Perbandingan Cairan Preloading dan Maintenance
Perbandingan Cairan Preloading dan Maintenance
PROPOSAL SKRIPSI
Disusun Oleh:
MUZAKKIR
02202204031
A. Latar Belakang
Pelayanan anestesi merupakan suatu tindakan integral dari pelayanan
keperawatan perianestesi yang profesional. Tujuan dari anestesi adalah
menghasilkan blokade terhadap rangsang nyeri, blokade terhadap memori atau
kesadaran dan otot lurik. Spinal anestesi atau Sub Arachnoid Blok (SAB) adalah
tehnik anestesi yang dilakukan dengan memasukkan obat anestesi lokal kedalam
ruang subarachnoid sehingga bercampur dengan liquor serebrospinalis (LCS) untu
mendapatkan analgesia setinggi dermatom tertentu. Tehnik anestesi ini popular
karena sederhana, efektif, aman terhadap sistem saraf, konsentrasi obat dalam
plasma yang tidak berbahaya serta mempunyai analgesi yang kuat namun pasien
masih tetap sadar, relaksasi otot cukup perdarahan luka operasi lebih sedikit,
aspirasi dengan lambung penuh lebih kecil, pemulihan saluran cerna lebih cepat.
Spinal anestesi menjadi pilihan untuk operasi abdomen bawah dan ekstremitas
bawah (Susanto, 2021).
Jumlah pasien dengan tindakan operasi dari data WHO tahun 2021
mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 terdapat 148 juta jiwa pasien di seluruh
Rumah Sakit di dunia melakukan tindakan operasi, sementara itu di Indonesia
sebanyak 1,2 juta jiwa pasien mendapatkan tindakan operasi Analisis data dari
13.654 pasien menunjukkan data dalam tiga bulan terakhir terjadi pembedahan
dengan anestesi spinal di dunia sejumlah 3,95% dan 12,2% dalam 4 tahun terakhir
(Nugroho, 2021).
Teknik anestesi spinal digunakan pada operasi dikarenakan mula kerja yang
cepat, blokade sensorik dan juga motoric yang lebih dalam, risiko toksisitas obat
anestesi kecil, serta obat-obatan minimal. Namun demikian, insidensi hipotensi
merupakan salah satu kerugian yang sering terjadi pada teknik ini. Pada anestesi
spinal, vasodilatasi akut akibat blokade sistem saraf simpatis meningkatkan
kapasitas pembuluh darah perifer sehingga menurunkan aliran balik vena yang
merupakan determinan utama curah jantung. resiko komplikasi hipotensi,
bradikardi, hipoventilasi, trauma pembuluh darah, trauma saraf, gangguan
pendengaran, blok spinal tinggi, nyeri tempat suntikan, nyeri kepala dan
punggung, retensio urine dan meningitis yang merupakan salah satu komplikasi
akut spinal anestesi yg paling sering terjadi adalah hipotensi (Fikran, 2016).
Hipotensi adalah penurunan tekanan darah arteri >20% dibawah dasar atau
nilai absolut tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg. Kejadian hipotensi yang
tidak tertangani mengakibatkan yang menyebabkan mual dan muntah. Angka
kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sekitar 80% pasien terdapat perbedaan
yang bermakna pada keadaan hemodinamik penderita sebelum pemberian
anestesi, dan 15 menit setelah pemberian anestesi spinal, terdapat penurunan
hemodinamik baik itu tekanan darah maupun nadi setelah pemberian anestesi
spinal. Insiden hemodinamik terjadinya hipotensi anestesi spinal cukup signifikan.
Penyebab utama terjadinya hipotensi pada anestesi spinal adalah blokade tonus
simpatis. Blok simpatis ini akan menyebabkan terjadinya hipotensi, hal ini
disebabkan menurunnya resistensi vaskuler sistemik dan curah jantung. Pada
keadaan ini terjadi pooling darah dari jantung dan thoraks ke mesenterium, ginjal,
dan ekstremitas bawah (Purwantoro, 2020).
