0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan38 halaman

Asuhan Kebidanan pada Perimenopause

Laporan ini membahas tentang praktik stase asuhan kebidanan komunitas pada Ny. K yang mengalami perimenopause. Laporan ini berisi tentang pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, tindakan, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang dilakukan selama praktik stase.

Diunggah oleh

Safitri fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan38 halaman

Asuhan Kebidanan pada Perimenopause

Laporan ini membahas tentang praktik stase asuhan kebidanan komunitas pada Ny. K yang mengalami perimenopause. Laporan ini berisi tentang pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, tindakan, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang dilakukan selama praktik stase.

Diunggah oleh

Safitri fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIK

STASE ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

Disusun oleh
ANITA MAGDA SARI

NIM : 223001080152

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2023/2024
LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN LENGKAP
STASE ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA Ny. K
DENGAN PERIMENOPAUSE DI PMB ANITA MAGDA SARI, [Link]
TAHUN 2024

Diajukan sebagai salah satu syarat wajib dalam menyelesaikan


Stase Asuhan Kebidanan Komunitas Pada Perimenopause

Jambi, Januari 2024

Disetujui,
CI Akademik

([Link], [Link].,[Link])
NIK. 1010300909059

i
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN LENGKAP
STASE ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA Ny. K
DENGAN PERIMENOPAUSE DI PMB ANITA MAGDA SARI, [Link]
TAHUN 2024

Dipersiapkan dan Disusun Oleh:


Anita Magda Sari
NIM.223001080152

Disetujui,
CI Akademik

([Link], [Link].,[Link])
NIK. 1010300909059

Mengetahui,
Ketua Prodi Pendidikan Profesi Bidan

Bdn. Devi Arista, [Link]., [Link]


NIK. 1010300715008

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan laporan praktek klinik kebidanan ini dapat
diselesaikan.
Laporan praktek klinik kebidanan ini disusun berdasarkan ujian yang telah dilewati yaitu “
Praktek Stase Asuhan Kebidanan Komunitas Pada Ny. K Dengan Perimenopause di BPM
Anita MagdaSari, [Link]”.
Terima kasih kepada pembimbing kami ibu yang telah membimbing dalam
penyusunan laporan praktek klinik kebidanan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun ditujukan demi kesempurnaan laporan
praktek ini. Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi semua pihak.

Jambi, Januari 2024

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ............................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................................. 5
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Perimenopause ................................................................................................... 6
B. Perubahan Hormonal Pada Masa Premenopause................................................ 13
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keluhan Dan Gejala Perimenopause........ 14
D. Keluhan Fisik Yang Dialami Wanita Premenopause.......................................... 17
E. Hal Yang Dilakukan Pada Saat Melewati Masa Premenopause......................... 17
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian .......................................................................................................... 25
B. Interpretasi Data Dasar ....................................................................................... 29
C. Diagnosa Potensial ............................................................................................. 30
D. Tindakan Segera ................................................................................................. 30
E. Intervensi ............................................................................................................ 30
F. Implementasi ...................................................................................................... 30
G. Evaluasi ............................................................................................................. 31
BAB IV PEMBAHASAN......................................................................................... 32
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 36
B. Saran ................................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA
DOKUMENTASI
LEMBAR BIMBINGAN

1
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menua atau menjadi tua adalah suatu proses yang merupakan bagian dari

kehidupan seseorang dan sudah terjadi sejak konsepsi dalam kandungan yang

berlangsung terus sepanjang kehidupan. Usia lanjut mengandung pengertian adanya

perubahan yang progresif pada organisme yang telah mencapai kemasakan, perubahan

ini bersifat umum dan irreversible (tidak dapat kembali). Risiko dari perkembangan

manusia sehingga menjadi tua, salah satunya adalah terjadinya menopause pada

wanita (Suparni & Astutik, 2016).

Menurut World Healh Organization (WHO) tahun 2014 yang menyatakan pada

tahun 2030 jumlah perempuan di seluruh dunia yang memasuki masa menopause

diperkirakan mencapai 1,2 miliar orang (WHO, 2014). Di Indonesia, pada tahun 2025

nanti diperkirakan akan ada sekitar 60 juta wanita menopause dan usia rata-rata

wanita menopause di Indonesia yaitu usia 48 tahun (Depkes, 2016).

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, perempuan Indonesia yang

memasuki menopause sebanyak 7,4 % dari populasi. Dari tahun ketahun populasi

menopause akan mengalami peningkatan. Diperkirakan pada tahun 2015 akan naik

sebesar 14 % atau sekitar 30 juta orang wanita yang akan mengalami menopause

(Depkes, 2009).Umur harapan hidup (UHH) perempuan Indonesia yaitu usia 67

tahun. Perempuan Indonesia yang memasuki masa menopause saat ini sebanyak 7,4

% dari populasi. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 14 % pada tahun

2015. Meningkatnya jumlah penduduk sebagai akibat bertambahnya populasi


3

penduduk usia lanjut dan tingginya usia harapan hidup harus penduduk perempuan

(Kemenkes, 2016).

Premenopause adalah proses alamiah kehidupan seorang perumpuan. Selain

gangguan siklus haid memang menimbulkan gejala-gejala dan keluhan disertai

perubahan secara fisik dan psikis. Gejala yang timbul dari tiga komponen utama

yaitu, menurunnya kegiatan ovarium yang diikuti dengan defisiensi hormonal

terutama esterogen, yang memunculkan berbagai gejala dan tanda menjelang, selama

serta menopause. Faktor-faktor sosial-budaya yang ditentukan oleh lingkungan

perempuan, faktor-faktor psikologis yang tergantung dari struktur karakter per

empuan.

Premenopase adalah masa dimana tubuh mulai bertransisi menuju menopause.

Masa ini biasa terjadi selama 2-8 tahun,dan ditambah 1 tahun di akhir menuju

menopause. Masa premenopase biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun,tetapi

banyak juga yang mengalami perubahan ini saat usia masih dipertengahan 30 tahun

(Lisnani,2010).

Perubahan fisik yang terasa dan menibulkan rasa tidak nyaman adalah adanya

semburan panas (hot flushes) dari dada ke atas yang sering terjadi disusul dengan

keringat banyak. Perbahan dan keluhan lain yang dirasakan lagi seperti berdebar-

debar (palpitis),vertigo,migraine, nafsu seks (libido)menurun, gelisah, lekas marah,

depresi, susah tidur (insomnia),rasa kekurangan, rasa kesunyian,ketakutan keganasan,

tidak sabran,r asa lelah,keropos tulang,nyeri tulang belakang,dan lain-lain.

Perubahan hormonal yang terjadi pada masa menopause akan menimbulkan

gejala fisik dan psikis, sebenarnya hal yang alami dan normal dialami oleh semua

wanita, namun tidak sedikit budaya dan persepsi individual mempengaruhi psikis

masa menopause sehingga gejala yang dirasakan berbeda antar wanita yang
4

mengalami menopause. Sebagian wanita beranggapan, bahwa menopause akan

menimbulkan kecemasan dan kerisauan. Hal ini akan menjadi tekanan dan makin

memberatkan wanita menopause jika wanita tersebut berpikiran negative dan tidak

mendapatkan dukungan dari orang terdekat. Ada beberapa factor yang berhubungan

dengan kecemasa saat menghadapi menopause yaitu kehidupan secara social,

kebiasaan lingkungan, ekonomi, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga dan gaya

hidup (Wibowo & Nadhilah, 2020: 1-2).

Wanita dengan usia menopause agar kehidupannya berlangsung dalam

kepuasan dan kebahagiaan serta kesejahteraan, maka diperlukan adanya persiapan

sejak dini untuk menjaga kesehatan sesuai dengan pengetahuan yang memadai.

Dalam hal kesehatan perlu juga adanya persiapan terhadap datangnya proses

menopause yang tidak bisa dihindari. Resiko timbulnya keluhan bisa menurun jika

mempersiapkan diri secara fisik maupun psikis sejak jauh-jauh hari sebelumnya,

kalau kemudian keluhan tetap ada dengan persiapan diri yang lebih baik lagi, artinya

segala perubahan yang akan dialami dapat lebih diterima dengan bijaksana. Salah satu

persiapan yang penting yaitu dengan mengenal apa, mengapa dan bagaimana

sebenarnya proses kejadian menopause itu terjadi, dengan demikian masa menopause

dapat dijalani dengan lebih baik secara fisik maupun psikis sehingga setiap wanita

dapat menjalani hari-harinya dengan kualitas hidup yang lebih baik ( Rosyada dkk,

2016:242).

