Keanekaragaman Serangga Tanah di Lembah Harau
Keanekaragaman Serangga Tanah di Lembah Harau
Ade Nur Hidayat1), Mohamad Fithroh Azizy1), Zulfanida Musyaffa1), Andini Putri Saldi2), Aulia
2) 1) 2)
InsyaniSafitri2), Elviona Heafiz , Narti Fitriana , Rijal Satria
1)
Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2)
Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Negeri PadangJalan
[Link].95,Cempaka Putih,[Link],Kota Tangerang Selatan,Banten 15412
Jalan [Link],Air Tawar Barat,.[Link] Utara,Kota Padang,Sumatera Barat 25171
Email: auliainsyanisafitri@[Link]
ABSTRAK
Keanekaragaman adalah jenis-jenis makhluk hidup yang ada di bumi, baik di daratan, lautan,
maupun tempat lainnya salah satunya serangga. Serangga dapat ditemukan di berbagai habitat, baik
di dataran rendah ataupun dataran tinggi. Cagar Alam Lembah Harau merupakan salah satu
kawasan konservasi yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh kota Sumatera Barat, yang memiliki
hamparan hutan hujan tropis yang lebat dengan keragaman jenis flora dan fauna yang tinggi. Cagar
Alam ini memiliki kekayaan fauna yang belum banyak terungkap, diantaranya mengenai serangga.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman serangga tanah yang berada di
Cagar Alam Lembah Harau Sumatera Barat. Penelitian dilakukan pada Minggu 27 November
2022. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dengan
metode winkler pada 20 titik transek dengan interval 5 meter di dua habitat yang berbeda. Setelah
pengambilan sampel kemudian diekstraksi, disortir, mounting, pemotretan dan identifikasi. Hasil
dari penelitian yang telah dilakukan dari 2 habitat yang berbeda didapatkan keanekaragaman
serangga tanah pada habitat yang masih alami lebih tinggi dibandingkan dengan habitat yang sudah
terganggu oleh aktivitas manusia.
PENDAHULUAN
Serangga tanah merupakan organisme yang sering dilupakan, bahkan serangga tanah
sering disebut sebagai parasit bagi organisme lain (Rachmasari, et al., 2016). Disamping
itu semua, ternyata serangga tanah memiliki banyak manfaat bagi ekosistem tanah
(Marheni, et al., 2017). Serangga tanah berfungsi dalam mengubah bahan organik melapuk
menjadi bentuk senyawa lain yang dapat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Selain itu,
serangga tanah berperan juga untuk membantu penyerbukan karena terdapat beberapa jenis
tumbuhan yang tidak bisa melakukan penyerbukan sendiri, yang penyerbukannya hanya
bisa dibantu oleh suatu jenis serangga tertentu (Borror, et al., 2005).
Keanekaragaman serangga tanah berbeda-beda di setiap habitat (Zulkarnain et al.,
2018). Ada serangga tanah yang dapat dijumpai pada lapisan tumbuh-tumbuhan, seperti
ordo Plecoptera. Ada yang dapat dijumpai pada lapisan organik tanah, seperti ordo
Dematera dan ada yang dapat dijumpai pada lapisan mineral tanah, seperti ordo Protura
(Suin, 2012). Borror, et al., (1996) menjelaskan bahwa penyebaran serangga dibatasi oleh
beberapa faktor ekologi yang cocok, sehingga terjadi perbedaan keragaman jenis serangga.
Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan iklim, musim, ketinggian tempat,
serta jenis makanannya.
Suheriyanto (2008) menjelaskan bahwa serangga tanah dapat digunakan sebagai
indikator keseimbangan ekosistem. Apabila dalam suatu ekosistem terdapat
keanekaragaman serangga tanah yang tinggi, maka dapat dikatakan bahwa ekosistem
tersebut masih seimbang atau stabil. Keanekaragaman serangga tanah yang tinggi
menyebabkan proses jaring-jaring makanan berjalan secara normal. Begitu juga
sebaliknya, apabila dalam suatu ekosistem keanekaragaman serangga tanah yang rendah,
maka lingkungan ekosistem tersebut telah terganggu.
Keanekaragaman serangga tanah pada habitat yang masih alami dan habitat
terganggu di Taman Wisata Alam Lembah Harau belum terdata. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis serangga tanah pada habitat yang
masih alami dan habitat yang mengalami gangguan manusia yang terdapat di Taman
Wisata Alam Lembah Harau Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada bulan November 2022 yang dilakukan di Taman Wisata
Alam Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jenis penelitian
yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. Alat yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu kantong ekstraksi winkler, botol plastik, mikroskop, lup, cawan petri, pinset, vial
1.5 ml, meteran, alat tulis dan kamera. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu etanol
70% dan kertas label.
