Asuhan Kebidanan pada Perimenopause
Asuhan Kebidanan pada Perimenopause
Disusun oleh
ANITA MAGDA SARI
NIM : 223001080152
LAPORAN LENGKAP
STASE ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA Ny. K
DENGAN PERIMENOPAUSE DI PMB ANITA MAGDA SARI, [Link]
TAHUN 2024
Disetujui,
CI Akademik
([Link], [Link].,[Link])
NIK. 1010300909059
i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN LENGKAP
STASE ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA Ny. K
DENGAN PERIMENOPAUSE DI PMB ANITA MAGDA SARI, [Link]
TAHUN 2024
Disetujui,
CI Akademik
([Link], [Link].,[Link])
NIK. 1010300909059
Mengetahui,
Ketua Prodi Pendidikan Profesi Bidan
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan laporan praktek klinik kebidanan ini dapat
diselesaikan.
Laporan praktek klinik kebidanan ini disusun berdasarkan ujian yang telah dilewati yaitu “
Praktek Stase Asuhan Kebidanan Komunitas Pada Ny. K Dengan Perimenopause di BPM
Anita MagdaSari, [Link]”.
Terima kasih kepada pembimbing kami ibu yang telah membimbing dalam
penyusunan laporan praktek klinik kebidanan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun ditujukan demi kesempurnaan laporan
praktek ini. Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi semua pihak.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ............................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................................. 5
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Perimenopause ................................................................................................... 6
B. Perubahan Hormonal Pada Masa Premenopause................................................ 13
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keluhan Dan Gejala Perimenopause........ 14
D. Keluhan Fisik Yang Dialami Wanita Premenopause.......................................... 17
E. Hal Yang Dilakukan Pada Saat Melewati Masa Premenopause......................... 17
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian .......................................................................................................... 25
B. Interpretasi Data Dasar ....................................................................................... 29
C. Diagnosa Potensial ............................................................................................. 30
D. Tindakan Segera ................................................................................................. 30
E. Intervensi ............................................................................................................ 30
F. Implementasi ...................................................................................................... 30
G. Evaluasi ............................................................................................................. 31
BAB IV PEMBAHASAN......................................................................................... 32
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 36
B. Saran ................................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA
DOKUMENTASI
LEMBAR BIMBINGAN
1
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menua atau menjadi tua adalah suatu proses yang merupakan bagian dari
kehidupan seseorang dan sudah terjadi sejak konsepsi dalam kandungan yang
perubahan yang progresif pada organisme yang telah mencapai kemasakan, perubahan
ini bersifat umum dan irreversible (tidak dapat kembali). Risiko dari perkembangan
manusia sehingga menjadi tua, salah satunya adalah terjadinya menopause pada
Menurut World Healh Organization (WHO) tahun 2014 yang menyatakan pada
tahun 2030 jumlah perempuan di seluruh dunia yang memasuki masa menopause
diperkirakan mencapai 1,2 miliar orang (WHO, 2014). Di Indonesia, pada tahun 2025
nanti diperkirakan akan ada sekitar 60 juta wanita menopause dan usia rata-rata
memasuki menopause sebanyak 7,4 % dari populasi. Dari tahun ketahun populasi
menopause akan mengalami peningkatan. Diperkirakan pada tahun 2015 akan naik
sebesar 14 % atau sekitar 30 juta orang wanita yang akan mengalami menopause
tahun. Perempuan Indonesia yang memasuki masa menopause saat ini sebanyak 7,4
penduduk usia lanjut dan tingginya usia harapan hidup harus penduduk perempuan
(Kemenkes, 2016).
perubahan secara fisik dan psikis. Gejala yang timbul dari tiga komponen utama
terutama esterogen, yang memunculkan berbagai gejala dan tanda menjelang, selama
empuan.
Masa ini biasa terjadi selama 2-8 tahun,dan ditambah 1 tahun di akhir menuju
banyak juga yang mengalami perubahan ini saat usia masih dipertengahan 30 tahun
(Lisnani,2010).
Perubahan fisik yang terasa dan menibulkan rasa tidak nyaman adalah adanya
semburan panas (hot flushes) dari dada ke atas yang sering terjadi disusul dengan
keringat banyak. Perbahan dan keluhan lain yang dirasakan lagi seperti berdebar-
gejala fisik dan psikis, sebenarnya hal yang alami dan normal dialami oleh semua
wanita, namun tidak sedikit budaya dan persepsi individual mempengaruhi psikis
masa menopause sehingga gejala yang dirasakan berbeda antar wanita yang
4
menimbulkan kecemasan dan kerisauan. Hal ini akan menjadi tekanan dan makin
memberatkan wanita menopause jika wanita tersebut berpikiran negative dan tidak
mendapatkan dukungan dari orang terdekat. Ada beberapa factor yang berhubungan
sejak dini untuk menjaga kesehatan sesuai dengan pengetahuan yang memadai.
