
D

A B ′′ F B

Gambar 14: Hubungan Titik Tengah Sisi Segitiga

Lemma 3.8
Diberikan segitiga ABC dan misalkan lingkaran dalamnya menyinggung BC, CA, dan
AB berturut-turut di titik D, E, dan F . Misalkan M merupakan titik tengah BC dan
DI memotong EF di titik Y . Maka A, Y, M segaris.

Diberikan segitiga ABC, kemudian titik K pada garis BC sedemikian sehingga AK ⊥ BC.
Definisikan X, A′ , D, dan I sebagaimana Gambar 13, IA sebagai pusat A-Excircle, N titik tengah
AK, dan D′ merupakan pencerminan titik A′ terhadap IA . Tinjau XD diameter lingkaran
dalam sehingga I merupakan titik tengah XD, serta Lemma 3.7 menyatakan bahwa A, X, A′
segaris.
Tinjau bahwa XD ∥ AK yang menunjukkan △A′ DX ∼ △A′ KA. Maka terdapat ho-
mothety h(A′ , a) : DX 7→ KA dengan a > 0. Karena I titik tengah DX, maka homothety
h(A′ , a) memetakan I ke titik tengah AK, yaitu N . Ini menunjukkan h(A′ , a) : I 7→ N sehingga

Pembaca yang belum familiar dengan hal ini disarankan membaca tentang sudut berarah (direct angle).
Tekhnik sudut berarah digunakan karena ada beberapa macam konfigurasi yang perlu dikerjakan secara terpisah,
namun dapat dikerjakan sekaligus apabila menggunakan sudut berarah.

12 Wildan Bagus Wicaksono


3 Pengaplikasian Homothety
Diperbarui 10 Januari 2024

A′ , I, N segaris. Tinjau homothety h(A, b) yang memetakan lingkaran dalam segitiga ABC ke
A-Excircle. Pada Lemma 3.7 telah dijelaskan bahwa h(A, b) : X 7→ A′ dan h(A, b) : I 7→ IA , ini
menunjukkan bahwa h(A, b) : XI 7→ A′ IA . Ini artinya homothety h(A, b) memetakan garis XD
ke garis A′ D′ . Mengingat I titik tengah XD dan IA titik tengah A′ D′ serta h(A, b) : I 7→ IA ,
ini berarti h(A, b) : D 7→ D′ . Jadi, A, D, D′ segaris.
Tinjau bahwa A′ D′ ∥ AK dan telah dibuktikan A, D, D′ segaris, dari sini diperoleh
△AKD ∼ △D′ A′ D. Jadi, △DAK ∼ △DA′ D′ yang berarti terdapat homothety h(D, c) :
△AK 7→ A′ D′ . Karena N titik tengah Ak, maka homothety h(D, c) memetakan N ke titik
tengah A′ D′ , atau dengan kata lain, h(D, c) : N 7→ IA . Jadi, N, D, IA segaris.

D′
IA

A′

I D
X
K
o
o N
A B

Gambar 15: Hubungan Titik Tengah Garis Tinggi Segitiga

Lemma 3.9
Diberikan segitiga ABC. Lingkaran dalam segitiga ABC berpusat di titik I dan me-
nyinggung BC di titik D, sedangkan A-Excircle berpusat di IA menyinggung BC di A′ .
Titik K terletak di BC sedemikian sehingga AK ⊥ BC dan N titik tengah AK. Titik
D′ adalah pencerminan titik A′ terhadap IA . Maka:

(a). N, D, IA segaris.

(b). N, I, A′ segaris.

(c). A, D, D′ segaris.

13 Wildan Bagus Wicaksono


4 Contoh Soal
Diperbarui 10 Januari 2024

§4. Contoh Soal

§4.1. Olimpiade Sains Nasional 2022 #6

Contoh 4.1: OSN 2022 #6

Pada segitiga ABC, titik D dan E berada pada sisi AB dan AC berturut-turut sehingga
DE sejajar BC. Diketahui terdapat titik P pada interior segiempat BDEC sehingga
∠BP D = ∠CP E = 90◦ . Buktikan bahwa garis AP melalui titik pusat lingkaran luar dari
segitiga-segitiga EP D dan BP C.

Karena DE ∥ BC, maka terdapat suatu homothety h(A, r) : DE 7→ BC. Kondisi ∠BP D =
∠EP C = 90◦ terasa absurd untuk dimanfaaatkan, dari sini memotivasi untuk konstruksi suatu
titik P ′ sedemikian sehingga P ′ B ∥ P D dan P ′ C ∥ P E dan memberikan ∠P ′ BP = ∠DP B =
90◦ = ∠EP C = ∠P CP ′ . Misalkan O dan O′ berturut-turut titik pusat lingkaran luar segitiga
DEP dan segitiga BCP ′ .
A
Kita klaim bahwa BP CP ′ segiempat
D E talibusur.

O ∠P BP ′ + ∠P CP ′
= 90◦ + 90◦
P = 180◦
B C
sehingga BP CP ′ segiempat talibusur.
Karena DE ∥ BC, P D ∥ BP ′ , dan
P E ∥ CP ′ , ini berarti homothety
h(A, r) : △DEP 7→ △BCP ′ . Ini
membuktikan bahwa h(A, r) : P 7→

O P ′ sehingga A, P, P ′ segaris. Kare-
na ∠P BP ′ = 90◦ , maka PP′ me-
rupakan diameter lingkaran luar se-
gitiga BCP ′ . Mengingat h(A, r) :
△DEP 7→ △BCP ′ , maka h(A, r) :
O 7→ O′ sehingga A, O, O′ segaris. Ka-
rena A, P, P ′ segaris dan P, O′ , P ju-

P′
ga segaris, dapat disimpulkan bahwa
A, O, P, O′ , P ′ segaris.
Gambar 16: OSN 2022 #7
Karena O′ juga merupakan titik pusat lingkaran luar segitiga BP C, maka terbukti bahwa AP
melalui titik pusat lingkaran luar segitiga EP D dan BP C.

14 Wildan Bagus Wicaksono


4 Contoh Soal
Diperbarui 10 Januari 2024

§4.2. International Mathematical Olympiad 1983 #2

Contoh 4.2: IMO 1983 #2

Misalkan A adalah salah satu dari dua titik perpotongan berbeda dari dua lingkaran
tak kongruen C1 dan C2 yang berpusat di O1 dan O2 , berturut-turut. Salah satu garis
singgung persekutuan kedua lingkaran menyinggung C1 di P1 dan C2 di P2 , sedangkan
garis singgung yang lain menyinggung C1 di Q1 dan C2 di Q2 . Misalkan M1 adalah titik
tengah P1 Q1 dan M2 adalah titik tengah P2 Q2 . Buktikan bahwa ∠O1 AO2 = ∠M1 AM2 .