Teknik pengoleksian sampel yang digunakan adalah metode winkler. Metode
winkler bertujuan untuk mengkoleksi serangga tanah yang terdapat pada serasah.
Serasah pada masing-masing titik diambil seluas 1m x 1m , kemudian serangga
diekstraksi dari serasah menggunakan winkler. Pada bagian bawah winkler di letakan
botol yang berisi 70% etanol untuk menampung serangga yang jatuh. Pengambilan
serasah dilakukan dengan membuat 20 titik transek dengan interval 5 meter yang
dilakukan di dua habitat yang berbeda, yaitu habitat yang masih alami dan habitat yang
sudah mengalami gangguan oleh aktivitas manusia. Kemudian serasah dari setiap titik
dimasukan ke dalam kantong winkler dan didiamkan selama 48 jam. Serangga yang
yang berhasil didapatkan akan dipindahkan menggunakan pinset ke dalam vial 1,5 ml dan
diberi label. Kemudian sampel serangga akan dikelompokan berdasarkan morfologinya
atau disebut dengan morfospesies. Setiap morfospesies akan dihitung jumlah individunya
yang memudahkan dalam proses identifikasi. Identifikasi serangga dilakukan di
Laboratorium Ekologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan ilmu pengetahuan
Alam, Universitas Negeri Padang. Jenis semut yang ditemukan didentifikasi dengan
bantuan mikroskop dan buku panduan identifikasi semut: Bolton (1994), Antwiki (2021)
dan Hashimoto (2003). Hasil yang didapatkan di kelompokan berdasarkan spesies dan
genus, serta data akan ditampilkan dalam bentuk tabel.
Data yang didapat, akan diolah secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel
perhitungan dengan menggunkan rumus sebagai seberikut:
1. Indeks diversitas/keanekaragaman jenis (H') Shannon-Wiener (Magurran, 2004)
dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
H’ = Indek diversitas
n = Jumlah individu suatu spesies
N = Jumlah total individu keseluruhan
𝑛
𝑃𝑖 =𝑁
Keterangan:
E = Indeks Kemerataan/Keseragaman
H’ = Indeks diversitas Shannon-wiener
S = Jumlah jenis yang ditemukan
D’ = 1-E
Keterangan:
D’ = Indeks Dominansi
E = Indeks Kemerataan
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 28 November 2022 diperoleh
sebanyak 31 ekor serangga di habitat terganggu dan 54 ekor serangga di habitat tidak
terganggu yang tercakup kedalam 7 ordo. Jenis-jenis serangga yang diperoleh diantaranya
ada Blatodea, Coleoptera, Collembolla, Dematera, Diptera, Hymetoptera, Orthoptera.
Berdasarkan tabel 1 tampak bahwa mayoritas serangga pada habitat terganggu yang
diperoleh paling banyak adalah serangga ordo Blatodea. Ordo serangga dengan jumlah
individu tertinggi yang diperoleh di lokasi yaitu Blatodea 1 (Spesies 1) sebesar (19.35%),
kemudian ordo dengan jumlah individu sedang yaitu Blatodea 3 (Spesies 1) ; Diptera 1, 2
(Spesies 5) ; Collembola 2 (Spesies 3) ; Hymetoptera 1 (Spesies 6) dan Orthoptera (Spesies
1) sebesar (6.45%), dan spesies serangga dengan jumlah individu terendah yaitu
Coleoptera 1 (Spesies 2) ; Dematera 2 (Spesies 4) ; Diptera 3, 4, 5 dan 6 (Spesies 5)
sebesar (3.23%) namun dikarenakan ordo coleoptera hanya ditemukan 1 spesies saja, maka
ordo coleoptera termasuk serangga dengan jumlah spesies terendah di habitat terganggu.
Berdasarkan tabel 2 tampak bahwa mayoritas serangga pada habitat tidak terganggu
yang diperoleh paling banyak adalah serangga ordo Coleoptera. Ordo serangga dengan
jumlah individu tertinggi yang diperoleh di lokasi yaitu Diptera 1 (Spesies 5) sebesar
(20.37%), kemudian ordo dengan jumlah individu sedang yaitu Blatodea 2 (Spesies 1)
sebesar (9.26%), dan spesies serangga dengan jumlah individu terendah yaitu Blatodea 3
(Spesies 1) ; Coleoptera 6 , 7 dan 10 (Spesies 1) dan Orthoptera 1 (Spesies 1) sebesar
Quo Vadis Pengelolaan Biodiversitas Indonesia Menuju SDG's 2045
150
Prosiding SEMNAS BIO 2022
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ISSN : 2809-8447
(1.85%). namun dikarenakan ordo orthoptera hanya ditemukan 1 spesies saja, maka ordo
orthoptera termasuk serangga dengan jumlahspesies terendah di habitat tidak terganggu.