Klimakterium, yaitu merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dengan

masa senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pramenopause, antara usia 40

tahun(Setyorini, 2016: 49). Masa ini ditandai dengan dengan berbagai macam keluhan

endokrinologis dan vegetatif. Keluhan tersebut terutama dibebabkan oleh menurunnya


5

fungsi ovarium yaitu berhentinya menstruasi pada seorang wanita yang dikenal

sebagai menopause (Sihotang & Sarlis, 2018).

Perimenopause adalah waktu antara segera sebelum menopause (terjadi

perubahan gambaran endokrinologik, biologik dan klinik) dan satu tahun sesudah

menopause. Perimenopause juga merupakan periode dengan keluhan memuncak

dengan rentangan 1-2 tahun sebelum dan 1-2 tahun sesudah menopause, masa wanita

mengalami akhir dari datangnya haid sampai berhenti sama sekali, pada masa ini

menopause masih berlangsung (Ambarwati, 2015: 332).

Menurut data dari WHO (2012) (World Health Organization),setiap tahunnya

sekitar 25 wanita diseluruh dunia diperkirakan mengalami menopause. sekitar 467

juta wanita berusia 50 tahun keatas menghabiska hidupnya dalam keadaan pasca

menopause, dan 40 % dari wanita pasca menopause tersebut tinggal dinegara

berkembang dengan usia rata-rata mengalami menopause pada usia 51 tahun.

Menurut WHO,di asia pada tahun 2025 jumlah wanita menopause akan melunjak dari

107 juta jiwa. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012

mengenai premenopause terdapat 4,3 juta seluruh jumlah penduduk Indonesia yang

sebesar 240 -250 juta pada tahun 2012. Dalam kategori wanita tersebut (USIA dari

46-49 tahun) 18 % wanita Indonesia telah mengalami premenopause dengan segala

akibat serta dampak yang menyertainya (Depkes RI, 2012).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Dapat memahami manajemen asuhan kebidanan perimenopause melalui

manajemen 7 langkah varney di PMB Anita Magda Sari,[Link].


6

2. Tujuan Khusus

a. Dilakukan pengkajian pola ibu perimenopause di PMB Anita Magda

Sari,[Link].

b. Dirumuskan diagnosa/masalah actual yang terjadi pada perimenopause PMB

Anita Magda Sari,[Link].

c. Dirumuskan diagnosa/masalah potensial yang terjadi pada perimenopause

PMB Anita Magda Sari,[Link].

d. Dilakukan tindakan segera dan kolaborasi pada ibu perimenopause PMB

Anita Magda Sari,[Link].

e. Ditetapkannya rencana tindakan asuhan kebidanan pada ibu perimenopause

PMB Anita Magda Sari,[Link].

f. Dilaksanakan rencana tindakan pada ibu perimenopause PMB Anita Magda

Sari,[Link].

g. Diketahuinya hasil tindakan asuhan yang disusun pada ibu perimenopause

PMB Anita Magda Sari,[Link].


BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PERIMENOPAUSE
1. Pengertian
Premenopause merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa
senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pra menopause, antara usia 45-55
tahun,ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan pendarahan haid
yang memanjang dan relative banyak. Premenopause merupakan bagian dari
masa klimakterium yang terjadi sebelum premenopause (kusmiran, 2011 ).
Premeopause adalah masa sekitar usia 46-50 thn dengan dimulainya dengan
siklus haid yang tidak teratur, memanjang, sedikit atau banyak, yang kadan
kadang disertai dengan rasa nyeri. Pada beberapa wanita telah muncul keluhan
vasomotorik atau keluhan sindrom prahaid. Dari hasil analisa hormonal dapat
ditemukan kadar FSH dan estrogen yang tinggi atau normal. Kadar FSH yang
tinggi dapat menyebabkan terjadinya stimulasi ovarium yang berlebihan
( hiperstimulasi ), sehingga kadangkadang dijumpai kadar estrogen yang tinggi.
Keluhan yang muncul dapat disebabka karena hormon yang normal maupun
tinggi. Sedangkan keluhan yang muncul pada masa pascamenopause disebabkan
karena kadar hormon yang rendah.
Premenopause merupakan masa sebelum menopause dimana mulai terjadi
perubahan endokrin,biologis, dan gejala klinik sebagai awal perubahan dari
menopause dan mencakup juga satu tahun atau dua belas bulan pertama setelah
terjadi menopause. Perubahan premenopause dan proses penuaan itu diantaranya
seperti seperti perubahan pola pendarahan, hot flash, gangguan tidur, perubahan
atropik, perubahan psikologi, perubahan berat badan, perubahan kulit, seksualitas
dan perubahan fungsi tiroid (varney, 2009).
Premenopause merupakan periode menuju menopause (ketika muncul
keluhan/gejala endokrin, biologis, dan manifestasi klinik dari menopause) dan
satu tahun setelah menopause terjadi. Transisi menopause/ menopausal transition;
periode atau waktu sebelum haid terakhir (Final Menstrual Period/FMP) ketika
terjadi perubahan siklus menstruasi.

6
7

Premenopause adalah istilah yang digunakan untuk masa reproduktif sampai


dengan terjadinya FMP. Meskipun WHO telah membuat definisi yang telah
diterima luas, namun untuk mempermudah kepentingan klinis dan riset maka
pada tahun 2011 Stage of Reproductive Aging Workshop (STRAW)
mengadakan workshop dan membagi masa transisi menopause ke dalam
beberapa fase.

2. Fisologis premenopause
Proses menjadi tua pada dasarnya telah dimulai ketika sorang wanita
memasuki usia 40 tahun. Pada waktu lahir, seorang wanita memiliki jumlah
folikel sebanyak ± 750.000 buah dan jumlah ini akan terus berkurang seiring
berjalannya usia hingga akhirnya tinggal beberapa ribu buah saja ketika
mengalami menopause. Semakin bertambah usia, khususnya ketika memasuki
masa perimenopause, folikel-folikel itu akan mengalami peningkatan resistensi
terhadap rangsangan gonadotropin. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan folikel,
ovulasi, dan pembentukan korpus luteum dalam siklus ovarium berhenti secara
perlahan-lahan. Pada wanita diatas 40 tahun, 25% diantaranya mengalami siklus
haid yang anovulatoar. Resistensi folikel terhadap gonadotropin ini
mengakibatkan penurunan peroduksi estrogen dan peningkatan kadar hormon
gonadotropin. Tingginya kadar gonadotropin ini menyebabkan rendahnya
estrogen sehingga tidak ada umpan balik negatif dalam poros hipotalamus dan
hipofisis. Walaupun secara endrokinologi terjadi perubahan hormonal, namun
tidak ada kriteria khusus pengukuran kadar hormon untuk menentukan fase awal
atau akhir dari masa transisi menopause.
Penyebab menopause adalah “matinya” (burning out) ovarium. Sepanjang
kehidupan seksual seorang wanita, kira-kira 400 folikel primordial tumbuh
menjadi folikel matang dan berovulasi, dan beratusratus dari ribuan ovum
berdegenerasi. Pada usia sekitar 45 tahun, hanya tinggal beberapa folikel-folikel
primordial yang akan dirangsang oleh FSH dan LH, dan produksi estrogen dari
ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol. Ketika
produksi estrogen turun di bawah nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat
produksi gonadotropin FSH dan LH. Sebaliknya, gonadotropin FSH dan LH
(terutama FSH) diproduksi sesudah menopause dalam jumlah besar dan kontinu,
8

