0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
173 tayangan77 halaman

Tujuh Alat Dasar TQM untuk Kualitas

7 Tools merupakan tujuh alat dasar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan kualitas produksi. Ketujuh alat tersebut adalah check sheet, stratifikasi, grafik, diagram fishbone, diagram Pareto, histogram, dan control chart.

Diunggah oleh

dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
173 tayangan77 halaman

Tujuh Alat Dasar TQM untuk Kualitas

7 Tools merupakan tujuh alat dasar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan kualitas produksi. Ketujuh alat tersebut adalah check sheet, stratifikasi, grafik, diagram fishbone, diagram Pareto, histogram, dan control chart.

Diunggah oleh

dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TOOLS

PENDAHULUAN

 Pertama kali dipopulerkan oleh

seorang ahli statistika dan

quality control asal Jepang

bernama Dr. Kaoru Ishikawa

pada tahun 1968.


PENDAHULUAN

 7 Tools merupakan tujuh alat dasar yang digunakan

untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi

oleh produksi, terutama permasalahan yang

berkaitan dengan kualitas/mutu.


PENDAHULUAN
 Ketujuh alat tersebut adalah:
1. Check Sheet dan Stratifikasi

2. Grafik

3. Diagram Fishbone

4. Diagram Pareto

5. Histogram

6. Diagram Scatter

7. Control Chart
CHECK SHEET DAN
STRATIFIKASI
Check Sheet
Form pengajuan data yang dipakai sebagai alat bantu untuk memudahkan pengumpulan
data secara tepat, cepat dan sistematis.

• Pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Kaoru


Ishikawa pada tahun 1968.
• Check sheet membantu tim untuk mencatat
frekuensi terjadinya suatu peristiwa selama
periode pengumpulan data yang telah
ditentukan.
• Desain form sendiri disesuaikan dengan
kebutuhan data yang akan dikumpulkan tim.
Check Sheet
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat check sheet:
- Maksud pembuatan check sheet harus jelas
- Adanya stratifikasi jika diperlukan
- Check sheet harus dapat diisi dengan mudah dan cepat

Jenis-jenis data yang umum dimuat pada check sheet:


1. Data hasil pengukuran : panjang, berat, waktu, temperatur, dll.
2. Data hasil perhitungan : jumlah kerusakan, jumlah pack, dll.
3. Data dalam urutan : pertama, kedua, dst.
Check Sheet

Keuntungan menggunakan check sheet:


1. Memberikan gambaran yang jelas terhadap situasi dan kondisi
terkait organisasi ataupun permasalahan yang sedang diamati
2. Mudah untuk diaplikasikan dan dipahami
3. Efisien dan powerful untuk kepentingan identifikasi masalah
Check Sheet

Kapan check sheet digunakan?


1. Ketika permasalahan dapat diamati, dihitung, dan dikumpulkan
data-datanya.
2. Ketika mengumpulkan data mengenai frekuensi atau pola kejadian,
seperti jumlah produk cacat, lokasi cacat, penyebab cacat, dll.
3. Ketika dalam tahap proses pengumpulan data.
Tahap-tahap Membuat Check Sheet
1 Menentukan kejadian atau permasalahan apa yang akan diamati

Menentukan kapan data akan dikumpulkan dan berapa lama proses


2 perekaman data akan dilakukan

Merancang form isi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan sehingga


3 data dapat direkam dengan hanya memberikan tanda/simbol tertentu

4 Gambar check sheet


Menguji check sheet secara singkat untuk memastikan ketepatan check
5 sheet dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan, serta memastikan
apakah check sheet mudah digunakan atau tidak

Merekam data pada check sheet setiap kali ditemukan kejadian atau
6 masalah yang telah ditentukan sesuai dengan kebutuhan
Contoh Check Sheet
Stratifikasi
Stratifikasi dilakukan (jika diperlukan) pada tahapan pengelompokan data (setelah
pengumpulan data).