Dalam hal kesehatan perlu juga adanya persiapan terhadap datangnya proses
menopause yang tidak bisa dihindari. Resiko timbulnya keluhan bisa menurun jika
mempersiapkan diri secara fisik maupun psikis sejak jauh-jauh hari sebelumnya,
kalau kemudian keluhan tetap ada dengan persiapan diri yang lebih baik lagi, artinya
segala perubahan yang akan dialami dapat lebih diterima dengan bijaksana. Salah satu
persiapan yang penting yaitu dengan mengenal apa, mengapa dan bagaimana
sebenarnya proses kejadian menopause itu terjadi, dengan demikian masa menopause
dapat dijalani dengan lebih baik secara fisik maupun psikis sehingga setiap wanita
dapat menjalani hari-harinya dengan kualitas hidup yang lebih baik ( Rosyada dkk,
2016:242).
masa senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pramenopause, antara usia 40
tahun(Setyorini, 2016: 49). Masa ini ditandai dengan dengan berbagai macam keluhan
fungsi ovarium yaitu berhentinya menstruasi pada seorang wanita yang dikenal
perubahan gambaran endokrinologik, biologik dan klinik) dan satu tahun sesudah
dengan rentangan 1-2 tahun sebelum dan 1-2 tahun sesudah menopause, masa wanita
mengalami akhir dari datangnya haid sampai berhenti sama sekali, pada masa ini
juta wanita berusia 50 tahun keatas menghabiska hidupnya dalam keadaan pasca
Menurut WHO,di asia pada tahun 2025 jumlah wanita menopause akan melunjak dari
107 juta jiwa. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012
mengenai premenopause terdapat 4,3 juta seluruh jumlah penduduk Indonesia yang
sebesar 240 -250 juta pada tahun 2012. Dalam kategori wanita tersebut (USIA dari
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
Sari,[Link].
Sari,[Link].
A. PERIMENOPAUSE
1. Pengertian
Premenopause merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa
senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pra menopause, antara usia 45-55
tahun,ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan pendarahan haid
yang memanjang dan relative banyak. Premenopause merupakan bagian dari
masa klimakterium yang terjadi sebelum premenopause (kusmiran, 2011 ).
Premeopause adalah masa sekitar usia 46-50 thn dengan dimulainya dengan
siklus haid yang tidak teratur, memanjang, sedikit atau banyak, yang kadan
kadang disertai dengan rasa nyeri. Pada beberapa wanita telah muncul keluhan
vasomotorik atau keluhan sindrom prahaid. Dari hasil analisa hormonal dapat
ditemukan kadar FSH dan estrogen yang tinggi atau normal. Kadar FSH yang
tinggi dapat menyebabkan terjadinya stimulasi ovarium yang berlebihan
( hiperstimulasi ), sehingga kadangkadang dijumpai kadar estrogen yang tinggi.
Keluhan yang muncul dapat disebabka karena hormon yang normal maupun
tinggi. Sedangkan keluhan yang muncul pada masa pascamenopause disebabkan
karena kadar hormon yang rendah.
Premenopause merupakan masa sebelum menopause dimana mulai terjadi
perubahan endokrin,biologis, dan gejala klinik sebagai awal perubahan dari
menopause dan mencakup juga satu tahun atau dua belas bulan pertama setelah
terjadi menopause. Perubahan premenopause dan proses penuaan itu diantaranya
seperti seperti perubahan pola pendarahan, hot flash, gangguan tidur, perubahan
atropik, perubahan psikologi, perubahan berat badan, perubahan kulit, seksualitas
dan perubahan fungsi tiroid (varney, 2009).
Premenopause merupakan periode menuju menopause (ketika muncul
keluhan/gejala endokrin, biologis, dan manifestasi klinik dari menopause) dan
satu tahun setelah menopause terjadi. Transisi menopause/ menopausal transition;
periode atau waktu sebelum haid terakhir (Final Menstrual Period/FMP) ketika
terjadi perubahan siklus menstruasi.
