BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Las dalam bidang konstruksi sangat luas penggunaanya meliputi konstruksi
jembatan, perkapalan, Industri Karoseri dll. Disamping untuk konstruksi las juga
dapat untuk mengelas cacat logam pada hasil pengecoran logam, mempertebal yang
aus (Wiryosumarto dan Okumura; 2004). Secara sederhana dapat diartikan bahwa
pengelasan merupakan proses penyambungan dua buah logam sampai titik
rekristalisasi logam baik menggunakan bahan tambah maupun tidak dan
menggunakan energi panas sebagai pencair bahan yang [Link] Pengelasan
menurut Widharto (2003) adalah salah satu cara untuk menyambung benda padat
dengan jalan mencairkannya melalui pemanasan. Pengelasa menurut DIN
(Deutsche Industrie Normen) adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam
paduan yang dilaksanakan dalam keadaan dalam keadaan lumer dan cair.
Pengelasan logam berbeda dengan DMW (Disimilar Metal Welding) merupakan
perkembangan dari teknologi las modern akibat dari kebutuhan akan
penyambungan material-material yang memiiki jenis logam yang berbeda.
Cacat las / defect weld suatu keadaan hasil pengelasan dimana terjadinya
penurunan kualitas hasil lasan. Kualitas hasil lasan yang dimaksud merupakan
turunnya kekuatan dibandingkan dengan kekuatan material dasar base metal, tidak
baiknya tampilan /performa dari suatu hasil lasan dapat juga dipengaruhi terlalu
tingginya arus dapat menyebabkan kawat inti elektroda las mengalami kelebihan
1
2
panas dan bahan fluks akan dapat memburuk menyebabkan takikan dan tampilan
rigi las yang buruk. Namun sebaliknya arus yang terlalu rendah dapat menyebabkan
penumpukan menyebabkan penumpukan terjadinya cacat las seperti kurang
penembusan dan pemasukan terak.
Menurut American Society Mechanical Engineers (ASME) ,penyebab cacat
lasan dapat dibagi menjadi beberapa faktor antara lain, kurang mendukungnya
lokasi pengerjaan, kesalahan operator , kesalahan teknik pengelasan , kesalahan
material. Secara umum cacat las dapat dibagi dua yaitu cacat bulat (rounded
indication) dan cacat memanjang (linear indication).
Uji liquid penetrant merupakan suatu metode NDT (Non Destructive Test)
yang cepat dan handal untuk melihat secara visual cacat las pada permukaan yang
terbuka dari hasil pengelasan. Uji liquid penetrant ini dapat digunakan untuk
mendeteksi diskontinyuitas halus pada permukaan seperti retak,bocor halus dan
berlubang, dalam pengujian ini menggunakan prinsip kapilaritas yaitu masuk dan
keluarnya cairan penetrant kedalam diskontinyuitas dan dari diskontinyuitas ke
permukaan. Prinsip kerja uji penetrant adalah cairan penetrant yang masuk kedalam
diskontinyuitas kemudian akan keluar kepermukaan dengan bantuan Developer
(pengembang). Developer ini harus mempunyai warna yang kontras dengan cairan
penetrant agar saat pendeteksiaan cacat permukaan dapat dilakukan dengan mudah
dan benar, hasil uji penetrant dapat ditolak jika dimensinya tidak sesuai dengan
standart yang diatur dalam ASME section V article 6. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui variasi arus listrik terhadap cacat las pada besi ASTM
A36 melalui uji penetrant dengan standart prosedur yang benar.
3
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana mengetahui variasi arus listrik terhadap cacat permukaan pada baja
ASTM A36 dengan metode NDT (Non Destructive Test) cairan penetrant.