Tanpa mengurangi keumuman, misalkan r2 < r1 di mana ri menyatakan panjang jari-jari ling-
karan Ci . Cukup well-known bahwa P1 P2 , Q1 Q2 , dan O1 O2 berpotongan di satu titik, mudah
dibuktikan dengan memanfaatkan kekongruenan (diserahkan kepada pembaca). Misalkan titik
perpotongan ketiga garis tersebut adalah B. Selain itu, misalkan garis AB memotong lingkar-
an C1 dan C2 berturut-turut di titik B1 dan B2 di mana B1 , B2 ̸= A. Untuk membuktikan
∠O1 AO2 = ∠M1 AM2 , hal ini ekuivalen dengan membuktikan O1 AM1 = ∠O2 AM2 . Pertama,
kita klaim bahwa M1 dan M2 juga terletak pada garis BO1 .

P1

B1
P2
A
B2

B
O1 M1 O2 M2

Q2

Q1

Gambar 17: IMO 1983 #2

Tinjau bahwa dari Power of Point berlaku BP12 = PowC1 (B) = BQ21 sehingga BP1 = BQ1 .
Karena panjang M1 P1 = M1 Q1 , BP1 = BQ1 , dan BM1 = BM1 , maka △BM1 P1 ∼ = △BM1 Q1
sehingga berakibat ∠P1 BM1 = ∠Q1 BM1 . Artinya, BM1 garis bagi ∠P1 BQ1 . Padahal, BO1
juga garis bagi ∠P1 BQ1 yang membuktikan bahwa B, M1 , dan O1 segaris. Secara analog,
B, M2 , O2 segaris. Jadi, M1 dan M2 terletak pada garis BO1 .
   
Perhatikan bahwa homothety h B, rr12 memetakan C2 ke C1 . Ini berarti h B, rr12 : P2 7→ P1
     
r1
dan h B, r2 : Q2 7→ Q1 . Jadi, h B, rr12 : P2 Q2 7→ P1 Q1 yang menunjukkan h B, rr21 : M2 7→
 
M1 . Selain itu, tinjau bahwa h B, rr12 memetakan B2 ke A dan memetakan A ke B1 . Dari sini,

15 Wildan Bagus Wicaksono


4 Contoh Soal
Diperbarui 10 Januari 2024

 
dapat disimpulkan bahwa homothety h B, rr12 memetakan O2 M2 B2 A ke O1 M1 AB1 . Dari sini
diperoleh ∠O2 AM2 = ∠O1 B1 M1 .
Kita klaim bahwa segiempat O2 M2 B2 A dan O1 M1 AB1 masing-masing segiempat siklis. Tinjau
bahwa ∠O2 P2 B = ∠P2 M2 B = 90◦ sehingga berlaku BP22 = BM2 · BO2 . Dari Power of Point,

BM2 · BO2 = BP22 = BB2 · BA =⇒ BM2 · BO2 = BB2 · BA


 
sehingga O2 M2 B2 A siklis. Kemudian, homthety h B, rr21 : O2 M2 B2 A 7→ O1 M1 AB1 menun-
jukkan O1 M1 AB1 juga siklis. Diperoleh

∠O2 AM2 = ∠O1 B1 M1 = ∠O1 AM1 =⇒ ∠O2 AM2 = ∠O1 AM1

seperti yang ingin dibuktikan.

Remark. Pembuktikan BM2 · BO2 = BP22 dapat dibuktikan dengan kesebangunan pada
△BP2 M2 ∼ △BO2 P2 . Bahasan lebih jauh tentang titik M1 dan M2 dibahas pada pembahasan
inversi.

§4.3. Asian Pacific Mathematical Olympiad 2000 #3

Contoh 4.3
Misalkan ABC merupakan segitiga. Garis berat dan garis bagi yang melalui titik A me-
motong BC berturut-turut di titik M dan N . Garis yang tegak lurus N A di N memotong
M A dan BA berturut-turut di titik Q dan P . Titik O merupakan perpotongan garis yang
tegak lurus BA di P dengan AN . Buktikan bahwa QO tegak lurus BC.

Jika panjang AB = AC, maka M = N = Q, B = P , akibatnya ABOC layang-layang dan jelas


berakibat OQ ≡ OM tegak lurus BC. Jika panjang AB ̸= AC, WLOG panjang AB < AC.

B C
N M

P′
O

O′

Gambar 18: APMO 2000 #3

16 Wildan Bagus Wicaksono


4 Contoh Soal
Diperbarui 10 Januari 2024

Misalkan AN memotong lingkaran luar segitiga ABC sekali lagi di titik O′ . Tinjau ∠O′ CB =
∠O′ AB = ∠O′ AC = ∠O′ BC =⇒ ∠O′ CB = ∠O′ BC sehingga panjang O′ B = O′ C. Aki-
batnya, O′ M ⊥ BC. Secara intutif, dari sini termotivasi untuk membuktikan bahwa terdapat
suatu homothety h(A, r) : O′ M 7→ OQ. Selain itu, dari sini termotivasi untuk mendefinisikan
titik baru yang hampir secara analog dengan soal: definisikan P ′ sebagai titik pada AB sedemi-
kian sehingga O′ P ′ ⊥ AB, maka akan dibuktikan bahwa garis yang melalui P ′ tegak lurus AN
melalui M . Sekali lagi, dalam hal ini perlu membuktikan bahwa terdapat homothety dengan
pusat A yang memetakan segiepmat AP OQ ke segiempat AP ′ O′ M .
Tinjau bahwa OP ∥ O′ P ′ , ini artinya terdapat suatu homothety h(A, k) : P ′ 7→ P dan
h(A, k) : O′ 7→ O. Sekarang, tujuan kita adalah membuktikan M P ′ ⊥ AN . Tinjau
∠BP ′ O′ + ∠AM O′ = 180◦ , maka BP ′ O′ M siklis. Dari sini diperoleh

∠BP ′ M = 90◦ −∠O′ P ′ M = 90◦ −∠O′ BM = 90◦ −∠O′ BC = 90◦ −∠O′ AC = 90◦ −∠O′ AB = 90◦ −∠O′ AP ′ .

Dari sini diperoleh bahwa AO′ ⊥ M P ′ seperti yang ingin dibuktikan. Ini menunjukkan bahwa
P Q ∥ P ′ M sehingga terdapat suatu homothety dengan pusat A yang membahwa P ′ M ke P Q.
Karena h(A, k) : P ′ 7→ P , ini menunjukkan bahwa h(A, k) : M 7→ Q. Karena h(A, k) memetakan
M ke Q dan O′ ke O, ini membuktikan bahwa h(A, k) : M O′ 7→ OQ. Karena M O′ ⊥ BC, maka
OQ ⊥ BC seperti yang ingin dibuktikan.