Hipotensi pasca spinal anestesi merupakan insiden yang paling sering
muncul, kurang lebih 15-33% pada setiap injeksi spinal anestesi. Strategi untuk
mencegah kejadian hipotensi akibat spinal anestesi di antaranya adalah dengan
meningkatkan aliran balik vena yaitu dengan mencegah tekanan pada autocarval
dan pemberian cairan. Metode menggunakan preloading maupun coloading cairan
kristaloid bagi pasien yang akan dilakukan operasi dengan menggunakan teknik
spinal anastesi dapat mencegah terjadinya hipotensi. Pemberian preloading cairan
pada pasien yang akan dilakukan spinal anestesi dengan 20 cc/kg BB cairan
intravena dapat digunakan sebelum dan selama pemberian spinal anestesi. Namun,
juga disarankan bahwa tidak ada teknik yang efisien dalam mencegah hipotensi
dan harus dibarengi dengan penggunaan vasopresor yang bijaksana (Susanto,
2021).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Heri Susanto yang
berjudul Gambaran Kejadian Hipotensi pada Pemberian Cairan Preloading dan
Cairan Maintenence pada Pasien Spinal Anestesi di RSPAL [Link] Surabaya
tahun 2021 menyimpulkan bahwa dari 28 pasien spinal anestesi dengan
pemberian cairan preloading pada menit ke 5 sebagian besar tidak mengalami
hipotensi sebanyak 26 pasien (92,9%), pada menit ke 10 sebagian besar tidak
mengalami hipotensi sebanyak 27 pasien serta di menit ke 15 sebagian besar tidak
mengalami hipotensi sebanyak 27 pasien (96,4%), sedangkan 28 pasien spinal
anestesi dengan pemberian cairan maitenence pada menit ke 5 sebagian besar
tidak mengalami hipotensi sebanyak 19 pasien (67,9%), pada menit ke 10
sebagian besar tidak mengalami hipotensi sebanyak 18 pasien (64,3%) serta di
menit ke 15 sebagian besar tidak mengalami hipotensi sebanyak 24 pasien
(85,7%) dan hipotensi sebanyak 4 pasien (14,3%). Namun hasil penelitian
tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Zaki Fikran
yang berjudul Perbandingan Efek Pemberian Cairan Kristaloid Sebelum Tindakan
Anestesi Spinal (Preload) dan Sesaat Setelah Anestesi Spinal (Coload) terhadap
Kejadian Hipotensi Maternal pada Seksio Sesarea tahun (2016) yang
menyimpulkan bahwa pemberian preloading cairan kristaloid tidak menimbulkan
efek yang signifikan terhadap pencegahan hipotensi pada pasien dengan spinal
anestesi.
Selain itu, hasil survei awal yang dilakukan peneliti pada Rumah Sakit
Avicenna Bireuen pada bulan Januari 2023 terdapat jumlah pasien bedah
sebanyak 105 pasien dimana 61 pasien dengan general anestesi, 34 pasien dengan
spinal anestesi dan 10 pasien dengan blok saraf perifer. Berdasarkan data yang di
peroleh dari lembar observasi anestesi pada pasien dalam satu bulan di temukan
kejadian hipotensi sebanyak 23 pasien atau 67,6 % dari jumlah pasien yang
dilakukan spinal anestesi.
Berdasarkan hal diatas masih ditemukan adanya perbedaan hasil antara
dua peneliti sebelumnya dan hasil studi pendahuluan yang menemukan masih
banyaknya kejadian hipotensi pada pasien dengan spinal anestesi, maka dalam hal
ini penulis ingin melakukan pembuktian perbandingan antara pemberian cairan
preloading dengan maintenance terhadap hemodinamik pada pasien spinal
anastesi di RS Avicenna.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang serta kondisi permasalahan diatas,
maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimanakah
perbandingan antara pemberian cairan preloading dengan maintenance terhadap
hemodinamik pada pasien spinal anastesi di RS Avicenna
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbandingan antara pemberian cairan preloading dengan maintenance
terhadap hemodinamik pada pasien spinal anastesi di RS Avicenna
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik pasien meliputi tekanan darah, frekuensi
denyut nadi, pernapasan dan suhu tubuh.
b. Untuk mengetahui hemodinamik pada pasien spinal anastesi dengan
pemberian cairan preloading
c. Untuk mengetahui hemodinamik pada pasien spinal anastesi dengan
pemberian cairan maintenance
d. Untuk menganalisis perbandingan antara pemberian cairan preloading
dengan pemberian cairan maintenance terhadap hemodinamik pada pasien
spinal anastesi
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi tempat penelitian
Bagi Rumah Sakit Avicenna Bireuen dapat dijadikan sebagai dasar dalam
pembuatan prosedur tetap untuk meminimalisir hipotensi yang merupakan efek
samping dari tindakan spinal anestesi pada pasien pembedahan
2. Bagi institusi
Sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan tentang perlunya
pemberian cairan preloading dan cairan maintenence pada pasien pembedahan
yang di lakukan tindakan spinal anestesi.