 Stratifikasi merupakan salah satu cara


untuk mengkategorikan atau
mengklasifikasikan persoalan menjadi
kelompok/golongan sejenis yang lebih
kecil atau menjadi unsur-unsur tunggal
dari suatu persoalan sehingga lebih
mudah dipahami dan dianalisis.
Stratifikasi

Kapan stratifikasi digunakan?


1. Setelah melakukan pengumpulan data.
2. Ketika data berasal dari karakteristik yang berbeda sehingga
analisis datanya memerlukan pengkategorian/pengklasifikasian.
Contoh Stratifikasi
Jumlah
Perusahaan
Komplain
Golden Truly 41 Golden Kelapa
Komplain Kokas Gancit Pluit Total
Truly Gading
Kokas 42 Produk cacat 34 36 32 35 32 169
Gancit 40 Jumlah pengiriman
3 3 5 3 5 19
tempe sedikit
Kelapa Gading 40
Waktu pengiriman lama 4 3 3 4 4 18
Pluit 43
Total 41 42 40 42 38 206
Total 206
GRAFIK
Grafik
Grafik merupakan data yang disajikan dalam bentuk gambar.

 Grafik sering juga disebut dengan istilah


diagram.
 Perbedaan cara penyajian data
tergantung pada tujuan dari analisis dan
preferensi dari masing-masing analis.
Grafik
Pada umumnya, terdapat 3 macam jenis/bentuk grafik, yaitu:
1. Grafik Batang, yang berfungsi untuk menggambarkan perbedaan
tingkat nilai dari data yang ada dengan menggunakan gambar
batang.
2. Grafik Garis, yang berfungsi untuk menggambarkan adanya
perkembangan /perubahan data dari waktu ke waktu.
3. Diagram Lingkaran, yang berfungsi untuk menggambarkan
persentase dari tiap aspek data yang dimiliki.
Tahap-tahap Membuat Grafik
1 Tentukan kejadian atau permasalahan apa yang akan diamati.

2 Tentukan kapan data akan dikumpulkan dan berapa lama proses


perekaman data akan dilakukan

3 Lakukan pengambilan data sesuai dengan kebutuhan

Cantumkan secara jelas penunjukan ukuran skala atau unit


4
Cantumkan penunjuk skala di dalam sumbu grafik.
5
Contoh Grafik
GRAFIK BATANG
Jumlah Produk Tempe Cacat
Jumlah produk cacat (buah)

15500 15146

15000

14500 14868
14493
14083
14000

13500

Kemasan Robek
Plastik terlalu tipis
Kedelai berjamur
Hasil cetakan tidak rata
Jenis Cacat
GRAFIK GARIS
Perbandingan Sebelum dan Sesudah Perbaikan
4000
3760 3803 3790 3793
3500

3000
Jumlah Produk Cacat

2500

2000 1920 1977


1861 BEFORE IMPROVEMENT
1697
1500 AFTER IMPROVEMENT
1000

500

0
1 2 3 4
Bulan
DIAGRAM LINGKARAN
Jenis Cacat

25,38% 25,85%

Kemasan Robek
Plastik terlalu tipis
Kedelai berjamur
Hasil cetakan tidak rata

24,74% 24,04%
DIAGRAM
FISHBONE
Diagram Fishbone
Sering juga disebut dengan diagram sebab akibat (cause and effect diagram) atau
Ishikawa diagram (karena pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada
tahun 1943).

 Pembuatan diagram fishbone pada umumnya


dikategorikan menjadi 5 faktor penyebab,
yaitu 4M+1E, yang meliputi Man (manusia),
Machine (mesin), Materials (material), Method
(metode), dan Environment (lingkungan).
Diagram Fishbone
Untuk mendapatkan root cause atau akar penyebab permasalahan pada
Diagram Fishbone, metode 5 WHY (5 MENGAPA) adalah metode yang
paling sering digunakan.