§4.4. KTO Matematika Agustus 2023 #15

Contoh 4.4: KTOM Agustus 2023 #15, Wildan Bagus Wicaksono

Diberikan segitiga ABC yang memiliki panjang jari-jari lingkaran dalam dan lingkaran
luarnya berturut-turut adalah 1 dan 3. Misalkan I menyatakan titik pusat lingkaran dalam
segitiga ABC. Suatu titik N terletak di dalam segitiga ABC yang memenuhi kondisi
berikut: Misalkan ωA menyatakan lingkaran yang melalui titik N serta menyinggung sisi
AC dan AB. Definisikan ωB dan ωC secara analog. Maka, lingkaran ωA , ωB , dan ωC
kongruen.
√ √
Jika panjang IN adalah s, maka nilai dari 10s dapat dinyatakan dalam bentuk p− q
di mana p dan q bilangan asli. Tentukan nilai dari p + q.

Misalkan O menyatakan pusat lingkaran luar segitiga ABC. Kita klaim bahwa I, N, dan O
segaris. Misalkan A′ , B ′ , dan C ′ berturut-turut merupakan pusat ωA , ωB , dan ωC . Notasikan
r = 1 sebagai panjang jari-jari lingkaran dalam segitiga ABC, R = 3 sebagai panjang jari-jari
lingkaran luar segitiga ABC, dan t panjang jari-jari ωA , ωB , ωC .
Perhatikan bahwa ωA menyinggung AB dan AC, maka terdapat suatu homothety h(A, a) yang
r 1
memetakan ωA ke lingkaran dalam segitiga ABC dengan a = t = t (mengapa?). Ini berarti
homothety h(A, a) memetakan A′ ke titik pusat lingkaran dalam segitiga ABC, yaitu I. Ja-
di, h(A, a) : A′ 7→ I yang menandakan A, A′ , dan I segaris. Secara analog, B, B ′ , I segaris
dan C, C ′ , I segaris, dengan h B, 1t dan h C, 1t
   
berturut-turut memetakan ωB dan ωC ke

17 Wildan Bagus Wicaksono


4 Contoh Soal
Diperbarui 10 Januari 2024

lingkaran dalam segitiga ABC. Hal ini menunjukkan


AI BI CI r r AI BI CI 1 IA′ IB ′ IC ′ r−t

= ′
= ′
= = =⇒ ′
= ′
= ′
= =⇒ = = = .
AA BB CC t t AA BB CC t IA IB IC r
C

C′

N O
I

A′ B′

A B

Gambar 19: KTOM Agustus 2023 #15, oleh Wildan Bagus Wicaksono

Dapat disimpulkan bahwa suatu homothety h (I, d) memetakan A′ , B ′ , C ′ berturut-turut ke


A, B, C yang menunjukkan h (I, d) : △A′ B ′ C ′ 7→ △ABC di mana d > 0. Akan kita tentukan
d lebih spesifik. Misalkan D adalah titik singgung lingkaran dalam segitiga ABC dengan AB
dan ID memotong A′ B ′ di D′ . Homothety h(I, d) : D 7→ D′ menandakan bahwa D′ juga titik
singgung lingkaran dalam segitiga A′ B ′ C ′ dengan panjang jari-jari ID′ = ID − DD′ = 1 − t.
Karena h(I, d) : D 7→ D′ , maka
ID t t
 

ID = |d|ID ⇐⇒ d = |d| = ′
= =⇒ h I, : △A′ B ′ C ′ 7→ △ABC.
ID 1−t 1−t
Perhatikan bahwa panjang N A′ = N B ′ = N C ′ = t, maka N adalah titik pusat lingkaran
luar segitiga A′ B ′ C ′ dan lingkaran luarnya memiliki panjang jari-jari t. Karena homothety
h A, 1−t
 
t memetakan lingkaran luar segitiga A′ B ′ C ′ ke lingkaran luar segitiga ABC, maka

t t t2 t2 21 − 3
R= t= ·t= =⇒ 3 = ⇐⇒ 0 = t2 + 3t − 3 =⇒ t = .
1−t 1−t 1−t 1−t 2
 
t
Maka homothety h I, 1−t memetakan N ke titik pusat lingkaran luar segitiga ABC, yaitu O,
 
t
atau h I, 1−t : N 7→ O. Jadi, I, N, O segaris dan berlaku perbandingan
√ √ √
t t 1−t 1 − 21−3
2 5 − 21 21 − 3
OI = NI = N I ⇐⇒ IN = OI = √ OI = √ OI = OI.
1−t 1−t t 21−3 21 − 3 6
2
p p √
Kita tahu bahwa OI = R(R − 2r) = 3(3 − 2) = 3, diperoleh
√ √ √ √ √
21 − 3 √ 3 7−3 3 7− 3 √ √ √ √
s = NI = · 3= = =⇒ 10s = 5 7 − 5 3 = 175 − 75.
6 6 2
Jadi, p = 175 dan q = 75 sehingga p + q = 250 .

18 Wildan Bagus Wicaksono


5 Problems
Diperbarui 10 Januari 2024

Remark. Pembaca yang belum familiar dengan Teorema Euler OI 2 = R(R − 2r) dapat mem-
bacanya pada Power of Point halaman 14.

§5. Problems
Soal belum tentu terurut berdasarkan tingkat kesulitan. Soal tertentu yang memiliki label
⋆ diberikan solusinya.

Soal 5.1. Diketahui ω1 dan ω2 adalah dua lingkaran yang bersinggungan dalam.

(a). Perlihatkan bahwa terdapat homothety yang membawa ω1 ke ω2 . Tentukan titik pusat
homothety tersebut.

(b). Tunjukkan bahwa kedua titik pusat ω1 dan ω2 segaris dengan titik singgung kedua ling-
karan tersebut.

Teorema 5.2. Diberikan O dan Q dua titik yang berbeda, kemudian tinjau homothety h(O, k)
dan H(Q, p).

(a). Buktikan bahwa komposisi h(O, k) ◦ h(Q, p) juga merupakan homothety.


Catatan. Apabila sebarang titik A dikenakan h(O, k) ◦ h(Q, p) maka bayangannya dapat
diperoleh dengan h(Q, p) : A 7→ A′ , h(O, k) : A′ 7→ A′′ , dan h(Q, p) ◦ h(O, k) : A 7→ A′′ .

(b). Jika p ̸= 1, buktikan bahwa h(O, k) ◦ h(Q, p) = h(R, kp) di mana R terletak pada garis
−−→ −−→
OQ yang memenuhi RQ = k(p − 1)QO.