3. Penelitian selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya dapat menambah pengetahuan tentang gambaran
kejadian pemberian cairan preloading dengan pemberian cairan maintenance
terhadap hemodinamik pada pasien spinal anastesi.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian berkaitan perbandingan antara pemberian cairan preloading
dengan maintenance terhadap hemodinamik pada pasien spinal anastesi di RS
Avicenna sampai saat ini belum pernah ada yang melakukan. Beberapa penelitian
yang dilakukan oleh peneliti lain dan berkaitan dengan penelitian ini yaitu :
A. Tinjauan Teori
1. Konsep Anestesia
a. Pengertian
Anestesi dan Reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk mematikan rasa nyeri, rasa tidak nyaman pasien, dan rasa
lain yang tidak diharapkan. Anestesiologi adalah ilmu yang mempelajari
tatalaksana untuk menjaga dan mempertahankan hidup pasien selama
mengalami “kematian” akibat obat anestesi. Anestesi berarti “hilangnya rasa
atau sensasi”. Istilah yang di gunakan oleh para ahli saraf dengan maksud
untuk menyatakan bahwa terjadi kehilangan rasa secara patologis pada bagian
tubuh tertentu atau bagian tubuh yang dikehendaki (Boulton, 2020).
b. Jenis Anastesi Regional
Anestesi regional merupakan suatu metode yang lebih bersifat analgesi.
Anestesi regional hanya menghilangkan nyeri tetapi pasien tetap dalam
keadaan sadar. Oleh sebab itu, tehnik ini tidak memenuhi trias anestesi karena
hanya menghilangkan persepsi nyeri saja (Pramono, 2018). Jenis anestesi
regional menurut Pramono (2018) digolongkan sebagai berikut
1) Spinal Anestesi
Spinal anestesi adalah menyuntikkan obat analgetik lokal ke dalam ruang
sub arachnoid di daerah antara vertebra lumbalis L2 - L3 atau L3 - L4 atau
L4 - L5. Spinal anestesi atau sub arachnoid blok (SAB) adalah salah satu
tehnik anestesi regional yang di lakukan dengan cara menyuntikkan obat
anestesi lokal ke dalam ruang sub arachnoid untuk mendapatkan analgesia
setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka. Untuk dapat
memahami spinal anestesi yang menghasilkan blok simpatis, blok sensoris
dan blok motoris maka perlu diketahui neurofisiologi saraf, mekanisme
kerja obat spinal anestesi dan komplikasi yang dapat ditimbulkanya. Derajat
anestesi yang dicapai tergantung pada tinggi rendah lokasi penyuntikan.
Untuk mendapatkan blockade sensoris yang luas, obat harus berdifusi keatas
dan hal ini tergantung banyak faktor antara lain posisi pasien selama dan
setelah penyuntikan, barisitas dan berat jenis obat. Pada penyuntikan
intratekal yang dipengaruhi dahulu adalah saraf simpatis dan parasimpatis di
ikuti dengan saraf untuk rasa dingin, panas, raba, tekan dalam dan yang
terakhir adalah serabut motoris, rasa getar (vibriatory sense) dan
proprioseptif simpatis ditandai dengan adanya kenaikan suhu kulit tungkai
bawah. Sedangkan untuk pemulihan terjadi dengan urutan sebaliknya, yaitu
fungsi motoris yang pertama kali akan pulih. Didalam cairan serebrospinal
hidrolisis anestesi lokal berlangsung lambat. Sebagian besar anestesi lokal
meninggalkan ruang subarachnoid melalui aliran darah vena sedangkan
sebagian kecil melalui aliran getah bening. Lamanya anestesi tergantung
dari kecepatan obat meninggalkan cairan srebrospina. Spinal anestesi
memiliki komplikasi. Beberapa komplikasi yaitu hipotensi yang terjadi 20%
- 70% pasien, nyeri punggung 25% pasien, kegagalan tindakan spinal
anestesi 3% - 17% pasien dan post dural puncture headache di Indonesia
insidenya sekitar 10% pada pasien pasca spinal anestesi (Tato, 2018).
