0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan52 halaman

Rencana Kontinjensi Banjir Kudus 2023-2025

Rencana kontinjensi banjir Kabupaten Kudus 2023-2025 memberikan kerangka kerja untuk menangani bencana banjir di Kabupaten Kudus. Dokumen ini menetapkan skenario dan strategi untuk mengkoordinasikan sumber daya dalam menangani darurat banjir secara efektif. Ruang lingkupnya meliputi seluruh wilayah Kabupaten Kudus yang terdiri atas 9 kecamatan.

Diunggah oleh

Noor Khamid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan52 halaman

Rencana Kontinjensi Banjir Kudus 2023-2025

Rencana kontinjensi banjir Kabupaten Kudus 2023-2025 memberikan kerangka kerja untuk menangani bencana banjir di Kabupaten Kudus. Dokumen ini menetapkan skenario dan strategi untuk mengkoordinasikan sumber daya dalam menangani darurat banjir secara efektif. Ruang lingkupnya meliputi seluruh wilayah Kabupaten Kudus yang terdiri atas 9 kecamatan.

Diunggah oleh

Noor Khamid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAMPIRAN

PERATURAN BUPATI KUDUS


NOMOR 65 TAHUN 2023
TENTANG RENCANA KONTINJENSI
BANJIR KABUPATEN KUDUS
TAHUN 2023-2025

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rencana kontinjensi bertujuan untuk memastikan kesiapan


para pemangku kepentingan dalam merespon dengan benar keadaan
darurat serta potensi dampak yang dapat ditimbulkan akibat bencana.
Sebagai suatu rencana yang terintegrasi, rencana kontinjensi disusun
dengan menetapkan skenario kejadian dan skenario dampak bencana
sesuai kesepakatan, sebagai komitmen bersama dalam menghadapi
kedaruratan. Rencana kontinjensi yang dibuat kali ini berfokus pada
bencana banjir di Kabupaten Kudus.
Kabupaten Kudus merupakan salah satu kabupaten dari 35
kabupaten di Jawa Tengah. Kabupaten Kudus memiliki luas wilayah
425,157 km². Secara umum kondisi topografi Kabupaten Kudus
terdiri atas dataran rendah dan dataran tinggi. Wilayah terendah
Kabupaten Kudus terletak pada ketinggian 50 mdpl berada di wilayah
Kecamatan Undaan. Sedangkan wilayah tertinggi berada di wilayah
Kecamatan Dawe yang berupa dataran tinggi dengan ketinggian 500
mdpl. Kabupaten Kudus terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara
astronomis, Kabupaten Kudus Terletak diantara 6° 51’ - 7° 16’ Lintang
Selatan dan antara 110° 36 - 110° 50’ Bujur Timur. Secara
Administrasi Kabupaten Kudus sebelah utara berbatasan dengan
Kabupaten Jepara, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati,
sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan
Kabupaten Pati, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten
Demak. Selain itu, total jumlah kecamatan di Kabupaten Kudus
terbagi menjadi 9 Kecamatan yang terdiri dari 123 desa, 9 Kelurahan
.Sembilan Kecamatan di Kabupaten Kudus yaitu Kecamatan Kota
Kudus, Kecamatan Bae, Kecamatan Jekulo, Kecamatan Dawe,
Kecamatan Gebog, Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Jati,
Kecamatan Mejobo dan Kecamatan Undaan. Gambaran administratif
Kabupaten Kudus dapat dilihat pada Gambar 1.1.

2
Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Kudus

3
Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI,
BNPB), Kabupaten Kudus rawan terjadi bencana banjir. Berdasarkan
data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, jumlah
penduduk Kabupaten Kudus sebesar 849.184 jiwa dengan kepadatan
penduduk sebesar 1.997 jiwa/km2. Kepadatan penduduk yang besar
memberikan pengaruh untuk kejadian bencana. Pengaruh tersebut
disebabkan karena jumlah pertumbuhan penduduk memberikan
pengaruh pada padatnya jumlah rumah ataupun bangunan sehingga
mengakibatkan kurangnya ketersediaan terhadap lahan. Rumah
ataupun bangunan yang berhimpitan berdampak pada kurangnya
resapan air tanah. Selain itu taman yang merupakan paru-paru kota
sekaligus daerah resapan air menjadi semakin berkurang. Kondisi ini
memberikan pengaruh terhadap potensi bahaya [Link] itu
banjir di kabupaten kudus juga disebabkan akibat curah hujan yang
tinggi dengan intensitas hujan yang lama sehingga menyebabkan
kenaikan debit air sungai yang ada di Kabupaten Kudus .Berikut
merupakan Peta Sebaran Sungai di Kabupaten Kudus ( DAS
Jratunseluna) yang dapat dilihat pada Gambar 1.2.

4
Gambar 1.2 Peta Sebaran Sungai DAS Jratunseluna Kabupaten Kudus (BBWS
Jratunseluna)

5
1.2 Landasan Hukum
1. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4723);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang


Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42 Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4828);
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 101
Tahun 2018 Tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar Pada
Standar Pelayanan Minimal Sub- Urusan Bencana Daerah
Kabupaten/Kota;
5. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan RPB;
6. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 03 Tahun 2016 Tentang Sistem Komando Penanganan
Darurat Bencana;
7. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Peran Serta Masyarakat Dalam
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana;
8. Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 5 Tahun 2020
tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Kabupaten

6
Kudus (Lembaran Daerah Kabupaten Kudus Tahun 2020 Nomor
5, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kudus 225);

1.3 Maksud dan Tujuan


a. Maksud
Maksud dari penyusunan dokumen rencana kontinjensi bencana
banjir Kabupaten Kudus yaitu sebagai acuan/pedoman oleh pemangku
kebijakan dalam penyiapan strategi operasi penanganan kondisi darurat
banjir di Kabupaten Kudus.
b. Tujuan
Tujuan dari penyusunan dokumen rencana kontinjensi bencana
banjir Kabupaten Kudus adalah ;

1. Tersusunnya skenario, kebijakan dan tindakan teknis serta


manjerial yang disepakati semua pihak terlibat dan stakeholder di
Kabupaten Kudus untuk menanggulangi bencana banjir secara
lebih baik dalam situasi darurat atau kritis.

2. Membuat pedoman untuk guna mengkoordinir sumberdaya


manusia serta sarana prasarana ketika terjadi tanggap darurat
banjir sehingga penanganan darurat banjir baik dalam proses
penyelamatan dan evakuasi, pemenuhan kebutuhan, hingga
penanganan selanjutnya dapat dilaksanakan secara efektif,
efisien dan terkoordinasi dengan baik.

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingkup wilayah dalam penyusunan dokumen rencana
kontinjensi banjir ini yaitu Kabupaten Kudus yang terdiri dari 9
kecamatan .Kajian ini meliputi kajian resiko bencana banjir yang
dilakukan untuk menilai bahaya, kapasitas,dan kerentanan
Kabupaten Kudus dalam menghadapi bencana yang [Link] itu
Kajian ini juga membahas mengenai skenario dan strategi kebijakan
pemerintah Kabupaten Kudus dalam menghadapi bencana banjir.