Soal 5.3. Misalkan P adalah suatu titik di dalam persegi ABCD. Buktikan bahwa titik berat
dari segitiga ABP, BCP, CDP, dan DAP membentuk persegi.

Soal 5.4 (USAMO 1993 #2). Misalkan ABCD adalah segiempat yang diagonal AC dan BD
berpotongan tegak lurus di E. Buktikan bahwa pencerminan titik E terhadap AB, BC, CD, DA
terletak pada satu lingkaran.

Soal 5.5. Misalkan ABC segitiga lancip dan titik X berada di lingkaran luar segitiga ABC
sedemikian sehingga AX sejajar BC, di mana X ̸= A. Misalkan G adalah titik berat dari
segitiga ABC dan K adalah kaki tinggi dari titik A ke BC. Buktikan bahwa K, G, X segaris.⋆

Lemma 5.6 (Lemma 3.7). Diberikan segitiga ABC dan I merupakan titik pusat lingkaran da-
lamnya. Lingkaran tersebut menyinggung BC di titik D, kemudian X merupakan pencerminan
titik D terhadap I.

(a). Buktikan bahwa panjang BD = CA′ .

(b). Jika M titik tengah BC, buktikan bahwa IM ∥ AA′ di mana A′ merupakan titik singgung
A-Excircle dengan BC.

19 Wildan Bagus Wicaksono


5 Problems
Diperbarui 10 Januari 2024

Lemma 5.7 (Archimedes). Diberikan lingkaran ω1 dan dua titik A, B yang berbeda terletak
pada lingkaran tersebut. Konstruksikan lingkaran ω2 yang bersinggungan dalam dengan ω1 di
T dan menyinggung AB di K.

(a). Misalkan M adalah titik tengah busur AB yang tidak mengandung titik T . Buktikan
bahwa T, K, M segaris.

(b). Tunjukkan bahwa △T M B ∼ △BM K. Hal ini menunjukkan bahwa M K · M T = M B 2


yang berarti M A2 = M B 2 = Powω2 (M ).

Soal 5.8 (Russia 2000, Grade 10 #7). Dua lingkaran bersinggungan dalam di titik N . Busur
BA dan BC dari lingkaran yang lebih besar menyinggung lingkaran yang lebih kecil berturut-
turut di titik K dan M . Titik Q dan P berturut-turut merupakan titik tengah busur AB dan
busur BC yang tidak mengandung titik N . Lingkaran luar BQK dan BP M berpotongan sekali
lagi di titik L. Buktikan bahwa BP LQ jajargenjang.

Soal 5.9 (Russia 2001, Grade 10 #3). Misalkan lingkarna ω1 bersinggungan dalam dengan
lingkaran ω2 di N . Ambil sebarang titik K pada ω1 , kemudian buat garis singgung AB dari
ω1 yang dan memotong ω2 di titik A dan B. Misalkan M adalah titik tengah busur AB yang
berlawanan sisi dengan titik N . Buktikan bahwa panjang jari-jari lingkaran luar segitiga KBM
tidak bergantung dengan pemilihan letak titik K.

Soal 5.10 (IMO 1999 #2). Dua lingkaran Ω1 dan Ω2 bersinggungan dalam dengan lingkaran
Ω berturut-turut di titik M dan N , di mana pusat Ω2 berada di Ω1 . Tali busur persekutuan
dari lingkaran Ω1 dan Ω2 memotong Ω di titik A dan B. Jika M A dan M B memotong Ω1 di C
dan D, buktikan bahwa CD menyinggung Ω2 . ⋆

Soal 5.11 (KTOM Juni 2022 #16). Misalkan H dan O berturut-turut adalah titik tinggi dan
titik pusat lingkaran luar segitiga ABC. Ternyata, garis yang melalui A dan titik tengah BC
tegak lurus terhadap OH. Jika panjang BC = 4, tentukan nilai dari AB 2 + AC 2 .

Soal 5.12 (AIME 2007 #15). Empat lingkaran ω, ωA , ωB , dan ωC yang identik terletak di
dalam segitiga ABC sedemikian sehingga ωA menyinggung sisi AB dan AC, ωB menyinggung
sisi BC dan BA, ωC menyinggung sisi CA dan CB, dan ω bersinggungan luar dengan ωA , ωB ,
dan ωC . Jika panjang sisi-sisi segitiga ABC adalah 13, 14, 15, maka panjang jari-jari ω dapat
m
dinyatakan sebagai n di mana m, n bilangan asli yang relatif prima. Tentukan nilai m + n.

Soal 5.13 (PEMNAS 2023 #25). Pada segitiga ABC, misalkan A1 menyatakan titik pusat
lingkaran yang menyinggung perpanjangan sisi AB, perpanjangan sisi AC, dan segmen BC.
Definisikan B1 dan C1 dengan cara yang serupa. Misalkan O dan O1 berturut-turut menyatakan
pusat lingkaran luar dari segitiga ABC dan segitiga A1 B1 C1 . Sedangkan, titik I merupakan

titik pusat lingkaran dalam segitiga ABC. Jika panjang IC1 = 7, OC1 = 2 14, dan O1 C1 = 9,
p
maka panjang jari-jari lingkaran dalam segitiga ABC dapat dinyatakan sebagai di mana p
q
dan q adalah dua bilangan asli yang relatif prima. Tentukan nilai dari p + q.

20 Wildan Bagus Wicaksono


5 Problems
Diperbarui 10 Januari 2024

Soal 5.14. Pada segitiga ABC, misalkan Ta adalah titik singgung lingkaran dalam dengan BC,
dan Ma adalah titik tengah garis tinggi ABC dari titik A. Definisikan Tb , Tc , Mb , dan Mc secara
serupa. Buktikan bahwa Ta Ma , Tb Mb , dan Tc Mc berpotongan di satu titik.

Soal 5.15. Diberikan segitiga ABC dan lingkaran dalamnya menyinggung BC, CA, AB
berturut-turut di titik D, E, F . Garis bagi segitiga ABC yang melalui A, B, C berturut-turut
memotong lingkaran luar segitiga ABC di titik A′ , B ′ , C ′ . Buktikan bahwa A′ D, B ′ E, dan C ′ F
berpotongan di satu titik.