Kekurangan dari spinal anestesi dibahas dalam sub bab komplikasi spinal
anestesi.
1) Anestesi Epidural
Anestesi yang menempatkan obat di ruang epidural (peridural, extradural).
Ruang ini berada di antara ligamentum flavum dan duramater. Bagian atas
berbatasan dengan foramen magnum di dasar tengkorak dan bagian bawah
dengan selaput sakrokogsigeal. Kedalaman ruang rata-rata 5 mm dan di
bagian posterior kedalaman maksimal terletak pada daerah lumbal. Anestesi
lokal di ruang epidural bekerja langsung pada saraf spinal yang terletak di
bagian lateral. Onset kerja anestesi epidural lebih lambat di banding spinal
anestesi. Kualitas blockade sensoris dan motoriknya lebih lemah.
2) Anestesi Kaudal
Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesi epidural, karena kanalis
kaudalis adalah kepanjangan dari ruang epidural dan obat di tempatkan di
ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Hiatus sakralis di tutup oleh
ligamentum sakrokoksigeal. Ruang kaudal berisi saraf sakral, fleksus
venosus, felum terminale dan kantong dura. Tehnik ini biasa di lakukan
pada anak-anak karena bentuk anatominya yang mudah ditemukan di
bandingkan dengan daerah sekitar perineum dan anorektal, misalnya
haemoroid dan fistula perianal.
c. Indikasi Spinal Anestesi
Menurut Latief (2020) indikasi dari tindakan spinal anestesi adalah sebagai
berikut:
1) Pembedahan pada ektremitas bawah
2) Pembedahan pada daerah panggul
3) Tindakan sekitar rectum perineum
4) Pembedahan perut bagian bawah
5) Pembedahan obstetri-genikologi
6) Pembedahan urologi
7) Pada bedah abdomen bagian atas dan bedah pediatric, dikombinasikan
dengan anestesi umum ringan.
d. Kontra Indikasi Spinal Anestesi
Menurut Morgan (2018) kontra indikasi spinal anestesi di golongkan sebagai
berikut:
1) Kontraindikasi absolut
a) Pasien menolak
b) Infeksi pada daerah penyuntikan
c) Hipovolemia berat, syok
d) Koagulopati atau mendapat terapi anti koagulan
e) Tekanan intracranial meninggi
f) Fasilitas resusitasi minimal
g) Kurang pengalaman/tanpa di dampingi konsultan anestesi
2) Kontraindikasi Relatif
a) Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi)
b) Infeksi sekitar tempat suntikan
c) Kelainan neurologis
d) Kelainan psikis
e) Penyakit jantung
f) Hipovolemia ringan
g) Nyeri punggung kronis
h) Pasien tidak kooperatif
3) Kontraindikasi kontroversial
a) Tempat penyuntikan yang sama pada operasi sebelumnya
b) Ketidakmampuan komunikasi dengan pasien
c) Komplikasi operasi
d) Operasi yang lama
e) Kehilangan darah yang banyak
f) Manuver pada kompromi pernafasan
e. Hal yang mempengaruhi Spinal Anestesi
Hal – hal yang mempengaruhi spinal anestesi menurut Pangesti (2018) adalah:
1) Jenis Obat dan Dosis Obat
Menurut mangku (2019) obat-obat spinal anestesi sebagai berikut:
a) Bupivacain
Bupivacain di kenal dengan marcain, Potensi 3-4 kali dari lidocain dan
lama kerjanya 2-5 kali lidocain. Dosis umum 1-2 ml/kg BB. Durasi
panjang 180 -600 menit. Penggunaan dosisnya untuk infiltrasi lokal dan
blok saraf kecil digunakan larutan 0,25%, blok saraf lebih besar di
gunakan larutan 0,5%, blok epidural di gunakan larutan 0,5%-0,75%.