1.3 Batasan Masalah
Agar pembahasan yang dibahas tidak melebar maka perlu diadakan
pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Material yang digunakan pada penelitian ini adalah Baja ASTM A36
2. Pengelasan dilakukan dengan metode SMAW
3. Material yang akan dilas menggunakan kuat arus listrik 80 ,100,120 Ampere
4. Hasil pengelasan material akan dilakukan pengujian dengan Liquid Penetrant
5. Spesimen yang digunakan ada 3 buah
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk megetahui hasil cacat las pada permukaan dengan metode liquid
penetrant
2. Untuk mengetahui pengujian penetrant test dengan prosedur yang benar
3. Untuk mengetahui dan mendeteksi diskontinyuitas rounded indication dan
Linear indication dengan uji penetrant.
1.5 Manfaat Penelitian
Sebagai peran nyata dalam pengembangan teknologi khususnya pengelasan,
maka penulis dapat mengambil manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
4
1. Sebagai literatur pada penelitian inspeksi pengelasan,khususnya bagi
penulis.
2. Sebagai informasi guna meningkatkan ilmu pengetahuan bagi peneliti
dalam bidang isnpeksi pengelasan
3. Sebagai informasi bagi juru las untuk meningkatkan kekuatan hasil las.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengelasan
Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Norman) adalah ikatan
metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam
keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las merupakan sambungan setempat dari
beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas.
Pengelasan adalah suatu aktifitas menyambungkan dua bagian benda atau
lebih dengan cara memanaskan atau menekan gabungan dari keduanya sedemikian
rupa sehingga menyatu seperti benda utuh. Penyambungan bisa dengan bahan
tambahan (filler metal) yang sama berbeda titik cair maupun strukturnya. Daryanto
2013.
Pengelasan dapat diartikan dengan proses penyambungan dua buah logam
sampai titik rekristalisasi logam, dengan atau tanpa menggunakan bahan tambah
dan menggunakan energi panas sebagai pencair bahan yang dilas. Pengelasan juga
dapat diartikan sebagai ikatan tetap dari benda atau logam yang dipanaskan.
Mengelas bukan hanya memanaskan dua bagian benda sampai mencair dan
membiarkan membeku kembali, tetapi membuat lasan yang utuh dengan Cara
memberikan bahan tambah atau elektrodes pada waktu dipanaskan sehingga
mempunyai kekuatan seperti yang dikehendaki. Kekuatan sambungan las
dipengaruhi beberapa faktor antara lain: prosedur pengelasan, bahan, elektroda dan
jenis kampuh yang digunakan.
5
6
Mutu pengelasan tergantung dari pengerjaan dan proses pengelasan,secara
umum pengelasan dapat diartikan sebagai ikatan metalurgi pada sambungan logam
atau logam paduan yang dilaksanakan saat logam dalam keadaan lumer atau cair.
Wiryosumarto dan Okumura (2004) menyebutkan bahwa pengelasan adalah
penyambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi
panas. Penyambungan dua buah logam menjadi satu dilakukan dengan jalan
pemanasan atau pelumeran,dimana kedua ujung logam yang akan disambung
dibuat lumer atau dilelehkan dengan busur nyala atau panas yang didapat dari busur
nyala listrik (gas pembakar) sehingga kedua ujung atau bidang logam merupakan
bidang yang masa kuat dan tidak mudah dipisahkan.
2.2 Las SMAW ( Shield Metal Arc Welding )
Las listrik ini menggunakan elektroda berselaput (fluks) sebagai bahan
tambah. Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda dan bahan dasar yang akan
mencairkan ujung elektroda dan sebagian bahan dasar. Selaput elektroda yang
terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung
elektroda,kawat las,busur listrik dan daerah las sekitar busur listrik terhadap
pengaruh udara luar. Cairan Selaput elektroda yang membeku akan menutupi
permukaan las yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.