Teorema 5.16 (Monge). Diberikan tiga lingkaran yang tidak saling kongruen. Dari setiap
pasang dua lingkaran, dibuat garis singgung persekutuan luar dan berpotongan di suatu titik.
Sebut titik-titik ini adalah P, Q, dan R. Buktikan bahwa P, Q, dan R segaris. ⋆

Lemma 5.17 (Mixtilinear Incircles). Diberikan segitiga ABC. Didefinisikan A-mixtilinear


sebagai lingkaran yang menyinggung segmen AB, segmen AC, dan busur BC yang tidak meng-
andung titik A. Didefinisikan pula B-mixtilinear dan C-mixtilinear dengan cara yang seru-
pa. Misalkan TA , TB , dan TC berturut-turut titik pusat A-mixtilinear, B-mixtilinear, dan
C-mixtilinear. Buktikan bahwa ATA , BTB , dan CTC berpotongan di satu titik.

Soal 5.18 (Bay Area 2013 #3). Misalkan H adalah titik tinggi segitiga lancip ABC. Buktikan
bahwa segitiga yang dibentuk dari titik pusat lingkaran luar ABH, BCH, dan CAH kongruen
dengan segitiga ABC.

Soal 5.19 (OSN 2012 #3). Misalkan ABCD adalah trapesium di mana panjang AB < CD (di
mana hanya ada satu pasang sisi yang sejajar). Misalkan AC dan BD berpotongan di titik E,
sedangkan AD dan BC berpotongan di titik F . Konstruksi jajar genjang AEDK dan BECL.
Buktikan bahwa EF melalui titik tengah dari segmen KL. ⋆

Soal 5.20. Diberikan persegi panjang ABCD, kemudian konstruksi lingkaran ω yang menying-
gung AB dan CD. Garis singgung ω dari titik A dan titik B berpotongan di titik E. Jika
O adalah perpotongan diagonal ABCD dan X titik singgung ω dengan CD, tunjukkan bahwa
E, X, O segaris.

21 Wildan Bagus Wicaksono


5 Problems
Diperbarui 10 Januari 2024

Soal 5.21. Misalkan ABCD adalah trapesium di mana AB > CD dan AB ∥ CD. Titik K
AK DL
dan L berturut-turut berada di segmen AB dan CD sedemikian sehingga KB = LC . Misalkan
terdapat tiitk P, Q pada garis KL sedemikian sehingga ∠AP B = ∠BCD dan ∠CQD = ∠ABC.
Buktikan bahwa P, Q, B, C terletak pada lingkaran yang sama.

Soal 5.22 (APMO 2004 #2). Misalkan O dan H berturut-turut adalah titik pusat lingkaran luar
dan titik tinggi dari segitiga lancip ABC. Buktikan bahwa salah satu dari segitiga AOH, BOH,
dan COH luasnya merupakan jumlah dari luas dua segitiga lainnya. ⋆

Soal 5.23. Misalkan I, O berturut-turut adalah titik pusat lingkaran dalam dan lingkaran luar
dari segitiga ABC. Selain itu, misalkan D, E, F berturut-turut adalah titik pusat lingkaran luar
dari segitiga BIC, CIA, AIB. Misalkan P, Q, R berturut-turut adalah titik tengah dari segmen
DI, EI, F I. Buktikan bahwa titik pusat lingkaran luar segitiga P QR merupakan titik tengah
dari segmen IO.

Soal 5.24. Misalkan H dan O berturut-turut adalah titik tinggi dan titik pusat lingkaran luar
segitiga ABC. Lingkaran dalam segitiga ABC berpusat di I menyinggung sisi BC di K. Jika
IO ∥ BC, buktikan bahwa AO ∥ HK.

Soal 5.25 (KTOM Juli 2016 #11). Diberikan segitiga lancip ABC dengan panjang diameter
lingkaran luar 25. Titik D, E, F pada sisi BC, CA, AB berturut-turut sehingga AD, BE, CF
adalah garis tinggi dari segitiga ABC. Jika keliling dari segitiga DEF adalah 32, tentukan luas
dari segitiga tersebut.

Soal 5.26 (IMO 1992 #4). Pada sebuah bidang misalkan C adalah sebuah lingkaran, L garis
singgung terhadap C, dan M adalah titik pada L. Tentukan lokus (kedudukan) dari semua titik
P yang memenuhi kondisi: terdapat dua titik Q, R pada L sehingga M adalah titik tengah dari
QR dan C merupakan lingkaran dalam segitiga P QR.

Soal 5.27 (Romania TST 2013). Lingkaran Ω dan ω bersingugungan di titik P (ω di dalam
Ω). Busur AB dari Ω menyinggung ω di C, kemudian garis P C memotong Ω sekali lagi di titik
Q. Busur QR dan QS dari Ω menyinggung ω. Misalkan I, X, dan Y berturut-turut titik bagi
dari segitiga AP B, ARB, dan ASB. Buktikan bahwa ∠P XI + ∠P Y I = 90◦ .

Soal 5.28 (Wildan Bagus Wicaksono). Diberikan trapesium ABCD di mana AB sejajar CD,
AD tidak sejajar BC, dan panjang AB ̸= CD. Garis AD dan BC berpotongan di titik E,
sedangkan AC dan BD berpotongan di titik F . Lingkaran luar segitiga ECF memotong per-
panjangan CD di titik T1 di mana T1 ̸= C, sedangkan lingkaran luar segitiga EF B memotong
perpanjangan AB di titik T2 di mana T2 ̸= B. Garis ET1 memotong garis AB di titik P2 dan
garis ET2 memotong garis CD di titik P1 . Jika BT1 dan CP2 berpotongan di M , sedangkan
AP1 dan DT2 berpotongan di N , buktikan bahwa M, N, dan F segaris. ⋆

Lemma 5.29 (Nagel Point). Misalkan ABC adalah segitiga. Misalkan lingkaran singgung luar
ABC yang berlawanan dengan A menyinggung BC di D, definisikan serupa untuk E pada AC
dan F pada AB.

22 Wildan Bagus Wicaksono


5 Problems
Diperbarui 10 Januari 2024

(a). Buktikan bahwa AD, BE, CF berpotongan di satu titik N . Titik ini disebut Nagel Point.

(b). Misalkan G adalah titik berat dari segitiga ABC dan I titik bagi segitiga ABC. Buk-
tikan bahwa I, G, N segaris dalam urutan tersebut (yang disebut Garis Nagel), kemudian
tunjukkan juga panjang GN = 2IG.

Soal 5.30 (USAMO 2001 #2). Misalkan ABC adalah segitiga di mana ω sebagai lingkaran
dalamnya. Titik D1 dan E1 berturut-turut merupakan titik singgung ω dengan BC dan AC.
Titik D2 dan E2 berturut-turut berada pada sisi BC dan AC, sedemikian sehingga panjang
CD2 = BD1 dan CE2 = AE1 , kemudian misalkan P adalah perpotongan dari segmen AD2 dan
BE2 . Lingkaran ω memotong segmen AD2 di dua titik, di mana titik yang berada lebih dekat
dengan titik A adalah Q. Buktikan bahwa panjang AQ = D2 P .