6
7
2. Fisologis premenopause
Proses menjadi tua pada dasarnya telah dimulai ketika sorang wanita
memasuki usia 40 tahun. Pada waktu lahir, seorang wanita memiliki jumlah
folikel sebanyak ± 750.000 buah dan jumlah ini akan terus berkurang seiring
berjalannya usia hingga akhirnya tinggal beberapa ribu buah saja ketika
mengalami menopause. Semakin bertambah usia, khususnya ketika memasuki
masa perimenopause, folikel-folikel itu akan mengalami peningkatan resistensi
terhadap rangsangan gonadotropin. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan folikel,
ovulasi, dan pembentukan korpus luteum dalam siklus ovarium berhenti secara
perlahan-lahan. Pada wanita diatas 40 tahun, 25% diantaranya mengalami siklus
haid yang anovulatoar. Resistensi folikel terhadap gonadotropin ini
mengakibatkan penurunan peroduksi estrogen dan peningkatan kadar hormon
gonadotropin. Tingginya kadar gonadotropin ini menyebabkan rendahnya
estrogen sehingga tidak ada umpan balik negatif dalam poros hipotalamus dan
hipofisis. Walaupun secara endrokinologi terjadi perubahan hormonal, namun
tidak ada kriteria khusus pengukuran kadar hormon untuk menentukan fase awal
atau akhir dari masa transisi menopause.
Penyebab menopause adalah “matinya” (burning out) ovarium. Sepanjang
kehidupan seksual seorang wanita, kira-kira 400 folikel primordial tumbuh
menjadi folikel matang dan berovulasi, dan beratusratus dari ribuan ovum
berdegenerasi. Pada usia sekitar 45 tahun, hanya tinggal beberapa folikel-folikel
primordial yang akan dirangsang oleh FSH dan LH, dan produksi estrogen dari
ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol. Ketika
produksi estrogen turun di bawah nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat
produksi gonadotropin FSH dan LH. Sebaliknya, gonadotropin FSH dan LH
(terutama FSH) diproduksi sesudah menopause dalam jumlah besar dan kontinu,
8
tetapi ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi estrogen
oleh ovarium turun secara nyata menjadi nol (Guyton, 2011).
Bertolak belakang dengan keyakinan umum, kadar estrogen perempuan
sering relatif stabil atau bahkan meningkat di masa pramenopause. Kadar itu
tidak berkurang selama kurang dari satu tahun sebelum periode menstruasi
terakhir. Sebelum menopause, estrogen utama yang dihasilkan tubuh seorang
wanita adalah estradiol. Namun selama masa premenopause, tubuh wanita mulai
menghasilkan lebih banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang dinamakan
estron, yang dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak tubuh. Kadar
testosteron biasanya tidak turun secara nyata selama pramenopause.
Kenyataannya, indung telur pascamenopause dari kebanyakan wanita
mengeluarkan testosterone lebih banyak daripada indung telur pramenopause.
(Wijayanti, 2009).
Menurut Fritz (2010), kadar estradiol serum pada wanita pasca menopause
sekitar 10-20pg/mL dan sebagian besar merupakan hasil konversi estron, yang
diperoleh dari konversi perifer androstenedion. Kadar estrogen pada wanita
menopause sangat bergantung dari konversi androstenedion dan testosteron
menjadi estrogen. Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa kadar
testosteron dalam sirkulasi tidak berubah sejak 5 tahun sebelum menopause
hingga 7 tahun setelah menopause. Androstenedion adalah androgen utama yang
dikeluarkan oleh folikel yang sedang berkembang. Dengan terhentinya
perkembangan folikuler pada wanita pascamenopause, kadar androstenedion
turun 50%. Setelah menopause, hanya 20% androstenedion yang disekresi oleh
ovarium. Dehidroepiandrosteron (DHEA) dan dehidroepiandrosteron sulfat
(DHEAS) terutama dihasilkan oleh kelenjar adrenal (<25% oleh ovarium).
Dengan penuaan, produksi DHEA turun 60% dan DHEAS turun 80%. Berat
badan memiliki korelasi yang positif dengan kadar estron dan estradiol di
sirkulasi dengan adanya konversi androstenedion menjadi estrogen, namun
dengan penuaan, kontribusi adrenal sebagai prekursor produksi estrogen menjadi
tidak adekuat. Hubungan kadar hormon estrogen dengan usia digambarkan pada
grafik dibawah ini:
9
alergi pada kasus hipertiroid, akibat obatobatan tertentu seperti insulin, niacin,
nifedipin, nitrogliserin, kalsitonin, dan antiestrogen.