Penggunaan bupivacaine 0,5% cukup untuk prosedur pemnbedahan
hingga 120 menit. Penambahan epineprin, opioid, agonis reseptor akan
memperpanjang durasi analgesi (Majid, 2019). Keuntungan bupivacain di
bandingkan dengan yang lain adalah potensi bupivacain hampir 3-4 kali
lipat dari lidocain dan 8 kali lipat dari procain. Masa kerja bupivacain 2-3
kali lebih lama dibandingkan mepivacain atau lidocain. Namun
bupivacaine anestesi lokal yang toksisitasnya paling tinggi terhadap
sistem kardiovaskular di bandingkan anestesi lokal lainya (Agus, 2018).
b) Lidocain
Nama dagang dari lodocain adalah xylocain. Lidocain sangat mudah larut
dalam air dan sangat stabil. Toksisitas 1,5 kali dari procain. Tidak iritatif
terhadap jaringan walau diberikan dalam konsentrasi 88%. Diperlukan
waktu 2 jam untuk hilang dari efek obat, bila ditambahn dengan
adrenalin akan memperpanjang waktu hilangnya efek obat sampai 4 jam.
Efek kerja 2 kali lebih cepat dari procain.
Penggunaan dosis tergantung cara pemberianya. Untuk infiltrasi lokal
digunakan larutan 0,5%. Blok saraf kecil digunakan larutan 1%, blok
saraf yang lebih besar di gunakan larutan 1,5%, blok epidural di gunakan
larutan 1,5% - 2%, untuk blok subarachnoid diberikan larutan hiperbarik
5%. Dosis untuk orang dewasa 50 mg-750 mg (7-10mg/kgBB). Lidocain
memiliki durasi 90-200 menit.
c) Procain
Nama lain dari obat ini adalah novocain atau neocain. Nama kimia dari
obat procain adalah paraaminobenzoidac acid ester dari diethylamino.
Procain dianggap sebagai obat standart baik dalam potensi maupun
dalam toksisitas suatu obat anestesi lokal. Ditetapkan potensi dan
toksisitas serta indeks anestesinya 1 dibanding dengan kokain maka
toksisitas prokain ¼ toksisitas kokain. Penggunaan dosis tergantung cara
pemberianya. Infiltrasi lokal pada orang dewasa diberikan larutan 0,5%-
1% dengan dosis maksimal 1 gram (200 ml). Untuk blok saraf diberikan
larutan 1%-2% sebanyak 75 ml, sedangkan untuk blok fleksus diberikan
larutan 1% sebanyak 30 ml, untuk blok epidural diberikan larutan 1%
sebanyak 15-50 ml dan untuk blok subarachnoid diberikan larutan 2%
sebanyak 2 ml. Memiliki onset cepat 3-5 menit, durasi singkat 60-90
menit. Tidak ada data yang bertentangan bahwa durasinya diperpanjang
dengan vasokonstriksi ataupun tidak.
d) Prilocain
Nama dagang dari prilokain adalah propitokain, xylonest, citanest dan
distannst. Efek iritasi lokal pada tempat penyuntikan jauh lebih kecil
daripada procain. Toksisitasnya kira-kira 60% dari toksisitas lidocain,
potensinya sama dengan lidocain. Daripada lidocain, prilocain lebih kuat,
daya potensinya lebih baik, kerjanya lebih lama dan efektif pada
konsentrasi 0,5%-5,0%.
Penggunaan dosis untuk infiltrasi lokal digunakan larutan 0,5%, blok
fleksus digunakan larutan 2%-3%, blok epidural digunakan larutan 2%-
4%,untuk blok subarachnoid digunakan larutan 5%. Dosis maksimal
tanpa adrenalin 400 mg sedangkan dengan adrenalin bisa diberikan
sampai dosis 600 mg. Prilocain memiliki durasi sedang 120-240 menit.
2) Posisi Pemberian Obat Spinal
a) Posisi Miring (lateral dekubitus)
Pada posisi tidur tusukan spinal anestesi pada interspace L3-L4 akan
terjadi blok lebih tinggi daripada posisi duduk.
b) Posisi duduk
Posisi duduk dengan tusukan yang sama pada interspace L3-L4 maka
dengan pengaruh gravitasi dan sifat obat bupivacaine 0,5% hiperbarik,
obat akan segera turun pada lumbosakralis sampai dengan
sacrum,sehingga nervus tersebut diatas lebih sedikit terkena obat spinal
anestesi. Obat akan terkonsentrasi pada daerah sakralis mengenai nervus
cutaneous femoralis posterior S1- S2, nervus pudendus S2-S3, nervus
analis (rectalis) inferior S3-S4, nervus coxigeus S4-S5 dan nervus
anocoxigeus pada sacrum 5 – coxigeus (S5-S6).