Logam induk dalam pengelasan ini mengalami pencairan akibat pemanasan dari
busur listrik yang timbul anatara ujung elektroda dan permukaan dan permukaan
benda [Link] listrik dibangkitkan dari suatu mesin [Link] yang
digunakan berupa kawat yang dibungkus pelindung berupa (fluks). Elektroda
7
selama ini akan mengalami pencairan bersama dengan logam induk dan membeku
bersama menjadi bagian kampuh las. Proses pemindahan logam elektroda terjadi
pada saat ujung elektroda mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa arus
busur listrik yang terjadi. Bila digunakan arus listrik besar makan butiran logam
cair yang terbawa menjadi halus dan sebaliknya bila arus kecil maka butirannya
menjadi besar.
Pola pemindahan logam cair sangat mempengaruhi sifat mampu las dari
logam. Logam mempunyai sifat mampu las yang tinggi bila pemindahan terjadi
dengan butiran yang halus. Pola pemindahan cairan dipengaruhi oleh besar kecilnya
arus dan komposisi dari bahan (fluks) yang digunakan . Bahan (fluks) yang
digunakan untuk membungkus elektroda selama pengelasan mencair dan
membentuk terak yang menutupi logam cair yang terkumpul ditempat sambungan
dan bekerja sebagai penghalang oksidasi.
Gambar 2.1 Skematis Las SMAW
Fungsi dan kegunaan skematis atau salut elektroda adalah:
a. Mencair dan mengapung di atas kolam las sehingga melindungi cairan baja dari
8
reaksi dengan zat asam menjadi oksida.
b. Cairan coating (flux) membeku di atas lajur las membentuk slag atau terak dan
berfungsi untuk melindungi lajur las panas dari reaksi dengan zat asam
c. Coating sewaktu mencair juga menghasilkan asam yang berfungsi mengusir
udara dari lingkungan busur las
d. Coating juga berfungsi untuk menstabilkan busur karena proses ionisasi yang
terjadi
e. Coating bertungsi pula untuk menambah bahan additive guna meningkatkan
kekuatan bahan las
2.3 Las GTAW ( Gas Tungsten Arc Welding)
Las busur gas Tungsten Inert Gas (TIG) atau dikenal juga istilah Gas Tungsten
Arc Welding (GTAW) adalah cara pengelasan dimana gas dihembuskan ke daerah
las untuk melindungi busur dan logam yang mencair terhadap atmosfer. Gas yang
digunakan sebagai pelindung adalah gas helium (He), gas argon(Ar), gas
karbondioksida (CO²) atau campuran dari gas-gas tersebut. Gas tungsten arc
welding (GTAW) adalah proses las busur yang menggunakan busur antara tungsten
elektroda (non konsumsi) dan titik pengelasan. Proses ini digunakan dengan
perlindungan gas dan tanpa penerapan tekanan. Proses ini dapat digunakan dengan
atau tanpa penambahan filler metal. GTAW telah menjadi sangat diperlukan
sebagai alat bagi banyak industri karena hasil las berkualitas tinggi dan biaya
peralatan yang rendah.
9
Las busur gas TIG menggunakan elektroda wolfram yang tidak berfungsi
sebagai bahan [Link] listrik yang terjadi antara ujung elektroda wolfram dan
bahan dasar merupakan sumber panas [Link] wolfram yang
mempunyai titik cair yang tinggi (3.800°C), tidak ikut mencair pada saat terjadi
busur listrik. Pada jenis ini logam pengisi dimasukan ke dalam daerah arus busur
sehingga mencair dan terbawa ke logam [Link] untuk mengelas pelat yang
sangat tipis kadang-kadang tidak diperlukan logam pengisi. Las TIG dapat
dilaksanakan dengan tangan atau secara otomatis dengan mengotomatiskan cara
pengumpan logam pengisi.
Penggunan las TIG mempunyai dua keuntungan, yaitu pertama kecepatan
pengumpanan logam pengisi dapat diatur terlepas dari besarnya arus listrik
sehingga penetrasi ke dalam logam induk dapat diatur semaunya. Cara pengaturan
ini memungkinkan las TIG dapat digunakan dengan memuaskan baik untuk plat
baja tipis maupun plat yang tebal. Kedua adalah kualitas yang lebih baik dari daerah
[Link] sebaliknya bila dibandingkan dengan las MIG, efesiensinya masih lebih
rendah dan biaya operasinya masih lebih tinggi. Karena hal-hal diatas maka las TIG
biasanya digunakan untuk mengelas logam-logam bukan baja.