Diagram fishbone digunakan untuk:


1. Mengidentifikasi akar penyebab dari suatu permasalahan
2. Mendapatkan ide-ide yang dapat memberikan solusi untuk
pemecahan suatu masalah
3. Membantu dalam pencarian dan penyelidikan fakta lebih lanjut
Diagram Fishbone
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat diagram fishbone
antara lain:
1. Setelah suatu masalah atau situasi telah ditetapkan untuk dibahas
lebih lanjut, tanyakan “mengapa-mengapa” sampai menemukan
akar penyebab permasalahannya.
2. Jika masalah tersebut terdapat beberapa penyebab
potensialnya, maka kita harus menganalisis setiap penyebab
tersebut
Contoh 5 WHY (5 Mengapa)

Permasalahan : Kemasan tempe yang robek tinggi


• WHY Pertama : Mengapa kemasan tempe yang robek tinggi? Karena adanya kesalahan
operator packaging
• WHY Kedua : Mengapa ada kesalahan operator packaging? Karena membungkus
tempe tidak teratur
• WHY Ketiga : Mengapa membungkus tempe tidak teratur? Karena tidak memahami
SOP pembukusan
• WHY Keempat : Mengapa tidak memahami SOP pembungkusan? Karena belum ada
sosialisasi
• WHY Kelima : dst.
Tahap-tahap Pembuatan Diagram Fishbone

1 Buatlah cabang panah berbentuk seperti tulang ikan

2 Lima penyebab/faktor yang berpengaruh ditempatkan di sebelah kiri dari


diagram sebagai tulang ikannya

3 Akibat yang ditimbulkan ditempatkan di sebelah kanan dari diagram


sebagai kepala ikan
Untuk masing – masing kategori 4M+1E, gunakan metode 5 WHY Analysis
4 untuk menentukan akar – akar penyebab masalah

Brainstorming: suatu teknik atau cara untuk memperoleh pendapat peserta


diskusi secara bebas dan terbuka.
DIAGRAM PARETO
Diagram Pareto
Diagram pareto dikembangkan oleh Vilfredo Pareto, seorang Ekonom berkebangsaan
Italia pada akhir abad ke-19.

 Diagram pareto terdiri atas grafik balok dan


grafik garis yang berguna untuk menemukan
dan memprioritaskan kualitas dari suatu
masalah, kondisi, dan penyebab yang
terjadi guna mengetahui prioritas
penyelesaian dari masalah tersebut.
Diagram Pareto
Prinsip pareto: untuk seluruh penyebab kejadian, sekitar 80% penyebab
kejadian menyumbangkan seluruh efek permasalahan.

Prinsip ini dikemukakan oleh pakar manajemen bisnis Joseph M. Juran


berdasarkan hasil penelitian Vilfredo Pareto, yang mengungkapkan fakta
bahwa pada tahun 1906, sekitar 80% dari pendapatan di negara Italia
dimiliki oleh 20% jumlah populasinya.
Diagram Pareto
Pareto diagram digunakan untuk:
1. Menunjukkan masalah dan penyebab yang utama
2. Membandingkan antar penyebab yang ada
3. Membandingkan penyebab sebelum dan setelah
tindakan
4. Melihat tingkat perbaikan setelah tindakan yang
dilakukan terhadap suatu penyebab/masalah
Diagram Pareto

Kapan diagram pareto digunakan?


1. Ketika menganalisis frekuensi dari suatu masalah atau penyebab
suatu masalah

2. Ketika banyak penyebab masalah dan kita ingin fokus pada


penyebab masalah yang berpengaruh paling signifikan

3. Ketika menganalisis penyebab dengan memperhatikan komponen-


komponen yang spesifik
Tahap-tahap Pembuatan Diagram Pareto
1 Menentukan metode pengklasifikasian data, misalnya
masalah, penyebab jenis ketidaksesuaian, dan sebagainya
berdasarkan

2 Menentukan satuan yang digunakan untuk membuat urutan


karakteristik-karakteristik tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit, dan
sebagainya.