3) Usia
Bertambahnya usia, volume dari ruang spinal dan epidural akan berkurang.
Adapun orang yang dewasa muda lebih cepat pulih dari efek anestesi karena
fungsi organ masih optimal terhadap metabolisme obat anestesi. Hal ini
didukung pendapat puncak kekuatan otot terjadi pada usia sekitar 35-40
tahun, dan umur 61-65 tahun menunjukkan penurunan kekuatan otot rata2
50% dan untuk punggung kebawah 30%.
4) Jenis kelamin
Menurut Henny (2020), kekuatan otot dan punggung bawah perempuan
cenderung memiliki kekuatan otot yang lebih rendah (70- 80%) dibanding
laki-laki. Hormon androgen dan testosterone selain berfungsi sebagai gairah
sex juga membantu gerakan otot dan mempertahankan stamina fisik.
5) Berat Badan
Durasi aksi obat anestesi lokal secara umum berhubungan dengan larutan
lemak. Hal ini dikarenakan obat anestesi yang ada di lemak akan
berakumulasi (menumpuk atau tertimbun) dalam jaringan lemak yang akan
berlanjut dilepaskan dalam periode waktu lama. Ini biasanya pada pasien
dengan obesitas.
f. Mekanisme Spinal Anestesi
Morgan (2018) mekanisme kerja spinal anestesi yaitu: Tulang belakang
terdiri dari tulang vertebral dan disk intervertebralis fibrocartilaginous. Terdiri
dari 7 servikal, 12 thoraks dan 5 lumbar vertebra. Sacrum merupakan
perpaduan dari 5 vertebra, [Link] dasar kecil rudimeneter ruas coxygeal.
Tulang belakang secara keseluruhan memberikan dukungan struktural untuk
tubuh dan perlindungan bagi sumsum tulang belakang dan saraf, Jarum spinal
menembus kulit > subcutan > menembus ligamentum supraspinosum yang
membentang dari vertebra servikal 7 sampai sacrum > ligament interspinosum
yang menghubungkan dua spinosus > ligamentum falvum (serat elastic kuning)
> ke ruang epidural > duramaeter > ruang subarachnoid. Suntikan langsung
dari anestesi lokal pada LCS memberikan relative sejumlah kecil kuantitas dan
volume dari anestesi lokal untuk mencapai tingkatan tinggi dari blockade
sensori dan motorik. Blockade dari transmisi neural pada serat akar nervus
posterior menghalangi sensasi somatic, blockade somatic dengan menghambat
transmisi impuls nyeri dan menghilangkan tonus otot (skelet) rangka. Blok
sensorik menghambat stimulus nyeri somatic atau visceral, sementara blok
motorik menyebabkan relaksasi otot.
g. Komplikasi Spinal Anestesi
Komplikasi spinal anestesi menurut Pramono (2017) yaitu:
1) Blokade saraf simpatis : hipotensi ,bradikardia, mual,muntah
2) Blok spinal tinggi atau blok spinal total
3) Hipoventilasi
4) Nyeri punggung
5) Haematoma pada tempat penyuntikan
6) Post dural puncture headache (PDPH)
7) Meningitis
8) Abses epidural
9) Gangguan pendengaran
10) Gangguan persarafan
11) Retensi urine
2. Konsep Tekanan Darah
a. Pengertian
Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah saat mengalir
melalui arteri, karena darah bergerak secara bergelombang. MAP Atau Mean
Arterial Pressure, didefinisikan sebagai tekanan rata-rata di arteri pasien
selama satu siklus jantung. Ini dianggap sebagai indikator perfusi yang lebih
baik pada organ vital daripada tekanan darah sistolik. True MAP hanya dapat
ditentukan dengan pemantauan invasif dan perhitungan kompleks; namun juga
dapat dihitung dengan menggunakan rumus dan tekanan darah diastolik.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Tekanan Darah
Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah ditentukan oleh tahanan
vas kuler perifer dan curah jantung. Curah jantung merupakan perkalian dari
denyut jantung dan Stroke Volume (SV). SV ditentukan oleh kontraktilitas
intrinsik dari otot jantung, resistensi terhadap kontraksi jantung (afterload) dan
tekanan dalam ventrikel kiri (preload), yang berhubungan dengan venous
return. Jadi perubahan-perubahan pada tekanan darah berhubungan langsung
dengan tahanan vasculer perifer, curah jantung atau kedua-duanya. Curah
jantung dipengaruhi olah perubahan-perubahan pada preload, afterload,
kontraktilitas serta denyut jantung. Tahanan vaskuler perifer dikontrol oleh
inervasi saaraf simpatis pada arteriole dan oleh lingkungan metabolik lokal
(jaringan, pH darah), konsentrasi CO2 dan O2 (Morgan, 2018).