Mekanisme pasti patogenesis keluhan vasomotor belum diketahui tapi
data yang berhubungan dengan fisiologi dan behavior menunjukkan bahwa
keluhan vasomotor dihasilkan karena adanya defek fungsi pada pusat
termoregulasi di hipotalamus. Pada area preoptik medial hipotalamus terdapat
nukleus yang merupakan termoregulator yang mengatur pengeluaran keringat
dan vasodilatasi yang merupakan mekanisme primer pengeluaran panas tubuh.
Oleh karena keluhan vasomotor muncul setelah terjadinya menopause
alami atau pasca ooforektomi, maka diperkirakan mekanisme yang
mendasarinya adalah bersifat endokrinologi dan berhubungan dengan
berkurangnya jumlah estrogen di ovarium maupun meningkatnya sekresi
gonadrotropin oleh pituitari. Selain itu, besar kemungkinan keluhan ini timbul
karena interaksi antara hormon estrogen dan progesteron yang fluktuatif pada
masa perimenopause.
Keluhan vasomotor dapat muncul pada kondisi kadar estrogen tinggi,
rendah, maupun normal dalam darah. Keluhan vasomotor muncul sebagai
akibat reaksi withdrawl estrogen.
Meskipun estrogen memiliki efek yang signifikan terhadap munculnya
hot flushes, namun masih terdapat faktor lain yang diperkirakan terlibat dalam
patofisiologi hot flushes. Perubahan kadar
neurotransmiter akan mempersempit zona termoregulasi di
hipotalamus dan menurunkan pengeluaran keringat, bahkan perubahan suhu
tubuh yang sangat kecil pun dapat memicu mekanisme pelepasan panas.
Norepinefrin merupakan neurotransmiter utama yang dapat mempersempit
titik pengaturan (setpoint) termoregulasi dan memicu mekanisme pengeluaran
panas tubuh yang berhubungan dengan hot flushes. Sebagaimana diketahui,
estrogen mengatur reseptor adrenergik pada banyak jaringan. Pada saat
menopause, terjadi penurunan kadar estrogen dan resptor α2 adrenergik di
hipotalamus. Penurunan reseptor α2 adrenergik presinaps akan memicu
peningkatan norepinefrin dan yang selanjutnya akan menyebabkan gejala
vasomotor. Selain itu, penurunan α2 adrenergik reseptor presinaps juga akan
11
Adalah tidak terjadinya haid pada wanita pada kurun waktu tertentu.
4) Hipermenorea ( menoregia)
Adalah perdarahan haid dengan jumlah darah yang lebih banyak dan atau
lamanya lebih lama dari normal dari siklus yang teratur.
5) Hipomenorea
Adalah perdarahan haid dengan jumlah darah lebih sedikit dan atau
lamanya lebih pendek dari normal.
3. Oophorectomy
Wanita yang mangalami oophorectomy unilateral akan mengalami perimenopause
lebih
4. Siklus haid
Wanita dengan siklus haid yang akan memendek lebih awal memasuki masa
perimenopause.
5. Faktor sosial ekonomi
Insiden sindroma perimenopause 1,75 kali lebih tinggi dan umur rata-rata
dimulainya perimenopause 1,2 tahun lebih muda pada wanita yang memiliki
riwayat keadaan ekonomi yang sulit di masa kanak-kanak dan dewasa dalam
hidupnya bila dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami kesulitan
ekonomi dalam hidupnya. Kesulitan ekonomi seumur hidup dapat mempengaruhi
fungsi ovarium lebih kuat daripada kesulitan ekonomi pada masa kanak-kanak
atau dewasa saja21. Pada wanita yang tidak bekerja dan memiliki tingkat
pendidikan yang lebih rendah memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian
menopause lebih awal. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang lemah tersebut
menjadi faktor pemicu stres fisik dan sosial yang berhubungan dengan amenorea
dan disfungsi seksual.
6. Indeks masa tubuh
Sebuah penelitian pada wanita Spanyol menunjukkan bahwa obesitas
berhubungan dengan munculnya gejala menopause yang berat. Indeks masa tubuh
yang tinggi merupakan faktor predisposisi bagi seorang wanita untuk lebih sering
mengalami hot flushes.