7
1.5 Kebijakan dan Strategi
a. Kebijakan
Kebijakan dan strategi dalam penanganan darurat
merupakan arahan dan/acuan bagi pihak terkait sesuai dengan
tugas dan fungsi serta Struktur Komando Penanganan Darurat
dalam melaksanakan tugas pokok dan operasinya. Rincian
Kebijakan tersebut diantaranya yaitu ;

1. Perangkat Daerah yang terlibat dalam penanganan bencana


banjir di Kabupaten Kudus bertanggungjawab dan berwenang
dalam koordinasi pelaksanaan penanggulangan kedaruratan
bencana di wilayahnya;
2. Pemerintah Kabupaten Kudus memberikan perlindungan
kepada setiap masyarakat terdampak;
3. Pemerintah Kabupaten melaksanakan penanggulangan
kedaruratan bencana setelah Bupati menyatakan kabupaten
dalam status keadaan darurat bencana;
4. Memprioritaskan pencarian dan pertolongan untuk
penyelamatan jiwa masyarakat terdampak, perbaikan fungsi
sarana prasarana vital dan pemulihan fungsi layanan umum;

5. Optimalisasi pos anggaran Dana Tak Terduga/Belanja Tak


Terduga (BTT) dalam APBD tahun berjalan untuk
penanggulangan kedaruratan bencana;
6. Pemerintah Kabupaten Kudus mengajukan pendampingan dan
fasilitas Dana Siap Pakai kepada pemerintah pusat melalui
BNPB hanya ketika dibutuhkan dan untuk pemenuhan
kebutuhan sumberdaya serta untuk efektifitas penanggulangan
kedaruratan;
7. Membuka jejaring bantuan dari masyarakat, organisasi
masyarakat, dunia usaha, bantuan luar negeri dan bantuan
lain yang tidak mengikat;
8. Melibatkan masyarakat, relawan, dan pemberi bantuan dalam
penanggulangan kedaruratan;
8
9. Melakukan sosialisasi dan pendampingan pemenuhan
kebutuhan masyarakat pasca bencana;
10. Biaya pelayanan kesehatan terdampak bencana tidak dipungut biaya;
11. Mengevaluasi penanggulangan bencana secara periodik.

b. Strategi
Strategi penanggulangan bencana merupakan upaya guna
mencapai kebijakan yang telah ditentukan. Strategi dalam
merealisasikan kebijakan penanggulangan tersebut yaitu:

1. Pengerahan personil pencarian dan pertolongan yang terlatih,


sarana pencarian dan evakuasi yang mencukupi, dan pelibatan
masyarakat relawan dan pemberi bantuan dalam pencarian dan
pertolongan;

2. Pemanfaatan semua fasilitas umum yang aman milik


pemerintah ataupun milik masyarakat sebagai tempat evakuasi
dan penampungan sementara dengan memerhatikan
kebutuhan kelompok rentan;

3. Pengerahan cadangan logistik Kabupaten dan Bulog untuk


pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana
dan menjamin pelayanan logistik dengan memberdayakan
sumber daya provinsi maupun kabupaten disekitar kabupaten
yang terdampak langsung;

4. Optimalisasi akses informasi satu data penanggulangan


bencana termasuk penyediaan data terpilah gender;

5. Perbaikan sarana prasarana vital serta pemulihan fungsi


layanan umum terkait kebutuhan dasar masyarakat tetap
berfungsi termasuk didalamnya pelayanan kesehatan,
pendidikan dan administrasi kependudukan dengan
mendirikan pos- pos layanan;

6. Mendirikan pos pendamping dan pos bantuan;

7. Memberikan laporan perkembangan secara periodik;


9
8. Mengkoordinir penanganan korban hilang dengan melakukan
dengan melakukan pelayanan pencarian dan peyelamatan
dengan aktivitas;

9. Mengkoordinir pemulihan fungsi sarana dan prasarana umum yang


vital;

10. Pembebasan biaya pelayanan kesehatan bagi korban bencana.

11. Pengerahan sarana angkutan Udara yang diperlukan untuk


operasi penyelamatan di daerah terpencil dan terisolasi;

1.6 Umpan Balik


Memastikan rencana kontinjensi sesuai dengan situasi dan
kondisi yang terbaru, maka diperlukan masukan terkait data,
sehingga perlu dilakukan dengan lokakarya atau rapat konsultasi.
Inisiatif review dan pemutakhiran perencanaan kontinjensi dapat
dikoordinasikan melalui BPBD Provonsi Jawa Tengah.

1.7 Masa Berlaku


Dokumen rencana kontinjensi Banjir Kabupaten Kudus
berlaku selama 2 tahun. Pemutakhiran dokumen ini dilakukan agar
rencana kontinjensi sesuai dengan situasi terbaru seperti halnya
perubahan luasan terdampak banjir, perubahan besaran dan bentuk
jenis kerentanan, perubahan kapasitas atau kemampuan sumber
daya maka diperlukan kaji ulang atau review guna memperbaharui
isi dokumen sesuai dengan kebutuhan

1.8 Konversi Rencana Kontinjensi menjadi Rencana Operasi


Rencana kontinjensi banjir Kabupaten Kudus menjadi dasar
dalam penyusunan Rencana Operasi (RenOps) penanganan
kedaruratan bencana banjir. Aktivasi rencana kontinjensi dilakukan
setelah dilakukan analisis dan mendapat data hasil kaji cepat
bencana di lapangan.

10
BAB II
SITUASI

2.1 Karakteristik Bahaya Bencana (Ancaman)

Berdasarkan sumber dari BNPB Kabupaten Kudus pada Tahun


2019 Terjadi Bencana Banjir di Kabupaten Kudus meliputi wilayah
Kecamatan Mejobo, Kecamatan Jati dan Kecamatan
[Link] dari kejadian banjir tersebut mengakibatkan 1
orang meninggal dunia dan 80 Kepala Keluarga atau 254 Jiwa
Mengungsi. BPBD Kabupaten Kudus melaporkan beberapa kejadian
banjir yang terjadi di Kabupaten Kudus. Pada 21 Januari Tahun 2020
melaporkan kejadian Banjir yang terjadi di Desa Loram Kulon,
Kecamatan Jati yang terjadi akibat meluapnya air sungai Gondang.
Ketinggian banjir sekitar 10-20 cm dan 49 Jiwa terdampak akibat
banjir memasuki kawasan permukiman warga. Pada 3 Februari Tahun
2021 juga terjadi bencana banjir yang terjadi di 3 kecamatan yaitu
Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Jati, dan Kecamatan Mejobo. Banjir
terssebut disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya akibat
meluapnya Sungai Piji, Sungai Dawe,Sungai Jratun, dan Sungai
Bakinah. Ketinggian banjir tersebut relatif dari 15 cm-1 meter dan ada
lebih 4.410 Keluarga terdampak banjir dari 16 desa di 3 kecamatan
yaitu Kecamatan Kaliwungu,Kecamatan Jati,dan Kecamatan Mejobo.
Sebaran Lokasi Kejadian Bencana Banjir tersebut dapat dilihat Pada
Gambar 2.1.

11
Gambar 2.1 Peta Sebaran Banjir Kabupaten Kudus Tahun 2019 (BNPB,Tahun
2019)

Banjir menjadi bencana alam yang sering terjadi di Kabupaten


Kudus dan menjadi salah satu bencana prioritas dalam
penanggulangannya. Seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten
Kudus berpotensi terjadi bencana banjir dengan kelas yang berbeda-
beda seperti rendah, sedang, dan ada juga yang tinggi. Besarnya luas
bahaya banjir di Kabupaten Kudus dipengaruhi oleh kondisi wilayah
yang rentan dilihat dari parameter kajian terutama topografi dan
sungai. Letak bahaya banjir di Kabupaten Kudus berada pada daerah-
daerah bertopografi datar dan dilalui oleh beberapa sungai besar. Dilihat
dari Kajian Resiko Bencana Kabupaten Kudus secara keseluruhan
bencana banjir memiliki potensi luas bahaya di Kabupaten Kudus
dengan total 31.957 Ha yang berada pada Kelas [Link] di
Kabupaten Kudus yang memiliki Potensi Luas bahaya bencana banjir
pada kelas tinggi meliputi Kecamatan Undaan dan Kecamatan Mejobo.
12
Potensi Luas Bahaya Bencana Banjir Kabupate Kudus dapat dilihat
pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Potensi Luas Bahaya Bencana Banjir Kabupaten Kudus