Gambar 2.2 Skematis Pengelasan GTAW
10
2.4 Elektroda
Pengelasan dengan menggunakan las busur listrik memerlukan kawat las
(elektroda) yang terdiriİ dari satu inti terbuat dari logam yang dilapisi lapisan dari
camapuran kimia. Fungsi dari elektroda sebagai pembangkit dan sebagai bahan
tambahan. Elektroda terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang berselaput (fluks) dan
tidak berselaput yang merupakan pangkal untuk menjepitkan tang las. Fungsi dari
fluks adalah untuk melindungi logam cair dari lingkungan udara, menghasilkan gas
pelindung, mensiabilkan busur. Bahan fluks yang digunakan untuk jenis E7016
adalah serbuk besi dan hidrogen rendah. Jenis ini kadang disebut jenis kapur. Jenis
ini menghasilkan sambungan dengan kadar hidrogen rendah sehingga kepekaan
sambungan terhadap retak sangat rendah, ketangguhannya sangat memuaskan.
Smith, D.1984
Selama proses pengelasan bahan fluks yang digunakan untuk membungkus
elektroda mencair dan membentuk terak yang menutupi logam cair yang terkumpul
ditempat sambungan dan bekerja sebagai penghalang oksidasi. Dalam beberapa
fluks bahannya tidak dapat tebakar, tetapi berubah menjadi gas yang juga menjadi
pelindung darİ logam cair terhadap oksidasi dan memantapkan busur.
Dalam pengelasan ini hal yang penting adalah bahan fluks dan jenis listrik
yang digunakan. Karena pentingnya hal tersebut maka bahan fluks danjenis listrik
akan dibacarakan terpisah. Pada dasarnya bila ditinjau dari logam yang [Link]
elektroda dibedakan menjadi lima, yaitu : baja lunak, baja karbon tinggi baja
paduan, besi tuang dan logam non ferro.
11
Gambar 2.3 Kawat Las Elektroda
Standarisasi elektroda dalam AWS (American Welding Society) didasarkan pada
jenis fluks, posisi pengelasan dan arus las dan dinyatakan dengan tanda EXXXX,
yang artinya sebagai berikut:
a. E : Menyatakan elektroda las busur listrik
b. XX : Dua angka sesudah E menyatakan kekuatan tarik (ksi
c. X : Angka ketiga menyatakan posisi pengelasan, yaitu:
d. Angka 1 untuk pengelasan segala posisi
e. Angka 2 untuk pengelasan posisi datar dan dibawah tangan
f. Angka 3 untuk pengelasan posisi dibawah tangan
g. X : Angka keempat menyatakan jenis selaput dan arus yang
cocok dipakai untuk pengelasan.
2.5 Parameter Pengelasan
Kestabilan dari busur api yang terjadi pada saat pengelasan merupakan
masalah yang paling banyak tcrjadi dalam proses pengelasan dengan las SMAW,
12
oleh karena itu kombinasi dari Arus listrik (I) yang dipergunakan dan Tegangan (V)
harus benar-benar sesuai dengan spesifikasi kawat elektroda dan fluksi yang
dipakai. Parameter pengelasan yang harus diperhatikan dalam proses pengelasan
adalah sebagai berikut.
1. Pengaruh dari Arus Listrik (I)
Setiap kenaikan arus listrik yang dipergunakan pada saat pengelasan akan
meningkatkan penetrasi serta memperbesar kuantiti lasnya. Penetrasi akan
meningkat 2 mm per 100A dan kuantiti las meningkat juga 1,5 Kg/jam per 100 A
Gambar 2.4 Pengaruh Arus Listrik
2. Pengaruh dari Tegangan (V)
Setiap peningkatan tegangan listrik (V) yang dipergunakan pada proses pengelasan
akan semakin memperbesar jarak antara tip elektroda dengan material yang akan
dilas, sehingga busur api yang terbentuk akan menyebar dan mengurangi penetrasi
pada material las. Konsumsi fluksi yang dipergunakan akan mcningkat sekitar 10%
pada setiap kenaikan 1 volt tegangan.