3 Mengumpulkan data sesuai dengan interval waktu yang telah ditentukan.


Apabila data tidak dapat dikumpulkan secara kuantitatif, maka dapat
menggunakan matriks kalah menang sebagai alternatif solusi yang terakhir.
4 Merangkum data dan membuat ranking kategori data tersebut dari yang
terbesar hingga terkecil

5 Menghitung frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif dari data yang


digunakan

6 Menggambar diagram batang untuk menunjukkan tingkat kepentingan


relatif masing-masing masalah, lalu menggambar diagram garis untuk
menunjukkan nilai kumulatifnya.

7 Mengidentifikasi beberapa hal yang penting sesuai dengan realitas diagram


Contoh Diagram Pareto
Pareto Penyebab Jumlah Kemasan Robek Tinggi
100,00% 100,00%

10000 90,00%
84,31%
80,00%
8000
70,00%
66,41%
Total Produk Cacat (Buah)

60,00%
6000
50,00%

40,00%
4000 35,19%
30,00%

2000 20,00%

10,00%

0 0,00%
Plastik tipis Pressing plastik tidak rapat Penyimpanan tempe ke Gudang Atap bocor
menggunakan kekuatan manual
Penyebab Masalah
Matriks Kalah Menang
Matriks kalah-menang digunakan apabila hubungan antara satu penyebab dengan
penyebab lain tidak dimuat /tidak tersedia dalam bentuk angka (numerik).
Tahap-tahap Pembuatan Matriks Kalah Menang

1 Tentukan penyebab-penyebab masalah yang akan dimuat di matriks kalah-


menang

2 Tulis semua penyebab masalah ke dalam bentuk matriks

3 Beri penilaian untuk semua penyebab masalah yang ada


Contoh: 1 = kalah
2 = seri
3 = menang
HISTOGRAM
Histogram
Disajikan dalam bentuk grafik batang/balok yang menggambarkan penyebaran
/distribusi data.

 Histogram berguna untuk memberikan


informasi mengenai variasi dalam proses dan
membantu manajemen dalam membuat
keputusan dalam upaya peningkatan proses
yang berkesinambungan (continuous process
improvement).
Macam-macam histogram:
1. Bentuk Normal (simetris/bentuk lonceng)

• Rata-rata histogram terletak di tengah range data. Frekuensi data yang paling tinggi
di tengah dan menurun secara bertahap dan simetris pada kedua sisinya.

• Bentuk normal merupakan bentuk yang paling sering dijumpai.

Total Produksi Semen Selama 40


Minggu
10
8 8
8 7 7
Frekuensi

6
4
4 3
2
2 1
0
36,75 - 43,65 - 50,55 - 57,45 - 64,35 - 71,25 - 78,15 - >85,05
43,65 50,55 57,45 64,35 71,25 78,15 85,05
Total Produksi Semen (Ton)
2. Bentuk Multimodal

• Kelas dengan urutan nomor genap mempunyai frekuensi lebih kecil/sedikit dibanding
dengan kelas disisi luarnya.

• Bentuk multimodal terjadi bila jumlah data tidak menentu pada masing-masing kelas
atau ada kecenderungan pengumpulan/pembulatan data tidak menentu pada
masing-masing kelas atau ada kecenderungan pengumpulan/pembulatan data yang
Total Produksi Semen Selama 40
kurang tepat. Minggu
12
10
10
8
8 7
Frekuensi

6
6
4 3 3
2
2 1
0
36,75 - 43,65 - 50,55 - 57,45 - 64,35 - 71,25 - 78,15 - >85,05
43,65 50,55 57,45 64,35 71,25 78,15 85,05
Total Produksi Semen (Ton)
3. Bentuk Miring Kanan/Miring Kiri

• Nilai rata-rata histogram terletak jauh di sebelah kiri dari tengah-tengah range.

• Frekuensi di sisi kanan turun sedikit demi sedikit sedangkan di sisi kiri turun secara
menyolok sehingga bentuknya tidak simetris.