Habitat Terganggu
Nilai Indeks
5.000 2.515
0.929 0.071
0.000
H' E
Indeks
Lima Puluh Kota Sumatera Barat tersebut termasuk dalam kategori sedang.
2.500
2.000
Nilai INdeks
1.500
0.925
1.000
0.500
0.075
0.000
H' E
Indeks
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas serangga tanah pada habitat
terganggu dari ordo Blatodea merupakan jumlah serangga yang paling banyak ditemukan
(19.35%). Hal ini disebabkan oleh sampah yang banyak di area sehingga menarik jenis
serangga ordo Blatodea untuk datang dan mencari makanan bagi kelangsungan hidupnya.
Ordo serangga tanah tertinggi yang diperoleh yaitu Blattodea. Hal ini disebabkan karena
serangga ini memperoleh sumber makanan yang sangat mencukupi dari daerah kotor
seperti tempat sampah, (Sucipto, 2011). Ordo serangga dengan jumlah individu terendah
yaitu coleoptera (3.23%). Hal ini disebabkan adanya gangguan atau factor tekanan
lingkungan seperti perubahan ekosistem dan aktifitas manusia di sekitar taman yang
menyebabkan Coleoptera tidak menempati ekosistem tersebut secara optimum (Riyanto,
yang menerima intensitas cahaya yang tinggi dan aktif pada siang hari (diurnal) dan
serangga ada yang aktif menerima intensitas cahaya rendah pada malam hari (nocturnal).
Curah hujan yang tinggi dapat menurunkan aktivitas serangga. Hujan yang lebat
dapat menyebabkan serangga tanah terendam akibat adanya aliran air dan mematikan
nimfa serta telur-telur serangga yang melekat pada batang atau daun dari tanaman sehingga
menyebabkan populasinya menurun. Selain itu, hujan juga dapat menyebabkan
kelembaban meningkat sedangkan angin berperan dalam membantu penyebaran serangga,
khususnya serangga yang berukuran kecil. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fachrul
(2007), bahwa komponen lingkungan (biotik dan abiotik) akan mempengaruhi kelimpahan
dan keanekaragaman spesies pada suatu tempat sehingga tingginya kelimpahan individu
tiap jenis dapat dipakai untuk menilai kualitas suatu habitat.
PENUTUP
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas serangga tanah pada habitat
terganggu dari ordo Blatodea merupakan jumlah serangga yang paling banyak ditemukan
(19.35%). Hal ini disebabkan oleh sampah yang banyak di area sehingga menarik jenis
serangga ordo Blatodea untuk datang dan mencari makanan bagi kelangsungan hidupnya.
Sedangkan mayoritas serangga tanah pada habitat tidak terganggu dari ordo Diptera
merupakan jumlah serangga yang paling banyak ditemukan. Hal ini disebabkan pada area
tersebut banyak aktifitas manusia yang membawa makanan atau minuman yang dapat
mengundang serangga tersebut tertarik. Ordo serangga dengan jumlah individu terendah
yaitu orthoptera (1.85%). Hal ini disebabkan minimnya vegetasi tumbuhan pada area
tersebut sehingga ordo orthoptera tidak dapat beradaptasi untuk keberlangsungan hidup di
habitat tersebut. Keanekaragaman jenis serangga di habitat terganggu sebesar 2.515
sehingga dapat diartikan bahwa tingkat keanekaragaman serangga di habitat terganggu
kedalam kategori sedang diikuti dengan tidak adanya spesies yang mendominasi dan
jumlah ordo pada masing-masing jenis tidak sama atau jauh berbeda. Tinggi rendahnya
jumlah jenis serangga maupun keanekaragaman serangga dipengaruhi oleh faktor abiotik
maupun biotik. Faktor biotik meliputi musuh alami dan makanan.
REFERENSI
Argyropoulou, M.D., Karris, G., Papatheodorou, E.M., and Stamou, G.P.,(2005).
Epiedaphic Coleoptera in the Dadia forest reserve (Thrace, Greece): the effect of
human activities on community organization patterns. Belg. J. Zool., 135 (2) : 127-
133.
Borror, D. J. Triplehorn, C.A. & Johnson, N, F. (1996). Pengenalan Pelajaran Serangga.
Diterjemahkan oleh Soetiyono Partosoedjono. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Borror, D.J., C.A. Triplehorn, dan Johnson, N. F. (2005). Borror and Delong’s
Introduction to the Study of Insects 7th Edition. U.S.A: Brooks/Cole, Belmont, C.A.
Darmawan, A. Tuarita dan H. Ibrohim. (2005). Ekologi Hewan. Malang: UM Press
Elzinga, R. J. (1981). Fundamental of Entomology. Departement of Entomology