BAHAYA
KECAMATAN JENIS LUAS BAHAYA (HA) TOTAL KELAS
BAHAYA LUAS
RENDAH SEDANG TINGGI

KALIWUNGU BANJIR 485 2.250 445 3.203 SEDANG


KOTA KUDUS BANJIR 230 715 192 1.105 SEDANG
JATI BANJIR 170 2.581 136 2.927 SEDANG
UNDAAN BANJIR 25 4.221 2,924 7.049 TINGGI
MEJOBO BANJIR 416 2.450 845 3.761 TINGGI
JEKULO BANJIR 2.430 3.242 570 6.269 SEDANG
BAE BANJIR 2.023 350 2 2.372 SEDANG
GEBOG BANJIR 2.238 468 5 2.741 SEDANG
DAWE BANJIR 2.502 5 - 2.530 RENDAH
KABUPATEN KUDUS 31.957 SEDANG

Banjir yang terjadi di Kabupaten Kudus ada yang berupa banjir


bandang. Banjir bandang (Banjir bandang adalah banjir yang datang
secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan
terbendungnya aliran sungai pada alur sungai) di Kabupaten Kudus
terjadi di Kecamatan Undaan tepatnya Desa Wonosoco yang terjadi 4
tahun berturut-turut di Tahun 2018, 2019,2020 dan 2021. Bencana
banjir bandang tersebut disebabkan oleh derasnya intensitas hujan di
daerah pegunungan kendeng sehingga sungai di Sendang Dewot
meluap dan membawa berbagai macam material seperti lumpur, batu
kerikil serta sampah dari gunung. Besarnya luas bahaya bencana
banjir bandang dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang rentan dilihat
dari parameter kajian yaitu pada wilayah yang hulu sungainya rentan
longsor dan topografi curam. Peta bahaya banjir Kabupaten Kudus
dapat dilihat pada gambar 2.1.

13
Gambar 2.2 Peta Bahaya Bencana Banjir Kabupaten Kudus

14
2.2 Skenario Kejadian
Sesuai kaidah rencana kontinjensi, yaitu untuk kebutuhan
antisipasi kondisi penanganan darurat bencana maka disusun skenario
kejadian bencana maupun skenario dampak bencana. Tujuannya
sebagai pedoman penanganan darurat bencana banjir Kabupaten
Kudus, agar dapat terlaksana dengan cepat, tepat, terkoordinasi dan
menyeluruh, serta sebagai dasar memobilisasi sumber daya para
pemangku kepentingan pada saat penanganan darurat bencana.
Berdasarkan peta wilayah, dapat diidentifikasi masyarakat dan
daerah/lokasi yang terancam bencana (daerah rawan bahaya/bencana)
sehingga dapat diperkirakan luas/besarnya dampak bencana yang
mungkin terjadi. Tingkat ancaman yang terjadi akibat tingginya curah
hujan dapat berupa ancaman ringan, sedang dan berat dengan
perkiraan jumlah penduduk terancam sebanyak 71.760 jiwa. Sebaran
Potensi Jumlah Penduduk Terancam bencana Banjir di Kabupaten
Kudus dapat dilihat pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Potensi Jumlah Penduduk Terancam Bahaya Banjir


Kabupaten Kudus (Kajian Resiko Bencana Kabupaten Kudus)

KELAS
NO KECAMATAN PENDUDUK
TERDAMPAK

1 KALIWUNGU 7.945 TINGGI


2 KOTA KUDUS 3.603 TINGGI
3 JATI 8.374 TINGGI
4 UNDAAN 5.909 TINGGI
5 MEJOBO 7.953 TINGGI
6 JEKULO 10.317 TINGGI
7 BAE 9.109 TINGGI
8 GEBOG 10.576 TINGGI
9 DAWE 7.974 TINGGI
KABUPATEN KUDUS 71.760

Pengembangan skenario ini akan terkait erat dengan prosedur


yang akan dilakukan oleh petugas ataupun masyarakat pada saat
situasi darurat bencana. Pada ancaman bencana tertentu bisa
15
diuraikan tentang peringatan yang akan dikeluarkan pemerintah
Kabupaten Kudus sesuai dengan skala ancaman bencana. Skenario
kejadian yang dipilih selanjutnya dikembangkan berdasarkan
kesepakatan bersama. Dapat berupa skenario terburuk (worst case
scenario) atau skenario yang paling mungkin terjadi (most probable
scenario).
Dalam pengembangan skenario perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Waktu kejadian, contohnya, kejadian banjir di pagi hari atau di
malam hari akan menimbulkan banyak korban karena sebagian
besar penduduk beraktivitas di dalam gedung/rumah
2) Intensitas bencana, kekuatan bencana misalnya banjir dengan
ketinggian air dalam meter
3) Durasi kejadian bencana yang dihitung atas dasar:
• Lamanya kejadian bencana, misalnya banjir yang terjadi dalam waktu 4
hari
• Berulangnya kejadian bencana, misalnya terjadi banjir beberapa
kali dalam satu periode sesudah surut
4) Lokasi ancaman
5) Luasan wilayah terdampak
6) Potensi bencana ikutan (collateral)

Tabel 2.3 Skenario dan Asumsi Dampak Bencana Banjir Kabupaten


Kudus
Waktu Pertengahan Februari terjadi hujan lebat pukul 02.00
Kejadian WIB. BBWS Dan BMKG memberikan peringatan dini
kepada Posko Banjir BBWS, Dinas PU dan BPBD

Lokasi Kabupaten Kudus

Pemicu Meluapnya sungai Sendang Dewot dan anak-anak


sungainya dikarenakan curah hujan yang tinggi dengan
ketinggian air genangan antara 50-300 cm.

16
Bahaya Air yang menggenang menyebabkan gangguan atas
Primer fasilitas umum, lumpuhnya pelayanan umum, kegiatan
ekonomi, melumpuhkan transportasi dan dampak
psikologis, Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah
terganggu, kekurangan sarana air bersih, munculnya
masalah kesehatan masyarakat, dan pelayanan
puskesmas tidak berjalan dengan baik.
Peringatan 1. Status Hijau :
BBWS dan BMKG melakukan pengamatan setiap 2
Dini
jam dan pelaporan setiap 6 jam. Petugas melaporkan
ke Posko Banjir BBWS (Perlu ditambahkan ancaman
sistem hulu hilir)
2. Status Siaga Kuning:
BBWS dan BMKG melakukan pengamatan setiap 1
jam dan pelaporan setiap 3 jam , BBWS melaporkan
pada Posko Banjir BBWS dan menginformasikan ke
BPBD Kabupaten Kudus
3. Status Siaga Merah
BBWS dan BMKG melakukan pengamatan setiap
saat dan melakukan pelaporan setiap 15 menit.
Satgas BBWS wilayah melakukan peninjauan dan
berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Kudus
Cakupan Kecamatan Undaan
Wilayah
Terdampak

Bahaya Wabah atau sumber penyakit dari genangan dan


Sekunder pembusukan bahan organik.