tetapi ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi estrogen
oleh ovarium turun secara nyata menjadi nol (Guyton, 2011).
Bertolak belakang dengan keyakinan umum, kadar estrogen perempuan
sering relatif stabil atau bahkan meningkat di masa pramenopause. Kadar itu
tidak berkurang selama kurang dari satu tahun sebelum periode menstruasi
terakhir. Sebelum menopause, estrogen utama yang dihasilkan tubuh seorang
wanita adalah estradiol. Namun selama masa premenopause, tubuh wanita mulai
menghasilkan lebih banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang dinamakan
estron, yang dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak tubuh. Kadar
testosteron biasanya tidak turun secara nyata selama pramenopause.
Kenyataannya, indung telur pascamenopause dari kebanyakan wanita
mengeluarkan testosterone lebih banyak daripada indung telur pramenopause.
(Wijayanti, 2009).
Menurut Fritz (2010), kadar estradiol serum pada wanita pasca menopause
sekitar 10-20pg/mL dan sebagian besar merupakan hasil konversi estron, yang
diperoleh dari konversi perifer androstenedion. Kadar estrogen pada wanita
menopause sangat bergantung dari konversi androstenedion dan testosteron
menjadi estrogen. Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa kadar
testosteron dalam sirkulasi tidak berubah sejak 5 tahun sebelum menopause
hingga 7 tahun setelah menopause. Androstenedion adalah androgen utama yang
dikeluarkan oleh folikel yang sedang berkembang. Dengan terhentinya
perkembangan folikuler pada wanita pascamenopause, kadar androstenedion
turun 50%. Setelah menopause, hanya 20% androstenedion yang disekresi oleh
ovarium. Dehidroepiandrosteron (DHEA) dan dehidroepiandrosteron sulfat
(DHEAS) terutama dihasilkan oleh kelenjar adrenal (<25% oleh ovarium).
Dengan penuaan, produksi DHEA turun 60% dan DHEAS turun 80%. Berat
badan memiliki korelasi yang positif dengan kadar estron dan estradiol di
sirkulasi dengan adanya konversi androstenedion menjadi estrogen, namun
dengan penuaan, kontribusi adrenal sebagai prekursor produksi estrogen menjadi
tidak adekuat. Hubungan kadar hormon estrogen dengan usia digambarkan pada
grafik dibawah ini:
9

3. Patofisiologi Sindroma Perimenopause


Sindrom perimenopause adalah sekumpulan gejala dan tanda yang terjadi
pada masa perimenopause. Kurang lebih 70% wanita usia peri dan
pascamenopause mengalami keluhan vasomotor, keluhan psikis, depresi, dan
keluhan lainnya dengan derajat berat-ringan yang berbeda-beda pada setiap
individu. Keluhan tersebut akan mencapai puncaknya pada saat menjelang dan
setelah menopause kemuadian berangsur-angsur berkurang seiring dengan
bartambahnya usia dan tecapainya keseimbangan hormon pada masa senium
a. Keluhan dan Gejala Vasomotor
Keluhan vasomotor yang dijumpai berupa perasaan/semburan panas
(hot flushes) yang muncul secara tiba-tiba dan kemudian disertai keringat yang
banyak. Keluhan ini muncul di malam hari dan menjelang pagi kemudian
perlahan-lahan akan dirasakan juga pada siang hari. Semburan panas ini mula-
mula dirasakan di daerah kepala, leher, dan dada. Kulit di area tersebut terlihat
kemerahan, namun suhu badan tetap normal meskipun pasien merasakan
panas. Segera setelah panas, area yang dirasakan panas tersebut mengeluarkan
keringat (night sweats)dalam jumlah yang banyak pada bagian tubuh terutama
seluruh kepala, leher, dada bagian atas, dan punggung. Selain itu, dapat juga
diikuti dengan adanya sakit kepala, vertigo, perasaan kurang nyaman, dan
palpitasi.
Hot flushes pada wanita dalam masa transisi menopause ratarata mulai
dirasakan 2 tahun sebelum Final Menstrual Period (FMP) dan 85 persen
wanita akan terus mengalaminya setidaknya selama 2 tahun. Diantara wanita
tersebut, 25 sampai 50 persen mengalami hot flusehes selama 2 tahun, bahkan
ada yang lebih dari 15 tahun.3 Durasi tiap episode serangan hot flushes
bervariasi, hingga mencapai 10 menit lamanya, dengan rata-rata durasi
serangan 10 menit. Frekuensi hot flushes setiap harinya bervariasi antar
individu, dimulai 1-2 kali per jam. Pada kondisi yang berat, frekuensinya dapat
mencapai 20 kali sehari. Selain itu, jika muncul pada malam hari hal ini dapat
mengganggu kualitas tidur sehingga cenderung menjadi cepat lelah dan mudah
tersinggung. Hot flushes dapat diperberat dengan adanya stres, alkohol, kopi,
makanan dan minuman yang panas. Hal ini juga dapat terjadi karena reaksi
10

alergi pada kasus hipertiroid, akibat obatobatan tertentu seperti insulin, niacin,
nifedipin, nitrogliserin, kalsitonin, dan antiestrogen.
Mekanisme pasti patogenesis keluhan vasomotor belum diketahui tapi
data yang berhubungan dengan fisiologi dan behavior menunjukkan bahwa
keluhan vasomotor dihasilkan karena adanya defek fungsi pada pusat
termoregulasi di hipotalamus. Pada area preoptik medial hipotalamus terdapat
nukleus yang merupakan termoregulator yang mengatur pengeluaran keringat
dan vasodilatasi yang merupakan mekanisme primer pengeluaran panas tubuh.
Oleh karena keluhan vasomotor muncul setelah terjadinya menopause
alami atau pasca ooforektomi, maka diperkirakan mekanisme yang
mendasarinya adalah bersifat endokrinologi dan berhubungan dengan
berkurangnya jumlah estrogen di ovarium maupun meningkatnya sekresi
gonadrotropin oleh pituitari. Selain itu, besar kemungkinan keluhan ini timbul
karena interaksi antara hormon estrogen dan progesteron yang fluktuatif pada
masa perimenopause.
Keluhan vasomotor dapat muncul pada kondisi kadar estrogen tinggi,
rendah, maupun normal dalam darah. Keluhan vasomotor muncul sebagai
akibat reaksi withdrawl estrogen.
Meskipun estrogen memiliki efek yang signifikan terhadap munculnya
hot flushes, namun masih terdapat faktor lain yang diperkirakan terlibat dalam
patofisiologi hot flushes. Perubahan kadar
neurotransmiter akan mempersempit zona termoregulasi di
hipotalamus dan menurunkan pengeluaran keringat, bahkan perubahan suhu
tubuh yang sangat kecil pun dapat memicu mekanisme pelepasan panas.
Norepinefrin merupakan neurotransmiter utama yang dapat mempersempit
titik pengaturan (setpoint) termoregulasi dan memicu mekanisme pengeluaran
panas tubuh yang berhubungan dengan hot flushes. Sebagaimana diketahui,
estrogen mengatur reseptor adrenergik pada banyak jaringan. Pada saat
menopause, terjadi penurunan kadar estrogen dan resptor α2 adrenergik di
hipotalamus. Penurunan reseptor α2 adrenergik presinaps akan memicu
peningkatan norepinefrin dan yang selanjutnya akan menyebabkan gejala
vasomotor. Selain itu, penurunan α2 adrenergik reseptor presinaps juga akan
11