13
3. Pengaruh Kecepatan Las
Jika kecepatan awal pengelasan dimulai pada kecepatan 40 cm/menit, setiap
pertambahan kecepatan akan membuat bentuk jalur las yang kecil (Welding Bead),
penetrasi, lebar serta kedalaman las pada benda kerja akan berkurang. Tetapi jika
kecepatan pengelasannya berkurang dibawah 40 cm/menit cairan las yang terjadi
dibawah busur api las akan menyebar serta penetrasi yang dangkal, hal ini
dikarenakan over heat.
4. Pengaruh Polaritas arus listrik (Alternating Curret atau Direct Current)
Pengelasan dengan kawat elektroda tunggal pada umumnya menggunakan tipe arus
Direct Current (DC), elektroda positif (EP), jika menggunakan elektroda negatif
(EN) penetrasi yang terbentuk akan rendah dan kuantiti las yang tinggi. Pengaruh
dari arus Alternating Curret (AC) pada bentuk butiran las dan kuantiti pengelasan
antara elektroda positif dan negatif adalah sama yaitu cenderung porosity, oleh
karena itu dalam proses pengelasan yang menggunakan arus AC harus memakai
fluksi yang khusus. Arus adalah aliran pembawa muatan listrik, simbol yang
digunakan adalah huruf besar I dalam satuan ampere. Pengelasan adalah
penyambungan dua logam atau logam paduan dengan cara memberikan panas baik
diatas atau dibawah titik cair logam tersebut, baik dengan atau tanpa tekanan serta
ditambah atau tanpa logam pengisi yang dimaksud dengan arus paengelasan disini
adalah aliran pembawa muatan listrik dari mesin las yang digunakan untuk
menyambung dua logam dengan mengalirkan panas ke logam pengisi atau
elektroda. Hubungan diameter elektroda dengan arus pengelasan menurut Howard
BC,1998 dapat dilihat pada tabel 2.1
14
Tabel 2.1 Hubungan Diamter Elektroda dengan Pengelasan.
Diameter Elektroda Arus (Ampere)
2.5 60-90
2.6 60-90
3.2 80-140
4.0 150-190
5.0 180-250
2.6 Heat Input
Dalam pengelasan, untuk mencairkan logam induk dan logam pengisi
diperlukan energi yang cukup. Energi yang dihasilkan dalam operasi pengelasan
berasal dari bermacam-macam sumber yang tergantung pada proses pengelasannya.
Pada pengelasan busur listrik, sumber energi berasal dari listrik yang diubah
menjadi energi [Link] panas ini sebenarnya hasil kolaborasi dari parameter
arus las, tegangan las, dan kecepatan pengelasan. Parameter ketiga yaitu kecepatan
pengelasan ikut mempengaruhi energi pengelasan karena proses pemanasannya
tidak diam ditempat Akan tetapi bergerak dengan kecepatan tertentu.
Kualitas hasil pengelasan dipengaruhi oleh energi panas yang berarti
dipengaruhi juga oleh arus las, tegangan dan kecepatan pengelasan. Hubungan
antara ketiga parameter itu menghasilkan energi pengelesan yang dikenal dengan
heat input. Persamaan heat inputdapat dituliskan sebagai berikut:
15
𝑉.𝐼
Q= 𝑣 (kJ/mm)..............................................................................(2.1)
Keterangan :
Q = Heat Input (kJ/mm)
V = Voltage (V)
I = Current (A)
v = Travel Speed (mm/Menit)
2.7 Baja Karbon Rendah
Baja karbon merupakan salah satu jenis baja paduan yang terdiri atas unsur besi
(Fe) dan karbon (C). Dimana besi merupakan unsur dasar dan karbon sebagai unsur
paduan utamanya. Dalam proses pembuatan baja akan ditemukan pula penambahan
kandungan unsur kimia lain seperti sulfur (S), fosfor (P), slikon (Si), mangan (Mn)
dan unsur kimia lainnya sesuai dengan sifat baja yang diinginkan. Baja karbon
memiliki kandungan unsur karbon dalam besi sebesar 0,2% hingga 2,14%, dimana
kandungan karbon tersebut berfungsi sebagai unsur pengeras dalam struktur baja.