• Bentuk miring kanan/miring kiri lebih disebabkan karena adanya batasan yang lebih
ketat untuk batas bawah/sisi kiri.
Total Produksi Semen Selama 40
Minggu
10
8
Frekuensi

6
4
2
0
36,75 - 43,65 - 50,55 - 57,45 - 64,35 - 71,25 - 78,15 - >85,05
43,65 50,55 57,45 64,35 71,25 78,15 85,05
Total Produksi Semen (Ton)
4. Bentuk Curam di Kanan/Curam di Kiri

• Harga rata-rata histogram terletak jauh di sebelah kiri dan tengah-tengah range dan
frekuensi di sisi kanan turun (menjadi nol) secara tiba - tiba.

• Bentuk curam di kiri/kanan lebih disebabkan karena adanya batasan yang tidak boleh
dilampaui di sisi kiri (data dibawah batas bawah tidak dipakai).
Total Produksi Semen Selama 40
Minggu
14 13
12
10
Frekuensi

8 7 7 7
6
4 2 2 2
2 0
0
41,6 - 48,4 - 55,2 - 62 62 - 68,8 68,8 - 75,6 - 82,4 - >89,2
48,4 55,2 75,6 82,4 89,2
Total Produksi Semen (Ton)
5. Bentuk Plateau

• Bentuk ini terjadi bila frekuensi di masing-masing kelas hampir sama dan hanya pada
ujung -ujungnya yang berbeda cukup banyak.

• Bentuk plateau lebih disebabkan karena adanya penggabungan beberapa kumpulan


data yang mempunyai harga rata – rata yang berdekatan.
Total Produksi Semen Selama 40
Minggu
10
8
8 7
6 6
Frekuensi

6 5 5
4
2
2 1
0
36,75 - 43,65 - 50,55 - 57,45 - 64,35 - 71,25 - 78,15 - >85,05
43,65 50,55 57,45 64,35 71,25 78,15 85,05
Total Produksi Semen (Ton)
6. Bentuk dengan Dua Puncak

• Pada bentuk ini, frekuensi di bagian tengah agak rendah dan terdapat 2 puncak di
masing – masing sisinya.

• Bentuk dengan 2 puncak dapat terjadi apabila terdapat penambahan kumpulan data
dalam jumlah kecil dengan distribusi yang berbeda.

• Bisa juga terjadi karena kesalahan pengukuran, pemasukan data dari proses atau
Total Produksi Semen Selama 40
ketidaknormalan. Minggu
12 11
10
8
8
Frekuensi

6 5
4 4
4 3 3
2
2
0
36,75 - 43,65 - 50,55 - 57,45 - 64,35 - 71,25 - 78,15 - >85,05
43,65 50,55 57,45 64,35 71,25 78,15 85,05
Total Produksi Semen (Ton)
Tahap-tahap Pembuatan Histogram

1 Kumpulkan data. Data yang untuk membuat histogram adalah data


pengukuran yang berbentuk angka (numerik)

2 Menentukan besarnya nilai range berdasarkan nilai terbesar dan nilai


terkecil dari seluruh data pengukuran yang sudah didapatkan

3 Menentukan banyaknya kelas interval

4 Menentukan lebar kelas interval, batas untuk setiap kelas interval (bawah
dan atas), dan nilai tengah untuk setiap kelas interval
5 Menentukan frekuensi dari setiap kelas interval

6 Membuat grafik histogram dengan langkah-langkah membuat garis


horizontal dengan menggunakan skala berdasarkan pada unit pengukuran
data, membuat garis vertikal dengan menggunakan skala frekuensi, lalu
menggambarkan grafik batang dengan tinggi sesuai dengan frekuensi
setiap kelas interval
Contoh Histogram
Histogram Jumlah Tempe Cacat (setelah perbaikan)
30

25

20
Frekuensi

15

10

0
26,85 - 37,15 37,15 - 47,45 47,45 - 57,75 57,75 - 68,05 68,05 - 78,35 78,35 - 88,65 88,65 - 98,95 98,95 - 109,25 >109,25
Jumlah Tempe Cacat (buah)
DIAGRAM
SCATTER
Diagram Scatter
Diagram scatter merupakan diagram yang menggambarkan hubungan/korelasi diantara
dua variabel/faktor yang ada.