memicu peningkatan serotonin yang mengakibatkan mekanisme pengeluaran


panas yang dipicu oleh perubahan suhu tubuh meski sangat kecil.
b. Keluhan dan Gejala Urogenital
Alat genital wanita serta saluran kemih bagian bawah merupakan organ
yang sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Reseptor estrogen dan
progesteron teridentifikasi di vulva, vagina, kandung kemih, uretra, otot dasar
pelvis serta fasia endopelvis. Struktur tersebut memilki sebuah persamaan
kemampuan untuk mereaksi perubahan hormonal sebagaimana pada kondisi
menopause dan nifas.
Epitel uretra dan trigonum vesika mengalami atrofi. Hal ini akan
menimbulkan uretritis, sistitis, atau kolpitis, sering berkemih dan inkontinensia
urin serta adanya infeksi saluran kemih. Terdapat juga gangguan miksi berupa
disuri, polakisuri, nikturi, rasa ingin berkemih hebat, atau urin yang tertahan,
hal ini sangat erat kaitannya dengan atrofi mukosa uretra.
Pada usia perimenopause ini, serviks mengalami proses involusi,
berkerut, sel epitelnya menipis sehingga mudah cedera. Kelenjar endoservikal
mengalami atrofi sehingga lendir serviks yang diproduksi berkurang
jumlahnya. Tanpa efek lokal estrogen vagina akan kehilangan kolagen,
jaringan lemak dan kemampuan untuk menahan [Link] vagina
menyusut, rugae menjadi mendatar, dan akan nampak merah muda pucat.
Permukaan epitel vagina menipis hingga beberapa lapis sel sehingga
mengurangi rasio sel permukaan dan sel basal. Pada akhirnya, vagina menjadi
lebih rapuh, kering dan mudah berndarah dengan trauma minimal. Pembuluh
darah di vagina menyempit sehingga seiring berjalannya waktu vagina akan
terus menegang dan kehilangan fleksibilitasnya. Saat seorang wanita
memasuki usia perimenopause, pH vagina akan meningkat karena
menurunnya estrogen, dan akan terus meningkat pada masa post menopause
sehingga mangakibatkan mudahnya terjadi infeksi oleh bakteri trikomonas,
kandida albikan, stafilo dan streptokokus, serta bakteri coli bahkan gonokokus.
Adanya hormon estrogen akan membuat pH vagina menjadi asam sehingga
memicu sintesis Nitrit oksid (NO) yang memiliki sifat antibakteri dan hanya
dapat diproduksi bilamana pH vagina kurang dari 4,5. Selain bersifat
bakterisid, NO di vagina juga bersifat radikal bebas bagi sel-sel tumor dan
12

kanker. Akibat perubahan ini, maka terjadi kekeringan vagina, iritasi,


dispareuni, dan rekurensi infeksi saluran kemih.
c. Keluhan dan Gejala Psikologis
Suasana hati, perilaku, fungsi kognitif, fungsi sensorik, dan kerja
susunan saraf pusat dipengaruhi oleh hormon steroid seks. Apabila timbul
perubahan pada hormon ini maka akan timbul keluhan psikis dan perubahan
fungsi kognitif. Berkurangnya sirkulasi darah ke otak juga mempersulit
konsentrasi sehingga mudah lupa. Pada akhirnya, akibat berkurangnya hormon
steroid seks ini, pada wanita perimenopause dapat terjadi keluhan seperti
mudah tersinggung, cepat marah, perasaan tertekan. Pada dasarnya kejadian
depresi pada pria dan wanita memiliki angka perbandingan yang sama, akan
tetapi dengan terapi pemberian estrogen keluhan depresi dapat ditekan. Oleh
karena itu, estrogen dianggap sebagai salah satu faktor predisposisi terjadinya
depresi. Penyebab depresi diduga akibat meningkatnya aktivitas serotonin di
otak. Estrogen akan menghambat aktivitas enzim monoamin oksidase (MAO),
suatu enzim yang menonaktifkan serotonin dan noradrenalin. Berkurangnya
jumlah estrogen akan berdampak pada berkurangnya jumlah MAO dalam
plasma. Pemberian serotonin-antagonis dapat mengurangi keluhan depresi
pada wanita pascamenopause.
Masa transisi menopause memiliki permasalahan sosiokultural yang
kompleks sebagaimana perunahan hormonal yang terjadi. Faktor psikososial
dapat mempengruhi gejala perubahan mood dan kognitif, bahkan sejak
memasuki masa transisi menopause, wanita telah menghadapi berbagai
tekanan seperti halnya penyakit yang dihadapi, merawat orang tua, perceraian,
perubahan karir dan pensiun. Budaya barat yang menitik beratkan pada
kecantikan dan kemudaan menjadi stressor bagi wanita yang tengah menjadi
tua untuk merasa kehilangan status, fungsi, dan kendali diri.
d. Keluhan Gangguan Haid
1) Polimenorea
Adalah siklus haid yang lebih pendek yaitu kurang dari 21 hari.
2) Oligomenorea
Adalah haid dengan siklus yang lebih panjang yaitu lebih dari 35 hari.
3) Amenorea
13

Adalah tidak terjadinya haid pada wanita pada kurun waktu tertentu.
4) Hipermenorea ( menoregia)
Adalah perdarahan haid dengan jumlah darah yang lebih banyak dan atau
lamanya lebih lama dari normal dari siklus yang teratur.
5) Hipomenorea
Adalah perdarahan haid dengan jumlah darah lebih sedikit dan atau
lamanya lebih pendek dari normal.

B. PERUBAHAN HORMONAL PADA MASA PREMENOPAUSE


Transisi menopause dikarakteristik oleh kadar estrogen yang berfluktuasi, siklus
menstruasi yang tidak regular, dan kadang-kadang terdapat gabungan manifestasi
klinis kelebihan dan defisiensi estrogen. Karena itu, selama satu minggu wanita bisa
mengeluh mastalgia dan perdarahan yang parah dan minggu berikutnya, mengalami
gejala klinis vasomotor, gangguan tidur dan kelelahan sebagai akibat dari insufisiensi
estrogen. Perubahan hormonal ini memiliki dampak pada hasrat seksual wanita dan
kapasitas untuk mencapai orgasme. Selama masa perimenopause, wanita biasanya
mengeluhkan kekeringan vagina berhubungan dengan aktifitas seksual. Tanda ini
merupakan tanda dari kegagalan untuk orgasme dan lubrikasi, tetapi bukan karena
insufisiensi estrogen.
Pada saat premenopause terjadinya penurunan jumlah folikel ovarium, sehingga
menyebabkan penurunan produksi estrogen. Terjadi peningkatan Serum Gonadotropin
yang menyebabkan FSH dan LH meningkat juga. Peningkatan FSH ini akan terjad
beberapa tahun sebelum terjadinya menopause. Peningkatan FSH akan menurunkan
Inhibin B sehingga dapat menurunkan jumlah folikel di ovarium. Estrogen tidak akan
hilang sampai akhir dari masa perimenopause dan hal ini merupakan suatu respon dari
peningkatan konsentrasi FSH. Akibat dari fluktuatifnya hormon selama periode
transisi ini, yaitu dari premenopause sampai menopause maka, pengukuran untuk FSH
dan estradiol tidak memiliki nilai yang reliabel dalam pada penentuan status
menopause.
Berlawanan dengan penurunan estrogen selama masa menopause, kadar
testosteron tidak berubah tiba-tiba selama masa transisi menopause, tetapi menurun
secara progresif seiring dengan usia dari tahun pertengahan reproduksi. Setelah
menopause hormon yang mengalami perubahan terdiri dari empat, yaitu androgen,
14

estrogen, progesteron dan gonadotropin. Sekitar 50% androstenedion yang beredar


mengalami penurunan.
Androgen adrenal akan berkurang sebanyak 60-80% sesuai dengan umur.
Penurunan testosteron lebih minimal. Terjadi konversi dari androstenedion sebanyak
14%, tetapi mayoritas diproduksi oleh sel stroma hilar dan terluteinisasi di dalam
ovarium yang berespon terhadap meningkatnya gonadotropin.
Peningkatannya relatif terjadi pada testosteron dibandingkan androgen lain.
Peningkatan relatif testosteron dibandingkan androgen lain mungkin menyebabkan
berkurangnya garis rambut, suara serak dan rambut di wajah kadang-kadang dapat
dilihat pada wanita-wanita yang lebih tua.