Pada fase premenopause wanita yang mengalami obesitas memiliki kadar hormon
estradiol dan inhibin B yang secara signifikan lebih rendah daripada wanita yang
tidak mengalami obesitas. Kadar FSH pada wanita obesitas secara signifikan lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami obesitas. Namun pada
fase akhir transisi menopause ekadar estradiol lebih tinggi pada kelompok wanita
yang obesitas. Pada wanita postmenopause kadar FSH yang lebih rendah
ditemukan pada kelompok wanita yang obesitas dibandingkan kelompok wanita
yang tidak obesitas. Obesitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi
perubahan hormonal selama masa transisi menopause yang tergantung pada umur,
ras, dan merokok. Namun mekanisme hal ini masih belum
16
begitu jelas.
Sebuah penelitian cross sectional dengan survey terhadap populasi menemukan
bahwa merokok dan BMI yang tinggi dapat memicu seorang wanita untuk
mengalami hot flushes lebih sering dan lebih berat23. Penelitian lain menunjukkan
wanita dengan Indeks Masa Tubuh 32kg/m2 lebih sering mengalami hot flushes
dibanding kan dengan wanita yang memiliki Indeks Masa Tubuh kurang dari
19kg/m2.
Hubungan antara hot flushes dan indeks masa tubuh mungkin hanya pada wanita
yang usianya lebih muda yaitu di awal memasuki masa transisi menopause atau
sepanjang masa transisi perimenopause (46-50 tahun). Di sisi lain, indeks masa
tubuh yang tinggi dapat menjadi faktor pelindung terhadap hot flushes pada
wanita yang usianya lebih tua (usia 51-60) atau postmenopause dimana kadar
estrogen telah berkurang secara nyata dibandingkan wanita pada masa transisi
menopause. Hal ini dikarenakan adanya konversi androgen menjadi estrogen pada
jaringan lemak. Hipotesis klinis yang telah diterima secara luas adalah wanita
dengan berat badan yang lebih rendah akan mengalami hot flushes lebih sering
dibandingkan dengan wanita yang lebih gemuk.
7. Merokok
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa merokok memiliki hubungan positif
dengan gejala vasomotor. Merokok dapat memicu seorang wanita untuk
mengalami hot flushes lebih sering dan lebih berat. Pada wanita mantan perokok,
tidak memiliki peningkatan resiko untuk mengalami hot flushes sedang atau berat
apabila dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah merokok sama sekali.
Namun demikian, peningkatan resiko mengalami hot flushes ditemukan secara
bermakna pada wanita yang masih merokok di saat masa transisi menopause.
8. Status Perkawinan
Sebuah penelitian menemukan bahwa gejala kekeringan vagina secara signifikan
lebih ringan sebagaimana sering dilaporkan pada wanita yang belum menikah,
janda, dan wanita yang bercerai apabila dibandingkan dengan wanita yang
menikah atau masih memiliki suami.
Disini siklus pendarahan yang keluar dari vagina tidak teratur. Pendarahan seperti
ini terjadi terutama diawal [Link] akan terjadi dalam rentang
waktu bebarapa bulan yang kemudian akan berhenti sama sekali. Gejala ini disebut
gejala peralihan .
2. Kekeringan vagina
Gejala pada vagina muncul akibat perubahan yang terjadi pada lapisan dinsing
[Link] menjadi kering dan kurang elastis. Isi disebabkan karena penurunan
kadar esterogen. Tidak hanya itu, juga muncul rasa gatal pada vagina. Yang lebih
parah lagi adalah rasa sakit saat berhubungan seksual, karena erubahan pada
vagina, maka wanita menopause biasanya rentan terhadap infeksi vagina.
Intercourse yang terjadi teratur akan menjaga kelembapan alat kelamin.
Kekeringan vagina terjadi karena leher Rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.