c. Hipotensi
Hipotensi adalah penurunan tekanan darah sistemik di bawah nilai rendah
yang diterima. Meskipun tidak ada nilai hipotensi standar yang diterima,
tekanan kurang dari 90/60 dikenali sebagai hipotensi. Hipotensi
diklasifikasikan berdasarkan parameter biometrik pengukuran tekanan darah.
Ini mungkin absolut dengan perubahan tekanan darah sistolik menjadi kurang
dari 90 mm Hg atau tekanan arteri rata-rata kurang dari 65 mm Hg. Ini
mungkin relatif terhadap penurunan tekanan darah diastolik hingga kurang dari
40 mm Hg (Sharma S, Hashmi MF, & Bhattacharya PT, 2020).
Hipotensi pada spinal anestesi terjadi karena adanya blokade simpatik
yang tinggi sehingga mengakibatkan perubahan fluktuatif pada tekanan darah.
Anestesi nervus-nervus lumbalis menyebabkan blokade simpatis yang
progresif, menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tahanan perifer serta aliran
balik vena ke jantung dan turunnya curah. Hipotensi pada spinal anestesi
terutama akibat dari blokade saraf simpatis yang berfungsi mengatur tonus otot
pembuluh darah. Blokade serabut saraf simpatis preganglionik yang
menyebabkan vasodilatasi vena, sehingga terjadi pergeseran volume darah
terutama ke bagian splanik dan juga ekstermitas bawah sehingga akan
menurunkan aliran darah balik ke jantung (Goswami dalam Tanambel, P.
2015). Hipotensi biasanya terjadi pada 10 menit pertama setelah suntikan, oleh
karena itu perlu dilakukan pemantauan tekanan darah setelah penyuntikan
sampai menit ke 10 setelah penyuntikan (Sharma, 2020).
3. Konsep Teori Cairan Tubuh
Cairan tubuh total yang jumlahnya rata-rata 60% dari berat badan, dibagi
menjadi dua area cairan tubuh, yaitu area cairan intraseluler dan area cairan
ekstraseluler. Area cairan intraseluler kira-kira 40% dari BB sedangkan area
cairan ekstraseluler kira-kira 20% dari BB, terdiri dari 5% plasma dan 15% cairan
interstitial (Mangku, dkk, 2010). Jumlah cairan tubuh total pada masing-masing
individu dapat bervariasi, menurut umur, berat badan, jenis kelamin. Jumlah
cairan tergantung dengan jumlah lemak tubuh. Lemak tubuh tidak mengandung
air, semakin banyak lemak semakin sedikit mengandung air. Laki-laki normal
dewasa berlemak sedang, mengandung cairan kira-kira 60% BB sedangkan wanita
normal dewasa lebih banyak lemak dan mengandung air kira-kira 54% BB
(Mangku, 2019). Cairan dan elektrolit sangat diperlukan agar menjaga kondisi
tubuh tetap [Link] cairan dan elektrolit di dalam tubuh merupakan
salah satu bagian dari fisiologi homeostatis yang melibatkan komposisi dan
perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari
air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut) sedangkan elektrolit adalah zat kimia
yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada
dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan,
minuman, dan cairan intravena (IV) dan di distribusi ke seluruh bagian tubuh.
a. Pemberian cairan Preloading
Loading adalah pemberian cairan yang banyak dalam waktu yang singkat.