Bahaya COVID-19
Pendamping

2.3 Asumsi Dampak

A. Aspek Kependukan

Asumsi wilayah terdampak di Kecamatan Undaan dengan


jumlah jiwa sebesar 5.909 Jiwa (KRB Resiko Penduduk
Terpapar Kabupaten Kudus) dengan rincian sebagai berikut:

17
Tabel 2.4 Asumsi Dampak Aspek Kependudukan Kabupaten
Kudus Tahun 2018- 2022
No. Kecamatan Penduduk Luka-Luka Mening- Hilang Mengung-
Terdampak Ringan Berat gal si
UNDAAN 5.909 0 0 1 0 254 Jiwa
1

B. Aspek Fisik/Infrastruktur

Berdasarkan skenario banjir Kabupaten Kudus dengan


bahaya primer berupa genangan air memberikan dampak
pada sarpras listrik, air, sarpras transportasi, sarpras
komunikasi, sarpras kesehatan, fasilitas umum, dan rumah
penduduk

Tabel 2.5 Asumsi Dampak Aspek Fisik Kecamatan Undaan Kabupaten


Kudus
Ringan Berat
No. Jenis Terancam (%)
(%) (%)
1 Jaringan listrik 10 8 2
2 Air (sumur, sumber air 20 20
lain)
3 Prasarana transportasi
- Jalan 5 5
- Jembatan 5 5
- Bandara
- Pelabuhan
- Terminal
4 Sarana komunikasi
- BTS
- Jaringan telepon,
dll
5 Rumah sakit
6 Puskesmas
7 Sekolah 2 2
8 Kantor pemerintahan 2 2
9 Pasar 5 5
10 SPBU
11 Tempat Ibadah 10 10
12 Rumah 15 10 5

18
C. Aspek Ekonomi

Tabel 2.6 Asumsi Dampak Aspek Ekonomi Kabupaten Kudus

Tingkat Kerusakan
No. Jenis Ringan (%) Berat (%)
1 Pasar tradisional
2 Warung 10
3 Lahan sawah 15
4 Tegalan/Kebun 5
5 Ternak 10
6 - Ternak besar 5
7 - Unggas 5
8 Industri
9 Tempat wisata 10

D. Aspek Lingkungan

Tabel 2.7 Asumsi Dampak Aspek Lingkungan Kabupaten Kudus

Tingkat Kerusakan
No. Jenis Ringan (%) Berat (%)
1 Pencemaran air 20
2 Pencemaran udara
3 Pencemaran tanah
4 Lahan sawah 15
5 Ladang/Kebun

E. Aspek Layanan Publik/Pemerintahan

Tabel 2.8 Asumsi Dampak Aspek Layanan Publik/Pemerintahan Kabupaten


Kudus

Kantor Pemerintah Tingkat Kerusakan


No. Terdampak Ringan% Berat%
1 Kantor Kecamatan Undaan 2
Kantor Desa di Kecamatan 5
Undaan

19
BAB III

TUGAS POKOK DAN FUNGSI POKOK ORGANISASI KOMANDO


PENANGGULANGAN DARURAT BENCANA

3.1 Tugas Pokok


Organisasi (Komando) Penanganan Darurat Bencana Banjir
Kabupaten Kudus bertugas merencanakan dan melaksanakan operasi
pendukungan dan pendampingan Sistem Komando Penanganan Darurat
Bencana (SKPDB) Kabupaten Kudus dalam melaksanakan tugas
[Link] Kabupaten Kudus menjalankan fungsi
pendukungan dan pendampingan penanganan darurat sejak penetapan
status darurat bencana (Tanggap Darurat - Transisi Darurat ke
pemulihan) selama 30 hari atau dapat lebih singkat atau diperpanjang
sesuai dengan kondisi yang ada, dengan memprioritaskan efektivitas
dan keterpaduan kebijakan dan strategi penanganan, pengendalian,
koordinasi, penguatan kapasitas, dan mobilisasi sumberdaya sesuai
dengan asas dan prinsip penanggulangan kedaruratan bencana serta
meminimalisir dampak dan kerugian ekonomi akibat bencana.

3.2 Fungsi dan Kegiatan Pokok


Dalam menjalankan tugas pokok pendukung dan pendampingan
kepada SKPDB Kabupaten Kudus dalam penanganan darurat bencana
banjir, Pemerintah Kabupaten Kudus membentuk Satuan Komando
sebagai sebuah sistem dengan bidang-bidang/fungsi-fungsi spesifik. 5
bidang fungsi pokok diantaranya adalah (a) komando, kendali,
koordinasi, komunikasi dan informasi; (b) perencanaan; (c) operasi; (d)
logistik; (e) administrasi dan keuangan. Penjabaran fungsi masing
masing bidang operasi pendukungan dan pendampingan penanganan
darurat bencana adalah sebagai berikut:
1) Bidang Pengendali, Koordinasi, Komunikasi, dan Informasi
a. Memastikan adanya kesatuan komando, terarah, terpadu,

20
terukur dan terbangun interoperabilitas antar pihak terkait
operasi penanganan darurat bencana banjir
b. Memastikan terbangunnya pola koordinasi dan rentang kendali
multi-pihak yang terlibat dalam operasi penanganan darurat
bencana banjir
c. Memastikan terbangunnya pola komunikasi dan informasi yang
terpadu.

2) Bidang Perencanaan
Mendukung mekanisme dan proses perencanaan
penanggulangan darurat bencana Banjir secara terpadu serta
memastikan komando dan komunlkasl terkait operasi pelaksanaan
darurat bencana.
3) Bidang Operasi
Mendukung pelaksanaan dan sasaran pencapaian operasi
penanganan darurat bencana yang secara terpadu secepat mungkin
dan tepat.
4) Bidang Logistik
Menyediakan dan memastikan dukungan logistik (fasilitas,
peralatan, sumber daya, sarana, transportasi, layanan medis, dsb)
yang diperlukan untuk penanggulangan bencana sesuai yang
dibutuhkan.
5) Bidang Administrasi dan Keuangan
a. Memonitor biaya terkait penanganan darurat bencana dan
memberikan petunjuk terkait keuangan secara keseluruhan
dalam operasi pendukungan dan pendampingan penanganan
darurat bencana.
b. Memfasilitasi mekanisme pendukungan dan penerimaan bantuan
Pemerintah Pusat dan bantuan luar negeri sesuai peraturan yang
ada.

21
3.3 Sasaran

1. Tersusunnya rencana operasi penanganan darurat bencana banjir


dalam waktu +/- 24 jam;

2. Terselenggaranya koordinasi yang melibatkan 5 unsur pentahelix


dan 9 kecamatan terdampak;

3. Terlaksananya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak


dengan menjalankan fungsi SKPDB

4. Terlaksananya pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak


dengan setidaknya 80% sumberdaya dan anggarannya bersumber
dari DSP dan BTT Terlaksananya pengerahan sumberdaya dari
masing-masing OPD Kabupaten Kudus yang telah berkomitmen
dalam operasi penanganan darurat bencana;
5. Terlaksananya pengerahan sumberdaya dari masing-masing OPD
Kabupaten Kudus yang telah berkomitmen dalam operasi
penanganan darurat bencana;
6. Terlaksananya 100% evakuasi masyarakat terdampak atau korban
sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19;
7. Terselenggaranya pemulihan fasilitas publik sementara (rehabilitasi)
sarana prasarana vital meliputi listrik, air, dan jaringan komunikasi;
8. Terlaksananya operasi penanganan darurat bencana sesuai dengan
tanggung jawab masing-masing dan bertanggung gugat penuh.

22
BAB IV
PELAKSANAAN

4.1 Konsep Operasi dan Tindakan


Organisasi Komando Penanganan Darurat Bencana Banjir di
Kabupaten Kudus melaksanakan operasi pendukungan,
pendampingan, dan penguatan kepada SKPDB (Sistem Komando
Penanganan Darurat Bencana) Kabupaten Kudus, dalam
melaksanakan operasi pencarian, pertolongan, penyelamatan dan
pemenuhan dasar warga terdampak bencana banjir di wilayah
Kabupaten Kudus dengan pengerahan sumberdaya personil,
peralatan, logistik, dan anggaran, serta memfasilitasi bantuan para
pihak di tingkat nasional maupun internasional.
Operasi pendukungan dan pendampingan dilaksanakan
dalam 2 (dua) tahap/fase, yaitu fase tanggap darurat bencana dan
fase transisi menuju pemulihan darurat bencana.