Penyebabnta adalah kekuranagn esterom yang menyebabkan liang,vagina menjadi
lebih tipis,lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamian mulai
mengerut,keputihan,rasa sakit pada saat kencing (Aqila 2010)
1. PENGKAJIAN
1. DATA SUBJEKTIF
A. IDENTITAS
Identitas Ibu Identitas Suami
Nama Ny. K Tn. S
Umur 46 Thn 49 Thn
Agama Islam Islam
Suku/bangsa Jawa Jawa
Pendidikan SMA SMK
Pekerjaan IRT Wiraswasta
Alamat Rt.08 Desa Jati Emas Rt.08 Desa Jati Emas
B. KELUHAN UTAMA
Ibu mengatakan haid tidak teratur sudah 1 tahun terakhir
Ibu mengatakan akhir-akhir ini merasakan nyeri pada tulang sendi
C. RIWAYAT PERKAWINAN
Kawin
D. RIWAYAT HAID
1. Menarche : 13 tahun
2. Siklus : 28-30 hari
3. Teratur/tidak : ya
4. Lamanya : 5-6 hari
5. Banyaknya : 2-3 x ganti pembalut sehari
25
26
3. ELIMINASI (BAB)
a. Frekuensi : 1-2 kali/hari
b. Konsistensi : padat lembek
c. Warna : coklat kekuningan
4. PERSONAL HYGIENE
a. Frekuensi mandi : 3-4 kali/hari
b. Frekuensi gosok gigi : 3-4 kali/hari
c. Frekuensi ganti pakaian /jenis : 4-5 kali perhari/ katun
5. AKTIFITAS
Mengerjakan pekerjaan rumah seperti, memasak, menyapu, mencuci, dll
6. TIDUR DAN ISTIRAHAT
Tidur siang 1 jam dan tidur malam 7 jam per hari
7. POLA SEKSUAL
1 kali seminggu
2. DATA OBJEKTIF
A. PEMERIKSAAN UMUM
1) Keadaan Umum : baik
2) Kesadaran : compos mentis
28
Bentuk : normal
Bekas luka operasi : tidak ada
5) Ekstremitas
a) Atas
Kelainan : tidak ada, jari tangan lengkap 10 jari
Kebersihan : bersih
b) Bawah
Kelainan : tidak ada, jari kaki lengkap 10 jari
Kebersihan : bersih
Reflek patella: baik
6) Genital
Kebersihan : bersih
Pengeluaran pervaginam : tidak ada
Tanda infeksi vagina: tidak ada
7) Anus
Hemoroid : tidak ada
Kebersihan : bersih
V. RENCANA TINDAKAN
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Berikan penjelasan kepada ibu tentang perimenopause
3. Beritahu ibu tentang gejala serta masalah yang sering muncul pada masa
perimenopause
4. Anjurkan kepada ibu untuk konsumsi makanan yang bergizi
5. Anjurkan kepada ibu untuk mengurangi konsumsi teh dan kopi serta menghindari
asap rokok
6. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuhnya terutama daerah genetalia
7. Anjurkan ibu untuk olahraga secara teratur 30 menit setiap hari
8. Ajurkan ibu untuk mengkonsumsi Vitamin E dan Vitamin D
9. Lakukan pendokumentasian
3. Memberitahu tentang gejala serta masalah yang sering muncul pada masa
perimenopause seperti rasa panas, sering berkeringat, susah tidur, nyeri otot, mudah
tersinggung dan terasa tertekan.
4. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang mengandung
vitamin E dan makanan yang banyak mengandung kalsium dan B kompleks misalnya
susu, daging, hati dan fitoestrogen seperti kacang-kacangan terutama kacang kedelai
dan olahannya seperti tahu, tempe dan susu kedelai.
5. Menganjurkan ibu untuk mengurangi konsumsi teh dan kopi karena dapat mengurangi
fungsi tubuh untuk menyerap zat besi dan vitamin lainnya dalam tubuh, serta
menghindari asap rokok secara langsung.
6. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri dengan mandi 2-3 kali sehari dan
membersihkan daerah kewanitaan tanpa sabun dari arah depan kebelakang.
7. Menganjurkan kepada ibu untuk olahraga secara rutin minimal 30 menit sehari seperti
mengikuti senam atau yoga.
8. Melakukan pendokumentasian.
VII. EVALUASI
1. Ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan.
2. Ibu telah mengerti tentang masa perimenopause yang dialaminya saat ini.
3. Ibu telah mengerti tentang tanda gejala dan masalah perimenopause yang dialaminya
saat ini.
4. Ibu bersedia untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi.
5. Ibu bersedia untuk mengurangi konsumsi teh dan kopi serta menghindari asap rokok.
6. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan diri dan merawat alat genetalianya.
7. Ibu bersedia untuk olahraga secara teratur.
8. Dokumentasi telah dilakukan.
BAB IV
PEMBAHASAN
32
33
mengaalami keluhan haid tidak teratur dan nyeri sendi, data objektif pada Ny “R” keadaan
ibu cemas. TD : 130/80 mmHg, nadi : 82 x/i, suhu :37,5 o C dan pernapasan : 20 x/i.
Pada kasus Ny “K data yang didapatkan menunjukkan adanya persamaan yang
terdapat dalam tinjauan pustaka dengan kasus sehingga tidak ditemukan adanya kesenjangan
antara teori dan kasus.