 Diagram Scatter digunakan untuk mengetahui


apakah variabel-variabel yang diuji saling
berhubungan/berkorelasi atau tidak, dan
seberapa kuat hubungan antara variabel yang
diuji (jenis hubungan yang terbentuk).
Diagram Scatter
Contoh penggunaan diagram scatter:
1. Ingin mengetahui hubungan/korelasi antara kecepatan mesin
dengan kualitas produk yang dihasilkan
2. Ingin mencari tahu apakah ada hubungan antara jumlah tenaga
kerja dengan output produk yang dihasilkan
3. Ingin mencari tahu apakah ada korelasi antarajumlah jam
kerusakan mesin dengan tingkat kecacatan produk yang terjadi
4. dll.
Diagram Scatter

Kapan diagram scatter digunakan?


1. Ketika data bersifat kuantitatif (data berupa angka/numerik)
2. Ketika ingin menentukan apakah dua variabel yang diuji saling
berhubungan atau tidak
3. Ketika variabel dependen memiliki beberapa jenis variabel
independen, sehingga ingin mengetahui variabel mana yang
berhubungan
Diagram Scatter

- Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang


dipengaruhi oleh variabel independen  dalam konteks
WinCircle, dependen adalah akibat.
- Variabel independen (bebas) adalah variabel yang menjadi
penyebab berubahnya nilai dari variabel dependen 
dalam konteks WinCircle, independen adalah penyebab.
Tahap-tahap Pembuatan Diagram Scatter

1 Tentukan variabel dependen dan variabel independen, serta muat


keduanya ke dalam bentuk grafik
 Variabel Dependen = digambar pada sumbu X (horizontal)
 Variabel Independen = digambar pada sumbu Y (vertikal)
2 Lakukan plotting data/penyebaran data ke dalam grafik yang berisi sumbu
X dan Y yang sudah dibuat sebelumnya

Perhatikan pola titik untuk melihat apakah kedua variabel berhubungan


3 atau tidak

4 Untuk melihat persebaran data dari kedua variabel, dapat menghitung nilai
r, r2, dan %.
Apabila terdapat korelasi antara dua variabel yang diuji, maka perlu dilakukan
pengujian untuk mengetahui seberapa kuat korelasi yang terbentuk. Seberapa
kuat korelasi yang terbentuk tersebut dapat direpresentasikan dengan nilai r.
1. Jika nilai r mendekati (+1), maka artinya bahwa korelasi yang terbentuk memiliki
kekuatan yang positif.

2. Jika nilai r mendekati (-1), maka artinya bahwa korelasi yang terbentuk memiliki
kekuatan yang negatif.

3. Jika nilai r mendekati 0, maka artinya bahwa korelasi yang terbentuk lemah.
Perhitungan lain pada diagram scatter:
• Nilai r2 digunakan untuk menghitung seberapa besar variansi dari variabel
independen mempengaruhi variansi variabel dependen.
• % merepresentasikan seberapa besar pengaruh variansi dari variabel independen
terhadap variabel dependen.
r=(+1) r=(-1) r=0
r2=1

Hubungan x dan y kuat dan sempurna. Artinya 100 % variansi di y dipengaruhi oleh variansi di x.
0<r2<1

Hubungan x dan y lemah. Artinya, tidak semua variansi di y dipengaruhi oleh variansi di x.
r2=0

Tidak ada hubungan (korelasi) antara x dan y. Artinya nilai y tidak dipengaruhi oleh nilai x.
Contoh Diagram Scatter
Korelasi Jumlah Kemasan Robek dengan Plastik Tipis
3810
3805
Jumlah Kemasan Robek (Buah)

3800
3795
3790
3785
3780
3775
3770
3765
3760
3755
600 700 800 900 1000 1100 1200
Plastik Tipis (Buah)
CONTROL CHART
Control Chart
Control chart merupakan grafik yang digunakan untuk mempelajari adanya perubahan
pada suatu proses terhadap waktu.