Estron merupakan estrogen saat menopause, paling banyak diproduksi oleh


adrenal- meskipun konversi perifer dari androstenedion meningkat dua kali. Sebagian
estron dan testosteron secara perifer mengalami konversi menjadi estradiol. Hentinya
ovulasi menyebabkan penurunan progesteron karena tidak adanya produksi dari
korpus luteum lagi.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUHAN DAN GEJALA


PERIMENOPAUSE
1. Aktifitas fisik
Tingkat aktifitas fisik berbanding terbalik dengan kadar estradiol pada
wanita di akhir transisi menopause. Tingkat aktifitas juga berbanding terbalik
dengan kadar hormon testoteron. Semakin tinggi tingkat aktifitas fisik maka
kadar estradiol dan testoteron pada wanita yang mengalami masa transisi
menopause akan semakin rendah. Adapaun hormon lainnya tidak terpengaruh
secara signifikan oleh aktifitas fisik yaitu luteinizing hormone (LH) dan follicle-
stimulating hormone (FSH). Dan hal ini juga berkaitan dengan gejala pada masa
transisi menopause.
2. Jumlah kelahiran
Wanita nullipara akan memasuki masa peimenopause lebih awal dibandingkan
dengan wanita multipara. usia premenopause berkisar antara 46 sampai 50 tahun.
15

3. Oophorectomy
Wanita yang mangalami oophorectomy unilateral akan mengalami perimenopause
lebih
4. Siklus haid
Wanita dengan siklus haid yang akan memendek lebih awal memasuki masa
perimenopause.
5. Faktor sosial ekonomi
Insiden sindroma perimenopause 1,75 kali lebih tinggi dan umur rata-rata
dimulainya perimenopause 1,2 tahun lebih muda pada wanita yang memiliki
riwayat keadaan ekonomi yang sulit di masa kanak-kanak dan dewasa dalam
hidupnya bila dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami kesulitan
ekonomi dalam hidupnya. Kesulitan ekonomi seumur hidup dapat mempengaruhi
fungsi ovarium lebih kuat daripada kesulitan ekonomi pada masa kanak-kanak
atau dewasa saja21. Pada wanita yang tidak bekerja dan memiliki tingkat
pendidikan yang lebih rendah memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian
menopause lebih awal. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang lemah tersebut
menjadi faktor pemicu stres fisik dan sosial yang berhubungan dengan amenorea
dan disfungsi seksual.
6. Indeks masa tubuh
Sebuah penelitian pada wanita Spanyol menunjukkan bahwa obesitas
berhubungan dengan munculnya gejala menopause yang berat. Indeks masa tubuh
yang tinggi merupakan faktor predisposisi bagi seorang wanita untuk lebih sering
mengalami hot flushes.
Pada fase premenopause wanita yang mengalami obesitas memiliki kadar hormon
estradiol dan inhibin B yang secara signifikan lebih rendah daripada wanita yang
tidak mengalami obesitas. Kadar FSH pada wanita obesitas secara signifikan lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami obesitas. Namun pada
fase akhir transisi menopause ekadar estradiol lebih tinggi pada kelompok wanita
yang obesitas. Pada wanita postmenopause kadar FSH yang lebih rendah
ditemukan pada kelompok wanita yang obesitas dibandingkan kelompok wanita
yang tidak obesitas. Obesitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi
perubahan hormonal selama masa transisi menopause yang tergantung pada umur,
ras, dan merokok. Namun mekanisme hal ini masih belum
16

begitu jelas.
Sebuah penelitian cross sectional dengan survey terhadap populasi menemukan
bahwa merokok dan BMI yang tinggi dapat memicu seorang wanita untuk
mengalami hot flushes lebih sering dan lebih berat23. Penelitian lain menunjukkan
wanita dengan Indeks Masa Tubuh 32kg/m2 lebih sering mengalami hot flushes
dibanding kan dengan wanita yang memiliki Indeks Masa Tubuh kurang dari
19kg/m2.
Hubungan antara hot flushes dan indeks masa tubuh mungkin hanya pada wanita
yang usianya lebih muda yaitu di awal memasuki masa transisi menopause atau
sepanjang masa transisi perimenopause (46-50 tahun). Di sisi lain, indeks masa
tubuh yang tinggi dapat menjadi faktor pelindung terhadap hot flushes pada
wanita yang usianya lebih tua (usia 51-60) atau postmenopause dimana kadar
estrogen telah berkurang secara nyata dibandingkan wanita pada masa transisi
menopause. Hal ini dikarenakan adanya konversi androgen menjadi estrogen pada
jaringan lemak. Hipotesis klinis yang telah diterima secara luas adalah wanita
dengan berat badan yang lebih rendah akan mengalami hot flushes lebih sering
dibandingkan dengan wanita yang lebih gemuk.
7. Merokok
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa merokok memiliki hubungan positif
dengan gejala vasomotor. Merokok dapat memicu seorang wanita untuk
mengalami hot flushes lebih sering dan lebih berat. Pada wanita mantan perokok,
tidak memiliki peningkatan resiko untuk mengalami hot flushes sedang atau berat
apabila dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah merokok sama sekali.
Namun demikian, peningkatan resiko mengalami hot flushes ditemukan secara
bermakna pada wanita yang masih merokok di saat masa transisi menopause.
8. Status Perkawinan
Sebuah penelitian menemukan bahwa gejala kekeringan vagina secara signifikan
lebih ringan sebagaimana sering dilaporkan pada wanita yang belum menikah,
janda, dan wanita yang bercerai apabila dibandingkan dengan wanita yang
menikah atau masih memiliki suami.

D. KELUHAN FISIK YANG DIALAMI WANITA PREMENOPAUSE


1. Ketidak teraturan siklus haid
17

Disini siklus pendarahan yang keluar dari vagina tidak teratur. Pendarahan seperti
ini terjadi terutama diawal [Link] akan terjadi dalam rentang
waktu bebarapa bulan yang kemudian akan berhenti sama sekali. Gejala ini disebut
gejala peralihan .
2. Kekeringan vagina
Gejala pada vagina muncul akibat perubahan yang terjadi pada lapisan dinsing
[Link] menjadi kering dan kurang elastis. Isi disebabkan karena penurunan
kadar esterogen. Tidak hanya itu, juga muncul rasa gatal pada vagina. Yang lebih
parah lagi adalah rasa sakit saat berhubungan seksual, karena erubahan pada
vagina, maka wanita menopause biasanya rentan terhadap infeksi vagina.
Intercourse yang terjadi teratur akan menjaga kelembapan alat kelamin.
Kekeringan vagina terjadi karena leher Rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.
Penyebabnta adalah kekuranagn esterom yang menyebabkan liang,vagina menjadi
lebih tipis,lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamian mulai
mengerut,keputihan,rasa sakit pada saat kencing (Aqila 2010)

E. HAL YANG DILAKUKAN PADA SAAT MELEWATI MASA


PREMENOPAUSE
1. Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah dan sayur
2. Berolahraga teratur
3. Makanan yang baik dan bergizi
4. Melakukan hobi
5. Mengurangi mengkosumsi kopi, the, meniman soda dan alcohol
6. Menghindari rokok
7. Tetaplah berkarya dan usahakan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
8. Berfikir bahwa menopause itu adalah sesuatu yang wajar
9. Terlibat dalam aktivitas-aktivitas keagamaan dan sosial.
[Link] dengan teman bersama untuk bertukar fikiran
[Link] masalah dengan pasangan
[Link] ibadah (Aqila, 2010).
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA PERIMENOPAUSE PADA NY.K


UMUR 40 TAHUN DI PMB ANITA MAGDA SARI,[Link]

Pengkajian Tanggal : 12 Januari 2024


Jam : 10:00 WIB
Tempat : PMB Anita Magda Sari,[Link]

1. PENGKAJIAN
1. DATA SUBJEKTIF
A. IDENTITAS
Identitas Ibu Identitas Suami
Nama Ny. K Tn. S
Umur 46 Thn 49 Thn
Agama Islam Islam
Suku/bangsa Jawa Jawa
Pendidikan SMA SMK
Pekerjaan IRT Wiraswasta
Alamat Rt.08 Desa Jati Emas Rt.08 Desa Jati Emas

B. KELUHAN UTAMA
Ibu mengatakan haid tidak teratur sudah 1 tahun terakhir
Ibu mengatakan akhir-akhir ini merasakan nyeri pada tulang sendi
C. RIWAYAT PERKAWINAN
Kawin
D. RIWAYAT HAID
1. Menarche : 13 tahun
2. Siklus : 28-30 hari
3. Teratur/tidak : ya
4. Lamanya : 5-6 hari
5. Banyaknya : 2-3 x ganti pembalut sehari
25
26