Soal 5.31 (USAMO 2015 #2). Segiempat AP BQ memiliki lingkaran luar ω di mana ∠P =
∠Q = 90◦ dan panjang AP = AQ < BP . Misalkan X merupakan variabel titik pada segmen
P Q. Garis AX memotong ω sekali lagi di titik S (di mana S ̸= A). Titik T pada busur AQB
dari ω sedemikian sehingga XT tegak lurus AX. Misalkan M adalah titik tengah busur ST .
Apabila X digerakkan sepanjang segmen P Q, buktikan bahwa M bergerak pada suatu busur
lingkaran. ⋆

23 Wildan Bagus Wicaksono


6 Hint
Diperbarui 10 Januari 2024

§6. Hint
Petunjuk yang diberikan dalam satu nomor bisa memuat lebih dari satu petunjuk. Jadi,
alangkah baiknya berusaha hingga benar-benar menyerah.

5.1. Pusat homothety merupakan titik singgung persekutuannya.

5.2. Bagian (a) gunakan definisi, kemudian bagian (b) gunakan Teorema Menelaus.

5.3. Buat garis berat yang melalui P dari masing-masing segitiga dan kontruksikan titik po-
tongnya dengan AB, BC, CD, DA. Sekarang, apa kondisi yang ekuivalen dengan yang
ingin dibuktikan?

5.4. Gunakan sifat pencerminan, kemudian apa kondisi ekuivalen dengan yang ingin dibuktik-
an?

5.5. Misalkan AG memotong BC di M , tentukan perbandingan AX : KM .

5.6. Bagian (a) gunakan Teorema 3.5 dan Teorema 3.6. Bagian (b) cukup gunakan bagian (a).

5.7. Bagian (a), konstruksikan garis singgung ω1 di M . Ingat kembali Soal 5.1.

5.8. Langsung dengan Lemma 5.7.

5.9. Hoho.. Anda tidak memerlukan hint di sini :p.

5.10. Konstruksikan garis singgung persekutuan ω1 dan ω2 , kemudian identifikasi salah satu
titik A atau B.

5.11. Apa titik perpotongan antara garis berat dengan garis OG? Perpanjang garis berat hingga
memotong lingkaran.

5.12. Motivasinya hampir sama dengan Contoh 4.4.

5.13. Buktikan bahwa AA1 ⊥ B1 C1 . Apa hubungan lingkaran luar ABC dengan segitiga
A1 B 1 C 1 ?

5.14. Saya tidak langsung memberikan nomor lemmanya, mungkin Anda perlu membacanya
kembali. Apakah yang menjadi titik konkurensinya?

5.15. Terdapat homothety yang membawa segitiga DEF ke A′ B ′ C ′ . Apa titik konkurensinya?

5.16. Perpotongan garis singgung persekutuan luar dari dua lingkaran merupakan titik pusaat
homothety yang memetakan sebuah lingkaran ke lingkaran lainnya. Lihat juga Teorema
5.2.

5.17. Apa homohety yang terkait dengan A-mixtilinear, B-mixtilinear, dan C-mixtilinear? Gu-
nakan Lemma 5.16.

24 Wildan Bagus Wicaksono


6 Hint
Diperbarui 10 Januari 2024

5.18. Gunakan Lemma 3.2. Apa hubungan antara lingkaran luar segitiga ABC dengan lingkaran
luar segitiga ABH?

5.19. Pertama, buktikan F E garis berat segitiga ADC. Kemudian, tinjau perpotongan EK
dengan AD dan EL dengan BC, apa hubungan antara garis yang menghubungkan titik
potong tersebut dengan AB dan KL?

5.20. Apakah titik X? Perpanjang EX hingga memotong AB. Anda mungkin tertarik dengan
Lemma 3.7.

AK
5.21. Konstruksikan perpotongan AD dan BC. Apa kondisi yang bisa didapatkan dari KB =
DL
LC ? Dari homothety h(X, k) : AB 7→ CD, konstruksikan P ′ di mana h(X, k) : P 7→ P ′ .

5.22. WLOG A, B berada pada sisi yang sama terhadap OH. Konstruksi titik berat G dan M
titik tengah AB. Tentukan hal ekuivalen dengan yang ingin dibuktikan.

5.23. Misalkan AI memotong lingkaran luar segitiga ABC di titik D′ , apakah titik D′ ? Titik
manakah yang menjadi pusat homothety?

5.24. Misalkan X adalah pencerminan titik K terhadap I. Buktikan bahwa A, X, dan O segaris.
Lihat juga Lemma 3.7.

5.25. Nyatakan segitiga DEF dalam bentuk R di mana R panjang jari-jari lingkaran. Buktikan
bahwa DE = R sin(2C), nyatakan sisi lainnya dengan cara yang sama. Apakah lingkaran
luar dari segitiga DEF ? Terakhir, nyatakan sin(2A) + sin(2B) + sin(2C) dalam bentuk
[ABC] dan R.

5.26. Misalkan X adalah titik singgung L dengan C. Sebagai motivasi awal, lihat Lemma 5.6.
Tinjau refleksi X terhadap M . Gunakan Lemma 3.7.

5.27. Misalkan QR dan QS memotong ω berturut-turut di titik M dan N . Apakah titik M dan
N?

5.28. Konstruksikan titik tengah AB dan CD. Buktikan bahwa panjang DT1 = CP1 .

5.29. Bagian (a) gunakan Teorema Ceva. Bagian (b), konstruksikan lingkaran dalam segitiga
ABC yang menyinggung BC di K dan KK ′ sebagai diameternya.

5.30. Apakah D1 Q dan P ? Gunakan Lemma 5.26.

5.31. Konstruksikan C sebagai perpotongan P Q dan AT , serta H sebagai perpotongan T X dan


SC. Buktikan SC tegak lurus AT . Perhatikan bahwa M, D, C, X terletak pada NPC dari
AST , verivikasi bahwa NPC tersebut berpusat di tiitk tengah AO. Buktikan M, D, P, Q
siklis.

25 Wildan Bagus Wicaksono


7 Solusi Soal Terpilih
Diperbarui 10 Januari 2024

§7. Solusi Soal Terpilih


Membaca solusi dengan baik adalah membaca dengan mengikuti satu langkah demi lang-
kah dengan menulis dan mencoret. Sebagian detail akan diserahkan kepada pembaca sehingga
menulis dan mencoret akan dibutuhkan.