Tabel 4.1 Konsep Operasi Penanganan Darurat Bencana Banjir


Kabupaten Kudus
Fase ● Mobilisasi sumberdaya: personil, peralatan,
Tanggap logistik, untuk pendukungan
Darurat ● Aktivasi satuan tugas penanganan darurat bencana
banjir tingkat kabupaten
● Pembentukan Pos Lapangan
● Mendorong aktivasi Satuan Komando Penanganan
Darurat Bencana Banjir di Kabupaten Kudus
● Mendorong aktivasi dan pembentukan Pos Komando
(Posko) Penanganan Darurat Bencana Banjir di
Kabupaten Kudus
● Mendukung operasi pencarian, penyelamatan, evakuasi
korban dan harta benda.
● Mendukung operasi pemenuhan kebutuhan dasar
menurut SPM pada masa kebencanaan
● Mendukung upaya perlindungan kepada kelompok
rentan (wanita, anak, lansia dan penyandang disabilitas,
dan penyandang komorbid/penyakit bawaan).

23
Transisi ● Memastikan pemenuhan kebutuhan dasar dan
Darurat perlindungan kelompok rentan.
● Mendukung operasi pemulihan objek dan sarana -
prasarana vital.
● Monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasi tanggap
darurat bencana secara periodik dan berjenjang.
● Monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasi
transisi menuju pemulihan darurat bencana secara
periodik dan berjenjang.
● Penilaian pelaksanaan tanggap bencana sebagai basis
penetapan status darurat.
● Menetapkan status pengakhiran atau perpanjangan
operasi.
● Demobilisasi seluruh personel penanganan darurat
bencana jika operasi telah berakhir atau perpanjangan
tugas personil jika operasi diperpanjang.

4.2 Struktur Komando Pos Lapangan Kabupaten Kudus

Gambar 4.1 Struktur Komando Pos Lapangan Kabupaten Kudus

24
KOMANDAN PDB
Pos Pendamping
Wilayah

WAKIL KOMANDAN
PDB

Perwakilan
SEKRETARIAT
Lembaga/Instansi

Bidang Keselamatan dan


Keamanan

Bidang Bidang Bidang Administrasi dan


Perencanaan Operasi Logistik Keuangan

Unit Kajian
Evakuasi dan Unit
Situasi
Penyelamatan Transportasi

Unit Kesehatan Unit Kesehatan


Technical dan
Specialist Psikososial
Unit Sarpras

Pendidikan
Unit Pangan

Sarana
Prasarana dan Unit Pangan
Pengungsian

25
4.3 Tugas-Tugas
Untuk mencapai seluruh sasaran tindakan, organisasi
menurunkan setiap tindakan dalam bentuk tugas-tugas yang harus
dijalankan setiap bidang-fungsi bersama bagian/unit/divisi di
bawahnya. Agar perencanaan dan operasi benar-benar (nyata)
dapat dilaksanakan, maka tugas-tugas harus disusun sebagai
strategi mendukung penanganan kedaruratan bencana di
Kabupaten Kudus berdasarkan kemampuan sumberdaya yang
tersedia. Berikut merupakan penjabaran tugas dalam Satgas
Penanganan Darurat Bencana Banjir di Kabupaten Kudus.

1) Komandan PDB (Penanganan Darurat Bencana)


a. Mengaktifkan menjadi Pos Komando (Posko) Pendamping
Penanganan Kedaruratan Bencana Kabupaten Kudus,
sesuai dengan jenis, lokasi dan tingkatan bencana.

b. Memastikan aktivasi Satuan Komando Penanganan Darurat


Bencana (SKPDB) dan Pos Komando (Posko) Penanganan
Darurat Bencana di Kabupaten Kudus

c. Menyusun perencanaan strategis dan taktis,


mengorganisasikan, melaksanakan dan mengendalikan
operasi pendukungan penanganan kedaruratan bencana
tingkat kabupaten.

d. Memfasilitasi perencanaan strategis dan taktis,


mengorganisasikan, melaksanakan dan mengendalikan
sumberdaya dalam operasi tanggap darurat bencana untuk
SKPDB Kabupaten Kudus.

e. Melaksanakan pengerahan pengerahan sumber daya


manusia, peralatan, logistik dan penyelamatan serta
berwenang memerintahkan para pejabat yang mewakili
instansi/lembaga/organisasi yang terkait dalam
memfasilitasi aksesibilitas penanganan tanggap darurat
bencana untuk pendukung operasi penanganan darurat.

26
2) Wakil Komandan PDB (Penanganan Darurat Bencana)
a. Membantu Komandan Tanggap Bencana dalam
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan
mengendalikan komando tanggap darurat bencana.

b. Mengkoordinir tugas-tugas sekretariat, humas,


keselamatan dan keamanan serta perwakilan
instansi/lembaga.

c. Mewakili Komandan PDB apabila Komandan PDB tidak


hadir.
3) Hubungan Masyarakat
a. Menghimpun data dan informasi penanganan bencana yang
terjadi.
b. Membentuk jaringan informasi dan komunikasi serta
menyebarkan informasi tentang bencana tersebut ke media
massa dan masyarakat luas.
c. Membentuk jaringan komunikasi yang efektif dan efisien.
d. Memastikan alur komunikasi antar bidang dalam satgas
kabupaten dapat dilangsungkan secara baik dan lancar.
e. Memantau seluruh informasi internal dan
mengakomodasi informasi/pemberitaan untuk pihak luar.
4) Keselamatan dan Keamanan
a. Menjamin kesehatan dan keselamatan seluruh personil
Satgas dalam menjalankan tugasnya.
b. Menjaga keamanan penanganan tanggap darurat bencana
serta mengantisipasi hal-hal di luar dugaan atau suatu
keadaan yang berbahaya.
c. Memantau keberadaan petugas/militer/relawan asing.
5) Perwakilan Lembaga/Instansi
a. Bertugas untuk membantu Komandan PDB berkaitan
dengan permintaan dan pengerahan sumberdaya yang
dibutuhkan dari instansi/lembaga.
b. Bertanggung jawab langsung kepada Komandan Tanggap
Darurat Bencana atas pelaksanaan tugasnya dan secara

27
administratif bertanggung jawab kepada pimpinan
instansi/lembaga terkait.

6) Sekretariat
a. Menyelenggarakan administrasi umum dan pelaporan.

b. Pelayanan akomodasi dan konsumsi bagi personil Satuan


Komando Kabupaten.

c. Menyediakan kebutuhan sarana dan prasarana Satuan


Komando Kabupaten, Kesekretariatan, Pos Pendukung/Pos
lapangan.
7) Perencanaan
a. Unit Sumber Daya
• Menyiapkan, mengatur/mengelola, membagi sumber daya
yang ada maupun yang diperlukan untuk kemudahan
penanganan darurat bencana (SDM, peralatan, logistik,
transportasi dll).

• Mengelola bantuan sumberdaya (relawan dan bantuan-


bantuan) yang berasal dari luar.
b. Situasi
• Menyusun rencana aksi (harian hingga selesai
masa tanggap) berkoordinasi dengan komando untuk
menentukan aksi.

• Mencari informasi kondisi cuaca terkini dan melaporkan


update cuaca kepada tim, sebagai bahan pertimbangan
aksi

• Membuat update informasi terkait kondisi kejadian


bencana banjir yang terjadi dan membuat laporan terkait
kondisi terkini kejadian banjir

• Membuat laporan harian terkait kondisi kejadian bencana


seperti jumlah korban, jumlah kerusakan dan wilayah
terdampak.