 Pertama kali dipopulerkan oleh Walter


A. Shewhart pada tahun 1920.
 Disajikan dalam bentuk grafik garis,
ada batas minimum dan maksimum
(batas pengendalian / control limit).
Control Chart
Fungsi utama control chart adalah mencegah adanya defect pada proses
yang berjalan.

Control chart dapat menggambarkan dan menjelaskan apa yang


sebenarnya terjadi pada proses, karena dapat melihat dan memonitor
proses apakah statistical in control atau tidak (sampling berada diantara
UCL dan LCL atau tidak). Kalau tidak, artinya proses tersebut out of
control sehingga harus dicari penyebabnya.
Control Chart
Inti dari pembuatan control chart:
1. Control chart harus memiliki Garis Batas Atas (GBA) atau Upper
Control Limit (UCL), Garis Batas Tengah (GBT) atau Control Limit
(CL), dan Garis Batas Bawah (GBB) atau Lower Control Limit (LCL).
2. Nilai sampling yang telah terploting dan berada di antara kedua
garis kontrol (GBA atau GBB) menunjukkan bahwa proses tersebut
berada dalam kontrol (statistical in control), sehingga tidak perlu
melakukan tindakan perbaikan.
Control Chart
3. Nilai sampling yang telah terploting dan berada di luar garis
kontrol (baik GBA atau GBB)) menunjukkan bahwa proses tersebut
berada di luar kontrol (out of control) dan perlu tindakan
perbaikan.
Tahap-Tahap Pembuatan Control Chart
1 Tentukan proses apa yang akan diamati sehingga bisa diambil datanya

2 Tentukan waktu atau periode pengambilan data, sampling plan, dan jumlah
data yang dibutuhkan.

3 Lakukan pengumpulan data, semakin banyak data yang direkam semakin


akurat hasil yang akan didapatkan.

4 Masukkan data ke dalam tabel yang sudah disiapkan sebelumnya.


Lakukan perhitungan statistik yang dibutuhkan
5 a. Hitung nilai rata-rata, range, dan rata-rata total.
b. Hitung batas-batas pengendalian. Batas pengendalian terdiri dari
Garis Batas Atas (GBA), Garis Batas Tengah (GBT), dan Garis
Batas Bawah (GBB)

6 Ujilah chart yang telah dimasukkan data tersebut

7 Lakukanlah penyelidikan dan tindakan perbaikan jika diperlukan


 Rumus mencari range

𝑅1 + 𝑅2 + 𝑅3 + ⋯ . 𝑅𝑛
𝑅ത =
𝑛
 Rumus mencari rata – rata

𝑋1 + 𝑋2 + 𝑋3 + ⋯ . 𝑋𝑛
𝑋ത =
𝑛
 Rumus mencari rata – rata total

𝑥1 + 𝑥2 + 𝑥3 + ⋯ . + 𝑥𝑛
𝑋ധ =
𝑛
Rumus 𝑋ധ 𝑅ത

Garis Batas Atas 𝑥Ӗ + 𝐴2𝑅ത 𝐷4𝑅ത

Garis Batas Tengah 𝑥Ӗ 𝑅ത

Garis Batas Bawah 𝑥Ӗ − 𝐴2𝑅ത 𝐷3𝑅


Contoh Control Chart
Control Chart Jumlah Tempe Cacat
120

100
Jumlah Tempe Cacat (buah)

80

GBA
60
GBT
GBB
X
40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
Hari
Thanks!
Any questions?

Anda mungkin juga menyukai