6. Dismenorhea : tidak ada


E. RIWAYAT GINEKOLOGI
1. Perdarahan di luar haid : Tidak ada
2. Riwayat keputihan : Tidak ada
3. Riwayat perdarahan setelah berhubungan badan : Tidak ada
4. Riwayat nyeri saat berhubungan badan : Tidak ada
5. Riwayat adanya massa, tumor pada payudara dan alat kandungan : Tidak ada
6. Lain-lain : Tidak ada
F. RIWAYAT OBSTETRI
Hamil 3 kali, melahirkan 3 kali, abortus tidak ada dan anak hidup 3.
G. RIWAYAT KELUARGA BERENCANA
1. Jenis : kb suntik 3 bulan
Kb pil
Kb suntik 1 bulan
alami
2. Lama : 5 tahun
2 tahun
4 tahun
6 tahun
3. Masalah : tidak ada
H. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat Kesehatan : Tidak ada penyakit
2. Riwayat Kesehatan Keluarga : tidak ada penyakit
I. POLA KEBUTUHAN SEHARI-HARI
1. NUTRISI
a. Jenis yang dikonsumsi : nasi, sayur lauk-pauk
b. Frekuensi : 3x sehari
c. Porsi makan : 1 piring/ porsi
d. Pantangan : tidak ada
2. ELEMINASI (BAK)
a. Frekuensi : 4-5 kali/hari
b. Konsistensi : cair
c. Warna : bening kekuningan
27

3. ELIMINASI (BAB)
a. Frekuensi : 1-2 kali/hari
b. Konsistensi : padat lembek
c. Warna : coklat kekuningan
4. PERSONAL HYGIENE
a. Frekuensi mandi : 3-4 kali/hari
b. Frekuensi gosok gigi : 3-4 kali/hari
c. Frekuensi ganti pakaian /jenis : 4-5 kali perhari/ katun
5. AKTIFITAS
Mengerjakan pekerjaan rumah seperti, memasak, menyapu, mencuci, dll
6. TIDUR DAN ISTIRAHAT
Tidur siang 1 jam dan tidur malam 7 jam per hari
7. POLA SEKSUAL
1 kali seminggu

J. DATA PSIKOSOSISL DAN SPIRITUAL


1. Tanggapan ibu terhadap dirinya : ibu merasa tidak nyaman dengan perubahan
hormon yang dirasakan saat ini
2. Ketaatan ibu beribadah : ibu mengatakan mengerjakan sholat 5 waktu dan
mengikuti pengajian di lingkungannya.
3. Pengetahuan ibu tentang penyakit yang diderita : ibu mengatakan mengetahui
bahwa ia akan memasuki masa menopause karena menstruasinya yang sudah
tidak teratur.
4. Hubungan sosial ibu dengan keluarga : ibu mengatakan hubungan dengan
keluarganya baik-baik saja
5. Penentu pengambilan keputusan dalam keluarga : ibu mengatakan suami sebagai
penentu pengambilan keputusan dalam keluarga

2. DATA OBJEKTIF
A. PEMERIKSAAN UMUM
1) Keadaan Umum : baik
2) Kesadaran : compos mentis
28

3) Berat badan :54 kg


4) Tinggi badan : 148cm
5) Tanda Vital : TD= 130/80mmHg, S= 37,5OC, N= 82x/menit, RR=20x/mnt
B. PEMERIKSAAN KHUSUS
1) Kepala
a) Rambut
Warna : kehitaman
Kebersihan : bersih tidak berketombe
Rontok/tidak : tidak
b) Telinga
Kebersihan : bersih tidak ada kotoran
Gangguan pendengaran : tidak ada
c) Mata
Konjungtiva : kemerahan
Sklera : normal
Kebersihan : bersih
Kelainan : tidak ada
Gangguan penglihtan : tidak ada
d) Hidung
Kebersihan : bersih
Polip : tidak ada
e) Mulut
Warna bibir : pink/ normal
Intergritas Jaringan : normal
Kebersihan lidah : bersih
Gangguan pada mulut : tidak ada
2) Leher
Pembesaran kelenjar limfe : tidak ada
3) Dada
Simetris/tidak : simetris
Besar payudara simetris/tidak : simetris
Nyeri : tidak
4) Perut
29

Bentuk : normal
Bekas luka operasi : tidak ada
5) Ekstremitas
a) Atas
Kelainan : tidak ada, jari tangan lengkap 10 jari
Kebersihan : bersih
b) Bawah
Kelainan : tidak ada, jari kaki lengkap 10 jari
Kebersihan : bersih
Reflek patella: baik
6) Genital
Kebersihan : bersih
Pengeluaran pervaginam : tidak ada
Tanda infeksi vagina: tidak ada
7) Anus
Hemoroid : tidak ada
Kebersihan : bersih

II. INTERPRETASI DATA


Tanggal : 12 Januari 2024 Pukul : 10:00 WIB
DS : Ibu mengatakan haidnya sudah tidak teratur dan akhir-akhhir ini badannya
terasa panas dan berkeringat banyak.
DO : Tanda Vital : TD= 130/80mmHg, S= 37,5OC, N= 82x/menit, RR=20x/mnt,
badan ibu berkeringat berlebih dan ibu merasa tidak nyaman dengan
keadaannya saat ini.
Diagnosa : Ny. K umur 40 tahun perimenopause dengan Haid tidak teratur dan nyeri
sendi
Masalah : ibu merasa tidak nyaman dengan keadaanya sehingga sedikit mengganggu
aktifitas ibu sehari-hari.
Kebutuhan : dukungan psikologi, kebutuhan nutrisi dan edukasi tentang
ketidaknyamanan perimenopause.
30

III. DIAGNOSA POTENSIAL


Masalah potensial perimenopause dengan Haid tidak teratur dan nyeri sendi Pada Ny.K

IV. TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI


Tidak ada yang menunjang perlunya tindakan segera atau kolaborasi pada kasus Ny. K

V. RENCANA TINDAKAN
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Berikan penjelasan kepada ibu tentang perimenopause
3. Beritahu ibu tentang gejala serta masalah yang sering muncul pada masa
perimenopause
4. Anjurkan kepada ibu untuk konsumsi makanan yang bergizi
5. Anjurkan kepada ibu untuk mengurangi konsumsi teh dan kopi serta menghindari
asap rokok
6. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuhnya terutama daerah genetalia
7. Anjurkan ibu untuk olahraga secara teratur 30 menit setiap hari
8. Ajurkan ibu untuk mengkonsumsi Vitamin E dan Vitamin D
9. Lakukan pendokumentasian

VI. PELAKSANAAN TINDAKAN


1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa:
a. Tekanan Darah : 130/80mmHg
b. Nadi : 82x/mnt
c. Suhu : 37,5OC
d. Pernafasan : 22x/mnt
2. Menjelaskan tentang perimenopause merupakan masa transisi antara fase reproduksi
dan fase senium. Periode ini biasanya berusia antara 40-55 tahun dan di tandai dengan
siklus menstruasi yang tidak teratur dengan perdarahan menstruasi yang lebih lama
dari biasanya dan cendrung lebih banyak (Rosa, 2015).
31

3. Memberitahu tentang gejala serta masalah yang sering muncul pada masa
perimenopause seperti rasa panas, sering berkeringat, susah tidur, nyeri otot, mudah
tersinggung dan terasa tertekan.
4. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang mengandung
vitamin E dan makanan yang banyak mengandung kalsium dan B kompleks misalnya
susu, daging, hati dan fitoestrogen seperti kacang-kacangan terutama kacang kedelai
dan olahannya seperti tahu, tempe dan susu kedelai.
5. Menganjurkan ibu untuk mengurangi konsumsi teh dan kopi karena dapat mengurangi
fungsi tubuh untuk menyerap zat besi dan vitamin lainnya dalam tubuh, serta
menghindari asap rokok secara langsung.
6. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri dengan mandi 2-3 kali sehari dan
membersihkan daerah kewanitaan tanpa sabun dari arah depan kebelakang.
7. Menganjurkan kepada ibu untuk olahraga secara rutin minimal 30 menit sehari seperti
mengikuti senam atau yoga.
8. Melakukan pendokumentasian.