28
• Membuat dan menyediakan data dan informasi dalam
bentuk display- display dan peta-peta.
8) Operasi/Pos Lapangan
Operasi penanganan kedaruratan bencana Banjir di
Kabupaten Kudus dilaksanakan dengan mengaktivasi Pos
Lapangan Penanganan Darurat Bencana (Pos Lapangan PDB). Pos
ini berfungsi melaksanakan operasi pendukungan penanganan
darurat bencana. Terdapat Pos Lapangan PDB Kabupaten Kudus
yang diaktivasi untuk mendukung, memperkuat, dan
mendampingi SKPDB Kecamatan, yaitu Balai Desa atau lokasi
terdekat dengan banjir.

Sesuai dengan prinsip pengutamaan aktif pemerintah


Kabupaten Kudus dalam penanganan kedaruratan bencana, tugas
pokok pos lapangan adalah untuk memastikan berjalannya
operasi tanggap darurat oleh berbagai pihak secara terpimpin,
terkoordinasi, efektif dan efisien di lokasi bencana. Pos Lapangan
berfungsi sebagai (1) tempat berkumpul semua sumber daya
untuk melaksanakan tanggap darurat pada wilayah kerja Pos
Komando Lapangan, (2) sebagai wadah mengkoordinasikan,
mengintegrasikan dan mensinkronisasikan upaya-upaya tanggap
darurat yang dilakukan oleh instansi/organisasi terkait, dan (3)
sebagai tempat mengerahkan dan mengendalikan kegiatan
tanggap darurat bencana di lokasi bencana.

Untuk memastikan operasi penanganan darurat, Pos


Lapangan PDB Kabupaten mengerahkan sumberdaya
(deployment) termasuk penugasan personil ke dalam
bidang/sektor penanganan sesuai dengan bidang/sektor yang
dalam SKPDB Kabupaten Kudus. Bidang/Sektor tersebut adalah:

a. SAR dan Evakuasi

• Mendukung assessment masyarakat yang terkena


dampak bencana (penilaian dini, penilaian situasi,
penilaian keadaan)
29
• Mendukung penyelenggaran pertolongan pertama (triase)

• Mendukung proses evakuasi (penyelamatan penduduk,


evakuasi korban)

• Memastikan upaya pemulihan hubungan keluarga


(penyatuan keluarga yang terpisah)
b. Kesehatan

• Memastikan dan mendukung adanya pemetaan area


bencana

• Memastikan dan mendukung upaya pengendalian


penyakit menular dan penyakit tidak menular

• Mendukung palayanan pemulihan kesehatan fisik,


mental, dan psikososial.

• Memastikan pemenuhan standar minimal bantuan


kesehatan
c. Pendidikan

• Memastikan dan mendukung penyelenggaraan fasilitasi


pendampingan kelompok rentan

• Memastikan dan mendukung penyelenggaraan


pendampingan keagamaan

• Memastikan dan mendukung adanya fasilitas ruang


ramah anak

• Memastikan dan mendukung penyelenggaraan layanan


pendidikan dalam situasi darurat

• Memastikan dan mendukung penyediaan perlengkapan


sekolah dan sarana bermain.

30
d. Pengungsian

• Memastikan dan mendukung assessment (pendataan)


pengungsi dan kelompok rentan serta verifikasi dan
pemutakhiran data berkala

• Mendukung pendistribusian bantuan pangan-sandang

• Mendukung pengelolaan dapur umum

• Memastikan dan mendukung penyediaan dan pendirian


penampungan darurat (titik-titik pengungsian)

• Memastikan dan mendukung pelayanan air dan sanitasi


termasuk MCK

• Memastikan dan mendukung pengelolaan, manajemen


pengungsian di setiap titik-titik pengungsian
e. Air Bersih dan Sanitasi

• Memastikan dan mendukung penyelenggaraan pemenuhan


kebutuhan air dengan kualitas yang memadai untuk
pribadi maupun rumah tangga.

• Memastikan dan mendukung bantuan dalam bentuk


sumber air beserta peralatannya.

• Memastikan bantuan air minum yang dapat diminum


langsung sesuai dengan standar kesehatan dan standar
minimal bantuan.

• Memastikan dan mendukung pelayanan kebersihan dan


kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan saluran air
(drainase), pengelolaan limbah cair dan limbah padat,
pengendalian sektor serta pembuangan tinja.

f. Sarana Prasarana

• Memastikan dan mendukung upaya perbaikan sarana dan

31
prasarana vital di lokasi bencana

• Memastikan dan mendukung pengaturan akses


transportasi: Membuka akses jalan yang tertutup,
membersihkan jalan, jalur akses jalan alternatif, jalan
sementara

• Mendukung pembangunan jembatan sementara untuk


jembatan rusak

• Menyiapkan tempat tinggal sementara untuk


pengungsi/tenda

• Memastikan dan mendukung penyiapan fasilitas


pelayanan kesehatan sementara

• Memastikan dan mendukung penyiapan MCK sementara

• Memastikan dan mendukung penyiapan penampungan air


bersih untuk kebutuhan sementara

• Memastikan dan mendukung penyiapan genset yang


memadai untuk suplai listrik

• Mendukung pendirian sarana ibadah sementara/Tenda.

• Memastikan dan mendukung perbaikan sarana


pendidikan sementara/membangun tenda untuk kegiatan
belajar mengajar

• Mendukung penyediaan bantuan alat berat seperti


excavator, truck, dsb.

• Memastikan dan mendukung penyiapan posko dan


fasilitas-fasilitas pendukung
9) Logistik

a. Unit Peralatan

• Menyediakan peralatan, khususnya alat berat untuk


melancarkan proses pendistribusian pada saat fase

32
tanggap darurat maupun fase menuju pemulihan.

• Menyiapkan tenda posko, pos kesehatan, hunian


sementara, dapur umum hingga kebersihan lingkungan
sekitar pengungsian.

• Mekanisme pengamanan logistik dari penerimaan sampai


pendistribusian

b. Unit Transportasi

• Mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan


bidang operasi untuk memastikan kebutuhan transportasi

• Menyiagakan dan mengerahkan seluruh potensi


sumberdaya transportasi yang ada baik dari pemerintah,
swasta dan masyarakat

• Mengkoordinasikan sumber daya transportasi untuk


merapat/mendekati titik-titik strategis (titik kumpul, titik
pengungsian, POSKO PDB, dsb) yang memerlukan moda
transportasi

• Mengerahkan sumber daya transportasi untuk


mendukung seluruh kebutuhan operasional penanganan
darurat bencana

• Mengakomodasi sarana transportasi darurat dari/ke


lokasi kejadian bencana untuk mendukung seluruh
kebutuhan operasional penanganan darurat bencana.

c. Unit Pergudangan
• Menyiapkan dan merancang kebutuhan makanan dll
untuk korban bencana, membuat suatu manajemen
penyimpanan penyaluran makanan dll, pengendalian.

• Membuat tenda pergudangan, membuat suatu manajemen


dokumen stok barang masuk dan barang keluar, serta
membuat lampiran ketersediaan barang, melakukan
koordinasi dan pengendalian.
33
d. Unit Penanganan Kebutuhan Pangan dan Nutrisi

• Merencanakan, mendata, memenuhi kebutuhan pangan


dan nutrisi pengungsi.

• Memenuhi bantuan pangan dalam bentuk makan dan


atau masakan yang disediakan oleh dapur umum.

• Memenuhi bantuan pangan bagi kelompok rentan dalam


bentuk khusus.

• Membuat suatu penganggaran kebutuhan pangan.

• Melakukan suatu manajemen penyimpanan dan


penyaluran, pengendalian.

• Membuat dapur khusus untuk semua tim penyelamat.


e. Unit Kesehatan

• Menyiapkan kebutuhan tenaga kesehatan, obat,


perbekalan kesehatan, dan pos kesehatan

• Mencari kebutuhan dan menyiagakan tenaga kesehatan,


obat, perbekalan kesehatan, dan pos kesehatan

• Pendistribusian tenaga kesehatan, obat, perbekalan


kesehatan, dan pos kesehatan.

f. Hunian dan Bantuan Non-Pangan

• Menyiapkan bantuan penampungan/hunian sementara


dalam bentuk tenda, barak, gedung olahraga dan
sebagainya yang memungkinkan sebagai tempat tinggal
sementara.