Dalam pengaplikasiannya baja karbon sering digunakan sebagai bahan baku untuk
pembuatan alat-alat perkakas, komponen mesin, struktur bangunan, dan lain
sebagainya. Menurut pendefenisian ASM handbook 1993, baja karbon dapat
diklasifikasikan berdasarkan jumlah persentase komposisi kimia karbon dalam baja
yakni sebagai berikut:
a. Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel)
16
Baja karbon rendah merupakan baja dengan kandungan unsur karbon dalam
sturktur baja kurang dari 0,3% C. Baja karbon rendah ini memiliki ketangguhan dan
keuletan tinggi akan tetapi memiliki sifat kekerasan dan ketahanan aus yang rendah.
Pada umumnya baja jenis ini digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan
komponen struktur bangunan, pipa gedung, jembatan, bodi mobil, dan lain-lainya.
b. Baja Karbon Sedang (Medium Carbon Steel)
Baja karbon sedang merupakan baja karbon dengan persentase kandungan karbon
pada besi sebesar 0,3% C – 0,59% C. Baja karbon ini memiliki kelebihan bila
dibandingkan dengan baja karbon rendah, baja karbon sedang memiliki sifat
mekanis yang lebih kuat dengan tingkat kekerasan yang lebih tinggi dari pada baja
karbon rendah. Besarnya kandungan karbon yang terdapat dalam besi
memungkinkan baja untuk dapat dikeraskan dengan memberikan perlakuan panas
(heat treatment) yang sesuai. Baja karbon sedang biasanya digunakan untuk
pembuatan poros, rel kereta api, roda gigi, baut, pegas, dan komponen mesin
lainnya.
c. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel)
Baja karbon tinggi adalah baja karbon yang memiliki kandungan karbon sebesar
0,6% C – 1,4% C. Baja karbon tinggi memiliki sifat tahan panas, kekerasan serta
kekuatan tarik yang sangat tinggi akan tetapi memiliki keuletan yang lebih rendah
sehingga baja karbon ini menjadi lebih getas. Baja karbon tinggi ini sulit diberi
perlakuan panas untuk meningkatkan sifat kekerasannya, hal ini dikarenakan baja
karbon tinggi memiliki jumlah martensit yang cukup tinggi sehingga tidak akan
memberikan hasil yang optimal pada saat dilakukan proses pengerasan permukaan.
17
Dalam pengaplikasiannya baja karbon tinggi banyak digunakan dalam pembuatan
alat-alat perkakas seperti palu, gergaji, pembuatan kikir, pisau cukur, dan
sebagainya.
2.7.1 Baja ASTM A36
Baja ASTM A36 merupakan baja dengan unsur karbon kurang dari 0,3 % C.
Baja ini memiliki ketangguhan dan keuletan tinggi akan tetapi memiliki sifat
kekerasan dan ketahanan aus yang rendah jenis ini sangat reaktif dan mudah sekali
untuk berubah kembali kebentuk oksidasi jika terkontaminasi air ,ion dan oksigen.
Baja ASTM A36 memiliki sifat mampu las yang dipengaruhi oleh takik dan
kepekaan terhadap retak las.
Pada baja ASTM A36 terdapat beberapa unsur komposisi kimia seperti
manganese (Mn), Phospour (P), Sulfur (S), dan Silicon (Si).