Langkah II. Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Menurut teori diagnosa dapat disimpulkan melalui data dasar subjektif, pada kasus ini
meliputi ibu dengan umur 40-55 tahun. Sedangkan data objektif meliputi keadaan umum
pasien, kesadaran pasien dan tanda-tanda vital serta pemeriksaan fisik.
Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari langkah pertama,
maka diagnose atau masalah aktual pada Ny “K” adalah seorang ibu dalam masa
perimenopause yang mengalami haid tidak teratur dan nyeri sendi.
Kebutuhan yang diperlukan oleh ibu perimenopause dengan haid tidak teratur dan
nyeri sendi adalah dengan memberikan konseling mengenai perubahan yang terjadi selama
masa perimenopause dan masalah yang sering munculpada masa perimenopause
(purwoastuti, 2008).
Sedangkan kebutuhan yang diberikan adalah memberikan dukungan dan memberikan
konseling mengenai bahwa keadaan itu normal dialami oleh ibu perimenopause. Demikian
disimpulkan bahwa berdasarkan teori, hasil penelitian dan studi kasus tidak terdapat
kesenjangan.
Langkah III. Identifikasi Masalah Potensial
Berdasarkan tinjauan pustaka manajemen kebidanan yaitu mengidentifikasi masalah
potensial atau mengantisipasi segala segala sesuatu kemungkinan yang dapat terjadi. Pada
langkah ini peneliti mengidentifikasi masalah potensial atau diagnose potensial berdasarkan
diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila
memungkinkan membutuhkan pencegahan. Bidan diharapkan waspada untuk mencegah
masalah potensial yang tidak menutup kemungkinan akan terjadi.
Kecemasan merupakan gangguan emosional alami yang didapatkan dari perasaan
takut atau khwatir yang mendalam atau menetap (Hawari, 2011). Pada kasus ibu
perimenopause Ny “M” yang merasa cemas dengan keadaannya masalah potensialnya yaitu
terjadi gangguan psikologis (depresi), berdasarkan jurnal Hasni (2021) [Link]
[Link]/21331/1/HASNI_70400118059.pdf .
34
Depresi adalah gangguan susana hati yang ditandai dengan suasana hati yang buruk,
kemurungan dan kesedihan. Wanita menopause yang menderita depresi sering kali menjadi
sedih karena kehilangan kemampuan reproduksinya. Gejala depresi antara lain perubahan
suasana hati dan kelelahan, sulit tidur terutama pada dini hari, kelelahan terus-menerus, sulit
mengambil keputusan, perasaan bersalah, sedih dan ingin menangis, terkadang pada
penderita depresi cenderung suka makan, minum merokok dan terkadang kehilangan nafsu
makan (Rossa, 2015).
Dalam studi kasus Ny “K” diagnosa potensial tidak terjadi karena adanya penanganan
atau antisipasi yang baik, kasus perimenopause lebih dianggap sebagai suatu proses alami
dari penuaan seorang wanita dan bukan merupakan suatu keadaan patologi. Pada langkah ini
tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.
Langkah IV. Tindakan Segera/Kolaborasi
Pada langkah ini bidan atau dokter melakukan identifikasi yang memungkinkan
terdapat kondisi untuk melakukan kolaborasi dan tindakan segera bersama dengan tim
kesehatan lainnya sesuai dengan kondisi pasien. Tetapi dari hasil pengkajian yang dilakukan
pada Ny “K” tidak ada dan tidak didapatkan data yang mendukung perlunya suatu tindakan
kolaborasi atau segera. Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
praktek dalam menetapkan tindakan segera.
Langkah V. Perencanaan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini perencanaan asuhan yang diberikan secara menyeluruh sesuai
dengan masalah aktual dan masalah potensial yang telah diidentifikasi dan diantisipasi.
Keputusan yang dibuat dalam merencanakan suatu asuhan komprehensif dan harus
merefleksikan alas an yang tepat dan benar berlandaskan teori, pengetahuan yang berkaitan
dan terbaru serta telah divalidasi dengan kebutuhan dan keinginan pasien. Pada langkah ini
data yang tidak lengkap dapat dilengkapi dengan merumuskan tindakan yang sifatnya
mengevaluasi/memeriksa kembali atau perlu tindakan yang sifatnya follow up.
Pada kasus Ny.K dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi perencanaan yang
dilakukan yaitu : memberikan konseling tentang perimenopause, gejala perimenopause,
olahraga teratur, makanan bergizi dan perawatan genetalia. Pada langkah ini tidak ditemukan
kesenjangan teori dan praktek.