Preloading adalah pemberian cairan intravena yang banyak dalam waktu yang
singkat sebelum dilakukan pembiusan. Pasien harus terpasang Infus dengan
nomor yang besar (no. 18) untuk mendapatkan aliran yang maksimum Cairan
yang diberikan bisa berupa kristaloid sebanyak 20 cc/KgBB (Sari N.K, 2020).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ansyori dan Tori Rihiantoro (2020)
menyimpulkan tidak ada perbedaan efektifitas antara preloading dan coloading
dalam pencegahan hipotensi pada spinal anestesi. Berdasarkan hasil tersebut
Peneliti merekomendasikan kepada rumah sakit untuk dapat menggunakan
preloading maupun coloading cairan ktristoloid bagi pasien yang akan
dilakukan operasi dengan menggunakan teknik spinal anastesi.
b. Pemberian cairan maintenence
Maintenence adalah pemberian cairan pemeliharaan sebagai pengganti
kehilangan cairan normal dan puasa. Dalam keadaan tertentu, kebutuhan cairan
manusia bisa mengalami peningkatan. Misalnya pada orang yang sedang
melakukan tindakan pembedahan, baik itu untuk mengganti cairan yang hilang
karena perdarahan maupun karena defisit puasa. Pada pasien yang akan
dilakukan pembedahan, semakin lama puasa maka semakin sedikit volume
cairan intravaskuler yang terisi, sehingga akan mempengaruhi jumlah preload
dan afterload, dengan kata lain akan mempengaruhi tekanan darah pasien. Blok
simpatis menyebabkan hipotensi, oleh karena itu hipovolemia merupakan
kontraindikasi relative dari tindakan anestesi, tetapi spinal anestesi dapat
dilakukan jika normovolemi yang dapat dicapai dengan penggantian volume
cairan tubuh. Pada pasien puasa sebelum pembedahan harus diberikan
pengganti volume cairan tubuh, dengan cara menghitung kebutuhan cairan
pengganti puasa yang disesuaikan dengan berat badan dan lamanya puasa
pasien. Dimana kebutuhan basal pasien (maintenence) adalah 2 cc/KgBB
dikalikan dengan lamanya puasa pasien (Morgan, 2018).
B. Kerangka Teori
Menurut Sugiono dalam buku Basuki (2021) menyebutkan definisi dari
kerangka teori adalah model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana
sesorang menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa factor yang
dianggap penting untuk masalah. Secara singkat, kerangka teori adalah membahas
saling ketergantungan antar variabel yang dianggap perlu untuk melengkapi
situasi yang akan diteliti. Adapun kerangka teori dalam penelitian ini sebagai
berikut :
Pasien Pre operatif Karakteristik pasien
meliputi :
a. Tekanan darah,
b. Frekuensi denyut nadi,
Kriteria inklusi c. Pernapasan
d. Suhu tubuh
Spinal anestasi
Keterangan :
: Area yang diteliti
: Area yang tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Teori
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah alur penelitian yang memperlihatkan variabel-
variabel yang mempengaruhi dan yang di pengaruhi atau dengan kata lain dalam
kerangka konsep akan terlihat faktor-faktor yang terdapat dalam variabel
penelitian (Iman, 2016). Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai
berikut :
Pemberian cairan
preloading Hemodinamik terdiri
dari :
Spinal 1. Tekanan darah
anestesi 2. Denyut jantung
3. Pernapasan
Pemberian cairan 4. Suhu tubuh
Maintenance
Faktor yang
mempengaruhi :
1. Jensi obat anestesi
spinal
2. Umur
3. Indeks masa tubuh
4. Posisi pasien
5. Kondisi fisik pasien
6. Manipulasi operasi
Keterangan :
: Area yang diteliti
: Area yang tidak diteliti
Gambar 2.2 Kerangka konsep
D. Hipotesis
Ha1 : Ada perbedaan antara pemberian cairan preloading dengan
maintenance terhadap hemodinamik pada pasien spinal anastesi di RS
Avicenna
Ho1 : Tidak ada perbedaan antara pemberian cairan preloading dengan
maintenance terhadap hemodinamik pada pasien spinal anastesi di RS
Avicenna
BAB III
METODE PENELITIAN
Boulton T.B., dan Blogg, C.E. [Link] (Edisi 10). Oswari, J, ahli
bahasa. Jakarta : EGC,
Henny, dkk. 2020. "age, gender, and musclestrength: a study based on indonesian
samples," Makara Journal of Technology: Vol. 16 : No. 1
Purwantoro. E. 2020. Perbedaan tekanan darah pada pemberian cairan 500 ml hes
130 secara preloading dan coloading pasien sectio caesarea dengan
anestesi spinal. Stikes bina sehat PPNI Mojokerto.