Tabel 2.2 komposisi kimia Plat Baja ASTM A36
Karbon (C) 0.25 - 0.29 %
Tembaga (CU) 0.20 %
Besi (Fe) 98.0 %
Mangan (Mn) 1.00 %
Fosfor (P) 0.040 %
Silikon (Si) 0.28 %
Sulfur (S) 0.50
18
Adapun kekuatan mekanis dari baja ASTM A36 dapat dilihat pada tabel 2.3
Tabel 2.3 Mechanical properties A36
Mechanical Properties Metric
Tensile Strength,Ultimate 400-550 Mpa
Tensile Strength,Yield 250 Mpa
Elongation at Break (in 200 mm) 20.0 %
Elongation at Break (in 50 mm) 23.0 %
Modulus of Elasticity 200 Gpa
Bulk Modulus (typical for steel) 140 Gpa
Poissons Ratio 0.260
Shear Modulus 79.3 Gpa
2.8 Non Destructive Test (NDT)
Non Destructive Test (NDT) adalah tes fisik suatu material atau benda uji
dengan metode tidak merusak benda uji untuk mengetahui cacat pada material
tersebut. Tujuan dari pengujian NDT adalah untuk mendeteksi cacat dengan
prosedur tertentu pada suatu benda oleh seorang operator, Hasil dari pengujian ini
akan menetukan suatu part akan diganti atau tidak tergantung dari jumlah cacat
yang ada yang merujuk pada suatu standar. Non Destructive test (NDT) mempunyai
banyak metode untuk proses pengujiannya,dan diantara metode tersebut tidak ada
yang paling bagus karena dari metode tersebut mempunyai kelebihan masing-
19
masing yang tidak ada dimetode lainnya. Berikut ini beberapa metode yang banyak
digunakan ,diantaranya adalah:
1. Metode Liquid Penetrant
2. Metode Visual Inspection
3. Metode Magnetik Partikel
4. Metode Ultrasonik
5. Metode Radiography
6. Metode Eddy Current
2.9 Dye-Pentrant Test
Uji liquid penetrant merupakan salah satu metode pengujian NDT yang tidak
merusak benda kerja yang realtif mudah dan praktis untuk dilakukan. Uji penetrant
mengetahui diskontinyuitas pada halus pada permukaan seperti retak,berlubang
,dan kebocoran. Prinsipnya metode ini memanfaatkan daya kapilaritas. kapilaritas
merupakan naik atau turunnya permukaan zat cair pada diskontinyuitas .
Diskontinyuitas merupakan ketidak sempurnaan pada material akibat proses
manufaktur, seperti retakan,lubang,kotoran dll.
Gambar 2.5 Prinsip dari cairan penetrant
20
Diskontinyuitas yang mampu dideteksi dengan pengujian ini adalah
diskontinyuitas yang bersifat terbuka dengan prinsip kapilaritas seperti pada
gambar. Deteksi diskontinyuitas pada cara ini tidak terbatas pada ukuran ,bentuk
arah, struktur bahan maupun komposisinya. Liquid penetrant dapat meresap
kedalam celah diskontinyuitas yang sangat kecil. Pengujian penetrant tidak dapat
mendeteksi kedalaman dari diskontinyuitas. Proses ini banyak digunakan untuk
menyelidiki keretakan permukaan (surface cracks), kekeroposan (porosity),
lapisan-lapisan bahan, dll. Penggunaan uji liquid penetrant tidak terbatas pada
logam ferrous dan non ferrous saja tetapi juga pada ceramics, plastic, gelas, dan
benda-benda hasil powder metalurgi.
Gambar 2.6 Proses kapilaritas pada specimen uji
Cacat yang bisa dideteksi keretakan yang bersifat mikro yaitu keretakan yang
mampu dilihat mata telanjang. Cairan penetrant bisa meresap kedalam permukaan
retak kedalam 4 Mikron ( 4x10-6 m ). Pengujian uji liquid penetrant ini sangat
terbatas yakni:
21
1. Keretakan atau kekeroposan yang diselidiki dapat dideteksi apabila keretakan
tersebut terjadi sampai ke permukaan benda. Keretakan di bawah permukaan
(subsurface cracks) tidak dapat dideteksi dengan cara ini.