VII. EVALUASI
1. Ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan.
2. Ibu telah mengerti tentang masa perimenopause yang dialaminya saat ini.
3. Ibu telah mengerti tentang tanda gejala dan masalah perimenopause yang dialaminya
saat ini.
4. Ibu bersedia untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi.
5. Ibu bersedia untuk mengurangi konsumsi teh dan kopi serta menghindari asap rokok.
6. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan diri dan merawat alat genetalianya.
7. Ibu bersedia untuk olahraga secara teratur.
8. Dokumentasi telah dilakukan.
BAB IV
PEMBAHASAN

Bab ini akan menguraikan pembahasan manajemen asuhan kebidanan Perimenopause


pada NY “K” di PMB AnitaMagda Sari,[Link]. Asuhan ini dilakukan dengan melakukan
pendekatan dan konseling kepada ibu tentang perimenopause dan ketidaknyamanan yang
terjadi.
Dalam hal ini, pembahasan akan diuraikan secara narasi berdasarkan pendekatan
asuhan kebidanan dengan tujuh langkah varney yaitu : pengumpulan data dasar, merumuskan
diagnosis atau masalah aktual, merumuskan diagnosis atau masalah potensial, melaksanakan
tindakan segera atau kolaborasi, merencanakan tindakan asuhan kebidanan, melakukan
tindakan asuhan kebidanan, dan mengevaluasi asuhan kebidanan.
Langkah I. Identifikasi Data Dasar
Teori menjelaskan pada langkah pertama, pengkajian dilakukan dengan semua data
dasar yang diperlukan untuk penilaian lengkap tentang kondisi klien, yaitu anamnesis , jika
perlu pemeriksaan fisik, pemeriksaan catatan saat ini atau sebelumnya dan data laboratorium
serta perbandingan dengan hasil penelitian (Saminem, 2009).
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data
yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap (Asrinah, 2010). Tahap
ini evaluasi dimulai dengan pengumpulan data melalui anamnesa pada klien, yang meliputi
identitas klien, data biologis atau fisiologis, riwayat medis dan kesehatan, pemeriksaan fisik
dengan menggunakan format evaluasi yang tersedia data berasal dari berbagai sumber yaitu
klien, keluarga serta tenaga kesehatan lainnya untuk memudahkan pendataan.
Langkah ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya
sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar atau
tidaknya proses interpretasi data pada tahap selanjutnya. Pengkajian dilakukan untuk
mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan ibu perimenopause dengan hot
flush ataupun yang dikeluhkan pasien (Ambrawati, 2008). Keluhan hot flush (rasa panas)
yang sering terjadi pada wajah, dada, kepala, insomnia (sulit tidur), gelisah (varney, 2006).
[Link] jurnal milik
HM Sitohang tahun 2018 yang membahas tentang tanda dan gejala ibu perimenopause.
Pada kasus ini setelah dilakukan pengkajian berdasarkan data subjektif keadaan Ny “R”

32
33

mengaalami keluhan haid tidak teratur dan nyeri sendi, data objektif pada Ny “R” keadaan
ibu cemas. TD : 130/80 mmHg, nadi : 82 x/i, suhu :37,5 o C dan pernapasan : 20 x/i.
Pada kasus Ny “K data yang didapatkan menunjukkan adanya persamaan yang
terdapat dalam tinjauan pustaka dengan kasus sehingga tidak ditemukan adanya kesenjangan
antara teori dan kasus.
Langkah II. Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Menurut teori diagnosa dapat disimpulkan melalui data dasar subjektif, pada kasus ini
meliputi ibu dengan umur 40-55 tahun. Sedangkan data objektif meliputi keadaan umum
pasien, kesadaran pasien dan tanda-tanda vital serta pemeriksaan fisik.
Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari langkah pertama,
maka diagnose atau masalah aktual pada Ny “K” adalah seorang ibu dalam masa
perimenopause yang mengalami haid tidak teratur dan nyeri sendi.
Kebutuhan yang diperlukan oleh ibu perimenopause dengan haid tidak teratur dan
nyeri sendi adalah dengan memberikan konseling mengenai perubahan yang terjadi selama
masa perimenopause dan masalah yang sering munculpada masa perimenopause
(purwoastuti, 2008).
Sedangkan kebutuhan yang diberikan adalah memberikan dukungan dan memberikan
konseling mengenai bahwa keadaan itu normal dialami oleh ibu perimenopause. Demikian
disimpulkan bahwa berdasarkan teori, hasil penelitian dan studi kasus tidak terdapat
kesenjangan.
Langkah III. Identifikasi Masalah Potensial
Berdasarkan tinjauan pustaka manajemen kebidanan yaitu mengidentifikasi masalah
potensial atau mengantisipasi segala segala sesuatu kemungkinan yang dapat terjadi. Pada
langkah ini peneliti mengidentifikasi masalah potensial atau diagnose potensial berdasarkan
diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila
memungkinkan membutuhkan pencegahan. Bidan diharapkan waspada untuk mencegah
masalah potensial yang tidak menutup kemungkinan akan terjadi.
Kecemasan merupakan gangguan emosional alami yang didapatkan dari perasaan
takut atau khwatir yang mendalam atau menetap (Hawari, 2011). Pada kasus ibu
perimenopause Ny “M” yang merasa cemas dengan keadaannya masalah potensialnya yaitu
terjadi gangguan psikologis (depresi), berdasarkan jurnal Hasni (2021) [Link]
[Link]/21331/1/HASNI_70400118059.pdf .
34

Depresi adalah gangguan susana hati yang ditandai dengan suasana hati yang buruk,
kemurungan dan kesedihan. Wanita menopause yang menderita depresi sering kali menjadi
sedih karena kehilangan kemampuan reproduksinya. Gejala depresi antara lain perubahan
suasana hati dan kelelahan, sulit tidur terutama pada dini hari, kelelahan terus-menerus, sulit
mengambil keputusan, perasaan bersalah, sedih dan ingin menangis, terkadang pada
penderita depresi cenderung suka makan, minum merokok dan terkadang kehilangan nafsu
makan (Rossa, 2015).
Dalam studi kasus Ny “K” diagnosa potensial tidak terjadi karena adanya penanganan
atau antisipasi yang baik, kasus perimenopause lebih dianggap sebagai suatu proses alami
dari penuaan seorang wanita dan bukan merupakan suatu keadaan patologi. Pada langkah ini
tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.
Langkah IV. Tindakan Segera/Kolaborasi
Pada langkah ini bidan atau dokter melakukan identifikasi yang memungkinkan
terdapat kondisi untuk melakukan kolaborasi dan tindakan segera bersama dengan tim
kesehatan lainnya sesuai dengan kondisi pasien. Tetapi dari hasil pengkajian yang dilakukan
pada Ny “K” tidak ada dan tidak didapatkan data yang mendukung perlunya suatu tindakan
kolaborasi atau segera. Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
praktek dalam menetapkan tindakan segera.
Langkah V. Perencanaan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini perencanaan asuhan yang diberikan secara menyeluruh sesuai
dengan masalah aktual dan masalah potensial yang telah diidentifikasi dan diantisipasi.
Keputusan yang dibuat dalam merencanakan suatu asuhan komprehensif dan harus
merefleksikan alas an yang tepat dan benar berlandaskan teori, pengetahuan yang berkaitan
dan terbaru serta telah divalidasi dengan kebutuhan dan keinginan pasien. Pada langkah ini
data yang tidak lengkap dapat dilengkapi dengan merumuskan tindakan yang sifatnya
mengevaluasi/memeriksa kembali atau perlu tindakan yang sifatnya follow up.
Pada kasus Ny.K dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi perencanaan yang
dilakukan yaitu : memberikan konseling tentang perimenopause, gejala perimenopause,
olahraga teratur, makanan bergizi dan perawatan genetalia. Pada langkah ini tidak ditemukan
kesenjangan teori dan praktek.
Langkah VI. Pelaksanaan Rencana Asuhan
Implementasi dapat dilaksanakan seluruhnya oleh bidan ataupun dilaksanakan klien
serta kerjasama dengan tim petugas kesehatan lainnya sesuai dengan tindakan yang telah
35