• Memberikan bantuan non-pangan kepada pengungsi di


tempat hunian sementara dalam bentuk peralatan masak,
bahan bakar, penerangan dan alat-alat perkakas.

10) Administrasi dan Keuangan

a. Mengarsip setiap data dan dokumen dari hal terkecil


34
sampai besar

• Menyiapkan bahan untuk kebijakan teknis bidang


keuangan

• Menyiapkan bahan persiapan program dan rencana kerja


anggaran bidang keuangan

• Menyiapkan bahan pengkordinasian pelaksanaan tugas di


bidang keuangan

b. Menyiapkan bahan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di


bidang keuangan.
11) Pos Pendukung

Pos Pendukung Penanganan Darurat Bencana (Pos


Pendukung PDB) merupakan perangkat organisasi dalam
penanganan kedaruratan bencana gempabumi akibat Sesar
Kendeng. Pos Pendukung memiliki fungsi membantu kelancaran
akses masuk, keluar, dan mobilisasi/distribusi bantuan
penanganan darurat bencana, baik dalam maupun luar negeri.

Tugas-tugas Pos Pendukung PDB bantuan dari dalam


negeri antara lain adalah:

• Melakukan pengelolaan penerimaan bantuan sumber


daya;

• Melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap bantuan


penanganan darurat bencana yang diterima;

• Melakukan pengelolaan sementara bantuan penanganan


darurat bencana;

• Menyerahkan bantuan penanganan darurat bencana yang


diterima ke Posko PDB;

• Melakukan distribusi bantuan darurat bencana ke Pos


Lapangan PDB atas petunjuk;

• Melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan; dan


35
• Melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada Komandan
Posko PDB.

Kegiatan utama Pos Pendukung PDB bantuan dari luar


negeri antara lain adalah:

a. Melakukan pengelolaan penerimaan bantuan sumber daya;

b. Melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap bantuan


penanganan darurat bencana yang diterima dan
dikembalikan;

c. Melakukan pengelolaan sementara bantuan penanganan


darurat bencana;

d. Melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan;

e. Melakukan pengelolaan perizinan;

f. Melakukan pengembalian bantuan;

g. Menyerahkan bantuan penanganan darurat bencana yang


diterima ke Pos Pendamping Kabupaten PDB atau Posko
Kabupaten PDB sesuai dengan status keadaan darurat
bencana yang diberlakukan;

h. Melakukan distribusi bantuan penanganan darurat


bencana ke Posko PDB atau Pos Lapangan PDB atas
petunjuk Pos Pendamping Kabupaten PDB atau Posko
Kabupaten PDB sesuai dengan status keadaan darurat
bencana yang diberlakukan;

i. Melakukan fasilitasi pengembalian bantuan untuk bantuan


penanganan darurat bencana yang berasal dari komunitas
internasional; dan

j. Melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada Koordinator Pos


Pendamping Kabupaten atau Posko Kabupaten PDB sesuai
dengan status keadaan darurat bencana yang
diberlakukan.

36
2) Pos Pendamping

Pos Pendamping merupakan perangkat PDB yang


berfungsi memastikan dan menjamin berjalannya operasi
pendukungan, perkuatan, dan pendampingan strategi dan taktis
agar penanganan kedaruratan bencana berjalan di Kabupaten
Kudus. Dengan mempertimbangkan kemudahan akses dan
efektivitas terhadap sumberdaya yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan tanggap darurat, Pos Pendamping berperan untuk
melakukan pengkajian cepat kebutuhan sumber daya,
pengelolaan bantuan sumber daya, dan pencatatan, evaluasi dan
pelaporan kegiatan.

Pos Pendamping PDB Kabupaten mempunyai tugas:

a. Melakukan pengkajian cepat kebutuhan sumber daya melalui


koordinasi dengan Pos Pendamping kecamatan

b. Melakukan mobilisasi bantuan darurat bencana dari


instansi/lembaga terkait di tingkat kabupaten dan kecamatan
di wilayahnya yang tidak terdampak bencana;

c. Mengajukan permintaan bantuan sumber daya kepada Pos


Pendamping BPBD atau Provinsi/BNPB jika diperlukan;

d. Menyiapkan bantuan sumber daya sesuai hasil pengkajian


cepat kebutuhan;

e. Melakukan distribusi bantuan penanganan darurat bencana


kepada Posko PDB sesuai kebutuhan;

f. Melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan; dan

g. Melaporkan pelaksanaan kegiatan kepada BPBD Kabupaten


Kudus dengan tembusan kepada perangkat daerah/lembaga
terkait tingkat kabupaten.

37
Gambar 4.2 Peta Lokasi Evakuasi Bencana Banjir Kabupaten
Kudus

38
4.4 Instruksi Koordinasi
1) Pengkajian Cepat Akibat Bencana Banjir
BPBD Kabupaten Kudus melakukan pengkajian cepat
untuk menilai akibat langsung dari bencana banjir. Pengkajian
dilakukan dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Data
primer dilakukan dengan menugaskan dan mengerahkan Tim
Reaksi Cepat ke lokasi terdampak bencana. Data sekunder
dihimpun dari pelaporan, media massa, instansi/lembaga terkait,
masyarakat, internet, dan informasi lainnya yang relevan.
Lingkup kaji cepat meliputi:

Apa Jenis Bencana

Bilamana Hari, tanggal, bulan, tahun, jam, waktu


setempat
Dimana Tempat/lokasi/daerah bencana

Berapa Jumlah korban, kerusakan sarana dan


prasarana
Penyebab Penyebab terjadinya bencana

Bagaimana Upaya yang telah dilakukan

Analisa akibat langsung dari kejadian banjir dilaporkan


kepada Bupati Kabupaten Kudus untuk dipergunakan sebagai
pertimbangan Penetapan Status Bencana.

2) Penetapan Status/Tingkat Bencana


Bupati Kabupaten Kudus menetapkan Status Darurat Bencana
Banjir dengan mempertimbangkan:
a. Laporan BPBD Kabupaten Kudus atas hasil pengkajian cepat
akibat bencana banjir
b. Pertimbangan dan masukan dari Bupati Kabupaten Kudus,
serta para pihak dalam forum rapat dengan
instansi/lembaga/organisasi.
39
c. Penerbitan Surat Keputusan Bupati tentang Status Darurat
Bencana Kabupaten Kudus.
• Surat Keputusan Bupati sekaligus sebagai keputusan
mengaktivasi rencana kontinjensi operasi penanganan
kedaruratan, melalui pemutakhiran atau penyesuaian
situasi dan dampak kejadian yang ada, menjadi Rencana
Operasi Penanganan Darurat Bencana.
• Dalam Surat Keputusan Bupati sekaligus keputusan
mengaktivasi Satuan Komando Penanganan Darurat
Bencana Kabupaten Kudus dan personil- personil yang
diberi mandat sebagai pengampu tugas pendukungan
penanganan kedaruratan bencana banjir.
• Dalam Surat Keputusan Bupati sekaligus memastikan dan
menegaskan pemerintah kecamatan merupakan pengampu
utama penanganan kedaruratan melalui Satuan Komando
dan Pos Komando yang dibentuk oleh masing-masing
Camat.
d. Penyusunan Rencana Operasi Penanganan Kedaruratan
Bencana berdasarkan Rencana Kontinjensi yang disesuaikan
dengan intensitas dampak langsung bencana.
e. Penyelenggaraan Operasi Penanganan Kedaruratan Bencana
Banjir.