5.5. Misalkan M titik tengah BC dan K ′ pada BC sedemikian sehingga XK ′ ⊥ BC. Tinjau
∠BCX = 180◦ − ∠XAB = ∠ABC sehingga ABCX trapesium sama kaki. Akibat-
nya, panjang KB = K ′ C sehingga diperoleh panjang M K = M K ′ . Ini berarti panjang
AX = KK ′ = 2KM yang berarti AX : KM = 2 : 1. Tinjau bahwa AG : GM = 2 : 1
yang berarti h G, − 21 : A 7→ M . Misalkan X ′ dengan h G, − 12 : X 7→ X ′ , ini berarti
   

h G, − 12 : AX 7→ M X ′ sehingga M X ′ = 21 AX dan M X ′ ∥ AX. Kondisi ini menunjukk-


 

an bahwa X = K yang menunjukkan h G, − 12 : X 7→ K. Jadi, K, G, X segaris.


 

Solusi Alternatif. Tinjau K dan M terletak pada N9 (NPC) dari ABC. Karena
h G, − 21
 
: (ABC) 7→ N9 di mana (ABC) menyatakan lingkaran luar segitiga ABC
serta h G, − 12 : A 7→ M , dari sini dapat disimpulkan h G, − 12 : X 7→ K.
   

A X

B K M K′ C

5.10. Misalkan ℓ1 dan ℓ2 merupakan garis singgung persekutuan luar Ω1 dan Ω2 , kita klaim
bahwa ℓ1 , ℓ2 melalui C, D. Misalkan ℓ2 menyinggung Ω1 di C ′ dan M C ′ memotong Ω di
A′ . Perhatikan ℓ2 , dari Lemma 5.7 (b) berlaku PowΩ1 (A′ ) = PowΩ2 (A′ ) (mengapa?),
ini artinya A′ terletak di radical axis Ω1 dan Ω2 . Jadi, A = A′ . Dari Lemma 5.7 (a)
yang mana A, C ′ , M segaris, ini artinya C = C ′ . Secara analog, dengan memerhatikan ℓ1
diperoleh bahwa ℓ1 melalui D.
Sekarang, akan dibuktikan bahwa CD menyinggung Ω2 . Misalkan Oi dan Ri berturut-
turut menyatakan pusat dan panjang jari-jari Ωi untuk setiap i ∈ {1, 2}. Berdasarkan
solusi pada Contoh 4.2 dapat diperoleh CD ⊥ O1 O2 , misalkan CD dan O1 O2 berpotongan
di T . Sekarang ekuivalen dengan membuktikan bahwa T terletak di Ω2 , dengan kata
lain, panjang O2 T = R2 . Misalkan ℓ1 menyinggung Ω2 di K. Tinjau bahwa ∠DT O2 +

26 Wildan Bagus Wicaksono


7 Solusi Soal Terpilih
Diperbarui 10 Januari 2024

∠DKO2 = 180◦ , maka DT O2 K siklis. Dari sini diperoleh

∠O2 T K = ∠O2 DK = 90◦ −∠O1 DO2 = 90◦ −∠O1 O2 D = 90◦ −∠T O2 D = 90◦ −∠T KD = ∠T KO2

sehingga panjang O2 T = O2 K = R2 , seperti yang ingin dibuktikan.

M D B

N ℓ1

ℓ2

5.16. Misalkan pusat ketiga lingkaran tersebut adalah P, Q, R yang memiliki panjang jari-jari
berturut-turut rP , rQ , rR . WLOG rP > rQ > rR . Notasikan XP Q titik potong garis
singgung persekutuan luar lingkaran yang berpusat di P dan Q, definisikan XQR dan XP R
dengan cara yang sama. Akan dibuktikan bahwa XP Q , XQR , dan XRP segaris. Perhatikan
bahwa XP Q merupakan pusat homothety yang membawa lingkaran P ke Q, misalkan
 
r
h XP Q , rQ
P
: ⊙(P ) 7→ ⊙(Q) di mana ⊙(P ) menyatakan lingkaran yang berpusat di P .
     
r
Dari Teorema 5.2, h AQ , rrPR = h XP Q , rQ
P
◦ h XQR , rrQ
R
: ⊙(P ) 7→ ⊙(R) dengan AQ
rR
terletak di segmen XP Q XQR karena 0 < rQ < 1. Di sisi lain,

rP rR
   
h XRP , : ⊙(R) 7→ ⊙(P ) ⇐⇒ h XRP , : ⊙(P ) 7→ ⊙(R).
rR rP
rR
Karena rP < 1, maka R terletak di segmen XRP P . Dari definisi,
−−−−→ rR −−−−→ −−−→ rR −−−→
XRP R = XRP P dan AQ R = AQ P .
rP rP
Misalkan XRP = x, R = r, P = p, dan AQ = a, maka
rR
rR rR rR rR rR
 
r− rP p
r−x= (p − x) = p− x ⇐⇒ r − p= 1− x ⇐⇒ x = .
rP rP rP rP rP 1 − rrPR
r
r− rR p
Secara analog, a = 1− rR
P
r sehingga diperoleh x = a. Jadi, XRP = AQ yang membuktikan
P
XP Q , XQR , dan XRP segaris.
Catatan. Dalam solusi ini Anda perlu memiliki pengetahuan tentang vektor.

27 Wildan Bagus Wicaksono


7 Solusi Soal Terpilih
Diperbarui 10 Januari 2024

5.19. Misalkan X, Y berturut-turut merupakan titik tengah CD, AB. Tinjau AB ∥ CD sehing-
ga dapat diperoleh △F CD ∼ △F BA. Maka terdapat homothety h(F, r1 ) : CD 7→ AB,
ini berarti h(F, r1 ) : X 7→ Y . Jadi, F, X, Y segaris. Selain itu, AB ∥ CD =⇒ △ABE ∼
△CDE sehingga terdapat homothety h(E, r2 ) : CD 7→ AB. Jadi, h(E, r2 ) : X 7→ Y
sehingga E, X, Y segaris.
Misalkan EK, EL memotong AD, BC berturut-turut di titik M, N . Dari sifat jajargen-
jang, yaitu panjang EM = M K dan EN = N L yang berarti h(E, 2) : M 7→ K dan
h(E, 2) : N 7→ L. Kemudian, perhatikan bahwa panjang DM = M A dan CN = N B
sehingga diperoleh M N ∥ CD (mengapa?). Maka terdapat homothety h(F, r3 ) : CD 7→
M N , ini artinya homothety h(F, r3 ) memetakan X ke titik tengah M N sehingga titik te-
ngah M N , F , dan X segaris. Kemudian, homothety h(E, 2) memetakan titik tengah M N
ke titik tengah KL, maka E, titik tengah M N , dan titik tengah KL segaris. Mengingat
F, E, dan titik tengah M N segaris, ini membuktikan bahwa F E melalui titik tengah KL.