direncanakan. Pada saat melakukan pendekatan pada klien dan keluarga dengan maksud dan
tujuan untuk memberikan edukasi mengenai perimenopause.
Dalam tinjauan pustaka dilakukan bahwa semua tindakann yang telah direncanakan
dilaksanakan dengan memperhatikan efesiensi dan keamanan tindakan yang diberikan pada
klien sesuai dengan kondisi klien atau kebutuhan klien.
Pada studi kasus perimenopause dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny
“K” terstruktur dengan baik sesuai perencanaan yang terdapat didalam teori tinjauan pustaka.
Pada studi kasus perimenopause haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K”, smua
tindakan yang telah direncanakan sudah terlaksana dengan baik tanpa hambatan karena
adanya kerjasama dan penerimaan yang baik antara klien dan peneliti. Maka ditemukan tidak
adanyanya kesenjangan antara teori dan kasus.
Langkah VII. Evaluasi Rencana Asuhan
Langkah ini merupakan akhir dari proses dari manajemen asuhan kebidanan sehingga
merupakan penilaian terhadap tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan kepada klien
dengan bepedoman masalah dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pada kasus ini asuhan yang diberikan berhasil dengan baik karena sehubungan adanya
dengan antisipasi dan tindak lanjut yang baik. Setelah dilakukan asuhan kebidanan
didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, TD : 130/80 mmHg, nadi : 82 x/i,
pernapasan : 37,5 o C dan pernapasan : 20 x/I, muka tidak pucat, leher tidak kemerahan ibu
tidak lagi cemas.
BAB V
PENUTUP

Setelah mempelajari teori dan tinjauan pustaka serta hasil pengkajian manajemen
asuhan kebidanan perimenopause dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K” di
PMB Anita Magda Sari, [Link], penulis bisa menarik kesimpulan dan saran sebagai berikut.
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan asuhan kebidanan yang telah dilakukan dan pembahasan asuhan
kebidanan perimenopause pada Ny “K” di PMB Anita Magda Sari, [Link] yang
menggunakan 7 langkah varney mulai dari pengumpulan data sampai dengan
evaluasi, maka penulis dapat mengambil kesimpulan.
2. Pengkajian dalam asuhan kebidanan pada kasus perimenopause pada Ny “K” di
PMB Anita Magda Sari, [Link] dilaksanakan dengan pengumpulan data subjektif
yaitu ibu mengatakan keluhan haid tidak teratur dan nyeri sendi dan data objektif
keadaan ibu baik. TD : 130/80 mmHg, nadi : 82 x/i, suhu 37,5 o C dan pernapasan :
20 x/i.
3. Telah dilakukan identifikasi diagnosa/masalah aktual pada kasus Ny “K”
perimenopause di PMB Anita Magda Sari, [Link] dengan mengumpulkan data
yang dimulai dari data subjektif dan data objektif yang dilakukan sehingga
didapatkan diagnosa kebidanan ibu perimenopause pada Ny “K”.
4. Telah dilakukan identifikasi diagnosa/masalah potensial pada kasus perimenopause
dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K”.
5. Telah mengidentifikasi perlunya tindakan segera dan kolaborsi pada
perimenopause dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K” dengan hasil
bahwa pada kasus ini tidak dilakukan tindakan kolaborasi karena tidak ada indikasi
dan data yang menunjang untuk dilakukan tindakan tersebut.
6. Telah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny “K” dengan haid tidak teratur dan
nyeri sendi di PMB Anita Magda Sari, [Link] yaitu memonitor keadaan umum dan
tanda-tanda vital, serta memberikan konseling mengenai perubahan yang terjadi
selama masa perimenopause, menganjurkan untuk berolahraga, menganjurkan
untuk mengkonsumsi makanan bergizi yang mengandung Vitamin D dan vitamin
E seperti gandum, kacang, belut, minyak ikan, kuning telur, buncis, selada, brokoli
dan ubi jalar
36
37

7. Telah dilakukan tindakan asuhan kebidanan perimenopause pada Ny “K” di PMB


Anita Magda Sari, [Link] dengan hasil yaitu dimana semua rencana tindakan yang
telah direncanakan dapat dilaksanakan secara menyeluruh dengan baik tanpa ada
hambatan.
8. Telah dilakukan evaluasi pada perimenopause pada Ny. K di PMB Anita Magda
Sari, [Link] dengan hasil ibu mengerti tentang perimenopause dan tanda gejala
perimenopause serta cara mengatasinya.
B. Saran
Berdasarkan tinjauan kasus yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah
memberikan sedikit masukan atau saran dan berharap bidan memberi banyak manfaat.
1. Untuk Bidan
a. Sebagai bidan dalam melakukan tindakan harus membina hubungan yang
sangat baik antara pasien dengan keluarga sehingga tercapai tujuan yang
diinginkan.
b. Dalam menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan yaitu memberikan
tindakan asuhan yang harus diketahui rasional setiap tindakan yang diberikan
pada pasien untuk melakukan pengawasan yang akurat dengan standar
pelayanan kebidanan yang berlaku pada ibu perimenopause.
2. Untuk Klinik
Meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu
perimenopause secara optimal dan tidak menyepelekan keadaan ibu.
3. Untuk Institusi
Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan perlu ada penerapan manajemen
kebidanan dalam pemecahan masalah serta mengingat proses tersebut sangat
bermanfaat untuk meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran bagi mahasiswa.
4. Untuk Pasien
Pasien diharapkan lebih meningkatkan tanda-tanda terjadi perimenopause
khususnya haid tidak teratur dan nyeri sendi serta rajin mengikuti
penyuluhan/konseling terjadi perimenopause dan meningkatkan asupan gizi
menjelang memasuki masa menopause.
DAFTAR PUSTAKA

Adrews, G. (2010). Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita Ed 2. Jakarta: EGC.


Ambarwati, F. R. (2015). Ilmu Gizi dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Cakrawala Ilmu.
Astutik, R. Y., & Suparni, I. E. (2016). Menopause Masalah dan Penanganannya.
Yogyakarta: CV Budi Utama.
Depkes RI. (2016). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta.
Dinas Kesehatan Makassar. 2016.
Fitriani & Lestari, A. (2018). Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Kebutuhan Gizi pada
Masa Menopause. Jurnal Ilmiah Kesehatan Iqra, Vol. 6 No. 2.
Freeman dkk. (2014). Risk of long term hot flashes after natural menopuse. Evidence from
the penn ovarian aging cohort. The jurnal of the north american menopause
society. Diperoleh tanggal 21 Januari 2019 dari
[Link]
Guttuso, T./ Will, J., & Sireesha, Y. (2013). Review of hot flasshes diaries. Maturitas, 71(3).
Diperoleh tanggal 2 April 2018 dari
[Link] les/PMC3275687
Hasanah dkk. (2018). "Pengaruh Terapi Tertawa terhadap Hot Flashes pada Wanita
Menopause". JOM FKp, VOL.5 No.2.
Ike, N., Sari, Y., Adriani, R. B., & Mudigdo, A. (2017). Effect of Menopause Duration and
Biopsychosocial Factors on Quality of life of Women in Kediri District , East Java.
Journal of Maternal and Child Health, 2(2), 125–136.
Irfana. (2021). Faktor Determinan Kejadian Menopause. Bandung: Media Sains Indonesia.
Joffe, H., & Hall, J. E. (2012). Hot flashes. London Health Sciences Centte.
Diperolehtanggal 25 juli 2018 dari
[Link]
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016.
Kementrian Kesehatan RI. (2015). Infodatin Osteoporosis Pdf (pp. 1–3). Kementrian
Kesehatan RI Pusat Data dan Informasi.
Koeryaman, M. T., & Ermiati, E. (2018b). Adaptasi gejala perimenopause dan pemenuhan
kebutuhan seksual wanita usia 50-60 tahun. Medisains, 16(1), 21.
[Link]
DOKUMENTASI
LEMBAR BIMBINGAN
PRAKTIK KLINIK PROFESI BIDAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2023-2024

Nama : Anita Magda Sari


NIM : 223001080152
Ruangan : PMB Anita Magda Sari, [Link]
Stase : Kebidanan Komunitas
CI Akademik : [Link], [Link].,[Link]

No Hari/Tanggal Follow Up Pembimbing TTD CI Akademik

1.

2.

3.

4.

Diketahui.
[Link] Pendidikan Profesi Bidan

[Link] Arista, [Link].,[Link]


NIK.1010300715007

Anda mungkin juga menyukai