40
BAB V
ADMINISTRASI DAN LOGISTIK

5.1 Administrasi
Pengerahan/mobilisasi sumberdaya untuk pendukungan
penanganan tanggap darurat bencana diselenggarakan dengan
ketentuan sebagai berikut:

1) Instansi/lembaga/organisasi terkait dalam mengirimkan


sumberdaya harus didampingi oleh personil instansi/lembaga
asal dan penyerahannya dilengkapi dengan administrasi sesuai
ketentuan dan peraturan yang berlaku.

2) Apabila instansi/lembaga/organisasi terkait pada tingkat tertentu


tidak memiliki kemampuan sumberdaya yang dibutuhkan, maka
BPBD Kabupaten Kudus sesuai dengan tingkat kewenangannya
berkewajiban membantu/mendampingi pengiriman/mobilisasi
sumber daya sampai ke lokasi bencana.

3) Ilustrasi permintaan dan pengerahan sumberdaya Komando


Tanggap Darurat Bencana tingkat Kabupaten dilihat Lampiran

Biaya operasional Pos Komando Darurat Bencana Kabupaten


Kudus bersumber dari:

1) APBD Kabupaten Kudus


2) Bantuan Lain Yang Tidak Mengikat

5.2 Logistik

Pengerahan sumberdaya di tingkat provinsi dilaksanakan


dengan pola sebagai berikut:
1) Dalam hal bencana tingkat kabupaten, Kepala BPBD Kabupaten
mengerahkan sumberdaya manusia, peralatan dan logistik sesuai
kebutuhan ke lokasi bencana.
2) Apabila kebutuhan tersebut tidak tersedia/tidak memadai, maka
pemerintah kabupaten yang bersangkutan dapat meminta bantuan

41
kepada kabupaten lain yang terdekat.
3) Apabila kabupaten yang dimintai bantuan tidak memiliki
ketersediaan sumberdaya/tidak memadai, maka pemerintah
kabupaten yang terkena bencana dapat meminta bantuan kepada
Pemerintah Provinsi.
4) Biaya yang timbul akibat pengerahan bantuan ini ditanggung oleh
pemerintah Kabupaten Kudus.
5) Pelaksanaan pengerahan sumber daya dari asal sampai dengan
lokasi bencana dilaksanakan dibawah kendali Kepala BPBD
Kabupaten Kudus.

6) Apabila terdapat keterbatasan sumberdaya manusia, peralatan


dan logistik yang dikerahkan oleh Kepala BPBD Kabupaten, maka
BPBD Provinsi dapat membantu melalui pola pendampingan.
7) Pola pendampingan oleh BPBD Provinsi dapat berupa dukungan
biaya pengepakan, biaya pengiriman, jasa tenaga pengangkutan
dan dukungan peralatan tanggap darurat bencana.

42
BAB VI
PENGENDALIAN

6.1 Komando
Komando Operasi Penanganan Darurat Bencana Banjir Kabupaten
Kudus dipimpin oleh Bupati, Wakil Bupati, dan/atau Komandan yang
ditunjuk oleh Bupati.
a. Pos Komando
Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Kudus,
selanjutnya disebut Pos Komando/Posko berfungsi sebagai pusat
komando operasi darurat bencana untuk mengkoordinasikan,
mengendalikan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan
darurat bencana, berkedudukan di Kantor BPBD Kabupaten
Kudus.
b. Pos Lapangan
Pos Lapangan Penanganan Darurat Bencana Kabupaten Kudus,
selanjutnya disebut Pos Lapangan PDB, berfungsi sebagai
pelaksana operasi pendukungan penanganan darurat bencana
kepada SKPDB Kabupaten [Link] Pos Lapangan
Penanganan Darurat Bencana Banjir Kabupaten Kudus terletak
pada Kantor Balai Desa di wilayah yang terdampak Bencana
Banjir.
c. Pos Pendukung
Pos Pendukung Kabupaten Kudus, selanjutnya disebut Pos
Pendukung, berfungsi memperlancar akses masuk, keluar, dan
mobilisasi/distribusi bantuan penanganan darurat bencana, baik
dalam maupun luar Kabupaten. Pos Pendukung berkedudukan di
BPBD Kabupaten Kudus dan Kantor Kecamatan Lokasi
Terdampak Banjir.
d. Pos Pendamping
Pos Pendamping Nasional (Pospenas atau Pos BNPB) berfungsi
untuk mempermudah akses dan efektivitas terhadap sumberdaya
untuk penanganan tanggap darurat, berkedudukan di Kantor
43
Kecamatan tempat kejadian bencana.
6.2 Kendali
Kendali utama operasi penanganan darurat bencana Banjir berada
pada Komandan PDB yang melaksanakan fungsi pengendalian untuk
pengerahan sumber daya manusia, peralatan, logistik dan operasi
penanganan darurat bencana.

6.3 Koordinasi
Koordinasi melibatkan perwakilan seluruh SKPDB Kabupaten
Kudus bersifat wajib, dipimpin oleh komandan dan dilaksanakan di Pos
Komando Tanggap Darurat 1 (satu) kali setiap hari selama masa darurat
pada waktu yang disepakati. Koordinasi membahas laporan
perkembangan oleh setiap bidang operasi serta alternatif-alternatif
solusi

6.4 Komunikasi
a. Radio
Frekuensi Radio VHF yang dialokasikan kementerian
Komunikasi dan Informatika untuk BPBD adalah RX 160.375 TX
154.375 Tone 91.5 Penggunaan frekuensi diperuntukan BPBD
Kabupaten Kudus

b. Telepon : (0291)4250022 / 112


c. Whatsapp : +628112996112
d. Email : bpbdkabupatenkudus@[Link]

6.5 Informasi
Informasi di peroleh dari berbagai sumber seperti laporan dari
relawan, aparat desa, kecamatan, serta melalui laporan dari berbagai
media sosial secara real-time. Informasi tersebut dapat menjadi acuan
dalam pengambilan keputusan oleh komandan Operasi yang terlibat
dalam Struktur Komando. Pengelolaan informasi dilakukan secara
menyeluruh meliputi pengolahan data dan validasi informasi, serta
system aplikasi yang digunakan.

44
BAB VII
RENCANA TINDAK LANJUT

Komitmen Parapihak dalam Penanganan Kedaruratan

1. Diseminasi Dokumen Renkon Kabupaten Kudus


2. bersama pemangku kepentingan dari Dinas/Badan/Instansi/lembaga
Pemerintah dan Swasta yang terkait dengan penanggulangan bencana di
Kabupaten Kudus;
3. Penandatanganan kesepakatan oleh setiap pimpinan instansi selaku
koordinator bidang- bidang dalam penyusunan Renkon Kabupaten
Kudus;
4. Melalui pemantauan secara periodik terhadap kondisi kebencanaan di
Kabupaten Kudus;
5. Melakukan koordinasi secara berkala bersama instansi terkait untuk
memperbaharui dokumen Rencana Kontinjensi Kabupaten Kudus dan
disesuaikan dengan kondisi atau perkembangan terkini oleh semua
pihak terkait;
6. Evaluasi dokumen Rencana Kontinjensi ini akan dilakukan setiap 3
tahun atau bila terjadi bencana ekstrim;
7. Koordinasi untuk penyusunan, pemantauan dan pemutakhiran
Dokumen Rencana Kontinjensi ini dilakukan oleh Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus;
8. Dilakukan Sosialisasi ke Kecamatan yang masuk dalam Wilayah
Kabupaten Kudus;
9. Dokumen Rencana Kontinjensi Banjir Kabupaten Kudus akan diajukan
dan di legalisasi dalam bentuk Perbup;
10. Melakukan gladi lapang dan gladi posko untuk mengetahui fungsi
koordinasi yang sudah dibentuk berjalan sesuai dengan alur komando
yang ada.

45

Anda mungkin juga menyukai