D C
Y
E

M N

K L

A X B

5.21. WLOG titik A dan B berada pada sisi yang sama terhadap garis OH. Misalkan M titik
tengah AB sehingga kita peroleh AM ∩ OH = G di mana G titik berat △ABC. Misalkan
pula A1 adalah hasil proyeksi titik A ke garis OH. Definisikan yang sama untuk B1 , C1 ,
dan M1 .

B1
M1
A1
C1G

A M B

28 Wildan Bagus Wicaksono


7 Solusi Soal Terpilih
Diperbarui 10 Januari 2024

Maka
AA1 · OH BB1 · OH CC1 · OH
[AOH]+[BOH] = [COH] ⇐⇒ + = ⇐⇒ AA1 +BB1 = CC1 .
2 2 2
Kita punya △M M1 G ∼ △CC1 G dan diperoleh bahwa
CC1 CG
= = 2 ⇐⇒ CC1 = 2M M1 .
M M1 MG
Maka sekarang ekuivalen dengan membuktikan AA1 + BB1 = 2M M1 yang mana jelas
benar pada trapesium AA1 BB1 mengingat M titik tengah AB.

Remark. Diberikan trapesium ABCD di mana AB ∥ CD. Titik M1 dan M2 berturut-


turut pada BC dan DA sehingga M N ∥ AB. Maka
AB · CM + CD · BM
MN = ,
BC
yang mana jika panjang CM = M B diperoleh bahwa 2M N = AB + CD. Pembuktian
diserahkan kepada pembaca sebagai latihan.

5.27. Tanpa mengurangi keumuman, misalkan panjang AB > CD. Misalkan X dan Y berturut-
turut adalah titik tengah segmen AB dan segmen CD.

T1 D X C P1

M
F
N

P2 A Y B T2

Klaim 1. E, X, Y segaris.

Tinjau AB ∥ CD sehingga akan diperoleh △ECD ∼ △EBA. Ini berarti terdapat suatu
homothety h(E, r1 ) : CD 7→ AB. Karena X dan Y berturut-turut titik tengah CD dan
AB, maka h(E, r) : X 7→ Y . Jadi, E, X, Y segaris.

29 Wildan Bagus Wicaksono


7 Solusi Soal Terpilih
Diperbarui 10 Januari 2024

Klaim 2. X, Y, F segaris.

Tinjau bahwa AB ∥ CD sehingga akan diperoleh △F AB ∼ △F CD. Ini berarti terdapat


suatu homothety h(F, r2 ) : CD 7→ AB. Karena X dan Y berturut-turut titik tengah CD
dan AB, maka h(F, r2 ) : X 7→ Y . Jadi, X, F, Y segaris.

Klaim 3. P1 F DE siklis.

Karena ET2 BF siklis, maka

∠EP1 D = ∠ET2 A = ∠ET2 B = 180◦ − ∠EF B = ∠EF D =⇒ ∠EP1 D = ∠EF D

yang menyimpulkan EP1 F D siklis.

Klaim 4. Panjang DT1 = CP1 dan panjang AP2 = BT2 .

Dari Power of Point pada lingkaran luar ECF T1 dan lingkaran luar EDF P1 berlaku

T1 X · XC = EX · XF = DX · XP1 =⇒ T1 X · XC = DX · XP1 ⇐⇒ DX = XP1 .

Karena panjang DX = XC, maka DT1 = CP1 . Tinjau bahwa h(E, r1 ) : DT1 7→ AP2 dan
h(E, r1 ) : CP1 7→ BT2 . Karena panjang DT1 = CP1 , maka panjang AP2 = BT2 .
Perhatikan bahwa X dan Y merupakan titik tengah P1 T1 dan P2 T2 . Misalkan P2 D
dan T2 C berpotongan di E2 . Tinjau homothety h(E2 , r3 ) : CD 7→ P2 T2 dan diperoleh
h(E2 , r3 ) : X 7→ Y yang berarti E2 , X, Y segaris. Karena E, X, Y segaris, jadi E2 terletak
pada garis EY . Secara analog pada Klaim 1, diperoleh X, M, Y segaris. Secara analog,
pada trapesium ABP1 T1 berlaku X, N, Y segaris.
Jadi, X, M, F, N, Y segaris dan diperoleh M, F, N segaris.

5.31. Misalkan pula C adalah perpotongan P Q dan AT , H adalah perpotongan T X dan SC,
dan O pusat ω. Tinjau bahwa AP = AQ sehingga AP BQ merupakan layang-layang dan
kita peroleh AB ⊥ P Q. Misalkan O′ adalah titik tengah AO. Notasikan ∡ besaran sudut
yang diambil modulo 180◦ .

Klaim 1. SC ⊥ AT .

Tinjau bahwa

∡ACX = 90◦ −∡BAC = 90◦ −∡BAT = 90◦ −∡BST = ∡T SA = ∡T SX =⇒ ∡ACX = ∡T SA

sehingga SXCT siklis. Kita punya ∠SCT = ∠SXT = 90◦ dan klaim kita terbukti (selain
itu hal ini menunjukkan P Q tidak mungkin sejajar ST ). Maka H adalah titik tinggi dari
△AST dan misalkan E perpotongan P Q dan ST . Misalkan AH memotong BC di D,
maka AD ⊥ BC.

30 Wildan Bagus Wicaksono


7 Solusi Soal Terpilih
Diperbarui 10 Januari 2024

Klaim 2. M, D, P, Q siklis dengan lingkaran luarnya berpusat di titik tengah AO.

Kita punya C, X, M, D siklis dengan lingkaran luarnya adalah NPC dari AST . Tinjau
pula T SXC dan T SP Q siklis, dari Power of Point, kita punya

EQ · EP = ET · ES = EC · EX = ED · EM =⇒ EQ · EP = ED · EM.

Maka D, M, P, Q siklis dan misalkan lingkaran luarnya adalah Ω. Misalkan M ′ adalah hasil
proyeksi O′ pada ST . Kita punya OM ∥ O′ M ′ ∥ AD mengingat OM ⊥ ST . Maka M ODA
merupakan trapesium karena O′ titik tengah AO, maka M ′ adalah titik tengah M D.
Maka O′ M ′ garis sumbu M D. Selain itu, kita tahu bahwa AO′ merupakan garis sumbu
P Q mengingat AP BQ layang-layang. Kita peroleh bahwa O′ titik pusat Ω. Kita tahu
bahwa P, Q, dan O′ tetap, maka Ω juga tetap sehingga M berada di Ω untuk sembarang
posisi X di P Q.

E D M
T S
O

Q
H
C O′

A P

31 Wildan Bagus Wicaksono

Anda mungkin juga menyukai