Langkah VI. Pelaksanaan Rencana Asuhan
Implementasi dapat dilaksanakan seluruhnya oleh bidan ataupun dilaksanakan klien
serta kerjasama dengan tim petugas kesehatan lainnya sesuai dengan tindakan yang telah
35
direncanakan. Pada saat melakukan pendekatan pada klien dan keluarga dengan maksud dan
tujuan untuk memberikan edukasi mengenai perimenopause.
Dalam tinjauan pustaka dilakukan bahwa semua tindakann yang telah direncanakan
dilaksanakan dengan memperhatikan efesiensi dan keamanan tindakan yang diberikan pada
klien sesuai dengan kondisi klien atau kebutuhan klien.
Pada studi kasus perimenopause dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny
“K” terstruktur dengan baik sesuai perencanaan yang terdapat didalam teori tinjauan pustaka.
Pada studi kasus perimenopause haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K”, smua
tindakan yang telah direncanakan sudah terlaksana dengan baik tanpa hambatan karena
adanya kerjasama dan penerimaan yang baik antara klien dan peneliti. Maka ditemukan tidak
adanyanya kesenjangan antara teori dan kasus.
Langkah VII. Evaluasi Rencana Asuhan
Langkah ini merupakan akhir dari proses dari manajemen asuhan kebidanan sehingga
merupakan penilaian terhadap tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan kepada klien
dengan bepedoman masalah dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pada kasus ini asuhan yang diberikan berhasil dengan baik karena sehubungan adanya
dengan antisipasi dan tindak lanjut yang baik. Setelah dilakukan asuhan kebidanan
didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, TD : 130/80 mmHg, nadi : 82 x/i,
pernapasan : 37,5 o C dan pernapasan : 20 x/I, muka tidak pucat, leher tidak kemerahan ibu
tidak lagi cemas.
BAB V
PENUTUP
Setelah mempelajari teori dan tinjauan pustaka serta hasil pengkajian manajemen
asuhan kebidanan perimenopause dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K” di
PMB Anita Magda Sari, [Link], penulis bisa menarik kesimpulan dan saran sebagai berikut.
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan asuhan kebidanan yang telah dilakukan dan pembahasan asuhan
kebidanan perimenopause pada Ny “K” di PMB Anita Magda Sari, [Link] yang
menggunakan 7 langkah varney mulai dari pengumpulan data sampai dengan
evaluasi, maka penulis dapat mengambil kesimpulan.
2. Pengkajian dalam asuhan kebidanan pada kasus perimenopause pada Ny “K” di
PMB Anita Magda Sari, [Link] dilaksanakan dengan pengumpulan data subjektif
yaitu ibu mengatakan keluhan haid tidak teratur dan nyeri sendi dan data objektif
keadaan ibu baik. TD : 130/80 mmHg, nadi : 82 x/i, suhu 37,5 o C dan pernapasan :
20 x/i.
3. Telah dilakukan identifikasi diagnosa/masalah aktual pada kasus Ny “K”
perimenopause di PMB Anita Magda Sari, [Link] dengan mengumpulkan data
yang dimulai dari data subjektif dan data objektif yang dilakukan sehingga
didapatkan diagnosa kebidanan ibu perimenopause pada Ny “K”.
4. Telah dilakukan identifikasi diagnosa/masalah potensial pada kasus perimenopause
dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K”.
5. Telah mengidentifikasi perlunya tindakan segera dan kolaborsi pada
perimenopause dengan haid tidak teratur dan nyeri sendi pada Ny “K” dengan hasil
bahwa pada kasus ini tidak dilakukan tindakan kolaborasi karena tidak ada indikasi
dan data yang menunjang untuk dilakukan tindakan tersebut.
6. Telah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny “K” dengan haid tidak teratur dan
nyeri sendi di PMB Anita Magda Sari, [Link] yaitu memonitor keadaan umum dan
tanda-tanda vital, serta memberikan konseling mengenai perubahan yang terjadi
selama masa perimenopause, menganjurkan untuk berolahraga, menganjurkan
untuk mengkonsumsi makanan bergizi yang mengandung Vitamin D dan vitamin
E seperti gandum, kacang, belut, minyak ikan, kuning telur, buncis, selada, brokoli
dan ubi jalar
36
37
1.
2.
3.
4.
Diketahui.
[Link] Pendidikan Profesi Bidan