2. Permukaan yang terlalu kasar atau berpori-pori juga dapat mengakibatkan
indikasi yang palsu.
3. Tidak dianjurkan menyelidiki benda-benda hasil powder metallurgi karena
kurang padat (berpori-pori).
Klasifikasi liquid penetrant berdasarkan pengamatan ada tiga jenis,yaitu:
1. Visible Penetrant
Zat penetrant berwarna merah, hal ini ditunjukkan pada tampilannya yang kontras
terhadap warna developernya (pengembang). Proses ini tidak memerlukan
pencahayaan ultraviolet.
2. Fluorescent Penetrant
Cairan penetran jenis ini biasanya berwarna hijau-kuning dapat berkilau jika
disinari dengan sinar UV. Sensitivitas Fluorescent penetrant bergantung pada
kemampuannya untuk menampilkan diri terhadap cahaya UV yang lemah pada
kondisi ruang gelap atau kurang cahaya.
3. Dual sensivity Penetrant
Jenis ini penetrant ini adalah kombinasi Visible dan Flourescent penetrant memiliki
kelebihan ganda, sehingga dengan dual sensivity dapat diperoleh hasil ketelitian
yang tinggi dan akurat.
22
Tabel 2.4 Kriteria Keberterimaan Pengujian Penentant Test
Adapun indikasi-indikasi uji penetrant dapat diklasifikasikan menjadi golongan
non-relevan dan indikasi relevan. Indikasi non-relevan merupakan yang disebabkan
selain karena diskontinyuitas seperti ketidakteraturan permukaan akibat
permesinan,penggerindaan, atau pengelasan≤ 1,6 mm. Sedangkan indikasi relevan
Indikasi non-relevan merupakan indikasi yang disebabkan oleh adanya
cacat/diskontinyuitas yang muncul pada permukaan dengan ukuran > 1,6 mm. Yang
termasuk indikasi relevan diantaranya adalah
1. Linear Indication
Indikasi linier cacat apabila ukuran panjangnya lebih besar dari tiga kali lebarnya (
L > 3W ).
2. Roundead Indication
Cacat yang berbentuk bulat atau elips dengan panjang kurang atau sama dengan
tiga kalinya lebarnya ( L≤ 3W ). Material tersebut bisa ditolak bila memiliki 4 atau
23
lebih indikasi yang tersusun dalam satu baris ,dengan jarak antara indikasi kurang
dari 1,6 mm.
2.10 Standart Prosedur ASME ( American Society Mechanical Egineering )
Dalam melaksanakan penentrant test kita tidak boleh sembarang
melakukannya, semua ada prosedur dan syarat keberterimaan yang diatur dan
ditentukan oleh Standard dan [Link] pemeriksaan uji cairan penetrant harus
mempersiapkan prosedur yang ditetapkan ASME ,dapat dilihat pada ASME Article
6 Liquid Penetrant Examination ,Adapun prosedur dan standart dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
Tabel 2.5 Prosedur persiapan Dye Penentrant menurut ASME
24
Tabel 2.6 Maksimum dan Minimum prosedur pengujian menurut ASME
Tabel 2.7 Waktu pengujian Dye penentrant menurut ASME
25
Setelah dilakukan tahap pengujian sesuai prosedur ,langkah selanjutnya masuk
ketahap pengamatan indikasi yang terjadi seperti indikasi relevan, indikasi non
relevan , indikasi Linier, indikasi Rounded .Catatan tidak diijinkan adanya latar
belakang atau warna yang timbul sesuai penentrant didaerah yang diperiksa,karena
dikhawatirkan dapat menutup indikasi diskontinyitas yang ada, apabila terjadi hal
ini maka harus dilakukan pengujian ulang.